SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (Strata 1)
Oleh :
DEFNOL GUSNAIDI NIM. 13110015
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SUMATERA BARAT
PADANG 2017 SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (Strata 1)
Oleh :
DEFNOL GUSNAIDI NIM. 13110015
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SUMATERA BARAT
PADANG 2017 SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (Strata 1)
Oleh :
DEFNOL GUSNAIDI NIM. 13110015
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SUMATERA BARAT
PADANG 2017
i
Program Studi Pendidikan Fisika, STKIP PGRI Sumatera Barat, Padang, 2017.
Hasil belajar merupakan suatu kompetensi yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti proses pembelajaran. Kompetensi tersebut dilihat dari pemahaman siswa terhadap penguasaan materi yang diajarkan. Namun pemahaman siswa tersebut masih kurang, sehingga berdampak pada hasil belajar fisika siswa. Untuk mengatasi hal tersebut dibutuhkan suatu model pembelajaran yaitu menerapkan model guided discovery.
Jenis penelitian ini adalah quasi ekperiment, dengan rancangan penelitian posttest only control group design. Pengambilan sampel dilakukan dengan cluster random sampling. Pada penelitian ini data hasil belajar fisika siswa dilihat dalam ranah kognitif dan afektif. Pada ranah kognitif pengambilan data berupa tes essay dan pada ranah afektif penilaian menggunakan lembar aktivitas.
Berdasarkan hasil analisis data diketahui bahwa kedua kelas sampel berdistribusi normal dan mempunyai variansi yang homogen, artinya pengujian hipotesis dalam penelitian ini digunakan uji . Hasil uji hipotesis diperoleh = 0,25 lebih kecil dari = 1,67 pada taraf nyata 0,05, maka hipotesis pada penelitian ini ditolak . Ini berarti hasil belajar yang diperoleh pada kelas eksperimen sama dengan hasil belajar kelas kontrol. Begitu juga terlihat pada ranah afektif rata-rata aktivitas siswa kelas ekperimen VIII.2 tidak jauh beda dengan rata-rata kelas kontrol VIII.1, yaitu rata-rata pada kelas eksperimen 66,54 dan kelas kontrol 62,96. Secara signifikan kemampuan pemahaman kelas eksperimen sama dengan kelas kontrol, sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil belajar fisika siswa dalam menerapkan model penemuan terbimbing (guided discovery) sama dengan hasil belajar fisika siswa dengan menerapkan pembelajaran konvensional pada materi getaran dan gelombang kelas VIII SMP Negeri 1 Ranah Pesisir.
ii
menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Pengaruh Penerapan Model Penemuan Terbimbing (Guided Discovery) terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Ranah Pesisir.
Skripsi ini ditulis untuk memenuhi sebagian persyaratan untuk mendapatkan gelar sarjana di Program Studi Pendidikan Fisika STKIP PGRI Sumatera Barat. Dalam pelaksanaan penelitian dan penulisan skripsi ini, penulis telah banyak menerima bantuan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. Ibu Dra. Hj. Husna, M.Si., sebagai Ketua Program Studi Pendidikan Fisika, sekaligus pembimbing I yang telah meluangkan waktunya dalam proses bimbingan, memberikan arahan dan bantuan kepada penulis sehingga selesai pelaksanaan penelitian dan penulisan skripsi ini.
2. Ibu Auliya Hidayati, M.Pd., sebagai Pembimbing Akademik dan sekaligus Pembimbing II yang selalu memberikan waktu luangnya dalam proses bimbingan serta motivasi dan semangat sehingga skripsi ini selesai dengan baik.
3. Ibu Silvi Trisna, M.Pd., Ibu Aidhia Rahmi, M.Sc., Ibu Megasyani Anaperta, M.Pd., sebagai penguji yang sudah menyediakan waktu dan pikiran untuk memberikan arahan dan saran kepada penulis.
iii
6. Kepala sekolah SMP Negeri 1 Ranah Pesisir Bapak Yulmedia, M.Pd 7. Kepala sekolah SMP Negeri 2 Ranah Pesisir Bapak Rajab, S.Pd 8. Guru IPA SMP Negeri 1 Ranah Pesisir Ibu Jasni Elti, S.Pd 9. Guru IPA SMP Negeri 2 Ranah Pesisir Ibu Enna Erlita, S.Pd
10. Bapak dan Ibu staf pengajar dan tata usaha SMP Negeri 1 Ranah Pesisir 11. Bapak dan Ibu staf pengajar dan tata usaha SMP Negeri 2 Ranah Pesisir 12. Rekan-rekan seperjuangan Program Studi Pendidikan Fisika STKIP PGRI
Sumatera Barat angkatan 2013 yang telah memberikan semangat dalam penulisan skripsi ini.
13. Pihak-pihak lain yang terkait secara tidak langsung sudah membantu dalam penyelesaian skripsi ini.
Semoga bimbingan dan saran yang Bapak/Ibu dan rekan-rekan berikan menjadi amal ibadah dan mendapat pahala yang setimpal dari Allah SWT. Amin ya rabbal allamin. Penulis mengharapkan semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca serta dapat dijadikan sumbangan pemikiran dalam dunia pendidikan khususnya pendidikan fisika.
Padang, Agustus 2017
iv HALAMAN PENGESAHAN ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... iv DAFTAR TABEL... vi
DAFTAR GAMBAR... viii
DAFTAR LAMPIRAN... ix
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1
B. Identifikasi Masalah... 5
C. Pembatasan Masalah... 5
D. Perumusan Masalah... 6
E. Tujuan Penelitian... 6
F. Kegunaan Penelitian... 7
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Deskripsi Teori dan Penelitian yang Relevan... 8
B. Kerangka Pikir... 22
C. Hipotesis Penelitian... 23
BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian... 24
v
E. Instrumentasi dan Teknik Pengumpulan Data... 29
F. Teknik Analisis Data... 38
BAB IV HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Data... 43 B. Analisis Data... 44 C. Pembahasan... 47 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan... 67 B. Saran... 68 KEPUSTAKAAN... 69 LAMPIRAN... 71
vi
2016/2017... 3
2. Tahap-Tahap Kegiatan Penemuan... 12
3. Pengelompokan Berdasarkan Kemampuan Akademik... 18
4. Rancangan Penelitian... 25
5. Jumlah Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Ranah Pesisir Tahun Pelajaran 2016/2017... 26
6. Tabel Nilai dan Pada Kelas Populasi... 28
7. Contoh Pedoman Penskoran Soal Berupa Tes Essay... 30
8. Kriteria Tingkat Kesukaran Soal... 32
9. Kriteria Daya Pembeda Soal... 33
10. Aktivitas siswa yang Diamati... 35
11. Lembar Observasi Hasil Belajar Ranah Afektif... 35
12. Skenario Pembelajaran pada Kelas Ekperimen dan Kelas Kontrol.. 37
13 Kategori Penilaian Afektif... 42
14 Perhitungan Rata-Rata ( ̅), Simpangan Baku (S), Skor Tertinggi ( ) Dan Skor Terendah ( )... 43
15. Uji Normalitas Sampel... 44
16 Hasil Uji Homogenitas Kedua Kelas Sampel... 45
17. Hasil Uji Hipotesis ... 46
vii
2. Tahap 1 Permaslahan LKS Guided Discovery Pertemuan Pertama.... 48
3. Tahap 2 Merumuskan Hipotesis... 49
4. Tabel Data Kegiatan... 50
5. Analisis Data Tabel... 51
6. Pertanyaan LKS... 52
7. Tahap 3 Mengevaluasi Kegiatan Penemuan... 53
8. Tahap 1 Menjelaskan Tujuan dan Merumuskan Masalah LKS guided discovery pada pertemuan kedua... 54 9. Tahap 2 Merumuskan hipotesis... 55
10. Analisis Kegiatan... 56
11. Tahap 3 Mengevaluasi Kegiatan... 57
12. Tahap 1 Dan Tahap 2 Merumuskan Masalah dan Hipotesis LKS Guided Discovery Pertemuan Ketiga... 58 13. Tahap 3 Evaluasi Kegiatan... 59
14. LKS Kelas Kontrol... 61
15. Jawaban Tes Akhir Siswa Berkemampuan Tinggi di Kelas Ekperimen... 64 16. Jawaban Tes Akhir Siswa Berkemampuan Tinggi di Kelas Kontrol... 65 17. Jawaban Tes Akhir Siswa Berkemampuan Rendah di Kelas Ekperimen... 65
18. Jawaban Tes Akhir Siswa Berkemampuan Rendah di Kelas Kontrol... 66 19. Menjelaskan Tujuan Kegiatan Pembelajaran Di Kelas Eksperimen... 167
viii
22. Guru Membimbing Siswa dalam Melakukan Kegitan Penemuan yang sudah Dilakukan...
168
23. Mempresentasikan Hasil Kegiatan di depan Kelas... 169
24. Membimbing Siswa Menyimpulkan Materi Kegiatan... 169
25. Guru Menjelaskan Tujuan Kegiatan Pembelajaran di kelas Kontrol.. 170
26. Guru Menjelaskan Materi Pelajaran... 170
27. Siswa Membahas Permasalahan yang Ada Dalam Lembar Kegiatan... 171 28. Siswa Melakukan Kegiatan Pratikum... 171
29. Guru Membimbing Siswa dalam Melakukan Kegiatan... 172
30. Siswa Mempresentasikan Hasil Kegiatan... 172
31. Melakukan Uji Coba Soal di SMP 2 Ranah Pesisir... 173
32. Melakukan Tes Akhir pada Kelas Ekperimen... 173
ix
2. Uji Normalitas Populasi... 72
3. Uji F Homogenitas Populasi... 77
4. Jadwal Penelitian... 78
5. Pembentukan Kelompok Kelas Sampel... 79
6. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)... 80
7. Lembar Kegiatan Siswa... 101
8. Kisi-Kisi Soal Uji Coba Tes Akhir... 129
9 Soal Uji Coba Tes Akhir... 131
10. Distribusi Nilai Uji Coba Tes Akhir Kelas Atas dan Kelas Bawah... 133
11. Analisis Tingkat Kesukaran Soal... 134
12. Analisis Daya Pembeda Soal... 136
13. Perhitungan Reliabilitas Soal... 138
14. Lembar Aktivitas Siswa... 140
15. Hasil Belajar Aktivitas Fisika Siswa Kelas VIII... 158
16. Hasil Belajar Aktivitas Siswa Setiap Indikator... 159
17. Soal Tes Akhir... 160
18. Nilai Tes Akhir... 162
19. Uji Normalitas Sampel... 163
20. Uji Homogenitas Sampel... 165
1
IPA adalah ilmu yang mempelajari gejala-gejala alam yang meliputi makhluk hidup dan makhluk tak hidup. Menurut Trianto (2007 : 99), IPA berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Salah satu cabang dasar IPA yang dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia adalah mata pelajaran fisika
Fisika merupakan salah satu bagian ilmu alam yang penting dan perlu dipelajari, karena fisika dapat meningkatkan kemampuan berpikir yang berguna untuk memecahkan masalah dalam kehidupan. Proses pembelajaran fisika menekankan pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi siswa agar dapat memahami alam sekitar secara alamiah. Siswa diarahkan untuk menggunakan kemampuan berpikirnya dalam mengidentifikasi masalah, mengolah masalah dan menyimpulkan masalah yang ada sehingga memperoleh pemahaman yang mendalam tentang alam sekitar.
Menyadari betapa begitu pentingnya peranan fisika dalam kehidupan dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi, maka perlu usaha dari berbagai pihak untuk meningkatkan mutu pendidikan fisika. Salah satu usaha yang dliakukan pemerintah yaitu perbaikan kurikulum dan peningkatan guru melalui kegiatan pelatihan dan penataran. Sebagai pendidik, guru memegang peranan penting
dalam mengembangkan mutu pendidikan, karena guru adalah penentu dan penunjuk arah jalannya pendidikan.
Berdasarkan hasil observasi yang sudah dilakukan pada tanggal 16-19 Januari 2017 di SMP Negeri 1 Ranah Pesisir pembelajaran fisika di sekolah, guru melakukan proses pembelajaran hanya melalui penyampaian informasi bukan melibatkan siswa menjadi aktif. Begitu juga wawancara dengan beberapa siswa diperoleh informasi bahwa siswa kurang tertarik dengan pembelajaran fisika dan juga beberapa siswa menganggap pelajaran fisika itu sulit dan membosankan.
Hal ini disebabkan pembelajaran masih didominasi oleh guru dan dalam pembelajaran guru hanya memperhatikan siswa yang aktif. Akibatnya siswa yang lain tidak mempunyai kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya untuk memecahkan permasalahan yang ada. Sehingga dengan pembelajaran yang dilakukan berpengaruh kepada hasil belajar fisika siswa.
Berdasarkan permasalahan terlihat, kenyataannya di sekolah hasil belajar fisika siswa masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari nilai ulangan harian fisika semester II siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Ranah Pesisir tahun pelajaran 2016/2017 pada tabel 1.
Tabel 1. Persentase Ketuntasan Ulangan Harian Fisika Semester II Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Ranah Pesisir Tahun Pelajaran 2016/2017
Kelas
Jumlah Siswa Jumlah
Siswa
Tuntas Tidak Tuntas
Jumlah % Jumlah % VIII.1 14 51,85 13 48,15 27 VIII.2 16 53,33 14 46,67 30 VIII.3 14 45,16 17 54,83 31 VIII.4 8 25 24 75 32 VIII.5 0 0 28 100 28 Jumlah 52 96 148
Sumber : Guru Mata Pelajaran Fisika SMP Negeri 1 Ranah Pesisir
Tabel 1 memperlihatkan bahwa jumlah siswa yang tuntas lebih sedikit dari siswa yang tidak tuntas. Terlihat bahwa sebagian besar nilai ulangan harian fisika siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Ranah Pesisir masih berada dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan sekolah yaitu 75. Hal ini menunjukkan bahwa hasil fisika siswa masih rendah dan juga belum mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.
Keberhasilan proses kegiatan belajar mengajar pada pembelajaran fisika dapat dilihat dari tingkat pemahaman, penguasaan materi serta hasil belajar. Hal ini diasumsikan bahwa semakin tinggi pemahaman dan penguasaan materi serta hasil belajar, maka semakin tinggi pula tingkat keberhasilan siswa. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar fisika siswa adalah menerapkan model guided discovery.
Model guided discovery salah satu model yang menekankan siswa untuk menemukan sendiri konsep tersebut, dimana siswa dibimbing oleh guru untuk belajar menemukan sendiri dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir menggunakan kemampuan sendiri untuk menemukan hasil akhir.
Menurut Markaban kelebihan dari model ini siswa dapat berpartisipasi aktif dalam pembelajaran dan sekaligus menanamkan sikap inquiry (mencari-menemukan), dengan demikian siswa akan menggunakan kemampuanya sendiri dalam menyelesaikan suatu masalah yang diberikan oleh guru.
Dalam model pembelajaran ini peran siswa sangat besar karena pembelajaran tidak terpusat lagi oleh guru tetapi pada siswa. Guru memulai kegiatan belajar mengajar dengan menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan siswa dan mengorganisir kelas untuk kegiatan seperti pemecahan masalah, investigasi atau aktivitas lainnya.
Pemecahan masalah merupakan suatu tahap yang penting dan menentukan dalam sebuah kegiatan yang mana dapat dilakukan secara berkelompok karena dalam pembelajaran ini menggunakan pembelajaran kelompok. Dalam kegiatan pembelajaran kelompok siswa diikutsertakan dan berperan aktif dalam kegiatan pemecahan masalah yang sudah diberikan oleh guru, diharapkan dengan adanya pola pembelajaran seperti ini dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah yang ada sehingga siswa mampu bekerja sama dengan teman sekelompoknya.
Penggunaan model ini peneliti melaksanakanya pada salah satu materi pembelajaran fisika kelas VIII yaitu Getaran dan Gelombang. Materi Getaran dan Gelombang Termasuk pembelajaran yang sulit padahal banyak ditemukan dalam kehidupan. Model pembelajaran ini dilengkapi dengan penggunaan Lembar Kegiatan Siswa (LKS). Lembar kegiatan siswa adalah lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan siswa. Lembaran kegiatan biasanya berupa petunjuk
atau langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu tugas. LKS dalam kegiatan pembelajaran bertujuan untuk memperkaya pengetahuan siswa.
Model guided discovery ini, diharapkan mampu membuat siswa menguasai materi pembelajaran dengan baik, tujuan pembelajaran dapat tercapai dan terjadi interaksi antara siswa melalui diskusi kelompok dan penyelasaiannya dilakukan secara bersama. Judul dari penelitian ini adalah “Pengaruh Penerapan Model Penemuan Terbimbing (Guided Discovery) terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Ranah Pesisir.
A. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat diidentifikasi masalah pembelajaran fisika di kelas VIII SMP Negeri 1 Ranah Pesisir sebagai berikut ini. 1. Proses pembelajaran masih didominasi pada guru, sehingga siswa kurang
terlibat aktif dalam pembelajaran.
2. Siswa menganggap pelajaran fisika itu sulit dan membosankan dikarenakan guru hanya terpusat pada siswa yang pintar saja.
3. Siswa kurang termotivasi untuk mengikuti pembelajaran fisika, sehingga hasil belajar fisika siswa masih rendah.
B. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang dikemukakan, mengingat keterbatasan kemampuan yang dimiliki peneliti agar penelitian ini lebih terarah dan mencapai tujuan yang diharapkan, maka batasan masalah yang diteliti difokuskan pada:
1. Materi pembelajaran yang dilakukan pada penelitian ini adalah materi Getaran dan Gelombang.
2. Model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah model guided discovery.
3. Hasil belajar dari penelitian ini dilihat pada ranah kognitif dan ranah afektif. C. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dan pembatasan masalah, maka rumusan masalah yang diteliti adalah sebagai berikut “Apakah hasil belajar fisika siswa menerapkan model pembelajaran guided discovery lebih baik dari pada hasil belajar fisika siswa dengan menerapkan pembelajaran konvensional siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Ranah Pesisir?.
D. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian bertujuan untuk mengetahui apakah hasil belajar fisika siswa menerapkan model guided discovery lebih baik dari pada hasil belajar fisika siswa dengan menerapkan pembelajaran konvensional siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Ranah Pesisir.
E. Kegunaan Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian, maka kegunaan dari hasil penelitian ini adalah :
1. Sebagai bekal pengetahuan dan pengalaman bagi peneliti untuk menjadi calon guru fisika.
2. Sebagai bahan pertimbangan bagi guru fisika khususnya guru Fisika SMPN 1 Ranah Pesisir dalam menerapkan model pembelajaran guided discovery 3. Sebagai sumbangan pemikiran dan masukan untuk memperkaya terutama
8 1. Pembelajaran Fisika
Belajar merupakan kegiatan aktif siswa dalam membangun makna atau pemahaman. Istilah belajar berarti suatu proses perubahan sikap dan tingkah laku setelah terjadinya interaksi antara siswa dengan sumber belajar. Pembelajaran merupakan suatu upaya menciptakan kondisi siswa untuk belajar. Menurut Dimyati dan Mudjiono (2002:157) menyatakan bahwa: “pembelajaran adalah proses yang diselenggarakan oleh guru untuk membelajarkan siswa dalam belajar bagaimana belajar memperoleh dari memproses pengetahuan, keterampilan, dan sikap”. Jadi belajar dan pembelajaran adalah kegiatan aktif yang dilakukan oleh siswa dimana memperoleh hasil berupa pengetahuan, keterampilan dan sikap.
Pembelajaran fisika adalah pembelajaran yang tidak mengabaikan hakikat fisika sebagai sains (Taufik, 2010). Hakikat sains yang dimaksud meliputi produk, proses dan sikap ilmiah. Pembelajaran fisika seharusnya dapat memberikan pengalaman langsung pada siswa sehingga menambah kemampuan dalam mengkontruksi, memahami, dan menerapkan konsep yang telah dipelajari. Begitu juga dengan penerapannya pembelajaran fisika perlu diajarkan tujuan yang lebih khusus yaitu dengan membekali siswa dengan pengetahuan, pemahaman dan sejumlah kemampuan yang berguna untuk memecahkan suatu masalah. Mata pelajaran ini menuntut kemampuan siswa untuk berfikir dalam memahami suatu
penyelesaian yang mana dalam kegiatan siswa hendaknya membiasakan diri dengan sikap ilmiah seperti rasa ingin tahu, kerja sama, dan terbuka.
Berdasarkan pernyataan di atas dapat disimpulkan pembelajaran fisika adalah pembelajaran yang menekankan siswa untuk menggunakan kemampuan pola fikirnya sehingga dengan kemampuan yang dimilikinya tersebut bisa menyelesaikan suatu masalah yang ada dengan memperoleh hasil akhir dari kegiatan penyelesaian masalah tersebut.
2. Model Penemuan Terbimbing (Guided Discovery)
Model pembelajaran adalah suatu cara atau teknik guru membuat suasana di kelas menjadi aktif dan menyenangkan dalam proses pelaksanaan pembelajaran. Menurut Istarani (2012:1) menyatakan bahwa “model pembelajaran adalah seluruh rangkaian penyajian materi ajar yang meliputi segala aspek sebelum sedang dan sesudah pembelajaran yang dilakukan guru serta segala fasilitas yang terkait yang digunakan secara langsung atau tidak langsung dalam proses belajar mengajar”. Dari kutipan dapat disimpulkan model pembelajaran adalah pola yang digunakan di dalam kelas yang sudah dirancang oleh guru agar pelaksanaan pembelajaran menjadi aktif dan menyenangkan.
Menurut Suprihatiningrum (2013:242) mengemukakan bahwa pembelajaran penemuan mempunyai kaitan intelektual yang jelas dengan pembelajaran berdasarkan masalah. Markaban (2008: 10) belajar dengan penemuan adalah belajar untuk menemukan, dimana seorang siswa dihadapkan dengan suatu masalah atau sistuasi yang tampaknya ganjil sehingga siswa dapat mencari jalan pemecahan. Menurut Wilcolx (Suprihatiningrum 2013:241) mengatakan bahwa
dalam pembelajaran penemuan, siswa di dorong untuk belajar aktif melalui keterlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep-konsep, prinsip-prinsip dan guru mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri. Ini berarti dalam proses pembelajaran, siswa menemukan suatu hal yang baru namun sudah diketahui oleh orang lain (guru) dan juga dalam pembelajaran penemuan dapat dilakukan secara (terpimpin) terbimbing.
Berdasarkan kutipan diatas dapat disimpulkan bahwa dalam pembelajaran penemuan terbimbing merupakan belajar dengan penemuan atau menemukan yang diberikan oleh guru dengan suatu masalah. Masalah tersebut akan diselesaikan oleh siswa supaya dapat menjadi aktif dan memberikan rangsangan baik, agar yang diperolehnya atau dikerjakan mendapatkan hasil yang optimal dalam pembelajaran.
Melalui pembelajaran penemuan terbimbing (guided discovery), guru menekankan keterlibatan siswa secara aktif dengan menggunakan kemampuan serta pengetahuan yang dimilikinya dalam memecahkan suatu masalah. Kemudian dalam pelaksanaan pembelajaran ini guru memberikan pertanyaan dan memperbolehkan siswa untuk menemukan dengan idenya sendiri. Dalam proses ini guru akan membimbing namun, bimbingan guru berupa petunjuk serta arahan prosedur kerja yang perlu dilakukan dalam kegiatan pembelajaran, agar mereka lebih terarah dalam proses pembelajaran maupun tujuan yang dicapai akan terlaksana dengan baik.
Menurut Carin (suprihatingrum 2013:246) memberi petunjuk dalam merencanakan dan menyiapkan pembelajaran penemuan terbimbing (guided discovery), antara lain :
1. Menetukan tujuan yang akan dipelajari oleh siswa, 2. Memilih metode yang sesuai dengan kegiatan penemuan, 3. Menentukan lembar pengamatan data untuk siswa
4. Menyiapkan alat dan bahan secara lengkap
5. Menetukan dengan cermat apakah siswa akan bekerja secara individu atau secara berkelompok yang terdiri dari 2-5 siswa
6. Mencoba terlebih dahulu kegiatan yang akan dikerjakan oleh siswa untuk mengetahui kesulitan yang mungkin timbul atau kemungkinan untuk dimodifikasi.
Berdasarkan petunjuk no 2 peneliti menggunakan lembar kegiatan siswa agar tercapai proses kegiatan penemuan. Supaya petunjuk pembelajaran terlaksana dan sesuai dengan langkah-langkah yang sudah dikemas agar tercapai dalam pembelajaran. Namun, untuk mencapai tujuan di atas, Carin menyarankan hal-hal di bawah ini.
1. Memberikan bantuan agar siswa memahami tujuan dan prosedur kegiatan yang harus dilakukan.
2. Memeriksa bahwa semua siswa memahami tujuan dan prosedur kegiatan yang harus dilakukan.
3. Sebelum kegiatan dilakukan, menjelaskan pada siswa tentang cara bekerja dengan aman.
4. Mengamati setiap siswa selama mereka melakukan kegiatan.
5. Memberi waktu yang cukup kepada siswa untuk mengembalikan alat dan bahan yang digunakan.
6. Melakukan diskusi tentang kesimpulan untuk setiap jenis kegiatan. Dari tujuan yang sudah disarankan oleh Carin, maka peran guru di setiap kegiatan harus ada, karena guru harus membimbing sejauh mana siswa memerlukan agar proses kegiatan tersebut terarah dan terlaksana sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Oleh karena itu model guided discovery merupakan bagian dari pembelajaran penemuan, dan pembelajaran penemuan mempunyai kaitan dengan pembelajaran berdasarkan masalah. Oleh karena itu, pada tahap-tahap pembelajaran penemuan terbimbing dapat diadaptasi dari pembelajaran berdasarkan masalah dengan memperhatikan langkah-langkah tertentu pada penemuan terbimbing. Adapun Tahap-tahap model guided discovery yang telah dikembangkan oleh Suprihatiningrum (2013: 248) dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2. Tahap-tahap kegiatan penemuan
No Tahap-tahap Kegiatan guru
1 Menjelaskan tujuan/ mempersiapkan siswa
Menyampaikan tujuan pembelajaran, memotivasi siswa untuk terlibat dalam kegiatan
2 Orientasi siswa pada masalah
Menjelaskan masalah sederhana yang berkenaan dengan materi pembelajaran
3 Merumuskan hipotesis
Membimbing siswa merumuskan hipotesis sesuai permasalahan yang dikemukakan 4 Melakukan kegiatan
penemuan
Membimbing siwa melakukan kegiatan penemuan dengan mengarahkan siswa untuk memperoleh informasi yang diperlukan 5 Mempresentasikan
hasil kegiatan penemuan
Membimbing siswa dalam menyajikan hasil
kegiatan, merumuskan
kesimpulan/menmukan konsep 6 Mengevaluasi
kegiatan penemuan
Mengevaluasi langkah-langkah kegiatan yang telah dilakukan
Dari tabel 2 dapat dilihat pelaksanaan pembelajaran penemuan dibagi menjadi 6 tahap. Menurut Markaban (2008: 17) agar pelaksanaan model guided discover) tercapai dan lebih efektif dalam pembelajaran adapun langkah-langkah penemuan terbimbing sebagai berikut :
1) Merumuskan masalah yang akan diberikan kepada siswa dengan data secukupnya, perumusannya harus jelas, hindari pernyataan yang menimbulkan salah tafsir sehingga arah yang ditempuh siswa tidak salah.
2) Dari data yang diberikan guru, siswa menyusun, memproses, mengorganisir, dan menganalasis data tersebut. Dalam hal ini, bimbingan guru dapat diperlukan sejauh yang diperlukan saja. Bimbingan ini diperlukan siswa untuk melangkah kearah yang hendak dituju, melalui pertanyaan-pertanyaan atau LKS.
3) Siswa menyusun konjekstur (perkiraan) dari hasil analisis yang dilakukan.
4) Bila dipandang perlu, konjektur yang telah dibuat oleh siswa tersebut diperiksa oleh guru. Hal ini penting dilakukan untuk meyakinkan kebenaran perkiraan siswa, sehingga akan menuju arah yang hendak dicapai.
5) Apabila telah diperoleh tentang kepastian tentang kebenaran konjektur tersebut, maka verbalisasi konjektur sebaiknya diserahkan juga kepada siswa untuk menyusunya.
6) Sesudah siswa apa yang menemukan untuk dicari, hendaknya guru menyediakan soal latihan atau soal tambahan untuk memeriksa apakah hasil penemuan itu benar.
Menurut Berlyne (Suprihatiningrum 2013:244) mengatakan bahwa belajar penemuan mempunyai keuntungan, model pembelajaran ini mengacu pada keingintahuan siswa, memotivasi mereka untuk melanjutkan pekerjaannya hingga mereka menemukan jawaban. Siswa juga belajar memcahkan masalah secara mandiri dan keterampilan berpikir kritis karena mereka harus menganalisis dan menangani informasi. Menurut Carin & Sund (Suprahatiningrum 2013:244) kelebihan atau keuntungan yang didapatkan siswa dengan belajar guided discovery sebagai berikut.
1. Mengembangkan potensi intelektual.
2. Mengubah motivasi siswa dari memiliki motivasi dari luar (extrinsic motivation) menjadi motivasi dalam diri sendiri (intrinsic motivation). 3. Siswa akan belajar bagaimana belajar (learning how to learn).
4. Mempertahankan memori.
Menurut Markaban Adapun kelebihan pembelajaran model guided discovery (2008:17) adalah sebagai berikut:
b. Menumbuhkan sekaligus menanamkan sikap inquiry (mencari-menemukan).
c. Mendukung kemampuan problem solving siswa.
d. Memberikan wahana interaksi antar siswa, maupun siswa dengan guru, dengan demikian siswa juga terlatih untuk menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar.
e. Materi yang dipelajari dapat mencapai tingkat kemampuan yang tinggi dan lebih lama membekas karena siswa dilibatkan dalam proses menemukannya.
Dalam suatu model pembelajaran selalu ada kelebihan dan kekurangan. Adapun kekurangan yang terdapat dalam model guided discovery sebagai berikut:
1) Untuk materi tertentu tersita waktu yang lama.
2) Tidak semua siswa mengikuti pelajaran dengan cara ini, di lapangan beberapa siswa masih terbiasa dan mudah mengerti dengan model ceramah.
3) Tidak semua topik cocok disampaikan dengan model ini, umumnya topik-topik yang berhubungna dengan prinsip dapat dikembangkan dengan model penemuan terbimbing.
Dalam mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut sebaiknya guru harus mampu memperkirakan setiap materi dengan waktu yang disediakan, dan juga guru harus bisa memilih materi-materi yang tepat dan yang terpenting jumlah siswa setiap kelas tidak terlalu padat. Belajar dengan penemuan terbimbing diharapkan agar siswa lebih aktif lagi dalam belajar sebab siswa akan berpikir dan menggunakan kemampuannya untuk menemukan hasil akhir. Model guided discovery mendorong siswa untuk menemukan suatu konsep dalam pemecahan masalah sehingga minat belajar siswa meningkat maka akan berpengaruh dengan hasil belajar siswa akan meningkat juga. Hal ini juga sesuai dengan tutunan cara belajar yang sekarang harus berpusat pada siswa artinya guru hanya sebagai fasilitator dan motivator.
Model guided discovery yang akan diterapkan dalam kegiatan pembelajaran yaitu proses pemecahan masalah, kemudian diperlukan suasana belajar kelompok di dalam kelas. Pembelajaran kelompok yang memdorong siswa tersebut menjadi aktif dan memberikan kebebasan kepada siswa untuk memecahkan suatu masalah yang dihadapinya untuk melakukan proses penemuan di dalam kelompoknya masing-masing. Adapun tahap pelaksanaan yang dilakukan pada penelitian ini mengacu berdasarkan langkah-langkah yang sudah diterapkan diatas menurut suprihatiningrum antara lain ; menjelaskan tujuan, merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, melakukan kegiataan penemuan, mempresentasikan hasil kegiataan penemuan dan mengevaluasi kegiataan penemuan.
3. Lembar Kegiatan Siswa (LKS)
Menurut Prastowo (2011 : 203) Lembar kegiatan siswa adalah lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan siswa. Lembaran kegiatan biasanya berupa petunjuk atau langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu tugas. Tugas tesebut haruslah jelas kompetensi yang akan dicapai. Dalam LKS, siswa akan mendapatkan materi, ringkasan dan tugas yang berkaitan dengan materi. Selain itu siswa juga akan dapat menemukan arahan yang terstruktur untuk memahami materi yang diberikan.
Menurut Prastowo (2011:204) Struktur lembar kegiatan secara umum terdiri dari judul lembar kegiatan siswa, mata pelajaran, semester, tempat, petunjuk belajar, kompetensi yang akan dicapai, indikator yang akan dicapai oleh siswa, informasi pendukung, tugas-tugas dan langkah kerja serta penilaian. Suatu tugas yang harus yang harus dikerjakan siswa didalam lembar kegiatan siswa haruslah
sesuai dengan kompetensi dasar yang akan dicapai. Oleh karena itu sebelum membuat LKS diawali terlebih dahulu dengan menganalisis kurikulum, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator serta materi pembelajaran, menyusun serta menentukan alat penilaiannya.
Dari penjelasan dapat disimpulkan bahwa LKS merupakan suatu bahan ajar yang berupa lembar-lembar kertas yang berisikan materi, ringkasan dan petunjuk pelaksanaan dalam kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan siswa yang mengacu pada kompetensi dasar yang harus dicapai. Pada penelitian ini struktur LKS yang akan digunakan adalah : nama, kelas, materi pelajaran, materi pokok, pertemuan ke-, kompetensi dasar, petunjuk, informasi materi, tugas kelompok dan tugas yang akan dikerjakan dirumah. Pada penelitian ini LKS berguna untuk membantu guru dan murid dalam proses belajar mengajar, sehingga guru tidak terlalu banyak menyajikan materi didepan kelas.
4. Pembentukan Kelompok
Diskusi adalah sebuah interaksi atau komunikasi anatra dua orang atau lebih. Menurut Hasibuan dan Muedjiono (2009:20) bahwa “Diskusi adalah suatu proses penglihatan dua atau lebih individu yang berinteraksi secara verbal dan saling berhadapan muka mengenai tujuan atau sasaran yang sudah tertentu melalui cara tukar menukar informasi, mempertahankan pendapat atau pemecahan masalah. Kelompok adalah kumpulan dari dua orang atau lebih yang berinteraksi dan mereka saling bergantung (interdependent) dalam rangka memenuhi kebutuhan dan tujuan bersama, meyebabkan satu sama lain saling mempengaruhi.
Berdasarkan pendapat di atas diskusi kelompok adalah suatu teknik pembelajaran dimana setiap individu memiliki kelompok maisng-masing, yang nantinya akan bergabung dalam kelompoknya untuk menyelesaikan permasalahan atau materi yang akan di bahas yang melibatkan sekelompok, setiap anggota akan memecahkan suatu ide pemikirannya gunanya dalam pemecahan suatu masalah atau pengambilan suatu keputusan.
Pembentukan kelompok dapat dilakukan dengan bermacam-macam cara, salah satunya dengan pembentukan kelompok secara heterogen. Pengelompokkan yang dilakukan secara heterogen dibentuk berdasarkan tingkat kemampuan akademis yang terdiri dari siswa dengan kemampuan akademis rendah, sedang, dan tinggi. Berikut langkah-langkah pembentukan kelompok berdasarkan kemampuan akademik menurut Lie (2010:42) dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Pengelompokan Berdasarkan Kemampuan Akademik Langkah 1 Mengurutkan siswa berdasarkan akademik Langkah 2 Membentuk kelompok pertama Langkah 3 Membentuk kelompok selanjutnya 1 Ani 2 David 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Yusuf 12 Citra 13 Rini 14 Basuki 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Slamet 25 Dian 1 Ani 2 David 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Yusuf 12 Citra 13 Rini 14 Basuki 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Slamet 25 Dian 1 Ani 2 David 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Yusuf 12 Citra 13 Rani 14 Basuki 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Slamet 25 Dian Sumber : Lie (2010 : 42)
Berdasarkan tabel 3, siswa diurutkan dari siswa yang berkemampuan rendah sampai siswa yang berkemampuan tinggi. Pembentukan kelompok I dapat dilakukan dengan cara mengambil siswa nomor I (berkemampuan rendah), siswa nomor 25 (berkemampuan tinggi), siswa nomor 12 dan13 (berkemampuan sedang). Untuk kelompok II diambil dengan menempatkan siswa dari siswa nomor 2, nomor 24, nomor 11 dan nomor 14 sedangkan untuk kelompok
Kelp. I Ani Rini Dian Citra Kelp. II Basuki Slamet David Yusuf
selanjutnya dilakukan dengan proses yang sama (mengambil siswa dari urutan berkemampuan rendah berikutnya, 2 orang siswa berkemampuan sedang yang berikutnya dan siswa yang berkemampuan tinggi berikutnya.
5. Pembelajaran Konvensional
Pembelajaran konvensional merupakan pembelajaran secara klasikal dengan metode ceramah dan pembagian tugas secara individu. Guru sangat berperan penting dalam proses belajar mengajar. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia menerangkan bahwa konvensional artinya pemufakatan atau kelaziman atau sesuatu yang telah menjadi kebiasaan. Jadi, pembelajaran konvensional adalah pembelajaran yang sering dilakukan oleh guru.
Pembelajaran konvensional yang dilakukan dalam bentuk metode ceramah dan pemberian tugas secara individu. Menurut Nasution (2010: 209) ciri-ciri pembelajaran konvensional adalah sebagai berikut:
a. Tujuan tidak dirumuskan secara spesifik dalam bentuk kelakuan yang dapat diamati dan diukur.
b. Bahan pelajaran disajikan kepada kelompok, kepada kelas sebagai keseluruhan tanpa memperhatikan murid-murid secara individual. c. Bahan pelajaran kebanyakan berbentuk ceramah, kuliah tugas tertulis,
dan media lain menurut pertimbangan guru.
d. Berorientasi pada kegiatan guru dengan mengutamakan proses mengajar.
e. Murid-murid kebanyakan bersifat “pasif” karena terutama harus mendengarkan uraian guru.
f. Murid semuanya harus belajar menurut kecepatan yang kebanyakan ditentukan oleh kecepatan guru mengajar.
g. Penguatan biasanya baru diberikan setelah diadakannya ulangan atau ujian.
h. Keberhasilan mengajar kebanyakan dinilai oleh guru secara subyektif.
i. Diharapkan bahwa hanya sebagian kecil saja akan menguasai bahan pelajaran sepenuhnya, sebagian lagi akan mengusainya untuk sebagian saja dan ada lagi yang akan gagal.
j. Pengajar terutama berfungsi sebagai penyebar atau penyalur pengetahuan.
k. Siswa biasanya menempuh beberapa test atau ulangan mengenai bahan yang telah dipelajari dan berdasarkan beberapa angka itu ditentukan angka rapornya untuk semester itu.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran konvensional lebih menitik beratkan pada keaktifan guru dalam bentuk model ceramah atau menoton. Guru yang memberikan serta menyajikan materi pelajaran sedangkan siswa hanya menerima dan mendengar apa yang dijelaskan guru saja tanpa memahami terlebih dahulu apa yang dijelaskan guru.
6. Hasil Belajar
Menurut suprijono (2009: 5) menyatakan bahwa hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apersepsi dan keterampilan. Kunandar (2013: 62) hasil belajar adalah kompetensi atau kemampuan tertentu baik kognitif, afektif maupun psikomotorik yang dicapai atau dikuasai peserta didik setelah mengikuti proses belajar mengajar.
Berdasarkan kutipan tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah tahap pencapaian yang diterapkan dalam bentuk perilaku yang meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotor dan dilihat dalam bentuk perbuatan, nilai, sikap dan keterampilan. Bloom (dalam Sudjana, 2014: 22-23) secara garis besar membagi hasil belajar menjadi tiga ranah yaitu:
a. Ranah Kognitif
Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari 6 aspek yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi.
b. Ranah afektif
Berkenaan dengan 5 aspek yakni penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi dan internalisasi.
c. Ranah psikomotor
Berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Terdiri dari 6 aspek yakni gerakan reflek, keterampilan gerakan dasar, kemampuan perseptual dan gerakan ekspresif dan interpresif.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan atau kompetensi yang diperoleh oleh siswa dari proses pembelajaran yang dilihat dari tiga ranah yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Pada penelitian ini, peneliti melihat dari dua ranah yaitu kognitif dan afektif untuk melihat hasil belajar.
7. Penelitian Relevan
Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah :penelitian yang dilakukan oleh Elvina Nora dengan judul “pengaruh penerapan model guided dicovery learning terhadap hasil belajar matematika siswa kelas VII SMPN 3 Pulau Punjung”. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian tersebut adalah bahwa hasil belajar matematika siswa menerepkan model pembelajaran guide discovery learning lebih baik dari pada hasil belajar matematika siswa menerapkan pembelajaran konvensional pada kelas VII SMPN 3 Pulau Punjung.
Perbedaan antara penelitian ini dengan sebelumnya adalah mengkaji hasil belajar fisika melalui penerapan model guided discovery. Dalam proses pembelajaran kelas eksperimen menggunakan LKS guided discovery sedangkan kelas kontrol menggunakan LKS biasa.
B. Kerangka Berpikir
Banyak faktor yang dapat dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar fisika siswa, salah satunya adalah menciptakan suasana belajar yang baik. Pada dasarnya
guru telah membuat dan mendesai sedemikian rupa agar dalam pelaksanaan menjadi terarah. Pembelajaran yang sudah dilakukan kebanyakan siswa kurang aktif dalam pembelajaran dan juga siswa malu untuk mengeluarkan pendapatnya. Sehingga dengan pola pembelajaran tersebut akan berpengaruh terhadap hasil belajar fisika siswa.
Berdasarkan permasalahan yang sudah ditemukan dari pengamatan peneliti. Dalam pelaksanaan penelitian ini peneliti akan menggunakan sebuah model pembelajaran yaitu model guided discovery. Guided discovery merupakan pembelajaran untuk siswa aktif dalam proses penemuan konsep. Model ini juga akan punya peran yang baik, dimana siswa akan diberikan suatu permasalahan dan siswa tersebut menyelesaikannya. Sehingga pemahaman siswa akan meningkat dan akan berpengaruh terhadap hasil belajar fisika siswa. Berdasarkan uraian di atas maka kerangka pikir dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 1.
Gambar 1. Kerangka Berpikir C. Hipotesis Penelitian
Hipotesis dalam penelitian ini adalah : “Hasil belajar fisika siswa dalam menerapkan model penemuan terbimbing (guided discovery) lebih baik daripada hasil belajar fisika siswa dengan menerapkan pembelajaran Konvensional siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Ranah Pesisir”.
Proses Pembelajaran Eksperimen Kontrol Model guided discovery Siswa Guru Pembelajaran konvensional Hasil Belajar
24
Waktu Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2016/2017 tanggal 27 Maret – 29 April 2017. Tempat penelitian adalah SMP Negeri 1 Ranah Pesisir pada siswa kelas VIII.1 dan Kelas VIII.2.
B. Desain Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah dan perumusan masalah yang dikemukakan, penelitian ini bertujuan untuk memberikan solusi bagi permasalahan tersebut. Penerapan model guided discovery merupakan solusi yang dipilih untuk mengatasi masalah dalam pembelajaran fisika kelas VIII SMP Negeri 1 Ranah Pesisir. Melalui penelitian ini akan mengetahui sejauh mana model guided discovery dapat memberikan solusi yang baik terhadap permasalah pembelajaran tersebut.
Dalam pelaksanaannya, jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian quasi eksperimen. Pada penelitian ini digunakan dua kelas sampel, yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pada kelas eksperimen diterapkan model guided discovery, sedangkan pada kelas kontrol diterapkan model pembelajaran konvensional. Sehingga dari penelitan tersebut dapat dilihat perbedaan hasil belajar fisika siswa yang diperoleh antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu posttest only control group design. seperti yang digambarkan pada Tabel 4.
Tabel 4. Rancangan Penelitian
Kelas Sampel Perlakuan Tes Akhir
Eksperimen X O
Kontrol - O
Sumber: Arikunto (2013;212) Keterangan:
X = Perlakuan yang diberikan pada kelas eksperimen berupa model guided discovery.
O = Tes akhir yang diberikan pada kedua kelas untuk melihat hasil belajar setelah diberi perlakuan.
C. Definisi Operasional Variabel Penelitian
Menurut Arikunto (2014:161) “Variabel adalah objek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian”. Variabel penelitian ini terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas adalah model guided discovery di kelas eksperimen dan konvensional di kelas kontrol. Sedangkan Variabel terikat adalah hasil belajar fisika siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Ranah Pesisir. Adapun definisi operasional dalam penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut.
1. Model Penemuan Terbimbing (Guided Discovery)
Model penemuan terbimbing (guided discovery) mendorong siswa untuk menemukan sendiri konsep-konsep, prinsip-prinsip yang dibimbing oleh guru sehingga siswa lebih memaknai konsep. Model Pembelajaran ini akan dilaksanakan di kelas eksperimen.
2. Pembelajaran Konvensional
Pembelajaran konvensional adalah pembelajaran yang biasa dilakukan dikelas, dimana guru menjelaskan pelajaran, memberikan contoh soal kemudian guru meminta siswa mengerjakan latihan. Pembelajaran konvensional dalam
pelaksanaannya menggunakan metode ceramah. Model pembelajaran konvensional ini dilaksanakan di kelas kontrol.
3. Hasil belajar
Hasil belajar adalah sesuatu yang didapatkan seseorang dari belajar, baik berupa angka, simbolis dan lain-lain. Pada penelitian ini hasil belajar yang akan dinilai dilihat dari dua ranah yaitu aspek kognitif dan afektif.
D. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi
Menurut Arikunto (2014: 173) ”populasi adalah keseluruhan objek penelitian” berdasarkan pengertian populasi tersebut maka yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Ranah Pesisir yang terdiri dari 5 kelas yang terdaftar pada tahun pelajaran 2017/2018. Data dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5. Jumlah siswa kelas VIII SMPN 1 Ranah Pesisir Tahun Pelajaran 2016/2017.
No Kelas Jumlah Siswa
1 VIII.1 27 2 VIII.2 32 3 VIII.3 31 4 VIII.4 32 5 VIII.5 28 Jumlah 148
Sumber Guru SMP Negeri 1 Ranah Pesisir
Berdasarkan tabel 5 dapat disimpulkan bahwa di SMP Negeri 1 Ranah Pesisir terdiri 5 kelas terdiri dari VIII.1 berjumlah 27 orang, VIII.2 berjumlah 32, VIII.3 berjumlah 31 orang, VIII.4 berjumlah 32 orang, dan VIII.5 berjumlah 28 orang. Jadi Jumlah total keseluruhan kelas VIII adalah 148 orang.
2. Sampel
Menurut Arikunto (2014: 174) “Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti”. Sampel yang dipilih haruslah represintatif dan menggambarkan seluruh karakteristik dari suatu populasi. Sesuai dengan masalah yang diteliti, semua kelas bisa menjadi peluang untuk kelas sampel. Dalam penelitian ini kelas sampel yang dibutuhkan sebanyak dua kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik cluster random sampling. Teknik ini membagi populasi terlebih dahulu dalam kelompok-kelompok. Langkah-langkah yang dilakukan dalam pengambilan sampel adalah sebagai berikut:
a. Mengumpulkan nilai Ulangan Harian Fisika semester II kelas VIII SMP Negeri 1 Ranah Pesisir ( Lampiran 1, halaman 71)
b. Melakukan uji normalitas dari populasi untuk mengetahui apakah populasi tersebut berdistribusi normal atau tidak. Hipotesis yang diujikan adalah :
H0: Populasi berdistribusi normal H1: Populasi tidak berdistribusi normal
Uji normalitas dapat dilakukan dengan uji Liliefors dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1) Menyusun skor nilai siswa dari yang terendah ke skor yang tertinggi
2) Skor mentah dijadikan bilangan baku dengan rumus :
= dengan = ∑
∑
3) Untuk setiap bilangan ini menggunakan daftar peluang dengan menggunakan rumus : = ≤
4) Menghitung harga Si(Zi) yaitu proporsi skor baku yang lebih atau
5) Menghitung F(Zi) – S(Zi), kemudian tentukan nilai
mutlaknya.Ambil harga paling besar diantara harga mutlak selisih tersebut, misalkan dengan Loatau = | − 가 |
Untuk menerima atau tidak menolak 0, bandingkan 0 dengan nilai kritis yang diambil dari nilai kritis pada uji Lilliefors untuk taraf nyata yang dipilih ( = 0,05). Kriterianya adalah tolak 0 jika nilai 0 yang diperoleh dari data pengamatan melebihi dari daftar, dalam hal lainnya 0 diterima. Hasil pengujian normalitas populasi (Lampiran 2, halaman 72) dilihat pada tabel 6. Tabel 6. Nilai L0dan LTabelPada kelas populasi
Kelas L0 Ltabel Ket
VIII.1 0,14 0,17 Berdistribusi Normal
VIII.2 0,13 0,16 Berdistribusi Normal
VIII.3 0,11 0,15 Berdistribusi Normal
VIII.4 0,37 0,16 Tidak Berdistribusi Normal
VIII.5 0,19 0,16 Tidak Berdistribusi Normal
Tabel 6 memperlihatkan bahwa hasil perhitungan dengan menggunakan uji Liliefors, dari 5 kelas terdapat kelas yang berdistribusi normal dan tidak normal. Kelas yang berdistribusi normal yaitu kelas VIII.1, VIII.2 dan VIII.3 dan kelas yang tidak berdistribusi normal yaitu kelas VIII.4 dan VIII.5.
Untuk menentukan kehomogennya dilakukan uji F dikarenakan ada 3 kelas diantaranya kelas VIII.1, kelas VIII.2, kelas VIII.3 yang berdistribusi normal. Setelah dilakukan perhitungan antara 3 kelas tersebut yang memiliki variansi yang homogen adalah kelas VIII.1 dan VIII.2 pada Lampiran 3 halaman 77.Setelah memiliki variansi yang homogen antara kelas VIII.1 dan kelas VIII.2, dilakukan pengambilan kelas sampel secara acak, kemudian di peroleh kelas VIII.2 sebagai kelas ekperimen, sedangkan kelas VIII.1 sebagai kelas kontrol.
E. Instrumentasi dan Teknik Pengumpulan Data 1. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian merupakan alat untuk memperoleh data tentang hasil belajar fisika siswa. Penelitian ini menggunakan instrumen berupa tes hasil belajar siswa. Pada penelitian ini ranah kognitif dengan tes hasil belajar dan afektif dengan melihat lembar aktivitas siswa
a. Ranah Kognitif
Alat yang digunakan untuk mengumpulkan data pada penelitian ini adalah tes yang diberikan kepada kedua kelas sampel berupa tes essay. Agar tes benar-benar valid, reliabel serta memperhatikan taraf kesukaran dan daya beda soal, maka dilakukan uji coba tes sebelum diberikan pada sampel penelitian. Langkah-langkah yang penuliti lakukan adalah sebagai berikut:
1) Menyusun tes
Tes yang disusun berbentuk tes essai berdasarkan pokok bahasan yang telah dipelajari. Tes tersebut berfungsi sebagai sebagai alat ukur, yaitu untuk mengukur hasil belajar fisika siswa. Dalam penyusunan tes tersebut, dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
a) Menentukan tujuan mengadakan tes yaitu mengetahui sejauh mana hasil belajar siswa terhadap materi pelajaran dan melihat apakah model yang digunakan berhasil diterapkan.
b) Membuat batasan terhadap materi yang akan diujikan. c) Menyusun tes akhir sesuai dengan kisi-kisi soal.
d) Menyusun butir-butir soal serta skor masing-masing soal berdasarkan pedoman penskoran.
Tes diberikan diakhir penelitian sesuai dengan materi yang telah diajarkan, kemudian dilakukan penskoran pada soal tes yang menggunakan pedoman penskoran terlihat pada tabel 7.
Contoh butir soal : jelaskan apa yang di maksud dengan amplitudo, periode getaran dan frekuensi getaran?
Tabel 7. Contoh Pedoman Penskoran Soal berupa tes essay
No Jawaban Skor
1 a. Amplitudo adalah simpangan getaran paling terbesar b. Periode getaran adalah waktu yang dibutuhkan oleh
bandul untuk membuat satu getaran atau disebut periode
c. Frekuensi getaran jumlah getaran setiap satu detik disebut sebagai frekuensi
2 2 2 skor maksimum 6 2 ... skor maksimum … ... 5 ………. skor maksimum Total Skor Maksimum
Nilai Akhir = x 100
Agar tes benar-benar valid, reliabel serta memperhatikan taraf kesukaran dan daya beda soal, maka dilakukan uji coba tes sebelum diberikan pada sampel penelitian.
e) Validitas Tes.
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kesahihan suatu instrumen. Sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur apa yang
hendak diukur. Dalam penyusunan tes harus berpedoman pada kurikulum yang sesuai dengan mata pelajaran fisika kelas VIII SMP Negeri 1 Ranah Pesisir. Pada penelitian ini soal tes akhir yang diberikan berbentuk essay dan dibuat berdasarkan kurikulum dan materi yang telah diajarkan serta dikonsultasikan dengan dosen pembimbing dan guru fisika kelas VIII SMP Negeri 1 Ranah Pesisir.
a) Melaksanakan Uji Coba Tes
Hasil dari suatu penelitian dapat dipercaya apabila data yang akan digunakan betul-betul akurat atau sudah memiliki validitas, daya pembeda soal dan realibilitas soal yang baik. Agar soal yang disusun itu memiliki kriteria soal yang baik, maka soal tersebut perlu diuji cobakan terlebih dahulu dan kemudian dianalisis. Uji coba soal bertujuan untuk mengetahui. Uji coba soal bertujuan untuk mengetahui apakah soal yang dipergunakan memiliki kriteria soal yang baik, kemudian soal dianalisis untuk memperoleh soal mana yang memenuhi kriteria tersebut.
Sebelum soal yang diberikan kepada kelas eksperimen dan kelas kontrol maka soal diuji pada soal yang tingkat kemampuannya setara dengan tempat penelitian. Uji coba soal dalam penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 2 Ranah Pesisir Tahun Ajaran 2016/2017. Sekolah ini dipilih sebagai tempat uji coba tes, karena berdasarkan informasi dari sekolah SMP Negeri 2 Ranah Pesisir memiliki KKM dan tingkat kemampuan yang sama dengan SMP Negeri 1 Ranah Pesisir.
b) Analisis Item
Setelah uji coba dilaksanakan, dilakukan analisis item untuk melihat soal yang disusun itu baik atau tidak. Suatu soal yang dikatakan baik jika dapat memberikan gambaran perbedaan antara anak yang berkemampuan rendah, sedang dan tinggi. Untuk melaksanakan analisis item ada 3 langkah yang perlu diselidiki :
1) Tingkat Kesukaran
Tingkat kesukaran soal merupakan bilangan yang menunjukkan sukar, sedang atau mudahnya suatu soal. Tingkat kesukaran soal dapat dihitung dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Depdiknas (2001:26) sebagai berikut:
Mean = Jumlah siswa yang menggunakan tesJumlah skor pada suatu soal
TK = Skor maksimum yang telah ditetapkanmean
Adapun kriteria tingkat kesukaran soal dapat dilihat pada tabel 7. Tabel 8. Kriteria Tingkat Kesukaran Soal
Tingkat kesukaran Soal Kriteria
0,00 ≤ TK ≤ 0,30 Soal tergolong sukar 0,30 <TK ≤ 0,70 Soal tergolong sedang 0,70 <TK ≤ 1,00 Soal tergolong mudah Sumber:Depdiknas(2001:27)
Berdasarkan tabel 8 terlihat hasil analisis tingkat kesukaran soal (TK), maka diperoleh bahwa semua soal terletak pada tingkat kesukaran sedang (Lampiran 11, halaman 134).
2) Daya Pembeda Soal
Daya pembeda soal merupakan suatu indikator untuk membedakan siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Menurut Depdiknas (2001:28), rumus yang digunakan untuk menentukan daya pembeda adalah:
DP = mean kelompok atas − mean kelompok bawahskor maksimal soal
Kriteria daya beda soal yang digunakan terlihat pada tabel 9. Tabel 9. Kriteria Daya Pembeda Soal
Daya Pembeda Soal Kriteria
0,00 ≤ DP< 0,20 Soal tidak dipakai/dibuang 0,20 ≤DP < 0,30 Soal diperbaiki
0,30 ≤DP< 0,40 Soal diterima tetapi perlu diperbaiki 0,40 ≤ DP ≤ 1,00 Soal diterima/baik
Sumber:Depdiknas (2001:28)
Berdasarkan tabel 9 telihat bahwa hasil perhitungan daya beda soal uji coba tes akhir (Lampiran 12, halaman 136) menunjukan dari 12 butir soal diperoleh bahwa soal 1a, 1c dan 1d memiliki kriteria soal tidak dipakai/dibuang. Sedangkan soal yang selebihnya memiliki kriteria soal diterima baik.
3) Reliabilitas Tes
Reliabilitas merupakan ketetapan suatu tes apabila diteskan kepada subjek yang sama. Untuk menentukan reliabilitas tes digunakan rumus Alpha yang dinyatakan oleh Arikunto (2014 : 239) yaitu:
11= − 1 1 − ∑2 , dimana untuk mencari variansi total digunakan rumus
2= ∑ 2− ∑
Keterangan:
11 : Reliabilitas soal
: jumlah butir tes
∑ 2 : jumlah variansi tiap-tiap soal 2 : jumlah variansi
∑ 2 : jumlah skor tiap-tiap butir soal
: jumlah pengikut tes
Dalam pemberian interprestasi terhadap koefisien reliabilitas tes (r11) pada umumnya digunakan patokan sebagai berikut; Sebaiknya hasil tersebut dikonsultasikan dengan tabel yaitu jika ℎ > maka soal tersebut dikatakan reliabel atau jika ℎ < maka soal tersebut dikatakan tidak reliabel.
Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan diperoleh = 0,91 = 0,38 , sehingga dapat disimpulkan bahwa soal dinyatakan reliabel ( Lampiran 13, halaman 138)
b. Ranah Afektif
Komponen afektif turut menentukan keberhasilan hasil belajar siswa. Aspek afektif yang diamati yaitu aktivitas siswa selama kegiatan diskusi berlangsung. Menurut Sardiman (2011: 100) yang menyatakan bahwa “Aktivitas belajar adalah aktivitas yang bersifat fisik maupun mental”. Selain itu, keberhasilan dalam belajar ditentukan juga oleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran. Banyak aktivitas yang dapat dilakukan oleh siswa dalam proses belajar. Aktivitas yang akan diamati dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Aktivitas yang diamati No Aktivitas Siswa Indikator Ya (√) Tidak (√) 1 Visual activities
a. Memperhatikan guru saat memberikan petunjuk arahan pada lembar LKS. b. Membaca LKS yang
telah diberikan.
2 Oral
activities
a. Bertanya kepada guru. b. Berdiskusi dengan
kelompok untuk menyelesaikan
permasalahan yang ada pada LKS
3 Listening activities
Mendengarkan penjelasan hasil diskusi yang ditampilkan oleh kelompok penyaji
4 Writing
activities
Siswa mencatat hasil diskusi pada catatan masing-masing
5 Drawing
activities
Siswa membuat gambar berdasarkan materi yang ada
6 Mental
activities
Mengerjakan dan
memecahkan soal yang ada pada LKS
Sumber: dimodifikasi Sardiman (2011: 101)
Berdasarkan Tabel 10 terlihat bahwa aktivitas yang diamati dalam penelitian ini adalah visual activities, oral activities, listening activities, writing activities, drawing activies, mental activities dengan memberikan (√). Aktivitas yang diamati dapat membantu siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran. Penilaian tersebut disajikan pada lembar observasi ranah afektif pada tabel 11.
Tabel 11. Lembar Observasi Hasil Belajar Ranah Afektif
NO Nama
Siswa
Aspek yang diamati
1 2 3 4 5 6 7 8
1 2 3
1. Teknik Pengumpulan Data
Untuk mencapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan maka perlu disusun suatu prosedur penelitian data yang sistematis. Secara umum prosedur pengambilan data penelitian dapat dibagi menjadi tiga tahap yaitu, tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap penyelesaian.
a. Tahapan Persiapan
Tahapan persiapan terdiri dari :
1) Menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol. 2) Menetapkan jadwal penelitian.
3) Mempersiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
4) Mempersiapkan hal yang mendukung model penemuan terbimbing. 5) Menyusun kisi-kisi soal tes uji coba.
6) Mempersiapkan soal uji coba tes akhir. 7) Menyusun soal tes akhir.
b. Tahapan Pelaksanaan
Dalam pelaksanaan proses pembelajaran pada kelas eksperimen dan kelas kontrol sama dalam segi materi, hanya dibedakan dalam segi penerapannya. Untuk kelas eksperimen menerapkan model pembelajaran guided discovery sedangkan kelas kontrol menerapkan model pembelajaran konvensional. Skenario pembelajaran pada kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12 Skenario pembelajaran pada kelas eksperimen dan kelas kontrol
Kelas ekperimen Kelas kontrol
1 2
Pendahuluan (± 10 menit) 1.Guru mengucapkan salam dan
mengarahkan siswa untuk berdoa.
1.Guru mengucapkan salam dan mengarahkan siswa untuk berdoa. 2.Guru mengambil absen serta
mengecek kehadiran siswa.
2.Guru mengambil absen serta mengecek kehadiran siswa. 3.Guru memberikan apersepsi dan
motivasi kepada siswa.
3.Guru memberikan apersepsi dan motivasi kepada siswa.
Kegiatan Inti (±100 menit) A.Menjelaskan tujuan dan
menrumuskan masalah 1.Guru meminta siswa duduk
berkelompok 7-8 orang yang sudah ditentukan. Kemudian setiap siswa diberikan LKS yang sudah
dibagikan sebelumnya kemudian guru menjelaskan tujuan
pembelajaran untuk
menuntun siswa dalam kegiatan penemuan.
1. Guru meminta siswa duduk berkelompok 7-8 orang yang sudah ditentukan. Kemudian setiap siswa diberikan LKS yang sudah dibagikan sebelumnya kemudian guru menjelaskan tujuan
pembelajaran materi pelajaran yang dipelajari.
2.Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya
kemudian guru meminta siswa untuk mengamati permasalahan yang akan ditemukan
pada LKS.
2.Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya terhadap materi yang sudah dijelaskan.
B.Merumuskan hipotesis dan menganalisis data
3.Guru meminta siswa untuk membuat hasil dugaan sementara atau jawaban sementara yang siswa dapat dari hasil permasalahan yang sudah dianalisanya pada LKS.
3.Guru menyuruh siswa untuk melakukan kegiatannya yang sudah ada pada LKS.
4.Siswa melakukan kegiatan
penemuan berdasarkan praktikum yang sudah dilakukan, kemudian siswa melakukan analisis data yang sudah disediakan tabel data dalam LKS.
4.Setelah siswa melakukan kegiatan, kemudian siswa melakukan analisis data yang sudah disediakan dalam LKS.
1 2 5.Siswa menuliskan hasil analisis data
yang sudah dicarinya, kemudian disalin dalam tabel data yang sudah disediakan dalam LKS.
5.Siswa menuliskan hasil analisis data yang sudah dicarinya,
kemudian disalin dalam tabel yang sudah disediakan dalam LKS. 6.Guru menyuruh siswa menjawab
pertanyan yang ada dalam LKS.
6.Guru menyuruh siswa menjawab pertanyaan yang ada dalam LKS. 7.Dalam kegiatan ini guru
membimbing kegiatan sejauh yang diperlukan siswa.
7.Selama kegiatan ini guru mengontrol dan membimbing kegiatan siswa.
C.Mengevaluasi kegiatan penemuan 8.Guru meminta satu kelompok untuk
mempresentasikan hasil kegiatan penemuan didepan kelas.
8.Guru meminta satu kelompok untuk mempresentasikan hasil kegiatan didepan kelas. 9.Guru meminta masing-masing
kelompok untuk menanggapi dan memberikan pertanyaan.
9.Guru meminta masing-masing kelompok untuk menanggapi dan memberikan pertanyaan.
Penutup (±10 menit) 1.Guru membimbing siswa untuk
menyimpulkan materi yang telah dipelajari
1.Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan materi yang telah dipelajari
2.Guru memberikan pekerjaan rumah 2.Guru memberikan pekerjaan rumah 3.Guru menyampaikan arahan untuk
pertemuan selanjutnya dan
membagikan LKS untuk pertemuan berikutnya.
3.Guru menyampaikan arahan untuk pertemuan selanjutnya dan
membagikan LKS untuk pertemuan berikutnya. c. Tahap Penyelesaian
Pada tahap penyelesaian ini kegiatan yang dilakukan adalah:
1) Mengadakan tes akhir pada kedua kelas sampel dengan instrument yang telah dipersiapkan. Tujuannya untuk mengetahui hasil belajar kedua kelas sampel. 2) Menarik kesimpulan dari hasil yang didapatkan sesuai dengan analisis data
yang digunakan. A. Teknik Analisis Data
Analisis data bertujuan untuk melihat perbedaan antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol atau dengan kata lain menguji kebenaran hipotesis yang
diajukan dalam penelitian. Dalam menganalisis data, penulis melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Penilaian Kognitif
Pada penilaian kognitif ini akan dilakukan analisis tes akhir berupa soal uraian. Analisis tes akhir bertujuan untuk melihat apakah kemampuan hasil belajar fisika siswa yang diberikan pada kelas sampel lebih baik. Skor yang diperoleh harus dirubah dalam skala angka yang ditetapkan, misalnya dalam bentuk 0-100. Skor yang diperoleh siswa jika dikonversikan ke skala 0-100.
Nilai siswa =Jumlah skor yang diperoleh siswa Jumlah skor total x100
Analisis data bertujuan untuk menguji hipotesis yang diajukan, apakah diterima atau ditolak. Sebelum melakukan uji hipotesis terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas terhadap kelas sampel.
a. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah data kedua kelompok sampel terdistribusi normal atau tidak. Hipotesis yang dilakukan adalah:
0 : Skor hasil belajar kelas sampel terdistribusi normal 1 : Skor hasil belajar kelas sampel tidak terdistribusi normal
Uji yang digunakan adalah uji Lilliefors dengan menentukan nilai tertinggi dari | − |, hasilnya disebut 0. Kemudian bandingkan dengan . Kriteria pengujiannya adalah terima 0 jika 0< , dalam hal lain 0 ditolak.
Berdasarkan hasil perhitungan yang diperoleh pada kedua kelas sampel, kelas eksperimen VIII.2 berdistribusi normal (Lampiran 19, halaman 163). Kelas kontrol VIII.1 berdistribusi normal (Lampiran 19, halaman 164 ).
b. Uji Homogenitas
Uji homogenitas bertujuan untuk menyelidiki apakah kedua sampel mempunyai variansi yang homogen atau tidak. Untuk mengujinya digunakan uji kesamaan dua varians (uji ). Dalam Sudjana (2005 : 249) menyebutkan, untuk menghitung harga digunakan rumus:
=
Dimana:
: Varians dua kelompok
12 : Varians hasil belajar kelas eksperimen 22 : Varians hasil belajar kelas terkecil
Kriteria pengujiannya adalah terima 0 jika < , , dalam hal lain 0 ditolak. Berdasarkan hasil perhitungan yang didapat, uji homogen yang diperoleh pada kedua kelas memiliki variansi yang homogen (Lampiran 20, halaman 165).
c. Uji Hipotesis
Uji hipotesis digunakan setelah melakukan uji normalitas dan uji homogenitas terhadap kedua kelas sampel. Uji hipotesis bertujuan untuk mengetahui apakah hipotesis penelitian diterima atau ditolak. Berdasarkan hipotesis yang dikemukakan maka dilakukan uji satu pihak. Hipotesis statistik untuk data tes yang akan diuji adalah:
1) 0: 1= 2 hasil belajar fisika siswa dengan menerapkan guided discovery sama dengan hasil belajar fisika siswa dengan menerapakan pembelajaran konvensional pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Ranah Pesisir.
2) : 1> 2 hasil belajar fisika siswa dengan menerapkan guided discovery lebih baik daripada hasil belajar fisika siswa dengan menerapakan pembelajaran konvensional pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Ranah Pesisir.
Keterangan:
1 : rata-rata skor tes hasil belajar siswa kelas eksperimen 2 : rata-rata skor tes hasil belajar siswa kelas kontrol
Pada penelitian ini uji statistik yang digunakan dalam menguji hipotesis, yaitu uji . Jika data hasil belajar kedua kelas sampel terdistribusi normal dan mempunyai variansi homogen, maka uji statistik yang digunakan menurut Sudjana (2005: 239) adalah:
= ̅ − ̅ 1 + 1
= − 1 ++ − 2− 1 Keterangan:
1 : Nilai rata-rata hasil belajar siswa kelas eksperimen 2 : Nilai rata-rata hasil belajar siswa kelas kontrol 1 : Jumlah siswa kelas eksperimen
2 : Jumlah siswa kelas kontrol
: Simpangan baku kedua kelas sampel
2 : Variansi total
12 : Variansi hasil belajar kelas eksperimen 22 : Variansi hasil belajar kelas control
Kriteria pengujiannya adalah terima 0 jika ℎ < 1− dengan derajat kebebasan = 1+ 2− 2 , dalam hal lain 0 ditolak. Dalam
perhitungan hipotesis pada (Lampiran 21, halaman 166) didapat = 0,25 sedangkan = 1,67, yang berarti dalam penelitian ini ditolak.
2. Analisis Ranah Afektif
Penskoran untuk ranah afektif umumnya di buat dalam bentuk skala bertingkat, pada penelitian ini ranah afektif di lihat dari aktivitas siswa, apabila siswa melakukan indikator yang telah dibuat maka diberikan (√). Berdasarkan rubrik yang telah dibuat dapat dinilai hasil belajar sikap siswa. Skor total yang diperoleh dikonversikan menjadi nilai dengan rumus berikut:
Nilai Akhir = x 100
Tabel 13. Kategori penilaian afektif siswa
Baik 80 – 100
Cukup 60 – 79
Kurang < 60
Sumber : Kunandar (2013:126)
Tabel 13 terlihat untuk kategori penskoran ada 3 peniliaian kategori. Penilaian kategori baik rentangan nilai yaitu 86-100, kategori cukup rentang nilai yaitu 71-85, sedangkan untuk kategori kurang nilai < 60. Berdasarkan hasil penilaian aktivitas pada ranah afektif di kedua kelas sampel dilihat pada (Lampiran 15, halaman 158).