Nomor : 001; 002/PUU-III/2005
MAHKAMAH KONSTITUSI
REPUBLIK INDONESIA
---RISALAH
PANEL HAKIM
PEMERIKSAAN PENDAHULUAN
PERKARA NOMOR:
001/PUU-III/2005
002/PUU-III/2005
PENGUJIAN UU N0. 37 TAHUN 2004
TENTANG
KEPAILITAN DAN PENUNDAAN KEWAJIBAN
PEMBAYARAN UTANG (PKPU)
JUMAT, 4 FEBRUARI 2004
JAKARTA
2005
MAHKAMAH KONSTITUSI
REPUBLIK INDONESIA
---RISALAH
PANEL HAKIM
PEMERIKSAAN PENDAHULUAN
PERKARA NOMOR:
001/PUU-III/2005
002/PUU-III/2005
PENGUJIAN UU N0. 37 TAHUN 2004
TENTANG
KEPAILITAN DAN PENUNDAAN KEWAJIBAN
PEMBAYARAN UTANG (PKPU)
KETERANGAN
1. H a r i : Jumat
2. Tanggal : 4 Februari 2005
3. Waktu : 09.30-10.20 WIB
4. Tempat : Ruang Sidang Mahkamah Konstitusi Jl. Medan Merdeka Barat No. 7 Jakarta Pusat
5. Susunan Persidangan :
1. Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H. ( k e t u a )
2. H. ACHMAD ROESTANDI, S.H. ( Anggota )
3. I DEWA GEDE PALGUNA, S.H., M.H. ( Anggota )
6. Pemohon : Aryunia Candra Purnama
7. Panitera Pengganti : Cholidin Nasir, S.H. Ida Ria Tambunan, S.H.
JALANNYA SIDANG
1. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H.
Perkara 001/PUU-III/2005 dan Perkara 002/PUU-III/2005 dengan ini dibuka dan terbuka dinyatakan terbuka untuk umum.
Saudara Pemohon atau Kuasanya, sebagaimana lazimnya Saudara diminta memperkenalkan diri identitasnya. Sebagai Pemohon materil atau Kuasa Hukum?
Silakan.
2. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H.
Terima kasih, Majelis Hakim yang kami hormati.
Kami mewakili Aryunia Candra Purnama, seorang Warga Negara Republik Indonesia yang dirugikan hak konstitusionalnya, kami adalah tim Advokat. Kami mewakili Perkara Nomor 01. Kami sendiri, Lukas. Di sebelah kanan kami, Tisye Erlina Yunus, S.H. selanjutnya Swandy Halim, S.H., selanjutnya Sony Wicaksono, S.H., dan terakhir adalah Tommy Siregar, S.H.
Terima kasih.
3. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H. Untuk mewakili Perkara Nomor 002. 4. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H.
Untuk Perkara Nomor 002, kami juga mewakili perseorangan, yaitu Suharyanti yang dirugikan hak konstitusionalnya. Perkara Nomor 002 ini, kami juga bersama-sama dengan Kuasa Hukum yang sama, yaitu saya sendiri Lukas, S.H., Tisye Erlina Yunus, S.H., Swandy Halim, S.H., selanjutnya Sony Wicaksono, S.H., dan terakhir adalah Tommy Siregar, S.H.
Terima kasih.
Pokok-pokok masalah yang kami ajukan dalam pemeriksaan uji materil ini, yaitu menyangkut dengan Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Mungkin, untuk lebih jelasnya kami mohon kami bisa membacakan secara bergiliran secara jelas alur pembacaannya.
Terima kasih.
KETUK 1 X
Yth. : Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia.
Perihal : Permohonan Pemeriksaan Pengujian Materiil atau Judicial
Review atas Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang
Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang atau PKPU terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia.
Yang bertandatangan di bawah ini: 1. Lukas Swandy Halim, S.H. 2. Marselina Simatupang, S.H. 3. Tisye Erlina Yunus, S.H. 4. Tommy Siregar, S.H. 5. Vinda Mayang Sari, S.H. 6. Nur Asiyah, S.H.
7. Sony Wicaksono, S.H. 8. Widi Bradawati, S.H. dan 9. Rinti Gultom, S.H.
Semuanya adalah Advokat, bertindak untuk dan atas nama Aryunia Candra Purnama bertempat tinggal di Pengadegan, Jakarta Selatan.
Dengan ini, mengajukan Permohonan pemeriksaan uji materil atas Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yaitu;
• Pasal 2 ayat (5) Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
• Pasal 6 ayat (3) Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
• Pasal 223 Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
• Pasal 224 ayat (6) Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Selanjutnya akan dilanjutkan oleh rekan kami Tisye. 5. KUASA PEMOHON TISYE ERLINA YUNUS, S.H., MM.
Adapun yang menjadi dasar dan alasan diajukannya permohonan ini adalah sebagai berikut;
I. Pemohon adalah perorangan Warga Negara Indonesia yang mempunyai kapasitas hukum dan kepentingan hukum untuk mengajukan permohonan aquo;
1. Bahwa Pemohon adalah perorangan Warga Negara Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Kartu Tanda Penduduk Nomor 09.5308280672.0237 (Bukti P-1);
2. Bahwa sebagai Warga Negara Indonesia, Pemohon mempunyai hak-hak konstitusional yang sama dengan Warga Negara Indonesia lainnya sebagaimana dijamin dalam Pasal 28B ayat (1) dan Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pasal 28B ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 mengatur sebagai berikut “Setiap orang berhak atas pengakuan jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum”. Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengatur sebagai berikut “Segala warga negara bersama kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”. Bahwa salah satu hak konstitusional Pemohon adalah hak untuk mengajukan Permohonan Pernyataan Pailit dan Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) terhadap perusahaan yang mempunyai utang kepada Pemohon. Namun demikian, pada tanggal 10 Januari 2005, hak konstitusional Pemohon tersebut, telah ditolak oleh Pengadilan Niaga kepada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan dasar Pasal 2 ayat (5) dan Pasal 6 ayat (3) Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Bukti P-2;
3. Bahwa dengan demikian, Pemohon menganggap haknya untuk mengajukan Permohonan Pernyataan Pailit terhadap Perusahaan Asuransi menjadi terhalang dan atau menjadi tidak memiliki hak lagi karena berlakunya Pasal 2 ayat (5) dan Pasal 6 ayat (3) Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) yang mengatur, bahwa “Permohonan Pernyataan Pailit terhadap perusahaan asuransi hanya dapat diajukan oleh Menteri Keuangan dan Panitera wajib menolak Permohonan Pernyataan Pailit terhadap perusahaan asuransi yang diajukan oleh institusi lain selain Menteri Keuangan”. Pasal 2 ayat (5) Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) mengatur sebagai berikut “Dalam hal debitor adalah perusahaan asuransi, perusahaan reasuransi, dana pensiun, atau Badan Usaha Milik Negara yang bergerak di bidang kepentingan publik, Permohonan pertanyaan pailit hanya dapat diajukan oleh Menteri Keuangan”. Pasal 6 ayat (3) Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) mengatur sebagai berikut “Panitera wajib menolak pendaftaran Permohonan Pernyataan Pailit bagi konstitusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat ayat (3), ayat (4), dan ayat (5) jika dilakukan tidak sesuai dengan ketentuan dalam ayat-ayat tersebut”;
4. Bahwa selain hilangnya hak konstitusional Pemohon untuk mengajukan Permohonan Pernyataan Pailit terhadap Perusahaan Asuransi, Pemohon juga menganggap hak konstitusionalnya untuk mengajukan Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran
Utang (PKPU) terhadap Perusahaan Asuransi akan menjadi terhalang dan atau menjadi tidak memiliki hak lagi karena berlakunya. Pasal 223 dan Pasal 224 ayat (6) Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) yang mengatur, bahwa “Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) terhadap Perusahaan Asuransi hanya dapat diajukan oleh Menteri Keuangan dan Panitera wajib menolak Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) terhadap perusahaan asuransi yang diajukan oleh institusi lain selain Menteri Keuangan”. Pasal 223 Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) mengatur sebagai berikut: “Dalam hal debitor adalah bank, perusahaan efek, bursa efek, lembaga kliring, dan penjaminan, lembaga penyimpanan dan penyelesaian, perusahaan asuransi, perusahaan reasuransi, dana pensiun, dan Badan Usaha Milik Negara, yang bergerak di bidang kepentingan publik maka yang dapat mengajukan Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang adalah lembaga sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3), (4), dan ayat (5)”. Pasal 226 ayat (6) Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) mengatur sebagai berikut “Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan ayat (5) berlaku mutatis mutandis sebagaimana tata cara pengajuan PermohonanPenundaan Kewajiban Pembayaran Utang sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1)”;
5. Bahwa karena hak konstitusional Pemohon dirugikan dengan berlakunya Pasal 2 ayat (5), Pasal 6 ayat (3), Pasal 223, dan Pasal 224 ayat (6) Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU), maka berdasarkan Pasal 51 ayat (1) huruf A Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi, (bukti P-6), “Pemohon mempunyai kapasitas hukum dan kepentingan hukum untuk mengajukan permohonan aquo”. Pasal 51 ayat (1) huruf A Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi mengatur sebagai berikut: “Pemohon adalah pihak yang menganggap hak dan atau kewenangan konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya undang-undang yaitu perorangan warga negara Indonesia”;
Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas, dengan nyata, Pemohon mempunyai kapasitas hukum dan kepentingan hukum untuk mengajukan Permohonan pemeriksaan uji materiil atau judicial review atas Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
6. KUASA PEMOHON SWANDY HALIM. S.H.
II. Pasal 2 ayat (5) dan Pasal 223 Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
A. Pelanggaran terhadap hak konstitusional Pemohon atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum sebagaimana diatur dalam Pasal 28D ayat (1) dan Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945”;
6. Bahwa dengan ditolaknya pendaftaran Permohonan Pernyataan Pailit yang diajukan oleh Pemohon terhadap PT. Prudential Life Insurance berdasarkan Pasal 2 ayat (5) Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) vide butir 3 secara nyata telah melanggar hak konstitusional Pemohon berdasarkan Pasal 28D ayat (1) dan Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 mengatur sebagai berikut “Setiap orang berhak atas pengakuan jaminan perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum”. Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 mengatur sebagai berikut “Segala warga negara bersamaan
kedudukannya di dalam hukum dan Pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan Pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”;
7. Bahwa sepertinya halnya Pasal 2 ayat (5) tersebut di atas, Pasal 223 Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) juga merupakan pasal yang mencabut, membatasi, dan menghilangkan hak konstitusional Pemohon untuk mengajukan Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) terhadap perusahaan asuransi. Pasal 223 Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) mengatur sebagai berikut “Dalam hal debitor adalah bank, perusahaan efek, bursa efek, lembaga kliring, dan penjaminan, lembaga penyimpanan dan penyelesaian, perusahaan asuransi, perusahaan reasuransi, dana pensiun, dan Badan Usaha Milik Negara, yang bergerak di bidang kepentingan publik, maka yang dapat mengajukan Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang adalah lembaga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3), ayat (4), dan ayat (5)”;
8. Bahwa oleh karena itu dengan diberlakukannya Pasal 2 ayat (5) dan Pasal 223 Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepalitan dan Penundaan kewajiban Pembayaran Hutang atau PKPU yang telah mencabut, membatasi dan menghilangkan hak Pemohon untuk mengajukan permohonan pernyataan pailit dan
penundaan kewajiban pembayaran hutang atau PKPU terhadap perusahaan asuransi jelas-jelas merupakan pelanggaran hak konstitusional Pemohon terhadap pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum sebagaimana diatur dalam Pasal 28D ayat (1) dan Pasal 27 ayat (1) Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.
Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas, nyata bahwa ketentuan Pasal 2 ayat (5) dan Pasal 223 Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan kewajiban Pembayaran hutang atau PKPU telah melanggar atau bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) dan Pasal 27 ayat (1) Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, dan oleh karenanya sangat berdasarkan hukum, apabila Pasal 2 ayat (5)dan Pasal 223 Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Hutang atau PKPU tersebut oleh Mahkamah Konstitusi dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.
Selanjutnya akan dibacakan oleh Rekan saya Sony. 7. KUASA PEMOHON SONY R. WICAKSANA, S.H., LLM.
B. pencabutan, Pembatasan dan Penghilangan hak Pemohon untuk mengajukan permohonan pernyataan pailit dan penundaan kewajiban pembayaran hutang atau PKPU terhadap perusahaan Asuransi melanggar ketentuan Pasal 24 ayat (1), (2), (3) dan Pasal 24C ayat (1) Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
10. Bahwa dengan diberlakukannya Pasal 2 ayat (5) dan Pasal 223 Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Hutang atau PKPU, berarti telah terjadi pencabutan, pembatasan dan penghilangan hak konstitusional Pemohon untuk mengajukan permohonan pernyataan pailit dan Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Hutang atau PKPU terhadap perusahan asuransi. Karena Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Hutang atau PKPU hanya memberikan kewenangan secara limitatif kepada Menteri keuangan untuk mengajukan permohonan pernyataan pailit dan Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Hutang atau PKPU terhadap perusahaan asuransi;
11. Bahwa dengan diberikannya kewenangan untuk mengajukan permohonan pernyataan pailit dan penundaan kewajiban pembayaran hutang atau PKPU hanya pada Menteri Keuangan berarti telah membatasi dan menghalangi hak Pemohon untuk mendapatkan akses keadilan langsung kepada lembaga yudikatif atau acces to justice;
12. Bahwa disamping itu dengan diberikannya kewenangannya secara limitatif hanya kepada Menteri Keuangan untuk mengajukan permohonan pernyataan pailit penundaan kewajiban pembayaran
hutang atau PKPU, maka Menteri Keuangan seolah-olah telah menjadi bagian lembaga yudikatif yang telah melakukan tugas pengambil suatu keputusan hukum atau kuasa judicial, yaitu Menteri Keuangan yang menentukan apakah suatu perusahaan asuransi itu layak atau tidak untuk diajukan pailit ataupun penundaan kewajiban pembayaran hutang atau PKPU. Hal ini jelas-jelas bertentangan dengan prinsip kekuasaan kehakiman yang merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menegakkan hukum dan keadilan yang dilakukan oleh Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya serta sebuah Mahkamah Konstitusi sebagaimana diamanatkan Pasal 24 ayat (1), (2), (3) dan Pasal 24C ayat (1) Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pasal 24 ayat (1), (2) dan (3) Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia mengatur sebagai berikut “ayat (1) Kekuasan kehakiman merupakan kekuasan yang merdeka
untuk menyelenggarakan Peradilan guna menegakkan Hukum dan Keadilan; ayat (2) Kekuasaan Kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan Badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan Peradilan Umum, lingkungan Peradilan Agama, linngkungan Peradilan Militer, lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi; ayat (3) Badan-badan lainnya yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman diatur dalam undang-undang Pasal 24C ayat (1)
Undang Undang Dasar Negara RI mengatur sebagai berikut
Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang Undang Dasar, memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangan diberikan oleh Undang Undang Dasar. Memutus pembubaran partai politik dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan Umum;
13. Bahwa dengan diberikannya kewenangan eksklusif hanya kepada Menteri Keuangan untuk mengajukan permohonan pernyataan pailit dan Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Hutang atau PKPU terhadap perusahaan asuransi. Hal ini juga tidak memberi dampak yang positif bagi masyarakat, bahkan sangat merugikan masyarakat. Karena fakta yang terjadi selama ini meskipun banyak perusahaan asuransi yang bermasalah dan telah pula dinyatakan dalam status pembatasan kegiatan usaha atau PKU oleh Menteri keuangan namun tidak satupun yang dimohonkan pailit oleh Menteri Keuangan. Hal ini terbukti dari kasus PT. Asuransi Jiwa Buana Putera yang telah dinyatakan dalam status pembatasan kegiatan usaha atau PKU oleh Menteri keuangan, dan banyak klaim atau tagihan konsumen asuransi tersebut yang belum dibayarkan akan tetapi sampai saat ini tidak juga dimohonkan pailit oleh Menteri Keuangan. (Bukti P-5). Meskipun Menteri Keuangan telah mempunyai kewenangan non eksklusif untuk itu berdasarkan Pasal 20 ayat (1) Undang-undang Nomor 2 Tahun 1992 tentang usaha Perasuransian. (Bukti P-7). Pasal 20 ayat (1) Undang-undang Nomor 2 Tahun 1992 Tentang Usaha Perasuransian mengatur
sebagai berikut “ayat (1) dengan tidak mengurangi berlakunya
ketentuan dalam peraturan kepailitan dalam hal terdapat pencabutan izin usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18, maka Menteri berdasarkan kepentingan umum dapat meminta kepada pengadilan agar perusahaan yang bersangkutan dinyatakan pailit”;
14. Bahwa dengan demikian nyata bahwa kewenangan yang telah diberikan kepada Menteri keuangan berdasarkan Pasal 20 ayat (1) Undang-undang Nomor 2 Tahun 1992 tentang usaha perasuransian telah jelas-jelas dilalaikan oleh Menteri Keuangan, dan hal tersebut sangat merugikan masyarakat. Apalagi jika hak konstitusional warga negara dirampas dan diberikan kepada Menteri keuangan sebagai satu-satunya otoritas yang dapat mengajukan permohonan pernyatan pailit dan Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Hutang atau PKPU terhadap perusahaan asuransi, vide bukti Pasal 2 ayat (5) dan Pasal 223 Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Hutang atau PKPU. Hal ini jelas-jelas makin menjauhkan masyarakat dari akses kepada keadilan sebagaimana diatur dalam Pasal 24 ayat (1), (2), (3) dan Pasal 24C ayat (1) Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945;
Berdasarkan uraian-uraian disebut di atas nyata bahwa ketentuan Pasal 2 ayat (5) dan Pasal 223 Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pambayaran Hutang atau PKPU telah pula melanggar atau bertentangan dengan Pasal 24 ayat (1), (2), (3) dan Pasal 24C ayat (1) Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, karena telah menghalang-halangi akses Pemohon untuk mendapatkan keadilan dan sebaliknya membuka ruang bagi intervensi lembaga eksekutif ke dalam ruanga lingkup yudikatif. Oleh karenanya sangat berdasarkan hukum apabila Pasal 2 ayat (5) dan Pasal 223 Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 tersebut oleh Mahkamah Konstitusi tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.
Selanjutnya akan dibacakan oleh Rekan Tomi Siregar. 8. KUASA PEMOHON TOMMI S. SIREGAR, S.H., LLM.
Terima kasih.
III. Pasal 6 ayat 3 dan Pasal 224 ayat 6 Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Hutang Atau PKPU bertentangan dengan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
15. Bahwa pada prinsipnya tiap-tiap orang yang merasa hak-hak dilanggar atau dirugikan termasuk Pemohon, mempunyai hak untuk mengajukan permasalahan hukum ke muka pengadilan, termasuk namun tidak terbatas untuk mendaftarkan permohonan pernyataan pailit dan Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Hutang atau PKPU pada Kepaniteraan, Pengadilan Niaga di Pengadilan Negeri yang berwenang, untuk diperiksa dan diadili secara adil dan
memeriksa dan mengadili suatu perkara yang diajukan kepadanya. Sebagaimana diatur dalam Pasal 16 ayat (1) Undang-undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman, mengatur sebagai berikut “ ayat (1) Pengadilan tidak boleh menolak untuk
memeriksa dan mengadili dan memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas melainkan wajib memeriksa dan mengadilinya”;
16. Bahwa terhadap setiap permasalahan atau tuntutan hukum, termasuk permohonan pernyataan pailit dan Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Hutang atau PKPU yang diajukan di depan pengadilan maka Hakim adalah satu-satunya otoritas yang dapat memberikan putusan, yaitu dengan menyatakan bahwa tuntutan tersebut dinyatakan tidak dapat diterima karena tidak memenuhi syarat-syarat formil atau dinyatakan ditolak, karena secara materil tidak mendasar ataupun dikabulkan karena tuntutan tersebut mempunyai dasar dan alasan hukum yang kuat. Putusan tersebut akan diberikan oleh Hakim, karena jelas-jelas telah memasuki ruang lingkup yudisial bukan administratif, dan sama sekali bukan wewenang Panitera. Dengan demikian jelas bahwa penolakan atas pendaftaran permohonan pernyataan pailit oleh Panitera Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat seperti yang dialami oleh Pemohon vide butir 3 menunjukkan pengambilalihan tugas yudisial oleh Panitera yang hanya merupakan petugas administratif. Demikian pula penolakan atas pendaftaran Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Hutang atau PKPU pada perusahaan asuransi oleh Panitera yang diajukan oleh institusi lain selain Menteri Keuangan, jelas-jelas merupakan pengambilalihan tugas yudisial oleh Panitera yang hanya merupakan petugas administratif;
17. Bahwa Pasal 6 ayat (2) dan Pasal 224 ayat (6) Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Hutang atau PKPU menyatakan bahwa, Panitera wajib menolak permohonan Pernyatan pailit Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Hutang atau PKPU terhadap perusahaan asuransi yang diajukan kepada Pengadilan Niaga apabila yang mengajukan permohonan pailit atau penundaan kewajiban pembayaran hutang PKPU bukan Menteri Keuangan. Pasal 6 ayat (3) Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Hutang mengatur sebagai berikut “Panitera wajib menolak pendaftaran
permohonan pernyatan pailit bagi Institusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3), ayat (4) dan ayat (5) jika dilakukan tidak sesuai dengan ketentuan dalam ayat-ayat tersebut; Pasal 224 ayat (6) Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Hutang mengatur sebagai berikut: Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4) dan ayat (5) berlaku mutatis sebagai tata cara pengajuan Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Hutang sebagaimana dimaksud dalam ayat(1)”;
18. Bahwa dengan demikian jelas diberlakukannya Pasal 6 ayat (3) dan Pasal 224 ayat (6) Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Hutang atau PKPU tersebut berarti telah mencabut, membatasi dan menghilangkan hak konstitusional Pemohon untuk mendaftarkan permohonan pernyataan pailit dan Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Hutang atau PKPU tehadap perusahaan asuransi, karenanya Pemohon sebagai warga negara Indonesia merasa haknya tersebut tidak mendapatkan pengakuan, jaminan, perlindungan, kepastian hukum yang adil dan perlakuan hukum yang sama dihadapan hukum sebagaimana dijamin oleh Pasal 28D ayat (1) dan Pasal 27 ayat (1) Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945;
19. Bahwa demikian pula dengan diberlakukannya Pasal 6 ayat (3) dan Pasal 224 ayat (6) Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Hutang, maka kewenangan Hakim dalam ruang lingkup yudisial telah diintervensi oleh Panitera yang hanya merupakan petugas administratif, sehingga nyata-nyata telah bertentangan dengan asas indepedensi dan otonomi peradilan dalam hal ini Hakim sebagai pejabat negara di bidang yudisial sebagaimana diatur dalam Pasal 24 ayat (1),(2), (3) Pasal 24C ayat (1) Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945;
Selanjutnya akan dibacakan oleh Rekan kami Lucas. 9. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H.
Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas, nyata bahwa Pasal 6 ayat (3) dan Pasal 224 ayat (6) Undang-undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang telah melanggar atau bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1), Pasal 27 ayat (1), Pasal 24 ayat (1), (2), (3) dan Pasal 24C ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan karenanya sangat berdasarkan hukum apabila Pasal 6 ayat (3) dan Pasal 224 ayat (6) Undang-undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang tersebut oleh Mahkamah Konstitusi dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat.
Demikian permohonan pemeriksaan pengujian materiil atau judicial
review atas Undang-undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 disampaikan. Selanjutnya dengan ini Pemohon memohon kepada yang terhormat Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia untuk memeriksa permohonan aquo dan berkenan untuk memberikan putusan sebagai berikut :
1. Menerima dan mengabulkan permohonan Pemohon untuk seluruhnya. 2. Menyatakan Pasal 2 ayat (5) dan Pasal 223 Undang-undang No. 37 Tahun
bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
3. Menyatakan Pasal 6 ayat (3) dan Pasal 224 ayat (6) Undang-undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
4. Menyatakan Pasal 2 ayat (5) dan Pasal 223 Undang-undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat;
5. Menyatakan Pasal 6 ayat (3) dan Pasal 224 ayat (6) Undang-undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat;
6. Memerintahkan pencoretan Pasal 2 ayat (5), Pasal 6 ayat (3), Pasal 223 dan Pasal 224 ayat (6) dari Undang-undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang dan memerintahkan pengumumannya dimuat dalam Lembaran Berita Negara Republik Indonesia atau apabila Majelis Hakim Konstitusi pada Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia berpendapat lain, Pemohon mohon putusan yang seadil-adilnya, ex aequo et bono.
Hormat kami, Kuasa Hukum Pemohon. Terima kasih.
10. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H.
Saudara Kuasa Pemohon, Panelis ingin menanyakan, apakah redaksi atau substansi permohonan Perkara 002/PUU-III/2005 atas nama Suharyanti secara mutatis mutandis itu sama saja redaksinya dengan redaksi positanya dan bagian petitumnya dengan perkara 001/PUU-III/2005 atas nama Aryunia Chandra?
11. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H. Terima kasih.
Petitum yang kami mintakan sama persis, tetapi alasannya ada sedikit berbeda. Untuk Perkara 001, klien kami untuk mendaftarkan saja di pengadilan langsung ditolak, sedangkan untuk 002, untuk Suharyanti, perkaranya diterima oleh pengadilan namun ditolak dalam putusan di pengadilan yang berdasarkan pasal-pasal substansi yang sama.
12. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H.
Jadi pada hakekatnya sama saja, dengan catatan perbedaan-perbedaan. 13. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H.
14. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H.
Bagaimana kalau Panelis berpendapat bahwa Perkara 002/PUU-III/2005 resmi dianggap sudah dibacakan.
15. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H.
Tidak ada masalah, kami bisa menerimanya. 16. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H.
Ya, baik. Hanya saja, setelah Panelis mengikuti pembacaan dari Perkara 001 itu, walaupun secara benar Saudara tidak lagi menggunakan kata ”batal” tetapi menggunakan frase tidak mengikat secara hukum, tetapi apa yang tertulis masih ada kata ”batal” di sini, halaman 6, halaman 8, halaman 10, halaman 12. Kenapa ada inkonsistensi demikian antara apa yang Kuasa Pemohon bacakan dengan apa yang disampaikan.
17. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H. Terima kasih.
Kami mohon maaf, sebenarnya kami tadi harus mendahului menjelaskan bahwa kami sudah menyadari hal itu karena pada persidangan yang pertama dalam kasus pembelaan Yayasan Lembaga Konsumen Asuransi, kami mengikuti saran-saran dari Majelis yang terhormat. Namun, permohonan kami itu sudah terdaftar. Oleh karena itu kami berinisiatif langsung merubahnya dalam pembacaan hari ini. Kami mohon agar apa yang kami bacakan itu yang bisa dipegang karena unsur-unsur kata-kata ”batal” yang tidak diperkenankan kami ubah menjadi ”tidak mengikat secara hukum”. Kata-kata ”uji materiil” diubah menjadi ”pengujian materiil” dan beberapa sedikit yang lain dan kami sudah merubahnya. Nanti kalau bisa kami diperkenankan mengajukan, apakah pada saat ini atau dalam jangka waktu 14 hari.
18. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H.
Ya, dalam jangka waktu 14 hari Saudara diharapkan sudah mengajukan perbaikan.
19. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H. Terima kasih.
Sebenarnya kami sudah selesai.
20. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H. Ya, diajukan saja. Petugas. 12 rangkap ya.
21. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H.
Ya, 12. Kami baru buatkan 3 dan akan kami tambahkan. 22. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H.
Jadi tolong dilengkapi. 23. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H.
Ya.
24. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H.
Sudah, ini ada yang 001 dan ada yang 002. Ini berapa banyak? 3 saja dulu.
Baiklah, sebelum diberikan kesempatan kepada Panelis untuk mengungkapkan catatan-catatan, nasehat-nasehat, apakah pada saat sekarang ini Saudara Kuasa Pemohon telah siap dengan bukti-bukti surat guna kami sahkan untuk dua perkara ini?
25. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H.
Kami telah siap dan kami sudah letakkan. Sudah didaftarkan. 26. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H.
Apakah ada tambahan bukti lain? Agar kami dapat sahkan secara bersamaan pada pagi hari ini.
27. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H.
Ada tambahan, bukti-bukti lain ada.
Kalau diperkenankan kami bacakan, Majelis yang kami hormati. 28. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H.
Daftarnya dibuat saja. Yang ada saja sekarang akan kami sahkan. 29. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H.
Sudah ada kami berikan tadi bersamaan. 30. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H.
31. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H. Sudah ada.
32. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H. Ada? Petugas. Bukti 1 sampai 3 mana? 33. HAKIM I DEWA GEDE PALGUNA, S.H, M.H.
Ini tidak ada daftarnya, tapi sudah ada buktinya. 34. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H.
Daftarnya belum dibuat? Tidak apa-apa kita sahkan. 35. HAKIM I DEWA GEDE PALGUNA, S.H, M.H.
Maksudnya daftarnya tidak ada tapi buktinya ada. 36. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H.
Daftar buktinya ada?
Baiklah Saudara Kuasa Pemohon, pertama-tama kami ingin mensahkan bukti-bukti surat Perkara 001. Saya bacakan. Di hadapan Saudara sudah ada daftar bukti-bukti surat 001? Akan kami bacakan. Sudah ada?
Baik, Bukti P-1 dalam Perkara 001, asli Kartu Tanda Penduduk No.
09. 53808.280672.0237 atas nama Aryunia Chandra Purnama telah
di-nazegellen. Apakah benar itu?
37. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H. Benar.
38. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H.
Bukti P-2, asli permohonan pailit yang diajukan oleh Pemohon
terhadap PT. Prudencial Life Asurrance tanggal 10 Januari 2005, telah
di-nazegellen. Apakah benar?
39. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H. Benar.
KETUK 1X KETUK 1X
40. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H.
Bukti P-3, asli kumpulan laporan berita mengenai
perusahaan-perusahaan asuransi yang berstatus Pembatasan Kegiatan Usaha (PKU) yang tidak juga dimohonkan pailit oleh Menteri Kehakiman, telah
di-nazegellen. Apakah itu benar?
41. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H. Benar.
42. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H.
Sekarang Bukti P-4. Sudah ada bukti surat P-4? Apakah sudah ada? Diserahkan sekarang.
43. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H.
Untuk daftar bukti tambahan baru kami berikan saat ini, Majelis. 44. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H.
Buktinya belum?
45. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H. Buktinya sudah ada kami miliki.
46. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H. Belum diserahkan kepada Panelis? 47. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H.
Belum kami serahkan, baru mau kami serahkan kalau diminta. 48. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H.
Saudara Kuasa Pemohon, Bukti P-4 dalam Perkara Nomor 001, coba didengar.
Bukti P-4, asli. Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang
Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) telah
di-nazegellen. Apa itu benar?
49. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H. Benar.
50. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H.
Bukti P-5.
51. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H. Ya, Bapak Ketua.
52. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H.
Bukti P-5, asli. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 telah di-nazegellen. Apakah itu benar?
53. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H. Benar.
54. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H.
Bukti P-6, asli. Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang
Mahkamah Konstitusi telah di-nazegellen. Apakah itu benar?
55. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H. Benar.
56. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H.
Jadi, untuk Perkara 001? 57. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H.
Masih ada, Bapak Ketua.
58. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H. Maaf, maaf.
Bukti P-7, asli. Undang-undang Nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha
Perasuransian telah di-nazegellen. Apakah itu benar?
KETUK 1X KETUK 1X
59. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H. Benar.
60. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H.
Bukti P-8, asli. Undang-undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang
Kekuasaan Kehakiman telah di-nazegellen. Apakah itu benar?
KUASA PEMOHON LUCAS, S.H. Benar.
61. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H.
Saudara Kuasa Pemohon, dengan demikian, pada Sidang Panel pada pagi hari ini, untuk Perkara 001, Saudara telah mengajukan Bukti P-1 sampai dengan P-8?
62. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H. Benar.
63. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H.
Kami ingin menanyakan sebagaimana diwajibkan oleh undang-undang, kami ingin menanyakan, bagaimana caranya Saudara mendapatkan bukti-bukti surat itu, apakah secara absah?
64. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H.
Ya kami peroleh secara sah untuk Bukti P-1, kami dapatkan dari Aryunia Chandra Sundari, yaitu Pemberi Kuasa.
65. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H. Dalam kaitan hubungan Kuasa dan Klien? 66. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H.
Ya antara hubungan Kuasa dan Klien.
Untuk Bukti P-2 juga kami dapatkan dari Klien, yaitu dari Aryunia Chandra, juga diberikan kepada kami, hubungan antara Klien dan Kuasa.
Untuk Bukti P-3, kami dapatkan dari Yayasan Lembaga Konsumen
Asuransi, itu atas upaya kami. Kami meminta kepada Yayasan Lembaga
KETUK 1X KETUK 1X
Konsumen Asuransi Indonesia, bahwa tolong diberikan data-data menyangkut
perusahaan asuransi yang sudah dikenakan pembatasan kegiatan usaha. 67. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H.
Ya.
68. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H.
Selanjutnya untuk Bukti P-4. Bukti P-4 sampai dengan Bukti P-8 itu berupa undang-undang yang kami beli dari toko buku.
69. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H. Baik.
70. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H. Terima kasih.
71. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H.
Sekarang, bukti-bukti dalam Perkara Nomor 002.
Daftar bukti-buktinya, Bukti P-1 sampai P-3 Perkara Nomor 002? Mana, mana daftar?
72. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H. Kami sudah daftarkan.
73. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H.
Saudara petugas apakah sudah ada? Sudah ada, ya tipe dan isinya? Belum diperbanyak, ya?
Baik, Saudara Kuasa Pemohon, kami bacakan.
Bukti P-1, asli. Kartu Tanda Penduduk Nomor 0123/00550/012013
atas nama Suharyanti telah di-nazegellen. Apakah itu benar?
74. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H. Benar.
75. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H.
Bukti P-2, asli. Putusan Nomor 05/Pailit/2004/PN-Niaga SNI tanggal
9 November 2004 telah di-nazegellen. Apakah itu benar?
76. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H. Benar.
77. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H.
Bukti P-3, asli. Kumpulan Laporan Berita mengenai
Perusahaan-perusahaan Asuransi yang Berstatus Pembatasan Kegiatan Usaha (PKU) yang Tidak Juga Dimohonkan Pailit oleh Menteri Keuangan telah
di-nazegellen. Apakah itu benar?
78. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H. Benar.
79. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H.
Kemudian Bukti P-4, asli. Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004
tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU)
telah di-nazegellen. Apakah itu benar? 80. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H.
Benar.
81. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H.
Bukti P-5, asli. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 telah di-nazegellen. Apakah itu benar?
82. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H. Benar.
KETUK 1X KETUK 1X
KETUK 1X KETUK 1X
83. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H.
Bukti P-6, asli. Undang-undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang
Mahkamah Konstitusi telah di-nazegellen. Apakah itu benar?
84. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H. Benar.
85. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H.
Bukti P-7, asli. Undang-undang Nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha
Perasuransian telah di-nazegellen. Apakah itu benar?
86. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H. Benar.
87. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H.
Saudara Kuasa Pemohon, dengan demikian untuk Perkara Nomor 002, Saudara telah memasukkan bukti-bukti dan disahkan, Bukti P-1 sampai dengan Bukti P-7, benar itu?
88. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H. Benar.
89. KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H.
Saudara Kuasa Pemohon, seperti lazimnya pula, kami ingin menanyakan bagaimana caranya Saudara mendapatkan bukti-bukti surat yang Saudara ajukan kepada Panelis pagi hari ini?
KETUK 1X KETUK 1X KETUK 1X KETUK 1X
90. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H.
Semua bukti-bukti kami peroleh secara sah. Khusus bukti untuk P-1, Bukti P-2 kami dapatkan dari Klien kami sendiri, yaitu dari Suharyati, dalam hubungan antara Klien dan Kuasa Hukum.
Untuk Bukti P-3, kami dapatkan dari Yayasan Lembaga Konsumen
Asuransi atas permintaan dan inisiatif dari kami meminta kepada yayasan.
Selanjutnya untuk Bukti P-4 sampai dengan Bukti P-7, yaitu berupa
undang-undang, kami peroleh dengan jalan membeli dari toko buku.
Terima kasih.
91. HAKIM I DEWA GEDE PALGUNA, S.H., MH. Terima kasih.
Yang Berhormat Bapak Ketua, Ketua Panel.
Saudara Pemohon, tadi, di Permohonan Perkara Nomor 001 sudah ada perbaikan langsung ya?
92. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H. Ya, benar.
93. HAKIM I DEWA GEDE PALGUNA, S.H., MH.
Apakah juga demikian dengan Permohonan Perkara Nomor 002? 94. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H.
Sama, benar.
95. HAKIM I DEWA GEDE PALGUNA, SH., MH.
Andaikata memang demikian, kami mohon nanti supaya diserahkan melalui Panitera supaya langsung di, apa sudah dibuat 12 rangkap yang Nomor 002 juga?
96. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H.
Kami tadi sudah membuat masing-masing 3 rangkap, nanti kami lengkapi perbanyak menjadi 12 rangkap akan kami serahkan pada Panitera. 97. HAKIM I DEWA GEDE PALGUNA, S.H., MH.
Ya nanti kalau bisa pada hari ini, setidak-tidaknya untuk hari ini mungkin untuk panel dulu supaya ada 3. Mengapa harus 12? Karena nanti, kami harus membicarakan ini di dalam, harus melaporkan ini kepada Pleno.
98. KUASA PEMOHON LUCAS, S.H. Ya, kami akan laksanakan.
99. HAKIM I DEWA GEDE PALGUNA, S.H., MH. Sehingga sudah sama bacaan yang di bawah.
Lalu tentang hal-hal lain, sekiranya Saudara nanti, karena kami rasanya sudah tidak ada lagi yang perlu kami berikan nasehat sesuai dengan Pasal 39 Undang-undang Nomor 24 walaupun kami diwajibkan untuk itu, karena Saudara sudah berinisiatif untuk memperbaiki sendiri, tetapi ada satu hal yang barangkali penting untuk kami sampaikan adalah bahwa sekiranya Saudara nanti hendak mengajukan tambahan bukti, atau mungkin akan mengajukan Ahli atau Saksi. Kami minta kepada Saudara untuk jauh-jauh hari menyampaikannya terlebih dahulu secara tertulis kepada kami. Atau nanti mungkin akan dilaporkan kepada sekaligus kepada Pleno Mahkamah Konstitusi untuk dinilai. Misalnya kalau dipandang perlu untuk menyampaikan, untuk mendengarkan keterangan Saksi itu, atau keahlian dari seseorang? Akan tetapi kalau Saudara memang berkeinginan untuk mengajukan Ahli itu, silakan dipersiapkan jauh-jauh hari nanti. Kami akan laporkan hasil ini terlebih dahulu kepada Pleno, sehingga nanti pada Pleno sekaligus sudah bisa kami bicarakan mengenai soal itu.
Demikian Bapak Ketua, mungkin hanya dari saya soal teknis, karena untuk soal substansi permohonan, pada permohonan yang sama-sama diwakili oleh Saudara Kuasa ini juga, yang diajukan oleh Yayasan Lembaga Konsumen
Asuransi kalau tidak salah, adalah sama materinya dan nasehatnya juga sudah
disampaikan. Jadi sudah diperbaiki.
Saya kira dari saya hanya soal teknis seperti itu Bapak Ketua. Terima kasih.
100.KETUA Prof. Dr. H. M. LAICA MARZUKI, S.H.
Dari Bapak Hakim Konstitusi Achmad Roestansi tidak ada nasehat. Baiklah Saudara Kuasa Pemohon, dalam kedua perkara ini, Nomor 001 dan Nomor 002, dengan ini Sidang Panelis dalam perkara dimaksud dinyatakan sudah selesai dan akan dibuka kembali pada saat yang disampaikan.
KETUK 3X