Skripsi. Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Biologi

Teks penuh

(1)

i

MENINGKATKAN AKTIFITAS DAN HASIL BELAJAR BIOLOGI POKOK BAHASAN EKOSISTEM MENGGUNAKAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING) PADA SISWA KELAS VII DI SMP

PROMASAN KALIBAWANG TAHUN AJARAN 2011/2012”

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Biologi

Oleh : Y. Purwanta NIM. 081434010

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)

iv

Amicus certus in re incerta cernitur

(Sahabat sejati ditentukan ketika ada hal yang tidak pasti)

Kupersembahkan karya ini untuk :

Tuhan Yesus Kristus yang telah mendampingi dalam setiap usahaku, terima kasih atas segala kebaikkan-Mu.

Bapak (Alm) dan Ibuku serta keluarga yang selalu mengiringi langkahku

dengan do’a dan cinta.

Teman dan Sahabat tercinta, yang selalu memberi semangat dalam hidupku.

(5)
(6)
(7)

vii

ABSTRAK

“MENINGKATKAN AKTIFITAS DAN HASIL BELAJAR BIOLOGI POKOK BAHASAN EKOSISTEM MENGGUNAKAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL (CONTEXTUAL

TEACHING AND LEARNING) PADA SISWA KELAS VII DI SMP PROMASAN KALIBAWANG TAHUN AJARAN 2011/2012”

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui peningkatan aktivitas belajar dan hasil belajar dalam penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL). Berdasarkan hasil observasi awal pembelajaran biologi di SMP Kemasyarakatan, Promasan, Banjaroya, Kalibawang, Kulon Progo tahun ajaran 2011/ 2012 memperlihatkan adanya beberapa kendala dalam pelaksanaan KBM, yaitu metode pembelajaran yang kurang bervariasi sehingga siswa merasa jenuh dan bosan untuk belajar khususnya mata pelajaran biologi dan hasil belajar yang tidak optimal. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar biologi agar menjadi lebih baik (maksimal) baik secara individu maupun klasikal.

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam 3 siklus. Setiap siklus terdiri dari empat kegiatan, yaitu (1) Planning, dilakukan untuk mengidentifikasi masalah dan merencanakan kegiatan pembelajaran seperti mempersiapkan perangkat pembelajaran, membuat alat evaluasi dan instrumen penelitian. (2) Acting yaitu melaksanakan kegiatan KBM dengan menggunakan pendekatan kontekstual (CTL) untuk meningkatkan hasil belajar siswa. (3) Observing, yaitu pengambilan data tentang proses hasil belajar siswa. (4) Reflecting adalah kegiatan untuk menganalisa data hasil pengamatan. Yang menjadi subyek penelitian adalah siswa kelas VII SMP Kemasyarakatan Promasan, Banjaroya, Kalibawang, Kulon Progo tahun ajaran 2011/ 2012 dengan jumlah siswa sebanyak 26 siswa yang terdiri dari 12 perempuan dan 14 laki-laki.

Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan nilai, baik nilai praktikum maupun nilai evaluasi setiap akhir siklusnya. Pada siklus I nilai rata-rata siswa 6,72 dengan ketuntasan belajar 61,53 %. Siklus II rata-rata siswa meningkat menjadi 7,46 dengan ketuntasan belajar 76,92 %. Pada siklus III nilai rata-rata siswa meningkat menjadi lebih baik lagi, yaitu 7,83 dengan ketuntasan belajar 92,30 %. Dalam hasil penelitian keaktifan siswa saat melakukan kegiatan praktikum juga meningkat selama KBM dari tiap siklusnya, ini ditunjukkan dengan semakin bertambahnya siswa yang memperoleh nilai yang lebih baik dari praktikum sebelumnya.

Dengan demikian dapat disimpulkan aktivitas dalam proses belajar mengajar dan hasil belajar siswa baik secara individu maupun klasikal dapat ditingkatkan dengan pendekatan pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL), disarankan agar pembelajaran biologi dengan pendekatan ini dapat dipergunakan sebagai metode alternatif guru dalam menyampaikan materi pelajaran khususnya biologi.

(8)

viii ABSTRACT

"IMPROVING LEARNING ACTIVITIES AND BIOLOGICAL APPROACHES subject ECOSYSTEM USING CONTEXTUAL (CTL) TO STUDENTS IN CLASS VII SMP PROMASAN KALIBAWANG ACADEMIC YEAR 2011/2012"

This study aimed to determine the increase in the activity of learning and learning outcomes approach in the application of Contextual Teaching and Learning (CTL). Based on the preliminary observations of learning biology in junior Community, Promasan, Banjaroya, Kalibawang, Kulonprogo school year 2011/2012 showed that there are some obstacles in the implementation of teaching and learning, which are less varied teaching methods so that students feel bored and tired to study particular subjects of biology and learning outcomes are not optimal. This study aims to improve learning outcomes for the better biology (maximum) both individually and classical.

Action research was carried out in 3 cycles. Each cycle consists of four activities: (1) Planning, conducted to identify problems and plan learning activities such as preparing learning device, making evaluation tools and research instruments. (2) Acting is conducting learning activities using a contextual approach Contextual Teaching and Learning (CTL) to improve student learning outcomes. (3) Observing, the data collection process of student learning outcomes. (4) Reflecting an activity to analyze the data observations. The study subjects were students of class VII SMP Community Promasan, Banjaroya, Kalibawang, Kulonprogo school year 2011/2012 the number of students by 26 students consisting of 12 women and 14 men.

The results showed an increase in value, good value and practical value of the evaluation of the end of each cycle. In the first cycle the average value of 6.72 with a mastery learning students 61.53%. Cycle II students average increased to 7.46 with 76.92% mastery learning. In the third cycle the average value increased student becomes better, ie 7.83 to 92.30% mastery learning. In the research activity of students during practical activities also increased during a lecture of each cycle, as shown by the increasing number of students who obtain a better value than the previous lab.

Thus we can conclude the activity in the learning process and student learning outcomes, both individually and classical approach to learning can be enhanced by Contextual Teaching

and Learning (CTL), it is suggested that the learning of biology with this approach can be used

as an alternative method of teachers in delivering the course material especially biology. Thus we can conclude the activity in the learning process and student learning outcomes, both individually and classical approach to learning can be enhanced by Contextual Teaching and

Learning (CTL), it is suggested that the learning of biology with this approach can be used as an

alternative method of teachers in delivering the course material especially biology.

(9)

ix

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur atas segala kebaikan, hikmat dan rahmat Tuhan Yesus Kristus selama pengerjaan skripsi ini dari awal sampai akhir, sehingga penulis dapat menyelesaikan seluruh rangkaian penelitian dan penyusunan skripsi yang berjudul Meningkatkan Aktifitas dan Hasil Belajar Biologi Pokok Bahasan Ekosistem menggunakan Pendekatan Kontekstual (Contextual

Teaching and Learning) pada Siswa Kelas VII di SMP Promasan Kalibawang Tahun Ajaran

2011/2012.Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan, dukungan, dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Rektor Universitas Sanata Dharma

2. Dekan FMIPA Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan ijin penelitian. 3. Ketua jurusan Biologi, yang telah memberi ijin penelitian.

4. Bapak Rohandi, Ph. D. selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan bimbingan, petunjuk, dan pengarahan dalam rangka penyelesaian skipsi ini.

5. Sr. M. Margreeth Widiyastuti selaku Kepala Sekolah SMP Kemayarakatan Promasan Kalibawang Kabupaten Kulon Progo yang telah membeikan ijin untuk penelitian.

6. Bapak Melkias Putrawan Basuki selaku guru bidang studi Biologi kelas VII yang banyak memberikan bantuan selama pelaksanaan penelitian.

7. Pak Kristio, Pak Tri, terima kasih atas nasehat yang menginspirasi saya.

8. Mba Rini Erna yang telah membukakan jalan saya untuk bisa berkuliah. Terima Kasih banyak atas informasinya.

9. Para dosen dan laboran yang telah membantu baik dalam kuliah maupun dalam praktikum, terimakasih atas banyak ilmu dan bantuan yang telah saya dapat.

10. Bapak (Alm), Ibu, Ika, dan seluruh keluarga besar Madyawiharja atas segala dukungan, doa dan semangat yang selalu diberikan, sehingga walaupun dengan banyak pengorbanan dan rintangan, skripsi ini akhirnya selesai.

11. Sahabat yang sudah kudapat selama 4 tahun di Sanata Dharma, Siska, Alex, Mando, Iing, Lilik dan sahabat yang tidak bisa saya sebut satu per satu. Terimakasih atas bualan-bualan kalian sehingga kebosanan saat mengerjakan skripsi ini tidak terasa berat.

