• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IV. HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Lokasi Penelitian

Luas areal tanam padi adalah seluas 3736 m2 yang terletak di Desa Langgeng. Secara administrasi pemerintahan Desa Langgeng Sari termasuk dalam wilayah Kecamatan Lelea Kabupaten Inrdamayu Provinsi Jawa Barat. Desa Langgeng Sari berdekatan dengan Desa Taman Sari (di bagian utara), Desa Telaga Sari dibagian barat, Desa Unjungaris dan Bunder di bagian timur, dan di bagian selatan berdekatan dengan Desa Nunuk dan Malang Sari.

Secara geografis Kabupaten Indramayu terletak diantara 1070 52’-1080 36’ Bujur Timur dan 60 15’-60 40’ Lintang Selatan ([Provinsi Jawa Barat] 2011). Kecamatan Lelea terletak pada ketinggian sekitar 0-6 meter di atas permukaan laut (Organisasi Pemerintah Daerah Kabupaten Indramayu 2011). Desa Lelea terletak pada bagian utara Kabupaten Indramayu, dan dekat dengan pesisir pantai utara Pulau Jawa (Lampiran 2). Lokasi penelitian kurang lebih berjarak 20 Km dari pantai.

4.2 Cuaca di Lokasi Selama Periode Penelitian

Penanaman padi dilakukan di areal persawahan Desa Langgeng Sari Kecamatan Lelea Kabupaten Indramayu Provinsi Jawa Barat. Selama penelitian dilakukan pengukuran suhu udara, suhu bola basah, intensitas radiasi, kecepatan angin, dan curah hujan. Dari hasil pengukuran suhu bola basah dan suhu bola kering dapat dihitung nilai kelembaban relatif lokasi penelitian. Grafik suhu udara, curah hujan, intensitas radiasi, kecepatan angin, dan kelembaban relatif harian di lokasi penelitian selama penelitian dapat dilihat pada Gambar 5.

Suhu merupakan indikasi jumlah energi panas yang terdapat dalam suatu sistem atau massa (Bey 1991). Nilai suhu udara juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Tinggi rendahnya suhu di sekitar tanaman ditentukan oleh radiasi matahari, kerapatan tanaman, dll. Gambar 5 menunjukkan pola suhu udara rata-rata harian di tempat penelitian. Suhu yang terukur pada awal penanaman pada tanam 1 lebih tinggi dibandingkan setelahnya. Hal itu

Gambar 5 Pola rata-rata harian 5 unsur cuaca (Suhu, RH, Kecepatan Angin, Curah Hujan, dan Intensitas Radiasi) dari tanggal 27 Maret hingga 31 Juli 2011.

0 5 10 15 20 25 1 7 13 19 25 31 37 43 49 55 61 67 73 79 85 91 97 103 109 115 121 127 In t. R adi as i (M J/m 2) Hari ke- Intensitas Radiasi 0 30 60 90 120 150 180 210 1 11 21 31 41 51 61 71 81 91 101 111 121 K ec epa ta n A n gi n ( K m /Ha ri ) Hari ke- Kecepatan Angin 22 23 24 25 26 27 28 29 30 1 7 13 19 25 31 37 43 49 55 61 67 73 79 85 91 97 103 109 115 121 127 S uh u (o C ) Hari ke- Suhu Udara 60 65 70 75 80 85 90 95 100 1 7 13 19 25 31 37 43 49 55 61 67 73 79 85 91 97 103 109 115 121 127 K el em b a ba n R el at if ( % ) Hari ke- Kelembaban Relatif 0 10 20 30 40 50 60 70 80 1 7 13 19 25 31 37 43 49 55 61 67 73 79 85 91 97 103 109 115 121 127 Cur ah Hu jan ( m m ) HST ke- Curah Hujan

(2)

terjadi dikarenakan lingkungan sekitar tempat penelitian baru dilakukan panen, dan belum dilakukan pengolahan tanah untuk penanaman selanjutnya sehingga kondisi lingkungan lebih kering. Suhu udara rata-rata harian minimum yang terukur adalah 24,6oC dan besar suhu udara rata-rata harian maksimum yang terukur sebesar 29,3oC.

Kelembaban relatif (RH) merupakan parameter yang biasa digunakan untuk menggambarkan kelembaban (moisture) di atmosfer. Besaran nilai RH dinyatakan dalam persen. RH tidak mengindikasikan jumlah aktual uap air di udara, melainkan menggambarkan seberapa dekat udara untuk menjadi jenuh. Kelembaban relatif merupakan rasio antara jumlah uap air di udara dan uap air jenuh pada suhu dan tekanan yang sama (Ahrens 2009). Nilai kelembaban relatif minimum berdasarkan hasil perhitungan adalah 68% sedangkan RH maksimum yang terukur adalah 98%. Pada umumnya nilai RH berkebalikan dengan nilai suhu, dan akan bernilai minimum pada saat siang hari.

Besar kecepatan angin yang terukur cukup besar dengan keadaan areal penanaman di areal persawahan yang cukup luas dan datar. Kecepatan angin diukur dengan menggunakan anemometer yang diletakkan di tengah areal sawah pada ketinggian 2 meter di atas permukaan tanah rata-rata. Hasil pengukuran yang dilakukan diperoleh hasil kecepatan angin minimum sebesar 51,7 km/hari dan kecepatan angin maksimum mencapai 202,3 km/hari. Kecepatan angin yang besar dapat dipengaruhi oleh kondisi lapangan yang datar dan luas dan juga karena areal penanaman dekat dengan daerah pantai. Kecepatan angin yang terukur pada saat penelitian menunjukkan bahwa kecepatan angin berkebalikan dengan suhu. Saat kecepatan angin tinggi, suhu udara rata-rata harian yang terukur di lokasi pengamatan kecil, dan saat kecepatan angin rendah suhu udara rata-rata harian yang terukur tinggi. Hal ini disebabkan pada saat angin bertiup kencang, massa udara panas sekitar lingkungan ikut terbawa oleh angin, sehingga menyebabkan suhu yang terukur rendah.

Intensitas radiasi surya maksimum selama pertumbuhan tanaman padi yang terukur adalah 22,2 MJ/m2/hari atau 616,6 J/m2/s sedangkan besar intensitas radiasi minimum sebesar 7,8 MJ/ m2/hari atau 216,6 J/m2/s. Menurut Bey (1991) intensitas radiasi surya akan tinggi pada saat musim kemarau, yaitu bulan April hingga September. Grafik yang ditunjukkan pada Gambar 5 terlihat

peningkatan intensitas radiasi memasuki bulan Juli. Hal ini dikarenakan memasuki bulan Juli jarang terjadi hujan di lokasi penelitian.

Sejak bulan Maret hingga Juli, jumlah hari hujan yang terhitung sedikit, yaitu terjadi 33 hari hujan dari 130 hari yang diamati. Distribusi hujan yang terjadi selama penelitian dapat dilihat pada Gambar 5, dari Gambar tersebut dapat dilihat bahwa pada bulan Juli hanya terjadi satu hari hujan dan jumlah curah hujan harian maksimal yang terukur sebesar 63,2 mm. Grafik curah hujan pada Gambar 5 juga menunjukkan memasuki hari ke 52 yaitu pada pertengahan bulan Mei, jumlah hari hujan yang terjadi semakin berkurang. Hal ini menunjukkan bahwa lokasi penelitian memasuki musim kemarau hingga penelitian selesai dilakukan.

Besar curah hujan yang terukur selama penelitian tidak mendukung untuk pertumbuhan tanaman padi, oleh sebab itu untuk memenuhi kebutuhan air tanaman padi selama pertumbuhan dibantu dengan pengairan air irigasi teknis yang diberikan secara berselang dan kebutuhan air untuk pertumbuhan tanaman padi masih tercukupi hingga panen pada kedua waktu tanam. Lokasi penanaman merupakan daerah irigasi ujung. Berdasarkan hasil penelitian Suhartatik et al. (2009), kondisi cuaca yang terjadi di areal penelitian termasuk kondisi yang memenuhi untuk pertumbuhan tanaman padi kecuali curah hujan.

4.3 Pertumbuhan Tanaman Padi

Selama proses pembudidayaan, Chang (1976) menyebutkan bahwa padi mengalami perubahan morfologik dan fisiologik, yaitu terjadinya perubahan ukuran, jumlah ataupun laju pertumbuhan. Pertumbuhan merupakan pertambahan panjang, bobot, jumlah, luas, dan volume organ tanaman (Nasir 2008). Pertumbuhan tanaman yang diukur secara bertahap pada penelitian ini adalah tinggi tanaman dan jumlah anakan tanaman padi. Pengukuran dilakukan pada tiga varietas padi, yaitu Inpari-10, Inpari-13 dan Ciherang yang dilakukan pada 2 waktu tanam.

Waktu tanam pertama dilakukan pada tanggal 16 April 2011, sedangkan waktu tanam ke 2 dilakukan pada tanggal 28 April 2011. Persemaian padi dilakukan selama 20 hari, tetapi lama waktu semai berbeda 2 hari pada waktu tanam 1 dan waktu tanam 2. Perbedaan waktu tanam ini dikarenakan kondisi lahan yang tidak memungkinkan untuk dilakukan penanaman pada awal waktu tanam karena lahan tergenang air cukup tinggi

(3)

dikarenakan curah hujan yang besar. Selain pertumbuhan tanaman dilakukan juga pengukuran terhadap hasil panen padi, diantaranya bobot 1000 butir padi, produktivitas perhektar dan jumlah gabah permalai.

4.3.1 Tinggi Tanaman

Pengukuran tinggi tanaman padi selama pengamatan dilakukan satu minggu sekali dengan menggunakan penggaris kayu, dimana tinggi tanaman diukur dari permukaan tanah hingga daun terpanjang. Hasil pengukuran menunjukkan perbedaan tinggi tanaman yang tidak jauh berbeda pada setiap perlakuan yang digambarkan oleh Gambar 6. Gambar 6 menunjukkan bahwa akumulasi tinggi tanaman pada saat tanam 2 lebih tinggi dibandingkan dengan akumulasi tinggi tanaman pada saat tanam 1 pada semua varietas. Hal ini terjadi dikarenakan radiasi yang terukur selama tanam 2 lebih tinggi dibandingkan tanam 1 selain itu kebutuhan air selama pertumbuhan tanaman juga tercukupi, sehingga penyerapan energi panas untuk proses fotosintesis serta respirasi tanaman lebih besar terjadi pada tanam 2 sehingga proses metabolisme tanaman dapat terjadi lebih optimal .

Gambar 6 Pertumbuhan tinggi tanaman padi (Ket: V1 : Inpari-10; V2 : Inpari-13; V3 : Ciherang; W1 :

Tanam 1; dan W2 :Tanam 2)

Pertambahan tinggi tanaman mulai menurun pada saat tanaman berumur 57 HST. Pertambahan tinggi tanaman berhenti karena penambahan bobot tanaman untuk pemanjangan batang dan daun tanaman berhenti dan berpindah untuk pembentukan malai, pengisian biji serta pemasakan biji padi. Berdasarkan 3 varietas yang ditanam, baik pada tanam 1 ataupun tanam 2 menunjukkan bahwa varietas Inpari-13

memiliki tinggi tanaman yang lebih tinggi dibandingkan varietas Ciherang dan Inpari-10. Tinggi maksimum tanaman dari tiga varietas pada tanam 1 menunjukkan bahwa varietas Ciherang adalah varietas yang paling tinggi dibandingkan varietas lainnya yaitu mencapai 102,6 cm, sedangkan tinggi tanaman varietas Inpari-13 dan Inpari-10 adalah 101,7 cm dan 98,8 cm. Pada saat tanam 2 varietas Inpari-13 memiliki tinggi tanaman yang paling tinggi dibandingkan 2 varietas lainnya yaitu mencapai 121,1 cm dan tinggi varietas Inpari-10 dan Ciherang adalah 115,0 cm dan 110,5 cm. Tinggi tanaman padi varietas Inpari-13 pada tanam 1 sesuai dengan tinggi tanaman padi yang dijelaskan dalam buku Deskripsi Padi oleh Suprihatno et al. (2009) yaitu 101,0 cm, tetapi tidak pada tanam 2. Tinggi tanaman padi varietas Inpari-13 jauh lebih tinggi dibandingkan literatur yang didapatkan, hal ini diduga karena perbedaan kondisi lingkungan pertumbuhan, khususnya terhadap suhu dan radiasi.

4.3.2 Jumlah Anakan

Pengukuran jumlah anakan sama seperti pengukuran tinggi tanaman. Jumlah anakan tanaman padi dihitung pada setiap rumpun tanaman padi. Hasil pengukuran perkembangan jumlah anakan padi pada tanam 1 dan tanam 2 dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7 Pertumbuhan jumlah anakan Tanaman Padi (Ket: V1 : Inpari-10; V2 : Inpari-13; V3 :

Ciherang; W1 : Tanam 1; dan W2 :Tanam 2)

Gambar 7 menunjukkan bahwa perkembangan jumlah anakan tanaman padi maksimum terjadi saat 43 HST pada tanam 1 dan saat 35 HST pada tanam 2. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi perbedaan panjang periode bagi tanaman padi untuk menghasilkan jumlah anakan maksimum. Perbedaan ini terjadi dikarenakan faktor 0 20 40 60 80 100 120 140 14 25 28 35 43 49 57 63 70 77 T in g gi tan am an ( cm ) HST W1 V1 W1 V2 W1 V3 W2V1 W2V2 W2V3 0 5 10 15 20 25 30 35 14 25 28 35 43 49 57 63 70 77 Ju m la h a n aka n ( B atan g ) HST W1 V1 W1 V2 W1 V3 W2V1 W2V2 W2V3

(4)

lingkungan, seperti cuaca. Radiasi matahari yang tinggi menyebabkan suhu lingkungan tanaman juga tinggi, sehingga proses fotosintesis netto tanaman dapat terjadi lebih optimal sehingga laju pertumbuhan jumlah anakan dapat terjadi lebih optimal. Salisbury dan Ross (1992 dalam Humaerah 2002) juga mengatakan bahwa intensitas radiasi surya yang tinggi secara langsung meningkatkan laju fotosintesis karena merupakan sumber energi untuk berlangsungya proses tersebut.

