• Tidak ada hasil yang ditemukan

1 Halaman Judul Report Sub Kegiatan A Facilitate community groups at selected forest ecosystem in South Sumatera with new proposal for Village F

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "1 Halaman Judul Report Sub Kegiatan A Facilitate community groups at selected forest ecosystem in South Sumatera with new proposal for Village F"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN

Memfasilitasi kelompok masyarakat di ekosistem hutan terpilih di Sumatera Selatan dengan proposal baru untuk Hutan Desa atau Hutan Masyarakat untuk wilayah potensial WKM di Sumatera Selatan, untuk mengajukan izin penggunaan lahan di bawah program Kehutanan Sosial, termasuk rencana bisnisnya

Palembang, September 2016

Pembentukan Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Di

Desa Sukorejo Kecamatan STL Ulu Terawas Musi Rawas

(2)

Halaman Judul

Report Sub Kegiatan A.2.1.3

Facilitate community groups at selected forest ecosystem in South Sumatera with new proposal for Village Forest or Community Forestry for a potential area of WKM (Social Forestry) in South Sumatera, to propose land use permit under Social Forestry program, including its business plan.

Pembentukan Lembaga Pengelola Hutan Desa

(LPHD) Di Desa Sukorejo Kecamatan STL Ulu

Terawas Musi Rawas

Disusun Oleh :

Tim Pendamping Masyarakat Desa Sukorejo STL Ulu Terawas dalam penyusunan Proposal Pengajuan Hutan Desa

Koordinator /Konsultan Tim :

MASRUN ZAWAWI Anggota Tim SIGID WIDAGDO BEJOE DEWANGGA HENNI MARTINI Laporan :

Hutan Kita Institute (HaKI)

OFFICE Jl. YUDO NO H8 RT 31 Kel Lorok Pakjo Palembang 30137 Telp : +62(711)5732460

Program : FA

(3)

Ringkasan Eksekutif

Pengelolaan hutan di bukit Gatan sudah dilakukan sejak 1960an. Pada masa itu, sudah ditemukan kebun karet yang ada di puncak Bukit Gatan. Bukit Gatan sekarang berstatus Hutan Lindung di bawah pengawasan KPHP Benakat Bukit Cogong melalui SK.827/Menhut-II/2013. Bukit Gatan yang berada di desa Sukorejo Kecamatan STL Ulu Terawas dikelola oleh 56 Kepala Keluarga (KK). Utamanya KK yang berada di Dusun I dan Dusun II. Semua masyarakat yang mengelola di bukit tersebut sudah membentuk Kelompok Tani Hutan “Gatan Dua Manunggal” sejak 2015.

PHBM, terutama pada Hutan Kemasyarakatan (HKm) sudah pernah didengar oleh Ketua Kelompok. Beberapa kali pernah menerima input terkait HKm dari HKm di Bukit Cogong. Input berupa pengalaman HKm LPHD Sukorejo, info pemetaan dan konsep HKm itu sendiri. Beberapa input tersebutlah yang menjadikan kelompok Tani Hutan Desa ini.

Upaya memenuhi syarat untuk pengajuan Areal HKm baru dilakukan. Pada Februari 2016, sudah dilakukan Ground Check oleh beberapa orang anggota HKm terkait wilayah dan potensi Bukit yang selama ini mereka kelola. Pada akhir Maret 2016, dilakukan pertemuan yang diikuti oleh 15 orang anggota HKm. Pertemuan ini membahas apa itu PHBM, perbedaan-perbedaan pola PHBM dan akhirnya masyarakat memilih HKm untuk diajukan. Untuk melakukan pengajuan Hutan Desa di Desa Sukorejo ada beberapa persyaratan yang harus di siapkan, seperti Lembaga Pengelola Hutan Desa, Profile Kawasan Hutan yang akan di ajukan, berkas-berkas kepala desa seperti Surat Keputusan tentang LPHD, Peraturan Desa tentang LPHD, Hutan Desa dan Peta areal Hutan desa yang akan di ajukan. maka Hutan Kita Institute memberikan dan memfasilitasi masyarakat dalam menyiapkan berkas tersebut :

(4)

1) Tujuan dari kegiatan ini adalah, Melakukan pembentukan Lembaga pengelola Hutan Desa dengan memfasilitasi dan mengarahkan pemilihan LPHD di desa SUkorejo Kecamatan STL Ulu Terawas Musi Rawas.

2) Mengurai permasalahan dan potensi yang ada didalam dalam kawasan hutan lindung Cogong 1 (Gatan) desa Sukorejo Kecamatan STL Ulu Terawas Musi Rawas sebagai bahan pertimbangan dalam pengajuan kawasan lindung tersebut menjadi wilayah kelola masyarakat perhutanan sosial

3) Peserta kegiatan ini berjumlah 50 orang dari unsur perangkat Desa yaitu Kepala Desa, Kaur desa, BPD Desa, calon Pengurus LPHD dan masyarakat Desa Sukorejo.

4) Penggalian perkembangan pendampingan selama ini untuk Hutan Desa yang ada di desa Sukorejo Kecamatan STU Ulu Terawas Kabupaten Musi Rawas sebagai syarat di keluarkannya Izin dari Kementerian PAK (Penetapan Areal Kerja).

5) Melakukan indentifikasi kondisi fisik areal kawasan hutan Bukit Cogong 1 (gatan) dari kerapatan tanaman, jenis vegetasi yang ada, tutupan yang ada dan jenis tanaman endimik yang ada.

6) Mengurai permasalahan dan kendala selama ini dalam proses pengajuan hutan desa yang ada di desa Sukorejo. sebagai berikut : a)dalam proses perencanaan penyusunan pengajuan Hutan Desa

berkas selama ini mengalami kesulitan dalam pemberkasan

b)kegiatan pemetaan selama ini sulit sebelum adanya Hutan Kita Institute untuk melakukan pemetaan areal calon Hutan Desa

c)Sulitnya koordinasi dengan Pemangku wilayah kawasan Hutan Bukit Cogong 1 ( Gatan

(5)

Daftar Tabel

Tabel 1. Agenda Kegiatan RKT HKm LPHD Sukorejo ...13 Tabel.2. Jenis tanaman di kawasan Calon Hutan Desa Sukorejo...29 Tabel.3. Hasil penjualan produk Hasil Hutan Bukan Kayu LPHD

Sukorejo...30 Tabel.4. Kalender Musim Tanaman Hasil Hutan Bukan Kayu LPHD

(6)

