MENGAMATI RAGAM GERAK TARI NUSANTARA TARI GAMBYONG

12  40  Download (0)

Teks penuh

(1)

MENGAMATI RAGAM GERAK TARI NUSANTARA TARI GAMBYONG

A. Sinopsis

1. Sejarah Tari Gambyong

Tari Gambyong adalah tari yang muncul di tanah pinggiran masyarakat Jawa tetapi istimewanya is mampu menembus wilayah sentral kerajaan Jawa. la merupakan produk kebudayaan orang dari kalangan bawah yang diangkat menjadi kebudayaannya para bangsawan Jawa. Selungga tari Gambyong yang awal mulanya berstatus sebagai tradisi kecil, maka pada perkembangannya menjadi bagian tradisi besar.

Seluk beluk tari Gambyong ini secara mendalam bisa kita telusuri dalam bukunya Sri Rochana Widyastutieningrum ( 2004 ) yang berjudul Sejarah Tari Gambyong. Dalarn buku itu Sri Rochana mengemukakan bahwa tari Gambyong mulai digunakan dalam Serat Centhini yang ditulis pada abad XVVIII. Akan tetapi diperkirakan tari Gambyong ini merupakan perkembangan tari tledhek atau tayub. Inilah yang menunjukkan bahwa tari Gambyong adalah tari yang lahir dari rahim masyarakat pinggiran. Karena tayub atau tledhek adalah cermin kebudayaan masyarakat bawah.

Tari tayub sendiri, dalam Serat Sastramirada disebutkan telah dikenal sejak zaman kerajaan Jenggala ( sekitar abad ke XII ), sedangkan tari Tledhek dikenalkan sejak zaman Demak ( abad XV ), yang disebut dengan tledhek mengamen, yang dipertunjukkan dengan iringan rebana dan kendang sastra di awali dengan vocal.

Istilah Gambyong diambil dari nama seorang penari tledhek. Penari yang bernama Gambyong ini hidup pada zaman susuhunan Paku Buawana IV di Surakarta (1788-1820). Lebih jauh menurut Sudibyo ZH, bahwa tentang adanya penari tledhek yang bernama Gambyong yang memiliki kemahiran dalam menari dan kemerduan dalam suara, sehingga menj adi puj aan kaum muda pada zaman itu.

Tari Gambyong mulai berkembang di era susuhunan Paku Buwana IX (18611893) atas jasa K.R.M.T Wreksadiningrat. Tari tersebut diperkenalkan kepada umum dan ditarikan oleh seorang Waranggana (pesinden). Karena sudah

(2)

beralih ke struktur masyarakat bangsawan, maka tari ini mengalami modifikasi yang membedakan dengan bentuknya yang semula. Gerak-gerik tari ini yang awalnya begitu kasar mulai diperhalus. Hal ini terjadi khususnya, ketika tari Gambyong muncul sebagai tari Gambyong Pareanom yang diciptakan oleh Ny Bei Montoraras pada tahun 1950. Sejak ini, tari Gambyong mengalami perubahan yang drastik seperti susunan tari, iringan tari, rias dan busananya.

Selain bentuknya yang berubah fungsinya juga mulai berubah. Pada saat bertransformasi menjadi Pareanom ini, tari Gambyong yang awalnya hanya difungsikan untuk hiburan atau tontonan, maka kemudian beralih fmgsi menjadi tari untuk menyambut tamu-tamu besar. Tari Gambyong sering ditampilkan di Mangkunegara pada zaman penjajahan Jepang, untuk menjamu para tentara Jepang yang datang di Mangkunegara.

Dalam perkembangan selanjutnya, tari Gambyong ini juga mampu merangsang lahirnya bentuk-bentuk barn tari Gambyong yang lain, yang dikonstruksi oleh penyusun tari yang berbeda-beda. Seperti ada tari Gambyong Pangkur yang disusun oleh Soemardjo Hardjoprasanto pada tahun 1962, kemudian tari Gambyong Gambirsawit yang disusun oleh S.Ngaliman pada tahun 1970, dann tari Gambyong Pancerana pada tahun 1981.

Selain gerak dan fungsinya, perkembangan tari Gambyong juga terdapat pada intensifin kegiatari masyarakat yang menampilkan tari Gambyong seperti pada acara perayaan, resepsi pernikahan, pembukaan, peresmian, penjamuan tamu dan pada kegiatan lomba dan festival. Perkembangan ini juga ditandai dengan membengkaknya jurnlah penari, karena seringkali tari Gambyong ditampilkan secara massal.

2. Ciri-ciri tari Gambyong

Bagian tubuh dibuat terbuka, bahkan kadang-kadang payudara dinaikkan sehingga tampak montok dengan sebutan glathik mungup (lekukan payudara, tampak seperti burung gelathik muncul). Perkembangan busana tari Gambyong yang beragam saat ini lebih terkesan dekoratif dan kurang memperhatikan kesesuaian tari. Meskipun demikian, perkembangan busana itu tetap membuat penyajian tari Gambyong semakin beragam dan menarik. Penyajian tari Gambyong akan dapat mencapai nilai estetis apabila dilakukan oleh penari yang

(3)

memiliki dasar tari yang kuat. Kemantapan sajian tari dari seorang penari dipengaruhi oleh latar belakang budaya yang membentuk diri penari, di samping faktor kebiasaan dan kematangan.

Selain sebagai hiburan, tari ini juga ditarikan untuk menyambut tamu dalam upacara peringatan hari besar dan perkawinan. Adapun ciri-ciri ini yaitu jumlah penari seorang putri atau lebih. Tari Gambyong dapat ditampilkan oleh seorang penari putri, tapi juga dapat ditampilkan beberapa penari, bahkan tari Gambyong juga dapat ditampilkan secara massal. Busana yang dipakai oleh penari Gambyong yaitu tanpa baju melainkan angkinan atau kembenan yang menjadikan lekuk-lekuk tubuh penari tamapak terbentuk. Selain itu juga menggunakan kain yang dilipat, maka pada saat berjalan atau bergerak lipatan kain itu akan menutup serta kelihatan hidup sehingga dapat memperkuat impersif kenesnya. Para penari Gambyong juga harus menggunakan sanggul atau gelung. Hal ini karena sanggul merupakan salah satu aksesoris bagi wanita Jawa. Dengan menggunakan sanggul tersebut, maka penari Gambyong akan lebih dapat memperlihatkan khas Jawanya. Dalam tari Gambyong juga dapat diiringi dengan sindenan (menyanyi) atau tidak.

B. Keunikan Tari Gambyong

Koreografi tari Gambyong sebagian besar berpusat pada penggunaan gerak kaki, tubuh, lengan, dan kepala. Gerak kepala dan tangan yang halus dan terkendali merupakan spesifikasi dalam tari Gambyong. Arah pandangan mata yang bergerak mengikuti arah gerak tangan dengan memandang jari jari tangan menjadikan faktor dominan gerak tangan dalam ekspresi Gambyong. Hal ini dapat diamati pada gerak ukel (memutar pergelangan tangan) sebagai format gerak.

Gerak kaki pada saat sikap berdiri dan berjalan mempunyai korelasi yang harmonis. Sebagai contoh, pada gerak srisig (berdiri dengan jinjit dan langkah kecil-kecil), nacah miring (kaki kiri bergerak ke samping, bergantian atau disusul kaki kanan diletakkan didepan kaki kiri), kengser (gerak kaki ke samping dengan cara bergeser/posisi telapak kaki tetap merapat ke lantai). Gerak kaki yang spesifik pada tari Gambyong adalah gerak embat atau entrag, yaitu posisi lutut yang membuka karena mendhak (merendah) bergerak ke bawah dan ke atas.

(4)

Penggarapan pola lantai pada tari Gambyong dilakukan pada peralihan rangkaian gerak, yaitu pada saat transisi rangkaian gerak satu dengan gerak berikutnya. Sedangkan perpindahan posisi penari biasanya pada gerak penghubung, yaitu srisig, singget ukel karna, kengser dan nacah miring. Selain itu dilakukan pada rangkaian gerak berjalan (sekaran mlaku) ataupun gerak di tempat (sekaran mandheg).

