“Gerak Melintas Setengah Abad
Pelajar Muhammadiyah, Penguatan
Komunitas untuk Gerakan Pelajar
Kreatif”
TANFIDZ MUKTAMAR
IKATAN PELAJAR MUHAMMADIYAH XVII
Yogyakarta, 2-8 Juli 2010
Pimpinan Pusat
Ikatan Pelajar Muhammadiyah
Periode 2010-2012
Editor
Dzulfikar Ahmad Tawalla M. Arif Hidayatulloh
Marjuansyah Indra Jaya Sikumbang
Desain Cover Surya Sarana Grafika
Lay Out & Cetak Surya Sarana Grafika
Penerbit Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah Jl. KHA. Dahlan No. 103 Yogyakarta
Telp./Fax. 0274-411293 Jl. Menteng Raya No. 62 Jakarta
Telp./Fax. 021-3103940 email. [email protected]
PENGANTAR
KETUA UMUM PIMPINAN PUSAT
IKATAN PELAJAR MUHAMMADIYAH
2010-2012
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Tak ada kalimat yang lebih
bermakna dan penuh syukur
selain alhamdulillahirabbil ‘alamin.
Nikmat yang luar biasa karena akhirnya Muktamar IPM XVII dapat berlangsung dengan lancar. Proses panjang yang cukup menyita energi dan pikiran demi langkah gerakan IPM selama dua tahun kedepan 2010-2012.
Muktamar IPM XVII merupakan Muktamar pertama setelah perubahan nomenklatur Ikatan Remaja Muhammadiyah menjadi Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Muktamar IPM XVII menjadi momentum sejarah baru bagi IPM ditengah pusaran Muhammadiyah dalam abad kedua. Muktamar yang berbarengan dengan Muktamar Satu Abad Muhammadiyah adalah spirit sejarah dan teologis gerakan yang menjadi tumbuh kembangkan harapan gerakan yang lebih progressif dan kreatif.
Basis-basis gerakan IPM yang ada diranting harus bisa massif sebagai sumber motor penggerak ikatan dan inspirasi kreatifitas yang tak kenal henti. IPM tidak akan mudah menjadi garda terdepan gerakan jika
hasil dari Muktamar XVII yang ditetapkan tidak dapat diaplikasikan dilapangan.
Kita semua berharap semua keputusan Muktamar dapat ditaati dan dilaksanakan disemua jenjang struktur pimpinan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (Ranting, Cabang, Daerah, Wilayah maupun Pusat). Memasuki usia emas ke-50 IPM memiliki beban berat sebagai central ideology dan perkaderan di Persyarikatan Muhammadiyah, maka kebijakan yang ditelurkan haruslah menjadi pijakan dalam melakukan berbagi agenda gerakan.
Semoga dengan terbitnya Tanfidz Muktamar IPM XVII menjadi pijakan gerakan yang matang untuk melakukan terobosan tafsir gerakan disemua ranah strutural dalam rangka menjawab tantangan zaman.
Nuun Wal Qalami Wamaa Yasthuruun. Wassalamu’alaikum Wr Wb.
Jakarta, 18 Agustus 2010 Slamet Nur Achmad Effendy
Pengantar Ketua Umum PP IPM ... iii
Daftar Isi ... v
Surat Keputusan Tentang Pengesahan Tanfidz ... 1
Surat Instruksi Tentang Pelaksanaan Tanfidz ... 2
Keputusan Induk Muktamar XVII IPM ... 3
Surat Keputusan Pengesahan Susunan PP IPM ... 8
Tanfidz Muktamar XVII IPM ... 9
Muqoddimah ... 11
Anggaran Dasar IPM ... 11
Kepribadian IPM ... 23
Janji Pelajar Muhammadiyah ... 36
Gerakan Pelajar Kreatif ... 37
Arah Strategi Gerakan Pelajar Kreatif ... 41
Agenda Aksi IPM ... 46
Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga IPM ... 61
Anggaran Dasar IPM ... 63
Anggaran Rumah Tangga IPM ... 81
Struktur Pimpinan IPM ... 125
Kebijakan dan Program-Program Bidang IPM ... 132
Rekomendasi Muktamar XVII IPM ... 141
DAFTAR ISI
KEPUTUSAN INDUK MUKTAMAR XVII
IKATAN PELAJAR MUHAMMADIYAH
TAHUN 2010
Nomor: VI-SK-Muktamar XVII/A.2/PP. IPM-006/2010 Tentang Keputusan Muktamar XVII IPM Muktamar XVII Ikatan Pelajar Muhammadiyah setelah: Menimbang :
Tema “Melintasi Setengah Abad Pelajar Muhammadiyah : Penguatan Komunitas untuk Gerakan Pelajar Kreatif
Memperhatikan :
1. Pidato Sambutan Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2005-2010 Prof. Dr. H. Din Syamsudin
2. Pidato Sambutan Ketua Umum PP IPM Periode 2008-2010 Ipmawan Deni Wahyudi Kurniawan
3. Usul dan saran dari Peserta Muktamar Mengingat :
1. Anggaran Dasar IPM Pasal 29
2. Anggaran Rumah Tangga IPM Pasal 33 MEMUTUSKAN
Menetapkan Pertama :
Laporan Pertanggungjawaban Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah periode Muktamar
XVI (2008-2010) Kedua :
Progress Report dan Pandangan Umum Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhamamdiyah se-Indonesia
Ketiga :
Mengesahkan Anggota Sidang Komisi A, B, C Muktamar XVII Ikatan Pelajar Muhamamdiyah Keempat :
Mengesahkan Hasil Pembahasan Sidang Komisi Muktamar XVII Ikatan Pelajar Muhamamdiyah, yaitu
Komisi A : Muqoddimah, Kepribadian, dan Janji Pelajar
Komisi B : AD, ART, dan Rekomendasi
Komisi C : Gerakan Pelajar Kreatif, Arah Strategis, Agenda Aksi
Kelima :
Mengesahkan Hasil Pemilihan Ketua Umum dan Formatur Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhamamdiyah periode 2010-2012, yaitu:
Ketua Umum : Slamet Nur Achmad Effendy Formatur :
Infa Wilindiya
Zulfikar Ahmad Tawalla Nasrullah
Putra Batu bara Sedek Bahta Dede Kurniasih Danik Eka Agus Suroyo
Keenam :
Keputusan ini berlaku sejak ditetapkannya Ditetapkan di :
Gedung Dakwah Muhammadiyah Bantul Pada : 8 Juli 2010 Pukul : 00.30 Ketua, dto Latif Ajron Sekretaris, dto
Galih Ayu Kinanti
Anggota dto Dedi Setiawan
TANFIDZ MUKTAMAR XVII
IKATAN PELAJAR MUHAMAMDIYAH
MUQODDIMAH
ANGGARAN DASAR IKATAN PELAJAR
MUHAMMADIYAH
“Dengan nama Allah yang maha pemurah dan maha
penyayang. Segala puji bagi Allah yang menguasai alam
semesta. Yang maha pemurah dan maha penyayang. Yang menguasai pada hari pembalasan. Hanya kepada Engkau, hamba menyembah dan hanya kepada Engkau, hamba memohon pertolongan. tunjukilah kami jalan yang lurus hamba akan jalan yang lurus. Jalan orang-orang yang telah Engkau beri kenikmatan yang tidak dimurkai dan tidak tersesat.” (QS. Al-Fatihah ayat 1-7).
ِللها
ُلْوُسَر اًدَّمَ ُم َّنَأ ُدَهْشَأ َو ُللها َّلاِإ َلهِإ َلا ْنَأ ُدَهْشَأ
ًلاْوُسَرَّو ًّايِبَّن ٍدَّمَحُمِبَو ًانْيِد ِمَلاْسِلإاِبَو اًّبَر ِللهاِب ُتْي ِضَر
“Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah. Saya rela Allah Tuhan saya, Islam adalah agama saya, dan Muhammad adalah nabi dan rasul saya.”
Ikatan Pelajar Muhammadiyah berkeyakinan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa yang harus disembah dan dimintai pertolongan. Tiada Tuhan selain Dia. IPM meyakini sejak awal kehidupan, manusia sudah bersaksi atas ketuhanan Allah swt, sebagaimana disebutkan dalam firmannya:
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”, (Q.S. Al A’raaf : 172)
Agama Islam adalah agama Allah yang dibawa sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad SAW dan diajarkan kepada umatnya masing-masing untuk mendapatkan hidup bahagia di dunia dan akhirat. Karena itu, Muhammad sebagai nabi dan rasul terakhir sekaligus sebagai penyempurna agama-agama sebelumnya. Dengan beliaulah kita harus mencontoh perilakunya.
Dengan semangat itulah IPM berkeyakinan mampu menjadi sebuah organisasi yang selalu melakukan amar makruf nahi munkar. Sebuah amaliyah yang selalu dilakukan oleh Muhammadiyah sebagai induk IPM. Amar makruf nahi mungkar tersebut didorong oleh firman Allah dalam Al-Qur’an
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada yang ma’ruf (Kebajikan) dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran ayat 104).
