Program Proliferasi Nuklir Iran Era Pres

13  Download (0)

Teks penuh

(1)

Program Proliferasi Nuklir Iran Era Presiden Mahmoud Ahmadinejad

Oleh : M.Asep Maulana

1044010018

ABSTRAK

Nuklir merupakan sumber energi alternatif pengganti sumberdaya alam yang mulai langka keberadaanya. Iran merupakan salah satu negara yang mengembangkan energi nuklir sejak tahun 1957, namun dewasa ini isu nuklir semakin diangkat di dunia internasional atas penggunaan energi tersebut sebagai senjata pemusnah massal, Iran yang sebagai negara pengembang nuklir di nggap telah melakukan pelanggaran proliferasi nuklir damai, Namun pada masa kepemimpinan Ahmaddinejad Iran dengan terang-terangan mengumumkan pada dunia bahwa program nuklir Iran tidak akan berhenti dan akan tetap melakukan pengembangan energi alternatif tersebut, sikapnya yang konservatif dan radikal menjadikan Iran sebagai negara yang anti barat dan anti zionis dan dengan tegas akan melawan kedua negara tersebut untuk melindungi kepentingan nasional dan kedaulatan negara Iran.

(2)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Dari beberapa negara pengembang nuklir di dunia, Iran merupakan salah satu negara yang mengembangkan energi nuklir yang terbilang cukup lama, Dari pertama kali masuknya nuklir tahun 1957 sampai sekarang pengembangan nuklir Iran tetap berjalan, berawal ketika Iran dipimpin oleh Dinasti Shah (1921-1979). Pada pemerintahan shah pahlevi di pertengahan tahun 1960 Iran mulai melibatkan diri dalam penelitian dan pengembangan nuklir atas dukungan Amerika serikat dalam kerjasama billateral antar kedua negara. Amerika dan Iran menandatangani nuclear cooperation agreement pada tahun 1957 yang mulai berlaku pada 1959 (william:2009). kedekatan Iran dan Amerika waktu itu mengasihlkan sebuah fasilitas nuklir yang pertama kali di bangun di Tehran Nuclear Research Center di tahun 1967 yang bertempat di tehran University dan di jalankan oleh atomic oragnization of Iran (AEOI) yang memiliki 5 megawat reaktor nuklir yang di suplai oleh Amerika serikat tahun tahun 1967.(sahimi :2003) hingga pada 1 juli 1968 Iran menandatangani traktat non-proleferasi (NPT) dan berlaku pada 5 maret 1970 setelah di ratifikasi oleh majlis. Dalam traktat tersebut Iran memiliki hak untuk mengembangkan penelitian, memproduksi, dan menggunakan nuklir untuk tujuan damai tanpa diskriminasi.

Pada masa rezim shah pahlevi Iran lebih cendrung pro barat ini terbukti dari banyak nya kerjasama dengan negara negara barat, tidak hanya Amerika, Iran juga menjalin kerjasama di bidang pengembangan nuklir dengan negara jerman dan perancis di tepi laut persia, sangat nampak shah pahlevi untuk mengembangkan kekuatan militernya termasuk senjata nuklir untuk memperkuat kekuasaanya atas Iran. Era ini pengembangan nuklir Iran sangat melaju pesat.

(3)

Setelah revolusi Iran, Amerika Serikat memotong pasokan yang sangat diperkaya uranium bahan bakar untuk Pusat Penelitian Nuklir Teheran , yang memaksa reaktor ditutup untuk beberapa tahun. sampai Komisi Energi Atom Nasional Argentina 1987-1988 menandatangani kesepakatan dengan Iran untuk membantu dalam mengkonversi reaktor dari uranium yang diperkaya bahan bakar untuk 19,75% uranium yang diperkaya rendah ke Iran. (james : 2009)

Namun pada April 1984, intelijen Jerman Barat melaporkan bahwa Iran mungkin memiliki bom nuklir dalam waktu dua tahun dengan uranium dari Pakistan. Orang Jerman membocorkan berita ini di publik laporan intelijen Barat yang pertama dari program senjata nuklir pasca-revolusioner di Iran.(cordesman : 2000) Ketakutan negara barat akan nuklir Iran semakin beralasan berdasarkan fakta dan hasil investigasi sehingga Amerika mulai mengecam bahwa Iran adalah ancaman bagi perdamaian dunia karena kepemilikan senjata nuklir nya dan salah satu caranya adalah serangan militer ke fasilitas nuklir Iran.

Pada tahun 1992, menyusul tuduhan media tentang kegiatan nuklir rahasia di Iran, Iran mengundang inspektur International Atomic Energy Agency (IAEA) ke negara itu dan mengizinkan seorang inspektur untuk mengunjungi semua situs dan fasilitas yang mereka minta untuk melihat. Direktur Jenderal Blix melaporkan bahwa semua kegiatan yang diamati sesuai dengan penggunaan damai energi atom.(wise :1992) Amerika tidak berhenti begitu saja dalam menekan Iran, Menurut sebuah laporan Amerika menekan argentina untuk mengakhiri kerjasama nuklir yang di sepakati dengan Iran agar Iran dapat menghentikan program pengembangan nuklir nya.

Masa rezim Ali Khomaeni (1981-1989) masa republik islam Iran, penyebaran tentang kaidah islam sangat kuat di Iran, pada masa ini pengembengan nuklir Iran tidak melaju pesat karna khomaeni lebih berfokus menciptakan Iran sebagai negara yang maju, islami, dan modern. Namun hubungan Iran dan Amerika serikat begitu renggang dan putusnya hubungan diplomatik kedua negara, Iran menganggap Amerika sebagai negara yang mempengaruhi Iran untuk menjauh dari akidah dan syariat islam, terlebih Amerika selalu menentang Iran dalam pengembangan nuklir pada masa ini, sehingga Iran selalu mendapat tekanan dari Amerika yang membuat stagnan program proliferasi nuklir Iran.

(4)

yang berpegang teguh pada nilai-nilai dan semangat revolusi, Ahmaddinejad yang vokal menyuarakan sikap anti-barat dan Israel sering membuat peperangan hampir terjadi antara Israel dan Iran .(labib : 2006) Sikap keras Ahmaddinejad yang keras tentang permasalahn hak Iran untuk mengembangkan nuklir damai membuat kondisi internal Iran tersebut terisolasi. Namun di bawah kepemimpinan selama dua priode (2005-2009),(2009-2013), Iran mampu bertahan di tengah tekanan dan isolasi politik maupun ekonomi yang di lakukan oleh negara-negara barat .(elgogary : 2007)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang dijabarkan, sejarah panjang nuklir Iran di berbagai masa dari shah pahlevi hingga Ahmaddinejad dan pengaruhnya terhadap dunia internasional membuat penulis ingin mengkaji lebih dalam, terlebih nuklir Iran dibawah kepemimpinan Ahmaddinejad yang berbeda dengan wacana pengembangan nuklir di era pemerintahan sebelumnya, sehingga menimbulkan kecaman dari dunia internasional terutama Amerika dan Israel. Maka permasalahan yang kemudian muncul adalah : bagaimana pengaruh presiden Ahmaddinejad terhadap perubahan kebijakan proliferasi nuklir Iran?

1.3 Tujuan Penulisan

(5)

BAB II

Kerangka Pemikiran 2.1 Level Analisis

Untuk menganalisis mengenai nuklir Iran di bawah pemerintahan Ahmaddinejad terkait dengan kebijakan nuklirnya. Adapun level of analysis ini menyatakan individu sebagai unit analisis utama. Individu ini dilihat sebagai aktor yang mampu membuat suatu keputusan berdasarkan skala prioritas.

Tingkat analisis yang berasumsi pada pengetahuan politik adalah pengetahuan tentang manusia. Yaitu bagaimana manusia berpikir tentang dirinya sendri, bagaimana mereka memandang dunia dan tempat hidup mereka di dalamnya, dan apa yang menurut mereka penting dalam hidup ini. Salah satu alasan dasar mengapa kemudian analisis ini memperhatikan perilaku individu adalah bahwa negara-bangsa tidak melakukan tindakan, yang melakukannya adalah para pemimpinnya. Oleh karna itu individu adalah unit analisis yang paling dasar. (T. Rourke, 1991)

Alasan kedua bahwa mengapa individu dijadikan perangkat analisis adalah karna keterlibatan seorang tertentu dalam situasi menimbulkan akibat yang berbeda. Alasan ketiga karena para ilmuwan percaya bahwa dinamika politik internasional pada akhirnya datang hakekat manusia yang paling dalam. Seperti pendekatan Morgenthau mengenai power, menurut Morgenthau power adalah ‘kontrol manusia terhadap pikiran dan tindakan manusia yang lain’. (Hara, 2011:38)

(6)

nature), perilaku organisasional (organizational behaviour), dan perilaku idiosinkretik (idiosyncratic behaviour). (T. Rourke, 1991)

2.2 Landasan Teori

2.2.1 Teori Politik Luar Negeri

Secara konseptual, kebijakan luar negeri adalah otoritatif tindakan atau berkomitmen yang diambil oleh pemerintah dalam rangka untuk menjaga aspek lingkungan internasional yang diinginkan atau untuk mengubah aspeknya yang tidak diinginkan. Diambil dengan perhitungan yang tepat dan orientasi tujuan jelas untuk memecahkan masalah atau mempromosikan beberapa perubahan dalam lingkungan internasional (Holsti, 1983:97; Modelski, 1962:6; Wilkenfeld et al, 1980:110 dalam Dugis, t.t). Oleh karena itu, terlepas dari hasil, inisiasi dari kebijakan luar negeri adalah tujuan (Rosenau,1974:6 dalam Dugis, t.t).

Untuk tujuan analisis, kebijakan luar negeri di sini difahami telah terdiri dari pernyataan dan tindakan yang diambil oleh negara untuk berhubungan dengan aktor-aktor eksternal lainnya; Serikat atau aktor non-negara. Ini responsif terhadap tindakan negara-negara lain dan diambil untuk memenuhi kepentingan nasional di luar batas teritorial. Selain itu, kebijakan luar negeri dianggap sebagai kelanjutan dari kebijakan domestik karena menyajikan dan mencerminkan kepentingan nasional (Plano & Olton, 1978:553).

2.2.2 Teori Idiosinkretik

Analisis ideosinkretik (idiosyncratic behaviour) berasumsi bahwa individu-individu membuat kebijakan luar negeri dan individu yang berbeda mungkin menghasilkan kebijakan yang berbeda pula. Lima karakteristik yang membedakan pengambilan keputusan oleh individu yang berbeda, yaitu kepribadian, kesehatan fisik dan mental, ego dan ambisi, pengalaman pribadi, dan persepsi. (T. Rourke, 1991)

(7)

pemimpin sangat penting karena mereka bertindak berdasarkan apa yang mereka anggap kebenaran, bukan kebenaran objektif. Terkadang kenyataan yang dipersepsikan oleh para pemimpin mengalami distorsi dan mereka bertindak berdasarkan kenyataan yang terdistorsi tersebut. (ibid)

BAB III

ANALISA & PEMBAHASAN

3.1 Perubahan Politik Luar Negeri Iran

Seperti disebutkan di awal mengenai perubahan politik luar negri, mengingat bahwa kebijakan luar negeri adalah tujuan berorientasi tindakan yang diambil oleh otoritas pemerintah terhadap entitas di luar batas-batas negara (baik negara maupun aktor non-negara), perubahan ini jelas menjadi kualitas yang merasuk politik luar negeri pemerintah. Dengan kata lain, kebijakan luar negeri bukanlah sesuatu yang bersifat statis, tetapi cenderung untuk mengubah untuk mencapai tujuannya. Untuk menganalisis perubahan ini harus memiliki pemahaman yang jelas tentang kompleksitas fenomena kebijakan luar negeri, tetapi juga harus memahami pola-pola perubahan kebijakan luar negeri.

Sehubungan dengan perubahan kebijakan luar negeri, Hermann mengidentifikasi empat macam tingkat perubahan kebijakan luar negeri; perubahan penyesuaian, perubahan program, perubahan masalah atau tujuan, dan perubahan orientasi internasional (Hermann, 1990: 5-6).

1. Tingkat pertama perubahan penyesuaian (adjustment changes) muncul pada tingkat upaya untuk mencapai tujuan (lebih besar atau lebih rendah). Ini juga dapat terjadi dalam lingkup Penerima atau target. Dengan kata lain, "apa yang dilakukan, bagaimana hal ini dilakukan, dan tujuan yang hal yang dilakukan tetap tidak berubah".

(8)

3. Tingkat ketiga perubahan masalah atau tujuan (problem or goal changes) mengacu pada situasi dimana "masalah awal atau tujuan yang Kebijakan Alamat diganti atau hanya kehilangan", dan "tujuan sendiri diganti".

4. Tingkat keempat perubahan orientasi internasional (international orientation changes) adalah perubahan bentuk yang paling ekstrim perubahan kebijakan luar negeri karena hal ini akan melibatkan pengalihan orientasi negara seluruh dunia, termasuk peran internasional dan kegiatan. Perubahan utama kebijakan luar negeri menggabungkan setidaknya perubahan pada tingkat dua sampai empat (perubahan dalam cara/program, perubahan dalam ujung cita-cita atau masalah, dan perubahan dalam orientasi secara keseluruhan). Selain itu, perubahan kebijakan luar negeri, terutama utama pengalihan dalam kebijakan luar negeri, dapat dijelaskan oleh membuat bertanya di bidang sistem politik domestik, pengambilan keputusan birokrasi, cybernetics, dan belajar.

Dalam tingkat perubahan kebijakan luar negri ini Ahmadinejad lebih pada tingkatan yang keempat yaitu perubahan orientasi internasional (international orientation changes) dimana perubahan utama kebijakan luar negeri menggabungkan tingkat dua sampai empat. Sikap keras Ahmaddinejad Sebagai seorang konservatif garis keras yang berpegang teguh pada nilai-nilai dan semangat revolusi Iran, Ahmaddinejad yang vokal menyuarakan sikap anti-barat dan Israel sering membuat peperangan hampir terjadi antara Israel dan Iran.

salah satunya yang menonjol yaitu masalah pengembangan teknologi nuklir. Ahmadinejad bersikeras bahwa hal itu ditujukan untuk perdamaian yang digunakan sebagai sumber energi, bukan digunakan untuk kepentingan militer seperti yang dituding oleh Amerika Serikat dan Israel. Demi tercapainya kepentingan nasional Ahmadinejad tetap melanjutkan program pengembangan teknologi nuklir nya tanpa terpengaruh pernyataan-pernyataan dari pihak barat. Sejak mempertahankan pengembangan teknologi nuklir damainya, kekuatan diplomasi Iran ke berbagai negara mengalami peningkatan.

3.2 Idiosinkretik sebagai Salah Satu Sumber Kebijakan

(9)

oleh ideosinkretik Ahmaddinejad yang terdiri atas kepribadian, ambisi, pengalaman pribadi, dan persepsi.

Pemimpin yang memiliki kepribadian layaknya Ahmadinejad dengan kepribadian yang sederhana membuat dirinya di hormati dan disegani oleh rakyat-rakyatnya, terlebih lagi ambisinya untuk menjadikan Iran sebagai negara yang mandiri dan maju yang perpedoman pada syri’at islam dalam semangat revolusi islam Iran. Berbicara mengenai kepribadian seseorang tak lepas dari latar belakang kehidupan seseorang seperti Ahmaddinejad.

Mahmoud Ahmadinejad adalah presiden Iran yang keenam. Ahmadinejad lahir di Aradan pada 28 Oktober 1956. Selain jabatan presiden, Ahmadinejad juga pimpinan Alliance of Builders of Islamic Iran, sebuah koalisi dari politik yang konservatif. Suami dari Azam Farahi ini adalah lulusan Iran, University of Science and Technology. Sebelum menjadi Presiden Irak yang keenam, Ahmadinejad lebih dulu menjabat sebagai Gubernur dari provinsi Ardabil dan juga Walikota Teheran. tinggal di Gisha, rumah tinggal pribadinya. Pada tahun 2003, Ahmadinejad terpilih untuk menjadi Walikota Teheran. Di masa pemerintahannya, Ahmadinejad mengambil jalur agama sebagai patokan dari semua tindakan yang dilakukannya. Lalu, pada pemilihan presiden pada tahun 2005, dengan dukungan dari

Alliance of Builders of Islamic Iran, Ahmadinejad mendapatkan 62% dukungan masyarakat. Ahmadinejad mulai bertugas pada 3 Agustus 2005, dan akan berakhir pada 3 Agustus 2013. Sesuai dengan peraturan Negara Iran, setelah terpilih Ahmadinejad tidak akan dapat mencalonkan diri sebagai presiden lagi (http://m.merdeka.com).

Naik turunya perkembangan nuklir Iran tak lepas dari pengaruh ambisi dan pengalam pribadi presiden yang memimpin pada masa tersebut, dari pengembangan nuklir sebagai energi alternatif dan nuklir damai sampai pengembangan nuklir sebagai alat untuk kekuatan negara Iran dan alat diplomasi dari tekanan negara barat, hingga masa presiden Ahmaddinejad yang menggunakan nuklir sebagai kepentingan nasional, kedaulatan negara hingga yang paling menuai banyak kritikan yaitu memerangi zionis Israel dengan kekuatan militer seperti yang di serukan sebelum sebelumnya oleh imam khomaeni.

(10)

dalam wawancara dengan NBC Brian jangkar Willians pada bulan Juli 2008, juga membantah kegunaan senjata nuklir sebagai sumber keamanan dan menyatakan:

" Sekali lagi, apakah senjata nuklir membantu Uni Soviet jatuh dan hancur? Untuk itu, apakah bom nuklir membantu AS menang di Irak atau Afghanistan, dalam hal ini? Bom nuklir milik abad ke-20. Kita hidup di abad baru ... Energi nuklir tidak harus setara dengan bom nuklir. Ini adalah merugikan masyarakat manusia.“(http://www.nbcnews.com)

Dalam wawancaranya ini Ahmaddinejad menegaskan kepada dunia internasional terutama negara barat bahwa Iran adalah negara yang memiliki teknologi nuklir yang diguanakan untuk perdamaian, namun disisi lain nuklir Iran juga sebagai alat intimidasi yang bertujuan untuk menghindari tekanan barat yang selalu merugikan negara Iran. Seperti embargo yang di lakukan Amerika terhadap Iran. Iran di bawah kepemimpinan Ahmaddinejad yang radikal dan vokal di bidang ekonomi, sosial, dan politik membuat kondisi Iran semakin kritis karena tertekan oleh embargo dan politik isolasi barat di berbagai aspek kehidupan, namun Iran masih mampu bertahan menghadapi kondisi perekonomian dan politik dengan bantuan negara china dan rusia.

Hal lain yang sangat penting adalah persepsi, yaitu bagaimana para pemimpin seperti Ahmadinejad bereaksi terhadap dunia. Persepsi lahir dari sistem kepercayaan individu atau kelompok, nilai-nila individual, dan informasi yang tersedia bagi mereka. Persepsi para pemimpin sangat penting karena mereka bertindak berdasarkan apa yang mereka anggap kebenaran, bukan kebenaran objektif. Terkadang kenyataan yang dipersepsikan oleh para pemimpin mengalami distorsi dan mereka bertindak berdasarkan kenyataan yang terdistorsi tersebut. Maka dari itu Ahmadinejad di pandang sebagai presiden yang konservatif dan radikal yang mempertahankan sistem lama yang sudah berjalan pada presiden sebelum-sebelumnya.

(11)

karna sikap tegas dan sederhana Ahmaddinejad lah yang juga membuat Iran mampu bertahan dari berbagai tekanan dunia barat.

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan

Perubahan dan naik turunya program atau kebijakan nuklir Iran tak lepas dari pengaruh pemimpin tertinggi negara tersebut yaitu presiden, dari sikap yang sangat pro kepada barat sampai sikap anti barat dan anti zionisme, begitu besarnya pengaruh seorang pemimpin negara membuat penulis mencoba mengkaji menggunakan System of analysis individu yang menyatakan individu sebagai unit analisis utama. Individu ini dilihat sebagai aktor yang mampu membuat suatu keputusan berdasarkan skala prioritas. Lewat mengkaji pemimpin Iran saat ini Mahmoud Ahmaddinejad dari sisi hasil teks, narasi sampi biografi beliau dari jangka waktu selama memimpin.

(12)

Pada masa Ahmaddinejad, nuklir merupakan prioritas utama bagi kepentingan nasional Iran terhadap dunia internasional, meskipun banyaknya hambatan dari negara negara barat sebagai upaya untuk menguasai Iran yang memiliki sumber daya alam yang melimpah seperti di Irak sebelumnya. Namun tekanan dan sanksi sanksi yang di berikan pada Iran tidak membuat Iran menghentikan program nuklirnya bahkan Iran dengan terang terang mengumumkan pada dunia bahwa Iran akan terus mengembangkan nuklirnya yang memang sejak awal untuk mencukupi kebutuhan dalam negrinya. Sedangkan isu senjata nuklir Iran hanyalah sebagai politik luar negri Iran untuk memenuhi kepentingan nasionalnya, Iran akan terus mengembangkan nuklirnya guna mendapatkan energi alternatif.

DAFTAR PUSTAKA

. William Burr, A Brief History of U.S.-Iranian Nuclear Negotiations,” Bulletin of the Atomic Scientists, diakses January/February 2009.

Anthony H. Cordesman, Iran dan Senjata Nuklir: Working Draft," Pusat Studi Strategis dan Internasional, Diakses 7 Februari 2000.

Brian Williams, Transkrip: 'Respon...akan menjadi positif' Nightly News dengan -MSNBC.com". Msnbc.msn.com. 28 Juli 2008. Diakses pada 26 Oktober 2008.

El Gogary, A. (2007). Ahmadinejad : The Savior of Tehran Sang Nuklir Membidas Hegemoni AS dan Zionis. Terj. Tim Kuwais. Depok : Pustaka Iiman.

Hara, A. E. Pengantar Analisis Politik Luar Negri: dari Realisme sampai Kontruktivisme.

Bandung : NUANSA. 2011.

Holsti, K. J. (1983) International Politics, A Framework for Analysis. 4th edition, International Edition, Prentice Hall.

Hermann, Charles F. (1990) Changing Course: When Government Choose to Redirect Foreign Policy. International Studies Quarterly, 34 (2) 3-21.

James Martin. Pemasok Asing Pengembangan Nuklir Iran". Center For Studies Nonproliferasi. Diakses pada 26 September 2009.

(13)

Michael Z. Wise, Laporan Tim Atom Iran Probe, ada Senjata Penelitian Ditemukan oleh Inspektur" .The Washington Post.. Penelitian HighBeam. 2008. Diakses pada 24 Februari 2008.

Modelski, George (1962) A Theory of Foreign Policy. New York: Praeger.

Plano, Jack C. & Olton, Ray (1969) International Relations Dictionary. New York: Holt, Rhinehart & Winston.

Rosenau, James N. (1974) Comparing Foreign Policies: Why, What, How. In: James N. Rosenau (ed.). Comparing Foreign Policies, Theories, Findings, and Methods. New York: John Wiley & Sons, pp. 3-24.

Sahimi Mohammad. Iran’s Nuclear Program Part I: It’s History. di unduh <http://www.payvand.com/news/03/oct/1015.html> pada 10 februari 2003.

T. Rourke, John, International Politics on The World Stage. London: The Dushkin Publishing Group Inc. 1991.

Wilkenfeld, Jonathan, et al (1980) Foreign Policy Behavior, the Interstate Behavior Analysis Model. London: Sage.

[Online ]

http://politik.kompasiana.com/2013/04/14/kaset-tape-radio-sebagai-media-strategi-imam-khumaini-dalam-menjatuhkan-rezim-syah-Iran-551421.html

http://m.merdeka.com/profil/mancanegara/m/mahmud-ahmadinejad/

Figur

Memperbarui...

Referensi

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di