(10)

x

12. Anak-anak Gema Kasih Choir dan Gereja Paroki Klepu : Desy, Intan, Suci, Renya, Bagus, Mas Mardi dan Dalipuk terima kasih atas dukungannya dalam doa dan karya. 13. Semua pihak yang telah memberikan bantuan dan dorongan dalam penyelesaian skripsi

ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih ada kekurangan dan belum sempurna. Akhirnya penulis mengharapkan semoga skripsi ini dapat berguna bagi para pembaca sekalian.

Yogyakarta, 06 Agustus 2012 Penulis

(11)

xi DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ……… i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ………. ii

HALAMAN PENGESAHAN ……….……… iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ……….……… iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ……….……… v

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ………..…..………. vi

ABSTRAK ……… vii

ABSTRACT ……….……….……….. viii

KATA PENGANTAR ……… ix

DAFTAR ISI………..……..……… xi

DAFTAR TABEL ……… xiii

DAFTAR GAMBAR ……… xiv

BAB I PENDAHULUAN ……… 1

A. Latar Belakang Masalah ……… 1

B. Pembatasan Masalah ……… 5

C. Rumusan Masalah ……… 6

D. Tujuan Penelitian ……… 6

E. Hipotesa ………... 6

F. Manfaat Penelitian ……… 7

BAB II KAJIAN PUSTAKA ....……… 8

A. Belajar dan Pembelajaran ……… 8

B. Aktivitas Belajar ……… 9

C. Hasil Belajar ……… 9

D. Pendekatan Kontekstual ……… 11

E. Belajar Biologi ……… 14

(12)

xii

BAB III METODE PENELITIAN ……… 21

A. Jenis Penelitian ………... 21

B. Subjek Penelitian ……… 21

C. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Penelitian ………. 21

D. Faktoryang Diteliti ….……… 22

E. RancanganPenelitian …...……… 22

F. Pelaksanaan Penelitian ……… 25

1. Siklus I ..……… 25

2. Siklus II ……… 29

3. Siklus III ..……… 31

G. Pengembangan Instrumen Penelitian ……..………. 33

H. Validasi Instrumen …..……… 33

I.Data dan Cara Pengambilan Data ….………. 33

J. Teknik Analisa Data ……… 34

K. IndikatorKeberhasilan Penelitian ………. 35

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ……..……… 36

A. Deskripsi Umum Dan Kondisi Belajar SMS Promasan ….………. 36

B. Hasil Penelitian ……… 38 1. Siklus I ……… 38 2. Siklus II ..……… 44 3. Siklus III ……… 48 C. Pembahasan ….……… 52 BAB V PENUTUP ……… 56 A. Simpulan ……..……… 56 B.Saran ……… 56 DAFTAR PUSTAKA …..……… 57 LAMPIRAN

(13)

xiii

DAFTAR TABEL

Halaman

TABEL 1. Rencana Kegiatan Penelitian Tindakan Kelas ……….… 23

TABEL 2. Hasil Ulangan Harian siswa kelas VII ……… 37

TABEL 3. Hasil tes Siklus I ….………... 40

TABEL 4. Hasil tes Siklus II ….……….. 45

(14)

xiv

DAFTAR GAMBAR

Halaman

GAMBAR 1. Grafik penyebaran hasil belajar Siklus I ……...……….… 40 GAMBAR 2. Grafik Aktivitas siswa Siklus I ………….…..………….… 41 GAMBAR 3. Grafik penyebaran hasil belajar Siklus II ……….… 45 GAMBAR 4. Grafik Aktivitas siswa siklus II ………….…..………….… 46 GAMBAR 5. Grafik penyebaran hasil belajar Siklus III ……….… 49 GAMBAR 6. Grafik Aktivitas siswa Siklus III ………….…..………….… 50 GAMBAR 7. Grafik Peningkatan Ketuntasan Belajar Siklus I– III ...… 52 GAMBAR 8. Grafik Peningkatan Aktivitas Belajar Siklus I– III ...… 53

(15)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Proses belajar mengajar pada dasarnya merupakan proses interaksi antara yang belajar (siswa) dengan pengajar (guru). Seorang siswa telah dikatakan belajar apabila ia telah mengetahui sesuatu yang sebelumnya ia tidak dapat mengetahuinya, termasuk sikap tertentu yang sebelumnya belum dimilikinya. Sebaliknya, seorang guru dikatakan telah mengajar apabila ia telah membantu siswa atau orang lain untuk memperoleh perubahan yang dikehendaki.

Bidang pendidikan di sekolah peranan guru sangat penting. Kualitas kinerja sangat berpengaruh terhadap proses pembelajaran. Oleh karena itu usaha meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran perlu mendapatkan perhatian dari penanggung jawab pendidikan.

Banyak cara yang digunakan untuk meningkatkan mutu proses pembelajaran. Namun demikian banyak dijumpai bukti yang menunjukkan bahwa mutu proses di sekolah kurang memuaskan. Untuk itu perlu adanya inovasi berbagai strategi pendekatan agar proses pembelajaran menjadi efektif dan menyenangkan sehingga tujuan utama peningkatan mutu pendidikan dapat dicapai secara optimal.

(16)

Peningkatan mutu pendidikan dapat dilihat salah satunya dari proses pembelajaran yang berlangsung pada sekolah tersebut, baik metode maupun pendekatan yang digunakan. Proses pembelajarannya yang masih cenderung monoton dan masih berpusat pada guru, banyak siswa yang ramai pada saat pembelajaran berlangsung. Siswa pasif dalam penerimaan informasi maupun dalam proses pembelajaran, menganggap Biologi sebagai ilmu yang penuh hafalan. Metode maupun pendekatan yang digunakan guru kurang bervariasi sehingga siswa kurang diarahkan dan berinteraksi dengan objek dan lingkungan dunia nyata siswa.

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan suatu penelitian tindakan yang akar pemasalahannya muncul di kelas, dan dirasakan langsung oleh guru yang bersangkutan. Dalam hal ini pendidik dapat memperbaiki praktik-praktik pembelajaran yang lebih efektif (Arikunto, 2001). Penelitian tindakan kelas adalah bagaimana guru dapat mengorganisasikan kondisi praktik pembelajaran mereka, dan belajar dari pengalaman mereka sendiri. Mereka dapat mencobakan suatu gagasan perbaikan dalam praktik pembelajaran mereka, dan melihat pengaruh nyata dari upaya itu

Metode yang digunakan guru sebelum ada penelitian ini adalah metode ceramah dan hafalan sehingga siswa cenderung ramai sendiri; asyik dengan teman sebangku; mengerjakan tugas lain seperti tugas menggambar yang bukan jamnya, bahkan ada yang bermain secara sembunyi-sembunyi saat guru menerangkan di depan. Setiap pembelajaran

(17)

hanya diisi dengan cerita dan sering diminta menulis serta menghafal dari buku paket yang sudah ada. Model hafalan ini menyebabkan siswa kurang kreatif, kurang kritis dan rendahnya siswa dalam menganalisis pertanyaan yang diberikan oleh guru saat proses belajar maupun saat diadakan ulangan harian.

Untuk mengaktifkan belajar siswa dalam proses belajar mengajar guru harus menggunakan metode yang bervariasi, oleh sebab itu sangat dianjurkan agar guru menggunakan kombinasi metode mengajar setiap kali mengajar. Salah satu upaya yang dapat dilakukan guru untuk meningkatkan pemahaman dan minat siswa dalam mempelajari ekosistem adalah melalui pendekatan kontekstual. Dalam Pendekatan Kontekstual (CTL), guru berperan sebagai motivator dan fasilitator yang membantu agar proses belajar bukan merupakan transfer pengetahuan dari guru ke siswa melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya melalui serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh siswa.

Tujuh komponen utama pembelajaran yang mendasari penerapan pendekatan kontekstual, yaitu: kontruktivisme (contructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian

sebenarnya (authentic assessment), masing-masing komponen tersebut saling terkait (Widodo, 2002). Melalui pendekatan CTL pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa yang mampu membawa

(18)

perubahan ke arah yang lebih baik, lebih memberdayakan siswa dan tidak mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta tetapi lebih mendorong siswa untuk membangun sendiri pengetahuannya melalui interaksi dengan objek, pengetahuan awal yang mereka miliki, pengalaman dan lingkungan siswa.

Pendekatan CTL menjadi pilihan karena kita menyadari bahwa kelas-kelas kita tidak produktif, sehari-hari kelas diisi dengan ceramah

sementara siswa ”dipaksa” menerima dan menghafal, maka dengan CTL

pembelajaran akan lebih berpihak dan memperdayakan siswa. Pendekatan CTL merupakan konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas atau siswa diajak ke dunia nyata, sehingga mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka.

Pemaduan materi pelajaran dengan konteks keseharian siswa akan berarti dalam proses pembelajarannya sehingga pembelajaran dengan pendekatan CTL dapat menciptakan ruang kelas yang di dalamnya siswa akan menjadi aktif bukan hanya pasif. Dalam hal tersebut dengan melakukan kolaborasi dengan bidang studi biologi di SMP Promasan, Kalibawang untuk mencoba melaksanakan proses pembelajaran dengan pendekatan CTL sebagai upaya untuk mengoptimalkan proses belajar siswa pada pokok bahasan ekosistem.

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis terdorong untuk mengangkat permasalahan ini dalam bentuk penelitian dengan judul

(19)

BIOLOGI POKOK BAHASAN EKOSISTEM MENGGUNAKAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL (CONTEXTUAL TEACHING AND

LEARNING) PADA SISWA KELAS VII DI SMP PROMASAN

KALIBAWANG TAHUN AJARAN 2011/2012”

B. Pembatasan Masalah

Agar permasalahan tidak berkembang dengan asumsi atau pengartian yang lain maka perlu adanya pembatasan masalah, yaitu menitikberatkan pada hasil belajar biologi siswa pada pokok bahasan ekosistem dengan menggunakan pendekatan pembelajaran kontekstual (CTL) di SMP Promasan, Kalibawang tahun ajaran 2011/2012.

1. Aktivitas belajar siswa

Merupakan kegiatan siswa yang dilakukan selama proses belajar mengajar berlangsung, baik aktivitas yang bersifat fisik/ jasmani maupun mental/ rohani. Dalam penelitian ini menitik beratkan pada komponen utama saat proses belajar mengajar berlangsung seperti bertanya dan menjawab.

2. Hasil Belajar siswa

Hasil belajar siswa yang dimaksud adalah suatu perubahan yang menyangkut dengan pengetahuan, pemahaman, penerapan dan analisis sehingga terjadi peningkatan pada hasil belajar, dalam hal ini peningkatan nilai dari siklus ke siklus.

(20)

3. CTL (Contextual Teaching and Learning)

Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan CTL adalah pembelajaran yang menekankan aspek REACT yaitu Relating (mengaitkan),

Experiencing (mengalami), Applying (menerapkan teori), Cooperating

(kerjasama), dan Transfering (memperoleh pengetahuan baru).

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan dirumuskan sebagai

berikut: “Apakah Dengan Metode Contextual Teaching Learning (CTL)

Dapat Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Biologi Pokok Bahasan Ekosistem pada Siswa Kelas VII SMP Promasan, Kalibawang tahun ajaran

2011/2012”.

D. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan aktivitas dan hasil belajar biologi siswa pada pokok bahasan ekosistem dengan menggunakan pendekatan pembelajaran kontekstual (CTL) pada Siswa Kelas VII SMP Kemasyarakatan Promasan, Kalibawang tahun ajaran 2011/2012.

E. Hipotesa

Penerapan metode Contextual Teaching Learning (CTL) dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar biologi pokok bahasan ekosistem

(21)

pada siswa kelas VII SMP Promasan, Kalibawang tahun ajaran 2011/2012”.

F. Manfaat Penelitian

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat diperoleh manfaat sebagai berikut:

1. Bagi siswa

a. Meningkatkan minat, motivasi dan aktivitas belajar siswa. b. Membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami

konsep biologi karena materi dikaitkan dengan konteks keseharian siswa dan lingkungan dunia nyata siswa.

2. Bagi guru

a. Mendapatkan pengalaman langsung dalam menerapkan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual.

b. Membantu guru dalam pemilihan model pembelajaran yang sesuai sehingga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang lebih menarik minat siswa.

3. Bagi Sekolah

Memberikan sumbangan yang baik bagi sekolah dalam rangka perbaikan proses pembelajaran guna peningkatan kualitas pembelajaran biologi.

4. Bagi Peneliti

Sebagai sarana untuk mempraktekkan teori-teori yang diperoleh selama di bangku kuliah dengan kenyataan sehari-hari.

(22)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Belajar dan Pembelajaran

Menurut Sudjana (2000) belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Belajar akan bermakna jika dapat mengkaitkan relevansi bahan atau materi dengan kehidupan nyata, yaitu dengan belajar konteks materi secara langsung. Belajar yang bermakna akan memberikan dampak positif bagi siswa, karena dari proses belajarnya siswa dapat memecahkan masalah-masalah yang muncul dalam kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa, sehingga tingkah laku siswa berubah ke arah yang lebih baik. Tujuan pembelajaran adalah membantu para siswa agar memperoleh berbagai pengalaman. Perubahan yang diharapkan pada siswa yang belajar meliputi tiga ranah, yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Aktivitas membangun pengetahuan ini dapat dilakukan dengan diskusi dalam kelompok maupun dalam kelas. Tugas guru adalah menyediakan rangkaian kegiatan belajar yang bermakna dan mendorong siswa untuk mencari pengalaman-pengalaman belajarnya. Guru dituntut untuk mengembangkan strategi belajar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dan latar belakang siswa, sehingga hasil belajar siswa dapat maksimal. Interaksi belajar yang dilakukan siswa dan mengajar yang dilakukan guru, merupakan proses pembelajaran yang diharapkan dapat membantu siswa mengembangkan potensi intelektualnya serta rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain.

9

(23)

B. Aktivitas Belajar

Aktivitas belajar siswa adalah kegiatan siswa yang dilakukan selama proses belajar mengajar berlangsung, baik aktivitas yang bersifat fisik/ jasmani maupun mental/ rohani.

Menurut Hamalik (2002), aktivitas siswa dapat berupa aktivitas visual seperti membaca, melihat gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, dan melihat orang bekerja; aktivitas oral seperti mengemukakan pendapat, menghubungkan kejadian, bertanya, dan diskusi; aktivitas mendengar seperti mendengarkan penyajian, mendengar percakapan, dan mendengar dalam diskusi; aktivitas menulis seperti menulis laporan, menulis cerita, dan menulis kejadian; aktivitas mental seperti merenung, mengingat, memecahkan masalah, dan analisis; serta aktivitas emosional seperti minat, berani, dan tenang.

Aktivitas belajar yang diharapkan dari penelitian ini adalah aktivitas yang menitik beratkan pada komponen primer saat proses belajar mengajar berlangsung seperti bertanya, menjawab, menulis, membaca, mendengarkan, diskusi.

C. Hasil Belajar

Menurut Sudjana (2000), hasil belajar merupakan perubahan kognitif siswa merupakan suatu perubahan yang menyangkut tujuan yang berhubungan dengan ingatan, pengetahuan, dan kemampuan intelektual. Perubahan kognitif siswa tersebut terdiri atas enam bagian sebagai berikut :

1. Pengetahuan

Mengacu pada kemampuan mengenal atau mengingat materi yang sudah dipelajari dari yang sederhana sampai pada teori-teori sukar. 2. Pemahaman

Mengacu pada kemampuan memahami makna materi 3. Penerapan

(24)

Mengacu pada kemampuan menggunakan atau menerapkan materi yang sudah dipelajari pada situasi yang baru dan menyangkut pada penggunaan aturan dan prinsip.

4. Analisis

Mengacu pada kemampuan menguraikan materi ke dalam komponenkomponen atau faktor penyebab, dan mampu memahami hubungan di antara bagian yang satu dengan yang lainnya sehingga struktur dan aturannya dapat lebih dimengerti.

5. Sintesis

Mengacu pada kemampuan memadukan konsep atau komponen-komponen sehingga membentuk suatu pola struktur atau bentuk baru.

6. Evaluasi

Mengacu pada kemampuan memberikan pertimbangan terhadap nilai-nilai materi untuk tujuan tertentu.

Hasil belajar yang diharapkan pada perubahan psikomotorik berhubungan dengan kemampuan yang harus dikuasai siswa untuk mengerjakan sesuatu sebagai hasil penguasaan pengetahuan yang telah dipelajari. Hal tersebut dapat dilihat dari performance/ kinerja yang dilakukan siswa terhadap tugas yang diberikan, siswa diminta untuk dapat menunjukkan kinerja yang memperlihatkan keterampilan-keterampilan tertentu atau kreasi mereka untuk membuat produk tertentu yang berhubungan dengan materi.

Hasil belajar yang diharapkan dari perubahan afektif adalah sikap yang berhubungan dengan aspek menerima, mananggapi, mengelola, dan menghayati yang dapat mempengaruhi pikiran dan tindakan siswa, misalnya sikap teliti dan cermat dalam mengerjakan tugas pengamatan di halaman sekolah.

Menurut Sudjana (2000), hasil belajar siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu:

(25)

1. Faktor dari dalam diri siswa, seperti kemampuan yang dimiliki siswa, motivasi belajar, minat dan perhatian, ketekunan, faktor fisik dan psikis.

