• Tidak ada hasil yang ditemukan

SISTEM FONOLOGI BAHASA TORAJA DIALEK MAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "SISTEM FONOLOGI BAHASA TORAJA DIALEK MAK"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

SISTEM FONOLOGI BAHASA TORAJA DIALEK MAKALE

Sadam Husein

1

, Abdul Wahid

2

Department of Linguistics

University of Indonesia

Depok, 16424, Indonesia

[email protected]

1

, [email protected]

2

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sistem fonologi bahasa Toraja dialek Makale. Penelitian ini adalah

penelitian kualitatif yang menggunakan data lisan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simak

dan metode cakap. Teknik yang dipakai dalam pengumpulan data adalah teknik sadap, teknik pancing, dan teknik catat.

Metode yang digunakan dalam menganalisis data adalah metode padan dengan teknik pilah unsur penentu dengan daya

pilih sebagai pembeda organ wicara. Daftar pertanyaan yang digunakan terdiri atas 215 kosakata yang kebanyakan

diambil dari 200 kosakata dasar Swadesh. Informan penelitian terdiri atas satu orang yang merupakan penutur asli

bahasa Toraja dialek Makale. Hasil penelitian ini menemukan bahwa bahasa Toraja dialek Makale memiliki 12 bunyi

vokalik yaitu [a], [a:], [ε], [i], [o], [u], [i:], [e], [ε:], [ᴐ], [e:], [u:]; 27 buah bunyi konsonantik yakni [b], [c], [d], [ɡ], [h],

[ɟ], [k:], [l:], [m:], [n:], [r:], [η:], [p:], [r], [s], [s:], [t], [t:], [k],[l], [m], [n], [η], [p], [w], [j], [ʔ]; dan 6 buah diftong yaitu

[aε], [au], [ᴐa], [ae], [ia], [ua].

Bahasa Toraja dialek Makale memiliki 5 fonem vokalik yaitu /a/, /e/, /i/, /o/, /u/ dan 14

fonem konsonantik yaitu /b/, /d/,

/ɡ/, /ɟ/, /k/, /l/, /m/, /n/, /η/, /p/, /r/, /s/, /t/, /ʔ/. Silabe bahasa Toraja dialek Makale

terdiri atas empat yaitu V, VK, KV, dan KVK. Koda yang berupa bunyi nasal dalam bahasa Toraja dialek Makale

memiliki kecendrungan diikuti oleh konsonan homorgan yakni [mb], [mp], [nd], [ηk], dan [nt].

Kata kunci

: sistem fonologi, bahasa Toraja, dialek Makale

PENDAHULUAN

Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan antara satu individu dengan individu yang lainnya. Di dalam

berbahasa, tujuan utama yang hendak dicapai ialah keberhasilan penyampaian maksud dan tujuan penutur kepada

pendengar. Elkins (1974:2) mendefinisikan bahasa sebagai berikut: “

Language may be defined as a system of vocal

symbols that provides human beings with the means to communicate.”

Ini berarti bahwa bahasa merupakan sistem

simbol vokal yang digunakan untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Ada beberapa hal yang harus kita

perhatikan dalam berbahasa, salah satunya adalah bunyi bahasa atau dalam istilah linguistik disebut fonologi.

Bahasa mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Bahasa merupakan sistem

lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerjasama, berintekrasi, dan

mengidentifikasikan diri (KBBI, 2008:116). Semua kegiatan manusia selalu dilengkapi dengan bahasa. Bahasa pertama

yang digunakan dalam melakukan komunikasi adalah bahasa ibu atau biasa disebut dengan bahasa daerah. Salah satu

bahasa daerah yang digunakan untuk berkomunikasi adalah bahasa Torajayang dipakai sebagai bahasa pertama oleh

penutur asli dalam melakukan komunikasi di wilayah Tana Toraja.

Bahasa Toraja adalah bahasa yang digunakan oleh suku Toraja yang tersebar di Kabupaten Tana Toraja,

Kabupaten Toraja Utara, dan Kabupaten Mamasa.Toraja memiliki enam ragam bahasayang terdiri atas beberapa dialek,

yakni:

-

Kalumpang, terdiri atas 4 dialek: Karataun, Mablei, Mangki, dan Bone Hau.

-

Mamasa, terdiri atas 7 dialek: Mamasa Utara, Mamasa Tengah, Pattae', Mamasa Selatan, Patta' Binuang,

Binuang, dan Tae'.

-

Ta'e rob, terdiri atas 4 dialek: Rongkong, Luwu Timur Laut, Luwu Selatan, dan Bua.

-

Talondo', hanya 1 dialek yaitu Talondo’.

-

Toala', terdiri atas 2 dialek: Toala' dan Palili'.

-

Toraja-Sa'dan, terdiri atas 4 dialek: Makale, Rantepao, Toraja Barat, dan Mappa-Pana.

Sumber: www.tanatorajakab.go.id

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, penulis merasa perlu meneliti sistem fonologi bahasa Toraja. Dari

berbagai dialek dalam bahasa Toraja, dialek Makale digunakan sebagai objek penelitian ini karena belum pernah ada

penelitian sebelumnya tentang sistem fonologi bahasa tersebut. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi

generasi muda Makale khususnya, para peneliti dan ahli bahasa. Di samping itu, hasil penelitian ini dapat digunakan

sebagai perbandingan dengan bahasa daerah-daerah lain. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan

sistem fonologi bahasa Toraja dialek Makale.

TEORI & METODOLOGI

(2)

adalah bunyi bahasa yang arus udaranya tidak mengalami rintangan dan kualitasnya ditentukan oleh tiga faktor: tinggi

rendahnya posisi lidah, bagian lidah yang dinaikkan, dan bentuk bibir pada pembentukan vokal itu. Menurut Ladefoged

dan Johnson (2011:92), diftong merupakan pergerakan atau perpindahan dari satu vokal ke vokal lain. Muslich (2008:

48) menambahkan bunyi konsonantik adalah bunyi yang dihasilkan dengan melibatkan penyempitan atau penutupan

pada daerah artikulasi.

Dua buah bunyi baru dikatakan memiliki perbedaan fonologis jika dua bunyi tersebut mampu membedakan

makna dari dua buah kata. Dua buah kata yang berbeda maknanya dan memilki perbedaan minimal dalam bunyinya

disebut pasangan minimal sehingga untuk mengidentifikasi apakah sebuah bunyi juga merupakan sebuah fonem atau

tidak perlu ditemukan pasangan minimalnya. Namun, jika tidak ditemukan pasangan minimal di antara dua buah bunyi

tersebut, maka bunyi-bunyi itu tetap menjadi bunyi, tetapi bukan fonem (Kentjono, 1985: 17).

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian ini menjelaskan sistem fonologi dalam bahasa Toraja.

Penelitian ini menggunakan data lisan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simak dan metode

cakap (Sudaryanto, 1993:133). Metode simak digunakan untuk menyimak hasil tutur informan. Metode cakap

merupakan metode yang dilakukan dengan percakapan dan kontak langsung antara peneliti dan penutur. Sesuai dengan

jenis data yang digunakan, teknik yang dipakai dalam pengumpulan data adalah teknik sadap, teknik pancing, dan

teknik catat (Sudaryanto, 1993:137-139). Kedua metode ini mengharuskan peneliti hadir pada saat wawancara.

Proses pengumpulan data diawali dengan pencarian informan yang berasal dari Toraja yang kesehariannya

menggunakan bahasa Toraja. Setelah mendapatkan satu orang informan, informan tersebut diwawancara dengan

menanyakan identitas dan kegiatan sehari-harinya. Lalu, informan diminta untuk menyebutkan kata-kata dasar Swadesh

dalam bahasa Toraja dengan cara memperlihatkan gambar atau memperagakan makna kata-kata tersebut.Ketika

informan mengucapkan kata-kata tersebut dalam bahasa Toraja, peneliti melakukan perekaman. Peneliti juga ikut

mengulangi kata yang diujarkan oleh informan untuk memastikan kebenaran bunyi yang diujarkan sambil dilakukan

perekaman.

Metode yang digunakan dalam menganalisis data adalah metode padan dengan teknik pilah unsur penentu

dengan daya pilih sebagai pembeda organ wicara (Sudaryanto:1993). Teknik ini mengharuskan peneliti memahami

betul teori artikulatoris untuk membedakan jenis-jenis bunyi yang dituturkan oleh informan. Data yang sudah diperoleh

kemudian disesuaikan dengan bunyi-bunyi bahasa dan dibuat transkripsi fonetisnya. Daya pilih yang akan digunakan

oleh peneliti akan sangat membantu untuk membedakan bunyi-bunyi tersebut, setelah bunyi-bunyi tersebut

diidentifikasikan.

Setelah data didapatkan, peneliti melakukan analisis deskripsi bahasa berupa bunyi vokalik, bunyi

konsonantik, distribusi bunyi bahasa, fonem vokalik, fonem konsonantik, jenis silabe, dan fonotaktik. Kata-kata

Swadesh dalam bahasa Toraja dialek Makale dikelompok-kan jenis bunyinya menjadi dua, bunyi vokalik dan

konsonantik. Lalu, bunyi vokalik dan konsonantik yang didapatkan didistribusikan bunyinya berdasarkan posisi awal,

tengah, atau akhir dari silabe tiap kata. Dari kata-kata tersebut dapat ditentukan jenis silabenya. Dari silabe-silabe

tersebut, dianalisis jenis fonemnya yang berupa fonem vokalik dan konsonantik. Setelah itu, dilakukan analisa

fonotaktik.

Daftar pertanyaan (terlampir) yang digunakan terdiri atas 215 kosakata yang kebanyakan diambil dari 200 kata

dasar Swadesh dalam Astar (2002). Kosakata ini digunakan dengan pertimbangan bahwa kosakata dasar tersebut

terdapat di semua bahasa dan yang paling mungkin berubah. Informan penelitian ini terdiri atas satu orang yang

merupakan penutur asli bahasa Toraja dialek Makale yang berdasarkan pada criteria informan menurut Ayatrohaedi

(2002).

TEMUAN & PEMBAHASAN

Berdasarkan transkripsi 215 kosakata Swadesh ke dalam bahasa Toraja, diperoleh sebanyak 12 bunyi vokalik dan 6

diftong. Bunyi vokalik tersebut kemudian diklasifikasikan berdasarkan klasifikasi bunyi vokalik yang dikemukakan

oleh Muslich (2009:56-58). Pertama, pengklasifikasian bunyi vokalik berdasarkan tinggi rendahnya lidah yang terdiri

atas bunyi tinggi, bunyi agak tinggi, bunyi tengah, bunyi agak rendah dan bunyi rendah. Kedua, pengklasifikasian

berdasarkan maju mundurnya lidah yang terdiri atas bunyi depan, bunyi pusat dan bunyi belakang. Ketiga,

pengklasifikasian berdasarkan bentuk bibir yang terdiri atas bunyi bulat dan bunyi tidak bulat.

Bunyi vokalik bahasa Toraja dialek Makale berdasarkan klasifikasi bunyi vokalik oleh Muslich adalah [a], [a:],

[ε], [i], [o], [u], [i:], [e], [ε:], [ᴐ], [e:], [u:]. Berdasarkan trankripsi 215 kosakata swadesh ke dalam bahasa Toraja,

diperoleh sebanyak 27 bunyi konsonantik. Bunyi konsonantik tersebut kemudian diklasifikasikan berdasarkan peta

bunyi konsonantik menurut Muslich adalah [b], [c], [d], [ɡ], [h], [ɟ], [k:], [l:], [m:], [n:], [r:], [η:], [p:], [r], [s], [s:], [t],

[t:], [k],[l], [m], [n], [η], [p], [w], [j], [ʔ]. Bahasa Toraja dialek Makale juga memiliki 6 buah diftong, yaitu [aε], [au],

[ᴐa], [ae], [ia], [ua].

(3)

fonem karena berkontras dengan bunyi [i] dalam pasangan minimal

[suso] yang berarti ‘siput’ dan [susi] yang berarti

‘serupa’. Dengan demikian, bunyi [o] pada [suso] memiliki arti yang berbeda dengan bunyi [i] pada [susi]. Oleh karena

itu, dalam bahasa Toraja dialek Makale terdapat fonem /o/.

Berdasarkan data yang didapatkan, bahasa Toraja dialek Makale memiliki 14 fonem konsonantik, yakni /b/,

/d/,

/ɡ/, /ɟ/, /k/, /l/, /m/, /n/, /η/, /p/, /r/, /s/, /t/, /ʔ/.

Bunyi [b] dan [k] merupakan dua buah fonem yang berbeda karena

berkontras dalam pasangan minimal

[abu] yang berarti ‘abu dan [aku] yang berarti ‘saya’. Dengan demikian, bunyi [b]

pada [abu] memiliki arti yang berbeda dengan bunyi [k] pada [aku]. Oleh karena itu, dalam bahasa Toraja dialek

Makale terdapat fonem

/b/ dan /k/.

