• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN REMAJA MADYA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERKEMBANGAN REMAJA MADYA"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

PERKEMBANGAN REMAJA MADYA

Dosen Pengampu:

Nurmala Nasution, Mpsi., Psikolog

Nama Anggotak Kelompok:

Fathiyah Syifa Adisti 2008015078 Firsa Fiola Sabrina 2008015198

Kurnia Aulia 2008015113

Wahyu Meisy Astika 2009015226

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA

FAKULTAS PSIKOLOGI

(2)

i

Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Perkembangan Remaja Madya” ini tepat pada waktunya. Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Bu Nurmala Nasution, Mpsi., Psikolog selaku dosen pada mata kuliah perkembangan sepanjang hayat.

Saya mengucapkan terimakasig kepada Bu Nurmala Nasution, Mpsi., Psikolog selaku dosen pada mata kuliah perkembangan sepanjang hayat yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang yang kami tekuni. Kami berharap semoga makalah yang kami susun ini memberikan manfaat untuk pembaca.

Cileungsi, 14 April

(3)

ii

Daftar Isi

Kata Pengantar...i

Daftar Isi...ii

Bab I Pendahuluan...1

A. Latar Belakang Masalah...1

B. Rumusan Masalah...2

C. Tujuan...2

D. Manfaat...2

Bab II Landasan Teori...3

A. Teori Perkembangan Remaja...3

B. Perkembangan Remaja...4

C. Permasalahan Remaja...12

D. Perkembangan Remaja Dalam Perspektif Islam...13

Bab III Penutup...19

A. Kesimpulan...19

B. Saran...19

(4)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kata “Remaja” berasal dari bahasa latin yaitu adolescene yang berarti to grow atau to grow maturity (golinko, 1984 dalam rice, 1990). Menurut Papalia dan Olds (2001), masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun.

Papalia dan Olds (2001), berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa antara kanak-kanak dan dewasa. Adapun Anna Freud (dalam Hurlock, 1990), berpendapat bahwa pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orang tua dan cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan.

Transisi perkembangan pada masa remaja berarti sebagian perkembangan masa kanak-kanak masih dialami namun, sebagian kematangan masa dewasa sudah dicapai (Hurlock, 1990). Bagian dari masa kanak-kanak itu antara lain proses pertumbuhan biologis misalnya tinggi badan masih terus bertambah. Adapun bagian dari masa dewasa antara lain proses kematangan semua organ tubuh termasuk fungsi reproduksi dan kematangan kognitif yang ditandai dengan mampu berfikir secara abstrak. (Hurlock, 1990; Papalia dan Olds, 2001).

Perubahan ini terjadi secara kuantitatif, misalnya pertambahan tinggi atau berat tubuh; dan kualitatif, misalnya perubahan cara berfikir secara konkret menjadi abstrak (Papalia dan Olds, 2001). Ada tiga aspek perkembangan yang dikemukakan Papalian dan Olds (2001) yaitu: (1) Perkembangan fisik; (2) Kognitif; dan (3) Kepribadian dan sosial.

(5)

2

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana perkembangan yang terjadi pada remaja? 2. Apa saja ciri-ciri pada remaja?

3. Apa saja faktor yang memengaruhi perkembangan remaja?

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui perkembangan yang terjadi pada remaja 2. Untuk mengetahui ciri-ciri pada remaja

3. Untuk mengetahui faktor yang memengaruhi

D. Manfaat Penelitian

Diharapkan dapat memberikan penjelasan kepada pada pembaca mengenai perkembangan remaja.

(6)

3

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Teori Perkembangan Remaja

Menurut J.P. Chaplin (1979), Psikologi perkembangan merupakan cabang dari psikologi yang mempelajari proses perkembangan individu, baik sebelum maupun setelah kelahiran berikut kematangan perilaku. Ross Vasta, dkk. (1992), mengemukakan bahwa Psikologi perkembangan merupakan cabang psikologi yang mempelajari perubahan tingkah laku dan kemampuan sepanjang proses perkembangan proses individu dari masa konsepsi sampai mati.

Menurut Adams dan Gullota (dalam Aaro, 1997), masa remaja meliputi usia antara 11 hingga 20 tahun. Adapun Hurlock (1990), membagi masa remaja menjadi masa remaja awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir (16 atau 17 tahun hingga 18 tahun). Sedangkan menurut Monks (2002), remaja adalah individu yang berusia antara 12-21 tahun yang sedang mengalami peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, dengan pembagian 12-15 tahun masa remaja awal, 15-18 tahun masa remaja pertengahan (madya) dan 18-21 tahun masa remaja akhir. Remaja madya berada pada tahap dimana individu melalui perkembangannya dengan ditandai perkembangan kemampuan berfikir yang baru.

