• Tidak ada hasil yang ditemukan

INDEKS TENDENSI KONSUMEN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TRIWULAN II TAHUN 2014 SEBESAR 114,56

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "INDEKS TENDENSI KONSUMEN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TRIWULAN II TAHUN 2014 SEBESAR 114,56"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

+

No. 49/08/34/Th.XVI, 5 Agustus 2014

I

NDEKS

T

ENDENSI

K

ONSUMEN

D

AERAH

I

STIMEWA

Y

OGYAKARTA

T

RIWULAN

II

T

AHUN

2014

S

EBESAR

114,56

1. Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Triwulan II-2014

Kondisi ekonomi konsumen/rumah tangga di wilayah DIY selama Triwulan II-2014 meningkat lebih baik dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Hal ini tercermin dari nilai ITK

BPS PROVINSI D.I. YOGYAKARTA

A. Penjelasan Umum

Indeks Tendensi Konsumen (ITK) adalah indikator perkembangan ekonomi terkini yang dihasilkan oleh Badan Pusat Statistik melalui Survei Tendensi Konsumen (STK) yang dilakukan secara berkala setiap triwulan. ITK merupakan indeks yang menggambarkan kondisi ekonomi konsumen pada triwulan berjalan dan perkiraan pada triwulan mendatang.

Sebelum Triwulan I-2012, BPS melaksanakan kegiatan STK di seluruh wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan jumlah sampel sebanyak 330 rumah tangga (secara nasional sebanyak 10.865 rumah tangga). Mulai Triwulan I-2012 sampai sekarang, sampel STK di DIY diperluas menjadi 400 rumah tangga (secara nasional sebanyak 14.232 rumah tangga). Pelaksanaan STK dilakukan secara terintegrasi dengan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), sehingga responden STK menjadi sub-sampel dari Sakernas khususnya di daerah perkotaan. Pemilihan sampel dilakukan secara panel antartriwulan untuk memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai perubahan persepsi konsumen antarwaktu. Dengan adanya perluasan sampel, nilai ITK dapat disajikan sampai level provinsi. Upaya ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan data yang semakin beragam hingga tingkat regional (spasial antarprovinsi).

B. Kondisi Ekonomi Konsumen DIY Selama Triwulan II-2014

 Nilai Indeks Tendensi Konsumen (ITK) DIY pada triwulan II 2014 tercatat sebesar 114,56; artinya kondisi ekonomi konsumen berada pada taraf optimis, meskipun tingkat optimismenya lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (nilai indeks sebesar 118,18). Optimisme konsumen selama triwulan II didorong oleh peningkatan semua indeks penyusunnya. Indeks pengaruh inflasi terhadap konsumsi makanan dan nonmakanan (121,83) memberi pengaruh terbesar, akibat rendahnya inflasi yang terjadi selama triwulan ini. Sementara, indeks pendapatan rumah tangga terkini dan indeks konsumsi makanan dan nonmakanan juga memberi pengaruh positif dengan nilai indeks masing-masing sebesar 113,01 dan 109,13.

C. Perkiraan Ekonomi Konsumen DIY Selama Triwulan III-2014

 Nilai ITK DIY pada Triwulan III 2014 diperkirakan sebesar 119,34; artinya kondisi ekonomi konsumen diperkirakan meningkat dengan tingkat optimisme yang lebih tinggi dibandingkan dengan Triwulan II 2014. Momentum pergantian tahun ajaran baru, liburan sekolah, puasa Ramadhan, dan Hari Raya Idul Fitri yang terjadi selama triwulan III memberi pengaruh positif terhadap optimism konsumen.

(2)

ekonomi mereka selama triwulan berjalan meningkat lebih baik, meskipun tingkat optimismenya sedikit menurun dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (118,18). Membaiknya kondisi ekonomi konsumen didorong oleh peningkatan ketiga indeks penyusunnya, baik indeks pendapatan yang diterima rumah tangga, indeks pengaruh inflasi terhadap konsumsi makanan dan nonmakanan, maupun indeks konsumsi makanan dan nonmakanan selama triwulan berjalan.

Indeks pendapatan terkini atau indeks pendapatan yang diterima konsumen selama Triwulan II-2014 tercatat sebesar 113,01. Angka ini termasuk dalam kategori optimis, meskipun tingkat optimismenya lebih rendah dibandingkan dengan Triwulan I 2014 yang sebesar 117,13. Peningkatan nilai indeks pendapatan kini berkaitan dengan fenomena Pemilu Legislatif di bulan April dan masa kampanye Pemilu Presiden (Pilpres) serta liburan sekolah menjelang pergantian tahun ajaran baru. Indeks pengaruh inflasi atau perubahan harga terhadap konsumsi makanan dan nonmakanan memberi pengaruh positif terbesar terhadap ITK Triwulan II 2014 dengan nilai indeks sebesar 121,83. Besarnya pengaruh indeks ini dipengaruhi oleh rendahnya inflasi yang terjadi selama Triwulan II 2014. Selama triwulan ini inflasi Kota Yogyakarta tercatat sebesar 0,56 persen, lebih rendah dibandingkan dengan inflasi yang terjadi selama triwulan sebelumnya yang sebesar 1,26 persen. Rendahnya laju inflasi ini memberi pengaruh positif terhadap konsumsi rumah tangga baik untuk komoditas makanan maupun non makanan. Sementara, komponen indeks konsumsi makanan dan nonmakanan juga memberi pengaruh positif terhadap ITK dengan nilai indeks sebesar 109,13. Berdasarkan data persepsi konsumen hasil STK Triwulan II 2014, semua kelompok pengeluaran rumah tangga baik kelompok makanan maupun nonmakanan mengalami peningkatan konsumsi selama triwulan berjalan. Peningkatan konsumsi yang terbesar terjadi pada kelompok rekreasi dengan nilai indeks konsumsi sebesar 119,30. Berikutnya adalah kelompok komunikasi dan kelompok pendidikan dengan nilai indeks konsumsi masing-masing sebesar 114,89 dan 112,20.

Dibandingkan dengan nilai ITK pada triwulan sebelumnya yang mencapai 118,18, nilai ITK Triwulan II 2014 turun 3,52 poin. Fenomena ini menunjukkatn level optimisme konsumen/rumah tangga sedikit berkurang. Secara nasional, nilai ITK DIY pada Triwulan II 2014 berada di peringkat ketujuh terbesar. Sementara, nilai yang tertinggi dicapai oleh Provinsi Kalimantan Timur (117,84) dan DKI Jakarta (117,79). Nilai ITK pada level nasional dalam waktu yang sama tercatat sebesar 110,76. Dibandingkan dengan nilai ITK provinsi-provinsi lainnya di Pulau Jawa, maka nilai ITK DIY berada di peringkat keempat (Tabel 1). Nilai ITK provinsi-provinsi di Pulau Jawa cukup bervariasi dan nilainya berkisar antara 112,86 sampai 117,79.

(3)

Tabel 1

Indeks Tendensi Konsumen Provinsi DIY menurut Variabel Pembentuknya dan Indeks Tendensi Konsumen Provinsi-provinsi di Pulau Jawa serta Nasional

Variabel Pembentuk Tw IV-2012 Tw I-2013 Tw II-2013 Tw III-2013 Tw IV- 2013 Tw I- 2014 Tw II- 2014 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (6) (6) Pendapatan rumah tangga kini 106,38 107,58 112,46 115,96 113,31 117,13 113,01 Pengaruh inflasi terhadap tingkat konsumsi 121,59 106,22 109,22 113,56 110,86 119,08 121,83 Tingkat konsumsi bahan makanan, makanan jadi di

restoran dan bukan makanan *) 100,46 102,54 107,36 120,33 110,89 119,58 109,13

Indeks Tendensi Konsumen DIY 109,21 106,13 110,47 116,23 112,11 118,18 114,56 Jateng 107,70 104,68 108,14 113,46 108,08 112,53 114,80 Jabar 107,88 104,14 107,75 113,53 110,04 112,42 112,95 DKI 112,35 108,32 110,87 118,09 113,55 117,56 117,79 Jatim 107,51 105,50 108,07 114,17 108,67 111,84 112,86 Banten 108,24 108,34 110,93 115,36 110,05 115,41 115,89 Nasional 108,63 104,70 108,02 112,06 109,64 110,03 110,76

*) Bukan makanan: pakaian, perumahan, pendidikan, transportasi, komunikasi, kesehatan, dan rekreasi.

Perkiraan Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Triwulan III-2014

Nilai ITK DIY pada Triwulan III-2014 diperkirakan mencapai 119,34; artinya kondisi ekonomi konsumen diperkirakan akan meningkat lebih baik dengan tingkat optimisme yang lebih tinggi dibandingkan dengan Triwulan II-2014. Tabel 2 menjelaskan bahwa perkiraan pendapatan yang diterima oleh konsumen selama Triwulan III-2014 akan meningkat dengan nilai indeks sebesar 124,12. Peningkatan pendapatan ini akan mendorong meningkatnya rencana pembelian barang-barang tahan lama (elektronik, perhiasan, perangkat komunikasi, meubelair, peralatan rumah tangga, kendaraan bermotor, tanah, rumah), rekreasi dan pesta/hajatan dengan nilai indeks mencapai 110,79. Peningkatan aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan momentum liburan akhir tahun ajaran dan pergantian tahun ajaran baru, di samping momentum puasa Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri yang terjadi di Triwulan III 2014 ditengarai menjadi factor yang mendorong peningkatan optimisme konsumen.

Tabel 2

Perkiraan Indeks Tendensi Konsumen Provinsi DIY menurut Variabel Pembentuknya dan Indeks Tendensi Konsumen Provinsi-provinsi di Pulau Jawa serta Nasional

Variabel Pembentuk Tw III-2014

(1) (2)

Perkiraan pendapatan rumah tangga mendatang 124,12 Rencana pembelian barang-barang tahan lama (elektronik, perhiasan, perangkat komunikasi, meubelair, peralatan rumah

tangga, kendaraan bermotor, tanah, rumah), rekreasi, dan pesta/hajatan 110,79 Indeks Tendensi Konsumen DIY 119,34

Jateng 115,61 Jabar 112,96 DKI 118,00 Jatim 116,29 Banten 116,29 Nasional 113,13

(4)

Dibandingkan dengan provinsi-provinsi lainnya di Pulau Jawa, perkiraan nilai ITK DIY selama triwulan yang akan datang berada di peringkat pertama/tertinggi (nilai indeks 119,34). Pada level nasional, nilai perkiraan ITK mendatang DIY juga menempati peringkat pertama tertinggi. Sementara itu, nilai ITK mendatang secara nasional (Triwulan III-2014) diperkirakan mencapai 113,13.

Gambar 1

Indeks Tendensi Konsumen Riil dan Indeks Tendensi Konsumen Perkiraan DI Yogyakarta Triwulan I-2011 sampai Triwulan I-2014

Pola perbandingan antara nilai ITK pada triwulan berjalan (ITK riil) dengan nilai perkiraan ITK triwulan yang bersangkutan secara umum menunjukkan perbedaan yang tidak terlalu signifikan (kurang dari 2 poin). Namun demikian, dalam dua triwulan terakhir selisihnya cenderung melebar dan mencapai 9,16 poin di Triwulan I-2014 dan 6,02 poin di Triwulan II-2014. Nilai riil ITK pada Triwulan II-2014 lebih rendah dibandingkan dengan nilai perkiraan yang dilakukan pada triwulan sebelumnya, sehingga optimisme konsumen secara riil cenderung lebih rendah dibandingkan dengan perkiraannya. 102,79 105,64 111,91 110,02 109,71 109,85 112,90 109,21 106,13 110,47 116,23 112,11 118,18 114,56 106,64 110,45 111,56 108,46 109,47 112,59 110,23 109,54 110,67 114,06 111,54 109,02 120,58 119,34 100 105 110 115 120 125 Tw

I-2011 Tw II-2011 Tw III-2011 Tw IV-2011 Tw I-2012 Tw II-2012 Tw III-2012 Tw IV-2012 Tw I-2013 Tw II-2013 Tw III-2013 Tw IV-2013 Tw I-2014 Tw II-2014 Tw III-2014

(5)

Tabel 3

Indeks Tendensi Konsumen1)Triwulan II-2014 dan

Perkiraan Indeks Tendensi Konsumen Triwulan III-2014 Tingkat Nasional dan Provinsi

Provinsi Pendapatan Ruta Kini

Pengaruh Inflasi Thd Tingkat Konsumsi Konsumsi Makanan & Non Makanan

ITK Kini Pendapatan Ruta Mendatang Rencana Pembelian Barang Tahan Lama, Kegiatan Pesta/Hajatan, dan Rekreasi ITK Mendatang2) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) NAD 101,78 111,24 101,09 104,18 109,84 101,06 106,69 Sumatra Utara 113,94 117,97 107,68 113,69 117,56 106,95 113,76 Sumatra Barat 98,19 119,71 114,54 107,48 104,84 101,78 103,74 Riau 109,76 113,25 108,39 110,41 106,98 107,85 107,29 Jambi 117,13 107,38 106,20 112,17 114,68 108,06 112,31 Sumatra Selatan 101,03 121,43 106,71 107,74 116,67 100,50 110,87 Bengkulu 102,00 119,05 109,13 108,12 115,50 100,59 110,15 Lampung 105,17 118,19 108,92 109,48 107,73 106,18 107,17 Kepulauan Babel 112,12 106,47 102,86 108,62 121,71 111,64 118,10 Keulauan Riau 111,61 118,03 110,30 113,06 116,46 107,34 113,19 DKI Jakarta 118,98 118,07 114,58 117,79 121,98 110,87 118,00 Jawa Barat 110,76 118,66 111,07 112,95 116,66 106,34 112,96 Jawa Tengah 114,59 118,66 110,43 114,80 121,26 105,49 115,61 DI Yogyakarta 113,01 121,83 109,13 114,56 124,12 110,79 119,34 Jawa Timur 114,44 115,51 105,68 112,86 121,74 106,54 116,29 Banten 112,25 119,27 120,45 115,89 118,82 111,75 116,29 Bali 119,50 114,20 113,29 116,75 121,92 111,03 118,02 NTB 108,91 114,55 110,27 110,72 121,51 100,31 113,91 NTT 101,66 103,91 103,47 102,65 114,77 106,76 111,90 Kalimantan Barat 101,74 120,57 116,74 110,02 113,76 104,70 110,51 Kalimantan Tengah 115,41 105,32 104,32 110,32 116,38 113,56 115,37 Kalimantan Selatan 111,86 104,08 102,92 107,86 109,86 105,03 108,13 Kalimantan Timur 117,15 120,11 116,64 117,84 120,81 112,87 117,96 Sulawesi Utara 109,37 102,31 100,84 105,65 119,01 102,28 113,01 Sulawesi Tengah 114,41 106,39 104,06 110,04 122,45 102,07 115,14 Sulawesi Selatan 113,23 108,12 104,98 110,09 114,23 103,73 110,47 Sulawesi Tenggara 117,30 101,25 107,35 110,85 117,89 113,86 116,45 Gorontalo 109,29 108,93 107,00 108,70 117,04 106,84 113,38 Sulawesi Barat 98,05 104,19 103,37 100,84 114,01 102,42 109,85 Maluku 119,42 113,68 109,05 115,66 125,00 100,47 116,21 Malut 115,59 102,96 105,99 110,14 115,62 101,83 110,68 Papua Barat 113,46 107,35 107,27 110,49 118,42 113,95 116,82 Papua 101,49 110,60 109,48 105,65 120,74 101,37 113,80 Nasional 110,72 112,58 108,54 110,76 116,97 106,27 113,13 Keterangan: 1)

ITK berkisar antara 0 sampai dengan 200, dengan indikasi sebagai berikut:

a. Nilai ITK < 100, menunjukkan bahwa kondisi ekonomi konsumen pada triwulan berjalan menurun dibanding triwulan sebelumnya.

b. Nilai ITK = 100, menunjukkan bahwa kondisi ekonomi konsumen pada triwulan berjalan tidak mengalami perubahan (stagnan) dibanding triwulan sebelumnya.

c. Nilai ITK > 100, menunjukkan bahwa kondisi ekonomi konsumen pada triwulan berjalan meningkat dibanding triwulan sebelumnya.

2)

Referensi

Dokumen terkait

Data yang dinilai data variabel bebas yaitu persepsi siswa tentang etos kerja guru (X) dengan menggunakan angket sebagai instrument penelitian, serta

Penelitian tentang Analisis Pendapatan Petani Padi pada Anggota Gapoktan Sumber Mulyo Desa Banjaran Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara perlu dilakukan karena tinggi

diberlakukan Setelah aplikasi disetujui oleh pihak penanggung dan diberlakukan Setelah aplikasi disetujui oleh pihak penanggung dan polis asuransi segera dikirim pada saat

Berdasarkan m uraian tersebut penelitian tentang nilai karakter di dala m kesenian tari wayang topeng jatiduwur di desa Jatiduwur, diperlukan agar masyarakat dapat

Iklim komunikasi organisasi merupakan fungsi kegiatan yang terdapat dalam organisasi untuk menunjukan pada anggota organisasi bahwa organisasi tersebut percaya dan memberi

Globalisasi ekonomi adalah meningkatnya saling ketergantungan ekonomi antara negara-negara di dunia berkat percepatan pergerakan barang, jasa, teknologi, dan modal lintas

Jadi, jika hasil yang diperoleh dari validasi materi oleh ahli materi (20 item pernyataan), validasi media oleh ahli media (21 item pernyataan), dan uji coba pemakaian

Kutipan data ketujuh di atas dalam penelitian ini mengambarkan secara umum tanggung jawab Nathan kepada ibunya sebagai anak dan juga semua yang telah terjadi mamanya menderita