The Effect of Seaweed ( Eucheuma cottonii ) on Consumer Acceptance of Dried Noodles By
Reski Gunawan1), Edison2) and Suparmi2)
ABSTRACT
The research was conducted at the Laboratory of Fish Processing Technology and Food Chemistry Faculty of Fisheries and Marine Science, University of Riau in Mei 2012. The research was intended to determine the effect of seaweed on consumer acceptance of dried noodles. About 6 kg dry seaweed were taken from a fish market in Pekanbaru. The seaweed was ground and made for seaweed flour. Four formulations of dried noodle were prepared by addition of different percentage of seaweed flour: 0% (control), 10%, 20% and 30%. The final products were estimated for consumers acceptance, moisture, protein and crude fiber. The result indicated that the dried noodles fortified with 100 g seaweed flour was the best quality product. Proximat compotition of the product was moisture: 3.974%, protein: 12.652% and crude fiber: 0.741%.
Keywords: seaweed, dried noodle, consumer acceptance.
PENDAHULUAN
Rumput laut sangat populer dalam dunia perdagangan. Dalam ilmu pengetahuan, rumput laut dikenal sebagai algae atau seaweed. Rumput laut tumbuh dan tersebar hampir di seluruh perairan Indonesia. Menurut Dahuri (2002), industri pengolahan rumput laut memang perlu dikembangkan mengingat potensi rumput laut di Indonesia cukup besar dengan potensi lahan atau perairan yang cocok untuk budidaya mencapai 2,1 juta hektar.
Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam dengan hasil laut yang melimpah, termasuk rumput laut.
Berdasarkan data Departemen Kelautan dan Perikanan produksi rumput laut cendrung meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2005 mencapai 910.636 ton; tahun 2006 meningkat menjadi 1.079.850 ton; tahun 2007 naik menjadi 1.187.840 ton; tahun 2008 naik menjadi 1.206.200 ton; dan tahun 2009 naik menjadi 1.266.500 ton (Anonim, 2009).
Mie adalah salah satu jenis makanan yang telah lama dikenal oleh masyarakat luas, bahkan seluruh dunia telah mengenalnya dengan masing-masing istilah. Dalam bahasa Inggris mie ini disebut dengan noodle dan bahasa Itali dikenal dengan istilah spaghetti yang umumnya berbentuk pipih memanjang (Purwani dkk., 2006).
Mie adalah salah satu bentuk makanan olahan dari tepung terigu atau bahan sejenisnya yang banyak disukai oleh berbagai lapisan masyarakat Indonesia. Hal ini disebabkan karena mie dapat disajikan secara cepat, mudah dan dapat dijadikan lauk-pauk. Disamping itu mie dapat juga digunakan sebagai pengganti nasi. Tetapi sampai saat ini tepung terigu yang merupakan bahan baku pembuat mie kering masih diimpor dari luar negeri (www.budiboga.blogspot.com).
Berdasarkan hal di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengaruh penambahan rumput laut (Eucheuma cottonii) pada pembuatan mie kering terhadap penerimaan konsumen. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan rumput laut terhadap pembuatan mie kering dan mendapatkan jumlah rumput laut yang terbaik dilihat dari penerimaan konsumen.
METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial (Gasperz, 1991). Sebagai perlakuan adalah tepung rumput laut Eucheuma cottonii yang terdiri dari 4 taraf yaitu: M0 (tanpa penambahan tepung rumput laut), M1 (100 gram tepung rumput laut), M2 (200 gram tepung rumput laut) dan M3 (300 gram tepung rumput laut).
Ulangan dilakukan sebanyak tiga kali sehingga jumlah satuan percobaan pada penelitian ini adalah 12 unit percobaan.