Daftar Gambar

Gambar 1. Sambutan Kepala Desa Sukorejo...15

Gambar 2. Pemaparan Materi Perkembangan Perhutanan Sosial... 16

Gambar 3. Pemaparan Materi Tata Hukum yang berlaku... 18

(7)

Daftar Grafik

Grafik 1. Kondisi sarana dan Prasarana pendidik di Kecamatan STL Ulu...30

grafik 2. Kondisi sarana dan Prasarana Kesehatan di Kecamatan STL Ulu... 30

Grafik 3. Grafik Musim Iklim di Kecamatan STL Ulu Terawas Musi Rawas... 35

Grafik 4. Grafik kalender aktivitas masyarakat di Desa Sukorejo...36

Grafik. 5 Bagan Alur Keputusan Rumah Tangga Desa Sukorejo...37

(8)

Daftar Isi Halaman Judul...1 Lembar Judul... 1 Ringkasan Eksekutif... 2 Lembar Tabel...4 Lembar Grafik... 5 Lembar Gambar... 6 Daftar Isi...7 BAB.1 PENDAHULUAN...10 BAB. 2 METODOLOGI...12

2.1. Pemateri dan Fasilitator:...12

2.2. Panitia:...12

2.3. Waktu dan Tempat... 12

2.4. Metode:...12

2.5. Jadwal Kegiatan...13

2.6. Peralatan... 14

BAB.3 HASIL KEGIATAN...15

3.1. Proses Kegiatan...15

3.1.1. Pembukaan dan pengantar dari Fasilitator... 15

3.1.2. Pemaparan Perkembangan Perhutanan Sosial di Sumatera Selatan... 16

3.1.3. Peraturan Desa Tentang Hutan Desa...20

3.2. Pembentukan LPHD Desa Sukorejo... 25

(9)

3.3.2. Kondisi Topografi... 28

3.3.3. Tutupan Lahan...28

3.3.4. Ketergantungan Mata Pencaharian Masyarakat Terhadap Sumber daya Hutan... 29

3.3.5. Ketergantungan Masyarakat terhadap Hutan...29

3.4. Kondisi Sosial ( Pendidikan dan Kesehatan)... 30

3.4.1. Pendidikan...30

3.4.2. Kesehatan... 30

3.5. Ekonomi...31

3.6. Tata Kelola HKm...32

3.6.1 Pola Pertanian Masyarakat...32

3.6.2. Pembibitan...32

3.6.3. Persiapan Lahan... 33

3.6.4. Penanaman Tanaman Selah...33

3.6.5. Penanaman komoditi utama...34

3.6.6. Sadap/Pahat/Pantang... 34

3.6.7. Pengumpulan Hasil...34

3.7. Kalender Musim...34

3.7.1. Tanaman...34

3.7.2. Kalender Iklim... 35

3.7.3. Kalender Aktivitas Masyarakat...36

3.7.4. Transek Wilayah...36

3.8. Peta Wilayah...37

3.9. Pendapatan Dan Pengeluaran Masyarakat...37

3.10 Hubungan Masyarakat...38

(10)

BAB 4. KESIMPULAN dan SARAN... 39

4.1. Kesimpulan... 39

4.2. Kendala...39

(11)

BAB.1 PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah

Pengelolaan hutan di bukit Gatan sudah dilakukan sejak 1960an. Pada masa itu, sudah ditemukan kebun karet yang ada di puncak Bukit Gatan. Bukit Gatan sekarang berstatus Hutan Lindung di bawah pengawasan KPHP Benakat Bukit Cogong melalui SK.827/Menhut-II/2013. Bukit Gatan yang berada di desa Sukorejo Kecamatan STL Ulu Terawas dikelola oleh 56 Kepala Keluarga (KK). Utamanya KK yang berada di Dusun I dan Dusun II. Semua masyarakat yang mengelola di bukit tersebut sudah membentuk Kelompok Tani Hutan “Gatan Dua Manunggal” sejak 2015.

PHBM, terutama pada Hutan Kemasyarakatan (HKm) sudah pernah didengar oleh Ketua Kelompok. Beberapa kali pernah menerima input terkait HKm dari HKm di Bukit Cogong. Input berupa pengalaman HKm LPHD Sukorejo, info pemetaan dan konsep HKm itu sendiri. Beberapa input tersebutlah yang menjadikan kelompok Tani Hutan Desa ini.

Upaya memenuhi syarat untuk pengajuan Areal HKm baru dilakukan. Pada Februari 2016, sudah dilakukan Ground Check oleh beberapa orang anggota HKm terkait wilayah dan potensi Bukit yang selama ini mereka kelola. Pada akhir Maret 2016, dilakukan pertemuan yang diikuti oleh 15 orang anggota HKm. Pertemuan ini membahas apa itu PHBM, perbedaan-perbedaan pola PHBM dan akhirnya masyarakat memilih HKm untuk diajukan.

1.2. Tujuan:

1. Memfasitasi masyarakat untuk menyusun rencana strategis pengelolaan hutan Cogong 2 STL Ulu Terawas Kabupaten Musi Rawas

(12)

2. Merencanakan tata kelola Hutan Desa dalam pengelolaan Hutan Cogong 2 STL Ulu Terawas Kabupaten Musi Rawas

1.3. Capaian:

1. Adanya dokumen kelengkapan LPHD,SK Kepala Kades,Peraturan Desa Tentang Pengangkatan LPHD

2. Adanya dokumen rencana tata kelola lahan Hutan Desa di STL Ulu Terawas Musi Rawas

(13)

BAB. 2 METODOLOGI 2.1. Pemateri dan Fasilitator:

Dalam kegiatan Penyusunan Rencana Kerja Tahunan HKm LPHD Sukorejo Bukit Cogong Musi Rawas, baik pemateri maupun fasilitator keseluruhannya berasal dari Hutan Kita Institute Sumatera Selatan.

1. Sigit widagdo 2. Bejoe Dewangga

2.2. Panitia:

Kepanitiaan dalam kegiatan ini sepenuhnya di lakukan oleh hutan Kita Institute di bantu oleh Pengurus Hutan Kemasyarakatan LPHD Sukorejo SukorejoSTL Ulu Terawas Musi Rawas , terdiri dari :

1. Nur Fikri 2. Henni Martini

2.3. Waktu dan Tempat

Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari terhitung sejak tanggal 22-23 Agustus 2016. Bertempat di Bukit Cogong Musi Rawas

2.4. Metode:

metode kegiatan ini menggunakan seminar, ceramah, diskusi,simulasi dan games, dengan metode tools yang di gunakan adalah Participatory Rural Apraisal (PRA) untuk menggali data yang ada antara lain sebagai berikut ;

Diskusi melalui Sharing informasi dengan Pengurus HKm LPHD Sukorejo Bukit Cogong

 Penggalian data dengan mengambarkan sketsa peta areal kerja Hutan Kemasyarakatan dan Pemukiman yang berada di sekitar Areal tersebut

 penggalian data potensi desa dan potensi areal yang bisa di kembangkan dalam pengelolaan Hutan dengan metode Transek  Penggalian data dengan melakukan pengambilan titik koordinat

(14)

2.5. Jadwal Kegiatan

WAKTU AGENDA KETERANGAN

Hari I (Pertemuan Anggota dalam penyusunan Rencana Kerja Tahunan

HKm LPHD Sukorejo dan Penyusunan Pengusulan Potensi Hutan Desa di Desa Sukorejo Kecamatan STL Terawas Ulu Kabupaten Musi Rawas)

08.00 – 08.30 Absensi Peserta Panitia

08.30 – 09.00 Pembukaan Acara Bejoe Dewangga

09.00 – 09.15 Coffee Break Panitia

09.15 – 11.45 Pemaparan tentang Rencana Kerja Tahunan

Fasilitator

11.45– 13.30 ISHOMA Panitia

13.30 – 15.30 Menyusun Perencanaan Kerja Tahunan

Pembagian kelompok a. Pengalian Potensi b. Tata Kelola Lahan c. Anggaran

Fasilitator

15.30 – 15.45 Coffe Break

15.45 – 16.30 Presentasi Kelompok dan diskusi Fasilitator 16.30 – 17.00 Perumusan dan RTL Fasilitator 17.00 –

selesai

Penutup Panitia

(15)

2.6. Peralatan

Peralatan yang digunakan dalam kegiatan lokakarya : 1. Kamera 2. Laptop 3. ATK 4. Kertas Flipchart 5. Papan Flipchart 6. LCD Proyektor 7. Recorder

(16)

BAB.3 HASIL KEGIATAN 3.1. Proses Kegiatan

3.1.1. Pembukaan dan pengantar dari Fasilitator

Kegiatan ini di awali dibuka oleh Kepala desa Sukorejo Bpk Sulwasi dengan ada beberapa point penting dalam pembukaan yaitu :

1. Memohon kepada Hutan Kita Institute untuk mendamping kami dalam pengajuan permohonan pengelolaan Hutan Desa yang ada di desa Sukorejo ini.

2. Memohon kepada Hutan Kita Institute untuk memberikan pemahaman dan penyelesaian serta menguatkan kepengurusan Hutan Desa sehingga izin Hutan desa dapat keluar secepatan 3. Mohon di jelaskan di detail persoalan Hutan Desa Hak dan

kewajiban untuk tata kelolannya yang sudah ada

4. Memohon di fasilitasi dalam melakukan penyusunan berkas-berkas pengajuan permohonan Hutan Desa

5. Memohon kepada tim HaKI dapat menjelaskan kelemahan dan kelebihan Hutan Desa dengan Hutan Kemasyarakatan .

(17)

umum tentang Hutan Desa dan peraturan Perhutanan Sosial serta peraturan yang mengatur penyusunan Rencana Kerja Hutan Desa, dalam penyampaian ini ada beberapa point penting yaitu :

1.memfasilitasi dalam memberikan gambaran pengelolaan Hutan Desa di desa Sukorejo,

2.melakukan penjelasan tentang keuntungkan hutan desa di banding dengan Hutan Kemasyarakatan, jika dilihat dari calon areal yang akan di ajukan menjadi wilayah kelola Hutan Desa Sukorejo

3.Berharap masukan dari calon pengurus LPHD, Perangkat Desa dan masyarakat Desa Sukorejo dalam mengembangkan Hutan Desa yang ada

4.Berharap para calon pengurus LPHD mau bekerjasama dalam melakukan kegiatan-kegiatan persiapan pengajuan izin Hutan Desa

3.1.2. Pemaparan Perkembangan Perhutanan Sosial di Sumatera Selatan

Pada tahap pertama ini akan menjelaskan mengenai pengertian dasar tentang perhutanan sosial, perkembangan Perhutanan Sosial di Sumatera Selatan ( Hutan Desa, Hutan Kemasyarakatan, Hutan Tanaman Rakyat dan Kemitraan) yang di sampaikan oleh Bpk. Sigid Widagdo dengan point penting sebagai berikut :

(18)

Tentang Perhutanan Sosial

Dalam paparan tentang perhutanan sosial ada beberapa point penting sebagai dasar perhutanan sosial yaitu :

a. Dasar Hukum

Permen Kehutanan P. 49/MENHUT-II/2014 tentang Hutan DesaPermen Kehutanan P.88/MENHUT-II/2013 tentang Hutan

Kemasyarakatan b. Pengertian

Sistem pengelolaan hutan lestari yang dilaksanakan dalam kawasan hutan negara atau hutan hak/adat yang dilaksanakan oleh masyarakat setempat atau masyarakat hukum adat sebagai pelaku utama untuk meningkatkan kesejahteraannya, keseimbangan lingkungan dan dinamika sosial budaya dalam bentuk Hutan Desa, Hutan Kemasyarakatan, Hutan Tanaman Rakyat, Hutan Rakyat, Hutan Adat dan Kemitraan Kehutanan.

c. Tujuan

Untuk menyelesaikan permasalahan tenurial dan keadilan masyarakat setempat/hukum adat di dalam dan sekitar kawasan hutan dalam rangka kesejahteraan masyarakat dan pelestarian fungsi hutan

d. Ruang Lingkup Perhutanan Sosial

Hutan Desa

Hutan KemasyarakatanHutan Tanaman Rakyat  Kemitraan Kehutanan  Hutan Hak/Adat

e. Perizinan dan lokasi areal perhutanan Sosial

(19)

Kepada desa yang mengajukan Hutan Desa. sedangkan Hak untuk Hutan kemasyarakatan diberikan Izin Usaha Pemanfaatan HKm (IUPHKm), yang di berikan kepada kelompok pengaju Hutan Kemasyarakatan, Hak untuk Hutan tanaman Rakyat (HTR) Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu HTR (IUPHHK-HTR) diberikan kepada kelompok, koperasi yang mengajukan HTR, Hak atas Kemitraan Kehutanan, berikan kepada masyarakat atas Persetujuan Kemitraan Kehutanan dengan KPH dan masyarakat yang mengelolanya, dan hak untuk Hutan Hak (Adat/Rakyat), diberikan kepada pemangku adat sesuai dengan Penetapan Hutan Hak atau adat yang ada di kawasan hutan. Lokasi perhutanan sosial Hutan Desa, Hutan Kemasyarakatan dapat diajukan dalam kawasan hutan produksi, Hutan Lindung dan wilayah tertentu KPH.

Sedangkan Hutan Tanaman Rakyat dapat diajukan dalam kawasan hutan produksi dan wilayah tertentu KPH, Kemitraan Kehutanan dapat diajukan dalam areal izin pemanfaatan atau kelola hutan di kawasan hutan areal KPH. Pada Hutan Hak (Adat/Rakyat) areal hutan yang dibebani hak atas tanah. Perizinan HPHD, IUPHKm, IUPHHK-HTR, Persetujuan Kemitraan Kehutanan dan Penetapan Hutan Hak diberikan oleh Menteri.

selain kementerian pemberian izin dapat didelegasikan kepada Gubernur, dng syarat bahwa provinsi, Memasukan PS dalam RPJMD, Memiliki Pergub tentang Perhutanan Sosial dan memiliki APBD tuk Perhutanan Sosial dengan pemohon perhutanan sosial yaitu untuk Hutan Desa koperasi desa/BUMDes setempat, untuk HKm yang mengajukan ketua kelompok masyarakat/ketua gab KTH/ketua koperasi, untuk HTR yang dapat mengajukan petani hutan, Kelompok Tani Hutan, Gabungan Kelompok Tani Hutan dan koperasi serta perorangan yang pernah sebagai pendamping atau penyuluh bidang kehutanan dengan membentuk kelompok/koperasi bersama masyarakat setempat. Untuk Kemitraan Kehutanan yang

(20)

pemegang izin atau pengelola hutan atau kelompok calon mitra, Hutan Hak (Adat/Rakyat) yang dapat mengajukan adalah masyarakat hukum adat atau perorangan atau kelompok atau koperasi.

f. Tata Cara Permohonan Perhutanan Sosial

Untuk mendapatkan izin perhutanan sosial ada beberapa tahapan yang harus dilalui seperti berikuti ini

Permohonan diajukan kepada Menteri, tembusan : gubernur, bupati atau walikota, kepala UPT, Kepala KPH, Dirjen melakukan verifikasi kelengkapan syarat administrasi.

Jika belum lengkap dikembalikan

Dirjen atas nama Menteri menerbitkan keputusan tentang pemberian hak/izin atau persetujuan atau penetapan.

g. Jangka Waktu izin yang berlaku

Setelah mendapatkan izin maka masa berlaku dan jangka waktu izin sebagai berikut :

HPHD, IUPHKm dan IUPHHK-HTR berlaku 35 tahun.Evaluasi dilakukan 5 tahun sekali.

 Monitoring dilakukan oleh pendamping/Pokja PPS atau Kepala KPH

 Pelaporan hasil monitoring dilakukan secara manual atau elektronik (on line/daring).

Perizinan perhutanan social dapat diHapus HPHD, IUPHKm dan IUPHHK-HTR karena :

 Jangka waktu berakhir  Dicabut

(21)

3.1.3. Peraturan Desa Tentang Hutan Desa

Pada tahap kedua ini akan menjelaskan tentang pemahaman peraturan desa berkaitan dengan perhutanan sosial khususnya Hutan Desa yang akan di sampaikan oleh Bpk. Masrun Zawawi dengan point penting sebagai berikut :

Gambar.3. Pemaparan Materi Tata Hukum berlaku Materi pelatihan :

1) Pengertian Peraturan dan Perundang-undangan 2) Mengenali apa itu Peraturan Perundang-undangan; 3) Mengenali apa itu Undang-Undang;

4) Mengenali apa itu Peraturan;

5) Tata urutan Perautran Perundang-undangan; 6) Teknik menyusun Perdes

7) Cara Menyusun Kalimat Peraturan 8) Praktek Menyusun Peraturan Kelompok.

3.1.3.1. Pengertian Peraturan dan Peraturan Perundang-undangan :

- Peraturan Perundang-undangan adalah peraturan tertulis yang memuat norma hukum yang mengikat secara umum dan dibentuk atau ditetapkan oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang melalui prosedur yang ditetapkan dalam peraturan

(22)

perundang-undangan ( Pasal 1 angka 2 UU No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan).

- Undang-Undang adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh DPR dengan persetujuan bersama Presiden( Pasal 2 angka 3 UU No. 12 Tahun 2011 ).

- Jadi UU termasuk salah satu peraturan perundang-undangan - Perdes termasuk salah satu peraturan perundang-undangan.

Kaidah hukum yang harus dipatuhi dalam menyusun peraturan perundang-undangan

- Disusun oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang. - Disusun sesuai dengan format peraturan perundang-undangan

mulai dari bentuk, penggunaan tanda baca sampai dengan proses penyusunannya.

- Tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.

- Dibuat dengan memperhatikan aspek sosiologis, politis dan yuridis agar dapat diterima dan dapat dilaksanakan.

- Apabila tidak sesuai dengan prisip-prinsip diatas, maka peraturan tersebut dapat dibatalkan.

Beberapa pengertian dari Peraturan adalah :

- Pedoman agar manusia hidup tertib dan teratur.

- Salah satu bentuk keputusan yang harus ditaati dan dilaksanakan. - Suatu hal yang bersifat membatasi ruang gerak atau

“kemerdekaan” setiap individu.

Tata urutan Peraturan Perundang-undangan

- UUD 1945 → MPR

- UU → DPR bersama Presiden

(23)

- Perpres → Presiden

- Perda Prop → DPRD Prop bersama Gubernur

- Perda Kab/Kota → DPRD Kab/Kota bersama Bupati/Wali Kota

- Perdes → BPD bersama Kepala Desa

Peraturan perundang-undangan tingkat desa:  Peraturan Desa

- Materi muatannya adalah :

- Penyelenggaraan pemerintahan desa - Pemberdayaan masyarakat

- Penjabaran lebih lanjut dari ketentuan perundang-undangan yang lebih tinggi

Peraturan Kepala Desa

- Penjabaran pelaksanaan perdes yang bersifatpengaturan

 Keputusan Kepala Desa

- Penjabaran Perdes dan Perkades yang bersifatpenetapan

Aspek-aspek yang dapat diatur dalam Perdes :  Bidang Pemerintahan dan Lembaga Desa

- Struktur organisasi dan tata kerja pemerintahan desa - Struktur organisasi BPD

- Tata tertib BPD

- Tugas pokok dan fungsi aparatur desa

- Struktur organisasi dan tata kerja lembaga desa

- Kerja sama antar desa dan kerja sama dengan pihak ketiga - Batas desa, dll

 Bidang Keuangan Desa - APBDes

- Mekanisme keuangan desa

- Sumber-sumber pendapatan desa - Pelayanan administrasi desa - Sumbangan pihak ketiga

(24)

- Sewa tanah milik desa, dll  Bidang Pembangunan

- Rencana pembangunan tahunan desa

- Rencana pembangunan jangka menengah desa (RPJMD) - Tata ruang dan peruntukan lahan, dll

Tahapan Penyusunan Perdes 1. Persiapan dan Pembahasan 2. Pengesahan dan Penetapan

3. Penyampaian Perdes kepada Bupati melalui Camat sebagai bahan pembinaan dan pengawasan paling lambat 7 hari setelah ditetapkan

4. Penyebarluasan

Rincian Tahapan Penyusunan Perdes Tahap I (Perencanaan)

1. Identifikasi Masalah yang akan diatur Perdes 2. Dialog Kampung membahas masalah tersebut 3. Pelatihan Penyusnan Draft Perdes (Legal Drafting) Tahap II (Penyusunan)

1. Pembentukan Tim Penyusun Perdes → Penerbitan SK Kades/BPD termasuk pembentukan tim pihak yang berkepentingan dan pihak yang memiliki wawasan dan keahlian

2. Penyusunan dan pembahasan pokok-pokok pikiran Perdes 3. Penyusunan Kerangka dan Pasal-Pasal Perdes (Draft 1) 4. Konsultasi Publik Tingkat Dusun dan Tingkat Desa 5. Revisi guna menampung masukan masyarakat (Draft 2) 6. Finalisasi Draft Raperdes

Tahap III (Pembahasan, Pengesahan dan Penetapan, serta Pengundangan)

(25)

2. Pengesahan Raperdes → Persetujuan BPD dan Kades →Raperdes disampaikan kepada inisiator paling lama 7 hari

3. Penetapan Perdes paling lambat 30 hari sejak diterimanya Raperdes yang telah dilakukan persetujuan bersama

4. Pengundangan Perdes → Perdes yang telah disahkan lalu ditempatkan di Lembaran Desa

5. Penyebarluasan Perdes kepada masyarakat

Ketentuan Pasal 10 Permendagri Nomor 29 Tahun 2006 tenatng Mekanisme Penyusunan Perdes :

1) Rancangan Peraturan Desa tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa, pungutan, dan penataan ruang yang telah disetujui bersama dengan BPD, sebelum ditetapkan oleh Kepala Desa paling lama 3 (tiga) hari disampaikan oleh Kepala Desa kepada Bupati/Walikota untuk dievaluasi.

2) Hasil evaluasi rancangan Peraturan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh Bupati/Walikota kepada Kepala Desa paling lama 20 (dua puluh) hari sejak Rancangan Peraturan Desa tersebut diterima.

3) Apabila Bupati/Walikota belum memberikan hasil evaluasi Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Kepala Desa dapat menetapkan Rancangan Peraturan Desa tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APB Desa) menjadi Peraturan Desa.

Kerangka Struktur Perdes A. Penamaan/Judul B. Pembukaan C. Batang Tubuh D. Penutup

(26)

3.1.3.2. Cara Menyusun Kalimat Peraturan

Tiga Prinsip Kalimat Peraturan - Prinsip Kejelasan

- Prinsip Ketelitian - Prinsip Konsistensi Prinsip Kejelasan

 Kalimat peraturan haruslah sederhana, singkat dan mudah dipahami (tidak berbelit-belit). Kalimat sederhana lebih mudah dipahami ketimbang kalimat panjang dengan bahasa yang rumit.  Gunakan bahasa yang dimengerti banyak orang serta tidak

menimbulkan makna ganda atau menimbulkan banyak penafsiran.  Menggunakan kalimat aktif.

Ciri yang paling penting diingat dalam prinsip ini adalah satu ayat hendaknya memuat satu norma yang dirumuskan dalam satu kalimat utuh.

Prinsip Ketelitian

Harus secara rinci menjelaskan norma hukum berupa perintah, larangan dan kebolehan supaya semua pihak mengetahui secara tepat apa yang diperintah, apa yang dilarang dan apa yang diizinkan.

Prinsip Konsistensi

Sebuah kalimat peraturan hendaknya menggunakan satu kata untuk menyatakan maksud yang sama. Sebaliknya, jangan menggunakan kata yang berbeda untuk menyatakan maksud yang sama.

3.2. Pembentukan LPHD Desa Sukorejo

Setelah pemaparan dua materi yang di sampaikan oleh Bpk Sigid Widagdo dan Bpk Masrun Zawawi, SH. Maka kegiatan selanjutnya yaitu pembentukan LPHD Desa Sukorejo yang di fasilitasi oleh Bpk Masrun

(27)

1. Adanya Surat Keputusan Kepala Desa Sukorejo tentang pengangkatan LPHD Desa Sukorejeo

2. Adanya susunan kepengurusan LPHD Desa Sukorejo sebagai berikut : Susunan LPHD Sukorejo

Pembina : Kepala Desa Sukorejo

Ketua Badan Permusyawaratan Desa Sukorejo

Ketua : Ujang Saharudin

Wakil Ketua : Ponijan

Sekretaris : Yayuk Purbanisasi Wakil Sekretaris : Abdul Rahman

Bendahara : Suswanti

Wakil Bendahara : Asnaini Seksi-Seksi 1. Seksi Program Koordinator : Supardi Anggota : Ngadimin Suparno Pamuji Sukemi 2. Seksi Rehabilitasi Koordinator : Sukarno Anggota : Suwastan Parmanto Yatimin Dedy

3. Seksi Pengamanan Kawasan Koordinator : Amrul Khoiri Anggota : Bastoni

Sudarno Dartum Iskandar

(28)

4. Seksi Pemanfaatan Kawasan Koordinator : Hermin Anggota : Triyanto Maryono Hartono Budi Santoso 5. Seksi Humas Koordinator : Abudiman Anggota : Parjiono Suwondo Sukarman Suratin

3. Adanya surat pengajuan permohona Hutan Desa untuk Bupati Musi Rawas di tujukan ke menteri KLHK

3.3. Kondisi Biofisik 3.3.1. Luas dan Lokasi

Luas Calon areal Kerja HKm yang akan diusulkan oleh kelompok masyarakat ini adalah 610,84 Ha. Usulan ini meliputi seluruh bagian Bukit Gatan yang memang sudah diubah semua menjadi kebun karet, kopi dan buah-buahan.

Adapun lokasi calon areal kerja HKm berbatasan dengan : Sebelah Utara : Kecamatan Sumber Harta

Sebelah Selatan : Dusun I Sukacinta Desa Sukorejo Sebelah Barat : Desa Sukakarya

(29)

3.3.2. Kondisi Topografi

Calon areal kerja HKm memiliki struktur tanah mineral dan topografi lerengnya bervariasi. Dari bergelombang ringan sampai curam berbatu. Kaki bukit Gatan berada pada ketinggian 68 mdpl dan puncaknya pada 380 mdpl. Titik koordinatnya berada pada 102o55’47.49 – 102o55’26.37 BT dan 03o8’37.38 03o8’13.79 LS.

3.3.3. Tutupan Lahan

Bukit Gatan sudah didominasi oleh Kebun Karet, buah-buahan dan kopi. Adapun jenis kayu keras dan tanaman lainnya sebagai berikut :

No. Jenis Nama

1. Kayu Keras - Sengon

- Pulai - Gaharu - Merbau - Markunyit - Ridan - Kedongdong 2. HHBK - Karet - Rotan - Kopi - Durian - Cempedak - Bambu - Petai - Balek Angin - Kemiri - Kedongdong

(30)

3.3.4. Ketergantungan Mata Pencaharian Masyarakat Terhadap Sumber daya Hutan

Masyarakat manfaatkan lahan disekitar dengan menanam kopi berdasarkan jenis tanaman karet. Selain itu masyarakat juga menanam tanaman tahunan lainnya seperti tanaman palawija, Cabe dan Tomat. Sedangkan Tanaman pembayang atau tanaman pelindung mereka pelihara adalah tanaman produktif seperti Alpukat, Jengkol, Nangka dan Durian. Dengan masa panen karet setiap hari dengan teknik mingguan atau harian dalam menjual hasil penyadapan karet.

3.3.5. Ketergantungan Masyarakat terhadap Hutan

Selain sebagai sumber perekonomian, masyarakat juga menggunakan hutan sebagai tempat mencari bahan makanan dan sumber air bersih. Untuk sumber perekonomian berupa getah karet, kopi dan buah-buahan. Sumber makanan berupa tanaman pakis, kebun palawija yang ditumpangsari dengan tanaman karet. Untuk sumber air bersih, air sungai Gatan digunakan sebagai PAM khususnya bagi Dusun I Sukacinta.

Adapun potensi lain di Bukit Gatan ini adalah potensi wisata berupa air terjun dan Goa. Terdapat 2 air terjun. Masing-masing tinggi air terjun tersebut adalah 7 dan 15 meter. Adapun Goa Harimau berada pada ketinggian 225 mdpl. Goa Harimau dihuni oleh kelelawar. Bisa dimasuki hanya dengan berjalan jongkok dan tidak bisa masuk jauh karena kondisi ke dalam goa semakin menyempit.

(31)

3.4. Kondisi Sosial ( Pendidikan dan Kesehatan) 3.4.1. Pendidikan

Secara umum pendidikan di desa Sukarejo untuk alokasi sarana pendidikan Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah pertama, berdasarkan jumlah sarana pendidikan di STL Ulu Terawas terdapat sebagai berikut :

Grafik 1. Kondisi sarana dan Prasarana pendidik di Kecamatan STL Ulu

3.4.2. Kesehatan

Dari segi kesehatan, bahwa untuk berobat masyarakat mengandalkan perawat, mantri atau bidan yang ada desa. Untuk Sarana kesehatan di Desa Sukorejo terdapat 1 Poliklinik desa, 1 Puskesmas, 3 bidan Desa yang merupakan bagian dari jumlah sarana dan prasarana kesehatan di kecamatan STL Ulu Terawas sebagai berikut :

(32)

3.5. Ekonomi

Perekonomian masyarakat di desa Sukorejo berada disektor perkebunan dan pertanian. Pengelolaan lahan disektor perkebunan mereka mengandalkan Karet, buah-buahan, sedangkan pada sektor pertanian sebagian masyarakat mengelola padi dan budidaya ikan gurami, nila dan mas.

Tabel.3. Hasil penjualan produk Hasil Hutan Bukan Kayu LPHD Sukorejo Berdasarkan informasi masyarakat sekitar bahwa dalam penjualan produk perkebunan maupun pertanian mereka masih mengandalkan pengumpul sehingga harga mereka masih tergantung dari pengempul tersebut. Selain ke pengempul mereka juga langsung menjualnya ke warung atau ke dan pasar yang ada disekitar desa Sukorejo.

No Komoditi Harga (Rp)

1 Karet Rp.6.000 – Rp10.000 / Kg

2 Padi /Gabah Rp. 5.000 kg-Rp. 6.000/kg

(33)

3.6. Tata Kelola Hutan Desa 3.6.1 Pola Pertanian Masyarakat

Sebagian besar masyarakat dari desa Sukarejo untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka adalah bertani ladang dan kebun. Komoditi utama di calon Hutan Desa adalah Karet, pola pertanian masyarakat terbiasa melakukan penanaman tanaman tahunan, seperti duren, duku, cempedak, rambai, pisang dan nangka serta sebagian kecil melakukan pengelolaan sawah. Pola-pola pertanian yang dilakukan secara tradisional. Tanaman tersebut merupakan tanaman selah yang di tanam pada tanaman komoditi utama karena, secara teknis dalam pola tradisional penanaman karet sebagai berikut:

3.6.2. Pembibitan

Bibit-bibit karet yang ada merupakan hasil dari penyemaian sendiri, teknik penyemaian yang dilakukan oleh masyarakat desa Sukorejo ada dua cara yaitu penyetikan dan penyemaian biji.

a.Penyetekan

Teknik penyetikan yaitu melakukan penyambungan bibit anakan dari karet-karet yang telah berkembang biak secara liar di sekitar kebun masyarakat, yang kemudian mereka ambil dan di masukan dalam kantung-kantung plastic atau bambu dengan ini tanah dan pupuk kompos. Teknik penyetikan bibit karet ini lebih cepat perttumbuhannya, b.Penyemaian

Teknik penyemaian yaitu melakukan pengumpulan biji-biji karet yang telah tua, kemudian di masukan dalam kantung plastic dan bambu berisi tanah serta pupuk kompos. Teknik ini cendrung cukup lama.

(34)

3.6.3. Persiapan Lahan

Setelah pembibit, proses selanjutnya adalah melakukan persiapan lahan, dalam persiapan lahan ini ada beberapa tahapan yaitu:

a) penebasan lahan

penebasan lahan yaitu melakukan penebangan pohon-pohon karet yang telah tua atau tidak bergetah lagi, pohon-pohon besar biasanya di jadikan log-log yang kemudian di jual di sawmill untuk bahan baku papan dan balok. Sedangkan kayu-kayu kecil dikumpulkan untuk pagar.

b) Pembakaran

Sisa-sisa kayu yang telah di potong-potong, kemudian tahap selanjutnya adalah pembakaran. Proses pembakaran ini secara adat dilakukan dengan ritual dan sesaji, hal ini di harapkan agar api tidak membakar kekebun lain atau membakar hutan. Di sisi lain proses pembakaran ini berguna sebagai perangsang tanah agar subur.

c) Pemagaran lahan

Setelah lahan bersih tahap selanjutnya adalah pemagaran lahan, maksud dan tujuannya adalah menjaga tanaman dari hama babi hutan dan sebagai. Bahan-bahan yang digunakan sebagai pagar biasanya kayu-kayu sisa pembakaran yang telah di kumpulkan.

3.6.4. Penanaman Tanaman Selah

Pada proses ini masyarakat desa Sukorejomelakukan penanaman selah, yaitu tanaman jenis bulan seperti palawija, sayur-mayur dan tanaman umbi-umbian. Tanaman selah ini hingga 2 tahun umur tanaman komoditi utama karet.

(35)

3.6.5. Penanaman komoditi utama

Diselang tanaman selah seperti padi, palawija,sayur-mayur dan umbi-umbian, kemudian masyarakat melakukan penanaman bibit komoditi utama yaitu karet.

3.6.6. Sadap/Pahat/Pantang

Proses ini dilakukan pada waktu tanaman karet berumur 5 tahun(bibit karet Stek), sedangkan bibit yang berasal dari biji berumur 7 tahun. Proses ini berlangsung setiap hari dilakukan penyadapan pada waktu pagi hari mulai pukul 05:00 Wib sampai dengan 07:00 Wib.

3.6.7. Pengumpulan Hasil

Setelah selesai penyadapan dilakukan pengumpulan hasil penyadapan karet di rumah,kemudian masyarakat melakukan penjualan secara langsung ke pabrik atau melalui pengumpul yang menampung hasil karet masyarakat desa.

3.7. Kalender Musim 3.7.1. Tanaman

Potensi tanaman yang dibudidayakan di Desa SukorejoKecamatan STL Ulu Terawas Kabupaten Musi Rawas dilakukan menurut jenis tanamannya, tanaman bulanan seperti kacang-kacangan, sedangkan tanaman tahunan seperti jenis durian,nangka, duku, buah-buahan, Sawit dan komoditi utama adalah Karet Dalam kalender musim di desa Sukorejotersebut adalah bulan November s/d februari jenis durian, karet setiap bulan, singkong 3 bulan sekali, jengkol tiap bulan september, cabe enam bulan sekali, pisang bulan januari, pinang 2 bulan sekali.

(36)

No Jenis Tanaman

Bulan Ket

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agus Sep Okt Nov Des

1. Durian 2. Karet 3. Singkong 4. Cabe 5. Pisang 6. pinang 7. Nangka 8. Sawit 9. Duku 10 Palawija 11. padi

Tabel.4. Kalender Musim Tanaman Hasil Hutan Bukan Kayu LPHD Sukorejo

3.7.2. Kalender Iklim

Kalender tanaman biasanya di ikuti dengan kalender iklim, di desa iklim Sukorejoyang ada tidak jauh beda dengan desa-desa lainnya di Sumatera Selatan, seperti musim hujan pada bulan November sampai dengan April, musim kemarau di mulai dari april sampai dengan september. Sedangan musim angin di bulan oktober. Pada bulan pancaroba atau peralihan musim biasanya cendrung penyakit yang menyebar di desa Sukorejoseperti penyakit malaria, dendam berdarah dan sebagai.

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agus Sep Okt Nov Hujan

Kemarau Angin Pancaroba

(37)

3.7.3. Kalender Aktivitas Masyarakat

Aktivitas masyarakat di desa Sukorejoini rutinitas adalah pemahatan (nyadap) karet, selain itu masyarakat melakukan penanaman padi setahun dua sekali, penanaman bulan oktober, sedangkan perawatan bulan januari, dan pemanenan bulan Maret.kemudian bulan april Mei Masa senggang yang di manfaatkan oleh masyarakat desa Sukorejomelakukan kerja keluar desanya. Atau melakukan aktivitas rutin pemeliharaan kebun-kebun karet maupun sawit yang ada.

Grafik 4. Grafik kalender aktivitas masyarakat di Desa Sukorejo

3.7.4. Transek Wilayah

Vegetasi sepanjang garis lahan dari titik awal batas desa Sukorejomenuju titik akhir batas Hutan Kemasyarakatan Sukorejoyang ada terdiri dari, pemukiman, tumbuhan buah-buahan, perkebunan karet ilalang, dan tanaman rumput gajah. Sedangkan pada areal wilayah tumbuhan yang ada jenisnya seperti ilalang, rumput gajah, rumput teki,karet, dan pacang kayu perepat, medang darah, jati dan jenis tanaman selah lainnya. Sedangkan zona areal di gunakan sebagai areal Hutan kemasyarakatan, perkebunan, pemanfaatan sumberdaya perairan seperti ikan, areal berburu hewan seperti napu, kijang dan tregilling. Seperti gambar di bawah ini

Pengambilan karet

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agus Sep Okt Nov Des Padi Sawah Perawatan Tanaman Panen padi Perawatan kebun Merantau

