KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESA PENELITIAN

Teks penuh

(1)

51

KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESA PENELITIAN

Kerangka Pemikiran

Permasalahan sosial dalam perkembangan pertanian akhir-akhir ini disadari sebagai faktor yang menentukan keberhasilan adopsi teknologi di tingkat petani. Di antara permasalahan sosial yang ada, kelembagaan merupakan salah satu faktor yang perlu dicermati untuk mengetahui kelembagaan yang perlu mendapatkan prioritas berkaiatan dengan upaya meningkatkan usahatani, khususnya usahatani pada kelompok tani sayuran yang dibina oleh International Cooperation and Development Fund (ICDF) Taiwan.

Menurut Taryoto (1995), analisis kelembagaan dalam bidang pertanian adalah analisis yang ditunjukkan untuk memperoleh deskripsi mengenai suatu fenomena sosial ekonomi yang berkaitan dengan hubungan antara dua atau lebih pelaku interaksi sosial ekonomi, yang mencakup dinamika, aturan-aturan yang berlaku dan disepakati bersama oleh para pelaku interaksi, dinamika perilaku yang ditunjukkan oleh pelaku interaksi disertai analisis mengenai hasil akhir yang diperoleh dari hasil interaksi.

Interaksi dinamis, lebih dikenal sebagai komunikasi. Dalam perubahan sosial peran komunikasi ini menjadi penting, sehingga menjadi peubah kunci yang perlu diteliti. Dimana dalam penelitian ini ingin dipelajari seperti apa paradigma pola komunikasi pembangunan yang berlangsung pada pembinaan dalam bentuk pendampingan kewirausahaan petani sayuran oleh ICDF Taiwan di dua lokasi amatan. Berikut ulasan pola komunikasi pendampingan yang dalam penelitian ini dijadikan sebagai peubah terikat.

Paradigma Pola Komunikasi Kewirausahaan Petani

Paradigma pola komunikasi kewirausahaan petani sebagai peubah Y1 pada saat ini menurut Tufte dan Mefalopulos (2009) cenderung berbentuk: monologik, dan dialogik. Hanya saja kondisinya sekarang masih bersifat klasik, statis, menunggu, dan tradisional. Ke depannya diharapkan dapat lebih modern, dinamis dan mampu mengantisipasi perdagangan bebas.

(2)

Tabel 2. Penelitian awal tentang paradigma pola komunikasi kewirausahaan petani antara monologik dan dialogik di dua lokasi amatan

Kondisi Sekarang Pola komunikasi kewirausahaan Petani yang Ideal

1. Pola komunikasi monologik statis, aspek-aspeknya lemah dalam hal :

a. Pola klasik searah monoton b. Pola menunggu

c. Pola tradisional

2. Pola komunikasi dialogik aspek-aspeknya adalah lemah dalam hal : a. Pola klasik

b. Pola menunggu c. Pola tradisional

1. Idealnya adalah pola komunikasi Petani monologik yang Dinamis, aspek-aspeknya kuat dalam hal : a. Kreatif dan berbagi

b. Inisiatif

c. Kemodernan inovasi

2. Idealnya adalah pola komunikasi Petani dialogik yang Dinamis, aspek-aspeknya kuat dalam hal :

a. Pola klasik b. Pola menunggu c. Pola tradisional Penggabungan Teori dengan Praktek: Multi-Track Model

Multi-Track Model berasal dari kebutuhan untuk menggabungkan kompleksitas dan luasnya metode operasional dan tantangan menjadi sebuah kerangka metodologi komunikasi. Untuk menyoroti kefleksibilitasan dan adaptibilitas ke dalam berbagai situasi, model pendekatan komunikasi ini dibagi ke dalam dua kategori dasar: komunikasi monologik dan komunikasi dialogik.

Tabel 3. Ciri-ciri utama dari pola komunikasi monologik dan dialogik Ciri Utama Komunikasi Monologik Komunikasi Dialogik Fungsi Komunikasi untuk disampaikan Komunikasi untuk membujuk Komunikasi untuk ditelusuri Komunikasi untuk memberi kuasa Tujuan utama Meningkatkan kesadaran dan pengetahuan Mempromosikan perubahan sikap dan sifat Menilai, menyelidiki, menganalisa isu, menghindari konflik Membangun kapasitas, melibatkan stakeholder Model yang direferensikan Satu arah (monologik) Satu arah (monologik) Dua arah (dialogik) Dua arah (dialogik) Metode atau media yang dianjurkan Dominan menggunakan media massa Dominan menggunakan media massa Menitik beratkan penggunaan interpersonal Menggunakan dialog untuk partisipasi Sumber: Tufte dan Mefalopulos (2009)

(3)

53

Komunikasi monologik terdiri dari metode satu arah seperti penyebaran informasi, kampanye media, dan metode difusi yang lain. Metode dialogik mengacu kepada komunikasi dua arah, dimana proses dan hasilnya berakhir terbuka dan pembahasan isu lebih mendalam dan menghasilkan pengetahuan dan solusi baru, dibandingkan hanya menyampaikan informasi.

Paradigma Kapasitas Kewirausahaan Petani

Indikator kapasitas kewirausahaan petani tinggi jika dalam melakukan usahatani sayuran, didukung oleh daya/kemampuan yang dimiliki pada diri petani dalam mengidentifikasi potensi usahatani, memanfaatkan peluang usahatani, dapat memecahkan permasalahan yang dihadapi dan menjaga keberlanjutan sumberdaya usahatani yang dikuasai tinggi pula. Kapasitas petani tersebut akan berpengaruh terhadap kemandirian berusahatani dan kedinamisan berusahatani.

Paradigma kapasitas kewirausahaan petani sayuran saat ini dari pengamatan awal/hasil wawancara dengan para petani sayuran di bawah pendampingan misi teknik Taiwan di Indonesia telah terjadi kesenjangan antara technical skill, social skill dan managerial skill kondisi sekarang dengan technical skill, social skill dan managerial skill yang ideal pada petani di Indonesia pada umumnya. Hasil studi awal mengenai kesenjangan tersebut tersaji pada Tabel 4 berikut ini.

Tabel 4. Kesenjangan technical, social and managerial skill kewirausahaan petani di lokasi amatan saat ini dibandingkan kondisi ideal

Technical Skill, sosial skill dan managerial skill kewirausahaan petani

Kondisi Sekarang Kondisi Ideal

1. Kebanyakan Petani Indonesia masih apatis, aspek-aspeknya adalah lemah dalam:

a. Kreativitas b. Inisiatif c. Keinovativan.

2. Kebanyakan Petani Indonesia sekarang kurang percaya diri dalam berwirausaha (tidak berani ambil resiko) takut kalah bersaing dengan produk/ komoditas impor.

3. Kurang mengikuti perkembangan informasi inovasi pertanian.

4. Belum mampu mandiri.

1. Idealnya adalah Petani yang Dinamis, aspek-aspeknya kuat dalam:

a. Kreativitas b. Inisiatif

c. Kemodernan inovasi.

2. Petani mempunyai rasa percaya diri dalam berwirausaha (berani

mengambil resiko), tidak takut kalah bersaing dengan produk/ komoditas impor.

3. Mengikuti perkembangan informasi inovasi pertanian

(4)

Diharapkan petani di Indonesia dapat meningkatkan kapasitas technical skill, social skill dan managerial skill kewirausahaannya guna mengantisipasi perdagangan bebas pada globalisasi ekonomi ke depan bisa lebih dinamis dalam berbagai aspek-aspeknya yang inisiatif, berkreatif dan modern, mempunyai rasa percaya diri dalam berwirausaha (berani mengambil resiko) tidak takut kalah bersaing dengan produk/komoditas impor serta selalu mengikuti perkembangan informasi inovasi pertanian.

