• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR

PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR

NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG

PERUBAHAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN ANGGARAN 2010

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR,

Menimbang : a. bahwa sehubungan dengan perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi Kebijakan Umum Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, keadaan yang menyebabkan pergeseran anggaran antar unit organisasi, antar kegiatan dan antar jenis belanja, keadaan yang menyebabkan sisa lebih tahun anggaran sebelumnya harus digunakan untuk pembiayaan dalam tahun anggaran berjalan, maka perlu dilakukan Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2010;

b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a, perlu menetapkan Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2010 dengan Peraturan Daerah;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1950 tentang Pembentukan Propinsi Djawa Timur (Himpunan Peraturan Peraturan Negara Tahun 1950) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1950 tentang Perubahan dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1950 (Himpunan Peraturan Peraturan Negara Tahun 1950);

2. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3312) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan (Lembaran Negara Tahun 1994 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3569);

3. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3685) sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 246, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4048);

(2)

4. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 44, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3688);

5. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851);

6. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);

7. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);

8. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389);

9. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400);

10.Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);

11.Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan UndangUndang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);

12.Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 128, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438; 13.Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak

(3)

14.Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 119, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4139);

15.Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 90, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4416) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4712); 16.Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang

Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4502);

17.Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4503);

18.Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 136, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4574);

19.Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 137, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4575);

20.Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah (Lembaran ,Negara Tahun 2005 Nomor 138, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4576) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2010 Nomor 110, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5155);

21.Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2005 tentang Hibah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 139, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4577); 22.Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang

Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);

(4)

23.Peraturan Pemerintah Nomor 95 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 150, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4585); 24.Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman

Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4593);

25.Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4614);

26.Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 44817);

27.Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tugas dan Wewenang serta Kedudukan Keuangan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah di Wilayah Provinsi Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5107); 28.Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 tahun 2006 tentang

Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;

29.Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2010;

30.Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 2 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah Provinsi Jawa Timur (Lembaran Daerah Tahun 2007 Nomor 1 Seri E);

31.Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 10 T ahun 2009 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi Jawa Timur Tahun Anggaran 2010 (Lembaran Daerah Tahun 2009 Nomor 3 Seri A);

(5)

Dengan persetujuan bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR dan

GUBERNUR JAWA TIMUR MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG PERUBAHAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN ANGGARAN 2010.

Pasal 1

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2010 semula berjumlah Rp. 7.826.709.587.519,00 bertambah sejumlah Rp. 2.681.393.578.067,00 sehingga menjadi Rp. 10.508.103.165.586,00 dengan rincian sebagai berikut:

1. Pendapatan Daerah

a. Semula Rp. 7.397.413.565.397,00 b. Bertambah Rp. 1.439.890.082.693,00

Jumlah Pendapatan setelah

Perubahan Rp. 8.837.303.648.090,00 2. Belanja Daerah

a. Semula Rp. 7.826.709.587.519,00 b. Bertambah Rp. 2.681.393.578.067,00

Jumlah Belanja setelah

Perubahan Rp. 10.508.103.165.586,00 (Defisit) Anggaran setelah

Perubahan Rp. (1.670.799.517.496,00) 3. Pembiayaan Daerah

a. Penerimaan

1) Semula Rp. 528.249.956.645,00 2) Bertambah Rp. 1.433.503.495.374,00 Jumlah Penerimaan setelah

Perubahan Rp. 1.961.753.452.019,00 b. Pengeluaran

1) Semula Rp. 98.953.934.523,00 2) Bertambah Rp. 192.000.000.000,00 Jumlah Pengeluaran setelah

Perubahan Rp. 290.953.934.523,00 Jumlah Pembiayaan netto

setelah Perubahan Rp. 1.670.799.517.496,00 Sisa lebih pembiayaan anggaran

(6)

-Pasal 2

(1) Pendapatan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 terdiri dari:

a. Pendapatan Asli Daerah

1) Semula Rp. 5.143.999.228.183,00 2) Bertambah Rp. 1.232.892.024.154,00

Jumlah Pendapatan Asli Daerah

setelah Perubahan Rp. 6.376.891.252.337,00 b. Dana Perimbangan

1) Semula Rp. 2.214.004.796.214,00 2) Bertambah Rp. 198.232.908.539,00

Jumlah Dana Perimbangan

setelah Perubahan Rp. 2.412.237.704.753,00 c. Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah

1) Semula Rp. 39.409.541.000,00 2) Bertambah Rp. 8.765.150.000,00

Jumlah Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah

setelah Perubahan Rp. 48.174.691.000,00

(2) Pendapatan Asli Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri dari jenis pendapatan:

a. Pajak Daerah

1) Semula Rp. 4.282.150.000.000,00 2) Bertambah Rp. 1.040.000.000.000,00 Jumlah Pajak Daerah setelah

Perubahan Rp. 5.322.150.000.000,00 b. Retribusi Daerah

1) Semula Rp. 50.428.197.600,00 2) Bertambah Rp. 3.707.829.500,00 Jumlah Retribusi Daerah

setelah Perubahan Rp. 54.136.027.100,00 c. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan

1) Semula Rp. 239.267.670.239,00 2) Bertambah Rp. 4.285.601.118,00

Jumlah Hasil PengeIoIaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan setelah Perubahan Rp. 243.553.271.357,00 d. Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah

1) Semula Rp. 572.153.360.344,00 2) Bertambah Rp. 184.898.593.536,00 Jumlah Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah

(7)

(3) Dana Perimbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri dari jenis pendapatan:

a. Dana Bagi Hasil Pajak /Bukan Pajak

1) Semula Rp. 944.087.831.214,00 2) Bertambah Rp. 198.232.908.539,00 Jumlah Dana Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak

setelah Perubahan Rp. 1.142.320.739.753,00 b. Dana Alokasi Umum

1) Semula Rp. 1.212.934.765.000,00 2) Bertambah Rp. - Jumlah Dana Alokasi Umum setelah

Perubahan Rp. 1.212.934.765.000,00 c. Dana Alokasi Khusus

1) Semula Rp. 56.982.200.000,00 2) Bertambah Rp. -

Jumlah Dana Alokasi Khusus setelah

Perubahan Rp. 56.982.200.000,00

(4) Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c terdiri dari jenis pendapatan:

a. Hibah

1) Semula Rp. 12.900.000.000,00 2) Bertambah Rp. 4.700.000.000,00

Jumlah Hibah setelah Perubahan Rp. 17.600.000.000,00 b. Dana Darurat

1) Semula Rp. - 2) Bertambah Rp. -

Jumlah Dana Darurat setelah

Perubahan Rp. -c. Dana Bagi Hasil Pajak

1) Semula Rp.

-2) Bertambah Rp. - Jumlah Dana Bagi Hasil Pajak setelah

Perubahan Rp. -d. Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus

1) Semula Rp. 26.509.541.000,00 2) Bertambah Rp. 4.065.150.000.00

Jumlah Dana Penyesuaian dan Otonomi

(8)

e. Bantuan Keuangan dari Provinsi atau dari Pemerintah Daerah lainnya

1) Semula Rp.

-2) Bertambah Rp. -

Jumlah Bantuan Keuangan dari Provinsi atau dari Pemerintah Daerah lainnya

setelah Perubahan Rp.

-Pasal 3

(1) Belanja Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 terdiri dari: a. Belanja Tidak Langsung

1) Semula Rp. 4.514.699.783.876,00 2) Bertambah Rp. 1.583.722.669.690.00

Jumlah Belanja Tidak Langsung

setelah Perubahan Rp. 6.098.422.453.566,00 b. Belanja Langsung

1) Semula Rp. 3.312.009.803.643,00 2) Bertambah Rp. 1.097.670.908.377.00

Jumlah Belanja Langsung setelah

Perubahan Rp. 4.409.680.712.020,00

(2) Belanja Tidak Langsung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri dari jenis belanja:

a. Belanja Pegawai

1) Semula Rp. 1.483.755.391.969,00 2) Berkurang Rp. (126.255.144.845.00)

Jumlah BeIarja Pegawai seteIah

Perubahan Rp. 1.357.500.247.124,00 b. Belanja Bunga

1) Semula Rp. 768.950.921,00 2) Bertambah Rp. 474.947.800,00

Jumlah Belanja Bunga setelah

Perubahan Rp. 1.243.898.721,00 c. Belanja Subsidi

1) Semula Rp.

-2) Bertambah Rp. - Jumlah Belanja Subsidi setelah

(9)

-d. Belanja Hibah

1) Semula Rp. 350.275.342.000,00 2) Bertambah Rp. 414.702.334.180,00

Jumlah Belanja Hibah setelah

Perubahan Rp. 764.977.676.180,00 e. Belanja Bantuan Sosial

1) Semula Rp. 37.713.580.000,00 2) Bertambah Rp. 24.635.475.320,00

Jumlah Belanja Bantuan Sosial setelah

Perubahan Rp. 62.349.055.320,00 f. Belanja Bagi Hasil

1) Semula Rp. 1.091.915.046.036,00 2) Bertambah Rp. 1.225.464.115.913,00

Jumlah BelanjaBagi Hasil setelah

Perubahan Rp. 2.317.379.161.949,00 g. Belanja Bantuan Keuangan

1) Semula Rp. 1.490.500.500.000,00 2) Bertambah Rp. 64.851.832.500,00

Jumlah Belanja Bantuan Keuangan setelah

Perubahan Rp. 1.555.352.332.500,00 h. Belanja Tidak Terduga

1) Semula Rp. 59.770.972.950,00 2) Berkurang Rp. (20.150.891.178.00)

Jumlah Belanja Tidak Terduga setelah

Perubahan Rp. 39.620.081.772,00

(3) Belanja Langsung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri dari jenis belanja:

a. Belanja Pegawai

1) Semula Rp. 545.548.559.836,00 2) Bertambah Rp. 136.373.701.246,00

Jumlah Belanja Pegawai setelah

Perubahan Rp. 681.922.261.082,00 b. Belanja Barang dan Jasa

1) Semula Rp. 2.016.419.113.983,00 2) Bertambah Rp. 753.634.772.336,00

Jumlah Belanja Barag dan Jasa setelah

(10)

c. Belanja Modal

1) Semula Rp. 750.042.129.824,00 2) Bertambah Rp. 207.662.434.795.00

Jumlah Belanja Modal setelah

Perubahan Rp. 957.704.564.619,00

Pasal 4

(1) Pembiayaan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal1 terdiri dari:

a. Penerimaan

1) Semula Rp. 528.249.956.645,00 2) Bertambah Rp. 1.433.503.495.374,00

Jumlah Penerimaan setelah

Perubahan Rp. 1.961.753.452.019,00 b. Pengeluaran

1) Semula Rp. 98.953.934.523,00 2) Bertambah Rp. 192.000.000.000,00

Jumlah Pengeluaran setelah

Perubahan Rp. 290.953.934.523,00

(2) Penerimaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri dari jenis pembiayaan:

a. Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran sebelumnya (SILPA)

1) Semula Rp. 498.249.956.645,00 2) Bertambah Rp. 1.432.748.915.874,00

Jumlah Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran sebelumnya (SILPA)

setelah Perubahan Rp. 1.930.998.872.519,00 b. Pencairan Dana Cadangan

1) Semula Rp.

-2) Bertambah Rp. - Jumlah Pencairan Dana Cadangan

setelah Perubahan Rp. -c. Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang dipisahkan

1) Semula Rp.

-2) Bertambah Rp. - Jumlah Hasil Penjualan Kekayaan

Daerah yang dipisahkan setelah

(11)

-d. Penerimaan Pinjaman Daerah

1) Semula Rp. 30.000.000.000,00 2) Bertambah Rp. 754.579.500.00

Jumlah Penerimaan Pinjaman Daerah

setelah Perubahan Rp. 30.754.579.500,00 e. Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman

1) Semula Rp.

-2) Bertambah Rp. -

Jumlah Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman setelah Perubahan Rp.

-f. Penerimaan Piutang Daerah

1) Semula Rp.

-2) Bertambah Rp. - Jumlah Penerimaan Piutang Daerah

setelah Perubahan Rp.

-g. Penerimaan Kembali Penyertaan Modal (Investasi) Daerah 1) Semula Rp.

-2) Bertambah Rp. - Jumlah Penerimaan Kembali Penyertaan Modal (Investasi) Daerah

setelah Perubahan Rp. -h. Penerimaan Pembiayaan Daerah lain yang sah

1) Semula Rp.

-2) Bertambah Rp. -

Jumlah Penerimaan Pembiayaan Daerah lain yang sah setelah Perubahan Rp.

-(3) Pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri dari jenis pembiayaan:

a. Pembentukan Dana Cadangan 1) Semula Rp.

-2) Bertambah Rp. - Jumlah Pembentukan Dana Cadangan setelah Perubahan Rp. -b. Penyertaan Modal (Investasi) Pemerintah Daerah

1) Semula Rp. 88.213.300.000,00 2) Bertambah Rp. 196.000.000.000.00

Jumlah Penyertaan Modal (Investasi) Pemerintah Daerah setelah Perubahan Rp. 284.213.300.000,00

(12)

c. Pembayaran Pokok Utang

1) Semula Rp. 10.740.634.523,00 2) Berkurang Rp. (4.000.000.000,00)

Jumlah Pembayaran Pokok Utang

setelah Perubahan Rp. 6.740.634.523,00 d. Pemberian Pinjaman Daerah

1) Semula Rp.

-2) Bertambah Rp. - Jumlah Pemberian Pinjaman Daerah

setelah Perubahan Rp.

-e. Pengeluaran Pembiayaan Daerah lain yang diperlukan 1) Semula Rp.

-2) Bertambah Rp. - Jumlah Pengeluaran Pembiayaan Daerah lain yang diperlukan

setelah Perubahan Rp.

-Pasal 5

Uraian lebih lanjut Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1, tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini, terdiri dari:

1. Lampiran I Ringkasan Perubahan APBD;

2. Lampiran II Ringkasan Perubahan APBD menurut Urusan Pemerintahan Daerah dan Organisasi SKPD;

3. Lampiran III Rincian Perubahan APBD menurut Urusan Pemerintahan Daerah, Organisasi SKPD, Pendapatan, Belanja dan Pembiayaan;

4. Lampiran IV Rekapitulasi Perubahan Belanja menurut Urusan Pemerintahan Daerah, Organisasi SKPD, Program dan Kegiatan;

5. Lampiran V Rekapitulasi Perubahan Belanja Daerah untuk Keselarasan dan Keterpaduan Urusan Pemerintahan Daerah dan Fungsi dalam Kerangka Pengelolaan Keuangan Negara;

6. Lampiran VI Daftar Perubahan Jumlah Pegawai Per Golongan dan Per Jabatan;

7. Lampiran VII Daftar kegiatan-kegiatan tahun anggaran sebelumnya yang belum diselesaikan dan dianggarkan kembali dalam tahun anggaran ini;

(13)

Pasal 6

(1) Dalam keadaan darurat, Pemerintah Provinsi Jawa Timur dapat melakukan pengeluaran yang belum tersedia anggarannya, yang selanjutnya diusulkan dalam Rancangan Perubahan APBD, dan/atau disampaikan dalam laporan realisasi anggaran.

(2) Keadaan darurat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sekurangkurangnya memenuhi kriteria sebagai berikut :

a. bukan merupakan kegiatan normal dari aktivitas pemerintah daerah dan tidak dapat diprediksikan sebelumnya;

b. tidak diharapkan terjadi secara berulang;

c. berada di luar kendali dan pengaruh pemerintah daerah; dan d. memiliki dampak yang signifikan terhadap anggaran dalam

rangka pemulihan yang disebabkan oleh keadaan darurat. (3) Keadaan darurat sebagaimana dimaksud pad a ayat (2) termasuk

pula belanja untuk keperluan mendesak yang kriterianya mencakup:

a. program dan kegiatan pelayanan dasar masyarakat yang anggarannya belum tersedia dalam tahun anggaran berjalan; b. keperluan mendesak lainnya yang apabila ditunda akan

menimbulkan kerugian yang lebih besar bagi pemerintah daerah dan masyarakat; dan

c. program dan kegiatan lain yang anggarannya harus tersedia dalam tahun anggaran berjalan.

(4) Pendanaan keadaan darurat yang belum tersedia anggarannya dapat menggunakan belanja tidak terduga.

(5) Dalam hal belanja tidak terduga tidak mencukupi dapat dilakukan: a. menggunakan dana dari hasil penjadwalan ulang capaian

target kinerja program dan kegiatan lainnya dalam tahun anggaran berjalan; dan/atau

b. memanfaatkan uang kas yang tersedia.

Pasal 7

(1) Pendanaan keadaan darurat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (4) dapat dilakukan dengan menggunakan belanja tidak terduga secara langsung dan atau melakukan penggeseran dari belanja tidak terduga menjadi belanja langsung yang berbentuk program dan kegiatan pada SKPD.

(2) Pelaksanaan pengeluaran belanja tidak terduga secara langsung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terlebih dahulu ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah.

(3) Pelaksanaan pengeluaran belanja tidak terduga dengan cara melakukan penggeseran dari belanja tidak terduga menjadi

(14)

belanja langsung yang berbentuk program dan kegiatan pada SKPD, terlebih dahulu ditetapkan dalam Peraturan Gubernur dengan merubah Peraturan Gubernur tentang Perubahan Penjabaran APBD/Perubahan APBD.

Pasal 8

(1) Pendanaan keadaan darurat sebagaimana dimaksud pad a pasal 7 ayat (3) yang besarannya kurang dari atau sarna dengan 50 % dari total anggaran belanja tidak terduga cukup dilaporkan pada DPRD.

(2) Pendanaan keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang besarannya lebih dari 50 % dari total anggaran belanja tidak terduga harus mendapat persetujuan dari DPRD.

(3) Penggunaan dana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (5) diformulasikan terlebih dahulu dalam RKA-DPPA SKPD dan ditampung dalam Perubahan APBD atau RKPA-DPPA SKPD dan disampaikan dalam laporan realisasi anggaran.

(4) Pelaksanaan penanganan keadaan darurat yang dilakukan sebelum Perubahan APBD, diusulkan dalam Rancangan Perubahan APBD dan dituangkan dalam DPPA SKPD, sedangkan bila dilakukan setelah Perubahan APBD disampaikan dalam Laporan Realisasi Anggaran.

Pasal 9

Gubernur menetapkan Peraturan tentang Penjabaran Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2010 sebagai landasan operasional pelaksanaan perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2010.

Pasal 10

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Provinsi Jawa Timur.

Ditetapkan di Surabaya

Pada tanggal 1 Oktober 2010

GUBERNUR JAWA TIMUR ttd

(15)

Diundangkan di Surabaya Pada tanggal 1 Oktober 2010 SEKRETARIS DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR

ttd

Dr. H. RASIYO, MSi

LEMBARAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2010 NOMOR 2 TAHUN 2010 SERI A

Sesuai dengan aslinya

a.n. SEKRETARIS DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR

Kepala Biro Hukum

SUPRIANTO, SH. MH Pembina Utama Muda NIP. 19590501 198003 1 01

(16)
(17)

Referensi

Dokumen terkait

PENDAPAT MAHASISWA TENTANG LABORATORIUM SEBAGAI SARANA PEMBELAJARAN PRAKTEK MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TATA BOGA.. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu |

Ketiga, penelitian oleh Isdarmanto, Christantinus, Hari Sunarto, Anthony yang memliki judul Strategi Branding Pengembangan Industri Pariwisata 4.0 melalui

1 101 [email protected] Muhammad Naufal Rasyied Laki-laki UIN Antasari Banjarmasin Mesir 2 102 [email protected] Muhammad Nurhadi Arifin Laki-laki UIN

Maka dapat disimpulkan bahwa hubungan antara footwork, kekuatan otot tungkai dan tinggi lompatan terhadap kemampuan smash permainan bulutangkis pb. Sanggariang ini

 Iya percaya pada tuntunan mereka saat mengajar dan saat saya bertanya pelajaran yang.

JJM Linier KurangStatus Kepegawaian menunggu verifikasi Dinas Pendidikan 1243 9552744647300013

 Subjek diobservasi pada periode waktu tertentu yang relatif pendek, dan perilaku yang diperoleh dipandang sebagai sampel dari perilaku yang biasa terjadi (Goodenough). 

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa selama satu siklus estrus rusa Timor menunjukkan fluktuasi frekuensi urinasi, following, kissing other female,