• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kondisi Umum Percobaan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HASIL DAN PEMBAHASAN. Kondisi Umum Percobaan"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Percobaan

Perkecambahan benih-benih purwoceng terjadi pada waktu yang berbeda-beda karena tidak dilakukan persemaian serempak. Tanaman dikelompokkan sesuai umur untuk pengolahan data percobaan (Tabel 1 dan 2).

Tabel 1. Jumlah Tanaman Purwoceng Generasi M2 pada Umur yang Berbeda di Lokasi Cicurug

Umur Tanaman Jumlah Tanaman

0 krad 3 krad 5 krad

0 MSP 57 30 70 2 MSP 96 30 76 4 MSP 97 30 110 6 MSP 87 26 108 8 MSP 80 26 101 10 MSP 76 22 96 12 MSP 66 20 86 14 MSP 53 16 82 16 MSP 49 10 50 18 MSP 47 12 58 20 MSP 40 8 50 22 MSP 33 2 42 24 MSP 28 2 31 26 MSP 23 1 25 28 MSP 17 0 17 30 MSP 12 0 11 32 MSP 1 0 9 34 MSP 0 0 7 36 MSP 0 0 2

Tabel 2. Jumlah Tanaman Generasi M2 Purwoceng pada Umur yang Berbeda di Lokasi Cibadak

Umur Tanaman Jumlah Tanaman

0 krad 1 krad 3 krad 5 krad

0 MSP 3 5 5 5

4 MSP 3 13 0 11

(2)

Gambar 5. Curah Hujan di Lokasi Cicurug Tahun 2008

Kondisi cuaca pada saat percobaan ini dilakukan sangat mempengaruhi tanaman. Curah hujan di lokasi Cicurug pada tahun 2008 ditunjukkan pada Gambar 5. Pada bulan Juli hingga September 2008 terjadi kekeringan karena sangat jarang hujan dan panas terus-menerus sehingga beberapa tanaman menjadi layu dan akhirnya mati. Selanjutnya mulai bulan November 2008 terjadi hujan dengan curah hujan sangat tinggi sehingga menyebabkan beberapa tanaman menjadi busuk dan mati (Gambar 6a-c). Busuk yang terjadi pada berbagai bagian tanaman menunjukkan gejala bagian tanaman tersebut menjadi lunak dan berwarna kecoklatan. Organisme penyebab busuk ini belum dipelajari. Selama pengamatan ditemukan bahwa tanaman yang mulai layu akan segera mati, tidak akan bertahan dalam waktu lama.

Naungan paranet yang digunakan pada awal percobaan (kerapatan 65%) terlalu rapat sehingga menyebabkan pertumbuhan tangkai daun purwoceng mengalami etiolasi, terlihat pada tangkai daun menjadi kurus dan lebih panjang. Kemudian dilakukan penjarangan paranet menjadi 50% dan selanjutnya dilakukan pemasangan plastik di atas paranet pada musim hujan (Gambar 6d).

Terdapat beberapa tanaman muda yang baru dipindahkan ke pot besar mengalami gejala bintik-bintik putih pada daun (Gambar 6e). Hal ini disebabkan oleh kurangnya unsur N dan hara lainnya pada tanah. Gejala bintik putih pada daun tidak muncul lagi setelah dilakukan pemupukan.

Bulan 36 524.6 643.9 270.5 75.7 167.2 16 112.3 35 217.4 476.3 403 0 100 200 300 400 500 600 700

(3)

Gambar 6. Pengaruh Lingkungan pada Purwoceng. Daun layu dan mengering (a), daun membusuk (b), tanaman mati (c), daun berbintik-bintik putih (d), naungan paranet dilapisi plastik (e)

Gambar 7. Serangan Hama pada Tanaman Purwoceng. Kutu daun di permukaan bawah daun (a), tanaman berkerut (b), nematoda membentuk bintil-bintil akar (c), daun tanaman terserang belalang (d)

Seluruh tanaman terserang kutu daun Aphis sp. (Gambar 7a) dengan tingkat serangan berbeda disertai kelompok semut yang juga ikut mengerubungi tanaman. Pengendalian kutu daun dilakukan dengan menyemprotkan larutan furadan atau larutan deterjen, tetapi hanya dapat mengusir kutu sementara. Pengendalian kutu daun yang paling efektif adalah dengan menggunakan tangan. Kutu daun menghisap cairan tanaman sehingga daun menjadi berkerut (Gambar 7b). Selain itu juga terjadi serangan sejenis nematoda yang membentuk bintil-bintil pada akar dan menghisap sari tanaman (Gambar 7c). Hama lain yang menyerang tanaman adalah belalang yang memakan daun sehingga tinggal tangkainya (Gambar 7d). d c b e a a b c d

(4)

B S d d p p B ( t p d ( a t Bentuk dau Daun Setetah men dewasa. Dau daun, sedang pada satu tan pengamatan Bentuk anak (Gambar 8c-tangkai daun pada tanama daun yang (Gambar 8e) akhirnya me temuan terseb Gamba c a un n awal yang ncapai 2 M un tunggal m gkan daun ma ngkai daun tidak berbed k daun secara -d). Pasanga n dan pada uju

an M2/09.04. berbeda, ya ). Grosch (1 enghasilkan but dibuat sk ar 8. Keraga (a), da jantun Kara g muncul pa SP kemudia merupakan d ajemuk adala (Gambar 8a da antar tana a umum adal an anak daun ung tangkai d .08/5 KRAD aitu tangkai 1965) menya penyimpang ketsa keragam aman Kerag aun majemuk ng bergerigi ( akter Kualit ada tanaman an terbentuk daun dengan ah daun yang a-b). Bentuk aman genera lah bentuk ja n pada daun daun terdapat D/20 di lokas i anak daun atakan bahw gan-penyimp man susunan a gaan Bentuk k (b), anak d (d), dan peny b tatif n purwoceng k daun maje satu helai d g memiliki be anak daun p asi M2 untu antung berger majemuk te t satu anak da si Cicurug d n yang terli wa banyak ta pangan bentu anak daun pu k Daun Purw daun bulat b yimpangan b d g adalah dau emuk sampa daun pada s eberapa hela purwoceng b uk semua do

rigi atau bul erletak berhad aun. Meskipu ditemukan su ihat bercaba anaman yang uk daun. B urwoceng (Ga woceng. Dau ergerigi (c), bentuk daun un tunggal. ai tanaman atu tangkai i anak daun berdasarkan sis iradiasi. at bergerigi dapan pada un demikian usunan anak ang-cabang g diiradiasi Berdasarkan ambar 9). un tunggal anak daun (e) e

(5)

W t d 2 3 m 5 s k d g k m m m a b m b s s Gam Warna Dau Warn terlihat lebih dan ada yang

Pada 1. Seluruh 2. Permuka permuka 3. Permuka sedangka Tana menunjukka 5 krad dan k sedangkan t kombinasi 1 dua tanaman generasi M2 kombinasi 1 masing dua t menyatakan melainkan ha Inten akhir percob berwarna me misalnya cah besar tumbuh sering terpac sedikit atau s mbar 9. Skets tidak un na hijau pad h gelap (Gamb g samar atau a daun purwo permukaan d aan bawah aan atasnya d aan bawah an permukaa aman-tanama an seluruh k kontrol lebih tanaman-tana (27 tanama n pada masin 2 semua dos 1. Kombinas tanaman gene bahwa kom anya berupa nsitas warna k baan ditemuk erah atau hija haya (Gambar han memben cu oleh cahay sama sekali ti sa Keragama bercabang ( da daun muda mbar 10a). Wa hanya sembu oceng terdap daun muda d daun mud dan kedua pe daun muda an atas kedu an generasi kombinasi w h banyak me aman gener an). Kombin ng-masing do sis iradiasi d si 2 ditunju erasi M2 3 k mbinasi warn penyesuaian kemerahan da kan beberapa au kekuningan r 10c). Salisb ntuk pigmen ya. Cahaya m dak berfotosi an Susunan (kiri) dan ma a terlihat leb arna kemerah urat (Gambar pat tiga komb dan daun tua da berwarn ermukaan da a dan daun uanya berwar M2 semua warna di atas enunjukkan k rasi M2 3 nasi 3 terdap osis iradiasi di lokasi Ci ukkan pada t krad dan 5 kra na daun ini n tanaman ter apat bertamb a tanaman d n yang didug bury dan Ross antosianin p memacu sintes intesis, misal Anak Daun ajemuk berca bih cerah, se han pada dau

r 10b). binasi kedua a berwarna h na hijau k aun tua berw

tua berwa rna hijau dosis iradi s. Tanaman-kombinasi 2 krad lebih at pada sedi (Lampiran 1 ibadak secar tiga tanama ad (Lampiran i bukan mer rhadap lingku ah atau berku dengan kedu ga disebabkan s (1995) men pada beberapa sis pigmen te lnya pada dau

Purwoceng abang (kanan dangkan pad un ada yang t a warna ini, y hijau kemerahan, warna hijau arna hijau k iasi di loka -tanaman ge 2 (95 dan 57 banyak me ikit tanaman 1-3). Tanama ra umum me an kontrol d n 4-7). Pulun rupakan akib ungan. urang. Pada d ua permukaan n oleh faktor nyatakan bahw a sel terspesi ersebut pada un yang akan . Majemuk n) da daun tua terlihat jelas yaitu: sedangkan kemerahan, asi Cicurug enerasi M2 7 tanaman), enunjukkan n saja, yaitu an-tanaman enunjukkan an masing-ngan (2008) bat radiasi, dua bulan di n daun tua lingkungan wa sebagian ialisasi, dan organ yang n gugur.

(6)

W d i b B s u d Ga Warna Tan Warn daun, yaitu intensitas wa Gam Selur berwarna hija Berbeda hal semua dosis umum berwa daun hijau, y ambar 10. Ke ber kem wa ngkai Daun na yang dite hijau dan hi arna kemera mbar 11. Wa wa ruh tanaman au kecuali sa nya dengan s iradiasi m arna hijau ke yaitu dua tan

eragaman K rbeda pada merahan dom arna kemerah emukan pad ijau kemera ahan pada tan

arna Tangka arna hijau ke n generasi M atu tanaman, tanaman di menunjukkan emerahan ke naman pada a Keragaan Wa daun muda minan pada han pada dau

da tangkai sa han (Gamba ngkai juga d ai Daun Pur emerahan (ka M2 di lokas yaitu I/1R/2 lokasi Cicu salah satu ecuali bebera masing-mas rna Daun Pu a dan daun permukaan un tua (c) ama dengan ar 11). Sama dapat bertamb rwoceng. W anan) si Cibadak m 9-12-07/SAM urug, seluruh dari kedua apa tanaman sing dosis ira

b urwoceng. W n tua (a), w bawah daun yang ditem a halnya den bah atau ber

Warna hijau memiliki tan MPEL5 (Lam h tanaman ge warna, nam n dengan war adiasi (Lamp Warna hijau warna hijau n muda (b), mukan pada ngan daun, rkurang. (kiri), dan ngkai daun mpiran 4-7). enerasi M2 mun secara rna tangkai piran 1-3). c

(7)

T ( t g d s g s l r t m y P d J l k s 3 g 5 Tipe Kanop Seca (Gambar 12a tanaman gen generasi M2 ditemukan p semakin ban generasi M2 sebagian bes lebih teduh rebahnya ka tanaman gen maksimal pa yang terdapa Gam Perbanding di Lokasi C Jumlah Dau Rata-lokasi Cicuru karakter jum semua dosis 3 krad cend generasi M2 5 krad tidak b pi ara umum p a) ditemukan nerasi M2 3 k 2 5 krad, ya pada tanaman nyak sehingg 2 5 krad, kec sar tanaman g sehingga tan anopi juga d nerasi M2 3 k ada umur 18 at pada tangk mbar 12. Tipe gan Karakte Cicurug dan un -rata jumlah d ug ditunjukk mlah daun ant iradiasi (Tab derung atau 2 5 krad dan k berbeda deng ada tanaman n pada tanam krad dan kon aitu sekitar u an yang lebih ga tangkai da cenderungan generasi M2 ngkai teretio dipengaruhi krad dan kon 8 MSP. Hal kai lebih sedik

Kanopi Purw Karak er Kuantita Cibadak daun tanama kan pada Ga tar pasangan bel 3) menunj nyata lebih kontrol pada gan tanaman k a n generasi M man muda, y ntrol, serta cen umur 0-12 M h tua. Sema aun semakin kanopi yang 2 5 krad hidu olasi dan me oleh kesega ntrol ditemuk ini diduga d kit sehingga woceng. Tipe kter Kuanti atif Antar D an purwoceng ambar 13 (be n dosis iradia jukkan bahw sedikit dib semua umur kontrol pada M2 di lokasi yaitu antara nderung lebi MSP. Kanop akin tua tana n panjang da g lebih cepat up pada awal enjadi lemah aran tangkai kan kanopi ya dipengaruhi daun tidak te e tegak (a) da itatif osis Iradias g generasi M2 erdasarkan L asi tanaman p wa jumlah dau bandingkan j r. Jumlah dau semua umur Cicurug, ka umur 0-16 ih singkat pa pi rebah (Ga aman maka an berat. Pad t rebah diseb l percobaan s h. Selain itu i daun. Pad ang masih te oleh jumlah erlalu berat. an tipe rebah si 2 semua dosi Lampiran 8). purwoceng g un tanaman g jumlah dau un tanaman g r. b anopi tegak MSP pada da tanaman ambar 12b) anak daun da tanaman babkan oleh saat paranet tegak atau a beberapa egak sampai anak daun h (b) is iradiasi di Hasil uji-t generasi M2 generasi M2 n tanaman generasi M2

(8)

Tabel 3. Hasil Uji-t Jumlah Daun Purwoceng Antar Dosis Iradiasi pada Generasi M2 di Lokasi Cicurug

Umur Tanaman Perlakuan yang Dibandingkan t-hitung Peluang

0 MSP 0 krad vs 3 krad 1.73tn 0.090 0 krad vs 5 krad 0.56tn 0.577 3 krad vs 5 krad -1.45tn 0.154 2 MSP 0 krad vs 3 krad 1.87tn 0.067 0 krad vs 5 krad -0.01tn 0.994 3 krad vs 5 krad -1.90tn 0.063 4 MSP 0 krad vs 3 krad 2.47 * 0.017 0 krad vs 5 krad 0.09tn 0.929 3 krad vs 5 krad -2.53 * 0.015 6 MSP 0 krad vs 3 krad 2.29 * 0.026 0 krad vs 5 krad 1.00tn 0.317 3 krad vs 5 krad -1.58tn 0.121 8 MSP 0 krad vs 3 krad 4.74 * 0.000 0 krad vs 5 krad 1.57tn 0.118 3 krad vs 5 krad -3.29 * 0.002 10 MSP 0 krad vs 3 krad 3.95 * 0.000 0 krad vs 5 krad -0.39tn 0.699 3 krad vs 5 krad -4.31 * 0.000 12 MSP 0 krad vs 3 krad 2.93 * 0.005 0 krad vs 5 krad 0.56tn 0.573 3 krad vs 5 krad -2.67 * 0.011 14 MSP 0 krad vs 3 krad 2.35 * 0.024 0 krad vs 5 krad 0.56tn 0.580 3 krad vs 5 krad -1.74tn 0.089 16 MSP 0 krad vs 3 krad 1.33tn 0.200 0 krad vs 5 krad -0.15tn 0.879 3 krad vs 5 krad -1.29tn 0.206 18 MSP 0 krad vs 3 krad 3.37 * 0.002 0 krad vs 5 krad 1.64tn 0.105 3 krad vs 5 krad -2.14 * 0.041 20 MSP 0 krad vs 3 krad 2.47 * 0.024 0 krad vs 5 krad -0.13tn 0.898 3 krad vs 5 krad -2.68 * 0.017 22 MSP 0 krad vs 3 krad 1.24tn 0.431 0 krad vs 5 krad 1.41tn 0.163 3 krad vs 5 krad -0.78tn 0.579

Keterangan: *berbeda nyata pada taraf 5%

tn

(9)

Gambar 13. Rata-rata Jumlah Daun Purwoceng Generasi M2 Semua Dosis Iradiasi di Lokasi Cicurug

Rata-rata jumlah daun tanaman purwoceng generasi M2 semua dosis iradiasi di lokasi Cibadak ditunjukkan pada Tabel 4. Hasil uji-t karakter jumlah daun antar pasangan dosis iradiasi tanaman purwoceng generasi M2 ditunjukkan pada Tabel 5. Jumlah daun tanaman generasi M2 1 krad nyata lebih banyak dibandingkan jumlah daun tanaman generasi M2 5 krad dan kontrol pada umur 8 MSP.

Keragaman jumlah daun tanaman generasi M2 di lokasi Cicurug dan Cibadak ini diduga merupakan akibat dari faktor lingkungan, bukan akibat iradiasi sinar gamma. Hasil percobaan yang dilakukan Pulungan (2008) menunjukkan pada 4-8 MSP hasil uji-t antara tanaman kontrol dengan tanaman generasi M1 1 krad, 3 krad, dan 5 krad, maupun antara kombinasi pasangan lainnya, keenam pasangan tersebut tidak menunjukkan jumlah daun yang berbeda.

Tabel 4. Rata-rata Jumlah Daun Purwoceng Generasi M2 Semua Dosis Iradiasi di Lokasi Cibadak

Umur Tanaman Rata-rata Jumlah Daun (tangkai)

0 krad 1 krad 3 krad 5 krad

0 MSP 4.62 4.57 4.60 4.00 4 MSP 5.67 5.77 - 5.09 8 MSP 6.67 9.40 - 6.80 3.93 4.66 5.26 6.45 8.03 10.62 12.62 17.7 21.33 3.37 4.1 4.4 5.58 5.92 6.82 8.55 10.88 13.2 13.92 14.38 15.5 9.3 14.66 18.42 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 Umur Tanaman (MS P) Ju m la h Dau n ( tan gk ai ) 0 krad 3 krad 5 krad

(10)

Tabel 5. Hasil Uji-t Jumlah Daun Purwoceng Antar Dosis Iradiasi pada Generasi M2 di Lokasi Cibadak

Umur Tanaman Perlakuan yang Dibandingkan t-hitung Peluang

0 MSP 0 krad vs 1 krad 0.16 tn 0.874 0 krad vs 3 krad 0.07 tn 0.946 0 krad vs 5 krad 1.78 tn 0.096 1 krad vs 3 krad -0.09 tn 0.930 1 krad vs 5 krad 1.85 tn 0.077 3 krad vs 5 krad 1.77 tn 0.107 4 MSP 0 krad vs 1 krad -0.13 tn 0.904 0 krad vs 5 krad 0.74 tn 0.511 1 krad vs 5 krad 1.15 tn 0.263 8 MSP 0 krad vs 1 krad -2.60 * 0.048 0 krad vs 5 krad -0.14 tn 0.893 1 krad vs 5 krad 2.48 * 0.042

Keterangan: *berbeda nyata pada taraf 5%

tn

tidak berbeda nyata pada taraf 5% Panjang Tangkai Daun

Rata-rata panjang tangkai daun tanaman purwoceng generasi M2 semua dosis iradiasi di lokasi Cicurug ditunjukkan pada Gambar 14 (berdasarkan Lampiran 9), terlihat bahwa ketiga tanaman generasi M2 semua dosis iradiasi secara bergantian memiliki tangkai daun terpanjang pada umur yang berbeda dari awal sampai akhir pengamatan.

Gambar 14. Rata-rata Panjang Tangkai Daun Purwoceng Generasi M2 Semua Dosis Iradiasi di Lokasi Cicurug

6.33 5.82 11.82 13.23 13.3113.64 14.02 13.4 7.63 10.65 13.03 12.78 4.52 5.36 6.35 8.35 9.89 13.57 14.96 18.19 17.8318.72 19.63 19.91 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 Umur Tanaman (MS P) P a nj a n g T a ng ka i D a un (c m ) 0 krad 3 krad 5 krad

(11)

Tabel 6. Hasil Uji-t Panjang Tangkai Daun Purwoceng Antar Dosis Iradiasi pada Generasi M2 di Lokasi Cicurug

Umur Tanaman Perlakuan yang Dibandingkan t-hitung Peluang

0 MSP 0 krad vs 3 krad 2.31 * 0.024 0 krad vs 5 krad 3.73 * 0.000 3 krad vs 5 krad 0.38tn 0.706 2 MSP 0 krad vs 3 krad 1.24tn 0.221 0 krad vs 5 krad 3.21 * 0.002 3 krad vs 5 krad 1.12tn 0.266 4 MSP 0 krad vs 3 krad -1.35tn 0.184 0 krad vs 5 krad 1.57tn 0.118 3 krad vs 5 krad 2.43 * 0.020 6 MSP 0 krad vs 3 krad -2.10 * 0.043 0 krad vs 5 krad 1.38tn 0.169 3 krad vs 5 krad 3.01 * 0.005 8 MSP 0 krad vs 3 krad -1.23tn 0.226 0 krad vs 5 krad 2.88 * 0.005 3 krad vs 5 krad 3.19 * 0.003 10 MSP 0 krad vs 3 krad 0.35tn 0.727 0 krad vs 5 krad -0.59tn 0.559 3 krad vs 5 krad -0.75tn 0.461 12 MSP 0 krad vs 3 krad -1.25tn 0.218 0 krad vs 5 krad -4.90 * 0.000 3 krad vs 5 krad -2.30 * 0.028 14 MSP 0 krad vs 3 krad -2.04tn 0.051 0 krad vs 5 krad -6.04 * 0.000 3 krad vs 5 krad -2.81 * 0.008 16 MSP 0 krad vs 3 krad -1.48tn 0.168 0 krad vs 5 krad -7.40 * 0.000 3 krad vs 5 krad -1.93tn 0.080 18 MSP 0 krad vs 3 krad -2.74 * 0.015 0 krad vs 5 krad -9.01 * 0.000 3 krad vs 5 krad -2.75 * 0.015 20 MSP 0 krad vs 3 krad -2.17tn 0.052 0 krad vs 5 krad -8.42 * 0.000 3 krad vs 5 krad -2.93 * 0.017 22 MSP 0 krad vs 3 krad -2.22tn 0.269 0 krad vs 5 krad -9.21 * 0.000 3 krad vs 5 krad -0.93tn 0.522