2. Faktor dari luar diri siswa atau faktor lingkungan, seperti kualitas pengajaran.

D. Pendekatan Kontekstual

Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang mengkaitkan antara materi pelajaran dengan situasi dunia nyata siswa. Guru yang melaksanakan pendekatan kontekstual dalam pembelajarannya akan membantu siswa belajar bermakna, materi yang dipelajarinya disampaikan dalam konteks hubungan yang tidak asing dengan kehidupan siswa sehingga dapat meningkatkan asosiasi siswa (Sudjana, 2000)

Menurut Rustana (2002) dalam pembelajaran kontekstual, siswa akan belajar dengan baik jika apa yang dipelajari terkait dengan apa yang telah diketahui dan dengan kegiatan atau peristiwa yang akan terjadi disekelilingnya. Pembelajaran ini menekankan pada daya pikir yang tinggi, transfer ilmu pengetahuan, mengumpulkan dan menganalisis data, memecahkan masalah-masalah tertentu baik secara individu maupun kelompok.

Menurut Widodo (2002), ada tujuh komponen utama pembelajaran yang mendasari penerapan pembelajaran kontekstual di kelas. Ketujuh komponen utama itu adalah konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiry), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), refleksi (Reflection), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment).

Tujuh komponen pendekatan kontekstual tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

(26)

1. Konstruktivisme (Constructivism)

Konstruktivisme diartikan sebagai siswa aktif membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran. Siswa dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Tugas guru adalah memfasilitasi proses pembelajaran dengan cara:

a. Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa. b. Memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan

idenya sendiri, dan

c. Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.

2. Menemukan (Inquiry)

Inquiry merupakan suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, dan analisis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Sasaran utama pembelajaran dengan

Inquiry adalah:

a. Keterlibatan siswa secara maksimal dalam pembelajaran, yang melibatkan mental intelektual dan sosial emosional siswa. b. Keterarahan kegiatan secara logis dan sistematis pada tujuan

pengajaran.

c. Mengembangkan sikap percaya diri siswa tentang apa yang ditemukannya dalam proses inquiry.

3. Bertanya (Questioning)

Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis kontekstual. Bagi siswa, kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yaitu untuk menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahui.

(27)

4. Masyarakat Belajar (Learning Community)

Masyarakat belajar bisa terjadi bila ada proses komunikasi dua arah atau lebih yang terlibat dalam kegiatan belajar mengajar. Dalam kelas kontekstual, guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar. Hasil belajar diperoleh dari sharing antar teman, antar kelompok, dan antara yang tahu ke yang belum tahu.

5. Pemodelan (Modeling)

Pemodelan merupakan sebuah kegiatan pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu dengan melibatkan adanya model yang ditiru. Model dapat berupa cara mengoperasikan sesuatu, melafalkan kata-kata, dan sebagainya. Model tidak hanya dari guru, tetapi bisa dengan melibatkan siswa ataupun dari orang ahli. 6. Refleksi (Reflection)

Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau berfikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima. Realisasi refleksi dalam pembelajaran dapat berupa:

a. Pernyataan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu,

b. Catatan atau jurnal di buku siswa,

c. Kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu, d. Diskusi,

e. Hasil karya.

7. Penilaian yang sebenarnya (Authentic Assessment) Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Karakteristik authentic

assessment adalah sebagai berikut.

a. Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung,

(28)

b. Bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif,

c. Yang diukur keterampilan, dan performansi, bukan mengingat fakta,

d. Berkesinambungan, e. Terintegrasi, dan

f. Dapat digunakan sebagai feed back.

Menurut Sudjana (2000) penilaian autentik dapat membantu siswa untuk menerapkan informasi akademik dan kecakapan yang telah diperoleh pada situasi nyata untuk tujuan tertentu. Penilaian autentik memberikan kesempatan luas bagi siswa untuk menunjukkan apa yang telah mereka pelajari selama proses belajar mengajar. Adapun bentuk-bentuk penilaian yang dapat digunakan oleh guru adalah portofolio, tugas kelompok, demonstrasi, dan laporan tertulis.

E. Belajar Biologi

Biologi berkaitan dengan cara mencari tahu dan memahami tentang alam secara sistematis, sehingga biologi bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pada dasarnya, pelajaran biologi berupaya untuk membekali siswa dengan berbagai

kemampuan tentang cara ”mengetahui” dan cara ”mengerjakan” yang

dapat membantu siswa untuk memahami alam sekitar secara mendalam. Biologi memiliki tipe penalaran verbal yang dapat dikembangkan melalui berbagai keterampilan ( proses, membaca) dan keterampilan dasar biologi pada tingkat sel. Pendidikan biologi diharapkan dapat menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari dirinya sendiri dan alam sekitar. Pendidikan biologi menekankan pada pemberian pengalaman secara langsung. Siswa perlu dibantu untuk mengembangkan sejumlah keterampilan proses supaya mereka mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar. Keterampilan proses ini meliputi keterampilan mengamati dengan seluruh indera, mengajukan hipotesis, menggunakan alat dan bahan secara benar

(29)

dengan selalu mempertimbangkan keselamatan kerja, mengajukan pertanyaan, menggolongkan, menafsirkan data, dan mengkomunikasikan hasil temuan secara beragam, menggali dan memilah informasi faktual yang relevan untuk menguji gagasan-gagasan atau memecahkan masalah sehari-hari.

F. Ekosistem

Adapun uraian materi pelajaran yang akan dipelajari adalah sebagai berikut :

Pengertian Ekosistem

Ekosistem merupakan hubungan saling mempengaruhi antara makhluk hidup dengan lingkungannya (makhluk tak hidup) membentuk suatu sistem. Sebuah kebun, halaman sekolah, kolam, parit, sungai, lahan kosong dan taman sekolah masing-masing merupakan suatu ekosistem. Ilmu yang mempelajari ekosistem adalah ekologi.

Seluruh ekosistem di permukaan bumi membentuk suatu ekosistem yang sangat besar, yakni ekosistem dunia atau biosfer. Biosfer meliputi seluruh makhluk hidup yang ada di bumi beserta udara, air, dan tanah di sekitarnya.

Satuan Makhluk Hidup dalam Ekosistem

Di dalam ekosistem terdapat satuan-satuan makhluk hidup yang dinamakan individu, populasi, dan komunitas yang saling berinteraksi dengan komponen benda tak hidup, misanya air dan udara.

1. Individu

Di dalam suatu habitat tidak hanya terdapat satu jenis makhluk hidup, melainkan ada berbagai jenis makhluk hidup. Pada habitat perairan terdapat makhluk hidup, yaitu ikan kecil, ikan lundu, ikan seluang, ikan gabus, ikan sepat, teratai, kangkung, salvinia sp, ganggang dan

(30)

Satu ekor ikan gabus atau satu ekor ikan sepat disebut individu. Satu ganggang disebut individu. Demikian juga dengan manusia. Seorang manusia disebut individu. Individu adalah satuan makhluk hidup tunggal.

2. Populasi

Populasi adalah kumpulan individu sejenis yang hidup menetap di suatu daerah tertentu. Ikan lele yang hidup di kolam jumlahnya lebih dari satu. Demikian juga dengan tumbuhan air seperti Hydrilla sp, ganggang, Salvinia sp dan teratai. Semua ikan sepat yang hidup di kolam tersebut disebut populasi ikan sepat, semua Salvinia sp disebut populasi Salvinia sp, semua teratai disebut populasi teratai, dan semua tumbuhan Hydrilla sp disebut populasi Hydrilla sp, semua ganggang disebut disebut populasi ganggang.

Kepadatan Populasi

Jumlah individu sejenis atau anggota suatu popuasi pada suatu daerah dengan luas tertentu disebut kepadatan populasi. Kepadatan populasi dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

Kepadatan popuasi =

Kepadatan populasi dapat berubah karena beberapa hal berikut ini : a. Kelahiran dan kematian. Kelahiran menyebabkan kepadatan populasi meningkat, sedangkan kematian menyebabkan kepadatan populasi menurun.

b. Perpindahan (migrasi). Migrasi yang menambah populasi disebut migrasi masuk (imigrasi), sedangkan migrasi yang mengurangi populasi disebut migrasi keluar (emigrasi).

Banyaknya individu sejenis Luas daerah yang ditempati

(31)

Pada umumnya, kepadatan populasi tetap, karena jumlah kelahiran biasanya diimbangi oleh jumlah kematian, dan migrasi keluar diimbangi oleh migrasi masuk. Akan tetapi, kadang-kadang terjadi perubahan yang besar pada kepadatan populasi. Salah satu penyebabnya ialah perubahan atau kerusakan lingkungan.

Habitat adalah tempat hidup makhluk hidup. Jenis-jenis habitat antara lain : habitat air tawar, air asin, dan habitat darat.

3. Komunitas

Semua populasi makhluk hidup yang hidup dalam suatu daerah atau lingkungan yang sama disebut komunitas. Misalnya populasi ikan gabus, populasi ikan kecil, ikan sepat, populasi teratai, dan populasi

Hydrilla sp di kolam merupakan anggota komunitas air. Di antara

anggota komunitas ini terjadi interaksi atau hubungan timbal balik. Komunitas adalah kumpulan populasi makhluk hidup yang hidup pada suatu daerah tertentu

Saling hubungan antarkomponen ekosistem

Setiap ekosistem tersusun oleh benda-benda tak hidup dan makhluk hidup. Benda-benda tak hidup merupakan komponen abiotik (a berarti “tidak”, bio bearti “hidup”) dari suatu ekosistem, dan makhluk hidup merupakan

komponen biotik dari ekosistem tersebut.

1. Peran komponen abiotik

Komponen abiotik yang berpengaruh terhadap makhluk hidup antara lain tanah, air, udara, cahaya matahari dan suhu.

2. Peran komponen biotik

Setiap jenis makhluk hidup mempunyai peran tertentu di dalam suatu ekosistem. Peran ini berhubungan dengan cara-cara makhluk hidup tersebut memenuhi kebutuhan makanannya. Ada makhluk

(32)

hidup yang dapat membuat sendiri makanannya, ada yang harus mengambil makanan dari makhluk hidup lain, dan ada pula yang memperoleh makanannya dengan jalan menguraikan makhluk yang telah mati. Berdasarkan cara memperoleh makanan itu, komponen biotik dari suatu ekosistem dibagi ke dalam tiga kelompok, yaitu produsen (penghasil), konsumen (pemakai), dan dekomposer (pengurai).

Ketergantungan Antara Produsen, Konsumen, dan Pengurai. 1. Rantai Makanan dan Jaring-Jaring Makanan

a. Rantai makanan

Hubungan antara komponen biotik yang saling makan-memakan dalam suatu rangkaian garis lurus tidak bercabang. Pola-pola makan-memakan yang berurutan memberikan kesan

saling mengait seperti “rantai”. Oleh karena itu, pola seperti itu

disebut rantai makanan. Dalam makanan terdapat energi, proses makan dan dimakan pada dasarnya merupakan proses perpindahan energi. Rantai makanan adalah perpindahan materi dan energi dari makhluk hidup satu ke makhluk hidup lain melalui proses makan dan dimakan dengan suatu rangkaian garis lurus tidak bercabang.

Contoh : RumputTikusUlarElang b. Jaring-jaring makanan

Konsumen tidak hanya tergantung pada satu macam makanan saja. Misalnya , sapi tidak hanya makan rumput, tetapi dapat juga makan tumbuhan perdu. Demikian pula sebaliknya. Satu jenis makanan dapat dimakan oleh lebih dari satu macam konsumen. Misalnya, rumput tidak hanya dimakan oleh sapi, tetapi dimakan juga oleh kambing atau kerbau. Dengan demikian, konsumen pada suatu rantai makanan dapt menjadi

(33)

anggota rantai makanan yang berbeda. Hubungan antara komponen biotik yang saling makan-memakan dalam rangkaian yang bercabang-cabang. Jadi, kumpulan rantai makanan yang saling berhubungan disebut jaring-jaring makanan. Contoh : Konsumen II Konsumen I Produsen Pengurai

2. Piramida Makanan dan Aliran Energi a. Piramida Makanan

Dalam piramida makanan, produsen dan konsumen menduduki tingkat-tingkat tertentu. Tingkatan-tingkatan tersebut dinamakan tingkat tropik. Produsen menempati tingkat tropik 1, konsumen 1 menempati tingkat tropik 2, konsumen II menempati tingkat tropik 3, dan seterusnya. Piramida makanan adalah komposisi rantai makanan yang makin ke atas jumlahnya makin kecil.

Ulat Pohon Tikus Singa Elang Rumput Kelinci Semak Burung Kijan g Cacin g

(34)

b. Aliran Energi

Dalam suatu ekosistem terjadi proses makan dan dimakan yang dilakukan organisme untuk memperoleh tenaga atau energi. Di dalam proses makan dan dimakan tersebut juga berlangsung aliran energi.

Dalam jaring-jaring kehidupan, hanya sebagian kecil dari energi mengalami perpindahan dari satu makhluk hidup ke makhluk hidup lainnya. Energi yang tersimpan dalam produsen tidak seluruhnya akan pindah ke dalam jaringan tubuh konsumen tingkat pertama. Dari sejumlah energi yang tersimpan dalam jaringan, yang disimpan dalam tubuh konsumen kira-kira 10% saja. Energi yang lain akan digunakan untuk gerak, aktivitas biologis, dan sebagian energi hilang sebagai panas, sedangkan sebagian lagi tetap tersimpan dalam makanan yang tidak tercena dan keluar sebagai kotoran. Pendek kata, setaip kali energi terlibat dalam suatu kegiatan hidup, selalu ada sebagian yang diepaskan ke alam bebas. Jadi, dalam proses makan dan dimakan terjadi aliran energi antarkomponen biotiknya

(35)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan tekhnik Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang merupakan penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat (Wardhani dkk, 2007).

B. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Kemasyarakatan Desa Promasan, Kelurahan Banjaroya, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo tahun ajaran 2011/ 2012 dengan jumlah siswa sebanyak 26 siswa yang terdiri dari 12 perempuan dan 14 laki-laki.

C. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Penelitian

Penelitian ini dilakukan selama 6 bulan, yaitu dari bulan Februari sampai dengan Juli yang bertempat di SMP Kemayarakatan Promasan, Banjaroya, Kalibawang, Kulon Progo.

(36)

D. Faktor yang Diteliti

Faktor siswa : yaitu hasil belajar siswa berupa peningkatan nilai setiap akhir siklus dan aktivitas siswa selama KBM berlangsung, seperti : bertanya, dan menjawab pertanyaan.

E. Rancangan Penelitian

Proses penelitian tindakan kelas ini direncanakan terdiri dari 3 siklus, tiap siklus sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai dan merupakan suatu alur proses kegiatan yang meliputi perencanaan (Planning), pelaksanaan tindakan (Acting), pengamatan (Observing), dan refleksi (reflecting).. Seperti apa yang telah didesain dalam faktor yang diselidiki awal dilakukan untuk mengetahui tindakan yang tepat diberikan dalam rangka meningkatkan sikap dan hasil belajar siswa. Dari hasil observasi awal maka dalam refleksi ditetapkan bahwa tindakan yang dipergunakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran ekosistem adalah melalui pendekatan kontekstual (CTL) dalam proses pembelajaran di kelas.

Sebelum kegiatan penelitian dilaksanakan perlu mengadakan persiapan-persiapan yang nantinya akan diperlukan dalam kegiatan penelitian. Adapun kegiatan yang dilaksanakan pada tahap persiapan ini adalah : 1. Melakukan observasi awal untuk mengidentifikasi masalah melalui wawancara dengan guru bidang studi biologi, kemudian bersama-sama guru tersebut menentukan bentuk pemecahan masalah berupa penerapan model pembelajaran kontekstual pada konsep ekosistem. 2. Mempersiapkan perangkat pembelajaran (membuat satuan pelajaran, rencana pembelajaran, LKS, menyiapkan alat dan bahan untuk praktikum ). 3. Menyususun instrumen lembar observasi untuk mengamati kegiatan siswa selanjutnya menyusun soal tes

(37)

Tabel 1. Rencana Kegiatan Penelitian Tindakan Kelas Siklus Indikator Tujuan Pembelajaran Khusus (Pada produk) Materi Tempat 1 Mengidentifikas ikan satuan-satuan dalam ekosistem

a. Siswa dapat menjelaskan pengertian ekosistem b. Siswa dapat menjelaskan

tentang individu

c. Siswa dapat menjelaskan tentang populasi

d. Siswa dapat menjelaskan tentang komunitas e. Siswa dapat menjelaskan

komponen biotik

f. Siswa dapat menjelaskan komponen abiotik Satuan-satuan makhluk hidup dalam ekosistem Di dalam kelas dan Luar Kelas 2 matahari merupakan sumber energi utama bagi kehidupan

a. Siswa dapat menjelaskan tentang konsumen

b. Siswa dapat menjelaskan tentang produsen Saling hubungan antarkompone n ekosistem Di Laboratu rium

(38)

3 Menggambar-kan dalam bentuk diagram rantai makanan dan jaring-jaring kehidupan berdasar hasil pengamatan suatu ekosistem.

a.Siswa dapat menjelaskan rantai makanan.

b.Siswa dapat membuat diagram rantai makanan c.Siswa dapat menjelaskan

jaring-jaring makanan. d.Siswa dapat membuat

jaring-jaring makanan. e.Siswa dapat menjelaskan

piramida makanan.

f. Siswa dapat membuat piramida makanan

g.Siswa dapat mengetahui dalam proses makan dan dimakan berlangsung aliran energi. Ketergantunga n antara produsen, konsumen, dan pengurai. Di luar kelas

(39)

F. Pelaksanaan Penelitian 1. SIKLUS I

Pertemuan 1

Refleksi awal

Berdasarkan hasil observasi dan pengalaman belajar guru, dapat diuraikan refleksi awal sebagai berikut :

Siswa SMP secara umum memperoleh pembelajaran biologi dari gurunya melalui pendekatan konsep melalui ceramah, walaupun guru pernah membawa ke lingkungan namun hanya sebagai pengamatan saja tidak menggunakan Lembar Kerja Siswa (LKS)

1) Tahap Perencanaan (Planning)

Pada siklus 1 dibahas sub konsep satuan makhluk hidup dalam ekosistem dan saling hubungan antarkomponen ekosistem melalui pemanfaatan lingkungan sekitar sekolah sebagai sumber belajar yang didahului oleh perencanaan yang meliputi :

a) Peneliti melakukan penjelajahan/ observasi ke lingkungan sekitar sekolah SMP Promasan untuk dijadikan lokasi pembelajaran.

b) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) tentang sub konsep satuan makhluk hidup dalam ekosistem dan saling hubungan antarkomponen ekosistem melalui pemanfaatan lingkungan sekitar sekolah sebagai sumber belajar.

(40)

c) Menyusun LKS tentang satuan makhluk hidup dalam ekosistem dan saling hubungan antarkomponen ekosistem melalui pemanfaatan lingkungan sekitar sekolah sebagai sumber belajar.

d) RPP yang telah dibuat beserta perangkat pembelajarannya selanjutnya disampaikan kepada guru bidang studi untuk dipelajari, didiskusikan dan diperbaiki seperlunya dengan mempertimbangkan alokasi waktu yang tersedia.

e) Menyusun soal-soal evaluasi yang akan diujikan secara tertulis kepada siswa pada setiap kali pertemuan

2) Tahap Pelaksanaan Tindakan (Acting)

Guru memberikan tindakan kelas dengan model kontekstual melalui tahap-tahap sebagai berikut :

a) Guru menjelaskan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan, yaitu mengamati makhluk hidup dan makhluk tak hidup yang ada di kebun sekolah.

b) Membagi kelas menjadi 8 kelompok, setiap kelompok mempunyai 3 anggota dan ada yang 4 anggota. Tiap kelompok kemudian menyebar di kebun sekolah.

c) Siswa mengamati benda-benda yang ada di kebun sekolah baik benda hidup maupun tak hidup.

d) Berdasarkan pengetahuannya siswa mengelompokkan benda-benda tersebut menjadi 2 komponen, yaitu komponen biotik dan komponen abiotik.

(41)

e) Hasil pengamatan dimasukkan ke dalam LKS.

f) Setiap kelompok mempresentasikan hasil pengamatan dan didiskusikan bersama guna menghasilkan suatu kesimpulan.

g) Sebagai kegiatan akhir siswa membuat laporan hasil pengamatan secara individu.

3) Pengamatan (Observing)

a) Peneliti mengamati jalannya proses pembelajaran dan menilai kerja sama dan kemampuan siswa dalam menyelesaikan pekerjaan bersama kelompoknya.

b) Peneliti menilai hasil laporan yang telah dikerjakan siswa secara individu.

4) Refleksi (Reflecting)

Peneliti bersama guru bidang studi Biologi mendiskusikan hasil pengamatan untuk perbaikan guna meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada pertemuan ke 2.

Pertemuan 2 1) Perencanaan

a) Membuat program pembelajaran yaitu, PR dan LKS untuk dapat menerapkan konsep ekosistem dengan memanfaatkan lapangan rumput sebagai sumber belajar.

(42)

c) Siswa menyiapkan segala peralatan yang dibutuhkan selama kegiatan KBM berlangsung.

2) Pelaksanaan Tindakan

a) Membagi kelas menjadi 8 kelompok, tiap kelompok mempunyai 3 anggota dan ada yang 4 anggota.

b) Per kelompok menyiapkan peralatan berupa tali rafia, patok, lup, dan plastik untuk materi kepadatan populasi.

c) Masing-masing kelompok menyebar di lapangan untuk melemparkan plot kuadrat 1 x 1 m2 secara acak.

d) Siswa mengamati populasi yang ada di dalam plot kuadrat, untuk serangga yang kecil dapat diamati dengan menggunakan lup.

e) Kepadatan populasi di dalam kuadrat kemudian di hitung dan hasilnya dimasukkan kedalam tabel.

f) Tiap kelompok mempresentasikan hasil pengamatan dan dengan bimbingan guru siswa menyimpulkan hasil pengamatan.

g) Siswa membuat kaporan hasil pengamatan secara individu. h) Guru memberi tes pada akhir siklus I.

3) Pengamatan

a) Peneliti mengamati jalannya proses pembelajaran dan menilai kerjasama, keaktifan dan kemampuan siswa dalam menyelesaikan pekerjaan bersama kelompoknya.

b) Peneliti menilai hasil tes akhir siklus dan laporan yang telah dikerjakan siswa secara individu.

(43)

4) Refleksi

Peneliti bersama guru bidang studi Biologi mendiskusikan hasil pengamatan sehingga kekurangan yang ada pada siklus I dapat dikurangi pada siklus berikutnya. Sehingga hasil yang dicapai pada siklus berikutnya menjadi lebih baik dari pada siklus sebelumnya.

2. SIKLUS II a. Perencanaan

Adapun kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan adalah sebagai berikut :

1) Membuat program pembelajaran yaitu, PR dan LKS mengenai fotosintesis yang berkaitan tumbuhan hijau merupakan produsen yang mampu memproduksi makanan sendiri dengan bantuan sinar matahari untuk berfotosintesis.

2) Mempersiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan dalam praktikum fotosintesis.

3) Mempersiapkan lembar observasi.

4) Siswa menyiapkan segala peralatan yang dibutuhkan selama kegiatan KBM berlangsung.

b. Pelaksanaan Tindakan

1) Guru menjelaskan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan yaitu mengenai tujuan dan cara kerja fotosintesis.

(44)

3) Siswa mempersiapkan alat dan bahan untuk praktikum berupa daun yang sudah ditutup kertas timah sehari sebelum praktikum.

4) Daun tersebut dimasukkan ke dalam air panas hingga berwarna kuning pucat kemudian diangkat dan dimasukkan lagi ke dalam tabung reaksi yang berisi alkohol. Warna alkohol diamati setelah bercampur dengan daun tadi.

5) Daun diangkat kemudian ditetesi dengan larutan lugol, amati perubahan yang terjadi.

6) Siswa juga melakukan untuk daun yang tidak ditutupi kertas timah.

7) Perbedaan warna kedua daun tersebut diamati dan dicatat dalam tabel pengamatan.

8) Setiap kelompok mempresentasikan hasil pengamatan.

9) Guru membimbing siswa dalam mengerjakan soal pada LKS dilanjutkan berdiskusi untuk menarik suatu kesimpulan.

10) Siswa membuat laporan hasil pengamatan secara individu. 11) Guru memberi tes pada akhir siklus II.

c. Pengamatan

1) Peneliti mengamati jalannya proses pembelajaran dan menilai Kerjasama, keaktifan dan kemapuan siswa dalam menyelesaikan pekerjaan bersama kelompoknya.

2) Peneliti menilai hasil tes akhir siklus dan laporan yang telah dikerjakan siswa secara individu.

(45)

Peneliti bersama guru bidang studi Biologi mendiskusikan hasil pengamatan sehingga kekurangan yang ada pada siklus II dapat dikurangi pada siklus berikutnya. Sehingga hasil yang dicapai pada siklus berikutnya menjadi lebih baik dari pada siklus sebelumnya.

3. SIKLUS III a. Perencanaan

Adapun kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan adalah sebagai berikut :

1) Membuat program pembelajaran yaitu, PR dan LKS untuk menerapkan konsep organisme heterototrof dengan memanfaatkan gambar (charta) dan hewan-hewan yang ada di sekitar lingkungan sekolah.

2) Mempersiapkan lembar observasi.

3) Siswa menyiapkan segala peralatan yang dibutuhkan selama kegiatan KBM berlangsung.

b. Pelaksanaan Tindakan

1) Guru menjelaskan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan, yaitu mengamati hewan-hewan yang terdapat pada charta yang telah disediakan secara berkelompok.

2) Membagi kelas dalam 6 kelompok.

(46)

4) Berdasarkan pengetahuannya siswa mengelompokkan hewan-hewan yang ada pada charta menjadi 3 kelompok, yaitu herbivora, carnivora dan omnivora.

5) Hasil pengamatan dimasukkan dalam LKS.

6) Selain mengamati charta, siswa juga mengamati hewan-hewan yang ada di lingkungan sekitar sekolah maupun rumah masing-masing. Hasil pengamatan dimasukkan kedalam LKS, digabungkan dengan hasil pengamatan pada charta.

7) Tiap mempresentasikan hasil pengamatan, dilanjutkan dengan diskusi untuk mendapatkan suatu kesimpulan.

8) Siswa diminta membuat laporan hasil pengamatan secara individu. 9) Guru mengadakan tes akhir siklus III.

c. Pengamatan

1) Peneliti mengamati jalannya proses pembelajaran dan menilai Kerjasama, keaktifan dan kemampuan siswa dalam menyelesaikan pekerjaan bersama kelompoknya.

2) Peneliti menilai hasil tes akhir silkus dan laporan yang telah dikerjakan siswa secara individu.

d. Refleksi

Peneliti bersama guru bidang studi Biologi mendiskusikan hasil pengamatan. Setelah siklus ke III berakhir tingkat pemahaman dan hasil belajar siswa akan siswa lebih meningkat dibandingkan siklus-siklus sebelumnya.

(47)

G. Pengembangan Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini meliputi LKS dan alat evaluasi hasil belajar yang berpedoman pada indikator masing-masing rencana pelaksanaan pembelajaran. Instrumen ini merupakan seperangkat tugas yang harus diselesaikan oleh siswa, langkah-langkah penyusunan instrumennya adalah sebagai berikut :

1. Merumuskan tujuan pembelajaran khusus berdasarkan rambu-rambu dalam silabus kurikulum IPA SMP 2006.

2. Menyusun instrumen LKS sesuai dengan materi yang akan disampaikan.

3. Menyusun soal berdasarkan tujuan khusus yang telah dirumuskan dan kisi-kisi soal sesuai dengan materi yang akan disampaikan dan dilengkapi dengan kunci jawaban.

H. Validasi Instrumen

Validasi instrumen dilakukan oleh guru mata pelajaran biologi dan dosen pembimbing.

I. Data dan Cara Pengambilan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini dapat diperoleh dari :

a. Sumber data

Sumber data penelitian tindakan kelas ini diperoleh dari : 1) Hasil belajar siswa melalui ulangan akhir siklus

(48)

2) Hasil pemahaman siswa melalui LKS pada setiap kali pertemuan.

3) Lembar observasi aktivitas oleh observer dan respon dari guru dalam kegiatan pembelajaran untuk melihat peningkatan aktivitas bertanya dan menjawab di setiap siklus.

b. Jenis data

1) Jenis data :

Jenis data dari penelitian ini adalah data kuantitatif dan data kualitatif . Data Kuantitatif terdiri atas ketrampilan siswa dan hasil belajar siswa. Sedang data kualitatif berupa hasil observasi yang dilakukan oleh observer.

2) Cara Pengambilan data :

a) Data kualitatif diperoleh dari observasi setiap akhir siklus yang diambil oleh observer.

b) Data kuantitatif diperoleh dari hasil belajar diambil dengan menggunakan alat evaluasi berupa tes tiap siklus.

J. Teknik Analisis Data

Analisis data terhadap hasil penelitian dijelaskan sebagai berikut:

1. Analisis data hasil penelitian yang tergolong data kuantitatif berupa hasil belajar dengan cara persentase yaitu dengan menghitung peningkatan ketuntasan belajar siswa secara individual jika siswa tersebut mampu mencapai nilai 65 dan ketuntasan klasikal jika siswa yang memperoleh nilai 65 ini jumahnya sekitar 85% dari jumlah seluruh siswa dan masing-masing dihitung dengan menggunakan

(49)

rumus : Analisis tersebut dilakukan dengan menghitung ketuntasan individual dan ketuntasan klasikal dengan rumus sebagai berikut:

Ketuntasan individu = maksimal nilai Jumlah nilai Jumlah x 100 % Ketuntasan klasikal = siswa seluruh Jumlah belajar tuntas yang siswa Jumlah x 100 % Keterangan:

Ketuntasan indiviual : Jika siswa mencapai ketuntasan KKM sekolah > 65 Ketuntasan klasikal : Jika > 85% dari seluruh siswa mencapai ketuntasan > 65 2. Data hasil pemahaman siswa terhadap soal-soal LKS.

3. Data kualitatif diperoleh dari penggunaan lembar observasi aktivitas dan respon siswa selama proses pembelajaran berlangsung dengan cara deskriptif.

K. Indikator Keberhasilan Penelitian

Indikator keberhasilan dari penelitian ini adalah apabila ada peningkatan hasil dari setiap siklus.

Indikator keberhasilan yang diterapkan dalam penelitian ini adalah : 1. Minimal ≥60 % siswa aktif dalam KBM.

2. Untuk perorangan, seorang siswa disebut tuntas belajar apabila telah mencapai skor 65 % atau nilai 65.

(50)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Umum dan Kondisi Belajar SMP Promasan

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti sebelum melakukan penelitian diperoleh data mengenai kondisi pembelajaran di SMP Kemasyarakatan di Dusun Promasan, Desa Banjaroya, Kecamatan Kali Bawang, Kabupaten Kulon progo. Proses pembelajaran yang berlangsung masih satu arah di mana guru masih berperan sebagai orang yang maha tahu dan sumber dari segala pengetahuan bagi siswa, sehingga selama proses pembelajaran berlangsung keterlibatan siswa dalam pembelajaran masih kurang atau dapat dikatakan bahwa siswa cenderung pasif. Selain itu siswa juga kurang berantusias dalam mengikuti pelajaran yang ditunjukkan dengan masih sedikitnya siswa yang mengajukan pertanyaan maupun menanggapi pertanyaan yang diberikan oleh guru.

Metode yang digunakan guru dalam pengajaran adalah metode ceramah dan hafalan sehingga siswa cenderung ramai sendiri; asyik dengan teman sebangku; mengerjakan tugas lain seperti tugas menggambar yang bukan jamnya, bahkan ada pula yang bermain secara sembunyi-sembunyi saat guru menerangkan di depan kelas. Ketika peneliti mengkonfirmasi kapada siswa mengapa bertindak demikian secara sponton siswa menjawab bahkan proses pembelajaran sangat membosankan karena setiap pembelajaran

hanya “cerito wae” dan sering diminta menulis dan menghafal dari buku paket yang sudah ada“khan mboseni to mas, mending buat ngerjake liyane!”.

(51)

Model hafalan ini menyebabkan siswa kurang kreatif, kurang kritis dan rendahnya siswa dalam menganalisis pertanyaan yang diberikan oleh guru saat proses belajar maupun saat diadakan ulangan harian.

Data yang diperoleh dari observasi kondisi awal, hasil nilai ulangan harian siswa kelas VII, masih banyak siswa yang belum mencapai standar ketuntasan belajar. Rangkuman hasil belajar Ulangan Harian siswa kelas VII ditunjukkan pada tabel berikut ini :

Tabel 2. Hasil Ulangan Harian siswa kelas VII

No Hasil Ulangan Pencapaian

1. Nilai tertinggi 9,5

2. Nilai terendah 4

3. Rata-rata 7,18

4. Jumlah siswa yang tuntas belajar ( nilai≥ 6,5) 17 5. Jumlah siswa yang tidak tuntas belajar (nilai < 6,5) 9 6. Presentase ketuntasan belajar secara klasikal 65,38%

Berdasarkan data pada tabel dapat diketahui bahwa rata-rata hasil belajar siswa kelas VII adalah 7,18 sedang ketuntasan belajar yang dicapai sebesar 65,38%. Hasil ini menunjukkan bahwa ketuntasan belajar siswa secara klasikal masih rendah.

(52)

B. Hasil Penelitian 1. Siklus I Perencanaan

Berdasarkan masalah yang telah diidentifikasi pada saat observasi awal maka telah direncanakan model pembelajaran pada pokok bahasan Ekosistem melalui pendekatan kontekstual (Contextual Teaching dan Learning). Kurangnya partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar seperti bertanya, menjawab pertanyaan, kurangnya percaya diri siswa dalam mengemukakan pendapat, dan hasil belajar yang masih rendah menjadi dasar peneliti untuk melakukan tindakan kelas dengan Metode Pendekataan Kontekstual (CTL).

Dalam perencanaan siklus I peneliti mempersiapkan treatment khusus dalam pendekatan awal kepada siswa seperti menyiapkan ”guyonan-guyonan” ringan agar siswa merasa tidak tegang dengan sosok guru yang baru. Hal ini dirasa sangat penting dilakukan karena sebagai langkah awal untuk pendekatan guru pada siswa supaya siswa tidak merasa takut untuk bertanya, mengemukakan pendapatnya dan guru sebagai rekan belajar. Dalam mengapresiasi siswa yang mampu bertanya, menjawab pertanyaan dari guru maupun dalam forum diskusi guru menyiapkan reward. Hal ini dilakukan supaya dalam proses pembelajaran selanjutnya siswa akan terbiasa aktif bertanya, menjawab dan mengemukakan pendapat.

Pelaksanaan

Pelaksanaan tindakan pada siklus I dilaksanakan sebanyak 2 kali pertemuan yang dimulai pada tanggal 28 April 2012. Pertemuan I dilaksanakan pada hari Sabtu, 28 April

(53)

2012 dan pertemuan II dilaksanakan pada hari Rabu 2 Mei 2012. Pelaksanaan pembelajaran pada siklus I ini mengacu pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah dipersiapkan. Awal pembelajaran peneliti memberikan salam dan menerangkan tentang materi yang akan dipelajari. Di awal pembelajaran peneliti berusaha mendekatkan diri pada siswa dengan cara menyisipkan candaan dan guyonan agar siswa tidak tegang disela-sela menerangkan materi. Selama pembelajaran berlangsung, aktivitas peneliti maupun siswa diamati oleh guru kolaborator maupun observer yang bertindak sebagai pengamat.

Pokok bahasan yang menjadi fokus dari siklus I adalah membahas tentang satuan makhluk hidup dalam ekosistem. Pembelajaran dilakukan dengan model kontekstual dengan metode eksperimen di halaman sekolah dan sawah milik masyarakat. Pengamatan alam secara langsung menyadarkan siswa bahwa secara alami hewan maupun tumbuhan tidak dapat hidup sendiri-sendiri.

Dalam melakukan pengamatan siswa mencatat apa saja yang dapat dimasukkan kedalam kelompok makluk hidup (biotik) dan makhluk tak hidup (abiotik) kedalam tabel yang sudah dipersiapkan terlebih dahulu. Secara berkelompok siswa mendiskusikan hasil pengamatan tersebut dan mencoba untuk menarik kesimpulan dengan mendapat bimbingan dan pengawasan dari guru. Dengan mengadakan pengamatan lingkungan diluar kelas siswa dapat melihat gambaran secara langsung pola interaksi komponen biotik dan abiotik dalam bentuk rantai makanan, sehingga apa yang dilihat dan dirasakan tadi dapat masuk kedalam pikiran siswa dan menjadi suatu pengetahuan yang baru.

(54)

0 10 20 30 40 50 60 70 Tuntas Pr os en tas e Ke tu nt as an B el aj ar (% ) Siklus I

Gambar 1. Penyebaran hasil belajar Siklus I

Pada akhir siklus I dilakukan tes akhir yang berfungsi untuk mengukur kemampuan belajar siswa. Dari hasil observasi pelaksanaan siklus I diperoleh hasil-hasil sebagai berikut :

a. Hasil tes akhir siklus I.

Hasil belajar merupakan suatu perubahan yang menyangkut tujuan yang berhubungan dengan ingatan, pengetahuan, dan kemampuan intelektual. Hasil tes setelah penelitian tindakan kelas pada siklus I adalah sebagai berikut:

Tabel 3 : Hasil tes Siklus I

No Hasil Ulangan Pencapaian

1. Nilai tertinggi 9

2. Nilai terendah 3

3. Rata-rata 6,46

4. Jumlah siswa yang tuntas belajar ( nilai≥6,5) 16 5. Jumlah siswa yang tidak tuntas belajar (nilai < 6,5) 10 6. Presentase ketuntasan belajar secara klasikal 61,53 %

Siswa secara klasikal yang memperoleh nilai 6,5 ke atas adalah 16 siswa dengan ketuntasan belajar 61,53 %.

Grafik penyebaran hasil belajar dapat dilihat pada gambar berikut ini :

61,53 %

38,47 %

Tuntas Tidak Tuntas

Siklus I

Gambar 1. Penyebaran hasil belajar Siklus I

Pada akhir siklus I dilakukan tes akhir yang berfungsi untuk mengukur kemampuan belajar siswa. Dari hasil observasi pelaksanaan siklus I diperoleh hasil-hasil sebagai berikut :

a. Hasil tes akhir siklus I.

Hasil belajar merupakan suatu perubahan yang menyangkut tujuan yang berhubungan dengan ingatan, pengetahuan, dan kemampuan intelektual. Hasil tes setelah penelitian tindakan kelas pada siklus I adalah sebagai berikut:

Tabel 3 : Hasil tes Siklus I

No Hasil Ulangan Pencapaian

1. Nilai tertinggi 9

2. Nilai terendah 3

3. Rata-rata 6,46

4. Jumlah siswa yang tuntas belajar ( nilai≥6,5) 16 5. Jumlah siswa yang tidak tuntas belajar (nilai < 6,5) 10 6. Presentase ketuntasan belajar secara klasikal 61,53 %

Siswa secara klasikal yang memperoleh nilai 6,5 ke atas adalah 16 siswa dengan ketuntasan belajar 61,53 %.

Grafik penyebaran hasil belajar dapat dilihat pada gambar berikut ini :

61,53 %

38,47 %

Pada akhir siklus I dilakukan tes akhir yang berfungsi untuk mengukur kemampuan belajar siswa. Dari hasil observasi pelaksanaan siklus I diperoleh hasil-hasil sebagai berikut :

a. Hasil tes akhir siklus I.

Hasil belajar merupakan suatu perubahan yang menyangkut tujuan yang berhubungan dengan ingatan, pengetahuan, dan kemampuan intelektual. Hasil tes setelah penelitian tindakan kelas pada siklus I adalah sebagai berikut:

Tabel 3 : Hasil tes Siklus I

No Hasil Ulangan Pencapaian

1. Nilai tertinggi 9

2. Nilai terendah 3

3. Rata-rata 6,46

4. Jumlah siswa yang tuntas belajar ( nilai≥6,5) 16 5. Jumlah siswa yang tidak tuntas belajar (nilai < 6,5) 10 6. Presentase ketuntasan belajar secara klasikal 61,53 %

Siswa secara klasikal yang memperoleh nilai 6,5 ke atas adalah 16 siswa dengan ketuntasan belajar 61,53 %.

Grafik penyebaran hasil belajar dapat dilihat pada gambar berikut ini :

61,53 %

Figur

GAMBAR 1. Grafik penyebaran hasil belajar Siklus I ……...……….… 40 GAMBAR 2. Grafik Aktivitas siswa Siklus I ………….…..………….… 41 GAMBAR 3

GAMBAR 1.

Grafik penyebaran hasil belajar Siklus I ……...……….… 40 GAMBAR 2. Grafik Aktivitas siswa Siklus I ………….…..………….… 41 GAMBAR 3 p.14
Tabel 1. Rencana Kegiatan Penelitian Tindakan Kelas Siklus Indikator Tujuan  PembelajaranKhusus (Pada produk) Materi Tempat 1 Mengidentifikasikan satuan-satuan dalam ekosistem

Tabel 1.

Rencana Kegiatan Penelitian Tindakan Kelas Siklus Indikator Tujuan PembelajaranKhusus (Pada produk) Materi Tempat 1 Mengidentifikasikan satuan-satuan dalam ekosistem p.37
Tabel 2. Hasil Ulangan Harian siswa kelas VII

Tabel 2.

Hasil Ulangan Harian siswa kelas VII p.51
Gambar 2 : Hasil angket observasi siswa dalam proses pembelajaran siklus I9 siswa(34,61%)12 siswa(46,15%)11 siswa(42,30%)01020304050

Gambar 2 :

Hasil angket observasi siswa dalam proses pembelajaran siklus I9 siswa(34,61%)12 siswa(46,15%)11 siswa(42,30%)01020304050 p.55
Gambar 4 : Hasil angket observasi siswa dalam proses pembelajaran siklus II

Gambar 4 :

Hasil angket observasi siswa dalam proses pembelajaran siklus II p.60
Gambar 6 : Hasil angket obsevasi siswa dalam proses pembelajaran siklus III

Gambar 6 :

Hasil angket obsevasi siswa dalam proses pembelajaran siklus III p.64
Grafik Peningkatan Ketuntasan Belajar

Grafik Peningkatan

Ketuntasan Belajar p.66
Grafik Peningkatan Aktivitas Belajar Siswa

Grafik Peningkatan

Aktivitas Belajar Siswa p.67

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :