• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

8 2.1 Remaja

2.1.1 Pengertian

Remaja adalah kelompok beresiko terhadap masalah kesehatan yang membutuhkan perhatian dan pelayanan khusus. Masa remaja adalah masa transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang biasanya terjadi pada usia antara 11 sampai 20 tahun (Kyle & Carman, 2015). Sedangkan menurut Soetjiningsih & Ranuh (2014), menjelaskan bahwa masa remaja terjadi pacu tumbuh, ciri-ciri seks sekunder, terjadi fertilitas, dan terjadi perubahan psikologik serta kognitif.

2.1.2 Tahap Perkembangan Remaja

Remaja bukan saja saat terjadi pertumbuhan fisik dan pematangan yang pesat tetapi juga periode metemorfosis perilaku : anak yang semula mengandalkan orang tuanya dan mengikuti perintah mereka, berkembang menjadi orang dewasa otonom yang kini mampu membuat pilihannya sendiri. Periode ini ditandai dengan perubahan citra tubuh, munculnya pengaruh teman sebaya, perilaku mengambil resiko, dan perkembangan pola seksualitas dan nilai-nilai pribadi seperti orang dewasa (Bernstein & Shelov, 2017). Menurut Soetjiningsih & Ranuh (2014), menjelaskan bahwa dalam tumbuh kembangnya menuju dewasa, berdasarkan kematangan psikososial dan seksual, semua remaja akan melewati tahapan sebagai berikut :

(2)

a. Masa remaja awal 11-13 tahun (Early adolescence)

b. Masa remaja pertengahan 14-16 tahun (Middle adolescence) c. Masa remaja lanjut 17-20 tahun (Late adolescence)

Tabel 2.1. Tumbuh Kembang Pada Masa Remaja Awal, Pertengahan Dan Lanjut.

Variabel Remaja awal (11-13 tahun)

Remaja pertengahan (14-17 tahun)

Remaja akhir (17-20 tahun)

Somatik Karakteristtik seks

sekunder (mulai sejak pertumbuhan payudara pada anak perempuan dan pertumbuhan testis pada anak laki-laki) awal pertumbuhan yang cepat dan penampilan yang canggung

Tinggi badan, puncak

bentuk tubuh dari

perubahan komposisi

jerawat dan bau badan, menarche/ spermarche

Matang secara fisik.

Pertumbuhan lebih

lambat, pada laki-laki dilanjutkan

pembentukan masa

otot, dan pertumbuhan

rambut diseluruh

tubuh.

Kognitif dan Moral

Jalan pikiran konkret, tidak mampu melihat

jangka panjang dari

suatu keputusan yang dibuat sekarang, dan

moralitas yang

konvensional.

Berfikir abstrak (jalan pikiran formal), dapat

melihat implikasi

kedepan, tetapi tidak

bias mengambil

keputusan, banyak

bertanya.

Orientasi masa depan

dengan pandangan,

perspektif idealisme,

absolutisme, dapat

berfikir secara bebas.

Konsep diri (formasi identitas)

Asyik dengan perubahan tubuh, kesadaran diri akan penampilan dan daya tarik, khayalan dan orientasi masa kini.

Perhatian dengan penampilan yang atraktif, peningkatan introspeksi “stereotypical adolescent

Lebih stabil terhadap

body image,

penampilan yang

menarik masih menjadi pemikiran,

Emancipation

complete, identitas lebih kuat.

Keluarga Peningkatan kebutuhan

akan privasi,

peningkatan kebutuhan akan kebebasan.

Konflik seputar kontrol dan kebebasan, berjuang

untuk mendapatkan

autonomi yang lebih besar.

Pemisahan emosional, dan fisik dari keluarga, peningkatan otonomi

(3)

Teman sebaya Mencari teman sebaya yang berjenis kelamin sama untuk mengatasi ketidakstabilan Intens terhadap keterlibatan teman sebaya, preokupasi dengan budaya kelompok sebaya, lingkungan sekitar menyediakan contoh perilaku Berkurangnya kepentingan kelompok

sebaya dan nilai

keintiman/ komitmen didahulukan.

Seksual Peningkatan ketertarikan pada anatomi seksual

kecemasan dan

pertanyaan mengenai

perubahan alat kelamin dan ukurannya, kencan

dan keintiman yang

terbatas.

Uji kemampuan untuk menarik lawan jenis,

permulaan hubungan

dan aktivitas seksual,

pertanyaan mengenai

orientasi seksual

Konsolidasi identitas sosial. Fokus pada

keintiman dan

pembentukan

hubungan yang stabil, merencanakan

komitmen dan masa depan. Hubungan dengan lingkungan Penyesuaian sekolah tingkat menengah Pengukuran kemampuan dan kesempatan Keputusan karir (contoh : kuliah, bekerja)

Sumber : Marcell AV. Adolescent, Nelson Texbook of Pediatrics, Edisi ke-18. (2007) dalam Soetjiningsih & Ranuh (2014).

2.2 Konsep Perilaku Merokok 2.2.1 Pengertian Perilaku

Dari aspek biologis perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas makhluk hidup yang bersangkutan. Manusia sebagai salah satu makhluk hidup mempunyai berbagai kegiatan yang sangat luas, sepanjang kegiatan yang dilakukan antara lain : berjalan, berbicara, bekerja, menulis, membaca, berfikir, bersikap dan lainnya. Perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Perilaku merupakan faktor terbesar kedua setelah faktor lingkungan yang mempengaruhi kesehatan individu, kelompok, atau masyarakat (Notoatmodjo, 2014).

