Pengaruh Kenaikan BBM Terhadap
Reaksi Pasar Modal di Bursa Efek Indonesia
(Studi Kasus pada Saham LQ45 : Juni 2013)
SKRIPSI
Diajukan untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Ekonomi Pembangunan
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret
Oleh:
Rhafian Prabarinandar
NIM: F 0109080
JURUSAN EKONOMI PEMBANGUNAN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
ii
ABSTRAK
Pengaruh Kenaikan BBM Terhadap Reaksi Pasar Modal di Bursa Efek Indonesia
(Studi Kasus pada Saham LQ45 : Juni 2013) Rhafian Prabarinandar
(F0109080)
Penelitian ini merupakan suatu penelitian yang termasuk ke dalam kategori event study. Event study merupakan penelitian yang mempelajari reaksi pasar terhadap suatu peristiwa yang informasinya dipublikasikan sebagai suatu pengumuman. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan bukti empiris ada atau tidaknya reaksi pasar modal Indonesia terhadap pengumuman kenaikan harga BBM pada Juni 2013, dengan menggunakan indikator abnormal return dan trading volume activity.
Populasi penelitian ini adalah saham-saham yang termasuk dalam Indeks LQ45 di Bursa Efek Indonesia pada periode Februari-Juli 2013, dan data yang digunakan adalah data sekunder berupa harga saham harian dan volume perdagangan saham harian selama periode lima hari sebelum dan lima hari setelah peristiwa. Sampel dari penelitian ini diambil dengan menggunakan purposive sampling, agar terhindar dari cofounding effect atau efek bias. Metode penelitian ini menggunakan paired samples t–test.
Hasil dari penelitian ini adalah tidak adanya perbedaan Abnormal Return dan Trading Volume Activity sebelum dan sesudah pengumuman kenaikan BBM, tidak adanya hasil yang signifikan ini dikarenakan karena pasar sudah mampu memprediksi akan terjadinya kenaikan harga BBM beberapa hari sebelumnya.
Berdasarkan penelitian ini, kenaikan BBM memiliki kandungan informasi yang negatif (bad news), namun dengan perbedaan yang tidak signifikan. Bagi para investor, kenaikan BBM tidak perlu menjadi acuan dalam pengambilan keputusan, namun hendaknya mempertimbangkan faktor-faktor eksternal lainnya dan pada penelitian-penelitian sejenis selanjutnya, hendaknya mempertimbangkan untuk memperpendek periode penelitian, untuk menghindari cofounding effect dari faktor-faktor eksternal lainnya.
iii
ABSTRACT
The Impact of The Increasing Fuel Price to the reaction of Indonesia Stock Exchange
(Case Study on LQ45 : June 2013) Rhafian Prabarinandar
(F0109080)
This research is a study which belongs to the category of event study which is a research that studies about the reaction of a market to an event that the information is published as an announcement. The purpose of the research is to discover whether is there any empirical evidence about the reaction of capital market of Indonesia toward the announcement of increasing of fuel price on Juni 2013, by using abnormal return and trading volume activity indicators.
The Population in this research is the stocks which included in the LQ45 index on the Indonesia Stock Exchange on the period of February-July 2013, and the data used in this research are secondary data which consists of daily stock prices and daily share trading volume during the five days before and five days after the event. The sample of this research was taken by using purposive sampling method in order to avoid cofounding effect. The methods of this research is using paired samples t-test.
The result of this research is the absence of differences of Abnormal Return and Trading Volume Activity before and after the announcement of the increasing fuel price, it is because of the market would have predicted the increasing of the fuel price the days before.
Based on this research, the increasing of fuel price contains a bad news information, but not significanlly different. For Investors, it is not necessary for them to make the increasing fuel price as reference in decision-making, instead they should consider other external factors. For the next similiar researches,it is good to reconsider to shorten the research period to avoid cofounding effect from another external factors
vi
HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Bismillah, nek iyo mosok ora, nek ora mosok iyo, laa haula
wa laa quwwata illa billah
(KH. Hasyim Asy'ari)
Amat Victoria Curam
(Anonim)
Nobody's born smart,
there was a time Einstein couldn't count to ten,
and Shakespeare had to learn ABC's just like the rest of us.
(Anonim)
vii
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Pengaruh Kenaikan BBM terhadap Reaksi Pasar Modal di Indonesia (Studi Kasus pada Saham LQ45 : Juni 2013)”. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Allah SWT, pemilik ruh dan jasmaniku, yang dengan kuasa-Nya saya dapat menyelesaikan skripsi ini.
2. Ibu Nurul Istiqomah, S.E., M.Si, selaku pembimbing skripsi yang telah membantu saya dalam penulisan skripsi ini.
3. Drs. Supriyono, M.Si., selaku Ketua Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.
4. Seluruh dosen Jurusan Ekonomi Pembangunan yang telah membantu selama menuntut ilmu di Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret.
5. Ibu, Bapak, mbak Fida dan dek Rois atas motivasinya setiap hari
6. Melati Sekar Kinasih, Devi Anggraini, Mas Bayu Agusta Setiawan, Triangga Cakra Pribowo sebagai pembimbing skripsi bayangan.
7. Keluarga besar padepokan sama’an
viii
9. Teman Green House, Kosmut, dan Rempela atas motivasinya berupa dunhill, ceres, canda dan cercaan.
10.Saudara-saudara tak sedarahku, tanpa terkecuali, you’re all the best. 11.Semua pihak yang benar-benar membantu agar dimulainya penelitian ini.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih belum sempurna. Untuk itu saran dan kritik dari pembaca penulis harapkan demi perbaikan penelitian ini. Akhirnya, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan dan yang membutuhkan.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Surakarta, 8 Septenber 2014
ix
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... ... i
ABSTRAK ... ... ii
HALAMAN PERSETUJUAN ... ... iv
HALAMAN PENGESAHAN ... ... v
HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... .. ix
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR ... ... xiii
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 8
C. Tujuan Penelitian ... 8
D. Manfaat Penelitian ... 8
BAB II. KAJIAN PUSTAKA ... 10
A. Tinjauan Pustaka ... 10
1. Pasar Modal ... .. 10
2. Return Saham ... ... 19
x
4. Abnormal Return ... ... 22
5. Trading Volume Activity ... . 23
6. Event Study ... .... 24
7. Indeks LQ45 ... ... 27
8. Pasar Modal Efisien ... 28
9. Signalling Teory ... .. 34
B. Penelitian Terdahulu ... 37
C. Kerangka Pemikiran ... 42
D. Hipotesis ... 43
BAB III. METODE PENELITIAN ... 44
A. Ruang Lingkup Penelitian ... 44
B. Jenis dan Sumber Data ... 44
C. Teknik Pengumpulan Sampel ... . 45
D. Teknik Pengumpulan Data ... 46
E. Definisi Operasional Variabel ... 46
F. Metode Analisis Data ... .. 47
BAB IV. ANALISIS DATA ... 51
A. Deskripsi Data ... 51
B. Analisis Data ... ... 53
C. Pengujian Normalitas Data ... . 56
D. Pengujian Hipotesis ... ... 58
xi
BAB V. PENUTUP ... 64
A. Kesimpulan ... 64
B. Saran ... 65
DAFTAR PUSTAKA ... 67
xii
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1.1 APBN 2013... ... 2
Tabel 1.2 Pergerakan IHSG dan LQ45 pada tanggal 17-28 Juni 2013 ... 7
Tabel 4.1 Daftar Sampel Penelitian... 51
Tabel 4.2 Daftar Emiten yang Tidak Memenuhi Kriteria Sampel ... 53
Tabel 4.3 Rata-rata Variabel AAR dan TVA ... 54
Tabel 4.4 Uji Normalitas Data Variabel Average Abnormal Return Sebelum dan Sesudah Kenaikan BBM ... 57
Tabel 4.5 Uji Normalitas Data Variabel Trading Volume Activity Sebelum dan Sesudah Kenaikan BBM ... 58
Tabel 4.6 Hasil Uji Statistik Rata Rata Abnormal Return Sebelum dan Sesudah Kenaikan BBM ... 59
xiii
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran ... 42
1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada tanggal 22 Juni 2013 Pemerintah melalui Keputusan Menteri
Energi Sumber Daya Mineral Nomor: 07.PM/12/MPM/2013 telah
menaikkan harga BBM bersubsidi, yaitu bensin premium dari Rp. 4500 per
liternya menjadi Rp. 6500 per liternya dan solar dari Rp. 4500 per liternya
menjadi Rp. 5500 per liternya. Kenaikan harga ini akibat ditariknya subsidi
BBM oleh pemerintah. Anggaran subsidi yang ditarik akibat melonjaknya
anggaran APBN yang dapat mengakibatkan defisit anggaran (Kompas,
2013).
Penarikan subsidi pemerintah ini dikarenakan pada kuartal I APBN
2013 sudah mengalami defisit hingga Rp. 17,9 trilliun yang diakibatkan
oleh tingginya realisasi subsidi BBM dan penerimaan pendapatan melalui
pajak yang tidak sesuai target. Tingginya realisasi subsidi BBM ini didorong
oleh meningkatnya konsumsi masyarakat terhadap BBM bersubsidi
(Husein,2013).
APBN dari tahun ke tahun terus dibebani oleh peningkatan subsidi
BBM. Anggaran APBN 2013 untuk subsidi, yang meliputi subsidi energi
(subsidi BBM, subsidi listrik) dan subsidi non-energi (subsidi pangan,
subsidi pupuk, dll) mencapai total Rp. 317,2 triliun. Anggaran subsidi BBM
itu sendiri dalam APBN 2013 mencapai Rp. 198,3 triliun dari total belanja
2
dengan anggaran untuk pembangunan infrastruktur yang dapat mendorong
perekonomian Indonesia yaitu sebesar 201,3 triliun (DEPKEU, 2013).
Berikut adalah tabel rincian APBN 2013 :
Tabel 1.1 APBN 2013
(dalam miliar rupiah)
I. Penerimaan Dalam Negeri 1.525.189,50
1. Penerimaan Perpajakan 1.192.994,10
a. Pajak dalam Negeri 1.134.289,20
i. Pajak Penghasilan 584.890,40
ii. Pajak Pertambahan Nilai 423.708,30
iii. Pajak Bumi dan Bangunan 27.343,80
iv. Cukai 92.004,00
v. Pajak Lainnya 6.342,70
b. Pajak Perdagangan Internasional 58.704,90
2. Penerimaan Negara Bukan Pajak 332.195,40
a. Penerimaan SDA 197.204,90
b. Bagian Laba BUMN 33.500,00
c. PNBP Lainnya 77.991,70
d. Pendapatan BLU 23.498,70
II. Hibah 4.483,60
Total Pendapatan Negara dan Hibah 1.529.673,10
I. Belanja Pemerintah Pusat 1.154.380,90
1. Belanja Pegawai 241.606,30
2. Belanja Barang 200.735,20
3. Belanja Modal 184.363,50
4. Pembayaran Bunga Utang 113.243,80
a. Utang Dalam Negeri 80.703,30
b. Utang Luar Negeri 32.540,50
5. Subsidi 317.218,60
a. Energi 274.743,00
i. Subsidi Listrik 80,937,8
ii. Subsidi BBM 193,805,2
b. Non Energi 42.475
6. Belanja Hibah 3.621,30
7. Bantuan Sosial 73.608,80
8. Belanja Lain-lain 19.983,40
II. Transfer ke Daerah 528,630,2
Total Belanja Negara 1.683.011,1
Sumber : Depkeu, 2013 (diolah)
Dari tabel APBN 2013 diatas, subsidi untuk BBM adalah subsidi
3
merupakan pembiayaan terbesar ke-3 dalam APBN setelah belanja pegawai
dan belanja barang. Selain itu besarnya konsumsi BBM oleh masyarakat
pun membebani neraca perdagangan Indonesia. Produksi minyak mentah
atau lifting Indonesia hanya berkisar 830.000-870.000 barel per hari,
sedangkan konsumsi nasionalnya mencapai 1,4 juta barel per hari (Badan
Kebijakan Fiskal RI, 2013). Impor yang dilakukan untuk menutup
kekurangan kebutuhan konsumsi nasional inipun membebani neraca
perdagangan, defisit neraca perdagangan dimana impor menggunung jauh
melebihi ekspor mengharuskan pemerintah mengurangi subsidi guna
menekan tingkat impor. Neraca perdagangan menjadi negatif jika impor
lebih besar daripada ekspor, sehingga untuk menekan impor perlu dilakukan
pengurangan konsumsi BBM. Usaha menekan konsumsi BBM ini antara
lain dengan menaikkan harga BBM dengan menarik subsidi BBM.
Kebijakan menarik subsidi BBM ini berdampak hampir di seluruh
sektor perekonomian, baik secara makro maupun mikro. Kenaikan harga
BBM ini akan menyebabkan harga barang dan jasa naik, mengingat BBM
adalah unsur vital dalam proses produksi maupun distribusi suatu barang.
Naiknya harga barang dan jasa ini memicu naiknya inflasi suatu negara.
Kenaikan harga barang dan jasa inipun mempengaruhi daya beli
masyarakat, terutama masyarakat yang berpenghasilan tetap, yang dapat
mempengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu negara. Di sisi makro, kenaikan
BBM yang mendorong inflasi ini dapat berpengaruh pada melemahnya nilai
4
negara lain maka mata uang negara tersebut akan terdepresiasi relatif
terhadap mata uang negara lain (Hartono, 2011).
Aktifitas suatu sektor perekonomian tidak terlepas dengan
sektor-sektor perekonomian lainnya. Demikian pula pengambilan kebijakan
menurunkan subsidi BBM yang akan berpengaruh langsung pada sektor
transportasi dan sektor industri yang pada akhirnya akan berpengaruh pada
sektor-sektor perekonomian lainnya (Susilo, 2002).
Indikator ekonomi makro yang seringkali dihubungkan dengan pasar
modal ialah fluktuasi tingkat bunga, inflasi, nilai tukar rupiah dan
pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB). Secara teori, tingkat bunga
dan harga saham mempunyai hubungan yang negatif (Tandeililin, 2010).
Tingkat bunga yang terlalu tinggi akan mempengaruhi nilai yang sekarang
(present value) aliran kas perusahaan, sehingga kesempatan-kesempatan
investasi yang tidak menarik lagi. Demikian pula halnya dengan inflasi,
inflasi yang terlalu tinggi juga akan menyebabkan penurunan daya beli uang
(purchasing power of money). Kurs merupakan variabel makroekonomi
yang turut mempengaruhi volatilitas harga saham. Depresiasi mata uang
domestik akan meningkatkan volume ekspor. Bila permintaan pasar
internasional cukup elastis hal ini akan meningkatkan cash flow perusahaan
domestik, yang kemudian meningkatkan harga saham, yang tercermin pada
IHSG. Depresiasi kurs akan menaikkan harga saham yang tercermin pada
IHSG dalam perekonomian yang mengalami inflasi. Produk Domestik Bruto
(PDB) termasuk faktor yang mempengaruhi perubahan harga saham. PDB
5
Dengan meningkatnya jumlah barang konsumsi menyebabkan
perekonomian bertumbuh, dan meningkatkan skala omset penjualan
perusahaan, karena masyarakat yang bersifat konsumtif. Dengan
meningkatnya omset penjualan maka keuntungan perusahaan juga
meningkat. Peningkatan keuntungan menyebabkan harga saham perusahaan
tersebut juga meningkat, yang berdampak pada pergerakan IHSG (Kewal,
2012).
Pasar Modal sebagai salah satu instrumen perekonomian tidak terlepas
dari pengaruh yang berkembang di lingkungannya, baik itu faktor internal
perusahaan seperti keadaan para emiten, laporan kinerja, pembagian dividen
dan rapat umum pemegang saham, maupun faktor eksternal seperti
perubahan kebijakan pemerintah menyangkut perekonomian nasional,
ataupun faktor-faktor sosial dan politik yang dapat mengganggu stabilitas
suatu negara. Komitmen pemerintah terhadap peran pasar modal tercermin
di dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun1995 tentang
pasar modal, dimana dinyatakan bahwa pasar modal mempunyai peran
strategis dalam pembangunan nasional, sebagai salah satu sumber
pembiayaan bagi dunia usaha dan wahana investasi masyarakat.
Resiko investasi di pasar modal pada prinsipnya terkait erat dengan
terjadinya volatilitas harga saham, dimana naik turunnya harga saham ini
ditentukan oleh suatu informasi, baik itu informasi yang membawa kabar
baik, yang dapat menyebabkan harga saham naik, atau informasi yang
mengandung kabar buruk yang dapat menyebabkan harga saham turun.
6
ekonomi mikro dan makro saja, akan tetapi juga di pengaruhi oleh informasi
non-ekonomi, seperti peristiwa bernuansa politik dan bencana alam
(Setyawan, 2006).
Pengujian kandungan informasi dimaksudkan untuk melihat reaksi
dari suatu pengumuman. Jika pengumuman mengandung informasi, pasar
diharapkan akan bereaksi pada waktu pengumuman tersebut diterima oleh
pasar. Reaksi pasar tersebut ditunjukkan dengan adanya perubahan harga
sekuritas yang bersangkutan dimana reaksi ini dapat diukur dengan
Abnormal Return (Jogiyanto, 2010:556). Trading Volume Activity
merupakan suatu instrumen yang dapat digunakan untuk melihat reaksi
pasar modal terhadap informasi melalui parameter pergerakan aktivitas
volume perdagangan di pasar modal (Suryawijaya dkk, 1998).
Pergerakan pasar saham biasanya ditentukan oleh saham-saham
berkapitalisasi pasar besar dengan volume perdagangan yang tinggi
dibandingkan dengan saham-saham berkapitalisasi pasar kecil.
Saham-saham berkapitalisasi pasar besar ini tergabung dalam LQ-45. Biasanya
investor cenderung untuk mentransaksikan saham-saham ini karena
sebagian besar adalah perusahaan yang sudah mapan sehingga kecil
kemungkinannya untuk bangkrut, selalu menerbitkan laporan keuangan
tahunan, dan membagikan dividen tiap tahun dan penggerak utama kenaikan
atau penurunan IHSG (Anggraini, 2011).
Berikut ini adalah daftar IHSG dan indeks LQ-45, 5 hari sebelum dan
7
Tabel 1.2
Pergerakan IHSG dan LQ 45 pada tanggal 17-28 Juni 2013
Tanggal IHSG LQ 45
17/06/2013 4,774.5040 792.7060 18/06/2013 4,840.4520 803.8770 19/06/2013 4,806.6560 795.8920 20/06/2013 4,629.9940 760.6040 21/06/2013 4,515.3720 736.2630 24/06/2013 4,429.4600 724.2470 25/06/2013 4,418.8720 719.5750 26/06/2013 4,587.7280 755.4600 27/06/2013 4,675.7490 773.3870 28/06/2013 4,818.8950 803.9990 Sumber : Dunia Investasi (diolah)
Kenaikan BBM pada tanggal 22 Juni 2013 bertepatan dengan hari
Sabtu dimana seluruh bursa saham libur. Bursa saham kembali dibuka pada
hari Senin 24 Juni 2013. Satu hari sebelum kenaikan harga BBM, IHSG
ditutup pada posisi 4,515.372 dan LQ 45 ditutup pada posisi 736.2630.
Sehari sesudah kenaikan harga BBM, IHSG ditutup pada posisi 4,429.460
dan LQ 45 pada posisi 724.2470. Terjadi penurunan harga saham
perusahaan pada IHSG dan LQ 45 sesudah kenaikan harga BBM.
Berdasarkan kondisi tersebut diatas maka penelitian ini berusaha
mengkaji kaitan antara perubahan harga saham dan aktivitas volume
perdagangan di Bursa Efek Indonesia terhadap kenaikan harga BBM yang
terjadi pada bulan Juni tahun 2013. Dengan judul penelitian “Pengaruh
Kenaikan BBM Juni 2013 Terhadap Reaksi Pasar Modal Di Bursa
8 B. Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan
permasalahan yaitu :
1. Apakah terdapat perbedaan Abnormal Return sebelum dan sesudah
kenaikan harga BBM pada tanggal 22 Juni 2013.
2. Apakah terdapat perbedaan Trading Volume Activity sebelum dan
sesudah kenaikan harga BBM pada tanggal 22 Juni 2013.
C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk melihat
reaksi pasar sebelum dan sesudah kenaikan BBM pada 22 Juni 2013.
1. Untuk menganalisis ada tidaknya perbedaan Abnormal Return
sebelum dan sesudah kenaikan harga BBM pada tanggal 22 Juni 2013.
2. Untuk menganalisis ada tidaknya perbedaan Trading Volume Activity
sebelum dan sesudah kenaikan harga BBM pada tanggal 22 Juni 2013.
D. Manfaat Penelitian
Manfaaat yang diharapkan dapat diperoleh dari hasil penelitian ini
adalah
1. Bagi emiten yang sudah mencatatkan sahamnya di Bursa Efek
Indonesia akan mengetahui pengaruh suatu pengumuman ekonomi
sehingga akan dapat memperkirakan dampaknya di masa yang akan
9
2. Bagi investor akan memberikan informasi mengenai pengaruh suatu
pengumuman ekonomi sehingga akan dapat menentukan strategi
investasi yang tepat.
3. Bagi peneliti akan menambah referensi untuk penelitian sejenis di
10 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Tinjauan Pustaka
1. Pasar Modal
Pada dasarnya, pasar modal sama seperti pasar pada umumnya, yaitu
tempat bertemunya antara penjual dan pembeli. Di pasar modal, yang
diperjualbelikan adalah modal berupa hak pemilikan perusahaan dan
surat pernyataan hutang perusahaan. Pembeli modal adalah individu atau
organisasi/lembaga yang bersedia menyisihkan kelebihan dananya untuk
melakukan kegiatan yang menghasilkan pendapatan melalui pasar modal,
sedangkan penjual modal adalah perusahaan yang memerlukan modal
atau tambahan modal untuk keperluan usahanya.
Menurut Jogiyanto (2010:29), pasar modal merupakan sarana
perusahaan untuk meningkatkan kebutuhan dana jangka panjang dengan
menjual saham atau mengeluarkan obligasi. Pasar modal berfungsi
sebagai sarana alokasi dana yang produktif untuk memindahkan dana
dari pemberi pinjaman ke peminjam. Alokasi dana yang produktif terjadi
jika individu yang mempunyai kelebihan dana dapat meminjamkannya
ke individu lain yang lebih produktif yang membutuhkan dana. Dalam
arti sempit, pasar modal adalah suatu pasar (tempat, berupa gedung) yang
disiapkan guna memperdagangkan saham, obligasi, dan jenis surat
berharga lainnya dengan memakai jasa para perantara pedagang efek.
Menurut UU No. 8 tahun 1995 tentang pasar modal, pasar modal
11
perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang
diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek.
Secara formal pasar modal dapat didefinisikan sebagai pasar untuk
berbagai instrumen keuangan (atau sekuritas) jangka panjang yang
diperjual belikan, baik dalam bentuk hutang ataupun modal sendiri, baik
yang diterbitkan oleh pemerintah, maupun perusahaan swasta. Namun
secara lebih sederhana, pasar modal adalah tempat untuk menerbitkan
atau memperdagangkan surat-surat berharga jangka panjang, khususnya
saham dan obligasi.
Menurut Jogiyanto (2010) pasar modal dibedakan menjadi 2 yaitu
pasar perdana dan pasar sekunder :
a. Pasar Perdana adalah penawaran saham pertama kali dari emiten
kepada para pemodal selama waktu yang ditetapkan oleh pihak
penerbit (issuer) sebelum saham tersebut belum diperdagangkan di
pasar sekunder. Biasanya dalam jangka waktu sekurang-kurangnya
6 hari kerja. Harga saham di pasar perdana ditentukan oleh
penjamin emisi dan perusahaan yang go public berdasarkan analisis
fundamental perusahaan yang bersangkutan. Dalam pasar perdana,
perusahaan akan memperoleh dana yang diperlukan. Perusahaan
dapat menggunakan dana hasil emisi untuk mengembangkan dan
memperluas barang modal untuk memproduksi barang dan jasa.
Selain itu dapat juga digunakan untuk melunasi hutang dan
memperbaiki struktur pemodalan usaha. Harga saham pasar
12
pialang, tidak dikenakan komisi dengan pemesanan yang dilakukan
melalui agen penjualan.
b. Pasar sekunder adalah tempat terjadinya transaksi jual-beli saham
diantara investor setelah melewati masa penawaran saham di pasar
perdana, dalam waktu selambat-lambatnya 90 hari setelah ijin
emisi diberikan maka efek tersebut harus dicatatkan di bursa.
Dengan adanya pasar sekunder para investor dapat membeli dan
menjual efek setiap saat. Sedangkan manfaat bagi perusahaan,
pasar sekunder berguna sebagai tempat untuk menghimpun
investor lembaga dan perseorangan. Harga saham pasar sekunder
berfluktuasi sesuai dengan ekspetasi pasar, pihak yang berwenang
adalah pialang, adanya beban komisi untuk penjualan dan
pembelian, pemesanannya dilakukan melalui anggota bursa, jangka
waktunya tidak terbatas.
Berikut adalah produk-produk pasar modal :
a. Saham (Stocks)
Menurut Jogiyanto (2010:111) suatu perusahaan dapat menjual
hak kepemilikannya dalam bentuk saham (stocks). Saham dibagi
menjadi 2 jenis yaitu :
1) Saham Preferen.
Menurut Jogiyanto (2010:111-112) Saham preferen
mempunyai sifat gabungan (hybrid) antara obligasi (bond) dan
saham biasa. Seperti bond membayarkan bunga atas pinjaman,
13
dividen preferen. Seperti saham biasa, dalam hal likuidasi, klaim
pemegang saham preferen di bawah klaim pemegang obligasi
(bond).
Beberapa karakterisitik dari saham preferen antara lain:
a) Preferen terhadap dividen yaitu pemegang saham preferen
mempunyai hak untuk menerima dividen terlebih dahulu
dibandingkan dengan pemegang saham biasa. Saham
preferen umumnya juga memberikan dividen kumulatif,
yaitu memberikan hak kepada pemegangnya untuk
menerima dividen tahun-tahun sebelumnya yang belum
dibayarkan sebelum pemegang saham biasa menerima
dividennya.
b) Preferen pada waktu likuidasi yaitu saham preferen
mempunyai hak terlebih dahulu atas aktiva perusahaan
dibandingkan dengan hak yang dimiliki oleh saham biasa
pada saat terjadi likuidasi.
2) Saham biasa
Menurut Jogiyanto (2010, 116-117), jika perusahaan hanya
mengeluarkan satu kelas saham saja, saham ini biasanya dalam
bentuk saham biasa (common stock). Pemegang saham adalah
pemilik dari perusahaan yang mewakilkan kepada manajemen
untuk menjalankan operasi perusahaan. Sebagai pemilik
14
Beberapa hak yang dimiliki oleh pemegang saham antara
lain:
a) Hak Kontrol, yaitu pemegang saham biasa mempunyai hak
untuk memilih dewan direksi.
b) Hak menerima pembagian keuntungan yaitu sebagai
pemilik perusahaan, pemegang saham biasa berhak
mendapat bagian dari keuntungan perusahaan.
c) Hak Preemptif (preemtive right) merupakan hak untuk
mendapatkan persentasi pemilikan yang sama jika
perusahaan mengeluarkan tambahan lembar saham.
Menurut Alwi (2003, 87) Faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi pergerakan harga saham, yaitu:
1) Faktor Internal (Lingkungan mikro), diantaranya antara lain:
a) Pengumuman tentang pemasaran, produksi, penjualan
seperti pengiklanan, rincian kontrak, perubahan harga,
penarikan produk baru, laporan produksi, laporan keamanan
produk, dan laporan penjualan.
b) Pengumuman pendanaan (financing announcements),
seperti pengumuman yang berhubungan dengan ekuitas dan
hutang.
c) Pengumuman badan direksi manajemen (
management-board of director announcements) seperti perubahan dan
15
d) Pengumuman pengambilalihan diversifikasi, seperti laporan
merger, investasi ekuitas, laporan take over oleh
pengakuisisian dan diakuisisi, laporan divestasi dan lainnya.
e) Pengumuman investasi (investment announcements), seperti
Stock Split, yaitu kebijakan perusahaan memecah nilai
nominal saham, sehingga harga saham akan menjadi lebih
murah dan jumlah saham yang beredar menjadi meningkat
dengan tujuan agar saham tersebut lebih menarik bagi
investor sehingga menjadi liquid atau ramai diperdagangkan
dan kebijakan lainnya
f) Pengumuman ketenagakerjaan (labour announcements),
seperti negoisasi baru, kontrak baru, pemogokan dan
lainnya.
g) Pengumuman laporan keuangan perusahaan, seperti
peramalan laba sebelum akhir tahun fiskal dan setelah akhir
tahun fiskal, earning per share (EPS) dan dividen per share
(DPS), price earning ratio, net profit margin, return on
assets (ROA), dan lain-lain.
2) Faktor eksternal (Lingkungan makro), diantaranya antara lain :
a) Pengumuman dari pemerintah seperti perubahan suku
bunga tabungan dan deposito, kurs valuta asing, inflasi,
serta berbagai regulasi dan deregulasi ekonomi yang
16
b) Pengumuman hukum (legal announcements), seperti
tuntutan karyawan terhadap perusahaan atau terhadap
manajernya dan tuntutan perusahaan terhadap manajernya.
c) Pengumuman industri sekuritas (securities announcements),
seperti laporan pertemuan tahunan, insider trading, volume
atau harga saham perdagangan, pembatasan/penundaaan
trading.
d) Gejolak politik dalam negeri dan fluktuasi nilai tukar juga
merupakan faktor yang berpengaruh signifikan pada
terjadinya pergerakan harga saham di bursa efek suatu
negara.
e) Berbagai isu baik dari dalam negeri dan luar negeri.
b. Obligasi (Bond)
Obligasi (bond) dapat didefinisikan sebagai utang jangka
panjang yang akan dibayar kembali pada saat jatuh tempo dengan
bunga yang tetap jika ada (Jogiyanto , 2010:152). Jadi surat obligasi
adalah selembar kertas yang menyatakan bahwa pemilik kertas
tersebut telah membeli hutang perusahaan yang menerbitkan
obligasi. Penerbit membayar bunga atas obligasi tersebut pada
tanggal-tanggal yang telah ditentukan secara periodik, dan pada
akhirnya menebus nilai utang tersebut pada saat jatuh tempo dengan
mengembalikan jumlah pokok pinjaman ditambah bunga yg
terutang. Pada umumnya, instrumen ini memberikan bunga yang
17
nilai obligasi naik dan sebaliknya jika bunga meningkat, nilai
obligasi turun.
Obligasi digolongkan sebagai efek yang memberikan
penghasilan tetap karena penerbit (issuer) menjanjikan kepada
pemegang obligasi untuk membayar bunga periodik tetap dan
membayar jumlah prinsipal tetap pada atau sebelum jatuh waktu.
Bunga obligasi umumnya dibayarkan setiap jumlah waktu yang
tetap, misalnya setiap 3 bulan, 6 bulan, atau 1 tahun. Besarnya bunga
tergantung dari kupon. Selain itu seperti halnya saham biasa, obligasi
juga mengenal penghasilan dari capital gain yang bisa terjadi apabila
saat pemegang obligasi melakukan penjualan obligasinya,
mendapatkan harga yang lebih tinggi dari harga ketika saat
membelinya.
c. Reksa Dana (Mutual Funds)
Menurut Jogiyanto (2010:575) Reksa dana (Mutual Fund)
merupakan portofolio yang dibentuk oleh perusahaan reksa dana dan
dijual kembali kepada masyarakat dalam bentuk unit penyertaan.
Salah satu tujuan dari reksa dana adalah meminimumkan risiko tidak
sistematik (dengan membentuk portofolio) dan untuk menghasilkan
return yang tinggi. Jika reksa dana dapat menghasilkan return yang
tinggi yang tidak normal, hal ini bertentangan dengan hipotesis pasar
efisien. Jika hal ini terjadi, yaitu reksa dana dapat memperoleh
Abnormal Return yang berlebihan, kemungkinan manajer reksa dana
18 d. Surat Berharga Lainnya
Selain Saham, Obligasi dan Reksa Dana yang sudah banyak
digunakan sebagai media hutang di bursa efek Indonesia, terdapat
beberapa jenis efek yang merupakan produk derivative atau produk
turunan dari saham yang juga dapat digunakan sebagai media
hutang, seperti option, warrant, dan right.
1) Right merupakan produk derivative (turunan) dari saham yang
berupa surat berharga yang memberikan hak bagi pemodal
untuk membeli saham baru yang dikeluarkan emiten pada harga
tertentu dan pada waktu yang telah ditetapkan. Right diberikan
pada pemegang saham lama yang berhak untuk mendapatkan
tambahan saham baru yang dikeluarkan perusahaan pada second
offering. Masa perdagangan right berkisar antara 1-2 minggu
saja. Right merupakan efek yang memberikan hak kepada
pemegang saham saat ini untuk memiliki terlebih dahulu saham
baru yang dikeluarkan oleh emiten dengan tujuan agar para
pemegang saham lama diberi kesempatan untuk
mempertahankan presentase kepemilikan dalam suatu
perusahaan. Dalam Right Issue, perseroan menawarkan hak
(right) kepada pemegang saham yang ada untuk mendapatkan
saham baru yang berarti menyetor modal dengan rasio tertentu,
jika pemegang saham tersebut tidak mengambil haknya, maka ia
19
2) Sama seperti Right, Warrant merupakan produk derivative
(turunan) dari saham yang memberikan hak untuk membeli
sebuah saham pada harga yang telah ditetapkan pada waktu
yang telah ditetapkan pula. Namun, sifat dari Warrant melekat
pada obligasi.
3) Opsi (Option) merupakan produk derivative dari saham yang
memberikan hak kepada pemiliknya untuk menjual atau
membeli sejumlah aset finansial tertentu pada harga dan jangka
waktu tertentu. Terdapat dua jenis opsi (option), yaitu Put
Option atau Hak untuk membeli dan Call Option atau Hak untuk
menjual.
2. Return Saham
Menurut Jogiyanto (2010:205), return saham adalah hasil yang
diperoleh dari suatu investasi. Return merupakan salah satu faktor
membuat investor termotivasi untuk terus berinvestasi dan sekaligus
sebagai imbalan atas segala keberanian dalam berinvestasi dan
menanggung risiko. Hubungan antara return dan risiko yang diharapkan
adalah hubungan yang searah atau linier, artinya semakin tinggi risiko
yang ditanggung semakin tinggi pula return yang mungkin akan
diperoleh dari suatu aset, hal ini juga terjasi sebaliknya. Dalam
karakteristik suatu investasi terdapat suatu aset investasi tertentu dimana
terdapat return yang tetap (biasanya cenderung kecil) namun bebas
20
Sumber-sumber return dari investasi terdiri dari dua komponen
utama, yaitu yield dan capital gain/loss. Yield merupakan komponen
return yang mencerminkan aliran kas atau pendapatan yang diperoleh
suatu investasi secara periodik. Dalam instrumen saham kita
mengenalnya sebagai dividen yang hanya akan berupa angka nol atau
positif. Sedangkan capital gain/loss merupakan kenaikan atau penurunan
nilai dari suatu surat berharga dapat berupa minus, angka nol dan positif.
Return dapat berupa realized return (return realisasi/sesungguhnya) yaitu
return yang sudah terjadi dan expected return yaitu return yang belum
terjadi tetapi diharapkan terjadi di masa mendatang. Return realisasi
merupakan return yang telah terjadi yang dihitung berdasarkan data
historis dan dapat digunakan sebagai salah satu pengukur kinerja dari
perusahaan, dan sebagai dasar penentu return ekspektasi serta risiko di
masa mendatang (Jogiyanto, 2010).
Return sesungguhnya merupakan return yang terjadi pada waktu ke-t
yang merupakan selisih harga sekarang relatif terhadap harga
sebelumnya. Return saham (Ri,t) sesungguhnya diperoleh dari harga
saham harian sekuritas i pada periode t (Pi,t) dikurangi harga saham
harian sekuritas i pada periode t-1 (Pi,t-1), dibagi harga saham harian
sekuritas i pada periode t-1 (Pi,t-1), lebih jelasnya dapat diformulasikan,
sebagai berikut (Jogiyanto, 2010:207):
��, � =��, � − ��, �-1��, �-1
Keterangan:
21
Pi, t : Harga saham harian sekuritas i pada periode t
Pi,t-1 : harga saham harian sekuritas i pada periode t-1
3. Expected Return
Expected Return merupakan return yang digunakan untuk
pengambilan keputusan investasi. Expected Return penting jika
dibandingkan dengan return historis karena Expected Return merupakan
return yang diharapkan dari investasi yang akan dilakukan (Jogiyanto,
2010:222). Dengan kata lain, Expected Return adalah return yang
diharapkan investor yang akan diperoleh di masa yang akan datang
dimana sifatnya belum terjadi. Menurut Brown dan Warner (1985) dalam
Jogiyanto (2010:580) terdapat beberapa model dalam mengestimasi
Expected Return, dalam penelitian ini digunakan Market-adjusted Model.
Model disesuaikan pasar (Market-adjusted Model) menganggap
bahwa penduga yang terbaik untuk mengestimasi return suatu sekuritas
adalah return indeks pasar pada saat tersebut. Dengan menggunakan
model ini, maka tidak perlu menggunakan periode estimasi untuk
membentuk model estimasi karena return sekuritas yang diestimasi
adalah sama dengan return indeks pasar.
�[��, �] = ����
Keterangan :
E[Ri,t] : Expected Return sekuritas ke-i pada periode
peristiwa ke-t
RM,i,t : return pasar dari sekuritas ke-i pada periode
22
Dalam penelitian ini, Expected Return dihitung dengan
menggunakan Market-adjusted Model karena model ini mengestimasi
return sekuritas sebesar return indeks pasarnya sehingga tidak perlu
menggunakan periode estimasi. Hal ini dilakukan untuk meyakinkan
peneliti bahwa reaksi yang terjadi adalah akibat dari peristiwa yang
diamati dan bukan karena peristiwa lain yang bias mempengaruhi
peristiwa yang akan diamati tersebut.
4. Abnormal Return
Menurut Jogiyanto (2010:579), Abnormal Return merupakan
kelebihan dari return yang sesungguhnya terjadi terhadap normal return
yang merupakan return yang diharapkan oleh investor (expected return).
Selisih return akan positif jika return yang didapatkan lebih besar dari
return yang diharapkan atau return yang dihitung. Sedangkan return
akan negatif jika return yang didapat lebih kecil dari return yang
diharapkan atau return yang dihitung.
Menurut Jogiyanto (2010), studi peristiwa menganalisis return tidak
normal dari sekuritas yang mungkin terjadi disekitar pengumuman dari
suatu peristiwa. Abnormal Return atau excess return merupakan
kelebihan dari return yang sesungguhnya terjadi terhadap return normal.
Sehingga dapat disimpulkan, bahwa Abnormal Return terjadi karena
dipicu oleh adanya kejadian atau peristiwa tertentu, misalnya hari libur
nasional, suasana politik, kejadian-kejadian luar biasa, stock split,
23
selisih antara return sesungguhnya yang terjadi dengan return ekspektasi.
Formulasinya adalah, sebagai berikut (Jogiyanto, 2010:580):
���, � = ��, � − �[��, �]
Keterangan:
ARi,t : abnormal return sekuritas ke-i pada periode peristiwa ke-t.
Ri,t : return sesungguhnya yang terjadi untuk sekuritas ke-i pada
periode peristiwa ke-t.
E [Ri,t] : return ekspektasi sekuritas ke-i untuk periode peristiwa ke-t.
5. Trading Volume Activity
Volume perdagangan saham merupakan rasio antara jumlah lembar
saham yang diperdagangkan pada waktu tertentu terhadap jumlah saham
yang beredar pada waktu tertentu (Suad Husnan dkk, 2005). Jumlah
saham yang diterbitkan tercermin dalam jumlah lembar saham saat
perusahaan tersebut melakukan emisi saham.
Perkembangan volume perdagangan saham mencerminkan kekuatan
antara penawaran dan permintaan yang merupakan manifestasi dari
tingkah laku investor (Robert Ang, 1997). Naiknya volume perdagangan
merupakan kenaikan aktivitas jual beli para investor di bursa. Semakin
meningkat volume penawaran dan permintaan suatu saham, semakin
besar pengaruhnya terhadap fluktuasi harga saham di bursa, dan semakin
meningkatnya volume perdagangan saham menunjukkan semakin
diminatinya saham tersebut oleh masyarakat sehingga akan membawa
24
Ditinjau dari fungsinya Trading Volume Activity (TVA) merupakan
suatu variasi dari event study. Hasil perhitungan TVA mencerminkan
perbandingan antara jumlah saham yang diperdagangkan dengan jumlah
saham yang beredar dalam suatu periode tertentu. Jadi, TVA diukur
dengan formulasi sebagai berikut (Foster, 1986 dalam Husnan, dkk,
1996):
��� =∑ sa�am semua �erusa�aan yang d��erdagangkan �ada �aktu t∑ sa�am semua �erusa�aan yang beredar �ada �aktu t
Pengukuran likuiditas saham dilakukan dengan melihat Trading
Volume Activity ( TVA ). Trading Volume Activity ( TVA ) merupakan
suatu instrumen yang dapat digunakan untuk melihat reaksi pasar
terhadap suatu informasi melalui parameter pergerakan aktivitas volume
perdagangan di pasar modal dikarenakan nilai TVA berbanding lurus
dengan likuiditas saham, semakin tinggi nilai TVA sebuah saham
mempunyai makna bahwa suatu saham dapat dijual dengan mudah
karena banyak yang bersedia membeli saham tersebut sehingga saham
tersebut mudah dikonversikan menjadi uang kas.
6. Event Study
Jogiyanto (2010:555), menyatakan event study merupakan studi yang
mempelajari reaksi pasar terhadap suatu peristiwa yang infomasinya
dipublikasikan sebagai suatu pengumuman. Event study dapat digunakan
25
pengumuman dan dapat juga digunakan untuk menguji efisiensi pasar
bentuk setengah kuat.
Bhattacharya (2000) dalam Anggraini (2011) menyatakan Event
study merupakan pendekatan yang menganalisis harga saham sekitar
waktu pengumuman informasi atau event tertentu. Studi ini dapat
digunakan untuk mengungkapkan kandungan informasi dari suatu
pengumuman.
Terdapat dua tipe event study yang ada di pasar modal, yaitu:
a. Market efficiency
Ditujukan untuk menilai seberapa cepat dan seberapa benar reaksi
pasar terhadap informasi baru.
b. Information usefullness
Digunakan untuk menilai tingkatan mana hasil imbal pasar bereaksi
terhadap munculnya informasi baru.
Informasi yang relevan dengan kondisi pasar modal merupakan
sesuatu yang selalu dicari para pelaku pasar modal dalam upaya
melakukan pengambilan keputusan investasi. Namun tidak semua
informasi merupakan informasi yang berharga. Sebagian besar dari
informasi tersebut adalah informasi yang tidak relevan dengan aktivitas
pasar modal, akibatnya para pelaku pasar modal harus secara tepat
memilih-milih informasi yang baik untuk dijadikan pertimbangan
pengambilan keputusan, yang dimaksud dengan informasi yang baik
26
serta informasi yang memiliki distorsi minimal selama
pendistribusiannya.
Pengujian kandungan informasi dan pengujian efisiensi pasar bentuk
setengah kuat merupakan dua pengujian yang berbeda. Pengujian
kandungan informasi dimaksudkan untuk melihat reaksi dari suatu
pengumuman. Jika pengumuman mengandung informasi (information
content), maka diharapkan pasar akan bereaksi pada waktu pengumuman
tersebut diterima oleh pasar. Reaksi pasar ditunjukkan dengan adanya
perubahan harga dari sekuritas yang bersangkutan. Reaksi ini dapat
diukur dengan menggunakan return sebagai nilai perubahan harga atau
dengan menggunakan Abnormal Return. Jika digunakan Abnormal
Return, maka dapat dikatakan bahwa suatu pengumuman yang
mempunyai kandungan informasi akan memberikan Abnormal Return
kepada pasar (Jogiyanto,2010:556).
Pengujian kandungan informasi hanya menguji reaksi dari pasar,
tetapi tidak menguji seberapa cepat pasar itu bereaksi. Jika pengujian
melibatkan kecepatan reaksi dari pasar untuk menyerap informasi yang
diumumkan, maka pengujian ini merupakan pengujian efisiensi pasar
secara informasi (informational market) bentuk setengah kuat. Pasar
dikatakan efisien bentuk setengah kuat jika tidak ada investor yang
memperoleh Abnormal Return dari informasi yang diumumkan atau jika
memang ada Abnormal Return, maka pasar harus bereaksi dengan cepat
27
�� �� − =�� �� � � ×�� �� �� �
keseimbangan yang baru. Selain Abnormal Return, reaksi pasar dapat
juga melalui volume perdagangan saham.
7. Indeks LQ-45
Pasar modal di Indonesia masih tergolong pasar modal yang
transaksinya tipis (thin market), yaitu pasar modal yang sebagian besar
sekuritasnya kurang aktif diperdagangkan. IHSG yang mencakup semua
saham yang tercatat (sebagian besar saham tidak aktif) dianggap kurang
tepat sebagai indikator kegiatan pasar modal. Oleh karena itu, pada
tanggal 24 Februari 1997 dikenalkan alternatif indeks yang lain, yaitu
Indeks Likuid-45 (ILQ-45).
Indeks LQ-45 dimulai pada tanggal 13 Juli 1994 dan tanggal ini
merupakan hari dasar indeks dengan nilai awal 100. Indeks ini dibentuk
hanya dari 45 saham-saham yang paling aktif diperdagangkan.
Pertimbangan pertimbangan yang mendasari pemilihan saham yang
masuk di ILQ-45 adalah likuiditas dan kapitalisasi pasar dengan kriteria
sebagai berikut (Jogiyanto, 2010:106):
a. Selama 12 bulan terakhir, rata-rata transaksi saham masuk dalam
urutan 60 terbesar dari total transaksi saham di pasar regular.
b. Selama 12 bulan terakhir, rata-rata nilai kapitalisasi pasarnya masuk
dalam urutan 60 terbesar di pasar reguler.
c. Telah tercatat di BEI paling tidak selama 3 bulan. Pembobotan
dalam perhitungan Indeks LQ-45 sama dengan perhitungan pada
28 Keterangan:
Indeks LQ-45t : indeks LQ-45 hari ke-t
Nilai Pasar : rata-rata tertimbang nilai pasar (jumlah lembar
tercatat di bursa dikalikan dengan harga pasar
perlembarnya) dari saham umum dan saham
preferen pada hari ke-t
Nilai Dasar : sama dengan nilai pasar tetapi dimulai dari
tanggal 13 Juli 1994
Bursa Efek Indonesia secara rutin memantau perkembangan kinerja
komponen saham yang masuk dalam perhitungan indeks LQ-45. Setiap 3
bulan review pergerakan ranking saham akan digunakan dalam kalkulasi
indeks LQ-45, sedangkan pergantian saham akan dilakukan setiap 6
bulan sekali, yaitu pada bulan Februari dan Agustus. Apabila terdapat
saham yang tidak memenuhi kriteria seleksi indeks LQ-45, maka saham
tersebut dikeluarkan dari perhitungan indeks dan diganti dengan saham
lain yang lebih memenuhi kriteria.
8. Pasar Modal Efisien
Jogiyanto (2010:529) menerangkan bahwa Fama (1970)
mendefinisikan pasar yang efisien sebagai: Suatu pasar sekuritas
dikatakan efisien jika harga-harga sekuritas “mencerminkan secara
penuh” informasi yang tersedia (a security market is efficient if security
prices “fully reflect” the information available). Definisi dari Fama ini
29
available”. Pengertiannya adalah jika harga dari sekuritas secara akurat
mencerminkan informasi yang ada dan dengan menggunakan informasi
yang tersedia, investor-investor secara akurat dapat mengekspektasi
harga dari sekuritas bersangkutan.
Informasi yang masih perlu diolah lebih lanjut, ketersediaan
informasi saja tidak menjamin pasar akan efisien. Untuk mengolah
informasi semacam ini dengan benar, pelaku pasar harus canggih
(sophisticated). Jika hanya sebagian saja pelaku pasar yang canggih,
maka kelompok ini dapat menikmati Abnormal Return disebabkan
mereka dapat menginterpretasikan informasi yang lebih benar
dibandingkan dengan kelompok pelaku pasar yang kurang atau tidak
canggih (naive). Efisiensi pasar jika semua informasi tersedia dan semua
pelaku pasar dapat mengambil keputusan dengan canggih, maka dapat
dikatakan sebagai efisiensi pasar secara keputusan (decisionally efficient
market).
Efisiensi pasar secara keputusan juga merupakan efisiensi pasar
bentuk setengah kuat menurut versi Fama yang didasarkan pada
informasi yang didistribusikan. Perbedaannya adalah jika efisiensi pasar
secara informasi (informationally efficient market) hanya
mempertimbangkan sebuah faktor saja yaitu ketersediaan informasi.
Sedangkan efisiensi pasar secara keputusan (decisionally efficient
market) mempertimbangkan dua buah faktor, yaitu ketersediaan
30
Menurut Fama (1970) dalam Jogiyanto (2010:519), menyajikan tiga
macam bentuk utama dari efisiensi pasar berdasarkan ketiga macam
bentuk dari informasi, yaitu informasi masa lalu, informasi sekarang
yang sedang dipublikasikan dan informasi privat, sebagai berikut:
a. Efisiensi pasar bentuk lemah (weak form).
Pasar dikatakan efisiensi dalam bentuk lemah jika harga-harga
dari sekuritas tercermin secara penuh (fully reflect) informasi masa
lalu. Informasi masa lalu ini merupakan informasi yang sudah
terjadi. Efisiensi pasar bentuk lemah ini berkaitan dengan teori
langkah acak (random walk theory) yang menyatakan bahwa data
masa lalu tidak berhubungan dengan nilai sekarang. Jika pasar
efisien bentuk lemah, maka nilai-nilai masa lalu tidak dapat
digunakan untuk memprediksi harga sekarang. Ini berarti bahwa
untuk pasar yang efisien bentuk lemah, investor tidak dapat
menggunakan informasi masa lalu untuk mendapatkan keuntungan
yang tidak normal.
b. Efisiensi pasar bentuk setengah kuat (semistrong form).
Pasar dikatakan efisiensi pasar bentuk setengah kuat (semistrong
form) jika harga-haga sekuritas secara penuh mencerminkan (fully
reflect) semua informasi yang dipublikasikan (all publicly available
information), termasuk informasi yang berada dalam laporan-laporan
keuangan perusahaan emiten. Informasi yang dipublikasikan dapat
31
1) Informasi yang dipublikasikan yang mempengaruhi harga
sekuritas dari perusahaan yang mempublikasikan informasi
tersebut. Informasi yang dipublikasikan ini merupakan informasi
dalam bentuk pengumuman oleh perusahaan emiten. Informasi
ini umumnya berhubungan dengan peristiwa yang terjadi di
perusahaan emiten (corporate event). Contoh dari informasi
yang dipublikasikan ini misalnya adalah pengumuman laba,
pengumuman pembagian dividen, pengumuman pengembangan
prroduk baru, pengumuman merjer dan akuisisi, pengumuman
perubahan metode akuntasi, pengumuman pergantian pemimpin
perusahaan dan lain sebagainya.
2) Informasi yang dipublikasikan yang mempengaruhi harga-harga
sekuritas sejumlah perusahaan. Informasi yang dipublikasikan
ini dapat berupa peraturan pemerintah atau peraturan dari
regulator yang hanya berdampak pada hargaharga sekuritas
perusahaan-perusahaan yang terkena regulasi tersebut. Contoh
dari informasi ini misalnya adalah regulasi untuk meningkatkan
kebutuhan cadangan (reserved requirement) yang harus
dipenuhi oleh semua bank-bank. Informasi ini akan
rnempengaruhi secara langsung harga sekuritas tidak hanya
sebuah bank saja, tetapi mungkin semua emiten di dalam
industri perbankan.
3) Informasi yang dipublikasikan yang mempengaruhi harga-harga
32
Informasi ini dapat berupa peraturan pemerintah atau peraturan
dari regulator yang berdampak ke semua perusahaan emiten.
Contoh dari regulasi ini adalah peraturaan akuntansi untuk
mencantumkan laporan arus kas yang harus dilakukan oleh
semua perusahaan. Regulasi ini akan mempunyai dampak ke
harga sekuritas tidak hanya untuk sebuah perusahaan saja atau
perusahaan-perusahaan di suatu industri, tetapi mungkin
berdampak langsung pada semua perusahaan.
Jika pasar efisien dalam bentuk setengah kuat, maka tidak ada
investor atau group dari investor yang dapat menggunakan informasi
yang dipublikasikan untuk mendapatkan keuntungan tidak normal
dalam jangka waktu yang lama.
c. Efisiensi pasar bentuk kuat (strong form).
Pasar dikatakan efisiensi pasar bentuk kuat (strong form), jika
harga-harga sekuritas secara penuh (fully reflect) mencerminkan
semua informasi yang tersedia termasuk informasi privat. Jika pasar
efisien dalam bentuk ini, maka tidak ada individual investor atau
group dari investor yang dapat memperoleh keuntungan tidak normal
(Abnormal Return) karena mempunyai informasi privat.
Dalam penelitian ini melakukan pengujian efisiensi bentuk
setengah kuat, dimana jika terdapat Abnormal Return maka pasar
harus bereaksi secara cepat untuk menyerap Abnormal Return dan
menuju ke harga keseimbangan yang baru. Efisiensi pasar bentuk
33
yang disebut dengan efesiensi pasar secara informasi
(informationally efficient market) (Jogiyanto, 2010:525).
Pasar menjadi efisien karena terjadinya beberapa peristiwa
berikut ini, (Jogiyanto, 2010 : 539 ) :
1) Investor adalah penerima harga (price takers), yang berarti
bahwa sebagai pelaku pasar, investor seorang diri tidak dapat
mempengaruhi harga dari suatu sekuritas. Harga dari sekuritas
ditentukan oleh banyak investor yang menentukan demand dan
supply.
2) Informasi tersedia secara luas kepada semua pelaku pasar pada
saat yang bersamaan dan harga untuk memperoleh informasi
tersebut murah. Umumnya pelaku pasar menerima informasi
lewat radio, koran atau media massa lainnya, sehingga informasi
tersebut dapat diterima pada saat yang bersamaan.
3) Informasi dihasilkan secara acak (random) dan tiap-tiap
pengumuman informasi sifatnya random satu dengan yang
lainnya, secara random artinya bahwa investor tidak dapat
memprediksi kapan emiten akan mengumumkan informasi yang
baru.
4) Investor bereaksi dengan menggunakan informasi secara penuh
dan cepat, sehingga harga dari sekuritas berubah dengan
semestinya mencerminkan informasi tersebut untuk mencapai
keseimbangan yang baru. Kondisi ini dapat terjadi jika pelaku
34
yang mampu memahami dan menginterpretasikan informasi
dengan cepat dan baik.
Pasar dapat dikatakan tidak efisien jika kondisi-kondisi berikut
ini terjadi ( Jogiyanto, 2010 : 541 ) :
1) Terdapat sejumlah kecil pelaku pasar yang dapat mempengaruhi
harga dari sekuritas.
2) Harga dari informasi adalah mahal dan terdapat akses yang tidak
seragam antara pelaku pasar yang satu dengan yang lainnya
terhadap suatu informasi yang sama.
3) Informasi yang disebarkan dapat diprediksi dengan baik oleh
sebagian pelaku-pelaku pasar.
4) Investor adalah individual-individual yang lugas (naive
investors) dan tidak canggih (unsophisticated investors).
9. Signalling Teory
Menurut Jogiyanto (2010) informasi yang dipublikasikan sebagai
suatu pengumuman akan memberikan signal bagi investor dalam
pengambilan keputusan investasi. Jika pengumuman tersebut
mengandung nilai positif, maka diharapkan pasar akan bereaksi pada
waktu pengumuman tersebut diterima oleh pasar. Informasi merupakan
salah satu unsur penting baik bagi investor maupun pelaku bisnis.
Informasi selalu menyajikan keterangan, catatan atau gambaran
mengenai keadaan masa lalu, saat ini maupun masa yang akan datang.
35
diperlukan investor sebagai alat analisis untuk pengambilan keputusan
dalam berivestasi.
Menurut Arifin (2005) teori signalling dikembangkan dalam ilmu
ekonomi dan keuangan untuk memperhitungkan kenyataan bahwa orang
dalam (insider) perusahaan pada umumnya memiliki informasi yang
lebih baik dan lebih cepat berkaitan dengan kondisi mutakhir dan
prospek perusahaan dibandingkan investor lain. Munculnya asymmetric
information tersebut menyulitkan investor dalam menilai obyektif
berkaitan dengan kualitas perusahaan. Munculnya masalah asymmetric
information ini membuat investor secara rata-rata memberikan penilaian
yang lebih rendah terhadap semua saham perusahaan. dalam bahasa teori
signaling, kecenderungan ini disebut "pooling equilibrium" karena
perusahaan berkualitas bagus dan perusahaan berkualitas jelek
dimasukkan dalam pool penilaian yang sama.
Informasi merupakan unsur penting bagi investor dan pelaku bisnis
karena informasi pada hakekatnya menyajikan keterangan, catatan atau
gambaran baik untuk keadaan masa lalu, saat ini maupun masa yang akan
datang bagi kelangsungan hidup suatu perusahaan, dan bagaimana
pasaran efeknya. informasi yang lengkap, relevan, akurat dan tepat waktu
sangat diperlukan investor di pasar modal sebagai alat analisis untuk
mengambil keputusan investasi. informasi yang dipublikasikan sebagai
suatu pengumuman akan memberikan signal bagi investor dalam
pengambilan keputusan investasi. Jika pengumuman tersebut
36
waktu pengumuman tersebut diterima oleh pasar. Reaksi pasar
ditunjukkan dengan adanya perubahan volume perdagangan saham.
Pada waktu Informasi diumumkan dan semua pelaku pasar sudah
menerima informasi tersebut, pelaku pasar terlebih dahulu
menginterpretasikan dan menganalisis informasi tersebut sebagai signal
baik (good news) atau signal buruk (bad news). Jika pengumuman
informasi tersebut sebagai signal baik bagi investor, maka terjadi
perubahan dalam volume perdagangan saham. seperti pada kenaikan
harga BBM yang diduga memiliki kandungan informasi yang
mengakibatkan adanya reaksi harga saham. pengumuman kenaikan harga
BBM tersebut digunakan oleh para investor sebagai signal atau isyarat
tentang prospek perusahaan di masa yang akan datang. Investor akan
mengambil keputusan untuk melakukan transaksi atau menundanya
setelah membaca adanya signal yang dibaca di lantai bursa. ketika signal
yang dibaca di lantai bursa menunjukkan signal positif maka investor
lebih banyak melakukan transaksi pembelian dari pada penjualan. Hal ini
terjadi karena investor berasumsi bahwa ketika terjadi signal positif
sebagian investor optimis melakukan transaksi dengan harapan
mendapatkan keuntungan yang lebih besar.
Dalam penelitian ini pengumuman kenaikan harga BBM diduga
dapat menimbulkan reaksi harga saham. Reaksi harga saham ditunjukkan
dengan adanya perubahan harga saham yang bersangkutan. Reaksi harga
saham ini dapat diukur menggunakan return saham sebagai nilai
37
Abnormal Return digunakan sebagai pengukur reaksi saham, maka
pengumunan kenaikan harga BBM dikatakan mempunyai kandungan
informasi bila memberikan return signifikan kepada pasar. Demikian
pula sebaliknya, pengumuman kenaikan harga BBM dikatakan tidak
mempunyai kandungan informasi bila tidak memberikan Abnormal
Return yang signifikan terhadap pasar (Hikmah, 2005).
B. Penelitian Terdahulu
Wardhani (2012) melakukan penelitian yang bertujuan mengetahui ada
atau tidaknya reaksi pasar modal Indonesia terhadap salah satu peristiwa
politik dalam negeri yaitu Peristiwa Pemilihan Gubernur DKI Jakarta
Putaran II 2012. Penelitian ini menggunakan indikator Abnormal Return dan
Trading Volume Activity. Populasi penelitian ini adalah saham-saham yang
termasuk dalam Indeks Kompas 100 di Bursa Efek Indonesia, dan data yang
digunakan adalah data sekunder berupa harga saham harian, volume
perdagangan saham harian, dan indeks harga saham gabungan harian selama
periode lima hari sebelum, satu hari saat, dan lima hari setelah peristiwa. Uji
statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah Uji-t dan Uji beda
Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil perhitungan Uji-t menunjukkan bahwa
terdapat Abnormal Return bernilai positif signifikan pada beberapa hari di
sekitar tanggal peristiwa, yang berarti pasar merespon peristiwa ini sebagai
kabar baik. Sedangkan hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test membuktikan
bahwa terdapat perbedaan signifikan antara rata-rata Abnormal Return pada
sebelum-38
saat dan periode sebelum setelah peristiwa. Hasil uji Wilcoxon Signed Rank
Test juga menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara rata-rata
Trading Volume Activity pada periode sebelum-saat dan periode saat-setelah
peristiwa, namun tidak signifikan pada periode sebelum-setelah peristiwa.
Utomo (2008), melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui
reaksi pasar terhadap peristiwa krisis finansial global 7 September 2008.
Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 2 saham perusahaan
pertambangan yang usahanya batubara pada periode April sampai
September 2008. Periode pengamatan dalam penelitian ini adalah selama
121 hari bursa yang dibagi menjadi dua periode, yaitu periode estimasi
(estimation period) dan periode kejadian (event period). periode estimasi
selama 100 hari, yaitu dari t-110 sampai t-11 sebelum event date. Periode
kejadian selama 21 hari, yakni terdiri dari 10 hari sebelum peristiwa (
pre-event), 1 hari pada saat peristiwa (event date) dan 10 hari sesudah peristiwa
(post event). Dari hasil penelitian ini dapat diketahui jika krisis finansial
global direaksi oleh pasar dan menghasilkan Abnormal Return yang
signifikan negatif setelah event date, walaupun dari analisa uji rata-rata
Abnormal Return sebelum dan sesudah peristiwa krisis finansial global
menghasilkan rata-rata yang tidak berbeda secara signifikan. Dan dari uji
rata-rata Trading Volume Activity menghasilkan rata-rata yang berbeda
secara signifikan.
Pamenang (2011), melakukan penelitian yang bertujuan mengetahui
apakah terdapat reaksi pasar yang signifikan pada harga saham, Abnormal
39
stock split yaitu periode sebelum, saat dan setelah stock split pada
perusahaan go public di BEI tahun 2008-2011. Penelitian ini merupakan
suatu penelitian yang termasuk ke dalam kategori event study atau studi
peristiwa. Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 21 perusahaan yang
melakukan kebijakan stock split pada periode 2008-2011. Uji hipotesis
dalam penelitian ini menggunakan uji beda yaitu paired sample t-test pada
semua variabel yaitu harga saham, Abnormal Return dan volume
perdagangan saham. Uji beda ini dilakukan dengan tingkat kepercayaan
95%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keseluruhan pasar merespon
adanya stock split ini, hal ini ditunjukkan oleh adanya perbedaan yang
signifikan pada semua variabel (Harga saham, Abnormal Return dan volume
perdagangan saham).
Fani (2013), melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui
reaksi pasar modal Indonesia khususnya saham perusahaan asuransi yang
listing di BEI, terhadap banjir Jakarta Januari 2013, dengan menggunakan
indikator pergerakan harga, Abnormal Return dan volume perdagangan
saham. Populasi penelitian ini adalah saham-saham perusahaan asuransi
yang terdaftar di BEI, dan data yang digunakan adalah data sekunder berupa
harga saham harian, volume perdagangan saham harian, dan indeks harga
saham gabungan harian selama periode Sembilan hari sebelum, satu hari
saat, dan sembilan hari setelah peristiwa. Uji statistik yang digunakan untuk
menguji hipotesis adalah paired sample t-test dan Wilcoxon Signed Rank
Test. Hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan rata-rata harga