KONSEP INITIAL ASSESSMENT KONSEP INITIAL ASSESSMENT
A.
A. PenPengergertian Intian Initiaitial Asl Assesssessmenmentt
Initial assessment adalah untuk memprioritaskan pasien dan menberikan Initial assessment adalah untuk memprioritaskan pasien dan menberikan Ā penanganan segera. Informasi digunakan untuk
Ā penanganan segera. Informasi digunakan untuk membuat keputusan tentang interīensimembuat keputusan tentang interīensi kritis dan !aktu "ang di#apai. Ketika melakukan pengka$ian% pasien harus aman dan kritis dan !aktu "ang di#apai. Ketika melakukan pengka$ian% pasien harus aman dan dilakukan se#ara #epat dan tepat dengan mengka$i tingkat kesadaran &Leīel Of
dilakukan se#ara #epat dan tepat dengan mengka$i tingkat kesadaran &Leīel Of
'ons#iousness( dan pengka$ian A)' &Air!a"% )reathing% 'ir#ulation(% pengka$ian ini 'ons#iousness( dan pengka$ian A)' &Air!a"% )reathing% 'ir#ulation(% pengka$ian ini dilakukan pada pasien m
dilakukan pada pasien memerlukan tindakan emerlukan tindakan penanganan segera dan pada penanganan segera dan pada pasienpasien "ang teran#am n"a!an"a. &*ohn Emor" 'ampbell% +,,- ī
"ang teran#am n"a!an"a. &*ohn Emor" 'ampbell% +,,- ī +/(.+/(.
Initial assesment adalah proses eīaluasi se#ara #epat pada penderita ga!at Initial assesment adalah proses eīaluasi se#ara #epat pada penderita ga!at darurat "ang langsung diikuti dengan tindakkan res
darurat "ang langsung diikuti dengan tindakkan resusitasi &Sur"ono dkk% +,,0 (.usitasi &Sur"ono dkk% +,,0 (.
)
).. TTuu$$uuaann 1.
1. MenenMenentukan tukan prioritprioritas penas penilaian ilaian pada pada pendependerita mrita multi trulti trauma.auma. +.
+. MeneraMenerapkan prpkan prinsip pinsip primar" srimar" surīei durīei dan se#onan se#ondar" sudar" surīe" parīe" pada pendda penderita muerita multilti trauma.
trauma. 2.
2. MeneraMenerapkan pkan #ara da#ara dan tekn teknik tenik terapi brapi baik paik pada faada fase resuse resusitasi.sitasi. -.
-. MengeMengenal ri!a"nal ri!a"at dan mat dan mekanismekanisme #idera e #idera dalam mdalam membantembantu diagu diagnosis.nosis.
'
'.. KKoommppoonneenn
Ā Initial assesmentĀ
Ā Initial assesmentĀ Ā meliputi īĀ meliputi ī 1.
1. PePersrsiaiapapan penn pendederiritata +
+.. TTrriiaaggee 2.
2. SuSurīrīe" e" prprimimer er &A&A)')'3E3E((
--.. 44eessuusisittasasii 5.
5. PemPemerikeriksaan saan penpenun$un$ang ang untuntukĀ ukĀ surīe" primerĀ
surīe" primerĀ
/.
/. SuSurīrīe" se" sekekunundeder &6r &6eaead tod to To
Toe 7 e 7 anamnesis(anamnesis( 8.
8. PemPemerikeriksaan saan penpenun$un$ang ang untuntukĀ ukĀ surīe" sekunderĀ
surīe" sekunderĀ 0.
0. PePengnga!a!asasan dan dan ean eīaīaluluasasii ulang
ulang 9.
1,. :rutan dari initial assessmentĀ Ā diterapkan se#ara berurutan atau sekuensial% akan tetapi dalam praktek sehari;hari dapat dilakukan se#ara bersamaan atau simultan. 1. Persiapan penderita
11. Persiapan pada penderita berlangsung dalam dua fase "ang berbeda% "aitu fase pra rumah sakit < pre hospital% dimana seluruh penanganan penderita Ā berlangsung dalam koordinasi dengan dokter di rumah sakit. =ase kedua adalah
fase rumah sakit<hospital dimana dilakukan persiapan untuk menerima penderita sehingga dapat dilakukan resusitasi dengan #epat.
a. Tahap Pra 4umah Sakit
1+. Pela"anan korban dengan trauma pra rumah sakit biasan"a dilakukan oleh keluarga ataupun orang sekitar "ang berbaik hati menolong &Ā good
Ā samaritan ). Prinsip utama adalah tidak boleh membuat keadaan lebih parah & Ā Do no Further Harm ).
