35 BAB III
OBJEK DAN DESAIN PENELITIAN III.1 Objek Penelitian
III.1.1 Sejarah Singkat PT Sunson Textile Manufacture Tbk.
PT. Sunson Textile Manufacturer Tbk (“PT SSTM” atau “Perseroan”) adalah sebuah perusahaan tekstil terpadu berkedudukan di Bandung yang didirikan pada tahun 1972 dengan nama PT Sandang Usaha Nasional Indonesia Tekstil Industri. Sesuai dengan Undang-Undang Penanaman Modal Dalam Negeri No. 6 tahun 1968 yang telah diubah dengan Undang-Undang No. 12 tahun 1970, berdasarkan akta Notaris Widyanto Pranamihardja, S.H., No. 20. Perubahan dengan akta Notaris yang sama No. 47 tanggal 28 Mei 1976. Pada bulan Agustus 1997, Perusahaan melakukan penawaran umum sebanyak 80.000.000 saham dengan nilai nominal Rp 500 per saham yang ditawarkan dengan harga Rp 850 per saham. Perusahaan mencatatkan kembali seluruh saham pada Bursa Efek Jakarta pada tanggal 24 Oktober 1997 dan Bursa Efek Surabaya pada tanggal 23 Oktober 1997. Perseroan memiliki Group Perseroan antara lain PT Bank Bisnis Internasional (Perbankan), PD Surya Rejeki (Perdagangan Benang), PT Sunsonindo Textile Investama (Holding), PT Bandung Pakar (Properti), PT Sun Antar Nusa (Perdagangan). Saat ini bidang usaha Perseroan meliputi industri pemintalan, pertenunan dan texturizing, dengan fokus utama di pemintalan. Produk yang dihasilkan Perseroan antara lain : benang dan kain tenun dari bahan 100% katun, TC (Teteron-Cotton atau Kapas), CVC (Cotton Viscose), TR (Teteron-Rayon) dan PE (Polyester), serta benang polyester DTY (Draw Textured Yarn atau Benang Tekstur). Selain memasarkan produknya di pasar domestik, Perseroan juga melakukan penjualan ekspor ke negara-negara di Asia, Eropa, Amerika dan Afrika. Selama lebih dari 38 tahun PT SSTM pada
36 akhir tahun 2010 telah mempekerjakan sekitar 3,075 orang. Sebagian besar karyawan Perseroan berpendidikan SLTP dan SLTA dengan usia 25-35 tahun. Untuk meningkatkan keterampilan dan kompetensi sumber daya manusianya, Perseroan mengadakan pelatihan karyawan secara berkala. Selain itu, Perseroan juga senantiasa memberi perhatian yang cukup besar pada kesejahteraan dan kesehatan karyawan. Di lingkungan pabrik Perseroan terdapat fasilitas poliklinik, koperasi, tempat ibadah dan sarana olahraga. Pihak manajemen terus berusaha membina hubungan industrial yang harmonis dengan karyawan, yang diwakili oleh serikat pekerja. Perseroan juga melaksanakan Tanggung Jawab Sosialnya (Corporate Social Responsibility) baik ke dalam maupun ke luar untuk meningkatkan kualitas kehidupan karyawan dan keluarganya, maupun bagi masyarakat. Bagi karyawan, Perseroan menyediakan fasilitas sarana olahraga, klinik, tempat ibadah, koperasi dan pinjaman darurat. Sedangkan bagi masyarakat sekitar, Perseroan membantu menyediakan air bersih, menyertakan warga dalam pengamanan pabrik, program bagi hasil tanah sawah milik Perseroan maupun melalui program kemitraan dengan menjual waste pabrik kepada masyarakat. Pada saat-saat tertentu Perseroan juga melakukan program pembagian sembako untuk warga yang kurang mampu.
Perseroan memperoleh Laba Bersih sebesar Rp 9,9 miliar di tahun 2010. Dalam dua tahun terakhir, kenaikan harga rata-rata produk Perseroan yang sekitar 4% per tahun tidak terlalu mempengaruhi tingkat penjualan maupun keuntungan Perseroan karena sebagai penyesuaian terhadap kenaikan harga biaya operasional.
Lokasi utama bisnis Perseroan terletak di Jl. Raya Rancaekek Km 25.5, Kabupaten Sumedang, Bandung, Indonesia. PT SSTM memiliki agency di 27 negara di
37 dunia, ini untuk mengatur pasar ekspornya. Sedangkan untuk pendistribusian di dalam negeri dipercayakan pada PD. Surya Rejeki dan PT Sunsonindo Textile Investama.
III.1.2 Bidang Usaha
Sesuai dengan Pasal 3 Anggaran Dasar Perseroan, ruang lingkup kegiatan utama Perusahaan meliputi usaha industri tekstil terpadu termasuk memproduksi dan menjual benang, kain dan produk tekstil lainnya dan juga melakukan perdagangan umum. Bidang usaha PT SSTM meliputi industri pemintalan, pertenunan dan texturizing, dengan fokus utama di pemintalan.
III.1.3 Produk-produk
PT Sunson Textile Manufacturer Tbk memulai kegiatan komersialnya sejak tahun 1973. Produksi utama adalah Industri pemintalan dan pertenunan. Produk yang dihasilkan Perseroan antara lain : benang dan kain tenun dari bahan 100% katun, TC (Teteron-Cotton atau Kapas), CVC (Cotton Viscose), TR (Teteron-Rayon) dan PE (Polyester), serta benang polyester DTY (Draw Textured Yarn atau Benang Tekstur).
TC (Teteron-Cotton atau Kapas) merupakan Campuran dari Cotton Combed 35% dan Polyester (Teteron) 65%. Dibanding bahan Cotton, bahan TC kurang bisa menyerap keringat dan agak panas di badan sehingga kurang nyaman. Kelebihannya tidak susut atau melar meskipun sudah dicuci berulang kali.
CVC (Cotton Viscose) adalah jenis bahan kaos dari campuran 55% Cotton Combed dan 45% Viscose. Kelebihan dari bahan ini adalah tingkat shrinkage-nya (susut pola) lebih kecil dari bahan Cotton. Jenis bahan kaos ini juga bersifat menyerap keringat.
38 TR (Teteron-Rayon) Teteron disebut juga polyester, rayon dipasaran disebut juga viscose. Kemudian PE (Polyester) merupakan jenis bahan kaos yang terbuat dari serat sintetis atau buatan dari hasil olahan minyak bumi untuk dibuat serat poly fiber dan untuk produk biji plastik. Karena sifat bahan dasarnya, maka jenis bahan ini tidak bisa menyerap keringat dan dipakai serasa panas (kurang nyaman).
Selain memasarkan produknya di pasar domestik, Perseroan juga melakukan penjualan ekspor ke negara-negara di Asia, Eropa, Amerika dan Afrika.
III.1.4 Visi dan Misi Perusahaan
Visi PT SSTM yaitu menjadi salah satu produsen benang yang terkemuka dan paling menguntungkan di Indonesia.
Misi PT SSTM adalah menghasilkan produk berkualitas yang memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan kami.
III.1.5 Struktur Organisasi
Adapun struktur organisasi pada PT Sunson Textile Manufacturer Tbk adalah sebagai berikut:
Dewan Komisaris
Presiden Komisaris : Sundjono Suriadi Komisaris : Ny. Mariah Suriadi
: Sidarto Danusubroto : Bernardi Widjajakusuma Komisaris Independen : Ali Senitro
39 Direksi
Presiden Direktur : Purnawan Suriadi
Direktur : Fransiscus Hadyanto
Edduardus Gunawan Komite Audit
Ketua Komite Audit : Ali Senitro
Anggota Komite Audit : Luciana Setiati Harsono Theodorus Hadi Tjipto Yuwono
Gambar 3.1
Bagan Struktur Organisasi PT Sunson Textile Manufacturer Tbk
III.1.6 Sejarah Singkat PT Pan Brothers Tex Tbk.
