• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Keadaan Umum Penelitian

Hasil analisis tanah sebelum perlakuan dilakukan di laboratorium Departemen Ilmu Tanah Sumberdaya Lahan IPB. Lahan penelitian tergolong masam dengan pH H2O sebesar 4.50, dan bertekstur liat karena kandungan liatnya lebih dari 30%. KTK yang terdapat didalamnya tergolong rendah yaitu 10.88 me/100 g, sehingga kekuatan mengikat unsur hara sangat rendah (Lampiran 4).

Lingkungan sekitar lahan penelitian banyak ditumbuhi gulma dari jenis rumput seperti Cynodon dactylon, Axonopus compressus dan dari jenis gulma berdaun lebar Borreria alata, Mimosa sp dan Euphorbia hitra. Pembersihan gulma sering dilakukan

secara manual. Tanaman juga mengalami serangan hama kupu-kupu belalang dan ulat.

Ketiga hama ini menimbulkan kerusakan pada daun yang meninggalkan bekas gigitan.

Usaha pencegahan yang dilakukan dengan menggunakan pestisida alami berupa larutan daun nimba dan menanami sekeliling lingkungan penelitian dengan jinten. Namun usaha ini masih belum bisa mengurangi serangan ulat dan belalang secara cepat.

Meskipun demikian akibat yang ditimbulkan oleh hama ini tidak begitu mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Untuk itu dilakukan pencegahan dengan cara lain yaitu dengan menggunakan florbac dan decis EC dengan konsentrasi 1 cc/l.

Setelah 4 MST tanaman mulai mengeluarkan bunga. Setiap minggu dilakukan pemangkasan bunga dengan tujuan mengoptimalkan pertumbuhan daun dan umbi tanaman. Penyiraman dilakukan setiap pagi dan sore hari karena curah hujan yang ada kurang mencukupi bagi pertumbuhan optimal daun dewa.

(2)

Rekapitulasi Hasil Sidik Ragam Komponen Pertumbuhan

Rekapitulasi hasil sidik ragam komponen pertumuhan tanaman dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Rekaptulasi hasil sidik ragam pengaruh periode naungan dan pemupukan MgSO4.H2O terhadap pertumbuhan tanaman dan produksi antosianin daun dewa (Gynura pseudochina (L)DC)

Peubah Naungan Pemupukan Interaksi KK(%)

Tinggi Tanaman

1 MST ** + tn 10.14

2 MST ** + tn 9.53

3 MST ** tn tn 9.38

4 MST ** + tn 11.68

5 MST ** ** tn 8.85

6 MST ** * tn 12.00

7 MST ** * tn 11.48

8 MST ** * tn 11.86

9 MST ** + tn 13.34

10 MST ** ** tn 12.28

11 MST ** * tn 13.50

12 MST ** ** ** 12.02

13 MST * + * 16.86

14 MST * tn ** 18.71

15 MST * tn * 25.54

16 MST ** tn ** 22.37

Jumlah Daun

1 MST tn tn tn 20.65

2 MST tn tn tn 20.60

3 MST tn tn tn 20.81

4 MST * ** tn 15.53

5 MST ** * tn 14.31

6 MST ** ** tn 12.32

7 MST tn * tn 11.72

8 MST * * tn 11.21

9 MST * ** tn 12.38

10 MST * ** tn 19.80

11 MST * tn tn 25.78

12 MST ** tn tn 20.80

13 MST tn tn + 21.30

14 MST tn tn tn 29.40

15 MST * tn + 28.05

16 MST * + tn 30.01

(3)

Peubah Naungan Pemupukan Interaksi KK (%) Panjang Daun

1 MST ** tn tn 9.11

2 MST ** tn tn 9.95

3 MST ** + tn 10.75

4 MST ** ** tn 8.75

5 MST ** tn tn 17.24

6 MST ** * tn 13.65

7 MST ** * tn 13.56

8 MST ** + tn 14.14

9 MST ** * tn 14.84

10 MST ** * tn 13.60

11 MST ** tn tn 15.84

12 MST ** + tn 14.81

13 MST ** tn tn 18.77

14 MST * tn tn 26.13

15 MST * tn tn 26.70

16 MST + tn tn 25.22

Lebar Daun

1 MST ** * tn 8.44

2 MST ** * tn 8.33

3 MST ** + tn 10.82

4 MST ** * tn 9.61

5 MST ** + tn 11.18

6 MST ** * tn 12.73

7 MST ** tn tn 20.34

8 MST ** tn tn 17.55

9 MST ** * tn 14.01

10 MST ** tn tn 28.46

11 MST ** tn tn 19.51

12 MST ** * tn 13.19

13 MST ** * tn 18.56

14 MST ** tn tn 26.38

15 MST tn tn tn 15.20

16 MST * + tn 23.73

(4)

Peubah Naungan Pemupukan Interaksi KK (%) Jumlah Cabang

4 MST1) + tn tn 18.68

5 MST1) tn tn tn 26.97

6 MST1) tn tn tn 32.60

7 MST1) tn tn tn 21.93

8 MST tn tn tn 24.82

9 MST tn tn tn 23.49

10 MST tn * tn 22.38

11 MST tn tn tn 20.30

12 MST tn + tn 20.13

13 MST tn tn ** 20.00

14 MST tn tn ** 20.00

15 MST * + ** 24.64

16 MST tn tn tn 25.25

Jumlah Anakan

1 MST1) tn tn tn 18.13

2 MST1) tn tn tn 15.21

3 MST1) tn tn tn 17.79

4 MST * * + 25.07

5 MST tn + tn 19.27

6 MST tn * tn 18.81

7 MST tn tn * 16.83

8 MST * tn tn 17.88

9 MST * ** * 13.58

10 MST * tn tn 22.19

11 MST + tn tn 23.39

12 MST ** tn tn 22.91

13 MST * tn tn 23.18

14 MST * tn tn 30.69

15 MST * tn tn 19.30

16 MST ** * tn 30.62

Keterangan :

KK : Koefesien Keragaman tn : Tidak berbeda nyata + : bebeda nyata pada taraf 10%

* : Berbeda nyata pada taraf 5% ** : Berbeda sangat nyata pada taraf 1% 1): hasil transformasi √ x + 0,5

(5)

Rekapitulasi Hasil Sidik Ragam Komponen Produksi

Rekapitulasi hasil sidik ragam komponen produksi dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Rekaptulasi hasil sidik ragam pengaruh periode naungan dan pemupukan MgSO4.H2O terhadap pertumbuhan tanaman dan produksi antosianin daun dewa (Gynura pseudochina (L) DC)

Peubah Naungan Pemupukan Interaksi KK (%)

Bobot basah1)

Daun ** tn tn 26.13

Batang tn + * 25.19

Akar tn * tn 30.84

Umbi ** tn tn 27.46

Bobot kering1)

Daun ** tn tn 14.93

Batang tn * tn 22.41

Akar tn tn tn 9.49

Umbi ** tn tn 26.40

Produksi antosianin1) ** tn tn 26.12

Kandungan antosianin

Antosianin 1 bulan tn tn tn 20.89

Antosianin 2 bulan1) * tn tn 39.29

Antosianin 3 bulan tn * tn 35.81

Antosianin 4 bulan1) tn tn tn 0.29

Klorofil a

Klorofil a 1 bulan1) tn tn tn 8.35

Klorofil a 2 bulan * ** tn 25.90

Klorofil a 3 bulan tn tn tn 25.85

Klorofil a 4 bulan1) tn tn tn 10.32

Klorofil b

Klorofil b 1 bulan1) tn tn tn 7.24

Klorofil b 2 bulan * tn tn 33.96

Klorofil b 3 bulan tn tn tn 23.48

Klorofil b 4 bulan1) tn tn tn 6.09

Rasio a/b

Rasio a/b 1 bulan1) tn tn tn 10.75

Rasio a/b 2 bulan + * tn 27.42

Rasio a/b 3 bulan tn tn tn 24.64

Rasio a/b 4 bulan1) tn tn tn 11.82

Keterangan :

KK : Koefesien Keragaman tn : Tidak berbeda nyata + : bebeda nyata pada taraf 10%

* : Berbeda nyata pada taraf 5% ** : Berbeda sangat nyata pada taraf 1% 1): hasil transformasi √ x + 0,5

(6)

Pengaruh Periode Naungan dan Pemupukan MgSO4.H2O terhadap Pertumbuhan Daun Dewa Pada Umur 1-16 MST

Pemberian MgSO4.H2O nyata meningkatkan semua peubah pertumbuhan tanaman kecuali jumlah cabang. Berdasarkan grafik pertumbuhan tinggi tanaman (Tabel 4) terlihat bahwa pertumbuhan puncak tinggi tanaman terjadi pada waktu 10-13 MST.

Umur 14-16 MST keempat perlakuan mengalami penurunan tinggi tanaman akibat serangan belalang dan ulat, sehingga mengakibatkan hilangnya ujung daun tertinggi.

Berdasarkan Tabel 6 jumlah daun naik mulai 8 MST, namun pada umur 14-16 MST terjadi penurunan jumlah daun.

Berdasarkan Tabel 8 pertumbuhan puncak tertinggi panjang daun terjadi pada waktu 8-10 MST, kemudian pada umur 11-16 MST terjadi penurunan panjang daun akibat kematian sel-sel dan jaringan daun. Kematian sel-sel dan jaringan daun terjadi akibat umur daun yang sudah tua dan dipengaruhi kondisi iklim yang kering. Tabel 10 menunjukkan bahwa pemberian pupuk MgSO4.H2O nyata meningkatkan lebar daun pada umur 10 MST kemudian setelah 11 MST semua perlakuan mengalami penurunan pada lebar daun.

Tanaman induk mengalami pertumbuhan (tinggi tanaman, jumlah daun, panjang dan lebar daun) maksimal pada 8 MST. Setyamijaya (1986) menyatakan bahwa nitrogen merupakan unsur yang dominan dibanding unsur yang lainnya dalam pertumbuhan vegetatif. Namun untuk mencapai pertumbuhan yang optimum harus didukung oleh kecukupan P dan K. (Tripatmasari 2008) menyatakan bahwa tinggi tanaman, jumlah daun, panjang dan lebar daun sampai 8 MST mengalami pertumbuhan maksimal dengan dua sink, yaitu cabang dan anakan. Setelah tanaman induk maksimal pertumbuhannya, kemudian terbentuk tiga sink yaitu pembentukan cabang, anakan dan umbi, sehingga terjadi pergeseran puncak grafik ke 11 dan 12 MST.

Berdasarkan pertumbuhan jumlah anakan (Tabel 12) terlihat bahwa pertumbuhan anakan mengalami peningkatan pada awal pertumbuhan kemudian naik drastis 10-14 MST, setelah itu mengalami penurunan. Berdasarkan Tabel 14 terlihat bahwa secara umum pertumbuhan cabang daun dewa memperlihatkan pola pertumbuhan yang relatif sama. Jumlah cabang dari keempat perlakuan mengalami peningkatan pada 7 MST, kemudian pada umur 8-16 MST terlihat bahwa terjadi penurunan dan kenaikan pada pertumbuhan cabang.

(7)

Pemberian pupuk MgSO4.H2O 2 g/polybag nyata meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman pada 13 MST dengan hasil tertinggi (19.84 cm), 12 MST jumlah daun terbanyak (69.73), 9 MST panjang daun tertinggi 13.37), 10 MST lebar daun tertinggi (6.57), 16 MST jumlah cabang terbanyak (5.80), dan 11 MST jumlah anakan terbanyak (17.26).

Pada tanaman daun dewa terjadi peningkatan komponen pertumbuhan pada umur 11-12 MST kemudian terjadi penurunan pertumbuhan umur 13-16 MST hal ini disebabkan karena pada umur 13-16 daun dewa mulai menguning juga membusuk dan secara visual pada umur 13 MST terjadinya pertumbuhan yang menurun dengan menguningnya daun serta rontoknya daun dari batang kemudian daun tanaman yang tumbuh lebih kecil dibandingkan daun utama, kemungkinan terjadi mobilisasi hara ke umbi.

Magnesium berperan sebagai sebagai penyusun klorofil, mengaktifkan enzim pada prose fosforilasi dan fotosintesis, serta translokasi karbohidrat (Mashcner 1995), sedangkan sulfur dalam bentuk SO42-

berperan pada produksi senyawa-senyawa metabolit sekunder dalam tanaman seperti flavonoid dan terpenoid (Hornok 1992).

Pengaruh Periode Naungan dan Pemupukan MgSO4.H2O terhadap Pertumbuhan Daun Dewa Pada Umur 16 MST

Tabel 16 memperlihatkan bahwa interaksi antara periode naungan dan dosis MgSO4.H2O berpengaruh nyata terhadap komponen pertumbuhan pada 16 MST. Nilai tinggi tanaman tertinggi tercapai dengan perlakuan 3 bulan naungan dan 3 g MgSO4.H2O /polybag dengan peningkatan sebesar 242 % dibandingkan tanpa naungan, jumlah daun terbesar tercapai dengan perlakuan 3 bulan naungan dan 2 g MgSO4.H2O /polybag meningkat sebesar 698 % dibandingkan tanpa naungan. Nilai panjang dan lebar daun tertinggi tercapai dengan perlakuan 4 bulan naungan dan tanpa pemupukan dengan peningkatkan sebesar 40 sampai 101 %, nilai jumlah cabang tertinggi tercapai dengan perlakuan 1 bulan naungan dan 1 g MgSO4.H2O /polybag dengan peningkatkan sebesar 84 %, dan nilai jumlah anakan tertinggi tercapai dengan perlakuan 3 bulan naungan dan 2 g MgSO4.H2O /polybag dengan peningkatkan sebesar 167 % dibandingkan tanpa naungan.

(8)

Tabel 16 Interaksi pengaruh periode naungan dan pemupukan MgSO4.H2O terhadap pertumbuhan daun dewa pada umur 16 MST

Dosis MgSO4

(g/polybag)

Periode naungan

Rataan

0 1 2 3 4

Tinggi Tanaman (cm)

0 15.53 cd 16.50 bcd 15.94 bcd 17.56 abcd 21.25 abc 17.36

1 14.70 cd 21.03 abc 18.37 abcd 18.00 abcd 17.11 bcd 17.84

2 17.17 bcd 17.28 bcd 18.56 abcd 23.44 ab 18.22 abcd 18.93

3 11.55 de 4.83 e 21.56 abc 25.22 a 19.05 abcd 16.44

4 11.39 de 16.89 bcd 19.89 abc 18.86 abcd 20.00 abc 17.41

Rataan 14.07 B 15.31 AB 18.86 AB 20.62 A 19.13 AB

Jumlah Daun

0 38.22 bcd 50.78 abc 62.56 ab 53.22 abc 44.89 abc 49.93 AB 1 39.55 abcd 61.33 ab 54.78 abc 55.11 abc 39.55 abcd 50.07 AB 2 52.00 abc 53.22 abc 57.67 abc 70.89 a 47.44 abc 56.24 A 3 29.11 cd 13.56 d 39.55 abcd 70.39 a 45.22 abc 39.57 B 4 27.58 cd 54.00 abc 52.56 abc 53.33 abc 46.11 abc 46.72 AB Rataan 37.29 C 46.58 ABC 53.42 AB 60.59 A 44.64 BC

Panjang Daun (cm)

0 8.01 abcd 8.44 abcd 8.69 abcd 9.02 abcd 11.11 a 9.06 A 1 6.85 bdc 9.96 ab 7.95 abcd 8.53 abcd 8.72 abcd 8.40 AB 2 7.65 abcd 8.11 abcd 7.88 abcd 10.83 ab 10.19 ab 8.93 A 3 5.69 cde 2.39 e 8.86 abcd 9.41 abcd 9.87 abc 7.25 B 4 5.55 de 7.83 abcd 7.76 abcd 9.38 abcd 9.75 abcd 8.05 AB

Rataan 6.75 B 7.35 AB 8.23 AB 9.44 A 9.93 A

Lebar Daun (cm)

0 3.47 abcd 3.85 abcd 4.04 abc 4.05 abc 5.09 a 4.10 A 1 3.19 bcd 4.56 abc 3.95 abc 3.79 abcd 4.19 abc 3.94 AB 2 3.61 abcd 3.76 abcd 3.54 abcd 4.72 ab 4.33 abc 3.99 A

3 2.10 de 1.07 e 4.24 abc 4.14 abc 4.69 abc 3.25 B

4 2.89 cd 3.64 abcd 3.58 abcd 4.01 abc 4.44 abc 3.71 AB

Rataan 3.05 B 3.38 B 3.87 AB 4.14 AB 4.55 A

Jumlah Cabang

0 5.56 abc 5.00 abc 4.00 bc 4.17 abc 4.78 abc 4.70

1 8.39 ab 9.44 a 3.44 bc 3.72 bc 1.50 c 5.29

2 8.00 ab 5.33 abc 5.33 abc 6.67 abc 3.67 bc 5.80

3 6.61 abc 4.22 abc 4.56 abc 8.56 ab 3.89 bc 5.57

4 4.44 abc 3.89 bc 4.22 abc 6.17 abc 4.33 abc 4.61

Rataan 6.60 5.58 4.31 5.86 3.63

Jumlah Anakan

0 7.83 cdefg 13.33 abcd 16.78 ab 14.22 abc 10.00 bcdef 12.43 A 1 6.44 efg 11.61 abcde 15.44 abc 13.56 abcd 10.89 abcdef 11.58 AB 2 7.89 cdefg 14.00 abc 14.67 abc 17.78 a 12.66 abcde 13.39 A 3 3.723 fg 1.33 g 13.11 abcde 16.00 ab 10.99 abcdef 9.03 B 4 5.67 efg 14.78 abc 15.39 abc 13.67 abcd 11.44 abcde 11.58 AB

Rataan 6.31 C 11.01B 15.08 A 15.05 A 11.199 B

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada uji DMRT 5%

Tabel 16 memperlihatkan bahwa pertumbuhan tanaman lebih tinggi pada perlakuan naungan dibanding tanpa naungan dan sebagian besar pengamatan menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman meningkat sampai naungan 3 bulan.

Pertumbuhan yang lebih pesat pada tanaman yang diberi naungan disebabkan karena morfogenesis tanaman lebih cepat karena peningkatan zat pengatur tumbuh tanaman endogen terutama auksin dan giberelin. Menurut Delvin dan Witham (1983), tanaman dalam naungan memiliki kandungan giberelin dan auksin yang tinggi dan

(9)

berpengaruh pada plastisitas dinding sel sehingga morfogenesis tanaman mengalami peningkatan. Tabel 16 juga memperlihatkan bahwa penambahan pupuk MgSO4.H2O tidak menyebabkan perbedaan yang nyata kecuali dengan pemberian 3 g MgSO4.H2O meningkatkan pertumbuhan tanaman dibandingkan tanpa pemupukan. Hal ini diduga karena semakin banyak pupuk yang ditambahkan akan memberikan hara yang cukup untuk tanaman, sehingga tanaman akan banyak melakukan metabolisme primer untuk menghasilkan biomassa.

Daun dewa sebaiknya dipanen pada umur 3 bulan karena setelah umur 3 bulan daun dewa akan mengalami penurunan pertumbuhan selain itu tanaman daun dewa akan mengalami kerusakan dan gugurnya daun sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan perlakuan naungan 50% selama 3 bulan merupakan waktu yang tepat untuk mendapatkan pertumbuhan tanaman dan produki antosianin daun dewa.

(10)

Pengaruh Perlakuan terhadap Produksi Bobot Basah Daun Dewa

Gambar 3 menunjukkan terjadi interaksi pengaruh periode naungan dan dosis pemupukan MgSO4.H2O dan nilai tertinggi untuk produksi bobot basah daun dewa tercapai dari perlakuan 3 bulan naungan dan dosis pupuk 3 g MgSO4.H2O /polybag.

Gambar 3 Interaksi pengaruh periode naungan dan pemupukan MgSO4.H2O terhadap produksi bobot basah daun dewa 16 MST

Tanpa Naungan

y = -0.3688x2 + 1.3821x + 3.2012 R2 = 0.1526

0 2 4 6 8 10

0 1 2 3 4

Pemupukan (g)

Bobot basah daun (g)

Naungan 1 bulan

y = 0.1968x2 - 1.1021x + 5.8378 R2 = 0.1662

0 2 4 6 8 10

0 1 2 3 4

Pemupukan (g)

Bobot basah daun (g)

Naungan 2 bulan

y = -0.0636x2 + 0.139x + 5.547 R2 = 0.0313

0 2 4 6 8 10

0 1 2 3 4

Pemupukan (g)

Bobot basah daun (g)

Naungan 3 bulan

y = -0.6204x2 + 3.0729x + 2.8626 R2 = 0.4597

0 2 4 6 8 10

0 1 2 3 4

Pemupukan (g)

Bobot basah daun (g)

Naungan 4 bulan

y = -0.1091x2 + 0.4861x + 5.7367 R2 = 0.0193

0 2 4 6 8 10

0 1 2 3 4

Pemupukan (g)

Bobot basah daun (g)

(11)

Terdapat perbedaan yang nyata antara yang tumbuh pada kondisi naungan dan pemupukan MgSO4.H2Otetapi bobot basah daun lebih tinggi pada naungan (Gambar 3). Pertambahan bobot basah daun tersebut disebabkan karena pertumbuhan tanaman pada kondisi naungan lebih pesat. Daun dewa telah dilaporkan dapat tumbuh baik pada kondisi ternaungi (Hidayat 2000, Januwati 1996, Suharmiati dan Maryani 2003). Daun dewa yang tumbuh di daerah ternaungi menghasilkan tanaman yag lebih tinggi dan daun yang lebih lebar (Suharmiati dan Maryani 2003). Faktor yang mempengaruhi bobot basah daun yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, lebar daun, panjang daun.

Semakin tinggi tanaman, maka semakin besar ukuran panjang dan lebar daun, sehingga bobot basah daun semakin besar. Penambahan pupuk akan meningkatkan pertumbuhan tanaman yang ditunjukkan oleh bobot basah daun.

Gambar 4 Hasil biomassa tanaman daun dewa pada berbagai perlakuan Tanpa MgSO4.H2O 1 g MgSO4.H2O/polibag 2 g MgSO4.H2O /polibag

3 g MgSO4.H2O /polibag 4 g MgSO4.H2O /polibag

(12)

Kandungan Klorofil

Tabel 17 memperlihatkan bahwa periode naungan dan pemupukan MgSO4.H2O tidak menyebabkan perbedaan yang nyata pada kandungan klorofil a,b dan rasio klorofil a/b .

Tabel 17 Pengaruh periode naungan dan pemupukan terhadap kandungan klorofil a, klorofil b, rasio klorofil a/b tanaman daun dewa umur 16 MST

Perlakuan Klorofil a Klorofil b Rasio Klorofil a/b

………….(mg/g)………

Periode naungan

( bulan ) tn tn tn

0 0.98 0.84 1.08

1 0.95 0.82 1.03

2 1.00 0.85 1.11

3 0.98 0.83 1.07

4 0.99 0.84 1.08

Dosis MgSO4.H2O

( g/polybag ) tn tn tn

0 0.99 0.84 1.09

1 1.00 0.85 1.10

2 0.98 0.84 1.08

3 0.98 0.84 1.08

4 0.94 0.81 1.02

Pada analisis kandungan klorofil daun, seperti yang ditunjukkan pada Tabel 17, tidak terdapat perbedaan yang nyata kandungan klorofil a, b dan rasio klorofil a/b pada berbagai periode naungan dan pemupukan. Kandungan klorofil a tertinggi (1.00 mg/g) dihasilkan pada naungan 50% selama 2 bulan dan terendah (0.95 mg/g) pada naungan selama 1 bulan. Kandungan klorofil b tertinggi (0.85 mg/g) dihasilkan pada naungan selama 2 bulan dan terendah (0.95 mg/g) pada naungan selama 1 bulan. Untuk rasio klorofil a/b tertinggi (1.11 mg/g) dihasilkan pada naungan selama 2 bulan dan terendah (1.03 mg/g) pada naungan selama 1 bulan. Hasil penelitian ini sejalan dengan Nirwan (2007) bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata kandungan klorofil a, b serta rasio a/b kandungan klorofil a tertinggi (0.36 mg/g) dihasilkan pada naungan 50% selama 2 bulan dan terendah (0.26 mg/g) pada naungan 25% selama 1 bulan. Kandungan klorofil b tertinggi (0.18 mg/g) dihasilkan pada naungan 50% selama 4 bulan dan terendah (0.11 mg/g) pada naungan 25% selama 1 bulan. Untuk rasio klorofil a/b pada naungan 50% selama 4 bulan lebih rendah (1.66 mg/g) dibandingkan pada cahaya 100% selama

(13)

4 bulan (1.88 mg/g), sedangkan total klorofil tertinggi (0.53 mg/g) diperoleh pada naungan 50% selama 2 bulan meskipun tidak berbeda nyata dengan cahaya 100%

selama 4 bulan.

Menurut Ghulamahdi et al. (2007), rasio klorofil a/b akan menunjukkan mekanisme adaptasi tanaman terhadap cekaman cahaya penuh khususnya untuk tanaman dewa. Daun dewa adalah tanaman yang hidup dan beradaptasi pada lingkungan dengan intensitas 50-60% atau lazimnya di bawah tegakan hutan. Rasio klorofil a/b pada naungan 50% lebih tinggi dari naungan 25%.

Kandungan Antosianin

Periode naungan dan dosis MgSO4.H2O tidak menyebabkan perbedaan yang nyata pada kandungan antosianin. Kandungan antosianin pada berbagai naungan tercapai antara 0.21 – 0.44 mg/g daun segar. Kandungan antosianin pada berbagai pemupukan tercapai 0.28 – 0.39 mg/g daun segar (Tabel 18).

Tabel 18 Pengaruh periode naungan dan pemupukan MgSO4.H2O terhadap kandungan antosianin daun dewa umur 16 MST

Perlakuan Kandungan Antosianin

(mg/g daun segar) Periode naungan

(bulan) tn

0 0.40

1 0.35

2 0.44

3 0.21

4 0.27

Dosis MgSO4.H2O

( g/polybag ) tn

0 0.28

1 0.39

2 0.32

3 0.32

4 0.36

Pengaruh periode naungan dan pemupukan MgSO4.H2O tidak nyata terhadap kandungan antosianin pada naungan 50% selama 2 bulan dan dihasilkan kandungan antosianin tertinggi (0.44) tetapi tidak bebeda nyata dengan kandungan antosianin tanpa

(14)

pemberian naungan (0.40). Hal ini sejalan dengan penelitian Nirwan (2007) pada naungan 25% selama 3 bulan dan 1 bulan cahaya 100% dihasilkan kandungan antosianin tertinggi (0.157%) tetapi tidak berbeda nyata dengan kandungan antosianin pada naungan 50% selama 3 bulan dan 1 bulan cahaya 100% (0.156%) dan Tripatmasari (2008) bahwa pemupukan dan waktu panen tidak nyata meningkatkan kandungan antosianin pada perlakuan tanpa pupuk pada panen 7 bulan dengan kandungan antosianin tertinggi sebesar (0.696 mg/g daun segar). Untuk pengaruh naungan, beberapa penelitian lain sudah dilaporkan juga menunjukkan adanya pengaruh naungan terhadap kandungan antosianin. Pada tanaman kedelai, kandungan antosianin meningkat pada persentase naungan 50% (Lamuhuria et al. 2006), sedangkan pada beberapa klon daun dewa daun yang tumbuh pada kondisi naungan 100% cahaya menghasilkan kadar antosianin yang tidak berbeda nyata (Ghulamahdi et al. 2006).

Kandungan antosianin tidak berbeda nyata karena salah satu bentuk adaptasi tanaman terhadap cahaya rendah sehingga kandungan antosianin tetap akan tetapi terjadi perubahan bentuk anatomi daun lebih lebar dan tipis sehingga mampu menangkap cahaya dan berpengaruh pada peningkatan bobot basah daun per tanaman dan akan mempengaruhi produksi antosianin.

Produksi Antosianin

Gambar 5 memperlihatkan bahwa terjadi interaksi pengaruh periode naungan dan dosis pemupukan MgSO4.H2O dan nilai tertinggi produksi antosianin tercapai dari perlakuan 3 bulan naungan dan dosis pupuk 2.8 g MgSO4.H2O /polybag.

(15)

Gambar 5 Interaksi pengaruh periode naungan dan pemupukan MgSO4.H2O terhadap produksi antosianin daun dewa umur 16 MST.

Tanpa naungan

y = -0.262x2 + 0.982x + 2.2723 R2 = 0.1526

0 1 2 3 4 5 6 7

0 1 2 3 4

Pemupukan (g) Produksi Kandungan antosianin (g/tanaman)

Naungan 2 bulan

y = -0.047x2 + 0.1034x + 3.9419 R2 = 0.0332

0 1 2 3 4 5 6 7

0 1 2 3 4

Pemupukan (g) Produksi kandungan antosianin (g/tanaman)

Naungan 3 bulan

y = -0.4387x2 + 2.1746x + 2.0287 R2 = 0.4596

0 1 2 3 4 5 6 7

0 1 2 3 4

Pemupukan (g) Produksi kandungan antoasianin (g/tanaman)

Naungan 1 bulan

y = 0.1382x2 - 0.7748x + 4.136 R2 = 0.164

0 1 2 3 4 5 6 7

0 1 2 3 4

Pemupukan (g) Produksi Kandungan antosianin (g/tanaman)

Naugan 4 bulan

y = -0.076x2 + 0.3396x + 4.0691 R2 = 0.0187

0 1 2 3 4 5 6 7

0 1 2 3 4

Pemupukan (g) Produksi kandungan antosianin (g/tanaman)

(16)

Hasil analisis regresi pada produksi daun dewa menunjukkan bahwa semakin banyak pupuk yang diberikan maka produksi antosianin daun dewa akan mengalami penurunan. Penurunan ini diakibatkan oleh daun baru yang tumbuh lebih kecil dibandingkan daun induk. Keadaan ini membuat produksi antosianin daun menurun dibanding awal percobaan, karena jumlah daun yang gugur akibat penuaan daun.

Penambahan pupuk akan meningkatkan pertumbuhan tanaman yang ditunjukkan oleh bobot basah daun dan faktor yang mempengaruhi bobot basah daun yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, lebar daun dan panjang daun. Semakin tinggi tanaman, maka semakin besar ukuran panjang dan lebar daun, sehingga bobot basah daun akan semakin besar. Hal ini karena pada perhitungan sebelumnya yang merupakan nilai kandungan antosianin, sedangkan produksi antosianin adalah jumlah biomassanya dikalikan kandungan antosianin. Jadi kandungan antosianin yang tinggi belum tentu produksi antosianin juga tinggi, begitu juga sebaliknya jika kandungan antosianinnya rendah belum tentu produksinya juga rendah. Peningkatan bobot biomassa meningkatkan produksi antosianin per tananman.

Hasil penenelitian Nirwan (2007) menunjukkan bahwa produksi antosianin per tanaman tertinggi (0.172 g/tanaman) diperoleh pada naungan 25% selama 2 bulan sedangkan dosis pemupukan optimum yang menghasilkan produksi antosianin tertinggi (0.232 g/tanaman) adalah dosis pupuk kandang ayam 100g + SO4 0.8 g/tanaman yang merupakan dosis maksimum yang diberikan ke tanaman. Berdasarkan data kandungan antosianin untuk setiap gram bobot basah daun, kandungan antosianin tertinggi dihasilkan pada naungan 25% selama 3 bulan, tetapi bobot biomassa tanaman lebih rendah dibanding pada naungan 25% selama 2 bulan. Peningkatan bobot biomassa tersebut meningkatkan produki antosianin per tanaman. Tripatmasari (2008) menunjukkan bahwa pemberian pupuk kotoran sapi (20 ton/ha) meningkatkan produksi antosianin dan waktu panen 4 bulan dengan hasil tertinggi sebesar (13.41 mg/tanaman).

Hasil analisis korelasi yang diajikan pada tabel 19, menunjukkan bahwa tinggi tanaman, jumlah daun, panjang daun, lebar daun, jumlah anakan dan jumlah cabang berkorelasi positif nyata dengan bobot basah daun, bobot basah batang, bobot basah akar dan umbi. Nilai koefesien korelasi (r) komponen pertumbuhan dengan bobot basah daun maing-masing 0.660, 0.589, 0.671, 0.673, 0.275 dan 0.518. Untuk komponen pertumbuhan dengan bobot basah umbi masing-masing dengan nilai r = 0.562, 0.600, 0.529, 0.487, 0.046 dan 0.660, sedangkan antara komponen pertumbuhan dengan

(17)

produksi antosianin sebesar r = 0.660, 0.589, 0.671, 0.673, 0.274 dan 0.518.

berdasarkan analisis korelasi tersebut diketahui bahwa peningkatan produksi antosianin per tanaman disebabkan karena pertumbuhan tanaman yang lebih pesat dan menghasilkan total biomassa yang lebih tinggi.

Referensi

Dokumen terkait

Waktu panen daun pada umur 3 bulan menghasilkan minyak nilam dan patchouli alkohol lebih tinggi dibandingkan daun yang dipanen pada umur 6 bulan dan 9 bulan

Faktor yang diduga menyebabkan tidak terdapat hubungan nyata antara konsumsi protein dengan potensi atlit usia 48-72 bulan, yaitu energi yang digunakan dalam aktivitas fisik

Produksi maksimum di Pondok Ranggon terjadi pada umur 2,5 tahun diduga karena pada umur muda kondisi tubuh terbaik dimana kelenjar ambing dapat berfungsi secara

Penurunan populasi kutu daun ini terjadi hingga tanaman mencapai umur 10 MST, yaitu saat ketersediaan makanan yang sesuai di pertanaman tidak mencukupi... maidis makan dengan

Kemampuan tersebut tidak dimiliki genotipe peka yang mengalami persentase penurunan pertumbuhan tajuk (tinggi tanaman dan bobot kering tajuk), intensitas kerusakan daun

Hubungan Dosis Vermikompos Dengan Berat Segar Atas Meningkatnya pertumbuhan tanaman seperti tinggi, diameter, jumlah daun dan luas daun akan menghasilkan berat segar atas yang

Seperti halnya yang tertera pada Tabel 3, bahwa IP-2P 110-I-4 yang memiliki rata-rata jumlah daun paling rendah juga memiliki rata-rata tinggi tanaman yang paling rendah, sedangkan

penurunan pertumbuhan tajuk (tinggi tanaman dan bobot kering tajuk), intensitas kerusakan daun persentase peningkatan rasio bobot kering akar/tajuk, dan densitas stomata