ARTIKEL ILMIAH
MENINGKATKAN KERJA SAMA PESERTA DIDIK MELALUI MODEL PEMBELAJARAN STUDENT TEAMS
ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) DI KELAS IV C SD NEGERI NO. 64/1 MUARA BULIAN
Oleh
KANA HAMIDAYANI NIM A1D114019
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI 2018
MENINGKATKAN KERJA SAMA PESERTA DIDIK MELALUI MODEL PEMBELAJARAN STUDENT TEAMS
ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) DI KELAS IV C SD NEGERI NO. 64/1 MUARA BULIAN
Oleh : KANA HAMIDAYANI
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI 2018
ABSTRAK
Hamidayani, K. 2018. Meningkatkan Kerja Sama Peserta Didik Melalui Model Pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) Di Kelas IV C SD Negeri No. 64/1 Muara Bulian. Pembimbing 1. Drs. Maryono, M.pd; Pembimbing II. Silvina Noviyanti, S.Pd, M.Pd.
Penelitian ini diawali dengan peneliti melakukan observasi Prasiklus di kelas IV C SD Negeri No. 64/1 Muara Bulian dan ternyata kerja sama peserta didik rendah dan perlu ditingkatkan. Hal tersebut disebabkan guru belum membagi kelompok belajar peserta didik secara heterogen. Akibatnya, mereka terus saja bermain yang membuat tugas mereka tidak selesai. Saat tugas kelompok dikerjakan oleh setiap kelompok, guru hanya memberikan tugas tanpa melakukan pengawasan lanjut seperti membimbing kelompok untuk berdiskusi. Guru kurang tepat dan jelas saat memberikan peraturan untuk mengerjaan tugas kelompok. Saat proses diskusi kelompok, peserta didik yang pintar di dalam kelompoknya lebih mendominasi kelompok. Sedangkan peserta didik yang berkemampuan rendah hanya menunggu apa yang dikerjakan temanya.
Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan kerja sama peserta didik dalam pembelajaran melalui model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) di kelas IV C SD Negeri No. 64/1 Muara Bulian.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang membahas bagaimana cara guru meningkatkan kerja sama peserta didik melalui model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) di kelas IV C SD Negeri No. 64/1 Muara Bulian. Model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) yang akan digunakan dalam penelitian yaitu menyampaikan tujuan dan motivasi peserta didik, membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok kecil dengan jumlah 4-5 orang secara heterogen, menyajikan informasi pembelajaran, guru memberikan tugas kepada anggota kelompok untuk dikerjakan sescara bersama-sama, guru membimbing diskusi kelompok, guru memberikan kuis atau pertanyaan bagi peserta didik, pemberian penghargaan bagi kelompok yang mendapatkan nilai tertinggi, dan guru memberikan evaluasi dan kesimpulan. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan observasi.
Penelitian ini terdiri dari dua siklus dan setiap siklusnya terdiri dari dua pertemuan. Pada setiap pertemuan akan dilakukan empat tahap yaitu perencanaan,
pelaksanaan, observasi dan refleksi. Hasil penelitian pada siklus satu menunjukkan bahwa model pembelajaran Student Teams Achievement Division
(STAD) dapat meningkatkan kerja sama peserta didik di kelas IV C SD Negeri No. 64/1 Muara Bulian. Hal ini dapat dilihat dari hasil observasi pada siklus I diperoleh presentasi keberhasilan kerja sama peserta didik di kelas IV C SD Negeri No.64/1 Muara Bulian yaitu 66,14% dengan predikat cukup (C). Pada siklus II hasilnya meningkat menjadi 75,76% dengan predikat baik (B).
PENDAHULUAN
Manusia tidak bisa hidup sendiri, artinya manusia adalah makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial manusia harus memiliki kemampuan sosial yang baik, dan bisa berinteraksi dengan baik sesama manusia di dalam hidupannya. Khumayasari (2017:19) mengatakan “Salah satu kemampuan sosial yang harus dikembangkan bagi siswa sekolah dasar adalah kemampuan dalam berinteraksi dan bekerja sama dengan orang lain dalam sebuah kelompok”. Menurut Woolfolk (2009:256) “Keja sama adalah bekerja bersama-sama dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama”. Kerja sama merupakan hal yang penting yang harus dilaksanakan ketika proses pembelajaran berlangsung, baik di dalam maupun di luar sekolah. Kerja sama biasanya terjadi saat berinteraksi antara anggota kelompok yang mempunyai tujuan sama untuk dapat dicapai bersama-sama.
Anita (Ratnasari 2017:2) menegaskan bahwa “Kerja sama adalah kebutuhan yang sangat penting artinya bagi kelangsungan hidup, tanpa bekerja sama, tidak akan ada individu, keluarga, organisasi atau sekolah”. Menurut Ratnasari (2017:2) “Melalui kerja sama anak mendapatkan apa yang mereka butuhkan yaitu untuk hidup bersama orang lain demi kelangsungan hidupnya. Hidup bersama orang lain memenuhi kebutuhan anak untuk dicintai, ingin diakui, dan dihargai”.
Hasil observasi yang dilakukan di kelas IV C Sekolah Dasar Negeri No. 64/1 Muara Bulian bersama guru kelas yaitu ibu Lian Firmadora Musya S.Pd. Penulis memperoleh data melalui observasi yaitu dari 21 peserta didik yang ada di dalam kelas 1V C hanya ada 7 peserta didik (33%) yang mampu bekerja sama pada saat proses pembelajaran kelompok. Sedangkan 14 peserta didik (67%) yang belum mampu menunjukkan sikap kerja sama dengan teman pada saat pembelajaran kelompok berlangsung, mereka hanya sibuk mengganggu teman, atau hanya sekedar duduk diam, dan peserta didik masih banyak yang malu-malu dalam mengeluarkan pendapatnya.
Guru belum membagi kelompok belajar peserta didik secara heterogen, terkadang ada kelompok yang anggotanya terdiri dari peserta didik laki-laki semua. Akibatnya, mereka terus saja bermain yang membuat tugas mereka tidak selesai. Saat tugas kelompok dikerjakan oleh setiap kelompok, guru hanya memberikan tugas tanpa melakukan pengawasan lanjut seperti membimbing kelompok untuk berdiskusi. Guru kurang tepat dan jelas saat memberikan peraturan untuk mengerjaan tugas kelompok. Saat proses diskusi kelompok, peserta didik yang pintar di dalam kelompoknya lebih mendominasi kelompok. Sedangkan peserta didik yang berkemampuan rendah hanya menunggu apa yang dikerjakan temanya. Ketika ditanya kenapa tidak ikut berdiskusi, peserta didik tersebut menjawab takut jika jawabanya salah. Artinya peserta didik bukan tidak bisa menjawab tugas yang diberikan guru. Namun, karena takut jawabanya kurang diterima oleh anggota kelompok yang lebih mendominasi. Adapun hal-hal yang menyebabkan belum terciptanya kerja sama peserta didik secara maksimal yaitu guru belum membagi kelompok peserta didik secara heterogen, guru belum melakukan pengawasan lebih lanjut saat seperti membimbing kelompok untuk berdiskusi, dan guru belum tepat dan jelas memberikan peraturan saat bekerja kelompok.
Pengunaan model pembelajaran Cooperative Learning tipe Student Teams Achievement Division (STAD) mampu untuk meningkatkan kerja sama
peserta didik. Menurut Menurut Huda (2015:201) Model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) “Merupakan salah satu strategi pembelajaran kooperatif yang di dalamnya beberapa kelompok kecil peserta didik dengan level kemampuan akademik yang berbeda-beda saling bekerja sama untuk menyelesaikan tujuan pembelajaran”. Pada hakikatnya model pembelajaran
Student Teams Achievement Division (STAD) menuntut peserta didik untuk saling bekerja sama dalam menyelesaikan tugas yang telah diberikan oleh guru sehingga tugas tersebut akan diselesaikan dengan cepat dan tepat. Oleh karena itu, penulis akan melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul “Meningkatkan Kerja Sama Peserta didik Melalui Model Pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) di Kelas IV C SD Negeri No.64/1 Muara Bulian”.
KAJIAN PUSTAKA Hakikat Kerja Sama
Kerja sama merupakan sikap sosial yang menuntut peserta didik melakukan pekerjaan secara bersama-sama dan saling berinteraksi satu sama lain. Menurut Woolfolk (2009:252) “Kerja sama merupakan bekerja bersama orang lain untuk belajar”. Guru yang mampu membuat peserta didik ikut terlibat mengembangkan kerja sama, ikut memiliki dengan mempersonalisasikan pengajaran, dan menciptakan lingkungan sosial yang peduli, diperlukan kerja sama antara guru dan para peserta didik. Dari hal tersebut dapat diketahui bahwa kerja sama merupakan salah satu tujuan yang penting bagi proses pembelajaran.
Menurut Joyce dan Weil (Aunurrahman, 2012:149) “Kerja sama merupakan fenomena yang pasti terjadi dalam berbagai kesempatan, dalam lapisan masyarakat dan dalam berbagai bentuk kegiatan.” Dengan adanya kerja sama manusia dapat membuat tenaga atau energy menjadi lebih besar secara bersama-sama.
Menurut Gillies (Woolfolk, 2009:256) “Kerja sama adalah cara bekerja bersama orang lain untuk mencapai tujuan bersama”. Akan tetapi, seperti diketahui oleh semua guru, kerja sama tidak secara otomatis terjadi ketika peserta didik menjadi salah satu anggota kelompok. Oleh karena itu guru perlu melakukan bimbingan dan penjelasan lebih lanjut supaya peserta didik mampu menciptakan sikap kerja sama yang diharapkan.
Menurut Lickona (2013:75) “Sikap saling kerja sama mengenal bahwa tidak ada yang mampu hidup sendiri disebuah pulau (tempat kehidupan), dan dunia yang semakin sering membutuhkan, kita harus bekerja secara bersama-sama dalam meraih tujuan yang pada dasarnya sama dengan upaya pertahanan diri”.
Pengertian kerjasama dari beberapa para ahli dapat disimpulkan bahwa kerja sama merupakan upaya saling membantu antara dua orang atau lebih dengan demikian para peserta didik dapat bekerja secara bersama-sama untuk meraih tujuan bersama. Ketika para peserta didik dapat saling peduli satu sama lain dengan cara seperti ini, berarti mereka sedang mempelajari sebuah pelajaran penting bahwa manusia saling membutuhkan.
Karakteristik Kerja Sama
Karakteristik kerja sama merupakan ciri khas dari kerja sama itu sendiri. Saat proses pembelajaran kelompok, setiap anggota kelompok seharusnya memiliki sikap kerja sama yang baik. Adapun ciri-ciri kerja sama menurut
Lickona (2013:295) yaitu “Membantu Bekerja, bersikap bersahabat dengan semua orang dalam kelompok, memberi semangat pada semua untuk ikut serta, berkompromi dan mengerjakan bagian dari tugas”.
Djamarah dan Zain (2010:56) juga mengatakan “Keakraban atau kesatuan kelompok ditentukan oleh tarikan-tarikan interpersoanal, atau saling menyukai satu sama lain”. Salah satu kemungkinan yang mampu menanamkan keakraban sebagai tarikan kelompok merupakan satu-satunya faktor yang menyebabkan kelompok bisa bersatu. Keakraban dalam kelompok dapat ditentukan oleh beberapa faktor yaitu perasaan diterima atau disukai teman-teman satu keompok, ketertarikan terhadap anggota kelompok, teknik pengelompokan yang dilakukan oleh guru, partisifasi/keterlibatan dalam kelompok, dan penerimaan tujuan kelompok dan persetujuan dalam cara mencapainya.
Roestiyah (2012:16-17) mengemukakan “Dalam kelompok peserta didik harus bisa bekerja sama, maupun menyesuaikan diri, menyeimbangkan pikiran/pendapat atau tenaga untuk kepentingan bersama, sehingga mencapai tujuan untuk bersama pula”. Menurut Rekysika (2015:16) “Dasar kerja sama ialah adanya saling ketergantungan, adanya interaksi, tanggung jawab, dan kepentingan yang sama, yang mana kesemuanya itu dilandasi oleh sikap saling pengertian, saling membantu, saling menghargai dan kompromi”.
Indikator kerja sama dapat ditentukan melalui karakteristik/ciri-ciri kerja sama dan belajar kelompok. Adapun beberapa indikator kerja sama yang akan penulis gunakan dalam penelitian ini yaitu adanya saling ketergantungan dalam kelompok, terlibat aktif dalam kelompok, tanggung jawab dalam kelompok, dan kemampuan interpersonal. Indikator tersebut disimpulkan dari beberapa pendapat para ahli, dimana setiap pendapat semuanya menuju kearah yang sama. Oleh karena itu, penulis lebih menekankanya lagi menjadi beberapa indikator saja. Manfaat Kerja Sama dalam Pembelajaran
Kerja sama mengacu pada sikap sosial yang sangat bermanfaat dalam kehidupan nyata, khususnya ketika peserta didik mengaktualisasikan diri ditengah masyarakat. Roestiyah (2012:17) mengatakan keuntungan kerja sama dalam kelompok yaitu:
(1) Dapat memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk menggunakan keterampilan bertanya dan membahas sesuatu masalah. (2) Dapat memberikan kesempatan pada para peserta didik untuk lebih intensif mengadakan penyelidikan mengenai sesuatu kasus atau masalah. (3) Dapat mengembangkan bakat kepemimpinan dan mengajarkan keterampilan diskusi. (4)Dapat memungkinkan guru untuk lebih memperhatikan peserta didik sebagai individu serta kebutuhan belajar, (5) Para peserta didik lebih aktif tergabung dalam pelajaran mereka, dan mereka lebih aktif berpartisipasi dalam diskusi, dan (6) Dapat memberi kesempatan kepada para peserta didik untuk mengembangkan rasa menghargai dan menghormati pribadi temanya, menghargai pendapat orang lain, hal mana mereka telah saling membantu kelompok dalam usahanya mencapai tujuan bersama.
Membangun kebersamaan ketika proses pembelajaran untuk terciptanya kerja sama tentu saja bukan hal yang mudah. “Membangun kerja sama (bukan kompetisi), para peserta didik menyerap kebijaksanaan orang lain sehingga mereka dapat belajar bertoleransi dan mengasihi teman-temanya” (Asmani, 2016:39). Peserta didik akan saling menukar pengalaman dan peserta didik
mempunyai kesempatan untuk mendapatkan konteks lebih luas berdasarkan pandangan tentang kenyataan yang lebih berkembang saat ini.
Manfaat kerja sama tidak ada habisnya jika para peserta didik telah memiliki sikap kerja sama yang diharapkan. Manfaat kerja sama yang dapat dirasakan peserta didik dalam pembelajaran yaitu meningkatkan keterampilan bertanya, meningkatkan keterampilan diskusi, meningkatkan keaktifan dalam diskusi, menimbulkan rasa saling menghargai dan menghormati pendapat orang lain, dan belajar bertoleransi dan mengasihi teman di dalam kelompok.
Model Pembelajaran
Model pembelajaran dapat diartikan sebagai perangkat rencana yang dapat dipergunakan untuk melaksanakan aktivitas pembelajaran. Menurut Aunurrahman (2013:146) “Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para guru untuk merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran”. Suprijono (2016:65) mengemukakan bahwa “Model pembelajaran dapat didefinisikan sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar”.
Menurut Joyce dan weil (Huda, 2015:73) Mendeskripsikan “Model pembelajaran sebagai rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum, mendesain materi-materi instruksional, dan memandu proses pengajaran diruang kelas atau setting yang berdeda”. Semua guru tentunya pernah menghadapi berbagai macam masalah yang terjadi di ruang kelas ketika proses pembelajaran berlangsung. Guru yang kreatif akan menerapkan model-model pembelajaran yang bervariasi untuk memecahkan masalah yang muncul di dalam kelas. Hanya guru yang kreatif, fleksibel, dan cerdas yang dapat memperoleh keuntungan maksimal dari model-model pembelajaran yang diterapkan dalam proses pembelajaran.
Pengertian model pembelajaran menurut beberapa para ahli dapat di simpulkan bahwa model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang menggambarkan proses pembelajaran dari awal hingga akhir pembelajaran guna mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Model pembelajaran juga berguna untuk memecahkan berbagai macam masalah yang muncul ketika pembelajaran berlangsung.
Model Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran kooperatif dibentuk sesuai dengan fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang penuh ketergantungan dengan orang lain, mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama. Menurut Huda (2015:111) “Salah satu asumsi yang mendasari pengembangan pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) adalah bahwa sinergi yang muncul melalui kerjasama akan meningkatkan motivasi yang jauh lebih besar dari pada melalui lingkungan kompetitif induvidual”. Asmani (2016:37) mengatakan “Dalam Cooperative Learning (pembelajaran kooperatif), peserta didik dilatih untuk bekerja sama dengan temanya secara sinergis, integral, dan kombinatif”.
Menurut Shoimin (Widiasworo, 2017:195) “Cooperative Learning
merupakan suatu model pembelajaran yang mana peserta didik belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda”. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota kelompok saling membantu dan bekerja sama untuk memahami dan menyelesaikan tugas kelompok yang diberikan oleh guru. Proses pembelajaran akan terus berlangsung jika salah satu anggota kelompok belum menguasai materi pembelajaran. Untuk mempermudah supaya semua anggota kelompok memahami materi maka, siswa yang lebih pintar bisa membimbing anggota kelompok yang lain.
Sedangkan menurut Suprihatiningrum (2013:191) “Cooperative Learning
mengacu pada metode pengajaran, yang mana peserta didik bekerja bersama didalam kelompok kecil saling membantu dalam belajar. Majid (2014:174) mengemukakan “Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang mengutamakan kerja sama untuk mencapai tujuan pembelajaran”. Dengan adanya kerja sama tersebut maka tujuan pembelajaran akan tercapai sesuai dengan harapan guru.
Pengertian model pembelajaran kooperatif menurut beberapa para ahli dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang dilakukan dengan membentuk peserta didik menjadi beberapa kelompok kecil yang heterogen yang menuntut peserta didik untuk bekerja sama atau membantu satu sama lain didalam kelompok sehingga tujuan pembelajaran akan tercapai. Selain membantu antara satu dengan yang lain, model pembelajaran kooperatif memastikan bahwa setiap orang dalam kelompok mampu mencapai tujuan atau menyelesaikan tugas yang ditentukan.
Karakteristik Model Pembelajaran Kooperatif
Karakteristik model pembelajaran kooperatif merupakan ciri khas dari model pembelajaran kooperatif itu sendiri. Model pembelajaran Cooperative Learning mempunyai beberapa karakteristik spesifik. Menurut Asmani (2016:61-63)karakteristik Cooperatif Learning sebagai berikut:
1. Positive Interdependence
Positive interdependen ialah hubungan tibal balik yang didasari adanya kesamaan kepentingan atau perasaan diantara anggota kelompok. 2. Interaction Face to Face
Interaction Face to Face bearti hubungan yang langsung terjadi antar peserta didik tanpa melalui perantara.
3. Adanya tanggung jawab pribadi mengenai materi pelajaran dalam anggota kelompok.
4. Membutuhkan Keluwesan
Keluwesan dibutuhkan guna menciptakan kedekatan antarindividu, mengembangkan kemampuan kelompok, serta memelihara hubungan kerja yang efektif.
5. Meningkatkan keterampilan bekerja sama dalam memecahkan masalah (proses kelompok).
Menurut Arsa (2015:60) “Proses pembelajaran kooperatif lebih
menekankan pada proses kerja sama kelompok, kerja sama inilah yang menjadi
ciri khas pembelajaran kooperatif”. Menurut Majid (2004:176) karakteristik model pembelajaran kooporatif yaitu:
1. Peserta didik belajar dalam kelompok untuk menuntaskan materi belajar. 2. Kelompok dibentuk dari peserta didik yang memiliki keterampilan tinggi,
sedang, dan rendah (Heterogen).
3. Apabila memungkinkan, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, dan jenis kelamin yang berbeda.
4. Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok dari pada individu.
Karakteristik model pembelajaran kooperatif yang dikemukakan beberapa para ahli dapat disimpulkan menjadi adanya hubungan timbal balik antar anggota kelompok untuk menuntaskan materi pembelajaran, kelompok dibentuk secara heterogen, adanya tanggung jawab pribadi mengenai materi pelajaran dalam anggota kelompok, meningkatkan sikap kerja sama kelompok, dan penghargaan lebih berorientasi pada kelompok dari pada individu.
Model Pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD)
Model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) dikembangkan oleh Robert Salvin dan teman-temanya di universitas John Hopkins. Menurut Kurniasih dan Sani (2017:22) “Model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) peserta didik dalam satu kelas tertentu dipecah menjadi kelompok dengan anggota 4-5 orang, usahakan setiap beranggotakan dengan heterogen, terdiri atas laki-laki dan perempuan, berasal dari berbagai suku, memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah”. Stiap anggota di dalam kelompok menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran yang lain untuk memahami materi pembelajarannya ketika proses pembelajaran berlangsung. Kemudian setiap anggota kelompok saling membantu satu sama lain untuk memahami materi pembelajaran melalui diskusi dan kuis.
Pengertian model pembelajaran Student Teams Achievement Division
(STAD) dari beberapa para ahli dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran
Student Teams Achievement Division (STAD) merupakan model pembelajaraan kooperatif dengan menggunakan kelompok kecil yang terdiri atas 4-5 orang peserta didik, dibagi secara heterogen yang kemudian saling bekerja sama dalam menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru demi tercapainya tujuan pembelajaran. Di dalam Student Teams Achievement Division (STAD) terdapat penghargaan kelompok untuk kelompok yang mendapatkan point tertinggi, penghargaan diberikan diakhir pembelajaran. Penghargaan kelompok didasarkan atas skor yang didapatkan oleh kelompok dan skor kelompok ini diperoleh dari peningkatan individu dalam setiap kuis.
Langkah-langkah Model Pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD)
Setiap model pembelajaran yang akan diterapkan oleh guru di dalam pembelajaran perlu diperhatikan langkah-langkahnya. Adapun langkah-langkah model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) menurut Kurniasih & sani (2017:23-24) sebagai berikut:
Pada tahap ini, guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan mengkomunikasikan kompetensi dasar yang akan dicapai serta memotivasi peserta didik.
2. Guru menyajikan informasi kepada peserta didik untuk membentuk kelompok-kelompok yang beranggotakan 3-5 orang.
3. Menyajikan informasi.
Guru memotivasi serta menfasilitasi kerja peserta didik dalam kelompok-kelompok belajar dan menjelaskan segala hal tentang materi yang akan diajarkan model pembelajaran yang akan dilaksanakan.
4. Guru memberi tugas pada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompoknya.
5. Peserta didik yang bisa mengerjakan tugas atau soal menjelaskan kepada anggota kelompok lainnya sehingga semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
6. Guru memberi kuis atau pertanyaan kepada seluruh peserta didik. Pada saat menjawab kuis atau pertanyaan peserta didik tidak boleh saling membantu.
7. Guru memberi penghargaan (rewards) kepada kelompok yang memiliki nilai atau poin
8. Guru memberika evaluasi.
Adapun langkah-langkah model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) menurut Suprijono (2016:152) sebagi berikut:
1. Membentuk kelompok yang anggotanya = 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dan lain-lain. 2. Guru menyajikan pelajaran.
3. Guru memberikan tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok, anggota-anggotanya yang sudah mengerti dapat menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
4. Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh peserta didik, pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu.
5. Memberi evaluasi. 6. Kesimpulan.
Langkah-langkah model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) menurut beberapa para ahli semuanya tidak jauh berbeda. Jadi, dapat disimpulkan langkah-langkah model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) yang akan digunakan dalam penelitian yaitu menyampaikan tujuan dan motivasi peserta didik, membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok kecil dengan jumlah 4-5 orang secara heterogen, menyajikan informasi pembelajaran, guru memberikan tugas kepada anggota kelompok untuk dikerjakan sescara bersama-sama, guru membimbing diskusi kelompok, guru memberikan kuis atau pertanyaan bagi peserta didik, pemberian penghargaan bagi kelompok yang mendapatkan nilai tertinggi, dan guru memberikan evaluasi dan kesimpulan.
Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD)
Banyak sekali manfaat dan kelebihan dari model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD). Adapun kelebihan model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) menurut Kurniasih dan Saini (2017:22-23) sebagai berikut:
1. Karena dalam kelompok peserta didik dituntut untuk aktif sehingga dengan model ini peserta didik dengan sendirinya akan percaya diri dan meningkatkan kecakapan individu.
2. Interaksi sosial yang terbangun dalam kelompok, dengan sendirinya peserta didik belajar dalam bersosialisasi dengan lingkungannya (kelompok).
3. Dengan kelompok yang ada, peserta didik diajarkan untuk membangun komitmen dalam mengembangkan kelompoknya.
4. Mengajarkan menghargai orang lain dan saling percaya.
5. Dalam kelompok peserta didik diajarkan untuk saling mengerti dengan materi yang ada, sehingga peserta didik saling memberitahu dan mengurangi sifat kompetitif.
Selain menpunyai kelebihan model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) juga mempunyai beberapa kekurangan. Adapun kekurangan Model pembelajaran tipe STAD menurut kurniasih dan Sani (2017:23) “Karena tidak adanya kompetisi diantara anggota masing-masing kelompok anak yang berprestasi bisa saja menurun semangatnya, jika guru tidak bisa mengarahkan anak, maka anak yang berprestasi bisa jadi lebih dominan dan tidak terkendali”.
Adapun Kekurangan model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) menurut Ibrahim, dkk (Majid, 2014:188) sebagai berikut:
1. Membutuhkan waktu yang lama.
2. Peserta didik pandai cenderung enggan apabila disatukan dengan teman-temanya yang kurang pandai, dan yang kurang pandaipun merasa minder apabila digabungkan dengan temannya yang pandai, walaupun lama kelamaan perasaan itu akan hilang dengan sendirinya.
3. Peserta didik diberikan kuis atau tes secara perorangan. Pada tahap ini peserta didik harus memperhatikan kemampuannya dan menunjukkan apa yang diperoleh pada kegiatan kelompok dengan cara menjawab soal kuis atau tes sesuai kemampuannya. Pada saat mengerjakan kuis atau tes, setiap peserta didik bekerja sendiri.
4. Penentuan skor. Hasil kuis atau tes diperiksa oleh guru, setiap akor yang diperoleh peserta didik dimasukkan kedalam daftar skor individual, untuk melihat peningkatan kemampuan individual. Rata-rata skor peningkatan individual merupakan sumbangan bagi kinerja percapaian hasil kelompok. 5. Penghargaan terhadap kelompok. Berdasarkan skor peningkatan
individual, maka akan diperoleh skor kelompok. Dengan demikian, skor kelompok sangat tergantung dari sumbangan skor individu.
METODE PENELITIAN Prosedur Penelitian
Penelitian tindakan kelas yang akan dilakukan penulis memiliki beberapa tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Penelitian ini akan dilakukan dalam beberapa siklus, setiap siklus akan melalui beberapa tahapan tersebut yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Siklus akan dihentikan apabila kerja sama peserta didik meningkat. Model penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah model Kemmis, Mc. Taggart (1988) menurut Hidayah (2013:19).
HASIL PENELITIAN
Pelaksanaan tindakan yang dilakukan disiklus I maupun siklus II yang dilakukan peneliti dapat diketahui bahwa telah terjadi peningkatan kerja sama peserta didik yang ditingkatkan melalui model pembelajaran Student Tems Achievement Division (STAD) di kelas IV C SD Negeri 64/1 Muara Bulian. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Huda (2015:201) yang menyatakan “Student Teams Achivement Division (STAD) merupakan salah satu stategi pembelajaran kooperatif yang didalamnya beberapa kelompok kecil peserta didik dengan kemampuan level akademik yang berbeda saling bekerja sama untuk menyelesaikan tujuan pembelajaran”. Upaya peningkatan kerja sama peserta didik dilakukan dalam 4 tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.
Pada tahap perencanaan setiap siklus dari siklus I hingga siklus II hal yang petama dilakukan peneliti bersama denga guru kolaborasi yaitu menentukan jadwal pelaksanaan penelitian, kemudian menyiapkan bahan ajar seperti materi, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), dan media pembelajaran. Setelah itu tidak lupa juga peneliti menyiapkan lembar observasi kerja sama peserta didik dan juga lembar observasi keterlaksanaan RPP.
Pada tahap observasi dilakukan untuk mengetahui apakah ada peningkatan kerja sama peserta didik setiap kali dilakukan siklus. Untuk mengetahui peningkatan kerja sama peserta didik dilakukan dengan mengisi lembar observasi kerja sama peserta didik sesuai dengan indikator yang ada. Selain itu observasi juga dilakukan untuk melihat keterlaksanaan RPP dengan cara mengisi lembar observasi yang telah disediakan sebelum melakukan tindakan.
Hasil observasi yang diketahui pada siklus I rata-rata keberhasilan kelas yaitu 66,14% dengan predikat C (cukup). Pada siklus ini keberhasilan kelas belum mencapai kriteria keberhasilan yaitu dengan rata-rata kelas mencapai 75%. Sehingga untuk melakukan upaya perbaikan disiklus II dilakukanlah refleksi bersama degan guru kolaborasi yaitu dengan menganalisi hasil observasi dan mengidentifikasi tindakan yang harus dipertahankan, ditingkatkan ataupun kesalahan-kesalahan yang perlu diperbaiki.
Tabel 4.1 Hasil Observasi Kerja Sama Peserta Didik Perindividu pada Siklus I
No. Nama Peserta Pertemuan I Pertemuan Jumlah Nilai Predikat
Didik II 1. AN 81 81 162 81 B 2. AHF 56 50 106 53 K 3. ANI 69 75 144 72 C 4. AQA 56 75 131 66 C 5. CIB - - - - - 6. DF 62 86 148 74 C 7. FAH 62 69 131 66 C 8. FA 62 75 137 69 C 9. FDA 56 56 112 56 K 10. FAI 94 94 188 94 SB 11. JAPP 100 100 200 100 SB 12. MDKR 0 75 75 38 K 13. MFB 88 88 176 88 B 14. MRHT 56 56 112 56 K 15. MLDAS 94 94 188 94 SB 16. NCMR 63 63 126 63 C 17. NP 56 38 94 47 K 18. NI 100 100 200 100 SB 19. NK - - - - - 20. RAP 100 100 200 100 SB 21. ZBR 75 69 144 72 C Jumlah 1.330 1.444 2.774 1.389 SB= 5 Rata-rata 63,3 68,76 132,09 66,14 B= 2
Presentase kerja sama peserta didik secara klasikal 66,14% C= 7
Predikat C K= 5
Siklus II dilaksanakan sesuai dengan refleksi yang telah dilakukan diakhir pelaksanaan siklus satu dan pada saat melaksanakan tindakan pada siklus II ini guru telah memperbaiki beberapa kesalahan yang terjadi disiklus I. Beberapa kesalahan tersebut yaitu guru belum memotivasi peserta didik dan pada siklus II pertemuan I guru tetap belum memotivasi peserta didik sebelum masuk kegiatan inti namun pada siklus II pertemuan II guru telah memotivasi peserta didik sebelum pembelajaran inti dimulai. Pada siklus guru terlihat terburu-buru saat melaksanakan kegiatan penutup namun pada siklus II guru tidak lagi terburu-buru dikarenakan telah melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang telah ditentukan.
Hasil observasi pada siklus II menunjukan Peningkatan dari siklus I. Pada siklus II ini presentase keberhasilan kelas mencapai 75,76% dengan predikat B (baik). Pada siklus II telah memenuhi atau mencapai kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan peneliti yaitu 75% sehingga penelitian pada siklus II telah berhasil. Adapun rekapitulasi hasil kerja sama peserta didik dari siklus I hingga siklus II dapat dilihat dibawah ini.
Tabel 4.2 Hasil Observasi Kerja Sama Peserta Didik Perindividu Pada Siklus II
No. Kode nama Pertemuan I Pertemuan II Jumlah Nilai Predikat peserta didik 1. AN 86 86 172 86 B 2. AHF 56 56 112 56 K 3. ANI 75 75 150 75 B 4. AQA 75 56 131 66 C 5. CIB 86 100 186 93 SB 6. DF 56 75 131 66 C 7. FAH 75 63 138 69 C 8. FA 56 75 131 69 C 9. FDA 86 75 161 81 B 10. FAI 94 81 175 88 B 11. JAPP 100 100 200 100 SB 12. MDKR 75 69 144 72 C 13. MFB 94 81 175 88 B 14. MRHT 56 69 128 64 C 15. MLDAS 86 100 186 93 SB 16. NCMR 50 75 125 63 C 17. NP 75 81 156 78 B 18. NI 100 100 200 100 SB 19. NK - 56 56 28 K 20. RAP 86 75 161 81 B 21. ZBR 75 75 150 75 B Jumlah 1.542 1.623 3.168 1.591 SB= 4 Rata-rata 73,4 77,28 150,85 75,76 B= 8
Presentase kerja sama peserta didik secara klasikal 75,76% C= 7
Predikat B K= 2
SIMPULAN
Penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) dapat meningkatkan kerja sama peserta didik di kelas IV C SD Negeri No. 64/1 Muara Bulian. Hal ini dapat dilihat dari hasil observasi pada siklus I diperoleh presentasi keberhasilan kerja sama peserta didik di kelas IV C SD Negeri No.64/1 Muara Bulian yaitu 66,14% dengan predikat C (baik). Pada siklus II hasilnya meningkat menjadi 75,76% dengan predikat B (baik). Pada siklus II ini peserta didik telah melaksanakan indikator kerja sama peserta didik dengan baik, indikator tersebut yaitu adanya saling ketergantungan kelompok, terlibat aktif dalam kelompok, tanggung jawab dalam kelompok dan kemampuan interpersonal.
DAFTAR PUSTAKA
Aunurrahman. 2012. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Asmani, J. M. 2016. Tips Efektif Cooperative Learning Pembelajaran Aktif, Kreatif, dan Tidak Membeosankan. Yogyakarta: DIVA Press.
Arsa, P. T. 2015. Belajar dan Pembelajaran Strategi Belajar yang Menyenangkan. Yogyakarta: Media Akademi.
Al-Tabany, T. I. B. 2014. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif, Progresif, dan Kontekstual. Jakarta: Prenademedia Group.
Aqib, Z, dkk. 2010. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: CV Yrama Widya. Aries, E, F. & Haryono, A, D. 2012. Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta:
Aditya Media Publishing.
Bawe, R. 2015. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Untuk Meningkatkan Kerjasama Siswa Pada Mata Pelajaran PKN Kelas IV di SDN Kledokan Depok. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Djamarah, S. Y. & Zain, A. 2010. Starategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Renika Cipta.
Huda, M. 2015. Model-model pengajaran dan pembelajaran. Yogyakarta:
Pustaka pelajar.
Hidayah, N. 2013. Panduan Praktis Penyusunan dan Pelaporan PTK (Penelitian Tindakan Kelas). Jakarta: PT Prestasi Pustakaraya.
Kurniasih, I. & Saini, B. 2017. Ragam Pengembangan model pembelajaran untuk meningkatkan profesional guru. Yogyakarta: Kata pena.
Kosasih. 2016. Strategi Pembelajaran dan Pembelajaran Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: Yrama Widya.
Khumayasari, U. 2017. Pengaruh Model Pembelajaran Cooperative Tipe Jigsaw Terhadap Kemapuan Kerjasama dan Prestasi Belajar Siswa Kelas IV SD N Progowati pada Mata Pelajaran PKN. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Lickona, T. 1991. Mendidik untuk Membentuk Karakter Bagaimana Sekolah dapat Mengajarkan Sikap Hormat dan Tanggung Jawab. Terjemah oleh Wamaungo, J. A. 2013. Jakarta: Bumi Aksara.
Majid, A. 2009. Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Standar Kompetensi Guru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Majid, A. 2014. Strategi pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Mutia, T. H. R. 2014. Peningkatan Kerjasama dan Hasil Belajar Siswa Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT) pada Mata Pelajaran Matematika Kelas V Semester II di SD Kristen Salatiga Tahun Pelajaran 2013/2014. Skripsi, Salatiga: Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.
Nastiti. 2014. Peningkatan Kerjasama dan Pretasi Belajar IPS dengan Pembelajaran Kooperatif STAD pada Siswa Kelas III SD Kanisius Kintelani Yogyakarta.Skrips,Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. Permendikbud Nomor 24, 2016. Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar
Pelajaran pada Kurikulum 2013 pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah.
Rekysika, N. S. 2015. Upaya Meningkatkan Kemampuan Kerja Sama Melalui Kegiatan Kerja Kelompok di Kelompok A TK Negeri Trukan Siwates Kaligintung Temon Kulon Progo. Skripsi, Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Ratnasari, D. A. I. 2017. Penggunaan Model Kooperatif Tipe Inside-Outside Circle (IOC) untuk Meningkatkan Kerja Sama Siswa di Kelas III SD N Kepek Pengasih Kulon Progo Tahun Ajaran 2016/2017. Skripsi,
Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Suprijono, A. 2016. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suprihatiningrum, J. 2013. Strategi Pembelajaran Teori dan Aflikasi. Yogyakarta: AR-Ruzz Media.
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kualitatif, Kuantutatif dan R & D. Bandung: Alfabeta.
Roestiyah. 2012. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Renika Cipta.
Sonata, B. 2017. Penerapan Model Pembelajaran Think Pair and Share untuk Meningkatkan Kerjasama Siswa Kelas IV C SD Negeri No 55/1 Sridadi.
Skripsi, Muara Bulian: Universitas Jambi.
Prettiana, N. K. 2016. Peningkatan Minat Belajar IPA Melalui Model Pembelajaran Kooperatife Tipe STAD (Student Teams Achievement Division) pada Siswa Kelas V SD N 1 Sedayu Bantul. Skripsi,Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Woolfolk, A. 2008. Educational Psychology Active Learning Edition. Terjemah oleh Soetjipto, H. P. & Soetjipto, M. S. 2009. Yogyakata: Pustaka Pelajar. Widiasworo, E. 2017. Strategi & Metode Mengajar Siswa di Luar Kelas (outdoor
Learning) Secara Aktif, Kreatif, Inspiratif, & Komunikatif. Yogyakarta: AR-Ruzz Media.