Kelahiran IPM yang jatuh pada tanggal 18 Juli 1961 tentu tidak lahir pada ruang yang hampa. Dia lahir atas kesadaran kolektif di internal Muhammadiyah, bahwa sekolah-sekolah Muhammadiyah yang pada saat itu sudah berkembang perlu dibentengi ideologi Islam agar akidah mereka kuat atas berkembangnya ideologi komunis pada saat itu.
Namun dalam perjalanannya, IPM tidak hanya menjadi organisasi elitis yang tidak menyentuh basis
perjuangannya, yaitu pelajar. Karena itu, tuntutan terhadap IPM untuk benar-benar berjuang dan berpihak pada pelajar pun memiliki landasan utama sebagaimana yang termaktub dalam ayat suci Al-Qur’an:
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran ayat 110).
Karena itu, jika IPM ingin dikatakan sebagai organisasi unggulan, maka dia harus terlibat aktif pada persoalan-persoalan riil di tingkatan pelajar. Tentunya, IPM tidak boleh terlena oleh kejayaan-kejayaan masa lalu dan menjadi diam di masa sekarang. Justru masa lalu itu dijadikan spirit bagi IPM untuk menjadi pelopor, pelangsung, dan penyempurna gerakan Muhammadiyah di masa yang akan datang. Di sinilah kaderisasi di IPM diharapkan mampu menjadi anak panah Muhammadiyah. Landasan untuk melihat masa depan itu tertuang dalam ayat Al-Qur’an yang berbunyi:
“dan hendaklah takut kepada Alloh orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Alloh dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (QS An-Nisa : 9)
Apa yang telah dilakukan hari ini dan masa lalu harus menjadi cermin untuk berbuat di masa yang akan datang dan tidak meninggalkan generasi yang lemah, sehingga dalam gerakannya IPM mampu meninggalkan generasi-generasi yang kuat dalan berilmu, karena ilmu adalah harta paling barharga bagi seorang pelajar. Karena memang segala sesuatu harus berlandaskan ilmu yang bisa diterima oleh akal. Dan dengan iman dan ilmu derajat manusia diangkat. Hal ini diilhami oleh salah satu ayat Al-Qur’an:
“Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan
untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Mujadilah : 11)
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra’ ayat 36).
“…Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (Q.S. Az-Zumar : 9)
Karena berdasarkan ilmu pengetahuan itulah, IPM harus berani bertindak untuk cita-cita perubahan ke arah yang lebih baik. Entitas hidup tidak selamanya diam (given). Karena itu, setiap waktu harus mengalami perubahan. IPM dalam bertindak harus mampu mewujudkan cita-cita perubahan itu di kalangan pelajar. Allah SWT telah menjelaskan dalam Al-Qur’an tentang perubahan tersebut.
“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga kaum itu sendirilah yang akan merubah keadaan yang ada pada diri mereka”. (QS. Ar-Ra’d ayat 11). Melakukan suatu perubahan diharuskan adanya kebersamaan dalam ikatan tanpa memandang salah satu pihak. Sehingga semua elemen ikatan mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi aktor dan melakukan perubahan. Hal itu sesuai dengan Al Qur’an :
“Hai orang – orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang – orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, mejadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali – kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. Al-maidah Ayat 8).
“Sesungguhnya Allah menyruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kabajikan, memberi kepada kaum kerabat dan allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia member pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”. (Q.S. An – Nahl ayat 90)
Atas dasar pijakan di atas IPM, sebagai salah satu organisasi berbasis pelajar dan juga sebagai salah satu ortom Muhammadiyah didirikan sebagai bentuk respon terhadap penjagaan ideologi pelajar dari ideologi komunis yang berkembang pada saat itu berdiri. Selain itu, IPM berdiri karena sebuah keharusan bagi Muhammadiyah untuk menanamkan nilai-nilai ideologi perjuangan Muhammadiyah kepada kader-kader yang kebetulan saat itu Muhammadiyah telah memiliki lembaga-lembaga pendidikan (sekolah). Karena itu perlu organisasi Muhammadiyah sayap pelajar yang nantinya konsen pada persoalan-persoalan pelajar dan dunianya.
Di samping itu pula, Kelahiran IPM memiliki dua nilai strategis. Pertama, IPM sebagai aksentuator gerakan dakwah amar makruf nahi munkar Muhammadiyah di kalangan pelajar (bermuatan pada membangun kekuatan pelajar menghadapi tantangan eksternal). Kedua, IPM sebagai lembaga kaderisasi Muhammadiyah yang dapat membawakan misi Muhammadiyah di masa yang akan datang.
Dalam perjalanannya IPM berubah menjadi IRM (Ikatan Remaja Muhammadiyah). IRM adalah nama lain dari IPM yang memiliki filosofi gerakan yang tidak berbeda dengan IPM. Hanya saja IRM memiliki jangkauan yang lebih luas yakni remaja. IRM dengan garapan yang luas tersebut mempunyai tantangan yang berat karena tanggung jawab moral yang semakin besar. Gerakan IRM senantiasa dituntut untuk dapat menjawab persoalan-persoalan keremajaan yang semakin kompleks di tengah dinamika masyarakat yang selalu mengalami perubahan.
Dinamika gerakan terus terjadi membuat Ikatan Remaja Muhammadiyah mengubah diri kembali menjadi Ikatan Pelajar Muhamamdiyah (IPM). Perubahan ini tidak hanya perubaan huruf “P” menjadi “R”. Dalam perubahan ini ada semangat untuk membebaskan pelajar dari berbagai tekanan dan penindasan dari berbagai kalangan.
Hal ini karena karena IRM (pada waktu itu) masih melihat fenomena pelajar yang terus dijadikan obyek kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak adil, banyaknya penindasan-penindasan terhadap pejar itu sendiri, dan masih banyak pelajar yang sampai sekarang terpasung hak-haknya untuk mengembangan bakat, ketrampilan serta keilmuan. Selain itu orang masih meragukan bahwa sebenarnya pelajar mampu menjadi subyek dalam setiap perubahan positif. Dalam hal inilah urgensi untuk kembali kepada pelajar, sehingga gerakan IPM bisa fokus dari, oleh, dan untuk pelajar.
Atas dasar di atas, dirumuskanlah nilai-nilai dasar Ikatan Pelajar Muhammadiyah sebagai berikut:
1. Nilai Ketauhidan
Tauhid dimaknai sebagai sebuah keyakinan bahwa hanya Allah swt. yang berhak disembah, dimintai pertolongan, dan manjadi tujuan umat Islam. Apa yang dilakukan oleh manusia baik secara individu maupun kolektif (organisasi) tiada lain adalah upaya untuk mendekatkan kepada-Nya dan hanya untuk mendapat ridho-kepada-Nya.
Agama Islam yang menjadi agama yang diterima di sisi Allah. Islam yang dimaksud adalah Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin yang membawa kebenaran, keadilan, kesejahteraan, dan ketentraman bagi seluruh umat manusia yang bersumber dari Al-Qur’an dan as-Sunnah. Artinya, Islam yang dihadirkan oleh IPM adalah Islam yang sesuai dengan konteks zaman yang selalu berubah-ubah dari satu masa ke masa selanjutnya.
2. Nilai Keilmuan
Nilai ini menunjukkan bahwa IPM memiliki perhatian serius terhadap ilmu secara luas, artinya dalam setiap gerakan IPM selalu mempunyai landasan keilmuan yang jelas, tidak mengkhayal atau sekedar asumsi kosong tanpa data sedikitpun. Lebih khusus lagi dalam Ilmu pengetahuan, dengan ilmu pengetahuan kita akan mengetahui dunia secara luas, tidak hanya sebagian saja. Karena dari waktu ke waktu, ilmu pengetahuan akan terus berkembang dan berubah. IPM berkeyakinan, ilmu pengetahuan adalah jendela dunia.
3. Nilai Kekaderan
Sebagai organisasi kader Muhammadiyah, nilai ini menjadi konsekuensi tersendiri bahwa IPM harus berjuang untuk mewujudkan kader anak Panah Muhammadiyah di lingkungan pelajar. Kader-kader yang militan dalam berjuang juga memiliki daya kritis dalam menghadapi realita sosial. 4. Nilai Kemandirian
Nilai ini ingin mewujudkan kader-kader IPM yang memiliki jiwa yang independen dan memiliki ketrampilan pada bidang tertentu (skill) sebagai bentuk kemandirian personal dan gerakan tanpa tergantung pada pihak lain.
5. Nilai Keadilan
Sebagai organisasi yang berbasis pelajar, maka IPM berkewajiban melakukan pembelaan terhadap hak-hak pelajar. Dalam menjalankan kewajibannya IPM kemudian harus mempunyai nilai keadilan, nilai keadilan adalah suatu perwujudan kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang.
Selain itu IPM tidak bisa lepas dari masyarakat sekitarnya, IPM harus peduli dan berinteraksi dengan masyarakat. Hal ini penting karena tidak ada transformasi dalam proses advokasi tanpa adanya keikutsertaan serta kepedulian terhadap masyarakat yang ada.