Kedua peubah terikat, pola komunikasi kewirausahaan petani sayuran (Y1), dan pengembangan kapasitas kewirausahaan petani sayuran (Y2) di atas kemudian dianalisis keterkaitannya dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Dalam hal ini berupa peubah-peubah independen, sebagai berikut:

X1. Karakteristik petani peubahnya meliputi: X1.1 Tingkat pendidikan X1.2 Usia X1.3 Jenis kelamin X1.4 Pendapatan X1.5 Kepemilikan aset X1.6 Kekosmopolitan X1.7 Pengalaman berusaha

X1.8 Berani mengambil resiko.

X2. Dinamika sosial peubahnya meliputi: X2.1 Keanggotaan kelompok

X2.1 Ekologi kelompok X2.3 Status dan kekuasaan X2.4 Kepemimpinan kelompok X2.5 Suasana/Iklim kelompok

X2.6 Jaringan komunikasi tradisional. X3. Lingkungan fisik peubahnya meliputi:

X3.1 Infrastruktur/sarana komunikasi X3.2 Ciri/karakteristik teknologi.

X4. Lingkungan sosial ekonomi peubahnya meliputi: X4.1 Dukungan keluarga

(5)

55

X4.2 Dukungan kelembagaan X4.3 Dukungan sistem sosial

X4.4 Dukungan mitra usaha (Bisnis) X4.5 Iklim kewirausahaan syariah X4.6 Keberfungsian kearifan lokal. X4,7 Keterbukaan pasar

X1.8 Informasi media massa.

Keterkaitan antar peubah terikat dan independen yang diinvestigasi pada penelitian ini tersaji pada Gambar 4 berikut ini. Pertama, penelitian memfokuskan pengaruh peubah dinamika sosial, lingkungan sosial ekonomi, dan lingkungan fisik terhadap pola komunikasi kewirausahaan petani sayuran, dan mengabaikan kaitan peubah karakteristik petani dengan peubah pola komunikasi pendampingan kewirausahaan petani sayuran. Kedua, yang menjadi perhatian adalah peubah

Gambar 4. Kerangka berpikir pola komunikasi pada pengembangan kapasitas kewirausahaan petani sayuran

Lingkungan Fisik (X3) X3.1 Infrastruktur/sarana Komunikasi X3.2 Ciri/karakteristik teknologi Dinamika Sosial (X2) X2.1 Keanggotaan kelompok X2.2 Ekologi kelompok X2.3 Status & kekuasaan X2.4 Kepemimpinan klpk X2.5 Suasana/Iklim kelompok X2.6 Jaringan komunikasi trad.

Karakteristik Petani (X1) X1.1 Tingkat pendidikan X1.2 Usia X1.3 Jenis kelamin X1.4 Pendapatan X1.5 Kepemilikan aset X1.6 Kekosmopolitan X1.7 Pengalaman berusahatani

X1.8 Keberanian ambil resiko

Lingkungan Sosek (X4) X4.1 Dukungan keluarga X4.2 Dukungan kelembagaan X4.3 Dukungan sistem sosial X4.4 Dukungan mitra usaha X4.5 Iklim kewirausahaan syariah

X4.6 Keberfungsian kearifan lokal

X4.7 Keterbukaan pasar X4.8 Informasi media massa

Pola Komunikasi Kewirausahaan Petani Sayuran (Y1) Y1.1 Monologik Y1.2 Dialogik Kapasitas Kewirausahaan Petani Sayuran (Y2) Y2.1 Keterampilan teknis Y2.2 Keterampilan sosial Y2.3 Keterampilan manajerial Keberdayaan Petani

(6)

kapasitas kewirausahaan petani sayuran. Peubah terikat ini diduga dipengaruhi oleh peubah bebas lingkungan fisik, karakteristik petani, lingkungan sosial ekonomi, dan pola komunikasi kewirausahaan petani. Sebenarnya, konseptuasi peubah dinamika sosial pun turut mempengaruhi peubah terikat kapasitas kewirausahaan petani sayuran. Hanya saja peubah dinamikasi sosial tersebut diasumsikan mempengaruhi secara tidak langsung pada peubah terikat kapasitas kewirausahaan petani sayuran, yaitu melalui peubah pola komunikasi pendampi-ngan kewirausahaan petani sayuran sebagai intermediate variable atau intervining variable. Diasumsikan bahwa semakin baik peubah-peubah bebas tersebut, maka semakin signifikan mempengaruhi pola komunikasi pendampingan kewirausahaan petani sayuran, yakni semakin meningkatkan kualitas komunikasi monologik dan meningkatkan mutu dan intensitas komunikasi dialogik di antara petani sayuran, antara petani dengan kelompoknya, dan antara petani dan kelompok tani dengan penyuluh atau pendamping dari misi teknik Taiwan. Apabila peubah pola komunikasi pendampingan kewirausahaan petani semakin baik, maka semakin signifikan mempengaruhi peubah kapasitas kewirausahaan petani sayuran. Dengan kapasitas kewirausahaan petani sayuran yang semakin meningkat, untuk technical skill, social skill maupun managerial skill yang menjadi lebih baik, diharapkan akan berdampak pada keberdayaan petani yang semakin meningkat. Hanya saja penelitian ini, dibatasi pada peubah terikat kapasitas petani, tidak sampai kepada peubah keberdayaan petani sayuran.

Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka penelitian yang diuraikan di atas, maka dibangun dua hipotesis penelitian, yaitu sebagai berikut:

1. Terdapat pengaruh yang nyata antara lingkungan fisik, dinamika sosial dan lingkungan sosial ekonomi terhadap pola komunikasi kewirausahaan petani sayuran.

2. Terdapat pengaruh yang nyata antara lingkungan fisik, karakteristik petani, lingkungan sosial ekonomi, dan pola komunikasi kewirausahaan petani terhadap kapasitas kewirausahaan petani sayuran.

(7)

57

METODE PENELITIAN Desain Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah desain penelitian sensus ex post facto, yaitu bentuk penelitian untuk menilai peristiwa yang telah terjadi untuk menemukan faktor-faktor penyebab melalui pengamatan atau penilaian kondisi faktual di lapangan. Pengamatan utama penelitian adalah mengkaji tentang pola komunikasi dalam meningkatkan technical skill, social skill, dan managerial skill kewirausahaan petani, dimana penelitian ini lebih difokuskan pada menguji dan meneliti hubungan antar peubah. Adapun peubah yang diujikan adalah: (a) karakteristik petani; (b) dinamika sosial; (c) lingkungan fisik (d) lingkungan sosial ekonomi; dan (e) pola komunikasi kewirausahaan petani sayuran, pengaruhnya terhadap peningkatan technical skill, social skill, dan managerial skill kewirausahaan petani sayuran di Indonesia.

Metode sensus yang digunakan dalam penelitian ini, menyuratkan bahwa data diambil dari seluruh anggota petani yang mendapatkan bimbingan misi teknik Taiwan di Indonesia. Pengambilan data primer dengan cara wawancara melalui pengisian kuesioner dan wawancara mendalam.

