BAB 1 BAB 1
PENDAHULUAN PENDAHULUAN 1.1
1.1 Latar Latar BelakangBelakang
Organ-organ pada saluran pencernaan, saluran limfatik, saluran urogenital dan saluran Organ-organ pada saluran pencernaan, saluran limfatik, saluran urogenital dan saluran reproduksi merupakan organ tubuh yang berada di ruang abdomen. Semua organ tersebut dapat reproduksi merupakan organ tubuh yang berada di ruang abdomen. Semua organ tersebut dapat ditemukan dengan menggunakan teknik operasi laparotomi.
ditemukan dengan menggunakan teknik operasi laparotomi.
Laparotomi berasal dari dua kata terpisah, yaitu laparo dan tomi. Laparo sendiri berati perut Laparotomi berasal dari dua kata terpisah, yaitu laparo dan tomi. Laparo sendiri berati perut atau abdomen sedangkan tomi berarti penyayatan. Sehingga laparotomi dapat didefenisikan atau abdomen sedangkan tomi berarti penyayatan. Sehingga laparotomi dapat didefenisikan sebagai penyayatan pada dinding abdomen atau peritoneal. Istilah lain untuk laparotomi adalah sebagai penyayatan pada dinding abdomen atau peritoneal. Istilah lain untuk laparotomi adalah celiotomi.( Fossum, 22!
celiotomi.( Fossum, 22!
"euntungan penggunaan teknik laparotomi medianus adalah tempat penyayatan mudah "euntungan penggunaan teknik laparotomi medianus adalah tempat penyayatan mudah ditemukan karena adanya garis putih (linea alba! sebagai penanda, sedikit ter#adi perdarahan ditemukan karena adanya garis putih (linea alba! sebagai penanda, sedikit ter#adi perdarahan dan di daerah tersebut sedikit mengandung syaraf. $dapun kerugian yang dapat ter#adi dalam dan di daerah tersebut sedikit mengandung syaraf. $dapun kerugian yang dapat ter#adi dalam pengg
penggunaan metode ini adalah mudah ter#adi hernia #ika proses pen#ahitan atau penangan postunaan metode ini adalah mudah ter#adi hernia #ika proses pen#ahitan atau penangan post operasi kurang baik dan persembuhan yang relatif lama.
operasi kurang baik dan persembuhan yang relatif lama.
Oleh karena itu, dalam praktikum kali ini digunakan teknik operasi laparotomi medianus cental Oleh karena itu, dalam praktikum kali ini digunakan teknik operasi laparotomi medianus cental dengan pertimbangan yang telah di#elaskan di atas.
dengan pertimbangan yang telah di#elaskan di atas.
%u#uan laparotomi adalah untuk menemukan dan mengetahui keadaan organ &isceral yang ada %u#uan laparotomi adalah untuk menemukan dan mengetahui keadaan organ &isceral yang ada di dalam ruang abdominal secara langsung serta untuk menegakkan diagnosa.
di dalam ruang abdominal secara langsung serta untuk menegakkan diagnosa.
1.2
1.2 TuTujuan juan PenuliPenulisansan '
'.. enenggeetatahhuui ai appa pa peennggeertrtiiaan dn daari ri llaappararatatoommii 2.
2. eenngegetatahuhui ai apa pa sasa#a #a #e#eninis-s-#e#eninis ds darari i lalapapararatotomimi ).
). eenngegetatahuhui ai apa pa inindidikakasi si didiadadakakanannynya la lapapararatatomomii *.
BAB 2 BAB 2
TINJAUAN TEORITIS TINJAUAN TEORITIS !nse" Dasar #e$is
!nse" Dasar #e$is 2.1 Pengertian 2.1 Pengertian
Lap
Laparataratomy omy mermerupaupakan kan proprosedsedur ur pempembedbedahaahan n yanyang g melmelibaibatkatkan n suatsuatu u insinsisi isi padpadaa di
dindndining g ababdodomemen n hihingngga ga ke ke caca&i&itatas s ababdodommen en (S(S#a#amsmsururihihididayayat at dadan n oongng, , ''!.!. /itambahkan pula bah+a laparatomi merupakan teknik sayatan yang dilakukan pada daerah /itambahkan pula bah+a laparatomi merupakan teknik sayatan yang dilakukan pada daerah abdomen yang dapat dilakukan pada bedah digestif dan obgyn. $dapun tindakan bedah abdomen yang dapat dilakukan pada bedah digestif dan obgyn. $dapun tindakan bedah di
digegestistif f yayang ng serserining g didilalakukukakan n dedengngan an teteninik k ininsisisi si lalapaparatratomomi i inini i adadalaalah h hehernrnioiototomimi,, gasterektomi, kolesistoduodenostomi, hepatorektomi, splenoktomi, apendektomi, kolostomi, gasterektomi, kolesistoduodenostomi, hepatorektomi, splenoktomi, apendektomi, kolostomi, hemoroidektomi dfan fistuloktomi. Sedangkan tindkan bedah obgyn yang sering dilakukan hemoroidektomi dfan fistuloktomi. Sedangkan tindkan bedah obgyn yang sering dilakukan dengan tindakan laoparatomi adalah berbagai #enis operasi pada uterus, operasi pada tuba dengan tindakan laoparatomi adalah berbagai #enis operasi pada uterus, operasi pada tuba fallopi, dan operasi o&arium, yang meliputi hissterektomi, baik histerektomi total, radikal, fallopi, dan operasi o&arium, yang meliputi hissterektomi, baik histerektomi total, radikal, eksenterasi pel&ic, salpingooferektomi bilateral.
