BAB V KESIMPULAN. Berdasarkan hasil inventarisasi naskah didapatkan bahwa naskah

Teks penuh

(1)

143 BAB V KESIMPULAN

Berdasarkan hasil inventarisasi naskah didapatkan bahwa naskah Kempalan Dongeng yang memuat teks Kyai Prelambang dengan bertuliskakan aksara Jawa tidak ditemukan di tempat lain selain di perpustakaan Puro Pakualaman. Naskah tersebut benomor kodek St. 35, tersimpan rapi dan masih lengkap halamannya, namun jilidan naskah sudah rusak dan terdapat beberapa lubang dimakan ngengat dan lubang bekas terbakar. Naskah terdiri atas 282 halaman memuat kumpulan enam dongeng yang ditulis dengan aksara Jawa dan menggunakan bahasa Jawa berbentuk dalam tembang macapat. Tembang dalam teks sesuai dengan kaidah susunan guru gatra, guru lagu, dan guru wilangan. Suntingan teks menghasilkan beberapa aparat kritik, namun tidak mempengaruhi susunan tembang. Kemudian dari tembang macapat diterjemahkan dan dirubah menjadi sebuah prosa.

Melalui analisis semiotika Riffaterre dengan empat langkah dalam memaknai sebuah karya sastra yakni pembacaan heuristik, pembacaan hermeneutik, pencarian matriks, model, dan varian, serta pencarian hipogram, ditemukan bahwa teks Kyai Prelambang memuat banyak pengajaran. Dimulai dari pembacaan heuristik dan hermeneutik teks yang menceritakan seorang ayah yang mempunyai dua putra dengan sifat yang berbeda. Kisah dua anak itu dimulai ketika mereka disuruh ayahnya merantau ke kota, kemudian mencari nafkah dan pasangan, kemudian mendapat pertolongan Tuhan, dan melakukan perbuatan baik hingga mendapatkan balasan atau imbalan dan membuat bangga ayahnya.

(2)

144

Teks Kyai Prêlambang terbagi atas empat pupuh yang masih saling berkaitan satu sama lain. Masing-masing pupuh, merupakan jalinan cerita yang berkesinambungan atau jika dalam alur. Secara keseluruhan, teks ini memberikan nilai-nilai berupa ajaran-ajaran, nasehat-nasehat tentang perbuatan baik dan buruk serta balasannya. Hal tersebut telah tampak pada judul teks ini. Kata ‘Kyai’ merupakan seorang guru dalam agama Islam yang mengajarkan tentang bagaimana semestinya perbuatan manusia dan kemurahan hati Tuhan kepada hambanya. Kata ‘Prelambang’ (perlambang) diartikan sebagai isyarat atau tanda-tanda tentang sesuatu yang gaib atau yang harus dihormati.

Bertolak dari hal tersebut dapat dinilai bahwa teks ini muncul, juga sebagai bahan ajaran. Adapun perincian ajaran-ajaran tersebut disisipkan ke dalam pupuh-pupuh di dalam teks. Keempat pupuh yang terdapat pada teks Kyai Prêlambang dalam Naskah Kempalan Dongeng ini adalah, Pangkur, Durma, Megatruh, dan Asmaradana. Keempat pupuh tersebut masing-masing memiliki makna yang saling berhubungan dengan cerita di dalam teks.

Pada pupuh pertama, Pangkur, memiliki sifat nafsu, keras, seperti kemarahan, perkelahian dan perang. Berhubungan dengan karakter pupuh, ketika Mas Bodho diperdaya-diusir, diamarahi, dipukul, difitnah oleh kakaknya, ia selalu pergi ke dalam gua dan berkeluh-kesah di dalam gua tersebut. Keluh-kesah yang dilontarkan oleh Mas Bodho dianggap sebagai doa, sehingga ia mendapat pertolongan Tuhan melalui malaikat Jibril. Pupuh Pangkur berisi ajaran-ajaran, tindakan yang buruk, dan pertolongan dari Tuhan kepada seorang hamba yang berdoa.

(3)

145

Pupuh dua, Durma, untuk melukiskan cerita-cerita keras (perkelahian, perang). Pupuh kedua masih berhubungan dengan pupuh yang pertama, namun, terdapat perubahan sikap dan perilaku oleh tokoh Bagus Wasis. Ia dan istrinya yang sewenang-wenang terhadap Bagus Bodho, akhirnya taubat karena terus dipukuli oleh tongkat sakti pemberian malaikat. Sebagai bentuk pertaubatannya, ia memberikan segala miliknya kepada adiknya, serta menerima permintaan adiknya untuk menyampaikan surat kepada raja, namun ia dipenjara. Hal itu merupakan bentuk hukuman (kekerasan) pada Bagus Wasis yang telah berbuat sewenang-wenang kepada adiknya.

Pupuh tiga, Megatruh, melukiskan perasaan kecewa atau kesedihan yg mendalam, tergambar pada saat Mas Bodho yang sedih mendengar kakaknya di penjara oleh Raja. Ia berdiam diri selama tujuh hari sebagai rasa duka. Kesedihan Bagus Bodho atas kakaknya, mendapat pertolongan Gusti Allah sehingga dapat menolong kakaknya dengan mengikuti sayembara Raja. Kedua anak Ki Prelambang kemudian hidup bahagia karena bisa menolong Raja dan memenangkan sayembara. Pupuh empat, Asmaradana, untuk mengungkapkan rasa sedih, prihatin, atau rasa cinta. Pada pupuh ini, Ki Prelambang telah berhasil mendidik kedua anaknya menjadi orang yang dihormati dan ia merasa sangat bangga. Ketika ia berkunjung ke keraton, ia diterima dengan baik oleh kedua anaknya. Selain itu, Ki Prelambang, juga memberikan petuah atau nasehat kepada kedua anaknya yang telah sukses mendapat jabatan di keraton.

Nama tokoh pada teks teks Kyai Prêlambang merupakan sebuah perumpamaan atau kiasan. Nama Bodho (bodoh), diartikan sebagai tidak mudah

(4)

146

tahu atau tidak memiliki pengetahuan (pendidikan, pengalaman). Dalam kepolosan dan ketidaktahuan Bagus Bodho, terdapat kelebihan-kelebihan yang dimilikinya berupa keberuntungan dengan mendapatkan pertolongan Gusti Allah melalui malaikat sehingga dapat berbuat kebajikan pada sesama manusia. Sebagai balasannya akan mendapat kedudukan yang tinggi. Hal ini juga menunjukan bahwa dengan belajar, berusaha, dan berdoa, nasib yang buruk akan berubah menjadi baik.

Sedangkan nama Wasis yang mempunyai arti pintar dan bisa, namun mempunyai sifat yang kurang baik, yaitu selalu mengambil hak adiknya yang bodoh dan mudah diperdaya. Karena perbuatannya itu dia mendapatkan balasan dari Tuhan. Hingga pada akhirnya dia bertaubat dan mengikuti apapun keinginan adiknya yang sebelunya selalu diperdaya. Karena kesadaraannya untuk berubah inilah, pada akhirnya ia juga mendapatkan kebahagiaan. Dengan demikian, jelas bahwa teks ini merupakan ajaran-ajaran-yang terdapat dalam agama Islam yang diberikan seorang Kyai kepada muridnya untuk mengamalkan segala kebaikan dan selalu berusaha. Teks ini juga mengajarkan bahwa manusia sebagai hamba Tuhan akan mendapatkan imbalan dari setiap perbuatannya.

Setelah melakukan pembacaan hermeneutik kemudian pencarian matriks dalam teks Kyai Prêlambang. Hasilnya, matriksnya adalah pendidikan dan pengajaran. Matriks tersebut ditransformasikan menjadi model perumpamaan yang berisi kebaikan, keburukan, usaha, dan imbalan atau balasan. Model keburukan ditunjukkan saat Bagus Wasis bertindak sewenang-wenang terhadap Bagus Bodho, adiknya. Model kebaikan ditunjukkan saat Mas Bodho memberi

(5)

147

kakaknya berupa kantong, angsa, dan tongkat. Kemudian, ia membantu kakaknya keluar dari penjara dan membantu Raja Bahdani untuk menghilangkan Raja Jin yang menganggu di dalam mimpinya. Kebaikan juga ditunjukkan Gusti Allah melalui malaikat Jibril untuk menolong Mas Bodho pada saat tertimpa kesusahan. Model imbalan ditunjukkan pada saat Bagus Bodho dan kakaknya mendapat imbalan jabatan dari Raja juga seorang putri untuk Bagus Bodho. Selain itu, Ki Prelambang mendapatkan tanah dari kedua anaknya yang sudah berhasil sehingga dapat membangun rumah dan mesjid.

Berdasarkan model, ditransformasikan lagi menjadi bentuk-bentuk varian. Varian merupakan aktualisasi dari matriks dan juga model. Varian dari teks Kyai Prêlambang adalah tindakan buruk, pertolongan Gusti Allah, balasan tindakan buruk, pertolongan manusia, usaha perlawanan, perbuatan baik, balasan perbuatan baik, dan bakti kepada orang tua. Langkah terakhir adalah mencari hipogram. Terdapat dua macam hipogram yaitu hipogram potensial dan hipogram aktual. Berdasar pencarian hipogram potensial, pertama teks Kyai Prelambang berhubungan dengan kondisi sosial abad 18. Kedua, berhubungan dengan Islam: kekuasaan dari Allah dan ajaran dari kyai. Ketiga, berhubungan dengan kekuasaan raja di Yogyakarta dan Belanda. Hipogram aktual yang pertama yaitu naskah sebelum teks Kyai Prelambang yang masih dalam satu naskah Kempalan Dongeng: Kisah Raden Mukjijat, Istrijat, dan Keramat. Kedua, Sastra Gending karya Sultan Agung. Hasil pembacaan dan pencarian diatas dapat dibuat menjadi sebuah bagan analisis dibawah ini.

(6)

148

Bagan analisis semiotika pada teks Kyai Prelambang

Heuristik Hermeneutik Matriks

Model Perumpamaan (kebaikan,

keburukan, usaha, dan balasan)

 Tindakan buruk

 Pertolongan Gusti Allah  Balasan tindakan buruk  Pertolongan manusia  Perbuatan baik

 Balasan perbuatan baik  Usaha perlawanan  Bakti kepada orang tua

Varian

Hipogram

Aktual Potensial

Pendidikan

TEKS KYAI PRELAMBANG

 Berhubungan dengan kondisi sosial abad 18.  Berhubungan dengan

Islam: kekuasaan dari Allah dan ajaran dari kyai.

 Berhubungan dengan kekuasaan raja di

Yogyakarta dan Belanda.  Naskah sebelum Kyai

Prelambang yang masih dalam satu naskah Kempalan Dongeng: Kisah Raden Mukjijat, Istrijat, dan Keramat  Sastra Gending karya

(7)

149 Keterangan tanda dalam bagan:

Tanda (warna hitam) = Tahap pembacaan Tanda (warna hijau) = Tahap pencarian Tanda (warna merah) = Hasil/temuan

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :