• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY BAGI PERTAMBANGAN TANPA IZIN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB VI CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY BAGI PERTAMBANGAN TANPA IZIN"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

BAB VI

CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY BAGI PERTAMBANGAN

TANPA IZIN

6.1. Pertambangan Tanpa Izin

6.1.1. Asal Muasal Pertambangan Tanpa Izin di PT Aneka Tambang Tbk Unit Bisnis Pertambangan Emas Pongkor

Awal mula pembukaan proyek, terdapat banyak sekali Penambangan Tanpa Izin (PETI), yang jumlahnya mencapai ribuan. Pertambangan Tanpa Izin (PETI) tersebut tentu saja sangat merugikan PT Antam Tbk UBPE Pongkor. Kerugian tersebut akibat ulah PETI yang menambang emas menembus batas kawasan PT Antam Tbk UBPE Pongkor. Di samping itu PETI juga menimbulkan kerusakan lingkungan karena proses eksplorasi yang tidak memenuhi standar. Para Pelaku PETI tidak hanya berasal dari Kecamatan Nanggung, tapi sebagian besar berasal dari dalam Provinsi Jawa Barat sendiri (Cikotok, Sukabumi, Bogor, dan Rangkas Bitung).

Untuk mengatasi PETI yang jumlahnya tak terkendali, PT Antam Tbk UBPE Pongkor mulai memperketat sistem pengamanannya. Namun usaha tersebut justru memicu terjadinya konflik antara PT Antam Tbk UBPE Pongkor dengan PETI. Pada tahun 1998 meletuslah konflik terbesar, dimana hal tersebut dipicu oleh tewasnya seorang gurandil yang tertembak oleh senapan milik seorang keamanan PT Antam Tbk UBPE Pongkor. Kesalah pahaman tersebut berdampak pada pembakaran Kantor Administrasi PT Antam Tbk UBPE Pongkor, yang menyebabkan PT Antam Tbk UBPE Pongkor terhenti produksinya selama kurang lebih 10 hari dan mengalami kerugian Milyaran Rupiah.

(2)

Sejalan dalam kegiatan bisnisnya, PT Antam Tbk UBPE Pongkor terus berupaya mengurangi PETI melalui program-program CSR-nya, salah satunya yaitu dengan merekrut para pekerja yang merupakan masyarakat sekitar pertambangan. Selain itu juga dilakukan SK Bupati Tahun 2001 yang berisi bahwa PETI dilarang serta mengeluarkan PETI dari wilayah operasi produksi tambang Pongkor, serta membentuk stabilitas keamanan tahun 2001 sampai dengan tahun 2005.

Jumlah pelaku PETI di tambang emas Pongkor relatif tidak berubah dari tahun sebelumnya, yakni berkisar antara 100-200 orang. Kegiatan PETI berlokasi di wilayah permukaan di atas deposit milik PT Antam Tbk UBPE Pongkor yang berlokasi di bawah tanah di area Taman Nasional Gunung Halimun. Deposit emas yang berada di permukaan tidak boleh ditambang karena merupakan wilayah Taman Nasional.

6.1.2. Motif Pertambangan Tanpa Izin di PT Aneka Tambang Tbk Unit Bisnis Pertambangan Emas Pongkor

Sebagian besar Pertambangan Tanpa Izin (PETI) berasal dari luar kecamatan Nanggung, sekitar 70 persen gurandil (sebutan untuk para pelaku PETI) adalah pendatang dari dalam Provinsi Jawa Barat sendiri (Cikotok, Salopa, Tasikmalaya, Sukabumi, Bogor, dan Rangkasbitung) dan dari luar, seperti Bengkulu, Kalimantan, dan Nusa Tenggara Timur. Hanya 30 persen yang berasal dari sekitar kawasan pertambangan itu, yaitu dari Desa Bantar Karet dan Desa Cisarua.

Hal yang menarik adalah bahwa ada sejumlah gurandil yang merupakan karyawan PT Aneka Tambang yang mengundurkan diri. Pemeran lain adalah aparat keamanan yang membuka akses dan memberi perlindungan bagi orang-orang yang bekerja sebagai gurandil.

(3)

Para gurandil datang dengan berbagai motif, ada yang sebagian mengaku bahwa alasan meraka menjadi PETI adalah untuk makan sehari-hari, dan ada juga yang memang untuk memperkaya diri mereka, karena mereka tahu saat itu harga emas sangat tinggi.

Terlebih setelah krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1997, dimana marak dengan masyarakat yang di PHK (Pemutusan Hak Kerja). Hal tersebut menyebabkan mereka mencari cara lain untuk mendapatkan uang, guna memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Bahkan dari beberapa gurandil yang tertangkap, ketika ditanya apakah mereka tidak khawatir dengan keselamatan mereka, mereka justru menjawab dengan mimik wajahnya yang terlihat pasrah terhadap keadaan :

“ Mau bagaimana lagi, toh sama saja jadi gurandil saya mati, tidak menjadi gurandil juga saya akan mati karena kelaparan”.

Keadaan seperti tersebut sering dimanfaatkan oleh para pemodal besar yang ingin memperkaya diri mereka dengan menggunakan tenaga masyarakat miskin. Dalam kondisi keuangan yang sulit tentu saja sangat mudah orang terjerumus dalam melakukan tindakan-tindakan yang salah.

Melihat kondisi ini, memang masalah kesejahteraan perlu diperhatikan lagi terlebih untuk rakyat kecil yang biasanya merupakan entitas yang selalu dirugikan. Agar hal ini tidak dimanfaatkan oleh para oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, dan tidak memikirkan rakyat kecil.

(4)

6.1.3. Dampak Pertambangan Tanpa Izin di PT Aneka Tambang Tbk Unit Bisnis Pertambangan Emas Pongkor

Dampak dari adanya Pertambangan Tanpa Izin sangat banyak sekali. Bagi PT Antam Tbk UBPE Pongkor itu sendiri, keberadaan PETI dianggap sangat merugikan PT Antam Tbk UBPE Pongkor, karena lubang galian PETI terkadang menembus batas wilayah eksplorasi PT Antam Tbk. Hal ini tentunya menyebabkan PT Antam Tbk UBPE Pongkor mengalami kerugian hingga Milyaran rupiah.

Selain itu PETI juga menimbulkan kerusakan lingkungan, seperti longsor, pencemaran merkuri, dan pengotoran lingkungan. Misalnya yaitu kondisi Taman Nasional Gunung Halimun sebelum dilakukan pengamanan sangat rusak dan tidak indah lagi akibat sisa-sisa sampah yang ditinggalkan oleh para PETI (lihat Gambar 6). Hal ini merugikan perusahaan, karena ini menjadi beban perusahaan yang mendapatkan Kuasa Pertambangan (KP), dimana perusahaan harus bertanggung jawab terhadap rehabilitasi wilayah yang telah dirusak, tentu saja ini juga merugikan masyarakat asli (lokal) di sekitar wilayah pertambangan dan juga bagi PETI sendiri. Kondisi hutan dan wilayah tempat tinggal masyarakat diganggu keseimbangan ekosistemnya, yang pada akhirnya dapat mendatangkan bencana pada mereka sewaktu-waktu.

(5)

Gambar 6. Kondisi Taman Nasional Akibat Ulah PETI

Masyarakat bisa mengalami gangguan kesehatan, seperti gangguan pernapasan akibat gas Karbon (Co) tinggi, yang belum lama pernah terjadi akibat pengasapan yang dilakukan PETI. Selain itu sisa-sisa pengolahan emas yang mengandung Merkuri dan

Sianida yang dibuang oleh PETI ke sungai, yang sering dipakai oleh masyarakat

setempat untuk keperluan sehari-hari, seperti mandi, mencuci, atau sebagian masyarakat masih ada yang menggunakan air sungai untuk memasak.

