LAPAN:
DARI ROKET METEOROLOGI MENUJU
ROKET PENGORBIT
Disampaikan Oleh :
Sukandi Nasir Rohili
Orasi Pengukuhan Ahli Peneliti Utama
Bidang BAHAN BAKAR ROKET
LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL (LAPAN )
BIO DATA
Saya : Sukandi Nasir Rohili, lahir di kota Jakarta pada tanggal 2 Juli 1945, dari seorang ayah yang bernama: Muhammad Nasir dan Ibu bernama: Hajjah Siti Sofiah. Saya adalah anak ketiga dari enam bersaudara dan anak sulung laki-laki dari tiga bersaudara yang masih hidup sampai saat ini.
Adapun pendidikan umum yang telah saya jalani selama ini berawal dari pendidikan Sekolah Rakyat 6 tahun di Salemba Bluntas, kemudian dilanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama Bagian: B di SMP Muhammadiyah 3 Kramat Raya dan Sekolah Menengah Atas Negeri II bagian : llmu Pengetahuan Alam di jalan Gajah Mada - Kota, yang mana semua lokasi itu berada di kota Jakarta. Kemudian melanjutkan, kuliah di IKIP Jakarta pada jurusan : Kimia Teknik. Sambil bekerja sebagai guru STM, alhamdulillah, saya dapat menamatkan sarjana muda tahun 1971. Setelah itu bekerja dahulu selama setahun di sebuah pabrik kimia ( tinta cetak ) dan akhirnya melanjutkan lagi kuliah sambil mengajar sampai tamat sarjana tahun 1974. Pendidikan lainnya adalah: Pendidikan Pasca Sarjana Non Gelar dalam bidang : llmu Pengetahuan dan Dirgantara di ITB Bandung pada tahun 1978-1979, pendidikan spesialisasi penerbangan dan antariksa di Perancis 1986 - 1988, serta pendidikan Magister Manajemen diambil pada tahun 1993 sampai tahun 1995 di Jakarta.
Awal bekerja dimulai sebagai guru di Sekolah Teknik dan pernah bekerja di Perusahan Swasta yang bergerak dalam industri kimia. Kemudian bekerja di pemerintah DKI JAKARTA dan diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil pada tahun 1973. Pada tahun 1978, saya pindah bekerja ke LAPAN dan bekerja di sini sampai sekarang.
Karir bekerja di LAPAN diawali sebagai staff Proyek SWASAT (Swa Sembada Sistem Satelit) di Unit Propelan menangani pengkondisian Oksidizer IRFNA (Inhibited Red Fuming Nitric Acid)
untuk pembuatan propelan cair hipergolik dalam rangka pemanfaatan dan pengembangan roket cair. Dengan bergantinya proyek SWASAT menjadi proyek ROMET (Roket Meteorologi), saya ditempatkan di bagian Unit Propelan lagi sebagai pejabat fungsional dengan pangkat: Asisten Peneliti Muda dalam penelitian dan pengembangan pembuatan propelan padat berbasis Poli Sulfida. Kemudian pindah bekerja di bagian penelitian dan pengembangan Liner - Inhibitor dan setelah mengikuti training pengoperasian alat Particle Size Analyzer (PSA), Uji Kuat tarik dan Strand Burner di Jepang, maka selain bekerja di bagian liner dan inhibitor juga mendapat pekerjaan tambahan uji propelan padat dalam menangani uji kecepatan pembakaran (r) dengan alat Strand Burner. Setelah terjadi perubahan struktur LAPAN, saya dipindahkan ke bidang Propuisi untuk menangani penelitian komposit dan pembuatan tabung roket dari bahan konstruksi ringan. Penelitian dilakukan bekerja sama dengan ITB Bandung. Setelah itu, ikut dalam kelompok penelitian Studi Perencanaan Sistem Propuisi Motor Roket untuk Penelitian Meteorologi". Selanjutnya bekerja di kelompok penelitian pelapisan bahan tahan panas pada bagian dalam nosel. Kemudian pindah lagi ke bidang Motor roket dalam menangani sistem propuisi pembakaran internal (internal burning) untuk propelan berkonfigurasi ganda (double grain) bentuk wagon wheel ~ silinder dan sistem propuisi pembakaran ujung (Cigarette burning).
Saat ini, saya bekerja di LAPAN, Bidang Propuisi menangani penelitian sistem igniter roket padat baik untuk roket ilmiah maupun senjata. Semua pekerjaan biasanya dilakukan dalam suatu "Team Work".
Dalam perkembangan karir sebagai pejabat fungsionil di LAPAN dimulai pada jabatan Asisten Peneliti Muda tanggal 25 Mei 1979 dan terakhir sebagai Ahli Peneliti Utama di bidang Bahan Bakar Roket pada 1 Desember tahun 2003, dengan pangkat Pembina Utama Muda/ Golongan IV c . Selain bekerja sebagai peneliti di bidang propuisi roket, juga dipercaya menjadi anggota dewan redaksi buku ilmiah, duduk di dalam kelompok kerja pakar kedeputian tahun 2001 sampai tahun 2002 dan di komisi pakar LAPAN tahun 2003 sampai tahun 2004 serta dalam tim standarisasi pedoman penulisan karya tulis ilmiah kedirgantaraan tahun 2004.
Sedangkan pendidikan dan latihan yang telah dijalani dalam rangka peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta keterampilan selama bekerja di LAPAN, adalah Pendidikan dan Latihan Roket KAPPA - 8 di Bandung; Pendidikan Roket SA-75 di Jakarta; Pendidikan Pasca Sarjana non Gelar bidang penerbangan dan kedirgantaraan di ITB Bandung, pendidikan dan latihan Particle Size Analyzer ( PSA -2 ), uji kuat tarik dan strand burner di Jepang; pendidikan dan latihan plasma dan laser di Malaysia; pendidikan spesialisasi bidang penerbangan dan antariksa serta kerja lapangan di job site Ariane IVdi Perancis. Pendidikan lain yang telah diikuti, adalah Pendidikan dan latihan manajemen proyek, pendidikan dan latihan administrasi jenjang SPADYA, serta pendidikan konstruksi ringan dan math-lab.
Selama bekerja di LAPAN, Penghargaan yang telah didapat selama ini, ialah Satya Lencana Karya Setia 20 tahun dan 30 tahun.
Kupersembahkan kepada : Istri dan kedua Anakku yang tercinta
Bismillahirrohmanirrohim, Assalamualaikum Wr.,Wb,
Selamat pagi dan Salam Sejahtera untuk kita semua,
Pertama-tama, dalam acara yang bahagia dan istimewa ini, marilah kita mengucap puji syukur kepada ALLAH Yang Maha Suci, Maha Tinggi dan Maha Kasih, yang telah banyak memberi nikmat pada kita sekalian pada hari ini, mudah-mudahan kita selalu mendapat limpahan rahmatNya. Pada kesempatan yang berbahagia ini, terlebih dahulu sebelum membacakan orasi pengukuhan ini, perkenankanlah kami mengucapkan banyak terima kasih kepada :
- Yang saya hormati: Bapak Kepala LIPI, Bapak Prof. Dr. Umar Anggara Jenie Apt, M.Sc. selaku Ketua Majelis Pengukuhan Ahli Peneliti Utama.
- Yang saya hormati: Bapak Dr. Lukman Hakim APU, Ketua P2JP Pusat, selaku Sekretaris Majelis Pengukuhan Ahli Peneliti Utama. - Yang saya hormati: Anggota majlis Pengukuhan Ahli Peneliti Utama. - Yang saya hormati : Bapak Ir. Mahdi Kartasasmita MS, PhD selaku
Kepala LAPAN, Bapak Dr.lng Agus Nuryanto selaku Deputi Bidang Teknologi Dirgantara, Bapak Dr. Ir. Adi Sadewo selaku Deputi Bidang Sains, Pengkajian dan Informasi, Bapak Drs. Bambang Tejakusuma Dipl-Ing selaku Deputi Bidang Penginderaan Jauh, Bapak Ir. Wisjnu P. Marsis M. Eng selaku Sekretaris Utama LAPAN dan Bapak-Bapak serta Ibu - Ibu Kepala Pusat dan Kepala Biro, Kepala Bidang dan
Kepala Bagian serta struktur jajaran di bawahnya yang dapat hadir pada acara ini.
- Yang saya hormati : Bapak-Bapak dan Ibu-lbu pejabat P2JP, Komisi Pakar dan pejabat fungsional LAPAN.
- Yang saya hormati : Bapak-Bapak dan Ibu-lbu panitia penyelenggara pengukuhan ini yang telah banyak menguras tenaga dan waktu demi suksesnya acara ini.
- Yang saya hormati : Bapak-Bapak,lbu-lbu para undangan yang dapat hadir di sini.
- Yang saya hormati pula kepada keluarga saya yang dapat menghadiri acara ini.
Bapak-Bapak dan Ibu-lbu sekalian yang saya hormati,
Berbekal dari salinan Surat KEPUTUSAN KETUA LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA NOMOR 837/D/1990 TENTANG PENETAPAN TATA CARA PENGUKUHAN PEJABAT FUNGSIONAL AHLI PENELITI UTAMA yang memutuskan dan menetapkan orasi pengukuhan yang akan dipresentasikan memuat antara lain: Sari pati
amal karya dan pengalaman penelitian, relevansi karya dalam perkembangan bidang ilmunya dan pembangunan nasional, serta pandangan atas arah pengembangan bidang ilmunya di masa depan, oleh karena itu saya menulis orasi pengukuhan ini dengan
judul : "LAPAN: DARI ROKET METEOROLOGI MENUJU ROKET
Orasi ini memuat sekelumit kisah dan sedikit andil yang mungkin tidak mempunyai arti apa-apa, yang dapat saya sumbangkan dalam bentuk partisipasi kerja selama ini, baik dalam penelitian maupun pengembangan sebagian kecil roket buatan LAPAN dari mulai bekerja sebagai staff proyek SWASAT ( Swa Sembada Sistem Satelit ), staff proyek Roket Meteorologi (ROMET), dan akhirnya bekerja sebagai peneliti di LAPAN sampai kini.
Bapak-Bapak dan Ibu-lbu yang saya hormati,
Kalau kita melihat awal mula berkembangnya peroketan di LAPAN, hal ini tidaklah terlepas dari perkembangan peroketan dan kedirgantaraan di dalam negeri pada waktu itu dan juga perkembangan peroketan dan kedirgantaraan di dunia.
Kalau dilihat sejarah awai perkembangan peroketan atau kedirgantaraan di dunia, kita dapat menengok ke benua Asia ( Cina ), Eropah ( Jerman, Inggris dan Perancis), Amerika (USA), Asia-Eropa (Uni Sovyet atau Rusia), dan negara-negara lainnya di dunia. Perkembangan peroketan di Cina dapat dikatakan dimulai pada abad ke 13 Masehi dengan adanya pemakaian roket untuk angkatan bersenjata. Pada abad ke 16 Masehi, yaitu tepatnya tahun 1628, dimana Kaisar Shun Zhi mempublikasikan suatu cetak biru pembuatan meriam, roket dan berbagai teknik piroteknik. Di Eropa, seorang pimpinan Arsenal "von Sibiu" dari Rumania yang bernama Conraad Haas dari tahun 1529 sampai tahun 1569 telah membuat manuskript
mengenai roket dua tingkat dan konsep pengatur roket. Kemudian pada kira-kira tahun 1800, Kolonel William Congreve dari Inggris mengembangkan teknik peroketan tersebut dengan kemampuan jelajah yang dapat mencapai 2 km dengan berat awal 15 kg. Roket ini menjadi terkenal setelah dipakai oleh Inggris untuk melawan tentara Napoleon dari Perancis pada perang Waterloo. Peroketan di Jerman dipelopori oleh Herman Obert (1894-1953). la berasal dari daerah perbatasan Austria - Hungaria dan mempunyai andil yang sangat besar dalam mengembangkan peroketan di Jerman, baik roket pendukung dua tingkat, metoda pendinginan dinding dalam dan leher nosel, serta penelitian roket cair, la juga berperan sebagai konseptor, dan penemu dalam pembuatan roket A 4. Pada tahun 1930, seorang anak muda bernama Werner Von Braun ikut pula merintis peroketan di Jerman dalam pembuatan roket yang dikenal dengan nama Mirak 1. Roket ini mempunyai panjang 1,3 meter dan berat 3 kg. Kemudian dikembangkan menjadi Mirak II, Mirak III dan akhirnya berkembang menjadi roket V2 yang pertama kalinya dijatuhkan di kota Paris pada tanggal 6 September 1944. Pada tahun 1934, pengembangan roket jenis lainnya, yaitu roket A2 dengan massa 150 kg dan gaya dorong 3000 N diluncurkan sampai ketinggian 2,5 km, kemudian pada tahun 1935 dikembangkan roket jenis A3 dengan panjang 7,6 m dan mempunyai massa awal = 740 kg. Roket ini mempunyai gaya dorong mencapai tiga kali dari roket A2. Roket A4 diproduksi secara masal pada tahun 1942, setelah diluncurkan dengan sukses pada tanggal
3 Oktober 1942. Roket ini dapat mencapai ketinggian 80 km dengan daya jelajah 190 km, dalam waktu 60 detik.
Di Amerika Serikat, Robert Goddard (1882-1945) adalah seorang yang mempunyai banyak berpartisipasi dalam penelitian dan pengembangan di bidang peroketan, diantaranya adalah tentang prinsip roket berbagai tingkat, bahan bakar roket cair, sistem propulsi roket cair, ruang bakar roket, nosel dan lain sebagainya. Pada masa perang dunia I, la mengembangkan roket cair dengan daya jelajah 2 km dan dikembangkan terus dengan nama: Corporal. Roket ini diluncurkan pada tahun 1944 dan sudah dapat mencapai ketinggian 70 km. Amerika Serikat sebagai salah satu negara pemenang perang dunia kedua melawan Jerman, mengambil arsip yang menyangkut roket V2 dari Peenemunde dan membawa sebagian besar ahli peroketannya seperti Werner Von Braun dan Dornberger ke Amerika. Di tempat yang baru, Tim Von Braun mengembangkan roket V2 dan pertama kali digunakan untuk mengukur pengamatan atmosfir dan bumi. Untuk tahun-tahun berikutnya, dikembangkan lagi dari roket V2 menjadi roket balistik interkontinental MX 774, di mana roket ini nantinya menjadi dasar pengembangan roket Atlas. Pengembangan roket dengan daya jelajah 2800 km dilakukan dalam suatu proyek bernama "Jupiter" dan pada program proyek Jupiter C, sudah dikembangkan roket yang dapat mencapai ketinggian 1100 km dengan daya jelajah 5475 km serta roket tiga tingkat sebagai roket pembawa satelit.
Perkembangan peroketan di negara Uni Sovyet (Rusia ) dipelopori oleh Konstantin Ziolkovsky (1857-1935). la mengembangkan prinsip teknik roket berbahan bakar cair. Setelah perang dunia kedua, seperti juga dengan Amerika Serikat, Uni soviet ( Rusia ) mengambil pula arsip roket V2, perangkat peralatan untuk produksi roket dan memboyong karyawan yang bekerja di pabrik roket V2 di Nordhausen ke negara Rusia. Pada tanggal 18 Oktober 1947, untuk pertama kalinya diluncurkan roket V2. Perbaikan dan penyempurnaan roket V2 dilakukan di bawah pimpinan Sergei Korolev dan dikembangkan menjadi roket dengan nama roket R1.
Roket R7 yang merupakan pengembangan roket R1 sudah dapat membawa satelit Sputnik I. Roket ini mempuyai panjang 29,2 m, lebar 10,3 m, massa awal 270 ton dan dapat membawa muatan 1,3 ton serta diluncurkan untuk pertama kali pada orbit rendah. Roket ini merupakan roket dua tingkat, roket tingkat satunya (booster) mempunyai 5 mesin roket terdiri dari 20 roket kecil berbahan bakar cair dengan fuel: paraffin cair dan oksidator: oksigen cair. Roket ini mempunyai masing-masing gaya dorong 250 KN dan dapat membawa setelit. Pada tanggal 15 Mei 1958, Uni Sovyet untuk pertama kalinya meluncurkan roket membawa Sputnik 3 dengan berat satelit 1,3 ton.
Sekarang, baik USA maupun Rusia (uni Sovyet) telah maju sekali dalam dunia peroketan, dan bagaimana perkembangan peroketan di Asia?.
CINA.
Sebagaimana telah disebutkan di atas, sejarah perkembangan peroketan di Cina dapat dikatakan sudah cukup lama, yaitu dimulai pada abad ke 13. Tetapi perkembangan yang lebih jelas lagi dimulai pada sekitar tahun 1950-an, di mana saat itu pemerintah Cina mencanangkan proyek" Rencana Pengembangan Sains dan Teknologi
12 Tahun ", yang meliputi pengembangan ilmu pengetahuan tentang roket, teknologi radio, komputer, teknologi pengendali otomatis sampai teknologi semi konduktor. Pengembangan proyek ini terbantu dengan adanya kesepakatan dengan Rusia untuk mentransfer teknologi roket dan nuklir pada tahun 1956. Pada 9 Februari 1960, Cina dengan tim peroketan yang dipimpin Qian Xuesen sebagai bapak ruang angkasa Cina berhasil meluncurkan roket R2 yang ditiru dari Rusia sebagai roket perdananya. Perkembangan peroketan dilanjutkan dengan proyek yang lebih besar lagi, yaitu proyek angkasa luar. Tetapi sayangnya, karena krisis dan perbaikan ekonomi, maka proyek ini berhenti pada tahun 1980 dan beralih pada proyek pembuatan dan peluncuran satelit untuk tujuan komersial. Dari tahun 1985 sampai saat ini, telah puluhan satelit diluncurkan, diantaranya berkat hasil kerja sama dengan Amerika Serikat. Proyek 921 merupakan program Nasional Antariksa berawak Cina yang mulai dikembangkan pada tahun 1992. Adanya kesepakatan dengan Rusia untuk mengalihkan teknologi ruang angkasanya termasuk teknologi wahana antariksanya kepada Cina, maka pada bulan Nopember tahun 1999, Cina berhasil
melakukan peluncuran perdana "Shenzhou-1" yang merupakan wahana ruang angkasa tanpa awak. Kemudian wahana antariksa yang dapat diluncurkan adalah "Shenzhou-2", "Shenzhou-3", "Shenzhou-4" dan terakhir meluncurkan wahana antariksa berawak "Shenzhou-5". Cina atau RRC telah mampu membuat roket pengorbit baik untuk LEO, MEO, GSO dan roket misil/ senjata, seperti SLBM, IRBM dan ICBM. Pada tahun 2008, Cina mengharapkan dapat meluncurkan roket yang sanggup membawa beban 15 ton
INDIA
Pada tahun 1962, Negara India telah mendirikan institusinya yang bernama ISRO (Indian Space Research Organization) dan saat ini telah mampu membuat roket baik LEO, MEO dan GSO serta roket balistik/ senjata.
PAKISTAN
Negara Pakistan ini juga tidak mau ketinggalan dengan negara tetangganya India. Negara ini memulai kegiatan kedirgantaraan pada tahun 1961 dan saat ini telah mampu membuat roket balistik maupun misil/ senjata.
JEPANG
Jepang dengan mendirikan NASDA pada tahun 1969 dan berubah nama kemudian menjadi JAXA. Pada 1990, Badan Luar Angkasa
Jepang (ISAS ) telah mampu mengirim misinya ke ruang angkasa dan saat ini Jepang mampu membuat serta meluncurkan roket LEO, MEO dan GSO serta roket misil balistik/senjata.
KOREA SELATAN
Korea Selatan pada tahun 1989 telah membentuk institusi yang bernama Korea Aerospace Research Institute (KARI) dan sekarang mengembangkan roket- sonda dan roket senjata lainnya.
KOREA UTARA
Korea Utara telah mengembangkan roket balistik maupun misil dan merupakan saingan dari Korea Selatan.
MALAYSIA
Malaysia mulai mengembangkan kedirgantaraan dan peroketannya pada tahun 1997 dengan cara mengembangkan terlebih dahulu teknologi satelit dan membuat satelit mikro " Tiung Sat - 1" dan mendirikan Malaysian Agency for Space Administration (MASA) pada awal tahun 2000.
THAILAND
Thailand mengembangkan kedirgantaraannya dengan mengembangkan teknologi antariksa dalam pembuatan satelit mikro,
»
Geo Informatics and Space Technology Development Agency (GISTDA).
INDONESIA
Bagaimana Perkembangan Peroketan di INDONESIA ?
Sejarah perkembangan peroketan dan kedirgantaraan di Indonesia tidaklah terlepas dari perkembangan di Asia dan di dunia. Setelah Indonesia menyatakan merdeka, Indonesia telah memberikan perhatian pada pembangunan kedirgantaraan, yaitu dengan mulai mengirim pelajar- pelajar baik ke Eropa Barat, Eropa Timur dan Amerika pada era tahun 1950-an dan dilanjutkan pembentukan Dewan Penerbangan pada tahun 1955. Kemudian Dewan ini dikembangkan lagi menjadi Dewan Penerbangan dan Antariksa Nasional Republik Indonesia (DEPANRI) pada tahun 1963 dan pada tahun 1993 menjadi Dewan Penerbangan dan Antariksa Nasional Republik Indonesia (DEPANRI) yang menangani kebijaksanaan umum di bidang kedirgantaraan (Penerbangan dan Antariksa). Pada era tahun 1960-an yang merupakan era Indonesia bangkit nasionalisme (peristiwa Dwi Kora danTri kora) ditandai dengan pengembangan teknologi peroketan oleh kerja sama Perguruan Tinggi (ITB), AURI dan AD(PINDAD) sehingga dapat melahirkan proyek penelitian dengan nama Pengembangan Roket llmiah dan Militer ( Proyek Prima ) dan berhasil meluncurkan KARTIKA - 1 dengan berat 220 kg Roket tersebut diluncurkan pada 14 Agustus 1964 dari Pameungpeuk, Jawa Barat
(Gambar 1). Selain itu dibuka studi teknik Penerbangan di ITB pada tahun 1962.
Sumber: Humas LAPAN Gambar 1. Roket KARTIKA -1 di atas Launcher
Atas usul DEPANRI, maka Pemerintah berdasarkan Keppres Nomor:263 tahun 1963 membentuk Lembaga Penerbangan dan Angkasa Luar Nasionai (LAPAN), dan ini menunjukkan Indonesia mulai memperhatikan penerbangan dan juga keantariksaan.
Seperti halnya DEPANRI hanya, dalam perkembangannya LAPAN berubah kepanjangan namanya menjadi Lembaga Penerbangan ;dan
Antariksa Nasional berdasarkan Keppres Nomor 24 tahun 1974 sampai saat ini.
DARI PENELITIAN KE PENELITIAN
1 Penelitian awal roket sampai dengan Uji Statik dan Uji Terbang a) Mengenal Peroketan
Pengenalan awal saya pada peroketan dalam bentuk suatu kesatuan yang utuh, yaitu roket ,yang terdiri dari tabung motor roket yang berisi bahan bakar roket/propelan dan nosel, beban guna (payload) serta beberapa bagian atau komponen lainnya dimulai saat saya masuk ke Proyek SWASAT - LAPAN pada tahun 1975. Bermula dari mempelajari buku peroketan seperti buku Rocket Propulsion karangan M. Barrere, dan buku Rocket Propulsion Elements karangan George P Sutton, yang merupakan buku pintar peroketan pertama yang saya ketahui. Kemudian untuk mengenal lebih lanjut dunia peroketan, maka saya bersama kawan-kawan se-proyek mengikuti kursus roket KAPPA - 8, yaitu jenis roket ilmiah meteorologi (sounding rocket) dua tingkat dengan booster (tingkat satu) berdiameter 420 mm dan roket sustainer (tingkat dua) berdiameter 250 mm. Roket-roket ini buatan Jepang dan memakai bahan bakar/propelan padat polisulfida dengan sistem case bounded' serta
telah berhasii diluncurkan ke atmosfir Indonesia oleh LAPAN, tepatnya di Stasiun Peluncuran di tepi pantai Cilauteureun Pameungpeuk -Garut Selatan, Jawa Barat sebanyak 3 buah dari tipe KAPPA-8 dan KAPPA-9 M dengan ketinggian yang dapat dicapai dari sekitar 200 km sampai 334 km pada bulan Agustus 1965 (Gambar 2), Dari hasil peluncuran tersebut dapat diketahui untuk pertama kalinya, data atmosfir kita yang masih kosong. Kemudian dilanjutkan lagi dengan kursus roket SA-75 atau roket B 750 BK, yang merupakan roket/ peluru kendali senjata darat ke udara yang membawa warhead, dan dipakai untuk menembakkan pesawat pemburu / pesawat pembom yang melintasi udara kita. Roket ini juga terdiri dari dua tingkat, di mana tingkat pertama berisi propelan (bahan bakar roket) padat double base Nitrogen Cellulose + Nitrogen Gliserin dalam bentuk batang silinder pejal sebanyak 14 buah dengan berat 550 kg dan bekerja dengan gaya dorong 40 ton selama kira-kira 3-4 detik. Sedangkan roket tingkat dua (sustainer) menggunakan propelan cair hipergolik, terdiri dari fuel yang berupa campuran isomerxilidin dengan triethilamine dan oxidizer dari jenis IRFNA (Inhibited Red Fuming Nitric Acid) yang memiliki
kandungan Asam nitrat dengan Nitrogen Oksida. Roket tingkat dua ini bekerja dengan gaya dorong 3 ton selama kira-kira 57 - 63 detik dengan daya jangkauan ketinggian 25-35 km serta mempunyai kecepatan terbang kira-kira 1000 meter/detik. Roket tersebut buatan Rusia yang dipercayakan kepada KOHANUDNAS-AURI-Departemen Pertahanan Keamanan untuk mengoperasikannya.
Sumber: Humas LAPAN
Gambar 2. Roket KAPPA - 8 akan diluncurkan LAPAN
b) Penelitian di Pondok Gede
Berbekal dari referensi buku-buku, training roket KAPPA-8 dan SA-75, serta sumber lainnya, kami mencoba mengawali penelitian pada propelan cair, yaitu rekondisi oksidizer yang sudah menurun konsentrasinya dan dilakukan di Pondok Gede, Bekasi. Hal ini dilakukan dengan cara menyuntikkan cairan pekat dan sangat beracun Nitrogen Tetroksida ( N2 O4 ) ke dalam oksidizer tersebut agar dapat
oksidizer, uji statik roket cair terjadi kegagalan karena adanya kebocoran pada feed system -nya .
c) Penelitian di "Alas Karet" - Tarogong
Dengan adanya masalah yang beragam dihadapi pada roket cair, maka akhirnya penelitian diarahkan lebih dahulu ke roket berbahan bakar/ propelan padat.
Perancangan awal propelan padat berawal dari hasil perancangan awal sistem propulsi motor roket padat termasuk perancangan internal balistik dan perancangan nosel, serta perancangan batang propelan (grain propellant) termasuk pula perancangan geometri batang propelan. Penelitian ini menggunakan beberapa referensi, diantaranya adalah referensi dari Thiokol Chemical Corporation tentang polimer cair polisulfida untuk pengikat (binder) propelan padat dan referensi V.R.Gowariker tentang propelan padat dan bahan kimia lainnya untuk teknologi antariksa, pemakaian propelan polisulfida pada roket
KAPPA-8 buatan Jepang dan juga yang dipakai pada roket Superloki. Lokasi penelitian tidak berada di Jakarta, tetapi di suatu tempat yang berjarak J L 8 0 km ke arah perbatasan Tanggerang dan Bogor, tepatnya
di "alas karet" -Tarogong - Rumpin. Pada waktu itu, perjalanan lewat Curug-Tangerang memakan waktu yang relatif lebih lama dibandingkan dengan rute lain, seperti naik kereta api Tanah Abang -Cisauk atau menyebrangi kali Cisadane dengan rakit, yang kemudian dilanjutkan lagi dengan berkendaraan melewati jalan penuh lubang
seperti genangan kerbau apalagi bila bepergian di musim hujan. Biasanya, jikalau akan mengadakan penelitian di sana, diharapkan menginap di mess LAPAN sebagai base camp kira-kira 3 sampai 5 hari kerja. Tempat ini berjarak kira-kira 3 km dari lokasi penelitian Tarogong. Penerangan pada waktu itu belum seperti sekarang ini, masih dilakukan dengan bantuan genset yang dapat menyala sampai pukul 22.00 WIB.
c.1. Penelitian Pembuatan Propelan
Penelitian pembuatan propelan padat komposit polisulfida berawal dari penelitian untuk mendapatkan komposisi yang tepat. Ini dilakukan dengan cara mencampur fuel, fuel binder, oksidator dan bahan tambahan lainnya dengan perbandingan tertentu. Fuel binder yang dipakai adalah dari jenis polimer polisulfida Lp 3 atau Lp 33 dengan Para Quinone Dioxime (GMF) sebagai cured binder dan Diphenylguanidine (DPG) sebagai akselerator. Bubuk Aluminium dipakai sebagai Fuel, sedangka oksidator yang dipakai adalah Amonium Perkhlorat kasar dan halus serta sebagai bahan tambahan (katalis) yang dipakai adalah bubuk MgO dan Belerang. Dengan metoda trial and error, propelan padat polisulfida ini dapat dibuat dengan komposisi yang hampir menyamai sifat-sifat propelan polisulfida superloki, yaitu
a. Sifat Fisika : -. Berat Jenis -. Kekerasan -. Kuat tarik -. Perpanjangan -. Modulus Elastisitas -. Suhu nyala : 1,7162 gr/cm3 : 70 - 90 Shore A : 14-17,5 kg/cm2 : 1 8 - 4 5 % m a k s . : 147,6-196,8 kg/cm2 : 135° C b. Sifat Balistik: -. Tekanan Eksponen ( n) : 0,435 -. Konstanta Kecepatan Pembakaran (a ): 0,187 -. Rasio Panas Spesifik (y ) : 1,217
-. Panas Pembakaran ( AH ) : 1200 kal/gram -. Suhu Ruang Bakar (Tc) : 1784° K
-. Kecepatan Pembakaran (r) pd 1000 psi: 1,1 cm/detik -. Kecepatan Karakteristik ( C*) : 1450 m/detik. Sumber: Data Roket Superloki
Pembuatan propelan padat yang dilakukan oleh LAPAN adalah proses free Standing (prosesnya tidak bersama-sama dengan tabung motor roket), dan harus melalui beberapa tahap, yaitu
1. Penimbangan bahan baku. Penimbangan ini dilakukan masing-masing baik fuel, fuel binder, oksidator kasar dan halus, bahan akselator maupun katalis.
2. Pre mixing (Pencampuran pendahuluan), yaitu mencampur bahan bahan tertentu saja.
3. Mixing (Pencampuran), yaitu mencampur bahan-bahan lainnya yang sudah ditimbang satu persatu sesuai dengan prosedur ke dalam mixer.
4. Casting (Pencetakan), adonan propelan yang berbentuk slurry dicetak dalam suatu cetakan (mandril) sesuai dengan bentuk batang propelan (grain) yang telah dirancang.
5. Curing (Pemasakan/pematangan), propelan yang sudah dicetak kemudian dimasak pada suhu dan waktu tertentu.
6. Decoring (Pelepasan mandril), yaitu melepaskan mandril dari cetakan propelan yang sudah masak.
7. Penyimpanan batang propelan yang sudah jadi.
Untuk menghasilkan batang propelan seperti yang diinginkan, banyak masalah yang harus diperhatikan, dihadapi dan diselesaikan mulai dari Sumber Daya Manusia yang belum ahli dan teriatih menghadapi bahan kimia yang sangat korosif, beracun dan berbahaya bagi kesehatan atau keselamatan, peralatan yang belum otomatis seluruhnya serta beberapa masalah lagi yang dihadapi mulai dari tahap-tahap pembuatan propelan sampai penyimpanan, diantaranya, adalah
1. Tidak tepatnya pemanasan/pengeringan oksidator ammonium perkhlorat kasar dan halus, akan menyebabkan terjadinya
penggumpalan, walaupun sudah ditambah dengan anti kuagulasi Magnesium Stearat.
2. Kecepatan putar per menit dan lamanya pengadukan yang harus direkomendasikan di mixer agar adonan (slurry) tidak mentah atau matang sebelum waktunya atau dapat pula terjadi penggumpalan dari slurry pasta propelan di-mixer, yang disebabkan diantaranya,
ialah tidak tepat ukuran volume bahan propelannya.
3. Kesalahan dalam pencetakan akan mempengaruhi banyak dan besar rongga-rongga udara (porositas) pada batang propelan. 4. Pemasangan mandril dan penarikan mandril dari cetakan yang
tidak tepat akan mempengaruhi kerusakan batang atau permukaan propelan.
5. Lamanya pematangan (curing) batang propelan yang tepat waktunya.
6. Banyak lagi hal-hal yang harus diperhatikan, seperti transportasi ke ruang penyimpanan dan kondisi ruang penyimpanan, seperti kelembaban, suhu dan letak penyimpanan batang propelan yang harus lurus dan horisontal.
Semua ini akan mempengaruhi hasil batang propelan padat yang sudah jadi dan sudah dicetak, seperti keropos/banyak pori, retak di dalam dan di permukaan batang propelan, terlampau keras atau lunak batang propelan, penyebaran butir-butir oksidator ammonium perklorat yang tidak merata di propelan, batang propelan yang tidak lurus, dan banyak lagi yang dapat terjadi pada batang propelan yang sudah jadi.
c.2 Pengujian propelan
Pengujian batang propelan dilakukan diantaranya dengan uji kecepatan pembakaran, pengujian cacat propelan, dan pengujian kuat tank.
Untuk mengetahui kecepatan pembakaran propelan (R) dilakukan dengan uji memakai alat strand burner atau closed Bomb. Data yang dihasilkan berupa nilai eksponen tekanan pembakaran (n), nilai koeffisien pembakaran (a) dan nilai kecepatan pembakaran (r). Bila nilai "n" mendekati satu , kecepatan pembakaran dan tekanan pembakaran akan menjadi sangat sensitif satu sama lain dan cenderung menyebabkan ledakan dalam beberapa mili detik, sedangkan nilai "n" yang kecil atau mendekati nol akan menghasilkan pembakaran yang tidak stabil dan ada kemungkinan akan terjadi pemadaman sendiri. Nilai "a" merupakan konstante empiris yang dipengaruhi oleh suhu batang propelan dan orientasi permukaan batang propelan dalam hubungannya dengan teknik proses pembuatan propelan seperti pemakaian vakum selama mixing, casting dan tranportasi juga vibrasi selama casting. Nilai "r" dapat dipakai untuk menyempumakan formula propelan, kontrol kualitas serta membantu dalam perancangan motor roket.
Pengujian cacat propelan dapat diketahui dengan ada atau tidaknya pori-pori atau retak yang ada dipermukaan atau di dalam batang propelan. Uji ini dilakukan dengan pemeriksaan batang propelan melalui sinar X berkekuatan 150 KV dan 5 mili amper menit
dengan memakai film D-7. Sedangkan pengujian kuat tarik dilakukan untuk mengetahui kekuatan batang propelan tersebut.
c.3.Penelitian Liner dan Inhibitor
Karena pembuatan propelan dilakukan dengan sistem free standing, maka untuk merekatkan propelan ke dinding dalam tabung motor roket diperlukan bahan dan campuran kimia tertentu yang disebut liner. Sedangkan untuk menahan laju aliran panas ke penutup (cap) dan ke sisi atau celah ujung nosel digunakan campuran bahan kimia tertentu pula yang disebut inhibitor. Selain itu, bila diinginkan batang propelan dengan panjang dan diameter tertentu untuk motor roket, maka perlu dilakukan penyambungan, misalnya untuk membuat batang propelan berdiameter 250 panjang 3000 mm akan membutuhkan 3 buah batang propelan berdiameter 250 mm dengan panjang 1000 mm dan akan memerlukan dua kali penyambungan.
Penelitian demi penelitian telah dilakukan untuk mendapatkan formula kimia liner, inhibitor dan sambungan yang tepat dan sesuai dengan persyaratan yang dibutuhkan, antara lain adalah kemudahan
merekat baik pada permukaan propelan dan pada dinding motor roket, mempunyai sifat penyekat yang baik, waktu masak (curing time) yang tak terlalu lama, ketebalan liner, mempunyai kekuatan geser yang cukup kuat, bersifat sebagai isolator yang baik, mempunyai waktu penyimpanan yang cukup lama, tahan terhadap suhu, G force dan vibrasi, kestabilan kimia dan panas serta mudah diproses. Sedangkan
formula campuran kimia untuk sambungan diperlukan beberapa persyaratan lagi, diantaranya, ialah mempunyai kuat tank yang lebih besar dari propelannya, tidak mudah patah atau retak disambungan dan tidak menghambat pembakaran propelan.
Seperti juga pada pembuatan propelan, banyak masalah yang harus dihadapi dalam menangani pemakaian dan pemasangan liner, inhibitor dan sambungan. Selain formula yang tepat untuk liner, inhibitor dan sambungan, juga peralatan yang diperlukan untuk pekerjaan itu, dan tak kalah pentingnya adalah teknik pemasangannya.
Adapun permasalahan yang timbul pada waktu pemakaian dan pemasangan liner, inhibitor dan sambungan adalah berawal dari ketidaktahuan mengenai bahan liner, inhibitor atau sambungan serta ketiadaan bahan liner, inhibitor dan sambungan di pasaran Indonesia. Untuk mengatasi hal itu, kami mencoba melakukan penelitian bahan-bahan untuk dipakai sebagai liner, inhibitor dan sambungan dari hasil membaca literatur yang berhubungan dengan itu sampai mencoba mengamati liner di dalam roket KAPPA-8. Penelitian bahan liner dimulai dari pemakaian kain asbes dengan bahan perekat yang mempengaruhi loading density sampai akhirnya ditemukan formula liner dari kain berserat gelas dicampur dengan bahan perekat kimia yang dapat mengurangi loading density. Dalam hal pemakaian liner pada batang propelan yang akan dimasukkan ke dalam tabung motor roket yang mempunyai selisih jarak radial 2 -5 mm dan merekatkannya
ke dinding motor roket dilakukan dengan penelitian teknik mengecor memakai alat vibrator yang dibuat sendiri.
Beberapa hal dapat terjadi bila liner, inhibitor dan sambungan tidak memenuhi syarat, diantaranya adalah :
1. Bila pada waktu pemasangan liner ke dalam tabung roket yang hanya berjarak beberapa mili meter kurang baik/sempurna dan merata, ini akan menyebabkan terjadinya aliran panas pembakaran propelan ke dinding roket dalam waktu yang singkat ( mili detik) 2. Tidak baik dan meratanya pemasangan inhibitor akan menyebabkan
mengalirnya panas pembakaran propelan ke celah-celah penutup (cap) atau sisi dalam nosel.
3. Tidak baik dan meratanya sambungan propelan akan menyebabkan mudah patah atau terhambatnya aliran panas pembakaran propelan.
Semua ini dapat menaikan tekanan pembakaran (chamber pressure) yang tiba-tiba (over pressure) atau kenaikan panas yang tiba-tiba (over heating), yang pada akhirnya dapat mengganggu ketidakstabilan roket tersebut atau ledakan roket.
Semua hal tersebut perlu mendapat perhatian agar jangan terjadi pecahnya tabung pada uji statik atau uji terbang karena timbulnya tekanan pembakaran atau panas yang tiba-tiba terlalu besar.
d. Penelitian Igniter
Suatu sistem penyala awal yang disebut igniter mempunyai peran penting agar propelan dapat terbakar dan tidak menimbulkan shok
pada propelannya. Penelitian igniter dari jenis, tipe, ukuran dan bahan isian yang dapat dipakai disesuaikan dengan jenis, tipe, ukuran propelannya. Contohnya untuk propelan bentuk bintang dengan panjang 2500 mm dan berdiameter 250 mm dipakai sistem igniter tipe basket yang mempunyai tiga tahap pembakaran, yaitu penyala awal (preliminary charged), booster charged dan penyala utama (main charged).
2. Uji Statik dan Uji terbang
a. Uji Statik
Awal uji statik Roket RX buatan LAPAN dimulai pada tanggal 11 Oktober 1980, yaitu RX - 01. Roket ini menggunakan propelan padat komposit polisuifida bentuk bintang 7 dengan ukuran diameter batang propelan (grain ) = 140 mm dengan panjang 2000 mm.
Roket RX - 01 diuji pada tanggal: 11 Oktober 1980 dengan data yang diperoleh, adalah
-. Gaya Dorong ( Thrust) awal : 3300 kg -. Gaya Dorong Maksimum : 3800 kg -. Tekanan Pembakaran awal : 71,1 kg/cm2
-. Tekanan pembakaran maksimum : 76,3 kg/cm2
-. Waktu pembakaran sampai pada tekanan pembakaran maksimum = 0,32 detik. Roket ini meledak pada detik ke 0,45 setelah menyala.
Bagian tengah tabung sampai ke ujung depan nose! pecah serta nosel terlempar.
Roket RX-02 diuji pada tanggal 22 Oktober 1980 dan diperoleh data sebagai berikut:
-. Gaya Dorong awal : 3400 kg -. Gaya dorong maksimum : 3500 kg -. Tekanan pembakaran awal : 68,4 kg/cm2
-. Tekanan pembakaran maksimum : 72,4 kg/cm2
-. Waktu pembakaran sampai pada tekanan pembakaran maksimum = 0,5 detik. Roket ini meledak juga pada detik ke 0,5 setelah menyala. Bagian tengah tabung sampai ke ujung depan nosel pecah serta nosel terlempar (Gambar 3)
Roket RX-03 diuji pada tanggal 22 Oktober 1980 diperoleh data sebagai berikut:
-. Gaya Dorong awal :3100 kg -. Gaya dorong maksimum : 4500 kg -. Tekanan pembakaran awal : 71,1 kg/cm2
-. Tekanan pembakaran maksimum : 92,1 kg/cm2
-. Waktu pembakaran sampai pada tekanan pembakaran maksimum = 0,3 detik. . Roket ini meledak pula pada kira-kira detik ke 0,6 setelah menyala. Bagian tengah tabung sampai ke ujung tutup depan (cap) pecah. Penutup (cap) dan penumpu load cell terlempar keluar, sedangkan tabung bagian belakang masih terikat dengan nosel.
Dari kegagalan ketiga motor roket seri RX hasil pengujian tersebut, maka dilakukan penelitian sebab-sebab kegagalannya, diantaranya banyak hal yang perlu diperhatikan lagi mulai dari:
1. Sistem propulsi. Terjadinya pembakaran erosi (erosive burning) dan tekanan pembakaran yang melebihi dari tekanan perancangan (+50 kg/cm2) dan melebihi kekuatan sambungan tabung dengan
nosel dan cap. Juga pengaruh tegangan panas (thermal stress) yang tiba-tiba naik cepat sekali.
2. Pada propelan : dapat terjadi karena komposisi yang belum tepat, banyaknya pori-pori (porous) yang terdapat dalam propelan atau retak dalam, sambungan yang kurang baik, pemakaian liner dan inhibitor yang kurang baik dan beberapa faktor lainnya.
3. Pada sistem asembling motor roketnya.
Setelah di evaluasi kegagalan hasil uji statik RX-01, RX-02, dan RX-03 tersebut dan dari hasil masukan dari "Diskusi Teknik Penelitian dan Pengembangan Roket Sonda", kemudian pengujian dilanjutkan dengan tiga tipe dari seri RX berikutnya, yaitu
1. Tipe RX 150-1000, merupakan motor roket dengan diameter 150 mm dengan panjang 1000 mm, diantaranya RX-22, RX-28 dan RX-39. Panjang batang propelan = 90 dan 99 cm, menggunakan nosel dengan luas kerongkongan = 21,24 mm dengan sudut konvergen = 45° dan sudut divergen = 12°
2. Tipe RX 150 - 1500 merupakan motor roket dengan diameter 150 mm dengan panjang 1500 mm terdiri dari seri RX-08, RX-10, RX-15, RX-16, RX-21, RX-31, RX-34, RX-40 dan RX-42. Panjang batang propelan yang dipakai adalah 1440 mm, 1450 mm, 1480 mm, dan 1490 mm. Nosel yang dipakai mempunyai dimensi ukuran, adalah luas kerongkongan 32,17 cm; 35,84 cm; 35,28 cm dan 36,21 cm
3. Tipe RX 150-2000 merupakan motor roket dengan diameter 150 mm dengan panjang 2000 mm. Roket ini terdiri dari seri RX-30 dan RX-33. Panjang batang propelan = 192 mm dan 194 mm. Dimensi ukuran nosel, adalah luas kerongkongan 35,26 cm; sudut bagian konvergen 40° dan bagian divergen 6°. Semua uji statik ini selain untuk mengetahui panjang nosel yang tepat (ekspansi optimum), juga untuk mengetahui impuls spesifik dari propelan.
b. Uji Terbang
Uji terbang dilakukan di lokasi peluncuran roket tepi pantai Cilauteureun - Pameungpeuk, Garut, Jawa barat selatan. Peluncuran perdana dilakukan pada tanggal 29 April 1981 dengan roket satu tingkat RX 150-1500 sebanyak satu kali dari seri RX-11 dengan propelan polisulfida, dilanjutkan pada tanggal 1 4 - 1 5 Agustus 1981 sebanyak 4 buah dari tipe RX 150 - 1500, tanggal 14-15 Januari 1982 diluncurkan dari seri RX 23, 25 dan 26, di mana pada seri Rx 23 roket
meledak. Peluncuran dua tingkat dimulai pada tanggal 14 -15 Januari 1982 dengan diameter roket 150 mm -150 mm. Peluncuran dua tingkat 150 mm -250 mm dan 250 mm - 250 mm dilakukan mulai tanggal 29 Maret 1988. Peluncuran ke peluncuran terus dilakukan tahun ke tahun baik roket bertingkat satu, atau bertingkat dua dengan diameter 150 mm, atau 250 mm dengan panjang 1500 mm, 2000 mm (Gambar 4 dan 5 ) .
Gambar 4: Roket RX 150 satu tingkat dan dua tingkat akan diluncurkan
Gambar 5: Roket RX 250 /150 dan RX 250/250
Adapun tipe roket yang pernah diuji terbang satu tingkat, adalah RX 150 - 1000, RX 150 -1500, RX 150 -2000, RX 250 - 2000, RX 250 -2500, dan RX 250 - 3000. Sedangkan roket bertingkat dua yang pernah diluncurkan, adalah Roket RX 150 - 1000 dengan
RX 150 -1500; RX 150 - 1000 dengan RX 150 - 2000; RX 250 - 2000 dengan RX 250 - 3000, dan RX 150 - 1500 dengan RX 150 - 2500. Sedangkan ada beberapa roket yang belum siap diluncurkan, diantaranya, ialah Roket SOB dan Roket Kendali (Gambar 6 dan 7). Adapun awal bahan bakar (propelan) padat yang dipakai, adalah jenis polisulfida, kemudian poliuretan yang peluncurannya dimulai pada
tanggal 23 Maret 1987 dan berakhir pada tanggal 25 Agustus 1993. Setelah itu memakai propelan polibutadiene CTPB dan HTPB dengan konfigurasi batang propelan (grain propellant) bintang tujuh. Peluncuran roket menggunakan propelan poli butadiene HTPB baru dimulai pada tanggal 1 5 - 1 6 Nopember 1995 dengan roket satu tingkat berdiameter 250 mm. Pengujian terbang ini dilakukan untuk mengetahui performance roket, slank range, ketinggian, gerakan dan percepatan roket, serta kestabilan roket.
RX-250-150/SOB
Gambar 7: Roket Kendali yang siap diluncurkan.
2. Penelitian dari tahun 1990 sampai Sekarang
Penelitian yang dilakukanmulai dari tahun 1990 sampai sekarang merupakan pengembangan penelitian untuk menyempurnakan kinerja roket, seperti stabilisasi terbang roket, karakteristik dan trajektori roket, kemampuan lacak radar EEC, radar MSS , kehandalan RX 150 dengan DART, sistim separasi untuk roket bertingkat, kendali kontrol pasif, stabilisasi standarisasi roket, perancangan roket pendukung atau
peluncur satelit dan juga penelitian roket kendali pasif dan aktif serta jenis roket lainnya.
Penelitian tersebut meliputi: a. Penelitian Tabung dan nosel
Penelitian ini dimaksudkan untuk mendapatkan tabung dan nosel yang lebih ringan dan kuat. Dengan demikian dapat mengurangi loading density dan dapat menaikkan daya jangkau terbang roket atau ketinggian roket.
b. Penelitian Propelan
Penelitian ini untuk mengembangkan perancangan konfigurasi batang propelan baik konfigurasi tunggal dan ganda atau dual grain serta perancangan batang propelannya sendiri dari batang propelan bentuk bintang 7, bentuk wagon wheel, silinder, hollow serta bentuk sigaret, multi grain, bentuk wagon - silinder, dan bentuk lainnya. Selain itu pula dilakukan pengembangan penelitian propelan untuk menaikkan Impuls spesifiknya di atas 210 detik.
c. Penelitian Igniter
Penelitian sistem igniter meliputi penelitian untuk roket kecil, besar, igniter sistem ganda dan sistem igniter untuk keperluan lainnya. Peluncuran demi peluncuran telah dilakukan pula seperti peluncuran roket standard 150 mm, 250 mm, roket kendali atau roket jenis lainnya. Seperti pada tanggal 8 Mei 2002, dimulai peluncuran roket kendali pasif seri RX 150, yaitu RX 1512 (Gambar 8) dan RX 1712 (Gambar 9)
Gambar-9: Roket seri 1712 diluncurkan
Dengan adanya kerja sama LAPAN dengan instansi militer seperti AURI, AD dan ALRI mengenai penelitian dan pengembangan roket senjata serta sudah adanya kerja sama LAPAN dengan instansi-instansi di luar negeri tentang perbuatan dan peluncuran satelit mikro.
Selain itu, negara-negara lain terutama negara Asia yang telah maju dalam peroketan dart keantariksaannya, yang mana dalam hal ini merupakan tantangan untuk memajukan LAPAN di masa yang akan datang, kami memandang perlu LAPAN :
1. Untuk mengembangkan lagi kemampuan peroketannya, baik dalam daya jangkau atau ketinggian terbang sebagai roket pembawa satelit mikro. Untuk maksud ini telah mulai dirancang roket satu tingkat berdiameter 520 mm dan dua tingkat berdiameter 420 dan 250 mm.
2. Untuk roket-roket kecil yang memeriukan batang propelan (grain) dalam bentuk kecil dan panjang (diameter 1-2 mm dengan panjang kira-kira 100 cm), maka perlu dilakukan lagi penelitian dari jenis lainnya, seperti jenis propelan padat double base (DB) atau Composite Modified Double Base ( CMDB ).
Sehingga di masa mendatang Indonesia tidak lagi merasa tertinggal dengan negara lain di bidang antariksa.
UCAPAN TERIMA KASIH
Saya teringat kata-kata dari seorang Ahli Kimia bernama F.A.Kekule yang hidup dari tahun 1829 sampai dengan tahun 1896 , la mengatakan : " Kita semua berdiri di atas bahu segala orang yang
telah mendahului kita, herankah jika pandangan kita akan lebih luas dari mereka .... ? ". Periu diketahui, bahwa jarang sekali orang
mengerjakan suatu pekerjaan bidarig sendiri saja, biasanya berkelompok dalam satu tim. Apalagi di peroketan, di mana sebuah roket merupakan suatu unit/kesatuan yang terdiri dari komponen-komponen atau bagian-bagian yang saling berhubungan satu sama lain dan saling berkaitan serta saling mengisi, sehingga saya rasa sulit untuk mengatakan bahwa ini yang lebih diperlukan/dipentingkan atau diistimewakan dari yang lainnya.
Oleh karena itu, pada kesempatan yang baik dan bahagia ini, saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi baik langsung maupun tidak langsung dan telah banyak membantu dalam mengenal LAPAN, dunia penerbangan serta Antariksa terutama dalam bidang peroketan, atau yang juga telah banyak bekerja sama dalam penelitian kepada:
1. Yang terhormat: Bapak Marsda TNI (Purn) R.J.Salatun, mantan Ketua LAPAN.
2. Yang terhormat: Bapak Ir. Kisman Subandhi, terakhir sebagai pejabat Kepala Pusat Teknologi Dirgantara.
3. Yang terhormat: Bapak-Bapak Mantan Pejabat Struktur Eselon I sampai Pejabat Struktur jajaran dibawahnya.
4. Yang terhormat: Bapak Kepala Deputi Teknologi Dirgantara, Bapak Kepala Pusat Teknologi Wahana Dirgantara, Kepala Bidang Propulsi, dan Pejabat Struktur di bawahnya di lingkungan kedeputian Teknologi Dirgantara.
5. Yang terhormat: Bapak dr.Umar Thorik, mantan karyawan LAPAN. 6. Yang terhormat: Bapak-Bapak dan Ibu-lbu Pejabat Fungsional
LAPAN terutama yang telah banyak bekerja sama melakukan penelitian di bidang peroketan.
7. Yang terhormat Bapak-Bapak dan Ibu-lbu sesama karyawan yang telah banyak bekerja sama dalam melakukan penelitian .
8. Yang terhormat: Bapak dan Ibu yang telah berpartisipasi dalam membantu saya dalam penulisan orasi ini.
9. Yang saya cintai Orang tua, isteri dan anak-anak dan keluarga yang banyak membantu sampai saat ini. Dan tida lupa, sekali lagi Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuan & doanya.
DAFTAR PUSTAKA
1. Thiokol Chemical Corporation, " Polysulfide Liquid Polymers for Solid Propellant Binders", New Jersey, USA.
2. Chawari, M„ 1980, " Tinjauan Pemakaian Metoda Pembuatan Propelan Padat Komposit", Proceeding Diskusi Teknik Penelitian dan Pengembangan Roket Sonda 11-12 Nopember 1980, Memorandum Teknik, LAPAN 8305, Jakarta.
3. Nuryanto, Agus, 1980, "Perancangan Mula Propelan Komposit dengan Polisulfida sebagai Fuel dan Amonium Perkhlorat sebagai Oksidator untuk keperluan Roket Sonda", Proceeding Diskusi Teknik Penelitian dan Pengembangan Roket Sonda 11-12
Nopember 1980, Memorandum Teknik, LAPAN 8305, Jakarta. 4. Gowariker.V.R., " Rocket Propellants and Other Chemicals for
Space Technology, India.
5. Nasir.R, Sukandi, 1980, " Penelitian Pemakaian Polusulfide Polymer Sealant sebagai Liner dan Inhibitor ".Proceeding Diskusi Teknik Penelitian dan Pengembangan Roket Sonda 11-12 Nopember 1980, Memorandum Teknik, LAPAN 8305, Jakarta.
6. Prawiraatmadja.Rahardjo, 1980, "Perancangan Mula Sistem Propulsi dan Evaluasi Hasil Uji Statis", Proceeding Diskusi Teknik Penelitian dan Pengembangan Roket Sonda 11-12 Nopember 1980, Memorandum Teknik, LAPAN 8305, Jakarta.
7. Sarmidi, 1980, " Perancangan Mula Konstruksi Motor Roket Padat Tipe 15/200", Proceeding Diskusi Teknik Penelitian dan Pengembangan Roket Sonda 11-12 Nopember 1980, Memorandum Teknik, LAPAN 8305, Jakarta.
8. Nasir.R., Sukandi, Elly Rosman, Sjaflan Sumar, 1984, "Metoda Perekatan Propelan Ke Tabung Roket RX - 150 ", Proceeding Pertemuan llmiah Pengembangan Teknologi Peroketan 25-26 April 1984, LAPAN TKH 8529, Terbitan Khusus, Jakarta.
9. Nasir,R.,Sukandi, 1984, "Pengukuran Kecepatan Pembakaran Propelan Polisulfida Lp 33", Proceeding Pertemuan llmiah Pengembangan Teknologi Peroketan 25-26 April 1984, LAPAN TKH 8529, Terbitan Khusus, Jakarta.
10. Rosman, Elly.S. Sukandi Nasir R. Sjaflan Sumar. 1984, "Pengujian "Adhesive" Yang Digunakan Sebagai Bahan "Liner" Secara Mekanis", Proceeding Pertemuan llmiah Pengembangan Teknologi Peroketan 25-26 April 1984, LAPAN TKH 8529, Terbitan Khusus, Jakarta.
11. Sumar, Sjaflan. Sukandi Nasir R, Elly Rosman, 1984, "Penelitian Cacad Propelan dengan Sinar X", Proceeding Pertemuan llmiah Pengembangan Teknologi Peroketan 25-26 April 1984, LAPAN TKH 8529, Terbitan Khusus, Jakarta.
12.Prawiraatmadja, Rahardjo, 1984, " Evaluasi Hasil Uji Statik Motor Roket Seri 150", Proceeding Pertemuan llmiah Pengembangan
Teknologi Peroketan 25-26 April 1984, LAPAN TKH 8529, Terbitan Khusus, Jakarta.
13.Subandhi, Kisman, 1984, " Program Penelitian Peroketan LAPAN dalam PELITA V", Warta LAPAN No:16, Juli 1984, ISSN 0216 -9754, LAPAN, Jakarta.
14.Barrere.M, A.Jaumotte, A.F De Veubeke.and J.Vandenkerchove, 1960, "Rocket Propulsion", Elsevier Publishing Co, Amsterdam. 15.Sutton, G.P dan D.M.Rose, 1976, "Rocket Propulsion Elements",
John Wiley and Sons, Inc. New York, USA.
16.Sutton, George P dan Oscar Biblarz, 2001, "Rocket Propulsion Elements", John Wiley and Sons, Inc. New York, USA.
17.Dardare,J, J.Meriguet, L. Vaiihe, 1975, "Reacteurs - Fusees", Tome II, Les Propulsieurs & Poudre, Ecole Nationale Superieur de Laeronautique et de I'Espace," Departement Propulsion, Perancis. 18.Komando Pertahanan Udara Nasional," Pengetahuan Umum Dasar
Roket B 750 BK dan Pengendaliannya, Departemen Pertahanan Keamanan.
19.Sebayang,Darwin,2000,"Pengalaman, Tantangan dan Kontribusi terhadap Rencana Meluncurkan LEO , Pelatihan Peneliti LAPAN dalam Bidang Konstruksi Ringan, Jakarta
20.Chawari ,M, dkk, 2002, "Studi Kelayakan Landasan Luncur Roket LAPAN - Pameungpeuk", Pusat Teknologi Wahana Dirgantara, LAPAN
21.Fokal, Majalah 2003, "Pekan Kedirgantaraan Nasional 2003", Vdl.3, No." 3 - 4., ISSN 1414 - 8055, LAPAN.Jakarta.
22. Proposal Pekan Kedirgantaraan Nasional II di Jakarta.
23.Davenas, Alain,1993, " Solid Rocket Propulsion Technology" Pergamon Press, England.
24.Ferdham, S, 1980, " High Explosives and Propellant", Cetakan kedua, Pergamon Press Ltd, England
25.Shorr, Morton and A.J. Zaehringer, 1967, " Solid Rocket Technology", John Wiley and Sons, Inc, USA.
26. Richards, T.Barbour, 1981, " Pyrotechnic Industry ", Mc. Graw Hill, USA.
27.Nichiyu Giken Kogyo Co,Ltd, "Pyrotechnic", Jepang.
28. Sugiarmadji, B.Gultom, Soegiyo,1977, " Uji Statik Motor Roket KAPPA-8, Pusrigan-LAPAN", Bandung.
29.Canepa,Mark B, 2002, "Modern High-Power Rocketary", Trafford Publishing , Canada.
30.DEPANRI, 2004, "Laporan Kongres Kedirgantaraan Nasional kedua", Jakarta, Indonesia.
Riwayat Hidup l . N a m a 2. N.I.P. 3. No.Karpeg 4. Pangkat/Golongan 5. Jabatan Fungsional
6. Tempat dan tanggal lahir 7. Jenis kelamin 8. Agama 9. Status 10. Alamat Rumah 11. Alamat Kantor ll.UnitKerja
12. lokasi tempat Kerja
Sukandi Nasir Rohili 470026959
D 368038
Pembina Utama Muda / IV-c
Ahli Peneliti Utama bidang Bahan Bakar roket pada 1 Desember 2003 : Jakarta, 2 Juli 1945
: Laki-laki : Islam
: Kawin / 2 anak
: Jalan Buaran III No.28 RT.005/015 Duren Sawit, Jakarta Timur 13440
: Jalan Pemuda Persil No.1 Jakarta Timur 13220, Telp. 4892802, Fax. 4894815
: Bidang Propulsi, Pusat Teknologi Wahana Dirgantara, Deputi Teknologi Dirgantara, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional ( LAPAN )
13. Pendidikan : a). Umum
> Sarjana Muda (S0) Kimia Teknik IKIP JAKARTA, tamat tahun
1971
> Sarjana ( Si ) Kamia Teknik IKIP JAKARTA, tamat 1974 > S2 Magister Manajemen Keuangan, tamat tahun 1996.
b). Pendidikan lain, Kursus dan Latihan/ training
> Pendidikan dan Latihan Roket KAPPA - 8 di Bandung tahun 1975
> Pendidikan dan Latihan Roket SA - 75 di Jakarta, tahun 1976 > Kursus Komputer Basic Programming di Jakarta, tahun 1977 > Pasca Sarjana "llmu Pengetahuan dan Teknologi Dirgantara " di
ITB Bandung, tahun 1978 sampai dengan tahun 1979 > Kursus Komputer "Fotran IV" di Bandung.tahun 1979
> Pendidikan dan Latihan Tensile Strength, Burning rate, dan Auto Particle Analyzer PSA-2 di Jepang, tahun 1981
> Diklat Peneliti Teknologi Dirgantara Bidang Sistem Operasi di Jakarta, tahun 1985
> Pendidikan dan Latihan Laser dan Plasma Coating di Malaysia, tahun 1986
> Pendidikan "Spesialisasi Teknik Spatial dan Aero space" di Perancis, tahun 1986 - 1988
> Latihan/ training di "Ariane Space Centre" di Perancis, tahun 1988
> Latihan/training "Property surveys, Appraisal and Valuation" di Jakarta, tahun 1990
> Sekoiah Pimpinan Administrasi Tingkat Madya di Jakarta, tahun 1991/1992
> Kursus T.O.T. tingkat DKI tahun 1995
> Pendidikan dan Latihan "Perancangan Konstruksi ringan dan Aplikasi Meth.Lab" di Jakarta, tahun 1997
14. Pengalaman Kerja dan Mengajar
> Menagajar di Sekoiah Teknik di Jakarta dari 1969 -1971
> Bekerja di Industri Tinta Cetak " Sidney Cook " di Jakarta, tahun 1972
> Bekerja di Pemerintah D.K.!.Jakarta, tahun 1973 - 1978 > Bekerja di LAPAN, tahun 1978 sampai sekarang
> Mengajar di IKIP Jakarta, tahun 1973 - 1978
> Mengajar di Universitas Kusuma Negara, tahun 1976 - 1977 > Mengajar di STT Kusuma Negara, tahun 1980 - 1985
15.RIWAYAT JABATAN, PANGKAT DAN PEKERJAAN
> Riwayat Jabatan Fungsional mulai dari tahun 1979 sampai tahun 2003 dalam jabatan :
a. Asisten Peneliti b. Asisten Peneliti Muda c. Ajun Peneliti Muda d. Ajun Peneliti Madya e. Peneliti Muda f. Peneliti Madya g. Ahli Peneliti Muda h. Ahli Peneliti Madya i. Ahli Peneliti Utama > Riwayat Kepangkatan
a. Calon Pegawai Negri Sipil ( Capeg ), II b (1 -10 - 1973 ) b. Pengatur Muda Tingkat I,II b (1 - 1 1 - 1975 )
c. Penata Muda, Ilia, ( 1 - 4 - 1 9 7 7 )
d. Penata Muda Tingkat I, III b,(1 - 4 - 1981 ) e. Penata, III c,(1 - 4 - 1 9 8 5 )
f. Penata Tingkat I, III d,(13 - 10 - 1989 ) g. Pembina, IV a,(27 -4 - 1 9 9 6 )
h. Pembina Tingkat I, IV b,(1 - 1 - 2 0 0 1 ) i. Pembina Utama Muda, IV c,(1 - 4 - 2003 )
> Riwayat Pekerjaan
a. Mengajar di S.T.M. 1969 -1971
b. Bekerja di Industri Tinta Cetak" Sidney Cook" tahun 1972 c. Bekerja di DKI tahun 1973 - 1978
d. Bekerja di LAPAN tahun 1978 sampai sekarang dalam pekerjaan :
1) Sebagai Kepala Kelompok Penelitian tentang pemilihan bahan komposit untuk pembuatan kompone-komponen roket meteorology LAPAN 1992/1993
2) Sebagai Kepala Kelompok Penelitian Prototipe Tabung Diameter 150 mm dari Bahan Konstruksi Ringan 1993/1994
3) Sebagai Kepala Kelompok Penelitian Lapisan Keramik pada Bagian dalam Nosel Tahun 1994/1995
4) Sebagai Kepala Kelompok Penelitian Pembakaran Ujung
5) Roket K - Round dengan Kawat Logam 1995/1996 6) Sebagai Kepala Kelompok Penelitian Sistem propulsi
Pembakaran Ujung dengan Motor Roket K - Round dan Kawat Perak 1996/1997
7) Sebagai Kepala Kelompok Penelitian Pembuatan Mandril Bentuk Wagon Wheel - Silinder 260 - 3000 mm.tahun 1997
8) Sebagai Kepala Keiompok Penelitian dan Pengembangan Sistem Propulsi Motor Roket Standard 180 mm Memakai Sumbu Kawat Perak 3 buah.tahun 1998
9) Swbagai Anggota Keiompok dalam Penelitian dan Pengembangan Motor Roket Cair dengan Bahan Cryogenik 1990/1991
10) Sebagai Anggota Keiompok Penelitian Bahan Cryogenik Roket Cair 1993/1994
11) Ketua Panitia Lokakarya Interaktif Nasional I Jakarta 26 - 2 - 2000
12) Anggota Panitia Kiprosat tahun 2000 - 2003
13) Anggota Redaksi Majalah llmiah Teknologi Dirgantara 2002 - Sekarang
14) Anggota Keiompok Kerja Pakar Deputi Teknologi Dirgantara 2001 -2002
15) Anggota merangkap Sekretaris Komisi Pakar Pusat LAPAN 2003 - 2004
16) Sebagai Ketua Keiompok Penelitian Sistem Igniter 2003
17) Sebagai Ketua Keiompok Penelitian dan Pembuatan Sistem Igniter 2004
KARYA ILMIAH YANG DIHASILKAN
1. Penelitian Pemakaian Poly Sulfida Polymer Sealant Sebagai
Liner dan Inhibitor (Penulis Tunggal)
1. Pencucian Tabung Roket Aluminium dengan Cara kimia (Penulis Tunggal)
2. Penelitian Kemungkinan Pengaktifan Kembali Propelan Cair di Indonesia (Penulis Kedua)
3. Pemakaian Alat Ukur Partikel pada Propelan Padat (Penulis Tunggal)
4. Memilih NH4 CIO4 Sebagai Oksidator dengan Meninjau Kecepatan Pembakaran Propelan (Penulis Tunggal)
5. Pengukuran Kecepatan Pembakaran Propelan Polisulfida Lp 33 (Penulis Tunggal)
6. Penelitian Cacad Propelan dengan Sinar X (Penulis ketiga) 7. Metoda Perekatan Propelan ke Tabung Roket RX -150 (Penulis
kesatu)
8. Pengujian Adhesive yang digunakan sebagai bahan liner secara mekanis ( Penulis kedua )
9. Pengaruh Temperatur Ruang Bakar terhadap Laju Pembakaran Propelan Padat Polisulfida Lp 3 ( Penulis Tunggal)
lO.Perancanmgan mula Motor Roket Cuaca Bidang Internal Balistik (Penulis Tunggal)
11. Perancangan Mula Nosel Roket Cuaca Utuk Tujuan llmiah (Penulis Tuggal)
12.Analisis Hasil Pengujian Kuat Tarik Komposit Serat Karbon -Epoksi (Penulis kedua)
13.Analisis Hasil Pengujian Kuat Tarik Komposit Serat Karbon -Poliester (Penulis Kesatu)
14.Pemilihan Bahan dan Cara Pembuatan Tabung Roket Padat dari Komposit Kevlar- Epoxi (Penulis Tunggal)
15.Analisis Hasil Perhitugan Teori dan Uji Statik Motor Roket StandarTipe 670 dan 850 (Penulis Kesatu)
16. Perancangan Awal Nosel Motor Roket Padat Tipe DELAVAL (Penulis Tunggal)
17.Disain dan Pembuatan Mandril Untuk Tabung Motor Roket Komposit Diameter 150 MM (Penulis pertama dalam Majalah LAPAN No.83, thn ke XXI, Okt.1997, ISSN 0126-0480)
18.Pengaruh Jenis Kawat terhadap Waktu Pembakaran Roket Padat Dasar HTPB Sistem Pembakaran Ujung (Penulis Kedua dalam Proceeding Teknologi Dirgantara LAPAN no. D-TEKGAN 02-97, Nop.1997, ISBN 979-8554-20-5)
19. Perancangan Batang propelan Bentuk Ganda (Penulis Pertama dalam Proceeding Teknologi Dirgantara LAPAN no. D-TEKGAN 02-97, Nop.1997, ISBN 979-8554-20-5)
20. Pembakaran propelan Padat Polibutadien HTPB pada Sistem Pembakaran Ujung (Penulis Pertama dalam Jurnal Nusantara Kimia, ISSN 0854-654)
21.0ptimalisasi Bahan Isian Utama Igniter untuk Propelan Cair nonHipergolik (Penulis Tunggal dalam Proceeding Teknologi Dirgantara LAPAN no. D-lll/02-94, Des.1994)
22.Pemilihan Jumlah Bintang pada Grain bentuk Bintang (penulis kedua dalam Proceeding Teknologi Dirgantara LAPAN no. D-lll/02-94, Des 1994)
23. Perancangan Awal Propuisi Motor Roket Konfigurasi Ganda Wagon Wheel - Silinder yang Optimal Diameter 420 mm dan Panjang 4000 mm denga bentuk Kurva Plateau (Penulis Ketiga dalam Majalah LAPAN No.87, tahun ke XXII, Okt.1998, ISSN 0126-0480)
24. Menentukan Isp Bahan Bakar Roket Padat Poli Butadiena Berujung Hidroksil ( HTPB ) (Penulis kesatu dalam Proceeding Seminar Nasional VIII Kimia dalam Industri dan Lingkungan ISSN 0854-4778)
25.Penentuan Laju Pembakaran Propelan HTPB Bersumbu Kawat Perak dengan Alat "Strand Burner " (Penulis Pertama dalam Proceeding Seminar Himpunan Kimia Indonesia, ISBN 979-99799-0-2)
26.Analisis Gaya Dorong Roket Berbaha Bakar HTPB bentuk Bintang (Penulis kedua dalam Proceeding Seminar Nasional VIII Kimia dalam Industri dan Lingkungan ISSN 0854-4778)
27. Penentuan Nilai Kalor Propelan Padat Komposit HTPB (Penulis Pertama dalam Proceeding Nasional ke I Kimia Analisis ISSN 0844-4778)
28. Mencermati Pola Tingkah Laku Pembakaran Propelan HTPB Bintang Enam (Penulis Pertama dalam Proceeding Nasional ke I Kimia Analisis ISSN 0844-4778)
29.Analisis Oksidator Amonium Perklorat denga Alat PSA - 2 (Penulis Pertama dalam Proceeding Seminar Nasional VIII Kimia dalam Industri dan Lingkungan ISSN 0854-4778)
30. Analisis Sistem Propuisi Motor Roket Tipe Pembakara Sigaret dengan Sumbu Kawat Perak (Penulis kedua dalam Proceeding Seminar Nasional VIM Kimia dalam Industri dan Lingkungan ISSN 0854-4778)
31.Perancangan Propelan Padat bersumbu Kawat Perak pada Sistem pembakaran Ujung (Penulis kedua dalam Proceeding Seminar Nasional IX Kimia dalam Industri dan Lingkungan, ISSN 0854-4778)
32.Pengaruh Propelan Sambungan terhadap ketidak setabilan pembakaran (Penulis Pertama dalam Proceeding Seminar Nasional IX Kimia dalam Industri dan Lingkungan, ISSN 0854-4778)
33.Pemakaian Bahan Keramik QF-180 sebagai pelapis aluminium untuk Nosel Roket (penulis kedua dalam Jurnal Nusantara Kimia No.1.2,Vol.VI!,thn ke-7,2000, ISSN 0854-6541)
34.Analisis Hasil Rancangan Motor Roket Propelan Padat Butalite berkonfigurasi ganda Wagon wheel - Silinder 260 - 3000 mm (Penulis kedua dalam dalam Jurnal Nusantara Kimia No.1,2,Vol.VII,thn ke-7,2000, ISSN 0854-6541)
35. Uji Kekuatan "Liner" dengan cara pembakaran Motor Roket Padat (Penulis Pertama dalam Proceeding Seminar Nasional I Aplikasi Kimia dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan, ISSN 0854-4778)
36. Menentukan Nilai Kualitas Propelan dari Hasil Perhitungan dan Uji Statik (Penulis kesatu dalam Proceeding Seminar Nasional I Aplikasi Kimia dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan, ISSN 0854-4778)
37.Pembuatan sudu Turbin dari Bahan Keramik "ZTA" (Penulis Pertama dalam Jurnal llmu dan Rekayasa teknologi Industri, Vol.1, nomor4, Oktober2001, ISSN 1411-4275)
38.Effek Keberadaan Aluminium dalam Propelan Komposit terhadap perubahan Impuls Spesifik (Penulis Tunggal dalam Jurnal llmu dan Rekayasa teknologi Industri, Vol.1, nomor 4, Oktober2001, ISSN 1411-4275)
39. Pengaruh Perubahan Diameter Kerongkongan Nosel terhadap Kinerja Motor Roket (Penulis Tunggal dalam Jurnal Antariksa Nasional, Vol.4,No.1, sept.2001, ISSN 1411-5042)
40. Pengaruh Perubahan Komposisi Propelan Padat HTPB terhadap Kinerja Motor Roket (Penulis Pertama dalam Jurnal Nusantara Kimia No.1.2,Vol.VII,thn ke-7,2000,ISSN 0854-6541 ) 41.Penggunaan teknik Plasma pada Pelapisan Bagian Nosel
(Penulis Pertama dalam Jurnal Nusantara Kimia,Vol.VIII,No.1 Januari 2001, ISSN 0854-6541)
42. Analisis Balik Perancangan Nosel Motor Roket RX 250-2000 (Penulis Tunggal dalam Jurnal Antariksa Nasional Vol.5 No.1, Maret2002, ISSN 1411-5042)
43. Pengaruh Penggantian TDI dengan IPDI terhadap Impuls Spesifik Propelan (Penulis Tunggal dalam Prosiding Seminar Nasional II " Aplikasi Kimia dalam Penglolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Yogyakarta 23-24 Juli 2002, ISSN 0854-4778)
44. Pembuatan Nosel Roket dari Keramik Silikon Nitrida (Si3N4). (Penulis Tunggal dalam Jurnal llmu dan Rekayasa Teknologi Industri Vol.5 No.1 April 2002, ISSN 1411-4275)
45. Memanfaatkan Sisa Propelan Padat Sebagai Bahan Isisan Igniter. ( Penulis Tunggal dalam Prosiding Seminar Nasional XI " Kimia Dalam Industri dan Lingkungan", Yogyakarta 22-23 Oktober 20202, ISSN 0854-4778 )
46. Pemakaian Bubuk Poli Uretan Untuk Separasi Moor Roket. (Penulis Pertama dalam Prosiding Seminar Nasional XI, Kimia Dalam Industri dan Lingkungan, Yogyakarta 22-23 Oktober 20202", ISSN 0854-4778)
47. Pengaruh Tekanan Nyala Igniter pada Proses Mula Pembakaran Propelan Padat. (Penulis Tunggal pada Jurnal llmu dan Rekayasa Teknologi Industri, Vol.6.No.2, Oktober 2002, ISSN 1411-4275).
48. Pelapisan Permukaan Logam Dengan Metoda " Plasma Spray" (Penulis Pertama dalam Prosiding Seminar Nasional I I " Aplikasi Kimia dalam Penglolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Yogyakarta 23-24 Juli 2002, ISSN 0854-4778)