• Tidak ada hasil yang ditemukan

TARI TRADISIONAL UNTUK RESPON JANTUNG. Akhmad Olih Solihin Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi STKIP Pasundan Cimahi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TARI TRADISIONAL UNTUK RESPON JANTUNG. Akhmad Olih Solihin Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi STKIP Pasundan Cimahi"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

TARI TRADISIONAL UNTUK RESPON JANTUNG

Akhmad Olih Solihin

Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi STKIP Pasundan Cimahi email: [email protected]

Abstrak

Tujuan dari penelitian ini yaitu ingin mengetahui dan membuktikan bahwa intensitas tari tradisional dapat merespon jantung dan membuat jantung berdetak lebih cepat setelah melakukan tari jaipong dan tari merak. Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif kualitatif yang memaparkan beberapa teori dasar tentang tari tradisional yang berhubungan dengan respon jantung. Subjek yang digunakan yaitu anggota sanggar seni tari hanacaraka. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tari tradisional dapat merespon jantung dengan baik. Tingkat intensitas tari jaipong dan tari merak itu termasuk kedalam kategori sedang, karena dalam hitungan skala intensitas, hasil yang didapatkan dalam penelitian ini berada dalam kategori sedang.

Kata kunci: intensitas, tari tradisional, denyut jantung

TRADITIONAL DANCE FOR HEART RESPONSE

Akhmad Olih Solihin

Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi STKIP Pasundan Cimahi email: [email protected]

Abstract

The purpose of this study is to know and prove that the intensity of traditional dance can respond to the heart and make the heart beat faster after performing jaipong dance and peacock dance. This research is descriptive qualitative which presents several basic theories about traditional dance related to heart response. The subjects used are members of the Hanacaraka dance studio. Data collection techniques are carried out by interview and observation. The results of the study show that traditional dance can respond to the heart well. The intensity level of jaipong dance and peacock dance is included in the medium category, because on a matter of intensity scale, the results obtained in this study are in the medium category.

Keywords: PSI (personalized system intraction) learning model, audio-based learning media, learning styles, lay up shoot skills

(2)

Pendahuluan

Sejak bayi, kanak-kanak hingga dewasa, perkembangan gerak sangat mempengaruhi perkembangan secara keseluruhan baik fisik, intelektual, sosial dan emosional. Sementara itu, kemajuan teknologi membawa dampak perubahan sikap manusia dari banyak gerak kepada sikap diam atau sedikit gerak. Pola atau gaya hidup diwaktu muda memberi kontribusi cukup besar terhadap kualitas kesehatan di usia lanjut (Risal & Ferianto, 2013). Kurangnya gerak menyebabkan terjadinya gangguan proses metabolisme tubuh sehingga terjadi penurunan kese-garan jasmani, kesehatan, keterampilan dan bahkan mempengaruhi kapasitas, kreatifitas dan kecerdasan yang pada gilirannya akan menimbulkan penyakit hipokinetik, yaitu penyakit yang timbul karena kurang gerak seperti jantung koroner, hipertensi, obesitas, kecemasan dan depresi, lower back pain, persendian dan tulang (Risal & Ferianto, 2013).

Dengan kemajuan IPTEK saat ini dapat mempengaruhi menurunnya tingkat kesegaran jasmani seseorang. Pergeseran pola hidup dari banyak pekerjaan yang dilakukan dengan dinamis menjadi jarang dilakukan disinyalir sebagai penyebab menurunnya tingkat kesegaran jasmani seseorang karena kemajuan IPTEK (Irianto, 2004).

Kesegaran jasmani yang tinggi diperlukan oleh semua orang, termasuk anak usia sekolah mulai taman kanak- kanak, sekolah lanjutan tingkat atas bahkan perguruan tinggi, karena dengan memiliki kesegaran jasmani yang tinggi

maka seseorang mampu melakukan

aktivitas sehari- hari dengan waktu yang lama dibandingkan dengan orang yang memiliki kesegaran jasmani yang lebih rendah. Majunya dunia teknologi sekarang ini bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi seseorang malas untuk melakukan aktivitas fisik ataupun serangkaian olahraga. Selain itu, gaya

hidup duduk terus-menerus juga

mendukung terjadinya gejala kurang bergerak dan akan berpotensi terhadap munculnya berbagai penyakit.

Salah satu penyakit jantung yang sering menyebabkan kematian adalah penyakit jantung koroner. Penyakit jantung koroner terjadi jika pembuluh darah dalam jantung yang bertanggung jawab mengalirkan darah ke seluruh bagian jantung mengalami penyempitan. Penyakit jantung koroner yang disebabkan oleh kurang gerak atau kurang aktivitas fisik dan kegemukan, dapat dicegah dengan berolahraga. Penyakit kurang gerak atau yang kita kenal dengan hypocinetik deseases memacu tubuh kita untuk menimbun lemak yang tidak berfungsi di dalam tubuh kita dan khususnya di jantung. Sehingga akan mempersempit pembuluh darah sebagai jalur transportasi yaitu mengalirkan sari-sari makanan dan oksigen (Mulyaningsih, 2008).

Selain itu, kebanyakan orang sekarang alih-alih menyisihkan waktu buat berolahraga, gerak badan asalan saja pun kebanyakan tak punya waktu. Bahkan, sering-sering (harus atau terpaksa) kurang tidur, wajib bangun dini hari, tak sempat tidur siang, lama-lama fisik terperas dimakan bobot pekerjaan. Melihat status kesehatan rata-rata orang sekarang seperti itu, sosok tubuh berada dalam posisi yang diperlemah terus. Aliran darah yang tidak lancar akibat kurang gerak (Nadesul, 2008).

