“DASAR-DASAR LINGUISTIK DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB” DOSEN PENGAMPU :
RAHNANG M.Pdi
OLEH:
NUR AISYAH (1141210029) HAMER HAMZAH (1141210033)
NOVY ANANDHA (1141210004)
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK
Dasar-dasar Linguistik dalam pembelajaran Bahasa Arab
Secara umum linguistic lazim diartikan sebagai ilmu bahasa atau ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajianya.
Linguistik sebagai ilmu dasar bagi pengajaran dan pelajaran BahasaLinguistik bertugas untuk menguraikan (menganalisa dan menyajikan hasil analisa)struktur dan cara bekerja suatu suatu bahasa yang dipakai masyarakat bahasa tertentu. Yang dimaksud dengan struktur bahasa adalah tata susun dari unsure-unsur bahasa yang saling berhubungan dalam pola-pola tertentu. Pola-pola inilah yang dalam tiap-tiap tingkat dipelajari oleh cabang-cabang linguistic seperti fonologi (fonetik dan fenumik) , morfologi, sintaksis.morfologi dan sintaksis itulah yang lazim kita sebut dengan tata bahasa.
Istilah-istilah klasifikasi maupun kategori yang akan dipakai dalam menyelidiki suatu bahasa. Klasifikasi dalam bahasa Arab mislanya yang berlaku di bahasa Indonesia, adalah tugas bagi ahli tata bahasa untuk menemukan pola-pola yang ada dalam Bahasa Indonesia dan menemukan istilah. Klafikiasi dan kategori yang tepat bagi Bahasa Indonesia.
Dalam tata bahasa tradisional sering orang menggunakan arti dalam menggambarkan unsure bahasa, jadi misalnya kata sifat yang dikatakan sebagai kata yang menyebut keadaan. Watak dan sebagainya. Uraian demikian tidak lagi di gunakan dalam ilmu linguistik untuk menentukan sebuah jenis kata misalnya dipergunakan ciri formal dan distribusinya
Linguistik sebagai landasan pengajaran Bahsa Arab
Pelajaran Tata Bahasa pada umumnya mulai di terima di kelas sekolah dasar. Sekalipun demikian hasil yang kita dapati pada umunya jauh dari memuaskan. Kemampuan Berbahasa Arab sangat kurang dikarenakan kedudukan Bahasa Arab di nomorkan kesekian apalagi yang kita ketahui kedudukan Bahasa Indonesia saja dijadikan kedudukan yang kedua apalagi untuk Bahasa Arab itu sendiri . bias saja hal ini terjadi dikarenakan kesalahan dalam Metode pengajaran dan pada kesalahan dasar-dasar Linguistik dari tata bahasa yang diajarkan.
Pengembangan metode pengajaran dibangun diatas landasan teori-teori ilmu jiwa (psikologi), dan ilmu bahasa (linguistik). Psikologi menguraikan bagaimana orang belajar sesuatu. Linguistik memberikan informasi tentang seluk beluk bahasa. Informasi dari keduanya, diramu menjadi suatu cara atau metode yang memudahkan proses belajar mengajar, untuk mencapai tujuan tertentu. Pada bagian ini akan diuraikan secara singkat teori-teori dalam kedua bidang ilmu tersebut dalam hubungannya dalam belajar dan mengajar bahasa.
1. Teori-teori ilmu jiwa (‘lmu al-nafs/psychology)
Para ahli psikologi pembelajaran sepakat bahwa dalam proses belajar-mengajar terdapat unsur-unsur internal yaitu bakat, minat, kemauan, dan pengalaman terdahulu dalam diri pembelajar dan eksternal yaitu lingkungan guru, buku dsb. . Yang mana lebih dominan di dukung oleh dua mazhab psikologi yakni mazhab behaviorisme dan mazhab kognitive. Mazhab pertama memberikan perhatian lebih besar kepada kepada faktor-faktor eksternal dan mazhab kedua lebih memfokuskan pada faktor internal.
a) Mazhab Behaviorisme
b) Pelopor mazhab ini adalah ilmuan rusia Pavlop (1849-1939) yang termasyhur dengan teorinya yang yang menghubungkan stimulus primer (makanan) dan stimulus sekunder (nyala lamu dan bunyi lonceng) dengan respon (keluarnya air liur) yang dicobakan pada anjing sebagai hewan percobaannya. Dalam paparan tersebut tampak jelas bahwa yang menjadi perhatian utama para penganut mazhab behavioriseme dalam pembelajaran adalah faktor-faktor eksternal. Dalam pengajaran bahasa, mazhab behaviorisme ini melahirkan pendekata aural-oral. Dalam pendekatan ini peran guru sangat dominan karena dialah yang membentuk stimulus, memberikan ganjaran dan hukuman, memberikan penguatan, memilih buku, materi dan cara mengajarnya.
c) Mazhab Kognitive
2. Teori-teori ilmu bahasa (‘ilmu Al-Lughah/Linguistic)
a) Aliran Struktural Aliran ini dipelopori oleh linguis dari swiss ferdinandde saussure (1857-1913) tapi dikembangkan lebih lanjut secara signifikan oleh leonard bloomfield. Dialah yang meletakkan dasar-dasar linguistik struktural berdasarkan penelitian-penelitian dengan menggunakan metode penelitian ilmiah yang lazim digunakan dalam sains (IPA). Berdasarkan mazhab ini ditetapkan beberapa prinsip mengenai pengajaran bahasa antara lain sbb:
1. Karena kemampuan berbahasa diperoleh melalui kebiasaan maka latihan menghafalkan dan menirukan berulang-ulang harus diidentifikasi. Guru harus mengambil peran utama dalam pembelajar.
2. Karena bahasa lisan merupakan sumber utama bahasa, maka guru harus memulai pelajaran dengan menyimak kemudian berbicara.
3. Hasil analisis kontrastif (perbandingan antara bahasa ibu dan bahasa yang dipelajari) dijadikan dasar pemilihan materi pelajaran dan latihan-latihan.
4. Diberikan perhatian yang besar kepada wujud luar dari bahasa yaitu: pengucapan yang fasih, ejaan dan pelafalan yang akurat, struktur yang benar dsb.
b) Aliran Generatif-Transformasi Tokoh utama aliran ini adalah linguis amerika noam chomsky yang pada tahun 1957 mempublikasikan bukunya “language structures”. Tata bahasa generatif –transformasi membedakan dua struktur bahasa yaitu “struktur luar”( surface structure-al-bina : ‘al zhahiri) dan struktur dalam (deep structure/al bina’ al asasi) bentuk ujaran yang diucapkan atau ditulis oleh penutur adalah struktur luar yang merupakan manifestasi dari strukur dalam. Ujaran itu bisa berbeda bentuk dengan struktur dalamnya, tapi pengertian yang dikandung sama. Struktur luar bisa saja memiliki bentuk yang . sama dengan struktur dalamnya, tetapi tidak selalu demikian. Contoh berikut menggambarkan hubungan antara struktur luar dan struktur dalam.
Teori – teori Ilmu Bahasa
terwujud pada hasil temuan linguitik yang berupa deskripsi bahasa. Bahasa yang dapat dipakai atau berguna bagi pengajaran bahasa.
Aliran structural
Munculnya ketidakpuasan terhadap hasil-hasil analiasis secara tradisional, menyebabkan para ahli menelusuri bentuk-bentuk baru cara mengajarkan aspek bahasa. Kemudian lahirlah tata bahsa struktural yang mengakar pada filsafat behaviorisme.
Aliran ini dipelopori oleh linguis dari swis Ferdinand De Saussure tapi dikembangkan lebih lanjut secara signifikan oleh Leonard Bloomfield. Dialah yang meletakan dasar-dasar linguistik struktural berdasarkan penelitian-penelitian dengan menggunakan metode penelitian ilmiah yang lazim digunakan dalam sains.
Beberapa teori tentang bahasa menurut mazhab ini dapat disebutkan anatara lain: 1) bahasa itu pertama-tama adalah ujaran,
2) kemampuan berbahasa diperoleh melalui kebiasaan yang ditunjang dengan latihan dan penguatan,
3) setiap bahasa memiliki sistemnya sendiri yang berbeda dengan bahasa lain, oleh karena itu menganalisis suatu bahasa tidak bisa memakai kerangka yang di gunakan untuk menganalisis bahasa lainnya,
4) setiap bahasa memeiliki sistem utuh dan cukup untuk mengekspresikan maksud dari penuturnya, oleh karena itu tidak ada satu bahasa yang paling unggul atas bahasa yang lainnya. 5) Semua bahasa yang hidup dan berkembang mengikuti perubahan zaman terutama karena
terjadinya kontak dengan bahasa lainnya. Oleh karena itu kaidah-kaidahnya pun bisa mengalami perubahan.
6) Sumber pertama dan utama kebakuan bahasa adalah penutur bahasa tersebut, bukan lembaga ilmiah, pusat bahasa atau mazhab-mazhab gramatika.1[2]
Berdasarkan teori-teori bahasa tersebut, ditetapkan beberapa prinsip mengenai pembelajaran bahasa, antara lain:
a. Karena kemampuan berbahasa diperoleh melalui kebiasaan, maka latihan menghafalkan dan menirukan berulang-ulang harus diintensifkan. Guru harus mengambil peran utama dalam proses pembelajaran bahasa.
b. Karena bahasa lisan merupakan sumber utama bahasa, maka guru harus memulai pelajaran dengan menyimak kemudian berbicara, sedangkan membaca dan menulis dilatihkan kemudian.
c. Hasil analisis kontrastif (perbandingan antara bahasa ibu dan bahasa yang dipelajari) dijadikan dasar pemilihan materi pelajaran dan latihan-latihan.
d. Diberikan perhatian yang besar kepada wujud luar dari bahasa, yaitu pengucapan yang fasih, ejaan dan pelafalan yang akurat, struktur yang benar, dan sebagainya. 2) Teori-teori linguistic structural ini seiring dengan teori-teori psikologi behaviorisme dan
menjadi landasan teoritis bagi metode audiolingual dalam pembelajaran bahasa.
Aliran Generatif – Transformatif
Linguistik transformasi lahir sebagai reaksi atas ketidak puasan terhadap pemikiran – pemikiran dan prosedur analisis bahasa yang dikembangkan oleh aliran struktural.
Aliran Generatif-Transformatif ini dipelopori oleh seorang pakar linguistic Amerika yang bernama Noam Chomsky. Dia membagi kemampuan kemampuan berbahasa menjadi dua, yaitu kompetensi dan performansi. Kompetensi (competence) adalah kemampuan ideal yang dimiliki oleh seorang penutur bahasa. Kompetensi menggambarkan pengetahuan tentang system bahasa yang sempurna, yaitu pengetahuan tentang system kalimat (sintaks), system kata (morfologi), system bunyi (fonologi), dan system makna (semantic). Sedangkan performansi (performance) adalah ujaran-ujaran yang bisa didengar atau dibaca, yang merupakan tuturan seseorang apa adanya tanpa dibuat-buat. Oleh karena itu, performansi bisa saja tidak sempurna, dan oleh karena itu pula, menurut Chomsky, suatu tata bahasa hendaknya memerikan kompetensi dan bukan performansi.
a) Menurut aliran structural, kemampuan berbahasa diperoleh melalui kebiasaan yang ditunjang dengan latihan dan penguatan. Sedangkan aliran transformatif-generatif menekankan bahwa kemampuan berbahasa adalah sebuah proses kreatif.
b) Aliran structural menekankan adanya perbedaan system antara satu bahasa dengan bahasa lainnya, sementara aliran transformatif-generatif menegaskan adanya banyak unsur kesamaan di antara bahasa-bahasa, terutama pada tataran struktur dalamnya.
c) Aliran structural berpandangan bahwa semua bahasa yang hidup berkembang mengikuti perubahan zaman, terutama karena terjadinya kontak dengan bahasa lain, oleh karena itu, kaidah-kaidah bahasa pun bisa mengalami perubahan. Sedangkan aliran transformatif-generatif menyatakan bahwa perubahan itu hanya menyangkut struktur luar, sedangkan struktur dalamnya tidak berubah sepanjang masa dan tetap menjadi dasar bagi setiap perkembangan yang terjadi. Berdasarkan teori-teori kebahasaan tersebut, dirumuskan prinsip-prinsip mengenai pembelajaran bahasa, antara lain:
1. Karena kemampuan berbahasa adalah sebuah proses kreatif, maka pembelajar harus diberi kesempatan yang luas untuk mengkreasi ujaran-ujaran dalam situasi komunkatif yang sebenarnya, bukan sekedar menirukan dan menghafalkan.
2. Pemilihan materi pelajaran tidak ditekankan pada hasil analisis kontrastif, melainkan pada kebutuhan komunikasi dan penguasaan fungsi-fungsi bahasa.
3. Kaidah grammar/nahwu dapat diberikan sepanjang hal itu diperlukan oleh pembelajar sebagai landasan untuk dapat mengkreasi ujaran-ujaran sesuai dengan kebutuhan komunikasi.
Perhatian Utama dari teori ini adalah usaha mendeskripsikan kompetensi pemakai bahasa berupa pengetahuan yang dimiliki oleh pemakai dalam keadaan sebenarnya.2
Pendekatan Pembelajaran Bahasa Arab
Pembelajaran bahasa Arab berkait erat dengan aspek-aspek pengajarannya itu sendiri yang mencakup pendekatan (Approach), metode (method), dan tekhnik-tekniknya (technique). Edward M. Anthony menjelaskan bahwa pendekatan sebagai aksioma merupakan serangkaian asumsi hakikat bahasa dan pembelajaran bahasa. Asumsi yang berhubungan dengan
pembelajaran bahasa mencakup aspek mendengar/menyimak Istima'), bercakap-cakap (al-kalam), membaca (al-qiraat), dan menulis (al-kitabah). Empat keterampilan ini selanjutnya akan membangun metode-metode atau model-model dalam pengajaran Bahasa Arab.
Beberapa pendekatan pengajaran bahasa Arab dapat diuraikan sebagaimana dibawah ini: (1) Pendekatan All in One System atau pendekatan Komperhensif, dan
(2) Pendekatan Parsial
Pendekatan All-in-One System
Pendekatan ini memandang bahwa bahasa sebagai sistem terdiri dari unsur-unsur fungsional yang menunjukan satu-kesatuan yang tak dapat dipisah-pisahkan (integral). Karena itu, kekurangan salah satu unsur atau sub sistem dalam suatu sistem akan menimbulkan gangguan dan hambatan bagi unsur lainnya. Subsistem bahasa yang dimaksud terdiri dari tata-bunyi, kosakata, tata-kalimat, dan ejaan (tulisan).
Pendekatan ini berasumsi pengajaran bahasa harus dimulai dengan mengajarkan kemahiran menyimak atau mendengarkan bunyi bahasa dalam kata atau kalimat, dan melatih pengucapannnya sebelum pelajaran membaca dan menulis dilakukan. Jadi, urutan pengajaran kemahiran berbahasa adalah menyimak (al-istima', listening), berbicara (al-kalam, speaking), membaca (al-qira'ah, reading), dan menulis (kitabah, writing).
Pendekatan All in one system atau pendekatan komperhensif mengacu kepada fungsi bahasa bagi manusia. Jack C. Richards menguraikan bahwa bahasa memiliki tiga fungsi utama, yaitu: (1) deskriptif, (2) ekspresif, dan (3) sosial. Fungsi deskriptif bahasa adalah untuk menyampaikan informasi faktual. Fungsi ekspresif ialah memberi informasi keadaan pembicara itu sendiri, mengenai perasaan-perasaannya, kesenangannya, prasangkanya, dan pengalaman-pengalaman yang telah lewat. Sedangkan fungsi sosial bahasa ialah melestarikan hubungan-hubungan sosial antar manusia.
b. Pendekatan Parsial (Parsial Approach)
Pendekatan ini memandang secara parsial sesuai dengan kebutuhan, sehingga pembelajaran diarahkan pada aspek tertentu dalam bahasa, misalkan
Bahasa dan Usia
internal dan faktor eksternal. Yang dimaksud dengan faktor internal antara lain, umur, bakat, kemampuan inteletual, minat kepribadian, keaktifan dll. Yang tergolong faktor-faktor eksternal antara lain yang tercakup dalam situasi lingkungan kelas, atau lingkungan formal, dan lingkungan bahasa atau penutur bahasa asli.
Usia merupakan salah satu rintangan sosial yang membedakan kelompok-kelompok manusia. Kelompok manusia ini akan memungkinkan timbulnya dialek sosial yang sedikit banyak memberikan warna tersendiri pada kelompok itu. Usia akan mengkelompokan masyarakat menjadi kelompok kanak-kanak, kelompok remaja, kelompok dewasa. Tentu saja batas usia itu tidak bisa secara tepat kita pastikan.
1. Kelompok Anak-anak
Anak mulai belajar berbicara pada uisa kurang lebih 18 bulan, dan usia kurang lebih tiga setengah tahun si anak boleh dikatakan sudah menguasai “tata bahasa” bahasa ibunya, sehingga mereka dapat berkomunikasi dengan orang dewasa secara sempurna. Pada masa awal perkembangannya bahasa anak-anak itu mempunyai ciri antara lain penyusutan (reduksi).3[7]
Pada anak usia sekitar 7 tahun biasanya sudah masuk SD. Setelah SD kepada mereka diajarkan ketrampilan suatu bahasa. Paling tidak dua kemungkinan bisa terjadi. Pertama, mereka diajar bahasa yang sebenarnya meruapakan bahasa ibu mereka sendiri. Kedua, mereka diajari bahasa lain yang berbeda dengan bahasa ibu. Bahasa lain itu akhirnya sebagai bahasa kedua atau bahasa asing.
2. Kelompok Remaja
Masa remaja, ditinjau dari segi perkembangan, merupakan masa kehidupan manusia yang paling menarik dan mengesankan. Masa remaja mempunya ciri antara lain petualangan, pengelompokan (klik), “kenakalan”. Ciri ini tercermin pula dalam bahasa mereka. 4[8]
3. Kelompok Dewasa
Bahasa Akuisisi oleh orang dewasa adalah belajar bahasa, disengaja melelahkan, proses intelektual yang jarang, jika pernah, hasil dalam kelancaran total asli diperoleh begitu alami oleh anak kecil, terlepas dari kemampuan intelektual atau motivasi pribadi.
aspek gramatika dan menerjemahkan, berbicara, menulis, atau kemampuan berbahasa dalam disiplin-disiplin tertentu. Misalnya bahasa akademik, bahasa bisnis, hiburan, dan lain-lain.
3
Pendekatan ini dikenal juga dengan pendekatan formal atau pendekatan tradisional yang sesuai juga dengan pendekatan "montagu SemanticPendekatan semacam ini dalam pembelajaran dimulai dari rumusan-rumusan teoritis dan menggunakan metode klasik yang paling tua yaitu tariqah al-Nahwi wa al-tarjamah (grammar and translation).
Pendekatan pembelajaran adalah tingkat pendirian filosofis mengenai bahasa, belajar, dan mengajar. (Menurut al Naqah (2006) dalam Acep hermawan (2011), pendekatan pada hakekatnya adalah sekumpulan asumsi tentang proses belajar mengajar yang dalam bentuk pemikiran aksiomatis yang tak perlu diperdebatkan.
Metode Pembelajaran adalah tingkat perencanaan program yang bersifat menyeluruh yang berhubungan erat dengan langkah-langkah penyampaian pelajaran secara prosedural, tidak saling bertentangan, dan tidak bertentangan dengan pendekatan. ( Abd Rozaq, 2007 dalam Acep hermawan2011). Teknik pembelajaran lebih bersifat aplikatif, karena itu sering disebut gaya pembelajaran. Dikatakan demikian karena aspek ini bersentuhan langsung dengan kondisi nyata seoarang guru dalam menjabarkan metode ke dalam langkah-langkah aplikatif.
\http://yaniaccount.blogspot.co.id/2013/07/dasar-dasar-linguistik-umum.html Diaz,emanuel.1985.fungsi bahasa dan sikap bahasa.flores:amoldus
http://tyas-munaqo.blogspot.co.id/2012/09/leksikon-bahasa-arab.html