(38)

3.8. Peta Wilayah

Gambar 4. Peta Areal Hutan Desa Sukorejo

3.9. Pendapatan Dan Pengeluaran Masyarakat

Sebagai besar masyarakat kedua desa wilayah study mata pencariannya adalah petani, dalam kehidupan sehari hari masyarakat dalam pengeluarannya mencapai 2.000.000; rupiah / bulan. Untuk mencukupi pengeluaran masyarakat tersebut di hasilkan dari penjualan karet, jual arang, jual kerajinan dari dari hasil pertanian seperti pengolahan ubi kayu menjadi kripik

Grafik. 5 Bagan Alur Keputusan Rumah Tangga

Rumah Tangga Karet Penampung karet Jual uang be ke rja Belanja Pasar Barang be ke rja Sungai/raw a

Cari Ikan/ satwa buruan

Ju

al

Penggilingan padi

(39)

3.10 Hubungan Masyarakat

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat desa Sukorejo sangatlah baik, hubungan antar masyarakat yang begitu erat, sehingga di dalam pekerjaan apapun yang bersifat masa mereka lakukan dengan gotong royong. Sedangkan dalam penyelesaian masalah-masalah antar masyarakat di desa selalu melakukan penyelesaian secara adat dengan asas kekeluargaan. Kelembagaan desa yang ada seperti pemerintah desa, badan pemusyawarahan desa serta organisasi kepemudaan di kedua desa saling mendukung satu salam yang lainnya.

Grafik. 6 Diagram Venn Hubungan Masyarakat

3.11. Rencana Monitoring dan Evaluasi

Kegiatan Monitoring dan Evaluasi di lakukan untuk menilai sejauh mana kesesuaian pelaksanaan perencanaan kegiatan pengelolaan Hutan Desa LPHD Sukorejo. Evaluasi ini dilakukan selama satu kali dalam setahun, dengan mekanisme yang di gunakan adalah dengan memulai pelaksanaan monitoring secara internal yang di lakukan oleh pengurus besar HKm LPHD Sukorejo pada blok-blok yang telah di bagi tugas masing-masing. Selanjutnya evaluasi dalam upaya melakukan tindak lanjut kegiatan kepada ekstrenal yang akan melakukan evaluasi kegiatan sesuai yang telah di susunan Rencana Umum, Rencana operasional dan Rencana Kerja tahunan HKm LPHD Sukorejo

Pemerintah Desa Masyarakat BPD Pemuda LPHD

(40)

BAB 4. KESIMPULAN dan SARAN 4.1. Kesimpulan

dari kegiatan selama 2 hari ini dapat di tarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Perubahan skema dari HKm ke Hutan Desa adalah murni pilihan masyarakat melalui musyawarah. Adapun untuk usulan yang disebutkan Dinas Kehutanan dan KPHP BBC, perlu dilakukan pengecekan dengan merunut SK Bupati yang dikeluarkan sebagai rekomendasi ke menteri.

2. Pengelola lahan bisa menjadi anggota LPHD. LPHD hanya mengurus, belum tentu berkebun di lahan.

3. Pembuatan berita acara oleh BPD dan Kades mengesahkan LPHD. 4. Melengkapi berkas-berkas Pengusulan Hutan DesaPembuatan

berita acara.

4.2. Kendala

masyarakat desa Sukorejo masih mengalami kendala dalam pemahaman perhutanan sosial sehingga dalam memfasilitasi kegiatan sedikit kesulitan, selain itu untuk melakukan pemberkasan masyarakat khususnya LPHD yang terbentuk masih kesulitan apa saja syarat pengajuan Hutan Desa.

4.3. Rekomendasi

Dari hasil kegiatan ini ada beberapa rekomendasi yang bisa di lakukan dalam waktu dekat yaitu;

1. LPHD berkomunikasi dengan KPHL BBC dalam membangun komitmen bersama untuk mendorong perhutanan sosial ( Hutan Desa) di Desa Sukorejo

2. LPHD akan menyiapkan berkas yang akan di ajukan dan memohon rekomendasi dari dinas kehutanan provinsi Sumatera Selatan yang

(41)

3. LPHD secara intensif melakukan pendataan wilayah areal yang akan di ajukan sesuai dengan kepemilikan lahan-lahan milik masyarakat secara adminstrasi masuk dalam wilayah dessa Sukorejo Kecamatan STL Ulu Terawas

4. Hutan Kita Institute secara intensif melakukan pendampingan LPHD dalam memperkuat kelembagaan LPHD dan kebutuhan-kebutuhan dalam peningkatan kapasitas LPHD dan masyarakat

Gambar

Tabel 1. Agenda Kegiatan RKT HKm LPHD Sukorejo
Grafik 2. Kondisi sarana dan Prasarana Kesehatan di Kecamatan STL Ulu
Grafik 4. Grafik kalender aktivitas masyarakat di Desa Sukorejo 3.7.4. Transek Wilayah
Gambar 4. Peta Areal Hutan Desa Sukorejo

Referensi

Dokumen terkait

Teknik sampling yang digunakan adalah teknik purposive sampling dimana sampling yang diambil merupakan kar- yawan dan karyawati yang bekerja di kantor pusat dan memiliki

Ini berarti nilai thitung lebih besar dari nilai t tabel baik pada taraf 5 % sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada penerapan

Penentuan jumlah rupiah pengorbanan ekonomik (keharusan sekarang) setiap saat seandainya pada saat tersebut kewajiban harus dilunasi. Penentuan nilai pelunasan

Pada jenis alat penukar kalor ini, fluida panas mengalir di dalam tube sedangkan fluida dingin mengalir di luar tube atau di dalam shell, karena kedua aliran fluida melintasi

Seperti halnya perusahaan BUMD lainnya di Indonesia, sejak tahun 1961 perusahaan ini didirikan, PT.Bank Riau Kepri masih menggunakan sistem pengelolaan surat

Apabila kita berdiri tegak lurus lalu dari tempat kita berdiri dihubungkan dengan satu garis lurus yang melewati titik pusat bumi ke arah atas dan bawah (tegak

Jika anda tertarik untuk membudidayakan tanaman buah berwarna merah ini, anda tidak perlu khawatir karena pada kesempatan kali ini JualBenihMurah.com akan memberikan ulasan

Tujuan penelitian yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh Sikap, Fashion Leadership , Kepercayaan Konsumen dan Orientasi Belanja terhadap