(4)

Perilaku terbentuk dari di dalam diri seseorang dari dua faktor utama yakni faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal atau stimulus adalah merupakan faktor lingkungan, baik lingkungan fisik, dan nonfisik dalam bentuk sosial, budaya, ekonomi, politik dan sebagainya. Dari penelitian-penelitian yang ada, faktor eksternal yang paling besar peranannya dalam membentuk perilaku manusia adalah faktor sosial dan budaya dimana seseorang tersebut berada. Sedangkan fakor internal yang menentukan seseorang itu merespons stimulus dari luar adalah perhatian, pengamatan, persepsi, motivasi, fantasi, sugesti dan sebagainya (Notoatmodjo, 2014).

2.2.2 Teori PRECEDE-PROCEED (1991)

Teori ini dikembangkan oleh Lawrence Green yang dirintis sejak tahun 1980. Green mencoba menganalisis perilaku manusia dari tingkat kesehatan yaitu dipengaruhi oleh 2 faktor pokok yaitu faktor perilaku (behavior cause) dan faktor diluar perilaku (non-behaviour causes). Selanjutnya perilaku dipengaruhi oleh 3 faktor utama yang dirangkum dalam akronim PRECEDE: Predisposing, Enabling, dan Reinforcing Cauces in Education Diagnosis and Evaluation. Precede ini adalah merupakan arahan dalam menganalisis atau diagnosis dan evaluasi perilaku untuk intervensi pendidikan (promosi kesehatan). Precede adalah merupakan fase diagnosis masalah. Sedangkan PROCEED : Policy, Regulatory,Organizational Construct in Education and Environmental Development, adalah merupakan arahan dalam perencanaan, implementasi, dan evaluasi pendidikan (promosi kesehatan). Apabila Preceed

(5)

merupakan fase diagnosis masalah, maka Proceed adalah merupakan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi promosi kesehatan.

Precede model ini dapat diuraikan bahwa perilaku itu sendiri ditentukan atau ditentukan atau terbentuk dari 3 faktor yaitu :

2.2.2.1 Faktor predisposisi (Predisposing factor)

Merupakan suatu faktor anteseden (yang mendahului perilaku yang menjadi dasar atau motivasi perilaku). Faktor ini meliputi pengetahuan, sikap, keyakinan, nilai-nilai, kepercayaan dan persepsi yang berhubungan dengan motivasi individu atau kelompok untuk melakukan tindakan. Faktor ini yang termasuk faktor anteseden yaitu faktor sosiodemografi seperti umur, jenis kelamin, ras, jumlah keluarga, status sosial seseorang yang meliputi pendapatan, pendidikan, pekerjaan dan tempat tinggal.

2.2.2.2 Faktor pemungkin (Enabling factor)

Faktor-faktor ini mencakup berbagai keterampilan dan sumber daya yang perlu untuk melakukan perilaaku kesehatan. Faktor-faktor ini mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas yang pada hakikatnya mendukung atau memungkinkan terwujudnya perilaku kesehatan, faktor pemungkin ini juga menyangkut keterjangkauan berbagai sumber daya seperti biaya, jarak, ketersediaan transpotrasi dan sebagainya.

(6)

2.2.2.3 Faktor penguat (Reinforcing factors)

Merupakan faktor penguat perubahan perilaku seseorang atau sekelompok oraang yang memungkinkan adanya penghargaan atau imbalan terhadap perubahan perilaku yang menetap dan berulang. Faktor yang termasuk penguat antara lain manfaat sosial, manfaat fisik, kepuasan terhadap layanan tenaga/ fasilitas, adanya dukungan keluarga, teman sebaya, guru, pimpinan, perilaku tenaga kesehatan, serta pengambil kebijakan.

2.3 Perilaku Merokok

Perilaku merokok adalah aktivitas seseorang yang merupakan respon orang tersebut terhadap rangsangan dari luar yaitu faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang untuk merokok dan dapat diamati secara langsung. Merokok adalah membakar tembakau kemudian dihisap, baik menggunakan rokok maupun menggunakan pipa. Temperatur sebatang rokok yang tengah dibakar adalah 90 derajat celcius untuk ujung rokok yang dibakar, dan 30 derajat celcius untuk ujung rokok yang terselip di antara bibir perokok (Istiqomah, 2003 dalam Lukman 2014).

Munculnya perilaku dari organisme ini dipengaruhi oleh faktor stimulus yang diterima, baik stimulus internal maupun stimulus eksternal. Seperti halnya perilaku lain, perilaku merokok pun muncul karena adanya faktor internal (faktor biologis dan faktor psikologis, seperti perilaku merokok dilakukan untuk mengurangi stres) dan faktor eksternal (faktor lingkungan sosial, seperti terpengaruh oleh teman sebaya) (Sulistyaningsih, 2016).

(7)

2.4 Tahap-Tahap Perilaku Merokok

Menjadi perokok bukanlah suatu hal yang tiba-tiba, tetapi akan melalui beberapa tahapan. Seseorang menjadi perokok pada umumnya setelah usia dewasa, berarti dia memulai tahapan awal merokok dari usia anak-anak. Dalam keseharian anak lebih sering bergaul dengan orang tua dan saudara. Mereka mempunyai sifat suka meniru apa yang dilihat, dan belum memahami efek apa saja yang mungkin ditimbulkan. Jika ada diantara mereka perokok aktif, maka mereka akan meniru gaya orang merokok dengan benda apa saja. Selanjutnya saat ada kesempatan merokok dengan rokok sesungguhnya, diapun akan mencobanya. Dari mencoba dan mulai merasakan ada kesenangan atau keasyikan tersendiri yang dia rasakan maka mulailah dia menjadi perokok pemula (Sulistyaningsih, 2014). Sedangkan menurut So & Yeo (2015), mereka yang telah merokok pada masa awal remaja adalah lima kali lebih mungkin menjadi perokok berat di masa dewasa. Laventhal & Charly (1995) dalam Sulistyaningsih (2016) mengungkapkan bahwa terdapat 4 tahapan dalam perilaku merokok sehingga menjadi perokok yaitu :

2.4.1 Tahap preparatory (Tahap persiapan)

Tahap ini berlangsung saat seseorang individu belum pernah merokok. Ditahap ini terjadi pembentukan opini pada diri individu terhadap perilaku merokok. Hai ini disebebkan kaena adanya perkembangan sikap dan intensi mengenai rokok yang diperoleh dan perilaku merokok diperoleh daari observasi terhadap orang tua atau orang lain seperti kerabat ataupun leawat media masa. Perkembangan opini dan sikap terhadap merokok ini merupakan awal darisuatu kebiasaan merokok. Seseorang juga mendapatkan gambaran

(8)

yang menyenangkan mengenai rokok dengan cara mendengar, melihat, atau dari hasil bacaan. Hal-hal ini menimbulkan minat untuk merokok.

2.4.2 Tahap intiation (Tahap inisiasi)

Pada tahapan ini merupakan tahapan kritis pada seorang individu karena merupakan tahap coba-coba, dimana ia beranggapan bahwa merokok ini akan terlihat dewasa sehingga ia akan mencoba dengan beberapa batang rokok. Apabila seseorang mulai mencoba dengan 1-2 batang saja maka besar kemungkinan ia akan menjadi perokok. Akan tetapi apabila ia mencoba 10 batang atau lebih maka ia memiliki kemungkinan untuk menjadi seorang perokok sebesar 80%. Laventhal & Cleary (dalam surafino, 1996) juga berpendapat seseorang yang telah merokok 4 batang rokok pada awaalnya aakan cenderung menjadi perokok regular. Dalam tahap inisiasi seseorang akan meneruskan ataukah tidak terhadap perilaku merokok.

2.4.3 Tahap becoming a smoker (Tahap menjadi seorang perokok)

Pada tahap ini seorang individu mulai memberikan label pada dirinya sebagai perokok dan ia mulai mengalami ketergantungan kepada rokok. Beberapa study menyebutkan bahwa biasanya dibutuhkan waktu selama satu tahun bagi individu untuk menjadi perokok reguler. Pada tahap ketiga ini merupakan tahap pembentukan konsep, belajar tentang kapan dan bagaimana berperilaku merokok serta menyatakan peran perokok bagi konsep dirinya. Pada

(9)

umumnya perokok percaya bahwa berbahaya bagi kesehatan orang lain terutama oraang tua tapi bukan bagi dirinya.

2.4.4 Tahap maintenance of smoking (Tahap tetap menjadi perokok)

Tahap ini merokok sudah menjadi salah satu bagian dari cara pengaturan dari (selfregulating). Merokok dilakukan untuk memperoleh efek fisiologis yang menyenangkan.faktor psikologi dan mekanisme biologis menjadi suatu pola perilaku merokok. Faktor-faktor psikologis seperti kebiasaan, kecanduan, penurunan kecemasan dan ketegangan, relaksasi yang menyenangkan, cara berteman dan memperoleh perhatian paling banyak dalam mempertahankan perilaku merokok yaitu efek penguat nikotin yang dibutuhkan dalam aliran darah.

2.5 Tipe Perilaku Merokok

Menurut Smet (1994) dalam Lukman (2014) ada tiga tipe perilaku perokok yang dapat diklasifikasikan menurut banyaknya rokok yang dihisap yaitu sebagai berikut: a. Perokok berat yang menghisap lebih dari 15 batang rokok dalam sehari.

b. Perokok sedang yang menghisap 5-14 batang rokok dalam sehari.

c. Perokok ringan yang menghisap 1-4 batang rokok dalam sehari. Tempat merokok juga mencerminkan pola perilaku merokok.

Berdasarkan tempat-tempat dimana seseorang menghisap rokok, maka Mu’tadin (2002) dalam Lukman (2014), menggolongkan tipe perilaku merokok menjadi :

(10)

a. Merokok di tempat-tempat umum / ruang publik

1) Kelompok homogen (sama-sama perokok), secara bergerombol mereka menikmati kebiasaannya. Umumnya mereka masih menghargai orang lain, karena itu mereka menempatkan diri di smoking area.

2) Kelompok yang heterogen (merokok ditengah orang-orang lain yang tidak merokok, anak kecil, orang jompo, orang sakit, dan lain-lain). b. Merokok di tempat-tempat yang bersifat pribadi

1) Kantor atau di kamar tidur pribadi. Perokok memilih tempat-tempat seperti ini yang sebagai tempat merokok digolongkan kepada individu yang kurang menjaga kebersihan diri, penuh rasa gelisah yang mencekam.

2) Toilet. Perokok jenis ini dapat digolongkan sebagai orang yang suka berfantasi.

Menurut Mu’tadin, (2002) dalam Lukman (2014), ada empat tipe perilaku merokok berdasarkan Management of affect theory, yaitu :

a. Tipe perokok yang dipengaruhi oleh perasaan positif.

1) Pleasure relaxation, perilaku merokok hanya untuk menambah atau meningkatkan kenikmatan yang sudah didapat, misalnya merokok setelah minum kopi atau makan.

2) Simulation to pick them up. Perilaku merokok hanya dilakukan sekedarnya untuk menyenangkan perasaan.

3) Pleasure of handling the cigarette. Kenikmatan yang diperoleh dari memegang rokok.

(11)

b. Perilaku merokok yang dipengaruhi perasaan negatif.