Setelah membaca dan mempelajari mengenai jantung dan pola gerak manusia terhadap jantung, peneliti menjadi penasaran apakah ada kegiatan lain yang dapat memicu jantung selain olahraga dan apakah ada kegiatan lain selain olahraga yang dapat membuat kita tidak malas untuk bergerak karena di masyarakat

masih banyak yang malas untuk

berolahraga.

Jantung adalah organ berupa otot, berbentuk kerucut, berongga dan dengan basisnya di atas dan puncaknya di bawah,

(3)

apexnya (puncak) miring ke sebelah kiri (Pearce, 2007). Jantung mempunyai dua bagian, yaitu bagian kanan dan bagian kiri. Setiap bagian jantung mempunyai ruang atas yang bernama atrium yang fungsinya untuk mengumpulkan darah dan ruang di bagian bawah bernama ventrikel yang fungsinya untuk mengeluarkan darah (LIPI, 2009). Jantung memiliki beberapa katup yang berfungsi sebagai jalan keluar masuk darah yang hanya bisa mengalir pada satu arah.

Jantung memiliki fungsi utama yaitu memberikan oksigen untuk seluruh tubuh dari karbondioksida. Agar jantung dapat memaksimalkan fungsi tersebut, dengan cara mengumpulkan darah diseluruh tubuh yang kurang akan oksigen dan dipompa ke dalam paru–paru untuk disebarkan ke seluruh tubuh dan akan membuang karbondioksida. Selanjutnya jantung mengumpulkan darah dari paru–paru yang

banyak mengandung oksigen dan

memompanya untuk disebarkan keseluruh jaringan tubuh.

Cara kerja jantung dalam tubuh kita yaitu dimana jantung akan bekerja memompa darah yang melewati suatu mekanisme dengan berulang–ulang secara terus - menerus yang biasa disebut dengan siklus jantung atau bisa juga disebut denyut jantung. Saat bekerja, jantung akan mengalami dua periode yaitu ketika jantung berkontraksi dan memompa darah yang disebut sistole dan ketika ruang jantung berelaksasi dan terisi oleh darah yang disebut diastole. Atrium kanan dan atrium kiri akan berkontraksi dan mengendor dengan bersamaan, begitu juga ventrikel kanan dan ventrikel kiri berkontraksi dan mengendor dengan bersamaan dalam mekanisme tersebut.

Denyut jantung adalah jumlah de-nyutan jantung per satuan waktu, biasanya permenit direpresentasikan sebagai bpm (beats per minute). Denyut jantung yang optimal untuk setiap individu berbeda-beda tergantung pada kapan waktu mengukur detak jantung tersebut, seperti

waktu istirahat atau setelah beraktivitas, jika didapatkan denyut jantung yang lebih rendah saat sedang istirahat, pada umumnya menunjukkan fungsi jantung yang lebih efisien dan lebih baik kebugaran kardiovaskularnya, lain halnya bila sedang tidak bugar, denyut jantung saat istirahat akan lebih tinggi (Davis, 2015).

Saat memulai kegiatan, diawali dengan gerakan-gerakan kecil, detak jantung akan mulai meningkat. Semakin tinggi intensitas gerakan, detak jantung pun kian meningkat. Jantung merespon setiap gerakan yang tercipta saat beraktivitas fisik dengan peningkatan detak jantung. Respon cepat jantung saat beraktivitas fisik ini terjadi karena adanya permintaan oksigen di dalam otot. Otot membutuhkan banyak oksigen untuk berkontraksi saat beraktivitas fisik. Oksigen didapat dari sel-sel darah merah yang mengalir ke otot. Di dalam sel-sel otot, terdapat organel kecil yang disebut mitokondria yang berfungsi menggabung-kan oksigen dengan glukosa dan lemak untuk membuat ATP atau molekul energi dasar (Sekarsari, 2017). Sehingga saat beraktifitas fisik, maka jantung pun akan berdetak lebih cepat dan lebih keras untuk mengirimkan oksigen ke dalam sel-sel otot. Selain itu, peningkatan suhu tubuh dan lingkungan juga bisa meningkatkan denyut jantung di atas normal. Hal ini terjadi akibat gerakan yang dilakukan terus menerus selama beraktivitas fisik membuat suhu tubuh meningkat. Sehingga hati pun harus mengirimkan darah ke kulit untuk mendinginkan suhu tubuh, sambil terus memasok darah ke otot-otot yang sedang bekerja. Akibat kedua tuntutan ini, jantung pun berdetak lebih cepat.

Banyak faktor yang mempengaruhi jumlah denyut jantung seseorang, salah satunya aktivitas fisik seperti gym, sepeda, yoga ataupun olahraga lainnya. Tetapi tidak hanya berolahraga saja yang dapat merespon jantung dan mempengaru-hi jumlah denyut jantung, menari tari

(4)

tradisional juga dapat mempengaruhi jumlah denyut jantung. Tari tradisional bisa diartikan sebagai salah satu aktivitas fisik yang kuat berirama, aktivitas fisik yang menggunakan kelompok otot besar. Saat menari entah berapa banyak otot yang bekerja, dan anak dilatih menjadi lebih kuat, seimbang, berstamina, koordinatif dan fleksibel. Cara berdiri, duduk, berjalan, dan semua aktivitas lain akan menjadi lebih baik (dan lebih anggun). Terbiasa memiliki postur tubuh yang benar dalam kegiatan sehari-hari saja sudah akan mengurangi banyak penyakit (Titis, 2012).

Menari ternyata memiliki banyak manfaat untuk kesehatan jantung. Oleh karena itu, saat ini olahraga banyak dipadukan dengan tarian yang akan tampak menarik dibandingkan harus malakukan olahraga pada umumnya. Tarian tidak hanya memberikan kepuasan atau kebahagiaan saat melakukannya tetapi juga memberikan manfaat kesehatan jantung. Menari adalah aktivitas atau latihan fisik yang apabila dilakukan terus menerus akan memberikan dampak positif bagi kesehatan dan kebugaran tubuh. Menari juga merupakan gabungan antara aktivitas fisik, interaksi sosial, ekspresi kreatif, dan emosional.

Seperti yang disebutkan sebelumnya bahwa menari merupakan aktivitas atau latihan fisik yang dapat merespon jantung. Maka menari memerlukan latihan yang rutin agar dapat menyelesaikan satu tarian penuh dengan tidak merasakan kelelahan yang berlebih. Karena melakukan satu tarian penuh memerlukan fisik yang kuat. Dalam latihan fisik biasanya memiliki konsep dan dosis latihan yang biasa disebut konsep FITT.

FITT merupakan aturan latihan yang benar, FITT adalah singkatan dari frekuensi, intensitas, tipe dan time: 1) Frekuensi adalah banyaknya unit latihan per Minggu. Untuk meningkatkan kebu-garan perlu latihan 3-5 kali per Minggu. Sebaiknya dilakukan berselang, misalnya

Senin, Rabu, Jumat. Sedangkan hari yang lain digunakan untuk istirahat agar tubuh memiliki kesempatan melakukan recovery (pemulihan); 2) Intensitas adalah kualitas yang menunjukkan berat ringannya latihan. Besarnya intensitas tergantung pada jenis dan tujuan latihan. Secara umum intensitas latihan kebugaran adalah 60 %-90 % detak jantung maksimal dan pembakaran lemak 65 %-75 % detak jantung maksimal. Latihan daya tahan parujantung 75 %-85 % detak jantung maksimal dan latihan anaerobik untuk atlet > 85 % detak jantung maksimal; 3) Tipe adalah sebuah bentuk atau model latihan yang akan digunakan untuk mencapai sasaran latihan tertentu; 4) Time adalah waktu atau durasi yang diperlukan setiap kali berlatih. Untuk meningkatkan kebugaran paru-jantung dan penurunan berat badan diperlukan waktu berlatih 20-30 menit, dan hasilnya akan tampak nyata setelah berlatih 8-12 Minggu dan akan stabil setelah 20 Minggu berlatih (Irianto, 2004).

Metode

Dalam penelitian ini digunakan metode kualitatif studi kasus. Studi kasus atau case-study adalah bagian dari metode kualitatif yang hendak mendalami suatu kasus tertentu secara lebih mendalam dengan melibatkan pengumpulan berane-ka sumber informasi. Penelitian ini bertempat di kelompok Purwaloka Sang-gar Seni Tari Hanacaraka yang berlokasi di jalan Cihanjuang Gg. Kananga No.61 Cimahi. Subjek yang digunakan oleh peneliti adalah anggota sanggar tari berusia remaja dan memiliki kemapuan menari yang bagus sebanyak 4 orang. Mereka menjadi subjek khusus untuk peneliti dalam melaksanakan praktek penelitian untuk memperoleh data. Subjek penting yang lainnya adalah pemilik sanggar dan pelatih. Mereka menjadi informan untuk peneliti dalam penelitian untuk memperoleh informasi tentang sanggar dan tentang informasi lainnya

(5)

yang dibutuhkan peneliti. Teknik pengumpulan data dilapangan dilakukan dengan obser-vasi, wawancara dan studi dokumentasi. Dalam mengolah data tersebut, peneliti menggunakan teknik triangulasi. Teknik triangulasi adalah teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada (Sugiyono, 2010, hlm. 330).

Hasil Penelitian dan Pembahasan Deskripsi tentang sanggar hanacaraka

Kehidupan sosial dilingkungan masyarakat yang dinamis menimbulkan pola hidup yang diciptakan gaya bersosial yang mengerucut menjadi individual. Seiring dengan kemajuan teknologi dan peradaban manusia pada jaman modern sekarang ini, banyak aspek dari luar yang masuk ke dalam negeri dengan berbagai dampak. Dari segi sosial sudah barang tentu telah menjadi kenyataan yang tak dapat dipungkiri lagi, dari segi

kebudayaan pun sudah merambah

kedalam khasanah kehidupan sehari-hari pada masyarakat. Memandang hal yang terkemuka diatas kami selaku generasi muda yang mempunyai kewajiban untuk menyeimbangkan daya dan pola kehi-dupan yang selaras dengan Pancasila dan UUD 1945.

Berawal dari pembicaraan antar pemuda yang berlokasi di Jalan Cihanjuang RT. 02 RW. 03 tepatnya di Gang Kananga no.61 kami mufakat untuk

membentuk suatu wadah untuk

menampung aspirasi dan kreasi generasi

muda yang sepaham guna untuk

mempertahankan seni budaya agar lestari dan dapat dinikmati oleh masyarakat akan manfaat yang dapat diambil dari perkumpulan yang kami deklarasikan dengan nama Lingkung Seni Purwaloka.

Dengan usaha yang gigih dan

pengalaman yang didapat, kami

merealisasikan berbagai keperluan yang dapat menunjang kelangsungan lingkung

seni yang kami garap, selain

mengikutsertakan pemuda dalam kegiatan latihan agar dapat menguasai materi, kami juga berperan serta mendukung kegiatan yang dilaksanakan Pemerintah Kota Cimahi. Pengalaman yang didapat dari berbagai kegiatan yang kami ikuti senantiasa kami evaluasi dan kami tindak lanjuti guna perbaikan dimasa yang akan

datang agar dapat menghasilkan

kemanfaatan bagi pelakunya juga masyarakat di lingkungan sekitarnya. Maksud dan tujuan kami adalah: 1) melestarikan warisan leluhur bangsa supaya tidak punah terlindas arus globalisasi dalam bidang seni budaya serta sastra Sunda khususnya, budaya Indonesia pada umumnya. Jika sudah mengenal maka akan menyayangi, mencintai, sekaligus melestarikannya; 2) meningkat-kan rasa persaudaraan dan kekeluargaan; 3) mensejahterakan kehidupan, menjung-jung tinggi harkat martabat anggota baik secara moril maupun materil. Upaya yang kami lakukan adalah: 1) belajar membaca dan menulis aksara Sunda Cacarakan Ha Na Ca Ra Ka; 2) melestarikan seni budaya Sunda; 3) berpartisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan yang tidak bertentangan dengan peraturan dan hukum yang beralaku serta bersifat mengikat.

Deskripsi informan penelitian

Semua informan dalam penelitian ini tidak merasa keberatan untuk disebutkan namanya, adapun informan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Ambu Rohayani (Ketua Sanggar

Hanacaraka)

Selama peneliti menjalani proses penelitian dan wawancara Ibu Yani merupakan informan yang peneliti pertama kali wawancara dan berdiskusi ketika sebelum dan ketika dilapangan. Beliau sangat antusias untuk memberikan informasi yang peneliti butuhkan kapan saja asalkan tidak mengganggu kesibukan beliau dalam bekerja. Dengan penampilan yang ramah, tegas, berwibawa, lugas dalam berbicara beliau bersedia menjawab semua pertanyaan yang diajukan peneliti.

(6)

Beliau pun tidak segan-segan untuk membantu peneliti mencarikan informan lainnya agar bersedia menjadi informan dalam penelitian serta mencarikan data-data yang berguna bagi kesempurnaan penelitian ini. Tidak ada perasaan canggung dalam diri peneliti karena peneliti dan beliau telah saling mengenal sejak peneliti masih bayi, karena beliau adalah kaka ipar.

2) Yulianthi Putri Diani ( Pelatih Tari 1) Informan kedua yang peneliti wawancarai adalah Teh Yuli. Peneliti memiliki kesan bahwa dia adalah sosok yang sangat ramah dan murah senyum selain itu juga peneliti merasa diperlakukan sebagai seorang kakak oleh dia dengan panggilan khasnya kepada peneliti ‘eceu’ ketika peneliti mengajak dia untuk berdiskusi. Dia juga sangat antusias membantu peneliti dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh peneliti. Peneliti sudah sangat dekat dengan dia karena peneliti sudah mengenal dia dari kecil karena dia dan peneliti adalah saudara sepupu yang sedari kecil sudah saling mengenal.

Secara keseluruhan, seluruh informan dalam penelitian ini adalah orang-orang yang ramah dan terbuka ketika peneliti melakukan wawancara serta tidak segan-segan membantu peneliti ketika peneliti membutuhkan sesuatu yang berkaitan dengan penelitian.

Deskripsi lokasi penelitian

Pelaksanaan penelitian ini dilakukan di Sanggar Purwaloka Hanacaraka, Jalan Cihanjuang GG. Kananga No. 61, Cimahi. Sanggar ini memiliki seperangkat alat musik untuk mengiringi tari tradisional. Beberapa kostum untuk acara anak-anak dimulai dari baju kebaya sampai samping dan baju tari lainnya dan juga kelangkapan aksesoris tari beserta make up. Keseluruhan anggota yang mengikuti kegiatan tari cukup banyak. Secara geografis, sanggar ini berada di lingkungan masyarakat biasa. Sanggar ini bersebelahan dengan lapangan dan rumah

warga. Pelatih memiliki pengalaman menari mulai dari usia 6 tahun dan sering mengikuti kegiatan, acara hiburan dan perlombaan. Sarana dan prasarana yang ada di sekolah ini adalah: 1) ruangan untuk latihan tari dilengkapi dengan dinding cermin; 2) ruangan tempat penyimpanan kostum dan alat musik; 3) ruang tunggu untuk orangtua yang mengantar; 3) satu toilet sekaligus ruang ganti; 4) warung yang menyediakan berbagai cemilan

Deskripsi waktu dan subyek penelitian

Penelitian ini dilaksanakan selama lima minggu, dimulai pada tanggal 31 Desember 2017 dan berakhir pada tanggal 28 Januari 2018. Tepatnya pelakasanaan penelitian ini setiap hari minggu pada saat jadwal latihan sanggar berlangsung dan para anggota melakukan latihan tari.

Subjek pada penelitian ini adalah anggota sanggar tari Hanacaraka yaitu sejumlah 25 orang dengan sampel yang digunakan sebanyak 4 orang. Disamping itu untuk memperkuat hasil penelitian, subjek pada penelitian ini ditambah dengan pelatih tari sebanyak 2 orang pelatih dan 1 orang penari dari luar sanggar. Berikut jumlah keseluruhan yang ikut serta di dalam sanggar Hanacaraka.

Di sanggar Hanacaraka bukan hanya latihan menari jaipong saja, tetapi ada kegiatan lain seperti latihan tari klasik dan tari modern. Dan bukan hanya tarian saja yang dilatih, tetapi juga diadakan program belajar menulis dan membaca aksara sunda dan latihan alat musik.

Adapun program kegiatan di sanggar Hanacaraka adalah: 1) latihan menari jaipong; 2) latihan menari klasik; 3) latihan menari modern; 4) belajar menulis aksara sunda; 5) latihan alat musik pengiring seperti gamelan dan angklung.

Selain kegiatan latihan di sanggar, para pelatih dan anggota melakukan kegiatan di luar seperti pengisi acara. Acara yang diisi berupa acara hiburan,

(7)

lomba maupun upacara adat pernikahan dan upacara perpisahan sekolah.

Deskripsi tentang tari tradisional

Ketika mendengar kata tari, yang terlintas dalam benak adalah gerak, karena gerak merupakan media pokok dalam tari yang berfungsi untuk mengomunikasikan sesuatu pada penikmatnya/ penonton. Namun demikian, tidak semua gerak dapat dikatakan tari, karena gerak itu tidak terlepas dari aktivitas kehidupan keseharian manusia yang bisa diolah sehingga menjadi gerak tarian. Artinya, gerakan keseharian dapat dijadikan sebagai sumber gerak tari melalui pengolahan sesuai dengan kebutuhan sebuah tari (Astuti, 2016, hlm. 1).

Tari tradisional adalah tari-tarian yang keberadannya telah mengalami suatu perjalanan yang cukup lama dan selalu berpola pada kaidah-kaidah (tradisi) yang telah ada. Dalam tari tradisional biasanya yang dituju oleh para seniman adalah kepuasan penampilan yang mengikuti cita rasa filsafah dengan bentuk dan teknik yang sesuai dengan kaidah yang ada, bahkan yang lama. Sementara kebaruan bentuk gerak dan koreografi bukanlah menjadi utama, akan tetapi lebih kepada isi yang lahir dari kematangan teknik dan penjiwaannya (I Wayan, dalam Astuti, 2016, hlm. 52).

Tari merak termasuk salah satu tari tradisional, tarian ini berasal dari Jawa Barat. Tari merak termasuk genre tari kreasi baru. Keindahan burung merak terletak pada sayapnya yang memiliki motif khas dan berbagai gradasi warna merah, biru dan kuning. Tari merak menyerupai gerak burung merak yang sedang memamerkan keindahan sayapnya (Sulastianto, 2007, hlm. 66).

Tari jaipong adalah sebuah aliran seni tari yang lahir dari kreativitas seorang seniman yang berasal dari Bandung, Gugum Gumbira sekitar tahun 1960-an, dengan tujuan untuk menciptakan suatu jenis musik dan tarian pergaulan yang digali dari kekayaan seni tradisi rakyat

Nusantara, khususnya Jawa Barat. Perhatiannya pada kesenian rakyat yang salah satunya adalah Ketuk Tilu menjadikannya mengetahui dan mengenal betul perbendaharaan pola-pola gerak tari tradisi yang ada pada Kiningan/Bajidoran atau Ketuk Tilu. Gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid dari beberapa kesenian diatas cukup memiliki inspirsi untuk mengembangkan tari atau kesenian yang kini dikenal dengan nama jaipongan (Dewi, 2012, hlm. 27).

Dalam penelitian ini disajikan hasil penelitian langsung ke lapangan. Peneliti mendapatkan data dari objek yang memperlihatkan hasil denyut jantung sebelum dan sesudah melakukan tari jaipong dan tari merak. Disana tertera angka yang membuktikan bahwa menari jaipong dan merak dapat merespon jantung berdenyut lebih cepat. Karena angka disana menunjukkan bahwa setelah menari tari jaipong dan merak angka denyut jantung lebih besar dari sebelum melakukan tari jaipong dan tari merak.

Hal ini diperkuat dengan peneliti setelah melakukan wawancara dengan beberapa informan yang ahli dalam bidangnya. Wawancara pertama saya lakukan dengan Ambu Yani. Proses dialog yang dilakukan di sangar seni tari Hanacaraka dengan pertanyaan penelitian “Apakah intensitas jaipong dan merak dapat mepengaruhi denyut jantung jadi lebih cepat ?”. Lalu informan menjawab “Ya tentu bisa, karena tari jaipong dan merak memiliki unsur dasar gerak. Gerakan tari jaipong dan merak itu gerakannya dinamis, ada saat dia bergerak cepat, bergerak lambat, bertenaga, rileks atau santai. Dihubungkan dengan setiap gerakan manusia yang bisa mempengaruhi denyut jantung. Semakin cepat gerakan maka semakin cepat jantung berdenyut. Maka dari itu, gerakan tarian yang dinamis dapat mempengarui denyut jantung jadi lebih cepat”.

(8)

Kemudian wawancara mendalam selanjutnya dilakukan dengan informan kedua yaitu Yulianthi sebagai pelatih tari di sanggar seni tari Hanacaraka. Berikut jawaban dari Yulianthi “Iya, dikarenakan tari apapun pada dasarnya menggerakan selutuh anggota tubuh, karena anggota tubuh berkaitan dengan jantung, maka pada saat anggota tubuh bergerak maka jantungpun berdetak lebih cepat mengikuti alur tubuh yang bergerak dari pada tubuh yang diam”.

Selain dengan beberapa informan, peneliti juga mewawancara objek penelitian. Berikut hasil wawancara peneliti dengan objek.

Wawancara dengan penari merak bernama Widia, 13 tahun. “Peneliti: Wid tadi pergi kesini pake apa?”. “Widya: jalan kaki teh”. “Peneliti: oohh masih cape ngga?”. “Widya: ngga teh, da diem dulu tadi soalnya pas nyampe sini belum ada siapa-siapa”. “Peneliti: lah terus kenapa atuh meni kaya yang tegang gitu wid?”. “Widya: hehe iya the”. “Peneliti: oohh haha iya santai aja wid ngga usah tegang’. Widya: iya atuda deg-degan mau di tes sama teteh”.

Wawancara dengan penari merak bernama Tanti, 13 tahun. “Peneliti: tan udah bagusan sekarang narinya. “Tanti: iya da latihan wae dirumah”. “Peneliti: terus cape ga latihan sekarang?”. “Tanti: iya cape teh". “Peneliti: cape mana sama yang sebelumnya?”. “Tanti: cape yang sekarang teh, soalnya sekarang mah gerakannya di benerin jadi lebih kerasa capenya.

Wawancara dengan penari jaipong bernama Delya, 14 tahun. “Peneliti: del dari mana kamu?”. “Delya: dari rumah teh, kenapa gitu?”. “Peneliti: oohh kesini pake apa barusan?”. “Delya: pake angkot teh, tapi tadi dari turun angkotnya aku kesininya lari-lari da takut kesiangan”.

Wawancara dengan penari jaipong bernama Raisya, 14 tahun. “Peneliti: cape ca?”. “Raisya : iya cape teh hehe. “Peneliti: kerasa cape yang mana sama

minggu lalu?”. “Raisya: kerasa cape yang sekarang teehh, soalnya minggu lalu mah aku masih asal-asalan narinya, klo tadi mah diseriusin.

Dalam penelitian yang dilakukan peneliti, ternyata peneliti mendapatkan data dari beberapa anggota sanggar. Peneliti meminta anggota untuk mengecek nadi masing masing, sebelum itu peneliti membagikan kertas selambar untuk menulis denyut nadi. Denyut nadi yang ditulis dikertas ada 3 yaitu denyut nadi istirahat, denyut nadi pemanasan dan denyut nadi setelah menari. Peneliti membandingkan dua tarian, tari merak dan tari jaipong. Maka dari itu anggota dibedakan menjadi dua kelompok, kelompok jaipong dan kelompok merak.

Anggota yang melakukan tari merak

Hasil Data Penari Merak 1 (Widia, 13 tahun) dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Penari Merak 1 (Widia, 13 tahun)

Denyut Nadi (bpm) Minggu Ke 1 2 3 4 5 Denyut Nadi Istirahat 100 100 110 110 100 Denyut Nadi Pemanasan 130 120 130 130 130 Denyut Nadi Tari

Merak 160 160 150 150 150

Waktu Tari

Merak 5 menit

Intensitas (%) 77 77 72 72 72 Dari Tabel 1 yang didapat oleh peneliti, hasil denyut nadi yang berbeda dari minggu ke minggunya. Denyut nadi istirahat setiap minggunya berbeda-beda dikarenakan saat angka menunjukkan 110, anak waktu itu dalam keadaan tidak tenang dan merasa tegang karena akan diadakan tes maka denyut nadi istirahat yang didapat lebih tinggi dari keadaan saat dia normal yang menunjukkan angka 100.

Lalu denyut nadi pemanasan juga terdapat perbedaan, angka yang menun-jukkan 120, anak melakukan pemanasan yang biasa dilakukan dan gerakannya

(9)

tidak terlalu menguras tenaga, tetapi saat angka menunjukkan 130, anak saat pemanasan melakukannya dengan sung-guh-sungguh maka terasa lebih cape dibandingkan dengan gerakan yang biasa.

Selanjutnya denyut nadi setelah melakukan tarian menunjukkan angka yang berbeda dengan gerakan yang sama dan waktu tarian yang sama. Perbedaan hasil dikarenakan saat melakukan gerakan tarian, anak fokus dan melakukan gerakan dengan benar juga semangat maka dari itu angka menukjukkan 160, sedangkan pada saat angka menunjukkan 150, pada saat itu anak kurang fokus dengan gerakan karena aga lupa gerakannya makannya gerakaan yang dia lakukan tidak maksimal.

Hasil Data Penari Merak 2 (Tanti, 13 tahun) dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Penari Merak 2 (Tanti, 13 tahun)

Denyut Nadi (bpm) Minggu Ke 1 2 3 4 5 Denyut Nadi Istirahat 100 100 100 90 90 Denyut Nadi Pemanasan 120 120 120 120 120 Denyut Nadi Tari

Merak 140 140 150 150 150

Waktu Tari

Merak 5 menit

Intensitas (%) 67 67 72 72 72 Dari Tabel 2 didapat hasil denyut istirahat yang menunjukkan angka yang berbeda, saat angka menunjukan angka 100 dia dalam keadaan yang normal dengan kegiatan dia sebelumnya pulang sekolah. Beda lagi saat angka menun-jukkan angka 90, dia dalam keadaan sangat tenang dan rileks karena telah istirahat di sanggar sambil menunggu pelatih datang.

Lalu denyut nadi pemanasan yang konsisten dengan angka 120, dia selalu melakukan pemanasan dengan santai dan anaknya tidak terlalu aktif, maka saat

pemanasan dia selalu menunjukkan angka denyut nadi yang sama.

Setelah melakukan tari merak, terlihat ada perbedaan yang meningkat dari minggu ke minggu, minggu pertama dan kedua dia menunjukkan angka 140 karena dia belum terlalu hapal gerakannya makanya tidak maksimal melakukan gerakan tarian merak, sedangkan minggu selanjutnya dia menunjukkan angka 150 dikarenakan dia sudah mulai menghapal gerakan, tetapi masih belum maksimal dalam melakukan gerakaanya, hanya saja sudah lebih hafal dari sebelumnya.

Anggota yang melakukan tari jaipong

Hasil Data Penari Jaipong 1 (Delya, 14 tahun) dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Penari Jaipong 1 (Delya, 14 tahun) Denyut Nadi (bpm) Minggu Ke 1 2 3 4 5 Denyut Nadi Istirahat 110 90 90 100 100 Denyut Nadi Pemanasan 130 130 130 130 130 Denyut Nadi Tari

Merak 150 150 150 140 140

Waktu Tari

Merak 5 menit

Intensitas (%) 73 73 73 70 70 Dari Tabel 3 didapat hasil denyut nadi istirahat yang berbeda-beda yaitu minggu pertama menunjukkan angka 110, dikarenakan anak tergesa-gesa dan berlari menuju kelas maka dari itu denyut nadi yang didapat cukup tinggi. Sedangkan yang lainnya dia dalam keadaan rileks dan keadaan normal.

Lalu setelah pemanasan anak ini selalu melakukan pemanasan dengan benar dan gerakan yang konsisten, maka dari itu setiap selesai pemanasan dia selalu menunjukkan angka yang sama yaitu 130.

Setelah melakukan tari jaipong, terlihat penurunan dari anak ini, minggu pertama sampai minggu ketiga dia menunjukkan angka 150 karena dia

(10)

melakukan gerakan dengan benar dan serius, tetapi minggu selanjutnya dia mengakui bahwa dia melakukan gerakan-nya asal-asalan dari itu hasilgerakan-nya menjadi 140.

Hasil Data Penari Jaipong 2 (Raisya, 14 tahun) dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Penari Jaipong 2 (Raisya, 14 tahun) Denyut Nadi (bpm) Minggu Ke 1 2 3 4 5 Denyut Nadi Istirahat 90 90 90 90 90 Denyut Nadi Pemanasan 110 110 110 120 120 Denyut Nadi Tari

Merak 140 140 140 150 150

Waktu Tari

Merak 5 menit

Intensitas (%) 70 70 70 73 73 Dari tabel diatas didapat hasi denyut nadi istirahat yang selalu sama, karena anak ini pendiam dan terlihat selalu tenang, tidak pernah tergesa-gesa makanya denyut nadi yang didapat sangat santai dengan angka 90.

Lalu setelah pemanasan dia mendapat angka yang meningkat dari minggu-minggu sebelumnya, karena jika dilihat semakin kesini dia semakin serius dalam melakukan pemanasan. Maka dari itu minggu pertama samapai minggu ketiga dia menunjukkan angka 110 dan minggu selanjutnya menjadi 120.

Setelah melakukan tarian, terlihat peningkatan juga. Dikarenakan semakin kesini, dia semakin menghapal gerakan dan semakin memperbaiki gerakan dan mencoba memaksimalkan gerakan yang biasanya dia menunjukkan angka 140, setelah ada peningkatan hapalan dan gerakan, juga dengan memaksimalkan gerakan dia meningkat dan menunjukkan angka 150.

Dari setiap data yang diperoleh, peneliti menghitung keseluruhan dan menghitung rata-rata hasil denyut nadi.

Dari hasil perhitungan, rata-ratanya adalah 71,75 %, angka tersebut termasuk dalam intensitas sedang karena dalam skala intensitas ukuran yang sedang antara 60%-70% dan tinggi berada di antara 80%-99%. Maka rata-rata yang didapat peneliti, termasuk kedalam intensitas sedang untuk rekapitulasi data dapat dilihar pada Tabel 5.

Tabel 5. Keseluruhan Hasil Denyut Nadi

Nama Hasil Subjek

Per Minggu (%) Jumlah Rata-Rata Per Minggu (%) Widya 77 77 72 72 72 74 Tanti 67 67 72 72 72 70 Delya 73 73 73 70 70 71,8 Raisya 70 70 70 73 73 71,2 Jumlah Rata-Rata Keseluruhan 71,75

Penjelasan Proses Mendapatkan Data

Data pada keseluruhan tabel diatas didapatkan oleh peneliti dengan cara penghitungan denyut nadi menggunakan stopwatch selama 6 detik. Awalnya peneliti menjelaskan tujuan peneliti pada objek, lalu peneliti menyuruh dan mengarahkan anak untuk menghitung denyut nadi masing-masing. Penghitungan denyut nadi istirahat dilakukan di awal kegiatan saat semua anak dalam keadaan istirahat. Lalu setelah dihitung, masing-masing anak menulis hasilnya di tabel yang telah disediakan. Setelah itu, peneliti

memimpin anak untuk melakukan

pemanasan sebelum ke gerakan inti, selesai melakukan pemansan, denyut nadi dihitung kembali selama 6 detik, penghitungan selesai lalu tulis lagi hasil denyut nadi pemanasan.

Penghitungan terakhir adalah peng-hitungan denyut nadi tari merak dan jaipong. Anak melakukan tari merak, setelah selesai melakukan tari merak, anak kembali menghitung denyut nadi. Hal

(11)

serupa dilakukan oleh anak yang menari jaipong dan setelahnya langsung meng-hitung denyut nadi tari jaipong.

Hasil menunjukkan antara tari jaipong dan tari merak terlihat lebih cape tari merak, dilihat dari denyut nadi setelah melakukan tari merak lebih besar dari yang melakukan tari jaipong. Itu dikarenakan tari jaipong yang digunakan masih dalam gerakan yang dasarnya saja jadi gerakan dan kecepatan tarian masih ringan sedangkan tari merak gerakannya santai tapi stabil dan memerlukan keseimbangan dan kekuatan yang cukup, maka dari itu tari merak lebih memacu jantung daripada tari jaipong yang hanya gerakan dasar saja.

Pada Tabel 5 hasil hitungan denyut nadi menunjukkan hasil yang berbeda-beda. Dikarenakan kondisi subjek yang berbeda-beda juga, ada yang dalam keadaan benar-benar istirahat, ada yang dalam keadaan aga cape setelah melakukan perjalanan dari rumah ke tempat latihan tari dan keadan kesehatan subjek juga berpengaruh terhadap hasil perhitungan denyut nadi. Alasan perbedaan tersebut diketahui oleh peneliti dari hasil wawancara dengan subjek yang bersangkutan.

Alasan mengapa setiap anak memiliki hasil akhir yang berbeda, karena setiap anak melakukan gerakan dengan kemampuan masing-masing anak, bila hasil lebih tinggi itu dikarenakan anak melakukan gerakan dengan benar dan maksimal, sedangkan hasil yang tidak terlalu tinggi dikarenakan anak tidak melakukan gerakan dengan maksimal. Tetapi ada juga dikarenakan kesehatan tubuhnya, hanya saat penelitian, saya tidak menemukan anak yang dalam keadaan kurang sehat dan juga keadaan serta kegiatan anak yang berbeda-beda sebelum ikut serta dalam latihan tari.

Kesimpulan

Hasil penelitian menunjukkan bah-wa tari tradisional dapat merespon jantung

dengan baik. Tingkat intensitas tari jaipong dan tari merak itu termasuk kedalam kategori sedang, karena dalam hitungan skala intensitas, hasil yang didapatkan dalam penelitian ini berada dalam kategori sedang.

Oleh sebab itu peneliti menyarankan bahwa tari tradisional bisa juga dimanfaat-kan sebagai kegiatan rutin untuk menjaga kesehatan jantung dan kebugaran tubuh menggantikan olahraga dan kepada para penari tradisional, lebih ditingkatkan lagi kekuatan fisiknya agar saat melakukan tarian yang cukup berat dan berdurasi lama dapat mengatur kondisi tubuh dan tidak merasakan kekelahan yang berlebih.

Adanya penelitian ilmiah tentang tari tradisional ini merupakan suatu cara

untuk memberikan masukan bahwa

olahraga bisa dengan cara lain yaitu menari. Oleh karena itu peneliti memberi-kan sebuah rekomendasi untuk melakumemberi-kan tarian dalam rangka menyehatan jantung bagi semua umur dan kalangan. Tetapi harus dilakukan serutin mungkin dan dengan hari yang tidak berjauhan. Selanjutnya kepada para peneliti agar dapat mengembangkan lagi penelitian yang sudah ada menjadi penelitian yang lebih baru dan lebih baik lagi.

Daftar Pustaka

Astuti, F. (2016). Pengetahuan dan Teknik Menata Tari Untuk Anak Usia Dini. Jakarta: Penerbit Kencana. Davis, W. (2015). Time Notes: A Treasury

of the Best Time Management Ideas. Victoria: FriesenPress. Dewi, R, S. (2012). Keanekaragaman

Seni Tari Nusantara. Jakarta: Balai Pustaka.

Irianto, J, P. (2004). Berolahraga untuk Kebugaran dan Kesehatan. Yogyakarta: Andi Offset.

(12)

LIPI. (2009). Pangan dan Kesehatan. Bandung: UPT-Balai Informasi Teknologi LIPI.

Risal, A. F. & Ferianto, B. TJ. K. (2013). Hubungan Aktivitas Fisik terhadap Stabilitas Emosi Anak Tuna Rungu Studi Pada Siswa Tingkat SMP di SLB Gedangan Sidoarjo. Jurnal Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, 1 (3), hlm. 487-491). Mulyaningsih, F. (2008). Penderita

Jantung menjadi Bugar Melalui Olahraga. Yogyakarta: PJKR

FKIP Universitas Negeri

Yogyakarta.

Nadesul, H. (2008). Sehat Itu

Murah.Jakarta: Kompas Media Nusantara.

Pearce, E. C. (2007). Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: Gramedia.

Sekarsari, B. (2017). Alasan Detak Jantung Anda Meningkat Saat Berolahraga. [Online]. Diakses dari http://www.1health.id/id/arti cle/category/sehat-a-z/alasan-detak -jantung-anda-meningkat-saat-bero lahraga.html

Sugiyono. (2010). Metode Penelitian

Pendidikan Pendekatan

Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sulastianto, H. (2007). Seni Budaya.

Bandung: Grafindo Media

Pratama.

Titis. (2012). Manfaat Menari Bagi Manusia. [Online]. Diakses dari http://rdanceacademy.blogspot.co m/2012/12/manfaat-menari-bagi-manusia.html

Gambar

Tabel 5. Keseluruhan Hasil Denyut Nadi

Referensi

Dokumen terkait

Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak wahana rekreasi untuk dapat mengembalikan semangat dan kebugaran secara jasmani maupun rohani, salah satu wahana rekreasi

M.Pd., Ketua Jurusan Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi Fakultas Olahraga dan Kesehatan, Universitas Pendidikan Ganesha, yang telah banyak memberikan bimbingan,

bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 25 ayat (3) huruf e Peraturan Daerah Kabupaten Kulon Progo Nomor 1 Tahun 2021 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Daerah Kabupaten

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa keadilan distributif adalah persepsi karyawan mengenai keseimbangan antara seluruh hal yang diterima karyawan

Responden dalam penelitian ini yaitu ibu yang rata-rata sudah memiliki pengetahuan yang baik dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut anak dilihat dari hasil

Penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya, penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui proses pewarisan kesenian jathilan di Dusun Srunggo 1 sehingga

Hasil respon di atas diperoleh bahwa mahasiswa sudah memahami materi-materi kalkulus sesuai silabus perkuliahan.Namun mahasiswa masih kurang paham pada materi

Kesehatam reproduksi adalah kesehatan secara fisik, mental, dan kesejahteraan sosial secara utuh pada semua hal yang berhubungan dengan sistem dan fungsi, serta proses reproduksi