Model matematis untuk disain tersebut menurut Gasperz (1991) adalah :
Yij = µ+
i + εij Dimana:Yij = Nilai pengamatan dari ulangan ke-j yang memperoleh perlakuan ke-i µ = Nilai tengah umum
i = Efek perlakuan ke-iΕij = Pengaruh galat ke-j yang memperoleh perlakuan ke-i
Parameter yang digunakan dalam penelitian ini adalah organoleptik dengan melakukan uji penerimaan konsumen yang dilakukan oleh 80 panelis yang tidak terlatih dengan memberikan quisioner uji organoleptik. Untuk uji proksimat dilakukan analisis kadar air, kadar protein dan kadar serat kasar.
PROSEDUR PENELITIAN
Pengolahan Rumput Laut Menjadi Tepung (Modifikasi Ristanti, 2003). Pembuatan tepung rumput laut terdiri dari pengecilan ukuran, pembersihan, pencucian, perendaman, pengeringan dan penggilingan.
- Rumput laut dipotong kecil-kecil ukuran 2-4 cm.
- Setelah dipotong rumput laut kering dicuci dan dibersihkan, proses pembersihan dan pencucian dilakukan pada air yang mengalir untuk
menghilangkan benda asing seperti garam, pasir, kayu yang menempel pada rumput laut.
- Setelah dibersihkan rumput laut direndam dalam air cucian beras/kapur selama 12 jam.
- Setelah perendaman selesai, rumput laut ditiriskan dan dilakukan pengeringan dengan oven sampai kering.
- Setelah rumput laut kering dilakukan penggilingan dengan menggunakan blender.
- Hasil penggilingan kemudian diayak untuk memperoleh tepung yang halus dan menghilangkan kotoran yang tertinggal pada saat proses penggilingan.
- Tepung rumput laut. Pembuatan Mie Rumput Laut
Tahapan proses pembuatan mie kering mengacu pada Astawan (1999) adalah sebagai berikut:
a. Pencampuran bahan dan pembuatan adonan.
Semua bahan yang digunakan dicampurkan, yaitu tepung terigu sebanyak 1000 gram sesuai dengan perlakuan (Penambahan 0% tepung rumput laut untuk perlakuan I, Penambahan 10% tepung rumput laut untuk perlakuan II,penambahan 20% tepung rumput laut untuk perlakuan III, 30% tepung rumput laut untuk perlakuan IV). Masing-masing perlakuan ditambah garam 5
gram, air 750 ml, cuka 5 ml dan telur 3 butir. Semua bahan tersebut dicampurkan secara manual sehingga terbentuk adonan yang sempurna. Kesempurnaan adonan ditandai dengan tidak lengketnya adonan pada tangan dan dinding permukaan baskom yang digunakan sebagai tempat membuat adonan, kemudian adonan ditekan-tekan sampai permukaan adonan halus.
b. Penggilingan
Adonan kemudian dibuat menjadi bulatan-bulatan kecil, lalu digiling dengan ampia membentuk lembaran, dilipat dua kali kemudian digiling kembali. Proses ini dilakukan beberapa kali sampai permukaan adonan benar-benar halus. Lembaran adonan diistirahatkan selama kurang lebih 15 menit agar proses gelatinasi lebih optimal. Setelah itu adonan digiling kembali dengan ketebalan 1,5-2 mm atau penggilingan dilakukan dari ketebalan (set) 1-4.
c. Pencetakan
Lembaran adonan dipotong dengan menggunakan ampia membentuk tali atau benang-benang. Sampai pada tahap ini mie yang dihasilkan adalah mie mentah, kemudian diistirahatkan selama kurang lebih 30 menit supaya proses gelatinasinya lebih optimal. d. Perebusan
Mie dari hasil pemotongan tersebut direbus dalam dandang pengukus pada suhu 1000C selama kurang lebih 3 menit. Pada air rebusan ditambahkan sedikit minyak goreng agar mie yang direbus tidak lengket satu sama
lain. Mie yang telah direbus kemudian ditiriskan.
e. Pengovenan
Pengovenan dilakukan selama 18 jam, mie yang telah dikukus dimasukkan kedalam oven pada suhu 56 0C. Tujuan dari pengovenan ini adalah untuk mengeringkan mie secara sempurna sehingga mie menjadi kering.
f. Pendinginan
Mie dipindahkan kedalam nampan plastik lalu didinginkan selama 15 menit.