Nilai-nilai itulah yang menjadi semangat gerak IPM dalam setiap langkah geraknya. Sebagai aturan dan panduan dalam operasionalisasi langkah gerak
IPM maka disusunlah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Aturan dan panduan ini merupakan aturan yang harus dilaksanakan selama tidak bertentangan dengan dasar hukum yang lebih kuat yaitu Al-qur’an dan As-Sunnah, sebagaimana firman Allah swt
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Q.S. An-Nisa:59)
KEPRIBADIAN
IKATAN PELAJAR MUHAMMADIYAH
PENGERTIAN DAN FUNGSI KEPRIBADIAN IPM
Kepribadian IPM adalah rumusan yang menggambarkan hakikat IPM, serta apa yang menjadi dasar dan pedoman amal perjuangan IPM, serta karakter gerakan yang dimilikinya. Kepribadian IPM ini berfungsi sebagai pedoman dan pegangan bagi gerak IPM menuju cita-cita terwujudnya pelajar yang ilmu, berakhlak mulia, dan terampil.
MUATAN KEPRIBADIAN IPM
1. DefinisiIkatan Pelajar Muhammadiyah
IPM adalah gerakan Islam amar makruf nahi munkar di kalangan pelajar yang ditujukan kepada dua bidang, pertama perorangan dan kedua masyarakat. Dakwah pada bidang pertama terbagi kepada dua golongan:
a. Kepada yang telah Islam bersifat
pembaharuan (tajdid) berdasarkan pada nilai-nilai ajaran Islam.
b. Kepada yang belum Islam, bersifat seruan dan ajakan untuk mengikuti nilai-nilai ajaran Islam.
Adapun dakwah amar makruf nahi munkar kedua ialah kepada masyarakat, bersifat perbaikan, bimbingan, dan peringatan. Kesemuanya itu dilaksanakan bersama dengan bermusyawarah
atas dasar takwa dan mengharap keridhaan Allah semata. Dengan ini diharapkan dapat membentuk pelajar muslim yang berkahlak mulia, berilmu, dan terampil sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya di kalangan pelajar. 2. Sejarah Ikatan Pelajar Muhammadiyah
Ikatan Pelajar Muhammadiyah lahir pada tanggal 05 Shafar 1381 H bertepatan dengan tanggal 18 Juli 1961. Dalam perjalannya, IPM mengalami tantangan baik di internal maupun di eksternal. Tantangan paling berat adalah berhadapan dengan rezim yang berkuasa pada saat itu, Orde Baru, yang meminta IPM harus berasaskan pancasila dalam setiap gerak perjuangannya. Perjalan itu akhirnya berujung pada tahun 1992, pemerintah “mendesak” IPM harus berganti nama. Kebijakan pemerintah yang hanya mengijinkan OSIS sebagai satu-satunya organisasi kepelajaran di tingkat nasional membuat IPM yang notabene adalah organisasi pelajar berusaha keras untuk mempertahankan eksistensinya. Maka diadakanlah Tim Eksistensi IPM untuk melakukan kajian yang mendalam tentang permasalahan tersebut. Tim Eksistensi melihat persoalan dari dua segi. Pertama, masalah itu adalah tekanan luar biasa dari pemerintah untuk mengganti kata “pelajar” sehingga hal ini menyangkut hidup dan matinya IPM. Kedua, dikaitkan dengan perkembangan IPM baik secara vertikal maupun horizontal. adalah realitas empirik yang mendorong keinginan untuk memperluas obyek garapan dakwah IPM.
Akhirnya diputuskanlah perubahan nama lkatan Pelajar Muhammadiyah menjadi lkatan Remaja Muhammadiyah. Keputusan nama oleh PP IRM ini tertuang dalam SK PP IPM yang selanjutnya disahkan oleh PP Muhammadiyah tanggal 18 November 1992 M.
Perubahan IPM berubah nama menjadi IRM yang ditetapkan dengan Surat Keputusan Pimpinan Pusat Ikatan Remaja Muhammadiyah No. VI/PP.IRM/1992 tertanggal 24 Rabiul Akhir 1413 H, bertepatan dengan tanggal 22 Oktober 1992 dan disahkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui Surat Keputusan No. 53/ SK/IV.13/1.b/1992 tertanggal 22 Jumadil awal 1413 H bertepatan dengan tanggal 18 Nopember 1992.
Pada perkembangan selanjutnya, setelah runtuhnya rezim Orde Baru dengan mundurnya Soeharto sebagai presiden RI kedua, gejolak untuk mengembalikan nama dari IRM menjadi IPM kembali hidup pada Muktamar XII di Jakarta tahun 2000. Pada setiap permusyawaratan muktamar sekanjutnya pun, dialektika pengembalian nama terus bergulir seperti ”bola liar” tanpa titik terang. Barulah titik terang itu sedikit demi sedikit muncul pada Muktamar XV IRM di Medan tahun 2006. Pada Muktamar kali ini dibentuk ”Tim Eksistensi IRM” guna mengkaji basis massa IRM yang nantinya akan berakibat pada kemungkinan perubahan nama.
Di tengah-tengah periode ini pula, PP Muhammadiyah mendukung adanya keputusan perubahan nama itu dengan mengeluarkan SK
nomenklatur tentang perubahan nama dari Ikatan Remaja Muhammadiyah menjadi Ikatan Pelajar Muhammadiyah.
Keputusan perubahan nama tertuang dalam Surat Keputusan PP Muhammadiyah No. 60/ KEP/I.0/B/2007 tanggal 07 Jumadal Awwal 1428 H bertepatan dengan tertanggal 24 Mei 2007 M. SK ini merupakan dasar hukum perubahan nama IRM menjadi IPM. Walaupun demikian masih banyak perdebatan tentang perubahan ini di struktur IRM sampai tingkat bawah. Akhirnya untuk menengahi hal tersebut secara de facto IRM berubah menjadi IPM pada tanggal 28 Oktober 2008 M pada saat Muktamar XVI IRM di Solo. 3. Dasar dan Amal Perjuangan IPM
Dalam perjuangan melaksanakan usahanya menuju terwujudnya pelajar muslim yang berkahlak mulia, berilmu, dan terampil sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka IPM mendasarkan segala aspek dan amal perjuangannya atas prinsip-prinsip berikut ini: a. IPM adalah gerakan Islam, dakwah amar
makruf nahi munkar di kalangan pelajar.
b. IPM berperan aktif sebagai kader
persyarikatan, umat, dan bangsa dalam
menunjang pembangunan manusia
seutuhnya menuju terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
c. IPM sebagai gerakan pelajar yang
membangun nalar keilmuan dan respon terhadap perkembangan zaman
Muhammadiyah yaitu sebuah organisasi yang diberi keleluasaan dalam mengelola rumah tangganya sendiri tanpa campur tangan dan intervensi.
e. IPM adalah organisasi independen yaitu organisasi mandiri yang berada dalam bingkai kebebasan dan kemerdekaan untuk menentukan sikap dalam berpihak hanya kepada kebenaran.
f. IPM sebagai gerakan advokasi pelajar.
4. Penjabaran Dasar dan Amal Perjuangan IPM a. IPM Sebagai Gerakan Dakwah di Kalangan
Pelajar
IPM memandang bahwa Islam adalah satu-satunya jalan yang menyelamatkan kehidupan manusia di dunia dan di akhirat. Ajaran Islam bersifat universal dan jika dihayati, dan diaktualisasikan dengan tepat, ajaran itu membawa daya ubah yang luar biasa dalam sejarah peradaban manusia. Akan tetapi untuk menuju ke arah itu banyak instumentasi yang harus dipenuhi dan diadakan, diantaranya adalah media dakwah. Dakwah Islam berfungsi sebagai mediator antara nilai-nilai ajaran Islam dengan realitas kehidupan umat Islam yang dalam banyak kesempatan terlalu jauh kesenjangannya, artinya umat Islam banyak yang belum tersentuh atau terpanggil oleh nilai luhur ajaran agamanya. Pada konteks ini dakwah sangat penting dan menentukan dalam kehidupan beragama, dengan kata
lain tanpa dakwah, Islam tidak akan berarti dan bermakna dalam realitas kehidupan.
IPM menegaskan dirinya sebagai gerakan dakwah Islam untuk ambil bagian dalam proses reformasi atau pembaharuan umat. Dakwah Islam IPM adalah dakwah amar makruf nahi munkar yang dipahami sebagai proses; Pertama, pembebasan manusia (liberasi) dari perilaku negatif dan kebiasaan buruk. dan kedua, pelibatan manusia (emansipasi dan transformasi) secara aktif dalam pembangunan kehidupan yang positif pada segala aspek.
Secara institusional, IPM adalah media para kadernya untuk berdakwah. Sehingga dakwah IPM adalah dakwah yang memiliki; Pertama, subyek yaitu kader-kader organisasi yang terdiri dari para pelajar muslim yang concern dan memiliki komitmen perjuangan. Dan kedua, yaitu obyek, yakni sasaran dakwah IPM yang terdiri atas komunitas pelajar dengan pribadi-pribadi pelajar sebagai sasaran pokok.