Pada masa ini teman sebaya masih berperan penting namun individu sudah lebih mampu mengarahkan diri sendiri (self directed). Remaja juga mulai mengembangkan kematangan tingkah laku, belajar mengendalikan implusivitas, dan membuat keputusan-keputusan awal yang berkaitan dengan sekolah dan pekerjaan yang kelak ingin ia capai. Selain itu penerimaan dari lawan jenis menjadi penting bagi individu (Agustiani, 2006).

(7)

4 a) Teori Psikoseksual (Freud)

Latency (6 tahun sampai pubertas). Waktu yang relatif tenang antara

tahapan-tahapan yang lebih bergejolak b) Teori Psikososial (Erikson)

Identity versus identity confusion (pubertas sampai dwasa muda). Remaja

harus menentukan kediriannya sendiri (“siapakah saya?”) atau mengalami kebingungan mengenai berbagai peran kebajikan : kekuatan.

c) Teori Kognitif (Piaget)

Formal operations (11 tahun sampai dewasa). Dapat berpikir secara

abstrak, menangani situasi-situasi perumpamaan, dan berpikir mengenai berbagai kemungkinan.

B. Perkembangan Remaja

1. Ciri-ciri Perkembangan Remaja

Peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang dikenal sebagai masa strom&stress. Peningkatan emosional ini terjadi merupakan hasil dari perubahan fisik terutama hormon yang terjadi pada maa remaja. Dari segi kondisi sosial, peningkatan emosi ini merupakan tanda bahwa remaja berada pada kondisi baru yang berbeda dari masa sebelumnya. Pada masa ini banyak tuntunan dan tekanan yang ditujukan pada remaja, misalnya mereka diharapkan untuk tidak lagi bertingkah seperti anak-anak, mereka harus lebih mandiri, dan bertanggung jawab. Kemandirian dan tanggung jawab ini akan terbentuk seiring berjalannya waktu, dan akan tampak jelas pada remaja akhir yang duduk diawal-awal masa kuliah.

Perubahan yang cepat secara fisik yang juga disertai kematangan seksual. Terkadang perubahan ini membuat remaja tidak yakin akan diri dan kemampuan mereka sendiri. perubahan fisik yang terjadi secara cepat, baik perubahan internal seperti sistem sikulasi, pencernaan, dan sistem respirasi maupun perubahan eksternal seperti tinggi badan, berat, badan, dan proporsi tubuh sangat berpengaruh terhadap konsep diri remaja.

Perubahan dalam hal yang menarik bagi dirinya dan hubungan dengan orang lain. Selama masa remaja banyak hal-hal yang menarik bagi

(8)

5 dirinya dibawa dari masa kanak-kanak digantikan dengan hal menarik yang baru dan lebih matang. Hal ini juga dikarenakan adanya tanggung jawab yang lebih besar pada masa remaja, maka remaja diharapkan untuk dapat mengarahkan ketertarikan mereka pada hal-hal yang lebih penting. Perubahan juga terjadi dalam hubungan dengan orang lain. Remaja tidak lagi berhubungan hanya dengan individu dari jenis kelamin yang sama, tetapi juga dengan lawan jenis, dan orang dewasa.

Perubahan nilai, dimana apa yang mereka anggap penting pada masa kanak-kanak menjadi kurang penting karena telah mendekati dewasa. Kebanyakan remaja bersikap ambivalen dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Di satu sisi mereka meginginkan kebebasan, tetapi di sisi lain mereka takut akan tanggung jawab yang menyertai kebebasan ini, serta meragukan kemampuan mereka sendiri untuk memikul tanggung jawab ini.

2. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Remaja Madya

Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan remaja tersebut, dibagi menjadi dua macam, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah yang mempengaruhi perkembangan yang berasal dari dalam diri individu, sedangkan faktor eksternal merupakan faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia yang berasal dari luar individu. a) Faktor lingkungan

Dalam hadis lain, Nabi Muhammad Saw. menunjukkan bagaimana teman dapat memengaruhi seluruh perilaku, karakter dan perbuatan seseorang. Dengan memberikan perumpamaan, Nabi Muhammad Saw. bersabda: “Persamaan teman yang baik dan teman yang buruk seperti pedagang minyak kesturi dan peniup api tukang besi, Si pedagang minyak kesturi mungkin akan memberinya padamu, atau engkau membeli kepadanya, atau setidaknya engkau dapat memperoleh bau yang harum darinya, tapi si peniup api tukang besi mungkin akan membuat pakaianmu terbakar, atau kamu akan mendapatkan bau yang tidak sedap dari- padanya."(HR Bukhari). Dalam bentuk metaforik, Nabi Muhammad Saw. mengingat kita bagai- mana persahabatan yang

(9)

6 baik dapat memengaruhi karakter seseorang menjadi baik dan bagaimana teman yang jahat dapat membuat orang melakukan hal yang buruk. Dengan demikian, lingkungan dapat meme- ngaruhi keseluruhan perkembangan psikologi seseorang, termasuk tentunya perkembangan kognitif.

b) Faktor kehendak dan kekuatan Allah

Faktor ini adalah kehendak dan kekuatan Allah yang tidak terbatas. Faktor inilah yang memantau dan menjaga besarnya kekuatan alam dan pengasuhan (nature-nurture forces) yang memengaruhi kehidupan dan perkembangan manusia. Hal ini dapat diterapkan pada semua aspek perkembangan. Contohnya, perkembangan kognitif bukan semata-mata produk warisan genetik, ataupun semata- mata produk lingkungan. Sebab pada prinsipnya, ia merupakan produk kehendak dan kekuatan Allah. Sehubungan dengan hal ini, hereditas dan kekuatan lingkungan merupakan media di mana Allah menunjukkan kecenderungan pola dari perkembangan individu. Dengan demikian, kedua faktor ini memiliki batasan dalam memengaruhi kecenderungan psikologi seseorang secara keseluruhan. Batasan tersebut telah ditentu- kan oleh Allah.

Dalam kajian psikologi, faktor ini merupakan hal yang penting untuk diperhatikan karena banyak hal yang terjadi dalam kehidupan manusia yang tidak dapat digolongkan ke dalam faktor herediter atau lingkungan (seperti contoh di atas).

Dengan demikian, hal tersebut tidak dapat diterangkan dalam keranda penyelidikan material atau empirik. Jika psikolog tidak memperluas horizon dari pendekatan mereka dengan meneliti faktor kehendak dan kekuasaan Allah di atas segalanya, termasuk perkembangan psikologi manusia, penelitian psikologi akan tetap tidak lengkap dan pengetahuan tentang diri kita juga masih tetap tidak utuh.

(10)

7 Arieff dan Wardah (2006) menjelaskan perlakuan remaja digambarkan sebagai perlakuan emosi. Perasaan kadang kala lebih berpengaruh daripada fikiran. Arieff dan Wardah juga menjelaskan suka duka kehidupan akan membentuk kerangka perlakuan remaja itu sendiri. Perubahan daripada alam kanak-kanak ke alam dewasa merupakan masa yang mengelirukan remaja kerana golongan remaja ini akan melalui peringkat perubahan diri yang kritikal dari segi mental dan fizikal. Pelbagai fenomena ganjil menghujani mental dan fizikal mereka dan golongan remaja yang menghadapi tekanan ini akan melakukan tindakan-tindakan di luar kawalan. Menurut Azizi dan Rosnah (2007), fenomena ini mungkin berlaku disebabkan remaja yang terlibat ingin meluahkan perasaan tidak puas hati, ingin membalas dendam dan sebagainya. Selain itu, kurangnya penghayatan akhlak dalam diri remaja juga boleh mendorong remaja terlibat dalam masalah sosial. Menurut Najati (1993), keruntuhan nilai akhlak di dalam sesebuah masyarakat boleh menjadi ancaman kepada kesejahteraan mental individu. Malek Bennabi (1998) pula menyatakan, keruntuhan nilai akhlak turut menjadi punca sebenar kepada kemusnahan kerana keruntuhan nilai akhlak akan melemahkan setiap sendi sesebuah masyarakat.

Para pengkaji kemasyarakatan Barat juga menyedari kelemahan dalam sesebuah masyarakat dan pentingnya proses-proses pemantapan akhlak teutama sekali melalui agama (Mohd Sulaiman Yasin, 1992). Selain daripada faktor keruntuhan akhlak, kajian yang dilakukan oleh Maura O’Kette (1995), menunjukkan pelaku-pelaku masalah sosial terdiri daripada individu yang mempunyai masalah dan kekurangan dari segi personaliti, sosiologikal dan psikologikal. Faktor psikologi adalah seperti kekecewaan hidup dan keterlepasan kawalan kuasa id.

d) Faktor keluarga

Keluarga merupakan antara pengaruh utama dalam kehidupan seseorang remaja. Kegagalan ibu bapa dalam mendidik anak-anak akan

(11)

8 menjejaskan masa depan mereka yang boleh menyebabkan mereka terlibat dengan gejala-gejala sosial dan tidak mampu untuk membentuk diri mereka menjadi orang yang berguna dan berwawasan (Rohayati, 2004). Berdasarkan kajian-kajian terdahulu, gejala sosial banyak berlaku dikalangan remaja yang kurang berada. Arieff dan Wardah (2006) menjelaskan antara latar belakang keluarga yang menjadi faktor remaja bertingkah laku devian adalah disebabkan pendapatan ibu bapa yang rendah dan anak membesar dalam keadaan terbiar. Kajian Noor Adiah (1998) dan Norhayati (1994) juga mendapati masalah sosial ada kaitan dengan pendapatan keluarga. Di negara barat, Mannes, et al. (2005) melaporkan bahawa remaja yang berasal daripada keluarga berpendapatan rendah adalah dua kali ganda lebih cenderung untuk bertingkah laku negatif berbanding remaja lain.