eksenterasi pel&ic, salpingooferektomi bilateral. $da * car
$da * cara insisi pembedahan yang dilakukan, antara insisi pembedahan yang dilakukan, antara lain (0ua lain (0unichrist, 21!nichrist, 21!
a.
a. idliidline ine incisioncision n etodetode ie insisi nsisi yang yang palinpaling sg sering ering digudigunakan, nakan, karena karena sedikisedikitt perdarahan,
memotong ligamen dan saraf. 3amun demikian, kerugian #enis insis ini adalah ter#adinya hernia cikatrialis. Indikasinya pada eksplorasi gaster, pankreas, hepar, dan lien serta di ba+ah umbilikus untuk eksplorasi ginekologis, rektosigmoid, dan organ dalam pel&is.
b. 4aramedian, yaitu 5 sedikit ke tepi dari garis tengah (6 2,7 cm!, pan#ang ('2,7 cm!. %erbagi atas 2 yaitu, paramedian kanan dan kiri, dengan indikasi pada #enis operasi lambung, eksplorasi pankreas, organ pel&is, usus bagian bagian ba+ah, serta plenoktomi. 4aramedian insicion memiliki keuntungan antara lain merupakan bentuk insisi anatomis dan fisiologis, tidak memotong ligamen dan saraf, dan insisi mudah diperluas ke arah atas dan ba+ah
c. %rans&erse upper abdomen incision, yaitu 5 insisi di bagian atas, misalnya pembedahan colesistotomy dan splenektomy.
d. %rans&erse lo+er abdomen incision, yaitu5 insisi melintang di bagian ba+ah 6 * cm di atas anterior spinal iliaka, misalnya5 pada operasi appendectomy
2.2. In$ikasi Tin$akan La"arat!%i
$da banyak indikasi dilakukannya laparatomi, diba+ah ini akan dipaparkan, diantaranya
'. %rauma abdomen (tumpul atau ta#am!
%rauma abdomen didefinisikan sebagai kerusakan terhadap struktur yang terletak diantara diafragma dan pel&is yang diakibatkan oleh luka tumpul atau yang menusuk (Ignati&icus 8 9orkman, 2:!. /ibedakan atas 2 #enis yaitu
%rauma tembus (trauma perut dengan penetrasi kedalam rongga peritonium! yang disebabkan oleh luka tusuk, luka tembak. /an #enis kedua yaitu trauma tumpul (trauma perut tanpa penetrasi kedalam rongga peritoneum! yang dapat disebabkan oleh pukulan, benturan, ledakan, deselerasi, kompresi atau sabuk pengaman (sit- belt!.
2. 4eritonitis
4eritonitis adalah inflamasi peritoneum lapisan membrane serosa rongga abdomen, yang diklasifikasikan atas primer, sekunder dan tersier. 4eritonitis
primer dapat disebabkan oleh spontaneous bacterial peritonitis (S;4! akibat penyakit hepar kronis. 4eritonitis sekunder disebabkan oleh perforasi appendicitis, perforasi gaster dan penyakit ulkus duodenale, perforasi kolon (paling sering kolon sigmoid!, sementara proses pembedahan merupakan penyebab peritonitis tersier.
). Sumbatan pada usus halus dan besar (Obstruksi!
Obstruksi usus dapat didefinisikan sebagai gangguan (apapun penyebabnya! aliran normal isi usus sepan#ang saluran usus. Obstruksi usus biasanya mengenai kolon sebagai akibat karsinoma dan perkembangannya lambat. Sebagian dasar dari obstruksi #ustru mengenai usus halus. Obstruksi total usus halus merupakan keadaan ga+at yang memerlukan diagnosis dini dan tindakan pembedahan darurat bila penderita ingin tetap hidup. 4enyebabnya dapat berupa perlengketan
(lengkung usus men#adi melekat pada area yang sembuh secara lambat atau pada #aringan parut setelah pembedahan abdomen!, Intusepsi (salah satu bagian dari
usus menyusup kedalam bagian lain yang ada diba+ahnya akibat penyempitan lumen usus!, <ol&ulus (usus besar yang mempunyaimesocolon dapat terpuntir sendiri dengan demikian menimbulkan penyumbatan dengan menutupnya gelungan usus yang ter#adi amat distensi!, hernia (protrusi usus melalui area yang lemah dalam usus atau dinding dan otot abdomen!, dan tumor (tumor yang ada dalam dinding usus meluas kelumen usus atau tumor diluar usus menyebabkan tekanan pada dinding usus!.
*. $pendisitis mengacu pada radang apendiks, suatu tambahan seperti kantong yang tak berfungsi terletak pada bagian inferior dari sekum. 4enyebab yang paling umum dari apendisitis adalah obstruksi lumen oleh fases yang akhirnya merusak suplai aliran darah dan mengikis mukosa menyebabkan inflamasi.
7. %umor abdomen
:. pancreatitis (inflammation of the pancreas! . abscesses (a locali=ed area of infection!
1. adhesions (bands of scar tissue that form after trauma or surgery!
. di&erticulitis (inflammation of sac-like structures in the +alls of the intestines! '. intestinal perforation
''. ectopic pregnancy (pregnancy occurring outside of the uterus! '2. foreign bodies (e.g., a bullet in a gunshot &ictim!
'). internal bleeding 2.&. P!st O" La"arat!%i
4ost op atau 4ost operatif Laparatomi merupakan tahapan setelah proses pembedahan pada area abdomen (laparatomi! dilakukan. /alam 4erry dan 4otter (27! dipaparkan bah+a
tindakan post operatif dilakukan dalam 2 tahap yaitu periode pemulihan segera dan pemulihan berkelan#utan setelah fase post operatif. 4roses pemulihan tersebut membutuhkan pera+atan post laparatomi. 4era+atan post laparatomi adalah bentuk pelayanan pera+atan
yang di berikan kepadaklien yang telah men#alani operasi pembedahan abdomen. 2.'. Tujuan "era(atan "!st la"arat!%i
'. engurangi komplikasi akibat pembedahan. 2. empercepat penyembuhan.
). engembalikan fungsi klien semaksimal mungkin seperti sebelum operasi. *. empertahankan konsep diri klien.
7. empersiapkan klien pulang. 2.). !%"likasi
'. Syok
/igambarkan sebagai tidak memadainya oksigenasi selular yang disertai dengan ketidakmampuan untuk mengekspresikan produk metabolisme. anifestasi "linis
a. 4ucat
b. "ulit dingin dan terasa basah c. 4ernafasan cepat
d. Sianosis pada bibir, gusi dan lidah e. 3adi cepat, lemah dan bergetar f. 4enurunan tekanan nadi
2. >emorrhagi
a. >. 4rimer ter#adi pada +aktu pembedahan
b. >. Intermediari beberapa #am setelah pembedahan ketika kenaikan tekanan darah ke tingkat normalnya melepaskan bekuan yang tersangkut dengan tidak aman dari pembuluh darah yang tidak terikat
c. >. Sekunder beberapa +aktu setelah pembedahan bila ligatur slip karena pembuluh darah tidak terikat dengan baik atau men#adi terinfeksi atau
mengalami erosi oleh selang drainage.
anifestasi "linis >emorrhagi ?elisah, , terus bergerak, merasa haus, kulit dingin-basah-pucat, nadi meningkat, suhu turun, pernafasan cepat dan dalam, bibir dan kon#ungti&a pucat dan pasien melemah.
). ?angguan perfusi #aringan sehubungan dengan tromboplebitis.
%romboplebitis postoperasi biasanya timbul - '* hari setelah operasi. ;ahaya besar tromboplebitis timbul bila darah tersebut lepas dari dinding pembuluh darah
&ena dan ikut aliran darah sebagai emboli ke paru-paru, hati, dan otak. *. ;uruknya integriats kulit sehubungan dengan luka infeksi.
Infeksi luka sering muncul pada ): - *: #am setelah operasi. Organisme yang paling sering menimbulkan infeksi adalah stapilokokus aureus, mikroorganisme5
gram positif. ;uruknya integritas kulit sehubungan dengan dehisensi luka atau e&iserasi. /ehisensi luka merupakan terbukanya tepi-tepi luka. @&iserasi luka adalah keluarnya organ-organ dalam melalui insisi.Faktor penyebab dehisensi atau e&iserasi adalah infeksi luka, kesalahan menutup +aktu pembedahan, ketegangan yang berat pada dinding abdomen sebagai akibat dari batuk dan muntah.
2.*. Pen+ega,an $an Penanganan !%"likasi '. Syok
4encegahan
b. en#aga trauma bedah pda tingkat minimum
c. 4engatasan nyeri dengan membuat pasien senyaman mungkin dan dengan menggunakan narkotik secara bi#aksana
d. 4emakaian linen yang ringan dan tidak panas (mencegah &asodilatasi! e. Auangan tenang untuk mencegah stres
f. 4osisi supinasi dian#urkan untuk memfasilitasi sirkulasi g. 4emantauan tanda &ital
4engobatan
a. 4asien di#aga tetap hangat tapi tidak sampai kepanasan b. /ibaringkan datar di tempat tidur dengan tungkai dinaikkan
c. 4emantauan status pernafasan dan B<
d. 4enentuan gas darah dan terapi oksigen melalui intubasi atau nasal kanul #ika diindikasikan
e. 4enggantian cairan dan darah kristaloid (eC AL! atau koloid (eC komponen darah, albumin, plasma atau pengganti plasma!
f. %erapi obat kardiotonik (meningkatkan efisiensi #antung! atau diuretik (mengurangi retensi cairan dan edema!
2. >emorrhagi 4enatalaksanaan
'. 4asien dibaringkan seperti pada posisi pasien syok 2. Sedatif atau analgetik diberikan sesuai indikasi ). Inspeksi luka bedah
*. ;alut kuat #ika ter#adi perdarahan pada luka operasi 7. %ransfusi darah atau produk darah lainnya
:. Obser&asi <ital Signs.
). ?angguan perfusi #aringan sehubungan dengan tromboplebitis.
*. ;uruknya integriats kulit sehubungan dengan luka infeksi. %indakan pengendalian
a. /orongan kepada pasien untuk batuk dan nafas efektis serta sering mengubah posisi
b. 4enggunaan peralatan steril c. $ntibiotik dan antimikroba d. empraktikkan teknik aseptik
e. encuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien f. 4encegahan kerusakan kulit
g. 4antau tanda-tanda hemorrhagi dan drainage abnormal h. 4antau adanya perdarahan
i. 4era+atan insisi dan balutan
#. 4enggantian selang intra&ena dan alat in&asif lainnya sesuai program.
Inter&ensi untuk meningkatkan penyembuhan
'. eningkatkan intake makanan tinggi protein dan &itamin c. 2. enghindari obat-obat anti radang seperti steroid.
). 4encegahan infeksi.
*. 4engembalian Fungsi fisik.
4engembalian fungsi fisik dilakukan segera setelah operasi dengan latihan napas dan batuk efektf, latihan mobilisasi dini.
7. empertahankan konsep diri.
?angguan konsep diri ;ody image bisa ter#adi pada pasien post laparatomy karena adanya perubahan sehubungan dengan pembedahan. Inter&ensi pera+atan terutama ditu#ukan pada pemberian support psikologis, a#ak klien dan kerabat dekatnya berdiskusi tentang perubahan-perubahan yang ter#adi dan bagaimana perasaan pasien setelah operasi.
!nse" Dasar e"era(atan 2.-. Pengkajian
'. $namnesis
?angguan yang mengenai abdomen dan sistem gastrointestinalbisa menimbulkan ge#ala yang sangat beragam
a. 3yeri abdomen b. untah
c. >ematemesis (muntah darah! d. Sulit menelan (disfagia!
e. ?anguan cerna atau dispepsia f. /iare
g. 4erubahan kebiasaan buang air besar h. ;engkak atau ben#olan pada perut
i. 4enurunan berat badan atau ge#ala akibat malabsorpsi
#. elena (tin#a hitam seperti ter akibat darah dari saluran cerna bagian atas! atau darah per ektum.
4enting untuk menilai adakah penyakit lokal dan adakah efek sismetik seperti penurunan berat badan atau malabsorpsi.
2. Ai+ayat 4enyakit /ahulu
a. $pakah pernah mengalami penyakit saluran cerna sebelumnyaD b. $pakah pernah dilakukan operasi pada daerah perut sebelumnyaD
c. %entukan ri+ayat konsumsi alkohol dan kebiasaan merokok pasien. d. Ai+ayat konsumsi alkohol yang rinci sangat penting.
e. Obat apa yang pernah dikonsumsi oleh pasienD
f. 4ernahkah pasien mendapat terapi untuk penyakit saluran cerna, termasuk terapi yang mungkin merupakan penyebab ge#alaD
). Ai+ayat "eluarga
2.. Pe%eriksaan /isik
Erutan teknik pemeriksaan pada abdomen ialah inspeksi, auskultasi, palpasi, dan perkusi. $uskultasi dilakukan sebelum kita melakukan palpasi dan perkusi dengan tu#uan agar hasil pemeriksaan auskultasi lebih akurat karena kita belum melakukan manipulasi terhadap abdomen.
'. Inspeksi
/ilakukan pada pasien dengan posisi tidur terlentang dan diamati dengan seksama dinding abdomen. 0ang perlu diperhatikan adalah
a. "eadaan kulit5 +arnanya (ikterus, pucat, coklat, kehitaman!, elastisitasnya (menurun pada orang tua dan dehidrasi!, kering (dehidrasi!, lembab (asites!, dan adanya bekas-bekas garukan (penyakit gin#al kronik, ikterus obstruktif!, #aringan parut (tentukan lokasinya!, striae (gra&idarum cushing syndrome!, pelebaran pembuluh darah &ena (obstruksi &ena ka&a inferior 8 kolateral pada
hipertensi portal!.
b. ;esar dan bentuk abdomen5 rata, menon#ol, atau scaphoid (cekung!.
c. Simetrisitas5 perhatikan adanya ben#olan local (hernia, hepatomegali, splenomegali, kista o&arii, hidronefrosis!.
d. ?erakan dinding abdomen pada peritonitis terbatas.
e. 4embesaran organ atau tumor, dilihat lokasinya dapat diperkirakan organ apa atau tumor apa.
f. 4eristaltik5 gerakan peristaltik usus meningkat pada obstruksi ileus, tampak pada dinding abdomen dan bentuk usus #uga tampak (darm-contour !.
g. 4ulsasi5 pembesaran &entrikel kanan dan aneurisma aorta sering memberikan gambaran pulsasi di daerah epigastrium dan umbilical.
4erhatikan #uga gerakan pasien
a. 4asien sering merubah posisi G adanya obstruksi usus.
b. 4asien sering menghindari gerakan G iritasi peritoneum generalisata.
c. 4asien sering melipat lutut ke atas agar tegangan abdomen berkurang relaksasi G peritonitis.
d. 4asien melipat lutut sampai ke dada, berayun-ayun ma#u mundur pada saat nyeri G pankreatitis parah.