PT Pan Brothers Tex Tbk (“PT PBRX” atau “Perseroan”) didirikan pada 21 Agustus 1980. PT PBRX bergerak dalam industri garmen berorientasi ekspor dengan
40 memproduksi berbagai jenis pakaian jadi. Saham Perseroan pertama kali ditawarkan kepada masyarakat di tahun 1990 dan tercatat di Bursa Efek Indonesia sejak tahun 1990. Sampai 31 Desember 2010 Perseroan memiliki satu anak perusahaan yaitu PT Panca Prima Ekabrothers. Perseroan didirikan berdasarkan akta notaris Misahardi Wilamarta, SH., Jakarta No. 96 tanggal 21 Agustus 1980 kemudian diubah dengan akta notaris No. 58 tangal 16 Oktober 1980.
PT PBRX memiliki beberapa pabrik di Indonesia yang berlokasi di berbagai kota, ada 16 pabrik di Indonesia diantaranya 5 pabrik di Tangerang, 6 pabrik di Boyolali, 1 pabrik di Sukabumi, 4 pabrik di Solo. Dengan kantor cabang di Taiwan, Hongkong, Singapore, Korea, China dan India. PT PBRX bangkit dari krisis ekonomi 1998 setelah dengan fokus yang kuat pada ekspor. PT PBRX sebagai pemasok garmen Indonesia yang memiliki aspirasi besar untuk tumbuh dan berkembang di daerah-daerah serta ke negara-negara Asia lainnya. PT PBRX dikenal sebagai salah satu kelompok manufaktur garmen yang kuat, stabil dan terkemuka di Indonesia, perusahaan memiliki hubungan dengan merek-merek internasional yang terkenal. Sebagai Group, pada tahun 2010 Perseroan mencapai omset sebesar USD 157 juta. Kapasitas Perseroan di Indonesia terus meningkat dari 2007 sampai 2011 dan dalam produksinya Perseroan menggunakan 13,250 mesin jahit. Sebagai produsen, PT PBRX memasok produk-produk untuk perusahaan seperti Calvin Klein, New York & Co, Nautica, Perry Ellis, Marks & Spencer, Abercrombie & Fitch, Lane Bryant, S. Oliver, Tom Tailor, Jack Nicklaus, Christopher & Banks, Dillard, yang Chico, Russel, Selanjutnya, J Crew, Wilson, The Cato, Salomon, Piagam Club, Nike, Adidas, The North Face, Stella, JC Penney, Charming, Macy,dll.
41 Mulai 2011, PT PBRX memiliki anak perusahaan baru, agen/perusahaan pengembangan produk yaitu PT Hollit Internasional yang berkantor pusat di Jakarta dan kantor anak perusahaan di Delhi / India. Hollit (didirikan pada 1990) difokuskan pada pengembangan dan penciptaan tren terbaru dalam gaya, finishing dan bahan, mengelola koleksi dan produksi dunia merek fashion terkenal seperti Hugo Boss, Armani, Aigle, Woolrich, Strellson, Benetton, Energie, O'Neill dan lain. PT Hollit, dengan kemampuan dan pengetahuan yang unik, dengan 20 tahun pengalaman dalam beberapa merek dunia. Komitmen jangka panjang dan visi PT PBRX adalah untuk menjadi pemasok garmen bereputasi internasional dan terintegrasi. Tujuan Perseroan di masa depan juga untuk ekspansi ke bisnis fashion ritel di Asia. PT PBRX memiliki kantor cabang di Singapura, Hong Kong, Taiwan, Cina, Korea dan India sebagai fungsi penjualan.
Selama lebih dari 30 tahun PT PBRX pada akhir tahun 2010 telah mempekerjakan sekitar 20,800 orang yang tersebar di seluruh pabrik di Indonesia. PT PBRX berkantor pusat di Jl. Siliwangi No. 178, Jatiuwung, Tangerang, Indonesia.
III.1.7 Bidang Usaha
Sesuai dengan pasal 3 Anggaran Dasar Perseroan, ruang lingkup kegiatan Perseroan meliputi perindustrian, perdagangan hasil usaha industri tersebut, mengimpor alat-alat, pengangkutan dan perwakilan atau keagenan, jasa pengelolaan dan penyewaan gedung perkantoran, taman hiburan atau rekreasi dan kawasan berikat. PT Pan Brothers Tex Tbk bergerak dalam bidang garment dan tekstil khususnya industri pakaian jadi.
42 III.1.8 Produk-produk
PT PBRX memproduksi semua jenis pakaian, tetapi fokus utama adalah pada pakaian rajutan seperti Polo Shirt, Shirt Golf, Track Suit, Sweat Shirt, Pant, dll, dengan bahan seperti Single Jersey, Pique, Fleece dalam Cotton, Polyester, CVC, TC, Micro Fiber, dll. Pasar PT PBRX telah menyebar di seluruh Amerika Serikat, Eropa Barat dan Timur, Kanada, Jepang, Australia dan berbagai negara lain.
III.1.9 Visi dan Misi Perusahaan
Visi PT PBRX yaitu menjadi produsen di industri garmen yang terintegrasi di seluruh dunia.
Misi PT PBRX antara lain:
Berkontribusi secara aktif bagi pembangunan ekonomi Indonesia.
Terus memelihara kepemimpinan kami di industri garmen dan menyediakan produk – produk berkualitas dengan harga yang pantas.
Meningkatkan kinerja perusahaan dan produk – produk dengan menerapkan praktek manajemen yang baik (penerapan Good Corporate Governance). Memanfaatkan sumber daya keuangan secara efisien.
Menciptakan kesempatan terbaik bagi karyawan kami untuk mengembangkan dan mencapai potensi maksimal mereka.
Memaksimalkan nilai pemegang saham dan memberikan kesempatan yang menarik.
43 III.1.10 Struktur Organisasi
Adapun struktur organisasi pada PT Pan Brothers Tex Tbk adalah sebagai berikut:
Dewan Komisaris
Presiden Komisaris : Lee Wan Ju Komisaris Independen : Kawiro Susilo
Djoko Susanto
Direksi
Presiden Direktur : Ludijanto Setijo Wakil Presiden Direktur : Anne Patricia Sutanto Direktur : Fitri Ratnasari Hartono
Kuo Yu Hsiang (Harry Kuo) Lilik Setijo
Lucia Sitiabudi Hendraka Komite Audit
Ketua Komite Audit : Kawiro Susilo Anggota Komite Audit : Bunardy Limanto
44 Gambar 3.2
Bagan Struktur Organisasi PT Pan Brothers Tex Tbk
III.2 Desain Penelitian III.2.1 Jenis dan Sumber Data
Sumber data dalam skripsi ini adalah data sekunder yaitu harga close dari saham harian PT Sunson Textile Manufacture dan PT Pan Brothers Tex, yang didapat dari Bursa Efek Indonesia pada periode Oktober 2009 – Maret 2010 pada saat sebelum dan sesudah pemberlakuan ACFTA (ASEAN – China Free Trade Area) 1 Januari 2010. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu :
1. Data Sekunder
Pengumpulan data dilakukan dengan membaca, mencatat dan mempelajari buku-buku, diktat-diktat, literatur, serta sumber-sumber data lainnya yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. Metode ini dilakukan untuk
45 mengumpulkan data sebagai landasan teori yang akan diterapkan dalam penulisan skripsi ini.
2. Penelitian di Lapangan
Pengumpulan data dilakukan dengan observasi langsung dengan mengunjungi perusahaan atau lembaga yang bersangkutan. Yaitu Bursa Efek Indonesia (BEI).
III.2.2 Pengumpulan Sampel
Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam skripsi ini adalah purposive sampling. Purposive sampling adalah penentuan sampel mempertimbangkan kriteria-kriteria tertentu yang telah dibuat terhadap obyek yang sesuai dengan tujuan penelitian. Purposive sampling didasarkan pada pertimbangan penulis berdasarkan ciri atau karakteristik populasi yang sudah diketahui sebelumnya. Penulis menggunakan tehnik ini dalam skripsi ini karena tehnik ini biasa digunakan pada penelitian studi kasus. Sampel yang diambil oleh penulis yaitu PER (Price Earning Ratio) semua perusahaan tekstil periode Desember 2009. Alasan penentuan lingkup waktu ini karena pada periode tersebut semua perusahaan (emiten) sektor tekstil berada pada kondisi laba yang maksimal dibandingkan harga pasar saham ketika sebelum menghadapi pemberlakuan ACFTA pada januari 2010, sehingga dapat dianalisis pengaruhnya melalui perbandingan kinerja saham perusahaan tekstil sebelum dan sesudah pemberlakuan ACFTA pada 1 januari 2010.