Dalam dakwah IPM, landasan utamanya adalah semangat tauhid. Semangat tauhid artinya bahwa misi perjuangan dakwah IPM adalah menegakkan nilai-nilai Islam seperti yang telah difirmankan oleh Allah SWT. b. IPM Sebagai Gerakan Kader di Kalangan
Pelajar
IPM adalah lembaga kaderisasi yang salah satu fungsinya adalah melakukan proses
penyiapan kader-kader untuk terlibat dalam aktifitas kemanusiaan dan kemasyarakatan yang lebih luas dari lingkup IPM. Dan satu pertimbangan yang tidak bisa dipungkiri bahwa IPM merupakan organisasi otonom Muhammadiyah dan berfungsi menjaga proses kaderisasi di Muhammadiyah. ltu artinya IPM sebagai lembaga kaderisasi Muhammadiyah. Fungsi pertama dan fungsi kedua IPM sebagai gerakan kader yang tersebut tadi secara sistematik dapat diurai sebagai berikut:
1. Fungsi Kader Persyarikatan
IPM merupakan organisasi kader bagi Muhammadiyah maka IPM berfungsi sebagai lembaga kaderisasi yang out-putnya adalah kader-kader persyarikatan baik sebagai pimpinan maupun pemegang amal usaha di masa yang akan datang. Untuk itu dalam melakukan fungsi tersebut yang perlu diperhatikan dalam proses kaderisasinya adalah:
a. Corak pengkaderan IPM adalah “Paradigma Kritis Transformatif”, yaitu kaderisasi yang menekankan pada aspek penanaman ideologi yang berbasis pada ilmu dan akhlak.
b. Pengembangan Paradigma kritis tersebut bermuara kepada lahirnya trilogi pembaharuan IPM (jihad, ijtihad, dan mujahadah) yaitu etos
kerja, etos intelektual dan etos spiritual.
2. Fungsi Kader Umat dan Bangsa
Komitmen IPM terhadap proses transformasi masyarakat, bangsa dan negara terwujud dari sumbangan IPM berupa kader-kader yang siap melakukan artikulasi konstruktif dalam rangka pembaharuan dan pembangunan masyarakat, bangsa dan negara. Untuk itu maka:
a. Corak rekruitmen kader IPM harus terbuka (inklusif) terhadap berbagai latar belakang dan potensi pelajar.
b. Dikembangkan
pengkaderan-pengkaderan altenatif untuk
mengakomodir pluralitas kader dan mengalokasikan kader tersebut pada posisi-posisi yang meluas.
c. IPM Sebagai Gerakan Keilmuan di Kalangan
Pelajar
Salah satu karakter pokok IPM untuk menegaskan eksistensinya adalah karakter keilmuan. Corak keilmuan IPM tidak lepas dari kristalisasi prinsip kritis transformatif yang menjadi patron bagi pelajar muhammadiyah dalam menaggapi realitas secara ilmiah. Karakter keilmuan tersebut memiliki ciri pemikiran secara dialektis, yakni, ilmu-iman-amal, iman-amal ilmu, amal-ilmu-iman yang dipahami sebagai kesatuan integral yang tidak dapat dipisahkan dan harus
dimiliki oleh setiap kader. Sehingga, gerakan keilmuan IPM tidak terjebak pada diskursus keilmuan yang dibangun atas dasar nalar
instrumental, serba-bebas, serba-boleh
(anarkisme), maupun perspektif keilmuan yang terpisah jauh dari nilai-nilai ilahiyah/ ketuhanan.
Poinnya, karakter keilmuan IPM mengharuskan kadernya untuk memiliki sifat-sifat ilmu, yaitu: kritis (Q.S. Al Isra: 36), terbuka menerima kebenaran dari manapun datangnya (Q.S. Az-Zumar: 18), serta senantiasa menggunakan daya nalar (Q.S. Yunus: 10). Sifat kritis dan penggunaan daya nalar tersebut pada akhirnya akan melahirkan kreatifitas pada diri seorang kader.
Pokok pikiran tersebut sekaligus sebagai dasar keilmuan IPM yang mencakup rumusan berikut:
1. Pandangan keilmuan IPM memandang pengetahuan sebagai kesatuan hidup yang hanya dapat tercapai dengan sikap krtis dan terbuka dengan menggunakan akal sehat.
2. Pandangan keilmuan IPM mendasarkan akal sebagai kebutuhan dasar hidup manusia.
3. Pandangan keilmuan IPM memandang logika sebagai pendidikan tertinggi bagi akal manusia yang hanya akan dicapai jika manusia menyerah kepada petunjuk Allah.
d. IPM Sebagai Organisasi Otonom Muhammadiyah di Kalangan Pelajar
Eksistensi IPM sebagai gerakan dakwah dan kader adalah untuk mendukung gerakan dakwah Muhammadiyah. Dengan kata lain IPM menjadi bagian dalam dakwah Muhammadiyah dengan ruang lingkup yang lebih terbatas, dalam hal ini IPM concern pada pelajar. Sebagai perpanjangan
tangan Muhammadiyah dilingkungan
pelajar, prinsip-prinsip gerakan IPM harus sama dengan prinsip-prinsip gerakan Muhammadiyah, yaitu menegakkan dan menjunjung tinggi agama lslam demi terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Pada sisi yang lain IPM adalah sebuah organisasi yang otonom artinya
terpisah secara kelembagaan dengan
Muhammadiyah. Sebagai organisasi otonom, IPM memiliki hak dan kewajiban untuk mengelola rumah tangganya sendiri dalam binaan Muhammadiyah.
Untuk memadukan antara realitas primordial IPM yaitu sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari dakwah Muhammadiyah dan IPM sebagai organisasi otonom Muhammadiyah, maka dapat rumuskan pemahaman sebagai berikut:
1. IPM selama menjadi organisasi
otonom Muhammadiyah berkewajiban untuk menjalankan misi dakwah Muhammadiyah dikalangan pelajar
dan. remaja
2. Sifat otonom IPM atas Muhammadiyah
dapat dipahami sebagai sifat
kemandirian dalam bersikap, bertindak, dan mengambil kebijakan selama hal-hal tersebut tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar ikatan dan persyarikatan.
e. IPM Sebagai Organisasi Independen di Kalangan Pelajar
Manusia dilahirkan di muka bumi ini dengan membawa sifat dasar merdeka/
bebas. Kemerdekaan atau kebebasan
manusia tersebut merupakan modal
untuk mencapai kemuliaan dan derajat tertinggi sebagai manusia. Kemerdekaan/ kebebasan berarti manusia terbebas dari faktor-faktor dan pengaruh-pengaruh di luar dirinya yang menyebabkan dia tidak leluasa untuk menentukan keberpihakannya kepada sesuatu yang diyakininya sebagai kebenaran. Sehingga dapat dinyatakan bahwa sifat kemandirian IPM berada dalam frame kebebasan dan kemerdekaan untuk menentukan sikap dalam berpihak hanya kepada kebenaran.
Kemandirian IPM secara organisatoris berimplikasi kepada sikap percaya diri untuk bebas melakukan kebijakan dan aktifitas apa saja yang dapat menghantarkan kepada cita-cita dan tujuan perjuangan. Dengan mempertimbangkan pandangan tersebut maka:
1. IPM bukan organisasi yang menjadi bawahan organisasi manapun
2. IPM bebas melakukan interaksi dan kerja sama dengan organisasi, lembaga, instansi dan institusi manapun dengan sebuah komitmen yaitu kerjasama dan interaksi yang saling membangun dan menguntungkan. Dan IPM menolak tegas komitmen yang bertujuan merusak prinsip-prinsip dasar Ikatan dan membawa IPM kepada aliansi yang bersifat organisatoris yang permanen sehingga dapat mengikat gerakan IPM secara kelembagaan.
3. Interaksi dan kerjasama organisatoris yang di bangun IPM dengan organisasi, lembaga, institusi dan instasi manapun tidak mengurangi kritisisme IPM, karena watak perjuangan IPM berkaitan dengan pola-pola hubungan eksternal adalah kritis, konstruktif, dan korektif.
f. IPM Sebagai Gerakan Advokasi Pelajar.
IPM sebagai salahsatu gerakan pelajar juga ikut memperjuangkan nilai – nilai keadilan termasuk juga didalamnya adalah hak dan kewajiban pelajar dilingkungannya. Pelajar selama ini masih selalu saja dianggap sebagai objek dari lingkungannya. IPM akan memperjuangkan dan membela gerakan equal access (kesamaan/ keadilan akses) baik secara vertikal (sesama pelajar) atau horizontal (pelajar dengan pihak – pihak
lainnnya). Dengan demikian maka IPM memiliki tugas sebagai berikut :
1. Menghilangkan hegemoni pemerintah terhadap pelajar
2. Mendorong otonomi pelajar untuk demokrasi
3. Pelajar dapat berperan dalam kegiatan sosial di lingkungannya
4. Kader IPM dapat posisi strategis di Muh dan Pemerintah
5. Menjadikan kader IPM peduli lingkungan, menjaga dan melindungi alam
6. Menguasai media yang ada untuk berpihak kepada pelajar
JANJI PELAJAR MUHAMMADIYAH
ِلله
لاْوُسَر اًدَّمَ ُم َّن
ُ
َ
أ ُدَهْش
َ
أَو للها َّلاِإ َلهِإ
َلا ْنَأ ُدَهْشَأ
ًلاْوُسَرَّو ًّايِبَّن ٍدَّمَحُمِبَو ًانْيِد ِمَلاْسِلإاِبَو اًّبَر ِللهاِب ُتْي ِضَر
Kami pelajar Muhammadiyah berjanji: 1. Berjuang menegakkan ajaran Islam
2. Hormat dan patuh terhadap orang tua dan guru 3. Bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu 4. Bekerja keras, mandiri, dan berprestasi 5. Rela berkorban dan menolong sesama
GERAKAN PELAJAR KREATIF
Dalam perjalanan sejarah gerakan dakwah IPM, sejak berdirinya pada tanggal 18 Juli 1961 kemudian mengalami perubahan menjadi IRM pada tanggal 18 November 1992, dan kembali berubah nama menjadi IPM pada Muktamar XVI di Solo hingga saat ini (Muktamar XVII di Yogyakarta), IPM telah menjalani perjalanan dakwah yang cukup panjang dengan segala bentuk strategi gerakan yang dimilikinya.