Menurut Calhoun, et al. (1993) remaja daripada rumahtangga yang retak atau ibu tunggal lebih mudah terbabit dalam tingkah laku delinkuen berbanding dengan remaja yang datang daripada keluarga yang normal. Norhayati (1994) dalam kajiannya juga mendapati semua pelajar daripada keluarga bercerai mempunyai masalah peribadi yang membawa kepada tingkah laku negatif. Rata-rata remaja yang bermasalah datang daripada keluarga yang tidak bahagia dan kucar- kacir. Menurut Hamidah, et al. (2006), ramai anak-anak dari keluarga tunggal mempunyai masalah tingkah laku dan emosi akibat kurangnya pengawasan. Masa yang dihabiskan untuk bersama anak-anak semakin berkurangan kerana ibu atau bapa tunggal perlu bekerja lebih masa untuk menyara keluarga.

Hubungan komunikasi yang tidak baik boleh disebabkan faktor ibu bapa yang jarang berada di rumah. Masa yang diluangkan untuk anak- anak agak terhad dan terbatas. Arieff dan Wardah (2006) menjelaskan ibu bapa yang sibuk dengan kerja boleh menyebabkan hubungan antara anak dengan ibu bapa renggang. Apabila anak-anak pulang dari sekolah, ibu bapa tiada di rumah. Oleh itu, remaja lebih suka menghabiskan masa bersama rakan-rakan sebelum pulang ke rumah.

(12)

9 Masa yang banyak dihabiskan bersama rakan-rakan boleh mendorong mereka untuk melakukan perkara-perkara yang mengundang kepada kemerosotan akhlak

e) Faktor yang Mempengaruhi Penalaran Moral

Satu faktor penting dalam perkembangan penalaran moral adalah faktor kognitif, teurtama kemampuan berfikir abstrak dan luas (Budiningsih, 2004). Pada dasarnya perkembangan penalaran moral dipengaruhi oleh beberapa faktor, Kohlberg menjelaskan faktor-faktor penting yang dapat meningkatkan tahapan perkembangan penalaran moral, antara lain (Muslimin, 2004):

1) Kesempatan alih peran Alih, berarti mengambil sikap dari sudut pandang orang lain atau menempatkan diri pada posisi orang lain.

2) Iklim moral, merangsang peningkatan tahap perkembangan penalaran moral adalah lingkungan sosial yang memiliki potensi untuk dipresepsi lebih tinggi dari tahap penalaran moral anggotanya.

3) Konflik sosio-kognitif, adalah adanya pertentangan antara struktur penalaran moral seseorang dengan struktur lingkungan yang tidak mungkin dipresepsi dengan menggunakan dasar struktur tahap penalaran moral yang dimiliki orang tersebut. Selain faktor diatas Kohlberg juga menambahkan bahwa penalaran moral dipengaruhi oleh tahap perkembangan kognitif yang tinggi (seperti pendidikan) dan pengalaman sosiomoral (seperti, kesempatan mengambil peran) (Glover, 1997).

3. Perkembangan Fisik

Pada fase pubertas terjadi perubahan fisik sehingga pada akhirnya seorang anak akan memiliki kemampuan bereproduksi. Terdapat 5 perubahan khusus yang terjadi pada pubertas, yaitu, pertambahan tinggi badan yang cepat (pacu tumbuh), perkembangan seks sekunder, perkembangan organ-organ reproduksi, perubahan komposisi tubuh serta

(13)

10 perubahan sistem dan sistem respirasi yang berhubungan dengan kekuatan dan stamina tubuh.

Perubahan fisik yang terjadi pada periode pubertas berlangsung dengan sangat cepat dalam sekuens yang teratur dan berkelanjutan. Tinggi badan anak laki-laki bertambah kira-kira 10 cm per tahun, sedangkan pada perempuan kurang lebih 9 cm per tahun. Secara keseluruhan pertambahan tinggi badan sekitar 25 cm pada anak perempuan dan 28 cm pada anak laki-laki. Pertambahan tinggi badan terjadi dua tahun lebih awal pada anak perempuan dibanding anak laki- laki. Puncak pertumbuhan tinggi badan (peak height velocity) pada anak perempuan terjadi sekitar usia 12 tahun, sedangkan pada anak laki-laki pada usia 14 tahun. Pada anak perempuan, pertumbuhan akan berakhir pada usia 16 tahun sedangkan pada anak laki- laki pada usia 18 tahun. Setelah usia tersebut, pada umumnya pertambahan tinggi badan hampir selesai. Hormon steroid seks juga berpengaruh terhadap maturasi tulang pada lempeng epifisis. Pada akhir pubertas lempeng epifisis akan menutup dan pertumbuhan tinggi badan akan berhenti.

Pertambahan berat badan terutama terjadi karena perubahan komposisi tubuh, pada anak laki-laki terjadi akibat meningkatnya massa otot, sedangkan pada anak perempuan terjadi karena meningkatnya massa lemak. Perubahan komposisi tubuh terjadi karena pengaruh hormon steroid seks. Perubahan komposisi lemak tubuh (metode Tenner) Perkembangan seks sekunder diakibatkan oleh perubahan sistem hormonal tubuh yang terjadi selama proses pubertas. Perubahan hormonal akan menyebabkan terjadinya pertumbuhan rambut pubis dan menarke pada anak perempuan; pertumbuhan penis, perubahan suara, pertumbuhan rambut di lengan dan muka pada anak laki-laki, serta terjadinya peningkatan produksi minyak tubuh, meningkatnya aktivitas kelenjar keringat, dan timbulnya jerawat. Pembesaran testis pada umumnya terjadi pada usia 9 tahun, kemudian diikuti oleh pembesaran penis. Pembesaran penis terjadi bersamaan dengan pacu tumbuh. Ukuran penis dewasa dicapai pada usia 16-17 tahun, sedangkan kumis dan janggut baru tumbuh belakangan. Perubahan suara

(14)

11 terjadi karena bertambah panjangnya pita suara akibat pertumbuhan laring dan pengaruh testosteron terhadap pita suara. Perubahan suara terjadi bersamaan dengan pertumbuhan penis, umumnya pada pertengahan pubertas. Mimpi basah atau wet dream terjadi sekitar usia 13-17 tahun, bersamaan dengan puncak pertumbuhan tinggi badan.

Pada anak perempuan awal pubertas ditandai oleh timbulnya breast budding atau tunas payudara pada usia kira-kira 10 tahun, kemudian secara bertahap payudara berkembang menjadi payudara dewasa pada usia 13-14 tahun (Tabel 3). Rambut pubis mulai tumbuh pada usia 11-12 tahun dan mencapai pertumbuhan lengkap pada usia 14 tahun.

4. Perkembangan Kognitif

Menurut Piaget (dalam Santrock, 2001), seorang remaja termotivasi untuk memahami dunia karena perilaku adaptasi secara biologis mereka. Dalam pandangan Piaget, remaja secara aktif membangun dunia kognitif mereka, dimana informasi yang didapatkan tidak langsung diterima begitu saja ke dalam skema kognitif mereka. Seorang remaja tidak saja mengrganisasikan apa yang dialami dan diamati, tetapi remaja mampu mengolah cara berpikir mereka sehingga memunculkan suatu ide baru. Perkembangan kognitif adalah perubahan

kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa.

Piaget (dalam Papalia dan Olds, 2001), mengemukakan bahwa pada masa reaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi kemungkinan remaja untuk berpikir abstrak. Piaget menyebut tahap perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasi formal (dalam Papalia dan Olds, 2001).

Tahap formal operations adalah suatu tahap di mana seseorang telah mampu berpikir secara abstrak. Seorang remaja tidak lagi terbatas pada hal-hal yang aktual, serta pengalaman yang benar-benar terjadi. Dengan mencapai tahap operasi formal, remaja dapat berpikir dengan fleksibel dan kompleks. Seorang remaja mampu menemukan alternatif

(15)

12 jawaban atau penjelasan tentang suatu hal. Berbeda dengan seorang anak yang baru mencapai tahap operasi konkret yang hanya mampu memikirkan satu penjelasan untuk suatu hal. Hal ini memungkinkan remaja berpikir secara hipotesis (Jahja, 2011).

5. Perkembangan Sosial

Perkembangan sosial pada masa remaja lebih melibatkan kelompok teman sebaya dibanding orang tua (Conger, 1991; Papalia & Olds,2001). Dibanding pada masa kana-kanak, remaja lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah seperti kegiatan sekolah, ekstrakulikuler dan bermain dengan teman (Conger, 1991; Papalia & Olds,2001). Pada diri remaja, pengaruh lingkungan dalam menentukan perilaku diakui cukup kuat. Walaupun remaja telah mencapai tahap perkembangan kognitif yang memadai untuk menentukan tindakannya sendiri, namun penentuan diri remaja dalam berperilaku banyak dipengaruhi oleh tekanan dari kelompok teman sebaya (Conger, 1991). Conger (1991) dan Papalia & Olds (2001), kelompok teman sebaya merupakan sumber referensi utama bagi remaja dalam hal persepsi dan sikap yang berkaitan dengan gaya hidup. Bagi remaja, teman-teman menjadi sumber informasi, misalnya mengenai bagaimana cara berpakaian yang menarik, musik, atau film apa yang bagus (Conger, 1991).

Ketika anak muda bernegoisasi dan berkompromi dengan rekan seusia mereka, mereka akan sadar bahwa kehidupan sosial dapat didasarkan pada hubungan setara ketimbang otoritas (Killen & Nucci, 1995). Diskusi teman sebaya dan permainan peran dalam masalah moral memberikan dasar intervensi yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman moral dari pelajar. Agar diskusi efektif remaja harus terlibat betul, menentang, mengkritisi dan mencoba menjelaskan sudut pandang satu sama lain.

C. Permasalahan pada Remaja

1. Konflik antara kebutuhan untuk mengendalikan diri dan kebutuhan

untuk bebas dan merdeka.

(16)

13 kepada orang tua.

3. Konflik antara kebutuhan seks dan agama serta nilai sosial. 4. Konflik antara prinsip dan nilai-nilai yang dipelajari oleh remaja. 5. Konflik menghadapi masa depan.

D. Perkembangan Remaja dalam Perspektif Islam 1. Perkembangan Fisik

Pubertas dianggap sebagai periode sensitif yang memiliki pengaruh yang sangat besar bagi kehidupan individu. Periode ini menandai perpindahan dari tahap anak-anak menjadi tahap dewasa. Sebagaimana dinyatakan dalam hadis berikut ini.

“Dari Nafi’, ia berkata, Aku memberitahukan hal ini kepada Umar Ibn bin Abdul Aziz, maka diapun berkata, “Inilah usia yang menjadi batas antara anak kecil dan orang dewasa.’’(HR Bukhari,

Muslim, Abu Dawud, At-Thurmudhi, dan An-Nasa''i)

Waktu dari perubahan fisik yang terjadi pada saat pubertas merupakan pengaruh antara faktor genetik dan lingkungan. Berbagai faktor seperti nutrisi, sikap sosial, ukuran keluarga, dan olahraga dapat memengaruhi proses pubertas.

Kata pubertas sendiri berasal dari bahasa Latin

“pubescere” yang berarti menjadi berbulu. Nabi Muhammad Saw.

menggunakan konsep ini. untuk membedakan anak-anak dengan orang dewasa, sebagaimana terlihat ketika beliau memisahkan antara orang dewasa dan anak-anak pada perang Bani Quraizah, dengan cara berikut.

“Diriwayatkan dari Ath-Thiyah Al-Qurazhi, dia berkata “Kami telah dihadapkan kepada Nabi Saw. pada hari perang Bani Quraizhah. Barangsiapa yang telah tumbuh (rambut kemaluannya), maka dia dibunuh. Dan barangsiapa yang belum tumbuh (rambut kemaluannya), maka dia akan tetap hidup. Dan aku merupakan salah seorang dari mereka yang dibiarkan hidup."

(17)

14 Usia pubertas juga digambarkan dalam Alquran sebagai usia yang mencukupi untuk menikah, sebagaimana berikut ini.

“Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk nikah. Jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas, maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya, dan janganlah kamu memakan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah) kamu tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa...” (QS Al-Nisa’ [4]:6)

Dengan demikian Alquran memandang usia pubertas sebagai usia di mana individu telah memiliki kematangan pada alat reproduksi seksual yang dimilikinya. Hal ini juga menandai mulainya kematangan aspek lainnya.

Pada masa pubertas, terjadi percepatan perkembangan yang mencolok (adolescent growth spurt)yang membuat seseorang dianggap berpindah dari masa kanak-kanak menjadi masa kematangan fisik. Jika perempuan mengalami menstruasi pertama (menarche), maka laki-laki mengalami hal yang disebut spermache. Pada menstruasi, perempuan mengeluarkan darah dari klitorisnya, yang menunjukkan alat reproduksinya telah matang untuk dibuahi. Spermarche merupakan ejakulasi yang pertama yang dapat terjadi karena mimpi basah (ihtilŭm) atau masturbasi.

2. Perkembangan Kognitif

Islam sangat memerhatikan perkembangan kognitif seseorang. Hal ini terlihat dari banyaknya ayat Alquran maupun hadis, yang menerangkan pentingnya menuntut ilmu dan menggunakan akal untuk memahami gejala alam semesta yang memperlihatkan kebesaran Allah. Ayat Alquran yang pertama kali diturunkan bahkan telah menyebutkan pentingnya proses belajar, yang berbunyi sebagai berikut: “Bacalah dengan (menyebut) nama

Tuhan-mu yang menciptakan Dia telah menciptakan manusia dari al alaq. Bacalah, dan tuhanmulah yang Maha Pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan

(18)

15

kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS Al-Alaq [96]:

1-5)

Remaja mengalami banyak perubahan ketika mereka mengalami transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Selain terjadi perubahan fisik dan sosial, terjadi juga berbagai perubahan dalam cara berpikir dan pengolahan informasi. Anak- anak dan orang dewasa memiliki perbedaan cara berpikir dalam subjek yang berbeda-beda, sedangkan orang dewasa berpikir dan memberikan tanggapan yang lebih kompleks dibandingkan anak- anak.

Pada saat remaja mereka juga mengalami periode individuasi, di mana mereka mengembangkan identitas diri mereka dan membentuk pendapat sendiri yang mungkin berbeda dengan orang tuanya. Mereka mengalami deidealisasi terhadap orang tua; remaja mulai menyadari bahwa orang tua mereka tidak selalu benar. Sebagai akibatnya, sering terjadi konflik antara orang tua dan anak remaja, yang umumnya berkisar pada perbedaan orang tua dan anak remaja tentang bagaimana mereka mendefinisikan aturan keluarga dan aturan sosial lainnya.

Remaja mulai merasa bahwa pemecahan masalah merupakan pilihan pribadi, dan bukan pendapat orang tua atau konvensi sosial. Meskipun konflik ini dapat menimbulkan masalah dan menyakitkan, namun hal ini merupakan perkembangan normal, bukan merupakan ancaman hubungan orang tua dan anak. Remaja bahkan merasa menghargai orang tuanya, dan sering mencari orang tua untuk meminta nasihat, merasa dicintai dan diperhatikan oleh orang tuanya. Oleh karena itu, konflik merupakan proses untuk menjadi orang dewasa.

3. Perkembangan Emosional

Dalam perspektif Islam, segala macam emosi dan ekspresinya, dicip- takan oleh Allah melalui ketentuannya. Emosi diciptakan oleh Allah untuk membentuk manusia yang lebih

(19)

16 sempurna. Dalam Alquran dinyatakan:“Dan bahwasanya Dialah

yang menjadikan manusia tertawa dan menangis, dan bahwasanya Dialah yang mematikan dan menghidupkan.” (QS Al-Najm [53]:

43-44)

Alquran dan Hadis banyak membahas tentang ekspresi emosi manusia. Berbagai ekspresi emosi dasar manusia, mulai dari kesedihan, kemarahan, ketakutan, dan lain-lain diungkapkan dengan bahasa yang indah dalam Alquran dan Hadis. Emosi lain yang lebih kompleks, seperti malu, sombong, bangga, iri hati, dengki, penyesalan, dan lain-lain juga terang- kaikan dalam berbagai kalimat. Demikian juga tentang cinta dan benci.

Remaja (12-18 tahun) mulai menjadi lebih canggih dalam mengatur emosi mereka. Mereka memiliki banyak perbendaharaan untuk mendiskusikan, dan memengaruhi keadaan emosi diri mereka sendiri dan orang lain. Remaja lebih dapat menerjemahkan situasi sosial sebagai bagian dari proses tampilan emosi. Remaja mengembangkan skema tentang berbagai variasi orang tertentu dalam menunjukkan tampilan emosinya, dan mengatur tampilan emosi mereka berdasarkan skema tersebut.

Pada awalnya remaja mulai mencoba melepas ikatan emosional mereka dengan orang tua dan lebih banyak mengembangkan persahabatan dengan teman sebayanya. Remaja, terutama laki-laki, lebih banyak menyembunyikan emosi mereka kepada orang tuanya dibandingkan anak yang lebih muda, karena mereka mengharapkan untuk tidak terlalu banyak mendapatkan dukungan emosional dari orang tuanya. Remaja menjadi sangat memerhatikan dampak ekspresi emosi dalam interaksi sosial mereka dan berusaha untuk mendapatkan persetujuan teman sebaya. Jenis kelamin memainkan peran penting dalam menunjukkan tampilan emosi, laki-laki lebih berusaha menyembunyikan rasa takut dibandingkan perempuan.

(20)

17 Pada saat remaja, muncul kompetensi baru seperti kompetensi kerja, daya tarik romantik, dan kualitas persahabatan menjadi kontributor penting terhadap harga diri umum. Meskipun dapat terjadi penurunan sementara, harga diri relatif stabil bahkan sering kali meningkat. Pola asuh orang tua yang hangat, responsif dan demokratik dapat meningkatkan harga diri, sementara gaya pengasuhan yang mengambil jarak atau terlalu keras akan menurunkannya. Teman sebaya juga memengaruhi harga diri melalui perbandingan sosial (social comparison) selama masa-masa sekolah. Bagi remaja determinan terkuat dari harga diri adalah kualitas hubungan dengan teman sebaya, terutama sahabat dan pasangan romantik.

Selain konsep diri dan harga diri, aspek yang penting dari perkembangan diri seseorang adalah kontrol diri (self control). Kontrol diri merupakan kemampuan untuk mengatur perilaku dan mencegah dari terjadinya sesuatu yang seharusnya dihindari. Kontrol diri merupakan sesuatu yang penting, sehingga selalu diingatkan dalam setiap agama yang berasal dari Tuhan. Mengajak ke arah kebaikan dan mencegah ke arah keburukan (amar ma’ruf nahi munkar) merupakan kewajiban setiap umat Islam.

Untuk itu, manusia diwajibkan untuk menahan diri dari membuat segala kerusakan di muka bumi. Dan bila dikatakan kepada mereka: "Janganlah kamu membuat kerusakan di muka

bumi.” Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami adalah orang- orang yang membuat perbaikan.”(QS Al-Baqarah [2]: 11). Ayat ini

juga menggambarkan bahwa mereka yang membuat kerusakan sering kali melakukan rasionalisasi terhadap perbuatan mereka itu. Salah satu tugas perkembangan sosial yang penting adalah pembentukan identitas. Pembentukan identitas bukan merupakan sesuatu yang mudah. Pembentukan ini dapat terjadi melalui perdebatan atau konflik berupa berbagai pertanyaan yang harus dijawab satu per satu. Alquran menggambarkan konflik dalam

(21)

18 kehidupan manusia sebagai berikut:“Dan Kami telah menunjukkan

kepadanya dua jalan. Tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki lagi sukar.” (QS. Al-Balad [90]:10-H).

Pembentukkan identitas ini tidaklah mudah, namun sangat penting. Pembentukan identitas diri secara kolektif dapat menjadi identitas sosial yang membentuk dinamika masyarakat tersebut.

(22)

19

A. Kesimpulan

BAB III PENUTUP

Perkembangan remaja adalah perubahan yang terjadi dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Remaja dibagi menjadi 3 tahap yaitu, remaja awal, remaja madya, dan remaja akhir. Remaja madya adalah masa dimana usia individu dari umur 15-18 tahun, pada masa ini terdapat beberapa aspek perkembangan yang dilalui yaitu perkembangan fisik, perkembangan kognitif, perkembangan social, dan perkembangan emosional. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan remaja yaitu faktor lingkungan, kehendak dan ketentuan Allah, faktor keluarga, faktor internal, faktor penalaran moral.

B. Saran

Pergaulan remaja saat ini perlu mendapat sorotan utama, karena pada masa sekarang pergaulan remaja sangat mengkhawatirkan dikarenakan perkembangan arus modernisasi yang mendunia serta menipisnya moral serta keimanan seseorang khususnya remajanya pada saat ini. Adapun beberapa factor yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam membimbing remaja, yaitu sebagai berikut:

1. Orang tua dan pendidik sebagai bagian masyarakat yang lebih berpengalaman memiliki peranan penting dalam membantu perkembangan remaja menuju kedewasaan.

2. Bimbingan orang tua dan guru sangat diperlukan agar remaja tidak salah arah, karena dimasyarakat amat banyak pengaruh negative yang dapat menyengsarakan masa depan remaja. 3. Sebaiknya orang tua memberikan pengetahuan mengenai seks

(23)

20

DAFTAR PUSTAKA

Batubara, J. R. (2016). Adolescent development (perkembangan remaja). Sari

pediatri, 12(1), 21-9.

Hasan, A. B. P., & Aliah, B. (2008). Psikologi Perkembangan Islam: Menyingkap

Rentang Kehidupan Manusia dari Pra kelahiran hingga Pasca kematian.

Rajagrafindo.

Jahja, Yudrik 2011. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Prenadamedia Group. Sharif, Z., & Mohamad Roslan, N. (2011). Faktor-faktor yang mempengaruhi remaja terlibat dalam masalah sosial di Sekolah Tunas Bakti, Sungai Lereh, Melaka. Journal of Education Psychology & Counseling, 1(7), 115-140.

“Remaja Madya” http://digilib.uinsby.ac.id/20659/4/Bab%202.pdf, diakses pada 12 April 2021.

Referensi

Dokumen terkait

Anak akan memasuki keadaan yang serba baru, remaja dianggap bukan lagi anak-anak, karena pada masa remaja terjadi perubahan fisik yang sangat cepat sehingga menyerupai orang

berpendapat bahwa pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam

Pada masa ini banyak perubahan-perubahan yang terjadi baik dari fisik maupun psikis dari seorang yang sudah memasuki masa remaja ini. fisik maupun psikis dari

1) Peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang dikenal dengan sebagai masa storm & stress. Peningkatan emosional ini merupakan

Berkaitan dengan perkembangan jiwa agama pada masa remaja, zakiah derajat membagi kepada dua tahap, yaitu (1) Masa Remaja Awal, (2) Masa Remaja Akhir..

Masa Perkembangan Yang Cepat Pada anak terjadi pertumbuhan- pertumbuhan yang cepat dibandingkan dengan perubahan-perubahan yang dialami spesies lain..

Remaja adalah masa peralihan diri anak menuju dewasa, pada masa ini terjadi berbagai macam perubahan yang cukup bermakna baik secara fisik, biologis, mental dan

Dikalangan remaja pengalaman dapat menjadi sumber pengetahuan yang mana di masa awal remaja terjadi banyak perubahan yang cepat diantaranya perubahan fisik yang berdampak pada