7 KAJIAN PUSTAKA
2.1. Penelitian Sebelumnya (State The Art)
Sebagai pertimbangan dalam penelitian ini akan dicantumkan beberapa hasil penelitian sebelumnya yang berasal dari 3 jurnal internasional dan 2 jurnal nasional yang akan dijadikan bahan pertimbangan. Berikut adalah jurnal internasional dan jurnal nasional yang disajikan dalam bentuk tabel:
No. Nama Peneliti Tahun Judul Hasil Perbandingan
1 Michèle Pisani 2012 The Impact of Team Composition and Interpersonal Communication on Perceived Team Performance – A Case Study (European Journal of Social Sciences) Kesimpulan utama dari penelitian ini adalah bahwa kinerja bukan merupakan kesatuan dipengaruhi oleh sejumlah terbatas faktor. Perbedaan penelitian sebelumnya adalah penelitian sebelumnya menggunakan 2 variabel x yaitu komposisi tim serta komunikasi interpersonal, sedangkan penelitian ini hanya menggunakan 1 variabel x yaitu komunikasi interpersonal
2 Manoela Popescu 2013 Interpersonal Communication Relevance to Professional Development, in Social Systems (International Journal of Academic Research in Business and Sosial Sciences) Profesionalitas adalah hasil dari perubahan individu dan tingkat organisasi, sosial dan perubahan ekonomi. Perubahan ini didasari oleh hubungan, pengaruh, komunikasi, melalui bertambahnya pengetahuan baru, informasi dan ide. Perbedaan penelitian sebelumnya adalah metode yang dipergunakan di penelitian sebelumnya menggunakan metode kuantitatif sedangkan penelitian ini menggunakan metode kualitatif sehingga dapat mendapatkan kedalaman data. 3 Tiur Asi Siburian 2013 The Effect of Interpersonal Communication, Organizational Culture, Job Satisfaction, and Achievement Motivation to Organizational Commitment of State High School Teacher Komunikasi interpersonal berpengaruh langsung terhadap kepuasan kerja guru, komitmen organisasi. Kultur organisasi mempengaruhi Perbedaan dengan penelitian sebelumnya adalah penelitian sebelumnya membahas tentang efek komunikasi interpersonal, kultur organisasi, kepuasan kerja dan motivasi
in the District Humbang Hasundutan, North Sumatera, Indonesia (International Journal of Humanities and Social Science) motivasi berprestasi, komitmen organisasi. Kepuasan kerja secara langsung mempengaruhi komitmen Organisasi guru. Motivasi berprestasi secara langsung mempengaruhi Komitmen Organisasi guru. berprestasi terhadap komitmen berorganisasi. Berbeda dengan penelitian ini yaitu mencari tau bagaimana komunikasi interpersonal pada divisi humas PT PLN, dan metodelogi yang dipakai berbeda dengan penelitian ini yang menggunakan kualitatif. 4 Yenny Wijayanti 2013 Proses Komunikasi Interpersonal Ayah dan Anak Dalam Menjaga Hubungan (Jurnal e-Komunikasi) Penelitian menunjukkan bahwa latar belakang sikap orangtua terhadap anaknya juga mempengaruhi pola komunikasi antara ayah dan anak. Betapa pentingnya Perbedaan dari penelitian yang sebelumnya adalah penelitian sebelumnya bertujuan untuk memahami proses komunikasi interpersonal ayah dan anak dalam menjaga hubungan, sedangkan dalam
sebuah kedekatan untuk tetap menjaga hubungan guna mengisi peran ibu yang telah hilang bagi anak-anaknya. Karena dampingan orang tua sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan seorang anak dimana mereka juga bertanggung jawab untuk menuntun serta mengawasi kearah anak harus berjalan. penelitian ini untuk mengetahui bagaimana komunikasi interpersonal yang terjadi di humas, hambatannya dan solusi dari masalah yang terjadi. 5 Donny Christianto Jonathan 2014 Proses Komunikasi Interpersonal Antara Pelatih Dengan Kapten Tim Persebaya Komunikasi selalu dimulai dari pelatih yang membuat sang pelatih selalu dominan Perbedaan dari penelitian yang sebelumnya adalah penelitian sebelumnya bertujuan untuk
1927 (Jurnal e-Komunikasi) menjadi source sedangkan sang kapten menjadi receiver. Selain itu juga nampak bahwa pelatih lebih banyak berkomunikasi dengan kapten daripada pemain lain di lapangan. Namun pada saat evaluasi dan memberikan motivasi pelatih langsung turun tangan sendiri ke pemain walaupun dia sendiri sudah memberlakuka n sistem komunikasi satu pintu di timnya. melihat bagaimana proses komunikasi interpersonal antara pelatih dengan kapten tim Persebaya 1927, sedangkan dalam penelitian ini untuk mengetahui bagaimana komunikasi interpersonal yang terjadi di humas, hambatannya dan solusi dari masalah yang terjadi.
2.2. Landasan Konseptual 2.2.1. Definisi Komunikasi
Berikut beberapa pengertian komunikasi menurut para ahli, Suprapto (2011):
a. Komunikasi adalah proses yang menggambarkan siapa mengatakan apa dengan cara apa, kepada siapa dengan efek apa (Laswel).
b. Komunikasi adalah penyebaran informasi, ide-ide sebagai sikap atau emosi dari seseorang kepada orang lain terutama melalui simbol-simbol. (Theodorson dan Thedorson).
c. Komunikasi adalah proses sosial, dalam arti pelemparan pesan/lambang yang mana mau tidak mau akan menumbuhkan pengaruh pada semua proses dan berakibat pada bentuk perilaku manusia dan adat kebiasaan (William Albig).
d. Komunikasi merupakan interaksi antarpribadi yang menggunakan sistem simbol-simbol linguistik, seperti sistem simbol verbal (kata-kata) dan nonverbal. Sistem ini dapat di sosialisasikan secara langsung/tatap muka atau melalui media lain (tulisan, oral, dan visual) (Karlfried Knapp).
e. Komunikasi adalah seni menyampaikan informasi, ide dan sikap seseorang kepada orang lain (Edwin Emery).
f. Komunikasi merupakan proses pengalihan suatu maksud dari sumber kepada penerima, proses tersebut merupakan suatu seri aktivitas, rangkaian atau tahap-tahap yang memudahkan peralihan maksud tersebut (A.Winnet).
g. Komunikasi berarti suatu mekanisme suatu hubungan antarmanusia dilakukan dengan mengartikan simbol secara lisan dan membacanya melalui ruang dan menyimpan dalam waktu (Charles H.cooley).
2.2.2. Proses Komunikasi
Dalam Suprapto (2011), proses komunikasi adalah setiap langkah mulai dari saat menciptakan informasi sampai di pahami oleh komunikan. Komunikan adalah sebuah proses sebuah kegiatan yang berlangsung kontinu.
Proses komunikasi adalah bagaimana komunikator menyampaikan pesan kepada komunikannya, sehingga dapat menciptakan suatu persamaan makna antara komunikan dengan komunikatornya. Proses komunikasi ini bertujuan untuk menciptakan komunikasi yang efektif (sesuasi dengan tujuan komunikasi pada umumnya). Secara sederhana komunikasi dapat terjadi apabila ada kesamaan antara penyampaian pesan dan orang yang menerima pesan.
Dalam aplikasinya, langkah-langkah dalam proses komunikasi adalah sebagai berikut:
Gambar 2.1 Langkah-langkah proses komunikasi
Sumber : (Suprapto, 2011) Ide Encoding Pengiriman Decoding Balikan
Pada gambar 2.1 merupakan langkah-langkah proses komunikasi yang akan dijelaskan sebagai berikut:
1. Langkah pertama, ide/gagasan diciptakan oleh sumber/komunikator.
2. Langkah kedua, ide yang diciptakan tersebut kemudian dialih bentukan menjadi lambang-lambang komunikasi yang mempunyai makna dan dapat dikirimkan.
3. Langkah ketiga, pesan yang telah di-encoding tersebut selanjutnya di kirimkan melalui saluran/media yang sesuai dengan karakteristik lambang-lambang komunikasi ditujukan kepada komunikan.
4. Langkah keempat, penerima menafsirkan isi pesan sesuai dengan presepsinya untuk mengartikan maksud pesan tersebut.
5. Langkah kelima, apabila pesan tersebut telah berhasil di-decoding, khalayak akan mengirim kembali pesan tesebut ke komunikator.
2.2.3. Konseptualisasi Komunikasi
Sebagaimana yang dikemukakan oleh John R. Wenburg dan William W. Wilmot juga oleh Kenneth K. Sereno dan Edward M. Bodaken (Mulyana, 2009) setidaknya ada tiga kerangka pemahaman mengenai komunikasi, yakni komunikasi sebagai tindakan satu-arah, komunikasi sebagai interaksi, dan komunikasi sebagai transaksi.
a. Komunikasi sebagai tindakan satu-arah
Suatu pemahaman populer mengenai komunikasi manusia adalah komunikasi mengisyaratkan penyampaian pesan searah dari seseorang (atau suatu lembaga) kepada seseorang (sekelompok orang) lainnya, baik secara langsung (tatap muka) ataupun melalui media, seperti surat (selebaran), surat kabar, majalah, radio, atau televisi. Pemahaman komunikasi sebagai proses searah ini oleh Michael Burgoon disebut sebagai definisi berorientasi sumber (source oriented definition). Definisi seperti ini mengisyaratkan komunikasi sebagai semua kegiatan yang sengaja dilakukan seseorang untuk
menyampaikan rangsangan untuk membangkitkan respon orang lain. Dalam konteks ini, komunikasi dianggap suatu tindakan yang disengaja (intentional act) untuk menyampaikan pesan demi memenuhi kebutuhan komunikator, serta menjelaskan sesuatu kepada orang lain atau membujuknya untuk melakukan sesuatu.
b. Komunikasi sebagai interaksi
Pandangan ini menyertakan komunikasi dengan suatu proses sebab akibat atau aksi reaksi, yang arahnya bergantian. Selanjutnya, komunikasi sebagai interaksi dipandang sedikit lebih dinamis dari pada komunikasi sebagai tindakan satu arah. Namun, pandangan kedua ini masih membedakan para peserta sebagai pengirim dan penerima pesan, karena itu masih tetap berorientasi sumber, meskipun kedua peran tersebut. Pandangan ini menyertakan komunikasi dengan suatu proses sebab akibat atau aksi reaksi, yang arahnya bergantian. Selanjutnya, komunikasi sebagai interaksi dipandang sedikit lebih dinamis dari pada komunikasi sebagai tindakan satu arah. Namun, pandangan kedua ini masih membedakan para peserta sebagai pengirim dan penerima pesan, karena itu masih tetap berorientasi sumber, meskipun kedua peran tersebut.
c. Komunikasi sebagai transaksi
Dalam komunikasi transaksional, komunikasi dianggap telah berlangsung bila seseorang telah menafsirkan perilaku orang lain, baik perilaku verbal ataupun perilaku nonverbalnya. Berdasarkan pandangan ini, maka orang-orang yang berkomunikasi dianggap sebagai komunikator yang secara aktif mengirimkan dan menafsirkan. Dalam komunikasi transaksional, komunikasi dianggap telah berlangsung bila seseorang telah menafsirkan perilaku orang lain, baik perilaku verbal ataupun perilaku nonverbalnya. Berdasarkan pandangan ini, maka orang-orang yang berkomunikasi dianggap sebagai komunikator yang secara aktif mengirimkan dan menafsirkan.
2.2.4. Komunikasi Organisasi
Komunikasi organisasi dapat didefinisikan sebagai pertunjukan dan penafsiran pesan di antara unit-unit komunikasi yang merupakan bagian dari suatu organisasi tertentu. Suatu organisasi terdiri dari unit-unit komunikasi yang dalam hubungan-hubungan hierarkis antara yang satu dengan lainnya dan berfungsi dalam suatu lingkungan (Pace & Faulis, 2010)
Gambar 2.2 Sistem Komunikasi Organisasi Sumber: Pace & Faulis (2010)
Pada gambar 2.2 melukiskan konsep suatu sistem komunikasi organisasi. Garis yang terputus-putus melukiskan gagasan bahwa hubungan-hubungan ditentukan alih-alih bersifat alami; hubungan-hubungan-hubungan-hubungan itu juga menunjukan bahwa struktur suatu organisasi bersifat luwes dan mungkin berubah sebagai respons terhadap kekuatan-kekuatan lingkungan yang internal ataupun eksternal. (Pace & Faulis, 2010)
2.2.5. Arah Aliran Informasi
Dalam Pace & Faulis (2010), komunikasi organisasi terdapat beberapa arah aliran informasi seperti komunikasi kebawah, komunikasi keatas,
komunikasi horizontal, komunikasi lintas saluran. Dan akan dibahas sebagai berikut:
a. Komunikasi kebawah
Komunikasi kebawah dalam suatu organisasi berarti bahwa informasi mengalir dari jabatan berotoritas lebih tinggi kepada mereka yang berotoritas yang lebih rendah. Biasanya kita beranggapan bahwa informasi bergerak dari manajemen kepada pegawai, namun dalam organisasi kebanyakan bahwa hubungan ada pada kelompok manajemen.
b. Komunikasi keatas
Komunikasi keatas dalam sebuah organisasi berarti bahwa informasi mengalir dari tingkat yang lebih rendah (bawahan) ke tingkat yang lebih tinggi (penyelia). Semua pegawai dalam suatu organisasi, kecuali mungkin mereka menduduki posisi puncak, mungkin berkomunikasi keatas –yaitu, setiap bawahan dapat mempunyai alasan yang baik atau meminta informasi dari atau memberi informasi kepada seseorang yang otoritasnya lebih tinggi daripada dia.
c. Komunikasi horizontal
Komunikasi horizontal terdiri dari penyampaian informasi di antara rekan-rekan sejawat dalam unit kerja yang sama. Unit kerja meliputi individu-individu yang ditempatkan pada tingkat otoritasyang sama dalam organisasi dan mempunyai atasan yang sama.
d. Komunikasi lintas-saluran
Dalam kebanyakan organisasi, muncul keinginan pegawai untuk berbagi informasi melewati batas-batas fungsional dengan individu yang tidak menduduki atasan maupun bawahan mereka. Mereka melintasi jalur fungsionalis dan berkomunikasi dengan orang-orang yang diawasi dan yang mengawasi tetapi bukan atasan ataupun bawahan mereka.
2.2.6. Komunikasi Interpersonal
Definisi komunikasi interpersonal menurut Joseph DeVito dibedakan menjadi dua yaitu berdasarkan hubungan diandik dan berdasarkan pengembangan. Sebagai hubungan diandik komunikasi interpersonal merupakan komunikasi yang berlangsung diantara dua orang yang mempunyai hubungan mantab dan jelas. Sedangkan menurut pengembangan adalah melihat komunikasi interpersonal di lihat sebagai ahir dari perkembangan dari komunikasi yang bersifat tak pribadi pada satu ekstrim tertentu dapat berubah menjadi komunikasi yang bersifat pribadi (Nugrahaeni, 2010).
Komunikasi interpersonal menurut Effendy (2008) adalah komunikasi antara komunikator dengan seorang komunikan. Komunikasi jenis ini dianggap paling efektif dalam hal upaya mengubah sikap, pendapat, atau perilaku seseorang, karena sifatnya dialogis, berupa percakapan.
Komunikasi antarpribadi menurut Deddy Mulyana (2010) adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal maupun nonverbal. Bentuk kusus dari komunikasi antarpribadi ini adalah komunikasi diadik yang melibatkan hanya dua orang. Ciri-ciri komunikasi diadik ini adalah: pihak-pihak yang berkomunikasi dengan jarak yang dekat; pihak-pihak yang melakukan komunikasi mengirimkan atau menerima pesan secara spontan, baik secara verbal ataupun nonverbal.
Komunikasi antarpribadi dapat terjadi dalam konteks satu komunikator dengan satu komunikan atau satu komunikator dengan dua komunikan. Lebih dari tiga orang termasuk kedalam komunikasi kelompok. Komunikasi antarpribadi dapat berlangsung secara tatap muka atau menggunakan media komunikasi antarpribadi, seperti telefon.
2.2.7. Ciri-ciri Komunikasi Interpersonal
Ciri-ciri komunikasi interpersonal menurut Lukas Dwiantara dan Suharsono (2013) menyatakan bahwa ada enam ciri komunikasi interpersonal yang didasarkan pada beberapa kriteria tertentu, yaitu:
1. Aliran pesan, dalam komunikasi interpersonal pesan yang disampaikan bersifat langsung dan timbal balik, sehingga aliran pesan bersifat dua arah. Oleh karena itu oleh karena itu komunikator dan komunikan dapat berubah fungsi ketika komunikasi itu sedang berlangsung.
2. Konteks komunikasi, karena komunikasi interpersonal terjadi secara tatap muka maka komunikasi berjalan lebih akrab, lebih personal. 3. Umpan balik, seseorang yang terlibat dalam komunikasi interpersonal
dapat langsung memberikan umpan balik pada saat komunikasi itu sedang berlangsung.
4. Kemampuan mengatasi seleksi, dalam komunikasi interpersonal kemampuan untuk mengatasi seleksi pesan itu akan lebih sulit, karena seseorang akan lebih sulit untuk menghentikan proses pembicaraan yang sedang berlangsung, berbeda dengan komunikasi massa yang akan lebih mudah untuk menyeleksi pesan-pesan yang disampaikan misalnya melalui televisi dan radio bisa langsung dihentikan bila tidak sesuai dengan keinginan.
5. Kecepatan menjangkau audiens yang luas, dalam komunikasi interpersonal biasanya terjadi “dari mulut ke mulut”.
6. Efek, karena sifatnya langsung maka seseorang yang sedang melakukan proses komunikasi dapat langsung mengetahui siapa lawan bicaranya itu, kira-kira orang yang dapat dipercaya atau tidak. Oleh karena itu komunikasi interpersonal akan lebih mudah untuk mempengaruhi sikap perilaku seseorang dibandingkan dengan komunikasi massa.
2.2.8. Tujuan Komunikasi Interpersonal
Komunikasi interpersonal memiliki beberapa tujuan, disaat komunikasi interpersonal itu terjadi. Adapun tujuan komunikasi interpersonal menurut Devito (2011) sebagai berikut:
a. Menemukan
Tujuan komunikasi interpersonal ini maksudnya diarahkan untuk menemukan personal atau pribadi. Artinya dalam pertemuan interpersonal
dengan orang lain seseorang dapat belajar banyak tentang dirinya maupun orang lain. Kenyataan sebagian besar dari persepsi seseorang adalah hasil dari apa yang telah dipelajari dalam pertemuan interpersonal.
Komunikasi interpersonal memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk berbicara tentang apa yang disukai atau mengenai diri sendiri. Tetapi komunikasi interpersonal memungkinkan menemukan dunia luar. Hal ini menjadikannya untuk memahami lebih baik dunia luar, dengan objek, kejadian-kejadian dan orang lain. Kondisi tersebut menyebabkan kenyataan, kepercayaan, sikap dan nilai-nilai seseorang akan dipengaruhi lebih banyak oleh pertemuan interpersonal.
b. Untuk berhubungan
Melalui komunikasi interpersonal ini akan membentuk dan memelihara hubungan dengan orang lain. Selain itu akan terbentuk suatu jalinan yang didasarkan karena perasaan keterkaitan antara pihak yang melakukan komunikasi. Hal ini baik untuk menjalin suatu proses kerjasama untuk mencapai tujuan bersama.
c. Untuk menyakinkan
Komunikasi interpersonal juga memberikan tujuan sebagai alat untuk pihak lain sehingga dapat merubah hidup seseorang. Karena ternyata untuk mengubah sikap dan tingkah laku setiap individu dapat dilakukan dengan pertemuan interpersonal.
d. Untuk bermain dan kesenangan
Komunikasi interpersonal juga dapat digunakan untuk bermain, mencakup semua aktivitas yang mempunyai tujuan utama adalah mencari kesenangan. Berbicara dengan teman mengenai aktivitas pada waktu akhir pekan, berdiskusi mengenai olahraga, dan menceritakan cerita lucu. Pada umumnya hal itu adalah merupakan pembicaraan yang dapat memberikan kesenangan.
Walaupun kelihatannya kegiatan itu tidak berarti tetapi mempunyai tujuan yang sangat penting. Dengan melakukan komunikasi interpersonal
semacam itu dapat memberikan keseimbangan yang penting dalam pikiran yang memerlukan rileks dari semua keseriusan di lingkungan.
2.2.9. Efektivitas Komunikasi Interpersonal
Dalam komunikasi interpersonal ada beberapa faktor yang mempengaruhi. Menurut DeVito (2011) komunikasi interpersonal yang efektif adalah sebagai berikut:
a. Keterbukaan (Opennes)
Sikap terbuka (open mindedness) memiliki pengaruh besar dalam menumbuhkan komunikasi interpersonal yang efektif. Untuk menunjukkan kualitas keterbukaan dari komunikasi interpersonal ini terdapat dua aspek, yakni aspek keinginan untuk terbuka bagi setiap individu yang berinteraksi dengan orang lain, dan keinginan untuk menanggapi secara jujur semua stimuli yang datang kepadanya. Keterbukaan juga berarti adanya kemauan untuk membuka diri pada hal-hal tertentu, agar anak mampu mengetahui pendapat, gagasan, atau pikiran orang tua sehingga komunikasi mudah dilakukan, serta kemauan untuk anak menanggapi secara jujur dan terus terang terhadap apa yang disampaikannya.
b. Sikap Positif (Positiveness)
Sikap positif atau faktor percaya ini merupakan bagian yang penting. Bila seseorang mempunyai perasaan bahwa dirinya tidak akan dirugikan, tidak akan dikhianati, maka orang itu pasti akan lebih mudah membuka dirinya. Bagaimana orang tua dapat berperilaku positif seperti berpikir positif terhadap dirinya sebagai orang tua maupun terhadap anaknya sendiri. Sikap positif maksudnya adalah bagaimana orang tua dapat mempercayai anaknya untuk melakukan kegiatannya sendiri tanpa harus selalu diawasi serta selalu berupaya untuk mencontohkan perilaku-perilaku positif pada anak.
c. Empati (Emphaty)
Empati adalah kemampuan untuk memahami perasaan dan pikiran orang lain, kemampuan untuk melihat dunia dari sudut pandang orang lain atau kemampuan memproyeksikan diri kepada diri orang lain. Dengan kata lain, kemampuan menghayati perasaan orang lain atau merasakan apa yang
dirasakan orang lain, baik secara emosional maupun intelektual. Dalam hal ini sikap empati adalah bagaimana dalam berkomunikasi seseorang dapat merasakan dan mengerti kondisi setiap anggota dalam keluarga, serta memahami kondisi psikis dalam setiap situasi. Empati merupakan salah satu faktor yang menumbuhkan sikap percaya pada orang lain.
d. Sikap Mendukung (Supportiveness)
Sikap mendukung adalah adanya sikap saling mendukung antar orang tua dan anak dalam tujuan agar pesan keduanya dapat tersampaikan dengan baik. Dalam hal ini, maksudnya adalah dalam berkomunikasi seseorang dapat menunjukkan sikap menyanggupi untuk mendengar perkataan setiap anggota keluarga yang sedang berbicara. Mampu memberikan masukan dan saran yang membangun, serta fokus dalam memperhatikan pembicaraan yang sedang terjadi.
e. Kesetaraan / Kesamaan (Equality)
Komunikasi interpersonal akan lebih efektif jika orang-orang yang berkomunikasi di dalam suasana kesamaan. Kesamaan tersebut diantaranya adalah kesamaan-kesamaan kepribadian ataupun kedudukan antara pembicara dan pendengar. Komunikasi interpersonal akan lebih efektif bila suasananya setara. Artinya, harus ada sesuatu untuk saling disumbangkan antara kedua belah pihak.
2.2.10. Hambatan Komunikasi dalam Organisasi
Menurut Roger Neugebauer dalam (Efendy, 2006), dalam artikelnya "Communication: A two-way Street" mengungkapkan beberapa kendala yang sering dialami oleh sebuah organisasi dalam berkomunikasi dua arah, yaitu:
a. Perlindungan (Protectiveness).
Pimpinan seringkali tidak memberitahukan informasi tertentu pada karyawannya atau timnya karena takut akan menyakiti hati karyawan. Alasan lain adalah bahwa pimpinan menganggap bahwa informasi tersebut harus dilindungi, dan bukan untuk konsumsi pegawai karena pegawai tidak akan mungkin mengerti apa yang akan disampaikan. Demikian pula dengan pegawai. Mereka sering tidak menyampaikan informasi tertentu kepada
pimpinan untuk melindungi dirinya dari tindakan pemecatan atau peringatan. Mereka takut jika informasi disampaikan maka pimpinan akan marah, lalu mendiskreditkan mereka, memberikan penilaian yang negatif terhadap mereka (sehingga berdampak pada kenaikan gaji yang kecil), atau bahkan yang paling ekstrim adalah memecat mereka.
b. Pertahanan (Defensiveness).
Selain menahan informasi, seseorang juga bisa saja tidak mau menerima informasi (menolak untuk mendengar informasi yang disampaikan). Hal ini terjadi jika mereka sudah membentuk emosi negatif terhadap orang yang memberi informasi, mungkin karena orang tersebut telah merendahkan dengan kata-kata yang menyakitkan.
c. Kecenderungan untuk menghakimi (Tendency to evaluate).
Jika mendapat informasi dari seseorang mengenai keburukan orang lain, komunikator cenderung mengambil sikap yang mengevaluasi tanpa mengumpulkan data yang lengkap sebelum berkomunikasi dengan orang yang dibicarakan tersebut.
d. Perspektif yang sempit (Narrow perspectives).
Karena jarang meninjau pekerjaan orang lain, atau keluar dari lingkungan pekerjaan sendiri, seseorang seringkali dibatasi pada cara pandangnya sendiri. Ia tidak mencoba melihat dari sudut pandang orang lain. Para karyawan seringkali hanya melihat suatu masalah dari sudut pandangnya sendiri (kepentingan individunya semata, tanpa mencoba memahami sebuah situasi dan sudut pandang yang berbeda). Sempitnya perspektif inilah yang sering menyebabkan konflik. (tiap orang hanya melihat dan sudut pandang sendiri, dan tidak mencoba memahami orang lain).
e. Harapan yang tidak sesuai (Mismatched expectations).
Pikiran manusia seringkali hanya membatasi informasi yang cocok dengan ekspektasinya. Jika ternyata informasi yang disampaikan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, maka orang tersebut cenderung tidak termotivasi untuk mendengarkan informasi yang disampaikan. Misalnya: jika dalam rapat-rapat ternyata seringkali tanggapannya tidak diperhatikan, maka
pegawai cenderung enggan menyatakan pendapat, karena ia beranggapan percuma saja menyampaikan pendapat, karena biasanya juga tidak ada follow up nya.
f. Waktu yang terbatas (Insufficient time).
Alasan lain adalah keterbatasan waktu untuk menyampaikan informasi secara menyeluruh. Karena kegiatan rutin yang harus diselesaikan dengan segera, seringkali waktu berkomunikasi dilupakan, atau komunikasi dilakukan dengan tergesa. Akibatnya, informasi yang disampaikan kepada orang lain pun tidak lengkap sehingga ada kemungkinan informasi tersebut salah dipahami.
2.2.11. Teori Penetrasi Sosial
Untuk memahami kedekatan hubungan antara dua orang, Irwin Altman dan Dalmas Taylor mengonseptualisasikan Teori Penetrasi Sosial (Social Penetrasi Theory-SPT). Keduanya melakukan studi yang ekstensif dalam suatu area mengenal ikatan sosial pada berbagai macam tipe pasangan. Teori mereka menggambarkan suatu pola pengembangan hubungan, sebuah proses yang mereka identifikasikan sebagai penetrasi sosial. Penetrasi sosial (Social Penetration) merujuk pada sebuah proses ikatan hubungan dimana individu-individu bergerak dari komunikasi superfisial menuju ke komunikasi yang lebih intim. Menurut Altman dan Taylor, keintiman disini lebih dari sekedar keintiman secara fisik, dimensi lain dari keintiman termasuk intelektual dan emosional, dan hingga pada batasan dimana pasangan melakukan aktivitas bersama. Proses penetrasi sosial, karenanya, mencakup didalamnya perilaku verbal (kata-kata yang digunakan), perilaku nonverbal (postur tubuh kita, sejauh mana kita tersenyum, dan sebagainya), dan perilaku yang berorientasi pada lingkungan (ruang antara komunikator, objek fisik yang ada didalam lingkungan dan sebagainya) (West & Turner, 2009).
Asumsi Teori Penetrasi Sosial dalam West & Turner (2009) sebagian alasan dari daya tarik teori ini adalah pendekatannya yang langsung pada perkembangan hubungan. Meskipun secara sekilas telah disebutkan beberapa asumsi sebelumnya, akan dibahas asumsi-asumsi yang mengarahkan SPT berikut ini :
1. Hubungan-hubungan mengalami kemajuan dari tidak intim menjadi intim
2. Secara umum, perkembangan hubungan sistematis dan dapat diprediksi
3. Perkembangan hubungan mencakup depenetrasi (penarikan diri) dan disolusi
4. Pembukaan diri adalah inti dari perkembangan hubungan
Pertama, hubungan komunikasi antara orang dimulai pada tahapan superfisial dan bergerak pada sebuah kontinu menuju tahapan yang lebih intim. Asumsi kedua dari Teori Penetrasi Sosial berhubungan dengan prediktabilitas. Secara khusus, para teoritikus penetrasi sosial berpendapat bahwa hubungan hubungan berkembang secara sistematis dan dapat diprediksi. Hubungan–seperti proses komunikasi–bersifat dinamis dan terus berubah, tetapi bahkan sebuah hubungan saling dinamis mengikuti standar da pola perkembangan yang dapat diterima.
Asumsi ketiga dari teori penetrasi sosial ini berhubungan dengan pemikiran bahwa perkembangan hubungan mencakup depenetrasi dan disolusi. Sejauh ini kita telah membahas titik temu dari sebuah hubungan. Akan tetapi, hubungan dapat menjadi berantakan, atau menarik diri (depenetrate), dan kemunduran ini dapat menyebabkan terjadinya disolusi hubungan. Berbicara mengenai penarikan diri dan disolusi, Altman dan Taylor menyatakan kemiripan proses ini dengan sebuah film yang diputar mundur. Sebagaimana komunikasi memungkinkan sebuah hubungan untuk bergerak maju menuju tahap keintiman, komunikasi dapat menggerakan hubungan untuk mundur menuju tahap ketidakintiman. Jika sebuah komunikasi penuh dengan konflik, contohnya, dan konflik ini terus berlanjut menjadi destruktif dan tidak bisa diselesaikan, hubungan itu mungkin akan mengambil langkah mundur dan menjadi lebih jauh. Para teoritikus penetrasi sosial berpikir bahwa penarikan diri sering kali sistematis.
Jika sebuah hubungan mengalami depenetrasi, hal itu tidak berarti bahwa hubungan itu akan secara otomatis hilang atau berakhir. Seringkali, suatu hubungan akan mengalami transgresi (transgression) atau pelanggaran
aturan, pelaksanaan, dan harapan dalam berhubungan. Tara Emmers-Sommer menyatakan bahwa sebagai transgresi hubungan dapat membantu dalam kegagalan suatu hubungan. Pola berulang yang tidah diinginkan dari konflik yang terjadi pada suatu pasangan. Kita melihat bahwa konflik yang terus berulang memberikan ciri sejumlah tipe hubungan yang berbeda dan bahwa pasangan seara umum belajar untuk hidup dengan konflik-konflik ini. Anda mungkin yakin bahwa koflik atau transgresi hubungan akan menyebabkan disolusi, tetapi penarikan diri tidak srta merta berarti bahwa suatu hubungan sudah hancur.
Asumsi terakhir menyatakan bahwa pembukaan diri adalah inti dari perkebangan hubungan. Pembukaan diri (self-disclosure) dapat secara umum didefinisikan sebagai proses pmbukaan informasi mengenai diri sendiri kepada orang lain yang memiliki tujuan. Biasanya, informasi yang ada didalam pembukaan diri adalah informasi signifikan. Menurut Altman dan Taylor, hubungan yang tidak intim bergerak menuju hubungan yang intim karena adanya keterbukaan diri. Pembukaan diri membantu membentuk hubungan masa kini dan masa depan antara dua orang dan “membuat diri terbuka terhadap orang lain memberikan kepuasan yang intrinsik”.
2.3. Kerangka Pemikiran
Dalam penelitian ini kerangka berfikirnya akan di jabarkan seperti dibawah berikut:
Gambar 2.3 Kerangka pemikiran Sumber: diolah oleh peneliti
Dalam penelitian ini yang akan dibahas adalah komunikasi interpersonal pada humas PT PLN (Persero) Distribusi Jakarta dan Tangerang dan hambatan komunikasi pada humas PT PLN (Persero) Distribusi Jakarta dan Tangerang. Untuk mengetahui komunikasi interpersonal akan di tinjau dari pendekatan DeVito dengan aspek keterbukaan, sikap positif, empati, mendukung, kesetaraan. Sedangkan untuk hambatan komunikasi akan di tinjau dari perlindungan, pertahanan, kecenderungan untuk menghakimi, perspektif yang sempit, harapan tidak sesuai, waktu yang terbatas.
Komunikasi Interpersonal pada PT PLN (Persero) Distribusi Jakarta dan
Tangerang Komunikasi Interpersonal - Keterbukaan - Sikap Positif - Empati - Mendukung - Kesetaraan DeVito (2011) Hambatan Komunikasi dalam Organisasi - Perlindungan - Pertahanan - Kecenderungan untuk menghakimi
- Perspektif yang sempit - Harapan tidak sesuai - Waktu terbatas Efendy (2006)