2. $ukultasi
"egunaan auskultasi ialah untuk mendengarkan suara peristaltic usus dan bising pembuluh darah. /ilakukan selama 2-) menit.
a. endengarkan suara peristaltic usus.
/iafragma stetoskop diletakkan pada dinding abdomen, lalu dipindahkan ke seluruh bagian abdomen. Suara peristaltic usus ter#adi akibat adanya gerakan cairan dan udara dalam usus. Frekuensi normal berkisar 7-)* kali menit.
;ila terdapat obstruksi usus, peristaltic meningkat disertai rasa sakit (borborigmi!. ;ila obstruksi makin berat, abdomen tampak membesar dan tegang, peristaltic lebih tinggi seperti dentingan keeping uang logam (metallic-sound!.
;ila ter#adi peritonitis, peristaltic usus akan melemah, frekuensinya lambat, bahkan sampai hilang.
b. endengarkan suara pembuluh darah.
;ising dapat terdengar pada fase sistolik dan diastolic, atau kedua fase. isalnya pada aneurisma aorta, terdengar bising sistolik ( systolic bruit !. 4ada hipertensi portal, terdengar adanya bising &ena (venous hum! di daerah epigastrium.
). 4alpasi
;eberapa pedoman untuk melakukan palpasi, ialah
a. 4asien diusahakan tenang dan santai dalam posisi berbaring terlentang.Sebaiknya pemeriksaan dilakukan tidak buru-buru.
b. 4alpasi dilakukan dengan menggunakan palmar #ari dan telapak tangan. Sedangkan untuk menentukan batas tepi organ, digunakan u#ung #ari. /iusahakan agar tidak melakukan penekanan yang mendadak, agar tidak timbul tahanan pada dinding abdomen.
c. 4alpasi dimulai dari daerah superficial, lalu ke bagian dalam. ;ila ada daerah yang dikeluhkan nyeri, sebaiknya bagian ini diperiksa paling akhir.
d. ;ila dinding abdomen tegang, untuk mempermudah palpasi maka pasien diminta untuk menekuk lututnya. ;edakan spasme &olunteer 8 spasme se#ati5 dengan menekan daerah muskulus rectus, minta pasien menarik napas dalam, #ika muskulus rectus relaksasi, maka itu adalah spasme &olunteer. 3amun #ika otot kaku tegang selama siklus pernapasan, itu adalah spasme se#ati.
e. 4alpasi bimanual5 palpasi dilakukan dengan kedua telapak tangan, dimana tangan kiri berada di bagian pinggang kanan atau kiri pasien sedangkan tangan kanan di bagian depan dinding abdomen.H
f. 4emeriksaan ballottement5 cara palpasi organ abdomen dimana terdapat asites. Baranya dengan melakukan tekanan yang mendadak pada dinding abdomen 8 dengan cepat tangan ditarik kembali. Bairan asites akan berpindah untuk sementara, sehingga organ atau massa tumor yang membesar dalam rongga abdomen dapat teraba saat memantul.
%eknik ballottement #uga dipakai untuk memeriksa gin#al, dimana gerakan penekanan pada organ oleh satu tangan akan dirasakan pantulannya pada tangan
lainnya.
g. Setiap ada perabaan massa, dicari ukuran besarnya, bentuknya, lokasinya, konsistensinya, tepinya, permukaannya, fiksasi mobilitasnya, nyeri spontan tekan, dan +arna kulit di atasnya. Sebaiknya digambarkan skematisnya.
4alpasi hati5 dilakukan dengan satu tangan atau bimanual pada kuadran kanan atas. /ilakukan palpasi dari ba+ah ke atas pada garis pertengahan antara mid-line 8 SI$S. ;ila perlu pasien diminta untuk menarik napas dalam, sehingga hati dapat teraba. 4embesaran hati dinyatakan dengan berapa sentimeter di ba+ah lengkung costa dan berapa sentimeter di ba+ah prosesus Ciphoideus. Sebaiknya digambar.
Anat!%i+ L!+ati!n !0 Organs 3ua$rant RI4HT UPPER 3UADRANT 5RU3 6
Li&er ?allbladder
/uodenum >ead of pancreas Aight kidney and adrenal
>epatic fleCure of colon
4art of ascending and trans&erse colon
LE/T UPPER 3UADRANT 5LU36 Stomach
Spleen
Left lobe of li&er ;ody of pancreas Left kidney and adrenal Splenic fleCure of colon
4art of trans&erse and descending colon RI4HT LO7ER 3UADRANT 5RL36
Becum $ppendiC Aight o&ary and tube
Aight ureter Aight spermatic cord
LE/T LO7ER 3UADRANT 5LL36 4art of descending colon
Sigmoid colon Left o&ary and tube
Left ureter Left spermatic cord
#IDLINE $orta
Eterus (if enlarged! ;ladder (if distended!