Tari Gambyong sebagai tarian wanita mempunyai regulasi-regulasi dalam implementasi geraknya sehingga prevasi geraknya tampak dibatasi. Hal ini dilakukan agar sifat kewanitaan yang halos dapat dipertahankan atau ditonjolkan. Dalam tarian wanita jarang ditemukan luapan emosi, tetapi harus selalu lembut, halos dan sopan. Sifat wanita yang ideal dan luhur ini selalu dihormati dengan ungkapan seni yang halos. Oleh karena itu, tidak ada gerak lengan yang lebih tinggi dari bahu, tidak pernah ada gerak meloncat, dan kedua papa selalu rapat. Bentuk badan wanita yang halos dan kelenturan anggota badannya menyempurnakan garis-garis kewanitaan menjadi sangat indah. Ini dapat tercapai dengan naluri dan budi pekerti yang halus.

Perkembangan tari Gambyong tidak terlepas dari nilai estetis yang mengungkapkan keluwesan, kelembutan, dan kelincahan wanita. Nilai estetis ini terdapat pada keharmonisan dan keselarasari antara gerak dan ritme, khususnya antara gerak dan irama kendang. Sinergitas antara gerak dan ritme ini menjadikan tari Gambyong tampil lebih sigrak (tangkas). Nilai estetika tari Gambyong akan muncul apabila penarinya juga. menjiwai dan mampu mengekspresikan dengan perfek sehingga muncul ungkapan tari yang erotis-sensual.

Busana dan rias pada tari Gambyong mempunyai peran yang mendukung ekspresi tari dan faktor penting untuk suksesnya penyajian. Bentuk rias corrective make up yang menghasilkan wajah cantik dan tampak alami, menarik untuk dilihat.

Sementara itu, busana tari Gambyong yang disebut angkinan atau kembenan menjadikan lekuk-lekuk tubuh penari tampak terbentuk. Dengan demikian, bagian-bagian tubuh yang digerakkan kelihatan jelas sehingga gerak seperti ogek lambung yang bervolume kecil dapat tampak lebih jelas. Bentuk busana ini memungkinkan juga memberikan keleluasaan gerak sesuai dengan manifestasi dan kelincahan tari Gambyong. Dengan penggunaan kain yang dilipat, maka pada saat berjalan atau bergerak, lipatan kain itu akan membuka dan menutup serta kelihatan hidup sehingga

(5)

dapat memperkuat impresif kenesnya. Maka, busana yang dianggap sesuai dengan ekspresi tari Gambyong adalah busana angkinan dengan gelung gedhe.

C. Nilai Estetika Tari Gambyong

Komunitas awam apalagi seniman tentu mengenal tari Gambyong. Suatu tarian yang disajikan untuk penyambutan tamu atau mengawali suatu resepsi perkawinan. Biasanya penarinya rata-rata masih muda dan parasnya cantik. Sebagai suatu bentuk performance art, tarian Gambyong menjadikan santapan estetis tersendiri bagi siapa saja yang menyaksikan.

Tari Gambyong memiliki daya tarik yang sangat kuat karena estetika gerak-geraknya yang bersifat erotis. Motif-motif gerak-geraknya merupakan gerak-gerak nonpresentatif (tari wadhag) atau gerak-gerak yang sangat distilisasi sehingga tan tersebut mempunyai teba tafsir yang lebih luas bagi penonton atau penikmat. Selain itu, motif-motif gerak yang bervariasi dengan tempo gerak yang cepat serta cekatan menjadikan tari Gambyong lebih dinamis. Juga karena spesifiknya motif-motif gerak tarinya yang disebabkan oleh tuntunan untuk dapat menimbulkan kesan erotis menjadikan penyajian tari Gambyong menarik untuk dinikmati para penonton atau penikmat.

Hal yang menyebabkan tari Gambyong bisa berkembang pesat dan diminati oleh masyarakat luas diantaranya adalah dalam bentuk estetis tari ini yang menarik. la mengandung unsur-unsur ketrampilan, keluwesan, kekenesan dan kelincahan seorang wanita. Geraknya lincah dan cenderung erotis. Nilai estetis ini terdapat pada keharmonisan dan keselarasan antara gerak dan ritme, khususnya antara gerak dan irama kendang. Estetisme tari Gambyong akan muncul apabila penarinya menjiwai dan mampu mengekspresikan dengan sempurna, sehingga melahirkan gerak tari yang sensual dann erotis. Untuk mencapai ungkapan itu, maka dibutuhlcan para penari yang memenuhi satndart jooged Mataram dan Hasta Swanda. Dengan demikian diduga kuat, ungkapan sensual-erotis Tari Gambyong inilah yang menjadi daya tarik di masyarakat Jawa sehingga mudah berkembang. Selain itu juga dipengaruhi oleh sifat-sifatnya yang njawani, fleksibel dan kondisional.

Koreografi tari Gambyong sebagian besar berpusat pada penggunaan gerak kaki, tubuh, lengan, dan kepala. Gerak kepala dan tangan yang halus dan terkendali merupakan spesifikasi dalam tari--Gambyong. Arah pandangan mata yang bergerak

(6)

mengikuti arah gerak tangan dengan memandang j ari j ari tangan menj adi faktor dominan gerak tangan dalam ekspresi Gambyong. Hal ini dapat diamati pada gerak ukel asta (memutar pergelangan tangan) sebagai format gerak.

Gerak kaki pada saat sikap berdiri dan berjalan mempunyai korelasi yang harmonis. Sebagai contoh, pada gerak srisig (berdiri dengan jinjit dan langkah kecil--kecil), nacah miring (kaki kiri bergerak ke samping, bergantian atau disusul kaki kanan diletakkan di depan kaki kiri), kengser (gerak kaki ke samping dengan cara bergerser/posisi telapak kaki tetap merapat ke lantai). Gerak kaki yang spesifik pada tari Gambyong adalah gerak embat atau entrag, yaitu posisi lutut yang membuka karena mendhak (merendah) bergerak ke bawah dan ke atas.

Penggarapan pola lantai pada tari Gambyong dilakukan pada peralihan rangkaian gerak, yaitu pada saat transisi rangkaian gerak satu dengan rangkaian gerak berikutnya. Sedangkan perpindahan posisi penari biasanya dilakukan pada gerak penghubung, yaitu srisig, singget ukel karma, kengser, dan nacah miring. Selain itu dilakukan pada rangkaian gerak berjalan (sekaran mlaku) ataupun gerak di tempat (sekaran mandheg).

D. Kesimpulan

Berdasarkan hal tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa Tari Gambyong diambil dari nama seorang penari tledek yang hidup pada zaman Sunan Paku Buana IV di Surakarta (1788 - 1820) yang memiliki kemahiran dalam menari dan kemerduan dalarn suara. Karakteristik dari Tari Gambyong bisa dilihat dari segi pakaian yang mengikuti adat Jawa, iringan tari (musik), dan tata rias.

Selain mempunyai karakteristik adat Jawa, tari Gambyong mempunyai keunikan yang dimulai dari koreografi yang sebagian besar berpusat pada penggunaan gerak kaki, tubuh lengan, dan kepala. Gerak badan dan tangan yang halus dan terkendali. Arah pandangan mata mengikuti arah gerak tangan. Gerak kaki pada saat sikap berdiri dan berjalan mempunyai korelasi yang harmonis.

(7)

Gerakan Tari Gambyong Nyekithing

Ngrayung

(8)

Menthang

Embat

(9)

Debeg

(10)

Srisig

Tanjak

(11)
(12)

MENGAMATI RAGAM GERAK TARI NUSANTARA

TARI GAMBYONG

Disusun oleh:

Desta Aji P

SMK PELITA

SALATIGA

2017

Figur

Memperbarui...

Referensi

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di