Sesuai dengan arti maupun makna sebuah strategi, tentunya IPM dalam menentukan strategi gerakan tidaklah luput dari segala bentuk analisisnya terhadap perkembangan zaman yang ada, terutama dengan melihat persoalan pelajar dan pendidikan pada zamannya hingga saat ini. Jika pada Muktamar XIV di Bandar Lampung pada tahun 2004, IPM mendeklarasikan diri sebagai Gerakan Kritis-Transformatif yang memiliki ciri: sadar, peka, dan peduli terhadap persoalan sosial dalam rangka melakukan sebuah perubahan yang lebih baik. Tentunya IPM sadar betul terhadap realitas sosial saat itu, sehingga dengan Gerakan Kritis-Transformatif diharapkan dapat menjawab persoalan sosial (pelajar-pendidikan) kala itu. Terlepas dari adanya pro maupun kontra terhadap sebuah gerakan yang telah di deklarasikan, maupun implementasi sebuah gerakan yang mungkin dirasakan belum berjalan secara maksimal. IPM melalui Gerakan Kritis Transformatif telah berusaha dengan
sungguh-sungguh untuk melakukan perubahan yang lebih baik tersebut.
Demikian juga pada Muktamar XVII di Yogyakarta, IPM selalu melakukan analisis dengan segala persoalan yang ada, guna menjawab sebuah persoalan tersebut. Bukan berarti Gerakan Kritis Transformatif yang telah di deklarasikan sebelumnya sudah tidak relevan lagi dalam menjawab persoalan saat ini, akan tetapi bagaimana Gerakan Kritis Transformatif dapat di implementasikan lebih riil di lapangan, tidak terkesan kaku dan kuno sehingga mudah diterima dikalangan basis massa IPM, yaitu pelajar saat ini. Dimana para pelajar saat ini hidup di tengah gencarnya arus globalisasi dengan segala bentuk kemajuan zaman yang ada, persaingan yang kompetitif dan pemanfaatan teknologi maupun informasi yang serba canggih, menuntut mereka untuk dapat bersaing di zamannya dan selektif dalam melakukan sebuah pilihan hidup mereka sebagai seorang pelajar. Oleh karena itu, pada Muktamar XVII di Yogyakarta kali ini, IPM kembali mendeklarasikan diri sebagai Gerakan Pelajar Kreatif (GPK) sebagai jawaban terhadap persoalan yang dihadapi saat ini.
Melalui Gerakan Pelajar Kreatif inilah, IPM kembali menguatkan diri dan mensinergikan ketiga dimensi Iman, Ilmu, dan Amal dalam menjalankan gerakan dakwahnya di kalangan pelajar. Bagaimana IPM dapat melakukan Penyadaran, Pemberdayaan dan Pembelaan sebagai trilogi gerakan IRM yang pernah di deklarasikan kala itu, kemudian menciptakan sebuah karakter pelajar yang tidak hanya memiliki keshalehan ritual semata tanpa memiliki ilmu dan pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari, atau seorang pelajar yang
shaleh dan berilmu, akan tetapi tidak mengamalkannya dengan melakukan sebuah perubahan. Melainkan bagaimana IPM dapat melahirkan para pelajar yang shaleh secara ritual dengan keimanannya yang kuat, memiliki ilmu dalam menjalankan rasa keimanannya tersebut, kemudian mengamalkannya dalam kehidupan sosial kemasyarakatan sebagai wujud penyempurnaan nilai keimanan dan pemahamannya terhadap ilmu untuk melakukan sebuah perubahan. Sehingga spirit Gerakan Kritis Transformatif yang sebelumnya pernah dideklarasikan oleh IRM/IPM, insya Allah dapat di implementasikan dengan baik dengan terciptanya para agen-agen perubahan (agent of change) di kalangan pelajar dan tercipta pula para pelopor gerakan kritis transformatif itu sendiri di kalangan pelajar.
Metode
Metode yang dipakai dalam Gerakan Pelajar Kreatif IPM ini adalah Metode Perencanaan strategis (Strategic Planning). Perencanaan strategis adalah proses yang dilakukan suatu organisasi untuk menentukan sebuah metode, cara atau arahan, serta mengambil keputusan untuk mengalokasikan sumber dayanya (termasuk modal dan sumber daya manusia) untuk mencapai sebuah tujuan. Berbagai teknik analisis dapat digunakan dalam proses ini, termasuk analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats), PEST (Political, Economic, Social, Technological), STEER (Socio-cultural, Technological, Economic, Ecological, Regulatory) atau SMART (Specific, Measurable, Actual, Realistic, Time Bound).
Tujuan
Gerakan Pelajar Kreatif memiliki tujuan, agar: A. IPM menjadikan pelajar generasi Qur’ani
Maksudnya adalah IPM mampu menjadi wadah bagi pimpinan dan anggota untuk belajar membaca, mengkaji, dan mengamalkan Al Qur’an secara berjamaah, lalu mengkampanyekan budaya cinta Qur’an ke seluruh pelajar di Indonesia. B. IPM menjadi gerakan populis
maksudnya adalah agar IPM mampu diterima oleh semua kalangan, khususnya Pelajar di seluruh Indonesia.
C. IPM mampu memfasilitasi minat dan bakat pelajar Maksudnya adalah IPM mampu mefasilitasi kebutuhan minat dan bakat pelajar dalam bentuk kominitas-komunitas.
D. IPM sebagai wadah pembela pelajar
Maksudnya adalah agar IPM dapat mejadi referensi bagi semua pihak tentang masalah pendidikan dan memperjuangkan hak-hak pelajar.
E. IPM sebagai penggerak pengarus utamaan gender dikalangan pelajar
Maksudnya adalah agar IPM mampu menjadi
garda terdepan dalam memperjuangkan
persamaan akses pelajar putri dan difabel di sekolah dan masyarakat.
ARAH STRATEGI GERAKAN PELAJAR KREATIF
A. IPM menjadikan pelajar Generasi Qur’ani
IPM adalah pelopor, pelangsung, penyempurna amanah yang dipercaya oleh Muhammadiyah dalam menyempurnakan akhlaq mulia di kalangan
pelajar. Sebagai pelopor, pelangsung, dan
penyempurna amanah tentu tidak lepas dari identitas Muhammadiyah sebagai gerakan Islam dakwah amar makruf nahi munkar yang berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah. Dengan demikian IPM sebagai pusat pembibitan kader di ranah pelajar harus bisa menjadi cikal bakal penguatan ke-Islam-an, terutama dalam pengkajian Al Qur’an. Disamping itu IPM juga harus mampu menjawab problematika rohaniah pelajar dan mampu menjadi filter dari pemikiran-pemikiran yang menyimpang dari maksud dan tujuan IPM yang berlandaskan Al Qur’an dan As-Sunnah.
Dari uraian diatas ada beberapa point yang harus IPM lakukan, diantaranya :
1. Secara intensif mewajibkan membaca, mengkaji, dan mengamalkan Al Qur’an bagi pimpinan dan anggota IPM di semua struktur.
2. Mengkampanyekan cinta Al Qur’an kepada seluruh pelajar di Indonesia.
3. Melakukan pendampingan kepada pelajar agar tertib ibadah, belajar, dan berorganisasi.
4. Membangun kesadaran pentingnya meningkatkan Iman dan Islam sebagai upaya penguatan rohaniah dan membentengi dari kekufuran.
5. Membentuk pusat kajian ke-Islam-an di berbagai struktur IPM
B. Menjadikan IPM sebagai gerakan pelajar paling populer Menjadikan IPM sebagai gerakan populer (dikenal banyak kalangan), maka sudah selayaknya jika IPM mampu menunjukkan eksistensinya (keberadaannya) di tengah masyarakat. Kendala yang ada selama ini, masih berkutat pada persoalan yang klise (usang) di tengah kepungan persoalan yang tidak sederhana. Pandangan negatif orang tua, jarak geografis yang cukup jauh dan akses transportasi yang masih kurang seringkali menjadi kendala yang menghambat kader maupun pimpinan yang sedang menjalankan amanah. Belum lagi persoalan konsep & program kerja dari pusat yang sering tidak tersampaikan di tingkatan basis karena masalah komunikasi & pimpinan yang tidak mampu menyampaikan pesan lewat produk (seperti :buku panduan,SPI,modul,tanfidz,dll). Bahkan pada saat IPM mempunyai produk (seperti :buku panduan,SPI,modul,tanfidz,dll) yang menarikpun, kita masih terhalang oleh kurang berpihaknya media kepada IPM. Sehingga IPM seakan berjalan ditempat,seakan tidak memberi manfaat terhadap pelajar,dan semakin kehilangan gaungnya.