*. 4erkusi
4erkusi berguna untuk mendapatkan orientasi keadaan abdomen secara keseluruhan, menentukan besarnya hati, limpa, ada tidaknya asites, adanya massa padat atau massa berisi cairan (kista), adanya udara yang meningkat dalam lambung dan usus, serta adanya udara bebas dalam rongga abdomen. Suara perkusi abdomen yang
normal adalah ti%"ani (organ berongga yang berisi udara!, kecuali di daerah hati (redup5 organ yang padat!.
a. Orientasi abdomen secara umum.
/ilakukan perkusi ringan pada seluruh dinding abdomen secara sistematis untuk mengetahui distribusi daerah timpani dan daerah redup (dullness!. 4ada perforasi usus, pekak hati akan menghilang.
b. Bairan bebas dalam rongga abdomen
$danya cairan bebas dalam rongga abdomen (asites! akan menimbulkan suara perkusi timpani di bagian atas dan dullness dibagian samping atau suara dullness dominant. "arena cairan itu bebas dalam rongga abdomen, maka bila pasien dimiringkan akan ter#adi perpindahan cairan ke sisi terendah. Bara pemeriksaan asites
- 4emeriksaan gelombang cairan (undulating fluid wave!.
%eknik ini dipakai bila cairan asites cukup banyak. 4rinsipnya adalah ketukan pada satu sisi dinding abdomen akan menimbulkan gelombang cairan yang
akan diteruskan ke sisi yang lain.
4asien tidur terlentang, pemeriksa meletakkan telapak tangan kiri pada satu sisi abdomen dan tangan kanan melakukan ketukan berulang-ulang pada dinding abdomen sisi yang lain. %angan kiri kan merasakan adanya tekanan gelombang.
- 4emeriksaan pekak alih ( shifting dullness!.
4rinsipnya cairan bebas akan berpindah ke bagian abdomen terendah. 4asien tidur terlentang, lakukan perkusi dan tandai peralihan suara timpani ke redup pada kedua sisi. Lalu pasien diminta tidur miring pada satu sisi, lakukan
perkusi lagi, tandai tempat peralihan suara timpani ke redup maka akan tampak adanya peralihan suara redup.
2.8. Dign!sa e"era(atan
'. $nsietas berhubungan dengan prosedur pembedahan, prosedur preoperati&e. 2. "urang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi, tidak mengenal
sumber informasi.
). 3yeri berhubungan dengan insisi, distensi abdomen, immobilisasi.
*. "ekurangan &olume cairan berhubungan dengan kehilangan darah, kehilangan air dengan abnormal.
7. "erusakan integritas kulit berhubungan dengan insisi pembedahan, perubahan sensasi.
:. Aisiko infeksi berhubungan dengan adanya tempat masuknya mikroorganisme sekunder akibat pembedahan
2.'. Inter9ensi e"era(atan
'. $nsietas berhubungan dengan prosedur pembedahan, prosedur preoperati&e. "riteria hasil
a. 4asien akan menun#ukan kemampuan focus pada pengetahuan baru dan skil b. Identifikasi ge#ala sebagai indicator kecemasan sendiri
c. %idak menun#ukan prilaku agresi&
d. ;erkomunikasi dan penanganan perasaan negati&e dengan tepat e. Aileks dan nyaman dalam berakti&itas
Inter9ensi Rasi!nal
- onitor pasien tanda dan ge#ala insietas saat pengka#ian kepera+atan
A 4engka#ian seksama kondisi pasien dengan ansietas memungkinkan pera+at membuat priorotas pera+atan
- Fokuskan diskusi pada stressor yang mempengaruhi kondisi pasien
A Focus diskusi memfasilitasi kemampuan pasien untuk menyatakan ketakutan dan perasaan yang dirasakan dan membengun hubungan terapeutik.
- /iskusikan persepsi pasien akan prosedur pembedahan, ketakutan yang berhubungan dengan operasi
A /iskusi akan persepsi dan ketakutan membuat pasien mengekspresikan diri sendiri dan mengeksplore pengetahuannya.
- ;erikan informasi prosedur sebelum operasi, penyakit pasien, dan persiapan operasi
2. "urang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi, tidak mengenal sumber informasi. "riteria hasil
a. engungkapkan pemahaman tentang proses penyakit dan pengobatan. Inter9ensi Rasi!nal
- %in#au ulang prosedur dan harapan pasca operasi
A emberikan dasar pengetahuan dimana pasien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi.
- /iskusikan pentingnya masukan cairan adekuat, kebutuhan diet A eningkatkan penyembuhan dan normalisasi usus.
- /emostrasikan pera+atan luka atau belutan yang tepat.
A eningaktkan penyembuhan, menurunkan resiko infeksi, memberikan kesempatan untuk mengobser&asi luka
- %in#au ulang pera+atan selang gastrotomi bila pasien dipulangkan dengan alat ini.
A eningkatkan kemandirian, meningkatkan kemampuan pera+atan diri. - Identifikasikan tanda-tand ayang memerlukan e&aluasi medis, demam
menetap, bengkak, eritema, artau terbukanya tepi luka, perubahan karakteristik drainage.
A 4engenalan dini komplikasi dan inter&ensi segera dapat mencegah progresi situasi serius, mengancam hidup.
- $n#urkan peningkatan akti&itas bertahap sesuai tolernsi dan keseimbangan dengan periode istirahat yang adekuat
A ncegah kelelahan, merangsang sirkulasi dan normalisasi fungsi organ, meningkatkan penyembuhan.