Banyak orang yang merokok untuk mengurangi perasaan negatif dalam dirinya. Misalnya merokok bila marah, cemas, gelisah, rokok dianggap sebagai penyelamat. Mereka menggunakan rokok bila perasaan tidak enak terjadi, sehingga terhindar dari perasaan yang lebih tidak enak.

c. Perilaku merokok yang adiktif.

Perokok yang sudah adiksi, akan menambah dosis rokok yang digunakan setiap saat setelah efek dari rokok yang dihisapnya berkurang.

2.6 Penyebab Perilaku Merokok Pada Remaja

Penyebab perilaku merokok pada remaja adalah sebagai berikut : 2.6.1 Pengaruh Keluarga/ Orang tua

Keluarga merupakan dukungan sosial yang sangat penting dalam kesehatan perilaku remaja. Orang tua dan saudara yang tinggal dalam satu rumah adalah orang-orang terdekat yang setiap hari berhubungan dengannya. Setiap hari secara sengaja atau tidak sengaja mereka mengamati perilaku orang-orang yang ada disekitarnya. Bagi keluarga yang didalamnya terdapat perokok, maka seorang anak akan memperoleh pengamatan tentang bagaimana cara merokok dan gambaran ekspresi kenikmatan yang dirasakan seseorang yang merokok. Apalagi jika tidak ada penolakan terhadap perilaku tersebut tentu akan menghasilkan persepsi yang positif terhadap sikap merokok dalam pemikiran anak tersebut. Pada anak yang sudah mempunyai persepsi yang positif terhadap sikap merokok, akan mulai muncul keinginan mencoba merokok (Sulistyaningsih, 2016).

(12)

Efek negatif dari awal merokok yang dirasakan adalah seperti batuk-batuk, sesak nafas, dan sebagainya tidak akan dihiraukan jika tidak ada yang memberikan pemahaman yang benar tentang pemahaman efek negatif dari merokok. Keluarga yang tidak memperdulikan masalah kebiasaan perilaku merokok akan menunjang anak terus mencoba merokok. Saat kesempatan mencoba muncul dia akan mencoba dan mencoba lagi, hingga akhirnya jadilah dia perokok sebenarnya dan merasakan kenikmatan semu dari rokok tersebut. Namun berbeda dengan lingkungan keluarga yang tidak merokok dan mempunyai sikap penolakan terhadap perilaku merokok. Mereka akan berusaha memberikan gambaran pada anak-anak betapa buruknya efek dan penyakit yang ditimbulkan dari merokok. Selain itu mereka juga akan memberikan ancaman tindakan yang diambil jika sampai memergoki anak mereka merokok. Dengan demikian keluarga sangat berpengaruh terhadap perilaku merokok seorang anak (Sulistyaningsih, 2016).

2.6.2 Pengaruh Teman

Perkembangan sosio emosional remaja menunjukkan para remaja mulai menanggapi perkataan orang tua dan terkadang menimbulkan konflik akibat tidak sepaham. Disisi lain mereka mulai merasakan kegembiraan dalam pertemuan sosial dan keinginan meluangkan waktu bersama teman-teman sebayanya. Pada saat menghadapi masalah atau konflik dengan orang tua tertentu menyebabkan mereka lebih memilih teman dari pada orang tua dalam meminta pendapat untuk menyelesaikan masalahnya tersebut (Sulistyaningsih, 2016).

(13)

Pada anak seperti yang digambarkan diatas akan mudah terpengaruh dengan kondisi lingkungan teman sebayanya. Dan seringkali anak-anak seperti itu berada pada kelompok anak-anak yang suka merokok. Menurut Komasari & Helmi (2000), dalam Nugroho, (2014) mengungkapkan bahwa semakin banyak remaja merokok maka semakin besar kemungkinan teman-temannya adalah perokok juga dan demikian sebaliknya. Ada dua kemungkinan yang terjadi dari fakta tersebut, pertama remaja tersebut terpengaruh oleh teman-temannya atau sebaliknya. Diantara remaja perokok terdapat 87 % mempunyai sekurang-kurangnya satu atau lebih sahabat yang perokok begitu pula dengan remaja non perokok.

Sekitar 75% pengalaman menghisap rokok pertama para remaja biasanya dilakukan bersama teman-temannya. Kalau seorang remaja tidak ikutan merokok maka ia takut ditolak oleh kelompoknya (peer group), diisolasi dan dikesampingkan. Penelitian ini di italia menunjukkan bahwa sebagian besar (79,7%) teman baik yang merokok adalah perokok pula, dan sementara sebegian besar (72,2%) teman baik yang tidak merokok juga bukan perokok (Aditama, 1992 dalam Simarmata, 2012).

Kelompok sosial yang paling terjadi pada masa remaja (Hurlock, 1999 dalam Simarmata, 2012) adalah sebagai berikut :

a. Teman dekat, remaja biasanya mempunyai dua atau tiga orang teman dekat atau sahabat karib. Mereka terdiri dari jenis kelamin yang sama, mempunyai minat dan kemampuan yang sama. Teman dekat saling

(14)

mempengaruhi satu sama lain.

b. Kelompok kecil, kelompok ini terdiri dari kelompokteman-teman dekat, pada mulanya terdiri dari seks yang samaa tetapi kemudian meliputi kesua jenis kelamin.

c. Kelompok besar, kelompok ini terdiri dari beberapa kelompok kecil dan kelompok teman dekat, berkembang dengan meningkatkan minat pesta dan berkencan. Kelompok ini besar sehingga penyesuaian minat berkurang diantara anggota-anggotanya.

d. Kelompok yang terorganisasi, merupakan kelompok yang dibina oleh orang dewasa, dibentuk oleh sekolah dan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sosial para remaja.

e. Kelompok geng, remaja yang tidak termasuk kelompok besar, dan merasa tidakpuas dengan kelompok yang terorganisasi akan mengikuti kelompok geng. Anggotanya biasanya terdiri dari anak-anak sejenis dan minat utama mereka adalah untuk menghadapi penolakan teman-teman melalui perilaku anti sosial.