Walaupun dampak Merkuri dan Sianida tersebut belum dirasakan oleh masyarakat saat ini, tapi kemungkinan zat tersebut akan terkonsentrasi di dalam tubuh dan akan menimbulkan penyakit dikemudian hari. Kita ketahui bahwa di Jepang pernah terjadi tragedi besar, dimana bayi satu generasi mengalami cacat. Cacat tersebut bisa berupa bayi lahir dengan anggota badan tidak lengkap, kebutaan atau yang disebut penyakit minamata, dan sebagainya.

(6)

Sehingga dapat dikatakan bahwa dampak adanya PETI sangat merugikan sekali, baik bagi perusahaan, yakni PT Antam Tbk UBPE Pongkor, bagi lingkungan, bagi masyarakat, maupun bagi PETI itu sendiri. Bagi PETI itu sendiri bahaya yang ditimbulkan bagi para gurandil (sebutan untuk para pelaku PETI) antara lain keselamatan kerja mereka sendiri saat menambang, karena sewaktu-waktu tanah di atas tempat Ia menambang akan longsor sewaktu-waktu dan menimbun mereka.

Tidak seperti perusahaan, yang menerapkan sistem pengeboran underground, PETI cenderung menambang dengan melakukan pengeboran dari atas gunung. Lubang galian PETI sangat kecil sekali, sehingga tidak memungkinkan PETI untuk bergerak leluasa, seperti ketika berada di alam bebas (lihat Gambar 7). Hal ini berbeda sekali dengan lubang yang dibuat PT Antam Tbk UBPE Pongkor, dimana lubang tersebut sangat luas dan tersedia berbagai fasilitas, seperti kantin dan musholla. Tentunya dari lubang PETI yang sangat sempit tersebut sistem sirkulasi udaranya lebih buruk, dan PETI bisa mengalami gangguan pernapasan.

Dapat dikatakan yang terkena potensi dampak terbesar secara langsung adalah jiwa PETI itu sendiri, hidupnya yang sehari-hari ‘bermain’ dengan air raksa saat pengelupasan bijih emas tentunya sudah banyak Merkuri dan Sianida yang terkonsentrasi ditubuhnya. Oleh karena itu perlu dilakukan sosialisasi terhadap PETI, karena ini berkenaan dengan keselamatan diri PETI sendiri.

(7)

Gambar 7. PETI dalam Lubang Galian

6.1.4. Jumlah Pelaku Pertambangan Tanpa Izin Dulu dan Sekarang di PT Aneka Tambang Tbk Unit Bisnis Pertambangan Emas Pongkor

Jumlah PETI atau gurandil mencapai puncaknya pada tahun 1998-1999. Diperkirakan 6.000 gurandil menjarah kawasan pertambangan emas PT Aneka Tambang di Pongkor (Susanto, 2007). Mereka menguasai hampir 200 Hektar areal pertambangan yang tersebar di beberapa daerah prospek: Blok Kubang Kicau, Cicurug, Gunung Butak, dan Pasirjawa.

Saat ini jumlah PETI bisa dikatakan berkurang jika dibandingkan dahulu. Dahulu yang jumlahnya mencapai ribuan, kini hanya ratusan saja. Walaupun secara statistik tidak ada yang dapat menyebutkan secara jelas berapa jumlah PETI dulu dan sekarang, namun beberapa info yang saya dapatkan mengatakan bahwa PETI yang

(8)

tertinggal hanya lah seperempatnya saja. Hal tersebut diungkapkan oleh Bapak Suharta, yakni salah seorang Staff Comdev PT Antam Tbk UBPE Pongkor. Kalau dulu PETI bertindak sangat terang-terangan, kini lebih terselubung.

Puncaknya adalah pada tahun 1998, terjadi bentrokan antara PETI dengan PT Antam Tbk UBPE Pongkor. Bahkan dapat dikatakan pada tahun tersebut adalah tahun puncak kejayaan PETI, dimana PETI berhasil memukul mundur keamanan PT Antam Tbk UBPE Pongkor, bahkan sempat membakar Kantor PT Antam Tbk UBPE Pongkor dan membuat sebagian keamanan PT Antam Tbk UBPE Pongkor menangis karena kewalahan menghadapi PETI yang jumlahnya banyak dan bertindak sangat anarki. Seperti yang dialami oleh Bapak Maryono, seorang Staff Keamanan PT Antam Tbk UBPE Pongkor. Beliau mengatakan sempat menangis karena beliau adalah salah satu orang yang diburu oleh PETI. Pengurangan PETI ini juga terus diupayakan oleh PT Antam Tbk UBPE Pongkor, walaupun sangat sulit untuk membuat PETI benar-benar tidak ada lagi. Kini untuk menekan jumlah PETI, PT Antam Tbk UBPE Pongkor terus melakukan kombinasi tiga pendekatan, yaitu pendekatan, sosial, dan ekonomi dan keamanan.

6.1.6 Upaya PT Aneka Tambang Tbk Unit Bisnis Pertambangan Emas Pongkor dalam Pengurangan Pertambangan Tanpa Izin

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, upaya perusahaan untuk menekan jumlah pelaku PETI adalah kombinasi pendekatan sosial, ekonomi dan keamanan. Program-program pemberdayaan masyarakat serta upaya penertiban pelaku PETI secara terpadu dan konsisten terus dilakukan bersama dengan berbagai pihak yang terkait seperti aparat keamanan, tokoh masyarakat, maupun pemerintah daerah serta masyarakat sekitar.

(9)

 Pendekatan Sosial

Pendekatan sosial yang telah dilakukan PT Antam Tbk UBPE Pongkor untuk menekan jumlah PETI antara lain berupa sosialisasi akan bahaya merkuri, sosialisasi tentang keselamatan jiwa PETI, pelatihan SDM berkualitas, kegiatan bakti sosial, pembangunan berbagai infrastuktur dan sebagainya. Pendekatan sosial ini dinilai efektif, karena pengurangan jumlah PETI seperti saat ini, juga merupakan keberhasilan pendekatan ini. Dari wawancara yang saya lakukan kepada salah seorang masyarakat dari Desa Bantar Karet, yang dulunya pernah menjadi gurandil mengatakan bahwa dirinya berhenti menjadi penambang liar karena takut akan bahaya Merkuri. Mas Iwan adalah salah satu warga masyarakat Desa Bantar Karet yang dahulunya ikut menjadi penambang liar (PETI). Ia mengatakan “saya berhenti menjadi PETI karena takut juga akan bahaya merkuri). Saat ini Ia justru bekerja di PT Antam Tbk UBPE Pongkor sebagai dealer (penagih uang) pada masyarakat mitra binaan PT Antam Tbk UBPE Pongkor yang mendapatkan pinjaman modal usaha dari PT Antam Tbk UBPE Pongkor. Gambar di bawah merupakan pendekatan sosial yang dilakukan PT Antam Tbk UBPE Pongkor untuk mengurangi jumlah PETI.

(10)

Gambar 8. Sosialisasi pada PETI akan Bahaya Merkuri

Gambar di atas merupakan gambar sosialisasi PETI akan dampak Merkuri dan

Sianida yang dilakukan oleh PT Antam Tbk UBPE Pongkor. Pada gambar terkesan

memperlihatkan kesenjangan antara PT Antam Tbk UBPE Pongkor. Dalam penyampaian sosialisasi tersebut, Penyuluh dari PT Antam Tbk UBPE Pongkor seolah-olah memperlakukan para PETI bukan sebagai mitra yang sejajar. Cara penyampaian sosialisasi PT Antam Tbk UBPE Pongkor perlu diperbaiki agar tujuan dapat tercapai sesuai dengan Visi dan Misi yang diharapkan oleh PT Antam Tbk UBPE Pongkor untuk mensejahterakan masyarakat di sekitar daerah operasi pertambangan, yang salah satunya adalah masyarakat PETI.

(11)

 Pendekatan Ekonomi

Pendekatan ekonomi yang dilakukan PT Antam Tbk UBPE Pongkor untuk menekan jumlah PETI yaitu antara lain dengan merekrut pekerja dari masyarakat Kecamatan Nanggung, yang merupakan masyarakat yang paling dekat dengan wilayah pertambangan, memberikan modal usaha bagi masyarakat yang memiliki keterampilan, memberikan pinjaman lunak bagi masyarakat yang ingin memperluas skala usahanya, dan sebagainya. Pendekatan ini juga merupakan pendekatan yang cukup baik dan dinilai efektif, karena ada juga warga masyarakat yang dahulunya adalah Tokoh PETI yang mempunyai pengaruh kuat, setelah diadakan pendekatan oleh PT Antam Tbk UBPE Pongkor dengan memberikannya modal usaha, kini Ia menjadi wirausahawan yang sukses dan berhenti menjadi seorang gurandil.

 Pendekatan Keamanan

Pendekatan Keamanan yang dilakukan PT Antam Tbk UBPE Pongkor juga dinilai efektif dalam mengurangi jumlah PETI. Sikap tegas aparat keamanan dalam menangani dan memproses PETI yang tertangkap cukup membuat PETI kini sedikit takut untuk melakukan aksinya secara terang-terangan.

6.2. Corporate Social Responsibility dan Pertambangan Tanpa Izin

6.2.1. Hubungan Corporate Social Responsibility dan Pertambangan Tanpa Izin

Hubungan Corporate Social Responsibility dengan Pertambangan Tanpa Izin (PETI), walaupun jika ditelusuri dimana para pelaku PETI sebagian besar merupakan orang luar Kecamatan Nanggung, namun tetap saja terdapat hubungan yang erat. Para pelaku PETI dari luar Kecamatan Nanggung yang kebanyakan adalah pemodal besar,

(12)

dimana mereka memanfaatkan masyarakat miskin Kecamatan Nanggung untuk jadi buruh mereka, yakni sebagai gurandil.

Dengan adanya Corporate Social Responsibility atau bantuan-bantuan yang diberikan oleh PT Antam Tbk UBPE Pongkor untuk membantu masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar pertambangan, maka kini masyarakat lokal yang semula menjadi gurandil mulai berkurang, dan mencari penghasilan dengan cara lain. Dengan semakin sedikit masyarakat lokal yang menjadi gurandil, maka para pelaku PETI yang berasal dari luar Kecamatan Nanggung, semakin sedikit mendapatkan dukungan dari masyarakat lokal, dan mereka tidak leluasa lagi untuk tinggal dan menetap di wilayah Kecamatan Nanggung. Oleh karena itu dapat dikatakan PETI semakin berkurang, sehingga antara Corporate Social Responsibility (CSR) dengan Pertambangan Tanpa Izin (PETI) memang terdapat hubungan walaupun tidak terlalu terlihat.

6.2.2. Corporate Social Responsibility bagi Pertambangan Tanpa Izin

Dampak dengan adanya upaya-upaya yang telah dilakukan oleh PT Antam Tbk UBPE Pongkor terhadap pengurangan PETI yang diimplikasikan melalui ketiga pendekatan, yakni pendekatan sosial, pendekatan ekonomi sedikit banyak berpengaruh terhadap pengurangan PETI. Dari beberapa hasil wawancara dengan para mantan PETI yang ditemui, dapat ditarik kesimpulan bahwa ketiga pendekatan yang terus digalakkan sebagai bentuk tanggung jawab sosial (CSR) PT Antam Tbk UBPE Pongkor ternyata berhasil dalam mengurangi aksi PETI di Gunung Pongkor, dimana PETI yang dulunya jumlahnya mencapai ribuan kini hanya berjumlah ratusan saja.

(13)

Beberapa pernyataan para mantan PETI yang berhenti sebagai dampak digalakkannya melalui CSR PT Antam Tbk UBPE Pongkor melalui tiga pendekatannya, yaitu pendekatan sosial, pendekatan ekonomi, dan pendekatan keamanan akan disajikan pada tabel berikut.

Tabel 5. Pernyataan Para Mantan PETI akan Dampak Ketiga Pendekatan yang Digalakan PT Antam Tbk UBPE Pongkor bagi Mereka

Pernyataan Para Mantan PETI

Pendekatan Sosial Salah seorang mantan PETI yang kini bekerja sebagai Dealer di PT Antam Tbk UBPE Pongkor mengatakan “ Dulunya sebelum bekerja di PT Antam Tbk UBPE Pongkor, saya juga suka ke Gunung (menjadi gurandil), tapi setelah adanya sosialisasi tentang bahaya Merkuri, saya takut juga”.

Pendekatan Ekonomi Salah seorang mantan PETI yang kini menggalakkan Ternak Ikan Mas Mesjid yang merupakan bantuan PT Antam Tbk UBPE Pongkor mengatakan bahwa dulu dengan PT Antam Tbk UBPE Pongkor Ia tidak kenal, Ia mengatakan “Tak Kenal Maka Tak Sayang sehingga dulunya karena dirasakan kesejahteraan masyarakat kurang, Saya ikut menjadi PETI, namun kini Saya berhenti menjadi PETI dan kini memanfaatkan program swa kelola yang diberikan oleh PT Antam Tbk UBPE Pongkor”.

Pendekatan Keamanan Salah seorang masyarakan desa Bantar Karet yang juga merupakan mantan mantan PETI mengatakan “ Sejak tragedi pada tahun 1998, kini keamanan PT Antam lebih diperketat, sehingga saya mulai takut untuk menambang, dan pada akhirnya saya berhenti dan kini menjadi salah satu pemanfaat program-program CSR PT Antam Tbk UBPE Pongkor”.

Pernyataan-pernyataan di atas hanyalah beberapa pernyataan dari segelintir masyarakat PETI yang kini tidak lagi menjadi PETI setelah mendapatkan CSR dari PT Antam Tbk UBPE Pongkor, namun demikian masih banyak PETI yang belum tersentuh program-program CSR PT Antam Tbk UBPE Pongkor. Masyarakat PETI yang justru belum tersentuh program CSR PT Antam Tbk UBPE Pongkor adalah PETI yang seharusnya memang perlu diberdayakan, yakni masyarakat PETI yang miskin yang

(14)

jumlahnya lebih banya dibandingkan masyarakat PETI yang merupakan para pemodal besar.

Gambar

Gambar 6. Kondisi Taman Nasional Akibat Ulah PETI
Gambar 7. PETI dalam Lubang Galian
Gambar 8. Sosialisasi pada PETI akan Bahaya Merkuri
Tabel 5. Pernyataan Para Mantan PETI akan Dampak Ketiga Pendekatan yang  Digalakan PT Antam Tbk UBPE Pongkor bagi Mereka

Referensi

Dokumen terkait

Sasaran strategis yang ingin dicapai untuk mewujudkan tata kelola BLU yang efisien dan produktif adalah penyelenggaraan fungsi organisasi berdasarkan kaidah-kaidah

Partisipasi Lurah di Kelurahan Sempaja Barat Kecamatan Samarinda Utara berdasarkan hasil penelitian bahwa partisipasi Lurah masih belum efektif, karena Lurah sering

Pengembangan Sistem Informasi Posyandu berbasis Web (e-Posyandu) dilakukan oleh kader Posyandu dengan melakukan pencatatan dan pelaporan menggunakan instrumen Sistem

Tujuan dari PMK adalah: (a) mem- berikan penugasan kepada PT SMI untuk menyediakan pembiayaan bagi pembangunan infrastruktur daerah dalam bentuk pinjaman daerah sebagai

 CPP dikawal orang tua CPP dan CPW menuju lokasi Akad, rombongan keluarga mengikuti di belakangnya  CPP: Bapak Sunardi  CPW: Bapak Sumarno & Ibu Minar  Ibu Mary/

Pengambilan data primer dilakukan untuk mendapatkan gambaran utuh mengenai dampak gejolak harga komoditas pangan internasional, tingkat produktivitas, serta penggunaan

Adapun saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil penelitian adalah sebagai berikut : mengacu pada kesimpulan yang menyatakan bahwa beban kerja dan budaya kerja

Secara yuridis, sesuai dengan Perda Kabupaten Jembrana Nomor 15 Tahun 2011 tentang Pembentukan Organisasi Dan Tata Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Jembrana , memiliki