Keterangan: *berbeda nyata pada taraf 5%

tn

(12)

Hasil uji-t karakter panjang tangkai daun antar pasangan dosis iradiasi tanaman purwoceng generasi M2 (Tabel 6) menunjukkan bahwa pada umur 12-22 MSP tangkai daun tanaman generasi M2 5 krad cenderung atau nyata lebih panjang dibandingkan dengan tangkai daun tanaman generasi M2 3 krad dan kontrol. Pada awal pengamatan (0 dan 2 MSP) tangkai daun tanaman kontrol nyata lebih panjang dibandingkan tangkai daun tanaman generasi M2 5 krad, tetapi selanjutnya pada 4-8 MSP tangkai daun tanaman generasi M2 3 krad nyata lebih panjang dibandingkan tangkai daun tanaman generasi M2 5 krad.

Tabel 7. Rata-rata Panjang Tangkai Daun Purwoceng Generasi M2 Semua Dosis Iradiasi di Lokasi Cibadak

Umur Tanaman Rata-rata Panjang Tangkai Daun (cm) 0 krad 1 krad 3 krad 5 krad 0 MSP 5.50 5.60 5.20 6.23

4 MSP 7.33 9.35 - 8.95

8 MSP 14.00 15.40 - 17.00

Rata-rata panjang tangkai daun tanaman purwoceng generasi M2 semua dosis iradiasi di lokasi Cibadak ditunjukkan pada Tabel 7. Hasil uji-t karakter panjang tangkai daun antar pasangan dosis iradiasi tanaman purwoceng generasi M2 tidak menunjukkan panjang tangkai daun yang berbeda (Lampiran 11).

Keragaman panjang tangkai daun tanaman generasi M2 di lokasi Cicurug dan Cibadak ini diduga juga merupakan akibat dari faktor lingkungan, bukan akibat iradiasi sinar gamma. Hasil percobaan yang dilakukan Pulungan (2008) menunjukkan pada 4-8 MSP hasil uji-t antara tanaman kontrol dengan tanaman generasi M1 1 krad, 3 krad, dan 5 krad, maupun antara kombinasi pasangan lainnya, keenam pasangan tersebut tidak menunjukkan panjang tangkai daun yang berbeda.

Diameter Kanopi

Rata-rata diameter kanopi tanaman purwoceng generasi M2 semua dosis iradiasi di lokasi Cicurug ditunjukkan pada Gambar 15 (berdasarkan Lampiran 10), terlihat bahwa ketiga tanaman generasi M2 semua dosis iradiasi memiliki diameter kanopi terpanjang secara bergantian pada umur yang berbeda dari awal sampai akhir pengamatan.

(13)

Gambar 15. Rata-rata Diameter Kanopi Purwoceng Generasi M2 Semua Dosis Iradiasi di Lokasi Cicurug

Sama halnya dengan karakter panjang tangkai daun, hasil uji-t karakter diameter kanopi antar pasangan dosis iradiasi tanaman purwoceng generasi M2 (Tabel 8) menunjukkan bahwa pada 10 MSP antara tanaman kontrol dengan tanaman generasi M2 3 krad dan 5 krad, maupun antara tanaman generasi M2 3 krad dengan 5 krad, tidak menunjukkan diameter kanopi yang berbeda. Pada umur 12-22 MSP tanaman generasi M2 5 krad memiliki diameter kanopi yang cenderung atau nyata lebih besar dibandingkan dengan tanaman generasi M2 3 krad dan kontrol. Pada awal percobaan (0 MSP) antara tanaman kontrol dengan tanaman generasi M2 3 krad dan 5 krad, maupun antara tanaman generasi M2 3 krad dengan 5 krad, menunjukkan diameter kanopi yang berbeda nyata dan diameter kanopi tanaman kontrol adalah yang terbesar. Selanjutnya pada 2 dan 8 MSP diameter kanopi tanaman kontrol masih nyata lebih besar dibandingkan tanaman generasi M2 5 krad, tetapi pada umur 4 dan 6 MSP diameter kanopi tanaman generasi M2 3 krad nyata lebih besar dibandingkan tanaman generasi M2 5 krad. 11.57 13.79 33 36.4 44.7 45.1 49.9 47.9 8.43 47.3 35.4 19.2 26.9 12.43 14.85 21.73 27.3 40 45.7 53.9 55.8 60.29 61.4 63.7 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 Umur Tanaman (MS P) D ia m et er K a n o p i ( cm ) 0 krad 3 krad 5 krad

(14)

Tabel 8. Hasil Uji-t Diameter Kanopi Purwoceng Antar Dosis Iradiasi pada Generasi M2 di Lokasi Cicurug

Umur Tanaman Perlakuan yang Dibandingkan t-hitung Peluang

0 MSP 0 krad vs 3 krad 3.65 * 0.001 0 krad vs 5 krad 2.31 * 0.023 3 krad vs 5 krad -2.19 * 0.034 2 MSP 0 krad vs 3 krad 0.38 tn 0.706 0 krad vs 5 krad 2.15 * 0.033 3 krad vs 5 krad 0.87 tn 0.390 4 MSP 0 krad vs 3 krad -2.40 * 0.020 0 krad vs 5 krad 1.29 tn 0.200 3 krad vs 5 krad 3.26 * 0.002 6 MSP 0 krad vs 3 krad -0.76 tn 0.452 0 krad vs 5 krad 2.31 * 0.022 3 krad vs 5 krad 2.30 * 0.028 8 MSP 0 krad vs 3 krad 0.46 tn 0.649 0 krad vs 5 krad 3.04 * 0.003 3 krad vs 5 krad 2.03 * 0.049 10 MSP 0 krad vs 3 krad 1.24 tn 0.221 0 krad vs 5 krad -0.54 tn 0.593 3 krad vs 5 krad -1.74 tn 0.090 12 MSP 0 krad vs 3 krad -2.09 * 0.044 0 krad vs 5 krad -4.60 * 0.000 3 krad vs 5 krad -1.22 tn 0.232 14 MSP 0 krad vs 3 krad -0.24 tn 0.813 0 krad vs 5 krad -4.22 * 0.000 3 krad vs 5 krad -2.24 * 0.037 16 MSP 0 krad vs 3 krad -1.55 tn 0.144 0 krad vs 5 krad -4.59 * 0.000 3 krad vs 5 krad -1.17 tn 0.264 18 MSP 0 krad vs 3 krad -0.29 tn 0.772 0 krad vs 5 krad -4.72 * 0.000 3 krad vs 5 krad -3.15 * 0.007 20 MSP 0 krad vs 3 krad -0.53 tn 0.604 0 krad vs 5 krad -5.45 * 0.000 3 krad vs 5 krad -3.13 * 0.012 22 MSP 0 krad vs 3 krad 0.29 tn 0.818 0 krad vs 5 krad -4.22 * 0.000 3 krad vs 5 krad -1.45 tn 0.385

Keterangan: *berbeda nyata pada taraf 5%

tn

(15)

Rata-rata diameter kanopi tanaman purwoceng generasi M2 semua dosis iradiasi di lokasi Cibadak ditunjukkan pada Tabel 9. Hasil uji-t karakter diameter kanopi antar pasangan dosis iradiasi tanaman purwoceng generasi M2 (Tabel 10) menunjukkan bahwa diameter kanopi tanaman kontrol sangat nyata lebih kecil dibandingkan tanaman generasi M2 1 krad dan 5 krad pada umur 4 MSP, tetapi selanjutnya pada 8 MSP kembali tidak berbeda.

Tabel 9. Rata-rata Diameter Kanopi Purwoceng Generasi M2 Semua Dosis Iradiasi di Lokasi Cibadak

Umur Tanaman Rata-rata Diameter Kanopi (cm)

0 krad 1 krad 3 krad 5 krad

0 MSP 13.19 12.81 12.00 14.14

4 MSP 14.83 21.46 - 21.64

8 MSP 29.17 31.30 - 36.90

Tabel 10. Hasil Uji-t Diameter Kanopi Purwoceng Antar Dosis Iradiasi pada Generasi M2 di Lokasi Cibadak

Umur Tanaman Perlakuan yang Dibandingkan t-hitung Peluang

0 MSP 0 krad vs 1 krad 0.20 tn 0.842 0 krad vs 3 krad 0.67 tn 0.516 0 krad vs 5 krad -0.38 tn 0.709 1 krad vs 3 krad 0.61 tn 0.548 1 krad vs 5 krad -0.60 tn 0.556 3 krad vs 5 krad -1.00 tn 0.335 4 MSP 0 krad vs 1 krad -3.94 ** 0.002 0 krad vs 5 krad -3.21 ** 0.009 1 krad vs 5 krad -0.07 tn 0.948 8 MSP 0 krad vs 1 krad -0.88 tn 0.419 0 krad vs 5 krad -2.49 tn 0.055 1 krad vs 5 krad -1.54 tn 0.166

Keterangan: **berbeda nyata pada taraf 1%

tn

tidak berbeda nyata pada taraf 5%

Keragaman diameter kanopi tanaman generasi M2 di lokasi Cicurug dan Cibadak ini sama halnya dengan kondisi panjang tangkai daun, diduga juga merupakan akibat dari faktor lingkungan, bukan akibat iradiasi sinar gamma. Hasil percobaan yang dilakukan Pulungan (2008) menunjukkan pada 4-8 MSP hasil uji-t karakter diameter kanopi tanaman generasi M1 3 krad nyata lebih kecil dibandingkan dengan tanaman kontrol, tetapi pada kombinasi pasangan lainnya tidak menunjukkan diameter kanopi yang berbeda.

(16)

Jumlah Anakan

Purwoceng di lokasi Cicurug yang membentuk anakan (Gambar 16a) adalah tanaman generasi M2 5 krad sebanyak 23 tanaman dan tanaman kontrol sebanyak 22 tanaman, sedangkan tanaman generasi M2 di lokasi Cibadak tidak dilaporkan membentuk anakan. Jumlah tanaman yang memiliki anakan serta rata-rata jumlah anakan tanaman generasi M2 5 krad dan kontrol di lokasi Cicurug ditunjukkan pada Tabel 11, terlihat bahwa tanaman generasi M2 5 krad membentuk anakan lebih cepat dibandingkan tanaman kontrol. Rata-rata jumlah anakan antara keduanya tidak berbeda setelah dilakukan uji-t (Lampiran 12). Sebagai antisipasi untuk mempertahankan kelangsungan hidup tanaman generasi M2 purwoceng jika tidak ada tanaman yang berbunga dan menghasilkan benih, maka dilakukan pembiakan secara vegetatif melalui pemisahan anakan, namun hal ini belum berhasil (Gambar 16b).

Tabel 11. Jumlah Tanaman yang Memiliki Anakan dan Rata-rata Jumlah Anakan Purwoceng Generasi M2 di Lokasi Cicurug

Umur Tanaman 0 krad 5 krad Jumlah Tanaman Rata-rata Jumlah Anakan Jumlah Tanaman Rata-rata Jumlah Anakan 4 MSP 0 - 2 1.5 6 MSP 0 - 5 1.6 8 MSP 2 1.5 6 2.0 10 MSP 3 1.3 8 1.5 12 MSP 3 1.3 8 1.6 14 MSP 6 1.3 8 2.1 16 MSP 10 1.7 6 2.2 18 MSP 16 1.7 7 2.1 20 MSP 11 1.9 11 2.0 22 MSP 13 1.9 8 2.3 24 MSP 13 2.3 6 1.7 26 MSP 12 2.5 3 1.7 28 MSP 10 2.1 3 1.7 30 MSP 9 2.0 0 -

(17)

P Gam Perbanding Gam Gam mbar 16. Ana dan p gan Karakte mbar 17. Rata dan mbar 18. Rata-5 kra 3 4. 0 1 2 3 4 5 6 7 8 J um la h D a un (t a ng ka i) 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 P a nj a n g T a ng k a i Da u n ( cm ) a akan Purwoc pemisahan a er Kuantita a-rata Jumlah n Kontrol di L -rata Panjang ad, dan Kontr

.703 408 0 Umur 5.007 5.643 0 Umur eng. Anakan anakan (b) atif Antar Lo h Daun Purw Lokasi Cicuru g Tangkai Da rol di Lokasi 4.89 5.38 4 r Tanaman (MS 5.88 8.14 4 r Tanaman (MS n tumbuh di okasi woceng Gene ug dan Cibad aun Purwoce Cicurug dan 7.075 6.735 8 S P) 10.06 15.5 8 S P) leher akar (a erasi M2 3 kr dak pada 0-8 eng Generasi Cibadak pad Cicuru Cibada Cicuru Cibada b a), rad, 5 krad, MSP M2 3 krad, da 0-8 MSP ug ak ug ak

(18)

Gambar 19. Rata-rata Diameter Kanopi Purwoceng Generasi M2 3 krad, 5 krad, dan Kontrol di Lokasi Cicurug dan Cibadak pada 0-8 MSP

Gambar 17-19 menunjukkan perbandingan jumlah daun, panjang tangkai daun, dan diameter kanopi tanaman purwoceng generasi M2 3 krad, 5 krad, dan control pada umur 0, 4, dan 8 MSP di lokasi Cicurug dan Cibadak. Hasil uji-t ketiga karakter kuantitatif antar lokasi pada umur tersebut tidak menunjukkan nilai yang berbeda (Lampiran 13). Pertumbuhan vegetatif yang cukup baik tetapi sulit untuk berbunga menunjukkan bahwa tanaman generasi M2 belum dapat beradaptasi jika ditanam sejak awal di dataran lebih rendah, namun hal ini menunjukkan bahwa lokasi Cicurug potensial sebagai lokasi pembudidayaan purwoceng.

Fase Generatif Tanaman

Rahardjo et al. (2005) menyatakan bahwa purwoceng di dataran tinggi Dieng mulai berbunga pada umur tiga bulan setelah tanam dan Pulungan (2008) melaporkan bahwa purwoceng generasi M1 di lokasi Cicurug mulai berbunga pada umur 13 MSP (sekitar 4.3 bulan). Pada percobaan ini purwoceng generasi M2 di lokasi Cicurug baru berbunga pada umur 22 MSP (sekitar tujuh bulan). Hanya satu tanaman yang berbunga, yaitu M2/05.07.08/3krad/18 (Gambar 20) yang bertahan hidup sekitar tiga minggu setelah munculnya tandan bunga, sehingga diduga tidak terjadi penyerbukan bunga. Hal ini disebabkan oleh kondisi tanaman yang sulit beradaptasi terhadap lingkungan. Landsberg (1977) menjelaskan bahwa setiap proses perkembangan pada tumbuhan diatur secara genetik yang dipicu oleh mekanisme tertentu, misalnya pada pergantian dari fase vegetatif ke generatif dapat disebabkan oleh perubahan internal tumbuhan atau akibat inisiasi dari faktor eksternal seperti panjang hari atau suhu lingkungan

13.31 27.27 33.04 10.06 18.24 13.11 0 5 10 15 20 25 30 35 0 4 8 Umur Tanaman (MS P) D ia m et er K a no pi ( cm ) Cicurug Cibadak

(19)

Tanaman-tanaman lain seluruhnya mati setelah melalui masa vegetatif yang lebih panjang dari yang lazimnya dan tidak berbunga bahkan setelah melebihi umur purwoceng yang sewajarnya berbunga (Tabel 12). Masa vegetatif purwoceng generasi M1 di lokasi Cicurug adalah sekitar 3.3 bulan setelah dipindahkan (Pulungan, 2008). Beberapa tanaman yang sehat dan berpotensi untuk berbunga diberi perlakuan untuk menginduksi pembungaan. Perlakuan yang diterapkan antara lain: pemangkasan daun (untuk menimbulkan stres), pemberian pupuk bunga, naungan plastik per individu tanaman perlakuan, serta kombinasi dari pelakuan-perlakuan tersebut. Perlakuan-perlakuan tersebut tidak berhasil dan seluruh tanaman akhirnya mati.

Gambar 20. Purwoceng Generasi M2 yang Berbunga. Tanaman yang berbunga (kiri) dan perbesaran gambar bunganya (kanan)

Tabel 12. Purwoceng di Lokasi Cicurug yang Berumur Paling Panjang

Nomor Tanaman Umur Tanaman

M2/02.06.08/0 KRAD/50 8.3 bulan setelah dipindahkan

M2/05.09.08/3 KRAD/28 6.8 bulan setelah dipindahkan

M2/24.04.08/5 KRAD/26 9.0 bulan setelah dipindahkan

M2/24.04.08/5 KRAD/27 9.0 bulan setelah dipindahkan

Kandungan Metabolit Sekunder Purwoceng Generasi M1 di Beberapa Lokasi Kadar saponin dan fitosterol pada akar serta batang dan daun tanaman dari empat lokasi (Dieng, Tawang Mangu, Cibadak, dan Cicurug) ditunjukkan pada Gambar 21-24 (berdasarkan Lampiran 14-17). Data hasil analisis tersebut dapat menunjukkan bahwa zat saponin dan fitosterol terkandung dalam tanaman yang dipindahkan ke lokasi Cibadak dan Cicurug serta terkandung pada seluruh bagian tanaman, namun hasil analisis tersebut tidak dapat digunakan untuk menduga kadar metabolit serupa untuk populasi lain atau untuk menentukan purwoceng generasi M1 dengan kadar zat saponin dan fitosterol tertinggi di antara empat lokasi tersebut karena merupakan data sampel tunggal.

(20)

Gam Gam Gamb mbar 21. Kada mbar 22. Kad Emp bar 23. Kadar ar Saponin A dar Saponin B pat Lokasi r Fitosterol A Akar Purwoce Batang dan D Akar Purwoce eng Generasi Daun Purwo eng Generasi i M1 dari Em oceng Genera i M1 dari Em mpat Lokasi asi M1 dari mpat Lokasi

(21)

f k C b b g g i p s Gam Uji-t fitosterol pad kadar zat sap Cibadak. Ha bahwa kadar batang dan d generasi M generasi M1 ini juga me potensial seb simplisia. Tabel 13 Perband Akar Batang dan Cicurug Cibadak Keter mbar 24. Kad dar t dapat dilak da akar serta ponin dan fito asil uji-t ters

r zat saponin daun purwo 1 asal loka 1 asal lokasi endukung b bagai lokasi 3. Hasil Uji-t Daun Purw pada Purw dingan 1. n Daun 1. 3. 3. rangan: *berbed tn tidak dar Fitostero ri Empat Lo kukan untuk batang dan d osterol pada sebut ditunju n dan fitoster ceng genera si Cicurug Cibadak tet bahwa lokas i pembudida t Kadar Zat S woceng Gene woceng Gener Saponin .5704±0.340 .7256±0.365 6388±0.354 .0853±0.293 da nyata pada t berbeda nyata ol Batang da kasi menguji pe daun purwoc purwoceng g ukkan pada

rol pada aka asi M1 dan k nyata lebih tapi tidak be si Cicurug a ayaan purwo Saponin dan F erasi M1 sert rasi M1 Asal t-hitung (Peluang 01 -1.05 tn (0.312 56 47 7.66 * (0.001 37 taraf 5% a pada taraf 5% an Daun Pu erbandingan eng generasi generasi M1 Tabel 13. T ar tidak berbe

kadar zat sap h tinggi dib erbeda kadar atau lokasi d oceng dengan Fitosterol pad ta Kadar Zat Lokasi Cicur g g) Fitos n ) 1.8220± 1.5976± * ) 3.7668± 3.0102± % urwoceng Ge kadar zat sa i M1 serta pe asal lokasi C Tabel 13 me eda dibandin ponin pada p andingkan p r zat fitoster dengan kon n tujuan me da Akar serta t Saponin da rug dan Ciba

sterol ( ±0.6526 ±0.4432 ±0.9636 ±0.6206 enerasi M1 aponin dan erbandingan Cicurug dan enunjukkan ngkan pada purwoceng purwoceng rolnya. Hal disi serupa enghasilkan Batang dan an Fitosterol adak t-hitung (Peluang) 1.10 tn (0.289) 1.35 tn (0.234)

Gambar

Tabel 2. Jumlah Tanaman Generasi M2 Purwoceng pada Umur yang  Berbeda di Lokasi Cibadak
Gambar 5. Curah Hujan di Lokasi Cicurug Tahun 2008
Gambar 7. Serangan Hama pada Tanaman Purwoceng. Kutu daun di  permukaan bawah daun (a), tanaman berkerut (b), nematoda  membentuk bintil-bintil akar (c), daun tanaman terserang  belalang (d)
Tabel 3. Hasil Uji-t Jumlah Daun Purwoceng Antar Dosis Iradiasi pada  Generasi M2 di Lokasi Cicurug
+7

Referensi

Dokumen terkait

Terdapat penelitian yang memiliki hasil berbeda, dan dengan mengindikasi adanya perbedaan research gap dalam penelitian ini mengenai hubungan dan pengaruh Biaya

Unit Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Industri pupuk X mempunyai unit penanggulangan kebakaran yaitu bagian Keselamatan dan Pemadam Kebakaran (KPK). Unit

Hendro Gunawan, MA

Contoh : menggunakan square level... Pengukuran kekasaran permukaan, suatu pengukuran yang mengukur kekasaran permukaan suatu produk. Pengukuran langsung, suatu

dari hasil, dalam menilai kinerja guru hendaknya mengacu pada hasil nyata yang dikerjakan oleh guru baik secara kuantitas maupun kualitasnya. Pendidik atau guru harus

pada hukum pidana umum apabila penyimpangan-penyimpangan yang ia lakukan tersebut tidak diatur dalam Kitab Undang-undang hukum militer. Hal ini berarti apabila seorang

Beberapa benda uji dengan kasus yang berbeda yaitu Beam J4 (Burns and Siess 1962), Beam OA (Bresler dan Scordelis 1963) dan Beam A4 (Ahmad et al. dianalisis untuk memvalidasi

Dari keempat line yang dilakukan pengukuran maka pada pekerjaan mengangkat tray kayu pada bagian packing taichong 3 memiliki nilai CLI yang paling tinggi,