). 3yeri berhubungan dengan insisi, distensi abdomen, immobilisasi. "riteria hasil a. elaporkan nyeri hilang
b. %ampak rileks, mempu beristirahat dengan tepat
c. 4asien akan menun#ukan teknik relaksasi indi&idu yang efektif dalam mencapai kenyamanan
d. empertahankan le&el nyeri pada skala nyeri yang dapat ditoleransi (skala -'! e. engakui faktor penyebab sehingga dapat menggunakan pengukuran untuk
mencegah nyeri akibat Inter9ensi Rasi!nal
A $nalisa secara seksama karekteristik nyeri membatu diffirensial diagnosis nyeri. Standarisasi skala nyeri menun#ang keakuratan
- $#arkan teknik mana#emen nyeri nafas dalam, guide imagery, relaksasi, &isualisasi dan akti&itas terapeutik.
A ana#emen pengalihan fokus perhatian nyeri. 4endidikan pada pasien untuk mengurangi nyeri, setiap orang memiliki perbedaan dera#at nyeri yang dirasakan
- "a#i secara komprehensif kondisi nyeri termasuk lokasi, karakteristik, onset, durasi, frekuensi, kuantitas atau kualitas nyeri, dan faktor presipitasipencetus. A Laporan pasien merupakan indikator terpercaya mengenai eksistensi dan intensitas nyeri pada pasien de+asa. ;aru atau peningkatan nyeri memerlukan medikal e&aluasi segera.
- Obser&asi secara &erbal atau non&erbal ketidaknyamanan.
A Aespon &erbal dapat men#adi indikasi adanya dan dera#at nyeri yang dirasakan. Aespon non &erbal menampilkan kondisi nyeri.
- Instruksikan pasien untuk melaporkan nyeri bila sangat hebat.
A 4artisipasi langsung dalam penanganan dan deteksi dini untuk pengelolaan nyeri secara segera setelah dilaporkan.
- Informasikan pasien prosedur yang dapat meningkatkan nyeri dan ta+arkan koping adaptif.
A %indakan persiapan kondisi pasien sebelum prosedur dan membantu mpasien menetapkan koping sehubungan dengan kebutuhan penanganan stres akibat nyeri.
- 4antau tanda-tanda &ital
A Aespon outonomik meliputi pada tekanan darah, nadi dan pernafasan, yang berhubungan dengan keluhan penghilang nyeri. $bnormalitas tanda &ital
terus menerus memerlukan e&aluasi lan#ut.
- "a#i insisi bedah, perhatikan edema, perubahan kontur luka (pembentukan hematoma!, atau inflamasi, mengeringkan tepi luka.
A 4erdarahan pada #aringan, bengkak, inflamasi local atau ter#adinya infeksi dapat menyebabkan peningkatan nyeri insisi.
A enurunkan la#u metabolic dan iritasi usus karena oksin sirkulasilocal, yang membantu menghilangkan nyeri dan meningkatkan penyembuhan. mengontrol atau mengurangi nyeri untuk meningkatkan istirahat dan meningkatkan ker#a sama dengan aturan terapeutik.
). "ekurangan &olume cairan berhubungan dengan kehilangan darah, kehilangan air dengan abnormal. "riteria hasil
a. enun#ukan le&el elektrolit, ;E3, hematokrit dan serum osmolalitas dalam keadaan normal.
b. Erine output dalam batas normal
c. >asil hemodinamika dalam batas normal Inter9ensi Rasi!nal
- onitor dan perbaiki intake output, antara setiap #am dan perbandingkan. Ekur dan dokumentasikan output urine setiap '-* #am.
A %erapi diuretik, hipertermia, pembatasan intake cairan dapat menimbulkan kekurangan cairan. 4engukuran tiap #am dan perbandingannya dapt mendeteksi kekurangan.
- onitor hasil laboratorium sesuai indikasi (osmolalitas urine J2mOsmkg, osmolalitas serum K) mOsmkg, serum sodium K'*7 m@L, peningkatan le&el ;E3 dan hematokrit!
A >asil laboratorium menambah keadaan ob#ektif dari ketidakseimbangan. 4enurunan osmolalitas urine berhubungan dengan diuresis, peningkatan serum osmolalitas, serum sodium dan hematokrit menun#ukan hemokonsentrasi
- onitor @B? dan tekanan hemodinamika secara periodic. 4erhatikan adanya gelombang E, M% meman#ang, depresi segmen S%, gelombang % memendek dan tekanan hemodinamika kardiak output rendah
A 4emantauan secara periodic menun#ang peringatan secepatnya apabila ter#adi kondisi yang fatal. %anda @B? menun#ukan penurunan responsibilitas stimulus sel kardiak, menghasilkan hipokalemia sekunder akibat pengeluaran potassium.Sedangkan penurunan tekanan menun#ukan hipo&olemia dan penurunan kardiak output menun#ukan preload insuffisiensi.
- ;erikan terapi sesuai indikasi, biasanya cairan isotonic dengan penambahan potassium klorida #ika serum potassium rendah. 4antau akses I< , antisipasi peningkatan pemberian cairan #ika hipertermia atau adanya infeksi.
