• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 135/PUU-XIII/2015

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 135/PUU-XIII/2015"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

MAHKAMAH KONSTITUSI

REPUBLIK INDONESIA

---

RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 135/PUU-XIII/2015

PERIHAL

PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 2015

TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR

1 TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN PERATURAN

PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1

TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI,

DAN WALIKOTA MENJADI UNDANG-UNDANG

TERHADAP UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA

REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

ACARA

MENDENGARKAN KETERANGAN PRESIDEN DAN DPR

(III)

J A K A R T A

(2)

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

--- RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 135/PUU-XIII/2015 PERIHAL

Pengujian Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota Menjadi Undang [Pasal 57 ayat (3) huruf a] terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

PEMOHON

1. Perhimpunan Jiwa Sehat

2. Pusat Pemilihan Umum Akses Penyandang Cacat (PPUA Penca) 3. Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), dkk

ACARA

Mendengarkan Keterangan Presiden dan DPR (III)

Senin, 14 Maret 2016 Pukul 14.08 – 14.31 WIB Ruang Sidang Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat

SUSUNAN PERSIDANGAN

1) Anwar Usman (Ketua)

2) Aswanto (Anggota)

3) I Dewa Gede Palguna (Anggota)

4) Manahan MP Sitompul (Anggota)

5) Maria Farida Indrati (Anggota)

6) Suhartoyo (Anggota)

7) Wahiduddin Adams (Anggota)

(3)

Pihak yang Hadir:

A. Kuasa Hukum Pemohon:

1. Fadli Ramadaniel

B. Pemohon:

1. Jenny Rosanna Damayanti 2. Ardiansyah

C. Pemerintah:

1. Yunan Hilmy 2. Suhajar Diantoro 3. Teuku Saiful Bahri

(4)

1. KETUA: ANWAR USMAN

Sidang Perkara Nomor 135/PUU-XIII/2015 dibuka dan dinyatakan terbuka untuk umum.

Assalamualaikum wr. wb. Selamat siang. Om swastiastu. Persidangan hari ini acaranya mendengarkan keterangan dari DPR dan Kuasa Presiden.

Sebelumnya dipersilakan untuk memperkenalkan diri. Silakan.

2. KUASA HUKUM PEMOHON: FADLI RAMADHANI

Terima kasih, Yang Mulia. Assalamualaikum wr. wb. Yang hadir pada persidangan kali ini dari kami Pemohon, saya Fadli Ramadhani Kuasa Hukum. Ada Ibu Jenny Rosanna Damayanti sebagai Prinsipal dari Perhimpunan Jiwa Sehat dan ada rekan Ardiansyah dari Perhimpunan Jiwa Sehat. Terima kasih, Yang Mulia.

3. KETUA: ANWAR USMAN

Bukan ini, ya, bukan pengacara, Saudara? Bukan, ya? Bukan advokat?

4. KUASA HUKUM PEMOHON: FADLI RAMADHANI

Saya bukan advokat, Yang Mulia.

5. KETUA: ANWAR USMAN

Ya, baik. Dari DPR ada surat berhalangan. Dari Kuasa Presiden, silakan. Siapa yang hadir?

6. PEMERINTAH: YUNAN HILMY

Terima kasih. Assalamualaikum wr. wb. Yang Mulia Ketua Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi. Yang hadir pada kali ini adalah saya, Yunan Hilmy, Direktur Litigasi Kementerian Hukum dan HAM. Kemudian, sebelah kiri kami, Dr. Suhajar Diantoro (Staf Ahli Menteri Dalam Negeri), dan sebelah kanan kami adalah Dr. Saiful Bahri dari Kementerian Dalam Negeri. Terima kasih.

SIDANG DIBUKA PUKUL 14.08 WIB

(5)

7. KETUA: ANWAR USMAN

Ya, baik. Karena dari DPR berhalangan, silakan langsung Kuasa Presiden, siapa yang menyampaikan?

8. PEMERINTAH: SUHAJAR DIANTORO

Assalamualaikum wr. wb. Selamat siang dan salam sejahtera untuk kita semua.

Keterangan Presiden Republik Indonesia atas permohonan pengujian Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Pengesahan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota Menjadi Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Kepada Yang Terhormat Ketua Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia di Jakarta.

Dengan hormat yang bertanda tangan di bawah ini.

1. Nama: Tjahjo Kumolo (Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia). 2. Nama: Yasonna H. Laoly (Menteri Hukum dan HAM Republik

Indonesia).

Dalam hal ini baik bersama-sama maupun sendiri-sendiri bertindak untuk dan atas nama Presiden Republik Indonesia untuk selanjutnya disebut Pemerintah.