46 Kriteria-kriteria perusahaan yang menjadi objek penelitian, sebagai berikut: 1. Telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia hingga tahun 2010.
2. Perusahaan yang memiliki peringkat nilai PER (Price Earning Ratio) terendah dan tertinggi dibandingkan PER rata-rata industri perusahaan tekstil lainnya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada akhir Desember 2009. Kemudian penulis juga menghubungkan total asset perusahaan dengan nilai PER terendah tersebut dengan total asset perusahaan dengan nilai PER tertinggi. Sehingga kedua perusahaan tersebut memiliki nilai total asset yang hampir sama dibandingkan dengan perusahaan tekstil lainnya di BEI. PER dijadikan acuan karena merupakan indikator untuk menilai kewajaran harga saham yang dicerminakan oleh hubungan antara harga pasar saham dengan laba per lembar saham. Sementara itu, Hayati (2010:54) PER dianggap oleh investor sebagai ukuran kekuatan perusahaan untuk memperoleh laba dimasa yang akan datang. Sehingga dapat dianalisis apakah ada pengaruh yang signifikan terhadap kedua perusahaan tekstil yang memiliki PER terendah dan tertinggi pada saat sebelum dan sesudah pemberlakuan ACFTA.
III.2.3 Analisis dan Perhitungan Data
1. GMR digunakan untuk menghitung rata-rata Rm, rata-rata Ri harian
2. Average digunakan untuk menghitung rata-rata return perdagangan saham. 3. Uji anova dua sample digunakan untuk menguji tingkat rata-rata laba
perdagangan saham dan untuk menguji rata-rata volume perdagangan saham sebelum dan sesudah pemberlakuan ACFTA 2010.
47 III.2.4 Penyajian Data
Hasil analisis akan ditampilkan dalam bentuk tabel, grafik, bagan dan disesuaikan dengan sub judul penelitian yang mencerminkan informasi untuk menunjang tercapainya tujuan penelitian.
III.2.5 Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis menguji perbedaan rata-rata laba dan volume perdagangan saham tekstil pada periode sebelum dan sesudah pemberlakuan ACFTA 2010.
Pengujian hipotesis dilakukan dengan tahapan-tahapan sebagai berikut:
1. Menghitung rata-rata Trading Volume Activity (TVA) dan return seluruh sampel
2. Melakukan uji ANOVA satu arah (pada tingkat signifikansi α = (0,05) 3. Menentukan Ho dan H1;
H0 : μ1 = μ2 tidak berbeda nyata H1 : μ1 = μ2 ada berbeda nyata 4. Melakukan pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan cara:
Menerima Ho jika F-hitung < F-tabel, dari tingkat signifikansi α = (0,05) maka tidak ada perbedaan signifikan. Menolak Ho atau menerima H1 atau Ha jika F-hitung > F-tabel, dari tingkat signifikansi α = (0,05) maka ada perbedaan signifikan.
48 III.2.6 Operasionalisasi Variabel Penelitian
No variabel definisi indikator simbol skala
data
1 Close price
Harga penutupan saham
harian Rupiah
SSTM,
PBRX Ratio
2 Close IHSG
Nilai penutupan IHSG
harian Point IHSG Ratio
3 Volume
Volume perdagangan saham
harian Lot VOL Ratio
4 Daily Return
Tingkat hasil saham harian berdasarkan harga penutupan
Prosentase
(%) Ri Ratio
5 Market Return
Tingkat hasil IHSG harian
berdasar harga penutupan Point RM Ratio
6 GMR
Menghitung rata-rata return saham Prosentase (%) _ Ri Ratio 7 One Way ANOVA
Menganalisis satu macam