• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan KFA 2 Kelompok 23 Ibuprofen

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Laporan KFA 2 Kelompok 23 Ibuprofen"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA FARMASI ANALITIK II

KIMIA FARMASI ANALITIK II

TURUNAN ANALGETIK - ANTIPIRETIK

TURUNAN ANALGETIK - ANTIPIRETIK

(IBUPROFEN)

(IBUPROFEN)

DisusunOleh DisusunOleh Kelompok 23 Kelompok 23

31111064 Damas Anjar Purnama 31111064 Damas Anjar Purnama

31111079 Ihsan Nurihsan 31111079 Ihsan Nurihsan

Farmasi 3B Farmasi 3B

PROGRAM STUDI FARMASI

PROGRAM STUDI FARMASI

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

BAKTI TUNAS HUSADA

BAKTI TUNAS HUSADA

TASIKMALAYA

TASIKMALAYA

2014

2014

(2)

I. TujuanPraktikum

Menentukan kadar ibuprofen dalam sampel dengan menggunakan metode asam-basa secara langsung.

II. DasarTeori

Ibuprofen merupakan obat anti radang non steroid turunan asam arilasetat yang mempunyai aktivitas antiradang dan analgesik yang tinggi, terutama digunakan untuk mengurangi rasa nyeri akibat peradangan pada  berbagai kondisi rematik dan arthritis. ibuprofen dapat menimbulkan efek samping iritasi saluran cerna, diabsorpsi cepat dalam saluran cerna, kadar serum tertinggi terjadi dalam 1-2 jam setelah pemberian obat, dengan waktu paruh 1,8-2 jam.

Rumus bangun dari ibuprofen adalah sebagai berikut:

Pemerian : Berupa serbuk hablur putih hingga hampir putih, berbau khas lemah. Praktis tidak larut dalam air, sangat mudah larut dalam etanol, methanol, aseton dan dalam kloroform, sukar larut dalam etil asetat, disimpan dalam wadah tertutup rapat.

Ibuprofen menimbulkan efek analgesik dengan menghambat secara langsung dan selektif enzim-enzim pada sistem saraf pusat yang mengkatalis biosintesis prostaglandin seperti siklooksigenase sehingga mencegah sensitasi reseptor rasa sakit oleh mediator-mediator rasa sakit seperti bradikinin, histamine, serotonin, prostasklin, prostaglandin, ion hidrogen dan kalium yang dapat merangsang rasa sakit secara mekanis atau kimiawi.

(3)

Prinsip titrasi asam basa yaitu reaksi netralisasi yakni reaksi antara ion hidrogen yang berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari  basa untuk menghasilkan air yang bersifat netral.

Jenis titrasi asam basa yaitu: 1. Titrasi asam kuat basa kuat

Dipakai setelah terjadi reaksi yang membebaskan asam kuat seperti  pada penentuan aldehid dan keton yang biasanya terdapat dalam

minyak nabati.

2. Titasi asam lemah dengan basa kuat

Banyak dipakai pada titrasi senyawa obat. Memberikan hasil garam yang akan terhidrolisis disekitar titik akhir, besarnya hidrolisis tergantung pada tetapan disosiasi asam.

3. Titrasi asam kuat dengan basa lemah dan Titrasi asam lemah dengan  basa lemah

Jika sejumlah kecil volume asam kuat atau basa kuat ditambahkan  pada basa lemah atau asam lemah maka nilai pH akan meningkat secara drastic disekitar satu unit pH dibawah atau diatas nilai pKa. Sering kali pelarut organik yang dapat campur dengan air, seperti etanol ditambahkan untuk melarutkan analit sebelum dilakukan titrasi. 4. Titrasi kembali

Dilakukan dengan cara penambahan titran dalam jumlah  berlebihan, kemudian kelebihan titran dititrasi dengan titran lain. Pada cara ini ada dua sumber kesalahan karena menggunakan dua titran sehingga kesalahan menjadi lebih besar. Disamping itu cara ini memakan waktu yang lama.

5. Titrasi langsung

Cara ini dilakukan dengan melakukan titrasi langsung terhadap zat yang akan ditetapkan. Cara ini mudah, cepat dan sederhana.

Metode yang digunakan pada praktikum kali ini adalah dengan titrasi asam-basa secara langsung. Titrasi asam-basa termasuk kedalam metode-metode titrimetri, asidimetri dan alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yakni reaksi antara ion hydrogen yang berasal dari asam dengan ion

(4)

hidroksida yang berasal dari basa untuk menghasilkan air yang bersifat netral. Netralisasi dapat juga dikatakan sebagai reaksi antara pemberi  proton (asam) dengan penerima (basa).

Ibuprofen ini bersifat asam lemah sehingga menggunakan titran basa kuat. Seperti reaksi dibawah ini :

 Titrasi Asam Lemah - Basa Kuat

CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O

 Reaksi ionnya :

H+ + OH- H2O

III. Alat dan Bahan 1. Alat - Erlenmeyer - Gelas Kimia 250 ml - Batang Pengaduk - Pipet Volume 10ml - Vortex - Timbangan Analitik - Buret - Statif - Corong 2. Bahan - Sampel Ibuprofen - Indikator PP -  Natrium Hidroksida 0,1 N - HCl 0,1 N - Etanol -  Natrium karbonat - Asam oksalat

(5)

IV. Prosedur Kerja

1. Isolasi sampel (Suspensi)

Sampel

Ukur volume sampel, lalu tambahkan air

Bagi sampel menjadi 3 bagian

Tambahkan Kloroform

Masukkan kedalam corong pisah, Lakukan Ekstraksi Cair-cair

Fase Air (Atas)

Tambahkan Kloroform kembali, lalu lakukan ECC lagi

Fase Air

Lakukan Uji Kualitatif agar dapat diketahui apakah masih terdapat ibuprofen dalam fase air atau tidak

Fase Kloroform Fase Kloroform (Bawah)

Kumpulkan Filtrat

Lakukan Destilasi untuk mendapatkan Ibuprofen

murni

Didapat Kristal Ibuprofen, Tambahkan etanol (96%)

(6)

2. Titrasi

a. Pembakuan NaOH (Triplo)

 b. Pembakuan HCl (Triplo)

c. Penetapan Kadar Analit (Triplo)

V. Data Hasil Pengamatan dan Perhitungan 1. Pembakuan NaOH dengan asam oksalat

Asam Oksalat (mg) Volume NaOH (ml)

63 10,3 63 10,2 63 10,2 Rata-rata 10,2 Timbang as. oksalat 63 mg, larutkan dengan air 10 ml (+) indikator fenolftalein (2-3 tetes) Titrasi dengan  NaOH

Titik akhir titrasi ditunjukan dengan perubahan warna dari tidak berwarna menjadi

merah muda

Timbang Natrium Karbonat 53 mg, larutkan dengan air

10 ml

(+) indikator fenolftalein (2-3

tetes)

Titrasi dengan HCl

Titik akhir titrasi ditunjukan dengan perubahan warna dari tidak berwarna menjadi

merah muda Pipet 10 ml lar. analit (+) indikator fenolftalein(2-3 tetes) Titrasi dengan HCl

(7)

2. Penetapan kadar HCl

 Natrium Karbonat (mg) Volume HCl (ml)

53 10,3

53 10,4

53 10,3

Rata-rata 10,3

3. Penetapan kadar sampel Ibuprofen

Volume sampel (ml) Volume HCl (ml)

10 9,7 10 9,8 10 9,8 Rata-rata 9,8 4. Perhitungan a. Pembakuan NaOH                           b.Pembakuan HCl                         

(8)

c.Penetapan kadar sampel                              d. Bobot sampel                      e. % Kadar analit                      VI. Pembahasan

Dalam sediaan farmasi pemeriksaan zat aktif merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam menjamin kualitas dari sediaan tersebut dan salah satu syarat adalah kadar zat aktif yang terkandung harus memenuhi syarat Farmakope Indonesia atau buku-buku resmi lainnya.

Praktikum ini bertujuan untuk menentukan kadar ibuprofen dalam  bentuk suspensi dengan metode titrasi asam basa alkalimetri. kenapa

dipilih titrasi asam basa karena dilihat dari sifat ibuprofen yang merupakan asam lemah dan dari struktur dimana ibuprofen mengandung gugus OH maka dapat dititrasi dengan menggunakan larutan yang bersifat asam kuat. Selain itu bila ditinjau dari harga pKa nya yang bernilai 4,4 ibuprofen dapat ditetapkan kadarnya secara alkalimetri, (british pharmacopoeia 2007), kadar ibuprofen dapat ditetapkan secara titrasi menggunakan

(9)

larutan HCl dengan indikator fenolftalein. metode ini didasarkan pada  perpindahan proton dari zat yang bersifat asam, berupa hablur putih yang

mempunyai kerangka lakton, indikator ini sukar larut dalam air, tapi dapat  bereaksi dengan air sehingga cincin laktonnya terbuka dan membentuk

asam yang berwarna berdasarkan reaksi sebagai berikut:

Fenolphtalein tergolong asam yang sangat lemah dalam keadaan yang tidak terionisasi, indikator tersebut tidak berwarna, jika dalam lingkungan basa fenolftalein akan terionisasi lebih banyak dan memberikan warna terang karena anionnya. pada praktikum ini indikator fenolftalein merubah warna dari merah muda menjadi bening.

Sebelum dititrasi dilakukan terlebih dahulu pembakuan NaOH dan HCl, pembakuan NaOH dan pembakuan HCl dilakukan sebanyak tiga kali. Konsentrasi HCl ini digunakan untuk menentukan kadar ibuprofen. Pembakuan dilakukan karena konsentrasi larutan HCl dapat berubah disebabkan karena larutan HCl mudah teroksidasi dalam udara sehingga larutan HCl perlu distandarisasi. Perubahan warna tersebut khusus untuk indikator fenolftalein yang berwarna merah muda dalam bentuk basa dan dalam bentuk asamnya tidak berwarna..

Perubahan warna larutan yang dititrasi menandakan larutan titran (basa) yang ditambahkan sudah melebihi titik ekivalen, yaitu titik dimana jumlah ekivalen basa sama dengan jumlah ekivalen asam (asam dan basanya sudah bereaksi dengan tepat). Indikator phenolftalein sangat peka terhadap perpindahan proton dengan menunjukan  perubahan warna yang tajam. indikator ini sukar larut dalam air, tetapi tidak dapat

(10)

 bereaksi dengan air sehingga cincin laktonnya terbuka dan membentuk asam yang tidak  berwarna. lepasnya proton pertama dari molekul phenolftalein tidak banyak mengubah kerangka molekulnya, tetapi lepasnya proton kedua menyebabkan perubahan besar  pada molekulnya.

Ibuprofen dititrasi menggunakan asam klorida (HCl) 0,1 N..Larutan asam klorida yang digunakan harus dibuat bebas karbonat dengan cara agar tidak menyebabkan reaksi netralisasi antara natrium hidroksida dan karbondioksida menjadi natrium karbonat. Untuk penyimpanannya dapat digunakan beaker glass yang ditutup dengan plastik wrap untuk mencegah masuknya karbondioksida ke dalam larutan  NaOH. Didapat bobot ibuprofen sebesar 1,95 gram, dan bila dikonversikan pada kadar

sampel sebesar 60,93%.

VII. Keimpulan

Kadar ibuprofen pada sampel suspensi yang diteliti adalah sebesar 60,93%.

(11)

DAFTAR PUSTAKA

Brittain, Harry G. 1999. Analytical Profiles of Drug and Excipients Volume 26 . Amerika : ACADEMIC PRESS

Day, R.A., Jr, 1991,  Kimia Analisis - Kualitatif . Penerbit : Englewood Cliffs, N.J. : Prentice-Hall International

Eka. 2007. Metode Analisa Kimia-Spektrofotometri. Gramedia: Jakarta. Higuchi, Takeru & Einar Brochman-Hanssen. 1961.  Pharmaceutical

 Analysis. Amerika: Interscience Publisher, Inc.

Khopkar, S.M. 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik . Jakarta : UI Press.  Nielsen, S. Suzanne. 1998. Food analysis, Maryland. Penerbit : Aspen Publ.

Prof. Clarke, E.G.C. 2005. Clarke's Analysis of Drugs and Poisons Thitd  Edition. Pharmaceuticals Press.

Prof. DR.Ibnu Gholib Ganjar.2012. Analisa Obat secara Spektrofotometri dan Kromatografi.Pustaka pelajar;Yogyakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Natrium asetat merupakan basa lemah dan hanya akan mengionisasi gugus yang sifat keasamannya tinggi, khususnya untuk mendeteksi adanya gugus 7-OH bebas (Markham, 1988). Flavon

Metode pengukuran konsentrasi larutan menggunakan metode titrasi (titrasi asam-basa) yaitu suatu penambahan indikator warna pada larutan yang diuji, kemudian

dengan cara titrasi larutan asam dan basa Larutan yang digunakan adalah larutan asam monohidrogen fosfat (Na2HPO4) dan larutan basa konjugatnya dihidrogen fosfat

Kurva titrasi pada Gambar 2.5 berasal dari penetesan asam lemah pada basa kuat menggunakan CH 3 COOH 1 M sebagai asam dan NaOH 1 M sebagai basa dengan volume awal pada buret

Saat titrasi asam terhadap basa, larutan NaOH (basa) ditetesi indikator metil orange dan berwarna kuning, setelah titrasi warnanya menjadi merah muda yang menunjukkan larutan

Natrium asetat merupakan basa lemah dan hanya akan mengionisasi gugus yang sifat keasamannya tinggi, khususnya untuk mendeteksi adanya gugus 7-OH bebas (Markham, 1988). Flavon

Hal ini disebabkan asam lemah direaksikan dengan basa kuat sehingga menghasilkan garam yang bersifat basa dan karena sifat basa tersebut merubah warna lakmus merah menjadi biru

sini adalah, garam yang terbentuk dari logam dan anion sisa asam dari dan anion sisa asam dari asam lemah tersebut, misal asam lemah tersebut, misal : LA). Campuran akan