Perkenankanlah kami menyampaikan keterangan Pemerintah, baik lisan maupun tertulis yang merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak terpisahkan atas permohonan pengujian ketentuan Pasal 57 ayat (3) huruf a Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Pengesahan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubenur, Bupati, dan Walikota Menjadi Undang-Undang untuk selanjutnya disebut Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang selanjutnya disingkat dengan UUD 45 yang dimohonkan oleh Saudara Jenny Rosanna Damayanti dan kawan-kawan, selanjutnya disebut Pemohon, sesuai registrasi pada Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi Nomor 135 tanggal 26 November 2015 dengan perbaikan permohonan tanggal 30 November 2015.

Selanjutnya, perkenankanlah Pemerintah menyampaikan

keterangan Pemerintah terhadap permohonan Pemohon Perkara Nomor 135/PUU-XIII/2015 sebagai berikut.

I. Pokok permohonan Pemohon.

1. Bahwa menurut Para Pemohon, ketentuan Pasal 57 ayat (3) huruf a Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 bersifat diskriminatif bagi warga negara yang mengidap psikososial atau

(6)

disabilitas gangguan mental dan menghilangkan dengan begitu dini ... dengan begitu dini hak memilih seorang warga untuk dapat berpartisipasi di dalam memilih calon kepala daerahnya serta menimbulkan ketidakpastian hukum dalam proses pelaksanaan pemilihan kepala daerah, khususnya pada tahapan pemutakhiran dan pendaftaran pemilih.

2. Bahwa warga negara yang mengidap psikososial atau disabilitas gangguan mental bukanlah penyakit muncul terus menerus dan setiap saat. Bagi mereka yang mengidap psikososial dapat saja terkadang gejala gangguan mental pada dirinya muncul dan dapat juga gejala tersebut hilang dan yang bersangkutan dapat menjadi normal kembali.

3. Bahwa dengan tidak adanya waktu, kondisi, dan orang yang dapat memastikan kapan seorang mengidap ... pengidap psikososial kambuh gejalanya dan kapan pula gejala psikososial yang ada pada diri yang bersangkutan hilang, maka menjadi tidak relevan syarat yang tercantum dalam ketentuan Pasal 53 ayat (3) huruf a Undang-Undang 8 2015 karena bisa saja ketika jangka waktu penetapan daftar pemilih telah selesai, pengidap psikososial atau disabilitas gangguan mental sudah sehat kembali, sedangkan akibat dari ketentuan a quo sebagai warga negara, dia telah kehilangan hak untuk didaftar menjadi pemilih. 4. Untuk itu, ketentuan Pasal 57 ayat (3) huruf a Undang-Undang

8/2015 bertentangan dengan Pasal 27 ayat (1) dan Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945.

II. Tentang kedudukan hukum/legal standing Pemohon.

Berkaitan dengan kedudukan hukum Pemohon, Pemerintah memohon kepada Yang Mulia Ketua Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi untuk mempertimbangkan dan menilai apakah Pemohon memiliki kedudukan hukum atau tidak, sebagaimana ditentukan dalam ketentuan Pasal 51 ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang 8 Tahun 2011, serta berdasarkan putusan-putusan Mahkamah terdahulu, yaitu putusan-putusan Nomor 006/PUU-III/2005 dan putusan Nomor 11/PUU-V/2007.

III. Penjelasan pemerintah atas materi … materi permohonan.

Bahwa Pemohon dalam permohonannya mendalilkan ketentuan a quo yang menyatakan bahwa Pasal 57 ayat (3) huruf a Undang-Undang Nomor 8/2015 tentang Pengesahan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota Menjadi Undang-Undang yang menyatakan, (3) untuk dapat didaftar sebagai pemilih, warga negara Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi syarat:

(7)

Ketentuan di atas oleh Pemohon dianggap bertentangan dengan Pasal 27 ayat (1) dan Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Sehubungan dengan anggapan Pemohon tersebut, pemerintah sampaikan keterangan sebagai berikut.

1. Bahwa hak asasi manusia adalah materi yang terdapat di dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945 sebelumnya disah … sebelum disahkannya perubahan kedua Undang-Undang Dasar Tahun 1945 yang memuat pasal tentang hak asasi manusia, Undang-Undang Dasar Tahun 1945 telah mengakui beberapa macam hak asasi manusia. Salah satunya adalah hak yang tercantum dalam Pasal 27 ayat (1) yang menyatakan segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.

2. Pasal 27 ayat (1) adalah ketentuan yang tidak diubah ketika terjadi gelombang reformasi konstitusi pada kurun waktu 1999-2002. Bahkan eksistensinya makin diperkuat dengan diadopsinya ketentuan Pasal 28D ayat (1) dan ayat (3) perubahan kedua Undang-Undang Dasar Tahun 1945 yang berbunyi:

1) Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum;

3) Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan.

3. Hak memilih adalah pengejawantahan hak atas kesempatan yang sama dalam hukum dan pemerintahan sebagaimana diatur dalam Pasal 27 ayat (1) serta Pasal 28D ayat (1) dan ayat (3) Undang Dasar Tahun 1945. Secara spesifik, Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang hak asasi manusia mengatur mengenai hak memilih sebagaimana tercantum dalam Pasal 43 yang berbunyi, “Setiap warga negara berhak untuk dipilih dan memilih dalam pemilihan umum, berdasarkan persamaan hak melalui pemungutan suara yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.”

4. Namun demikian, orang yang sedang terganggu jiwanya atau ingatannya menurut hukum dikatakan sebagai orang yang tidak cakap melakukan perbuatan hukum karena orang yang sedang terganggu jiwanya atau ingatannya dalam menjalankan kepentingannya tidak disertai dengan akal yang sehat sehingga tidak dapat dituntut untuk bertanggung jawab atas perbuatannya yang tidak disertai dengan akal sehat tersebut. Apabila orang yang sedang terganggu jiwanya melakukan

(8)

sesuatu perbuatan hukum, maka perbuatan hukum tersebut dapat dibatalkan dan dinyatakan tidak sah.

5. Bahwa apabila Pemerintah memaksakan untuk memberikan hak pilih yang sama terhadap warga negara yang mengidap gangguan psikologis dan gangguan mental kejiwaan yang tidak dapat dipastikan kapan waktu kambuh dan normalnya, maka justru Pemerintah tidak dapat melaksanakan kewajiban sebagaimana mestinya, serta tidak memberikan kepastian hukum dalam menentukan hak pilih sehingga dipastikan berpotensi menjadi permasalahan baru manakala warga negara yang mengidap gangguan psikologis dan gangguan mental dipaksa untuk melaksanakan hak memilihnya maupun adanya penyalahgunaan surat suara manakala yang bersangkutan tidak melaksanakan hak pilihnya.

6. Bahwa objek-objek permohonan a quo bukanlah merupakan diskriminasi dan menghilangkan hak memilih bagi warga negara yang mengidap psikososial atau gangguan mental. Namun, lebih merupakan persyaratan yang ditentukan oleh Pemerintah guna mewujudkan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik, guna menjaga keberlangsungan pemerintahan dan kemajuan di segala aspek kehidupan dalam upaya mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana diamanatkan … yang dituangkan dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Demikian halnya dengan ketentuan a quo yang saat ini sedang diujikan. 7. Bahwa Pasal 22E Undang-Undang Dasar Tahun 1945 Pemerintah

berpendapat bahwa adanya syarat-syarat bagi calon pemilih dalam pemilihan umum yang dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil, serta tercantum dalam ketentuan tersebut di atas adalah menjadi kewenangan pembuat undang-undang (Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden). Guna menentukan syarat-syarat tertentu termasuk syarat sedang tidak terganggu jiwanya atau ingatannya dan karenanya menurut Pemerintah pilihan hukum yang demikian tidaklah dapat diuji, kecuali dilakukan secara sewenang-wenang dan melampaui kewenangan pembuat undang-undang.

8. Selain hal-hal tersebut di atas, menurut Pemerintah tampak jelas bahwa ketentuan a quo telah sejalan dengan ketentuan Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Dasar Tahun 1945 yang menyatakan bahwa dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan, serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain, dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.

(9)

9. Bahwa ketentuan yang terdapat dalam Undang-Undang Pilkada adalah komitmen politik untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan dan hasil pilkada itu sendiri yang merupakan pengaturan lebih lanjut dari Ketentuan Pasal 18 ayat (4) Undang-Undang Dasar Tahun 1945 yang mengatur mengenai pemilihan kepala daerah secara demokratis. Norma yang menjadi objek permohonan a quo merupakan salah satu jalan keluar yang dipilih oleh pembentuk undang-undang untuk mengantisipasi permasalahan yang akan terjadi di kemudian hari, serta menyebabkan adanya masalah-masalah dalam penyelenggaraan pilkada sehingga pilkada tidak berlangsung dalam kondisi fairness.

10. Sehubungan dengan hal sebagaimana tersebut dalam angka 1 sampai dengan angka 7, pemerintah berpendapat bahwa Pasal 57 ayat (3) huruf a Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Pengesahan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota Menjadi Undang-Undang telah menjamin adanya kepastian hukum dan tidak bertentangan dengan Pasal 27 ayat (1) dan Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar Tahun 1945.

11. Pemerintah memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada masyarakat yang telah peduli dalam memberikan sumbangan dan partisipasi pemikiran dalam membangun kepahaman tentang ketatanegaraan. Pemikiran-pemikiran masyarakat tersebut akan menjadi sebuah rujukan yang sangat berharga bagi Pemerintah khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Atas dasar pemikiran tersebut, Pemerintah berharap dialog masyarakat dan pemerintah Tetap terus terjaga dengan satu tujuan membangun kehidupan demokrasi untuk masa depan Indonesia yang lebih baik dan mengembangkan dirinya dalam kepemerintahan dengan tujuan membantu mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945.

IV. Petitum. Berdasarkan keterangan tersebut di atas, Pemerintah memohon kepada Yang Mulia Ketua dan Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia yang memeriksa, mengadili, dan memutus permohonan Pengujian Undang-Undang Partai Politik dan Undang-Undang Peradilan Tata Usaha Negara dapat memberikan putusan yang seadil-adilnya.

Atas perkenan dan perhatian Ketua Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi, kami mengucapkan terima kasih.

Hormat kami, Kuasa Hukum Presiden Republik Indonesia, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Yasonna Laoly dan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Tjahjo Kumolo.

(10)

Terima kasih. Wassalamualaikum wr. wb.

9. KETUA: ANWAR USMAN

Ya, terima kasih. Dari meja Hakim mungkin ada yang perlu didalami atas keterangan pemerintah? Ya, rupanya sudah cukup jelas. Apakah Pemohon akan mengajukan saksi atau ahli?

10. KUASA HUKUM PEMOHON: FADLI RAMADHANI

Terima kasih, Yang Mulia, kami memang akan mengajukan ahli dan juga akan mengajukan saksi terhadap permohonan ini.

11. KETUA: ANWAR USMAN

Berapa orang?

12. KUASA HUKUM PEMOHON: FADLI RAMADHANI

Ahli direncanakan akan dihadirkan dua, kemudian juga ada dua orang saksi yang akan dihadirkan. Terima kasih, Yang Mulia.

13. KETUA: ANWAR USMAN

Ya, baik. Nanti CV dari ahlinya supaya diserahkan terlebih dulu, ya.

14. KUASA HUKUM PEMOHON: FADLI RAMADHANI

Baik, Yang Mulia.

15. KETUA: ANWAR USMAN

Untuk itu persidangan ini ditunda hari Kamis, tanggal 31 Maret 2016, pukul 14.00 WIB untuk mendengarkan keterangan DPR, dan ahli Pemohon, serta saksi.

Ya, sudah cukup jelas, ya? Nanti untuk balasan Presiden atau Pemerintah berikutnya, ya.

(11)

Baik. Dengan demikian sidang selesai dan selanjutnya ditutup.

Jakarta, 14 Maret 2016 Kepala Sub Bagian Risalah, t.t.d

Rudy Heryanto

NIP. 19730601 200604 1 004

SIDANG DITUTUP PUKUL 14.31 WIB KETUK PALU 3X

Risalah persidangan ini adalah bentuk tertulis dari rekaman suara pada persidangan di Mahkamah Konstitusi, sehingga memungkinkan adanya kesalahan penulisan dari rekaman suara aslinya.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan tabel 2, menunjukkan hasil pertumbuhan dengan pengaruh campuran media tanam dengan pupuk hayati (biofertilizer) menunjukkan bahwa penggunaan media tanam

4) Banyaknya kunyahan makanan per menit pada masing-masing kelompok umur  Sedangkan untuk menentukan perbedaan lamanya waktu yang diperlukan untuk merumput dan lamanya

Pada penelitian ini dibuat sistem pakar menggunakan metode Forward Chaining, yang mana dapat mendiagnosis gizi buruk melalui pengukuran antropometri terlebih dahulu untuk

Jika sudah ketemu dengan file popojicms yang akan anda upload, silakan klik kanan pada nama file popojicms.v.1.2.5 lalu klik upload.. biarkan kosong saja, lalu klik

Apabila ketuban  pecah sebelum usia kehamilan kurang dari 37 minggu akan meningkatkan risiko infeksi, juga meningkatkan risiko terjadinya penekanan tali pusat yang

Berdasarkan perbandingan nilai korelasi antara nilai dugaan respon akhir dan peubah respon

Kedua, penelitian dengan judul “Coping Strategy pada Mahasiswa Salah Jurusan” yang dilakukan oleh Intani dan Surjaningrum (2010). Hasil penelitian tersebut memperlihatkan

Dari pembahasan dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi arus kas operasional perusahaan maka semakin tinggi kepercayaan investor pada perusahaan tersebut, sehingga