• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH KARYA TULIS Analisis Kegiatan Op (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH KARYA TULIS Analisis Kegiatan Op (1)"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

POLITEKNIK KEUANGAN NEGARA STAN

TANGERANG SELATAN

MAKALAH KARYA TULIS

“ANALISIS KEGIATAN OPTIMALISASI PENDAPATAN ASLI

DAERAH KABUPATEN BLORA

Oleh :

Wahyu Adi Nugroho NPM : 143060020690

Mahasiswa Program Diploma III Keuangan Spesialisasi Akuntansi

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Hukum Keuanagan Negara

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidyah-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah tentang “Analisis Kegiatan Optimalisasi Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Blora” ini sebatas pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki. Penulis juga berterima kasih kepada Bapak A.Y Suryanajaya selaku Dosen maa kuliah Hukum Keuangan Negara yang telah memberikan tugas ini kepada penulis.

Penulis berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan bagi siapapun yang membacanya. Penulis juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam tugas ini terdapat kekurangan-kekurangan dan masih jauh dari apa yang diharapkan. Untuk itu, penulis berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan di masa yang akan datang.

Akhir kata, semoga makalah ini dapat dipahami dan bermanfaat bagi penulis, pembaca, dan seluruh kalangan masyarakat.

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...i Tangerang Selatan, 31 Juli 2016

(3)

KATA PENGANTAR ii

DAFTAR ISI... iii

BAB I PENDAHULUAN 1

A. Latar Belakang 1

B. Tujuan Penulisan 3

C. Ruang Lingkup 3

BAB II LANDASAN TEORI DAN PEMBAHASAN 4

A. Landasan Teori 4 B. Pembahasan 10

BAB III PENUTUP 14

A. Kesimpulan 14 B. Saran 15

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Undang-undang RI No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan daerah yang mengatur tentang otonomi daerah menyebutkan bahwa pengembangan otonomi pada daerah diselenggarakan dengan memperhatikan prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, pemerataan dan keadilan, serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah. Pemerintah daerah dapat mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan, diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan, pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat, serta peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan dan kekhususan suatu daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Berdasar pada pada Pasal 157 UU No.32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, sumber pendapatan daerah terdiri dari pendapatan asli daerah (hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan), dana perimbangan dan lain-lain pendapatan daerah yang sah. Pendapatan daerah merupakan salah satu ítem dalam fungsi manajemen pembangunan terutama pada penganggaran kegiatan dan program pembangunan suatu daerah.

(5)

Blok Cepu. Pada kenyataannya Blok Cepu adalah wilayah kontrak minyak dan gas bumi yang meliputi wilayah 3 kabupaten yaitu Kabupaten Blora (Jawa tengah) dengan Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Tuban (Jawa timur).

Data Blora Dalam Angka 2012 menunjukkan bahwa kondisi pendapatan daerah Kabupaten Blora pada 2011, mengalami kenaikan dibanding tahun sebelumnya. Jika pada 2010 total pendapatan sejumlah 809 milyar, pada 2011 meningkat menjadi 1 trilyun. Pendapatan tersebut berasal dari PAD sejumlah 67 milyar, dana perimbangan 712.3 milyar dan dari lain pendapatan yang sah sebesar 228.3 milyar. Pada 2010 PAD tertinggi berasal dari retribusi daerah sebesar 23.9 milyar, maka pada tahun 2011 PAD tertinggi berasal dari lain-lain PAD yang sah yaitu sejumlah 41.2 milyar. Sedangkan pendapatan darah yang berasal dari dana perimbangan terbesar berasal dari Dana Alokasi Umum sebesar 547.1 milyar. Oleh karena itu, untuk lebih meningkatkan dan mengoptimalkan pendapatan maka perlu strategi dalam perencanaan dan penganggaran keuangan daerah agar selaras dengan rencana pembangunan dan pengembangan Kabupaten Blora. Meskipun, data PAD Kabupaten Blora dari komponen pajak dan retribusi daerah tiap tahun mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya, perlu dikaji apakah kenaikan realisasi tersebut sudah sesuai dengan besarnya potensi PAD yang ada di Kabupaten Blora. Mengingat PAD merupakan komponen penting suatu daerah untuk membiayai belanja suatu daerah. Oleh karena itu perlu dilakukan suatu kajian mengenai berapa potensi PAD yang dimiliki oleh Kabupaten Blora, dimana diharapkan dengan kajian ini bisa menemukan dan mengenali sumber-sumber pajak dan retribusi daerah yang memiliki potensi sangat besar untuk meningkatkan besarnya PAD Kabupaten Blora.

B. Tujuan Penulisan

(6)

1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Hukum Keuangan Negara Diploma III Jurusan Akuntansi.

2. Mengidentifikasi sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD)

3. Menganalisis potensi pajak dan retribusi daerah yang memiliki potensi besar untuk digali sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Blora.

4. Memberikan alternatif saran penyelesaian terkait dengan optimalisasi Pendapatan Asli Daerah

C. Ruang Lingkup

Dalam menyusun makalah ini, penulis hanya membahas hal-hal yang berkaitan dengan PAD, yang meliputi:

1. Dasar-dasar hukum dan teori yang memberi penjelasan tentang PAD dan hal yang terkait.

2. Pencapaian Pemerintah Kabupaten Blora terkait dengan PAD.

(7)

BAB I

LANDASAN TEORI DAN PEMBAHASAN

A. Landasan Teori

1. Dasar-dasar Hukum yang terkait dengan Pendapatan Asli Daerah

Dasar hukum yang mengatur dan menjelaskan tentang PAD dan berbagai hal yang terkait tertuang dalam;

a. Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

Mengatur tentang pendapatan daerah dan sumber-sumber penerimaan daerah beserta pembagiannya, dengan tujuan terciptanya pembagian tugas dan wewenang yang jelas, demi kelancaran pelaksanaan otonomi daerah.

b. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah.

Mengatur tentang otonomi daerah serta hak dan kewajiban pemerintah daerah terkait pelaksanaan otonomi daerah dan mengurus sendiri perintahnya. Dalam pasal 21 dijelaskan tentang hak daerah otonomi, yaitu:

a. mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya; b. memilih pimpinan daerah;

c. mengelola aparatur daerah; d. mengelola kekayaan daerah;

e. memungut pajak daerah dan retribusi daerah;

f. mendapatkan bagi hasil dari pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang berada di daerah;

g. mendapatkan sumber-sumber pendapatan lain yang sah; dan h. mendapatkan hak lainnya yang diatur dalam peraturan

(8)

Sementara dalam pasal 22, diatur tentang kewajiban daerah otonom dalam menyelenggarakan otonomi daerahnya, yaitu:

a. melindungi masyarakat, menjaga persatuan, kesatuan dan kerukunan nasional, serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia;

b. meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat; c. mengembangkan kehidupan demokrasi; d. mewujudkan keadilan dan pemerataan; e. meningkatkan pelayanan dasar pendidikan; f. menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan;

g. menyediakan fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak; h. mengembangkan sistem jaminan sosial;

i. menyusun perencanaan dan tata ruang daerah; j. mengembangkan sumber daya produktif di daerah; k. melestarikan lingkungan hidup;

l. mengelola administrasi kependudukan; m. melestarikan nilai sosial budaya;

n. membentuk dan menerapkan peraturan perundang-undangan sesuai dengan kewenangannya; dan

o. kewajiban lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.

c. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara.

Mengatakan bahwa dalam pendapatan daerah berasal dari Pendapatan Asli Daerah, dana perimbangan, dan lain-lain pendapatan yang sah.

d. Undang-undang Nomor 28 tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

(9)

2. Pembagian Pendapatan Asli Daerah

Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah pendapatan yang diperoleh daerah yang dipungut berdasarkan Peraturan Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. merupakan salah satu sumber pendapatan daerah selain dana perimbangan dan lain-lain pendapatan. PAD bertujuan memberikan kewenangan kepada Pemerintah Daerah untuk mendanai pelaksanaan otonomi daerah sebagaiperwujudan Desentralisasi.

Pendapatan Asli Daerah bersumber dari pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan Daerah yang dipisahkan, dan lain-lain PAD yang sah.

a. Pajak Daerah

Diatur dalam UU No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Dalam pasal 2, disebutkan jenis pajak daerah adalah sabagai berikut:

1. Jenis Pajak provinsi terdiri atas: a. Pajak Kendaraan Bermotor;

b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor; c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor; d. Pajak Air Permukaan; dan

e. Pajak Rokok.

2.Pajak kabupaten/kota terdiri atas: a. Pajak Hotel;

b. Pajak Restoran; c. Pajak Hiburan; d. Pajak Reklame;

e. Pajak Penerangan Jalan;

f. Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan; g. Pajak Parkir;

(10)

i. Pajak Sarang Burung Walet;

j. Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan;dan k. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.

b. Retribusi Daerah

Diatur dalam UU No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

1. Retribusi Jasa Umum

Objek Retribusi Jasa Umum adalah pelayanan yang disediakanatau diberikan Pemerintah Daerah untuk tujuan kepentingandan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau Badan. Menurut Pasal 110 UU No. 28 Tahun 2009 Jenis Retribusi Jasa Umum adalah:

a.Retribusi Pelayanan Kesehatan;

b.Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan;

c. Retribusi Penggantian Biaya Cetak Kartu Tanda Penduduk dan Akta Catatan Sipil;

d.Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan Mayat;

e.Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum;

f. Retribusi Pelayanan Pasar;

g.Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor;

h.Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran;

i. Retribusi Penggantian Biaya Cetak Peta;

j. Retribusi Penyediaan dan/atau Penyedotan Kakus;

k. Retribusi Pengolahan Limbah Cair;

l. Retribusi Pelayanan Tera/Tera Ulang;

m.Retribusi Pelayanan Pendidikan; dan

(11)

2. Retribusi Jasa Usaha

Objek Retribusi Jasa Usaha adalah pelayanan yang disediakan oleh Pemerintah Daerah dengan menganut prinsip komersial yang meliputi:

a.Pelayanan dengan menggunakan/memanfaatkan kekayaan Daerah yang belum dimanfaatkan secara optimal; dan/atau

b.Pelayanan oleh Pemerintah Daerah sepanjang belum disediakan secara memadai oleh pihak swasta.

Jenis Retribusi Jasa Usaha adalah:

a. Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah;

b. Retribusi Pasar Grosir dan/atau Pertokoan;

c. Retribusi Tempat Pelelangan;

d. Retribusi Terminal;

e. Retribusi Tempat Khusus Parkir;

f. Retribusi Tempat Penginapan/Pesanggrahan / Villa;

g. Retribusi Rumah Potong Hewan;

h. Retribusi Pelayanan Kepelabuhanan;

i. Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga;

j. Retribusi Penyeberangan di Air; dan

k. Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah. 3. Retribusi Perizinan Tertentu

Objek Retribusi Perizinan Tertentu adalah pelayanan perizinan tertentu oleh Pemerintah Daerah kepada orang pribadi atau Badan yang dimaksudkan untuk pengaturan dan pengawasan atas kegiatan pemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya alam, barang, prasarana, sarana, atau fasilitas tertentu gunamelindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan. Jenis Retribusi Perizinan Tertentu adalah:

a. Retribusi Izin Mendirikan Bangunan;

(12)

c. Retribusi Izin Gangguan; d. Retribusi Izin Trayek; dan e. Retribusi Izin Usaha Perikanan.

c. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan.

Kekayaan daerah yang dipisahkan dapat berupa penyertaan modal atau investasi terhadap perusahaan daera, perusahan swasta, atau perusahan negara, sehingga akan memperoleh pendapatan berupa laba, deviden, dan keuntungan dari penjualan saham milik daerah.

d. Lain-lain PAD yang sah.

Lain-lain PAD yang sah diatur dalam UU No. 33 Tahun 2004 pasal 6 ayat 1 meliputi:

1. Hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan.

2. Jasa giro

3. Pendapatan bunga

4. Keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing; dan,

5. Komisi, potongan, ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan dan/atau pengadaan barang dan/atau jasa oleh Daerah.

B. Pembahasan

(13)

Sipil, Dinas Perhubungan, Pariwisata, Kebudayaan, Komunikasi dan Informatika, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga, Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan,dan Perikanan, Dinas Kelautan, Diperindangkop dan UMKM, dan SETDA.

Dari DPPKAD, banyaknya realisasi PAD yang dihasilkan selama 3 tahun pada 2011-2013 nilai realisasi yang dihasilkan DPPKAD Kabupaten Blora selalu meningkat, hingga tahun 2013 mencapai sebesar Rp. 35.470.601.210. Jenis pajak daerah di Kabupaten Blora yang mempunyai kontribusi terbesar terhadap pajak daerah adalah pajak hotel dan restoran.

Rincian besarnya retribusi daerah yang diperoleh dari Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perijinan untuk retribusi perijinan tertentu tahun 2013 sebesar Rp. 768.518.366, retribusi IMB sebesar Rp 525.397.046, retribusi ijin tempat minuman berakohol sebesar Rp. 10.000.000 retribusi ijin HO sebesar Rp. 233.121.320.Realisasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Blora, untuk retribusi daerah sebesar Rp. 3.934.534.750, retribusi itu berupa pelayanan kesehatan, dan dari pos lain lain pendapatan yang sah (penjualan obat-obat dan hasil farmasi) sebesar Rp. 32.325.000.

(14)

sebesar Rp 4.045.000. Berikut adalah data lengkap tentang penerimaan Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Blora:

No Dinas/Kantor Penghasil PAD 2011 2012 2013

1. DPPKAD 28.730.030.107 35.470.601.210 30.095.655.078 Pajak daerah 11.130.718.509 11.474.133.665 10.556.737.483 Hasil pengelolaan kekayaan

daerah yang dipisahkan

5,884,626,373 5,758,248,478 6.165.994.267

Bag. Laba atas penyerahan modal pada BUMN

5,884,626,373 5,758,248,478 6,165,994,267

Lain-Lain PAD Yang Sah 11,714,685,225 18,238,219,067 13,372,923,328

2. Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perijinan

881,400,275 379,873,000 1,537,036,732

Retribusi Perijinan Tertentu 881,400,275 379,874,550 1,537,036,732

3. Dinas Kesehatan 3,014,563,628 4,688,796,770 3,934,534,750

Retribusi Daerah 3,009,498,628 4,668,640,690 3,934,534,750

Retribusi Jasa Umum 2,997,202,108 4,666,681,630 3,902,209,750 Retibusi Jasa Usaha 1,546,520 1,959,060

Retribusi Perijinan Tertentu 10,750,000

Lain-Lain Pendapatan Yang Sah 5,065,000 20,156,080 32,325,000

4. RSUD Dr. R. Soetijono Blora 15,069,524,668 17,507,313,511 10,921,386,746 Retribusi Daerah 15,069,524,668 17,507,313,511

-Retribusi Jasa Umum 11,215,800 -

-Retribusi Jasa Usaha - -

-Retribusi Pemakaian Kekayaan

Daerah - -

-Lain-Lain PAD Yang Sah 15,058,308,868 - 10,921,386,746

RSUD Soeprapto Cepu 14,292,070,118 18,560,529,329 12,280,871,069

Retribusi Daerah 86,363,341 -

-Retribusi Jasa Umum 68,753,341 -

-Retribusi Jasa Usaha 17,610,000 -

-Retribusi Jasa Usaha 17,610,000 -

-Lain-Lain Pendapatan Yang Sah 14,205,706,777 - 12,280,871,069

(15)

Pajak daerah 3,886,750 -

-Retribusi Daerah 342,280,300 9,810,000 68,860,000

Retribusi Jasa Umum 8,505,300 - 1,500,000

Retribusi Jasa Usaha 263,775,000 9,810,000

-Lain-Lain Pendapatan Yang Sah 71,929,150 147,478,500 53,827,694 7 Dinas Kependudukan dan Catatan

Sipil 134,690,500 257,646,000 688,800,000

Retribusi Daerah 134,690,500 7,996,000 345,100,000 Retribusi Jasa Umum 134,690,500 5,796,000

-Retribusi Jasa Usaha - 2,200,000 1,400,000 Lain-Lain PAD Yang Sah - 249,650,000 343,700,000 8. Dinas Perhubungan, Pariwisata,

Kebudayaan, Komunikasi, dan Informatika

1,039,833,750 1,442,749,000 1,241,369,520

Pajak daerah 42,770,000 12,650,000

-Retribusi Daerah 977,127,250 1,410,793,920 1,226,477,020

Retribusi Jasa Umum 576,406,250 1,135,331,420 1,059,973,420 Retribusi Jasa Usaha 385,826,000 271,785,500 162,458,600 Retribusi Pemakaian Kekayaan

Daerah

- - 4,750,000

9 Dinas Pendidikan, Pemuda dan

Olah Raga 278,444,700 274,905,800 2 03,760,100 Retribusi Daerah 278,444,700 274,905,800 203,760,100 Retribusi Jasa Usaha 278,444,700 274,905,800

-Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah

- - 203,760,100

(16)

1. Masih adanya beberapa desa terpencil yang sulit dijangkau, sehingga sosialisasi tentang pajak dan distribusi daerah belum tersampaikan kepada masyarakat.

2. Kurangnya pemahaman dan pengertian masyarakat tentang pembayaran pajak dan retribusi daerah, sehingga mereka tidak mengerti dan cenderung menghindar untuk membayar pajak dan retribusi daerah.

3. Kurangnya jumlah SDM yang mau terjun langsung kelapangan dan yang mampu mengelola pendapatan dan keuangan daerah dengan baik.

Namun, kendala dan hambatan tersebut seharusnya bisa segera ditangani karena mengingat beasarnya potensi penerimaan Pendapatan Asli Daerah di Kabupaten Blora apabila semua potensi tersebut dapat digali sehingga hasil dari Pendapatan Asli Daerah tersebut bisa digunakan untuk pembangunan infrastruktur dan perekonomian Kabupaten Blora sehingga Pemerintah Kabupaten Blora serta Masyarakat Blora bisa memanfaatkan dan menikmati hasil dari Pendapatan Asli Daerah tersebut.

BAB I

PENUTUP

A. Kesimpulan

Setelah melakukan pembahsan mengenai Pendapatan Asli Daerah

Kabupaten Blora, penulis dapat menarik kesimpulan ebagai berikut:

1. Kontribusi Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Blora terhitung masih

sangat rendah terhadap total pendapatan daerahnya. Hal ini berarti

keuangan Kabupaten Blora masih tergantung kepada transfer dari

Pemerintah pusat.

2. Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Blora sebagian besar diperoleh dari

(17)

penerimaan dari retribusi daerah masih rendah dan kurang berkontribusi

terhadap Pendapatan Asli Daerah.

3. Berdasarkan potensi yang dimiliki, pencapaian Pendapatan Asli Daerah

Kabupaten Blora masih terhitung rendah karena belum mampu

memanfaatkan dan mengolah potensi yang ada.

4. Dalam upaya optimalisasi Pendapatan Asli Daerah, Pemerintah Kabupaten

Blora masih terhambat beberapa kendala seperti kurangnya pengetahuan

masyarakat tentang pajak dan retribusi daerah.

B. Saran

Penulis juga ingin menyampaikan beberapa saran yang berkaitan dengan

optimalisai peningkatan Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Blora. Beberapa

saran yang dapat penulis sampaikan antara lain:

1. Pemerintah Kabupaten Blora harus memberikan sosialisai kepada

masyarakat tentang pajak daerah dan retribusi daerah, yaitu dengan

memberikan pengertian bahwa pajak daerah dan retribusi daerah yang

dibayarkan oleh masyarakat akan memberikan manfaat secara tidak

langsung kepada masyarakat, sehingga masyarakat tidak merasa sia-sia

dengan apa yang telah mereka bayarkan sebagai pajak daerah dan retribusi

daerah.

2. Kurang optimalnya mengenai potensi pajak dan retribusi daerah,

(18)

pajak dan retribusi daerah, menggali potensi yang dimiliki. Untuk

melaksanakan tindakan ini, maka Pemerintah Kabupaten Blora harus

membuat tim kerja/petugas kusus untuk untuk mengurusi Pajak dan

retribusi daerah.

3. Pemerintah Kabupaten Blora perlu meningkatkan kualitas SDM seluruh

pegawai pengelola pendapatan dan keuangan daerah, hal ini dapat

dilakukan dengan merekrut pegawai yang berkompeten dan profesional

dibidangnya, serta memberikan pelatihan dan penyuluhan untuk

meningkatnkan kemampuan dan etos kerja pegawai.

4. Dalam hal rendahnya retribusi daerah, Pemerintah Kabupaten Blora dapat

meningkatkan Penerimaan retribusi daerah dengan memperbanyak pos-pos

pemungutan retribusi daerah, menaikkan tarif retribusi dan menurunkan

(19)

DAFTAR PUSTAKA

Blora Dalam Angka 2011. Badan Pusat Statistik.

Blora Dalam Angka 2012. Badan Pusat Statistik.

Blora Dalam Angka 2013. Badan Pusat Statistik.

Republik Indonesia. Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000 Tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 Tentang Pajak dan Retribusi Daerah.

Republik Indonesia. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara.

Republik Indonesia. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah.

Republik Indonesia. Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

(20)
(21)

Referensi

Dokumen terkait

Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan pendapatan daerah yang bersumber dari hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan,

“Pendapatan Asli Daerah merupakan Pendapatan Daerah yang bersumberdari hasil Pajak Daerah, hasil Retribusi Daerah, Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan

Menurut Undang-Undang No. 33 tahun 2004, yang dimaksud dengan Pendapatan Asli Daerah adalah: “pendapatan daerah yang bersumber dari hasil pajak daerah, hasil retribusi

Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Belitung Timur yang terdiri dari pajak daerah,. retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang

Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan pendapatan daerah yang bersumber dari hasil pajak daerah, hasil retribusi Daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang

Pendapatan Asli Daerah : Terdiri dari penerimaan Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Hasil Pengelolaan kekayaan Daerah yang dipisahkan, dan Lain- Lain

Belanja bagi hasil pada pemerintahan desa merupakan bentuk distribusi fiskal yang ditentukan berdasarkan proporsi besaran pendapatan asli daerah (pajak daerah dan

Penerimaan atau Pendapatan Asli Daerah PADbersumber dari banyak hal, sumber terbesar Pendapatan Asli Daerah adalah pajak daerah selain dari pada retribusi daerah yang terdiri dari