• Tidak ada hasil yang ditemukan

(Relationship form and meaning of Sundanese and Javanese languages in the vocabulary of kitchen appliances)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "(Relationship form and meaning of Sundanese and Javanese languages in the vocabulary of kitchen appliances)"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

KEKERABATAN BENTUK DAN MAKNA KOSAKATA pERALATAN

DApUR DALAM BAHASA SUNDA DAN BAHASA JAWA

(Relationship form and meaning of Sundanese and Javanese languages in the

vocabulary of kitchen appliances)

Emma Maemunah

Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah

Jalan Elang Raya Nomor 1, Mangunharjo, Tembalang, Semarang 50272 Telp. (024) 76744357, 70769945, Faks. (024) 76744358

posel [email protected] posel penulis [email protected] Diterima: 29/2/17, direvisi: 27/7/17, disetujui 26/9/17

Abstract

Sundanese and Javanese speakers are physically in touch through a verbal communication. It happens because in the Sundanese community live Javanese speakers and vice versa. Besides, Sundanese and Javanese come from the same family of language, namely the Austronesian so that both languages are related. This paper is expected to be able to maintain the language and the culture of Sundanese and Javanese which have begun to fade. Along with the modernization, the use of the kitchen appliances are changes too so that the name of kitchen appliances are rarely used. This paper aims to find out the description of the difference form and meaning of Sundanese and Javanese languages in the vocabulary of “kitchen appliances“. The data is collected by using Swadesh vocabulary list and other vocabulary lists compiled by the author. The Comparative Historical Linguistics study used data of both languages for comparison. The results showed that the vocabulary of “kitchen appliances” in Sundanese and Javanese are related. This is proved by the discovery of the word pairs which (1) are identical, such as [siwur] and [padariŋan], (2) have phonemic correspondence, such as [tolomboŋ] and [tɔmbɔŋ] with phonemic correspondence /o ~ ø /, dan / l~ ø /, and /o ~ ɔ/, (3) have phonetical similarity, such as [cɛntoŋ] and [cenṭɔŋ], and (4) have one phoneme difference, such as [kawali] and [kuwali], [parud] and [parut].

Keywords: proto language; relationship; kitchen appliances Abstrak

Penutur bahasa Sunda dan bahasa Jawa berhubungan secara fisik melalui komunikasi lisan. Hal itu terjadi karena dalam masyarakat Sunda terdapat penutur bahasa Jawa, dan sebaliknya. Selain itu, bahasa Sunda dan Jawa berasal dari rumpun bahasa yang sama, yaitu rumpun Austronesia, sehingga kedua bahasa itu berkerabat. Tulisan ini diharapkan dapat membantu mempertahankan bahasa dan budaya masyarakat Sunda dan Jawa yang sudah mulai luntur. Seiring dengan gelombang modernisasi, budaya penggunaan beberapa peralatan dapur pun mulai berubah, sehingga nama peralatan dapur tersebut jarang digunakan. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan perbedaan bentuk dan makna bahasa Sunda dan bahasa Jawa dalam kosakata “peralatan dapur” Data dikumpulkan dengan teknik pencatatan dengan menggunakan daftar kosakata Swadesh dan daftar kosakata peralatan lain yang disusun oleh penulis. Kajian Linguistik Historis Komparatif ini menggunakan data kedua bahasa sebagai bahan perbandingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kosakata “peralatan dapur” dalam bahasa Sunda dan bahasa Jawa memiliki kekerabatan. Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya pasangan kata yang (1) identik, seperti pada kata [siwur] dan [padariŋan], (2) memiliki korespondensi fonemis, seperti pada kata [tolomboŋ] dan [tɔmbɔŋ] dengan korespondensi fonemis /o ~ ø /, dan / l~ ø /, dan /o ~ ɔ/(3) mirip secara fonetis, seperti pada kata [cɛntoŋ] dan [cenṭɔŋ], dan (4) berbeda satu fonem, seperti pada kata [kawali] dan [kuwali], [parud] dan [parut].

(2)

pENDAHULUAN

Pulau Jawa terdiri atas tiga provinsi, yakni Provinsi Jawa Barat, Provinsi Jawa Tengah, dan Provinsi Jawa Timur. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Sunda dan bahasa Jawa dengan segala jenis dialek yang berkembang di masyarakatnya. Kedekatan batas wilayah antara ketiga provinsi tersebut memungkinkan terdapatnya kesamaan bahasa dalam aspek kosakata.

Penutur bahasa Sunda dan bahasa Jawa berhubungan secara fisik melalui komunikasi secara lisan. Hal itu terjadi karena dalam masyarakat bahasa Sunda terdapat penutur bahasa Jawa, dan sebaliknya. Selain itu, bahasa Sunda dan bahasa Jawa berasal dari rumpun bahasa yang sama, yaitu rumpun Austronesia sehingga kedua bahasa itu berkerabat.

Hubungan kekerabatan bahasa Sunda dan bahasa Jawa dapat dilihat dari kesamaan kosakata dan maknanya. Marsono (2016: 3) menjelaskan banyak morfem dan leksem atau kosakata dalam bahasa Indonesia dan Nusantara, seperti bahasa Jawa dan bahasa Sunda yang bentuknya mirip atau bahkan sama. Fungsi dan artinya pun kadang-kadang sama. Sebagai contoh, bahasa Sunda memiliki kosakata dahar, adeg, dan saré. Begitu pun bahasa Jawa memiliki kosakata dhahar, adeg, dan saré. Makna kosakata-kosakata tersebut sama, yaitu makan, berdiri, dan tidur. Contoh lain dapat dilihat pada kesamaan kosakata anak-binatang, seperti anak anjing, anak bandeng, anak kerbau, anak merpati, dan anak kuda, yaitu kirik, nanar, pedet, piyik, dan belo dalam bahasa Sunda, serta kirik, nener, pedhét, piyik, dan belo dalam bahasa Jawa. Perbedaan kosakata-kosakata tersebut terjadi pada perubahan fonem, misalnya fonem /a/ menjadi /e/ atau /ǝ/ menjadi /é/ dan fonem /d/ menjadi /dh/.

Beberapa contoh di atas menunjukkan bahwa kedua bahasa berasal dari bahasa proto (cognate) yang sama. Hal itu sejalan dengan pernyataan Sudarno (1992: 21) dan Keraf (1996: 35) yang menyatakan bahwa kemiripan fonetis dan semantik antara dua atau beberapa bahasa terjadi karena tiga faktor, yaitu:

1. Warisan langsung dari suatu bahasa proto yang sama yang dinamakan bentuk kerabat (cognate). Misalnya, kata Melayu/ Indonesia untuk “jarum” masih berkerabat dengan kata Jawa dom.

2. Faktor kebetulan (by chance), seperti kata bahasa Minangkabau duo dan kata bahasa Latin duo. Bentuknya sama, tetapi tidak ada hubungan kekerabatan.

3. Pinjaman (borrowing) berupa kata dan pengertiannya, seperti istilah bulan madu dalam bahasa Indonesia yang merupakan pinjaman dari bahasa Inggris honeymoon. Penelitian kekerabatan bahasa pernah dilakukan oleh Rendi Rismanto dengan judul “Kekerabatan Kosakata Bahasa Sunda dengan Bahasa Melayu Betawi di Kota Tangerang Selatan: Kajian Linguistik Historis Komparatif.” Teknik leksikostatistik digunakan dalam menganalisis data. Tujuan yang ingin dicapai adalah mendeskripsikan kosakata bahasa Sunda yang berkerabat dengan bahasa Melayu Betawi di Kota Tangerang Selatan; menghitung persentase hubungan kekerabatan kosakata tersebut dan mengetahui waktu pisah antara kedua bahasa tersebut.

Masalah penelitian ini adalah bagaimana deskripsi perbedaan bentuk dan makna bahasa Sunda dan bahasa Jawa dalam kosakata “peralatan dapur”. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mendeskripsikan perbedaan bentuk dan makna kosakata “peralatan dapur” dalam bahasa Sunda dan Bahasa Jawa. Selain itu, hasil dari tulisan ini diharapkan dapat menambah dan memperkaya lema Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang berasal dari bahasa daerah.

Tulisan ini diharapkan dapat membantu mempertahankan bahasa dan budaya masyarakat yang mulai luntur. Seiring dengan gelombang modernisasi, penggunaan beberapa peralatan dapur pun mulai berubah. Masyarakat lebih mengenal budaya memasak nasi dengan menggunakan rice cooker daripada menggunakan dandang, menyimpan air minum di dalam dispenser daripada di dalam kendi, memasak menggunakan kompor (gas) daripada

(3)

tungku, dan sebagainya. Lunturnya suatu budaya akan melunturkan penggunaan kosakata atau istilah yang menyertainya. Lama-kelamaan, kosakata atau istilah tersebut akan musnah dan tidak akan dikenali lagi. Hal ini tidak hanya terjadi pada kosakata peralatan dapur, tetapi terjadi pada kosakata-kosakata lain.

Punahnya satu budaya sama dengan punahnya satu bahasa. Marsono (2016:1) menyatakan bahwa sebagian bahasa nusantara yang kecil-kecil sudah punah, sedangkan bahasa nusantara yang didukung oleh jumlah penutur yang besar dan mempunyai sejarah budaya yang cukup tua, bahasa-bahasa itu masih tetap terpakai.

Penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Rendi Rismanto. Penelitian “Kekerabatan Bentuk dan Makna Kosakata Peralatan Dapur dalam Bahasa Sunda dan Bahasa Jawa” tidak menggunakan teknik leksikostatistik, tetapi menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan historis komparatif. Peneliti lebih menekankan pada perbedaan bentuk dan makna kosakata “peralatan dapur”.

KERANGKA TEORI

Penelitian ini mengkaji perbedaan bentuk dan makna kosakata “peralatan dapur” dalam bahasa Sunda dan bahasa Jawa. Oleh karena itu, perlu dijelaskan tentang BS, BJ, dan teori linguistik historis komparatif yang dapat menjelaskan bagaimana suatu bahasa dapat dikatakan berkerabat dan menjelaskan perbedaan bentuk dan maknanya.

Bahasa Sunda (BS)

Bahasa Sunda digunakan oleh masyarakat Sunda yang bermukim di tatar Sunda, yaitu Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Banten. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan bahasa ini digunakan oleh orang Sunda di luar tatarannya, salah satunya adalah di Jawa Tengah. Bahasa Sunda pun digunakan di beberapa daerah di Jawa Tengah yang berbatasan dengan Jawa Barat.

Bahasa Sunda memiliki beberapa tingkatan (undak usuk). Sudaryat (2007: 8) membagi tingkatan tersebut ke dalam ragam basa lemes (halus/hormat) yang terdiri atas lemes keur batur (halus untuk orang lain) dan lemes keur sorangan (halus untuk diri sendiri) dan ragam kasar (akrab atau tidak hormat).

Bahasa Sunda memiliki tujuh fonem vokal, yaitu /a/, /i/, /u/, /e/, /é/, /o/, dan /eu/ dan 23 fonem konsonan, yaitu /b/, /c/, /d/, /f/, /g/, /h/, /j/, /k/, /l/, /m/, /n/, /p/, /q/, /r/, /s/, /t/, /v/, /w/, /x/, /y/, /z/, /ng/, dan /ny/. Konsonan /ng/ dan / ny/ dibangun oleh dua fonem konsonan, tetapi diucapkan dalam satu bunyi konsonan. Sudaryat (2007: 72—73)

Bahasa Jawa (BJ)

Bahasa Jawa adalah bahasa yang digunakan oleh masyarakat Jawa yang bermukim di wilayah Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Seperti halnya bahasa Sunda, bahasa Jawa pun banyak digunakan di luar wilayahnya, bahkan sampai di luar negeri, yaitu di Suriname. Bahasa Jawa memiliki banyak kemiripan dengan Bahasa Sunda karena berasal dari bahasa proto yang sama. Seperti halnya bahasa Sunda, bahasa Jawa pun memiliki tingkatan atau undha usuk, yaitu basa ngoko (akrab) yang terdiri atas ngoko lugu dan ngoko alus. Selain itu, terdapat pula basa krama (halus) yang terdiri atas krama alus dan krama lugu (http://pustakabasajawa. blogspot.co.id/2013/07/undha-usuk-basa.html)

Wedhawati dkk. (2006: 65) menyebutkan bahwa bahasa Jawa memiliki enam fonem vokal, yaitu /a/, /i/, /u/, /e/, /o/, dan /ә/. Adapun, jumlah konsonan bahasa Jawa adalah 23, yaitu /b/, /c/, /d/, /f/, /g/, /h/, /j/, /k/, /l/, /m/, /n/, /p/, /r/, /s/, /t/, /w/, /x/, /y/, /z/, /ng/, /ny/. /ɖ/, /ţ /, dan glotal stop /?/.

Linguistik Historis Komparatif

Linguistik historis komparatif (linguistik bandingan historis) merupakan suatu cabang dari lmu bahasa yang mempersoalkan bahasa dalam bidang waktu serta perubahan-perubahan

(4)

unsur bahasa yang terjadi dalam bidang waktu tersebut (Keraf (1996: 22).

Sumber yang sama menyatakan bahwa tujuan dan kepentingan linguistik historis komparatif adalah sebagai berikut.

1. Mempersoalkan bahasa-bahasa yang serumpun dengan mengadakan per-bandingan mengenai unsur-unsur yang menunjukkan kekerabatannya. Bidang-bidang yang dipergunakan untuk mengadakan perbandingan semacam itu adalah fonologi dan morfologi.

2. Mengadakan rekonstruksi bahasa-bahasa yang ada saat ini kepada bahasa purba (bahasa-bahasa proto) atau bahasa-bahasa yang menurunkan yang bahasa-bahasa kontemporer/modern.

3. Mengadakan pengelompokkan bahasa-bahasa yang termasuk dalam suatu rumpun bahasa. Bahasa-bahasa serumpun belum tentu memiliki tingkat kekerabatan atau tingkat kemiripan yang sama.

4. Menemukan penyebaran bahasa-bahasa proto dari bahasa-bahasa kerabat, serta menentukan gerak migrasi yang pernah terjadi.

Aspek bahasa yang paling cocok untuk dijadikan bahan studi perbandingan adalah bentuk. Bahasa di mana pun dapat dijadikan objek perbandingan. Setiap bahasa di dunia memiliki ciri-ciri kesemestaan (universal) tertentu. Kesemestaan tersebut mencakupi:

1. kesamaan dalam bentuk dan makna sebagai pantulan dari sejarah warisan yang sama (bahasa proto). Kesamaan-kesamaan yang terlihat adalah:

(1) kesamaan sistem bunyi (fonetik) dan susuna bunyi (fonetis),

(2) kesamaan morfologis, yaitu kesamaan dalam bentuk kata dan gramatikal, (3) kesamaan sintaksis, yaitu kesamaan

relasi kata-kata dalam sebuah kalimat, 2. tiap bahasa memiliki perangkat unit

fungsional terkecil, yaitu fonem dan morfem.

3. tiap bahasa memiliki kelas-kelas tertentu, yaitu kata benda, kata kerja, kata sifat, kata ganti orang, dan kata bilangan.

Tulisan ini membandingkan dua bahasa, yaitu bahasa Sunda dan bahasa Jawa untuk dilihat kekerabatannya. Akan tetapi, tulisan ini tidak menggunakan teknik leksikostatistik untuk membandingkan dua bahasa atau lebih. Keraf (1996:121) mengatakan bahwa leksikostatistik adalah suatu teknik dalam pengelompokan bahasa yang lebih cenderung mengutamakan peneropongan kata-kata (leksikon) secara statistik, untuk kemudian berusaha menetapkan pengelompokkan itu berdasarkan persentase kesamaan dan perbedaan suatu bahasa dengan bahasa lain.

Sebuah pasangan kata akan dinyatakan berkerabat apabila memenuhi salah satu ketentuan berikut.

1. Pasangan kata yang identik, pasangan yang semua fonemnya sama betul. Contohnya: Kata Konsep Bahasa Sunda Bahasa Jawa Anglo anglo [aŋlɔ] anglo [aŋlɔ] Baki baki [baki?] baki [baki]

2. Pasangan itu memiliki korespondensi fonemis, perubahan fonemis antara kedua bahasa itu terjadi secara timbal balik dan teratur, serta tinggi frekuensinya maka bentuk yang berimbang antara kedua bahasa tersebut dianggap berkerabat.

Kata Konsep Bahasa Sunda Bahasa Jawa ceting ceceting [cǝcǝtiŋ] cething [cǝṭiŋ] tenong t éténong [tɛtɛnɔŋ] ténong [tɛnɔŋ] 3. Kemiripan secara fonetis. Bila memiliki

kemiripan fonetis pada posisi artikulatoris yang sama, maka pasangan itu dapat dianggap sebagai kata kerabat. ciri-ciri fonetisnya serupa sehingga dapat dianggap sebagai alofon.

(5)

Kata Konsep Bahasa Sunda Bahasa Jawa susuk susuk [susuk?] susuk? [susu?] ciduk ciduk [ciduk] cidhuk [ciḍuk] 4. Satu fonem berbeda. Bila dalam pasangan kata

terdapat perbedaan satu fonem tetapi dapat dijelaskan perbedaan fonem tersebut karena pengaruh lingkungan yang dimasukinya, sedangkan dalam bahasa lain pengaruh lingkungan itu tidak mengubah fonemnya, maka pasangan itu ditetapkan sebagai kata kerabat, asal segmennya cukup panjang (Keraf, 1996:128).

Kata Konsep Bahasa Sunda Bahasa Jawa cobek cowét [cɔwɛt] cowék [cɔwɛ?] kuali kawali [kawali] kuwali [kuwali]

METODE

Tulisan ini merupakan kajian Linguistik Historis Komparatif dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dan pendekatan historis komparatif. Penulis lebih menekankan pada bentuk kosakata dan makna “peralatan dapur”, yaitu dengan mendeskripsikan perbedaan bentuk dan makna kosakata “peralatan dapur” dalam bahasa Sunda dan bahasa Jawa.

Data merupakan unsur yang paling penting dalam membandingkan dua bahasa atau lebih. Oleh karena itu, daftar kosakata dari bahasa-bahasa yang akan diteliti, yakni kosakata “peralatan dapur” dalam bahasa Sunda dan bahasa Jawa sangat diperlukan. Data dalam penelitian ini terbagi atas dua jenis, yakni data primer dan data sekunder. Data primer berupa daftar kosakata (kognat) yang bermedan makna “peralatan dapur” dalam bahasa Sunda dan bahasa Jawa. Kemudian, data sekunder dalam penelitian ini adalah hasil wawancara yang pada proses ini peneliti akan melakukan wawancara dengan beberapa informan. Informan yang dipilih adalah penutur bahasa Sunda dan bahasa Jawa yang kriterianya disesuaikan dengan kepentingan penelitian (Mahsun, 2006:134).

Data dikumpulkan dengan teknik pencatatan dengan menggunakan daftar kosakata Swadesh (dipilih yang berupa kosakata peralatan

dapur) dan daftar kosakata peralatan lain yang disusun oleh penulis dari berbagai sumber untuk melengkapi kosakata yang tidak terdapat dalam kosakata Swadesh. Data dikumpulkan dan dicatat dari kamus bahasa Sunda dan kamus bahasa Jawa. Wawancara terhadap informan dilakukan setelah data terkumpul sebagai bentuk triangulasi data.

Analisis data dilakukan melalui pendefinisian dan pengklasifikasian. Pada tahap pendefinisian, data bentuk kosakata “peralatan dapur” BS dan BJ yang telah disusun diberi definisi sesuai kamus BS dan BJ. Data yang telah didefinisikan, kemudian diklasifikasikan dan dikelompokkan sesuai dengan pembahasan bentuk dan makna kata untuk diamati.

pEMBAHASAN

Analisis Kekerabatan Bentuk dan Makna Kosakata “Peralatan Dapur” dalam Bahasa Sunda dan Bahasa Jawa dilakukan berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Keraf (1996:128). Analisis data dilakukan pada tataran kekerabatan yang mencakupi (1) pasangan kata yang identik, (2) pasangan yang memiliki korespondensi fonemis, (3) kemiripan secara fonetis, atau (4) satu fonem berbeda. Kosakata kedua bahasa tersebut akan dibandingkan dengan bahasa konsep dasar (gloss), yaitu bahasa Indonesia.

Beberapa peralatan dapur yang menjadi pembahasan mungkin sudah tidak digunakan lagi oleh masyarakat kota. Akan tetapi, beberapa di antaranya masih digunakan terutama di pedesaan, seperti peralatan yang terbuat dari bambu dan gerabah. Berikut ini adalah daftar kosakata “peralatan dapur” dalam bahasa Indonesia sebagai kata konsep bahasa Sunda dan bahasa Jawa sebagai kata yang diperbandingkan.

Kata

Konsep Bahasa Sunda Bahasa Jawa

Alu halu [halu?] alu [alu] Anglo anglo [aŋlo] anglo [aŋlɔ] ayakan ayakan [ayakan] ayakan

(6)

Baki baki [baki?] baki [baki]

Bakul dingkul [diŋkul]

boboko [boboko?] wakul [wakul] bakul

besar said [said] said [said] baskom waskom [waskom] baskom

[baskɔm] Besek pipiti [pipiti?] bésék [bɛsɛ?] Buyung buyung [buyuŋ] buyung

[buyuŋ] Cangkir cangkir [caŋkir] cangkir

[caŋkir] Centong céntong [cɛntoŋ] cénthong

[cenṭɔŋ] énthong [enṭɔŋ] ceret cérét [cɛrɛt] cérét [cɛrɛt] ceting ceceting [cǝcǝtiŋ] cething [cǝṭiŋ] ciduk ciduk [ciduk] cidhuk [ciḍu?] cobek cowét [cowɛt] cowék

[cowɛ?] dandang dangdang

[daŋdaŋ] dandang [dandaŋ] garpu garpuh [garpuh] garpu [garpu] gayung gayung [gayuŋ];

sisiuk [sisiyuk?] gayung [gayuŋ] gelas gelas [gǝlas] gelas [gǝlas] gentong gentong [gǝntoŋ] genthong

[gǝnṭɔŋ] irus irus [?irus];

sinduk [sinduk?] irus [irus] kenceng sééng [sɛɛŋ] kéncéng

[kɛncɛŋ] kendil pendil [pǝndil] kendhil

[kǝnḍil] kipas hihid [hihid] kepet [kǝpǝt] kompor kompor [kompor] kompor

[kɔmpɔr] Kuali kawali [kawali] kuwali

[kuwali] kukusan aseupan [asӧpan] kukusan

[kukusan] lading lading [ladiŋ] ladhing

[laḍiŋ]

langseng langseng [laŋsǝŋ] langseng [laŋsǝŋ] lap elap [?ǝlap] lap [lap] lesung lisung [lisuŋ] lesung [lǝsuŋ] mangkuk mangkok

[maŋkok?] mangkok [maŋkɔ?] nampan nanampan

[nanampan] nampan [nampan] pagu (rak

perkakas dapur)

pago [pago?] pogo [pɔgɔ] para

(para-para) para [para?] poro [pɔrɔ] parutan parud [parud] parut [parut] penampi tampir [tampir] tambir

[tambir] periuk pariuk [pariyuk] priyuk

[priyu?] piring piring [piriŋ] piring [piriŋ] pisau péso [pɛso?] péso [peso] Poci poci [poci?] poci [pɔci] saringan saringan [sariŋan] saringan

[sariŋan] sendok séndok [sɛndok?] séndok

[sendɔ?] serbet serbét [sǝrbɛt] serbét [sǝrbɛt] serok sérok [sɛrok?] sérok [serɔ?] sibur siwur [siwur] siwur [siwur] susuk susuk [susuk?] susuk [susu?] talam talem [talǝm] talam [talam] talenan talenan [talǝnan] talenan

[talǝnan] tampah nyiru [ӧiru?] tampah

[tampah] tampah

kecil cécémpéh [cɛcɛmpɛh] cémpéh [cempeh] teko téko [tɛko?] téko [teko]

tenggok - ténggok

[teŋgɔ?] tenong téténong [tɛtɛnoŋ] ténong [tenɔŋ] tempat

beras padaringan [padariŋan] pabéasan [pabɛasan]

padaringan [padariŋan]

tempayan tampayan

(7)

(sumber referensi Danadibrata. 2015, http:// www.kamusbahasasunda.com/

http://www.kamusdaerah.

com/?bhs=m&bhs2=a&q=), Bausastra: 2011, Poerwadarminta. 1939. http://kamus.ugm.ac.id/ jowo.php, dan http://www.bahasajawa.asia/)

Hasil analisis yang dilakukan terhadap data menunjukkan bahwa terdapat kemiripan bentuk dan makna kosakata “peralatan dapur” dalam bahasa Sunda dan bahasa Jawa. Hasil tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

1. Pasangan kata identik. Data menunjukkan terdapat pasangan-pasangan kata yang bentuk, bunyi, dan makna yang identik atau sama. Berikut ini adalah contoh pasangan-pasangan kata yang identik tersebut.

tumbu - tumbu

[tumbu] tumbung tolombong

[tolomboŋ] tombong [tɔmbɔŋ] tungku hawu [hawu?] pawon

[pawɔn] tutup

wajan/ kuali

kekeb [kǝkǝb] kekep [kǝkǝp] ulekan mutu [mutu?] munthu

[munṭu] wajan/

penggorengan katél [katɛl] wajan [wajan] nyiru nyiru [ӧiru?] nyiru [ӧiru]

Kata

Konsep Bahasa Sunda Bahasa Jawa

anglo [aŋlo] [aŋlɔ]

bakul besar [said] [said] buyung [buyuŋ] [buyuŋ] cangkir [caŋkir] [caŋkir] cerek [cɛrɛt] [cɛrɛt] gayung [gayuŋ] [gayuŋ] gelas [gǝlas] [gǝlas]

kompor [kompor] [kɔmpɔr]

langseng [laŋsǝŋ] [laŋsǝŋ] mangkuk [maŋkok?] [maŋkɔ?]

piring [piriŋ] [piriŋ]

pisau [pɛso?] [peso]

saringan [sariŋan] [sariŋan] sendok [sɛndok?] [sendɔ?] serbet [sǝrbɛt] [sǝrbɛt]

serok [sɛrok?] [serɔ?]

sibur [siwur] [siwur]

susuk [susuk?] [susu?] talenan [talǝnan] [talǝnan] tempat beras [padariŋan] [padariŋan]

nyiru [ӧiru?] [ӧiru]

Beberapa pasangan identik tersebut memiliki perbedaan dalam pengucapannya karena terdapatnya variasi bunyi glotal yang ditandai dengan tanda tanya (?).

2. Pasangan yang memiliki korespondensi fonemis. Pasangan kata yang memiliki korespondensi fonemis merupakan pasangan kata yang memiliki hubungan antara kedua bahasa berdasarkan posisi fonem-fonem dan makna yang sama dari kedua bahasa yang dibandingkan. Berikut ini adalah beberapa contoh pasangan kata yang memiliki korespondensi fonemis.

dandang [daŋdaŋ] [dandaŋ]

/d ~ d/ /a ~ a/ /ŋ ~ n/ /d ~ d/ /a ~ a/ /ŋ ~ ŋ/ korespondensi terjadi pada fonem /ŋ ~ n/

garpu [garpuh] [garpu]

/g ~ g/ /a ~ a/ /r ~ r/ /p ~ p/ /u ~ u/ /h ~ ø/ korespondensi terjadi pada fonem /h ~ ø/

nampan [nanampan] [nampan] /n ~ ø/ /a ~ ø/ /n ~ n/ /a ~ a/ /m ~ m/ /p ~ p/ /a ~ a/ /n ~ n/ korespondensi terjadi pada fonem /n ~ ø/ dan /a ~ ø/ pagu (rak perkakas dapur) [pago?] [pɔgɔ] /p ~ p/ /a ~ ɔ/ /g ~ g/ /o ~ ɔ/ korespondensi terjadi pada fonem /a ~ ɔ/ dan /o ~ ɔ/

(8)

para (para-para) [para?] [pɔrɔ] /p ~ p/ /a ~ ɔ/ /r ~ r/ /a ~ ɔ/ korespondensi terjadi pada fonem /a ~ ɔ/ periuk [pariyuk] [priyu?]

/p ~ p/ /a ~ ø/ /r ~ r/ /i ~ i/ /y ~ y/ /u ~ u/ /k ~ ø/ korespondensi terjadi pada fonem /a ~ ø/ dan /k ~ ø/ tampah kecil [cɛcɛmpɛh] [cempeh]/c ~ ø/ /ɛ ~ ø/ /c ~ c/ /ɛ ~ e/ /m ~ m/ /p ~ p/ /ɛ ~ e/ /h ~ h/ korespondensi terjadi pada fonem /c ~ ø /, dan / ɛ ~ ø /, dan /ɛ ~ e/

tenong [tɛtɛnoŋ] [tenɔŋ]

/t ~ ø/ /ɛ ~ ø/ /t ~ t/ /ɛ ~ e/ /n ~ n/ /o ~ ɔ/ /ŋ ~ ŋ/ korespondensi terjadi pada fonem /t ~ ø /, dan / ɛ ~ ø /, dan /o ~ ɔ/ tumbung [tolomboŋ] [tɔmbɔŋ] /t ~ t/ /o ~ ø / /l ~ ø / /o ~ ɔ / /m~ m/ /b ~ b/ /o ~ ɔ/ /ŋ ~ ŋ/ korespondensi terjadi pada fonem /o ~ ø /, dan / l~ ø /, dan /o ~ ɔ/ alu [halu?] [alu]

/h~ ø / /a ~ a/ /l ~ l/ /u ~ u/ korespondensi terjadi pada fonem /h ~ ø /

(3) Kemiripan secara fonetis

Beberapa kosakata “peralatan dapur” memiliki kemiripan secara fonetis karena posisi artikulatoris yang sama. ciri-ciri fonetisnya serupa sehingga dapat dianggap sebagai alofon. Contoh kosakata yang memiliki kemiripan secara fonetis adalah sebagai berikut.

Kata

Konsep Bahasa Sunda Bahasa Jawa

ayakan [ayakan] [aya?an]

baki [baki?] [baki]

centong [cɛntoŋ] [cenṭɔŋ] [enṭɔŋ]

ciduk [ciduk] [ciḍu?]

lading [ladiŋ] [laḍiŋ]

ulekan [mutu?] [munṭu]

Kosakata [cɛntoŋ] dan [cenṭɔŋ], [mutu?] dan [munṭu], [ciduk] dan [ciḍu?], serta [ladiŋ] dan [laḍiŋ] memiliki kemiripan secara fonetis. Fonem [t] pada [cɛntoŋ] dan [mutu?] serta fonem [ṭ] pada [cenṭɔŋ] dan [munṭu] memiliki simbol yang berbeda, tetapi bunyinya mirip dan tidak membedakan makna. Begitu pun fonem [d] dan [ḍ] kosakata [ciduk] dan [ciḍu?] serta [ladiŋ] dan [laḍiŋ] memiliki simbol yang berbeda, tetapi bunyinya mirip dan tidak membedakan makna. Sementara itu, tanda glotal (?) pada kata bahasa Jawa [aya?an] dan bahasa Sunda [baki?]tetap mirip secara fonetis. Keberadaan tanda glotal (?) tersebut tidak memengaruhi makna kata.

(4) Satu fonem berbeda

Satu fonem berbeda. Bila dalam pasangan kata terdapat perbedaan satu fonem tetapi dapat dijelaskan perbedaan fonem tersebut karena pengaruh lingkungan yang dimasukinya, sedangkan dalam bahasa lain pengaruh lingkungan itu tidak mengubah fonemnya, maka pasangan itu ditetapkan sebagai kata kerabat, asal segmennya cukup panjang (Keraf, 1996:128). Contoh kosakata yang memiliki satu fonem berbeda adalah sebagai berikut.

Kata

Konsep Bahasa Sunda Bahasa Jawa

baskom [waskom] [baskɔm]

Cobek [cowɛt] [cowɛ?]

kendil [pǝndil] [kǝnḍil]

Kuali [kawali] [kuwali]

lesung [lisuŋ] [lǝsuŋ] Parutan [parud] [parut] penampi [tampir] [tambir]

Talam [talǝm] [talam]

Tempayan [tampayan] [tǝmpayan] tutup wajan/

(9)

Perbedaan satu fonem yang muncul dalam contoh di atas adalah /w/ ke /b/, /t/ ke /?/, /p/ ke /k/, /i/ ke /ǝ/, /d//, /p/ ke /b/, /ǝ/ ke /a/, /a/ ke /ǝ/, dan /b/ ke /p/.

pENUTUp

Kosakata bahasa Sunda memiliki kekerabatan dengan kosakatra bahasa Jawa. Kedua bahasa tersebut berasal dari proto yang sama. Hal itu ditandai dengan terdapatnya pasangan kata yang identik, seperti pada kata [siwur], [padariŋan], dan [pɛso?]. Selanjutnya, terdapat pasangan kata yang memiliki korespondensi fonemis, seperti pada kata [tolomboŋ] dan [tɔmbɔŋ] dengan korespondensi fonemis /o ~ ø /, dan / l~ ø /, dan /o ~ ɔ/ dan pada kata [pariyuk] dan [priyu?] dengan korespondensi fonemis /a ~ ø/ dan /k ~ ø/. Selain itu, terdapat pasangan kata yang memiliki kemiripan fonetis, seperti pada kata [cɛntoŋ] dan [cenṭɔŋ] dan pada kata [ladiŋ] dan [laḍiŋ]. Kemudian, beberapa kata yang lain memiliki perbedaan pada satu fonemnya, seperti pada kata [kawali] dan [kuwali], [parud] dan [parut], serta [kǝkǝb] dan [kǝkǝp].

DAFTAR pUSTAKA

Danadibrata. (2015), Kamus Basa Sunda, Bandung: Kiblat Buku Utama.

Keraf, Gorys. (1996), Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: PT Gramedia.

Mahsun. (2006), Metode Penelitian Bahasa: Tahapan Strategi, Metode, dan Tekniknya, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Marsono. (2016), Morfologi Bahasa Indonesia dan Nusantara. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Poerwadarminta. (1939), Bausastra Jawa. Program Digitalisasi Sastra Daerah. www. sastra.org.

Sudarno. (1992), Perbandingan Bahasa Nusantara. Jakarta: Arikha Media Cipta. Sudaryat, Yayat. (2007), “Modul Kebahasaan

Sunda”. Panitia Pendidikan Dan Latihan Profesi Guru (PLPG). Universitas Pendidikan Indonesia.http://file.upi. edu/Direktori/fpbs/jur._pend._bahasa_ daerah/196302101987031-yayat_ sudaryat/kebahasaan.pdf

Tim Balai Bahasa Yogyakarta. (2011), Kamus Basa Jawa (Bausastra Jawa). Yogyakarta: Kanisius.

Wedwahati, dkk. (2006), Tata Bahasa Jawa Muktahir, edisi revisi. Yogyakarta: Kanisuius.

http://www.kamusbahasasunda.com/, diakses 26 April 2016/15.26.

h t t p : / / w w w . k a m u s d a e r a h . com/?bhs=m&bhs2=a&q=jungkel, diakses pada tanggal 27 April 2016/09.17. http://kamus.ugm.ac.id/jowo.php, diakses 26

April 2016/10.35.

http://pustakabasajawa.blogspot.co.id/2013/07/ undha-usuk-basa.html, diakses 11 Mei 2017/15.02.

http://www.bahasajawa.asia/, diakses 27 April 2017/13.41.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan data di atas, maka pola sebaran sedimen permukaan dasar laut daerah penelitian memperlihatkan pola fraksi sedimen halus seperti lanau dan lanau pasiran hingga

Namun begitu pengendalian dengan parameter proporsional saja tidaklah cukup untuk menjadikan process variable ( tekanan ) mendekati set point yang diinginkan

MSI-H histologic features are defined as presence of tumor-infiltrating lympho- cytes (only moderate- and high-density intratumoral lymphocytes (approximately 3 or more per

dari uraian psikologi sosial, erich Fromm mendifinisikan masyarakat modern adalah produk kapitalisme sebagai manusia yang berorientasi pasar ( markeeting character type ),

Meski begitu perusahaan telah berhasil menerapkan tiga prinsip yang terdapat dalam ISO 9001:2015 diantaranya prinsip fokus pelanggan, prinsip improvement

Jenis penelitian yang digunakan untuk memperoleh data dalam penelitian ini adalah menggunakan metode deskriptif, dengan pendekatan studi kasus yang menggunakan bentuk

Sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Semarang Nomor 3 Tahun 2011 Tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Semarang Nomor 19 Tahun 2008Tentang

Berdasarkan uarian latar belakang penelitian di atas, memberikan gambaran Provinsi Jawa Timur yang mengalami pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan yang diperoleh