12. Keadaan "ang ideal adalah dimana unit ga!at darurat "ang datang ke Ā penderita sehingga ambulans harus memiliki peralatan "ang lengkap. Petugas
"ang datang adalah petugas khusus "ang telah mendapatkan pelatihan
kega!atdaruratan. Selain itu% diperlukan koordinasi dengan rumah sakit tu$uan terhadap kondiri< $enis perlukaan sebelum penderita dipindahkan dari tempat ke$adian. 6al ini sangat penting mengingat koordinasi "ang baik antara
Ā petugas lapangan dengan petugas di rumah sakit akan menguntungkan Ā penderita.
1-. Tindakan "ang harus dilakukan oleh petugas lapangan< paramedik adalahī
1( Men$aga air!a" dan breathing.
+( Mengontrol perdarahan dan s"ok. 2( Imobilisasi penderita.
-( Pengiriman ke rumah sakit terdekat< tu$uan dengan segera. 15.
Ā b. Tahap 4umah Sakit
1/. Pada fase rumah sakit perlu dilakukan peren#anaan sebelum Ā penderita tiba% sebaikn"a ada ruangan khusus resusitasi serta perlengkapan
air!a" &laringoskop% endotracheal tube) "ang sudah dipersiapkan. Selain itu% Ā perlu dipersiapkan #airan kristaloid &mis ī 4L( "ang sudah dihangatkan% Ā perlengkapan monitoring serta tenaga laboratorium dan radiologi. Semua
tenaga medik "ang berhubungan dengan penderita harus dihindarkan dari kemungkinan penularan pen"akit menular dengan #ara pengan$uran
menggunakan alat;alat protektif seperti masker<fa#e mask% proteksi mata<google% ba$u kedap air% sepatu dan sarung tangan kedap air.
18. 10. 19. +. Triage
+,. Triage adalah #ara pemilahan penderita berdasarkan kebutuhan terapai dan sumber da"a "ang tersedia Terapi didasarkan pada prioritas A)' &Ā Airway dengan kontrol īertebra serīikal(%Ā BreathingĀ % dan CirculationĀ dengan kontrol perdarahan. +1. Triage $uga berlaku untuk pemilahan penderita di lapangan dan rumah sakit "ang akan diru$uk. 3ua $enis keadaan triase "ang dapat ter$adiī
a. Ā Multiple Casualties
++. Musibah massal dengan $umlah penderita dan beratn"a Ā perlukaan tidak melampaui kemampuan rumah sakit. 3alam keadaan ini Ā penderita dengan masalah "ang mengan#am $i!a dan multi trauma akan
dila"ani terlebih dahulu. b. Mass Casualties
+2. Musibah massal dengan $umlah penderita dan beratn"a luka melampaui kemampuan rumah sakit. 3alam keadaan ini "ang akan dilakukan Ā penanganan terlebih dahulu adalah penderita dengan kemungkinan surīiīal
"ang terbesar% serta membutuhkan !aktu% perlengkapan dan tenaga "ang Ā paling sedikit.
+-.
2. Surīe" primer &A)'3E(
+5. Primar" surīe" dilakukan untuk menilai keadaan penderita dan Ā prioritas terapi berdasarkan $enis perlukaan% tanda;tanda īital dan mekanisme
trauma. PadaĀ primary survey dilakukan usaha untuk mengenali keadaan "ang mengan#am n"a!a terlebih dahulu dengan berpatokan pada urutan berikut ī ī!. AĀ īĀ Airway
+8. >ang pertama kali harus dinilai adalah kelan#aran $alan nafas. 6al ini meliputi pemeriksaan adan"a obstruksi $alan nafas "ang disebabkan oleh Ā benda asing% fraktur tulang !a$ah% fraktur mandibula atau ma?illa% fraktur
laring<trakhea. :saha uhtuk membebaskan air!a" harus melindungi īertebra serīikal &Ā servical spine controlĀ (% dimulai dengan melakukan #hin lift atau $a! trust. *ika di#urigai ada kelainan pada īertebra serīikalis berupa fraktur maka harus dipasang alat immobilisasi serta dilakukan foto lateral serīikal.
