• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IV. HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Perusahaan

PT Saung Mirwan adalah perusahaan agribisnis yang memproduksi berbagai sayuran hidroponik maupun konvensional. Komoditi yang diproduksi diantaranya adalah paprika, tomat recento, timun jepang, berbagai jenis sayuran daun, berbagai jenis lettuce, dan masih banyak komoditi lain yang dapat disediakan. PT Saung Mirwan juga mempunyai unit kerja processing sayuran siap olah. Produk ini diantaranya adalah lettuce, daun bawang, bawang bombay, seledri, dan lain-lain.

PT Saung Mirwan didirikan pada tahun 1983 terletak di Desa Sukamanah, Kampung Pasir Muncang, Kecamatan Megamendung, Bogor dengan ketinggian 670m dpl. Pada awalnya, perusahaan memulai usahanya dengan menanam melon di atas lahan terbuka. Pada tahun 1985 mulai dikembangkan usahanya dengan menanam bawang putih seluas 7 ha di daerah Cipanas, Kabupaten Cianjur dan memperkerjakan karyawan sebanyak 100 orang. Karena banyak petani lain yang juga membudidayakan bawang putih, usaha tersebut kurang memberikan keuntungan sehingga kemudian diputuskan untuk mengembalikan usahanya di sekitar Desa Sukamanah dengan mencoba usaha tanaman di dalam green house, menggunakan sistem tetes irigasi. Hasil percobaan awal yang menunjukkan hasil sangat memuaskan membuat perusahaan memperbesar usaha ini dengan jenis tanaman melon, paprika, tomat, kyuuri dan shisito.

Banyaknya relasi dan kedekatan direktur perusahaan dengan pakar pertanian di negeri Belanda yang unggul dengan produk-produk pertaniannya, memberikan keuntungan tersendiri bagi perusahaan, untuk memberikan konsultasi atas berbagai hal mulai dari masalah teknologi, informasi pasar, koperasi, dan juga kemitraan. Pada tahun 1992, PT Saung Mirwan melakukan diversifikasi dengan mengadakan percobaan untuk memproduksi stek krisan yang sudah berakar, yang kemudian dilanjutkan dengan percobaan produksi bunga pot dan potong. Karena tuntutan pasar akan kebutuhan sayur, maka PT Saung Mirwan secara tidak langsung harus

(2)

meningkatkan produksi sayurnya, baik dari segi kualitas, kuantitas, maupun jenisnya. Namun, karena keterbatasan sumber daya manusia dan lahan, perusahaan mulai mencoba menerapkan sistem kemitraan. Mula-mula dimulai dengan petani-petani kecil di sekitar perusahaan, dan kemudian diperluas sampai daerah Bandung dan sekitarnya.

Pasar lokal yang menjadi sasaran utama perusahaan adalah mencakup Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Tetapi untuk memperluas target pasar lokal, PT Saung Mirwan juga telah mempunyai pelanggan di Bandung, Surabaya, sampai Bali. Sedangkan untuk pasar ekspor, mulai tahun 1998 PT Saung Mirwan memasok kebutuhan sayuran ke Hongkong, Taiwan, Korea, Malaysia, dan Jepang. Komoditi ekspor perusahaan ini misalnya, kol untuk Taiwan, paprika untuk Korea, baby leaves atau yang lebih dikenal dengan rukola untuk Malaysia. Pada tahun 1999, PT Saung Mirwan bekerja sama dengan sebuah perusahaan dari negeri Belanda, Deliflor Chrysanten B.V. melakukan percobaan stek krisan yang sudah berakar dengan membuka lahan produksi tambahan. Selain memperluas pasaran, perusahaan juga mengadakan penelitian yang dimaksudkan untuk perbaikan kualitas.

Visi PT Saung Mirwan adalah menjadi salah satu leader di bidang agribisnis dengan menerapkan teknologi tepat guna untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pertanian. Adapun misi PT Saung Mirwan adalah sebagai berikut:

1. Menghasilkan produk pertanian yang berkualitas tinggi secara berkesinambungan sesuai dengan kebutuhan pasar.

2. Senantiasa meningkatkan kualitas produk, kualitas sumber daya manusia, dan kualitas pelayanan untuk memberikan kepuasan pelanggan. 3. Mengembangkan sistem agribisnis melalui jaringan kemitraan.

4. Bekerjasama dengan berbagai lembaga penelitian untuk menerapkan teknologi tepat guna yang bermanfaat untuk pelaku agribisnis.

4.2. Struktur Organisasi PT Saung Mirwan

PT Saung Mirwan dipimpin oleh seorang Direktur Utama (Dirut) yang merupakan pendiri dan sekaligus bertindak sebagai pemilik perusahaan

(3)

yang bertanggung jawab atas segala aktivitas yang terjadi di dalam perusahaan.

Dirut dibantu oleh Sekretaris Direktur dalam menjalankan tugasnya mengurus segala keperluan direktur. Dirut memiliki beberapa staf ahli, yaitu bagian Information Technology (IT), Quality Assurance (QA), dan Research and Development (R&D). Bagian IT bertugas memberikan informasi serta masukan yang penting bagi Dirut dalam pengambilan keputusan, bagian QA bertugas memberikan masukan untuk dapat menghasilkan produk yang berkualitas dan memenuhi standar, serta bagian R&D bertugas untuk mengembangkan dan melakukan penelitian terhadap inovasi dan penelitian untuk produksi.

Dirut PT Saung Mirwan membawahi tiga orang direktur, yaitu Direktur Bidang Produksi, Direktur Bidang Komersial, dan Direktur Bidang Umum. Bidang Umum terbagi atas Divisi Keuangan dan Accounting, Human Resources, General Affairs, dan Divisi Teknik. Divisi Keuangan bertugas untuk mencatat semua pengeluaran dan pemasukan serta segala hal lain yang berhubungan dengan keuangan. Divisi General Affairs dan Divisi Human Resource bertugas untuk mencatat absen karyawan dan menentukan insentif untuk karyawan. Selain itu divisi ini juga bertugas untuk menilai kinerja karyawan. Divisi Teknik bertugas untuk mengurus masalah teknik, misalnya jika terjadi kerusakan pada mobil pengangkutan, maka melaporkan ke divisi teknik.

Bidang Komersil terdiri dari Divisi Penjualan Sayur, Penjualan Bunga, Pengadaan, dan Pengemasan. Bagian Pengadaan bertugas untuk menyediakan segala macam kebutuhan operasional produksi, baik untuk produksi sayur dan bunga maupun produksi non sayur, misalnya plastik untuk mengemas. Bagian Penjualan bertugas melakukan hubungan kepada para konsumen dan calon konsumen. Bagian Pengemasan bertugas untuk mengemas dan menyimpan sayur.

Bidang Produksi terdiri dari Divisi Kebun Gadog dan Kemitraan. Dulunya bidang ini membawahi beberapa wilayah kebun, diantaranya adalah Kebun Garut, Kebun Lembang, dan Kebun Lemah Neundeut.

(4)

Namun, sekarang hanya ada Kebun Gadog saja. Hal ini dikarenakan faktor yang tidak menguntungkan, yaitu biaya produksi yang tinggi terutama untuk biaya pengangkutan produk dari Garut, Lembang, dan Lemah Neundeut menuju PT Saung Mirwan karena semua produk akan diproses di PT Saung Mirwan. Untuk saat ini, di wilayah Lembang hanya ada gudang penyimpanan saja. Gudang penyimpanan tersebut digunakan untuk menyimpan sayur yang didapatkan dari mitra beli di sana. Bagian Kemitraan bertugas untuk mengawasi produksi sayur, menjalin hubungan yang baik dengan para petani, dan pengawasan di lapangan.

Gambar 12. Struktur organisasi PT Saung Mirwan (PT Saung Mirwan, 2012)

4.3. Kegiatan Usaha PT Saung Mirwan

PT Saung Mirwan adalah perusahaan yang bertugas untuk mengolah sayuran dari petani dan hasil produksi sendiri sebelum sayuran dikirim ke pelanggan. Pemasok PT Saung Mirwan adalah petani yang berada di sekitar areal perkebunan milik perusahaan. Petani yang menjual hasil panennya ke perusahaan atau petani yang terikat kerjasama dengan perusahaan disebut mitra tani dan mitra beli. Selain itu, perusahaan juga melakukan produksi sendiri untuk beberapa komoditi sayuran yang memang butuh perlakuan yang ekstra dan berbeda.

Div. Kemitraan

Div. General

Affairs

Direktur Utama PT Saung Mirwan

Staf Ahli IT, QA, R&D

Bidang Umum

Div. Teknik

Div. Keuangan dan

Accounting

Div. Human

Resources

Bidang Komersial

Div. Penjualan Sayur

Div. Penjualan Bunga

Div. Pengadaan Div. Pengemasan Kebun Gadog

(5)

Permintaan sayuran pada PT Saung Mirwan semakin meningkat seiring berjalannya waktu. Hal tersebut menyebabkan PT Saung Mirwan tidak bisa memproduksi sayuran dalam jumlah yang besar sendiri. Oleh karena itu, strategi yang dilakukan oleh PT Saung Mirwan untuk mengatasi hal tersebut adalah melakukan kerjasama dengan petani yang lebih dikenal dengan kemitraan dengan petani. Syarat keberhasilan dalam suatu sistem jaringan kemitraan yaitu saling menguntungkan, saling membutuhkan, jujur, dan keterbukaan. Kemitraan adalah salah satu divisi perusahaan yang merupakan bagian dari Bidang Produksi yang bertugas melakukan pengadaan sayuran untuk memenuhi pesanan pelanggan. Kemitraan terdiri dari mitra tani dan mitra beli.

Mitra tani merupakan salah satu bentuk kerjasama antara PT. Saung Mirwan dengan petani-petani yang berlokasi di sekitar perusahaan hingga merambah sampai dengan daerah Sukabumi, Cianjur, dan Cipanas dengan mengembangkan produk-produk eksklusif yang ditanam di areal lahan luar. Petani yang melakukan kerjasama dengan PT Saung Mirwan akan mendapat penyuluhan dari perusahaan. Apabila petani tidak mempunyai modal untuk melaksanakan kegiatan produksi, pihak PT Saung Mirwan akan memberikan bantuan pinjaman berupa bibit atau benih sayuran yang akan ditanam dan beberapa bahan yang dibutuhkan. Sedangkan Mitra Beli adalah salah satu bentuk kerjasama antara PT Saung Mirwan dengan para pengepul, kios, atau petani yang mampu memasok sayuran dalam jumlah besar kepada PT Saung Mirwan. Manfaat yang didapat dari sistem kemitraan dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Daftar manfaat yang didapat dari sistem kemitraan

No Manfaat untuk perusahaan Manfaat untuk petani 1. Pendelegasian proses produksi Terkonsentrasi hanya pada bidang

produksi

2. Investasi pada lahan berkurang Menjadi spesialis dalam beberapa produk tertentu

3. Keamanan produk di lahan Produk akan dibeli oleh perusahaan 4. Risiko usaha terbagi Tidak terbebani masalah pemasaran

dan pengangkutan 5. Terbebas dari konflik isu

perburuhan

Pertumbuhan usaha cepat

6. Merubah pesaing menjadi mitra Fluktuasi harga bukan merupakan masalah

(6)

Konsumen PT Saung Mirwan terdiri dari ritel dan industri yang telah melakukan kerjasama dengan PT Saung Mirwan dan lebih dikenal sebagai customer oleh perusahaan. Ritel adalah customer yang menggunakan produk sayuran untuk dijual lagi tanpa harus diolah terlebih dahulu. Ritel terdiri dari supermarket dan swalayan yang mayoritas berada di kawasan Jakarta. Industri adalah customer yang menggunakan produk sayuran untuk dijual lagi tetapi diolah terlebih dahulu menjadi produk makanan. Industri terdiri dari hotel, restoran, dan kafe (horeka).

Aliran rantai pasokan sayuran dimulai dari petani sebagai mitra tani dan bagian produksi sayuran. Semua sayuran hasil panen mitra tani dan bagian produksi akan ditampung oleh PT Saung Mirwan. Apabila target produksi yang telah ditetapkan oleh perusahaan tidak terpenuhi, maka perusahaan akan membeli sayuran kepada mitra beli. Harga beli berdasarkan kesepakatan antara pihak perusahaan dengan mitra beli. Hasil panen dari petani yang lokasi lahannya jauh dari perusahaan akan diambil oleh PT Saung Mirwan. Sedangkan hasil panen untuk petani yang lokasi lahannya dekat akan diangkut dan diantar sendiri oleh petani.

Keterangan :

1 Penyedia sarana produksi untuk petani 5 Industri (restoran) 2 Mitra tani PT Saung Mirwan 6 Konsumen akhir 3 Penyedia sarana non sayur 7 Aliran barang

4 PT Saung Mirwan 8 Aliran informasi

5 Retailer 9 Aliran finansial

Gambar 13. Pola aliran dalam rantai pasokan di PT Saung Mirwan (PT Saung Mirwan, 2012) 2 1 2 2 2 4 3 3 3 5 5 6

(7)

4.4. Identifikasi Faktor Daya Saing Agribisnis Sayuran

Penelitian ini mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap daya saing agribisnis sayuran, terutama daya saing produk dari PT Saung Mirwan. Faktor-faktor tersebut adalah faktor kondisi, faktor permintaan, industri terkait dan industri pendukung, persaingan industri, serta pemerintah dan kesempatan. Atribut yang memiliki nilai tertinggi adalah sumberdaya alam dan lingkungan, teknologi, jumlah pembeli dan tingkat pertumbuhan pembelian, serta petani mitra, yang masing-masing bernilai (4,00). Sementara atribut yang memiliki nilai paling rendah adalah strategi pesaing yang bernilai (3,00). Nilai dari setiap faktor/atribut daya saing dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Faktor yang berpengaruh terhadap daya saing agribisnis sayuran

No. Atribut Nilai Responden

Rata-rata nilai 1 2 3 4 Faktor Kondisi 1. Infrastruktur 1 2 3 3.33 2. Sumberdaya manusia 1 2 3 3.33 3. Sumberdaya modal 1 2 3 3.67

4. SDA dan lingkungan 3 3 4.00

5. Teknologi 3 3 4.00

Kondisi Permintaan 6. Jumlah pembeli dan

tingkat pertumbuhan pembelian

3 3 4.00

7. Preferensi konsumen 1 2 3 3.67

Industri Terkait dan

Industri Pendukung 8. Pemasok 2 1 3 3.33 9. Petani mitra 3 3 4.00 Persaingan Industri 10. Tingkat persaingan di industri sayuran 1 2 3 3.67 11. Strategi pesaing 3 3 3.00 Peran Pemerintah 12. Regulasi 2 1 3 3.33 Peran Kesempatan 13. Iklim bisnis 2 1 3 3.33

(8)

4.4.1 Faktor Kondisi

Faktor kondisi disini mengacu pada input yang digunakan oleh industri sayuran untuk menghasilkan produk yang berdaya saing. Elemen-elemen penting yang menjadi faktor kondisi dalam industri sayuran antara lain infrastruktur, sumber daya alam, sumber daya modal, sumberdaya ilmu pengetahuan dan teknologi, serta sumber daya manusia.

1. Infrastruktur

Secara umum, kondisi infrastruktur berupa jalan raya, jalan tol, jembatan, airport, pasar, tanah perkebunan, pabrik-pabrik pengolahan, dan sebagainya berbeda-beda di setiap lokasi. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh dukungan dari pemerintah daerah setempat dalam peningkatan infrastruktur wilayahnya. Saat ini, saluran irigasi yang dibangun oleh pemerintah masih kurang padahal pasokan air tersedia, yaitu sungai. Namun, tidak ada pembangunan irigasi ke sawah dan kebun milik petani dan juga milik perusahaan agribisnis sayuran di dekat daerah aliran sungai (DAS). Inilah yang terjadi di daerah sekitar PT Saung Mirwan, padahal perusahaan beserta kebunnya terletak di daerah yang memiliki aliran sungai dan dekat dengan gunung. Hal ini sangat disayangkan, karena jika saluran irigasi banyak tersedia, maka kebun tidak akan begitu mengalami kesulitan air dan sayuran yang ditanam pun akan dapat tumbuh dengan baik karena mendapatkan pasokan air yang cukup.

Selain itu, Indonesia merupakan negara yang sangat memprihatinkan kondisi jalanannya. Kemacetan merupakan hal yang dapat dengan mudah kita temui dan kita rasakan di Indonesia. Tidak hanya di jalan kota, namun di daerah-daerah pun kemacetan ini tidak jarang terjadi. Selain macet, jalan-jalan di Indonesia pun banyak yang rusak. Begitu pula jalanan dari PT Saung Mirwan menuju ke lokasi customer. Jalanan di Bogor tidak hanya cukup rusak, tetapi juga macet. Hal ini disebabkan karena banyaknya

(9)

angkutan umum dan juga kendaraan pribadi di jalanan. Begitu pula jalanan di Jakarta, lokasi mayoritas customer PT Saung Mirwan, kemacetan dapat ditemukan dimana-mana, bahkan di jalan tol yang semestinya menjadi jalan bebas hambatan.

Jalan yang rusak dan juga kemacetan sangat berpengaruh pada agribisnis sayuran, khususnya pada proses distribusi. Sayuran merupakan komoditi yang mudah rusak dan tidak tahan lama. Jalanan yang macet akan membuat proses pendistribusian menjadi lama. Hal ini akan sangat berdampak pada life-time dari sayuran. Jalanan yang rusak akan menyebabkan sayuran terguncang di dalam mobil pengangkut. Meskipun sayuran disimpan dalam wadah tertentu, namun guncangan akan tetap terasa dan kemudian akan berdampak pada kualitas dan bentuk dari sayuran tersebut.

Listrik juga merupakan hal yang krusial dalam agribisnis sayuran. Industri ini membutuhkan pasokan listrik yang stabil. Misalnya, untuk mejaga ketahanan dari sayuran diperlukan cold refrigerator (pendingin). Jika pasokan listrik tidak stabil, maka aliran listrik ke alat tersebut akan terputus sehingga suhu udara dan kelembaban di dalam ruangan akan meningkat. Hal ini akan membuat life-time dari sayuran berkurang. Selain itu, pasokan listrik juga diperlukan untuk dialirkan ke green house. Jika listrik tidak stabil, maka suhu dalam green house pun akan berubah dan hal ini akan mempengaruhi kualitas dari sayuran yang dibudidayakan di dalam green house tersebut.

2. Sumberdaya Manusia

Mengingat bahwa sebagian besar penduduk Indonesia yang berkecimpung di dunia pertanian, maka pengalaman dan pengetahuan penduduk Indonesia mengenai pertanian, khususnya sayuran, sudah tidak dapat dipandang sebelah mata lagi. Peran penting berada di tangan para petani, perusahaan yang bergerak dalam bidang ini, juga para tenaga ahli yang berada di lembaga penelitian milik pemerintah dan swasta.

(10)

Karakteristik petani berpengaruh terhadap aktivitas produksi, yaitu terkait dengan pengetahuan dan kemampuan dalam proses budidaya, sehingga mampu mencapai produksi yang optimal. Hal tersebut dapat ditingkatkan dengan dilakukan penyuluhan dan evaluasi secara berkala dari perusahaan sebagai mitra kerja. Selain itu, perusahaan juga melakukan transfer ilmu dan pengalaman untuk kemajuan bidang pertanian khususnya mengenai budidaya sayuran, baik budidaya secara hidroponik maupun non hidroponik.

Kemampuan melakukan proses budidaya merupakan hal yang sangat penting dalam bisnis ini. Namun, tidak semua aspek dalam bisnis ini membutuhkan kemampuan tersebut. Ada juga beberapa aspek yang lebih membutuhkan kemampuan manajerial. Sumberdaya manusia juga berperan penting dalam mengoperasikan teknologi yang ada, untuk mengakses informasi pasar, dan juga untuk mengakses modal. Melihat begitu pentingnya sumberdaya manusia, maka sumberdaya ini harus dijaga agar tidak jenuh karena kejenuhan akan mengakibatkan kinerja sumberdaya manusia menurun yang pada akhirnya akan berakibat pada menurunnya produktivitas perusahaan.

Untuk memenuhi kebutuhan sumberdaya manusia di PT Saung Mirwan, pihak perusahaan merekrut penduduk setempat untuk dialokasikan di bidang yang kurang membutuhkan keahlian khusus, misalnya bagian pengemasan, administrasi, ATK, dan resepsionis. Petani yang dijadikan mitra adalah para petani yang berada di daerah sekitar kebun, tetapi juga tetap diberi penyuluhan. Untuk „pimpinan‟ bidang budidaya, perusahaan merekrut karyawan yang sudah memiliki ilmu dasar mengenai pertanian dan pengolahannya, serta paham mengenai manajerial. Untuk bidang-bidang lainnya, sumberdaya manusia yang direkrut disesuaikan dengan kebutuhan.

(11)

3. Sumberdaya Modal

Sumberdaya modal merupakan salah satu faktor penting dalam perkembangan agribisnis sayuran. Untuk agribisnis sayuran, belum banyak investor yang menanamkan modal maupun membiayai subsektor ini. Oleh karena itu, para pelaku usaha di bidang agribisnis sayuran ini harus memiliki pasokan modal yang cukup kuat dari sendiri maupun pinjaman dari bank. Namun, pinjaman dari bank ini masih memiliki bunga yang cukup tinggi. Sehingga, pelaku usaha harus meminimalisir pinjaman dari bank tersebut dan benar-benar berusaha untuk memiliki modal sendiri yang cukup maupun dengan mencari sendiri investor yang tertarik untuk berinvestasi pada perusahaan.

PT Saung Mirwan mengoptimalkan ketersediaan modal sendiri. Namun, mereka juga mendapatkan bantuan dari pemerintah Belanda melalui salah satu perusahaan agribisnis mereka, Hessing Company, berupa modal dan teknologi.

4. Sumberdaya Alam dan Lingkungan

PT Saung Mirwan terletak di daerah pegunungan. Kondisi tanah mendukung dan ketersediaan air juga cukup, meskipun saluran irigasi masih kurang. Iklim di daerah tersebut juga kondusif untuk penanaman sayuran.

Sayuran merupakan tanaman yang sangat responsif terhadap perubahan alam. Kondisi alam yang berubah-ubah akan berpengaruh terhadap kualitas sayuran yang dihasilkan. Karena itu, dibutuhkan perlakuan khusus untuk menjaga stabilitas mutu sayuran. Pada musim hujan, pemupukan semestinya dilakukan sedikit demi sedikit tetapi sering dilakukan. Sedangkan pada musim kemarau, aktivitas pemupukan tidak terlalu sering dilakukan dan jumlah pupuknya agak banyak.

5. Sumberdaya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Sumberdaya ilmu pengetahuan dan teknologi sangat menentukan kemajuan suatu industri. Ketersediaan sumber-sumber

(12)

pengetahuan dan teknologi juga ditunjang oleh lembaga lain seperti perguruan tinggi, lembaga riset swasta, literatur bisnis dan ilmiah, basis data, laporan penelitian, asosiasi, balai penelitian, serta sumber pengetahuan dan teknologi lainnya. PT Saung Mirwan sering melakukan kerjasama dengan IPB untuk transfer ilmu mengenai pertanian. Bentuk kerjasama ini bisa dalam bentuk seminar, penyuluhan, maupun diskusi. Selain itu, PT Saung Mirwan juga tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Hortikultura Indonesia.

Teknologi juga merupakan hal yang sangat krusial bagi keberlangsungan usaha dalam bidang agribisnis sayuran. Green house merupakan teknologi yang penting dan bernilai tambah bagi bisnis ini. Sayuran yang dibudidayakan di dalam green house akan memiliki kualitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan sayuran yang dibudidayakan di lahan terbuka. Teknologi lain yang juga dibutuhkan dalam bisnis ini adalah adanya cold refrigerator (mesin pendingin) untuk menjaga ketahanan life-time dari sayuran, baik saat proses pendistribusian, saat proses packing, maupun saat penyimpanan di storage. Teknologi lain adalah adanya mesin pemotong otomatis untuk sayuran yang memang dipesan dalam bentuk potongan. Mesin pencuci sayuran dan mesin pemberi label untuk pengemasan juga merupakan teknologi yang dibutuhkan dalam bisnis sayuran ini. PT Saung Mirwan sudah menyadari urgensi dari teknologi-teknologi ini. Oleh karena itu, perusahaan sudah memiliki berbagai teknologi yang dibutuhkan untuk menjaga dan meningkatkan kualitas produknya.

4.4.2 Faktor Permintaan

1. Jumlah Pembeli dan Tingkat Pertumbuhan Pembelian

Sayuran merupakan salah satu dari komposisi makanan yang wajib ada dalam menu makanan sejak zaman dahulu. Selain karena menyehatkan dan bergizi, sayuran juga mudah untuk didapat, baik itu dengan membelinya, maupun dengan

(13)

menanamnya sendiri. Bahkan, ada daerah-daerah di Indonesia yang menjadikan sayuran sebagai ciri khas daerahnya. Misalnya, daerah Sunda yang memiliki ciri khas lalapan di dalam menu makanan mereka, yang berisi sayuran-sayuran mentah yang langsung bisa dimakan hanya ditemani dengan sambal ataupun dimakan sendiri. Namun, bila kita melihat secara keseluruhan, tingkat konsumsi masyarakat Indonesia terhadap sayuran masih rendah dibandingkan dengan negara lain. Bahkan jika dibandingkan dengan negara yang notabene bukan merupakan produsen sayuran.

Tingkat konsumsi sayuran masyarakat Indonesia masih jauh dari standar konsumsi yang direkomendasikan oleh Food and Agriculture Organization (FAO). Konsumsi sayur masyarakat Indonesia saat ini rata-rata 41,9 kg per kapita per tahun. Sedangkan rekomendasi dari FAO adalah sebesar 73 kg per kapita per tahun dan standar kecukupan untuk sehat sebesar 91,25 kg per kapita per tahun. Angka yang sangat jauh sekali, bahkan kalah oleh negara tetangga kita yang notabene tidak memiliki potensi alam yang lebih tinggi dari Indonesia. Tingkat konsumsi sayuran masyarakat Singapura sudah 125 kg per kapita per tahun dan Malaysia sudah 90 kg per kapita per tahun.

Rendahnya konsumsi sayur ini sebenarnya bukan karena produksi sayuran yang rendah, tetapi lebih kepada kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi sayuran yang masih rendah. Meskipun kini sudah banyak masyarakat yang peduli dengan kesehatan dan menerapkan pola hidup sehat dengan banyak mengkonsumsi sayuran, tapi tetap saja tidak menaikkan tingkat konsumsi sayuran secara signifikan. Karena berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian, sebanyak 27 persen dari jumlah penduduk Indonesia tidak menyajikan sayur dalam makanan yang dikonsumsi setiap harinya.

(14)

Rendahnya konsumsi masyarakat Indonesia terhadap sayuran ini yang akhirnya mendasari Gerakan Makan Sayuran (Gemas) yang diprakarsai oleh Departemen Pertanian. Tujuannya adalah untuk memasyarakatkan konsumsi sayuran guna meningkatkan gizi keluarga/masyarakat mulai dari anak-anak hingga dewasa, memperbaiki pandangan terhadap sayuran produk petani Indonesia, dan membangun rasa bangga mengkonsumsi produk pertanian Indonesia. Mendorong dan menghela peningkatan produksi sayuran, meningkatkan hidup sehat bergizi dengan pangan, vitamin, mineral, serat, dan antioksidan yang cukup, serta mendorong pengembangan keanekaragaman produk sayuran. Gerakan ini sudah dilakukan sejak enam tahun yang lalu. Tahun 2006 di Indramayu, tahun 2007 di Majalengka, tahun 2008 di Aceh Besar, tahun 2009 di NTB, tahun 2010 di Pekanbaru, dan tahun 2011 di Banten.

Meskipun tingkat konsumsi sayuran di Indonesia masih sedikit jika dibandingkan dengan standar FAO dan tingkat konsumsi di negara tetangga, tapi tetap saja menjadi pemicu tersendiri dalam terjadinya kompetisi antar-perusahaan atau pelaku di industri agribisnis sayuran ini.

2. Preferensi Konsumen

Sayuran yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia tidak hanya berupa ‟sayur‟. Beberapa persen masyarakat memilih untuk mengkonsumsi sayuran yang sudah diolah ke dalam bentuk makanan lain, misalnya dalam burger, dalam bakmie, dalam salad, dan sebagainya.

Kondisi preferensi masyarakat terhadap sayuran yang berbeda-beda ini juga menimbulkan persaingan di antara para perusahaan yang berkecimpung dalam dunia bisnis sayuran ini. Terlebih untuk perusahaan yang menjual sayurannya kepada food industry, yang memesan sayuran sudah dalam bentuk potongan dan sudah siap pakai. Untuk memenuhi keinginan konsumen ini,

(15)

perusahaan harus bersaing dalam hal kualitas dan kesesuaian dengan pesanan konsumen.

4.4.3 Faktor Industri Terkait dan Industri Pendukung

Industri terkait merupakan industri terdekat yang secara langsung berhubungan dengan industri inti. Industri-industri yang secara langsung berkaitan dengan usaha agribisnis sayuran adalah pemasok input dan bahan baku, serta retail dan food industry. Sementara industri pendukung terdiri dari lembaga-lembaga yang secara tidak langsung menyokong kelangsungan kegiatan usaha industri inti. Dalam bisnis ini, industri pendukung terdiri dari lembaga-lembaga keuangan, lembaga penelitian, lembaga sosial, asosiasi-asosiasi, lembaga pemerintahan, dan lembaga lainnya. Namun, dalam penelitian ini tidak akan membahas industri pendukung karena kontribusinya yang sangat kecil terhadap bisnis sayuran.

Pemasok bibit dan bahan baku sayuran adalah petani yang berada di sekitar areal perkebunan milik perusahaan ataupun petani yang berada cukup jauh dari perusahaan. Petani-petani ini bisa berdiri sendiri maupun menjalin kemitraan dengan perusahaan. Petani yang melakukan kerjasama kemitraan dengan perusahaan akan mendapat penyuluhan dari perusahaan. Pemasok yang berdiri sendiri dapat berupa para pengepul, kios, atau petani yang mampu memasok sayuran dalam jumlah besar kepada perusahaan. Ada juga pemasok bahan baku non sayuran, yaitu bahan baku yang dibutuhkan mulai dari kebutuhan budidaya, pengemasan, sampai kebutuhan kantor.

Konsumen perusahaan terdiri dari ritel dan food industry. Ritel adalah customer yang menggunakan produk sayuran untuk dijual lagi tanpa harus diolah terlebih dahulu. Ritel terdiri dari supermarket dan swalayan. Food industry adalah customer yang menggunakan produk sayuran untuk dijual lagi tetapi diolah terlebih dahulu menjadi produk makanan. Industri terdiri dari hotel, restoran, dan kafe (horeka).

(16)

4.4.4 Faktor Persaingan Industri

Persaingan sayuran di Indonesia cukup tinggi. Hal ini dapat dilihat dari cukup banyaknya pelaku dalam agribisnis sayuran saat ini. Hal ini dapat menjadi pemicu tersendiri bagi setiap perusahaan untuk menjadi lebih baik dari pesaingnya. Strategi persaingan dari setiap perusahaan berbeda-beda. Ada yang lebih mengutamakan untuk memberi harga yang lebih murah dibandingkan dengan pesaing-pesaingnya meskipun mungkin kualitasnya di bawah pesaingnya. Ada juga perusahaan yang lebih mengutamakan kualitas meskipun harga yang akan mereka tawarkan sangat mungkin untuk lebih tinggi dibandingkan dengan pesaingnya. Namun ada juga perusahaan yang lebih mementingkan layanan kepada customer dan juga relationship yang baik dengan pihak-pihak terkait. Semuanya ini menjadi pilihan tersendiri bagi perusahan-perusahaan yang berkecimpung dalam agribisnis sayuran.

Beberapa kompetitor utama PT Saung Mirwan adalah CV Bimandiri, PT Lumbung Padi, dan Amazing Farm untuk customer retail. Sedangkan untuk food industry yang menjadi kompetitor utama adalah PT Wiguna Makmur. Banyaknya pesaing ini menjadi pemicu bagi perusahaan untuk lebih meningkatkan kekuatan yang dimiliki.

4.4.5 Peranan Pemerintah

Pemerintah merupakan aspek yang sangat penting dalam menentukan kualitas daya saing suatu bangsa. Peranan pemerintah tercermin melalui kebijakan, regulasi, maupun dukungan terhadap upaya-upaya pengembangan suatu bisnis.

Selama ini pengembangan hortikultura masih kurang maksimal karena pemerintah masih fokus dengan menggenjot produksi beras. Namun, kini pemerintah akan mendorong pengembangan hortikultura dengan menggunakan varietas unggul. Salah satu bentuk dukungan pemerintah terhadap bisnis dan perkembangan sayuran di Indonesia adalah dengan adanya mandat

(17)

yang dikeluarkan oleh Menteri Pertanian yang menyebutkan bahwa ada 323 produk hortikultura yang harus dikembangkan.

Pemerintah juga sedang mengundang investor agar masuk ke sektor hortikultura karena prospeknya makin cerah. Hal ini terlihat dari meningkatnya impor sayuran yang berarti menunjukkan bahwa daya beli sayuran dalam negeri naik. Sinyal naiknya daya beli masyarakat ini harus ditangkap dengan baik oleh para pelaku bisnis sayuran untuk meningkatkan produktivitas dan nilai dari produknya. Selain itu juga harus ditangkap dengan baik oleh para investor. Saat ini sudah ada sejumlah investor yang tertarik masuk ke bidang hortikultura, diantaranya PTPN IX dan X serta beberapa anggota Asosiasi Importir Buah dan Sayuran Segar Indonesia (Asibsindo).

Pemerintah banyak membantu para petani kecil, khususnya Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani). Meskipun sarat akan muatan politis, namun dampak positifnya tetap terasa. Bentuk dukungan lain pemerintah terhadap industri sayuran terlihat dari tidak diberlakukannya PPn untuk industri sayuran sejak dahulu. Namun, ada juga beberapa regulasi yang diterapkan oleh pemerintah yang merugikan perusahaan yang berkecimpung dalam dunia bisnis sayuran. Untuk melakukan eskpor, biaya yang dibayarkan kepada Badan Karantina Pertanian cukup tinggi, sehingga hal ini akan membuat perusahaan akan berpikir-pikir lagi untuk melakukan ekspor.

Saat ini, ekspor hortikultura Indonesia kalah bersaing dengan negara lain dari sisi harga karena mahalnya biaya angkut. Tarif kargo Indonesia memang terhitung mahal, lebih mahal dibandingkan perusahaan penerbangan asing (www.tempo.co). Biaya regulated agent (RA) Rp 450 per kg dari sebelumnya hanya Rp 60 per kg bertentangan dengan kebijakan pemerintah untuk mendorong ekspor produk pertanian (www.jurnas.com).

Tingginya biaya distribusi juga disebabkan oleh kondisi infrastruktur jalan di Indonesia yang masih sangat perlu untuk

(18)

dibenahi. Kemacetan dan kerusakan jalan menyebabkan bahan bakar yang dibutuhkan oleh angkutan menjadi lebih banyak. Hal ini berakibat pada tingginya biaya yang dikeluarkan untuk pendistribusian dan pada akhirnya menyebabkan harga jual yang ditetapkan oleh perusahaan pun menjadi naik. Buruknya kondisi infrastruktur di Indonesia ini menjadi tanggung jawab pemerintah dan sudah semestinya untuk segera dibenahi.

4.4.6 Peranan Kesempatan

Salah satu bentuk peluang atau kesempatan yang bisa mengangkat posisi daya saing sayuran Indonesia adalah meningkatnya kepedulian masyarakat dunia terhadap kesehatan. Hal tersebut sedikit demi sedikit akan mengubah pola hidup masyarakat. Akan semakin banyak masyarakat yang mengkonsumsi sayuran sebagai salah satu bentuk kepedulian terhadap kesehatan.

Kondisi tersebut semakin didukung oleh mutu dan standar sayuran yang juga kian membaik. Perbaikan mutu ini tidak hanya mengacu pada pengelolaan kebun dan proses budidaya, tetapi juga dalam pengelolaan pascapanen, pengemasan, hingga sampai ke konsumen. Perbaikan mutu ini diperkuat dengan sertifikasi internasional, seperti HACCP dan Prima. Model Berlian Porter dari agribisnis sayuran di Indonesia dapat dilihat pada Gambar 14.

Gambar 14. Analisis daya saing agribisnis sayuran di Indonesia Faktor Kondisi:

1. Infrastruktur 2. SDM 3. Modal

4. SDA dan lingkungan 5. Teknologi

Kondisi Permintaan: 1. Jumlah Pembeli dan

tingkat pertumbuhan pembelian

2. Preferensi konsumen

Industri terkait dan pendukung: 1. Pemasok 2. Petani mitra Persaingan industri: 1. Tingkat persaingan 2. Strategi pesaing Peran Pemerintah Peran Kesempatan

(19)

4.5. Analisis Faktor Strategis Internal dan Eksternal PT Saung Mirwan 4.5.1 Identifikasi Kekuatan dan Kelemahan

Analisis terhadap kondisi lingkungan internal PT Saung Mirwan melalui aspek fungsional yang meliputi aspek keuangan, pemasaran, operasional, dan sumberdaya manusia menghasilkan beberapa faktor yang menjadi kekuatan dan kelemahan dari PT Saung Mirwan. Untuk mengevaluasi faktor-faktor internal, tersebut digunakan metode analisis Evaluasi Faktor Internal (Internal Factors Evaluation-IFE). Dalam metode analisis IFE, masing-masing faktor internal tersebut diberikan bobot dan peringkat. Pembobotan masing-masing faktor tersebut diperoleh dengan teknik pairwise comparison (perbandingan berpasangan). Sedangkan dalam menentukan peringkat dari masing-masing faktor digunakan skala 1-5 berdasarkan tingkat pengaruh atau peran strategis faktor terhadap daya saing PT Saung Mirwan. Hasil analisis IFE tersebut dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Identifikasi Kekuatan dan Kelemahan PT Saung Mirwan

No. Faktor Kunci Bobot Rating Skor

Kekuatan (Strengths)

1 Teknologi tepat guna 0.062 4 0.246

2 Brand produk Saung Mirwan bagus 0.080 3.634 0.292 3 Fasilitas & peralatan cukup lengkap 0.075 4 0.301 4 Masa bisnis lebih lama 0.067 3.302 0.220 5

Mendapatkan bantuan dari pemerintah Belanda dalam hal operasional

0.091 4 0.365

6 Mutu produk sudah mencapai

kualitas ekspor 0.170 3.634 0.618

Kelemahan (Weaknesses)

1 Karyawan kurang inisiatif dan

sudah jenuh 0.127 2.520 0.319

2 Jenis produk berkurang 0.136 1.587 0.216 3 Harga jual lebih tinggi dari pesaing 0.192 1.260 0.242

TOTAL 1.000 2.820

Dari hasil analisis tersebut dapat diketahui bahwa kekuatan utama dari PT Saung Mirwan adalah mutu produk yang sudah mencapai kualitas ekspor dengan skor (0.618). Sedangkan yang

(20)

menjadi kelemahan utama adalah karyawan yang kurang inisiatif dan sudah mulai jenuh dengan skor sebesar (0.319). Total skor sebesar (2.820) menunjukkan bahwa PT Saung Mirwan sudah memiliki kondisi internal yang cukup kuat.

4.5.2 Identifikasi Peluang dan Ancaman

Analisis terhadap kondisi lingkungan eksternal PT Saung Mirwan meliputi lingkungan jauh dan lingkungan industri. Analisis menghasilkan beberapa faktor yang menjadi peluang dan ancaman. Faktor-faktor eksternal dianalisis dengan menggunakan metode analisis Evaluasi Faktor Eksternal (Eksternal Factors Evaluation-EFE). Hasil dari analisis EFE tersebut dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7. Identifikasi Peluang dan Ancaman PT Saung Mirwan

No. Faktor Kunci Bobot Rating Skor

Peluang (Opportunities)

1 SDA tersedia 0.060 1.817 0.109

2 Pertumbuhan industri sayuran

positif 0.080 2.289 0.184

3 Tren gaya hidup konsumen (pola

hidup sehat) 0.180 3.634 0.653

4 Semakin banyaknya pesaing 0.176 3.302 0.581 Ancaman (Threats)

1 Serangan hama dan anomali iklim 0.243 3 0.728 2 Infrastruktur yang masih kurang

baik di Indonesia 0.261 2.621 0.685

TOTAL 1.000 2.940

Dari hasil analisis tersebut diketahui bahwa faktor yang menjadi peluang utama bagi PT Saung Mirwan adalah tren gaya hidup konsumen (pola hidup sehat) dengan skor (0.653). Sedangkan yang menjadi ancaman utama bagi PT Saung Mirwan adalah serangan hama dan anomali iklim dengan skor (0.728). Total skor dari faktor-faktor eksternal adalah (2.940) yang berarti PT Saung Mirwan sudah memiliki kemampuan yang baik dalam usahanya untuk merespon faktor-faktor eksternal dengan memanfaatkan peluang dan menghindari atau menghadapi ancaman/tantangan yang ada.

(21)

4.6. Rumusan Strategi

Setelah melakukan identifikasi terhadap faktor-faktor internal, yakni faktor kekuatan dan kelemahan serta identifikasi faktor eksternal, yakni peluang dan ancaman, tahap selanjutnya adalah merumuskan strategi berdasarkan faktor-faktor internal dan eksternal tersebut. Matriks SWOT digunakan dalam merumuskan strategi peningkatan daya saing PT Saung Mirwan. Dengan menggunakan Matriks SWOT, strategi yang dihasilkan terdiri dari strategi SO (penggunaan kekuatan untuk memanfaatkan peluang yang ada), strategi WO (memanfaatkan peluang untuk meminimalkan kelemahan), strategi ST (penggunaan kekuatan untuk mengatasi ancaman yang ada) dan strategi WT (meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman dari lingkungan eksternal). Tabel 8 menunjukkan rumusan strategi untuk meningkatkan daya saing PT Saung Mirwan.

Tabel 8. Matriks SWOT PT Saung Mirwan KEKUATAN (S) 1. Teknologi tepat guna 2. Brand produk Saung

Mirwan bagus 3. Fasilitas & peralatan

cukup lengkap

4. Masa bisnis lebih lama 5. Mendapatkan bantuan

dari pemerintah Belanda dalam hal operasional

6. Mutu produk sudah mencapai kualitas ekspor

KELEMAHAN (W) 1. Karyawan kurang

inisiatif dan sudah jenuh

2. Jenis produk berkurang 3. Harga jual lebih

tinggi dari pesaing

PELUANG (O) 1. SDA tersedia

2. Pertumbuhan industri sayuran positif 3. Tren gaya hidup

konsumen (pola hidup sehat)

4. Semakin banyaknya pesaing

Strategi SO

Menyediakan produk sesuai

demand (S1, S2, S3, S4, S5, S6, O1, O2, O3, O4)

Strategi WO 1. Mengadakan

training dan gathering untuk

karyawan (W1, W2, O1, O2, O3, O4) 2. Smart promotion

(W3, O2, O3, O4) ANCAMAN (T)

1. Serangan hama dan anomali iklim 2. Infrastruktur yang

masih kurang baik di Indonesia Strategi ST Melaksanakan produksi sesuai prosedur (S1, S3, S5, T1) Strategi WT Strategi Efisiensi biaya

(W3, T2) INTERNAL

(22)

4.6.1 Strategi SO

Strategi SO merupakan strategi yang dirumuskan dengan mempertimbangkan kekuatan yang dimiliki PT Saung Mirwan untuk memanfaatkan peluang-peluang yang ada seoptimal mungkin. Dengan menggunakan faktor kekuatan dan peluang yang telah diperoleh dari analisis faktor strategis sebelumnya, maka rumusan strategi SO yang dapat diterapkan untuk meningkatkan daya saing PT Saung Mirwan adalah menyediakan produk sesuai demand (permintaan).

Menyediakan produk sesuai demand berarti menyediakan sayuran sesuai pesanan customer (pelanggan), baik dari segi kualitas, kuantitas, dan layanan. Kesesuaian dengan pesanan customer, dari kemasan, bentuk sayuran (fresh-cut, whole, dsb.), ketepatan waktu, ketepatan jumlah, dan sebagainya.

4.6.2 Strategi WO

Strategi WO merupakan strategi yang dapat dilakukan untuk mengurangi efek yang muncul dari beberapa kelemahan pada PT Saung Mirwan dengan memanfaatkan peluang-peluang yang ada. Strategi WO yang dapat dilakukan untuk meningkatkan daya saing diantaranya adalah mengadakan training dan gathering untuk karyawan serta melakukan smart promotion.

Mengadakan training dan gathering untuk karyawan bertujuan untuk me-refresh kondisi karyawan agar kejenuhan hilang. Gathering diadakan dengan pemberian motivasi ataupun penyampaian kisah inspiratif juga kepemimpinan dari sosok yang disegani, baik dari pihak internal perusahaan maupun tokoh luar perusahaan yang berkompeten. Selain itu juga diberikan pelatihan mengenai keterampilan terkait. Smart promotion adalah pemberian edukasi kepada masyarakat mengenai sayuran dan pengolahannya sekaligus promosi produk perusahaan yang dilakukan bekerjasama dengan pihak tertentu.

(23)

4.6.3. Strategi ST

Strategi ST adalah strategi yang digunakan untuk menghindari ancaman yang datang dari lingkungan eksternal dengan memanfaatkan kekuatan yang dimiliki. Strategi yang dapat dilakukan untuk mengatasi ancaman serangan hama dan anomali iklim serta infrastruktur yang masih kurang baik di Indonesia adalah dengan melaksanakan proses produksi sesuai prosedur. Pelaksanaan proses produksi sesuai prosedur yang berlaku dimaksudkan untuk mengurangi kesalahan dan kecacatan. Pelaksanaan proses produksi sesuai prosedur juga dimaksudkan untuk menghindari serangan hama dan mengurangi dampak negatif dari ketidakstabilan perubahan iklim.

4.6.4 Strategi WT

Strategi WT adalah strategi yang sifatnya defensif, dimana strategi yang dilakukan harus mampu meminimalisasi kerugian akibat dari kelemahan yang dimiliki sekaligus bagaimana menghindari ancaman-ancaman yang mungkin datang. Strategi WT yang dapat dilakukan untuk meningkatkan daya saing PT Saung Mirwan adalah dengan melaksanakan efisiensi biaya. Cara untuk melaksanakan efisiensi biaya tersebut adalah dengan meminimalisasi biaya yang dikeluarkan agar laba yang didapat meningkat, namun tetap mengedepankan kualitas. Proses efisiensi biaya ini dapat diterapkan pada proses distribusi, proses pengemasan, dan juga pada proses manajerial.

4.7. Perumusan Prioritas Strategi

Setelah mendapatkan 5 (lima) alternatif strategi peningkatan daya saing PT Saung Mirwan berdasarkan analisis SWOT, selanjutnya pemilihan prioritas strategi peningkatan daya saing dilakukan dengan menggunakan teknik ANP. Penentuan prioritas strategi merupakan pendapat gabungan dari 3 responden ahli dari pihak perusahaan, yaitu Direktur Utama, Purchasing Manager, dan Kepala Bagian Kemitraan.

(24)

Indikator-indikator yang digunakan untuk menentukan prioritas strategi peningkatan daya saing PT Saung Mirwan dapat diklasifikasikan dalam tiga buah klaster, yaitu faktor, masalah, dan strategi. Klaster “faktor” terdiri dari faktor sumberdaya alam (SDA) dan lingkungan, teknologi, jumlah pembeli dan tingkat pertumbuhan pembelian, serta petani mitra. Klaster “masalah” terdiri dari karyawan kurang inisiatif dan sudah jenuh, jenis produk berkurang, harga lebih tinggi dari pesaing, serangan hama dan anomali iklim, serta infrastruktur yang kurang baik. Klaster “alternative” terdiri dari menyediakan produk sesuai demand, mengadakan training dan gathering untuk karyawan, smart promotion, melaksanakan produksi sesuai prosedur, serta efisiensi biaya. Gambar 15 memperlihatkan kerangka umum untuk analisis.

Gambar 15. Kerangka strategi peningkatan daya saing PT Saung Mirwan

SDA dan lingkungan

Teknologi

Jumlah pembeli dan tingkat pertumbuhan

pembelian Petani mitra Faktor

Mencari alternatif strategi peningkatan dayasaing PT Saung Mirwan

Tujuan Masalah Strategi Jenis produk berku-rang Karyawan kurang inisiatif dan sudah jenuh Harga lebih tinggi Serangan hama dan anomali iklim Infra-struktur yang kurang baik Melaksa-nakan produksi sesuai prosedur Efisiensi Biaya Menga-dakan training dan gathering Menye-diakan produk sesuai demand Smart promo-tion

(25)

Kerangka strategi peningkatan daya saing PT Saung Mirwan selanjutnya diolah dengan menggunakan Software Superdecisions. Adapun perubahan bentuk kerangka tersebut dapat dilihat pada Gambar 16.

Gambar 16. Kerangka strategi peningkatan daya saing PT Saung Mirwan pada Software Superdecisions

Penentuan prioritas strategi dalam meningkatkan daya saing PT Saung Mirwan dilakukan melalui pairwise comparison yang melibatkan para pakar dari perusahaan. Data hasil pairwise comparison yang dilakukan oleh para pakar ini diolah dengan Software Superdecisions menghasilkan prioritas-prioritas node (alternatif) untuk setiap klaster. Data hasil yang telah diolah menggunakan Software Superdecisions terlihat pada Tabel 9. Tabel 9. Hasil Analytic Network Process

No. Keterangan Nilai

Faktor

1 SDA dan lingkungan 0.10713

2 Teknologi 0.22366

3 Jumlah pembeli dan tingkat pertumbuhan pembelian 0.30235

4 Petani mitra 0.36687

Masalah

1 Karyawan kurang inisiatif dan sudah jenuh 0.16222

2 Jenis produk berkurang 0.22826

3 Harga jual lebih tinggi dari pesaing 0.21641

4 Serangan hama dan anomali iklim 0.24966

5 Infrastruktur yang masih kurang baik di Indonesia 0.14345

Alternatif Strategi

1 Menyediakan produk sesuai demand 0.18357

2 Mengadakan training dan gathering untuk karyawan 0.21204

3 Smart promotion 0.17579

4 Melaksanakan produksi sesuai prosedur 0.22169

(26)

4.7.1 Prioritas Klaster Faktor

Hasil pada klaster faktor menunjukkan bahwa faktor petani mitra merupakan faktor yang paling penting dalam rangka peningkatan daya saing oleh PT Saung Mirwan. Saat ini, PT Saung Mirwan sudah memiliki banyak petani mitra yang sangat membantu perusahaan dalam pemenuhan pesanan customer. Bahkan sebagian besar sumber pasokan sayuran berasal dari kemitraan, yaitu sebesar 60%. Sisanya sebesar 20% berasal dari „pembelian terputus‟, yaitu pembelian dari pengepul, pasar, maupun petani non-mitra yang bersifat insidental. Sisanya lagi sebesar 20% berasal dari produksi perusahaan sendiri untuk beberapa jenis sayuran, seperti edamame dan beef tomato.

Selain itu, faktor jumlah pembeli dan tingkat pertumbuhan pembelian, faktor teknologi, serta faktor SDA dan lingkungan juga merupakan faktor yang penting. Hal ini sangat wajar melihat semakin meningkatnya konsumsi sayuran oleh masyarakat Indonesia sehingga akan berakibat pula pada semakin ketatnya persaingan dalam dunia bisnis sayuran. Oleh sebab itu, pihak PT Saung Mirwan harus cermat dan teliti dalam mengelola SDA dan keadaan lingkungan dengan menggunakan teknologi yang tepat.

Gambar 17. Prioritas klaster faktor 0,10713

0,22366 0,30235 0,36687

0 0,2 0,4 0,6 0,8 1

SDA dan lingkungan Teknologi Jumlah pembeli dan tingkat pertumbuhan pembelian

(27)

4.7.2 Prioritas Klaster Masalah

Hasil pada klaster masalah menunjukkan bahwa serangan hama dan anomali iklim merupakan masalah utama yang dianggap paling penting.

Serangan hama dan anomali iklim sangat berkaitan dalam hal budidaya yang pada akhirnya berimbas pada hasil produksi. Serangan hama dan anomali iklim yang tidak dapat ditangani dengan baik akan berakibat pada buruknya hasil yang didapat. Akan ada banyak produk yang cacat dan dibuang sehingga akan menurunkan penjualan.

Gambar 18. Prioritas klaster masalah

4.7.3 Prioritas Klaster Alternative

Gambar 19. Prioritas klaster alternative 0,16222 0,22826 0,21641 0,24966 0,14345 0 0,1 0,2 0,3 0,4

Karyawan kurang inisiatif dan sudah jenuh

Jenis produk berkurang Harga jual lebih tinggi dari pesaing Serangan hama dan anomali iklim Infrastruktur yang masih kurang baik di

Indonesia 0,18357 0,21204 0,17579 0,22169 0,20692 0 0,1 0,2 0,3 0,4

Menyediakan produk sesuai demand Mengadakan training dan gathering

untuk karyawan

Smart promotion Melaksanakan produksi sesuai prosedur Efisiensi biaya

(28)

Hasil pada klaster alternative menunjukkan bahwa alternatif strategi yang prioritasnya paling tinggi untuk dilakukan adalah strategi melaksanakan produksi sesuai prosedur (Gambar 19). Hal ini menunjukkan bahwa strategi melaksanakan produksi sesuai prosedur dipercaya mampu meningkatkan daya saing PT Saung Mirwan. Meskipun begitu, strategi mengadakan training dan gathering bagi karyawan dapat menjadi secondary strategy yang dapat mendukung secara simultan dengan strategi melaksanakan produksi sesuai prosedur.

Strategi efisiensi biaya merupakan strategi dengan prioritas berikutnya disusul dengan strategi menyediakan produk sesuai demand. Strategi selanjutnya adalah melakukan smart promotion. Meskipun prioritasnya paling kecil dibandingkan dengan alternatif strategi yang lain, namun strategi ini tetap merupakan strategi yang penting.

4.8. Implikasi Manajerial

Berdasarkan hasil analisis SWOT, didapatkan 5 (lima) alternatif strategi yang dapat diimplementasikan oleh PT Saung Mirwan untuk dapat meningkatkan daya saing perusahaan. Strategi melaksanakan produksi sesuai prosedur merupakan strategi yang dapat diimplementasikan oleh perusahaan. Dengan terlaksananya produksi sesuai prosedur akan dapat mengurangi atau bahkan menghindari kerusakan dan kecacatan yang disebabkan oleh serangan hama dan juga iklim yang berubah-ubah. Sehingga pada akhirnya akan berdampak positif pada terhindarnya pengeluaran biaya karena kegagalan proses dan/atau karena produk dibuang.

Strategi lain yang dapat diimplementasikan adalah dengan mengadakan training dan gathering bagi karyawan. Dengan adanya gathering bagi karyawan, akan me-refresh kembali semangat dan motivasi dari karyawan. Karena semangat dan motivasi yang tinggi akan berbanding lurus dengan produktivitas karyawan. Dan dengan produktivitas karyawan yang tinggi akan berdampak positif pada produktivitas perusahaan.

(29)

Pemberian training dimaksudkan untuk karyawan yang pekerjaannya membutuhkan skill tertentu. Terlebih jika pekerjaannya menyangkut pengoperasian teknologi yang terus menerus berkembang. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah pemberian training bagi karyawan dan para petani yang berada di bidang budidaya atau produksi. Hal ini dimaksudkan untuk memastikan mereka bekerja sesuai prosedur.

Efisiensi biaya merupakan strategi lain yang dapat diimplementasikan. Strategi efisiensi biaya harus dimulai dengan meminimalisir biaya yang dikeluarkan dalam melaksanakan kegiatan produksi dan operasional. Tingginya biaya yang dikeluarkan oleh PT Saung Mirwan disebabkan oleh adanya teknologi, yaitu mesin dan alat, yang membutuhkan biaya pemeliharaan dan overhead yang cukup tinggi. Meskipun teknologi merupakan hal yang penting dalam kelangsungan bisnis ini, namun biaya pemeliharaannya pun harus ditekan seminimal dan seefisien mungkin agar biaya total yang dikeluarkan pun menjadi lebih efisien.

Strategi menyediakan produk sesuai demand menjadi alternatif strategi selanjutnya. Menyediakan produk sesuai demand berarti menyediakan sayuran sesuai pesanan customer, baik dari segi kualitas, kuantitas, layanan, tepat waktu, dan sebagainya. Dengan selalu menyediakan produk sesuai demand, maka akan menjaga hubungan yang baik dengan para customer. Hubungan yang baik ini selaras dengan tumbuhnya kepercayaan yang tinggi dari para customer terhadap perusahaan. Dan hal ini dapat menjadi nilai tambah yang nantinya akan membuat posisi PT Saung Mirwan menjadi lebih unggul dibandingkan dengan perusahaan lain, di mata customer tersebut.

Strategi selanjutnya yang dapat diimplementasikan adalah melakukan smart promotion. Smart promotion dilakukan dengan cara bekerjasama dengan horeka (hotel, restoran, kafe) untuk mengadakan program edukasi, baik dalam bentuk demo masak maupun dalam bentuk pelatihan atau seminar mengenai sayuran dan pengolahannya. Hal ini selain dimaksudkan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai

(30)

sayuran, juga untuk menjelaskan kepada masyarakat mengenai keunggulan yang dimiliki oleh PT Saung Mirwan. Harga jual dari produk PT Saung Mirwan memang lebih tinggi jika dibandingkan dengan para pesaingnya, namun harga ini berbanding lurus dengan kualitas dari produk. Teknologi dan proses yang dilakukan oleh PT Saung Mirwan lebih baik dan lebih terjamin mutunya dibandingkan dengan beberapa perusahaan lain. Hal ini dikarenakan PT Saung Mirwan sudah menerapkan sistem HACCP dari proses budidaya, post-harvest handling, processing, hingga sampai ke consumer sehingga mutu produknya terjamin.

Gambar

Gambar 13. Pola aliran dalam rantai pasokan di PT Saung Mirwan (PT Saung  Mirwan, 2012) 2 1 2 2 2  4 3  3 3  5 5  6
Gambar 14. Analisis daya saing agribisnis sayuran di Indonesia
Tabel 8. Matriks SWOT PT Saung Mirwan  KEKUATAN (S)  1. Teknologi tepat guna  2. Brand produk Saung
Gambar 15. Kerangka strategi peningkatan daya saing PT Saung Mirwan SDA
+3

Referensi

Dokumen terkait

antara jarak mahalanobis dengan chi-square. Jika scatter-plot membentuk garis lurus dan lebih dari 50% nilai jarak mahalanobis kurang dari atau sama dengan chi-square,

Penelitian ini berusaha mengetahui apakah tingkat kesadaran khalayak pada penempatan produk Nokia 5800 XpressMusic di video klip Britney Spears - Womanizer

&idak hanya +anjir Polusi pun akan berdampak akibat adanya pembangunan sebuah Mall diantaranya Polusi $dara. "etelah adanya pembangunan Mall otomatis )ilayah tersebut akan

Dari uraian diatas dapat kita ambil salah satu contoh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) kabupaten HSU merupakan lembaga yang berwenang melakukan tugas

Sedangkan untuk menyatakan suatu model fit, karena hanya ada tiga item pengukuran, dengan sendirinya merupakan model yang just identified, dan merupakan model yang fit sempurna.

Disamping itu pada kondisi pemeliharaan ayam buras saat ini dimana peternak sudah melaksanakan pemeliharaan di kandang batere untuk tujuan memproduksi telur konsumsi, maka dengan

Pengambilan sampel pada penelitian ini berdasarkan pendapat Supranto (2001) bahwa untuk memperoleh hasil baik dari suatu analisis faktor, maka jumlah responden yang diambil

Dari data penelitian ini juga dapat disimpulkan bahwa investor lebih. baik tidak melakukan investasi ke perusahaan jika DER >