A Bairan isotonic adalah pengganti cairan untuk kehilangan cairan tubuh. 4roduk darah, koloid, atau albmin, dapat digunakan untuk peningkatan $4.
onitor digunakan untuk mencegah o&erload &olume cairan. Bairan dengan potassium harus dipantau dengan seksama karena pottasium mengiritasi &ena
dan infus potassium yang cepat dapat menyebabkan hiperkalemia. >ipertermia dan infeksi ter#adi akibat kehilangan cairan karena peningkatan metabolic, peningkatan keringat dan ekskresi cairan melalui pernafasan.
- 4antau tanda-tanda &ital dengan sering, perhatikan peningkatan nadi dan perubahan tekanan darah.
A %anda-tanda haemoragik usus danatau pembentukan hematoma, yang dapat menyebabkan syok hipo&alemik.
- 4alpasi nadi perifer, e&aluasi pengisian kapiler, turgor kulit dan status membrane mukosa.
A emberikan informasi tentang &olume sirkulasi umum dan tingkat hidrasi. - 4erhatikan adanya edema
A @dema dapat ter#adi karena perpindahan cairan berkenaan dengan penurunan kadar albumin serumprotein.
- Obser&asi, catat kualitas kateter drainage ngt
A >aluaran cairan berlebihan dapat menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit dan alkalosis metabolic dengan kehilangan lan#ut kalium oleh gin#al yang berupaya untuk mengkompensasi
- 4antau suhu
A /emam rendah umum ter#adi selam 2* -*1 #am pertama dan dapat menambah kehilangan cairan
- 4ertahankan patensi penghisapan 3?%.
A eningkatkan dekompresi usus untuk menurunkan distensi atau kekuatan pada garis #ahitan dan menurunkan mual atau muntah , yang dapat menyrtai
anastesi, manipulasi usus, atau kondisi yang sebelumnya ada, missal kanker. *. "erusakan integritas kulit berhubungan dengan insisi pembedahan, perubahan sensasi.
"riteria hasil
a. 4asien akan menun#ukan per+atan optimal kulit dan luka secara rutin
b. enun#ukan intgritas kulit dan membrane mukosa adekuat ( temperature #aringan, elastisitas, hidrasi, pigmentasi, dan +arna!
c. encapai pemulihan luka tepat +aktu tanpa ada komplikasi. Inter9ensi Rasi!nal
- onitor karakteristik luka meliputi lokasi, adatidaknya dan karakter eksudat, adatidaknya #aringan nekrotik, adatidaknya tanda-tanda infeksi (nyeri, bengkak, kemerahan, peningkatan sushu, penurunan fungsi!.
A 4ermulaan pengka#ian yang merupakan langkah a+al utnuk memberikan pera+atan indi&idual. 4enemuan abnormal dapat men#adi data untuk masalah
dan dapat digunakan untuk pedoman perencanaan pera+atan
- ;ersihkan dan ganti balutan (+ound care! luka dengan teknik steril.
A 4encegahan komplikasi luka terhadap kontaminasi silang dan membantu penyembuhan luka.
- inimalisir penekanan pada bagian luka.
A 4encegahan kerusakan kulit merupakan salah satu penanganan mudah masalah sebelum kerusakan kulit berkembang
- 4antau tanda-tanda &ital dengan sering, perhatikan demam, takipneu, takikardi dan gemetar. 4eriksa luka dengan sering terhadap bengkak insisi berlebihan, inlamasi drainage.
A 4asien dengan kondisi post pembedahan beresiko tinggi mengalami komplikasi. @&aluasi segera dapat men#adi ukuran pencegahan dan penanganan dini.
- 9aspadai factor resiko lan#ut, misal keganasan, seperti limfasarkoma dan mieloma multiple, terapi radiasi dan sisi operasi.
A Indikatif dari pembentukan hematoma atau ter#adinya infeksi yang menun#ang perlambatan pemulihan luka dan meningkatkan resiko pemisahan luka.
- ;erikan antibiotic sesuai indikasi
A enurunkan imunokompentesi, ini mempengaruhi pemulihan luka pada infeksi. eningkatkan &askulitis dan fibrosis pada #aringan penyambung, mempengaruhi
7. Aisiko infeksi berhubungan dengan adanya tempat masuknya mikroorganisme sekunder akibat pembedahan. "riteria hasil
a. "lien tidak mengakami infeksi
b. Luka cepat sembuh tanpa komplikasi Inter9ensi
A mengetahui tanda a+al ter#adinya infeksi
- lakukan tehnik pera+atan luka dengan tehnik septik dan aseptik
A pera+atan luka dengan tekhnik aseptic dapat mencegah berkembangbiaknya mikroorganisme penyebab infeksi
- obser&asi penyatuan luka, karakter drainage, adanya inflmasi
A mengetahui secara dini tanda infeksi atau memperburuknya kondisi luka. - berikan nutrisi yang adekuat
A dengan nutrisi yang baik dapat meningkatkan daya tahan tubuh - kolaborasi dalam pemberian antibiotika
A antibiotika menurunkan #umlah mikroorganisme dan #uga dapat membunuh mikroorganisme dengan penggunaan secara teratur.