• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ka-Andal Rumah Sakit

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Ka-Andal Rumah Sakit"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I BAB I

PENDAHULUAN PENDAHULUAN

1.1

1.1 Latar BelakangLatar Belakang

Pembangunan nasional yang dilakukan demi terwujudnya negara yang maju Pembangunan nasional yang dilakukan demi terwujudnya negara yang maju dapat didukung oleh pembangunan kesehatan yang bertujuan untuk mewujudkan dapat didukung oleh pembangunan kesehatan yang bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal baik jasmani, rohani maupun sosial. derajat kesehatan masyarakat yang optimal baik jasmani, rohani maupun sosial. Untuk mencapai Indonesia yang sehat, keadaan lingkungan yang diharapkan Untuk mencapai Indonesia yang sehat, keadaan lingkungan yang diharapkan adalah lingkungan yang bebas dari polusi dan dapat meminimisasi dampak buruk adalah lingkungan yang bebas dari polusi dan dapat meminimisasi dampak buruk dari penyakit terutama penyakit menular. Sehingga, dibutuhkan pembangunan dari penyakit terutama penyakit menular. Sehingga, dibutuhkan pembangunan kesehatan demi menuju Indonesia sehat dengan menyediakan pelayanan kesehatan demi menuju Indonesia sehat dengan menyediakan pelayanan kesehatan yang dikelola dengan baik. Dalam setiap pembangunan aka nada kesehatan yang dikelola dengan baik. Dalam setiap pembangunan aka nada  berbagai

 berbagai usaha usaha atau atau kegiatan kegiatan yang yang pada pada dasarnya dasarnya akan akan menimbulkan menimbulkan dampakdampak terhadap lingkungan hidup. Oleh karena itu, perlu dijaga keserasian antar terhadap lingkungan hidup. Oleh karena itu, perlu dijaga keserasian antar usaha/kegiatan tersebut dengan menganalisa sejak dari awal sebelum memulai usaha/kegiatan tersebut dengan menganalisa sejak dari awal sebelum memulai  perencanaan.

 perencanaan. Dengan Dengan demikian, demikian, langkah langkah pengendalian pengendalian dampak dampak negatif negatif dapatdapat dipersiapkan sedini mungkin.

dipersiapkan sedini mungkin.

Rumah sakit sebagai salah satu hasil pembangunan dan upaya penunjang Rumah sakit sebagai salah satu hasil pembangunan dan upaya penunjang  pembangunan

 pembangunan dalam dalam bidang bidang kesehatan kesehatan merupakan merupakan sarana sarana pelayanan pelayanan umum,umum, tempat berkumpulnya orang sakit maupun sehat yang memungkinkan terjadinya tempat berkumpulnya orang sakit maupun sehat yang memungkinkan terjadinya  pencemaran lingkungan, gangguan kesehatan dan dapat menjadi tempat pe

 pencemaran lingkungan, gangguan kesehatan dan dapat menjadi tempat pe nularannularan  penyakit.

 penyakit. Untuk Untuk itu itu telah telah dilakukan dilakukan berbagai berbagai upaya upaya penanggulangan penanggulangan dampakdampak lingkungan rumah sakit yang dimulai dari analisa mengenai dampak lingkungan lingkungan rumah sakit yang dimulai dari analisa mengenai dampak lingkungan (AMDAL).

(AMDAL).

Untuk meningkatkan pelayanan publik di Jakarta Barat terutama dalam Untuk meningkatkan pelayanan publik di Jakarta Barat terutama dalam  bidang kesehatan, maka pemerintah setempat akan mendirikan sebuah rumah sakit  bidang kesehatan, maka pemerintah setempat akan mendirikan sebuah rumah sakit yang bertaraf internasional sehingga pelayanan publik ini dapat ditingkatkan. yang bertaraf internasional sehingga pelayanan publik ini dapat ditingkatkan. Dengan adanya pendirian rumah sakit ini diharapkan dapat meningkatkan Dengan adanya pendirian rumah sakit ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama dalam bidang kesehatan dan diharapkan taraf kesejahteraan masyarakat terutama dalam bidang kesehatan dan diharapkan taraf ekonomi serta kesempatan kerja bagi masyarakat dapat ditingkatkan.

(2)

1.2

1.2 Tujuan dan Tujuan dan ManfaatManfaat 1.2.1

1.2.1 TujuanTujuan

Tujuan dari pembangunan rumah sakit bertaraf internasional di Tujuan dari pembangunan rumah sakit bertaraf internasional di Jakarta Barat

Jakarta Barat ini adalahini adalah 1.

1. Memenuhi kebutuhan masyarakat di bidang kesehatan,Memenuhi kebutuhan masyarakat di bidang kesehatan, 2.

2. Meningkatkan pelayanan publik di bidang kesehatanMeningkatkan pelayanan publik di bidang kesehatan 3.

3. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara umum,Meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara umum, 4.

4. Meningkatkan taraf ekonomi dan kesempatan kerja untuk masyarakat,Meningkatkan taraf ekonomi dan kesempatan kerja untuk masyarakat, khususnya masyarakat sekitar

khususnya masyarakat sekitar 1.2.2

1.2.2 ManfaatManfaat

Manfaat dari pembangunan rumah sakit bertaraf internasional di Manfaat dari pembangunan rumah sakit bertaraf internasional di Jakarta Barat adalah untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, Jakarta Barat adalah untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, meningkatkan pertumbuhan ekonomi serta mengembangkan daerah meningkatkan pertumbuhan ekonomi serta mengembangkan daerah setempat, dan meningkatkan kesejahteraan serta pelayanan masyarakat di setempat, dan meningkatkan kesejahteraan serta pelayanan masyarakat di  bidang kesehatan.

 bidang kesehatan.

1.3

1.3 PeraturaPeraturan Undang-Undang yang n Undang-Undang yang Melandasi StudiMelandasi Studi

Penyusunan dokumen AMDAL serta implementasinya harus mengacu atau Penyusunan dokumen AMDAL serta implementasinya harus mengacu atau  berdasarkan

 berdasarkan peraturan-peraturan peraturan-peraturan yang yang berlaku, berlaku, berikut berikut ini ini adalah adalah peraturan peraturan yangyang  berkaitan

 berkaitan dengan dengan rencana rencana pembangunan pembangunan rumah rumah sakit sakit bertaraf bertaraf internasional internasional didi Jakarta Barat.

Jakarta Barat. 1.

1. Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 Tentang KesehatanUndang-Undang Nomor 36 tahun 2009 Tentang Kesehatan 2.

2. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang lalu Lintas dan AngkutanUndang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang lalu Lintas dan Angkutan Jalan

Jalan 3.

3. PP No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai PP No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak LingkunganDampak Lingkungan 4.

4. KepMen LH No. 12/MENLH/3/ 1994 tentang Pedoman Umum UpayaKepMen LH No. 12/MENLH/3/ 1994 tentang Pedoman Umum Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pem

Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkunganantauan Lingkungan 5.

5. KepMen LH No. 13/MENLH/3/ 1994 tentang Pedoman SusunanKepMen LH No. 13/MENLH/3/ 1994 tentang Pedoman Susunan Keanggotaan dan Tata Kerja Komisi AMDAL

(3)

1.2

1.2 Tujuan dan Tujuan dan ManfaatManfaat 1.2.1

1.2.1 TujuanTujuan

Tujuan dari pembangunan rumah sakit bertaraf internasional di Tujuan dari pembangunan rumah sakit bertaraf internasional di Jakarta Barat

Jakarta Barat ini adalahini adalah 1.

1. Memenuhi kebutuhan masyarakat di bidang kesehatan,Memenuhi kebutuhan masyarakat di bidang kesehatan, 2.

2. Meningkatkan pelayanan publik di bidang kesehatanMeningkatkan pelayanan publik di bidang kesehatan 3.

3. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara umum,Meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara umum, 4.

4. Meningkatkan taraf ekonomi dan kesempatan kerja untuk masyarakat,Meningkatkan taraf ekonomi dan kesempatan kerja untuk masyarakat, khususnya masyarakat sekitar

khususnya masyarakat sekitar 1.2.2

1.2.2 ManfaatManfaat

Manfaat dari pembangunan rumah sakit bertaraf internasional di Manfaat dari pembangunan rumah sakit bertaraf internasional di Jakarta Barat adalah untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, Jakarta Barat adalah untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, meningkatkan pertumbuhan ekonomi serta mengembangkan daerah meningkatkan pertumbuhan ekonomi serta mengembangkan daerah setempat, dan meningkatkan kesejahteraan serta pelayanan masyarakat di setempat, dan meningkatkan kesejahteraan serta pelayanan masyarakat di  bidang kesehatan.

 bidang kesehatan.

1.3

1.3 PeraturaPeraturan Undang-Undang yang n Undang-Undang yang Melandasi StudiMelandasi Studi

Penyusunan dokumen AMDAL serta implementasinya harus mengacu atau Penyusunan dokumen AMDAL serta implementasinya harus mengacu atau  berdasarkan

 berdasarkan peraturan-peraturan peraturan-peraturan yang yang berlaku, berlaku, berikut berikut ini ini adalah adalah peraturan peraturan yangyang  berkaitan

 berkaitan dengan dengan rencana rencana pembangunan pembangunan rumah rumah sakit sakit bertaraf bertaraf internasional internasional didi Jakarta Barat.

Jakarta Barat. 1.

1. Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 Tentang KesehatanUndang-Undang Nomor 36 tahun 2009 Tentang Kesehatan 2.

2. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang lalu Lintas dan AngkutanUndang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang lalu Lintas dan Angkutan Jalan

Jalan 3.

3. PP No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai PP No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak LingkunganDampak Lingkungan 4.

4. KepMen LH No. 12/MENLH/3/ 1994 tentang Pedoman Umum UpayaKepMen LH No. 12/MENLH/3/ 1994 tentang Pedoman Umum Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pem

Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkunganantauan Lingkungan 5.

5. KepMen LH No. 13/MENLH/3/ 1994 tentang Pedoman SusunanKepMen LH No. 13/MENLH/3/ 1994 tentang Pedoman Susunan Keanggotaan dan Tata Kerja Komisi AMDAL

(4)

6.

6. KepMen LH No. 14/MENLH/3/ 1994 tentang Pedoman Umum UpayaKepMen LH No. 14/MENLH/3/ 1994 tentang Pedoman Umum Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan

Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan 7.

7. KepMen LH No. 15/MENLH/3/ 1994 tentang Pembentukan KomisiKepMen LH No. 15/MENLH/3/ 1994 tentang Pembentukan Komisi AMDAL Terpadu

AMDAL Terpadu 8.

8. KepMen LH No. 42/MENLH/1 1/ 1994 tentang Pedoman UmumKepMen LH No. 42/MENLH/1 1/ 1994 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Audit

Pelaksanaan Audit LingkungLingkunganan 9.

9. KepMen LH No. 54/MENLH/1 1/ 1995 tentang Pembentukan KomisiKepMen LH No. 54/MENLH/1 1/ 1995 tentang Pembentukan Komisi AMDAL Terpadu/ Multisektor dan Regional

AMDAL Terpadu/ Multisektor dan Regional 10.

10. KepMen LH No. 55/MENLH/1 1/ 1995 tentang Analisis MengenaiKepMen LH No. 55/MENLH/1 1/ 1995 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Regional

Dampak Lingkungan Regional 11.

11. KepMen LH No. 57/MENLH/12/ 1995 tentang Analisis MengenaiKepMen LH No. 57/MENLH/12/ 1995 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Usaha atau Kegiatan Terpadu/Multisektor

Dampak Lingkungan Usaha atau Kegiatan Terpadu/Multisektor 12.

12. KepMen LH No. 02/MENLH/1/ 1998 tentang Penetapan PedomanKepMen LH No. 02/MENLH/1/ 1998 tentang Penetapan Pedoman BakuBaku Mutu Lingkungan

Mutu Lingkungan 13.

13. Keputusan Keputusan Menteri Negara Menteri Negara Lingkungan Lingkungan Hidup NoHidup Nomor mor 86 86 Tahun 2Tahun 2002002 tentang Pedoman Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup tentang Pedoman Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan

dan Upaya Pemantauan Lingkungan HidupLingkungan Hidup 14.

14. UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan LiUU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Li ngkungan Hidup

ngkungan Hidup 15.

15. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 08 Tahun 2006Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 08 Tahun 2006 Tentang Pedoman penyusunan analisis mengenai Dampak lingkungan Tentang Pedoman penyusunan analisis mengenai Dampak lingkungan hidup

hidup 16.

16. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 14 Tahun 2010Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 14 Tahun 2010 Tentang Dokumen Lingkungan Hidup Bagi Usaha Dan/Atau Kegiatan Tentang Dokumen Lingkungan Hidup Bagi Usaha Dan/Atau Kegiatan Yang Telah Memiliki Izin Usaha Dan/Atau Kegiatan Tetapi Belum Yang Telah Memiliki Izin Usaha Dan/Atau Kegiatan Tetapi Belum memiliki dokumen lingkungan hidup

memiliki dokumen lingkungan hidup 17.

17. Peraturan Menteri Peraturan Menteri Negara LingkNegara Lingkungan ungan Hidup NHidup Nomor omor Tahun Tahun 20072007 Tentang Dokumen

Tentang Dokumen Pengelolaan Dan Pengelolaan Dan Pemantauan LingkungPemantauan Lingkungan Hidup Bagian Hidup Bagi Usaha Dan/Atau Keg

Usaha Dan/Atau Kegiatan Yang Tidak iatan Yang Tidak Memillki Dokumen Memillki Dokumen PengelolaanPengelolaan Lingkungan Hidup

(5)

18. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut

19. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air

20. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air

21. KepMen LH No. 30/MENLH/1 0/ 1999 tentang Panduan Penyusunan Dokumen Pengelolaan Lingkungan

22. KepMen LH No. 42/MENLH/1999 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Audit Lingkungan

23. KepMen LH No. 2 Tahun 2000 tentang Pedoman PenilaianDokumen AMDAL

24. KepMen LH No. 4 Tahun 2000 tentang Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan PembangunanPermukiman Terpadu

25. KepMen LH No. 5 Tahun 2000 tentang Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan di Daerah Lahan Basah

26. KepMen LH No. 40 Tahun 2000 tentang Pedoman Tata KerjaKomisi Penilai AMDAL

27. KepMen LH No. 41 Tahun 2000 tentang Pedoman Pembentukan Komisi Penilai AMDAL Kabupaten/Kota

28. KepMen LH No. 42 Tahun 2000 tentang Susunan Keanggotaan Komisi Penilai Tim Teknis AnalisisMengenai Dampak Lingkungan Hidup

29. KepMen LH No. 17 Tahun 2001 tentang Jenis Rencana Usaha Dan/Atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan AMDAL

30. KepMen LH No. 86 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup

31. KepMen LH No. 30 Tahun 2001 tentang Pedoman Pelaksanaan Audit Lingkungan Hidup Yang diwajibkan

(6)

33. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 92/MENKES/PER/IV/2010 Tentang Persyaratan Kualitas Air Minum 34. PP No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air, Pengendalian

Pencemaran Air

35. KepMen LH No. Kep-35/MenLH/7/ 1995 tentang Program Kali Bersih (PROKASIH)

36. KepMen LH No. Kep-35A/ MenLH /7/ 1995 tentang Program Penilaian Kinerja Perusahaan/ Kegiatan Usaha Dalam Pengendalian Pencemaran di Lingkup Kegiatan PROKASIH (Proper Prokasih)

37. KepMen LH No. 58/MENLH/10/ 1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Rumah Sakit

38. KepMen LH No. 29 Tahun 2003 tentang Pedoman Syarat dan Tata Cara Perizinan Pemanfaatan Air

39. KepMen LH No. 37 Tahun 2003 tentang Metode Analisis Kualitas” Air Permukaan dan Pengambilan Contoh Air Permukaan

40. KepMen LH No. 110 Tahun 2003 tentang Pedoman Penetapan Daya Tampung Beban Pencemaran Air Pada Sumber Air

41. KepMen LH No. 111 Tahun 2003 tentang Pedoman Mengenai Syarat dan Tata Cara PerizinanSerta Pedoman Kajian Pembuangan Air Limbah ke Air atau Sumber Air

42. KepMen LH No. 112 Tahun 2003 tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik

43. KepMen LH No. 114 Tahun 2003 tentang Pedoman Pengkajian tentang Pedoman Pengkajian Untuk Menetapkan Kelas Air

44. KepMen LH No. 115 Tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air

45. KepMen LH No. 142 Tahun 2003 tentang Perubahan KepMen LH No. 111 Tahun 2003 tentang Pedoman Mengenai Syarat dan Tata Cara Perizinan Serta Pedoman Kajian Pembuangan Air Limbah ke Air atau Sumber Air 46. Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air

(7)

47. UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sunber Daya Alam dan Lingkungan Hidup.

48. PP No. 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun

49. PP No. 85 Tahun 1999 tentang Perubahan PP No. 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun

50. PP No. 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun 51. Kep. Dirjen Batan No. 119/DJ/III/1992 tentang Pedoman Teknis Penyusunan AMDAL Untuk Kegiatan Nuklir di Bidang Nuklir Non  –  Reaktor

52. Kep. Dirjen Batan No. 294/DJ/IX/1992 tentang Nilai Batas Radioaktif di Lingkungan

53. PP. No, 19 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut.

54. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah 55. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas,

Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Kementerian Negara Rep ublik Indonesia, sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 94 Tahun 2006

56. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup  Nomor 07 tahun 2010 Tentang Sertifikasi kompetensi penyusun dokumen analisis mengenai Dampak lingkungan hidup dan persyaratan lembaga  pelatihan Kompetensi penyusun dokumen analisis mengenai dampak

Lingkungan hidup

57. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 06 tahun 2006 tentang Pedoman Umum Standardisasi Kompetensi Personil dan Lembaga Jasa Lingkungan

58. Keputusan Presiden No. 10 Tahun 2000 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan.

(8)

59. PP No. 54 Tahun 2000 tentang Lembaga Penyedian Jasa Pelayanan Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup di Luar Pengadilan

60. KepMen LH No. 07/ MENLH/2001 tentang Pejabat Pengawasan Lingkungan Hidup dan Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup Daerah

61. Keputusan Bersama Meneg LH dan Kepala Badan Kepegawaian Negara  No. 08 & 22 Tahun 2002 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan

Fungsional Pengendali Dampak Lingkungan Hidup dan Angka Kreditnya 62. KepMen LH No. 56 Tahun 2002 tentang Pedoman Umum Pengawasan

Penaatan Lingkungan Hidup Bagi Pejabat Pengawas.

63. KepMen LH No. 58Tahun 2002 tentang Tata Kerja Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup di PropinsiKabupaten/Kota.

64. Kep. MENPAN Nomor : 47/KEP/M.PAN//8/2002 tentang Jabatan Fungsional Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup dan Angka Kreditnya.

65. Keputusan Bersama Men PAN dan Mendagri Nomor : 01 /SKB/M.PAN/4/2003 dan Nomor 17 Tahun 2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 2003 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah dan Peraturan Pemerintah.

66. Keputusan Presiden No. 100 Tahun 2004 tentang Tunjangan Jabatan Fungsional Pengendali Dampak Lingkungan.

67. KepMen LH No. 145 Tahun 2004 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Pengendali Dampak Lingkungan dan Angka Kreditnya.

68. KepMen LH No. 146 Tahun 2004 tentang Pedoman Kualifikasi Pendidikan Untuk Jabatan Fungsional Pengendali Dampak Lingkungan. 69. KepMen LH No. 147 Tahun 2004 tentang Kode Etik Profesi Pengendali

Dampak Lingkungan.

70. KepMen LH No. 197 Tahun 2004 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Lingkungan Hidup Di Daerah Kabupaten dan Daerah Kota.

(9)

72. UU No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan  Nasional.

73. KepMen LH No. 19 Tahun 2004 tentang Pedoman Pengelolaan Pengaduan Kasus Pencemaran dan atau Perusakan Lingkungan.

(10)

BAB II

RUANG LINGKUP STUDI

2.1 Uraian Rencana dan Kegiatan

 Nama Kegiatan adalah AMDAL pembangunan Rumah Sakit bertaraf internasional di Jakarta Barat. Dasar kegiatan adalah Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan dasar yang mewajibkan pembangunan ini membutuhkan AMDAL adalah adanya Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 1993 tentang Analisis Dampak Lingkungan, AMDAL (Rumah Sakit dengan kapasitas lebih dari 400 tempat tidur wajib AMDAL).

Lokasi rencana pembangunan Rumah Sakit bertaraf internasional secara administratif berada di Jalan H. Saaba, Meruya Selatan, Jakarta Barat. Rumah Sakit yang akan dibangun ini memiliki kapasitas 782 kamar yang terdiri dari 100 kamar VIP, 200 kamar kelas menengah, 250 kamar ekonomi, 100 kamar kelas BPJS dan 132 kamar yang terdiri dari ruang operasi, poli-poli, apotek, dan fasilitas penunjang lainnya.

Pembangunan ini berada di lahan milik masyarakat sehingga membutuhkan  pembebasan lahan yang cukup luas. Kondisi lahan tempat rencana pembangunan  proyek berdekatan dengan pemukiman penduduk dan sarana dan prasarana di Jakarta Barat, tepatnya di Meruya Selatan. Lokasi lahan untuk Rumah Sakit ini  berada di lokasi yang strategis dan mudah dijangkau. Oleh karena itu, lokasi ini

cocok sebagai tempat pembangunan Rumah Sakit.

2.1.1 Tahap Pelaksanaan Rencana Usaha dan Kegiatan 2.1.1.1 Tahap Prakonstruksi

A. Sosialisai

Sosialisasi kepada masyarakat sekitar lokasi pembangunan proyek adalah tahap awal yang harus dilakukan oleh pemrakarsa sebelum mendirikan atau menjalankan suatu proyek. Sosialisasi AMDAL merupakan penerapan dari Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup  Nomor 17 Tahun 2012 tentang Keterlibatan Masyarakat dalam Proses

(11)

Kegiatan sosialisasi merupakan salah satu bentuk pengenalan dan proses  pemberian pemahaman kepada masyarakat tentang rencana usaha atau kegiatan yang akan dilakukan. Melalui sosialisasi ini diharapkan saran dan masukan dari masyarakat tentang berbagai aspek sosial yang mendukung  penyelenggaraan rencana kegiatan.

Kegiatan sosialisasi di media massa telah dilakukan di harian Pos Kota  pada tanggal 9 Desember 2016. Kegiatan sosialisasi juga telah dilakukan dengan masyarakat dan pihak-pihak yang terkait dari tingkat RT sampai Kecamatan. Materi sosialisasi meliputi rencana kegiatan pembangunan Rumah Sakit bertaraf internasional di Meruya Selatan, Jakarta Barat, lokasi administratif kegiatan, tahap-tahap kegiatan yang akan dilakukan, masalah ketenagakerjaan, dan dampak negatif serta positif yang memungkinkan terjadi dengan adanya pembangunan Rumah Sakit di daerah tersebut.

B. Perolehan Lahan

Lokasi Pembangunan Rumah Sakit bertaraf internasional ini berada di lahan milik masyarakat, proyek ini memerlukan lahan seluas 7000 m2. Tahap pertama yang dilakukan dalam pembebasan lahan ini adalah  pendataan lahan dan pemilik lahan yang terkena lokasi kegiatan  pembangunan secara keseluruhan. Dari hasil pendataan tersebut diketahui

status dan luas lahan, volume tanaman tumbuh dan bangunan (jika ada). Dengan adanya data tersebut maka pembebasan lahan dapat dilakukan sesuai peraturan yang ada. Proses pembebasan lahan dilakukan dengan  proses jual beli. Secara teknis proses jual beli mengacu kepada Perpres

nomor 65 tahun 2006 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum, serta mempertimbangkan harga  NJOP PBB, harga pasar setempat dan harga yang ditetapkan pemerintah (jika ada). Pekerjaan perolehan lahan ini bisa dilaksanakan oleh  pemrakarsa dengan bantuan pihak-pihak terkait seperti PemProv DKI

(12)

2.1.1.2 Tahap Konstruksi

A. Perekrutan Tenaga Kerja

Pada tahap konstruksi Rumah Sakit yang dianggap padat karya, akan dibutuhkan tenaga kerja terlatih ( skilled ) maupun tenaga kerja tak terlatih (unskilled ). Pengadaan tenaga kerja dilakukan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan dan tahapan yang telah direncanakan.

Kebutuhan tenaga kerja secara umum dibagi menjadi dua yaitu tenaga yang membutuhkan keterampilan khusus seperti pemasangan pipa-pipa untuk pengolahan IPAL, proses pemasangan fasilitas yang berkaitan dengan listrik, pekerjaan yang berkaitan dengan mesin dan lain-lain, sedangkan yang lainnya adalah pekerja yang cenderung membutuhkan tenaga “fisik” dan dalam hal ini jika masyarakat sekitar dianggap mampu dan layak untuk mengerjakannya, maka perekrutaan tenaga kerja akan mengutamakan masyarakat setempat. Tabel 2.1 berikut adalah perkiraan tenaga kerja yang dibutuhkan.

Tabel 2.1 Perkiraan Kebutuhan Tenaga kerja

Posisi Kualifikasi Jumlah (orang) Pengalaman Kerja (Tahun) Mechanical Engineer S2 1 20 Electric Engineer S2 2 15 Civil Engineer S2 2 15 Mechanical Construction S2 2 15 Electrical Construction S2 2 15 Logistic S1 1 10 Surveyor S1 1 10 Design Drafter S1 1 10 Pekerja Umum - 100

-B. Mobilisasi Peralatan dan Material

Mobilisasi peralatan (alat berat, dll) dan material adalah kegiatan untuk memasukkan peralatan dan material yang digunakan dalam membangun Rumah Sakit. Peralatan dan material didatangkan atau diangkut dari luar

(13)

lokasi rencana kegiatan (proyek) dengan menggunakan truk atau mobil. Alat berat yang digunakan berupa alat berat untuk menggali, meratakan serta mengangkut bahan-bahan yang dibutuhkan, sedangkan  bahan/material yang diangkut berupa batu, bata, pasir, kerikil, semen, pipa, dan lain-lain. Mobilisasi alat berat dan material dilakukan melalui jalur utama yaitu melalui tol lingkar luar. Mobilisasi alat berat dan material ini dilakukan pada malam hari menjelang pagi hari dengan tujuan untuk menghindari kemacetan. Alasan pemilihan jalur ini dikarenakan tidak ada akses jalan lain yang dapat dilewati oleh kendaraan pengangkut alat berat tersebut. Pengangkutan alat berat ini berasal dari daerah Gunung Putri. C. Persiapan Lahan

Sebelum memulai proses pembangunan bangunan utama Rumah Sakit dan bangunan-bangunan penunjang lainnya, perlu dilakukan persiapan lahan, yang meliputi perataan, pengerukan, penggalian, pemadatan serta  penggalian pondasi. Persiapan lahan ini merupakan salah satu proses  penting sebelum memulai konstruksi, sehingga pemrakarsa dapat menjamin dan mengetahui kondisi tanah yang menjadi tempat bangunan konstruksi.