Karena alasan itulah, maka IPM harus :
1. Menjadi gerakan pelajar yang populis (diterima oleh semua kalangan)
2. Meningkatkan kapasitas pimpinan
3. IPM harus berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat
4. Memperluas jaringan dan mitra kerja
5. Meningkatkan kesadaran pimpinan terhadap media
C. IPM mampu memfasilitasi basis terutama bakat minat dalam waktu 3 tahun
Dalam beberapa tahun belakangan ini, pendidikan merupakan isu nasional yang menjadi perbincangan di kalangan masyarakat. Pelajar selalu berperan sebagai objek dalam dunia pendidikan. Kekerasan, perlakuan yang tidak sepantasnya diterima siswa di sekolah, kecurangan dalam ujian, pergaulan bebas dan lain sebagainya adalah beberapa kasus yang muncul karena pelajar selalu terkurung dalam sistem pendidikan yang membuat pelajar jenuh. Belum selesai dengan satu masalah, muncullah masalah baru. Seperti permasalahan Ujian Nasional yang belum selesai, muncul masalah makelar pendidikan dalam menunjang kecurangan dalam penyelenggaraannya. Bila mendengar kata sekolah, pedidikan, identiknya dengan belajar secara konservatif. Berbeda dengan tujuan utama pendidikan yaitu membebaskan. Selain itu, kurikulum yang tidak sesuai dan berubah-ubah itu pun memberikan dampak negatif bagi pendidikan. Oleh karena itu IPM diharapkan mampu untuk membuat konsep sekolah alternatif yang membebaskan.
D. Rumah advokasi pelajar Indonesia
IPM sebagai pelopor gerakan advokasi pelajar. Adalah jargon yang sudah tak asing lagi bagi seluruh kader IPM. Tak ayal lagi, IPM yang berlokus gerakan pelajar harus mempunyai jargon ini karena tuntunan jaman yang ada sekarang. Tuntutan keadaan yang ada, karena peraturan yang dibuat oleh pemerintah tidak lagi berpihak kepada pelajar sebagai harapan bangsa. Birokrasi pemerintah di bidang pendidikan yang berbelit dan tidak efisien, reformasi birokrasi yang tak kunjung ada hasil, sehingga semakin membuat pelajar terpuruk dan terjebak dengan sikap individualis dan cenderung buta terhadap keadaan sosial disekelilingnya. Maka, jargon IPM sebagai gerakan advokasi pelajar inilah yang kemudian menjadi sebuah pintu baru dan memberikan pencerahan terhadap dunia pendidikan. Sejalan dengan hal itu, maka IPM harus :
1. mendorong kebijakan yang pro pelajar
2. mengembangkan budaya kritis di tengah-tengah pelajar
E. Pengarusutamaan Gender di Kalangan Pelajar
Kondisi pelajar yang sudah ada dalam zaman modern dan penuh dengan kemajuan teknologi sekarang ini ternyata masih bias akan pendidikan gender. Ini dapat dibuktikan dengan tidak adanya pelajaran yang memang menjurus langsung pada gender itu tersebut. Dalam pemahaman masyarakatpun istilah gender adalah sesuatu yang tabu, serta budaya patriarki masyarakat yang cenderung antipati terhadap istilah gender. Selain itu konsumsi masyarakat terutama
pelajar akan media baik itu cetak (beberapa koran, tabloid & majalah) atau elektronik (tontonan sinetron) di negara ini cenderung menambah bias pemahaman masyarakat akan gender. Pemahaman dalam agama Islam berserta beberapa stakeholder terkait dalam kaitan ini yang masih bersifat tradisionalpun memiliki andil dalam penambah bias-an pemahaman tentang gender.
Pembahasan Gender disini lebih cenderung kepada penambahan pengetahuan masyarakat kepada persamaan akses untuk semua kalangan. Untuk itu IPM diharapkan mampu :
1. membangun penyadaran paradigma
pengarusutamaan gender kepada pelajar
2. mengubah perilaku masyarakat untuk memilih tontonan yang baik, serta mendapatkan akses (kesempatan) yang sama (equal access)
AGENDA AKSI
Ikatan Pelajar Muhammadiyah
Agenda aksi merupakan bentuk kegiatan konkrit (nyata) dan secara bersama – sama dapat dikerjakan secara nasional dari Pimpinan Ranting hingga Pimpinan Pusat. Agenda aksi dapat dipahami sebagai produk nyata dari IPM untuk menjawab kebutuhan pelajar. Agenda aksi ini berlaku secara nasional (komunitas, lembaga, PR – hingga PP IPM), tanpa menunggu instruksi dari pimpinan diatasnya. Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM) memberikan waktu untuk mengevaluasi gerakan bersama ini selama 3 tahun pertama (jangka pendek) dan 3 tahun kedua (jangka panjang) pada forum Konferensi Pimpinan Wilayah (konpiwil. Berdasarkan strategi gerakan yang telah dijelaskan sebelumnya, maka agenda aksi IPM adalah sebagai berikut :
A. Gerakan Cinta Al-Qur’an 1. Pengertian :
Gerakan cinta Al-Qur’an adalah sebuah gerakan pembudayaan tradisi membaca dan mengkaji Al Qur’an di kalangan pelajar. Juga merupakan gerakan penyadaran tentang pentingnya Al Qur’an sebagai petunjuk utama dalam kehidupan. 2. Tujuan :
a. Mewujudkan tradisi membaca, mengkaji dan mengamalkan Al Qur’an di kalangan pelajar.
b. Mewujudkan pelajar yang mahir dalam membaca Al Qur’an.
c. Menghidupkan nuansa Qur’ani di kalangan
pelajar. 3. Target :
a. Terwujudnya tradisi membaca dan mengkaji AlQur’an
b. Terwujudnya pelajar yang mahir dalam membaca Al Qur’an
c. Terwujudnya perilaku yang berdasarkan
ajaran Al Qur’an 4. Bentuk Aksi :
a. Membudayakan membaca dan mengkaji Al Qur’an di kalangan pelajar.
b. Membudayakan membaca Al Qur’an sebelum proses KBM dimulai.
c. Komunitas kajian Al Qur’an
d. Aksi riil makna Al Qur’an, contoh : Bakti Sosial Al Maa’uun, Mengkampanyekan Kebiasaan Membaca Qur’an, pakaian syar’i, dll.
5. Waktu:
Waktu untuk mengevaluasi gerakan ini adalah setelah 4 semester
6. Sasaran Peserta :
Seluruh pimpinan dan anggota dalam semua struktur di IPM dan seluruh pelajar muslim. 7. Penyelenggara :
Pimpinan IPM/Komunitas pelajar setempat 8. Motode dan Teknik Pengelolaan :
a. Semua aksi yang dilakukan haruslah berdasarkan metode partisipatoris, artinya semua pihak adalah sama dan belajar bersama untuk memperoleh tujuan bersama
yang sudah ditentukan.
b. Input : Materi, Fasilitator, Sumber Daya manusia
c. Output : SDM dalam membaca dan mengkaji
Al Qur’an, Fasilitator. d. Indikator Keberhasilan
Kuantitas : Pelajar Muhammadiyah di
level pimpinan mampu membaca Al Qur’an dengan baik. Seluruh pelajar memahami isi kandungan Al Qur’an
Kualitas : dapat membaca dengan lancar
sesuai tajwid dan makhroj, memahami kandungan dan mengamalkan Al Qur’an e. Alat verifikasi : materi, peserta
9. Penutup
Gerakan cinta Al Qur’an ini merupakan wadah bagi kader di dalam mempelajari bacaan dan kandungan Al Qur’an. Sehingga diharapkan dengan gerakan ini seluruh kader dan pelajar Muhammadiyah menjadikan Al Qur’an sebagai bacaan sehari-hari dan mengkajinya secara menyeluruh dan berjamaah.
B. Gerakan Iqra dan Sadar Media 1. Pengertian :
Gerakan Iqro’ dan sadar Media adalah sebuah gerakan pembudayaan tradisi membaca dan menulis di kalangan pelajar. Juga merupakan gerakan penyadaran tentang pentingnya kesadaran terhadap media yang akan memunculkan sifat kritis terdahap media, dan membuat media alternatif sebagai media yang baik untuk pelajar.
2. Tujuan :
a. Mewujudkan tradisi membaca dan menulis di kalangan pelajar
b. Mewujudkan pelajar yang kritis terhadap media, sehingga dapat memilih media massa yang baik
c. Mewujudkan pelajar yang dapat membuat
media-media alternatif sebagai tuntunan pelajar.
