Latar Belakang Teori
Cultural studies lahir di tengah-tengah semangat Neo-Marxisme yang berupaya meredefinisikan
Marxisme sebagai perlawanan terhadap dominasi dan hegemoni budaya tertentu. Para pendirinya
terdiri dari sejumlah pengajar perguruan tinggi di Inggris, yang pada pasca Perang Dunia Kedua
berusaha meredefinisikan makna perjuangan kelas di tengah situasi dunia yang tengah berubah.
Cultural studies, sebagaimana namanya, “studies” (kajian-kajian), memuat pengertian kajian-kajian
budaya dalam pengertian dan ruang lingkup yang luas dan multi, seperti dikatakan Stuart Hall,
“cultural studies has multiple discourses”. Ia memiliki daya jangkau lintas disiplin ilmu, dan
berusaha menjelaskan realitas sosial kontemporer dari berbagai disiplin ilmu tersebut. Cultural
studies, muncul dari Universitas Birmingham (Inggris),sehingga disebut “mazhab Birmingham”,
hendak menggugat pengkotak-kotakan ilmu yang masing-masingnya mengklaim kebenaran
Lanjut
Cultural studies merupakan kelompok pemikiran yang memberikan perhatian
pada cara-cara bagimana budaya dihasilkan melalui perjuangan di antara
berbagai ideologi. Cultural studies memberikan perhatiannya pada bagaimana
budaya dipengaruhi oleh berbagai kelompok dominan dan berkuasa. Menurut,
Stuart Hall media adalah instrumen kekuasaan kelompok elite, dan media
berfungsi menyampaikan pemikiran ke kelompok yang mendominasi
masyarakat, terlepas apakah pemikiran itu efektif atau tidak.
Makna Budaya
Studi
Budaya
Cultural
Studies
Pengertian
Cultural Studies adalah studi kebudayaan atas praktek
signifikasi representasi, dengan mengeksplorasi
pembentukan makna pada beragam konteks.
Kajian budaya (cultural studies) adalah hubungan kajian
budaya dengan soal-soal kekuasaan dan politik, dengan
keinginan akan perubahan dan ‘untuk’ kelompok-kelompok
sosial yang terpinggirkan, terutama kelompok kelas, gender
dan ras (tapi juga kelompok usia, kecacatan, kebangsaan, dan
sebagainya)
Perbedaan Pandangan Marxisme klasik dan
Cultural Studies
Tidak seperti Marxisme, mereka yang bernaung dalam studi kultural berupaya
mengintegrasikan berbagai perspektif ke dalam pemikiran termasuk seni, kemanusiaan, dan
ilmu sosial.
Para Ahli teori Cultural studies memperluas kelompok-kelimpok tertindas yang mencakup juga
mereka yang tidak memiliki kekuasaan dan kelompok marginal termasuk didalamnya kelompok
wanita, anak-anak, homoseksual, etnik minoritas, penderita gangguan mental dan lain-lain. Jadi,
tidak terbatas hanya pada kelompok buruh sebagaimana paham Marxisme.
Kehidupan sehari-hari menurut pandangan Marxisme terpusat pada kerja dan keluarga, namun
para penganut studi kultural juga meneliti kegiatan-kegiatan seperti rekreasi, hobi, dan olahraga
dalam upaya untuk nemahami bagaimana individu berfungsi dalam masyarakat.
Elemen Definisi Cultural Studies
Ilmu yang mempelajari budaya kontemporer
Adalah suatu arena interdisipliner untuk menguji hubungan antara kebudayaan dan
kekuasaan
Terkait dengan semua praktik, institusi yang tertanam dalam rutinitas dan perilaku
masyarakat
Bentuk kekuasaan yang dieksplor termasuk gender, ras, kelas, kolonialisme dll
Sejarah Cultural Studies
Istilah ini ditemukan oleh Richard Hoggart pada tahun 1964, pendiri Birmingham
Centre For Cultural Studies dengan salah satu suksesor terkuatnya Stuart Hall
Tahun 1970, Stuart Hall mengadakan gerakan intelektual internasional, dengan
menggunakan metode Marxist mengeksplor hubungan antara budaya
(superstruktur) dan ekonomi politik (dasar) sesuai dengan pendapat Gramsci bahwa
“budaya adalah kunci politik dan kontrol sosial”
Cultural studies ≠ Studi Budaya
Studi Budaya
❖
Seperti Antropologi budaya atau
Etnografi (Mempelajari
perbedaan budaya-budaya)
Cultural Studies
❖
Teori Kritis yang mengkonstruksi
kehidupan sehari-hari. Terkait erat
dengan budaya kontemporer,
ideologi politik, kelas, gender,
etnisitas dll
Cultural Studies sebagai Politik
Menurut Hall, yang diperbincangkan dalam cultural studies adalah persoalan
kekuasaan dan politik, dan kebutuhan akan perubahan dengan adanya representasi
atas dan “bagi” kelompok sosial yang terpinggirkan.
Unsur utama Cultural Studies
Terpusat pada pertanyaan tentang representasi ➔ bagaimana dunia ini
dikonstruksi dan direpresentasikan secara sosial kepada dan oleh kita
Cultural studies = studi kebudayaan sebagai praktik pemaknaan representasi
Materi representasi = bunyi, prasasti, radio, citra, buku, majalah, dan program
televisi
Representasi diproduksi, ditampilkan, digunakan dan dipahami dalam konteks
sosial tertentu
Konsep Kunci
Kebudayaan dan praktik pemaknaan
“kebudayaan adalah lingkungan aktual untuk berbagai praktik, representasi,
adat masyarakat tertentu” (Hall, 1996c;439)
❖
Materialisme dan Non-Reduksionisme
❖
Artikulasi
❖
Kekuasaan
❖
Budaya Pop ; sebagai landasan konsensus
❖
Teks dan Pembacanya
Tokoh-tokoh CS
STUART HALL
Terpengaruh oleh teori Marx, Hall bertujuan untuk memberi kekuatan bagi orang-orang yang dimarginalisasikan, dan tidak memiliki kesempatan untuk menyuarakan kepentingan mereka. Hall percaya bahwa fungsi media massa untuk mempertahankan kekuasaan sudah di posisi yang kuat. Hall percaya bahwa media menyajikan dongeng dari demokrasi yang majemuk. Yaitu kepura-puraan bahwa masyarakat menyelenggarakanya secara bersama-sama dengan norma, termasuk peluang yang sama, menghormati perbedaan, satu orang satu suara, hak individu, dan aturan hukum.
Hall menyebut kemungkinan the powerless dapat melawan ideology dominan dan menerjemahkan pesan melalui cara yang lebih sesuai dengan kepentingan mereka. Hall menguraikan 3 pilihan decoding:
Operating inside the dominant code
Media menghasilkan pesan untuk dikonsumsi massa. Penonton membaca pesan serupa dengan bacaan yang disukai.
Applying a negotiable code
Penonton menerima ideology secara umum tapi menentang aplikasi di perkara yang spesifik.
Substituting an oppositional code
Penonton melihat melalui bias pembangunan dalam menampilkan media dan menyusun upaya untuk mendemitologikan (mendewakan atau menyanjung) berita.
Tokoh-tokoh CS
RAYMOND WILLIAMS
Menurut Raymond Williams, kata budaya atau culture itu adalah satu diantara tiga kata yang paling sulit untuk didefinisikan di dalam bahasa Inggris. Dia menyarankan tiga pengertian yang dapat digunakan untuk mengerti apa yang dimaksud dengan budaya. Ketiganya adalah :
Sebuah proses umum dari intelektual, spiritual, dan perkembangan estetika
Cara hidup yang khusus baik dari seseorang manusia, suatu periode, atau pun suatu kelompok
Mengacu kepada karya-karya atau praktek-praktek intelektual dan khususnya kegiatan-kegiatan yang bersifat seni.
Karakteristik CS
Sardar dan Van Loon (2002) merinci karakteristik cultural studies (CS) sebagai berikut.
Cultural Studies tidak membahasakan kebudayaan yang terlepas dari konteks sosial-politik, akan tetapi mengkaji masalah budaya dalam konteks sosial-politik dimana masalah kebudayaan itu tumbuh dan berkembang.
Dalam Cultural Studies budaya dikaji baik dari aspek obyek maupun lokasi tindakan selalu dalam tradisi kritis, maksudnya kajian itu tidak hanya bertujuan merumuskan teori-teori (intelektual), akan tetapi juga sebagai suatu tindakan (praksis) yang bersifat emansipatoris (Bandingkan dengan teori kritis Mazhab Frankfurt).
Cultural Studies berupaya mendemonstrasi (membongkar, mendobrak) aturan-aturan, dan pengkotak- kotakan ilmiah konvensional, lalu berupaya mendamaikan pengetahuan yang objektif,-subjektif (intuitif), universal lokal.
Karakteristik CS
Cultural Studies tidak membahasakan kebudayaan yang terlepas dari konteks
sosial-politik Cultural Studies bukan hanya memberikan penghargaan pada identitas bersama (yang plural), kepentingan bersama, akan tetapi mengakui saling
keterkaitan dimensi subjek (tivitas) dan objek(tivitas) dalam penelitian.
Cultural Studies tidak merasa harus steril dari nilai-nilai (tidak bebas nilai) akan tetapi melibatkan diri dengan nilai dari pertimbangan moral masyarakat modern serta tindakan politik dan konstruksi sosial.
Dengan demiklan Cultural Studies bukan hanya bertujuan memahami realitas masyarakat atau budaya, akan tetapi merubah struktur dominasi, struktur sosial-budaya yang menindas, khususnya dalam masyarakat kapitalis-industrial
Budaya Popular
Budaya populer terdiri dari kata “budaya” dan “pop”. Menurut William (dalam[1]1983:90) mengenai
“budaya” sebagai berikut : Pertama, budaya dapat diartikan suatu proses umum perkembangan intelektual, spiritual, dan estetis. Kedua, budaya berarti pandangan hidup tertentu dari masyarakat, periode, atau
kelompok tertentu. Ketiga, budaya bisa merujuk pada karya dan praktik-praktik intelektual, terutama aktivitas artistik.
Kata “pop” diambil dari kata populer dan karakteristik budaya populer sebagai berikut : a) Banyak disukai orang
b) Jenis kerja rendahan
c) Karya yang dilakukan untuk menyenangkan orang
Budaya Popular
Budaya pop dibangun oleh kelas penguasa untuk memenangkan hegemoni, sembari
membentuk oposisi. Dengan demikian ia terdiri bukan hanya dari pemberlakuan
budaya massa yang sejalan dengan ideologi dominan ataupun budaya oposisional yang
spontan, melainkan sebagai area negosiasi antara keduanya di mana beberapa tipe
budaya yang berbeda dari budaya pop budaya dominan, subordinan dan oposisional
dengan segenap nilai-nilai dan unsur-unsur ideologis ”tercampur” dalam suatu
perubahan yang bersifat sekuensial (Benet, 1986: xv-xvi dalam[13] ).
Singkatnya, budaya populer adalah style, ide, perspektif, dan sikap yang benar-benar
berbeda dengan budaya arus utama (mainstream). Banyak dipengaruhi oleh media
massa dan dihidupkan terus-menerus oleh berbagai budaya bahasa setempat,
Budaya Pop
Definisi menurut John Storey;
Budaya pop adalah budaya yang menyenangkan, disukai banyak orang, cakupan
dimensi kuantitatif, dikonsumsi banyak orang
Budaya substandar, yaitu kategori residual (sisa) untuk mengakomodasi praktek
budaya yg tidak memenuhi persyaratan budaya tinggi
Budaya pop merupakan budaya massa (dikonsumsi org banyak)
Budaya pop ➔ budaya postmodern (budaya komersil)
Bentuk Budaya Pop
Musik
Sinema
Fashion
Gaya hidup
dll
Budaya Pop Dan Studi Kultural
Budaya pop sebagai kata kunci produksi dan reproduksi hegemoni
Budaya pop sebagai arena perjuangan dan negosiasi antara kelompok dominan dan
Hegemoni
Masuknya Hegemoni dalam studi kultural sendiri merupakan hasil pemikiran ulang
dari budaya pop itu sendiri.
Pemikiran pertama , budaya pop sbg struktur ; budaya pop sbg sebuah budaya yg
diciptakan oleh budaya industri kapitalis, budaya yg menyiapkan manipulasi
ideologi & keuntungan
Pemikiran kedua, budaya pop sebagai agen; budaya pop merupakan budaya
otentik milik rakyat, yg muncul dr bawah (subculture)
Budaya Pop di Jepang
Pemberontakan VS Perulangan
Budaya populer Jepang ➔ budaya populer zaman Edo
Harajuku Style ➔ Hippies (gerakan anti perang Vietnam) tahun 1960an.
Budaya Pop Jepang sbg Soft Diplomacy ➔pidato PM Aso Taro tahun 2009
Pendekatan TekstualYang Terkemuka
• Berita televisi adalah representasi yang dikonstruksi, bukan cermin realita
Semiotika (teks sebagai tanda)
• Narasi menawarkan aturan acuan tentang tatanan sosial yang dikonstruksi
Teori Narasi (Teks sebagai narasi)
• Membongkar teks untuk menampilkan asumsi baru yang saling berimplikasi