D. Pembangunan Bangunan Rumah Sakit (Pondasi, Gedung, Kamar, dan lain-lain)

Pembangunan atau konstruksi bangunan utama rumah sakit dimulai setelah semua persiapan selesai, proses konstruksi dimulai dari  pembangunan pondasi bangunan utama, yang kemudian akan diteruskan dengan pembangunan tahap selanjutnya sesuai yang telah direncanakan tim dari pemrakarsa. Tata ruang dari bangunan utama telah disesuaikan dengan kebutuhan serta pengelompokan berdasarkan fungsi dari masing-masing ruangan.

Jika ditinjau dari segi lokasinya, bangunan utama terletak ditengah-tengah area, sehingga memungkinkan akses keluar masuk rumah sakit cukup banyak. Pada proses konstruksi masing-masing pekerja memegang

(14)

 peranan masing-masing seperti pemasangan mesin-mesin, aliran listrik (sumber tenaga listrik), sumber air, dan lain-lain.

Pembangunan sarana pengolahan IPAL juga dimasukkan kedalam  proses konstruksi bangunan utama. Area pengolahan IPAL terletak cukup  jauh dari sumber air (sungai/danau) yaitu sekitar 3 km. Selain  pembangunan sarana IPAL dilakukan juga konstruksi lahan parkir dan taman disekitar bangunan utama. Sistem pengolahan limbah dan B3 dapat dilihat pada Gambar 2.1.

Gambar 2.1 Diagram Pengelolaan Air Limbah Rumah Sakit

2.1.1.3 Tahap Operasional (Pasca Konstruksi) A. Pembersihan Lokasi Sisa Konstruksi

Sebelum Rumah Sakit benar-benar beroperasi, lokasi proyek dibersihkan terlebih dahulu, pembersihan lokasi terdiri dari pembersihan sisa-sisa material seperti bongkahan batu, pasir-pasir, kerikil, potongan kayu serta sampah-sampah sisa konstruksi dan pengosongan alat-alat  berat, pembersihan lokasi hanya memakan waktu yang cukup singkat,  pembersihan lokasi berkaitan erat dengan estetika dan kenyamanan

orang-orang yang berada di dalam dan di luar area rumah sakit. B. Pemeliharaan Mesin dan Sarana Pendukung

Pemeliharaan mesin serta sarana pendukung adalah kegiatan melaksanakan perawatan, pemeriksaan, dan perbaikan terhadap

(15)

mesin-mesin ataupun sarana penunjang yang digunakan oleh Rumah Sakit untuk mempertahankan efisiensi dan keandalan kerja dari mesin serta sarana terkait. Dari segi pemeliharaan, pihak rumah sakit memiliki rentan waktu yang singkat/pendek yaitu setiap bulannya atau 720 jam kerja mesin, akan tetapi hal ini bersifat fleksibel yaitu tergantung dari hasil pemantauan setiap harinya. Dalam proses pemeliharaan dan pemantauan ada beberapa titik yang harus benar-benar diperhatikan, yaitu saluran aliran limbah, mesin-mesin yang berkaitan dengan sumber listrik dan air. Proses-proses  pemeriksaan dan pemantauan terdiri dari pengujian kemampuan mesin

secara berkala, pemantauan efisiensi serta aktifitas sarana/mesin terkait. C. Pengelolaan Limbah/B3 (IPAL)

Pengelolaan limbah merupakan tindakan dalam penanganan limbah yang dihasilkan dalam suatu kegiatan, dalam hal ini limbah dihasilkan dari segala proses yang dilakukan di Rumah Sakit. Penanganan atau  pengelolaan limbah pada Rumah Sakit secara umum dapat dilakukan

didalam area Rumah Sakit atau dapat dikelola dengan sarana IPAL yang ada di Rumah Sakit, akan tetapi ada beberapa limbah yang dikelola diluar IPAL, diantaranya adalah jenis limbah padat berupa sampah ataupun sisa-sisa makanan yang terbuang di sekitar area Rumah Sakit, dalam hal ini limbah tersebut dikelola oleh sarana non IPAL, bisa dari pihak kebersihan kota, maupun tenaga kerja yang bekerja di bidang kebersihan Rumah Sakit.

Limbah cair (B3) umumnya dihasilkan dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan dirumah sakit, seperti pembuangan sisa-sisa obat, proses  pencucian alat-alat maupun pemeliharaan mesin dan sarana lain, limbah cair (B3) dapat dikelola pada sistem IPAL yang telah dibangun, selain itu limbah juga beasal dari pengunjung Rumah Sakit yang umumnya berupa limbah padat. Limbah padat yang dihasilkan dari kegiatan domestik,  pengelolaannya dilakukan dengan pembuatan tong sampah ataupun septik

(16)

D. Penghijauan

Kegiatan penghijauan memiliki fungsi sebagai upaya meminimalkan dampak limbah gas dan kebisingan serta debu disekitar kegiatan rumah sakit serta berfungsi untuk menjaga kestabilan ekosistem. Daun-daun tanaman hijau bertugas menyerap polutan-polutan disekitarnya. Sebaliknya dedaunan tersebut melepaskan oksigen yang membuat udara disekitarnya menjadi segar. Ketika hujan turun, tanah dan akar-akar  pepohonan akan mengikat air dan dapat menjadi cadangan air. Disamping itu penataan penghijauan yang baik juga dapat menambah nilai estetika areal disekitar Rumah Sakit. Penghijauan akan dilakukan pada area disekitar lokasi Rumah Sakit terutama di area yang memiliki jarak atau  berbatasan dengan pemukiman warga ( green belt ). Penghijauan dilakukan dengan menanam tanaman yang cepat tumbuh, berfungsi ekologis dan mempunyai nilai estetika.

Fungsi penghijauan di kawasan rumah sakit ditekankan sebagai  penyerap CO2, penghasil oksigen, penyerap polutan, peredam kebisingan,

 penahan angin dan peningkatan keindahan (PP RI no.63/2002). Adapun faktor-faktor yang berpengaruh terhadap potensi reduksi zat pencemar adalah jenis tanaman, kerimbunan dan ketinggian tanaman, jumlah emisi karbon, suhu, kecepatan angin, kepadatan dan ketinggian bangunan.

E. Kegiatan di Sekitar Area Rumah Sakit

Disekitar kawasan Rumah Sakit ada beberapa kegiatan warga yang  perlu menjadi pertimbangan pihak pemrakarsa. Kegiatan tersebut meliputi  bidang perdagangan, pendidikan, dan kuliner.

a) Perdagangan

Di sekitar area rumah sakit terdapat berbagai macam kegiatan di  bidang perdagangan, seperti mini market. Keberadaan mini market ini memiliki dampak positif terhadap kegiatan rumah sakit. Dengan adanya mini market-mini market ini, para pengunjung rumah sakit

(17)

yang menginap di rumah sakit dapat memenuhi kebutuhan mereka selama berada di rumah sakit.

 b) Pendidikan

Di sekitar area rumah sakit ini terdapat dua kegiatan di bidang  pendidikan, yaitu SDS Al-Azhar dan SMPN 206. Dengan adanya kegiatan rumah sakit ini, tentu akan lebih menguntungkan untuk para murid ataupun guru yang sewaktu-waktu membutuhkan pertolongan dalam bidang kesehatan.

c) Kuliner

Di sekitar area rumah sakit terdapat banyak sekali kegiatan di bidang kuliner. Hal ini tentu dapat menguntungkan bagi kedua pihak. Para  pengunjung yang ada di rumah sakit, dapat mengunjungi kegiatan kuliner tersebut ketika sedang berkunjung ke rumah sakit, sedangkan untuk kegiatan kuliner tersebut keuntungannya adalah bertambahnya  pengunjung ke tempat usaha mereka. Namun, terdapat pula dampak negatif dari kegiatan kuliner ini, yaitu limbah yang dihasilkan oleh setiap rumah makan. Oleh karena itu, setiap kegiatan di bidang kuliner ini sudah dihimbau untuk menangani limbahnya masing-masing agar tidak mengganggu kegiatan rumah sakit.

2.2 Lingkup Rona Lingkungan Hidup 2.2.1 Komponen Geofisika-Kimia 2.2.1.1 Kualitas Udara Ambien

Kualitas udara di sekitar area rumah sakit perlu diperhatiakan, banyak faktor yang mempengaruhi kualitas udara ambien di sekitar area rumah sakit, salah satunya adalah kegiatan pembakaran yang dilakukan warga, tahap operasi rumah sakit dianggap tidak terlalu mempengaruhi kualitas udara di sekitar lokasi hal ini didasari pada kegiatan dari rumah sakit sendiri yang minim dengan  pembakaran atau pembuangan gas emisi yang dapat mempengaruhi kualitas

udara. Tabel 2.2 berikut adalah data hasil pemantauan terhadap kualitas udara disekitar lokasi.

(18)

Tabel 2.2 Hasil pengukuran Udara Ambien di Sekitar Wilayah Studi

Parameter Satuan Hasil Baku mutu

PPRI No.41/99 UA-1 UA-2 UA-3 UA-4 UA-5

FISIKA

Suhu Udara oC 26,0 27,0 25,0 25,0 26,0 _

Arah angin dominan _ Barat Barat Barat Barat Barat _ Kecepatan Angin m/det 0.1-0.2 0.1-0.2 0.2-0.3 0.2-0.3 0.2-0.3 _

Kelembaban Udara % 84 84 86 86 85 _ Partikel Debu μg/m3 69.8 62.7 67.8 63.2 65.7 230 KIMIA SO2 μg/m3 13.55 13.98 16.73 13.95 13.73 900 CO μg/m3 3120 3060 3450 3000 3160 30000  NO2 μg/m3 22.32 20.06 20.45 20.28 17.56 400

Sumber : NBC Analisis, Laboratorium analisis kimia dan bioaktif-Bogor 2016 Sameo Biotrop services laboratory-Bogor 2016

Keterangan :

UA1: Udara Area 1 (Batas Barat) UA2: Udara Area 2 (Batas Selatan) UA3: Udara Area 3 (Batas Timur) UA4: Udara Area 4 (Batas Utara) UA5: Udara Area 5 (Lokasi Study)

Berdasarkan data pengujian yang dilakukan pada 5 titik pengamatan sampel kualitas udara ambien, terlihat bahwa hampir semua parameter yang diuji memiliki nilai yang hampir sama atau perbedaannya tidak terlalu signifikan, ini karena memang daerah tersebut memiliki struktur geografis dan iklim yang cenderung masih sama, parameter-parameter yang diuji juga memberikan hasil yang cukup baik, dimana semua parameter masih berada jauh dibawah ambang  baku mutu yang ditetapkan pemerintah.

(19)

2.2.1.2 Kualitas Kebisingan

Dampak yang mungkin ditimbulkan dari pembangunan Rumah sakit di Meruya Selatan, Jakarta Barat adalah kebisingan. Hal ini dimungkinkan disebabkan oleh mesin yang digunakan untuk menunjang kegiatan Rumah sakit. Untuk mengatasi kebisingan yang timbul maka desain lokasi dan tata ruang Rumah Sakit perlu dimaksimalkan, untuk mengetahui perkiraan kebisingan yang akan terjadi maka dilakukan pengujian terhadap kualitas kebisingan dibeberapa titik disekitar lokasi Rumah Sakit. Tabel 2.3 berikut adalah data hasil pengamatan terhadap kualitas kebisingan disekitar daerah/lokasi pembangunan Rumah Sakit. Tabel 2.3 Kualitas Kebisingan di Sekitar Area Rumah Sakit

Lokasi

Pengukuran Satuan Hasil

Baku Mutu Kepmenaker No.51/99 Kep.MenLH No.48/11/1996 UA-1 dB (A) 81.58 85 70 UA-2 dB (A) 82.18 85 70 UA-3 dB (A) 80.55 85 70 UA-4 dB (A) 81.80 85 70 UA-5 dB (A) 80.48 85 70

Sumber : NBC Analisis, Laboratorium analisis kimia dan bioaktif-Bogor 2016 Sameo Biotrop services laboratory-Bogor 2016

Keterangan :

UA1: Udara Area 1 (Batas Barat) UA2: Udara Area 2 (Batas Selatan) UA3: Udara Area 3 (Batas Timur) UA4: Udara Area 4 (Batas Utara) UA5: Udara Area 5 (Lokasi Study)

Berdasarkan data pengujian pada 5 (lima) titik pengamatan sampel  pengukuran kualitas kebisingan, terlihat bahwa semua hasil pengukuran masih di  bawah ambang batas yang ditetapkan oleh pemerintah untuk di kawasan Rumah Sakit. Namun untuk di wilayah sekitar Rumah Sakit, hasil pengukuran sudah melebihi baku mutu. Hal ini disebabkan karena daerah Jakarta Barat merupakan

(20)

daerah padat penduduk. Hal tersebut dapat meningkatan intensitas kebisingan  pada suatu daerah.

2.2.1.3 Hidrologi

Tata air wilayah studi merupakan perairan sungai yang berasal dari mata air yang ada di Gunung Salak-Pangrango. Selain berasal dari mata air tersebut, aliran sungai juga dipengaruhi oleh volume hujan.

2.2.1.4 Kualitas Air

Air permukaan adalah semua air yang terdapat pada permukaan tanah, sedangkan badan air permukaan dalam hal ini adalah sungai, danau, waduk dan rawa. Badan air permukaan yang terdapat disekitar area pembangunan Rumah Sakit yaitu berupa sungai, walaupun jarak sungai-sungai yang terdapat di sekitar wilayah pembangunan Rumah sakit cukup jauh, akan tetapi dengan adanya  pembangunan Rumah Sakit kualitas air setidaknya akan berpengaruh, walaupun hanya sedikit, dari itu tim pemrakarsa melakukan uji kualitas air permukaan atau kualitas air sungai yang terdapat disekitar lokasi pembangunan Rumah Sakit. Tabel 2.4 berikut adalah hasil pengujian kualitas air sungai di Meruya Selatan, Jakarta Barat.

Tabel 2.4 Hasil Pengujian Kualitas Air Sungai di Meruya Selatan, Jakarta Barat

No. Parameter Satuan

Sampel Baku Mutu (PPRI No.82/2001) BAP-1 BAP-2 A.FISIKA 1 Temperatur o∆ 63.53 64.17 -2 Residu Terlarut (TDS) mg/l 327.26 441.02 1000 3 Residu tersuspensi(TSS) mg/l 441.68 399.65 50 B. KIMIA 4 pH - 7.23 7.14 6,0-9,0 5 BOD mg/l 195.89 189.32 3 6 COD mg/l 60.33 76.25 25 7 DO mg/l 8.2 7.65 4

(21)

No. Parameter Satuan

Sampel Baku Mutu (PPRI No.82/2001) BAP-1 BAP-2 8 Total Fosfat mg/l 0.112 0.135 0,2 9 Arsen mg/l >0,02 >0,02 1 10 Cobal mg/l >0,01 >0,01 0,2 11 Amonia mg/l >0,01 >0,01 0,5 12 Tembaga mg/l >0,001 >0,001 0,02 13 Mangan mg/l >0,001 >0,001 0,1 14 Air Raksa mg/l >0,0001 >0,0001 0,002 15 Seng mg/l >0,0001 >0,0001 0,05 16 Clorida mg/l 11,3 10,5 600 17 Sianida mg/l >0,001 >0,001 0,02 18 Sulfat mg/l 3,6 3,9 400 C. Mikrobiologi 19 E Coli MPN/100ml 1895 1481.67 1000 20 Caliform MPN/100ml 4080 2130 5000

Sumber : NBC Analisis, Laboratorium analisis kimia dan bioaktif-Bogor 2016 Sameo Biotrop services laboratory-Bogor 2016

Berdasarkan data hasil pengujian kualitas air permukaan pada hulu dan hilir rencana pembangunan Rumah sakit, terlihat bahwa keadaan atau kualitas air  permukaan disekitar lokasi pembangunan buruk, baik ditinjau dari segi fisika,

kimia dan mikrobiologi. 2.2.1.5 Kualitas Tanah

Pembangunan Rumah sakit bertaraf Internasional di Meruya Selatan, Jakarta Barat menyebabkan alih fungsi tanah/lahan, yang sebelumnya lahan ditumbuhi oleh tanaman-tanaman liar, dengan adanya pembangunan rumah sakit ini maka lahan tersebut tidak dapat lagi difungsikan sebagai lahan produktif yang sebelumnya dapat ditumbuhi berbagai jenis tanaman liar, sehingga tanah menjadi suatu komponen yang perlu diperhatikan.Walaupun pada prakteknya tanah di

(22)

sekitar lokasi diperkirakan tidak akan mengalami dampak yang signifikan, tetapi  pengujian terhadap kualitas tanah tetap dilakukan. Tabel 2.5 berikut adalah hasil  pengujian tanah yang telah dilakukan.

Tabel 2.5 Hasil Pengukuran Kualitas Tanah

 No. Parameter Satuan Hasil Pengujian

1 pH H2O - 6.7 2 pH CaCl2 - 5.9 3 C-Organik % 5.95 4 N-Total % 3.1 5 Ratio C/N - 8.5 6 P-Tersedia ppm 7.71

7 Ca-dapat tukar Cmol/kg 0.45

8 Mg-dapat tukar Cmol/kg 0.98

9 K-dapat tukar Cmol/kg 1.3

10 Na-dapat tukar Cmol/kg 1.1

12 KB % 2.3

13 H+ Me/100g 4.7

Sumber : NBC Analisis, Laboratorium analisis kimia dan bioaktif-Bogor 2016 Sameo Biotrop services laboratory-Bogor 2016

Dari hasil pengukuran, terlihat bahwa kualitas tanah di sekitar area  pembangunan Rumah Sakit cukup subur untuk ditanami berbagai macam tumbuhan seperti padi, jagung dan aneka buah-buahan lainnya, dengan kondisi tanah yang baik ini maka di sekitar rumah sakit dapat ditanami berbagai tumbuhan untuk mengurangi pencemaran yang terjadi.

2.2.2 Komponen Biologi 2.2.2.1 Flora Darat

Rencana pembangunan Rumah Sakit di Meruya Selatan, Jakarta Barat terletak pada lahan subur warga yang terbengkalai. Oleh karena itu, hal tersebut dapat merubah vegetasi/jenis flora darat yang berada di lahan tempat  pembangunan Rumah sakit. Berdasarkan survey kondisi flora darat yang ada di

(23)

sekitar lahan tempat pembangunan Rumah sakit ditemukan berbagai jenis flora yang berfungsi sebagai penghijaun, flora budidaya, flora semak dan rerumputan. Dalam suatu ekosistem flora/vegetasi berfungsi sebagai penyerap CO2, logam  berat, peredam kebisingan, penahan erosi, penyimpan air, penahan erosi,  pembersih udara (penghasil O2) dan dapat memperindah lingkungan. Untuk lebih  jelasnya kondisi flora darat yang terdapat pada lokasi kegiatan pembangunan

Rumah Sakit dapat dilihat pada tabel 2.6 berikut.

Tabel 2.6 Kondisi Flora di Sekitar Lokasi Pembangunan Rumah Sakit

No. Jenis Flora/Vegetasi Lokasi

Luar Lahan Dalam Lahan

1 Anggrek Bulan v v

2 Pohon Kosambi v v

3 Belimbing Dewa v v

4 Jambu Bol Harman v

5 Sukun v

2.2.2.2 Ekosistem Sungai

Lokasi pembangunan Rumah Sakit memiliki jarak yang cukup jauh dari Sungai Cisadane. Ekosistem sungai terdiri dari flora dan fauna, ikan menjadi fauna yang mendominasi ekosistem sungai. Namun, Sungai Cisadane ini sudah tercemar akibat ulah manusia, sehingga tidak banyak flora dan fauna yang dapat ditemukan di Sungai Cisadane tersebut.

2.3 Demografi

2.3.1 Jumlah dan Kepadatan Penduduk

Lokasi rencana pembangunan Rumah Sakit yang berada di Meruya Selatan, Jakarta Barat berkaitan dengan jumlah penduduk di daerah tersebut, hal ini  berkaitan dengan ketersediaan sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA). Kepadatan penduduk di KotaJakarta Barat dapat dilihat pada tabel  berikut:

(24)

Tabel 2.7 Jumlah dan Kepadatan Penduduk di Kota Jakarta Barat No Kecamatan Jumlah Penduduk (Jiwa) Kepadatan Penduduk (Jiwa/km2) 1 Kembangan 237799 9834 2 Kebon Jeruk 300811 16730 3 Palmerah 211544 28168 4 Grogol Petamburan 228832 22906 5 Tambora 263321 48763 6 Taman Sari 132630 17158 7 Cengkareng 445426 16783 8 Kalideres 351649 11632 Jakarta Barat 2172012 16767

Sumber: Kota Jakarta Barat Dalam Angka 2013

Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa kepadatan penduduk di Kecamatan Kembangan (letak Kelurahan Meruya Selatan) adalah kecamatan di Jakarta Barat dengan kepadatan penduduk paling kecil, sehingga ketersediaan sumber daya alam yang berupa lahan dapat dimanfaatkan sebagai tempat/lokasi  pembangunan Rumah Sakit.

2.3.2 Komposisi Penduduk Berdasarkan Usia Sekolah

Tingkat pendidikan masyarakat dapat memengaruhi cara berfikir dan juga menentukan tingkat penerapan adopsi ditengah masyarakat. Selain itu, tingkat  pendidikan juga memengaruhi respon serta tanggapan masyarakat terhadap suatu yang baru, seperti proyek pembangungan Rumah Sakit. Berikut adalah jumlah  penduduk berdasarkan usia sekolah:

Tabel 2.8 Jumlah Penduduk Usia Sekolah

No Kelompok Umur Jumlah

1 5-9 185821

2 10-14 162568

3 15-19 197 124

(25)

2.3.3 Komposisi Penduduk Berdasarkan Agama

Sebagian besar penduduk di Jakarta Barat khususnya di Kecamatan Kembangan umumnya beragama Islam. Selain agama Islam terdapat juga sebagian kecil yang beragama hindu dan budha. Tabel 2.9 berikut adalah komposisi penduduk di Jakarta Barat berdasarkan keyakinan (Agama).

Tabel 2.9 Komposisi Masyarakat Berdasarkan Agama

Kecamata n

Jumlah Pemeluk Agama Islam Kriste n Katoli k Hind u Budha Khon g Hu Chu Lainny a Kembangan 223233 23978 17868 500 5890 137 14 Kebon Jeruk 272207 28608 18530 491 12426 356 51 Palmerah 176779 11658 6575 489 2953 82 17 Grogol Petamburan 141110 30422 19335 378 30017 514 109 Tambora 161780 18924 6307 105 49029 537 19 Taman Sari 71406 14923 5851 92 16941 140 35 Cengkareng 428235 43882 16341 485 23146 421 29 Kali Deres 328862 32717 12874 252 19889 271 23 Jumlah 180361 2 205112 103681 2792 16029 1 2458 297

Sumber : BPS Kodya Jakarta Barat, 2010

Islam menjadi agama yang dominan di Kecamatan Kembangan. Keseragaman atau kesamaan keyakinan ini bisa menjadi suatu nilai positif, karena dengan adanya kesamaan ini dapat meminimalisir terjadinya keresahan masyarakat yang berladaskan keyakinan, atau isu-isu masyarakat yang mengatasnamakan agama, sehingga masyarakat di daerah tersebut akan lebih mudah dikontrol.

(26)

Pertumbuhan penduduk pada suatu daerah dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti kelahiran, kematian dan perpindahan penduduk (imigrasi maupun emigrasi). Tabel 2.10 berikut adalah pertumbuhan penduduk di Jakarta Barat selama 4 tahun.

Tabel 2.10 Angka pertumbuhan penduduk Kabupaten Lombok Utara selama 4 Tahun

Tahun 2010 2011 2012 2013

Jumlah Penduduk (Jiwa) 2634906 2640145 2738033 2832515

Sumber : BPS Kodya Jakarta Barat, 2010

Tabel diatas menunjukkan bahwa pertumbuhan penduduk di Jakarta Barat tinggi, hal ini disebabkan karena Jakarta Barat merupakan perkotaan yang maju yang menjadi destinasi masyarakat untuk mencari pekerjaan. Dengan adanya  pembangunan Rumah Sakit diperkirakan akan membantu Jakarta Barat menjadi

kota madya yang lebih maju lagi. 2.4 Sosial Budaya dan Ekonomi

2.4.1 Kesempatan Kerja dan Pendapatan Masyarakat

Kecamatan Kembangan merupakan pusat pemerintahan dari Kota Administrasi Jakarta Barat. Pada kecamatan ini juga terdapat pusat-pusat  perbelanjaan, sekolah-sekolah dan dilewati jalan tol. Kesempatan kerja terbuka cukup luas karena banyaknya lapangan yang tersedia. Profesi masyarakat di Kecamatan Kembangan sangat beragam.

Rencana pembangunan Rumah Sakit di Kecamatan Kembangan diyakini akan memberikan kesempatan untuk bekerja bagi masyarakat di Jakarta Barat. Peluang masyarakat setempat untuk memulai usaha baru juga bisa meningkat dengan adanya pembangunan Rumah Sakit. Untuk masyarakat yang berada pada usia sekolah juga dapat memiliki peluang untuk mendapat pekerjaan di masa depan.

2.4.2 Sikap dan Persepsi Masyarakat

Rencana pembangunan Rumah Sakit di Kecamatan Kembangan sudah diketahui secara luas oleh masyarakat setempat, dan pihak pemrakarsa juga telah

(27)

melakukan sosialisasi tentang rencana ini baik melalui media cetak maupun secara langsung kepada masyarakat sekitar lokasi pembangunan rumah sakit.

Dari hasil wawancara, secara umum sikap masyarakat tidak keberatan dengan adanya kegiatan pembangunan Rumah Sakit. Masyarakat setempat menyadari bahwa pembangunan Rumah Sakit didaerah mereka merupakan suatu usaha untuk meningkatkan kesejahteraan serta pelayanan publik kepada masyarakat, yang secara tidak langsung akan meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat.

 Namun demikian, masyarakat mengajukan harapan-harapan terkait rencana kegiatan ini (pembangunan Rumah Sakit) yang harus diperhatikan oleh  pihak pemrakarsa agar kegiatan bisa berlangsung dengan lancar.

Harapan-harapan tersebut diantaranya :

1. Pemrakarsa harus melakukan pembebasan lahan dengan harga yang pantas sesuai dengan hasil musyawarah dengan para pemilik lahan.

2. Pemrakarsa mengakomodir tenaga kerja lokal dari masyarakat sekitar. 3. Pihak pemrakarsa dalam pembangunan dan pengoprasian nantinya lebih

 berhati-hati sehingga tidak menimbulkan kecelakaan.

4. Aksesibilitas dan mobilitas kegiatan pembangunan tidak mengganggu kenyamanan dan keamanan masyarakat sekitar, seandainya kegiatan tersebut merusak fasilitas umum lainnya, maka pemrakarsa harus menggantinya.

5. Pengolahan limbah harus dilakukan dengan sebaik-baiknya sehingga tidak mencemari lingkungan sekitar.

Mengingat hal-hal tersebut, maka sosialisasi dan musyawarah terutama kepada masyarakat sekitar harus terus dilakukan, sehingga sikap dan persepsi masyarakat akan lebih mendukung keberadaan Rumah Sakit.

2.5 Kesehatan Masyarakat

Status derajat kesehatan masyarakat diantaranya dapat tergambar dari pola  penyebaran dan distribusi penyakit, hal tersebut dapat dilihat dari distribusi jenis dan jumlah penyakit pada 10 penyakit terbesar yang direkam medik/dicatat di unit  pelayanan kesehatan utama seperti puskesmas. Tersedianya fasilitas umum

(28)

dibidang kesehatan juga sangat berpengaruh pada tingkat kesehatan masyarakat,  berikut adalah fasilitas kesehatan yang tersedia di Jakarta Barat:

Tabel 2.11 Jumlah Fasilitas Kesehatan di di Kota Jakarta Barat

No Kecamatan Rumah Sakit Rumah Bersalin Pusat Kesehatan Masyarakat 1 Kembangan 1 4 9 2 Kebon Jeruk 6 3 8 3 Palmerah 6 3 10 4 Grogol Petamburan 6 4 10 5 Tambora 1 4 9 6 Taman Sari - 1 6 7 Cengkareng 2 4 11 8 Kalideres 1 3 12 Jakarta Barat 23 26 75

Sumber: Kota Jakarta Barat Dalam Angka 2013

Dari tabel diatas, terlihat bahwa Rumah Sakit di Kecamatan Kembangan masih dibawah jumlah rata-rata Rumah Sakit yang dimiliki kecamatan lainnya. Hal ini secara tidak langsung akan memengaruhi tingkat kesehatan masyarakat sekitar. Diharapkan dengan adanya pembangunan Rumah Sakit di Kecamatan Kembangan, pelayanan publik di bidang kesehatan di Kota Jakarta Barat dapat ditingkatkan.

2.6 Lingkup Wilayah Studi 2.6.1 Batas Administratif

Batas wilayah proyek pembangunan proyek adalah ruang dimana kegiatan  pembangunan rumah sakit dan operasionalnya akan dilangsungkan. Rencana lokasi kegiatan pembangunan Rumah Sakit secara administratif terletak di Kelurahan Meruya Selatan, Kecamatan Kembangan. Batas administratif Kelurahan Meruya Selatan adalah:

 Sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Meruya Utara  Sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Joglo

(29)

 Sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Srengseng

2.6.2 Batas Sosial

Penentuan Batas sosial pada kegiatan AMDAL ini dengan memperhatikan intensitas, luas persebaran dampak dan antisipasi perubahan sosial akibat kegiatan  pembangunan Rumah Sakit yang diperkirakan akan timbul terhadap komponen sosial dengan mempertimbangkan keberadaan masyarakat yang berada disekitar  proyek pembangunan.

2.6.3 Batas Ekologis

Batas Ekologis adalah ruang persebaran dampak dari kegiatan  pembangunan proyek dan operasionalnya menurut transportasi limbah cair, padat, difusi atau pergerakan limbah. Termasuk dalam ruang ini adalah ruang sekitar rencana usaha atau kegiatan yang secara ekologis terkena dampak dari proyek  pembangunan Rumah Sakit ini.

2.6.4 Batas Wilayah Studi

Batas wilayah studi yang dilakukan yaitu mengenai batas perkiraan dampak yang akan ditimbulkan oleh adanya pembangunan Rumah Sakit, hal ini  berkaitan dengan sejauh mana pengaruh dampak yang ditimbulkan baik berupa

dampak dari segi ekologi, sosial budaya, kesehatan, ekonomi dll, sehingga batas study menjadi lebih spesifik dan jelas.

2.6.5 Batas Proyek

Batas proyek merupakan lokasi di mana seluruh komponen rencana kegiatan akan dilakukan, terutama komponen yang menjadi sumber dampak. Batas proyek ditetapkan berdasarkan batas kepemilikan lahan yang dimiliki oleh  pemrakarsa.

(30)

BAB III Metode Studi

3.1 Metode Pengumpulan dan Analisis Data

Sebagai dasar penyusunan Analisis Dampak Lingkungan, dilakukan  pengumpulan data primer dan sekunder. Metode pengumpulan data primer yang

diambil di antaranya adalah :

1. Hasil observasi secara langsung dilapangan 2. Hasil wawancara dengan pemrakarsa proyek

3. Hasil wawancara dengan penduduk dan tokoh masyarakat

4. Hasil pengambilan sampel di lapangan dan analisis laboratorium

Sedangkan metode pengambilan data sekunder yang diambil diantaranya adalah : 1. Studi Pustaka

2. Studi perbandingan dengan proyek sejenis 3. Data-data dari instansi terkait

4. Studi literature

3.1.1 Komponen Geo Fisik Kimia 3.1.1.1 Kualitas Udara dan kebisingan

Untuk mengetahui kualitas udara yang terdapat di sekitar lokasi, dilakukan suatu pengukuran berbagai jenis pencemar udara. Parameter udara yang diukur adalah kecepatan angin, suhu, kelembaban, cuaca, SO2, NO2, NH3, H2S, Debu, Pb,

dan CO. Berikut akan dijabarkan mengenai metode yang digunakan beserta  peralatan yang digunakan dalam mengukur kualitas udara. Parameter kualitas

udara yang telah diukur, selanjutnya dianalisis di laboratorium dan hasilnya akan dibandingkan dengan baku mutu udara ambien nasional yang tercantum di dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Untuk intensitas bising akan dibandingkan

(31)

dengan baku mutu tingkat kebisingan menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 48/MENLH/11/1996. Parameter dan metoda pengukuran kualitas udara dapat dilihat pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1 Parameter dan Metoda Pengukuran Kualitas Udara

No Parameter Metoda Peralatan

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Kecepatan angin Suhu Kelembaban Cuaca Gas SO2 Gas NOX Gas NO2 Gas CO Gas CO2 Gas H2S Gas NH3 Debu < 100  Debu < 10  Pb Gas O3 Kebisingan Pengukuran langsung Pengukuran langsung Pengukuran langsung Pengukuran langsung Pararosanilin Saltzman Saltzman  NDIR  NDIR Mercury Thiocianate Indofenol-spectrofotmetri Gravimetrik Gravimetrik Gravimetrik AAS  NBKI-spectrofotmetri Sound Level Meter

anemometer termometer sling psychrometer -Gas Sampler Gas Sampler Gas Sampler  NDIR Analizer  NDIR Analizer Gas Sampler Gas Sampler

High Volume Dust Sampler Low Volume Sampler

High Volume Sampler Gas Sampler

Sound Level Meter

Penentuan lokasi titik sampel pengamatan kualitas udara didasarkan pada:

 Hubungan kegiatan dengan lokasi sekitarnya.

 Kemungkinan penyebaran limbah gas ke lokasi terdekat terutama

 permukiman sesuai dengan arah angin dominan. 3.1.2 Hidrologi

(32)

Komponen hidrologi yang dianalisis meliputi kualitas dan kuantitas air  permukaan serta kondisi fisik dan kualitas air tanah.

3.1.2.1 Air Tanah

Pengamatan kondisi air tanah dilakukan terhadap sumur gali. Data diperoleh dari hasil data sekunder. Pengambilan sampel air tanah dilakukan pada sumur penduduk di tapak proyek dan sekitarnya. Analisis kualitas air tanah dangkal dilakukan dengan metoda seperti pada Tabel 3.2. Parameter kualitas air tanah tersebut dibandingkan dengan baku mutu.

3.1.2.3 Air Permukaan

Parameter kualitas air yang diukur meliputi fisik, kimia dan biologi air  berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No.82 Tahun 2001 tentang Pengendalian Pencemaran Air untuk menentukan status mutu air bagi peruntukan tertentu dan  baku mutu yang dikeluarkan oleh Menteri Kesehatan RI (Tabel 3.3). Contoh air diambil dengan menggunakan "botol sampler". Penentuan lokasi titik sampel air didasarkan pada lokasi sumber air baik air permukaan maupun air tanah yang akan digunakan untuk kegiatan dan operasional PLTU dan kebutuhan masyarakat setempat.

Tabel 3.2 Metoda Analisis Kualitas Air Sumur Penduduk

 No Parameter Satuan Metoda/Peralatan

1 2 3 1 2 3 4 5 6 A. FISIKA Bau

Zat padat Terlarut (TDS) Kekeruhan B. KIMIA  pH Besi (Fe) Chlorida (Cl) Mangan (Mn)  Nitrat (NO3-N)  Nitrit (NO2-N) -mg/L  NTU -mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L Pengamatan Gravimetrik/Timbangan Analitik Turbidimeter Pengukuran/pH meter Spektrofotometrik/AAS Titrimetrik/Buret Spektrofotometrik/AAS Spektrofotometrik/Spektrofotometer Spektrofotometrik/Spektrofotometer

(33)

 No Parameter Satuan Metoda/Peralatan 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Sulfat (SO4)

Zat organik (KMnO4)

Flourida (F) Kesadahan (CaCo3) Detergent Zat Organik Sisa Klor C. MIKROBIOLOGI Koli Fekal Total koli mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L MPN/100 ml MPN/100 ml Spektrofotometrik/Spektrofotometer Titrimetrik/buret Spektrofotometrik/Spektrofotometer Tritrimetri/Buret Metode MBAS Titrasi Permanganometri Titrasi Argentometri Pengenceran/tabung fermentasi Pengenceran/tabung fermentasi

Tabel 3.3 Metoda Kualitas Air Sungai

No. Parameter Satuan Metoda dan Alat Pengukuran

1. 2. 3. 4. 6. 7. 8, Fisik  Suhu Air

Zat padat tersuspensi Daya Hantar Listrik  pH

Kimia COD

BOD5(20°C)

Minyak & Lemak

°C mg/l umhos/cm -mg/l mg/l mg/l Termometer

Gravimetrik, dry weight SCT-meter

 pH meter digital

Permangometrik Winkler, Titrimetrik Ekstraksi-Soxhlet

 Keterangan : Baku mutu mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan  Republik Indonesia Nomor 92/MENKES/PER/IV/2010

Untuk mengevaluasi kualitas air sungai pada setiap titik sampling akan dibandingkan dengan baku mutu menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 92/MENKES/PER/IV/2010 Tentang Persyaratan Kualitas Air

(34)

Minum,  sedangkan untuk kualitas air tanah akan dibandingkan dengan daftar  persyaratan Kualitas Air Bersih yang terdapat di dalam Peraturan Menteri

Kesehatan RI No. 416/MENKES/PER/IX/1990 tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air.

Metoda Perhitungan:

Perhitungan Debit 

Pengukuran debit sungai sesaat dilakukan di areal proyek dan sekitarnya. Lokasi pengukuran debit air adalah sama dengan lokasi pengambilan sampel kualitas air sungai dan lokasi lainnya. Pengukuran debit dilakukan untuk memberikan gambaran umum kuantitas sungai di daerah studi. Pendekatan  persamaan empirik digunakan untuk memperkirakan debit sesaat sungai

(Sostrodarsono dan Takeda, 1993) yaitu: Q = k x A x V dimana :

Q = Debit aliran (m3/det)

A = Luas penampang sungai (m2)

V = Kecepatan aliran yang melalui penampang tersebut (m/det) k = Faktor koreksi pengukuran kecepatan aliran sungai

Luas penampang sungai ditentukan dengan cara mengukur lebar muka air dan kedalaman sungai di beberapa titik pengukuran ke arah lebar sungai. Kecepatan aliran sungai yang diukur adalah kecepatan aliran permukaan air sungai dengan menggunakan pelampung permukaan, selanjutnya dibandingkan dengan data sekunder.

3.1.3 Aspek Sosial Ekonomi Budaya 3.1.3.1 Metode Pengumpulan Data

3.1.3.1.1 Studi Kepustakaan dan Data Sekunder

Studi kepustakaan dimaksudkan untuk mengkaji teori, konsep, variabel dan parameter-parameter sosekbud yang ditelaah dalam studi ini. Disamping itu, kajian kepustakaan juga dimaksudkan untuk memperoleh data/informasi sosekbud

(35)

dari hasil penelitian para ahli. Kajian kepustakaan yang digunakan dalam studi ini terdiri atas berbagai publikasi ilmiah, baik kajian teoritis murni maupun hasil-hasil  penelitian/kajian empiris.

Studi data sekunder dimaksudkan untuk memperoleh data dan informasi yang mencakup aspek demografi, ekonomi dan kesehatan masyarakat baik pada tingkat desa, kecamatan.

Data demografi didapat dari data Pemerintah DKI Jakarta, Daerah Kota sempurna dalam angka dan berbagai studi kependudukan dan sosial ekonomi lainnya yang dipandang perlu untuk di dapat.

Data komponen budaya yang diperlukan adalah Komposisi pemeluk agama. Data ekonomi social yang dirasa perlu antara lain adalah fasilitas  perdagangan dan jasa serta fasilitas umum rekreasi keluarga. Sedangkan data kesehatan masyarakat yang diperlukan diantaranya adalah data jumlah dan jenis fasilitas kesehatan, cakupan tenaga dokter/paramedis, insidensi dan prevalensi  penyakit.

Teknik pengumpulan data sekunder dilakukan dengan menggunakan daftar isian dan check list   yang telah dipersiapkan sebelumnya. Data sekunder yang diperlukan dikumpulkan dari:

 Kantor Kecamatan Subah

 Publikasi lainnya yang terkait dengan studi ini.

1. Data Primer

Metoda pengumpulan data sosial yang digunakan adalah sebagai  berikut :

a) Wawancara terstruktur

Wawancara terstruktur merupakan metoda pengumpulan data  primer pada sejumlah responden terpilih melalui kegiatan wawancara dengan menggunakan kuesioner. Kuesioner merupakan sekumpulan  pertanyaan yang disebarkan kepada beberapa sampel masyarakat

(36)

b) Wawancara mendalam

(I ndepth interview)

Wawancara dilakukan dengan tokoh-tokoh masyarakat, baik formal maupun non formal dengan menggunakan pedoman wawancara.

c) Observasi/Pengamatan Lapangan

Observasi/pengamatan lapangan merupakan kegiatan  pengamatan terhadap obyek studi secara langsung.

2. Penarikan Sampel

Metoda penarikan sampel yang digunakan adalah metoda Stratified Random Sampling. Metoda Stratifield Random Sampling  yang digunakan adalah sebagai berikut :

 Ni  Ni = x n  N dimana : n = ukuran sampel  N = ukuran populasi i = strata ke i 3.1.3.2 Metoda Analisis

Metode analisis yang digunakan adalah analisis kualitatif. Analisis kualitatif digunakan dalam analisis sosial budaya yang meliputi parameter  persepsi dan sikap masyarakat/persepsi dan sikap tokoh-tokoh desa melalui

wawancara mendalam.

3.1.3.3 Kesehatan Masyarakat

Yang dikaji pada aspek kesehatan masyarakat adalah :

 Sanitasi/Kesehatan Lingkungan

a. Sumber air untuk dikonsumsi  b. Sumber air di luar konsumsi

Gambar

Gambar 2.1 Diagram Pengelolaan Air Limbah Rumah Sakit
Tabel 2.2 Hasil pengukuran Udara Ambien di Sekitar Wilayah Studi
Tabel 2.3 Kualitas Kebisingan di Sekitar Area Rumah Sakit Lokasi
Tabel  2.4  berikut  adalah  hasil  pengujian  kualitas  air  sungai  di  Meruya  Selatan, Jakarta Barat.
+7

Referensi

Dokumen terkait

10 SMP NEGERI 142 JL JOGLO RAYA KEMBANGAN JAKARTA BARAT 10 SMP NEGERI 206 JL.. MERUYA SELATAN, KEMBANGAN JAKARTA BARAT 10 SMP NEGERI

Perancangan arsitektur akhir ini mencoba mendesain rumah sakit umum daerah Jakarta selatan dengan pendekatan “Green Architecture” agar menjadi bangunan rumah sakit

Perancangan Rumah Sakit Umum Daerah Jakarta Selatan merupakan judul dari Tugas Akhir Arsitektur angkatan 71 Universitas Mercu Buana. Dalam melakukan perancangan,

Program Pendampingan Kewirausahaan Bagi Wirausahawan Pemula di Kelurahan Meruya Selatan, Kembangan Jakarta Barat adalah suatu gerakan pengelolaan sumberdaya manusia

Puri Indah Raya, Blok S2 Kembangan Selatan Jakarta Barat DKI Jakarta v v 021-25695222 97 RS PURI MANDIRI KEDOYA JAKARTA BARAT Jl.. Raya

Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) ini memvisualisasikan peta Kota Jakarta Selatan dimana di dalamnya tersebar titik-titik lokasi keberadaan rumah sakit

RINGKASAN DESKRIPSI RENCANA KEGIATAN LOKASI RENCANA KEGIATAN Lokasi rencana kegiatan Pembangunan RUMAH SAKIT INTERNATIONAL TATAMUR berada di Kawasan Core Batam Centre, yang secara

Akreditasi internasional penting bagi rumah sakit untuk memberikan pelayanan kesehatan berkualitas tinggi di tingkat lokal dan