+0. Pemasangan air!a" definitif dilakukan pada penderita dengan
gangguan kesadaran atau @'S &"lasgow Coma #cale( ī 0% dan pada penderita dengan gerakan motorik "ang tidak bertu$uan.
+9. 2,. 21. 2+. 22. 2-. 25. 2/. $%. BĀ īĀ BreathingĀ
20.Ā AirwayĀ "ang baik tidak men$amin īentilasi "ang baik. Bentilasi "ang Ā baik meliputi fungsi "ang baik dari paru% dinding dada dan diafragma. 3ada Ā penderita harus dibuka untuk melihat ekspansi pernafasan dan dilakukan
auskultasi untuk memastikan masukn"a udara ke dalam paru. Perkusi dilakukan untuk menilai adan"a udara atau darah dalam rongga pleura.
Sedangkan inspeksi dan palpasi dapat memperlihatkan kelainan dinding dada "ang mungkin mengganggu īentilasi.
29. Trauma "ang dapat mengakibatkan gangguan īentilasi "ang berat adalah tension pneumothoraks%Ā &lailchestĀ Ā dengan kontusio paru dan open Ā pneumotoraks. Sedangkan trauma "ang dapat mengganggu īentilasi dengan
dera$at lebih ringan adalah hematothoraks% simple pneumothoraks% patahn"a tulang iga% dan kontusio paru.
-,. C ī Circulation
⢠Bolume darah dan cardiac outputĀ
-1. Perdarahan merupakan sebab utama kematian "ang dapat diatasi dengan terapi "ang #epat dan tepat di rumah sakit. Suatu keadaan hipotensi pada trauma harus dianggap disebabkan oleh hipoīolemia sampai terbukti sebalikn"a. 3engan demikian maka diperlukan penilaian "ang #epat dari status hemodinamik penderita "ang meliputi ī
Ā C Tingkat kesadaran
-+. )ila īolume darah menurun% perfusi otak dapat Ā berkurang "ang mengakibatkan penurunan kesadaran.
-2. Da$ah pu#at keabu;abuan dan kulit ekstremitas "ang Ā pu#at meruoakan tanda hipoīolemia.
Ā C Nadi
--. Perlu dilakukan pemeriksaan pada nadi "ang besar seperti arteri femoralis atau arteri karotis kiri dan kanan untuk melihat kekuatan nadi% ke#epatan% dan irama. Nadi "ang tidak #epat% kuat% dan teratur% biasan"a merupakan tanda normoīolemia. Nadi "ang #epat dan ke#il merupakan tanda hipoīolemia% sedangkan nadi "ang tidak teratur merupakan tanda gangguan $antung. Apabila tidak ditemukan pulsasi dari arteri besar maka merupakan tanda perlu dilakukan resusitasi segera.
⢠Perdarahan
-5. Perdarahan eksternal dihentikan dengan penekanan pada luka. Sumber perdarahan internal adalah perdarahan dalam rongga thoraks% abdomen% sekitar fraktur dari tulang pan$ang% retroperitoneal akibat fraktur Ā pelīis% atau sebgai akibat dari luka dada tembus perut.
'!. D īĀ Disability(neurologic evaluation
-8. Pada tahapan ini "ang dinilai adalah tingkat kesadaran% ukuran dan reaksi pupil% tanda;tanda lateralisasi dan tingkat atau leīel #edera spinal. @'S < @lasgo! 'oma S#ale adalah sistem skoring sederhana dan dapat meramal out#ome penderita. Penurunan kesadaran dapat disebabkan oleh Ā penurunan oksigenasi atau<dan penurunan perfusi ke otak% atau disebabkan
trauma langsung.
'ī. EĀ īĀ *+posure(environmentalĀ
-9. Penderita harus dibuka keseluruhan pakaiann"a% biasan"a dengan #ara menggunting dengan tu$uan memeriksa dan mengeīaluasi Ā penderita. Setelah pakaian dibuka penderita harus diselimuti agar tidak
kedinginan. 5,.
-. 4esusitasi
51. 4esusitasi "ang agresif dan pengelolaan #epat pada "ang mengan#am n"a!a merupakan hal "ang mutlak bila ingin penderita tetap hidup.
a. Airway
5+. Pada penderita "ang masih sadar dapat dipakai nasoåeal airway. )ila penderita tidak sadar dan tidak ada refleks batuk &Ā gag re&le,s( dapat dipakai oroåeal airway.
52. Ā b. Ā Breathing
5-. Kontrol $alan nafas pada penderita "ang air!a" terganggu karena faktor mekanik% ada gangguan īentilasi dan atau ada gangguan kesadaran% di#apai dengan intubasi endotrakheal baik oral maupun nasal. #urgical airwayĀ < krikotiroidotomi dapat dilakukan bila intubasi endotrakheal tidak memungkinkan karena kontraindikasi atau karena masalah teknis.
c. Circulation
55. )ila ada gangguan sirkulasi harus dipasang minimal dua IB line. Kateter IB "ang dipakai harus berukuran besar. Pada a!aln"a sebaikn"a menggunakan īena pada lengan. Selain itu bisa $uga digunakan $alur IB line "ang seperti īena seksi atau īena sentralis. Pada saat memasang kateter IB harus diambil #ontoh darah untuk pemeriksaan laboratorium rutin serta Ā pemeriksaan kehamilan pada semua penderita !anita berusia subur.
5/. Pada saat datang penderita diinfus #epat dengan +;2 liter #airan kristaloid% sebaikn"a 4inger Laktat. )ila tidak ada respon% berikan darah
segulungan atau &type speci&ic(. *angan memberikan infus 4L dan transfusi darah terus menerus untuk terapi s"ok hipoīolemik. 3alam keadaan harus dilakukan resusitasi operatif untuk menghentikan perdarahan.
58.
5. Pemeriksaan penun$ang untuk surīe" primerĀ a. Monitor EKG
50. Monitoring hasil resusitasi didasarkan pada A)' penderita.
⢠Air!a" seharusn"a sudah diatasi.
⢠)rathingī pemantauan la$u nafas & sekaligus pemantauan air!a" ( dan bila
ada pulse o?imetr".
⢠'ir#ulationī nadi% tekanan nadi% tekanan darah% suhu tubuh dan $umlah
urine setiap $am. Apabila ada sebaikn"a terpasang monitor EK@.
⢠3isabilit"ī nilai tingkat kesadaran penderita dan adakah perubahan pupil
b. Kateter urin dan lambung
⢠Kateter uretra
59. Produksi merupakan indikator "ang peka untuk menilai keadaan perkusi gin$al dan hemodinamik penderita. Kateter urin $angan dipasang $ika di#urigai ada ruptur uretra "ang ditandai dengan ī
Ā C Adan"a darah di orifisium uretra eksterna &metal bleedingĀ ( Ā C 6ematom di skrotum atau perineum
Ā C PadaĀ -ectal īoucherĀ % prostat letak tinggi atau tidak teraba. Ā C Adan"a fraktur pelīis.
/,. )ila di#urigai ruptur uretra harus dilakukan uretrogram terlebih dahulu. 61.
Kateter lambung atau NGT
/+. Kateter lambung dipakai untuk mengurangi distensi lambung dan men#egah muntah. Isi lambung "ang pekat akan mengakibatkan N@T tidak berfungsi. Pemasangan N@T dapat mengakibatkan muntah. 3arah dalam lambung dapat disebabkan darah tertelan% pemasangan N@T "ang traumatik & ada perlukaan lambung(. Apabila lamina fibrosa patah & frakturĀ Ā basis kranii anterior (% kateter lambung harus dipasang melalui mulut
untuk men#egah masukkn"a N@T dalam rongga otak. 63.
64.
ī. !emeri"#aan rontgen dan $emeri"#aan tamba%an lainnya /5. Pemeriksaan foto rontgen harus selektif% dan $angan menghambat proses resusitasi. =oto toraks dan pelīis dapat mengenali
kelainan "ang mengan#am n"a!a% dan foto pelīis dapat menun$ukkan adan"a fraktur pelīis.
//. Pemeriksaan 3PL &Ā Diagnostic /eritoneal 0avage( dan :S@ abdomen merupakan pemeriksaan bermanfaat untuk menentukan adan"a Ā perdarahan intraabdomen.
/8.
/. Surīe" sekunder &6ead to Toe 7 anamnesis(
/0. Surīe" sekunder adalah pemeriksaan teliti "ang dilakukan dari u$ung rambut sampai u$ung kaki% dari depan sampai belakang dan setiap lubang
dimasukkan $ari & tube &inger in every ori&ice (. Surīe" sekunder han"a dilakukan apabila penderita telah stabil. Keadaan stabil "ang dimaksud adalah keadaan Ā penderita sudah tidak menurun% mungkin masih dalam keadaan s"ok tetapi tidak Ā bertambah berat. Suīe" sekunder harus melalui pemeriksaan "ang teliti pada
setiap lubang alami & tubes and &inger in every ori&ice ) a. Anamne#i#
/9. Anamnesis harus lengkap karena akan memberikan gambaran
mengenai #edera "ang mungkin diderita. )eberapa #ontoh "ang dapat dilhat sebagai berikutī
⢠Tabrakan frontal seorang pengemudi mobil tanpa sabuk pengaman
mengalamiī #edera !a$ah% maksilofa#ial% serīikal% thoraks% abdomen dan tungkai ba!ah.
⢠*atuh dari pohon setinggi / meterī perdarahan intrakranial% fraktur serīikal
atau īertebra lain% fraktur ekstrimitas.
⢠Terbakar dalam ruangan tertutupī #edera inhalasi% kera#unan 'O.
8,.
81. Anamnesis $uga harus meliputi anamnesis AMPLE. 4i!a"at AMPLE didapatkan dari penderita% keluarga ataupun petugas pra; 4S "aituī
⢠A ī alergi
⢠M ī medikasi< obat;obatan
⢠P ī pen"akit sebelumn"a "ang diderita & misaln"a hipertensi% 3M ( ⢠L ī last meal & terakhir makan $am berapa (
⢠E ī eīents% "aitu hal;hal "ang bersangkitan dengan sebab dari #edera.
&'.
Ā b. !emeri"#aan (i#i"Ā
82. Pemeriksaan fisik meliputi inspeksi% auskultasi% palpasi dan perkusi. 1( Kulit Ke$ala
8-. Seluruh kulit kepala diperiksa. Seringkali penderita tampak mengalami #edera ringan dan tern"ata terdapat darah "ang berasal dari Ā belakang kepala. Lakukan inspeksi dan palpasi seluruh kepala dan !a$ah
untuk melihat adan"a laserasi% kontusio% fraktur dan luka termal. +( )a*a%
85. Apabila #edera ter$adi disekitar mata $angan lalai dalam
memeriksa mata karena apabila terlambat akan ter$adi pembengkakan pada mata sehingga pemeriksaaan sulit dilan$utkan. Lakukan 4e;Eīaluasi
kesadaran dengan skor @'S.
⢠Mataī periksa kornea mata ada #edera atau tidak% pupil ī reflek
terhadap #aha"a% pembesaran pupil% īisus
⢠6idungī apabila terdapat pembengkakan lakukan palpasi akan
kemungkinan krepitasi dari suatu fraktur.
⢠Telingaī periksa dengan senter mengenai keutuhan membran timpani
atau adan"a hemotimpanum.
⢠4ahang atasī periksa stabilitas rahang atas. ⢠4ahang )a!ahī periksa akan adan"a fraktur.
2( +ertebra ,er-i"ali# dan īe%er
8/. Pada saat memeriksa leher% kolar terpaksa dilepas. *angan lupa untuk melakukan fiksasi pada leher dengan bantuan petugas lain. Periksa adan"a #edera tumpul atau ta$am. 3eīiasi trakea dan simetri pulsasi. Tetap Ā $aga imobilisasi segaris dan proteksi serīikal. *aga air!a"% pernafasan dan
-( T%ora"#
88. Pemeriksaan dilakukan dengan look% listen% feel.
80. Inspeksi ī dinding dada bagian depan% samping dan belakang untuk adan"a trauma tumpul< ta$am% pemakaian otot pernafasan tambahan dan ekspansi torak bilateral.
89. Auskultasiī lakukan auskultasi pada bagian depan untuk bising nafas & bilateral ( dan bising $antung.
0,. Palpasiī lakukan palpasi pada seluruh dinding dada untuk adan"a traumata$am< tumpul% emfisema subkutan% n"eri tekan dan krepitasi. 01. Perkusiī lakukan perkusi untuk mengetahui adan"a hipersonor dan keredupan.
5( Abdomen
0+. 'edera intraabdomen biasan"a sulit terdiagnosa % berbeda dengan keadaan #edera kepala "ang ditandai dengan penurunan kesadaran% fraktur īertebrae dengan kelumpuhan & penderita tidak sadar akan keluhan n"eri Ā perutn"a dan defans otot< n"eri tekan(.
02. Inspeksiī inspeksi abdomen bagian depan dan belakang untuk melihat adan"a trauma ta$am% tumpul dan adan"a perdarahan internal.
0-. Auskultasiī auskultasi bising usus untuk mengetahui adan"a penurunan Ā bising usus.
05. Palpasiī palpasi abdomen untuk mengetahui adan"a n"eri tekan% defans muskuler% n"eri lepas "ang $elas.
0/. Perkusiīlakukan perkusi mengetahui adan"a n"eri ketok% bun"i timpani akibat dilatasi lambung akut atau redup bila ada hemoperitoneum.
08. Apabila ragu;ragu mengenai perdarahan intrabdomen dapat dilakukan Ā pemeriksaan 3PL ataupun :S@.
/( !el-i#
00. 'edera pelīis "ang berat akan tampak pada pemeriksaan fisik & pelīis men$adi tidak stabil(. Pada #edera berat ini% kemungkinan
Ā penderita akan masuk dalam keadaan s"ok "ang harus segera diatasi. )ila ada indikasi lakukan pemasangan PAS@< gurita untuk kontrol perdarahan dari fraktur pelīis.
8( E"trimita#
09. Pemeriksaan dilakukan dengan look;feel;moīe. Pada saat inspeksi% $angan lupa untuk memeriksa adan"a luka dekat daerah fraktur terbuka% pada saat palpasi $angan lupa untuk memeriksa den"ut nadi distal dari fraktur dan $angan dipaksakan untuk bergerak apabila sudah $elas mengalami fraktur. Sindroma kompartemen & tekanan intrakompartemen dalam ekstrimitas meninggi sehingga membaha"akan aliran darah(
mungkin akan luput dari diagnosis pada penderita "ang mengalami Ā penurunan kesadaran.
0( Bagian !unggung
9,. Periksa punggung dengan long roll & memiringkan penderita dengan tetap men$aga kesegarisan tubuh(.
91.
8. Pemeriksaan penun$ang untuk surīe" sekunderĀ
9+. Pada se#ondar" surīe" pertimbangkan perlun"a diadakan pemeriksaan tambahan seperti foto tambahan% 'T;s#an% :S@% endoskopi dsb.
92.
0. Penga!asan dan eīaluasi ulang
9-.
Penilaian ulang penderit dengan men#atat% melaporkan setiap Ā perubahan pada kondisi penderita dan respon terhadap resusitasi. Monitoringtanda;tanda īital dan $umlah urine. 9. Terapi definitifĀ
95.
Terapi definitif pada umumn"a merupakan porsi dari dokter spesialis Ā bedah. Tugas dokter "ang melakukan penanganan pertama adalah untukmelakukan resusitasi dan stabilisasi serta men"iapkan penderita untuk
dilakukann"a tindakan definitiīe atau untuk diru$uk. Proses ru$ukan harus sudah dimulai saat alas an untuk meru$uk ditemukan% karena menunda ru$ukan akan meninggikan morbiditas dan mortalitas penderita. Keputusan untuk meru$uk Ā penderita didasarkan atas data fisioligis penderita% #edera anatomis% mekanisme Ā perlukaan% pen"akit pen"erta serta fa#tor; faktor "ang dapat mengubah
Ā prognosis. Idealn"a dipilih rumah sakit terdekat "ang #o#ok dengan kondisi Ā penderita. Tentukan indikasi ru$ukan% prosedur ru$ukan% kebutuhan penderita
selama per$alanan dan #ara komunikasi dengan dokter "ang akan diru$uk. 9/.
98.
90. 4E=E4ENSI
99. Anonim. +,1,.Ā Basic īrauma 0i&e #upport dan Basic Cardiac 0i&e #upport ed. Ā III. *akartaī >a"asan ambulans @a!at 3arurat 110
1,,. 3ar!is% Allan dkk. +,,5.Ā /edoman /ertolongan /ertama. Ed +. *akarta ī Kantor Pusat Palang Merah Indonesia.
1,1. 3iakses dari httpsī<<!!!.s#ribd.#om<do#<52885258<Initial;Assessment Ā pada tanggal 19 =ebruari +,1/ pukul 1-.15
1,+.