Akumulasi jumlah anakan yang ditunjukkan pada Gambar 7 menggambarkan bahwa jumlah anakan maksimum varietas Inpari-10 lebih tinggi dibandingkan varietas lainnya, akan tetapi pada saat fase pematangan terjadi pengurangan jumlah anakan, baik karena diserang hama (tikus) ataupun mati. Perbedaan jumlah anakan ditunjukkan oleh varietasnya, dimana jumlah anakan varietas Inpari-10 lebih banyak dibandingkan dengan jumlah anakan Ciherang dan diikuti oleh varietas Inpari-13 baik pada tanam 1 ataupun pada tanam 2. Dari tiga varietas dan 2 kali tanam, varietas yang menunjukkan jumlah anakan maksimum paling banyak adalah varietas Inpari-10. Akan tetapi jumlah anakan produktif yang dihasilkan hanya mendekati setengah dari jumlah anakan maksimumnya.

Varietas dengan selisih jumlah anakan maksimum dan anakan produktif paling sedikit adalah varietas Inpari-13. Jumlah anakan produktif yang dihasilkan Inpari-13 juga tidak jauh berbeda dibandingkan 2 varietas lainnya. Itu berarti varietas Inpari-13 lebih efektif untuk meminimalkan penguapan yang terjadi. Tinggi tanaman varietas Inpari-13 yang diukur adalah yang paling tinggi dibandingkan dua varietas lainnya dan varietas Inpari-10 lebih pendek dibandingkan dengan varietas Ciherang, akan tetapi jumlah anakan varietas Inpari-10 pada saat 49 HST adalah yang paling banyak. Varietas Inpari-13 yang menunjukkan tinggi tanaman yang paling tinggi diantara yang lainnya merupakan varietas yang jumlah anakannya lebih sedikit. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan energi radiasi ataupun konsumsi air pada varietas Inpari-13 lebih banyak digunakan untuk pertumbuhan tinggi tanaman dan sedikit untuk perkembangan jumlah anakan, sebaliknya pada varietas Inpari-10.

Varietas dengan jumlah anakan maksimum paling banyak tidak menentukan bahwa varietas tersebut akan memberikan jumlah anakan produktif yang lebih banyak pula. Selain itu, jumlah anakan produktif juga tidak menentukan bahwa semua jumlah anakan

produktif dapat hidup hingga panen. Perbandingan jumlah anakan tanaman padi ditunjukkan oleh Gambar 8 dan perbandingan persentase jumlah anakan bermalai dan jumlah anakan berproduksi dari jumlah anakan maksimum ditunjukkan Gambar 9.

Gambar 8 Jumlah anakan padi

Gambar 9 Persentase jumlah anakan bermalai dan anakan berproduksi dari jumlah anakan maksimum (Ket : V1 : Inpari-10; V2 : Inpari-13; V3 : Ciherang; W1 : Tanam 1; dan W2 : Tanam 2)

Gambar 8 menunjukkan bahwa jumlah anakan maksimum varietas Inpari-10 adalah yang paling tinggi dibandingkan varietas lainnya baik pada tanam 1 ataupun pada tanam 2, dan pada Gambar 9 menggambarkan bahwa persentase jumlah anakan yang berproduksi pada varietas Inpari-10 pada tanam 1 dan tanam 2 lebih kecil dibandingkan varietas Inpari-13 dan Ciherang.

Hasil yang berbeda ditunjukkan oleh varietas Inpari-13 pada tanam 1, dimana jumlah anakan bermalai adalah yang paling kecil dibandingkan lainnya dan pengurangan jumlah anakan yang bertahan mencapai setengah dari anakan maksimum. Hal ini terjadi karena varietas Inpari-13 adalah varietas yang berumur genjah dan memiliki masa vegetatif lebih cepat dari

0 5 10 15 20 25 30 W1V1 W1V2 W1V3 W2V1 W2V2 W2V3 A n ak an P ad i (B at an g ) Perlakuan

Anakan Maksimum Anakan Bermalai Anakan Berproduksi 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 W1V1 W1V2 W1V3 W2V1 W2V2 W2V3 P er se n ta se j u ml ah an ak an Perlakuan

(5)

Tabel 4 pengaruh perlakuan terhadap komponen hasil

Perlakuan Produktivitas (ton/ha) Bobot Gabah 1000 Butir Persentase Gabah Isi

V1W1 5,16b 29,30a 90,47a

V2W1 4,82c 25,96c 82,81b

V3W1 5,30b 25,80c 90,17a

V1W2 6,73a 29,56a 92,32a

V2W2 6,74a 27,11b 89,97a

V3W2 6,94a 26,37c 90,95a

Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% (uji Duncan), V1 : Inpari-10; V2 : Inpari-13; V3 : Ciherang; W1 : Tanam 1; dan W2 : Tanam 2

varietas lainnya. Masa vegetatif yang lebih cepat menyebabkan Inpari-13 diserang hama tikus lebih banyak karena tanamannya menjadi lebih wangi dibandingkan varietas lainnya.

4.3.3 Komponen Hasil

Rekapitulasi sidik ragam peubah komponen hasil dapat dilihat pada Tabel 4. Berdasarkan uji F menunjukkan perlakuan berpengaruh nyata terhadap produktivitas tanaman, bobot 1000 butir, dan persentase gabah isi. Rata-rata hasil dari setiap perlakuan (varietas dan waktu tanam) yang ditampilkan pada Tabel 4 menunjukkan bahwa produktivitas pada waktu tanam 2 memiliki hasil yang lebih baik dibandingkan waktu tanam 1, dan dari setiap varietas menunjukkan bahwa varietas Ciherang memberikan produktivitas yang paling banyak dari pada dua varietas lainnya pada kedua waktu tanam. Hal ini diduga karena faktor genetika varietas tanaman tersebut. Hasil penelitian Suprihatno et al. (2009) juga menunjukkan hasil bahwa varietas Ciherang memiliki produktivitas yang lebih besar.

Bila dilihat dari bobot gabah 1000 butir, bobot gabah 1000 butir varietas Inpari-10 menunjukkan angka yang lebih banyak dibandingkan varietas lainnya, hal yang sama juga ditunjukkan oleh persentase gabah isi, oleh sebab itu varietas Inpari-10 memiliki bobot 1000 butir yang paling tinggi dibandingkan kedua varietas lainnya. Hal ini diduga karena faktor genetik varietas Inpari-10 merupakan varietas yang tahan terhadap kekeringan sehingga memiliki hasil yang lebih baik. Yoshida (1981 dalam Suhartatik et al. 2008) mengatakan semakin tinggi radiasi surya pada fase reproduktif dapat meningkatkan jumlah gabah. Radiasi surya menurut Best (1962 dalam Bey 1991) terhadap pertumbuhan tanaman sangat

berpengaruh terhadap proses fotosintesis dan proses pembentukan tanaman, seperti batang, daun, dll.

Suhu udara mempengaruhi proses fotosinetesis maupun respirasi tanaman. Ketidak-seimbangan antara kedua proses tersebut dapat mengurangi bobot gabah. Suhu udara tinggi pada stadia vegetatif diperlukan untuk merangsang pembentukan anakan, tetapi dari stadia pengisian gabah sampai panen diperlukan udara yang sejuk. Suhu yang tinggi mengakibatkan respirasi yang terjadi juga lebih cepat. Sutcliffe (1979 dalam Polii 2003) berpendapat bahwa perubahan suhu lingkungan dapat menyebabkan perubahan suhu tanaman sehingga dapat mempengaruhi aktifitas metabolisme tanaman.

4.4 Cuaca Dan Pertumbuhan Tanaman

Pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, terutama cuaca. Unsur cuaca yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman adalah intensitas radiasi matahari, kelembaban relatif, dan suhu udara.

4.4.1 Intensitas Radiasi

Radiasi surya merupakan sumber energi utama untuk pertumbuhan tanaman dan sangat mempengaruhi suhu dan evapotranspirasi (Gupta dan O’toole 1986). Akumulasi radiasi mingguan dengan laju pertumbuhan tanaman (setiap pengukuran) ditunjukkan pada Gambar 9. Pada umumnya laju pertumbuhan tanaman akan meningkat dengan makin tinggi intensitas radiasi surya dalam kisaran tertentu. Pada tanam 1 akumulasi radiasi yang terukur lebih besar dibandingkan tanam 2 yang terlihat pada HST di atas 45. Intensitas radiasi pada tanam 1 sebesar 18,7 MJ/m2/hari dan 19,3 MJ/m2/hari pada tanam 2, tetapi besar intensitas radiasi perminggu bervariasi yang ditunjukkan pada Gambar 10.

