TUGAS AKHIR
ANALISIS LAPORAN KEUANGAN
Analisis Laporan Keuangan PT Gudang Garam, Tbk. Periode Tahun
2010-2014
Disusun untuk memenuhi persyaratan mata kuliah Analisis Laporan Keuangan Dosen Pengampu:
Sakina Nusarifa Tantri, SE.
Oleh Kelompok 8:
1. Maghfira Fikrandita 13/344686/SV/03201
2. Karina Yuniarti 13/344847/SV/03362
3. Andita Kirana Dewi 13/344883/SV/03398
4. Dinda Orieama Yoga Pratica 13/344910/SV/03425
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
SEKOLAH VOKASI
Laporan keuangan merupakan suatu alat yang sangat penting untuk memperoleh informasi sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan yang bersangkutan. Agar laporan keuangan dapat berarti bagi pihak-pihak yang berkepentingan maka perlu mengadakan analisa hubungan dari pos-pos dalam suatu laporan keuangan . Dalam hal ini analisa rasio dapat dipakai dalam memberikan gambaran keadaan keuangan yang sebenarnya mengenai perusahaan dan sehat tidaknya perusahaan tersebut melakukan usahanya.
DAFTAR ISI
EXECUTIVE SUMMARY...ii
DAFTAR ISI...iii
DAFTAR TABEL...iv
BAB I PENDAHULUAN...1
A. PROFIL SINGKAT PERUSAHAAN...1
B. TUJUAN ANALISIS...2
C. LINGKUP ANALISIS...2
D. DATA YANG DIGUNAKAN...3
BAB II ANALISIS DAN INTERPRETASI...4
A. ANALISIS VERTIKAL ( Analisis Common Size)...4
B. ANALISIS HORIZONTAL (Analisis Perbandingan dan Trend)...12
C. ANALISIS RASIO KEUANGAN...23
BAB III KESIMPULAN...34
Tabel 1 Analisis Common Size Neraca...6
Tabel 2 Analisis Common Size Laporan Laba Rugi...8
Tabel 3 Analisis Common Size Laporan Arus Kas...10
Tabel 4 Analisis Perbandingan Neraca...14
Tabel 5 Analisis Perbandingan Laporan Laba Rugi...16
Tabel 6 Analisis Perbandingan Laporan Arus Kas...18
Tabel 7 Analisis Trend Neraca...19
Tabel 8 Analisis Trend Laporan Laba Rugi...21
DAFTAR GRAFIK
Grafik 1 Trend Neraca...21
Grafik 2 Rasio Likuiditas...26
Grafik 3 Rasio Solvabilitas...29
Grafik 4 Rasio Profitabilitas...32
Grafik 5 Rasio Aktivitas...35
BAB I PENDAHULUAN A. PROFIL SINGKAT PERUSAHAAN
Gudang Garam adalah produsen rokok kretek terkemuka, rokok kretek identik dengan Indonesia yang merupakan salah satu sentra utama perdagangan rempah di dunia. Didirikan pada 26 Juni 1958 oleh Surya Wonowidjojo di Kediri. Pada akhir tahun 2014, Gudang Garam dengan pangsa pasar rokok dalam negeri sekitar 21,9% (dihitung berdasarkan riset pasar Nielsen) merupakan produsen rokok kretek terkemuka dengan produk-produk yang sudah dikenal luas oleh masyarakat di seluruh Nusantara. Gudang Garam menyediakan lapangan kerja bagi sekitar 36.400 ribu orang yang sebagian besar terlibat dalam produksi rokok, termasuk sigaret kretek tangan dan operator mesin produksi, serta kegiatan operasional lainnya seperti distribusi, penjualan dan pemasaran. Kesejahteraan karyawan menjadi perhatian utama, dari standar keselamatan kerja dan penyediaan fasilitas kesehatan hingga pelatihan kepemimpinan,manajemen, administrasi dan ketrampilan teknik, yang diselenggarakan di dalam maupun di luar perusahaan.Gudang Garam secara tidak langsung juga mendukung penciptaan lapangan kerja, bagi kurang lebih empat juta komunitas di sector perkebunan tembakau dan cengkeh yang menyediakan bahan baku bagi Perseroan, serta sektor distribusi seperti pengecer dan pedagang asongan yang tersebar di seluruh Indonesia. Industri rokok sendiri,termasuk Perseroan, merupakan sumber utama pendapatan cukai dan pajak bagi negara. Gudang Garam memiliki fasilitas produksi rokok kretek di dua lokasi. Pertama, di kota Kediri, dengan jumlah penduduk 249 ribu jiwa yang merupakan pusat perdagangan regional yang ramai sekaligus lokasi kantor pusat Perseroan.
3
saham sepanjang tahun 2012. Jumlah modal disetor dan ditempatkan tidak mengalami perubahan pada tahun 2012, dan Perseroan membagikan dividen senilai Rp 1.000 per saham dari laba tahun 2011 sesuai keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan.
Visi :
"Menjadi perusahaan terkemuka kebangganan nasional yang bertanggung jawab dan memberikan nilai tambah bagi para oemegang saham, serta manfaat bagi segenap pemangku kepentingan secara berkesinambungan."
Misi :
Catur Dharma yang merupakan misi Perseroan:
1. Kehidupan yang bermakna dan berfaedah bagi masyarakat luas merupakan suatu kebahagiaan.
2. Kerja keras, ulet, jujur, sehat, dan beriman adalah prasyarat kesuksesan.
3. Kesuksesan tidak dapat terlepas dari peranan dan kerja sama dengan orang lain.
4. Karyawan adalah mitra usaha yang utama. B. TUJUAN ANALISIS
Informasi mengenai kinerja keuangan suatu perusahaan sangat bermanfaat untuk berbagai pihak, seperti investor, kreditur, pemerintah, bankers, pihak manajemen sendiri dan pihak-pihak lain yang berkepentingan guna pengambilan keputusan sesuai dengan bidangnya. Melalui penulisan tugas akhir Analisis Laporan Keuangan PT Gudang Garam, Tbk. periode Tahun 2010-2014 ini, selain dimaksudkan untuk mengevaluasi laporan keuangan PT. Gudang Garam, Tbk. periode tahun 2010 sampai dengan tahun 2014, analisis ini bertujuan untuk mempelajari dan mengaplikasikan metode analisis laporan keuangan yang telah diperoleh mahasiswa dalam pembelajaran mata kuliah analisis laporan keuangan.
C. LINGKUP ANALISIS
Lingkup analisis yang dilakukan pada Analisis Laporan Keuangan PT Gudang Garam, Tbk. Periode Tahun 2010-2014 meliputi:
Analisis Ratio
Analisis Vertikal (Analisis Common Size)
D. DATA YANG DIGUNAKAN
Data yang digunakan pada Analisis Laporan Keuangan PT Gudang Garam, Tbk. periode Tahun 2010-2014 adalah sebagai berikut:
Data Primer
Laporan Keuangan PT Gudang Garam,Tbk. periode tahun 2010 sampai dengan tahun 2014.
Data Sekunder
BAB II
ANALISIS DAN INTERPRETASI
Analisis laporan keuangan merupakan proses yang penuh pertimbangan. Salah satu tujuan utamanya yaitu untuk mengidentifikasi perubahan – perubahan pokok pada trend, jumlah dan hubungan dan alasan perubahan – perubahan tersebut.Beberapa tehnik analisis dapat digunakan pada analisis laporan keuangan untuk menekankan pentingnya suatu data yang disajikan dan untuk mengevaluasi posisi perubahan. Beberapa tehnik analisis yang dapat digunakan antara lain : analisis vertikal (analisis common – size), analisis horizontal (analisis perbandingan dan analisis trend), dan analisis rasio keuangan.
A. ANALISIS VERTIKAL ( Analisis Common Size)
Analisis vertikal yaitu analisis yang dilakukan dengan cara menganalisis laporan keuangan pada periode tertentu yaitu dengan membandingkan antara pos yang satu dengan pos yang lainnya pada laporan keuangan yang sama pada periode yang sama. Laporan keuangan dalam prosentase per-komponen (common-size) menyatakan masing-masing posnya dalam satuan persen atas dasar total kelompoknya. Sebuah neraca yang disusun dalam prosentase per-komponen dapat memberikan informasi sebagai berikut :
Komposisi investasi suatu perusahaan dapat memberikan gambaran tentang posisi
relative aktiva lancar terhadap aktiva tidak lancar.
Struktur modal yang dapat memberikan gambaran mengenai posisi relative utang
perusahaan terhadap modal sendiri.
Untuk laporan laba rugi yang disajikan dalam common-size menggambarkan distribusi setiap satu rupiah total penjualan/pendapatan kepada masing-masing elemen biaya dan laba. Berikut penyajian laporan keuangan PT Gudang Garam, Tbk. dan anak perusahaan dalam common-size.
7
Analisis common size pada neraca tersebut menunjukkan PT Gudang Garam Tbk menginvestasikan asset perusahaan sebagian besar kepada asset lancar yaitu berturut-turut dari tahun 2010 sampai dengan 2014 sebesar 74,52%, 77,73% , 72,16% , 68,16% dan 66,26% dari total asset perusahaan. Komposisi asset lancar pada tahun 2012 mengalami penurunan dibandingkan posisi tahun 2010 dan 2011 dan tahun 2013 dan 2014 berturut-turut mengalami penurunan. Sebaliknya komposisi asset tidak lancar mengalami kenaikan pada tahun 2012 sebesar 27,84%, walaupun sebelumnya pernah turun pada tahun 2011 sebesar 22,27% dari angka tahun 2010 yaitu sebesar 25,48%. Sementara pada tahun 2013 dan 2014 berturut-turut mengalami kenaikan menjadi 31,84% dan 33,74%. PT Gudang Garam Tbk menginvestasikan sebagian besar asetnya pada persediaan berturut-turut sebesar 65,62%, 71,68%, 64,20%, 59,57%, dan 59,67% dari total nilai asset perusahaan dari tahun 2010 sampai dengan 2014.
Penurunan komposisi asset tidak lancar dari total asset PT Gudang Garam Tbk pada tahun 2011 turut di pengaruhi dengan kenaikan total asset lancar perusahaan. Total asset PT Gudang Garam Tbk sesungguhnya mengalami kenaikan dari tahun ke tahun, komposisi di atas menggambarkan pergeseran jenis investasi dari asset PT Gudang Garam Tbk.
Sementara pada pos pasiva, kewajiban jangka pendek lebih mendominasi dari total liabilitas perusahaan. Penurunan hanya terjadi pada tahun 2012 yang semula 34,62% menjadi 33,25%. Sementara pada tahun 2013 meningkat sebesar 39,58% diikuti peningkatan tahun 2014 menjadi 40,85 Untuk kewajiban jangka panjang, persentase kewajiban jangka panjang tahun 2010 hingga 2014 lebih banyak mengalami penurunan meski terjadi peningkatan di tahun 2012 yang semula 2,57 menjadi 2,65, selebihnya mengalami penurunan. Pada tahun 2010 kewajiban jangka panjang berada di angka yang lebih besar yaitu sebesar 3,06%.
Untuk jumlah ekuitas, komposisi ekuitas lebih mendominasi daripada komposisi liabilitas di pos passive ini. Total ekuitas dari tahun 2010 hingga 2014 berfluktuasi. Tahun 2011 terjadi penurunan yang semula 69,35% menjadi 62,81%. Di tahun 2012 terjadi peningkatan menjadi 64,10% namun penurunan kembali terjadi di tahun 2013 menjadi 57,94% diikuti tahun 2014 sebesar 57,07%.
9
11
Analisis common size pada laporan arus kas tersebut mengalami fluktuasi. Pada tahun 2011. Kas bersih dari aktivitas operasi mengalami kerugian yaitu minus Rp 90.307 juta. Hal ini karena peningkatan penerimaan kas dari pelanggan lebih kecil daripada peningkatan pembayaran kas kepada pemasok dan karyawan, ditambah lagi pembayaran pajak penghasilan badan di tahun 2011 merupakan jumlah yang paling tinggi disbanding tahun-tahun yang lain.
Untuk aktivitas investasi, pembelian asset tetap terus mengalami peningkatan dari tahun 2010 hingga 2012 berturut-turut sebesar 100,27%, 100,81%, dan 103,67% sementara tahun 2013 terjadi penurunan menjadi sebesar 100,76% diikuti oleh peningkatan di tahun 2014 menjadi sebesar 100,93%.
13
B. ANALISIS HORIZONTAL (Analisis Perbandingan dan Trend)
Analisis horizontal (dinamis) adalah analisis yang dilakukan dengan cara membandingkan laporan keuangan untuk beberapa periode, sehingga dapat diketahui perkembangan dan kecenderungannya. Analisis yang termasuk dalam analisis horizontal misalnya analisis perbandingan dan analisis trend.
Analisis perbandingan (komparatif) adalah analisis laporan keuangan yang bertujuan untuk mendapatkan informasi perkembangan keadaan keuangan perusahaan (apakah akan mengalami kenaikan/penurunan) dengan cara membandingkan laporan keuangan antara dua periode atau lebih.
Analisis trend merupakan bagian dari analisis perbandingan untuk melihat kecenderungan arah posisi keuangan dalam waktu lebih dari tiga periode laporan keuangan.
15
Interpretasi analisis horizontal (analisis perbandingan) neraca PT Gudang Garam, Tbk. yaitu untuk asset lancar pada tahun 2011 mengalami kenaikan sebesar 32,62%, tahun 2012 mengalami penurunan sebesar 1,41%. Kenaikan pada tahun 2011 paling besar disebabkan meningkatnya persediaan, sedangkan pada tahun 2012 persediaan justru mengalami kenaikan. Sementara pada tahun 2013 mengalami peningkatan sebesar 16% diikuti penurunan tahun 2014 sebesar 11%. Pada asset tidak lancar, nilai asset PT Gudang Garam, Tbk terus mengalami fluktuasi, pada tahun 2011 meningkat yang semula 11,15% menjadi 43% kemudian mengalami penurunan di tahun 2013 menjadi 40% diikuti tahun 2014 sebesar 20%.
17
19
Arus kas bersih dari aktivitas operasi terus mengalami penurunan dari tahun 2010 hingga 2014 meski terjadi peningkatan pada tahun 2012 sebesar Rp. 3.953.574 juta.
Arus kas bersih dari aktivitas investasi juga mengalami penurunan dai tahun ke tahun, hanya saja pada tahun 2014 mengalami peningkatan sebesar 10% meski tetap di angka minus Rp 5.069.199 juta.
Arus kas dari aktivitas pendanaan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Peningkatan tertinggi terjadi pada tahun 2011 yakni sebesar 200% dari tahun 2010.
21
Interpretasi analisis trend dari neraca PT Gudang Garam, Tbk. di atas yaitu Asset lancar dari tahun 2010 hingga 2014 terus mengalami peningkatan hanya saja terjadi sedikit penurunan di tahun 2012 yang semula 131% menjadi 131%. Begitu juga dengan asset tidak lancar yang terus mengalami peningkatan. Hanya saja trend asset tidak lancar pada tahun 2013 dan 2014 lebih tinggi dari trend asset lancar. Untuk liabilitas jangka pendek dan panjang terus mengalami peningkatan begitu juga dengan total ekuitas.
Trend laba komprehensif tahun berjalan mengalami penurunan di tahun 2012 namun kemudian kembali meningkat di tahun 2013 dan 2014. Hal ini dikarenakan tingginya beban bahan baku di tahun 2012.
23
Trend aktivitas investasi mengalami peningkatan yang tajam di tahun 2010 hingga 2013 namun kembali mengalami penurunan di tahun 2014. Untuk trend aktivitas operasi terjadi fluktuasi, peningkatan hanya terjadi pada tahun 2012 saja. Dan untuk aktivitas pendanaan, penurunan tajam terjadi pada tahun 2011 dan 2013. Tahun 2012 dan 2014 mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya.
C. ANALISIS RASIO KEUANGAN
Analisis rasio adalah analisis laporan keuangan yang bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang keadaan (kemampuan) keuangan perusahaan pada suatu periode dengan cara menghubungkan antara jumlah akun yang satu dengan jumlah akun yang lain. Pada dasarnya analisis rasio bisa dikelompokkan menjadi:
1. Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan melihat asset lancar perusahaan relative terhadap utang lancarnya. Perusahaan dikatakan likuid jika asset lancar > utang lancar.
a. Current Ratio (Rasio Lancar)
Current Ratio mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan asset lancar yang dimiliki.
Current Ratio= Aset Lancar Utang Lancar
Tahun2010=22.908 .293 8.481 .933 =2,70
Tahun2011=30.381 .754 13.534 .319=2,24
Tahun2012=29.954 .021 13.802.317=2,17
Tahun2013=34.604 .461 20.094 .580=1,72
Tahun2014=38.577.191 23.783 .134=1,62
25
yang menunjukkan risiko likuiditas yang tinggi. Namun, di samping itu rasio lancar yang tinggi menunjukkan adanya kelebihan asset lancar yang akan mempunyai pengaruh kurang baik terhadap profitabilitas perusahaan karena aktiva lancar secara umum menghasilkan tingkat return yang lebih rendah dibandingkan dengan asset tetap.
b. Acid Test Ratio (Rasio Cepat/quick ratio)
Rasio cepat mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengam menggunakan asset lancar yang dimilikinya tanpa memanfaatkan persediaan.
Rasio Cepat=Aset Lancar−Persediaan Utang Lancar
Tahun2010=22.908 .293−20.174 .168 8.481 .933 =0,32
Tahun2011=30.381 .754−28.020.017 13.534 .319 =0,17
Tahun2012=29.954 .021−26.649 .777 13.802.317 =0,24
Tahun2013=34.604 .461−30.241 .368 20.094 .580 =0,22
Tahun2014=38.577 .191−34.739.327 23.783 .134 =0,16
Di antara komponen asset lancar, persediaan biasanya dianggap sebagai asset yang paling tidak likuid. Hal ini berkaitan dengan semakin panjangnya tahap yang dilalui untuk sampai menjadi kas dan juga terjadi ketidakpastian nilai persediaan. Dengan alasan di atas, persediaan dikeluarkan dari asset lancar untuk perhitungan rasio cepat.
27
Object 27
menujukkan risiko likuiditas yang lebih tinggi.
2. Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya. Perusahaan dikatakan solvable jika total asset > total hutang.
a. Rasio Total Utang terhadap Total Aset (DAR)
Rasio ini menghitung seberapa jauh dana disediakan oleh kreditur. Rasio yang tinggi berarti perusahaan menggunakan leverage keuangan yang tinggi. Penggunaan
leverage keuangan yang tinggi akan meningkatkan ROE dengan cepat, tetapi sebaliknya jika penjualan menurun, ROE akan menurun pula. Risiko perusahaan dengan leverage keuangan yang tinggi akan semakin tinggi pula.
Rasio totalutang terhadaptotal aset=TotalUtang Total Aset
Tahun2010= 9.421 .403
30.741.679=0,31
Tahun2011=14.537 .777 39.088 .705=0,37
Tahun2012=14.903 .612 41.509 .325=0,36
Tahun2013=21.353 .980 50.770 .251=0,42
Tahun2014=24.991.880 58.220 .600=0,43
Rasio DAR pada PT Gudang Garam, Tbk. tahun 2010 menghasilkan angka yang rendah dibandingkan dengan tahun-tahun selanjutnya. Namun, untuk tahun-tahun selanjutnya hingga tahun 2014, terjadi kenaikan rasio DAR yang disebabkan oleh meningkatnya total utang. Meskipun hanya menggunakan dana dari kreditur di bawah 50%, jumlah asset tetap mengalami peningkatan.
b. Rasio Total Utang terhadap Total Ekuitas (DER)
Rasio ini digunakan untuk mengukur total utang dalam struktur modal suatu perusahaan dalam kondisi utang jangka panjang perusahaan.
Rasio totalutang terhadaptotal ekuitas= Total Utang Total Ekuitas
Tahun2010= 9.421 .403
21.320 .276=0,44
Tahun2011=14.537 .777 24.550 .928=0,59
Tahun2012=14.903 .612 26.605.713=0,56
Tahun2013=21.353 .980 29.416 .271=0,73
29
Rasio debt to equity (DER) di atas menggambarkan kuatnya struktur permodalan PT Gudang Garam, Tbk. meskipun pada tahun 2010 menghasilkan rasio DER yang kecil di bawah 50%, untuk tahun-tahun selanjutnya terus mengalami peningkatan hingga 75%.
c. Time Interest Earned (TIE)
Rasio ini menghitung seberapa besar laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) yang tersedia untuk menutup beban tetap bunga. Rasio yang tinggi menunjukkan situasi yang aman meskipun barangkali juga menunjukkan terlalu rendahnya penggunaan utang (penggunaan leverage keuangan) perusahaan. Sebaliknya, rasio yang rendah memerlukan perhatian dari pihak manajemen.
TIE= EBIT Bunga
Tahun2010=5.869 .581
238.285 =24,63
Tahun2011=6.867 .973
253.002 =27,15
Tahun2012=6.025 .681
495.035 =12,17
Tahun2013=6.691 .722 755.518 =8,86
Object 66
3. Rasio Profitabilitas
Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan pada tingkat penjualan, asset, dan modal saham tertentu.
a. Net Profit Margin menghitung sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih pada tingkat penjualan tertentu. Rasio ini bisa dilihat langsung pada analisis common-size untuk laporan laba rugi. Rasio ini diinterpretasikan juga sebagai kemampuan perusahaan menekan biaya-biaya (ukuran efisiensi) di perusahaan pada periode tertentu.
Rasio net profit margin=Lababersih Penjualan
Tahun2010= 4.214 .789
37.691.997=0,11
Tahun2011= 4.958 .102
41.884 .352=0,12
Tahun2012= 4.068.711
49.028 .696=0,08
31
Tahun2013= 4.383.932
55.436 .954=0,08
Tahun2014= 5.395 .293
65.185 .850=0,08
Net Profit Margin yang tinggi menandakan kemampuan perusahaan menghasilkan laba yang tinggi pada tingkat penjualan tertentu. Sedangkan NPM yang rendah menunjukkan penjualan yang terlalu rendah untuk tingkat biaya yang tertentu, atau kombinasi dari kedua hal tersebut, yang secara umum rasio yang rendah bisa menujukkan ketidakefisienan manajemen. Untuk industry manufaktur cenderung memiliki rasio net profit margin yang tinggi. Pada PT Gudang Garam Tbk, rasio net profit margin (NPM) mengalami peningkatan di tahun 2011 yang semula sebesar 0,11 menjadi 0,12 meski peningkatan tidak signifikan. Namun untuk tahun 2012 mengalami penurunan yang semula 0,12 menjadi 0,08 yang disebabkan oleh peningkatan beban bunga. Sementara tahun 2013 dan 2014 tidak mengalami perubahan yakni sebesar 0,08.
b. Return on Asset (ROA)
Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih berdasarkan tingkat asset tertentu.
ROA=Laba bersih Total aset
Tahun2010= 4.214 .789
30.741.619=0,14
Tahun2011= 4.958.102
39.088 .705=0,13
Tahun2012= 4.068.711
41.509 .325=0,10
Tahun2013= 4.383 .932
50.770 .251=0,09
Tahun2014= 5.395 .293
Rasio yang tinggi menunjukkan efisiensi manajemen asset, yang berarti efisiensi manajemen. Pada PT Gudang Garam Tbk, Rasio return on asset (ROA) dari tahun 2010 hingga 2014 terus mengalami penurunan. Tahun 2012 mengalami penurunan yang lebih besar dari tahun-tahun sebelum dan sesudahnya yakni sebesar 3% sedangkan tahun 2012, 2013, dan 2014 hanya mengalami penurunan sebesar 1%. Hal ini dikarenakan perputaran asset perusahaan rendah.
c. Return on Equity (ROE)
Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba berdasarkan modal saham tertentu. Rasio ini merupakan ukuran profitabilitas dari sudut pandang pemegang saham.
ROA= Laba bersih Modal saham
Tahun2010=4.214 .789 962.044 =4,38
Tahun2011=4.958.102 962.044 =5,15
Tahun2012=4.068 .711 962.044 =4,23
Tahun2013=4.383 .932 962.044 =4,56
33
Object 104
Meskipun rasio ini mengukur laba dari sudut pandang pemegang saham, rasio ini tidak memperhitungkan dividen maupun capital gain untuk pemegang saham. Karena itu, rasio ini bukan pengukur return pemegang saham yang sebenarnya. ROE dipengaruhi oleh ROA dan tingkat leverage keuangan perusahaan. Pada PT Gudang Garam Tbk, Rasio return on equity (ROE) dari tahun 2010 hingga 2014 mengalami fluktuasi. Peningkatan terjadi di tahun 2011 menghasilkan ROE 5,15 yang semula pada tahun 2010 sebesar 4,38. Sementara pada tahun 2012 mengalami penurunan menjadi 4,23. Namun peningkatan kembali terjadi di tahun 2013 sebesar 4,56 dan diikuti tahun 2014 sebesar 5,61. Hal ini menujukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba mengalami peningkatan di dua tahun terakhir.
4. Rasio Aktifitas
Rasio ini melihat pada beberapa asset kemudian menentukan berapa tingkat aktivitas aktiva-aktiva tersebut pada tingkat kegiatan tertentu. Aktivitas yang rendah pada tingkat penjualan tertentu akan mengakibatkan semakin besarnya dana kelebihan yang tertanam pada aktiva-aktiva tersebut. Dana kelebihan tersebut akan lebih baik bila ditanamkan pada aktiva lain yang lebih produktif.
a. Perputaran Persediaan
Perputaran Persediaan= HPPj Persediaan
Tahun2010=28.826 .410 20.174 .168=1,43
Tahun2011=31.754 .984 28.020.017=1,13
Tahun2012=39.843.974 26.649 .777=1,50
Tahun2013=44.563 .096 30.241 .368=1,47
Tahun2014=51.806 .284 34.739.327=1,49
Pada PT Gudang Garam Tbk, Rasio perputaran persediaan mengalami fluktuasi. Tahun 2011 mengalami penurunan yang semula 1,43 kali menjadi 1,13 kali. Di tahun 2012 mengalami peningkatan menjadi 1,50 kali. Penurunan kembali terjadi ditahun 2013 menjadi 1,47 kali sementara tahun 2014 mengalami peningkatan menjadi 1,49 kali. Hal ini menunjukkan perputaran persediaan yang rendah akibat kurangnya pengendalian persediaan yang efektif padahal tingkat persediaan perusahaan relative besar dan terus meningkat setiap tahun.
b. Perputaran Aktiva Tetap
Rasio ini mengukur sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan penjualan berdasarkan aktiva tetap yang dimiliki perusahaan. Rasio ini memperlihatkan sejauh mana efektivitas perusahaan dalam menggunakan aktiva tetapnya.
Perputaran AktivaTetap= Penjualan Aktiva Tetap
35
Tahun2011=41.884 .352 8.189.881 =5,11
Tahun2012=49.028 .696 10.389 .326=4,72
Tahun2013=55.436 .954 14.788 .915=3,75
Tahun2014=65.185 .850 18.973.272=3,44
Semakin tinggi rasio ini berarti semakin efektif penggunaan aktiva tetap tersebut. Pada PT Gudang Garam Tbk, Rasio perputaran asset tetap lebih banyak mengalami penurunan meski peningkatan terjadi di tahun 2011 yang semula 5,09 kali menjadi 5,11 kali. Tahun-tahun berikutnya terus mengalami penurunan, tahun 2012 sebesar 4,72 kali, tahun 2013 sebesar 3,75 kali, dan tahun 2014 sebesar 3,44 kali. Meskipun perputaran asset tetap lebih tinggi daripada perputaran total asset, tetap saja perlu dilakukan evaluasi terkait dengan efektivitas perusahaan dalam menggunakan asset tetap untuk mendukung penjualan.
c. Perputaran Total Aktiva
Rasio ini menghitung efektivitas penggunaan total asset. Rasio yang tinggi biasanya menunjukkan manajemen yang baik, sebaliknya rasio yang rendah harus membuat manajemen mengevaluasi strategi, pemasarannya, dan pengeluaran modalnya (investasi).
PerputaranTotal Aset=Penjualan Total Aset
Tahun2010=37.691.997 30.741 .679=1,23
Tahun2011=41.884 .352 39.088.705=1,07
Tahun2012=49.028 .696 41.509 .325=1,18
Tahun2014=65.185 .850 58.220 .600=1,12
2010 2011 2012 2013 2014
0.00
1.23 1.07 1.18 1.09 1.12
5.09 5.11
PERPUTARAN TOTAL AKTIVA PERPUTARAN AKTIVA TETAP PERPUTARAN PERSEDIAAN
Pada PT Gudang Garam Tbk, Rasio perputaran total asset mengalami fluktuasi. Rasio yang paling tinggi terjadi pada tahun 2010 yakni sebesar 1,23. Pada tahun 2011 mengalami penurunan menjadi 1,07. Kemudian meningkat di tahun 2012 menjadi 1,18. Penurunan kembali terjadi di tahun 2013 menjadi 1,09 dan meningkat kembali di tahun 2014 menjadi 1,12. Dilihat dari hasilnya, perputaran asset perusahaan rendah dan perlu adanya evaluasi manajemen terkait dengan strategi dan pengeluaran modalnya.
BAB III KESIMPULAN
1. Likuiditas rendah hal ini karena persediaan mempunyai jumlah yang cukup besar
dalam asset lancar. Sebaiknya perusahaan mengimbangi proporsi persediaan dengan
asset lancar lain.
2. Solvabilitas berfluktuasi. Dilihat dari rasio Total hutang terhadap total asset dan Total
hutang terhadap total ekuitas, perusahaan dikatakan solvable karena angka rasio yang
terus meningkat. Namun dilihat dari besarnya Time interest earning yang terus
menurun karena beban bunga yang terus meningkat, perlu mendapat perhatian dari
manajemen meski EBIT masih bisa menutup beban bunga di tahun 2013 dan 2014.
3. Perputaran persediaan rendah sehingga perlu evaluasi menajemen terkait dengan
efektivitas persediaan.
4. Profitabilitas rendah karena perputaran aset rendah mengakibatkan pada ROA yang
rendah sedangkan pada net profit margin di tiga tahun terakhir tidak ada perubahan.
Hanafi, M. Mamduh dan Abdul Halim. Analisa Laporan Keuangan.Yogyakarta:UPP AMP YKPN.
Subramanyam, K.R. dan John J. Wild. 2010. Analisis Laporan Keuangan.
Edisi Kesepuluh. Salemba Empat:Jakarta http://www.gudanggaramtbk.com/