• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Lokasi Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Lokasi Penelitian"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Kabupaten Sukabumi merupakan Kabupaten dengan wilayah terluas di Jawa Barat. Posisi geografis Kabupaten Sukabumi terletak di antara 1060 49’ - 1070 00’ Bujur Timur dan 60 57’ – 70 25 Lintang Selatan (LS) dengan luas wilayah 4128 km2 (412.799,54 Ha). Wilayah Kabupaten Sukabumi berada pada ketinggian berkisar antara 0 – 2960 meter, dengan bentuk topografis wilayah pada umumnya meliputi permukaan yang bergelombang di daerah selatan dan bergunung di daerah bagian utara dan tengah. Wilayah administratif di Kabupaten Sukabumi, sejak tahun 2006 terdapat 47 Kecamatan, 367 desa, 3 kelurahan, 2996 rukun warga dan 11.499 rukun tangga. Ibukota Kabupaten Sukabumi saat ini berada di Kota Pelabuhanratu.

Secara tipologi Kabupaten Sukabumi dibagi menjadi 3 wilayah yaitu wilayah dataran rendah, dataran sedang, dan dataran tinggi. Kadudampit, Cikidang dan Citarik merupakan 3 Kecamatan yang dapat mewakili dalam kategori dataran tinggi, sedang dan rendah di wilayah kabupaten Sukabumi. Kecamatan Kadudampit berada pada ketinggian di atas 1000 meter, Cikidang berada pada ketinggian 301000 meter dan Citarik berada pada ketinggian 0-300 meter di atas permukaan air laut. Sarana transportasi yang biasanya digunakan penduduk di tiga Kecamatan tersebut dari satu desa ke desa lain yaitu kendaraan umum seperti angkot, ojek dan perahu dayung di wilayah Citarik. Kondisi jalan di tiga Kecamatan tersebut umumnya merupakan jalan tanah berbatu, jalan yang di aspal hanya jalan utama jalur transportasi menuju wilayah / kecamatan lain sehingga dapat menyulitkan bagi masyarakat dari ketiga tempat tersebut untuk menjangkau akses terhadap pangan terutama untuk kecamatan Cikidang akses terhadap pangan sangat sulit karena letaknya yang jauh dari pusat kota. Pada saat ini ibu kota kabupaten Sukabumi berada di Pelabuhanratu.

Program intervensi biskuit fungsional di Kabupaten Sukabumi ini merupakan program kerjasama antara Institut Pertanian Bogor dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi. Peserta program ini adalah 48 anak balita yang berumur 1-5 tahun yang memiliki status gizi kurang dan sangat kurang. Pemberian biskuit fungsional dalam program ini berlangsung selama 90 hari yaitu dari bulan April hingga Juni 2011.

(2)

Karakteristik Balita

Karakteristik balita dalam penelitian ini adalah 48 anak yang terdiri dari 20 anak status gizi buruk dan 28 anak status gizi kurang. Jenis kelamin balita sebagian besar adalah perempuan sebanyak 33 anak (68,7%) dan laki-laki sebanyak 15 anak (31.3%). Hal ini sesuai dengan data yang diperoleh dari BPS Kabupaten Sukabumi yang menunjukan bahwa jumlah balita perempuan lebih banyak dibandingkan balita laki-laki.

Tabel 8 sebaran balita berdasarkan jenis kelamin dan umur

Jenis Kelamin n % Laki-laki 15 31.3 Perempuan 33 68.7 Total 48 100 Umur ( Bulan ) 12-23 28 58.3 24-35 14 29.2 36-47 4 8.3 48-60 2 4.2 Total 48 100

Berdasarkan tabel 8 diatas dapat diketahui kelompok umur anak sebagian besar besar berada pada kelompok umur 12-23 bulan (58.3%) dan kelompok umur 24-35 bulan (29.2%) sedangkan sisanya berada pada kelompok umur 36-60 bulan. Berdasarkan umur balita, proporsi terbesar adalah pada rentang usia 12-35 bulan atau 1 – 3 tahun yang artinya sebagian besar balita dalam usia batita, dimana pada usia ini balita tergolong dalam konsumen pasif yang belum bisa memilih makanan sendiri dan hanya menerima makanan yang disediakan ibu, sehingga keadaan kesehatan maupun status gizi anak sangat tergantung dari kualitas makanan yang disediakan oleh pengasuh (Ibu) dan sisa balita berada pada rentang 36-60 bulan yang sudah tergolong balita dan termasuk konsumen aktif yang dapat memilih makanan sendiri dan sudah mulai bisa menolak makanan yang disediakan ibu. Usia balita merupakan periode yang paling kritis dalam kehidupan, oleh karena itu, kebutuhan gizi merupakan kebutuhan yang penting untuk dipenuhi dalam membantu proses pertumbuhan dan perkembangan balita (Hastuti 2008)

(3)

Karakteristik Keluarga Balita Umur Orang Tua

Umur orang tua diklasifikasikan berdasarkan kelompok umur dewasa awal (20-40 tahun), dewasa tengah (41-65 tahun) dan dewasa akhir (> 65 tahun) (Papalia & Old 1986). Tabel 3 menunjukkan sebaran balita berdasarkan umur orang tua. Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui bahwa sebagian besar ayah maupun ibu termasuk dalam golongan umur dewasa awal dengan rata-rata umur ayah 33.7 tahun dengan standar deviasi 8,6 dan rata-rata umur ibu 28,5 tahun dengan standar deviasi 7,2.

Tabel 9 balita balita berdasarkan umur orang tua

Umur (Tahun ) Ayah Ibu

n % n % Dewasa Awal (20-40) 41 85.4 45 93.8 Dewasa tengah (41-65) 7 14.6 3 6.3 Dewasa akhir (>65) 0 0 0 0 Total 48 100 48 100 Rata-rata ± SD 33.7 ± 8.6 28.5 ± 7.2 Hurlock (1998) menyatakan bahwa umur orang tua, terutama ibu berkaitan dengan pengalaman ibu dalam mengasuh anak. Ibu dengan umur muda cenderung memperhatikan kepentingannya sendiri daripada kepentingan anak dan keluarga. Berdasarkan tabel di atas dapat diamati bahwa tidak ada ayah maupun ibu yang termasuk dalam golongan umur remaja sehingga dapat disimpulkan dari segi umur orang tua balita termasuk dalam golongan yang siap dan cukup berpengalaman dalam mengasuh anak.

Pendidikan Orang Tua

Tingkat pendidikan orang tua merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap pola asuh anak termasuk pemberian makan, pola konsumsi pangan dan status gizi. Ibu yang memiliki tingkat pendidikan tinggi akan lebih mudah menerima pesan dan informasi mengenai gizi dan kesehatan anak (Rahmawati 2006). Tabel 10 menunjukkan sebaran balita berdasarkan tingkat pendidikan orang tua.

Tabel 10 sebaran balita berdasarkan pendidikan orang tua

Tingkat Pendidikan Ayah Ibu

n % n % Tidak Sekolah 1 2.1 1 2,1 Tamat SD 26 54.2 34 70.8 Tamat SMP 7 14.6 8 16.7 Tamat SMA 12 25 5 10.4 Tamat PT 2 4.2 0 0 Total 48 100 48 100

(4)

Pada penelitian ini diperoleh hasil bahwa tingkat pendidikan baik ayah maupun ibu sebagian besar hanya tamat SD masing-masing sebesar 54,2% dan 70,8%. Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa tingkat pendidikan tertinggi ayah 4.2% adalah perguruan tinggi sedangkan tingkat pendidikan tertinggi ibu 10.4% adalah SMA, selain itu ternyata masih ada orang tua balita yang tidak pernah sekolah sebesar 2.1%.

Pekerjaan Orang Tua

Jenis pekerjaan ayah cukup bervariasi, antara lain petani, pedagang, buruh tani, buruh non tani, PNS/ABRI/Polisi, Jasa/tukang ojek dan lain-lain. Tabel 8 menunjukkan sebaran balita berdasarkan jenis pekerjaan orang tua.

Tabel 11 sebaran balita berdasarkan jenis pekerjaan orang tua

Tingkat Pekerjaan Ayah Ibu

n % n %

Tidak Bekerja 0 0 0 0

Petani 12 25 0 0

Pedagang 5 10.4 0 0

Buruh tani 12 25 0 0

Buruh non tani 16 33.3 0 0

PNS/ABRI/Polisi 0 0 0 0

Jasa(Tukang Ojeg,Tukang cukur,calo dll) 3 6.3 0 0

Ibu Rumaht Tangga (IRT) 0 0 48 100

Lainnya 0 0 0 0

Total 48 100 48 100

Sebagian besar ayah balita bekerja sebagai buruh non tani (33.3%), tidak ada ayah balita yang tidak bekerja. Berbeda dengan halnya ayah, hampir semua ibu tidak bekerja atau hanya berperan sebagai ibu rumah tangga yang merawat dan mendidik anaknya (100%). Pekerjaan termasuk ke dalam salah satu sumber pendapatan dalam keluarga. Dengan adanya pekerjaan tetap dalam suatu keluarga, maka keluarga tersebut relatif terjamin pendapatannya setiap bulan (Khomsan 2007).

Pendapatan Keluarga

Pendapatan perkapita perbulan keluarga digunakan sebagai pendekatan terhadap pengeluaran perkapita keluarga balita. Rata-rata pendapatan keluarga balita perkapita perbulan pada penelitian ini adalah sebesar Rp 166.574,00. Pendapatan terendah keluarga balita perkapita perbulan adalah sebesar Rp 62.500,00 sedangkan pendapatan tertingginya adalah Rp 900.000,00.

(5)

Tabel 12 Sebaran balita berdasarkan pendapatan perkapita perbulan Pendapatan Perkapita Perbulan n %

Miskin 31 64.5

Tidak miskin 17 35.4

Total 48 100

Menurut BPS (2009), standar Garis Kemiskinan untuk Kabupaten Sukabumi, kategori miskin ada pada pendapatan per kapita <Rp 155.478.00 dan tidak miskin > Rp 155.478.00. Berdasarkan standar garis kemiskinan tersebut sebanyak 64.5% keluraga balita termasuk dalam kategori keluarga miskin dan sebanyak 35.4 % keluarga balita termasuk dalam kategori keluarga tidak miskin sehingga disimpulkan bahwa sebagian besar keluarga balita termasuk dalam kategori miskin.

Pendapatan keluarga yang rendah akan berpengaruh terhadap daya beli pangan sehari-hari. Menurut Riyadi et al. (1990) hal tersebut memungkinkan daya beli terhadap makanan menjadi rendah dan konsumsi pangan keluarga akan berkurang. Hasil tersebut juga sesuai dengan penelitian Martianto dan Ariani (2004) tingkat pendapatan seseorang akan berpengaruh terhadap jenis dan jumlah bahan pangan yang dikonsumsinya.

Besar Keluarga

Besar keluarga diklasifikasikan menjadi tiga kategori, yaitu keluarga kecil (≤4 orang), keluarga sedang (5-7 orang) dan keluarga besar (≥8 orang) (Hurlock 1998). Tabel 13 menunjukkan sebaran balita berdasarkan jumlah anggota keluarga.

Tabel 13 sebaran balita berdasarkan besar keluarga orang tua

Besar Keluarga n %

Kecil ≤ 4 Orang) 26 54.2

Sedang (5-7 Orang) 21 43.8

Besar (≥ 8 Orang ) 1 2.1

Total 48 100

Berdasarkan tabel 13 di atas dapat diketahui bahwa lebih dari separuh keluarga balita memiliki jumlah anggota keluarga kurang dari 4 atau termasuk dalam kategori keluarga kecil (54,2%) dan separuh lagi keluarga balita memiliki jumlah anggota keluarga antara lima hingga tujuh orang atau termasuk dalam kategori keluarga sedang (43.8%).. Gabriel (2008) menyatakan bahwa jumlah anggota keluarga yang besar akan mempersulit dalam memenuhi kebutuhan pangan, terutama balita yang memerlukan perhatian khusus karena belum bisa mengurus keperluannya sendiri serta ada dalam masa pertumbuhan.

(6)

Pola Asuh Balita dalam Keluarga

Pola pengasuhan merupakan sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal kedekatannya dengan anak, memberikan makan, merawat, kebersihan, dan memberi kasih sayang. Menurut Soekirman (2000), pola pengasuhan tersebut berhubungan dengan keadaan ibu dalam hal kesehatan (fisik dan mental), status gizi, pendidikan umum, pengetahuan tentang pengasuhan anak yang baik, peran dalam keluarga di masyarakat, sifat pekerjaan sehari-hari, adat kebiasaan keluarga dan masyarakat. Pola asuh yang dibahas dalam penelitian ini adalah pola asuh makan, pola asuh hidup bersih dan akses terhadap pelayanan kesehatan dasar.

Pola Asuh Makan

Menurut Hastuti (2008) pola asuh makan mengacu pada apa dan bagaimana anak makan, serta situasi yang terjadi pada saat makan. Pemberian makanan bergizi mutlak dianjurkan untuk anak melalui peran ibu atau pengasuhnya. Pada penelitian ini pola asuh makan yang diteliti meliputi riwayat pemberian ASI, cara memperkenalkan makanan, cara memberikan makanan, dan tugas menyiapkan makan.

ASI ekslusif adalah pemberian ASI saja tanpa pemberian makanan pengganti atau tambahan lain. ASI ekslusif sebaiknya diberikan diberikan kepada anak hingga anak berusia 6 bulan, hal ini artinya bahwa ASI saja sudah dapat mencukupi zat gizi yang dibutuhkan bayi sampai usia enam bulan.Berikut sebaran balita berdasarkan riwayat pemberian ASI.

Tabel 14 Sebaran balita berdasarkan riwayat pemberian ASI

Riwayat pemberian ASI Ya Tidak

n % n %

1. Anak diberi Kolostrum 35 72.9 13 27.1

2. Anak diberikan Asi Eksklusif selama 6 bulan 27 56.2 21 43.8

3. Anak mulai diberi MP ASI setelah segera usia 6 bulan 39 81.2 9 18.8

4. Anak diberikan ASI sampai usia 2 tahun 32 64.6 16 33.4

Tabel 14 menunjukkan bahwa sebagian besar Ibu (56.2%) memberikan ASI ekslusif kepada anaknya dan mulai memberikan makanan selain ASI (MP ASI) setelah usia 6 bulan (81.2%) namun demikian masih ada ibu yang tidak memberikan ASI ekslusif kepada anaknya (43.8%) karena sebelum usia 6 bulan anak sudah diberikan makanan lain misalnya bubur, sari buah, dan lain-lain. Muchtadi (2002), menyatakan bahwa bagaimanapun harus diusahakan agar makanan tambahan diberikan setelah bayi berusia 6 bulan. Pemberian makanan tambahan pada anak umur kurang dari 6 bulan memiliki kontaminasi yang sangat

(7)

tinggi. Terdapat bahaya gastroenteritis yang merupakan penyakit yang serius pada anak. Tujuan pemberian MP ASI setelah usia 6 bulan adalah untuk meningkatkan nilai zat gizi yang diperlukan bayi karena ASI saja tidak dapat memenuhi kebutuhan bayi secara terus menerus (Krisnatuti & Yenrina 2000)

Meskipun tidak memberikan ASI ekslusif namun sebagian besar Ibu memberikan ASI kepada anaknya hingga usia 2 tahun (64.6%). Untuk pemberian kolostrum, sebagian besar responden (72.9%) memberikan kolostrum untuk anaknya, bagi Ibu yang tidak memberikan kolostrum, berdasarkan hasil wawancara dikarenakan mereka tidak mengetahui manfaat dari kolostrum tersebut dan menurut mereka kolostrum itu tidak baik karena kotor dan berbau. Menurut Muchtadi (2002) kolostrum mengandung lebih banyak protein (terdapat sekitar 10% protein) dan lebih banyak mengandung immunoglobulin A yang sangat penting untuk pertahanan tubuh bayi terhadap serangan penyakit (infeksi). Sebaran balita berdasarkan pola asuh (cara pemberian makan) disajikan pada tabel 15.

Tabel 15 Sebaran balita berdasarkan cara pemberian makan

Cara memberikan makan Ya Tidak

n % n %

1. Ibu memberikan anak makan 3 kali sehari 30 62.5 18 37.5

2. Ibu memberikan buah setiap hari pada anak 11 22.9 37 77.1

3. Ibu memberikan sayur setiap hari pada anak 16 33.4 32 66.6

4. Ibu memberikan sumber protein hewani setiap hari 27 56.2 21 43.8

5. Ibu memberikan sumber protein nabati setiap hari 42 87.5 6 12.5

6. Ibu memberikan menu makanan lengkap setiap hari 18 37.5 30 62.5

7. Ibu menyuapi anak ketika tidak nafsu makan 33 68.7 15 31.3

8. Ibu membujuk anak bila sedang tidak mau makan 39 81.2 9 18.8

Tabel 15 menunjukkan bahwa persentase Ibu yang memberikan makan anaknya sebanyak 3 x sehari dengan Ibu yang tidak memberikan makan 3x sama (62.5%). Alasan Ibu tidak memberikan makan 3x sehari untuk anaknya karena anak memang setiap harinya tidak mau makan. Tidak ada responden / ibu yang menyediakan menu makanan lengkap untuk anaknya. Berdasarkan hasil wawancara dan recall Ibu hanya menyediakan makanan dengan komposisi nasi + lauk saja (tempe tahu) tanpa sayur, nasi + telur saja + kecap, dan bahkan hanya nasi + sayur, dengan alasan mahalnya harga pangan seperti daging ayam maupun daging sapi dan juga tergantung dari kesukaan anak.

Berdasarkan uraian mengenai pola asuh makan diatas diperoleh kemudian dikategorikan. Sebaran balita berdasarkan kategori pola asuh makan disajikan pada tabel 16.

(8)

Tabel 16 Sebaran balita berdasarkan kategori pola asuh makan

Pola Asuh Makan n %

Rendah 18 37.5

Sedang 28 58.3

Baik 3 6.3

Total 48 100

Tabel 16 menunjukkan bahwa sebagian besar (58.3%) balita memiliki pola asuh makan yang sedang (60-80%), sebanyak 37.1% rendah (<60%) dan hanya 6.3 % balita yang menerapkan pola asuh makan yang baik kepada anaknya. Pola asuh makan merupakan faktor yang sangat menentukan status gizi anak.

Pola Asuh Hidup Sehat

Perawatan kesehatan merupakan bentuk perilaku ibu dalam menerapkan pola hidup sehat pada anak sehingga anak selalu berada dalam kondisi terbebas dari penyakit serta dapat beraktivitas rutin selayaknya individu normal. Pola asuh hidup sehat yang diteliti dalam penelitian ini diukur dengan 15 pertanyaan meliputi kebiasaan hidup bersih seperti mandi, keramas, gosok gigi, gunting kuku, cuci tangan, kebersihan mainan anak, dan lingkungan bermain anak. Berikut sebaran balita berdasarkan pola asuh hidup sehat

Tabel 17 Sebaran balita berdasarkan pola asuh pola asuh hidup sehat

Pola asuh hidup sehat Ya Tidak

n % n %

1. Membiasakan anak mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah makan

30 62.5 18 37.5

2. Membiasakan cuci tangan dengan sabun setelah membersihkan BAB (buang air besar) anak

25 52.1 13 27.1

3. Memcuci bersih mainan yang di pegang oleh anak 10 20.8 38 79.2

4. Memeriksa dan menggunting kuku anak minimal seminggu sekali

37 77.1 11 22.9

5. Membolehkan anak bermain di lantai kotor/tanak 36 75.0 12 25.0

6. Mencuci rambut /keramas anak minimal 2 kali seminggu

40 83.3 8 16.7

7. Memeriksa keberihan telinga anak 42 87.5 6 12.5

8. Menyediakan sandal/alas kaki untuk digunakan anak ketika keluar rumah

34 70.8 14 29.2

9. Mengingatkan/menyuruh anak memakai alas kaki ketika keluar rumah

34 70.8 14 29.2

10. Mengajak anak melakukan aktivitas fisik seminggu 27 56.3 21 43.8

Tabel 17 menunjukkan pola asuh ibu terhadap kebersihan anaknya baik dalam hal memmbiasakan mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah makan, membiasakan mencuci tangan dengan sabun setelah membersihkan BAB anak, memcuci bersih mainan yang dipegang oleh anak , memeriksa dan menggunting kuku, membolehkan anak bermain di lantai kotor, mencuci rambut /

(9)

keramas anak minimal 2 kali seminggu, memeriksa kebersihan anak, menyediakan sandal/alas kaki untuk digunakan anak ketika keluar rumah, mengingatkan/menyuruh anak memakai alas kaki ketika keluar rumah dan mengajak melakukan aktivitas fisik. Persentasi terendah perawatan kebersihan ibu terhadap anaknya yaitu dalam hal mencuci bersih mainan yang dipegang oleh anaknya dengan presentasi hanya 20.8 %.

Notoadmojdo (2007), menyatakan bahwa salah satu kondisi yang menyebabkan anak balita rawan gizi dan rawan kesehatan adalah anak balita sudah mulai bermain di tanah atau di luar rumahnya sendiri. Sehingga lebih terpapar dengan lingkungan yang kotor dan kondisi yang memungkinkan untuk terkena berbagai penyakit. Berdasarkan tabel 17 sebanyak 70.8% Ibu menyediakan alas kaki untuk anaknya ketika akan bermain keluar rumah,namun masih ada Ibu yang tidak menyediakan alas kaki untuk anaknya ketika anaknya bermain di tanah/ lingkungan luar rumah yaitu sebanyak 29.2%.

Tabel 18 Sebaran balita berdasarkan kategori pola asuh hidup sehat

Pola asuh hidup sehat n %

Rendah (<60%) 11 22.9

Sedang (60-80%) 26 54.2

Baik (>80%) 11 22.9

Total 48 100

Tabel 18 menunjukkan sebaran balita berdasarkan kategori pola asuh hidup sehat. Berdasarkan uraian mengenai pola asuh hidup sehat ibu terhadap anaknya diketahui bahwa sebagian besar balita dalam hal perawatan kebersihan anak tergolong sedang yaitu sebesar 54.2%. Sedangkan Kelompok Ibu yang perawatan kebersihan terhadap anaknya yang tergolong rendah dan baik sebesar 22.9%. Pengsuhan pola hidup sehat / perawatan kebersihan pada anak balita merupakan usaha yang dilakukan orangtua untuk mengajarkan anak berperilaku bersih dan sehat, menjalankan kebiasaan hidup sehat sehingga dapat menjamin kesehatnnya dan dapat terhindar dari penyakit (Hastui 2008) Pola Akses terhadap Pelayanan Dasar

Pola asuh hidup sehat tidak hanya dapat dilakukan secara preventif tetapi uga secara kuratif. Menurut Hastuti (2008), upaya kuratif yang dapat dilakukan meliputi upaya orangtua untuk memberikan pengobatan dan perawatan agar anak selalu berada dalam kondisi terbebas dari penyakit infeksi, dan penyakit lain yang umum terjadi pada anak.

(10)

Pola pengasuhan kesehatan yang dilakukan pengasuh dalam mengakses pelayanan dasar yang diteliti meliputi keaktifan Ibu membawa anak ke dokter/bidan/puskesmas ketika sakit, mengikuti posyandu, imunisasi dasar, dan vitamin A dosis tinggi yang diperoleh balita sebagai upaya memberikan kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit infeksi. Sebaran responden berdasarkan pola akses pelayan dasar disajikan pada tabel 19.

Tabel 19 menunjukkan bahwa sebagian besar Ibu 83.3% membawa anaknya ke Posyandu setiap bulan dalam 6 bulan terakhir, hal ini menunjukkan bahwa kesadaran Ibu akan pentingnya Posyandu cukup tinggi. Keberadaan posyandu sangat penting guna mengetahui tumbuh kembang anak. Walaupun sebagian besar Ibu mengikuti Posyandu,namun ternyata tidak semua Ibu memiliki KMS yang terisi penuh dengan alasan KMS hilang dan tidak membawa saat posyandu.

Vitamin A dosis tinggi yang diberikan kepada balita sangat penting sebagai upaya memberikan kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit infeksi serta untuk menjga kesehatan mata anak sejak dini. Berdasarkan data hasil penelitian diketahui bahwa seluruh ibu memperoleh vitamin A selama satu tahun terakhir. Walaupun masih ada Ibu yang tidak menghadiri Posyandu, namun distribusi vitamin A baik karena kesadaran petugas kesehatan maupun KADER posyandu yang mengunjungi rumah-rumah yang balitanya tidak datang saat peberian vitamin A.

Tabel 19 Sebaran balita berdasarkan pola akses pelayan dasar

Akses Yankes Ya Tidak

n % n %

Mengajak ke posyandu tiap bulan (6 bulan terakhir) 40 83.3 8 16.7

KMS dan KIA terisi penuh 44 91.7 4 8.3

Anak mendapatkan vitamin A (1 tahun terakhir) 45 93.8 3 6.3

IMUNISASI BCG 31 64.6 17 35.4 DPT 1 31 64.6 17 35.4 DPT 2 27 56.3 21 43.8 DPT 3 25 52.1 23 47.9 Polio 34 70.8 14 29.2 Campak 28 58.3 20 41.7 Hepatitis 28 38.3 20 41.7

Departemen Kesehatan melaksanakan program pengembangan imunisasi (PPI) pada anak dalam upaya menurunkan kejadian penyakit pada anak. Program imunisasi untuk penyakit yang dapat dicegah dengan imuniasi

(11)

pada anak mencakup satu kali imunisasi BCG, tiga kali imunisasi DPT, empat kali imunisasi polio, satu kali imunisasi campak, dan tiga kali imunisasi hepatitis B (Depkes 2008). Tabel 18 menunjukkan sebagian besar balita diberikan semua jenis imunisasi dengan persentase 60.7%. Sampel yang menyatakan anaknya tidak mendapatkan imuniasi karena menurut keterangan mereka setelah imunisasi anak menjadi sakit sehingga timbul kehawatiran pada Ibu untuk kembali membawa anak mereka untuk mendapatkan imunisasi.

Imunisasi Hepatitis merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit hepatitis. Imunisasi hepatitis diberikan pada umur dua, tiga, empat bulan (Depkes 2008). Imunisasi BCG merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit TBC yang berat. Imunisasi BCG diberikan pada bayi umur kurang dari tiga bulan (Depkes 2008). Imunisasi polio diberikan pada bayi baru lahir, dan tiga dosis berikutnya diberikan dengan jarak paling cepat empat minggu. Imunisasi ini digunakan untuk mencegah terjadinya poliomyelitis yang dapat menyebabkan kelumpuhan pada anak. Imunisasi DPT dilakukan pada bayi umur dua, tiga, empat bulan.

Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan memasukkan vaksin kedalam tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk mencegah terhadap penyakit tertentu. Tujuan diberikan imunisasi adalah diharapkan anak menjadi kebal terhadap penyakit sehingga dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas serta dapat mengurangi kecacatan akibat penyakit tertentu (Hidayat 2004). Sebaran balita berdasarkan kategori akses pelayanan dasar disajikan pada tabel 20.

Tabel 20 Sebaran balita berdasarkan kategori pola akses pelayanan dasar

Pola akses pelayanan dasar n %

Rendah (<60%) 19 39.6

Sedang (60-80%) 6 12.5

Baik (>80%) 23 47.9

Total 48 100

Dengan imunisasi diharapkan anak atau bayi tetap tumbuh dalam keadaan sehat. Tabel 20 menunjukkan bahwa sebagian besar balita (47.9 %) akses terhadap pelayanan kesehatannya baik, dan tidak ada balita yang tidak memanfaatkan pelayanan kesehatan dasar yang ada seperti posyandu dan imunisasi, hal ini menunjukkan tingginya kesadaran balita untuk menjaga kesehatan anak.

(12)

Kondisi Lingkungan

Lingkungan adalah segala sesuatu, baik karena benda maupun keadaan yang berada di sekitar manusia yang dapat mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan seseorang atau kelompok masyarakat. Kesehatan lingkungan mencakup aspek yang sangat luas yang meliputi hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Pentingnya lingkungan sehat akan mempengaruhi sikap dan perilaku manusia. Kondisi lingkungan yang diteliti dalam penelitian ini adalah kondisi fisik rumah, sumber air, serta sarana pembuangan kotoran manusia, sampah, dan air limbah.

Kondisi Fisik Rumah

Kondisi fisik rumah yang diteliti dalam penelitian ini meliputi dinding, lantai, atap, jendela, ventilasi, keberadaan kandang ternak, jamban dan kamar mandi. Sebaran balita berdasarkan kondisi fisik rumah dalam gambar 4.

Kondisi Fisik Rumah

Gambar 4 kondisi fisik rumah balita

Menurut Depkes (2008) penggunaan jenis dinding dapat digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat. Sebagian besar balita 50% memiliki rumah dengan dinding tembok. Sebagian besar balita 29.2% memiliki lantai yang terbuat dari keramik/tegel dan pelur. Menurut Latifah et al (2002),

(13)

lantai rumah harus mudah dibersihkan misalnya lantai yang terbuat dari keramik, teraso, tegel atau semen. Namun masih ada balita yang lantai rumahnya hanya tanah yaitu 8.3%. Lantai tanah tidak memenuhi syarat kesehatan karena dapat menjadi sumber penyakit seperti cacing dan bakteri penyebab sakit perut. Selain itu lebih dari separuh balita (87.5%) memiliki rumah beratapkan genteng. Atap rumah yang baik yaitu atap rumah yang dapat melindungi penghuninya dari panas dan hujan. Rumah yang sehat adalah rumah yang memilki ventilasi yang cukup untuk sirkulasi udara.Sebagian besar rumah balita memiliki ventilasi sebesar 87.5% dengan luas rumah yang bervariasi. Luas lantai bangunan rumah sehat harus cukup untuk penghuni di dalamnya karen luas lantai yang tidak sebanding dengan jumlah penghuninya akan menyebabkan overcrowded. Notoadmojo (2007) menyatakan bahwa hal tersebut tidak sehat karena bila salah satu anggota keluarga terkena penyakit infeksi, akan mudah menular kepada anggota keluarga lainnya.

Sumber air

Sumber air rumah yang diteliti dalam penelitian ini meliputi sumber air untuk minum, mandi dan cuci. Sebaran balita dapat dilihat pada gambar 5.

Gambar 5 Sumber air minum dan mandi

Air sangat penting untuk kehidupan, kebutuhan air sangat mutlak. Sumber air yang diltelti dalam penelitian ini adalah sumber air untuk minum dan untuk mandi serta cuci. Sebagian besar balita (60.4%) mendapatkan air minum dari mata air terlindung, namun masih ada balita yang mendapatkan air minum dari sungai yaitu sebesar 10.4%. Air sumur merupakan sumber air yang paling

(14)

banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia. Air sumur harus dilindungi terhadap bahaya pengotoran dan pencemaran agar memenuhi syarat kesehatan sebagai air rumahtangga. Sumber air minum yang kurang bersih sering menjadi sumber pencemar pada penyakit water borne disease. Oleh karena itu sumber air minum harus memenuhi syarat lokalisasi dan konstruksi (Depkes 2008). Sarana pembuangan limbah

Penanganan pembuangan limbah rumah yang diteliti dalam penelitian ini meliputi buang air besar (BAB), penanganan sampah dan tempat pembuangan air limbah rumah. Sebaran balita dapat dilihat pada gambar 6.

Gambar 6 Sarana pembuangan limbah

Berdasarkan Gambar 6, Kondisi lingkungan yang diteliti dalam penelitian ini adalah sarana pembuangan kotoran manusia, tempat membuang sampah, penanganan sampah dan air limbah rumah. Sebagian besar balita buang air besar di wc umum yatu sebesar 54.2% sedangkan 25% balita memiliki wc sendiri dan 25% buang air besar di sungai. Pembuangan limbah manusia yang layak adalah kebutuhan masyarakat yang paling mendesak. Pembuangan limbah manusia yang tidak pada tempatnya dapat menimbulkan gangguan kesehatan pada masyarakat. Oleh karena itu menurut Sukandar (2007), pembuangan kotoran manusia harus dapat dibuang dengan baik agar tidak mencemari lingkungan sekitar, karena di dalam kotoran manusia banyak terdapat bibit-bibit penyakit yang dapat menyebabkan dan menularkan berbagai penyakit serta

(15)

menimbulkan bau yang tidak sedap. Penanganan sampah rumahtangga sebagian besar 43.7% balita dengan dibakar, sedangkan untuk pembuangan air limbah rumah sebanyak 47.9% balita di buang kesungai/kali.

Tabel 21 Sebaran balita berdasarkan kondisi lingkungan

Kondisi Lingkungan n %

Rendah (<60%) 8 16.7

Sedang (60-80%) 32 66.7

Baik (>80%) 8 16.7

Total 48 100

Tabel 21 menunjukkan bahwa sebagian besar balita (66.7%) hidup dalam lingkungan yang tergolong kategori sedang, sebanyak 16.7 % hidup dalam kondisi lingkungan yang tidak baik (rendah), dan 16.7% balita yang hidup dalam lingkungan yang baik. Keadaan kesehatan seseorang dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan (Riyadi 2006). Apabila lingkungan hidup tidak baik, maka dapat membahayakan kesehatan. Terbatasnya persediaan air bersih, sarana pembuangan air limbah, kurangnya kebersihan lingkungan perumahan merupakan pendorong timbulnya berbagai jenis penyakit, dan timbulnya berbagai jenis penyakit sangat mempengaruhi status gizi balita, dimana menurut WHO terdapat 2 hal yang secara langsung mempengaruhi status gizi seseorang, yaitu infeksi dan konsumsi.

Asupan Energi dan Protein

Secara umum asupan zat gizi balita diperoleh dari konsumsi pangan sehari yang merupakan penjumlahan dari makan pagi, siang, malam, dan makanan selingan. Tabel 22 menunjukkan rata-rata konsumsi dan tingkat kecukupan balita.

Tabel 22 Rata-rata asupan energi dan protein sebelum dan setelah intervensi Zat Gizi Tanpa Biskuit Dengan Biskuit Uji Beda

Energi (Kal) 591.3 745..4 p=0.000

Protein (g) 10.7 13.5 p=0.000

*P<0.05: Signifikan

Tabel 22 menunjukkan bahwa asupan energi dan protein balita balita menunjukkan ada peningkatan sebesar 154 Kalori untuk energi dan 2.8 g untuk protein setelah pemberian biskuit fungsional selama 88 hari. Peningkatan asupan dikarenakan adanya kontribusi energi dari biskuit yang dikonsumsi balita balita. Biskuit lele yang diberikan kepada balita balita dapat dikatakan bersifat supplementary karena dengan konsumsi biskuit dapat meningkatkan asupan energi dan protein balita balita.

(16)

Penilaian untuk mengetahui tingkat kecukupan zat gizi dilakukan dengan membandingkan antara konsumsi zat gizi aktual (nyata) dengan kecukupan gizi yang dianjurkan. Hasil perhitungan kemudian dinyatakan dalam persen (Hardinsyah & Briawan 1994). Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa tingkat kecukupan energi dan protein balita masih lebih rendah dari angka kecukupan gizi yang dianjurkan. Gabriel (2008) menyatakan bahwa balita merupakan golongan yang sangat aktif dan oleh karena itu memerlukan banyak energi yang tersedia dalam karbohidrat. Selain energi, protein merupakan zat gizi yang juga dibutuhkan balita untuk pertumbuhannya.

Tabel 23 Sebaran balita berdasarkan tingkat kecukupan energi (TKE) dan tingkat kecukupan protein (TKP)

Tingkat Kecukupan Tanpa Biskuit Dengan Biskuit Uji Beda

n % n % Energi Defisit Berat (<70%) 28 58.3 2 4 Defisit Sedang (70-79%) 9 18.8 5 10 Defisit Ringan (79-89%) 10 20.8 18 38 Cukup (90-115%) 1 2.1 23 48 Total 48 100 48 100 Rata-rata ± SD 72.6 ± 8.6 91.8 ± 12.8 p=0.000 Protein Defisit Berat (<70%) 23 47.9 0 0 Defisit Sedang (70-79%) 17 35.4 7 14.6 Defisit Ringan (79-89%) 5 10.4 16 33.3 Cukup (>90-115%) 3 6.3 25 52.1 Total 48 100 48 100 Rata-rata ± SD 71.3 ± 9.5 90.3 ± 10.7 p=0.000 *P<0.05: Signifikan

Tingkat kecukupan energi dan protein dikelompokkan menjadi defisit berat (<70%), defisit sedang (70-79%), defisit ringan (80-89%) dan cukup (>90%) (Martianto et al. 2008). Secara umum terdapat dua kriteria untuk menentukan kecukupan pangan, yaitu konsumsi energi dan protein. Kebutuhan energi biasanya dipenuhi dari konsumsi pangan pokok, sedangkan kebutuhan protein dipenuhi dari sejumlah substansi hewan, seperti ikan, daging, telur, dan susu (Hardinsyah & Martianto 1992). Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa sebelum intervensi (58.3%) balita tingkat kecukupan energinya termasuk dalam kategori defisit berat, sedangkan tingkat kecukupan protein sebagian besar dari jumlah balita sudah termasuk dalam kategori defisif berat (47.9%). Hal ini disebabkan konsumsi pangan sumber energi khususnya nasi sebagian besar balita masih rendah, sedangkan konsumsi pangan sumber protein sebagian besar balita pun masih rendah khususnya telur dan susu. Setelah intervensi tingkat kecukupan energi yang termasuk dalam ketegori defisit berat mengalami

(17)

penurunan menjadi sebesar (4%) dan untuk tingkat kecukupan protein dengan kategori defisit berat terjadi penurunan menjadi (0%).

Kontribusi Zat Gizi Biskuit terhadap AKG Balita

Menurut Almatsier (2001), angka kecukupan gizi (AKG) atau biasa juga dikenal dengan Recommended Daily Allowance (RDA) merupakan taraf konsumsi zat-zat gizi esensial yang berdasarkan pengetahuan ilmiah dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan hampir semua orang sehat. Kecukupan nilai energi ditetapkan dengan cara berbeda daripada kecukupan untuk zat gizi lain. AKG untuk energi mencerminkan rata-rata kebutuhan tiap kelompok penduduk, sedangkan angka kecukupan protein dan zat gizi lainnya dinyatakan sebagai taraf asupan yang aman (safe level of intake). Suatu produk dapat memberikan kontribusi sejumlah zat gizi tertentu dengan menghitung kontribusinya terhadap AKG. Untuk itu diperlukan penentuan jumlah saji sehingga angka kecukupan gizi per saji dan kontribusinya terhadap AKG dapat dihitung.

Rata-rata jumlah biskuit yang dikonsumsi balita balita yaitu sekitar 3 keping atau setara dengan 40 g per hari dapat memberikan kontribusi (tambahan) asupan zat gizi balita balita terutama energi dan protein. Rata-rata kontribusi energi dari biskuit sudah di atas 15 % AKG energi yaitu 15.4% dari AKG. Kontribusi energi tertinggi yaitu mencapai 26.5 % dari AKG sebesar 196 kalori. Kontribusi energi dari makanan tambahan biskuit ini lebih besar dibandingkan hasil survey pada 600 anak di amerika, dimana kontribusi energi pada snack yang disediakan berkisar antara 124-170 kalori (Miller et al 2007).

Sedangkan rata-rata kontribusi protein dari konsumsi biskuit cukup tinggi yaitu 21.6% dari kecukupan / AKG.Kontribusi protein terbesar yaitu 8.3 g atau setara dengan 26.1% AKG balita balita. Kandungan protein yang tinggi berasal dari bahan isolat protein kedelai dan tepung ikan lele. Isolat protein kedelai merupakan bentuk protein kedelai yang paling murni karena kadar protein minimumnya 95% dalam berat kering (Koswara 1995). Protein ikan lele juga mengandung semua asam amino esensial dalam jumlah yang cukup (Astawan 2008) dan komposisi kimia yang ada dalam tepung protein ikan tidak jauh berbeda dengan yang ada dalam ikan sebagai bahan bakunya, termasuk protein (Sunarya 1990). Menurut BPOM (2004) makanan dikatakan sumber protein yang baik bila mengandung sedikitnya 20 % AKG yang dianjurkan per saji.

(18)

Kepatuhan Konsumsi PMT Biskuit

Biskuit merupakan salah satu makanan yang sudah populer dan disukai anak-anak. Makanan tambahan (PMT) biskuit yang diberikan adalah biskuit yang diperkaya dengan tepung protein ikan lele dumbo (Clarias gariepenus) dan isolat protein kedelai. Komposisi dari PMT biskuit terdiri dari : tepung ikan lele (tepung daging dan tepung kepala), tepung terigu, isolat protein kedelai, telur ayam, gula bubuk, margarin, mentega, dan susu. Kandungan energi dan protein yang bermutu tinggi (asam amino yang relatif lengkap) dari biskuit diharapkan dapat mempercepat penambahan kuantitas dan kualitas saupan balita gizi kurang. Namun besarnya tambahan asupan zat gizi yang diperoleh juga tergantung seberapa tingkat kepatuhan dalam mengkonsumsi makanan tambahan tersebut.

Kepatuhan balita dalam konsumsi biskuit dilihat dari jumlah biskuit yang habis dikonsumsi selama 88 hari dibandingkan dengan jumlah biskuit yang seharusnya dikonsumsi (352 keping). Sebaran balita berdasarkan tingkat kepatuhan konsumsi biskuit disajikan pada tabel 24.

Tabel 24 Sebaran balita berdasarkan tingkat kepatuhan konsumsi biskuit per wilayah

Tingkat kepatuhan n %

Puskesmas Kadudampit (Dataran tinggi)

Rendah (< 50%) 1 8.3

Sedang (50-70%) 2 16.7

Tinggi (> 70%) 9 75.0

Total 12 100

Puskesmas Cikidang ( Dataran Sedang)

Rendah (< 50%) 2 10.0

Sedang (50-70%) 5 25.0

Tinggi (> 70%) 11 65.0

Total 20 100

Puskesmas Citarik (Dataran rendah)

Sedang (50-70%) 4 25.0

Tinggi (> 70%) 12 75.0

Total 16 100

Tabel 24 menunjukan bahwa sebaran balita balita di puskesmas Kadudampit dan Citarik tingkat kepatuhan dalam mengkonsumsi biskuit ikan lele tergolong tinggi masing-masing sebesar 75% sedangkan untuk puskesmas Cikidang yang sudah >70% tingkat kepatuhan mengkonsumsi biskuit sebesar 65%.

(19)

Tabel 25 Sebaran balita berdasarkan tingkat kepatuhan konsumsi biskuit Tingkat kepatuhan n % Rendah (< 50%) 3 6.2 Sedang (50-70%) 11 22.9 Tinggi (> 70%) 37 70.8 Total 48 100

Tabel 25 menunjukkan bahwa sebagian besar balita selama 88 hari intervensi tingkat kepatuhannya tergolong tinggi (70.8%), sedang 22.9 dan tingkat kepatuhan konsumsi tergolong rendah 6.2 %. Berdasarkan hasil wawancara dengan pengasuh, bentuk biskuit yang cukup menarik dengan rasa yang cukup enak merupakan salah satu faktor yang menyebabkan balita patuh dan suka untuk mengkonsumsi biskuit tersebut, sedangkan balita dengan tingkat kepatuhan sedang disebabkan karena balita pada bulan ke 2 dan ke 3 sudah mulai bosan, karena balita setiap hari harus mengkonsumsi 4 keping biskuit selama 88 hari dengan bentuk dan rasa yang sama, sehingga balita yang tadinya setiap hari mampu menghabiskan 4 keping biskuit, di bulan ke 2 dan ke 3 hanya mau mengkonsumsi 3-2 keping biskuit/hari. Konsumsi biskuit berdasarkan data dan hasil wawancara dengan dari bulan pertama sampai bulan ke 3 intervensi terjadi penurunan kepatuhan balita dalam konsumsi biskuit yang dapat dilihat pada gambar 7.

Gambar 7 jumlah rata-rata biskuit yang dikonsumsi balita per minggu selama 12 minggu intervensi

Status Gizi Balita

Status gizi balita ditentukan dengan menggunakan beberapa indeks yang telah direkomendasikan oleh WHO (1995), yaitu indeks untuk berat badan

(20)

menurut umur (BB/U. Hasil pengukuran indeks tersebut selanjutnya ditentukan dengan menggunakan nilai z-skor yang direkomendasikan oleh NCHS/WHO. Status Gizi Balita berdasarkan Berat Badan menurut Umur

Tabel 26 menunjukkan sebaran balita berdasarkan status gizi indeks berat badan menurut umur (BB/U). Indeks BB/U mencerminkan status gizi saat ini karena berat badan menggambarkan massa tubuh (otot dan lemak) yang sensitif terhadap perubahan yang mendadak, seperti infeksi otot dan tidak cukup makan (Tarwotjo & Djuwita 1990).

Tabel 26 Sebaran balita berdasarkan status gizi (BB/U) per wilayah Status Gizi Balita Sebelum Setelah

n % n %

Puskesmas Kadudampit (Dataran Ttnggi)

Gizi buruk Z-skor < -3.0 6 50 1 8.3

Gizi kurang Z-skor ≥-3.0s/d Z-skor < -2.0 6 50 4 33.3

Gizi baik Z-skor ≥ -2.0s/d Z-skor ≤ 2.0 0 0 7 58.3

Total 12 100 12 100

Puskesmas Cikidang (Dataran Sedang)

Gizi buruk Z-skor < -3.0 9 45 2 10

Gizi kurang Z-skor ≥-3.0s/d Z-skor < -2.0 11 55 9 45

Gizi baik Z-skor ≥ -2.0s/d Z-skor ≤ 2.0 0 0 9 45

Total 20 100 20 100

Puskesmas Citarik (Dataran rendah)

Gizi buruk Z-skor < -3.0 5 31.3 2 12.5

Gizi kurang Z-skor ≥-3.0s/d Z-skor < -2.0 11 68.7 7 43.7

Gizi baik Z-skor ≥ -2.0s/d Z-skor ≤ 2.0 0 0 7 43.7

Total 16 100 16 100

Tabel 26 menunjukan bahwa sebaran balita balita di puskesmas Kadudampit,Cikidang dan Citarik terjadi perubahan status gizi sebelum intervensi balita balita sebagian besar mempunyai status gizi buruk dan kurang, namum setelah intervensi dengan pemberian biskuit ikan lele terdapat balita balita dengan status gizi baik yang pada awalnya status gizi baik ini tidak ada.

Tabel 27 Sebaran balita berdasarkan status gizi (BB/U)

Status Gizi Balita Sebelum Setelah Uji Beda

n % n %

Gizi buruk Z-skor < -3.0 20 41.6 5 10.4

Gizi kurang Z-skor ≥-3.0s/d Z-skor < -2.0 28 58.3 20 41.6

Gizi baik Z-skor ≥ -2.0s/d Z-skor ≤ 2.0 0 0 23 47.9

Total 48 100 48 100

Rata-rata ± SD -2.8± 0.4 -2.2± 0.5 p=0.000

*P<0.05: Signifikan

Berdasarkan tabel 27 di atas diketahui bahwa sebelum intervensi, status gizi seluruh balita dalam penelitian ini termasuk ke dalam dua kategori

(21)

berdasarkan indeks BB/U yaitu gizi buruk (41,6%) dan gizi kurang (58,3%) dengan z-skor minimum -4,1 sedangkan z-skor maksimum -2,06. Rata-rata nilai z-skor BB/U balita adalah -2,8 dengan standar deviasi 0,4. Sedangkan setelah intervensi status gizi balita mengalami perubahan berdasarkan indeks BB/U yaitu gizi buruk (10.4%), gizi kurang (41.6%) dan gizi baik (47.9%) dengan z-skor minimum -3,73 sedangkan z-skor maksimum -0,9. Rata-rata nilai z-skor BB/U balita adalah -2,2 dengan standar deviasi 0,5. Hal ini menunjukan bahwa intervensi pemberian makanan tambahan biskuit tepung ikan lele pada balita dengan status gizi buruk dan kurang selama 88 hari dapat meningkatkan berat badan balita.

Setelah intervensi pemberian biskuit bergizi selama 88 hari kepada balita secara umum menunjukkan adanya perbaikan terhadap status gizi balita berdasarkan indikator BB/U. Perbaikan status gizi balita berdasarkan indikator BB/U terlihat dengan adanya penurunan balita kategori gizi buruk dan gizi kurang, sebaliknya terdapat peningkatan balita dengan status gizi baik yang pada awal intervensi tidak ada dan pada akhir intervensi menjadi 47.9%,

Morbiditas

Morbiditas merupakan salah satu variabel yang mencerminkan status kesehatan. Morbiditas ini meliputi prevalensi penyakit menular dan penyakit tidak menular.Tabel 28 menunjukkan sebaran balita berdasarkan jenis dan frekuensi sakit. Penyakit yang diderita balita cukup beragam meliputi ISPA, diare, campak, dan lainnya.

Tabel 28 Sebaran balita berdasarkan jenis dan frekuensi sakit yang pernah diderita 1 bulan terakhir (sebelum intervensi)

Jenis penyakit 1 2 ≥3 Tidak pernah

n % n % n % n % ISPA 17 35.4 4 8.3 1 2 26 54.1 Diare 12 25 3 6.2 0 0 33 68.7 Campak 0 0 0 0 0 0 48 100 DBD 0 0 0 0 0 0 48 100 Hepatitis 0 0 0 0 0 0 48 100 Tuphus 1 2 0 0 0 0 47 97.9 Cacar 0 0 0 0 0 0 48 100

Kelompok umur yang paling rentan terhadap penyakit adalah kelompok balita. Tabel 28 menunjukkan sebaran balita berdasarkan jenis, kejadian sakit, dan frekuensi penyakit dalam satu bulan terakhir. Jenis penyakit yang pernah dialami oleh balita dalam satu bulan terakhir cukup beragam yaitu meliputi infeksi saluran pernafasan atas (ISPA), diare, demam dan lainnya. Berdasarkan tabel

(22)

tersebut diketahui bahwa penyakit yang paling sering dialami oleh sebagian besar balita adalah, ISPA, diare dan demam.

Secara umum diketahui bahwa frekuensi sakit yang dialami oleh sebagian besar balita adalah satu kali dalam satu bulan terakhir dengan lama sakit antara satu sampai tiga hari atau empat sampai tujuh hari seperti yang terlihat pada tabel 26. Umumnya saat balita mengalami ISPA juga disertai dengan demam. Beberapa balita pernah mengalami ISPA dan demam lebih dari tiga kali dalam sebulan. Selain ISPA dan demam, diare juga dialami oleh sebagian besar balita. Penyakit diare berkaitan dengan gizi buruk pada bayi dan anak balita. Bayi dan anak balita yang kekurangan gizi sangat rentan terhadap penyakit-penyakit infeksi termasuk diare (Notoadmodjo 2007).

Tabel 29 Sebaran balita berdasarkan jenis dan frekuensi sakit yang sedang diderita (setelah intervensi)

Jenis penyakit 1 2 Tidak pernah

n % n % n % ISPA 15 31.2 2 4.2 31 64.5 Diare 2 4.2 0 0 46 95.8 Campak 3 0 0 0 45 93.7 DBD 0 0 0 0 48 100 Hepatitis 0 0 0 0 48 100 Tuphus 0 0 0 0 48 100 Cacar 0 0 0 0 48 100

Tabel 29 menunjukkan bahwa jenis penyakit yang paling sering diderita balita adalah ISPA yaitu sebanyak 15 orang balita (31.2 %) dengan frekuensi terbanyak hanya 1 kali dalam 1 bulan. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi tahun 2010, prevalensi tertinggi yaitu ISPA dengan prevalensi 34 %. ISPA merupakan infeksi saluran pernafasan akut (pernafasan bagian atas dan saluran pernafasan bagian bawah). Istilah ISPA mengandung tiga unsur yaitu infeksi, saluran pernafasan dan akut. Adapun yang dimaksud saluran pernafasan adalah organ mulai dari hidung sampai gelembung paru. Tingginya kejadian ISPA pada balita diduga disebabkan oleh kondisi lingkungan yang kurang bersih serta sirkulasi udara di rumah yang kurang.

Presentase penyakit tertinggi kedua yang banyak diderita balita adalah diare (10.4%) dengan frekuensi 1 kali dalam sebulan. Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dan sebagian besar (70-80%) penderita adalah balita (Suraatmaja. 2007). Cukup tingginya persentase balita yang terkena diare diduga disebabkan olah kebersihan

(23)

lingkungan baik lingkungan tempat tinggal maupun lingkungan sekitar (lingkungan bermain anak) serta kualitas kebersihan dari makanan yang dikonsumsi.

Tabel 30 sebaran balita berdasarkan jenis dan lama (hari) sakit sebelum dan setelah intervensi

Jenis penyakit Sebelum Setelah

n % n % ISPA 1-3 hari 4-7 hari 11 8 23 16.6 8 5 16.6 10.4 Diare 1-3 hari 4-7 hari 11 4 23 8.3 5 2 10.4 4.1 Tuphus 4-7 hari Campak 8-14 hari 1 0 2.0 0 0 3 0 6.2

Berdasarkan lama sakit (hari) sebelum intervensi sebagian besar balita menderita sakit selama 1-3 hari yaitu ISPA (23%) dan Diare (23%) . Jenis penyakit yang jangka waktunya paling lama yaitu tuphus (demam) sampai dengan 7 hari sakit. Sedangkan pada saat intervensi berdasarkan jenis dan lama (hari) menunjukan bahwa sebagian besar balita menderita sakit 1-3 hari yaitu ISPA (16.6%), diare (10.4%), dan sebagian besar balita menderita sakit 4-7 hari yaitu ISPA (10.4), diare (4.1%). Sedangkan Jenis penyakit yang jangka waktunya paling lama pada saat intervensi yaitu tuphus campak sampai dengan 14 hari sakit.

Perhitungan morbiditas berdasarkan kondisi atau keadaan kesehatan balita yang didasarkan atas frekuensi dan lama sakit. Menurut perhitungan interval kelas Sugiono (2009) skor morbiditas dikategorikan menjadi rendah (<4), sedang (4-7) dan tinggi (≥8). Skor morbiditas diperoleh berdasarkan frekuensi sakit dikalikan dengan lama hari sakit kemudian diklasifikasikan sesuai kelas interval. Sebaran balita berdasarkan kategori morbiditas disajikan pada tabel 31.

Tabel 31 sebaran balita berdasarkan skor morbiditas perwilayah

Skor morbiditas Sebelum Setelah

n % n %

Puskesmas Kadudampit (Dataran tinggi)

Rendah (< 4 hari) 4 3.3 8 66.7

Sedang (4-8 hari) 6 50 3 25

Tinggi (> 8 hari) 2 16.7 1 8.3

(24)

Skor morbiditas Sebelum Setelah

n % n %

Puskesmas Cikidang (Dataran sedang)

Rendah (< 4 hari) 14 70 16 80

Sedang (4-8 hari) 5 25 3 15

Tinggi (> 8 hari) 1 5 1 5

Total 20 100 20 100

Puskesmas Citarik (Dataran rendah)

Rendah (< 4 hari) 12 75 13 81.2

Sedang (4-8 hari) 2 12.5 1 6.3

Tinggi (> 8 hari) 2 12.5 2 12.5

Total 16 100 16 100

Tabel 31 menunjukan bahwa sebaran balita balita di puskesmas Kadudampit,Cikidang dan Citarik terjadi perubahan tingkat morbiditas sebelum intervensi balita balita sebagian besar mempunyai tingkat morbiditas yang tinggi, namum setelah intervensi terjadi penurunan tingkat morbiditas menjadi rendah.

Tabel 32 Sebaran balita berdasarkan skor morbiditas

Skor morbiditas Sebelum Setelah Uji

beda n % n % Rendah (< 4 hari) 30 62.5 37 77.1 Sedang (4-8 hari) 13 27,1 7 14.6 Tinggi (> 8 hari) 5 10.4 4 8.3 Total 48 100 48 100 Rata-rata (hari)±SD 3.8±4.0 2.1±3.6 p=0.01 *P<0.05: Signifikan

Berdasarkan tabel 32 diketahui sebelum intervensi sebagian besar balita (62.5%) memiliki skor morbiditas rendah, sebanyak 27.1 % mempunyai skor morbiditas sedang dan 10.4% memiliki skor morbiditas tinggi. Faktor yang mempengaruhi kesehatan adalah penyakit, manusia, dan lingkungan. Gangguan keseimbangan diantara ketiga faktor tersebut menimbulkan gangguan kesehatan yang menyebabkan penurunan derajat kesehatan seseorang (Subandriyo & Hartanti 1994). Angka kesakitan (morbiditas) lebih mencerminkan keadaan kesehatan sesungguhnya, sebab kejadian kesakitan mempunyai hubungan yang erat dengan berbagai faktor lingkungan, seperti perumahan, air minum dan kebersihan serta faktor kemiskinan, kekurangan gizi serta pelayanan kesehatan di daerah tersebut Subandriyo (1993).

Setelah diberikan intervensi biskuit selama 88 hari, skor morbiditas pada balita menunjukan adanya perubahan antara sebelum intervensi, namun menunjukkan adanya peningkatan walaupun tidak terlalu tinggi.

(25)

Hubungan Tingkat Kepatuhan Konsumsi Biskuit dengan Status Gizi dan Morbiditas Balita

Tabel 25 menunjukkan bahwa sebagian besar balita balita selama 88 hari pemeberian biskuit lele memiliki kepatuhan yang tinggi dengan konsumsi biskuit > 70% dari seluruh biskuit yang diberikan. Semakin tinggi tingkat kepatuhan konsumsi biskuit lele hal ini berarti semakin banyak biskuit yang dikonsumsi balita balita sehingga zat gizi yang dikonsumi balita balita juga meningkat. Dengan adanya kontribusi energi zat gizi protein dari biskuit lele diharapkan dapat membantu meningkatkan status gizi balita balita karena protein (asam amino) dibutuhkan setiap hari untuk mendukung pertumbuhan jaringan baru dan memelihara sel-sel tubuh (Almatsier 2003). Sebaran balita berdasarkan tingkat kepatuhan konsumsi biskuit dan status gizi disajikan pada Tabel 33.

Tabel 33 sebaran balita berdasarkan tingkat kepatuhan konsumsi biskuit dan status gizi balita

Tingkat Kepatuhan

Status Gizi

Total

Buruk Kurang Baik

n % n % n % n %

Rendah 3 6.2 0 0 0 0 3 6.2

Sedang 3 6.2 8 1.6 0 0 11 22.9

Tinggi 1 2.0 15 31.2 18 37.5 34 70.8

Total 7 14.4 23 47.9 18 37.5 48 100

Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara tingkat kepatuhan konsumsi biskuit lele dengan status gizi balita balita yang ditunjukkan dengan nilai (p <0.05). Hal ini berarti balita dengan tingkat kepatuhan konsumsi biskuit lele tinggi (70.8%) sebagian besar memiliki status gizi baik (37.5%) dan sebaliknya balita balita dengan tingkat kepatuhan konsumsi biskuit lele sedang (22.9%) dengan jumlah konsumsi biskuit (50-70%) dari total biskuit yang diberikan sebagian besar (47.9%) memiliki status gizi kurang. Hal ini mengindikasikan konsumsi biskuit yang sesuai dengan anjuran dapat membantu meningkatkan status gizi balita balita karena kontribusi energi dan zat gizi protein yang diberikan dari konsumsi biskuit cukup tinggi.

Tabel 34 sebaran balita berdasarkan tingkat kepatuhan konsumsi biskuit dan morbiditas balita

Tingkat Kepatuhan

Morbiditas

Total Rendah Sedang Tinggi

n % n % n % n %

Rendah 2 4.1 0 0 1 2.0 3 6.2

Sedang 10 20.8 0 0 1 2.0 11 22.9

Tinggi 30 62.5 2 4.1 2 4.2 34 70.8

(26)

Konsumsi biskuit lele tidak hanya diharapkan dapat membantu memperbaiki atau meningkatkan status gizi balita balita, namun juga diharapkan dapat membantu meningkatkan derajat kesehatan balita balita. Namun hasil uji statistik menggunakan Rank Spearman menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara tingkat kepatuhan konsumsi biskuit dengan morbiditas balita balita (P<0.05). Hal ini berarti balita dengan tingkat kepatuhan konsumsi biskuit lele tinggi (70.8%) sebagian besar (62.5%) pada akhir intervensi memiliki morbiditas rendah sedangkan balita dengan kepatuhan sedang (22.9%) sebagian besar (20.8%) morbiditasnya sedang.

Penelitian yang pernah dilakukan sebelumya oleh Adi (2010) yang meneliti tentang pengaruh pemberian paket biskuit tinggi protein (tepung protein ikan lele dumbo dan isolate protein kedelai) dengan tambahan krim probiotik maupun tanpa pemberian krim probiotik cenderung mampu menurunkan kejadian diare dan ISPA pada balita balita dibandingkan dengan kelompok control atau balita yang hanya diberikan biskuit biasa.

Gambar

Gambar 4 kondisi fisik rumah balita
Gambar 6 Sarana pembuangan limbah
Tabel 25 Sebaran balita berdasarkan tingkat kepatuhan konsumsi biskuit  Tingkat kepatuhan  n  %  Rendah (&lt; 50%)  3  6.2  Sedang (50-70%)  11  22.9  Tinggi (&gt; 70%)  37  70.8  Total  48  100

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan 33,78% proporsi balita dengan pneumonia berat diberi terapi sefalosporin, 18,91% proporsi balita dengan pneumonia usia 2 – 12 bulan sebagian besar

Hal tersebut dikarenakan sebagian besar contoh mencoba untuk tidak saling menyalahkan, pasangan merasa percaya bahwa penyakit TB paru contoh akan sembuh, percaya

Lama pendidikan memiliki hubungan yang nyata positif (r=0,373,p&lt;0,01) dengan perilaku pengurangan konsumsi beras. Artinya semakin tinggi tingkat pendidikan sesorang

Hasil penelitian yang terlihat pada Tabel 10 menunjukkan bahwa seluruh contoh (100%) mempunyai konsep diri kompetensi atletik yang berada pada kategori positif dan

Daun dewa sebaiknya dipanen pada umur 3 bulan karena setelah umur 3 bulan daun dewa akan mengalami penurunan pertumbuhan selain itu tanaman daun dewa akan mengalami kerusakan dan

Dari hasil analisis, akses masyarakat terhadap taman nasional baik akses dalam kegiatan pemberdayaan maupun kegiatan-kegiatan taman nasional lainnya, mempunyai korelasi positif

Tabel mengenai sebaran contoh berdasarkan umur dan status gizi dapat dilihat pada Tabel 22 yang menggambarkan bahwa proporsi terbesar contoh yaitu pada usia 19-29 tahun dengan

Berdasarkan Gambar 2, maka terdapat empat hal sebagai kunci yang berpengaruh dalam menentukan pengembangan dinamika kelompok, yakni: (1) pengembangan jaringan kerja untuk