• Tidak ada hasil yang ditemukan

JEMA : Journal of Economic, Management and Accounting Adpertisi -

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "JEMA : Journal of Economic, Management and Accounting Adpertisi -"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

LOCUS OF CONTROL DAN TIME PRESSURE SEBAGAI VARIABEL

PEMODERASI HUBUNGAN STRESS KERJA AUDITOR PADA

PERILAKU DISFUNGSIONAL AUDIT

Ni Luh Putu Ratna Wahyu Lestari

Fakultas Ekonomi Universitas Warmadewa (Unwar), Bali, Indonesia

e-mail: [email protected]

Today there are many cases that reflect the dysfunctional behavior of audits conducted by auditors so as to produce audited financial reports that are not qualified. The case that befell Enron in 2001 and Toshiba in 2018 is an example of a company that carries out financial manipulations involving auditors in fraud. This study tries to provide a new point of view on the relationship of work stress and auditor behavior by including external locus of control and time pressure as moderating variables. Some researchers have previously considered psychological factors such as locus of control and locus of control as predictors of auditor performance and behavior. This study uses quantitative data. The data collection technique in the study used a questionnaire (questionnaire). . The results showed that: (1) Locus of Control is able to strengthen the relationship of work stress to dysfunctional audit (2) Time Pressure is able to strengthen the work stress relationship to dysfunctional audit

Keywords: Disfungsional Audit, Work Stress, Locus Of Control, Time Pressure

1. Pendahuluan

Peranan auditor dalam dunia bisnis dan politik sudah bukan lagi menjadi wacana namun sudah merupakan sebuah keniscayaan dan kepastianAudit sering dipandang sebagai assurance service yaitu jasa profesional independen yang dapat meningkatkan kualitas informasi bagi pengambil keputusan. Auditor dituntut untuk bersikap independen dan memperhatikan kode etik sebagai pedoman dalam menjalakankan tugasnya. Namun pada praktiknya masih banyak ditemukan kasus-kasus pelanggaran yang melibatkan akuntan publik. Dewasa ini banyak kasus yang mencerminkan perilaku disfungsional audit yang dilakukan oleh auditor sehingga menghasilkan laporan keuangan yang diaudit menjadi tidak berkualitas. Kasus yang menimpa Enron pada tahun 2001 dan Toshiba pada tahun 2018 merupakan contoh perusahaan yang melakukan manipulasi keuangan yang melibatkan auditor dalam kecurangan tersebut. Kasus Enron mulai terungkap pada bulan Desember tahun 2001 dan terus menggelinding pada tahun 2002 berimplikasi sangat luas terhadap pasar keuangan global yang di tandai dengan menurunnya harga saham secara drastis berbagai bursa efek di belahan dunia, mulai dari Amerika, Eropa, sampai ke Asia. KAP Arthur Andersen yang merupakan salah satu KAP Big Five pada saat itu bersikap tidak independen dan terlibat dalam manipulasi laporan keuangan yang dilakukan oleh klien. Selain itu, kasus yang menimpa Toshiba tahun 2018 merupakan contoh lain perusahaan yang melakukan manipulasi laporan keuangan yang melibatkan auditor dalam kecurangan tersebut sehingga menyebabkan laporan keuangan tersebut tidak berkualitas. Dalam kasus ini Toshiba terbukti melakukan penggelembungan keuntungan sebesar US$ 1,22 Miliar terhitung sejak tahun 2008 sampai 2014. KAP yang mengaudit laporan keuangan Toshiba

(2)

yaitu Ernst & Young ShinNihon LLC. EY telah bekerja sama melakukan audit untuk Toshiba selama 12 tahun terhitung sejak tahun 2002 hingga 2014 tidak mampu menemukan serta melaporkan kalau perusahaan ini ternyata melakukan kecurangan. Atas kejadian tersebut, regulator keuangan Jepang akan mendenda perusahaan afiliasi Ernst & Young sebesar 2,1 miliar yen (US$ 17,4 juta) setelah lembaga tersebut gagal melihat penyimpangan standar akuntansi di Toshiba serta akan menangguhkan Ernst & Young dalam mengambil kontrak bisnis baru selama tiga bulan (Kompas.com,2016). Perilaku disfungsional auditor disebabkan karena adanya konflik kepentingan antar pihak yang terkait dalam penugasan audit, dalam hal ini adalah kantor akuntan, klien dan auditor (Sujana, 2010). Konflik yang paling sering terjadi adalah antara klien dan auditor. Konflik kepentingan seperti ini seringkali menjerumuskan auditor untuk berperilaku disfungsional.

Penelitian sebelumnya mengenai pengaruh stres kerja pada perilaku auditor menunjukkan ketidakkonsistenan hasil. Stres kerja menyebabkan terjadinya ketidakpuasan kerja dan menurunkan kinerja (Hayes dan Weathington, 2007; Chen dan Silverthorne, 2008) hingga perilaku yang menyimpang (Lawrence dan Robinson, 2007). Meskipun demikian, stress kerja terkadang sengaja diciptakan untuk memberikan tantangan bagi seseorang agar dapat meningkatkan kinerjanya (Moore, 2000). Chen et al. (2006) menyatakan bahwa auditor yang mengalami stres pada tingkat tertentu justru dapat menunjukkan kinerja yang lebih baik. Penelitian ini mencoba memberikan titik pandang baru pada hubungan stres kerja dan perilaku auditor dengan memasukkan locus of control eksternal dan time pressure sebagai variabel pemoderasi. Beberapa peneliti sebelumnya telah mempertimbangkan faktor psikologi seperti locus of control dan locus of control sebagai prediktor pada kinerja dan perilaku auditor. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti ingin mengetahui (1) pengaruh stres kerja pada perilaku disfungsional audit; (2) pengaruh locus of control pada hubungan stres kerja dengan perilaku disfungsional audit; (3) serta pengaruh time pressure pada hubungan stres kerja dengan perilaku disfungsional audit.

2. KAJIAN PUSTAKA

a. Teori Atribusi (Attribution Theory)

Teori atribusi memberikan penjelasan proses bagaimana kita menentukan penyebab atau motif perilaku seseorang (Gibson,et al.,1994 dalam Ardiansah,2003). Teori ini mendeskripsikan cara-cara penilaian perilaku seseorang baik yang berasal dari internal atau eksternal (Robbins dan Judge, 2008). Teori ini juga menunjukkan bahwa kinerja yang diharapkan di masa mendatang disebabkan oleh penyebab kesuksesan maupun kegagalan pada pelaksanaan tugas sebelumnya. Teori ini digunakan untuk menilai atribusi perilaku eksternal auditor dalam kaitannya dengan stres kerja, locus of control dan time pressure seorang auditor. Herzberg (1996), Steers (1977) dalam Reed et. al. (1994), dalam Ardiansah(2003) mengungkapkan keberadaan “sejumlah atribut”, yang secara alami berlaku secara internal dalam organisasi, mempengaruhi sikap karyawan, terutama yang berkaitan dengan pekerjaannya. Dysfunctional audit behavior sebagai suatu bentuk perilaku atau sikap karyawan ditentukan oleh penyebab dari diri sendiri (atribusi internal) dan penyebab luar (atribusi eksternal). Atribusi internal antara lain adalah persepsi individu terhadap locus of control, persepsi individu terhadap kinerjanya serta adanya keinginan berpindah kerja dalam diri auditor atau turn over intention yang belum terealisasi dalam tindakan nyata,

(3)

sedangkan atribusi eksternal antara lain adanya time pressure atau tekanan dari pihak luar mengenai waktu seorang auditor menyelesaikan tugas secepatnya.

b. Perilaku Disfungsional Audit

Perilaku disfungsional audit adalah setiap tindakan yang dilakukan auditor selama pelaksanaan program audit yang dapat mereduksi kualitas audit baik secara langsung maupun tidak langsung (Kelley dan Margheim, 1990). Ada berbagai faktor yang dapat menyebabkan penyimpangan perilaku dalam audit (PPA). Faktor-faktor tersebut dapat menjadi dua, yaitu factor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal faktor-faktor yang berasal dari luar diri auditor yang dapat mempengaruhi auditor, seperti lingkungan. Sedangkan faktor internal adalah faktor yang berasal dalam diri auditor yang dapat mempengaruhi perilaku auditor, yaitu karakteristik personal yang dimiliki auditor. Karakteristik personal dapat mempengaruhi baik secara langsung maupun secara tidak langsung terhadap PPA. Personal meliputi locus of control, tingkat kinerja karyawan (self rate employee performance), keinginan untuk berhenti bekerja (turn over intention).

c. Locus of Control

Locus of control juga mempengaruhi dysfunctional audit behavior, job satisfaction, komitmen organisasi dan turnover intentions (Donnelly et al., 2003). Teori locus of control menggolongkan individu apakah termasuk dalam locus of control internal atau eksternal. Locus of control (Adiputra, et al, 2014) berperan dalam motivasi. Locus of control yang berbeda bisa mencerminkan motivasi yang berbeda dan kinerja yang berbeda (Saputra, 2014). Internal akan cenderung lebih sukses dalam karir mereka daripada eksternal, mereka cenderung mempunyai level kerja yang lebih tinggi, promosi yang lebih cepat, dan mendapatkan uang yang lebih. Sebagai tambahan, internal dilaporkan memiliki kepuasan yang lebih tinggi dengan pekerjaan mereka dan terlihat lebih mampu menahan stress daripada eksternal (Baron dan Greenberg, 1990, dalam Pujaningrum, 2012).

d. Stres Kerja

Stress kerja dikarenakan adanya ketidakseimbangan antara karakteristik kepribadian karyawan dengan karakteristik aspek-aspek pekerjaannya dan dapat terjadi pada semua kondisi pekerjaan. Menurut Robbins (2008) ada 2 faktor yang dapat menyebabkan stress yaitu (1) faktor organisasi meliputi tuntutan tugas, tuntutan peran dan tuntutan antar personal. Tidak sedikit faktor di dalam organisasi yang dapat menyebabkan stress. Tekanan untuk menghindari kesalahan atau menyelesaikan tugas dalam waktu yang singkat, beban kerja yang berlebihan, atasan yang selalu tidak peka dan rekan kerja yang tidak menyenangkan adalah beberapa diantaranya sehingga dapat dikelompokkan menjadi tuntutan tugas, peran dan antar personal. Tidak adanya dukungan dari atasan dan hubungan antar pribadi yang buruk dapat menyebabkan stress, terutama diantara para karyawan yang memiliki kebutuhan sosial tinggi. (2) Faktor personal meliputi persoalan keluarga, persoalan ekonomi, dan kepribadian. Berdasarkan hasil survei nasional secara konsisten menunjukkan bahwa orang sanagat mementingkan hubungan keluarga dan pribadi. Berbagai kesulitan dalam hidup perkawinan, retaknya hubungan dan masalah anak adalah bebrapa contoh masalah hubungan yang menciptakan stress bagi karyawan, yang lalu terbawa sampai ketempat kerjanya. Masalah ekonomi karena pola hidup yang lebih

(4)

besar pasak daripada tiang adalah kendala pribadi lain yang menciptakan stress bagi karyawan dan mengganggu konsentrasi kerja mereka.

e. Time Pressure

Auditor yang melakukan proses audit biasanya dihadapkan pada pengefisiensian waktu dan biaya. Proses audit yang dilakukan oleh auditor tentunya akan menimbulkan tekanan dalam waktu guna mewujudkan pengefiensian tersebut. Tekanan waktu (time pressure) memiliki dua dimensi, yaitu time budget pressure dan time deadline pressure (Margheim et al, 2005). Fungsi dari time budget adalah untuk memperlihatkan bagaimana seseorang mengonsumsi atau menggunakan waktunya. Anggaran waktu yang telah ditetapkan sering dirasa auditor tidak cukup untuk melakukan penugasan sehingga auditor bekerja dibawah tekanan waktu dan auditor tentu akan lebih cepat menyelesaikan pekerjaannya. Auditor yang menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat memungkinkan adanya pengabaian terhadap beberapa proses audit dan hanya melaksanakan proses audit yang menurutnya penting saja sehingga menghasilkan kinerja yang buruk dan tentunya mempengaruhi hasil kerja auditor itu sendiri Kelly (1991). Time deadline pressure muncul dari lingkungan KAP saat auditor senior menuntut kepada auditor junior segera menyelesaikan tugas audit agar tujuan audit tercapai pada waktu yang telah ditentukan. UU No.8 tahun 1995 tentang Pasar Modal disebutkan bahwa emiten dan perusahaan publik wajib menyampaikan laporan keuangan tahunan yang telah diaudit oleh akuntan independen selambat-lambatnya pada akhir bulan keempat (120 hari) setelah tanggal laporan keuangan perusahaan. Peraturan tersebut juga dapat memunculkan time pressure yang melibatkan pihak ketiga seperti regulator perusahaan. Time deadline pressure juga dapat muncul dari KAP tempat auditor bekerja, klien atau bahkan pihak ketiga seperti regulator yang mengharuskan auditor menyelesaikan pekerjaannya sesuai dengan batasan waktu yang telah ditentukan (DeZoort, 1997).

f. Hipotesis Penelitian

Pengaruh Locus of control pada Hubungan Stres Kerja dengan Perilaku Disfungsional Audit

Seseorang yang memiliki internal locus of control memandang bahwa segala sesuatu yang dialami disebabkan kendali atau tindakan dirinya sendiri, sedangkan individu yang memiliki eksternal locus of control menganggap bahwa segala sesuatu yang dialami disebabkan oleh kendali faktor eksternal seperti nasib dan keberuntungan (Aube et al., 2007). Penelitian ini menduga bahwa auditor yang mempunyai locus of control internal yang tinggi menganggap stres kerja sebagai suatu tantangan untuk meningkatkan kinerjanya. Selain itu auditor memiliki kendali yang tinggi atas kemungkinan terjadinya penyimpangan perilaku audit di tempat kerja. Namun tidak demikian halnya dengan auditor yang memiliki kepribadian locus of control eksternal yang tinggi. Penelitian Kartika dan Wijayanti (2007), Harini, et al. (2010), Gustati (2012), dan Rustiarini (2014) menghasilkan bahwa auditor yang memiliki kecenderungan locus of control eksternal juga akan cenderung menerima perilaku disfungsional audit. Penelitian Aji (2010) juga menunjukkan hasil bahwa auditor dengan external locus of control mempunyai tekanan kerja yang lebih tinggi dibandingkan dengan auditor dengan internal locus of control. Auditor yang memiliki kepribadian ini menganggap bahwa stres kerja merupakan faktor diluar kendali auditor tersebut sehingga berpengaruh memperkuat kemungkinan terjadinya perilaku disfungsional audit. Berdasarkan uraian tersebut, maka dirumuskan dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

(5)

H1: Locus of control memperkuat eksternal hubungan stres kerja terhadap perilaku

disfungsional audit.

Pengaruh Time Pressure pada Hubungan Stres Kerja dengan Perilaku Disfungsional Audit

Adanya time pressure yang diberikan oleh kantor akuntan public kepada auditornya bertujuan untuk mengurangi biaya audit. Semakin cepat waktu pengerjaan audit, maka biaya pelaksanaan audit akan semakin kecil. Dalam kondisi normal, estimasi penyediaan jumlah waktu yang dialokasikan untuk suatu proses audit harus tersedia karena hal tersebut akan dijadikan dasar untuk estimasi biaya audit, alokasi pekerjaan personal staf dan untuk evaluasi kinerja staf auditor. Anggaran waktu yang ketat akan menyebabkan auditor mendapat tekanan dalam pelaksanaan audit mereka. Menurut teori perubahan sikap, auditor akan mengalami ketidaknyamanan karena dituntut untuk menyelesaikan pekerjaan, sementara sumber daya yang ada yaitu waktu sangat terbatas. Menurut Yuliana (2009) dalam Rizal dan Liyundira (2016), tekanan anggaran waktu yang tidak sewajarnya dalam pencapaian anggaran waktu dan biaya terbukti potensial sebagai praktik perilaku disfungsional yaitu penurunan kualitas audit. Agar menepati anggaran waktu yang telah ditetapkan, ada kemungkinan bagi auditor untuk melakukan pengabaian terhadap prosedur audit bahkan pemberhentian prosedur audit. Semakin besar pressure terhadap waktu pengerjaan audit, semakin besar pula kecenderungan untuk melakukan disfungsional audit. Berdasarkan uraian tersebut, maka hipotesis sebagai berikut:

H2: Time pressure memperkuat hubungan stres kerja terhadap perilaku disfungsional

3. Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan bentuk asosiatif. Penelitian ini dilakukan pada Kantor Akuntan Publik (KAP) Provinsi Bali. Penelitian ini menggunakan data kuantitatif yaitu jumlah auditor dan jumlah skor dari masing-masing indikator variabel yang diperoleh dari pengisian kuesioner pada KAP di Provinsi Bali. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data primer. Data primer dalam penelitian ini adalah bersumber dari jawaban kuesioner responden. Data sekunder dalam penelitian ini berupa nama KAP yang ada di Provinsi Bali, jumlah auditor yang bekerja pada masing-masing KAP, gambaran umum KAP, dan struktur organisasi KAP. Variabel-variabel dalam penelitian diklasifikasikan menjadi tiga kelompok yaitu variabel dependen, variabel independen dan variabel pemoderasi. Variabel dependen pada penelitian ini adalah perilaku disfungsional audit, variabel independen pada penelitian ini adalah stress kerja dan variabel pemoderasi pada penelitian ini adalah locus of control dan time pressure.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian menggunakan angket (kuesioner). Metode pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri dari tiga tahap yaitu 1) Tahap pendahuluan. Pada tahap ini penulis melakukan pencarian informasi tentang KAP yang ada di Bali dan selanjutnya peneliti mengadakan penelitian pada KAP di Bali. 2) Tahap Persiapan. Pada tahap ini peneliti mengumpulkan dan mempelajari literatur yang berkaitan dengan masalah penelitian. 3) Tahap Pelaksanaan Penelitian. Pada tahap ini penelitian dilakukan dengan datang secara langsung ke KAP di Bali dan melakukan penyebaran kuesioner kepada para auditor yang bersedia mengisi data kuesioner, untuk memperoleh data penelitian yang

(6)

diperlukan dalam penelitian ini. Setelah data diperoleh langkah berikutnya adalah melakukan analisis data.

Sampel yang digunakan memiliki kriteria auditor memiliki pengalaman audit minimal 1 tahun pada Kantor Akuntan Publik di Bali. Penelitian ini, auditor sebagai responden tidak dibatasi oleh jabatan pada Kantor Akuntan Publik (partner, senior, atau junior auditor), sehingga semua auditor yang bekerja di Kantor Akuntan Publik dapat diikutsertakan sebagai responden. Pengembalian kuesioner diberi jangka waktu selama 2 minggu terhitung sejak kuesioner diterima oleh responden. Pemilihan sampel juga didasarkan pada kondisi bahwa auditor dengan pengalaman minimal 1 tahun telah memperoleh penugasan audit sebagai junior auditor. Alasan dasar pertimbangan pemilihan kriteria tersebut yaitu auditor yang bekerja pada kantor akuntan publik pernah terlibat melakukan proses audit serta memiliki pengalaman dalam mengaudit, sehingga secara tidak langsung auditor terlibat dalam penentuan kualitas audit. Teknik analisis data menggunakan teknik Moderated Regression Analysis (MRA) dengan terlebih dahulu melewati uji asumsi klasik yaitu Normalitas, Heterokedatisitas, Multikoliniearitas dan autokorelasi. Model persamaan pada penelitian ini yaitu sebagai berikut.

Y = α + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4 + β5X1X2 + β6X1X3 + ε... (1) Keterangan : Y = Disfungsional Audit α = Konstanta β1, β2, β3 = Koefisien regresi X1 = Stress Kerja X2 = Locus of Control X3 = Time Pressue e = Eror 4. Pengukuran Variabel

Variabel dependen pada penelitian ini adalah perilaku disfungsional audit, variabel independen pada penelitian ini adalah stress kerja dan variabel pemoderasi pada penelitian ini adalah locus of control dan time pressure. Adapun definisi operasional dan pengukuran masing-masing variabel dijelaskan sebagai berikut:

a. Perilaku Disfungsional Audit (Dysfungtional Audit Behaviour)

Perilaku disfungsional audit merupakan reaksi auditor terhadap lingkungan (Donelly et al.,2003). Beberapa perilaku yang termasuk dalam perilaku disfungsional audit yaitu penghentian prematur atas prosedur audit (premature sign-off), penyelesaikan pekerjaan tanpa melaporkan waktu sesungguhnya yang digunakan (under reporting time), dan penggantian prosedur audit yang telah ditetapkan (altering or replacement of audit procedure). Variabel ini diukur menggunakan 12 item pertanyaan atas penerimaan auditor terhadap berbagai bentuk perilaku disfungsional yang diadopsi dari Donnelly et al. (2003).

b. Stress kerja

Stres kerja diartikan sebagai berbagai faktor di tempat kerja yang dianggap menimbulkan ancaman bagi individu (Bridger et al., 2007). Variabel ini diukur menggunakan 4 item pertanyaan yang diadopsi dari penelitian Beehr et al. (1976).

(7)

c. Locus of Control

Locus of control adalah suatu keyakinan individu atas berbagai faktor yang terjadi dalam kehidupan (Rotter, 1966). Locus of control eksternal diukur menggunakan skala yang dikembangkan oleh Spector (1988). Butir pertanyaan yang memiliki skor yang rendah mengindikasikan locus of control eksternal.

d. Time Pressure

Time pressure adalah suatu keadaan dimana auditor mendapatkan tekanan dari tempatnya bekerja, untuk menyelesaikan audit pada waktu dan anggaran biaya yang telah ditentukan sebelumnya. Pada saat kondisi ini auditor mengalami kesulitan mengumpulkan dan memeriksa bukti yang cukup sehingga berpotensi menimbulkan terjadinya penghentian prematur atas prosedur audit. Variabel time pressure ini diukur dengan menggunakan instrumen yang digunakan oleh Liantih (2010), dengan 5 item pertanyaan. Penelitian ini menggunakan pertanyaan sebagai indikator sebagai berikut : (1) Kurangnya anggaran waktu audit, (2) Mengaudit beberapa perusahaan pada periode bersamaan, (3) Melanggar anggaran waktu, (4) Penggunaan jam lembur, (5) Waktu cadangan audit. Jawaban dari responden digunakan untuk menentukan tingkat time pressure yang dihadapi oleh auditor, yaitu tingkat time pressure yang rendah untuk jawaban pada skala rendah dan sebaliknya tingkat time pressure yang lebih tinggi untuk jawaban pada skala tinggi.

5. HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil test one-sample Kolmogorov-smirnor pada tabel 2 sebesar 0,200 lebih besar dari nilai Sig > 0,05 dapat disimpulkan bahwa data pada model terdistribusi secara normal.

Tabel 1 Uji Normalitas

Persamaan Regresi Asymp. Sig.

(2-tailed) Y = α + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4 + β5X1X2 +

β6X1X3 + ε

0,200 Sumber : Data primer diolah, 2018

Berdasarkan hasil olah data, nilai VIF pada tabel 3 beberapa variabel menunjukan nilai >10. Dapat disimpulkan data tersebut terjadi gejala multikoliniearitas. Namun Jogiyanto (2007) menyatakan bahwa masalah multikolinearitas tidak menjadi masalah ketika menerapkan Moderated Regression Analysis.

Tabel 2

Uji Multikoliniearitas

(8)

STRESS KERJA (SK) 0,004 282,362 LOCUS OF CONTROL (LOC) 0,007 145,939

TIME PRESSURE (TP) 0,014 72,464

SK*LOC 0,001 786,768

SK*TP 0,002 483,247

Sumber : Data primer diolah, 2018

Berdasarkan hasil olah data pada tabel 4, nilai DW sebesar 1,922 lebih besar dari batas (du) sebesar 1.7129 dan lebih kecil dari (4-du) sebesar 2.2871 dapat disimpulkan bahwa data pada model tidak terdapat autokorelasi seperti terlihat pada tabel 5.5 Uji autokorelasi model

Tabel 3 Uji Autokorelasi Model Durbin-Watson Y = α + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4 + β5X1X2 + β6X1X3 + ε 1,922

Sumber : Data primer diolah, 2018

Uji Heterokedastisitas

Berdasarkan hasil olah data pada tabel 4 dapat disimpulkan bahwa data pada model tidak terdapat gejala heterokedatisitas yang tercermin dari signifikansi ukuran perusahaan, kompensasi dan leverage diatas alfa yaitu 5% (0,05).

Tabel 4 Uji Heterokedastisitas Variabel Sig SK ,342 LOC ,765 TP ,532 SK x LOC ,410 SK x TP ,884

Sumber : Data primer diolah, 2018 Uji Kelayakan Model

Berdasarkan uji F pada tabel 5 nilai signifikan sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05 yang berarti model dapat dikatakan layak dengan nilai R2 sebesar 0,557 ini berarti variabel bebas

yaitu stress kerja, locus of control, dan time pressure mampu menjelaskan variabel terikat disfungsional audit sebesar 55,7%, sedangkan sisanya sebesar 44,3% dijelaskan oleh variabel lain

(9)

Pengujian Hipotesis

Pengaruh Locus of control pada Hubungan Stres Kerja dengan Perilaku Disfungsional Audit

Hasil pengujian pada tabel 5 dengan menggunakan tingkat alfa 5% menunjukan bahwa signifikansi (Sig.t) sebesar 0,018 lebih kecil dari α = (0,05) dapat diartikan bahwa locus of control mampu memoderasi hubungan stress kerja dengan perilaku disfungsional audit. Berdasarkan hal tersebut maka hipotesis pertama diterima. Dapat disimpulkan bahwa locus of control mampu memoderasi hubungan stress kerja dengan perilaku disfungsional audit. Individu dengan Locus of Control eksternal yang tinggi cenderung menerima perilaku disfungsional audit. Auditor yang memiliki kepribadian ini menganggap bahwa stres kerja merupakan faktor diluar kendali auditor tersebut sehingga berpengaruh memperkuat kemungkinan terjadinya perilaku disfungsional audit.

Pengaruh Time Pressure pada Hubungan Stres Kerja dengan Perilaku Disfungsional Audit

Hasil pengujian pada tabel 5 dengan menggunakan tingkat alfa 5% menunjukan bahwa signifikansi (Sig.t) sebesar 0,043 lebih kecil dari α = (0,05) dapat diartikan bahwa time pressure mampu memoderasi hubungan stress kerja dengan perilaku disfungsional audit. Berdasarkan hal tersebut maka hipotesis kedua diterima. Adanya time pressure yang diberikan oleh kantor akuntan public kepada auditornya bertujuan untuk mengurangi biaya audit. Semakin cepat waktu pengerjaan audit, maka biaya pelaksanaan audit akan semakin kecil. Anggaran waktu yang ketat akan menyebabkan auditor mendapat tekanan dalam pelaksanaan audit mereka. Agar menepati anggaran waktu yang telah ditetapkan, ada kemungkinan bagi auditor untuk melakukan pengabaian terhadap prosedur audit bahkan pemberhentian prosedur audit. Semakin besar pressure terhadap waktu pengerjaan audit, semakin besar pula kecenderungan untuk melakukan disfungsional audit.

Tabel 5 Uji Hipotesis Variabel B T Sig (Constant) 216,968 1,592 0,116 STRESS KERJA (SK) -8,601 -2,442 0,017 LOCUS OF CONTROL (LOC) 328,463 1,759 0,083 TIME PRESSURE (TP) (moderasi) -4,606 -1,040 0,302 SK x LOC 0,282 2,427 0,018 SK x TP -11,206 -1,891 0,043 Adjusted R Square = 0,557 sig F = 0,000

(10)

Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan, locus of control yang diposisikan sebagai variabel pemoderasi mendukung teori yang ada. Locus of control eksternal memiliki kemampuan untuk memperkuat hubungan stres kerja dan perilaku disfungsional audit yang terjadi dalam penugasan audit. Auditor yang memiliki kepribadian ini menganggap bahwa stres kerja merupakan faktor diluar kendali auditor tersebut sehingga berpengaruh memperkuat kemungkinan terjadinya perilaku disfungsional audit. Adanya time pressure yang diberikan oleh kantor akuntan public kepada auditornya bertujuan untuk mengurangi biaya audit. Anggaran waktu yang ketat akan menyebabkan auditor mendapat tekanan dalam pelaksanaan audit mereka. Agar menepati anggaran waktu yang telah ditetapkan, ada kemungkinan bagi auditor untuk melakukan pengabaian terhadap prosedur audit bahkan pemberhentian prosedur audit. Semakin besar pressure terhadap waktu pengerjaan audit, semakin besar pula kecenderungan untuk melakukan disfungsional audit.

Penelitian ini memiliki keterbatasan yang melekat dikarenakan penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh melalui kuisioner, yaitu kemungkinan terjadi perbedaan persepsi antara peneliti dan responden karena responden dan peneliti tidak dapat saling mengklarifikasi pertanyaan atau pernyataan. Oleh karena itu penelitian tentunya menjadi lebih representatif apabila mengkombinasikan dengan metode wawancara sehingga persepsi responden atas pertanyaan atau pernyataan dapat diketahui secara mendalam. Penelitian ini hanya menggunakan variabel stres kerja, time pressure dan locus of control untuk mengetahui pengaruhnya pada perilaku disfungsional audit. Peneliti selanjutnya disarankan untuk mempertimbangkan penggunaan variabel lain komitmen organisasi, gaya kepemimpinan, keyakinan diri, kepuasan kerja, dan lain sebagainya.

7. Referensi

Adiputra, I. M. P., Atmadja, A. T., & Saputra, K. A. K. (2014). Culture Of Tri Hita Karana As Moderating Effect Of Locus Of Control On The Performance Of Internal Auditor (Studies In The Office Of The Provincial Inspectorate In Bali). Research Journal of Finance and Accounting, 5(22), 27-35.

Aube, C., V. Rousseau, and E. M. Morin. 2007. Perceived Organizational Support and Organizational Commitment: The Moderating Effect of Locus of Control and Work Autonomy. Journal of Managerial Psychology, 22 (5), 479-495. Barrick, M. B. and M. K. Mount. 2005. Yes, Personality Matters: Moving on to More Important Matters. Human Performance, 18 (4), 359-372.Journal of Personality 70: 696-727. Chen, J. C. and C. Silverthorne. 2008. The Impact of Locus of Control on Job Stress, Job Performance and Job Satisfaction in Taiwan. Leadership and Organization Development Journal, 29 (7), 572-582.

Chen, J. C., C. Silverthorne, and J. Y. Hung. 2006. Organization Communication, Job Stress, Organizational Commitment, and Job Performance of Accounting Professionals in Taiwan and America. Leadership and Organization Development Journal, 27 (4), 242-249.

Dewi, D.P.K.R, dan Merkusiwati, N.K.L.A. 2016. Komitmen Organisasi Sebagai Pemoderasi Pengaruh Pemahaman Good Governance dan Pengalaman Kerja pada Kualitas Audit. E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana, 11(1): 1-30.

(11)

Dewi, N.M.N.R., dan Wirasedana, I.W.P. 2015. Pengaruh Time Budget Pressure, LOC dan Task Complexity pada Dysfunctional Audit Behavior Akuntan Publik. E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana, 11(1): 1-14.

DeZoort, F.T., dan Lord, A. T. 1997. A Review and Systhesis of Pressure Effectst Research in Accounting. Journal of Accounting Literature, 16: 28-26.

Donnely, D.P., Jeffrey, J.Q., dan David, O. 2003. Auditor Acceptance of Dysfunctional Audit Behavior: An Explanatory Model Using Auditors’ Personal Characteristics. Journal of Behavioral Research in Accounting, 15: 87-107.

Ghosh, D. dan Crain, T.L. 1995. Ethical Standards and Perceived Probability on International Noncompliance: Experimental Investigation. Behavioral Research in Accounting, 14(5): 353-365.

Ghozali, I. 2013. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro

Hampson, S.E. dan Goldberg, L.R. 2006. A First Large Cohort Study of Personality Trait Stability over the 40Years between Elementary School and Midlife. Journal of Personality and Social Psychology 91 (4):763-79.

Harini, Dwi, Agus Wahyudin, dan Indah Anisykurhillah. 2010. Analiss Penerimaan Auditor atas Dysfungtional Audit Behaviour: Sebuah Pendekatan Karakteristik Personal Auditor. Proceeding. SNA XV Purwokerto.

Hayes, C.T., dan Weathington, B.L. 2007. Optimism, Stress, Life Satisfaction, and Job Burnout in Restaurant Managers. The Journal of Psychology, 141 (6): 565-579. Holmes, J. G. 2002. Interpersonal Expectations as the Building Blocks of Social Cognition:

an Interdependence Theory Perspective. Personal Relationships 9: 1–26.

Jaffar, Nahariah, Arfah Salleh dan Takiah Mohd Iskandar. 2011. Fraud Risk Assessment and Detection Fraud:The Moderating Effect of Personality. International Journal of Business and Management 6 (7): 40-50.

Jogiyanto. 2007. Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-Pengalaman. FE-UGM: BPFE

Respati, N. W. T. 2011. Pengaruh Locus of Control terhadap Hubungan Sikap Manajer, Norma-norma Subyektif, Kendali Perilaku Persepsian dan Intensi Manajer dalam Melakukan Kecurangan Penyajian Laporan Keuangan. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, 8(2): 123-140.

Robbins, S.P. dan Judge, T.A. 2008. Perilaku Organisasi. Jakarta: Salemba Empat. Rotter, J.B. 1966. Generalized Expectancies for Internal Versus External Control of Reinforcement. Psychological Monographs: General and Applied, 80(1): 1-28. Rustiarini, N.W. 2014. Sifat Kepribadian sebagai Pemoderasi Hubungan StresKerja dan

Perilaku Disfungsional Audit. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, 11(1): 1-19.

Saputra, K. A. K. (2014). Pengaruh Locus of Control terhadap Kinerja dan Kepuasan Kerja Internal Auditor dengan Kultur Lokal Tri Hita Karana sebagai Variabel Moderasi. Jurnal Akuntansi Multiparadigma, 3(1), 86-100.

(12)

Saputri, I.G.A.Y., dan Wirama, D.G. 2015. Pengaruh Sifat Machiavellian dan Tipe Kepribadian pada Perilaku Disfungsional Auditor. E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana, 13(2): 368-386.

Spector, P.G. 1982. Behavior in Organization as A Function of Employee’s Locus of Control. Psychological Bulletin, 91: 482-497.

Suartana, I.W. 2010. Akuntansi Keperilakuan, Teori dan Implementasi. Yogyakarta : CV Andi Offset. S

ugiyono. 2014. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta. Svanstrom, Tobias. 2015. Time Pressure, Training Activities and Dysfunctional Auditor Behaviour: Evidence from Small Audit Firms. International Journal of Auditing, 20(1): 42-51.

Wintari, N.W.W.I., Sukartha, I.M., dan Badera, I.D.N. 2015. Pengaruh Tekanan Anggaran Waktu, Locus of Control dan Komitmen Profesional pada Perilaku Penurunan Kualitas Audit. Jurnal Buletin Studi Ekonomi, 20(2): 138-149.

Wiriani, W., Piatrini, P.S., Ardana, K., dan Juliarsa., G. 2013. Efek Moderasi Locus Of Control pada Hubungan Pelatihan dan Kinerja pada Bank Perkreditan Rakyat di Kabupaten Badung. Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Bisnis, 8(2): 99-105.

Wiwekandari, N.M. 2015. Pengaruh Tekanan Anggaran Waktu dan Intervensi Manajemen Klien terhadap Indepensi Auditor serta Implikasinya terhadap Kualitas Audit. Skripsi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Udayana.

Referensi

Dokumen terkait

tipis mengerut disebabkan oleh berbagai hal antara lain blok parafin atau parafin yang memegang blok pada meja mikrotom masih panas, blok parafin atau parafin

▪ Menjamin perusahaan memiliki karyawan yang tepat untuk suatu jabatan/ pekerjaan. ▪ Memastikan keuntungan investasi SDM perusahaan. ▪ Mengevaluasi dalam mempekerjakan dan

Sasaran Merancang Galeri Kesenian sebagai Wadah atau Fasilitas untuk Anak Berkebutuhan Khusus supaya dapat mengekspresikan bakat yang sesuai dengan standar aksesibilitas

Dari perbandingan analisa biaya dan manfaat, didapatkan model penambahan Customer Service memiliki nilai analisis finansial yang tertinggi yaitu 4,835 bulan untuk Payback Period,

Hasil penelitian ini diharapkan memiliki manfaat secara teoritis, dapat memperkaya pengetahuan dan juga dapat memberikan pemahaman bagi peneliti selanjutnya terutama

Hasil pengamatan mandiri dari kegiatan penelitian pada aspek khusus pemetikan teh menunjukkan bahwa tinggi bidang petik, diameter bidang petik, tebal daun pemeliharaan, gilir

Penggunaan jenis pakan segar yang berbeda tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan benih ikan belanak (Mugil dussumierie).. 1) Students of the Faculty of

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 889/MENKES/PER/V/2011 tentang Registrasi, Izin Praktik dan Izin Kerja Tenaga Kefarmasian Terkait Pemberian Rekomendasi Organisasi Profesi