BAB 1 PENDAHULUAN. Dalam bab ini, penulis akan membahas mengenai latar belakang penelitian, rumusan masalah serta tujuan dari penelitian ini.

Teks penuh

(1)

BAB 1

PENDAHULUAN

Dalam bab ini, penulis akan membahas mengenai latar belakang penelitian, rumusan masalah serta tujuan dari penelitian ini.

1.1 Latar Belakang

Sekolah Menengah Atas (SMA) adalah salah satu tempat pendidikan untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki individu baik dalam segi kognitif, afektif, maupun psikomotor melalui proses pembelajaran yang dilakukan di sekolah (dalam Tuparia, 2014). Pendidikan mempunyai berbagai macam jalur, salah satunya dengan pendidikan di sekolah dapat kegiatan belajar mengajar didalam maupun di luar kelas. Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 71 Jakarta merupakan Sekolah Menengah Atas yang berada di wilayah Jakarta Timur, pendirian sekolah ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan akan pendidikan di wilayah Jakarta Timur terutama di wilayah Duren Sawit (Kecamatan Jatinegara), Kelurahan Duren Sawit. Sekolah ini berdiri pada tanggal 30 Juli 1983 dengan luas tanah/bangunan 4800M dengan NIS/NSS:

30067/301016403072 dan diresmikan pada tanggal 7 Agustus 1983 (Enggar, 2017). Jumlah siswa di sekolah ini berjumlah 864 orang, yang terdiri dari 24 kelas X, XI,XII dan dibagi menjadi 4 kelas. Berdasarkan Peraturan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan No 69 Tahun 2013 siswa SMA dibagi menjadi berdasarkan kelas IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) dan MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam) di setiap jenjangnya. Pada umumnya sekolah negeri memiliki tiga jenis kegiatan kurikulum yaitu kegiatan intrakurikuler, kegiatan kokurikuler, dan kegiatan ekstrakurikuler (Fatmala & Nurwidawati, 2016). Kegiatan intrakurikuler adalah kegiatan yang dilakukan oleh sekolah yang sudah jelas, teratur, dan terjadwal dengan sistematik yang merupakan program utama dalam proses mendidik siswa. Kegiatan kokurikuler adalah kegiatan yang menunjang dan membantu kegiatan intrakurikuler siswa. Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan yang dilaksanakan di luar jam pelajaran biasa (di luar intrakurikuler).

(2)

Menurut Peraturan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan no 62 tahun 2014 (dalam Azizah, 2014) Kegiatan ekstrakurikuler dilakukan oleh peserta didik di bawah bimbingan dan pengawasan satuan. Tujuan utama dari kegiatan ekstrakurikuler adalah untuk mengembangkan bakat dan minat dari para siswa melalui kegiatan-kegiatan tertentu yang ada di dalam sekolah maupun di luar yang tidak tercantum di dalam kurikulum pendidikan (Yudistiro, 2016). Kegiatan ekstrakurikuler sangat membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan interaksi sosial dengan teman, guru, serta orang lain yang ada di sekitar mereka. Kegiatan ekstrakurikuler yang ada di SMAN 71 sebanyak 22 macam jenis kegiatan ekstrakurikuler yang bersifat aktif, yaitu Paskibra, Palang Merah Remaja (PMR), Mading, silat, taekwondo, karate, Rohani Katolik (Rohkat) – Rohani Kristen (Rohkris), Rohis, Basket, Futsal, Badminton, Paduan Suara (Padus), Band, Angklung, Drumband, Tari Salsa, Tari Saman, Karya Ilmiah Remaja (KIR), Ilmu Computer (ICT), Fotografi, Nihon, dan English club.

Kegiatan ekstrakurikuler di SMAN 71 Jakarta memiliki jenis kegiatan ekstrakurikuler dengan prestasi olahraga terbaik contohnya adalah pada bidang olahraga basket yang telah berhasil menjuarai Loop 3X3 Competition National Championship 2015 dan 2016 pada kompetisi DBL dengan hadiah tiket keluar negeri yaitu ke Amerika, juara 2 runner up,juara 1 basket putra dan putri Sejabodetabek di SMA Diponegoro,JIS Cup, SMAN 107, dan juga prestasi di bidang solo vocal, band, dan paduan suara yang juga meraih prestasi dalam rangka 10th National Folklore Festival UI dan Symphony of Trilogi Universitas Trisakti. Pencak silat, PMR, Lomba Tari Saman, dan kegiatan ekstrakurikuler lainnya juga banyak mendapat prestasi di bidangnya masing-masing (dalam Enggar, 2017).

Masalah-masalah yang sering terdapat di sekolah adalah drop out (Papalia, Olds, & Feldman, 2008), bullying, berkelahi (Santrock, 2018), jalan – jalan di mall, main game online, serta nongkrong dengan teman – teman yang mengakibatkan tugas – tugas terbengkalai (Bintarangningtyas, 2015). Selain itu, Ferrari (dalam Ghufron, 2010, dalam Widyari, 2012) menyebutkan sekitar 25% sampai dengan 75% dari pelajar melaporkan bahwa prokrastinasi merupakan salah satu masalah dalam lingkup akademis mereka. Hasil tersebut didukung oleh Widyari (2012) yang menemukan bahwa prokrastinasi atau penundaan merupakan salah satu masalah yang menimpa sebagian besar anggota

(3)

masyarakat dan pelajar pada lingkungan yang lebih kecil, seperti sebagian pelajar diluar negeri.

Prokrastinasi berasal dari bahasa latin “procrastination” dengan awalan “pro” yang berarti mendorong maju atau bergerak maju dan “crastinus” yang berarti keputusan hari esok, yang jika digabungkan bermakna menunda sampai hari berikutnya (Ghufron & Risnawita, 2014). Prokrastinasi yang terjadi pada area akademik disebut sebagai prokrastinasi akademik (Chriswanto, 2016). Beberapa penelitian memaparkan banyaknya prokrastinasi akademik yang dilakukan oleh pelajar. Menurut Alinda (2006, dalam Pradini, 2014), perilaku yang sering di lakukan adalah bermain sepulang sekolah 70%, malas mengerjakan tugas 40% dan bolos sekolah 37%. Selain itu menurut hasil penelitian Desandi (2007, dalam Pradini, 2014), sebanyak 47% siswa yang menjadi responden (78 orang) melakukan penundaan tugas akademik pada seluruh area prokrastinasi.

Solomon dan Rothblum (1984, dalam Chriswanto, 2016) menyebutkan bahwa prokrastinasi merupakan kecenderungan menunda memulai menyelesaikan suatu tugas dengan melakukan aktivitas lain yang tidak berguna sehingga tugas menjadi terhambat, tidak selesai tepat waktu, dan sering terlambat dalam mengumpulkanya. Mereka juga menjelaskan bahwa terdapat enam area akademik, yaitu tugas membuat laporan, tugas belajar menghadapi ujian, tugas membaca mingguan, tugas administratif (mengambil kartu studi, mengembalikan buku, dan membaca pengumuman), tugas kehadiran (membuat janji dan bertemu dosen untuk tutorial, tugas kehadiran (membuat janji dan bertemu dosen untuk tutorial) dan tugas akademik secara umum. Para siswa yang memiliki perilaku prokrastinasi akademik memberikan pengaruh pada strategi belajar siswa secara mandiri siswa. Lemahnya dalam mengatur atau membagi waktu mengakibatkan siswa kesulitan dalam menentukan jadwal kapan mereka akan mengerjakan tugas dan tergesa-gesa pada saat mengumpulkan. Guru dapat mengawasi cara belajar siswa saat pembelajaran di dalam kelas. Namun, ketika diluar kelas, siswa dituntut untuk belajar secara mandiri agar mereka mampu mengintegrasikan pengetahuan di sekolah dengan kegiatan-kegiatanya di luar sekolah (Fatmala & Nurwidawati, 2016).

Menurut University Of Buffalo Counseling Service (2010, dalam Santrock, 2011) alasan para siswa yang melakukan prokrastinasi akademik adalah buruknya

(4)

manajemen waktu, sulitnya konsentrasi, rasa takut dan cemas, kepercayaan yang negatif, masalah personal (masalah keuangan, masalah dengan pacar, dan lainsebagainya), rasa bosan, ekspektasi yang tidak realistis, dan perfectionist (percaya bahwa kamu harus membaca semua yang tertulis pada materi sebelum kamu mulai menulis paper), rasa takut gagal (berpikir bahwa jika tidak dapat a, maka kamu gagal).

Penulis melakukan wawancara sebagai studi pendahuluan dengan wakil kepala sekolah bagian kesiswaan, guru mata pelajaran, dan 8 siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Dalam hal ini penulis menemukan suatu fenomena mengenai perbedaan antara siswa yang mengikuti ekstrakurikuler, khususnya antara siswa yang mengikuti ekstrakurikuler olahraga dan bahasa. Hal tersebut didapatkan dari hasil wawancara pada tanggal 10 Mei 2017 dengan ibu Y wakil kepala sekolah bagian kesiswaan bahwa terdapat siswa yang melakukan penundaan tugas seperti tidak mengerjakan PR serta telat dalam mengumpulkan tugas dimana menurut beliau siswa SMAN 71 melakukan penundaan tugas di sekolah disebabkan karena padatnya jadwal latihan untuk menuju perlombaan dalam bidang olahraga. Siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler kurang optimal dalam memenuhi kegiatan intrakurikuler atau kegiatan akademiknya. Akibatnya, tugas mereka menumpuk dan terlambat dalam mengumpulkan tugas. Sebaliknya, dalam kegiatan ekstrakurikuler bahasa, kegiatan lomba sangat sedikit jumlahnya atau musiman. Kondisi tersebut membuat para siswa anggota kegiatan ekstrakurikuler bahasa dapat mengumpulkan tugas atau pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru dengan tepat waktu.

Berdasarkan survey awal yang dilakukan oleh penulis, beberapa siswa di SMAN 71 Jakarta yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler terkadang meninggalkan proses kegiatan pembelajaran di dalam kelas dan terlambat dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru-guru pelajaran di kelas. Banyak siswa yang mengatakan bahwa kegiatan ekstrakurikuler sebenarnya tidak mengganggu kegiatan belajar mereka. Namun, mereka lemah dalam mengatur waktu untuk kegiatan mereka. Mereka sulit membagi waktu antara kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Para siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler telah mendapatkan persetujuan dari para orang tua karena memiliki beberapa dampak positif, yaitu anak menjadi aktif, menambah kegiatan, memperluas pertemanan serta pengalaman berorganisasi, serta mengekspresikan kreativitas sang anak. Mereka memiliki jadwal ekstrakurikuler sekali

(5)

dalam seminggu atau paling banyak 3 kali dalam seminggu, selain kegiatan belajar di sekolah. Mereka juga mengatakan bahwa mereka memiliki kegiatan lain selain di sekolah, yaitu kegiatan les atau bimbingan belajar (bimbel), bermain bersama teman, dan juga kegiatan di rumah ibadah seperti gereja.

Salah satu siswa bernama N, seorang anggota Basket Putri mengatakan bahwa kegiatan ekstrakurikuler terkadang mengganggu karena ia pulang malam dan merasa lelah ketika mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Namun, hal tersebut tidak terlalu sering dirasakan karena kegiatan ekstrakurikuler dan mata pelajaran saling melengkapi. Siswa W, seorang anggota Basket Putra juga mengungkapkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler tidak mengganggu, tetapi tertundanya tugas disebabkan karena dirinya malas akibat pulang latihan terlalu malam. Siswa C anggota Futsal mengatakan bahwa ia mengikuti ekstrakurikuler karena hobi. Ia juga mengungkapkan ketika harus mengerjakan tugas, ia tidak langsung mengerjakan tugasnya melainkan menundanya dan lebih senang berkumpul dengan teman-teman di daerah sekolah maupun rumahnya. Ia pun lebih senang melihat tugas teman di sekolah. Sebaliknya A, anggota English Club (bahasa inggris) mengatakan bahwa ia mengikuti kegiatan ekstrakurikuler karena suka terhadap kegiatan ekstrakurikulernya. Ketika ditanya mengenai tugas akademik dari guru di kelas, A mengatakan bahwa terkadang ia langsung mengerjakan tugas yang diberikan guru bersama dengan teman jika sedang malas mengerjakanya sendiri, ataupun mendiskusikannya bersama teman pada saat kegiatan ekstrakurikuler telah berlangsung di sekolah.

Bila melihat permasalahan diatas, maka dapat terlihat bahwa siswa yang mengikuti ekstrakurikuler olahraga cenderung lebih suka menunda-nunda tugasnya dan sulit mengatur waktu dibandingkan dengan siswa yang mengikuti ekstrakurikuler bahasa. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mengkaji apakah terdapat perbedaan prokrastinasi akademik yang signifikan pada siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler olahraga dan kegiatan ekstrakurikuler bahasa di SMA Negeri 71 Jakarta.

(6)

1.2 Rumusan Masalah

Apakah terdapat perbedaaan prokrastinasi akademik yang signifikan pada siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler olahraga dan kegiatan ekstrakurikuler bahasa di SMA Negeri 71 Jakarta?

1.3 Tujuan Penelitian

Untuk melihat ada tidaknya perbedaaan prokrastinasi akademik yang signifikan pada siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler olahraga dan kegiatan ekstrakurikuler bahasa di SMA Negeri 71 Jakarta.

(7)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :