PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN PITCHED BALL DAN
TEE BALL TERHADAP KEMAMPUAN MEMUKUL BOLA
SOFTBALL PADA TEAM SOFTBALL PUTRI SMEAKRISTEN
I SURAKARTA TAHUN 2010
SKRIPSI Oleh :
ENCANO RYBETO NIM: K 5604044
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA 2010
ii
PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN PITCHED BALL DAN
TEE BALL TERHADAP KEMAMPUAN MEMUKUL BOLA
SOFTBALL PADA TEAM SOFTBALL PUTRI SMEAKRISTEN
I SURAKARTA TAHUN 2010
Oleh :
ENCANO RYBETO NIM: K 5604044
SKRIPSI
Ditulis dan diajukan untuk memenuhi syarat mendapatkan gelar SarjanaPendidikan Program Pendidikan Kepelatihan Olahraga
Jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA 2010
iii
Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan dihadapan Tim penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta
Persetujuan Pembimbing
Pembimbing I
Drs. Bambang Wijanarko, M.Kes. NIP. 19620518 198702 1001
Pembimbing II
Islahuzzaman Nuryadin, S.Pd., M.Or NIP. 19780113 200604 1001
iv
Skripsi ini telah dipertahankan didepan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima untuk memenuhi Sebagian Persyaratan Mendapatkan Gelar Sarjana Pendidikan
Pada Hari : Jumat
Tanggal : 11 Juni 2010
Tim Penguji Skripsi
( Nama Terang ) ( Tanda Tangan )
Ketua : Drs. H. Agus Margono, M.Kes. …………... Sekretaris : Drs. Sarjoko Lelono, M.Kes. ………..……... Anggota I : Drs. Bambang Wijanarko, M.Kes. ……….... Anggota II : Islahuzzaman Nuryadin, S.Pd. M.Or. …….…………..
Disahkan oleh :
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta Dekan
Prof. Dr. H. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd. NIP. 19600727 198702 1001
v ABSTRAK
Encano Rybeto. PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN PITCHED BALL DAN TEE BALL TERHADAP KEMAMPUAN MEMUKUL BOLA SOFTBALL PADA TEAM SOFTBALL PUTRI SMEAKRISTEN I SURAKARTA TAHUN 2010
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui : (1) Pengaruh latihan memukul bola pitched ball dan tee ball terhadap kemampuan memukul bola softball pada team softball putri SMEA Kristen I Surakarta tahun 2010. (2) Pengaruh latihan yang lebih baik antara latihan memukul bola pitched ball dan tee
ball terhadap kemampuan memukul bola softball pada team softball putri SMEA
Kristen I Surakarta tahun 2010.
Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan
pretest-postest designs. Subyek penelitian ini adalah team softball putri SMEA
Kristen I Surakarta tahun 2010. yang berjumlah 30 orang, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan Total sampling . Teknik pengumpulan data dilakukan dengan Elrod batting test. Teknik analisis data dengan rumus t-test dengan taraf signifikansi 5%. Kendala yang dihadapi dalam penelitian ini adalah waktu penelitian yang bertepatan dengan ujian sekolah, sehingga penelitian ini hanya dapat di lakukan selama 7 minggu dari rencana penelitian selama 2 bulan / 8 minggu
Penelitian ini menghasilkan simpulan sebagai berikut : (1) Ada perbedaan pengaruh latihan memukul bola pitched ball dan tee ball terhadap kemampuan memukul bola softball pada team softball putri SMEA Kristen I Surakarta tahun 2010. dengan thitung yang diperoleh = 2,316> ttabel = 2,145. (2) Latihan memukul bola pitched ball lebih baik pengaruhnya daripada latihan memukul bola tee ball terhadap kemampuan memukul bola softball pada team softball putri SMEA Kristen I Surakarta tahun 2010 dengan presentase peningkatan kelompok 1 ( pitched ball ) sebesar 25,871% lebih besar daripada kelompok 2 ( tee ball ) sebesar 15,764%.
vi ABSTRACT
Encano Rybeto. EFFECT OF DIFFERENCES IN EXERCISE PITCHED
BALL AND TEE BALL SKILLS TO SOFTBALL HITTING SOFTBALL
TEAM ON PRINCESS SMEAKRISTEN I SURAKARTA YEAR 2010
The purpose of this study is to determine: (a) Effect of exercise ball and hitting the ball pitched on the ability of hitting the tee ball softball on softball team SMEA daughter of Christian I Surakarta in 2010. (2) Effect of exercise is better ball pitched batting practice ball on the tee ball and softball hitting skills on the softball team SMEA daughter of Christian I Surakarta in 2010.
This study uses experimental design with pretest-posttest designs. The subject of this research is the daughter of SMEA Christian softball team I Surakarta in 2010. numbering 30 people, with the sampling technique using total sampling. Data was collected by Elrod test batting. Data analysis techniques to the formula t-test with significance level 5%. Obstacles encountered in this research is research time that coincided with school exams, so this research can only be done during the seven weeks of the research plan during the two months / 8 weeks
This research resulted in a conclusion as follows: (1) There is a difference which exercise ball and hitting the ball pitched on the ability of hitting the tee ball softball on softball team SMEA daughter of Christian I Surakarta in 2010. obtained with t = 2.316> t = 2.145. (2) Exercise pitched ball hit the ball better effect than a batting practice ball hit the tee ball on the ability of softball girls softball team SMEA at First Christian Surakarta in 2010 with a percentage increase in group 1 (pitched ball) amounted to 25.871% higher than group 2 ( tee ball) amounted to 15.764%.
vii
MOTTO
Manusia dibentuk dari kegagalan – kegagalan yang pernah
dibuatnya. (Penulis)
Satu langkah maju lebih baik daripada seribu rencana yang
viii
PERSEMBAHAN
Skripsi ini ku persembahkan kepada: 1. Bapak dan Ibu yang tercinta, 2. Kakakku yang tersayang,
3.Sahabatku yang selalu memberi semangat dan dukungan moril,
4. Rekan-rekan angkatan 2004, 5. Almamater
ix
KATA PENGANTAR
Dengan diucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga dapat terselesaikan penulisan skripsi ini.
Disadari bahwa penulisan skripsi ini banyak mengalami hambatan dan berkat bantuan dari beberapa pihak skripsi ini dapat terselesaikan. Dalam kesempatan ini disampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat:
1. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2. Ketua Jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan ijin untuk mengadakan penelitian.
3. Ketua Program Pendidikan Kepelatihan Olahraga Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
4. Drs. Bambang Wijanarko, M.Kes. sebagai Pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan skripsi.
5. Islahuzzaman Nuryadin, S.Pd. M.Or. sebagai Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan skripsi.
6. Team softball putri SMEA Kristen I tahun 2010 yang telah bersedia menjadi subyek dalam penelitian ini.
7. Semua pihak yang telah membantu terlaksananya penelitian ini.
Semoga segala amal tersebut mendapatkan imbalan dari Tuhan Yang Maha Esa. Walaupun disadari dalam skripsi ini masih ada kekurangan, namun diharapkan skripsi ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan juga dunia pragmatika.
Surakarta, Juni 2010
x DAFTAR ISI Halaman JUDUL . ………...………..………...……. PENGAJUAN ………...………..……….... PERSETUJUAN ...………..…..…. PENGESAHAN ………...………...…... ABSTRAK………...………..………. MOTTO ………...………..……… PERSEMBAHAN ………...………..………. KATA PENGANTAR ………...………..……….. DAFTAR ISI ………...…………. DAFTAR GAMBAR ………...……..………… DAFTAR TABEL ...……… DAFTAR LAMPIRAN ...………..………. BAB I . PENDAHULUAN ……...………..
A. Latar Belakang Masalah .…….………... B. Identifikasi Masalah ...………. C. Pembatasan Masalah ………. D. Perumusan Masalah ……….. E. Tujuan Penelitian ……….. F. Manfaat Penelitian ….……….. BAB II. LANDASAN TEORI ………..
A. Tinjauan Pustaka ……….……….. 1. Permainan Softball……… ……… a. Pengertian Memukul Bola Softball …...……… b. Teknik Memukul Bola Softball ………. 2. Latihan ………..………... a. Pengertian Latihan………... ……… b. Prinsip-prinsip Latihan …… ………….. ………. i ii iii iv v vi vii viii ix xii xiii xiv 1 1 3 4 4 5 5 6 6 6 7 8 14 14 15
xi
c. Komponen – komponen Latihan ……….. 3. Latihan Memukul Bola Pitched ball ………...
a. Pengertian Pitched ball ………. b. Kesalahan yang sering terjadi dalam latihan memukul
bola Pitched ball………
c. Keuntungan dan Kelemahan latihan memukul bola Pitched ball ………...
4. Latihan Memukul Bola Tee ball ……….. a. Pengertian Tee ball ……….. b. Kesalahan yang sering terjadi dalam latihan memukul
bola Tee ball ………
c. Kelebihan dan Kelemahan latihan memukul bola Tee
ball ……….
5. Otot – otot yang bekerja saat memukul bola Softball……… B. Kerangka Pemikiran ...………... C. Perumusan Hipotesis ………... BAB III. METODE PENELITIAN ………
A. Tempat dan Waktu Penelitian ………... 1. Tempat Penelitian ………. 2. Waktu Penelitian …...……… B. Metode Penelitian ……….……….……… C. Variabel Penelitian …… …………...………. D. Populasi dan Sampel ………..………... E. Teknik Pengumpulan Data ... F. Teknik Analisis Data ... BAB IV. HASIL PENELITIAN ………….………... A. Deskripsi Data ……… B. Uji Prasyarat Analisis Data ……….………….... C. Hasil Analisis Data ………...…...……… D. Pembahasan Hasil Analisis Data……….………
19 23 23 25 26 27 27 28 29 29 30 32 33 33 33 33 33 35 35 35 36 39 39 41 43 46
xii
BAB V. SIMPULAN, IMPLIKASI,SARAN ………...……... A. Simpulan ………... B. Implikasi ……….. C. Saran ……… DAFTAR PUSTAKA ……….. LAMPIRAN ………. 49 49 49 50 51 53
xiii
DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 1. Cara memegang bat ………...
Gambar 2. Cara memegang bat dan posisi memukul... Gambar 3. Posisi siap ………. ... Gambar.4. Posisi bahu………. Gambar.5. Pandangan terhadap bola……… Gambar.6. Pelaksanaan gerakan pukulan………. Gambar.7. Gerak lanjut……… Gambar.8. Posisi awal……….. Gambar. 9. Sikap berdiri………... Gambar.10. Latihan memukul bola Pitched ball……….. Gambar.13. Latihan memukul bola Tee ball………...
8 9 10 10 11 11 12 13 14 24 28
xiv
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 1. Kesalahan dan Pembetulan latihan memukul bola Pitched
ball………...
Tabel 2. Kesalahan dan Pembetulan latihan memukul bola Tee ball ….. Tabel 3. Diskripsi Data Hasil Tes Kemampuan Memukul Bola Softball . Tabel 4. Diskripsi Data Hasil Tes Kemampuan Memukul Bola Softbal .. Tabel 5. Derajat Reliabilitas ………... Tabel 6. Rangkuman Hasil Uji Reliabilita Tes ...…... Tabel 7. Rangkuman Hasil Uji Normalitas ... Tabel 8. Rangkuman Hasil Uji homogenitas…... Tabel 9. Rangkuman Hasil t-test untuk Tes Awal Kelompok 1 dan
Kelompok 2 ... Tabel 10. Rangkuman Hasil t-test untuk Tes Awal dan Tes Akhir
Kelompok 1 ... Tabel 11. Rangkuman Hasil t-test untuk Tes Awal dan Tes Akhir
Kelompok 2 ... Tabel 12. Rangkuman Hasil t-test untuk Tes Akhir Antar Kelompok ... Tabel 13. Rangkuman Hasil Penghitungan Nilai Perbedaan Presentase
Peningkatan Kemampuan Memukul bola Softball pada Kelompok 1 dan Kelompok 2 ...
26 28 39 40 40 41 42 42 43 44 44 45 46
xv
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman Lampiran 1. Petunjuk Pelaksanaan Tes...
Lampiran 2. Program Latihan …………... Lampiran 3. Data Penelitian ………... Lampiran 4. Rangking ……… Lampiran 5. Pembagian Kelompok Penelitian ……….. Lampiran 6. Rekapitulasi data Hasil Tes Awal dan Tes Akhir
Kemampuan Memukul Bola Softball pada Kelompok 1 ….. Lampiran 7. Rekapitulasi data Hasil Tes Awal dan Tes Akhir
Kemampuan Memukul Bola Softball pada Kelompok 2 ... Lampiran 8. Uji Reliabilitas ………... Lampiran 9. Uji Normalitas Data Dengan Liliefors ………... Lampiran 10. Uji Homogenitas ……… Lmapiran 11. Uji Perbedaan Tes Awal Kelompok 1 dan Kelompok 2 …... Lampiran 12. Tabel Kerja Uji Perbedaan Tes Awal dan Tes Akhir pada
Kelompok 1 ………... Lampiran 13. Tabel Kerja Uji Perbedaan Tes Awal dan Tes Akhir pada
Kelompok 2 ………... Lapiran 14. Tabel Kerja Uji Perbedaan Tes Akhir Antara Kelompok 1
dan Kelompok 2 ……… Lampiran 15. Presentase Pengaruh Latihan ……… Lampiran 16. Foto-foto Penelitian ………..
53 55 59 62 63 64 65 66 72 74 76 78 80 82 84 85
1
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar belakang masalah
Pada masa sekarang ini orang aktif dan tekun berolah raga sebagian besar mengarah pada pencapaian prestasi salah satunya adalah softball. Softball adalah permainan yang di jadikan materi dalam kegiatan ekstrakurikuler SMEA Kristen I Surakarta. Permainan softball disamping sebagai materi ekstrakurikuler juga merupakan sebagai alat untuk mencapai prestasi, diharapkan siswi anggota team softball dapat mencapai prestasi yang optimal.
Demi mencapai hasil yang optimal dalam hal ini latihan maupun pembelajaran perlu adanya keterpaduan sistem pengajaran maupun pembinaan softball. Komponen yang digunakan dalam sistem latihan maupun sistem pembelajaran adalah pelatih, pembina, serta sarana dan prasarana yang memadai. Untuk membina team yang anggotanya terdiri dari siswi putri tentunya memiliki kesulitan tersendiri. Berdasarkan informasi yang di dapat dari guru sekaligus pelatih team softball putri SMEA Kristen I Surakarta menyebutkan ”anggota team softball putri SMEA Kristen I Surakarta adalah siswi kelas satu dan kelas tiga”. Sebagian besar anggota team adalah kelas satu dan kebanyakan dari mereka adalah pemula.
Masih banyaknya kendala yang dihadapi oleh siswi SMEA Kristen I Surakarta diantaranya pada saat memukul bola softball masih salah dan kurang, sehingga hasil pukulan pada saat bermain softball belum keras dan terarah. Penyebab pukulan bola softball yang kurang keras dan terarah pada siswi karena sebagian besar masih pemula dalam penguasaan kemampuan memukul. Dengan demikian, diperlukan latihan yang tepat dan efektif. Dalam usaha meningkatan kemampuan memukul dapat digunakan latihan memukul bola dengan pitched ball dan tee ball, kedua latihan pukulan tersebut merupakan latihan dasar pukulan yang mudah dan efektif karena siswi yang tergabung dalam ekstra kurikuler softball sebagian besar adalah pemula.
Dalam latihan maupun pembelajaran permainan softball tidak lepas dari unsur gerak, karena belajar gerak merupakan salah satu cara untuk menguasai keterampilan gerak memukul, bagaimana cara mempelajari pola-pola gerakan memukul bola softball. Intesitas keterlibatan kemampuan yang paling utama adalah unsur kemampuan psikomotor, termasuk pula kemampuan fisik. Hasil akhir dari belajar gerak berupa kemampuan melakukan pola-pola gerak keterampilan tubuh, salah satunya kemampuan teknik memukul bola dalam permainan softball.
Permainan softball merupakan permainan beregu, yang setiap regu terdiri dari 9 orang pemain, dengan lama permainan ditentukan dengan inning yang terdiri dari 7 inning untuk setiap pertandingan. Keberhasilan suatu regu softball, tidak lepas dari kerja sama para pemain anggota regu. Sehingga setiap pemain dituntut agar dapat bermain dengan baik guna mendukung tim agar dapat menang di setiap pertandingan. Untuk dapat menjadi pemain softball yang terampil dan berprestasi, pertama-tama yang harus dimiliki adalah keahlian bermain softball, dalam hal ini keterampilan dasar yang baik.
Kemampuan memukul bola merupakan salah satu keterampilan dasar yang dikuasai oleh setiap pemain. Dengan memiliki kemampuan memukul bola dengan keras dan terarah, akan membantu regunya dalam menghasilkan nilai, serta membantu teman mencapai base berikutnya guna memenangkan disetiap pertandingan.
Mengingat pentingnya penguasaan kemampuan memukul bola softball, maka dalam latihan kemampuan ini harus didahulukan dengan melatih gerak dasar memukul, sehingga setiap pemain akan mampu memukul bola softball dengan baik untuk mendapatkan nilai, maupun membantu teman dalam satu regu melewati base berikutnya, guna mendukung tim dalam memenangkan setiap pertandingan.
Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukaan di atas, peneliti akan meneliti pengaruh latihan memukul bola dengan pitched ball dan tee ball. Berdasarkan hal tersebut muncul masalah yaitu, adakah perbedaan pengaruh
3
antara latihan memukul bola dengan pitched ball dan tee ball terhadap kemampuan memukul bola softball?
Permasalahan yang telah dikemukakan diatas merupakan dasar yang dapat melatarbelakangi judul penelitian “ PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN PITCHED BALL DAN TEE BALL TERHADAP KEMAMPUAN MEMUKUL BOLA SOFTBALL PADA TEAM SOFTBALL PUTRI SMEA KRISTEN I SURAKARTA TAHUN 2010
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukaan di atas maka dapat di- identifikasikan permasalahan sebagai berikut:
1. Perlunya penguasaan teknik keterampilan dasar yang baik.
2. Kemampuan dasar bermain softball yang baik dapat dicapai melalui proses pembelajaran maupun latihan.
3. Kemampuan memukul bola softball merupakan salah satu keterampilan dasar yang belum dikuasai secara optimal oleh anggota team softball putri SMEA Kristen I Surakarta tahun 2010.
4. Pengaruh latihan memukul bola dengan pitched ball dan tee ball terhadap kemampuan memukul bola softball pada team softball putri SMEA Kristen I Surakarta tahun 2010.
C. Pembatasan Masalah
Untuk menghindari penafsiran yang salah dalam penelitian ini , masalah penelitian akan dibatasi sebagai berikut:
1. Latihan memukul bola dengan pitched ball terhadap kemampuan memukul bola softball pada team softball putri SMEA Kristen I Surakarta 2010.
2. Latihan memukul bola dengan tee ball terhadap kemampuan memukul bola softball pada team softball putri SMEA Kristen I Surakarta 2010.
3. Kemampuan memukul bola softball pada team softball putri SMEA Kristen I Surakarta 2010.
D . Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah dan pembatasan masalah yang telah dibahas diatas, maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Adakah perbedaan pengaruh latihan memukul bola dengan pitched
ball dan tee ball terhadap kemampuan memukul bola softball pada
team softball putri SMEA Kristen I Surakarta 2010?
2. Manakah yang lebih baik pengaruhnya antara latihan memukul bola dengan pitched ball dan tee ball terhadap kemampuan memukul bola softball team softball putri SMEA Kristen I Surakarta 2010?
E. Tujuan penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan di atas, penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui :
1. Perbedaan pengaruh latihan memukul bola dengan pitched ball dan
tee ball terhadap kemampuan memukul bola softball pada team
softball purtri SMEA Kristen I Surakarta 2010.
2. Latihan mana yang lebih baik pengaruhnya antara latihan memukul bola dengan pitched ball dan tee ball terhadap kemampuan memukul bola softball pada team softball putri SMEA Kristen I Surakarta 2010.
5
F. Manfaat Penelitian
Setelah penelitian ini selesai, diharapkan mempunyai manfaat sebagai berikut:
1. Dapat membantu team softball putri SMEA Kristen I Surakarta dalam meningkatkan kemampuan memukul bola softball.
2. Dapat dijadikan sebagai masukan dan pedoman bagi pembina softball dalam melatih dan meningkatkan kemampuan memukul
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
1.Permainan Softball
Softball merupakan olahraga permainan dari Amerika Serikat yang diciptakan oleh George Hancoc pada 1887 di kota Chicago. Lapangan permainan softball berbentuk segi empat dengan panjang sisi – sisinya 18,3 m. Jarak dari pelempar ( Pitcher plate ) ke home base adalah 14 m untuk putra dan 12 m untuk putri. Ukuran tempat pitcher plate adalah 60 x 15 cm.
Permainan softball dikenal oleh bangsa Indonesia pada abad 20. Pada tahun 1966 di Indonesia olahraga softball masih dianggap sebagai olahraga kaum wanita. Akan tetapi setelah melihat ASEAN GAMES di Bangkok diketahui bahwa kaum pria juga bermain softball, melihat keterbukaan ini, Indonesia mulai serius mengembangkan permainan softball. Perkembangan permainan softball mulai tampak di Jakarta, Bandung, Palembang, Semarang, dan Surabaya. Melihat perkembanganya yang sangat pesat maka dibentuklah organisasi softball yaitu PERBASASI. Kejuaraan nasional diadakan pada 1967 di Jakarta. Pada PON VII 1969 di Surabaya, softball merupakan olahraga yang dipertandingkan. Seiring dengan perkembangan jaman permainan softball berkembang pesat di Indonesia.
Faktor – faktor yang mendukung pencapaian prestasi softball harus dilatih dan ditingkatkan lebih intensif, salah satu faktor yang harus dilatih untuk mencapai kemampuan bermain softball adalah dengan menguasai keterampilan dasar bermain softball, adapun macam - macam keterampilan dasar bermain softball adalah : memukul bola, melempar dan menangkap bola, teknik base dan meluncur.
Teknik memukul bola merupakan salah satu keterampilan yang hendaknya dikuasai oleh setiap pemain terutama regu penyerang. Dengan memiliki kemampuan memukul bola dengan keras dan terarah akan berpeluang meringankan regunya dalam menghasilkan nilai serta membantu teman mencapai
7
base berikutnya guna memenangkan pertandingan. Menurut Sarumpaet dkk
(1992: 167 ) “ Tujuan memukul adalah untuk menyerang lawan agar memperoleh nilai untuk meraih kemenangan disamping itu merupakan usaha batter untuk menyelamatkan diri dan membantu teman dalam mencapai base berikutnya.” Dengan demikian teknik kemampuan memukul harus dapat dikuasai melalui latihan secara sistematis dan kontinyu.
a. Pengertian memukul bola Softball
Menurut Parno (1991 : 1974 ) “ Memukul adalah merupakan salah satu teknik dalam softball yang dilakukan oleh regu penyerang dengan melakukan pukulan terhadap bola yang dilemparkan oleh pitcher. Tujuannya untuk memperoleh nilai dan menyelamatkan dirinya atau membantu pelari lain ( base
runner) untuk mencapai base berikutnya”. Sedangkan menurut House Worth dan
Rifkin (1985 : 274 ) “ Memukul bola adalah suatu keterampilan yang sukar dilakukan bagi anak remaja, demikian juga halnya bagi anak-anak, pemain pemula harus mengembangkan keterampilan koordinasi antara mata tangan dan pengamatan yang diperlukan untuk memukul bola”.
Berdasarkan dua pendapat tersebut menunjukkan bahwa, keterampilan memukul sangat penting untuk dikuasai oleh pemain yang tergabung dalam team softball. Sehingga pemain memerlukan latihan yang terarah dan efektif baik waktu maupun materinya.
Para siswi masih kurang mampu mengkombinasikan gerak, antara gerakan bola dan gerakan tangan saat akan memukul dalam waktu yang sangat terbatas. Seperti yang dikemukakan oleh Diane L.Potter (1999 : 56 ) “Memukul adalah keahlian yang komplek dalam jangka waktu yang pendek kamu harus membuat keputusan tentang hubungan antara bergeraknya bola dan gerakan tongkat pemukul”. Memukul memiliki peranan yang penting dalam permainan softball sehingga perlu dilatih dan ditingkatkan kemampuanya.
b. Teknik memukul bola Softball
Pada dasarnya memukul bola dalam permainan softball ada dua cara antara lain:
1. Memukul bola dengan ayunan ( swing) 2. Memukul bola tanpa ayunan ( bunt)
Kedua teknik memukul ini dipergunakan untuk menyerang lawan agar memperoleh nilai untuk kemenangan, serta menyelamatkan diri ke base, dan membantu teman satu regu mencapai base berikutnya. Untuk melakukan gerakan memukul bola, perlu memperhatikan beberapa prinsip, menurut Parno ( 1991:77 ) “ adalah prinsip memegang bat, sikap kaki, posisi badan, gerakan kaki dan ayunan lengan posisi bat, serta gerak lanjutan.
Adapun prinsip-prinsip memukul bola dijelaskan sebagai berikut: 1) Memegang Bat
Pegangan jari terhadap bat seperti bersalaman, jari berada pada ujung bat merapat dengan knop, relaks dan tidak terjadi ketegangan pada lengan dan pergelangan tangan. Lengan yang dominan untuk memukul dalam posisi horizontal dengan tanah dan sedikit ditekuk pda siku serta dijauhkan dari badan. Posisi kepala dan pandangan selalu kearah bola, menghadap pitcher sampai terjadi perkenaan bola terhadap bat. Posisi bat berada disamping bahu, agak condong maju dari badan.
Gambar 1. Cara memegang bat ( Suparno. 1991:82)
9
2) Sikap ( Stance)
Pada saat memukul bola, harus berdiri dalam batter box, dengan sikap sewajarnya dan relaks. Posisi kaki selebar bahu, mudah untuk bergerak memukul bola . Badan condong sedikit ke depan, dengan berat badan pada kedua kaki.
Gambar 2. cara memegang bat dan posisi memukul ( Suparno. 1991:81)
3) Pelaksanaan gerak
Setelah pitcher melepaskan bola pitching, batter mengayunkan lengan kebelakang untuk menambah kekuatan pukulan. Lakukanlah striding kaki ke depan secukupnya, disertai dengan ayunan lengan ke depan, diikuti dengan putaran pinggang ke arah pitcher, gerak lengan pada saat memukul bola harus lurus dan mendatar, agar memperoleh hasil yang maksimal. Berat badan berpindah ke depan dengan mendorongkan kaki ke belakang, dengan gerakan lengan aktif disertai dengan lecutan pergelangan tangan, untuk menambah kekuatan pada saat perkenaan terhadap bola.
Gambar 3. Posisi siap Striding
( Suparno. 1991:79)
Gambar 4. Posisi bahu Pandangan arah pitcher. ( Suparno. 1991:81)
11
Gambar 5. Pandangan terhadap bola ( Suparno. 1991:84 )
Gambar 6. Pelaksanaan gerakan pukulan ( Suparno. 1991:86 )
4). Sikap Akhir
Gerak akhir dari pukulan harus disertai dengan gerak kelanjutan dari badan ke arah pukulan, searah dengan jalannya bola, diikuti dengan pivot kaki belakang dan tumit terangkat, serta memindahkan berat badan ke depan.
Gambar 7. Gerak lanjutan ( Suparno. 1991:87 )
Sedangkan teknik pukulan tanpa ayunan ( bunt), dijelaskan sebagai berikut:
1) Sikap Awal
Untuk melakukan pukulan tanpa ayunan ( bunt), sikap awal pemukul sama dengan posisi pada saat melakukan pukulan dengan ayunan ( swing). Hal ini agar tidak diketahui atau mengelabui lawan. Bola hasil pukulan tanpa ayunan sebaiknya tidak bergerak jauh dari home plate. Sedangkan bola yang dipukul hendaknya strike dengan posisi rendah. Posisi pemukul berdiri pada ujung batter
box, kedua tangan lurus, pandangan mata selalu terarah pada bola sampai terjadi
13
Gambar 8. Posisi awal Pelaksanaan pukulan ( Suparno. 1991:77 )
Jika posisi berdiri pemukul sejajar dengan home plate, geserkan kaki dengan pivot diagonal kearah base dua, disusul dengan kaki belakang sehingga kedua kaki sejajar. Pada posisi demikian, pemukul berdiri pada ujung batter box menghadap pitcher. Pertahankan posisi ini sampai terjadi perkenaan bola terhadap
bat.
2) Pelaksanaan Gerak
Bersamaan dengan pivot foot, geserkan tangan yang dibagian atas kearah di sekitar merk bat. Peganglah dengan ibu jari dan ujung jari belakang bat sedemikian rupa agar terkena bola.
Gambar 9. Sikap berdiri posisi tangan
( Suparno. 1991:89 )
2.Latihan
a. Pengertian Latihan
Latihan merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara sistematis dan kontinyu yang dilakukan secara berulang-ulang dengan meningkatkan beban latihan secara bertahap. Berkaitan dengan latihan A. Hamidsyah Noer ( 1996: 6) menyatakan” Latihan suatu proses yang sistematis dan kontinyu dari berlatih atau bekerja yang dilakukan dengan berulang-ulang secara kontinyu dengan kian hari kian menambah jumlah beban latihan untuk mencapai tujuan”. Hal senada dikemukakan Yusuf Adisasmita dan Aip Syarifudidin ( 1996: 145) bahwa “Latihan adalah proses yang sistematis dari berlatih yang dilakukan secara berulang-ulang, dengan kian hari menambah jumlah beban latihan serta intensitas latihannya”.
Latihan pada dasarnya merupakan proses kerja atau berlatih yang dilakukan secara teratur dan terus - menerus, dengan beban latihan yang semakin
15
meningkat demi untuk mencapai prestasi. Hal ini sesuai pandapat A. Hamidsyah Noer (1995:89) bahwa, “ Sesungguhnya banyak faktor yang mempengaruhi peningkatan prestasi atlet. Namun demikian salah satu faktor yang paling dominan adalah latihan yang teratur dan terus-menerus “.
b.Prinsip-Prinsip Latihan
Latihan merupakan suatu proses yang dilakukan secara berulang-ulang dengan meningkatkan beban latihan secara periodik. Dalam pelaksanaan latihan harus berpedoman pada prinsip-prinsip latihan yang benar. Menurut Sudjarwo ( 1993: 21) bahwa, “ Prinsip-prinsip latihan digunakan agar pemberian dosis latihan dapat dilaksanakan secara tepat dan tidak merusak atlet”. Sedangkan dalam pemberian beban latihan harus memahami prinsip-prinsip latihan yang sesuai dengan tujuan latihan. Berkaitan dengan prinsip latihan Nosseck (1982:14) menyatakan, “Prinsip latihan merupakan garis pedoman yang hendaknya dipergunakan dalam latihan yang terorganisir dengan baik”.
Prinsip latihan merupakan garis pedoman yang hendaknya dipergunakan dalam latihan yang terorganisir dengan baik. Agar tujuan latihan dapat dicapai secara optimal, hendaknya diterapkan prinsip-prinsip latihan yang baik dan tepat. Dalam pemberian beban latihan harus memahami prinsip-prinsip latihan yang sesuai dengan tujuan latiahan. Menurut Harsono (1988:102-112) prinsip-prinsip latihan yang harus diperhatikan meliputi: ”(1) prinsip beban lebih (overload
principle), (2) prinsip perkembangan menyeluruh, (3) prinsip spesialisasi, (4)
prinsip individualisasi”. Sedangkan menurut Bompa (1990:29-50) prinsip-prinsip yang diperhatikan dalam latihan meliputi : “(1) prinsip aktif dan bersungguh-sungguh dalam berlatih, (2) prinsip perkembangan menyeluruh, (3) prinsip spesialisasi, (4) prinsip individual, (5) prinsip latihan bervariasi, (6) prinsip modeling adalah proses pelatihan”.
Prinsip-prinsip latihan tersebut sangat penting untuk diperhatikan dalam latihan. Tujuan latihan dapat tercapai dengan baik, jika prinsip-prinsip latihan tersebut dilaksanakan dengan baik dan benar. Adapun macam-macam prinsip-prinsip latihan akan dijelaskan sebagai berikut.
1) Prinsip aktif dan bersungguh-sungguh dalam berlatih
Didalam pelatihan perlu timbal balik informasi yang diberikan kepada siswa. Dengan partisipasi aktif dan bersungguh-sungguh maka pelatih akan mudah dalam pemberian materi. Menurut Bompa ( 1990 : 29 ) bahwa ” Keikutsertaan aktif dan teliti di dalam pelatihan akan dimaksimalkan pelatih pada waktu tertentu secara konsisten”. Dengan keikutsertaan atlet maka materi yang diajarkan cepat ditangkap oleh siswa. Mendiskusikan kemajuan atlet perlu diketahui, atlet perlu menghubungkan informasi sasaran menerima dari pelatih dengan penilaian tentang pencapaiannya. Atlet akan mampu memahami hal positif dan hal negatif aspek dari pencapaiannya, apa yang ia harus tingkatkan dan bagaimana ia boleh meningkatkan hasilnnya.
2) Prinsip perkembangan menyeluruh
Di dalam pelatihan kita dapat mengamati perkembangan atlet-atlet muda yang cukup cepat, dari sinilah kita dapat mengembangkan suatu program latihan khusus, pengembangan, persiapan phisik terutama adalah suatu kebutuhan dasar. Pendekatan seperti itu ke pelatihan adalah suatu prasyarat untuk mengkhususkan sesuatu di bidang olahraga.
Bompa ( 1999 : 30 ) menjelaskan bahwa ” Program pelatihan, pertunjukan secara multilateral pengembangan. Ketika pengembangan ini menjangkau suatu tingkatan dapat diterima oleh atlet, terutama pengembangan phisik, dari sinilah atlit masuk tahap pengembangan hal ini dapat mendorong atlet yakni dalam pelatihan untuk capaian tinggi”.
3) Prinsip Spesialisasi
Spesialisasi yang dikhususkan untuk suatu olahraga, yaitu Spesialisasi yang menghadirkan unsur utama yang diperlukan untuk memperoleh sukses di dalam suatu olahraga. Spesialisasi adalah suatu kompleks, secara sepihak pun, proses ini berdasar pada pengembangan multilateral. Dari suatu pelajaran pelatihan pemula pertama hingga ke atlit yang telah dewasa, total volume pelatihan dan bagian latihan khusus secara konstan semakin ditingkatkan .