2.6.3 Pengaruh Stres

Stres adalah suatu reaksi fisik dan psikis terhadap suatu tuntutan yang menyebabkan ketegangan dan mengganggu stabilitas sehari-hari. Stres secara psikologis dapat menimbulkan reaksi cemas, jengkel, sedih, agresif, bingung dan sulit berkosentrasi. Berbagai aspek seperti tuntutan akademis, faktor kepribadian, lingkungan, sosial budaya, dan sebagainya sehingga remaja/

(15)

siswa dituntut untuk dapat menyelesaikan tugas, ujian praktek/ tulis dan sebagainya. Umumnya tekanan yang di alami pelajar, baik itu remaja adalah tekanan psikologis dimana mereka memiliki tuntutan akademis yang harus dihadapi dan bagi mereka yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan baik cenderung memiliki stres yang lebih tinggi (Christyani, 2010 dalam Phamukti 2015).

Individu yang mengalami stres akan mencari pelampiasan masalahnya pada hal lain yang bersifat positif/ bahkan negatif. Pelampiasan positif yang biasa dilakukan yaitu dengan cara mendengarkan musik, tidur, bepergian bersama teman, berolahraga, berenang dan sebagainya. Namun individu yang tidak dapat menyesuaikan terhadap tekanan psikologis atau stres dengan baik cenderung mencari pelampiasan kearah negatif seperti melakukan perilaku merokok, minuman berakohol, narkoba dan lain-lain (Phamukti, 2016).

2.6.4 Faktor Kepribadian

Orang mencoba untuk merokok karena alasan ingin tahu atau ingin melepaskan diri dari rasa sakit dan kebosanan. Satu sifat kepribadian yang bersifat pada pengguna obat-obatan (termasuk rokok) ialah konformitas sosial. Pendapat ini didukung Atkinson (1999) yang menyatakan bahwa orang yang memiliki skor tinggi pada berbagai tes konformitas sosial lebih menjadi perokok dibandingkan dengan mereka yang memiliki skor yang rendah (Lukman, 2014).

(16)

2.6.5 Pengaruh Iklan

Seseorang yang melihat iklan di media massa dan elektronik yang menampilkan gambaran bahwa perokok adalah lambang kejantanan atau glamour, membuat remaja seringkali terpicu untuk mengikuti perilaku seperti yang ada dalam iklan tersebut. Bagi anak yang sudah mempunyai pemahaman tentang bahaya rokok atau kerugian lainnyaa karena merokok, maka dia akan mempunyai perasaan negatif terhadap perilaku merokok dan menampilkan perilaku tidak ingin merokok. Namun, bagi anak yang tidak mempunyai pemahaman tentang bahaya merokok dan ditunjang dengan informassi dari lingkungan yang salah tentang rokok, tentu akan merangsang dia mempunyai perasaan positif terhadap merokok dan untuk mencoba merokok. Dari mencoba dan mencoba itulah yang menjadikan dia sebagai seorang perokok sejati (Sulistyaningsih, 2016).

2.7 Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Merokok Remaja 2.7.1 Umur

Umur adalah lama hidup seseorang didunia dihitung sejak tanggal ia dilahirkan. WHO membagikan kurun usia remaja dalam dua bagian yaitu remaja awal 10-14 tahun dan remaja akhir 15-20 tahun. Usia remaja merupakan usia yang rawan dalam pergaulan, pada masa ini terjadi friksi atau konflik-konflik dalam diri remaja yang seringkali menimbulkan masalah pada remaja, tergantung pada keadaan masyarakat dimana remaja bersangkutan tinggal. Dimasa rawan ini remaja cenderung melakukan tindakan baru yang

(17)

pada umumnya dilakukan oleh orang dewasa, seperti ada keinginan yang dianggap sama oleh orang lain. Contoh perilaku merokok, angkanya dikalangan remaja dari tahun ketahun makin meningkat dimulai dari usia yang relatif muda yaitu SMP bahkan SD. Penelitian yang dilakukan Pujianti (2003) menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara umur dengan perilaku merokok (Simarmata, 2012).

2.7.2 Jenis Kelamin

Prevalensi merokok pada laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan, prevalensi merokok pada laki-laki meningkat dari tahun ketahun pada tahun 2007 prevalensi merokok laki-laki dewasa meningkat dari tahun ke tahun. Prevalensi perokok Indonesia berdasarkan (GATS) Global Adults Tabacco Survey 2016, memiliki jumlah perokok aktif sebanyak 67% laki-laki dan 2,7% perempuan atau 38% penduduk (sekitar 59,9 juta orang).

Pada remaja laki-laki kegiatan merokok pada awalnya hanya ingin mencoba saja, tertarik oleh rasa ingin tahu, dengan berbagai rangsangan dan merupakan symbol dari kejantanan dan kedewasaan. Perasaan ini dianggap sedemikian rupa menyebabkan remaja laki-laki mencoba hal tersebut. Salaah satunya adalah budaya gender yang melihat bahwa laki-laki merokok adalah lumrah sedangkan perempuan merokok dinggap sebagai perempuan yang tidak benar atau negatif (Simarmata, 2012).

(18)

Saat ini kebiasaan merokok kaum wanita dinegara berkembang termasuk Indonesia relatif masih rendah, dibawah 10%, sementara 50-60% prianya adalah perokok. Remaja putri biasanya mencoba rokok pada usia 10-14 tahun. Penelitian ini dari berbagai negara menunjukkan bahwa faktor yang mendorong untuk memulai merokok amat beragam, baik berupa faktor dalam dirinya sendiri (personal), sosiokultural, dan pengaruh kuat lingkungannya. Faktor personal yang paling kuat adalah mencari bentuk jati diri, selain itu kebiasaan merokok juga disangka dapat mengatasi stres, menghilangkan kecemasan dan menenangkan jiwa remajanya yang bergejolak. Berdasarkan penelitian Pujianti (2003), Kurniasih (2008) dan handayani (2010), menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan perilaku merokok.

2.7.3 Pengetahuan

Pengetahuan terjadi melalui proses pengingatan dan pengenalan informasi yang merupakan bukti bahwa perilaku akan langgeng apabila didasari pengetahuan yang baik (Notoadmojo, 2010). Pengetahuan merupakan domain penting dalam pembentukan perilaku. Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda-beda. Secara garis besarnya dibagi dalam 6 tingkat pengetahuan yaitu :

1) Tahu (Know)

Tahu artinya hanya sebagai recall (memanggil) memori yang telah ada sebelumnya setelah mengamati sesuatu.

(19)

2) Memahami (Comprehension)

Memahami suatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek tersebut, tidak sekedar dapat menyebutkan tetapi orang tersebut harus dapat menginterpretasikan secara benar tentang objek yang diketahui tersebut. 3) Aplikasi (Aplication)

Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang dimaksud dapat menggunakan dan mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut pada situasi yang lain.

4) Analisis (Analysis)

Analisis adalah kemmpuan seseorang untuk menjabarkan dan atau memisahkan dan mencari hubungan antara komponen-komponen yang terdapat dalam suatu masalah atau objek yang diketahui. Indikasi bahwa pengetahuan seseorang itu sudah sampai pada tingkat analisis adalah apabila orang tersebut telah dapat membedakan atau memisahkan, mengelompokkan, membuat bagan atau diagram terhadap pengetahuan atas objek diatas.

5) Sintesis (Syntesis)

Sintesis menunjukkan suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau meletakkan dalam satu hubungan yang logis dari komponen-komponen pengetahuan yang dimiliki. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulsi yang telah ada.

(20)

Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan justifikasi atau penilaian tehadap suatu objek tertentu. Penilaian ini dengan sendirinya didasarkan pada suatu kinerja yang ditentukan sendiri atau norma-norma yang berlaku dimasyarakat.

Tingkat pengetahuan tentunya berdampak besar dalam perilaku merokok remaja.tingkat pengetahuan tentang merokok meliputi tentang bahaya merokok bagi kesehatan, pengaruh rokok bagi perokok pasif yang rentan dan zat-zat apa saja yang terkandung didalam sebatang rokok, tingginya morbiditas atau mortalitas yang diakibatkan oleh rokok langsung maupun tidak langsung.

2.7.4 Sikap (Attitude)

Sikap adalah respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas, tapi kesiapan untuk bereaksi terhadap objek lingkungan tertentu sebagai suatu pernghayatan terhadap objek, atau sikap merupakan perilaku terselubung atau perilaku tertutup yang merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu (Notoadmodjo, 2010).

Adanya beberapa faktor yang membuat sikap keluarga menjadi lunak, membiarkan atau maklum (setuju) terhadap perilaku merokok diantaranya:

1) Faktor sosial, banyaknya jumlah perokok disekitar lingkungan keluarga seperti tetangga, tamu dan temaan-teman sehingga merokok dirasakan

(21)

wajar dan malah terkesan ada perasaan lebih diterima dalam lingkungan pergaulan.

2) Faktor psikologis, artinya merokok dianggap dapat meningkatkan konsentrasi dalam bekerja sehingga memberikan perasaan tenang dan nyaman. Hal ini tentu saja karena disebebkan oleh efek nikotin yang dapat mempengaruhi perasaan dan kebiasaan.

Menurut Allport dalam Notoatmodjo, (2010) ada 3 komponen pokok sikap yaitu :

1) Kepercayaan atau keyakinan ide dan konsep terhadap objek artinya bagaimana keyakinan dan pendapat atau pemikiran seseorang terhadap objek.

2) Kehidupan emosional atau evaluasi orang terhadap objek artinya bagaimana penilaian terkandung (didalamnya faktor emosi) orang tersebut terhadap objek.

3) Kecendrungan untuk bertindak (ten to behave) artinya sikap adalah tindakan komponen yang mendahului tindakan atau perilaku terbuka. Sikap adaalah ancang-ancang untukbertindak atau berperilaku terbukan (tindakan).

3. Rokok

1) Pengertian

Rokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang antara 20 hingga 120 mm (bervariasi tergantung negara) dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah. Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan

(22)

dibiarkan membara agar asapnya dapat dihirup lewat mulut pada ujung lainnya (Sulistyaningsih, 2016). Sedangkan menurut PP Republik Indonesia No. 109 tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan, yang dimaksud rokok adalah salah satu produk tembakau yang dimaksudkan untuk dibakar, dihisap dan atau dihirup asapnya, termasuk rokok kretek, rokok putih, cerutu, atau bentuk lainnya yang dihasilkan tanaman nicotina tabacum, nicotiana rustica dan spesies lainnya atau sintesisnya yang asapnya mengandung nikotin dan tar dengan tau tanpa bahan tambahan. Dari dua pengertian rokok tersebut menunjukkan bahwa rokok mempunyai bahan dasar tembakau dan bisa diberi bahan tambahan untuk meningkatkan kualitas rasa yang kemudian dibungkus dan dibakar untuk dihisap asapnya.

2) Jenis-Jenis Rokok

Berdasarkan bahan dasar rokok di Indonesia saat ini beredar tiga jenis rokok yaitu :

a. Rokok putih, yaitu rokok yang menggunakan bahan dasar tembakau dalam bentuh cacahan atau potongan. Zat yang ditambahkan antara lain mint untyk menambah citra rasa, acetanisole, asam asetat, asetopenon, caramel, asam askorbat, dan sebagainya. Kadar tar dan nikotin dalam rokok putih umumnya lebih rendah dari rokok kretek. Kadar nikotin dalam rokok putih yaitu sekitar 0,5-3 monogram, sedangkan kadar tar antara 0,5-35 mg/batang.

b. Rokok kretek, yaitu rokok yang menggunakan bahan dasar tembakau dan cengkeh. Rokok kretek merupakan produk berbagai industri dalam negeri.

(23)

c. Rokok klempak, yaitu rokok yang menggunakan bahan dasar tembakau cengkeh, dan kemenyan. Rokok jenis ini hanya digunakan untuk kepentingan tertentu saja.

3) Kandungan Rokok

Kandungan rokok yang bersifat racun tersebut berpotensi merusak sel-sel tubuh manusia. Selain merusak sel-sel tubuh, senyawa dalam asap rokok juga bersifat karsinogenik alias memicu kanker. Jumlah senyawa yang saat ini baru diketahui bersifat karsinogenik sudah mencapai 70 jenis. Kandungan tersebut berasal dari bahan baku rokok itu sendiri, yaitu tembakau. Selain itu, tambahan pewarna yang biasa dipakai untuk tujuan estetika kemungkinan memperbesar potensi racun dari rokok. Sifatnya yang memberikan efek aditif atau kecanduan juga tidak boleh dilupakan karena ini yang bisa dianggap paling bahaya. Beberapa senyawa yang terkandung dalam rokok di bawah ini adalah :

a) Karbon monoksida

Salah satu kandungan rokok yang merupakan gas beracun adalah karbon monoksida (CO). Senyawa yang satu ini merupakan gas yang tidak memiliki rasa dan bau. Akibat sifat alami senyawa tersebut, tubuh menjadi kesulitan untuk membedakan karbon monoksida dan oksigen. Akibatnya sel-sel darah merah akan lebih banyak berikatan dengan karbon monoksida dibanding dengan oksigen. Kadar karbon monoksida yang tinggi dapat menyebabkan perubahan tekanan darah, meningkatkan denyut jantung, gagal jantung.

(24)

b) Nikotin

Kandungan rokok yang paling sering disinggung-singgung adalah nikotin. Senyawa ini merupakan alkaloid yang memiliki efek candu lebih kuat daripada morfin. Nikotin berfungsi sebagai perantara dalam sistem saraf otak yang menyebabkan berbagai reaksi biokimia, termasuk efek menyenangkan dan menenangkan bagi perokok. Semakin tinggi kadar nikotin dalam rokok semakin berat rasa isapnya, sebaliknya semakin rendah kadar nikotin dalam rokok akan semakin ringan rasa isapnya atau terasa hambar. Apabila diisap akan menimbulkan rangsangan psikologis bagi perokok dan membuatnya menjadi ketagihan.

c) Tar

Tar merupakan salah satu bahan dasar pembuatan aspal yang mengandung Benzopyrane dan puluhan bahan kimia karsinogen yang dapat menempel padaparu-paru dan bias menimbulkan iritasi bahkan kanker paru-paru dan kanker kandung kemih. Pengaruh bagi tubuh manusia adalah membunuh sel dalam saluran darah, meningkatkan produksi lendir di paru, dan menyebabkan kanker paru-paru (Syamsuddin, 2014).

d) Hidrogen sianida

Senyawa racun lainnya yang menjadi bahan penyusun rokok adalah hidrogen sianida. Saat ini, hidrogen sianida digunakan pada industri plastik akrilik, resin, dan sering dipakai sebagai bahan pembuat asap pembasmi hama. Efek

(25)

dari senyawa ini dapat melemahkan paru-paru, menyebabkan kelelahan, sakit kepala, dan mual.

e) Oksida nitrat

Kandungan rokok yang juga penyebab utama dari kabut asap dan hujan asam adalah oksida nitrat. Senyawa ini biasanya timbul akibat pembakaran dengan memakai bensin sebagai bahan bakar. Para ahli mengatakan bahwa oksida nitrat merupakan senyawa yang meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit Alzheimer, Parkinson, penyakit Huntington, dan Asma.

f) Asetaldehida

Bahan karsinogen lain yang dihasilkan rokok adalah asetildehida. Sejatinya, bahan kimia ini biasa dipakai dalam industri resin dan lem. Bahan ini memiliki potensi mempermudah penyerapan bahan kimia berbahaya lainnya dalam saluran bronkus.

g) Benzoapirena

Kandungan rokok berupa bahan kimia yang juga akrab ditemukan di hasil sisa penyaringan aspal dan batubara adalah benzoapirena. Bahan ini kemungkinan besar terkait dengan kanker paru-paru dan kanker kulit. Selain kanker di atas, senyawa ini juga berpotensi merusak tingkat kesuburan seorang perokok, pria maupun wanita.

h) Kromium

Senyawa lain yang dihasilkan rokok yang terkait dengan kanker paru-paru adalah kromium. Kromium sendiri merupakan zat yang biasa digunakan

(26)

untuk mengawetkan kayu, pelapis logam, atau paduan keduanya. Selain perokok, para pekerja las juga memiliki risiko besar terpapar senyawa ini.

i) Akrolein

Kandungan rokok yang biasa digunakan untuk membunuh hama tanaman dan resin poliester adalah akrolein. Senyawa ini sangat beracun dan bisa menyebabkan iritasi pada mata serta saluran pernapasan bagian atas. Tidak heran jika akrolein biasa digunakan sebagai bahan penyusun gas air mata.

4) Penyakit Akibat Merokok

Pengaruh bahan-bahan kimia yang terkandung dalam asap rokok terhadap kesehatan atau penyakit yang dapat ditimbulkan terutama nikotin, gas karbondioksida dan tar. Racun yang terdapat dalam asap rokok juga dapat menurunkan/ melemahkan kerja sistem imun tubuh. Dari mulainya proses peradangan dan kerusakan yang ditimbulkan asap rokok muncullah berbagai penyakit yang dapat diderita manusia.

a) Pengaruh asap rokok terhadap rongga mulut dan gigi.

Kondisi patologis dalam rongga mulut yang juga sering ditemukan pada perokok adalah karies akar, penurunan fungsi pengecapan, dan penyakit periodontal. Panas yang ditimbulkan akibat pembakaran rokok dapat mengiritasi mukosa mulut secara langsung menyebabkan vaskularisasi dan sekresi saliva. Perubahan tersebut berupa peningkatan saliva dan konsentrasi ion Ca (kalsium) pada saliva selama proses merokok. Hal ini berakibat penebalan menyeluruh bagian epitel

(27)

mulut, hingga dapat menimbulkan bercak putih keratonik yang menandai leukoplakia dan kanker mulut.

b) Kanker akibat asap rokok

Racun daalam asap rokok mempunyai kekuatan menghancurkan DNA. Selain itu racun yang terkandung dalam asap rokok juga melemahkan perlawanan sistem imun yang berfungsi melawan tumor dan membunuh sel kanker. Lemahnya sistem imun akibat asap rokok menyebabkan pertumbuhan sel tak terkendali sel tumor maupunkanker akan terus berkembang. Sebaagian besar tar tertinggal di paru-paru sehingga merokok lebih banyak menyebabkan kaanker paru-paru.

c) Emfisema

Empisema adalah dimana kondisi dalam kantung udara di paru-paru secara bertahap hancur, membuat oraang suka bernafas. Penyebab utama timbulnya emfisema adalah asap rokok, walaupun pada beberapa kasus kecil lainnya disebabkan karena faktor genetic, penggunaan obat intravena dan lainnya. Asap rokok akan mengaktifkan sel-sel yang meradang dalam paru-paru. Hal ini mengakibatkan enzim-enzim yang disebut proteases menyerang dan merusak jaringan paru (struktur dinding alveoli).

d) Bronkhitis

Bronchitis merupakan radang pada cabang tenggorokan yang menyebabkan lambatnya aliran udara ke paru-paru. Batuk yang diderita perokok dikenal dengan nama batuk perokok yang merupakan tanda awal adanya bronchitis.

(28)

Batuk ini terjadi karena paru-paru tidak mampu melepaskan mucus yang terdapat didalam broncus dengan cara normal.

e) Kerusakan arteri/dan penyakit jantung

Arteri adalah pembuluh darah yang membawa darah keluar dari jantung. Umumnya arteri mengalirkan darah yang banyak mengandung oksigen dan sari makanan ke seluruh tubuh. Jika dalam darah terdapat bahan kimia dalam asap rokok, maka akan mengakibatkan terjadi penebalan lapisan arteri dan adanya bekuan darah. Hal tersebut akan memperlambat aliran darah, sehingga mengakibatkan suplai oksigen dan makanan akan terganggu. Gangguan pada arteri membuat jantung bekerja keras memompa lairan darah agar mencukupi kebutuhan organ tubuh.

f) Pengaruh terhadap janin

Jika ibu hamil adalah seorang perokok, akan meningkatkan resiko gangguan kehamilan, kelahiran prematur, bayi dengaan berat lahir kuraang, bahkan sampai dengan kematian bayi. Asap rokok yang diisap ibu hamil akan menyebabkan gangguan pada pertumbuhan plasenta, karena fungsi plasenta merupakan organ untuk mensuplai makanan bayi dari rahim ibu.

Gambar

Tabel 2.1. Tumbuh Kembang Pada Masa Remaja Awal,  Pertengahan Dan Lanjut.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan utama pengolahan air limbah ialah untuk mengurai kandungan bahan pencemar di dalam air terutama senyawa organik, padatan tersuspensi, mikroba patogen, dan

Salah satu kandungan rokok yang merupakan gas beracun adalah karbon monoksida. Senyawa ini merupakan gas yang tidak memiliki rasa dan bau, namun jika terhirup terlalu banyak

Ketika manusia itu melakukan gerakan, maka tubuh manusia itu akan menghasilkam pancaran sinar inframerah pasif dengan panjang gelombang yang bervariasi sehingga menghasilkan panas

Jarigan syaraf biologis pada otak manusia terdiri dari sel-sel syaraf yang disebut neuron yang saling berhubungan satu dengan yang lain, pada suatu penghubung yang

Vitamin adalah senyawa organik, biasanya tidak disintesis oleh jaringan tubuh, dan diperlukan dalam jumlah sangat sedikit, vitamin bukan merupakan komponen

Menurut Nurmianto (2003: 50) “antropometri adalah suatu kumpulan data numerik yang berhubungan dengan karakteristik tubuh manusia seperti ukuran, bentuk, dan kekuatan

rasa memiliki, rasa menerima, dan persahabatan. 5) Kebutuhan penghargaan, yaitu kebutuhan manusia yang lebih bersifat kepentingan pribadi atau ego. Mencakup faktor

Data antropometri yang menyajikan data ukuran yang berbagai macam anggota tubuh manusia dalam persentil tertentu yang sangat besar manfaatnya pada saat suatu