Bunyi [d] dan [η] merupakan dua fonem yang berbeda karena berkontras dalam

pasangan minimal [buda] yang berarti ‘banyak’ dan [buηa] yang berarti bunga. Dengan demikian, bunyi [d] pada [buda]

memiliki arti yang berbeda dengan bunyi [η] pada [buηa]. Oleh karena itu, dalam bahasa Toraja dialek Makale terdapat

fonem

/d/ dan

/η/.

Bunyi [t] merupakan sebuah fonem karena berkontras dengan bunyi [d] dalam pasangan minimal

[taun] yang berarti ‘tahun’ dan [daun] yang berarti ‘daun’. Dengan demikian, bunyi [t] pada [taun] memiliki arti yang

berbeda dengan bunyi [d] pada [daun]. Oleh karena itu, dalam bahasa Toraja dialek Makale terdapat fonem /t/.

Bunyi [l]

merupakan sebuah fonem karena berkontras dengan bunyi [k] dalam pasangan minimal

[bulu] yang berarti ‘bulu’ dan

[buku] yang berarti ‘tulang’. Dengan demikian, bunyi [l] pada [bulu] memiliki arti yang berbeda dengan bunyi [k] pada

[buku]. Oleh karena itu, dalam bahasa Toraja dialek Makale terdapat fonem /l/.

Bunyi [n] merupakan sebuah fonem

karena berkontras dengan bunyi [t] dalam pasangan minimal

[mεna:] yang berarti ‘napas’ dan [mεta:] yang berarti

‘tertawa’. Dengan demikian, bunyi [n] pada [mεna:] memiliki arti yang berbeda dengan bunyi [t] pada [mεta:]. Oleh

karena itu, dalam bahasa Toraja dialek Makale terdapat fonem /n/.

Bunyi [r] dan [s] merupakan dua buah fonem yang

berbeda karena berkontras dalam pasangan minimal

[rari] yang berarti ‘perang’ dan [sari] yang berarti ‘sari’. Dengan

demikian, bunyi [r] pada [rari] memiliki arti yang berbeda dengan bunyi [s] pada [sari]. Oleh karena itu, dalam bahasa

Toraja dialek Makale terdapat fonem

/r/ dan /s/. Bunyi [m] merupakan sebuah fonem karena berkontras dengan bunyi

[l] dalam pasangan minimal

[sama] yang berarti ‘sama’ dan [sala] yang berarti ‘salah’. Dengan demikian, bunyi [m]

pada [sama] memiliki arti yang berbeda dengan bunyi [l] pada [sala]. Oleh karena itu, dalam bahasa Toraja dialek

Makale terdapat fonem /m/.

Bunyi [p] merupakan sebuah fonem karena berkontras dengan bunyi [l] dalam pasangan

minimal

[salu] yang berarti ‘sungai’ dan [sapu] yang berarti ‘sapu’. Dengan demikian, bunyi [p] pada [sapu] memiliki

arti yang berbeda dengan bunyi [l] pada [salu]. Oleh karena itu, dalam bahasa Toraja dialek Makale terdapat fonem /p/.

Bunyi [

ʔ

] merupakan sebuah fonem karena berkontras dengan bunyi [

η

] dalam pasangan minimal

[ulaη] yang berarti

‘tali’ dan [ulaʔ] yang berarti ‘ular’. Dengan demikian, bunyi

[

ʔ

]

pada [ulaʔ] memiliki arti yang berbeda dengan bunyi

[

η

] pada

[ulaη]. Oleh karena itu, dalam bahasa Toraja dialek Makale terdapat fonem /ʔ/.

Bunyi [

ɟ

] merupakan sebuah

fonem karena berkontras dengan bunyi [

t

] dalam pasangan minimal

[baɟu] yang berarti ‘baju’ dan [batu] yang berarti

batu. Dengan demikian, bunyi

[

ɟ

] pada

[baɟu] memiliki arti yang berbeda dengan bunyi [t] pada [batu]. Oleh karena itu,

dalam bahasa Toraja dialek Makale terdapat fonem /ɟ/.

Bunyi [

ɡ

] merupakan sebuah fonem karena berkontras dengan

bunyi [l] dalam pasangan minimal

[baɡa] yang berarti ‘bodoh’dan [bala] yang berarti ‘kolong’. Dengan demikian, bunyi

[

ɡ

] pada

[baɡa] memiliki arti yang berbeda dengan bunyi [l] pada [bala]. Oleh karena itu, dalam bahasa Toraja Dialek

Makale terdapat fonem /ɡ/.

Dari 27 bunyi konsonantik dalam bahasa Toraja dialek Makale, ada 13 bunyi konsonantik yang tidak termasuk

fonem, yakni bunyi konsonan kembar (

geminate)

[k:], [l:], [m:], [n:], [η:], [p:], [r:], [s:] dan [t:], plosive palatal tak

bersuara [c], semivokal [w] dan [j], dan fricative glottal [h].

Tidak tertutup kemungkinan akan ditemukan fonem

konsonantik lainnya.

Bahasa Toraja dialek Makale memiliki 4 jenis silabe, yakni V, VK, KV, KVK. Jenis silabe V merupakan

silabe yang berdiri sendiri dan terletak pada silabe pertama dari sebuah kata. Dari data yang diperoleh, bahasa Toraja

dialek Makale mempunyai 14 bunyi vokalik. Namun, hanya 7 bunyi yang dapat menempati silabe V, yakni [a], [a:], [ε],

[i], [i:], [ᴐ], [u]. Hal ini menunjukkan bahwa bunyi vokalik yang dapat berdiri sendiri membentuk silabe V adalah vokal

rendah-tengah [a] dan [a:], vokal sedang-depan [ε], vokal tinggi-depan [i] dan [i:], vokal sedang-belakang [ᴐ], dan vokal

tinggi-belakang [u].

Jenis silabe VK merupakan silabe yang diawali dengan bunyi vokalik dan diikuti bunyi konsonantik. Dari data

yang diperoleh, hanya ada 4 bunyi vokalik dalam bahasa Toraja dialek Makale yang dapat menempati posisi V pada

silabe VK, yakni [a], [ε], [i], [u]. Hal ini menunjukkan bahwa bunyi vokalik yang dapat menempati posisi V pada silabe

VK adalah vokal rendah-tengah [a], vokal sedang-depan [ε], vokal tinggi-depan [i], dan vokal tinggi-belakang [u].

Jenis silabe KV merupakan kebalikan dari silabe VK, diawali bunyi konsonantik lalu diikuti oleh bunyi

vokalik. Silabe KV termasuk jenis silabe terbuka. Dalam bahasa Toraja dialek Makale berdasarkan pemerolehan data

terdapat 27 bunyi konsonantik. Namun, tidak semua bunyi konsonantik dapat menempati posisi K pada silabe KV.

Bunyi konsonantik yang dapat menempati posisi tersebut sebanyak 21 bunyi, yakni [b], [c], [d], [ɡ], [ɟ], [k], [k:], [l],

[l:], [m], [n], [n:], [η], [η:], [p], [r], [s], [s:], [t], [w], [j].

(4)

Dari 4 jenis silabe yang dimiliki oleh bahasa Toraja dialek Makale, hal ini menunjukkan bahwa silabe dalam

bahasa tersebut masih sederhana.Menurut Blevins(dalam Gussenhoven & Jacobs, 1998:27), struktur silabe yang paling

sederhana dapat dilihat pada bahasa yang hanya memiliki satu vokal pada posisi

peak

‘vokal dalam silabe’dan dapat

memiliki maksimal satu konsonan pada posisi

onset

‘konsonan di depan silabe’

.

Bahasa Toraja dialek Makale memiliki rangkaian konsonan homorgan, konsonan yang berasal dari satu daerah

artikulasi seperti berikut.

-

Rangkaian bilabial nasal – bilabial plosive tak bersuara ([mp])

Koda yang berupa bunyi [m] dalam bahasa Toraja dialek Makale cenderung diikuti oleh onset [p]. Rangkaian

bilabial nasal-bilabial plosive tak bersuara ([mp]) terdapat dua buah dalam data bahasa Toraja yang diteliti.

-

Rangkaian bilabial nasal – bilabial plosive bersuara ([mb])

Koda yang berupa bunyi [m] dalam bahasa Toraja cenderung diikuti oleh onset [b]. Rangkaian bilabial

nasal-bilabial plosive bersuara ([mb]) terdapat delapan buah dalam data bahasa Toraja yang diteliti.

-

Rangkaian alveolar nasal – alveolar plosive bersuara ([nd])

Koda yang berupa bunyi [n] dalam bahasa Toraja dialek Makale cenderung diikuti oleh onset [d]. Rangkaian

alveolar nasal-alveolar plosive bersuara ([nd]) terdapat 11 buah dalam data bahasa Toraja yang diteliti.

-

Rangkaian velar nasal – velar plosive tak bersuara ([ηk])

Koda yang berupa bunyi [η] dalam bahasa Toraja cenderung diikuti oleh onset [k]. Rangkaian velar nasal-velar

plosive tak bersuara ([ηk]) terdapat tiga buah dalam data bahasa Toraja yang diteliti.

-

Rangkaian alveolar nasal - alveolar plosive tak bersuara ([nt])

Koda yang berupa bunyi [n] dalam bahasa Toraja dialek Makale cenderung diikuti oleh onset [t]. Rangkaian

alveolar nasal-alveolar plosive tak bersuara ([nt]) terdapat delapan buah dalam data bahasa Toraja yang diteliti.

Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa koda yang berupa bunyi nasal dalam bahasa Toraja dialek

Makale memiliki kecendrungan diikuti oleh konsonan homorgan. Rangkaian konsonan homorgan ini cukup produktif

dalam bahasa Toraja dialek Makale karena ditemukan 32 buah.

KESIMPULAN & SARAN

Berdasarkan rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu bagaimana sistem fonologi bunyi bahasa Toraja dialek

Makale, kesimpulan penelitian ini adalah bahasa Toraja dialek Makale memiliki 12 bunyi vokalik, yaitu [a], [a:], [ε], [i],

[o], [u], [i:], [e], [ε:], [ᴐ], [e:], [u:]; 27 buah bunyi konsonantik, yakni [b], [c], [d], [ɡ], [h], [ɟ], [k:], [l:], [m:], [n:], [r:],

[η:], [p:], [r], [s], [s:], [t], [t:], [k],[l], [m], [n], [η], [p], [w], [j], [ʔ]; dan 6 buah diftong, yaitu [aε], [au], [ᴐa], [ae], [ia],

[ua].

Bunyi vokalik yang dapat menempati semua posisi dalam silabe adalah vokal rendah-tengah [a] dan [a:], vokal

sedang-depan [ε] dan sedang-belakang [o], vokal tinggi-depan [i] dan tinggi-belakang [u]. Lalu, bunyi vokalik yang

hanya dapat menempati posisi awal dan akhir dalam silabe adalah vokal tinggi-depan [i:]. Kemudian, bunyi vokalik

yang hanya dapat menempati posisi tengah dan akhir dalam silabe adalah vokal sedang-tengah [e], sedang-depan [ε:],

dan sedang-belakang [ᴐ]. Bunyi vokalik yang hanya dapat menempati posisi akhir saja dalam silabe adalah vokal

sedang-tengah [e:] dan vokal tinggi-belakang [u:].

Bunyi konsonantik yang dapat menempati posisi awal saja dalam silabe adalah konsonan plosive bersuara [b],

[d], [ɡ] dan [ɟ], konsonan plosive tak bersuara [c], [k:],[p:],[t] dan [t:], fricative [h],[s] dan [s:], konsonan nasal [m:], [n:]

dan [η:], konsonan getar [r], dan konsonan lateral [l:]. Bunyi konsonantik yang hanya dapat menempati posisi awal dan

akhir dalam silabe adalah konsonan plosive tak bersuara [k] dan [p], konsonan nasal [m], [n] dan [η], dan semivokal [w]

dan [j]. Bunyi konsonantik yang hanya dapat menempati posisi akhir saja dalam silabe adalah konsonan plosive glottal

[ʔ]. Tidak ada bunyi konsonantik yang dapat menempati posisi tengah dalam silabe.

Bunyi diftong yang hanya dapat menempati posisi tengah saja dalam silabe adalah diftong naik (

raising

diphthong)

[aε] dan [au], dan diftong turun (

falling diphthong)

[ᴐa]. Lalu, Bunyi diftong yang hanya dapat menempati

posisi tengah dan akhir dalam silabe adalah diftong naik (

raising diphthong)

[ae], dan diftong turun (

falling diphthong)

[ia] dan [ua].

Bahasa Toraja dialek Makale memiliki 5 fonem vokalik, yakni /a/, /e/, /i/, /o/, /u/ dan 14 fonem konsonantik,

yaitu /b/, /d/,

/ɡ/, /ɟ/, /k/, /l/, /m/, /n/, /η/, /p/, /r/, /s/, /t/, /ʔ/.Silabe bahasa Toraja dialek Makaleyang ditemukan dalam

penelitian ini masih sederhana karena hanya memiliki 4 jenis silabe, yakni V, VK, KV, KVK.Koda yang berupa bunyi

nasal dalam bahasa Toraja dialek Makale memiliki kecendrungan diikuti oleh konsonan homorgan, yakni [mb], [mp],

[nd], [ηk], dan [nt].

Penelitian ini belum begitu sempurna. Hal ini disebabkan karena terbatasnya waktu bagi peneliti untuk

melakukan penelitian sistem fonologi bahasa Toraja dialek Makale. Oleh karena itu, dirasa perlu untuk melakukan

penelitian lanjutan guna melengkapi hasil penelitian yang sudah ada sehingga penelitian tentang sistem fonologi bahasa

Toraja dialek Makale ini bisa lengkap dan memberikan manfaat yang lebih banyak untuk penelitian-penelitian lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

(5)

Ayatrohaedi. 2002.

Pedoman Penelitian Dialektologi

. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa,

Kemendikbud.

Ayub, Asni. Dkk. 1993.

Tata Bahasa Minangkabau.

Jakarta: Pusat Pembinaaan dan Pengembangan Bahasa.

Elkins, W. R. 1974.

An Introduction to Linguistics Concepts and System.

Macmillan.

Gussenhoven, Carlos &Haike Jacobs. 1998.

Understanding Phonology

. New York: Oxford University Press.

Ladefoged, Peter & KeithJohnson. 2011.

A Course in Phonetics

(6th ed.). Boston: Wadsworth.

Muslich, Masnur. 2008.

Fonologi Bahasa Indonesia.

Jakarta: Bumi Aksara.

Sudaryanto. 1993.

Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa

. Yogyakarta: Duta WacanaUniversity Press.

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 2008.

Kamus Besar Bahasa Indonesia

. Jakarta:

Balai Pustaka.

RIWAYAT HIDUP

Nama

:

Sadam Husein

Institusi

:

Universitas Indonesia

Pendidikan

:

S2 Ilmu Linguistik

Minat Penelitian

:

Fonologi

Nama

:

Abdul Wahid Kaimuddin

Institusi

:

Universitas Indonesia

Pendidikan

:

S2 Ilmu Linguistik

Referensi

Dokumen terkait

1. Bunyi-bunyi bahasa yang secara fonetis mirip, harus digolongkan ke dalam kelas- kelas bunyi atau fonem-fonem yang berbeda, apabila terdapat pertentangan di dalam

Variasi dialek bahasa Bugis yang muncul di dua daerah pengamatan mengalami perbedaan fonologis yang terdiri dari proses perubahan fonem vokal, perubahan vonem konsonan, dan

Submedan makna aktivitas tangan untuk “menerima” dalam bahasa Sasak dialek ngeno-ngene di Desa Labuhan Haji hanya memiliki satu leksem saja, yakni terima’

Gejala netralisasi pada bunyi vokal atas-belakang-bulat /u/ menjadi vokal sedang-belakang-bulat /o/ dan Gejala paragoge (penambahan fonem di akhir kata) dimana

Seperti sudah dibuktikan pada bagian sebelumnya, bahasa Meher memiliki lima buah fonem vokal. Kelima buah fonem vokal dalam bahasa Meher berdistribusi lengkap dalam

Hal-hal yang menjadi pertimbangan peneliti dalam penelitian relasi makna adjektiva dalam bahasa Melayu dialek Pontianak yaitu: (1) Khususnya tentang adjektiva atau

Dalam bahasa Mandar dialek Balanipa, deiksis persona antara lain: yau, u, itaq, iqo, iqo mieq, ia, dan seqia, deiksis tempat yakni dilaiq, dini, deiksis waktu yakni dionging, deiksis

Tabel 12 Distribusi Fonem /d/ dalam Bahasa Meher No Posisi Contoh Arti 1 Awal /dopon/ /dari/ /darian/ /dodoir/ /dulu/ /dakor/ ibu jari jala besar jala kecil kipas anglo