Bompa ( 199 : 34 ) menyatakan bahwa ” Rata-rata di dalam pelatihan, atau tindakan atlet yang khusus untuk memperoleh suatu efek pelatihan, harus
17
berlatih dari olahraga yang khusus dan berlatih untuk perkembangan kemampuan biomotor. Yang terdahulu mengacu pada latihan itu. Kemudian dikembangkan kekuatan, kecepatan, dan daya tahan”.
4) Prinsip Individual
Individualisasi di dalam pelatihan adalah salah satu kebutuhan yang utama di dalam pelatihan jaman ini. Mengacu pada gagasan di mana pelatih harus memperlakukan atlet masing-masing secara individu baik berdasar kemampuannya, potensi belajar karakteristik, dan pokok-pokok olahraga. Dengan mengabaikan tingkatan capaian. Model konsep pelatihan ini utuh, menurut karakteristik atlet psikologis dan fisiologis secara alami akan meningkatkan pelatihan secara obyektif
Bompa ( 1999 : 37 ) menyatakan ” Pelatihan model individualisasi gunakanlah koreksi indvidu teknis atau mengkhususkan perorangan, untuk suatu peristiwa atau posisi beregu yaitu menilai secara obyektif dan secara subyektif mengamati suatu atlet. Dengan cara ini, pelatih dapat mengetahui kebutuhan atlet memaksimalkan kemampuannya”.
5) Prinsip Latihan bervariasi
Pelatihan sekarang ini adalah menuntut suatu aktivitas yang berat dan menuntut atlet untuk berlatih secara kondusif dan kontinyu, Volume dan intensitas pelatihan secara terus-menerus dapat menyebabkan atlit di dalam pertengahan ataupun pengulangan di dalam latihan menyebabkan atlet tersebut merasa bosan. Untuk mencapai capaian tinggi, volume pelatihan harus melebihi kemampuan atlet. Di sisi lain Bompa ( 1999 : 40 ) menyatakan ” Untuk mengalahkan sifat membosankan dan kebosanan di dalam pelatihan, suatu pelatih perlu mengkreatifitaskan dengan pengetahuan suatu sumber daya latihan yang besar yang mengijinkan perubahan berkala. Pelatih dapat memperkaya keterampilan dan latihan dengan mengadopsi bergeraknya pola teladan yang teknis serupa atau yang mengembangkan kemampuan biomotor olahraga”.
6) Prinsip modeling ( Proses Pelatihan )
Model pelatihan, walaupun tidak selalu diorganisir dengan baik dan sering juga memanfaatkan suatu pendekatan acak telah ada sejak tahun 1960. Di dalam
istilah umum suatu model adalah suatu tiruan, suatu simulasi suatu kenyataan dibuat dari unsur-unsur yang spesifik yang mana peristiwa itu orang mengamati atau menyelidiki.
Menurut Bompa (1999 : 40 ) bahwa ” Model pelatihan adalah uasaha pelatih untuk mengarahkan dan mengorganisasi pelajaran pelatihannya sedemikian sehingga sasaran hasil, isi dan metode adalah serupa bagi mereka pada suatu kompetisi”. Pelatih mengenal pokok-pokok kompetisi suatu hal yang diperlukan prasyarat dengan sukses memperagakan proses pelatihan. Pokok-pokoknya menyangkut struktur, seperti volume, intensitas, kompleksitas, jumlah periode atau game, dan semacamnya harus secara penuh dipahami. Persamaan dengan perbandingan kontribusi menyangkut sistem anaerobik dan aerobik untuk suatu olahraga menjadi arti penting modal untuk pemahaman aspek dan kebutuhan harus ditekankan di dalam pelatihan.
Berikut ini adalah langkah kesimpulan ketika pelatih berdasarkan pada pengamatan memutuskan unsur-unsur tentang pelatihan harus ditahan, apakahsedang berkurang. Di dalam langkah berikutnya pelatih memperkenalkan (1) unsur-unsur kualitatif, yang mengacu pada intensitas pelatihan, teknis, rencana dan aspek, (2) psikologis komponen kuantitatif, mengenai volume pelatihan, jangka waktu dan jumlah pengulangan yang diperlukan otomatis unsur kualitatif yang baru berdasarkan pada penambahan. Yang baru adalah pelatih merinci dan mencoba untuk menyempurnakan kedua-duanya dengan model kuantitatif dan kualitatif.
7) Prinsip Beban Berlebih
Prinsip beban berlebih yaitu peningkatan di dalam proses latihan, dalam pelatihan memerlukan waktu lama dan adaptasi. Atlet bereaksi menurut anatomi, secara fisiologis, dan secara psikologis jenis program yang ditingkatkan di dalam pelatihan, untuk meningkatkan reaksi dan fungsi sistem nerves, neuromuscular, koordinasi, dan kapasitas tubuh dan psikologis untuk mengatasi tekanan dari beban latihan yang diberikan, atlet memerlukan waktu dan kepemimpinan pelatih yang berkompeten.
19
Bompa ( 1999 : 44 ) menyatakan ” Prinsip dari berangsur-angsur beban meningkat adalah untuk pelatihan atlet dalam perencanaan, dari suatu siklus program latihan, dan semua atlit perlu mengikutinya dengan mengabaikan tingkatan capaian mereka. Peningkatan menilai capaian tergantung secara langsung pada tingkat dan cara dimana atlet meningkatkan beban pelatihan tersebut”.
c. Komponen-Komponen Latihan
Setiap pelatihan olahraga akan mengarah kepada sejumlah perubahan yang bersifat anatomis, fisiologis, biokimia, kejiwaan dan keterampilan. Efisiensi dari suatu kegiatan merupakan akibat dari waktu yang dipakai, jarak yang ditempuh dan jumlah pengulangan (volume), beban dan kecepatannya intensitas, serat frekuensi penampilan (densitas).
Semua komponen dibuat sedemikian rupa dalam berbagai model yang sesuai dengan karakteristik fungsional dan ciri kejiwaan dari cabang olahraga yang dipelajari. Sepanjang fase latihan, pelatih harus menentukan tujuan latihan secara pasti, komponen mana yang menjadi tekanan latihan dalam mencapai tujuan penampilannya yang telah direncanakan. Cabang olahraga yang banyak menentukan keterampilan yang tinggi termasuk softball, maka kompleksitas merupakan hal yang sangat diutamakan. Menurut Andi Suhendro (1999:3-17 ) komponen-komponen penting yang harus diperhatikan dalam suatu latihan meliputi: “(1) volume latihan, (2) intensitas latihan, (3) density atau kekerapan latihan dan, (4) kompleksitas latihan “. Untuk lebih jelasnya komponen-komponen latihan dapat diuaraikan secara singkat sebagai berikut :
1) Volume Latihan
Sebagai komponen utama, menurut Bompa (1999 : 80) bahwa ” Volume adalah hal pentimg prasyarat yang kuantitatif untuk taktis tinggi dan terutama prestasi”. Menurut Andi Suhendro (1999 : 317) bahwa ” Volume latihan adalah ukuran yang menunjukan jumlah atau kuantitas derajat besarnya suatu rangsang yang dapat ditujukan dengan jumlah repetisi, seri atau set dan panjang jarak yang ditempuh”. Sedangkan repetisi menurut Suharno HP (1993 : 32) adalah ” Ulangan
gerak berapa kali atlet harus melakukan gerak setiap giliran”. Pengertian seri atau set, menurut M. Sajoto (1995 : 34) adalah ” Suatu rangkaian kegiatan dari satu repetisi’.
Peningkatan volume latihan merupakan puncak latihan dari semua cabang olahraga yang memiliki komponen aerobik dan juga pada cabang olahraga yang menuntut kesempurnaan teknik atau keterampilan taktik. Hanya jumlah pengulangan latihan yang tinggi yang dapat menjamin akumulasi jumlah keterampilan yang diperlukan untku perbaikan penampilan secara kuantitatif. Perbaikan penampilan seorang atlet merupakan hasil dari adanya peningkatan jumlah satuan latihan serta jumlah kerja yang diselesaikan setiap satuan latihan. 2) Intensitas Latihan
Intensitas latihan merupakan salah satu komponen yang sangat penting untuk dikaitkan dengan komponen kualitatitf kerja yang dilakukan dalam kurun waktu yang diberikan. Lebih banyak kerja yang dilakukan dalam satuan waktu akan lebih tinggi pula intensitasnya.
Menurut Bompa (1999 : 81) bahwa ” Intensitas adalah fungsi dari kekuatan rangsangan syaraf yang dilakukan dalam latihan, dan kekuatan rangsangan tergantung dari beban kecepatan geraknya, variasi interval atau istirahat diantara tiap ulangannya”. Suharno HP. (1993 : 31) menyatakan ” Intensitas adalah takaran yang menunjukan kadar atau tingkatan pengeluaran energi atlet dalam aktifitas jasmani baik dalam latihan maupun pertandingan”.
Hasil latihan dapat dicapai secara optimal, maka intensitas latihan yang diberikan tidak boleh terlalu tinggi atau rendah. Intensitas suatu latihan yang tidak memadai atau terlalu rendah, maka pengaruh latihan yang ditimbulkan sangat kecil bahkan tidak ada sama sekali. Sebaliknya bila intensitas latihan terlalu tinggi dapat menimbulkan cidera.
3) Densitas Latihan
Menurut Bompa ( 1999 : 91) bahwa ” Densitas adalah frekuensi dimana atlet ditunjukan ke suatu rangkaian stimuli per bagian waktu”. Menurut Andi Suhendro (1999 : 324) ” Density merupakan ukuran yang menunjukan derajat kepadatan suatu latihan yang dilakukan”. Dengan demikian densitas latihan
21
berkaitan dengan suatu hubungan yang dinyatakan dalam waktu antara akan mengarah kepada pencapaian rasio optimal antara rangsangan latihan dan pemulihan.
Istirahat interval yang direncanakan diantara dua rangsangan, bergantung langsung pada intensitasnya dan lama setiap rangsangan yang diberikan. Rangsangan di atas tingkat intesitas submaksimal menuntut interval istirahat yang relatif lama, dengan maksud untuk memudahkan pemulihan seseorang dalam menghadapi rangsangan berikutnya. Sebaliknya rangsangan pada intensitas rendah membutuhkan sedikit waktu untuk pemulihan, karena tuntutan terhadap organismenya pun juga rendah.
4) Kompleksitas Latihan
Kompleksitas dikaitkan kerumitan bentuk latihan yang dilaksanakan dalam latihan. Kompleksitas dari suatu keterampilan membutuhkan koordinasi, dapat menjadi penyebab penting dalam menambah intensitas latihan. Keterampilan teknik yang rumit atau sulit, mungkin akan menimbulkan permasalahan dan akhirnya akan menyebabkan tekanan tambahan terhadap otot, khususnya selama tahap dimana koordinasi syaraf otot berada dalam keadaan lemah. Suatu gambaran kelompok individual terhadap terhadap keterampilan yang kompleks, dapat membedakan dengan cepat mana yang memiliki koordinasi yang baik dan jelek. Seperti yang dikemukakan Astrand dan Rodahl dalam Bompa ( 1999 : 36 ) ” Semakin sulit bentuk latihan semakin besar juga perbedaan individual serta efisiensi mekanismenya”.
Komponen-komponen latihan yang telah disebutkan di atas harus dipahami dan diperhatikan dalam pelaksanaan latihan. Untuk memperoleh hasil latihan yang optimal, komponen-komponen latihan tersebut harus diterapkan dengan baik dan benar.
d. Perlakuan ke kebenaran eksternal
Camphel dan Stanley ( 1963 ) dalam Thomas & Nelson, buku Research
Methods in Physical Activity, 2th ed ( 1990 : 301 ) yang dikenali empat perlakuan
ke kebenaran eksternal, atau kemampuan untuk menyamaratakan hasil kepada lain partisipan, pengaturan, ukuran dan demikian semua :
1) Reacitve atau efek pengujian interaktif, pretest membuat peserta lebih mengena atau sensitif kepada pelatihan yang akan datang, Suatu hasil pelatihan itu tidak dapat efektif tanpa adanya pretest.
2) Interaksi penyimpangan pemilihan dan pelatihan yang bersifat percobaan, ketika suatu kelompok terpilih beberapa karakteristik, pelatihan bekerja hanya pada kelompok yang dikenai proses karakteristik itu.
3) Efek reaktif tentang pengaturan bersifat percobaan, pelatihan yang efektif di dalam situasi yang dibatasi tidak mungkin efektif di dalam pengaturan.
4) Gangguan pelatihan ganda, kapan peserta melakukan lebih dari satu treatment, efek dari sebelumnya treatment dapat mempengaruhi orang-orang pelatihan.
e. Perlakuan ke kebenaran internal
Camphel dan Stanley ( 1963 ) dalam Thomas & Nelson, buku Research
Methods in Physical Activity, 2th ed ( 1990: 298 ) menyatakan tentang kebenaran
internal adalah suatu dasar minimum, tanpa validitas internal eksperimen / percobaan tidak bisa diinterprestasikan. Yang dikenali sembilan perlakuan kepada eksperimen / percobaan antara lain :
1) Sejarah :
Peristiwa yang terjadi sepanjang eksperimen yang bukanlah bagian dari perlakuan.
2) Kematangan :
Proses di dalam peserta melakukan hasil pada berlalunya waktu. 3) Pengujian :
Efek pada suatu tes untuk menemukan administrasi berikutnya menggunakan tes yang sama.
23
4) Instrumentasi :
Menggunakan alat ukur yang sesuai. 5) Kemunduran statistik ( statistik regresi ) :
Fakta bahwa menggolongkan terpilih atas dasar ekstrim pada tes berikutnya.
6) Penyimpangan pemilihan :
Memilih perbandingan menggolongkan untuk cara nonrandom. 7) Kesempatan pada percobaan hilang :
Hilangnya peserta dari perbandingan kelompok menggolongkan untuk pertimbangan non random.
8) Interaksi pemilihan kematangan :
Berlalunya waktu pelatihan mempengaruhi satu kelompok tetapi tidak mempengaruhi kelompok yang tidak sama.
9) Pengharapan :
Eksperimenters atau penguji mengantisipasi peserta tertentu akan melaksanakan lebih baik.
3. Latihan Memukul Bola dengan Pitched ball
a. Pengertian Pitched Ball
Metode latihan ini adalah dengan cara memukul bola yang dilempar oleh pitcher dari arah depan dengan jarak 12 meter ke daerah pukulan (strike zone) dengan kecepatan bola hasil lemparan maksimal. Latihan memukul bola bergerak ini mempunyai tujuan untuk melatih ketepatan, kekuatan dan kecepatan ayunan perkenaan bola, membiasakan pemukul dengan bola yang datangnya dari pitcher dengan kecepatan bola maksimal, dan membiasakan gerakan ayunan yang dilakukan mendatar setinggi pinggang.
25
( Diane L.Potter 1999: 51)
Pelaksanaan dari latihan memukul pitched ball ini adalah sebagai berikut: a. Pemain dibagi menjadi beberapa kelompok masing-masing 6 orang atau disesuaikan dengan jumlah alat yang ada. Dengan satu orang menjadi pitcher, satu pemain menjadi pemukul dan pemain yang lainnya menjadi penjaga atau mengumpulkan bola hasil pukulan.
b. Pemain mendapat giliran memukul bola bersiap di dekat home plate dengan memegang pemukul dan melakukan persiapan. Kemudian pemain tersebut masuk ke home plate dan mengukur perkenaan pemukul dengan bola. Lalu
pitcher melempar bola ke zone strike.
c. Pemain yang berdiri pada posisi sikap awal memukul bola, lalu memukul bola dengan ayunan penuh, dengan catatan bola yang dipukul hanya bola yang masuk pada strike zone.
Dalam melakukan latihan memukul dengan pitched ball ini, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu :
a. Posisi pemukul harus benar-benar pada posisi perkenaan antara pemukul dengan bola yang tepat yaitu perkenaan kurang lebih satu kali lebar telapak tangan dari ujung pemukul.
b. Gerakan ayunan harus mendatar, tidak boleh ada gerakan mengayun dari bawah ke atas karena bola hasil pukulan yang diharapkan mendatar bukan ke atas.
c. Pandangan mata saat memukul selalu tertuju pada bola. Dan saat perkenaan bola pandangan mata selalu tertuju pada titik perkenaan bola.
d. Perkenaan pemukul harus pada titik tengah bola.
b. Kesalahan yang sering terjadi dalam latihan memukul bola dengan
Pitched Ball.
Pitched ball merupakan jenis latihan pukulan yang melibatkan 2 orang
dengan 2 keterampilan, Diane L.Potter (1999:56) mengidentifikasikan kesalahan-lesalahan yang sering dilakukan dalam latihan memukul dengan pitched ball dan cara memperbaikinya sebagai berikut:
Kesalahan yang sering dilakukan Pembetulan 1. Hasil pukulan anda selalu
melambung ke atas.
2. Anda selalu memukul bola yang menyusur tanah.
3. Anda tidak mempunyai kekuatan dalam memukul bola.
1. Rapatkan kedua kaki anda, hilangkan simpulan apapun dalam ayunan anda (dengan menjatuhkan laras alat pemukul di bawah alur ayunan horizontal sebelum pukulan, yang menyebabkan ayunan rendah sampai tinggi pada saat pukulan)
2. Periksa alur ayunan tinggi sampai rendah. Turunkan posisi pegangan awal anda pada ketinggian sedikit di atas bahu.
3. Ayunkan dengan keseluruhan kisaran gerakan. Pegangan yang baik di mulai dari garis balakang bahu, bukan di depan tubuh anda. c. Keuntungan dan Kelemahan Latihan Memukul Pitched Ball 1) Keuntungan Latihan Memukul Pitched Ball
Dalam pelaksanaan latihan memukul bola dengan pitched ball ini, memiliki keuntungan sebagai berikut :
a) Pemain akan dapat menyesuaikan dengan posisi atau jarak pukul yang pas dengan bola.
b) Pandangan mata akan dapat mengawasi mulai dari lepasnya bola dari pitcher sampai titik perkenaan dengan pemukul.
c) Ayunan lengan pemukul akan terbiasa menyesuaikan ketinggian datangnya bola.
d) Pemukul akan terbiasa dengan bola lemparan dari pitcher. e) Arah bola yang bervariasi titik sasarannya.
f) Pergerakan posisi kaki dan badan dapat disesuaikan dengan titik bola. g) Pemukul dapat terbiasa dengan hasil lemparan dari pitcher yang cepat.
27
2) Kelemahan Latihan Memukul Pitched Ball
Selain keuntungan dari latihan tersebut, ada pula kelemahan dari latihan ini, yaitu :
a) Pemain harus benar-benar mamiliki perasaan yang tepat kapan harus bergerak mengayun pemukul untuk memukul bola yang masuk zone strike.
b) Konsentrasi pemain dapat terpecah antara gerakan mengayun dan letak atau posisi bola.
c) Pemain akan lebih sulit mencapai titik perkenaan yang tepat karena bolanya dalam keadaan gerak.
d) Bagi pemain pemula mendapatkan kesulitan dalam memukul bola, karena jarak lemparan sesuai saat prtandingan dan kecepatan lemparan bola maksimal.
4. Latihan Memukul bola dengan Tee Ball
a. Pengertian Tee Ball
Tee ball adalah latihan memukul yang menggunakan tiang sebagai tempat
bola untuk dipukul, sedangkan bola tepat diatas tiang tersebut. Menurut Diane L. Potter 1999:53) “ Tee ball adalah memukul bola dari ujung alat pemukul adalah salah satu cara termudah untuk mancapai beberapa kunci kesuksesan dan teknis memukul”. Latihan memukul bola dengan tee ball adalah latihan memukul yang mudah dan sederhana namun dapat meningkatkan kemampuan memukul para pemain pemula, karena bola tidak akan berubah dari posisinya ketika akan dipukul, sehingga pemukul tidak harus sesuaikan ayunan terhadap posisi bola. Hal ini memungkinkan pemukul untuk fokus pada aspek-aspek pukulan yang memerlukan kerja yang lebih.
Pelaksanaan latihan memukul bola dengan tee ball yaitu pelatih menjelaskan teknik yang benar tentang gerakan memukul yang baik dan benar dalam latihan tee ball, setelah pemain memahami teknik dan mengerti, kemudian pemain langsung mempraktekkan sesuai dengan instruksi pelatih.
Untuk lebih jelasnya berikut ini disajikan gambar mengenai latihan memukul bola dengan tee ball.
Gambar.13 latihan memukul dengan Tee ball. ( Diane L.Potter 1999: 52)
b. Kesalahan yang sering terjadi dalam melakukan latihan memukul bola dengan Tee Ball
Dalam pelaksanaannya meskipun latihan tee ball tergolong mudah namun sering terjadi kesalahan. Diane L.Potter (1999 : 54) mengidentifikasi kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan dalam latihan memukul bola dengan tee ball serta bagaimana membetulkannya,terdapat dalam tabel berikut:
Kesalahan Pembetulan
1. Anda memukul bola dengan bagian pemukul yang dekat dengan tangan anda, atau anda harus menekuk siku anda untuk mememgang pemukul
1. Anda bisa berdiri dengan post tee berlawanan dengan bagian tengah tubuh anda. Pindahlah atau ubahlah posisi kaki depan anda sehingga
29
supaya dapat memukul bola.
2. Anda tidak dapat mencapai bola ketika anda mengayun.
3. Anda memukul tee ketimbang bolanya.
berlawanan / tidak sejajar dengan posisi tee.
2. Berpindahlah lebih dekat dengan tee dalam posisi seperti yang
digambarkan pada koreksi satu. 3. Jagalah bahu belakang anda tetap
tegak, jangan turunkan siku belakang anda ketika mengayun.
c. Kelebihan dan kelemahan Latihan memukul bola dengan Tee Ball.
Seperti halnya pada latihan memukul bola dengan pitched ball, latihan memukul bola dengan tee ball juga memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihan latihan memukul dengan tee ball antara lain :
1) Dapat menghemat waktu, jika siswi dapat cepat menyesuaikan diri dengan metode latihan memukul dengan tee ball.
2) Siswi lebih jelas menerima konsep gerakan yang dilatihkan secara jelas. 3) Siswi dapat secara langsung melakukan gerakan pukulan yang sebenarnya.
Sedangkan kelemahan latihan memukul bola dengan tee ball antara lain : 1) Siswi akan mengalami kesulitan dalam melakukan gerakan latihan ini karena
sering memukul tiangnya daripada bola.
2) Tiang yang digunakan akan cepat rusak karena sering dipukul.
3) Pelatih akan sering membetulkan gerakan yang salah, menyebabkan pelatihan akan sedikit terhenti dan tujuan latihan lebih lama tercapai.
5. Otot - otot yang bekerja saat memukul bola Softball
Kemampuan bergerak seseorang didukung dari dalam tubuh manusia, motor penggeraknya adalah berupa otot - otot tubuh yang bekerja sesuai dengan aktivitas atau perintah dari syaraf pusaf yaitu otak. Gerakan memukul tidak lepas dari kerja otot - otot dalam tubuh, saat melakukan gerakan memukul bola softball ada beberapa sekumpulan otot - otot yang berpengaruh terhadap gerakan tersebut.
Gerakan memukul bola softball melibatkan beberapa sendi tubuh yaitu ; sendi bahu, sendi siku dan sendi pergelangan tangan. Dimana ditiap - tiap sendi terdapat otot - otot yang mendukung kinerja sendi - sendi tersebut. Dalam sendi bahu, otot - otot yang bekerja saat memukul bola softball antara lain :
a. m. Pectoralis major b. m. Deltoid anterior
Dalam sendi siku, otot - otot yang bekerja saat memukul bola softball antara lain :
a. m. Biceps brachii b. m. Triceps brachii
Sedangkan dalam sendi pergelangan tangan, otot - otot yang bekerja saat memukul bola softball antara lain :
a. m. Extensor carpi radialis longus b. m. Extensor carpi radialis brevis c. m. Extensor carpi ulnalis
d. m. Extensor digito rum e. m. Extensor digiti minimi
B.Kerangka Berfikir
Berdasarkan tinjauan pustaka yang telah dikemukakan di atas dapat diajukan kerangka pemikiran sebagai berikut:
1. Pengaruh Latihan Memukul bola dengan Pitched Ball dan Tee Ball Terhadap Kemampuan Memukul Bola Softball
Dalam memukul bola diperlukan latihan yang tepat dan cocok untuk meningkatkan kemampuan pukulan yang keras dan terarah. Pelaksanaan latihan memukul bola dengan pitched ball dapat dilakukan yaitu siswi dijelaskan dengan teknik memukul secara terperinci dan didemonstrasikan yaitu dari posisi siap, gerakan mengayun tangan, gerakan memukul bola yang dilemparkan oleh pitcher kemudian gerak lanjut. Jadi latihan pitched ball ini memerlukan penguasaan
31
teknik memukul yang lebih baik. Karena latihan ini lebih mengarah ke pada simulasi pertandingan. Latihan memukul bola dengan tee ball pelaksananya siswi dijelaskan terlebih dahulu agar siswi dapat mengerti apa yang akan dilakukan, latihanya adalah dari posisi siap siswi melakukan pukulan terhadap bola yang berada diatas tiang kemudian diikuti gerak lanjut. Latihan tee ball ini lebih sederhana karena hanya memukul bola softball yang tidak bergerak di atas tiang / tee.
2. Perbedaan Pengaruh Latihan dengan pitched Ball dan Tee Ball Terhadap Kemampuan Memukul Bola Softball
Dalam pelaksanaan latihan kedua macam latihan ini memiliki karakteristik yang berbeda dan memiliki kelebihan serta kelemahan. Kelebihan latihan memukul bola dengan pitched ball antara lain : siswi dapat menguasai teknik memukul dengan baik dan benar, sehingga dapat terhindar dari kesalahan teknik, karena melalui latihan dengan pitched ball teknik pukulan dapat dikuasai, siswi dapat meningkatkan kemampuan koordinasi mata tangan dan ketepatan memukul dengan terarah. Kelemahan dari latihan ini antara lain : jarak antara pelempar dan pemukul jauh sehingga lemparan bola kurang akurat, pemukul ragu-ragu dalam memukul.
Sedangkan kelebihan dari latihan memukul bola dengan tee ball antara lain : dapat menghemat waktu, dengan metode latihan memukul dengan tee bal, sisiwii lebih jelas menerima konsep gerakan yang dilatihkan secara jelas, siswi dapat secara langsung melakukan gerakan pukulan yang sebenarnya. Kelemahan dari latihan memukul bola dengan tee ball antara lain : siswi akan mengalami kesulitan dalam melakukan gerakan latihan ini karena sering memukul tiangnya daripada bola, tiang yang digunakan akan cepat rusak karena sering dipukul, pelatih akan sering membetulkan gerakan yang salah, menyebabkan pelatihan akan sedikit terhenti dan tujuan latihan lebih lama tercapai.
Berdasarkan kelebihan dan kelemahan antara latihan memukul bola dengan pitched ball dan tee ball tersebut maka akan menimbulkan pengaruh yang berbeda. Perlakuan yang berbeda akan menimbulkan respon yang berbeda pula
pada diri pelaku. Ditinjau dari segi pelaksanaan latihan memukul bola dengan
pitched ball memiliki efektifitas yang lebih baik hal ini dikarenakan
perkembangan koordinasi mata tangan dan ketepatan terhadap sasaran lebih cepat meningkat dibandingkan dengan latihan memukul bola dengan tee ball.
C. Perumusan Hipotesis
Berdasarkan tinjauan pustaka dan kerangka pemikiran yang telah dikemukakan di atas dapat diajukan hipotesis sebagai berikut:
1. Ada perbedaan pengaruh latihan memukul bola dengan pitched ball dan tee ball terhadap kemampuan memukul bola softball pada team softball SMEA Kristen I Surakarta tahun 2010.
2. Latihan memukul bola dengan pitched ball memiliki pengaruh yang lebih baik dibanding latihan memukul bola dengan tee ball terhadap kemampuan memukul bola softball pada team softball SMEA Kristen I Surakarta tahun 2010.
33
BAB III
METODE PENELITIAN
A.Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Lapangan Softball Stadion Manahan, Jl Adi Sucipto No.1 Surakarta. Telp 0271718196
2.Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada tanggal 01 Febuari hingga 31 Maret 2010. treatment dilaksanakan selama 7 minggu.
No Tanggal Kegiatan
1 01 – 03 Febuari Pengambilan data awal (pretest) 2 05 Febuari Pengambilan beban awal (reps mak) 3 08 Febuari – 28 Maret Treatment Pitched ball dan Tee ball 4 29 – 31 Maret Latihan tambahan dan pengambilan
data akhir (posttest)
B.Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Suharsimi Arikunto (1998 : 9) menyatakan sebagai berikut :
Eksperimen adalah suatu cara untuk mencari hubungan sebab akibat (hubungan kausal) antara 2 faktor yang sengaja ditimbulkan oleh peneliti dengan mengeliminasi atau mengurangi atau menyisihkan faktor-faktor lain yang bisa mengganggu. Eksperimen selalu dilakukan dengan maksud untuk melihat akibat dari suatu perlakuan.
Memperhatikan pendapat tersebut, dapat diketahui bahwa dalam penelitian eksperimen adalah penelitian dengan memberikan perlakuan terhadap orang untuk mencari gambaran tentang hubungan sebab akibat.
Metode penelitian yang digunakan, ditetapkan berdasarkan pada tujuan dan hasil penelitian yang diharapakan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen dengan rancangan pretest-posttes design. Metode yang
digunakan adalah metode eksperimen yaitu metode yang memberikan suatu gejala latihan atau percobaan maka akan terlihat hubungan sebab akibat sebagai pengaruh dari pelaksanaan latihan. Rancangan penelitian eksperimen pretest-posstest design dalam penelitian ini yaitu:
KE1 X Postest Latihan dengan pitched ball
Pretest OP
KE2 Y Postest Keterangan: Latihan dengan tee ball
OP = Ordinal Pairing
KE1 = Kelompok Eksperimen 1
X = Latihan memukul dengan pitched ball KE2 = Kelompok Eksperimen 2
Y = Latihan memukul dengan tee ball
Untuk menyeimbangkan kelompok dilakukan dengan cara ordinal
pairing berdasarkan hasil tes awal kemampuan memukul bola, yaitu setelah
dilakukan tes awal. kemudian hasil tes awal dirangking setelah itu dipisahkan ke- dalam kelompok 1 dan kelompok 2 dengan cara ordinal pairing sehingga kedua kelompok mempunyai kemampuan yang setara atau seimbang. Adapun pembagian kelompok dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
KI K2
1 2
4 3
35
C. Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini terdapat dua variabel bebas ( Independen ) dan satu variabel terikat ( Dependen ) dengan perincian :
1. Variabel bebas ( Independen )
a) Latihan memukul bola dengan pitched ball.
(latihan memukul bola softball dengan bantuan lemparan bola dari pitcher)
b) Latihan memukul bola dengan tee ball.
(latihan memukul bola softball dengan bantuan tonggak/tongkat tempat untuk memasang bola)
2. Variabel terikat ( Dependen )
a) Kemampuan memukul bola softball.
D. Populasi dan Sampel
1. Populasi dan Sampel
Suharsimi Arikunto ( 1998 : 102 ) menyatakan bahwa, “ Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian.”. Sebagai populasi dalam penelitian ini adalah siswi anggota team softball SMEA Kristen I Surakarta tahun 2010 yang berjumlah keseluruhan 30 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Total populasi.
E. Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini diadakan tes dan pengukuran dengan menggunakan Elrod Batting Test dari Johnson BL and Nelson JK (1974:279) yaitu untuk mengukur kemampuan memukul bola softball.
F. Teknik Analisis Data
1. Reliabilitas Tes
Menghitung Reliabilitas tes menggunakan rumus ANAVA dari Mulyono B (2007 : 44). Adapun rumus uji reliabilita tes yang digunakan adalah sebagai berikut: R = A W A M S M S M S Keterangan: R = Koefisien Reliabilitas
Dari hasil perhitungan korelasi di atas kemudian dimasukkan kedalam rumus Reliabilita dari Spearman - Brown dalam Suharsimi Arikunto (1998 : 173), sebagai berikut: r11 = ) 2 / 21 / 1 2 / 21 / 1 r 1 ( r . 2 Keterangan: r11 = Reliabilita instrumen
r1/21/2 = Indeks korelasi antara dua belahan instrumen
2. Uji Prasyarat
a. Uji normalitas
Uji normalitas data dalam penelitian ini menggunakan metode Lillieforse dari Sudjana (1996:466). Adapun prosedur uji normalitas tersebut adalah sebagai berikut:
1) Pengamatan X1,X2…….Xn dijadikan bilangan baku Z1,Z2……..,Zn dengan menggunakan rumus :
Zi = s
X Xi Keterangan:
37
X= Rata-rata
s = Simpangan baku
2) Untuk tiap bilangan baku ini menggunakan daftar distribusi normal baku, kemudian dihitung peluang F(Zi) = P(Z < Xi)
3) Selanjutnya dihitung proporsi Z1,Z2,………Zn yang lebih kecil atau sama dengan Zi. Jika proporsi dinyatakan oleh S(Zi) maka:
S(Zi) = n Zi yang Z ... ... Z banyaknyaZ1 2 n
4) Hitung selisih F(Zi)- S(Zi) kemudian ditentukan harga mutlaknya. 5) Ambil harga yang paling besar diantara harga-harga mutlak selisih
tersebut. Sebutlah harga terbesar ini sebagai Lo. b. Uji Homogenitas
Untuk mencari atau menguji homogenitas data, digunakan rumus dari Sudjana ( 1996:386 ) sebagai berikut:
kt 2 bs 2 dbvk : dbvb SD SD F Keterangan:
db : vb = derajat kebebasan dari varians yang lebih besar db : vk = derajat kebebasan dari varian yang lebih kecil
bs 2
SD = Varians yang lebih besar kt
2
SD = Varians yang lebih kecil
3. Uji Perbedaan
Untuk menghitung perbedaan peningkatan kemampuan memukul bola softball dengan menggunakan rumus t- test dari Sutrisno Hadi ( 1989 : 278 ), rumus t-test yang digunakan dalam eksperimen-eksperimen yang menggunakan sampel-sampel berkorelasi, yaitu sampel-sampel yang sudah disamakan salah satu variabelnya. Rumus t-tes yang digunakan adalah sebagai berikut:
t =
N 1
N d M d 2
Keterangan:
t = Nilai perbedaan
Md = Rata- rata selisih antara X1 dan X2 N = Jumlah pasangan
Adapun uji perbedaannya menggunakan derajat kebebasan N-1 pada taraf signifikansi 5%. Peningkatan presentasi dari latihan yang dilakukan, dicari dengan sebagai berikut: Peningkatan presentasi = test M pre M d x 100%