3. Target :
a. Terwujudnya tradisi membaca dan menulis sebagai ciri khas pelajar
b. Terwujudnya pelajar yang kritis terhadap media
c. Terwujudnya media-media alternatif
4. Bentuk Aksi :
Bentuk aksi dapat disesuaikan dengan budaya dan lingkungan di tingkat pimpinan IPM setempat. Misalnya:
a. Pelatihan yang merangsang pelajar untuk membaca dan menulis seperti pelatihan Jurnalistik, pelatihan membaca cepat, pelatihan debat, TOT, dll
b. Review buku
c. Workshop dan pembuatan film dokumenter
d. Interkoneksi network e. bentuk aksi lain. 5. Waktu:
Waktu untuk mengevaluasi gerakan ini adalah selama 4 semester
6. Sasaran Peserta :
Seluruh anggota dan pimpinan IPM di semua struktur di IPM
7. Penyelenggara :
Pimpinan IPM/Komunitas IPM setempat 8. Motode dan Teknik Pengelolaan :
a. Semua aksi yang dilakukan haruslah berdasarkan metode partisipatoris, artinya semua pihak adalah sama dan belajar bersama untuk memperoleh tujuan bersama yang sudah ditentukan.
b. Input : Tim Materi, Fasilitator, Sumber Daya manusia
c. Output : Fasilitator, Layanan TOT, Majalah,
Mading, Website, blog, iklan layanan masyarakat, release dan Capacity building d. Indikator Keberhasilan
Kuantitas : Produk (ex. film) terdistribusi
hingga 100 sekolah Muhammadiyah
Kualitas : Produk (ex. film) mampu
menyampaikan pesan dan nilai-nilai
perjuangan IPM
e. Alat verifikasi : Fisik secara produk (ex. Ada VCD/DVD Filmnya, dan bedah Filmnya) 9. Penutup
Gerakan iqra’ dan kesadaran media ini merupakan awal untuk mencapai Gerakan Pelajar Kreatif sebagaimana yang dijadikan jargon IPM. Logika sederhanya, bagaimana pelajar bisa kreatif, sedangkan input pengetahuan yang dia miliki tidak ada. Selain itu, IPM yang mempunyai semangat qolam (pena) yang tercipta dalam lambang dan slogannya tentu harus bisa membudayakan tradisi baca dan tulis, karena jika tidak slogan dan lambang diatas hanyalah hiasan dinding semata, tanpa ada pengamalannya.
C. Gerakan Sekolah Kreatif (GSK) 1. Pengertian :
Sekolah Kreatif merupakan suatu proses pendidikan yang disusun secara terpadu meliputi penyadaran, pemberdayaan, dan pembelaan terhadap kader IPM. Walaupun demikian sekolah Kreatif tidak seperti sekolah pada umumnya, dalam sekolah Kreatif dikembangkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Sekolah Kreatif adalah sekolah tanpa tekanan seperti Ujian Nasional (UN), tetapi menumbuhkan kreatifitas. 2. Tujuan :
a. IPM dapat memfasilitasi potensi-potensi pelajar tidak hanya dalam hal akademik akan tetapi kreatifitas dan lainnya
b. Terwujudnya pendidikan yang humanis dan berkeadilan.
3. Target :
a. Adanya kelompok-kelompok kreatif yang dapat menampung potensi-potensi pelajar b. Adanya sebuah proses pendidikan yang
humanis dan berkeadilan 4. Bentuk Aksi :
a. Kunjungan ke tempat-tempat yang sudah membuat sekolah alternatif
b. Workshop atau Diskusi tentang sekolah alternatif
c. Membuat Sekolah Alternatif seperti
1) Komunitas kreatif,
2) Community base on hobby, minat dan bakat.
4) Pendampingan ekstra kulikuler
5) dan jika memungkinkan membuat lembaga paket yang setingkat sekolah. d. Pembuatan modul sekolah alternatif 5. Waktu :
Agenda ini dievaluasi setelah 4 semester berjalan 6. Sasaran Peserta :
Peserta adalah Pimpinan tingkat daerah sampai ranting, anggota IPM dan seluruh pelajar.
7. Penyelenggara :
Pimpinan IPM di semua struktur terutama PW dan PD
8. Materi-Materi :
Materi-materi sesuai dengan modul yang dibuat 9. Metode dan Teknik Pengelolaan :
a. Input : Pimpinan, fasilitator, anggota, data tentang pendidikan, pembicara
b. Output : modul, komunitas, pendampingan
c. Indikator Keberhasilan :
Kuantitas
Setiap pimpinan daerah memiliki 1 sekolah alternatif
Modul terdistribusi Kualitas
Modul sesuai dengan kebutuhan pelajar Prestasi dari sekolah alternatif yang ada d. Alat Verifikasi :
Materi, sertifikat perlombaan, modul, kurikulum.
10. Penutup :
Gerakan Sekolah kreatif merupakan sekolah alternatif, sehingga asas belajar sambil bermain, dan belajar dengan mengerjakan merupakan asas
penting bagi sekolah Kreatif. Dengan sekolah Kreatif diharapkan muncul kader-kader yang tidak hanya unggul dalam kognitif, tapi semua aspek terpenuhi.
D. Gerakan Advokasi Pelajar 1. Pengertian :
Pelajar sebagai bagian dari warga Negara dalam kehidupan masyarakat dan bernegara relative termarginalkan (dilupakan, disingkirkan) dan menjadi objek kebijakan kekuasaan yang tidak pro pelajar. Jika diruntut seluruh persoalan pendidikan di Indonesia, maka akan terlihat begitu banyak dan kompleksnya permasalahan tersebut. Meskipun hak-hak pelajar sebagai warga negara sudah dijamin oleh undang-undang, namun dalam prakteknya, pelajar masih ditempatkan sebagai objek pendidikan. Sehingga tak jarang kita melihat pelajar selalu ditindas dengan berbagai tugas, beban biaya yang tinggi dan model komunikasi yang tidak humanis. Dari berbagai fenomena yang muncul seperti tersebut diatas, maka IPM perlu memberikan sumbangsih terhadap persoalan pendidikan terutama persoalan ke-pelajaran dalam bentuk pengakomodirian aspirasi dan pembelaan hak-hak pelajar (advokasi pelajar).
Gerakan advokasi pelajar adalah gerakan pelajar untuk menjaring aspirasi dan pembelaan hak-hak pelajar menuju pelajar yang berdaulat. 2. Tujuan :
a. Mendorong kebijakan-kebijakan yang pro – pelajar
b. Memperjuangkan aspirasi dan hak-hak pelajar
c. Menumbuhkan Budaya Kritik dikalangan
pelajar 3. Target :
a. Lahirnya kebijakan-kebijakan yang pro akan pelajar
b. Tumbuhnya budaya kritik di kalangan pelajar
4. Bentuk Aksi :
a. Pembentukan komunitas advokasi
b. Diskusi isu-isu berkenaan dengan pelajar maupun diskusi umum.
c. Kajian undang-undang yang menyangkut
pelajar
d. Seminar, Public Hearing, Audiensi e. Pelatihan Advokasi
f. Pembuatan media-media advokasi (baik
cetak maupun elektronik) g. Konferensi Pers
h. Posko pengaduan pelajar 5. Waktu :
Gerakan ini dievaluasi setelah 4 (empat) semester 6. Sasaran Peserta :
Sasaran gerakan ini adalah anggota dan pimpinan IPM di semua struktur
7. Penyelenggara :
Pimpinan IPM di semua struktur 8. Metode dan Teknik Pengelolaan :
a. Input : Ahli kebijakan pelajar, fasilitator, pimpinan, Data Base, Kebijakan Pemerintah b. Output : Fasilitator, Layanan TOT, website,
Advokasi, Kartun/komik advokasi, Posko pengaduan pelajar
c. Indikator Keberhasilan :
Kuantitas:
1) Peserta pelatihan atau diskusi minimal 20
2) Minimal ada 2 media advokasi yang terbit
3) Media terdistribusi minimal 25% dari sekolah yang ada
Kualitas:
1) Terbentuk komunitas advokasi
2) Media yang diterbitkan menjadi rujukan dalam advokasi
3) Tersusunnya database 4) Adanya posko pengaduan d. Alat Verifikasi :
1) Daftar peserta 2) Media yang dibuat 3) Daftar komunitas 9. Penutup :
Gerakan Adokasi Pelajar bukanlah tujuan, namun sebagai salah satu upaya (instrumen) IPM untuk mengajak pelajar di seluruh Idonesia menuntut (sadar) hak-haknya. Harapan dengan adanya GAP ini, dapat memudahkan pelajar dalam mengaspirasikan suara serta memudahkan
jalan menuntut hak-haknya. Selanjutnya
dengan gerakan pelajar ini diharapkan dapat memantapkan peran pelajar sebagai salah satu elemen untuk mengawal kebijakan baik dari pemerintah, maupun sekolah. Pelajar tidak lagi sebagai objek kebijakan, sehingga cita-cita menjadi
pelajar Indonesia yang mandiri dan berdaulat dapat terwujud di seluruh Nusantara.
E. Gerakan equal access (GEA) 1. Pengertian :
Gerakan equal access adalah gerakan untuk memberikan peluang dan akses yang sama bagi semua anggota ikatan dan pelajar umumnya dalam melakukan aktifitas perjuangan dan kesehariannya.
2. Tujuan :
a. Menyadarkan anggota ikatan tentang keadilan dalam kehidupan sosial.
b. Mewujudkan tatanan kehidupan yang tidak diskrimantif (membeda-bedakan) antara laki-laki, perempuan, dan different ability (pelajar yang memiliki kemampuan yang berbeda, dan berkebutuhan khusus)
3. Target :
a. Terwujudnya kesadaran akan kesamaan peluang dan akses dalam kehidupan sosial b. Terciptanya tatanan kehidupan yang adil dan
tidak membeda-bedakan antara satu dengan lainnya
4. Bentuk Aksi :
a. Pembuatan Modul b. Diskusi dan Seminar
c. Pelatihan fasilitator
d. Pelatihan Community Organizer(CO)
e. Melakukan audiensi dengan berbagai lembaga yang memiliki kesamaan konsentrasi
5. Waktu :
Gerakan ini dapat dievaluasi setelah 2 (dua) semester dengansemester evaluasi berkiala setiap 2
6. Sasaran Peserta :
Peserta adalah anggota dan Pimpinan Ikatan Pelajar Muhamamdiyah di semua struktur
7. Penyelenggara :
Penyelenggara adalah pimpinan IPM, atau lembaga IPM, atau komunitas IPM
8. Materi-Materi :
Materi-materi menyesuaikan modul yang sudah dibuat
9. Metode dan Teknik Pengelolaan :
a. Input : Fasilitator, peserta, pemateri, media. b. Output : kampanye, terbangunnya kemitraan
dengan lembaga terkait, modul, fasilitator, lembaga yang menangani equal acces
c. Indikator Keberhasilan :
Kuantitas
1. Peserta mencapai 20 orang
2. Modul terdistribusi sampai tingkatan paling bawah
Kualitas
1) Peserta memiliki kemampuan memfasilitasi 2) Modul dapat diterapkan
3) Bekerjasama dengan lembaga diluar IPM
d. Alat Verifikasi :
1) Daftar peserta pelatihan 2) Modul
3) MoU dengan lembaga 10. Penutup :
sosial selayaknya semua pihak saling bekerjasama tanpa perlu dibeda-bedakan antara satu dengan lainnya.
F. Gerakan Wirausaha 1. Pengertian :
Gerakan wirausaha merupakan gerakan yang dicetuskan untuk mengasah kemandirian pelajar dan organisasi terutama dalam hal financial. Enterpreneurship merupakan asas gerakan ini, sehingga organisasi tidak hanya berhenti pada donatur dan dana pemerintah.
2. Tujuan :
a. Memberikan modal keilmuan mengenai enterpreneurship
b. Pengembangan kegiatan inovatif yang berorientasi pada kemandirian wirausaha pelajar
3. Target :
Menumbuhkembangkan mental kemandirian berwirausaha serta memfasilitasi pelajar untuk berkreatif dalam rangka pengembangan unit usaha pelajar
4. Bentuk Aksi :
a. Mengadakan pelatihan-pelatihan
enterprenership
b. Membentuk unit-unit usaha mandiri yang bisa membantu keuangan pimpinan pada setiap levelnya, seperti: koperasi pelajar, bimbel (bimbingan belajar)
c. Terciptanya kelompok-kelompok usaha
perorangan yang dikelola secara mandiri dan dimonitoring oleh lembaga usaha pelajar
d. Membangun jejaring IPM dengan lembaga-lembaga lain yang tidak mengikat
5. Sasaran :
PR IPM sampai PP IPM. 6. Penyelenggara:
PR IPM sampai PP IPM.
7. Metode dan Teknik Pengelolaan :
a. Input : Pimpinan, materi, narasumber, buku, anggota
b. Output : Unit usaha, MOU dengan lembaga lain, kemandirian
c. Indikator Keberhasilan :
Kuantitas
1) Setiap struktur memiliki 1 unit usaha 2) Setiap struktur memiliki jaringan usaha 3) Setiap struktur melakukan minimal
MoU dengan 1 lembaga lain Kualitas
1) Unit usaha selalu laba
2) Jaringan usaha terus bergerak d. Alat Verifikasi :
1) Makalah diskusi, SK unit usaha, daftar pengurus unit usaha, MoU,
8. Penutup :
Kemandirian sangat terkait dengan independensi, semakin mandiri sesorang dan organisasi akan berimplikasi pada kemerdekaan dalam memutuskan sesuatu, tanpa harus terintervensi oleh pihak luar.
ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN
RUMAH TANGGA
ANGGARAN DASAR
IKATAN PELAJAR MUHAMMADIYAH
BAB I
NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN Pasal 1
Nama dan Tempat Kedudukan
1. Organisasi ini bernama Ikatan Pelajar
Muhammadiyah disingkat IPM, yang didirikan di Surakarta pada tanggal 5 Shafar 1381 Hijriyah bertepatan dengan tanggal 18 Juli 1961 Miladiyah. 2. Ikatan Pelajar Muhammadiyah berkedudukan di
Pimpinan Pusat.
BAB II
ASAS, IDENTITAS, LAMBANG, DAN SEMBOYAN Pasal 2
Asas
Ikatan Pelajar Muhammadiyah berasaskan Islam Pasal 3
Identitas
Ikatan Pelajar Muhammadiyah adalah Organisasi Otonom Muhammadiyah, merupakan gerakan Islam, dakwah amar makruf nahi munkar di kalangan pelajar, berakidah Islam dan bersumber pada Al-Qur‘an dan As-Sunnah.
Pasal 4 Lambang
Lambang Ikatan Pelajar Muhammadiyah adalah segi lima berbentuk perisai runcing di bawah yang merupakan deformasi bentuk pena dengan jalur besar tengah runcing di bawah berwarna kuning, diapit oleh dua jalur berwarna merah dan dua jalur berwarna hijau dengan matahari bersinar sebagai keluarga Muhammadiyah di mana tengah bulatan matahari terdapat gambar buku dan tulisan Qur’an surat Al-Qolam ayat 1 dan tulisan IPM di bawah matahari.
Pasal 5 Semboyan IPM bersemboyan
َنْوُرُطْسَياَمَو ِمَلَقْلاَو ,ن
Nuun Walqolami Wamaa Yasthuruun yang berarti : Nuun, demi pena dan apa yang
dituliskannya. BAB III
MAKSUD DAN TUJUAN SERTA USAHA Pasal 6
Maksud dan Tujuan
Terbentuknya pelajar muslim yang berilmu, berakhlak mulia, dan terampil dalam rangka menegakkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai ajaran Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Pasal 7 Usaha
1. Menanamkan kesadaran beragama Islam,
memperteguh iman, menertibkan peribadatan dan mempertinggi akhlak karimah.
2. Mempergiat dan memperdalam pemahaman agama Islam untuk mendapatkan kemurnian dan kebenaran-Nya.
3. Memperdalam, memajukan, dan meningkatkan ilmu pengetahuan,teknologi, sosial dan budaya. 4. Membimbing, membina, dan menggerakkan
anggota guna meningkatkan fungsi dan peran IPM sebagai kader persyarikatan, umat, dan bangsa dalam menunjang pembanguan manusia seutuhnya menuju masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
5. Segala usaha yang tidak menyalahi ajaran Islam dengan mengindahkan hukum dan falsafah yang berlaku.
BAB IV BASIS MASSA
Pasal 8 Basis Massa
Basis massa Ikatan Pelajar Muhammadiyah adalah pelajar.
Pasal 9 Pengertian Pelajar
Pelajar adalah kelas sosial yang menuntut ilmu secara terus menerus serta memiliki hak dan kewajiban dalam bidang pendidikan.
BAB V
KEANGGOTAAN, KADER, DAN SIMPATISAN Pasal 10
Anggota Anggota IPM adalah:
1. Pelajar muslim yang belajar di sekolah Muhammadiyah maupun non muhammadiyah setingkat SMP dan atau SMA.
2. Pelajar muslim yang berusia 12 tahun sampai 21 tahun yang mendaftar sebagai anggota Ikatan Pelajar Muhammadiyah.
3. Mereka yang pernah menjadi anggota sebagaimana ketentuan ayat 1 dan 2, yang diperlukan oleh organisasi dengan usia maksimal 24 tahun.
4. Anggota sebagaimana tersebut dalam ayat 3 di atas yang karena terpilih menjadi pimpinan bisa melanjutkan keanggotaannya sampai masa jabatannya selesai.
Pasal 11 Kader
Kader IPM adalah anggota yang telah mengikuti perkaderan serta mampu dan pernah menjadi penggerak inti ikatan.
Pasal 12 Simpatisan
Simpatisan adalah mereka yang menyetujui maksud dan tujuan IPM tetapi tidak memenuhi syarat sebagai anggota.
BAB VI
SUSUNAN, PEMBENTUKAN, PENETAPAN, PELEBURAN, DAN PEMEKARAN, ORGANISASI
Pasal 13 Susunan Organisasi
1. Ranting adalah kesatuan anggota-anggota dalam satu sekolah atau madrasah atau pondok pesantren atau desa/kelurahan atau panti asuhan yang sesuai dengan pasal 10.
2. Cabang adalah kesatuan ranting-ranting di tingkat Kecamatan.
3. Daerah adalah kesatuan cabang-cabang di tingkat Kabupaten/Kota.
4. Wilayah adalah kesatuan daerah-daerah di tingkat Provinsi.
5. Pusat adalah kesatuan wilayah-wilayah dalam negara.
Pasal 14 Penetapan Organisasi
1. Penetapan Wilayah dan Daerah dengan ketentuan luas lingkungannya ditetapkan oleh Pimpinan Pusat.
2. Penetapan Cabang dengan ketentuan luas
lingkungannya ditetapkan oleh Pimpinan
Wilayah.
3. Penetapan Ranting dengan ketentuan luas lingkungannya ditetapkan oleh Pimpinan Daerah.