1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dewasa ini, khususnya masyarakat untuk bertahan hidup dan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya tentu dengan berbagai macam hal, mulai dari kebutuhan pokok (Primary Needs) hingga kebutuhan tidak pokok (Secondary Needs). Menurut (Murray, 1938; 123-125), kebutuhan adalah suatu konstruk (fiksi atau konsep hipotesis) yang mewakili suatu daya dalam diri seseorang pada bagian otak, kekuatan yang mengatur persepsi, apersepsi, pemahaman, konasi, dan kegiatan sedemikian rupa untuk mengubah situasi yang ada dan yang tidak memuaskan ke arah tertentu. Mengenai kebutuhan tersebut untuk memenuhinya masyarakat tentunya tidak dapat memenuhinya secara langsung, melainkan untuk memenuhinya dengan mengunjungi pasar tradisonal ataupun pasar swalayan. Pada zaman modern ini masyarakat cenderung lebih memilih pasar swalayan dari pada pasar tradisional. Masyarakat lebih memilih pasar swalayan dibandingkan dengan pasar tradisional, dikarenakan pasar swalayan lebih nyaman, bersih, dan dekat dengan lingkungan kediaman masyarakat.
Pertumbuhan sektor ritel di Indonesia bisa dibilang mengalami masa gemilang ketika mampu mempertahankan pertumbuhan double digit selamasepuluh tahun terakhir sejak tahun 2003. Bahkan, saat krisis ekonomi melanda dunia pada tahun 2008, sektor ritel negeri ini masih bertengger di posisi dua tertinggi di Asia Pasifik setelah China. Meski dihajar krisis, pertumbuhan ritel Indonesia tumbuh di angka 21,1% dari sisi nilai penjualan. Memang, pada masa-masa tersebut, tingkat inflasi di Indonesia cukup tinggi, dengan inflasi tertinggi 17% dan terendah 8,4%. Bisa jadi, kenaikan penjualan ritel yang sebesar double digit tersebut disebabkan oleh kenaikan harga akibat inflasi. Tren pertumbuhan double digit retail sempat mengalami penurunan beberapa kali, yaitu pada tahun 2009 terseok menjadi 4,7%, 2011 9,6%, 2014 8%, dan pada tahun 2016 harus puas bertengger di level 7,7%.
Pada kuartal pertama tahun 2017 ini, pertumbuhan retail belum memberikan tanda-tanda pulih alias hanya tumbuh 3,9% padahal, jika dilihat dari makro ekonomi, kondisi Indonesia terbilang bagus. Inflasi cukup terjaga alias berada di bawah 4%. Kendati per April 2017, inflasi untuk pertama kalinya dalam setahun terakhir berada di level 4,17%. Selain inflasi, rasio gini atau tingkat ketimpangan mengalami penurunan dengan angka terakhir di level 0,394. Sedangkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama 2017 membaik dengan pencapaian 5,01% (yoy). Belum lagi, ease of doing business atau kemudahan melakukan bisnis di Indonesia naik 15 peringkat dari posisi 106 menjadi posisi 91.
Sinyal positif juga didapat dari peningkatan jumlah rumah tangga dengan anggaran belanja US$ 5.000-US$ 15.000 yang saat ini menguasai 36%-40% dari total populasi. Terlebih, Indonesia masih berada dalam urutan teratas sebagai negara teroptimis di dunia berdasarkan Indeks Keyakinan Konsumen versi Nielsen. Dengan kata lain, sejumlah fakta makro ekonomi tersebut sebenarnya cukup untuk membantu mendongkrak pertumbuhan sektor retail hingga double digit. (Sumber: marketeers.com/anomali di industri ritel fmcg indonesia)
Sumber: Data Dinas Perindustriaan dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat
3
Pada abad ke 21 ini persaingan di dunia bisnis saat ini terasa semakin ketat, terutama pada masa era pasar bebas sekarang yang dimana pada kawasan Asia awal mulanya telah dimulai dengan ASEAN Free Trade Area (AFTA 2003), hal ini membawa dunia ritel Indonesia pada realitas Global Retailing yang mau tidak mau harus diterima. Era ini ditandai dengan masuk dan semakin berkembangnya peritel global. Kelompok industri ritel saat ini banyak dipegang oleh peritel asing, seperti Carrefour milik Perancis, Sogo milik Jepang, Makro milik Belanda, dan juga Tesco dan Bigzy milik Inggris, kehadiran peritel di Indonesia turut menyemarakan persaingan industri ritel Indonesia. Indonesia menjadi sasaran empuk para peritel dunia dengan pasar kurang lebih sebesar 250 juta jiwa. Industri ini merupakan sektor kedua terbesar dalam hal penyerapan tenaga kerja, yaitu menyerap kurang lebih 18,9 juta orang, urutan kedua setelah sektor pertanian yang mampu menyerap sekitar 41,8 juta orang (sumber : butir-butir pemikiran perdagangan Indonesia 2009-2014).
Kemudian baru baru ini ditambah dengan adanya ASEAN Economic Community (AEC 2016). Perkembangan persaingan dalam industri retail di Indonesia khususnya di tingkat minimarket hingga saat ini memang terbilang sangat ketat. Namun bukan berarti tidak ada pemain lain yang masih bertahan di tengah persaingan yang sangat ketat tersebut. Beberapa kelompok bisnis yang telah ada sebelumnya kemudian juga mencoba membuka gerai-gerai mini market. Dalam perjalanannya, kemudian di tahun 1970-1980an, keberadaan berbagai pasar swalayan besar (supermarket) dan departement store semakin menjamur khususnya di kota-kota besar. Beberapa merek pasar swalayan yang mulai dikenal saat itu adalah Hero, Matahari dan Ramayana. Memasuki dekade 1990an, mulai bermuculan berbagai minimarket (convinience store), seperti mini market Indomaret yang awalnya berdiri pada tahun 1988 dan alfamart yang pada awalnya berdiri pada tahun 1999. Hal tersebut juga diikuti masuknya departement store besar asing seperti Metro dan Sogo seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Pada periode ini juga mulai berkembang berbagai swalayan terutama untuk tingkat grosir (hypermarket) seperti Makro, Goro, Alfa (Soliha, 2008).
Namun di sisi lain, kehadiran gerai baru walaupun berbeda tingkat ritel otomatis akan menambah ketat persaingan usaha di bidang ritel. Pada tahun ini sebagian pengusaha ritel gagal mencapai target penjualan karena semakin tingginya pertumbuhan gerai ritel. Pasar memang masih potensial dan masih bisa tumbuh, namun dengan peningkatan jumlah gerai yang lebih tinggi tentu akan membuat persaingan menjadi lebih ketat.
Semakin menjamurnya bisnis ritel minimarket, hal ini memudahkan masyarakat yang ingin berbelanja kebutuhan sehingga tidak perlu jauh-jauh lagi pergi ke supermarket. Banyaknya minimarket yang ada semakin menambah sengit persaingan, terutama di Kota Bandung. Ada beberapa merek minimarket yang cukup dikenal dikalangan masyarakat Kota Bandung. Minimarket tersebut adalah Alfamart, Indomaret, Yomart, Circle-K, SBMart dan Griya Mart.
Masyarakat pada saat ini sudah selektif dalam memilih sesuatu, baik itu berupa produk atau jasa. Dalam memilih toko yang akan dikunjungi , konsumen akan memilih toko yang menurut mereka nyaman untuk berbelanja, pencahayaan yang cukup agar memudahkan konsumen untuk mencari kebutuhannya, desain toko yang menarik, lokasinya mudah dijangkau, kemudahan dalam parkir, kelengkapan barang, harga yang menarik, tata letak barang, kebersihan dan faktor lain yang memungkinkan konsumen untuk memilih toko dan mengunjunginya secara rutin untuk memenuhi kebutuhannya atau hanya untuk sekedar melihat-lihat.
Tabel 1.1
Pra-Survey Responden Mengenai Bauran Pemasaran Yomart Sindanglaya Bandung
NO Bauran
Pemas aran
5 1 Product Produk yang ditawarkan Yomart Sindanglay a Bandung beragam jenisnya. 35,66% 31% 12% 21,33% - Produk yang ditawarkan Yomart Sindanglaya Bandung sangat sesuai dengan apa yang kita inginkan. 38,33% 50,66% 11% - -
2 Price Harga yang
ditawarkan Yomart Sindanglaya Bandung sesuai dengan produk yang didapatkan. 29,66% 30,33% 37,66% 2,33% - Harga yang ditawarkan Yomart Sindanglay a Bandung bersaing dengan minimarket lain. 10.66% 69% 20,33% - - Yomart Sindanglay a Bandung memiliki harga yang 39% 40,66% 20,33% - -
terjangkau. 3 Place Lokasi Yomart Sindanglaya Bandung sangat mudah ditemukan. 47,66% 14,66% 32% - 5,66% Kondisi tempat parkir Yomart Sindangala ya luas dan nyaman. - 9,66% 30,33% 36,66% 23,33 % Suasana dan toko Yomart Sindanglay a Bandung sangat nyaman. 4% 20% 33,33% 33,33% 23,33 % Logo toko Yomart Sindanglaya Bandung mudah dikenali 15% 10% 38,33% 31,66% 5%
7 4 Promotion Saya berkunjung ke Yomart Sindanglaya Bandung karena tertarik dengan media promosinya. 13% 40,33% 42% 4,66% - Promosi yang diterapkan Yomart Sindanglay a Bandung sangat menarik. 42,66% 33,66% 3,66% 20,01% - 5 Process and people Pegawai Yomart Sindanglaya Bandung sangat ramah dan sopan. 6,33% 40,33% 23% 21% 9,33 % Pelayanan Yomart Sindangya Bandung sangat cepat dan cekatan. 5,33% 54,67% 25,66% 15,66% 14,67
Sumber : hasil pra survey pada 30 responden Yomart Sindanglaya Bandung 2017
Hasil pra survey yang dilakukan pada 30 responden menghasilkan beberapa permasalahan yang dihadapi oleh Yomart Sindanglaya Bandung, penulis akan menguraikan beberapa masalah yang dihadapi oleh Yomart Sindanglaya Bandung dengan data yang diperoleh dari pra survey yang telah dilakukan. Permasalahan yang dihadapi oleh Yomart Sindanglaya Bandung antara lain yaitu mengacu pada suasana toko Yomart Sindanglaya atau store atmosphere dan permasalahan lainnya yaitu mengenai Lokasi Yomart Sindanglaya.
Ketatnya tingkat persaingan yang terjadi di perusahaan ritel yang ada dan berkembang di indonesia dewasa ini menuntut pemasar untuk lebih memahami akan kebutuhan dan keinginan konsumen. Pada lingkungan pemasaran jasa, khususnya retail, konsumen dapat terekspos oleh berbagai stimuli yang keseluruhannya dapat mempengaruhi bagaimana konsumen bertindak, mempengaruhi terhadap apa yang mereka beli, dan mempengaruhi kepuasan mereka terhadap pengalaman berbelanja secara potensial. Musik merupakan salah satu bentuk environmental stimuli yang dapat mempengaruhi konsumen pada lingkungan jasa disamping bentuk environmental stimuli lainnya seperti warna, temperatur, dan cahaya dalam menciptakan store atmosphere.
Store Atmosphere memiliki elemen-elemen yang semuanya berpengaruh terhadap suasana toko yang ingin diciptakan. Pada penelitian sebelumnya elemen-elemen store atmosphere menurut Berman dan Evans (2004 : 455), terdiri dari
Exterior (bagian luar toko), General Interior (bagian dalam toko), Store Layout
(tata letak toko), dan Interior Displays.
Selain store atmosphere salah satu variabel atau faktor dari pemasaran jasa yaitu saluran distribusi atau lokasi tak luput pula memberikan andil dalam kesuksesan suatu perusahaan ritel. Karena harus diakui bahwa konsumen atau calon konsumen akan sangat terbantu sekali apabila ketika mereka menginginkan suatu produk atau jasa maka mereka menginginkan untuk sesegera mungkin menikmati produk atau jasa tersebut. Lokasi itu sendiri merupakan perencanaan dan pelaksanaan program penyaluran produk atau jasa melalui tempat atau lokasi yang tepat (Levy;2007:13). Pentingnya lokasi dari suatu perusahaan ritel tidak bisa diremehkan. Pemilihan suatu lokasi dalam ritel bisa juga dianalogikan dalam bisnis retail. Dalam bisnis retail, pemilihan lokasi merupakan tiga (3) hal yang sangat penting dalam industri tersebut. Pada penelitian sebelumnya elemen-elemen lokasi menurut Desy Purwanti Atmaja dan Martinus Febrian Adiwinata (2013), terdiri dari Place (Tempat), Parking (Tempat Parkir), Accessibility (Akses Umum),
9
Pelaku bisnis ritel perlu menetapkan strategi pemasaran yang lebih kreatif dan tepat bagi sarana bisnisnya agar dapat menarik perhatian konsumen serta mempengaruhi konsumen untuk tetap mengkonsumsi produk mereka. Store Atposphere dan Lokasi merupakan strategi pemsaran yang dapat menarik perhatian konsumen serta mempengaruhi konsumen mencapi tingkat loyalitas konsumen.
Yomart adalah salah satu pelaku retail minimarket dalam naungan Yogya Group. Dengan memberikan pelayanan serta komitmen terhadap konsumen, Yomart berkomitmen untuk menjadi perusahaan yang terbaik dalam skala lokal maupun nasional. Yomart merupakan bagian dari sebuah kelompok usaha ritel skala nasional yang berpusat di Bandung dan telah berpengalaman dalam mengelola usaha ritel sejak tahun 1982. Cabang pertama Yomart adalah Yomart Ciwastra, Bandung, yang mulai beroperasi pada tanggal 23 agustus 2003. Dengan pengembangannya yang cukup baik, Yomart juga telah dibimbing oleh lembaga Action International, yang berbasis di Nevada Amerika Serikat dan IFBM, lembaga konsultasi internasional untuk pengembangan Franchise. Sampai dengan tahun 2017, Yomart sudah memiliki lebih dari 200 gerai yang tersebar di berbagai daerah dan wilayah pada provinsi Jawa Barat antara lain Bandung, Cimahi, Garut, Sumedang, Tasikmalaya, Subang, Majalengka, Cirebon, Sukabumi, Purwakarta, Indramayu, Pangandaran, Ciamis, Sukabumi, Bogor, dan Jakarta. Pada wilayah Bandung sendiri, minimarket Yomart memiliki 57 gerai yang tersebar di wilayah Kabupaten Bandung dan 78 gerai yang tersebar di seluruh wilayah Kota Bandung.
Salah satu cabang minimarket Yomart yang berada di Jl.Sindanglaya, Kota Bandung. Bangunannya terdiri dari satu dengan luas selling area 217.4 m2, back office dan gudang 19 m2, teras 13.9 m2, serta luas area parkir yang cukup luas 44 m2. Yomart Sindanglaya didirikan untuk mendekatkan diri dalam memberikan kemudahan kepada konsumen disekitar kawasan Sindanglaya Bandung dalam memenuhi kebutuhannya. Yomart Sindanglaya menyedidakan berbagai macam kebutuhan konsumen, seperti makanan, minuman, toiletritas, alat tulis kantor dan sekolah, hingga obat-obatan.
Sumber: Data keuangan Yomart Sindanglaya periode 2015 – 2017
Gambar 1.2 Data Jumlah Penjualan Yomart Sindanglaya periode 2015-2017 Berdasarkan data yang diperoleh diatas tersebut, berarti jumlah produk yang terjual pada Yomart Sindanglaya cenderung menurun pada periode 2015-2017. Pada periode 2017 data jumlah penjualan diambil sampai dengan bulan agustus 2017, hal ini dikarenakan peneliti mengambil data tersebut pada bulan september 2017. Maka jika dilihat dari data sebelumnya pada bulan agustus pada tabel 1.2 dibawah ini terjadi penurunan dan kenaikan jumlah penjualan.
Tabel 1.2
Data Jumlah Penjualan Yomart Sindanglaya tahun 2015-2017
No. Bulan Tahun
2015 2016 2017 1 Januari 765.081.240 645.281.800 650.030.190 2 Februari 573.892.000 601.595.975 635.075.550 3 Maret 617.568.400 640.966.250 650.514.150 4 April 632.448.550 618.021.570 664.173.490 5 Mei 639.115.400 656.477.640 925.998.360 6 Juni 662.247.700 768.637.150 969.850.490 7 Juli 830.361.600 986.144.600 716.646.125 8 Agustus 977.445.450 623.808.570 753.946.600 0 200.000.000 400.000.000 600.000.000 800.000.000 1.000.000.000 1.200.000.000 2015 2016 2017
11 9 September 607.437.600 652.976.940 10 Oktober 602.817.300 642.267.800 11 November 639.323.850 657.212.370 12 Desember 690.477.000 690.079.980 Total Penjualan 8.238.216.090 8.234.551.925 5.966.234.955 Sumber: Data keuangan Yomart Sindanglaya periode 2015 -2017
Berdasarkan tabel diatas dapat diambil kesimpulan bahwa penjualan Yomart Sindanglaya mengalami penurunan dan kenaikan pada bulan agustus setiap tahunnya pada periode 2015-2017 serta mengalami penurunan total penjualan pada periode 2015-2016. Berdasarkan data keuangan Yomart Sindanglaya, penulis menganalisa bahwa adanya permasalahan yang menyebabkan penjualan Yomart Sindanglaya cendurung menurun, sehingga penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian di Yomart Sindanglaya.
Sumber: Data konsumen Yomart Sindanglaya periode 2015 -2017
Gambar 1.3 Data Jumlah Konsumen Yomart Sindanglaya periode 2015-2017 Berdasarkan data yang diperoleh diatas tersebut, berarti jumlah konsumen yang berkunjung pada Yomart Sindanglaya cenderung menurun pada periode 2015-2017. Pada periode 2017 data jumlah konsumen diambil sampai dengan bulan agustus 2017, hal ini dikarenakan peneliti mengambil data tersebut pada bulan september 2017. Maka jika dilihat dari data sebelumnya pada bulan agustus pada tabel 1.2 dibawah ini terjadi penurunan dan kenaikan jumlah konsumen.
0 50 100 150 200 2015 2016 2017 174,348 172,522 114,435
Tabel 1.3
Pra-Survei Konsumen Yomart Sindanglaya tahun 2015-2017
No. Bulan Tahun
2015 2016 2017 1 Januari 14.322 14.452 14.321 2 Februari 13.043 13.451 13.791 3 Maret 14.132 14.165 14.157 4 April 14.423 14.213 14.213 5 Mei 14.476 14.511 14.854 6 Juni 15.034 15.419 14.842 7 Juli 16.218 14.987 14.045 8 Agustus 15.003 14.131 14.212 9 September 14.532 14.091 10 Oktober 14.251 14.054 11 November 14.223 14.309 12 Desember 14.691 14.739 Total Konsumen 174.438 172.522 114.435
Sumber: Data konsumen Yomart Sindanglaya periode 2015 -2017
Berdasarkan tabel diatas dapat diambil kesimpulan bahwa konsumen Yomart Sindanglaya mengalami penurunan dan kenaikan pada bulan agustus setiap tahunnya pada periode 2015-2017 serta mengalami penurunan total konsumen pada periode 2015-2016. Hal ini dapat disebabkan oleh ketidaknyamanan pengunjung dalam berbelanja dan susasana toko yang kurang kondusif dalam membangun kenyamanan konsumen dalam berbelanja serta ditambah dengan luas parkir yang kurang luas membuat konsumen harus berdesakan untuk parkir dan bagi konsumen pengguna kendaraan roda 4 pun tidak dapat memparkirkan kendaraannya, sehingga konsumen/pengunjung biasa maupun yang sudah setia (loyal) kepada Yomart Sindanglaya dapat berpindah kepada pesaing minimarket yang ada di sekitar jalan Sindanglaya yaitu alfamart maupun indomart. maka penulis merasa tertarik untuk
13
melakukan penelitian pada Yomart Sindanglaya tentang pelaksanaan Store Atmosphere
dan Lokasi yang dilakukan oleh Yomart Sindanglaya sebagai salah satu bentuk upaya untuk meningkatkan loyalitas konsumen di Yomart Sindanglaya.
Berdasarkan latar belakang di atas penulis merasa tertarik terhadap permasalan yang ada dan bermaksud melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Store
Atmosphere dan Lokasi Terhadap Loyalitas Konsumen Yomart Sindanglaya
Bandung.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah dikemukakan di atas, maka penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pengaruh Store Atmosphere terhadap Loyalitas KonsumenYomart Sindanglaya Bandung?
2. Bagaimana pengaruh Lokasi terhadap Loyalitas Konsumen Yomart Sindanglaya Bandung?
3. Bagaimana pengaruh Store Atmosphere dan Lokasi terhadap Loyalitas konsumen Yomart Sindanglaya Bandung?
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian
Maksud dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui sampai sejauh mana store atmosphere dan Lokasi berpengaruh terhadap loyalitas konsumen, sedangkan tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pengaruh Store Atmosphere
terhadap Loyalitas Konsumen Yomart Sindanglaya Bandung.
2. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pengaruh Lokasi terhadap Loyalitas KonsumenYomart Sindanglaya Bandung.
3. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pengaruh Store Atmosphere
dan Lokasi terhadap Loyalitas Konsumen Yomart Sindanglaya Bandung.
1.4 Kegunaan Penelitian
Dari hasil penelitian ini, penulis berharap dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak berikut :
1. Bagi penulis, dapat menambah wawasan dan pengetahuan penulis tentang konsep pemasaran khususnya store atmosphere dan lokasi, serta dapat membandingkan teori-teori yang di dapat dari perkuliahan dengan praktek yang sesungguhnya di dalam perusahaan.
2. Bagi perusahaan, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pikiran dalam menangani masalah yang sedang dihadapi berkaitan dengan store atmosphere dan Lokasi yang dilakukan perusahaan.
3. Bagi pihak lain, tambahan informasi dan bahan perbandingan bagi peneliti lain yang meneliti pada bidang usaha yang sama maupun khalayak umum yang ingin menambah pengetahuannya.
1.5 Lokasi penelitian
Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penyusunan skripsi ini, penulis melakukan penelitian dan mengambil data di Yomart Sindanglaya yang beralamat di Jl.Sindanglaya, Bandung. Waktu penelitian dilaksanakan dari bulan September 2017 sampai dengan selesai.