(6)

Gambar 10 Hubungan intensitas radiasi dengan tinggi dan jumlah anakan tanaman pada dua waktu tanam

Perubahan penerimaan radiasi surya dari minggu ke minggu tidak memperlihatkan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman dari minggu ke minggu, tetapi perbedaan penerimaan radiasi antara masa tanam 1 dan masa tanam 2 memperlihatkan pengaruh pada perbedaan akumulasi tinggi tanaman setelah minggu ke-28. Intensitas radiasi yang terukur pada tanam 1 dan tanam 2 tidak terlihat pengaruhnya terhadap pertambahan jumlah anakan padi. Kondisi pada saat penelitian belum cukup membuktikan bahwa intensitas radiasi mempengaruhi jumlah anakan tanaman yang lebih cepat.

4.4.2 Suhu

Suhu berpengaruh pada laju proses-proses metabolisme. Pengaruh suhu juga terlihat pada perkembangan, pembentukan daun, inisiasi organ produktif, pematangan buah dan umur tanaman (Bey 1991). Pengaruh suhu terhadap pertumbuhan tinggi dan jumlah anakan tanaman padi ditunjukkan pada Gambar 11. Gambar 11 menggambarkan rata-rata suhu udara selama selang waktu pengukuran yang diurutkan dari suhu terendah yang terukur pada setiap fase pertumbuhan. Peningkatan suhu akan mempercepat proses biokimia fotosintesa dan perkembangan tanaman dan juga mempercepat proses respirasi. Reddy et al. (1999 dalam Esparza et al. 2007) mengatakan bahwa suhu merupakan

faktor pembatas dalam pertumbuhan tanaman serta menentukan panjang fase pertumbuhan dan akan dibahas selanjutnya dalam sub-bab Heat Unit.

Suhu yang tinggi dapat menghambat pertumbuhan tanaman, karena laju respirasi yang terjadi menjadi lebih besar. Rata-rata suhu pada setiap minggu pengamatan tidak jauh berbeda. Suhu yang lebih besar mempengaruhi pertumbuhan tinggi tanaman menjadi lebih cepat. Hal ini karena suhu yang tinggi dapat mempercepat proses fotosintesis tanaman lebih dari respirasi tanaman, sehingga metabolisme tanaman padi dapat terjadi lebih cepat. Humaerah (2002) juga mengatakan bahwa semua fungsi tanaman sangat tergantung pada proses fotosintesis, bila proses tersebut berlangsung optimal maka, proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman akan berlangsung optimal.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa besar suhu udara yang terukur selama tanam 1 dan tanam 2 tidak menunjukkan adanya pengaruh nyata terhadap pertambahan tinggi tanaman dan jumlah anakan tanaman padi. Hal ini dikarenakan pada dua periode tanam suhu tidak berbeda nyata dan pengaruh terhadap kecepatan pertambahan tinggi tanaman tidak terlihat. Kecepatan pertumbuhan tinggi dan jumlah anakan tanaman padi lebih dipengaruhi oleh fase pertumbuhan tanaman tersebut. 0 100 200 300 400 500 600 0 10 20 30 40 50 14 25 28 35 43 49 57 63 70 77 In t. R adi as i (M J/m 2) P er ta m b ah an T in ggi T an am an ( cm ) HST ke- Tanam 1

Inpari-10 Inpari-13 Ciherang Batas Fase Int. Radiasi

-300 -200 -100 0 100 200 300 400 500 600 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 14 25 28 35 43 49 57 63 70 77 In t. R adi as i (M J/m 2) P er ta m b ah an J um la h A n aka n ( B at an g) HST ke- Tanam 1

Inpari-10 Inpari-13 Ciherang Batas Fase Suhu

0 100 200 300 400 500 600 0 10 20 30 40 50 14 21 28 35 42 49 56 63 70 77 S uh u (o C ) P er tam b ah an T in ggi T an am an ( cm ) HST ke- Tanam 2

Inpari-10 Inpari-13 Ciherang Batas Fase Int. Radiasi

-300 -200 -100 0 100 200 300 400 500 600 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 14 21 28 35 42 49 56 63 70 77 In t. R adi as i (M J/m 2) P er tam b ah an T in ggi T an am an ( cm ) HST ke- Tanam 2

(7)

Gambar 11 hubungan suhu dengan tinggi dan jumlah anakan padi pada dua waktu tanam 4.4.3 Kelembaban Relatif

Kelembaban relatif (RH) tidak banyak berpengaruh pada pertumbuhan tanaman. Kelembaban relatif berpengaruh pada laju transpirasi. Las (1982) mengatakan bahwa kelembaban udara juga dapat berpengaruh terhadap proses fotosintesis dan respirasi tanaman. Proses fotosintesis dapat berlangsung optimal pada kisaran kelembaban relatif 50-90%. Secara langsung kelembaban berperan dalam proses pembungaan, khususnya proses persarian. Kelembaban yang terlalu rendah dapat menyebabkan kekeringan pada tanaman akibat transpirasi yang tinggi, sedangkan apabila terlalu tinggi dapat mengganggu persarian akibat menggumpalnya

tepung sari (Tanaka 1976 dalam Suhartatik et al. 2008).

Gambar 12 menunjukkan hubungan kelembaban relatif pada tinggi tanaman padi. Besar nilai RH berada pada kisaran RH optimum menurut Las (1982) untuk proses fotosintesis dan respirasi tanaman. Nilai RH pada tanam 2 lebih tinggi dibandingkan tanam 1 pada saat tanaman memasuki pembungaan hingga panen, yaitu di atas 49 HST. Bila dilihat dari hasil panen padi, hasil produksi padi lebih baik pada saat tanam 2. Hal ini menunjukkan bahwa produksi padi akan optimal dengan RH sekitar 80-85% pada saat pembungaan.

Gambar 12 Hubungan kelembaban relatif dengan tinggi tanaman padi pada dua waktu tanam 20 22 24 26 28 30 -10 0 10 20 30 40 50 25 35 14 28 63 57 49 43 70 77 S uh u (o C ) P er ta m b ah an T in ggi T an am an ( cm ) HST ke- Tanam 1

Inpari-10 Inpari-13 Ciherang Batas Fase Suhu

20 22 24 26 28 30 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 25 35 14 28 63 57 49 43 70 77 S uh u (o C ) P er ta m b ah an J um la h A n aka n ( B at an g) HST ke- Tanam 1

Inpari-10 Inpari-13 Ciherang Batas Fase Suhu

20 22 24 26 28 30 -5 5 15 25 35 9 3 21 28 14 35 63 56 49 42 70 77 S uh u (o C ) P er tam b ah an T in g g i T an am an ( cm ) HST ke- Tanam 2

Inpari-10 Inpari-13 Ciherang Batas Fase Suhu

20 22 24 26 28 30 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 9 3 21 28 14 35 63 56 49 42 70 77 S uh u (o C ) P er ta m b ah an Jum la h A n aka n ( B at an g) HST ke- Tanam 2

Inpari-10 Inpari-13 Ciherang Batas Fase Suhu

50 55 60 65 70 75 80 85 90 95 100 -2 3 8 13 18 23 28 33 38 43 14 25 28 35 43 49 57 63 70 77 R H ( % ) T in g gi T an am an ( cm ) HST ke- Tanam 1

Inpari-10 Inpari-13 Ciherang RH

50 55 60 65 70 75 80 85 90 95 100 -1 3 7 11 15 19 23 27 31 35 39 43 3 9 14 21 28 35 42 49 56 63 70 77 R H ( % ) T in g g i T a n a m a n (c m ) HST ke- Tanam 2

(8)

Tabel 5. Konsumsi air tanaman padi pada setiap fase pertumbuhan pada 2 waktu tanam. Fase Pertumbuhan W1V1 W1V2 W1V3 W2V1 W2V2 W2V3 Semai-tanam 95 95 95 99 99 99 Tanam-Primordia 179 173 179 189 183 183 Primordia – Pembungaan 112 98 118 117 101 123 Pembungaan – Panen 161 157 150 145 156 149 Jumlah 547 522 542 550 539 554

4.5 Konsumsi Air Tanaman Padi

Konsumsi air tanaman merupakan jumlah air yang digunakan tanaman pada saat pertumbuhan tanaman terjadi. Konsumsi air tanaman berbeda pada setiap fase pertumbuhan tanaman. Pendugaan besar konsumsi air tanaman pada setiap fase pertumbuhan tanaman padi diduga dengan menghitung nilai evapotranspirasi potensial (ETp) di lokasi penelitian, kemudian dihitung nilai Evapotranspirasi tanaman (ETc).

Evapotranspirasi potensial (ETp) merupakan kehilangan air yang terjadi untuk memenuhi kebutuhan tanaman yang terjadi pada saat kondisi air tanah jenuh (Xu and Chen 2005). Besar nilai ETp pada penelitian ini diduga dengan menggunakan persamaan empiris Penman. Setelah didapatkan nilai ETp, nilai ETc tanaman pada umur tertentu dihitung dengan menggunakan nilai koefisien tanaman (Kc) berdasarkan ketentuan FAO. Akumulasi nilai ETc berdasarkan hasil perhitungan digambarkan pada Tabel 5. Tabel 5 menunjukkan akumulasi evapotranspirasi tanaman pada setiap fase pertumbuhan tanaman. Dapat terlihat bahwa besarnya akumulasi evapotranspirasi potensial pada tanam 1 dan tanam 2 tidak jauh berbeda.

Jumlah konsumsi air tanaman dari semai hingga panen pada 3 varietas yang digunakan lebih besar pada saat tanam 2 dibandingkan pada saat tanam 1 (Tabel 5). Hal ini terjadi karena pada saat tanam 2 selain intensitas radiasi yang lebih tinggi, kecepatan angin yang terjadi juga lebih besar. Semakin tinggi kecepatan angin maka besar evapotranspirasi

yang terjadi juga semakin tinggi, begitu pula pada radiasi, semakin tinggi intensitas radiasi pada suatu lingkungan akan menyebabkan pemanasan massa udara yang lebih tinggi sehingga penguapan yang terjadi juga akan tinggi.

Rata-rata konsumsi air tanaman saat semai hingga tanam pada varietas 10, Inpari-13 dan Ciherang adalah sama yaitu 97 mm. Pada saat tanam hingga primordia konsumsi air tanaman varietas Ciherang (181 mm) tidak berbeda nyata dengan varietas Inpari-10 (184 mm) dan varietas Inpari-13 adalah yang paling kecil yaitu sebesar 178 mm. Konsumsi air tanaman saat primordia hingga masuk pembungaan pada varietas Ciherang lebih besar dibandingkan dua varietas lainnya yaitu 121 mm, sedangkan varietas Inpari-13 adalah yang paling kecil yaitu 100 mm, pada varietas Inpari-10 sebesar 115 mm. Berbeda dari fase pertumbuhan sebelumnya, konsumsi air tanaman Inpari-13 saat pembungaan sampai panen lebih besar dari varietas lainnya yaitu 157 mm, sedangkan varietas Inpari-10 sebesar 153 mm dan varietas Ciherang 150 mm.

Varietas Inpari-13 membutuhkan lebih banyak air saat pembungaan hingga panen, varietas Inpari-10 pada saat tanam hingga primordia dan pada varietas Ciherang lebih besar pada saat tanam hingga pembungaan. Rata-rata hasil produksi padi varietas Inpari-10, Inpari-13 dan Ciherang masing-masing sebesar 5,9 ton/hektar, 5,8 ton/hektar dan 6,1 ton/hektar.

Tabel 6. Akumulasi Heat Unit pada setiap fase pertumbuhan padi

Fase Pertumbuhan W1V1 W1V2 W1V3 W2V1 W2V2 W2V3

Fase Vegetatif 515a 506b 515a 516a 507b 507b

Fase Generatif 206c 172d 215b 209c 179d 237a

Fase Pemasakan 292a 291a 275c 266d 286b 256e

Jumlah 1013a 969d 1005b 991c 972d 1000b

Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% (uji Duncan), V1 : Inpari-10; V2 : Inpari-13; V3 : Ciherang; W1 : Tanam 1; dan W2 : Tanam 2.

Gambar

Gambar 5 menunjukkan pola suhu udara rata- rata-rata  harian  di  tempat  penelitian.  Suhu  yang  terukur  pada  awal  penanaman  pada  tanam  1  lebih  tinggi  dibandingkan  setelahnya
Gambar 8  Jumlah anakan padi
Tabel 4  pengaruh perlakuan terhadap komponen hasil
Gambar 10  Hubungan intensitas radiasi dengan tinggi dan jumlah anakan tanaman pada dua waktu tanam
+3

Referensi

Dokumen terkait

Pendugaan umur simpan fruit leather mangga dengan penambahan kulit buah naga merah ini berdasarkan pada mutu sensoris yang meliputi warna, rasa, aroma, tekstur, dan

Pembentukan ester dari asam-asam lemak (FAME) menjadi tidak terlalu signifikan bila reaksi transesterifikasi dilakukan pada suhu 70 o C. Dalam keadaan tersebut laju reaksi

Kontaminasi dan pencoklatan (browning) eksplan merupakan masalah utama yang sering muncul pada tahap inisiasi. Inisiasi merupakan tahap awal kultur jaringan yang

Hal ini dapat terlihat dari hasil pengujian dengan metode adiabatik dimana kereaktifan batubara pada bituminus 1 lebih tinggi dari batubara sub bituminus pada suhu dimana

Namun perbedaan suhu memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap mutu pisang cavendish dimana pisang tidak tahan disimpan pada suhu ruang lebih dari 7 hari karena

Pengaruh penambahan tepung daun belimbing wuluh terhadap indeks perkembangan Sitophilus zeamais terlihat nyata mulai pada konsentrasi 2.4 % sedangkan pada media

Dari Lampiran 4 dapat terlihat bahwa tingkat pemenuhan syarat kelompok unsur tulisan pada label minuman sari buah kemasan siap minum yang diteliti yaitu sebesar 88.24%.. Terdapat

Terlihat bahwa kecepatan pengadukan memberikan pengaruh yang sangat kecil terhadap polimerisasi ionik, sedangkan pengaruh suhu reaksi memberikan pengaruh yang cukup besar.. Semakin