Data yang diperoleh terlebih dahulu ditabulasikan kedalam bentuk tabel, grafis dan dianalisis secara statistik dengan analisis varians (Anava). Kemudian dari perhitungan yang dilakukan akan diperoleh Fhitung yang akan menentukan diterima atau ditolaknya hipotesis yang telah diajukan.
Berdasarkan hasil dari analisis varians jika diperoleh Fhitung > Ftabel pada tingkat kepercayaan 95%, maka hipotesis ditolak dan apabila Fhitung < Ftabel maka hipotesis diterima. Apabila hipotesis ditolak maka dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (BNT) untuk melihat perbedaan setiap perlakuan.
HASIL DAN PEMBAHASAN Penilaian Organoleptik Rupa
Gambar 1 dapat diketahui bahwa nilai rata-rata rupa dari mie kering dengan konsentrasi rumput laut (Eucheuma cottonii)
yang berbeda, pada perlakuan M0 (tanpa rumput laut) yaitu 3,22. Perlakuan M1 (10%) yaitu 2,8. Perlakuan M2 (20%) yaitu 2,52 dan pada perlakuan M3 (30%) yaitu 2,33. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Histogram Nilai Rata-Rata Rupa Mie Kering Dengan Konsentrasi Rumput Laut (Eucheuma cottonii) Yang Berbeda.
Rupa atau penampakan merupakan salah satu parameter organoleptik yang penting karena merupakan faktor yang pertama kali dilihat konsumen saat melihat suatu produk. Dari hasil penilaian panelis dapat disimpulkan bahwa yang disukai untuk rupa adalah perlakuan M0 (tanpa penambahan rumput laut) dimana perlakuan M0 memiliki warna putih kekuningan, sedangkan M1 memiliki warna kuning kecoklatan, M2 memiliki warna coklat dan M3 memiliki warna cokelat tua. Semakin banyak kosentrasi tepung rumput laut yang ditambahkan dalam adonan pengolahan mie kering maka semakin kurang disukai rupa dari mie kering tersebut.
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 M0 (tanpa rumput laut) M1 (10% rumput laut) M2 (20% rumput laut) M3 (30% rumput laut) PERLAKUAN N I L A I R U P A
Perbedaan warna yang timbul pada setiap perlakuan disebabkan oleh warna dari rumput laut jenis Eucheuma cottonii yang berwarna cokelat kekuningan. Selain itu, perbedaan jumlah tepung rumput laut yang ditambahkan ikut mempengaruhi rupa dari mie kering yang dihasilkan, karena semakin tinggi jumlah tepung rumput laut yang diberikan maka warna atau rupa dari mie kering akan semakin gelap.
Aroma
Dapat diketahui bahwa nilai rata-rata aroma mie keringdengan konsentrasi rumput laut (Eucheuma cottonii) yang berbeda, pada perlakuan M0 yaitu 2,68. Perlakuan M1 yaitu 3,05. Perlakuan M2 yaitu 2,597 dan perlakuan M3 yaitu 2,507. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Histogram Nilai Rata-Rata Aroma Mie Kering Dengan Konsentrasi Rumput Laut (Eucheuma cottonii) Yang Berbeda.
Aroma merupakan salah satu parameter yang menentukan rasa enak dari suatu produk pangan. Dalam industri bahan pangan, pengujian terhadap aroma sangat penting karena dengan cepat dapat memberikan penilaian terhadap hasil industrinya, apakah produknya disukai atau tidak disukai oleh konsumen (Soekarto dalam Marwita, 2008).
Berdasarkan hasil dari penilaian panelis dapat disimpulkan bahwa aroma mie kering pada perlakuan M1 lebih disukai dengan nilai rata-rata sebesar 3,05. Hal ini karena mie pada perlakuan M1 memiliki aroma rumput laut yang menyatu dengan aroma tepung, penambahan tepung rumput laut (Eucheuma cottonii) tidak begitu berpengaruh terhadap aroma mie kering karena tepung rumput laut tidak mempunyai bau yang khas. Bau amis rumput laut telah hilang pada saat proses rumput laut diolah menjadi tepung. Untuk perlakuan M0 tanpa rumput laut aromanya tidak terasa, sedangkan untuk perlakuan M2 dan M3 dengan penambahan rumput laut 20% dan 30% menyebabkan aroma rumput laut lebih kuat dan sedikit amis. Soemarno (1991), menyatakan bahwa aroma merupakan salah satu parameter yang menentukan rasa enak dari suatu produk bahan pangan. Dalam industri bahan pangan, pengujian terhadap aroma sangat penting karena dengan cepat dapat memberikan penilaian terhadap hasil industrinya, apakah produknya disukai atau tidak disukai konsumen.
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 M0 (tanpa rumput laut) M1 (10% rumput laut) M2 (20% rumput laut) M3 (30% rumput laut) PERLAKUAN N I L A I A R O M A
Rasa
Rasa merupakan gabungan dari rangsangan cicip, bau, dan banyak melibatkan organ lidah. Hasil uji tingkat penerimaan konsumen terhadap rasa mie kering dengan kosentrasi rumput laut (Eucheuma cottoni) yang berbeda dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3. Histogram Nilai Rata-Rata Rasa Mie Kering Dengan Konsentrasi Rumput Laut (Eucheuma cottonii) Yang Berbeda.
Berdasarkan Gambar 3 dapat diketahui bahwa nilai rata-rata rasa mie kering pada perlakuan M0 tanpa penambahan rumput laut yaitu 2,72. Perlakuan M1 (10%) yaitu 3,14. Perlakuan M2 (20%) yaitu 2,54. Dan perlakuan M3 (30%) yaitu 2,43.
Rasa merupakan respon lidah terhadap rangsangan yang diberikan oleh suatu makanan yang merupakan salah satu faktor penting yang dapat berpengaruh terhadap konsumen pada suatu produk makanan. Rasa merupakan faktor yang sangat penting dalam
menentukan keputusan akhir konsumen untuk menerima atau menolak suatu makanan. Rasa berbeda dengan aroma dan lebih melibatkan indera pengecap (lidah). Rasa dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu senyawa kimia, suhu, konsentrasi dan interaksi dengan komponen rasa lainnya (Fachruddin dalam Hadi, 2009).
Dari hasil penilaian yang dilakukan oleh panelis dapat disimpulkan bahwa tingkat kesukaan rasa tertinggi yaitu M1 dengan nilai rata-rata tingkat kesukaan 3,14. Kemudian diikuti M0 (tanpa penambahan rumput laut) dengan nilai rata-rata tingkat kesukaan 2,72. M2 dengan nilai tingkat kesukaan sebesar 2,54. Dan terakhir M3 dengan nilai rata-rata tingkat kesukaan sebesar 2,43. Perbedaan disebabkan oleh nilai rata-rata penambahan rumput laut dalam jumlah yang berbeda yaitu tanpa rumput laut (M0), 10% (M1) 20% (M2) dan 30% (M3). Perbedaan konsentrasi rumput laut yang ditambahkan mempengaruhi nilai rasa, dimana rasa pada M1 memiliki rasa khas mie dan rumput laut yang disukai panelis. Tekstur
Berdasarkan Gambar 4 dapat diketahui bahwa nilai rata-rata tekstur mie kering pada perlakuan M0 tanpa penambahan rumput laut yaitu 2,78. Perlakuan M1 (10%) yaitu 3,54. Perlakuan M2 (20%) yaitu 2,66. Dan perlakuan M3 (30%) yaitu 2,56. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 4. 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 M0 (tanpa rumput laut) M1 (10% rumput laut) M2 (20% rumput laut) M3 (30% rumput laut) PERLAKUAN N I L A I R A S A
Gambar 4. Histogram Nilai Rata-Rata Tekstur Mie Kering Dengan Konsentrasi Rumput Laut (Eucheuma cottonii) Yang Berbeda.
Tekstur adalah penginderaan yang dihubungkan dengan rabaan atau sentuhan. Purnomo (1995), menyatakan tekstur merupakan sekelompok sifat fisik yang ditimbulkan oleh elemen struktural bahan pangan yang dirasakan oleh alat peraba. Terkadang tekstur lebih penting dibandingkan dengan penampakan, aroma, atau rasa karena mempengaruhi citra makanan. Konsumen juga biasanya menilai suatu produk berdasarkan teksturnya.
Dari dari hasil penilaian yang dilakukan oleh panelis dapat disimpulkan bahwa panelis lebih menyukai tekstur M1 (10%) dengan nilai rata-rata tingkat kesukaan 3,21. Kemudian M0 (tanpa tepung rumput laut) dengan nilai rata-rata tingkat kesukaan 2,78. Diikuti M2 dan M3 sebesar 2,66 dan 2,56. Dari nilai tekstur mie kering dapat dijelaskan bahwa semakin banyak tepung
rumput laut yang ditambahkan kedalam adonan mie kering maka semakin turun nilai tekstur organoleptik mie kering. hal ini disebabkan karena penambahan tepung rumput laut menghasilkan tekstur yang tidak kompak. Maltz (1963), menyatakan tepung dan adonan mie kering dengan kandungan protein yang tinggi menghasilkan tekstur yang keras dan penampakan yang kasar pada mie kering disebabkan oleh serat dari tepung rumput laut yang dimasukan kedalam adonan mie.
Menurut Purnomo (1995), banyak hal yang mempengaruhi tekstur pada bahan pangan, antara lain rasio kandungan protein, lemak, suhu pengolahan, kandungan air, dan aktivitas air. Fellows (1992), menambahkan tekstur makanan kebanyakan ditentukan oleh kandungan air yang terdapat pada produk tersebut.
Penilaian Proksimat Kadar Air
Hasil analisa kadar air diperoleh nilai rata-rata kadar air mie kering dengan konsentrasi tanpa rumput laut M0 adalah 4,09. Konsentrasi rumput laut 10% (M1) adalah 3,974. Konsentrasi rumput laut 20% (M2) adalah 4,007. Dan konsentrasi rumput laut 30% (M3) adalah 4,1. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 5.
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 M0 (tanpa rumput laut) M1 (10% rumput laut) M2 (20% rumput laut) M3 (30% rumput laut) PERLAKUAN N I L A I T E K S T U R
Gambar 5. Histogram Nilai Rata-Rata Kadar Air Mie Kering Dengan Konsentrasi Rumput Laut (Eucheuma cottonii) Yang Berbeda.
Air memiliki peranan penting dalam pangan, yaitu berperan dalam mempengaruhi kesegaran, stabilitas, dan keawetan pangan, sebagai pelarut komponan polar dan ionik, berperan dalam reaksi kimia, aktivitas enzim, pertumbuhan mikroba, menentukan tingkat resiko keamanan pangan, dan sebagai media pindah panas (Kusnandar, 2010). Perbedaan kadar air pada mie dipengaruhi oleh adanya proses pengeringan dan kandungan protein. Pengaruh panas serta dehidrasi osmotik dapat menyebabkan denaturasi protein. Denaturasi protein oleh panas akan mengubah struktur protein dan dapat mengkerutkan bahan (mengeluarkan sejumlah air dari jaringan) (Buckle dkk.,1985 ).
Kadar Protein
Analisa protein diperoleh nilai rata-rata protein mie kering dengan konsentrasi tanpa rumput laut (M0) adalah 13,424. Konsentrasi rumput laut 10% (M1) adalah 12,652. Konsentrasi rumput laut 20% (M2) adalah 12,182 dan konsentrasi rumput laut 30% (M3) adalah 11,338. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6. Histogram Nilai Rata-Rata Protein Mie Kering Dengan Konsentrasi Rumput Laut (Eucheuma cottonii) Yang Berbeda.
Kadar protein mie rumput laut kering cenderung menurun. Penurunan disebabkan kadar air yang meningkat seiring penambahan rumput laut. Menurut Hadiwiyoto (1993), bahwa semakin tinggi kadar air dari suatu bahan pangan yang dihasilkan maka kadar protein akan semakin rendah karena miogen dan protein larut dalam air begitu sebaliknya.
Di samping berperan sebagai sumber gizi, protein dari sumber yang berbeda akan memiliki sifat fungsional tertentu yang dapat 3.9 3.92 3.94 3.96 3.98 4 4.02 4.04 4.06 4.08 4.1 M0 (tanpa rumput laut) M1 (10% rumput laut) M2 (20% rumput laut) M3 (30% rumput laut) PERLAKUAN N I L A I K A D A R A I R 10 10.5 11 11.5 12 12.5 13 13.5 M0 (tanpa rumput laut) M1 (10% rumput laut) M2 (20% rumput laut) M3 (30% rumput laut) PERLAKUAN N I L A I P R O T E I N
berpengaruh pada karakteristik produk pangan. Sifat fungsional protein ini berperan penting dalam pengolahan pangan, penyimpanan, dan penyajiannya yang mempengaruhi karakteristik yang diinginkan, mutu makanan, serta penerimaannya oleh konsumen, seperti aroma, penampakan, warna, tekstur, dan cita rasa (Kusnandar, 2010).
Kadar Serat Kasar
Kandungan serat makanan dikenal sebagai serat kasar dan didefinisikan sebagai sisa yang tinggal setelah diberi asam dan basa. Beberapa komponen karbohidrat (monosakarida, disakarida, dan polisakarida) mempunyai pengaruh yang menguntungkan terhadap kesehatan dan perhatian sekarang beralih yang dikenal dengan sebutan serat diet/serat kasar. Serat kasar terdiri dari bagian selulosa dan lignin dalam makanan, serta diet mencakup semua karbohidrat dan sejenisnya yang tidak dapat dicerna seperti selulosa, hemoselulosa, lignin dan pectin. (De Man dalam Marwita2008).
Diketahui nilai rata-rata serat kasar mie kering dengan konsentrasi tanpa rumput laut (M0) adalah 0,792. Sedangkan untuk konsentrasi rumput laut 10% (M1) adalah 0,741. Kemudian untuk konsentrasi rumput laut 20% (M2) adalah 0,919. Dan konsentrasi rumput laut 30% (M3) adalah 1,187. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 7.
Gambar 7. Histogram Nilai Rata-Rata Serat Kasar Mie Kering Dengan Konsentrasi Rumput Laut (Eucheuma cottonii) Yang Berbeda.
Berdasarkan hasil nilai rata-rata serat kasar mie kering dengan penambahan rumput laut pada Gambar 7 dapat dilihat bahwa perlakuan M0, M1, M2, dan M3 masing-masing mempunyai nilai rata-rata 0,792, 0,741, 0,919 dan, 1,187. Nilai serat kasar yang paling tinggi diperoleh dari perlakuan M3 (30%), sedangkan untuk nilai serat kasar terendah terdapat pada M0 (tanpa penambahan rumput laut). Perbedaan nilai serat kasar pada mie kering terjadi karena perbedaan konsentrasi rumput laut yang ditambahkan, dimana penambahan rumput laut membuat nilai serat kasar meningkat. 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 M0 (tanpa rumput laut) M1 (10% rumput laut) M2 (20% rumput laut) M3 (30% rumput laut) N I L A I S E R A T K A S A R PERLAKUAN
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan berdasarkan hasil uji organoleptik dan analisa kimia dapat diketahui bahwa penambahan rumput laut (Eucheuma cottonii) dengan kosentrasi yang berbeda pada pembuatan mie kering memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap penerimaan konsumen.
Secara umum panelis lebih menerima produk mie rumput laut kering dengan kosentrasi rumput laut 10% (M1) dengan nilai rata-rata organoleptik; rupa 2,8 (warna kuning kecoklatan), aroma 3,05 (aroma khas mie dan rumput laut), rasa 3,14 (rasa khas mie dan rumput laut), tekstur 3,21 (keras, kering). Dari hasil analisa kimia kosentrasi rumput laut 10 % (M1) diketahui mengandung kadar air 3,974 %, protein 12,652 %, dan serat kasar 0,741%.
Dari hasil kimia yang telah dilakukan menunjukan bahwa mie kering dengan penambahan rumput laut memberikan perbedaan nyata terhadap kadar air, kadar protein, dan kadar serat kasar. Dimana dengan penambahan rumput laut cendrung mengalami peningkatan, kecuali pada kadar protein yang mengalami penurunan. Pada kadar air dan kadar serat kasar cendrung mengalami kenaikan dengan bertambahnya jumlah rumput laut yang diberikan.
Saran
Dari hasil penelitian disarankan untuk membuat mie rumput laut dengan konsentrasi rumput laut Eucheuma cottonii 10% karena memiliki nilai organoleptik dan nilai proksimat yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2009. Rumput Laut. CCRC Farmasi UGM. Tanggal akses 20 Februari 2010.www.ugm.ac.id/ccrc.
Astawan, M., 1999. Membuat Mie dan Bihun. Penebar Swadaya. Jakarta. 72 hal. Buckle, K. A., R. A Edward., G. H. Fleet., M.
Wooton, 1985. Ilmu Pangan. Terjemahan. Hari Purnomo. UI Press, Jakarta. 365 hal.
Dahuri, R., 2002. Pemerintah Ajak Investor Garap Rumput Laut dalam Bisnis Indonesia, Selasa, 05 Maret. Jakarta. De man, J. K., 1997. Kimia Makanan. Terjemahan Padmawinata. ITB, Bandung.
Fellows, 1992. Food Processing Technology Principle and Practice. Elllis Hood Wood. England : Oxford.
Gasperz, V., 1991. Metode Perancangan Percobaan. Armico. Bandung. Hadi, S., 2009. Studi Penerimaan Konsumen
Terhadap Kemplang Ikan Jambal Siam Goreng dan Panggang. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Riau. Pekanbaru. (tidak diterbitkan). Hadiwiyoto, S., 1993. Teknologi Pengolahan
Hasil Perikanan. Jilid I. Liberty, Yogyakarta. 278 hal.
Kusanandar, F., 2010. Kimia Pangan (Komponen Makro). Dian Rakyat. Jakarta. 264 hal.
Purnomo, H., 1995. Aktivitas Air dan Perannya dalam Pengawetan Makanan. UI Press, Jakarta.
Purwani, E. Y,.Widianingrum, H. Setyanto, E. Savitri dan R. Thahir, 2006. Teknologi Pengolahan Mie Sagu. Jurnal BB-Pascapanen Pertanian. Volume 3(1):2-3.
Ristanti, 2003. Pembuatan Tepung Rumput Laut (Eucheuma cottonii) Sebagai Sumber Iodium dan Dietary Fiber Skripsi, Fakultas Teknologi Pertanian, IPB. Bogor.
Soekarto, S. T., 1990. Penilaian Organoleptik Untuk Industri Pangan dan Hasil Pertanian. Bharata Karya Aksara. Jakarta.
http://budiboga.blogspot.com/2006/05/sejarah -dan-aneka-jenis-mie.html. Diakses pada tanggal 24 September 2008.