Lokasi, Obyek dan Waktu Penelitian

Penelitian pada kasus pendampingan anggota kelompok tani oleh misi teknik Taiwan di Indonesia ini berlokasi di dua Kabupaten yaitu Boyolali (Jawa Tengah) dan Bogor (Jawa Barat). Alasan pemilihan lokasi dikarenakan kedua Kabupaten tersebut merupakan pilot project yang sedang di uji coba. Di Kabupaten Boyolali telah selesai dibimbing dan sekarang pembinaannya sudah diserahkan kepada Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan melalui pembentukkan suatu Unit Pengelola Teknis. (UPT) Usaha Pertanian yang berkantor di KecamatanTeras. Adapun di Kabupaten Bogor masih dibimbing oleh misi teknik Taiwan sehingga sangat menarik untuk diteliti.

Obyek penelitian adalah para petani anggota kelompok tani di dua kabupaten tersebut yang berdasarkan pengamatan awal patut diduga mempunyai peluang untuk berkembang, dan diduga mempunyai potensi turut meningkatkan technical skill, social skill, dan managerial skill kewirausahaan mereka.

(8)

Waktu pelaksanaan penelitian dilaksanakan selama tiga bulan, mulai awal bulan Agustus sampai dengan akhir Oktober 2011.

Unit Analisis Penelitian

Pada penelitian ini pengambilan data dengan melakukan sensus terhadap seluruh petani yang merupakan representatif rumah tangga petani dan berusaha-tani sebagai unit analisis, yaitu mereka yang mendapat bimbingan dari misi teknik Taiwan di Kabupaten Boyolali dan Bogor.

Unit analisis penelitian ini adalah rumah tangga petani, yaitu ”kepala keluarga” atau ”anggota keluarga” nya. yang sekaligus sebagai pengusaha tani yang mendapatkan pendampingan dari para fasilitator misi teknik Taiwan di Kabupaten Boyolali dan Bogor dimana mereka merupakan pelaku komunikasi berpartisipasi dalam pengembangan technical skill, social skill, dan managerial skill kewirausahaan petani di dua Kabupaten penelitian.

Di Kabupaten Boyolali seluruh petani yang mendapat bimbingan dan misi teknik Taiwan sebanyak 78 orang petani Kabupaten Boyolali dan di Kabupaten Bogor sebanyak 46 orang petani. Jadi total unit analisis pada penelitian sensus ini adalah 124 orang petani.

Data dan Instrumentasi

Data primer diperoleh melalui kuesioner, wawancara, observasi, dokumentasi, dan diskusi (FGD) dengan nara sumber yang berkompeten pada bidang technical skill, social skill dan managerial skill kewirausahaan petani di Indonesia dengan menggunakan kuesioner. Selain data Primer, juga dikumpulkan data sekunder untuk memperkuat data yang diperoleh dari pemerintahan setempat serta instansi yang terkait.

Data skunder diperoleh dari laporan-laporan dan dokumentasi yang ada di Dinas Pertanian dan Kehutanan di Kabupaten Boyolali dan Dinas Pertanian, Peternakan, Perikanan dan Kehutanan di Kabupaten Bogor serta lembaga-lembaga/asosiasi yang terkait dengan technical skill, social skill, dan managerial skill kewirausahaan yang diteliti, seperti: kelompok tani, koperasi unit desa/KUD, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Penyuluh pertanian Swadaya (PPS), Badan Pusat Statistik, Kamar Dagang dan Industri, lembaga-lembaga penelitian pertanian, di dua kabupaten tersebut.

(9)

59

Instrumen yang dipergunakan adalah kuesioner yang dikelompokkan menjadi enam bagian, Pertama: terdiri dari pertanyaan-pertanyaan dan pernyataan yang berkaitan aspek lingkungan fisik dengan indikator infrastruktur/sarana komunikasi dan ciri/karakteristik teknologi. Kedua, pertanyaan dan pernyataan yang berkaitan dengan dinamika sosial meliputi: (1) Keanggotaan kelompok, (2) Ekologi kelompok, (3) Status dan kekuasaan, (4) Kepemimpinan kelompok, (5) Suasana kelompok, (6) Jaringan komunikasi tradisional. Ketiga, terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan karakteristik petani meliputi: (1) Tingkat pendidikan, (2) Usia, (3) Jenis kelamin, (4) Pendapatan, (5) Kepemilikan aset, (6) Kekosmopolitan, (7) Pengalaman berusahatani sayuranan, dan (8) Keberanian ambil resiko. Keempat, pertanyaan dan pernyataan yang berkaitan dengan lingkungan sosial ekonomi meliputi: (1) Dukungan keluarga, (2) Dukungan kelembagaan, (3) Dukungan sistem sosial, (4) Dukungan mitra usaha, (5) Iklim kewirausahaan syariah dan (6) Keberfungsian kearifan lokal, (7) Keterbukaan pasar, dan (8) Informasi media massa. Kelima, Pertanyaan dan/atau pernyataan yang berkaitan dengan peubah antara yaitu pola komunikasi kewirausahaan petani sayuran, meliputi aspek pola komunikasi monologik, dan pola komunikasi dialogik. Bagian keenam berupa pernyataan yang berkaitan dengan peubah terikat, yaitu pengembangan kapasitas kewirausahaan petani sayuran: technical skill, social skill, dan managerial skill.

Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

Menurut Singarimbun dan Effendi (2006) Definisi operasional adalah suatu informasi ilmiah berupa operasionalisasi konsep (construct) yang amat membantu peneliti. Dari informasi tersebut peneliti dapat mengetahui bagaimana cara mengukur peubah yang dipakai. Dengan kata lain definisi operasional suatu unsur penelitian yang memberitahukan bagaimana caranya mengukur suatu peubah. Dalam hal ini konsep-konsep peubah dibuat terukur agar dapat diteliti secara empiris. Untuk itu, konsep peubah harus dioperasionalkan dengan merubahnya menjadi konstruk (konstruksi peubah), yang berarti sesuatu yang mempunyai variasi nilai.

(10)

Definisi Operasional

Menurut Kerlinger dan Lee (2000) menyebutkannya sebagai upaya spesifikasi kegiatan penelitian dalam mengukur suatu peubah atau memanipulasinya. Pengukuran dalam penelitian ini dilakukan dengan mendefinisikan peubah yang diteliti ke dalam definisi operasional, yang diambil dari beberapa sumber sebagai acuan.

(1) Karakteristik petani. Menurut Herman Subagio (2008) kualitas petani yang tinggi akan dapat memanfaatkan ketersediaan inovasi dan akses pada informasi menjadi lebih baik. Peubah-peubah karakteristik individu petani yang diukur pada penelitian ini terdiri dari: tingkat pendidikan, usia, jenis kelamin, pendapatan, kepemilikan aset, kekosmopolitan, pengalaman berusahatani sayuran, dan keberanian mengambil resiko.

(2) Dinamika sosial, yang menurut Cartwright dan Zander (1968) dapat dipelajari dari proses mengembangkan dinamika kelompok (group dynamics). Dimana terdapat enam ciri dinamika kelompok sebagai sistem sosial yang mempengaruhi dinamika sosial (interaksi sosial di dalam wadah kelompok), yaitu: (1) Keanggotaan kelompok; (2) Ekologi kelompok; (3) Status dan kekuasaan dalam kelompok; (4) Kepemimpinan kelompok; (5) Suasana/Iklim kelompok; dan (6) Jaringan komunikasi tradisional.

(3) Lingkungan Fisik menurut Rogers (2003) dalam bukunya Diffusion of Innovations lingkungan fisik terdiri dari infrastruktur/sarana komunikasi dan ciri/karakteristik inovasi/teknologi.

(4) Lingkungan sosial ekonomi menurut Soekanto (2004), adalah lingkungan sosial yang terdiri dari orang-orang baik individu maupun kelompok yang berada di sekitar manusia, yang saling berinteraksi. Tidak saja interaksi dalam tatanan hubungan sosial antar manusia, melainkan juga aspek kelembagaan dan sistem sosial turut mempengaruhi dan mewarnai kehidupan antara manusia tersebut. Pendapat lain menyebutkan bahwa lingkungan sosial tersebut sering dikaitkan dengan lingkungan sosial budaya maupun sosial ekonomi. Slamet (2003) mendefinisikannya sebagai segala kondisi sosial (ekonomi) budaya yang berada di sekitar lingkungan organisasi yang dapat mempengaruhi perilaku anggota organisasi sebagai hasil interaksi antara

(11)

61

organisasi dengan lingkungan sosialnya. Hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang-perorang, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang-perorang dengan kelompok-kelompok manusia. Pada Penelitian ini lingkungan sosial ekonomi sebagai indikatornya meliputi: dukungan keluarga, dukungan kelembagaan, dukungan sistem sosial, dukungan mitra usaha, iklim kewirausahaan syariah, keberfungsian kearifan lokal, keterbukaan pasar dan informasi media massa.

(5) Pola komunikasi kewirausahaan petani sayuran pada penelitian ini meliputi: pola monologik dan pola dialogik.

(6) Kapasitas kewirausahaan petani sayuran sebagai peubah dependen kedua setidaknya ada tiga syarat keahlian yang harus dimiliki yaitu: technical skill, social skill dan managerial skill yang diharapkan dapat meningkatkan kapasitas kewirausahaan petani sayuran.

Pengukuran Variabel

Pengukuran variabel atau peubah dapat dijelaskan dengan melihat keterkaitan peubah atau peubah, indikator dan parameter masing-masing peubah yang tersaji pada Tabel 5 berikut ini.

Tabel 5. Keterkaitan peubah, indikator dan parameter

Peubah (1) Indikator (2) Parameter (3) Karakteristik petani (X1) Tingkat pendidikan (X1.1)

Jalur sekolah formal/pendidikan terstruktur dan berjenjang yang pernah diikuti responden

Jumlah tahun pendidikan formal yang telah dijalani sampai dengan penelitian dilakukan. (skala rasio). Kemudian diordinalkan menjadi tiga kategori.

Usia (X1.2) Umur responden sejak lahir hingga saat penelitian dilakukan, dalam satuan tahun (skala rasio). Kemudian diordinalkan menjadi tiga kategori.

Lama hidup (tahun), dihitung dari tanggal lahir sampai dengan saat wawancara dilakukan, dibulatkan ke tanggal ulang tahun terdekat. Jenis kelamin

(X1.3)

Identitas seks atau jenis kelamin responden yang ditemui saat pene-litian dilakukan (skala nominal)

Macam jenis kelamin, terdiri atas: laki-laki dan perempuan.

Tingkat pendapatan (X1.4)

Jumlah penghasilan responden per panen (omset) saat penelitian dilakukan dalam satuan rupiah (skala rasio), lalu diordinalkan menjadi tiga kategori.

Penghasilan per panen atau berkisar minimal 10% dari nilai omset yang diperoleh dari on-farm maupun off-farm dalam setahun terakhir.

(12)

aset (X1.5) dalam satuan rupiah yang dimiliki responden saat penelitian dilakukan (skala rasio).

Kemudian diordinalkan menjadi tiga kategori.

(2) mobil, motor, sepeda (3) alat pertanian, ternak, ikan (4) sarana komunikasi

(5) tabungan. Kekosmopolit

an (X1.6)

Keterbukaan responden terhadap informasi, melalui hubungan mereka dengan berbagai sumber informasi, tiga bulan terakhir saat penelitian dilakukan dengan satuan kali (skala rasio).

Kemudian diordinalkan menjadi tiga kategori.

(1) frekuensi petani mengakses media massa

(2) frekuensi petani mendatangi dinas terkait, termasuk misi teknik Taiwan di Indonesia (3) frekuensi kunjungan ke

penyuluh

(4) frekuensi diskusi dengan petani (maju) lain

(5) frekuensi mendatangi lokasi percontohan di luar desa. Pengalaman

beriwausa-ha/berusahatan i sayuran (X1.7)

Lama responden berkecimpung dalam

kewirausahaan/berusahatani sayuran dengan satuan tahun (skala rasio). Kemudian diordinalkan menjadi tiga kategori.

Jumlah tahun berusahatani sayuran sampai dengan penelitian ini dilakukan.

Keberanian mengambil resiko (X1.8)

Tindakan keberanian yang dilakukan petani dalam

kewirausahaan atau berusahatani sayuran dengan satuan tahun (skala rasio). Kemudian diordinalkan menjadi tiga kategori.

(1) Frekuensi petani melakukan perencanaan dan tindakan usaha berdasarkan analisis situasi

(2) Frekuensi mencoba ide baru walaupun belum ada yang melakukannya

(3) Frekuensi kegagalan yang selalu dinilai dan dapat diperbaiki

(4) Frekuensi mencoba berusaha meraih pangsa pasar baru Dinamika

Sosial (X2)

(X2.1) Keanggotaan kelompok merupakan keragaan ukuran dan kemampuan anggota kelompok dalam berdiskusi dan

menerapkan inovasi dari misi teknik Taiwan di Indonesia saat penelitian dilakukan (skala ordinal).

(1) besarnya keanggotaan kelompok (2) intensitas diskusi/komunikasi (3) kemampuan anggota kelompok menerapkan inovasi teknologi

(X2.2) Ekologi kelompok berkaitan dengan pengaturan posisi anggota kelompok dalam berdiskusi, pemberian penje-lasan, memberikan semangat kerjasama pada kelompok tani

pendampingan misi teknik

(1) berdiskusi

(2) pemberian penjelasan (3) memberikan semangat kerjasama

(13)

63

Taiwan (skala ordinal) (X2.3) Status dan kekuasaan

berupa kemampuan mempengaruhi orang lain

dalam kegiatan

komunikasi kelompok tani pendampingan misi teknik Taiwan di Indonesia (skala ordinal). (1) komunikasi terpusat (2) distribusi komunikasi (3) pengambilan keputusan (4) penyelesaian masalah kelompok (X2.4) Kepemimpinan kelompok yang dicirikan oleh ketua/pengurus kelompok dalam menjalankan tugas yang diemban (skala ordinal) (1) keteladanan (2) keterbukaan (3) kepercayaan (4) kepatuhan (5) mendelegasikan kewenangan. (X2.5) Suasana/iklim kelompok

yang terjalin antar sesama anggota di dalam

kelompok tani

pendampingan misi teknik Taiwan di Indonesia saat penelitian dilakukan (skala ordinal)

(1) perasaan (akrab/solid) anggota dalam kelompok

(2) moral /semangat kelompok (3) iklim/kenyamanan kelompok (4) iklim pengambilan keputusan.

(X2.6) Jaringan komunikasi tradisional yang ditetapkan berdasarkan jenis pesan dan arah interaksi yang terjadi dalam kegiatan komunikasi kelompok tani pendampingan misi teknik Taiwan di Indonesia (skala ordinal).

(1) bentuk roda (2) bentuk rantai (3) bentuk Y

(4) bentuk lingkaran

(5) bentuk bintang (all-channel).

Lingkungan fisik (X3) (X3.1) Infrastruktur/sarana komunikasi yang digunakan anggota kelompok tani

pendampingan misi teknik Taiwan di Indonesia saat penelitian dilakukan (skala ordinal)

(1) keterjangkauan secara lokal (2) kecukupan frekuensi/intensitas

memanfaatkan (3) keterjangkauan biaya

(4) kesesuaian dengan keterampil-an menggunakketerampil-an.

(X3.2) Karakteristik teknologi yang digunakan anggota

kelompok tani

pendampingan misi teknik Taiwan di Indonesia saat penelitian dilakukan (skala ordinal)

(1) keuntungan relatif (2) keserasian (compatibility) (3) tidak rumit (less complexity) (4) dapat dicoba (trialability) (5) dapat dilihat langsung secara

konkrit (observability). Lingkungan

sosial

ekonomi (X4)

(X4.1) Dukungan keluarga sebagai kekuatan pengaruh terhadap penyelenggaraan kegiatan di kelompok tani

pendampingan misi teknik

(1) dukungan moril anggota keluarga

(2) pertentangan kebutuhan tugas di kelompok dengan

(14)

Taiwan di Indonesia (skala ordinal)

(X4.2) Dukungan kelembagaan yang eksis sebagai kekuatan pengaruh terhadap penyelenggaraan kegiatan di kelompok tani pendampingan misi teknik Taiwan di Indonesia (skala ordinal).

(1) integrasi dengan lembaga lain (2) Pertentangan kebutuhan/

kepentingan dengan kelompok lain

(X4.3) Dukungan sistem sosial sebagai kekuatan pengaruh terhadap penyelenggaraan kegiatan di kelompok tani pendampingan misi teknik Taiwan di Indonesia (skala ordinal).

(1) belief di masyarakat

(2) sentimen/perasaan masyarakat

(3) norma/nilai di masyarakat (4) sanksi masyarakat.

(X4.4) Dukungan Mitra usaha (bisnis) sebagai kekuatan pengaruh terhadap penyelenggaraan kegiatan di kelompok tani

pendampingan misi teknik Taiwan di Indonesia (skala ordinal).

(1) dukungan lembaga bisnis (2) insentif harga produk petani (3) insentif sarana produksi (4) keterjaminan pasar produk.

(X4.5) Iklim Berwirausaha syariah sebagai sikap berusaha tani di kelompok tani pendampingan misi teknik Taiwan di Indonesia (skala ordinal).

(1) memanfaatkan modal (dana dan lahan)

(2) transaksi usahatani (3) memasarkan produk.

(X4.6) Kearifan lokal yang digunakan responden dalam penyelenggaraan kegiatan di kelompok tani pendampingan misi teknik Taiwan di Indonesia (skala ordinal)

(1) pengetahuan lokal (2) keterampilan lokal (3) nilai-nilai lokal

(X4.7) Keterbukaan pasar bagi responden dalam

penjualan dan pemasaran produk

(1) Penjualan produk laku (2) mudah pemasaran produk.

(X4.8) Informasi media massa tersedia bagi responden dalam mengakses informasi (1) Media cetak (2) Media elektronik (3) Internet Pola komunikasi kewirausahaa n petani sayuran (Y1)

(Y1.1) Pola komunikasi monologik, yang dilakukan responden petani sayuran dalam kegiatan di kelompok tani pendampingan misi teknik

persepsi petani sayuran tentang penyebaran informasi, kampanye media, dan metode difusi yang satu arah, diukur dengan empat skor jawaban: 1= tidak pernah, 2= jarang, 3= sering, 4 = selalu.

(15)

65

Taiwan di Indonesia (skala ordinal)

(Y1.2) pola komunikasi dialogik, yang dilakukan responden petani sayuran dalam kegiatan di kelompok tani pendampingan misi teknik Taiwan di Indonesia (skala ordinal)

persepsi petani sayuran tentang penyebaran informasi, kampanye media, dan metode difusi yang dua arah, dimana proses dan hasilnya berakhir terbuka dan pembahasan/diskusi.

Kapasitas kewirausahaa n petani sayuran (Y2)

Kemampuan petani anggota kelompok tani pendampingan oleh misi teknik Taiwan di Indonesia dalam berusahatani dengan memperhatikan cara-cara berusaha atau berwirausaha secara (ekonomi) syariah, yang diukur berdasarkan kemampuan technical skill, social skill, dan managerial skill yang dimiliki (skala ordinal).

(1) kemampuan sosial skill (2) kemampuan technical skill (3) kemampuan managerial yang dituangkan dalam perilaku petani dalam bentuk: cognitive, affective dan psychomotoric (keterampilan).

(Y2.1) Technical skill persepsi petani sayuran tentang (1) pengetahuan (cognitive) kewira

usahaan, teknik budidaya, dan cara pengelolaan pasca panen sayuran mereka

(2) sikap (affective) petani terhadap usaha

sendiri/wirausaha sayuran (3) keterampilan

(psychomotoric)-nya melakukan wirausaha sayuran dalam setahun terakhir, dan mampu menyesuaikan dengan permintaan pasar. (Y2.2) Social skill persepsi petani sayuran tentang

(1) pengetahuan (cognitive) kerja-sama, tatacara/teknologi budi daya tanaman sayuran, sistem pemasaran, mendapatkan bibit, pupuk dan berbagai input yang dibutuhkan

(2) sikap (affective) petani terhadap sistem pemasaran, sistem penyediaan input, teknologi yang diterapkan (3) keterampilan (psychomotoric)

melakukan dalam kepengurusan kelompok, keterlibatan langsung setiap pengambilan keputusan kelompok, dan terlibat dalam pengembangan pemasaran produk.

(16)

(Y2.3) Managerial skill (1) persepsi petani sayuran tentang pengetahuan (cognitive) fungsi manajemen dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi budidaya sayuran; teknologi, jalur penyediaan input sampai pasca

panen/pasar; kepemimpinan dalam kelompok

(2) sikap (affective) petani

terhadap cara para pendamping dalam memberikan semangat kerjasama, sistem pembinaan yang dilakukan pendamping, dan sistem pengelolaan dari budidaya sampai pasca panen/ pemasaran.

(3) keterampilan (psychomotoric) partisipatif dalam setiap merencanakan kegiatan bersama para pendamping, mengambil keputusan, dan dalam usaha pengembangan kewirausahaan mandiri.

Validitas dan Reliabilitas Instrumentasi Validitas Instrumen

Terkait dengan keabsahan data dalam penelitian kuantitatif, maka merujuk pada validitas butir instrumen dan validitas intrumen/skala. Valid bermakna kemampuan butir-butir parameter dan indikator dalam mendukung konstruk suatu peubah dalam instrumen. Suatu instrumen dinyatakan valid (sah), apabila instrumen tersebut betul-betul mengukur apa yang seharusnya diukur. Misalnya: meteran dinyatakan valid untuk mengukur panjang dan tidak dapat dianggap valid jika digunakan untuk mengukur berat atau isi suatu benda.

Pengertian valid dapat dilihat dari dua segi. Pertama, apabila dalam menyusun suatu instrumen, penyusun berusaha memilih soal-soal secara logis diperkirakan dapat mengukur apa yang mau diukur, baik menurut pertimbangan sendiri maupun setelah bertukar pikiran (berkonsultasi) dengan orang lain atau bahkan ahli-ahli di bidang pengetahuan yang bersangkutan, instrumen tersebut dinyatakan telah memiliki content validity. Artinya, isinya diperkirakan sesuai dengan apa-apa yang seharusnya diukur, atau logical validity, yang berarti secara logis, butir-butirnya diperkirakan dapat mengukur apa yang seharusnya diukur.

(17)

67

Istilah lain yang berhubungan adalah face validity, yaitu kelihatan dari luar sudah valid.

Kedua, bila instrumen yang telah dipergunakan, validitasnya dapat diukur dengan memperbandingkan hasil-hasil pengukurannya dengan hasil pengukuran lainnya. Cara ini menghasilkan apa yang dinamakan empirical validity, yang artinya secara empiris dibandingkan dengan hasil pengukuran lain yang telah diketahui atau dianggap valid atau statistical validity (karena dalam proses pembandingan ini biasanya diperlukan perhitungan-perhitungan statistik). Sebuah instrumen dinyatakan valid apabila instrumen itu dapat tepat mengukur apa yang hendak diukur. Ada istilah baru yang mulai diperkenalkan adalah sahih sehingga validitas diganti menjadi kesahihan. Penggunaan istilah ini secara bergantian tidak menimbulkan masalah sebab semua orang memahaminya.

Suatu intrumen dinyatakan valid apabila instrumen itu “tepat” tetapi istilah tepat belum dapat mencakup semua arti yang tersirat dalam kata “valid” dan kata tepat kadang-kadang digunakan dalam konteks yang lain. Akan tetapi, tambahan kata tepat dalam menerangkan valid dapat memperjelas apa yang dimaksud. Contoh, untuk mengukur besarnya partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar, bukan diukur melalui nilai yang diperoleh pada waktu ulangan, tetapi dilihat melalui: kehadiran, terpusatnya perhatian pada pelajaran, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan guru dan sebagainya. Jadi, “nilai yang diperoleh pada waktu ulangan bukan menggambarkan partisipasi, tetapi menggambarkan prestasi belajar” (Arikunto, 2006).

Istilah valid memberikan pengertian bahwa alat ukur yang digunakan mampu memberikan nilai yang sesungguhnya dari apa yang diinginkan. Konsep valid ini secara sederhana mencakup pengertian bahwa skala atau instrumen yang digunakan dapat mengukur atau mengungkapkan hal-hal yang seharusnya diukur atau diungkapkan. Dengan begitu, jika peneliti ingin mengukur atau mengetahui tentang bagaimana kecerdasan spiritual, misalnya skala atau instrumen tersebut memang memuat pertanyaan atau pernyataan yang menyangkut kecerdasan spiritual. Tentunya dengan mengacu pada konsep teoritis tentang kecerdasan spiritual inilah peneliti mengembangkan skala/instrumen untuk proses pengambilan datanya.

(18)

Dari pemahaman di menentukan valid tidaknya da

pada ketepatan alat ukur/skala/instrumen yang digunakan oleh peneliti. Dalam bidang psikologi konsep validitas setidaknya memiliki tiga konteks yaitu: validitas penelitian (research validity

ukur (test validity).

Dalam pelaksanaan penelitian, ketiga konteks tersebut harusnya terpenuhi agar penelitian yang dilakukan dapat memberikan data yang senyatanya, sebagaimana diharapkan sehingga proses pengambilan kesimpulannya juga memiliki nilai jaminan tinggi.

Metode yang sering digunakan untuk mencari validitas instrumen adalah korelasi produk momen (product

skor setiap butir pertanyaan dengan skor total sehingga sering disebut sebagai inter item-total correlation

berikut:

=

Keterangan:

Xij = skor responden ke-j pada butir pertanyaan i = rata-rata butir pertanyaan i.

= rata-rata total skor

tj = total skor seluruh pertanyaan untuk responden ke r1 = korelasi antara butir pertanyaan ke

Pada dasarnya uji validitas menunjukkan ukuran yang benar

mengukur apa yang diukur. Jadi dapat dikatakan semakin tinggi validitas suatu alat tes, maka alat tes tersebut semakin mengenai p

menunjukkan apa yang seharusnya diukur. Suatu tes dapat dikatakan mempunyai validitas tinggi apabila tes tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur sesuai dengan makna dan tujuan diadakannya tes tersebut. P

menggunakan kuesioner di dalam pengumpulan data penelitian, maka item yang disusun pada kuesioner tersebut merupakan alat tes yang harus mengukur apa yang menjadi tujuan penelitian.

Dari pemahaman di atas, konsep validnya sebuah instrumen turut menentukan valid tidaknya data yang diperoleh peneliti, dan menjadi

pada ketepatan alat ukur/skala/instrumen yang digunakan oleh peneliti. Dalam onsep validitas setidaknya memiliki tiga konteks yaitu: research validity), validitas soal (item validity), validitas alat

Dalam pelaksanaan penelitian, ketiga konteks tersebut harusnya terpenuhi yang dilakukan dapat memberikan data yang senyatanya, sebagaimana diharapkan sehingga proses pengambilan kesimpulannya juga memiliki nilai jaminan tinggi.

Metode yang sering digunakan untuk mencari validitas instrumen adalah product moment correlation, Pearson correlation

skor setiap butir pertanyaan dengan skor total sehingga sering disebut sebagai total correlation. Formula yang digunakan untuk itu adalah sebagai

j pada butir pertanyaan i rata butir pertanyaan i.

= total skor seluruh pertanyaan untuk responden ke-j = korelasi antara butir pertanyaan ke-i dengan total skor.

Pada dasarnya uji validitas menunjukkan ukuran yang benar

diukur. Jadi dapat dikatakan semakin tinggi validitas suatu alat tes, maka alat tes tersebut semakin mengenai pada sasarannya, atau semakin menunjukkan apa yang seharusnya diukur. Suatu tes dapat dikatakan mempunyai validitas tinggi apabila tes tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur sesuai dengan makna dan tujuan diadakannya tes tersebut. Penelitian ini menggunakan kuesioner di dalam pengumpulan data penelitian, maka item yang disusun pada kuesioner tersebut merupakan alat tes yang harus mengukur apa yang menjadi tujuan penelitian.

nya sebuah instrumen turut ta yang diperoleh peneliti, dan menjadi rujukan pada ketepatan alat ukur/skala/instrumen yang digunakan oleh peneliti. Dalam onsep validitas setidaknya memiliki tiga konteks yaitu: validitas alat

Dalam pelaksanaan penelitian, ketiga konteks tersebut harusnya terpenuhi yang dilakukan dapat memberikan data yang senyatanya, sebagaimana diharapkan sehingga proses pengambilan kesimpulannya juga

Metode yang sering digunakan untuk mencari validitas instrumen adalah correlation), antara skor setiap butir pertanyaan dengan skor total sehingga sering disebut sebagai ntuk itu adalah sebagai

Pada dasarnya uji validitas menunjukkan ukuran yang benar-benar diukur. Jadi dapat dikatakan semakin tinggi validitas suatu ada sasarannya, atau semakin menunjukkan apa yang seharusnya diukur. Suatu tes dapat dikatakan mempunyai validitas tinggi apabila tes tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan enelitian ini menggunakan kuesioner di dalam pengumpulan data penelitian, maka item-item yang disusun pada kuesioner tersebut merupakan alat tes yang harus mengukur

(19)

69

Untuk menghitung validitas suatu alat tes salah satu caranya dengan melihat daya pembeda item (item discriminate). Daya pembeda item adalah metode yang paling tepat digunakan untuk setiap jenis tes. Daya pembeda item dalam penelitian ini dilakukan dengan cara “korelasi total.” Korelasi item-total yaitu konsistensi antara skor item dengan skor secara keseluruhan yang dapat dilihat dari besarnya koefisien korelasi antara setiap item dengan skor keseluruhan, yang dalam penelitian ini menggunakan koefisien validitas dihitung dengan menggunakan rumus korelasi moment product Pearson (Ancok, 1998).

Tingkat validitas suatu alat ukur dapat diketahui dari nilai koefisien validitasnya dengan rentang antara nol sampai satu, dimana nilai koefisien yang semakin mendekati satu menunjukkan bahwa validitas instrumen penelitian semakin sempurna.

Dari uji validitas di salah satu lokasi di Kabupaten Bogor terhadap 10 responden dengan menggunakan 130 butir pertanyaan/pernyataan pada kuesioner ujicoba, didapatkan 10 butir pertanyaan/pernyataan yang tidak valid, dikarenakan nilai koefisien validitas (rhasil) < dari nilai koefisien validitas kritis (rkritis = 0,564, pada α = 0.05). delapan pertanyaan dibuang, dan dua pertanyaan dimodifikasi. Hasil olahan uji validitas tersaji dalam Lampiran 1.

Reliabilitas Instrumen

Dalam pendekatan kuantitatif, keabsahan data penelitian dilakukan dengan menggunakan metode statistik, yaitu mencari reliabilitas instrumen yang digunakan. Reliabilitas dalam pendekatan kuantitatif ini agak berbeda dengan pendekatan kualitatif. Pada pendekatan kualitatif, reliabilitas dilakukan saat data telah diperoleh yaitu dengan cara mengkonfirmasi pada subyek lain. Sementara itu, dalam pendekatan kuantitatif, reliabilitas dilakukan dengan cara mencari nilai koefisien reliabilitas instrumen, yaitu instrumen ujicoba yang telah diuji validitasnya dilanjutkan analisis tingkat kereliabelan instrumentasi tersebut yang dihitung secara statistik dengan menggunakan beberapa formula statistik.

Sebelumnya perlu dipahami bahwa yang dimaksud reliabilitas instrumen adalah tingkat keterandalan instrumen saat digunakan kapan dan oleh siapa saja, sehingga akan cenderung menghasilkan data yang sama atau hampir sama dengan sebelumnya. Reliabilitas merupakan ketepatan atau consistency atau dapat

(20)

dipercaya. Artinya, instrumen yang digunakan dalam penelitian tersebut akan memberikan hasil yang sama meskipun diulang-ulang dan dilakukan oleh siapa dan kapan saja. Untuk mengetahui reliabilitas instrumen harus diujicobakan berkali-kali. Hasil percobaan dilihat apakah menunjukkan adanya ketepatan atau keseragaman. Kalau hasil percobaan itu memperlihatkan ketepatan, instrumen tersebut dinyatakan reliabel.

Jadi suatu instrumen dinyatakan reliabel apabila hasil pengukurannya mantap. Adapun kemantapan dapat dilihat dari tiga segi yaitu:

a. Sebagai kemantapan hasil pengukuran ulangan dengan instrumen yang sama menghasilkan indeks stabilitas;

b. Sebagai kemantapan hasil mengukur dengan dua buah instrumen yang paralel yang dianggap sama, menghasilkan indeks ekuivalensi atau kesamaan;

c. Kemantapan hasil mengukur masing-masing item dihubungkan dengan kemantapan instrumen secara keseluruhan yang menghasilkan indeks konsistensi internal atau kemantapan internal.

Instrumen/skala yang reliabel berarti instrumen/skala tersebut mempunyai sifat yang dapat dipercaya karena memberikan hasil yang tetap apabila diteskan atau diujicobakan berkali-kali. Jadi, apabila subyek yang diberikan instrumen yang sama pada waktu yang berlainan, subyek akan tetap berada dalam urutan yang sama dalam kelompoknya. Atau jika instrumen/skala tersebut diberikan kepada subyek dengan kelompok yang berbeda, tetapi memiliki karakteristik yang hampir sama, tetap akan menghasilkan hasil yang hampir sama dengan subyek terdahulu. Inilah konsistensi hasil sehingga suatu instrumen (skala) dinyatakan mempunyai keajegan (reliability) apabila hasil pengukurannya sama di segala waktu, di setiap tempat dan setiap sirkumtansi.

Sifat reliabel atau terandalnya sebuah alat ukur berkenaan dengan kemampuan alat ukur tersebut memberikan hasil yang konsisten. Secara sederhana, maka reliabilitas adalah tingkat kepercayaan atau keterandalan alat ukur. Tingkat reliabilitas ditunjukkan dengan adanya keajegan (konsistensi) hasil skor yang diperoleh dengan menggunakan alat ukur yang sama, atau diukur dengan alat ukur yang setara pada kondisi yang berbeda. Dengan demikian, unsur yang harus ada jika suatu alat ukur dinyatakan telah reliabel adalah adanya hasil

(21)

71

tetap (konsisten) saat alat ukur tersebut digunakan, kapan dan oleh siapa saja serta diterapkan pada subyek yang berbeda.

Terkait dengan makna reliabilitas ini Trochim dalam Nasir (2005), menyatakan sebagai berikut:

“In research the term reliability means “repeatability” or “consistency.” A measure is considered reliable if it would give us the same result over and over again (assuming that what we are measuring isn’t changing!).”

Jadi, dari pendapat ini jelas bahwa reliabilitas mengandung unsur keajegan (konsistensi) hasil pegukuran. Alat ukur dinyatakan reliabel jika memberikan hasil pengukuran yang sama, meski dilakukan berulang-ulang kali dengan asumsi tidak adanya perubahan pada apa yang diukur.

Reliabilitas instrumen artinya adalah tingkat keterpercayaan hasil suatu pengukuran. Pengukuran yang memiliki reliabilitas tinggi, yaitu pengukuran yang mampu memberikan hasil ukur yang terpercaya (reliabel). Reliabilitas merupakan salah satu ciri atau karakter utama instrumen pengukuran yang baik. Kadang-kadang reliabilitas disebut juga sebagai keterpercayaan, keterandalan, keajegan, konsistensi, kestabilan, dan sebagainya. Namun, ide pokok dalam konsep reliabilitas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya, artinya sejauh mana skor hasil pengukuran terbebas dari kekeliruan pengukuran (measurement error).

Tinggi rendahnya reliabilitas, secara empiris ditunjukkan oleh suatu angka yang disebut koefisien reliabilitas. Walaupun secara teoritis, besarnya koefisien reliabilitas berkisar antara 0,00 – 1,00; akan tetapi pada kenyataannya koefisien reliabilitas sebesar 1,00 tidak pernah dicapai dalam pengukuran, karena manusia sebagai subyek pengukuran psikologis merupakan sumber kekeliruan yang potensial. Di samping itu walaupun koefisien korelasi dapat bertanda positif (+) atau negatif (-), akan tetapi dalam hal reliabilitas, koefisien reliabilitas yang besarnya kurang dari nol (0,00) tidak ada, artinya karena interpretasi reliabilitas selalu mengacu kepada koefisien reliabilitas yang positif.

Ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam menentukan tingkat reliabilitas suatu alat ukur, salah satunya adalah dengan internal consistency dengan teknik Alpha Cronbach yang dianalisis dengan program SPSS ver 19.

(22)

Teknik ini untuk menguji reliabilitas pertanyaan atau pernyataan-pernyataan berbentuk skala interval dan rasio, yang mempunyai hubungan satu sama lain. Penilaian reliabilitas ditujukan untuk mengukur internal konsistensi pertanyaan atau pernyataan (Nazir, 2005). Hasil nilai koefisien reliabilitas instrumen ini kemudian dikelompokkan ke dalam 5 (lima ) kelas dengan range yang sama, ukuran kemantapan tersebut dapat diinterpretasikan sebagai berikut:

1. Nilai kisaran 0,00 s/d 0,20 berarti kurang reliabel 2. Nilai kisaran 0,21 s/d 0,40 berarti agak reliabel 3. Nilai kisaran 0, 41 s/d 0,60 berarti cukup reliabel 4. Nilai kisaran 0,61 s/d 0,80 berarti reliabel

5. Nilai kisaran 0,81 s/d 1,00 berarti sangat reliabel.

Dari Uji reliabilitas terhadap 10 responden dengan menggunakan alat uji Spearman-Brown (split half reliability test) didapatkan hasil rtotal sebesar 0,69 atau dalam kisaran kategori ke nomor 4 yaitu 0,61 s/d 0,80 berarti reliabel. Demikian juga menurut Nasir (2005), nilai kritis untuk koefisien korelasi Spearman-Brown dengan n = 10 adalah level signifikansi 0,05 sebesar 0,564 dan level signifikansi 0,01 sebesar 0,746, yang berarti reliabel sebagaimana tersaji dalam Lampiran 2.

Pengumpulan Data

Data pertama diambil dari para kepala rumah tangga petani, anggota keluarga tani, observasi lapangan yang diharapkan mampu memberikan masukan dalam hal harapan petani kaitannya dengan peningkatan technical skill, social skill, dan managerial skill kewirausahaan petani di dua kabupaten di Indonesia, sebagai bahan untuk analisa data penelitian.

Data kedua diambil dari responden pengusaha tani di dua kabupaten terpilih secara sengaja sebanyak 22 orang sebagai wakil dari para praktisi, lima orang pakar di bidang technical skill, social skill, dan managerial skill kewirausahaan dari kalangan intelektual perguruan tinggi yang mewakili para pakar dan terakhir lima orang dari kaum birokrat yang mewakili para pengambil keputusan di bidang peningkatan technical skill, social skill, dan managerial skill kewirausahaan di pemerintah daerah di dua kabupaten, yakni Kabupaten Bogor dan Boyolali. Dengan data primer ini diharapkan dapat memberikan informasi

(23)

73

untuk mengetahui kapasitas technical skill, social skill, dan managerial skill petani di Indonesia melalui indepth interview. Dengan perincian sebagai berikut: 1. Data primer: dengan pengisian questionair dan wawancara langsung dengan

124 orang anggota kelompok tani 2 (dua) kabupaten di Indonesia yang dibina oleh misi teknik Taiwan di Indonesia.

2. Pengamatan langsung ke lapangan kepada 22 orang anggota kelompok tani dari pendampingan misi teknik Taiwan di Indonesia.

3. Data sekunder dari pihak-pihak terkait (para pakar, responden, instansi terkait) seperti: para dosen, pejabat pada kantor kamar dagang dan industri daerah (Kadinda) Kota Bogor, pejabat Bappeda, pejabat pemerintah Kabupaten Bogor, dan Boyolali, para Penyuluh dan para Pejabat di Departemen Pertanian, Departemen Industri dan Perdagangan RI Jakarta.

4. Melakukan kajian dan penelaahan pustaka dan data lainnya.

Selain itu, dilakukan pengumpulan data kualitatif, sebagai dukungan data kuantitatif dengan teknik pengumpulan data dan informasi yang dihimpun dalam catatan harian dalam bentuk narasi. Untuk lebih detailnya, cara pengumpulan data kualitatif yang akan dilakukan adalah sebagai berikut.

1. Kuesioner (questioner), yaitu sejumlah pertanyaan tertutup dalam mengukur peubah penelitian untuk diisi responden.

2. Wawancara (interview), yaitu melakukan tanya jawab lisan secara langsung dengan responden penelitian untuk mengumpulkan data dan informasi yang diperlukan dengan menggunakan kuesioner yang telah disiapkan. Wawancara dilakukan terhadap pelaku komunikasi inovasi (petani dan penyuluh/ pendamping) dan juga tokoh masyarakat yang terkait dengan kelembagaan. 3. Wawancara mendalam (indepth interview) yaitu melakukan tanya jawab lisan

secara langsung dan mendalam guna memperdalam informasi yang telah diperoleh sebelumnya. Wawancara mendalam juga dilakukan terhadap pelaku komunikasi inovasi (petani dan penyuluh/pendamping) dan juga tokoh masyarakat yang terkait dengan kelembagaan.

4. Dokumentasi (documentation), yaitu mengumpulkan data dengan cara penelusuran dan pencatatan data, dokumen, arsip, maupun referensi yang relevan di instansi yang ada kaitannya dengan penelitian.

(24)

Analisis Data

Analisa data adalah proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan (Singarimbun & Effendi, 2006). Pengolahan data yang diperoleh dari lapangan melalui tahapan editing, coding, dan ditabulasi sesuai dengan tujuan penelitian. Kemudian dilakukan analisis data dengan teknik statistik non parametrik, menggunakan program SPSS (Statistical Product and Services Solution) ver.19 for Windows.

Untuk analisis statistik deskriptif digunakan frekuensi, persentase, rataan skor, total rataan skor dan persentil. Analisis statistik inferensial dilakukan untuk mengetahui hubungan antar peubah penelitian dan menemukan model empiris hubungan antar peubah dan faktor-faktor pendukungnya, dalam hal ini menggunakan analisis jalur (path analysis). Menurut Sarwono (2006) analisis jalur merupakan teknik analisis sebab akibat yang terjadi pada regresi berganda jika peubah bebasnya mempengaruhi peubah terikat tidak hanya secara langsung, tetapi juga secara tidak langsung.

Sebelum data variabel diolah menggunakan analisa regresi berganda,dan analisa jalur terlebih dahulu dilakukan uji normalitas data untuk setiap variabel. Hasil olahan uji normalitas data setiap variabel disajikan pada lampiran 3. Untuk mengetahui besarnya pengaruh variabel- variabel X terhadap variabel –variabel Y dilakukan analisa regresi berganda, hasil olahan analisa regresi berganda disajikan pada lampiran 4. Setelah dilakukan analisa regresi berganda sekaligus dilakukan analisa jalur untuk mengetahui efektifitas pengaruh variabel- variabel X terhadap variabel-variabel Y tersebut, hasil olahan analisa jalur disajikan pada lampiran 5. Dikarenakan lokasi penelitian dilakukan di dua kabupaten, sebagai analisa terakhir dilakukan uji beda untuk mengetahui perbedaan variabel Y1 (pola komunikasi) dan Y2 (kapasitas kewirausahaan Petani) di Kabupaten Boyolali dan Bogor. Hasil uji beda variabel Y1 dan Y2 disajikan pada lampiran 6.

Figur

Tabel 2.  Penelitian  awal  tentang  paradigma  pola  komunikasi  kewirausahaan petani antara monologik dan dialogik di dua  lokasi amatan

Tabel 2.

Penelitian awal tentang paradigma pola komunikasi kewirausahaan petani antara monologik dan dialogik di dua lokasi amatan p.2
Tabel 3. Ciri-ciri utama dari pola komunikasi monologik dan dialogik  Ciri Utama  Komunikasi Monologik  Komunikasi Dialogik  Fungsi  Komunikasi  untuk  disampaikan  Komunikasi  untuk membujuk Komunikasi untuk ditelusuri  Komunikasi  untuk memberi kuasa  Tu

Tabel 3.

Ciri-ciri utama dari pola komunikasi monologik dan dialogik Ciri Utama Komunikasi Monologik Komunikasi Dialogik Fungsi Komunikasi untuk disampaikan Komunikasi untuk membujuk Komunikasi untuk ditelusuri Komunikasi untuk memberi kuasa Tu p.2
Gambar 4.    Kerangka berpikir pola komunikasi pada pengembangan  kapasitas  kewirausahaan petani sayuran

Gambar 4.

Kerangka berpikir pola komunikasi pada pengembangan kapasitas kewirausahaan petani sayuran p.5

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :