• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengelolaan Lingkungan Hidup Kampung Hij

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pengelolaan Lingkungan Hidup Kampung Hij"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

i

PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP “KAMPUNG HIJAU”

GAMBIRAN UMBULHARJO YOGYAKARTA DALAM PERSPEKTIF GERAKAN KOMUNITAS LINGKUNGAN

Dosen Pengampu: David Efendi, M.A.

DisusunOleh:

Rido Argo Mukti 20140520098 A

ILMU PEMERINTAHAN

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

(2)

ii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

DAFTAR ISI ... ii

BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang ... 1

1.2Rumusan Masalah ... 5

1.3Tujuan Penelitian ... 5

1.4Manfaat Penelitian ... 5

BAB II KERANGKA TEORI 2.1 Lingkungan Hidup ... 6

2.2 Ruang Terbuka Hijau ... 6

2.2 Pelestarian Lingkungan ... 7

2.3 Civil Society dalam prespektif Gerakan Lingkungan ... 8

2.4 Studi Terdahulu (Literatur Review) ... 10

2.5. Posisi Pembahasan Penelitian ... 12

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 14

3.2 Jenis Penulisan ... 14

3.2 Jenis Data ... 14

3.3 Teknik Pengumpulan Data ... 14

3.4 Teknik Pengolahan Data ... 15

BAB IV TEMUAN DAN DISKUSI 4.1. Profil Komunitas Kampung Hijau Gambiran Yogyakarta ... 16

4.2 Strategi Gerakan Lingkungan “Kampung Hijau” dalam mewujudkan Lingkungan Hidup Kampung Hijau Gambiran Yogayakarta ... 20

BAB III KESIMPULAN 3.1 Kesimpulan ... 26

(3)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kota-kota di Indonesia mulai berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Peningkatan kegiatan perekonomian dan peningkatan kesejahteraan Penduduk merupakan faktor utama yang meningkatkan pembangunan di perkotaan, termasuk di Indonesia. Kota yang pada awalnya merupakan kota kecil akan terus berkembang menjadi kota sedang hingga menjadi kota besar sesuai dengan kehidupan masyarakatnya yang selalu dinamis. Dampak negatif yang terjadi adalah menurunnya kualitas sumber daya alam dan kualitas lingkungan akibat kurang diperhitungkan kemampuan lingkungan perkotaan dalam dalam mendukung berbagai kegiatan dan sarana yang dibangun. Dinamika dan tuntutan pembangunan sosial ekonomi perkotaan umumnya juga berdampak terjadinya penurunan kualitas lingkungan.

Penurunan kualitas lingkungan tercermin dari semakin bermunculan fenomena masalah lingkungan di perkotaan seperti suhu udara yang meningkat, tingkat polusi udara yang semakin tinggi, rusak atau hilangnya habitat berbagai flora dan fauna yang diikuti oleh semakin menurunnya keanekaragaman flora dan fauna tersebut. Hal ini terjadi karena lahan-lahan untuk kawasan lindung perkotaan, daerah bantaran sungai, kawasan terbuka, kawasan resapan air, dan lahan produktif pertanian yang berfungsi sebagai daerah penyangga kota dan habitat flora-fauna sedikit demi sedikit hilang dan digantikan dengan kawasan hunian atau permukiman. Selain itu juga dapat mengurangi keindahan kota dan mengurangi kenyamanan seperti suhu udara, kelembaban, dan penyinaran. Oleh karena itu, dibutuhkan perhatian dan perlu dikaji dengan serius mengenai implikasi-implikasi ini dalam pengaruhnya terhadap lingkungan.

(4)

pertumbuhan penduduk yang cepat. Munculnya reklasifikasi wilayah pinggiran kota dan pertanian menjadi wilayah kota baru.

Dengan meningkatnya industrilisasi di daerah Yogyakarta menimbulkan dampak negatif seperti peningkatan jumlah limbah sampah baik berasal dari individu, industri rumah tangga, maupun tempat keramaian lainnya yang berpotensi menimbulkan sampah buangan yang menjadi sumber pencemaran lingkungan. Badan Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta Tahun 2013 menyebutkan bahwa sampah yang terangkut ke tempat pembuangan akhir TPA Piyungan paling banyak berasal dari Kota Yogyakarta 34,89 %, kemudian Sleman 13,17%, Kulon Progo 7,20%, Gunung Kidul 5,37% dan terakhir Bantul 1,91%.Menurut data Dinas PUP-ESDM provinsi Yogyakarta tahun 2014 jumlah penduduk perkotaan Yogyakarta sebanyak 1.985.355 jiwa. Dengan prosentase penduduk perkotaan yang terlayani pengelolaan sampahnya yaitu sebesar 57 persen ( ., Husodo, A & Muhadjir, N. 2016).

Ketika limbah semakin tidak terkendali sering menimbulkan permasalahan di wilayah-wilayah pemukiman penduduk maka sebagian warga kota menjadikan perariran bebas atau sungai sebagai tujuan akhir pembuangan limbah. Menurut Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2013 cara pembuangan sampah domestik oleh rumah tangga di Yogyakarta menunjukkan sekitar 46,5% diangkut, 9,7% ditimbun, 34% dibakar, 0,34% dibuang ke kali dan 26% dengan cara lainnya. Sungai Gajah Wong merupakan salah satu sungai yang melintasi kawasan kota Yogyakarta dan menjadi sasaran pembuangan limbah industri tersebut.

(5)

ideal untuk di tempati dan cerminan degradasi sosial warga pribumi Yogyakarta akibat pembangunan yang sporadis mengabaikan aspek lingkungan.

Perluasan wilayah perkotaan berdampak terhadap kondisi di perkotaan seperti perubahan kondisi iklim mikro dan kondisi lingkungan yang semakin buruk (Effendy& Aprihatmoko 2014). Kota Yogyakarta merupakan wilayah di Indonesia yang berkembang pesat. Tingkat perkembangan pembangunan yang pesat di berbagai sektor cenderung mengakibatkan penurunan ketersediaan ruang terbuka hijau (RTH). Berdasarkan Undang-Undang No. 26 (2007) tentang Penataan Ruang, wilayah kota harus menyediakan RTH yang terdiri dari RTH publik dan RTH privat. Proporsi RTH minimal 30% dari luas wilayah kota dengan proporsi RTH publik pada wilayah kota paling sedikit 20% dari luas wilayah kota.

Kemampuan Pemerintah Yogyakarta sangat berpengaruh pada tuntutan mengatasi permasalahan kompleks perkotaan. Namun pada kenyataannya pemerintah Yogyakarta tidak mampu mengatasi kawasan kumuh, limbah industri dan sampah Sungai gajah wong. Masalah sampah semakin komplek, volume sampah kian membumbung dari hari ke hari karena terpicu oleh semakin pesatnya pembangunan permukiman. Sistem dan teknologi untuk menangani sampah juga sulit dan mahal. Walaupun telahdilibatkan teknologi tinggi danmutakhir,masalah lingkungan hidup tidak berarti teratasi, jika produk sampah tetap tinggi maka sehebat apapun alat atau manajemen yang dilakukan, maka tidak akan sanggup untuk mengatasi.Sampah akan menggunung dari hari ke hari, apalagi jumlah penduduk semakin banyak.

Hal Inilah yang membuat Agus, bapak tiga anak yang telah menetap di Gambiran, sejak 1981 silam membentuk “Kampung Hijau“. Terbentuknya komunitas merupakan salah satu bentuk perwujudan dari kesadaran warga setempat akan pentingnya menjaga lingkungan.Wilayah kampung berdampingan sungai kini menjadi percontohan permukiman hijau yang asri di Yogyakarta. Kampung hijau yang digagasnya bersama warga sekitar 2005 telah mengukir banyak prestasi dibidang lingkungan (http://www.uwong.co).

(6)

diwujudkan kedalam bentuk peta, mencari jejaring komunitas sungai, terus meningkatkan kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah di sungai, antisipasi bencana banjir, pembuatan bronjong sebagai upaya penanggulangan banjir. Selain itu ada program penggunaan energi alternatif, dengan pemanfaatan IPAL (Instalasi Pengelolaan Air Limbah) menjadi Biogas. Biogas dari limbah sampah tersebut dimanfaatkan oleh warga sebagai bahan bakar alternatif. IPAL komunal yang ditempatkan di beberapa titik sehingga dampak dari pencemaran air limbah khususnya limbah rumah tangga dapat diminimalisir sebelum air akhirnya dibuang ke sungai.

Tak hanya itu, program penghijauan dan pembuatan taman juga jadi fokus penggarapan. Mulai dari penanaman keras, sayur sampai buah-buahan. Hasilnya sungguh menggembirakan. Kawasan Kampung Hijau yang berada di lembah sungai itu sekarang disebut Gajah Wong Educational Park. Beberapa fasilitasnya jadi percontohan untuk tingkat provinsi. Tidak hanya warga Gambiran Umbulharjo dan Kota Yogyakarta saja yang memanfaatkannya, namun juga warga luar Yogyakarta yang ingin menimba ilmu dari berbagai kegiatan yang dilakukan di Kampung Hijau tersebut.

Di sekitar kawasan itu, lingkungan sekitar benar-benar bersih, tertata rapi. Warga sudah tidak lagi membuang sampah langsung ke sungai. Di sepanjang sungai itu telah terpasang tanggul dengan bronjong batu yang diperkuat dengan kawat setinggi 2 meteran sehingga air sungai meluap tidak masuk ke pemukiman. Jalanan kampung benar-benar bersih dengan tanaman di setiap rumah warga yang terawat rapi. Demikian pula dengan sampah limbah keluarga juga sudah diolah, dipisahkan serta dikelola melalui bank sampah dan ada instalasi pengolah limbah.Lahan seluas 5.000 meter persegi yang dulunya lahan kosong sekarang menjadi area atau tempat publik terbuka. Semua warga bisa memanfatkan semua fasiltas yang ada di tempat itu (http://news.detik.com).

(7)

B. Rumusan Masalah

Sesuai pemaparan diatas dapat ditarik garis besar masalah sebagai berikut: Bagaimana strategi kegiatan dan program Komunitas Kampung Hijau Gambiran Yogayakrta dalam mengelola Lingkungan Hidup berbasis masyarakat?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian yang dilakukan yakni sebagai Untuk mengetahui strategi strategi kegiatan dan program Komunitas Kampung Hijau Gambiran Yogayakrta dalam mengelola Lingkungan Hidup berbasis masyarakat. D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang hendak dicapai dalam penelitian ini meliputi:

1. Bagi masyarakat luas sebagai acuan strategi pengelolaan lingkungan hidup berbasis masyarakat pad wilayahperkotaan.

2. Bagi akademisi sebagai pendorong peningkatan kualitas akademik dalam melakukan studi lapangan ekologi perkotaandan menciptakan identifikasi permasalahan kompleks perkotaaan.

(8)

BAB II

KERANGKA TEORI

A. Lingkungan Hidup

Dalam Penjelasan UU no. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UU PPLH) tercantum bahwa Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan bahwa lingkungan hidupyangbaik dansehat merupakan hak asasi dan hak konstitusional bagi setiapwarga negara Indonesia. Oleh karena itu, negara, pemerintah, dan seluruhpemangku kepentingan berkewajiban untuk melakukan perlindungan danpengelolaanlingkunganhidupdalampelaksanaan pembangunan berkelanjutan agar lingkungan hidup Indonesia dapat tetap menjadi sumber dan penunjang hidup bagi rakyat Indonesia serta makhluk hidup lain. Sedangkan definisi pembangunan berkelanjutan (UU PPLH Pasal 1 angka 3) adalah upaya sadar dan terencana yang memadukan aspek lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi ke dalam strategi pembangunan untuk menjamin keutuhan lingkungan hidup serta keselamatan, kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan. Dengan demikian tampak bahwa dalam pelaksanaan pembangunan itu harus memperhatikan segala aspek yang terkait kesatuan alam dan makhluk hidup di dalamnya, termasuk manusia. Hal ini disebabkan adanya hubungan timbal balik antara komponen-komponen alam, baik yang biotik maupun yang abiotik.

Lingkungan hidup menjadi sumber dan penunjang hidup bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. Agar selalu dapat menjadi sumber penghidupan, tentunya lingkungan hidupharus dijaga kondisinya, oleh karena itu diperlukan upaya konservasi alam.

B. Ruang Terbuka Hijau

(9)

tanah, Ruang Terbuka Hijau di tengah-tengah ekosistem perkotaan juga berfungsi untuk meningkatkan kualitas lansekap kota.

Berdasarkan Instruksi Menteri Dalam Negeri No. 14 Tahun 1988 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau di Wilayah Perkotaan, Ruang terbuka hijau adalah ruang-ruang dalam kota atau wilayah yang lebih luas, baik dalam bentuk area/kawasan maupun dalam bentuk area memanjang/jalur dimana di dalam penggunaannya lebih bersifat terbuka pada dasarnya tanpa bangunan.

Ruang Terbuka Hijau Koridor Hijau Sungai yang berada di sepanjang bantaran sungai yang berupa tanaman akan memberikan fungsi yang beraneka ragam, antara lain pencegah erosi daerah sekitar, penyerapan ait hujan lebih banyak. Dengan penanaman pohon-pohon yang mempunyai banyak akar diharapkan akar-akar tersebut akan mengikat tanah-tanah di sekitar sungai tersebut, tanaman yang dapat mecegah erosi dengan akarnya seperti bambu, tanaman yang rapat, penanaman poho secara rapat. Koridor sungai juga berfungsi menjaga kelestarian suber air, sebagai batas antara sungai dengan daerah sekelilingnya. Koridor sungai dapat memberikan keindahan visual dengan penataan yang sesuai dan pemanfaatan tumbuh-tumbuhan yang ada serta penambahan tumbuh-tumbuhan berwarna-warni.

Sedangkan RTH dengan kategori Taman adalah wajah dan karakter lahan atau tapak dari bagian muka bumi dengan segalakehidupan dan apa saja yang ada didalamnya, baik yang bersifatalami maupun buatan manusia yang merupakan bagian atau total lingkungan hidup manusia beserta mahluk hidup lainnya, sejauh mata memandang sejauh segenap indra kita dapat menangkap dan sejauh imajinasi kita dapat membayangkan.

E. Pelestarian Lingkungan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Lingkungan adalah keadaan sekitar yang mempengaruhi perkembangan tingkah laku makhluk hidup lainnya. Segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang mempengaruhi perkembangan kehidupan manusia baik langsung maupun tidak langsung.

(10)

keadaan semula demi kelangsungan hidup dengan tidak merusaknya. Pelestarian merupakan upaya dari perlindungan dan pengelolaan yang sangat hati-hati terhadap lingkungan.

Konservasi/pelestarian secara umum dapat diartikan pemeliharaan morfologi (bentuk fisik) dan fungsinya. Kegiatan pelestarian meliputi seluruh kegiatan pemeliharaan sesuai dengan kondisi dan situasi lokal maupun upaya pengembangan untuk pemanfaatan lebih lanjut. Bila dikaitkan dengan kawasan maka konservasi mencakup suatu upaya pencegahan adanya aktivitas perubahan sosial atau pemanfaatan yang tidak sesuai (Merusak).

Berdasarkan Undang-undang RI No 23 Tahun 1997 Tentang pengelolaan lingkungan Hidup adalah upaya terpadu guna melindungi fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan pemanfaatan pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan dan pengendaliaan lingkungan hidup.Menurut Praban Setyano (2011) didalam pelestarian lingkungan terdapat prinsip-prinsip yang digunakan. Adapun prinsip-prinsip antara lain.

1. Sikap hormat kepada lingkungan

2. Prinsip bertanggungjawab pada lingkungan 3. Solidaritas kosmis

4. Kasih sayang dan kepedulian terhadap lingkungan 5. Tidak merugikan

6. Hidu sederhanan dan serasi terhadap alam 7. Keadilan

8. Demokrasi 9. Integritas moral

F. Civil Society dalam prespektif Gerakan Lingkungan

(11)

Akibat penggunaan teknologi tidak rlingkungan, eksploitasi sumberdaya alam, pertambahan penduduk, kelestarian alam semakin terancam (Lathif. 2016).

Penulis berupaya membahas fenomena Civil Society ini dengan menggunakan teori gerakan masyarakat urban (urban movements) yang dikupas oleh Mahaswara (2016). Berbicara mengenai gerakan, selama ini kita lebih banyak mengenal teori gerakan sosial dengan dua kategorisasi di dalamnya, yakni gerakan sosial lama (old social movements) dan gerakan sosial baru (new social movements). Gerakan social lama berkonsentrasi terhadap dua tema besar, yakni perbaikan ekonomi melalui perjuangan kelas (the theme of class struggle) dan perjuangan ideologi politik (the theme of political ideology). Sementara itu, gerakan sosial baru merupakan respon atas masyarakat pos-industri, berkonsentrasi terhadap isu-isu kontemporer seperti politik identitas dan kualitas hidup meliputi; etnisitas, ras, perdamaian, isu perempuan, lingkungan sampai orientasi seksual. Aktor penggeraknya sendiri, tidak lagi terkotak pada kelas pekerja dan petani sebagaimana aktor-aktor dominan dalam gerakan social lama, melainkan melibatkan kelas menengah seperti mahasiswa, kaum intelektual, anak muda dll.

Dalam bingkai gerakan (movements), Mahaswara (2016) dapat dikatakan bahwa gerakan masyarakat urban merupakan salah satu bentuk dari gerakan sosial baru. Gerakan masyarakat urban mengangkat permasalahan perkotaan sebagai isu utama dengan melibatkan seluruh elemen kelas social dalam masyarakat.

(12)

pola kerjasama horizontal dari berbagai elemen, seperti mahasiswa sebagai kelas menengah yang membantu kaum miskin kota (misalnya pekerja imigran).

G. Studi Terdahulu (Literatur Review)

Sejumlah kajian dan pembahasan tentang strategi pengelolaan dengan konsep pelestarian sungai perkotaan berbasis gerakan sosial, lingkungan hidup, RTH dan pelestarian ekosistem dengan berbasis kearifan lokal dan masyarakat telah banyak dilakukan, antara lain.

Tabel 1. Kajian dan Peneliti Tentang pengelolaan Lingkungan Hidup wilayah Perkotaan.

No Penulis & Topik Penelitian Tujuan Penelitian Hasil Penelitian & Kesimpulan

1 Pandhu Yuanjaya (2015)

Modal Sosial Dalam dari penelitian ini adalah perbedaan capaian dari kedua Gajah Wong dan Merti Kampung. Sedangkan di Kampung

(13)

pemerintah dan aktor lainnya. Winongo dengan teknik analisis data deskriptif melalui penangan fokus pada air limbah, drainase, air bersih dan

3 Wasisto Raharjo Jati (2013)

Involusi “Program Kali selain halnya isu limbah cair sekaligus merekomendasikan masalah vital sungai Code.

Penelitian ini merekomendasikan isu masalah yang menonjol dalam Prokasih ini yakni pengesahan

5 Seftyono Cahyo (2014)

Rawa Pening Dalam

seberapa jauh dan aktif positif dalam mewujudkan Lingkungan

6 Vidyana Arsanti dan Sri Rum

(14)

Pengelolaan Sampah oleh dan jenis sampah yang dikelola yang dilakukan oleh masyarakat penelitian sudah cukup baik yaitu di Gondolayu Lor, Gambiran Lor, Gamelan, Bugisan, Jetisharjo, dan analisis pola tat ruang yang dilakukan oleh pemerintah Kota terbuka tersebut. 2) Nilai kinerja ruang dari hasil simulasi ruang khusunya ruang terbuka saling tergantung satu sama lain,, sehingga diperlukan integrasi satu

H. Posisi Pembahasan Penelitian

(15)
(16)

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif analisis yaitu penelitian yang berusaha menerangkan atau menggambarkan peristiwa yang terjadi pada obyek penelitian pada masa sekarang kemudian dijelaskan, dianalisa, dan disajikan sedemikian rupa sehingga menjadi gambaran yang sistematis (Soeharto, 2004). Melalui penelitian ini, peneliti berusaha mendeskripsikan atau melukiskan secara terperinci atau mendalam tentang kolaborasi pemangku kepentingan dalam mewujudkan dan mengelola kampung hijau.

A. Jenis Penulisan

Karya tulis ini merupakan jenis penelitian deskriptif analisis, yaitu penelitian yang berusaha menerangkan atau menggambarkan peristiwa yang terjadi pada obyek penelitian pada masa sekarang kemudian dijelaskan, dianalisa, dan disajikan sedemikian rupa sehingga menjadi gambaran yang sistematis (Soeharto, 2004).

B. Jenis Data

Karya tulis ini menggunakan jenis data sekunder. Menurut Sanusi (2011), data sekunder adalah data-data yang sudah tersedia dan dikumpulkan oleh pihak-pihak lain. Dalam karya tulis ini, data dari publikasi artikel, juranal dan proseding yang telah dikumpulkan oleh orang lain.

C. Teknik Pengumpulan Data

(17)

langsung”. Dalam praktiknya, teknik pengumpulan data dilakukan dengan mengunduh data secara langsung yang tersedia pada jurnal dan publikasi yang relevan dengan penelian yang sedang dikaji.

D. Teknik Pengolahan Data

(18)

BAB IV

TEMUAN DAN DISKUSI

A. Profil Komunitas Kampung Hijau Gambiran Yogyakarta

Selintas Komunitas Kampung Hijau Gambiran seperti kampung-kampung lain, komunitas Kampung Gambiran RW 08 yang warganya lebih 85% pendatang tidak begitu saja tumbuh kesadaran dan kebersamaannya. RW 08 Gambiran terdiri dari 5 RT yaitu RT 30, 31, 32, 45, 47, dan, RT 30, sebagai RT tertua tumbuh sekitar 1970, RT 31 Perum Pemda berpenghuni tahun 1978, RT 32 Sumendung mulai tahun 1984 dan RT 45 Gambiran Baru tahun 1985 dari data tahun 2007 jumlah KK 831, dengan 791 jiwa, Lansia 131, usia produktif 352 usia sekolah 230, sisanya usia anak-anak. Penduduknya heterogen, strata sosial menengah kebawah, Wilayah dibatasi jalan raya dan pada wilayah sisi timur dikelilingi Sungai Gajah Wong yakni RT 30, RT 45, RT 47, yang rentan bencana (http://www.kampunghijaugambiran.com/).

Sumber : http://www.kampunghijaugambiran.com/

(19)

yang mengakibatkan ”mendapatkan” dampaknya, Tidak hanyaitu, lingkungan yang tidak sehat menjadikan warga terkena demam berdarah bergantian.

Sungai Gajah wong tidak terkesan membawa bencana, akan tetapi alam akan marah jika diusik. Warga kemudian berdialog dengan melibatkan semua lapisan masyarakat, mencari penyebab dan solusinya kemudian “bersepakat untuk berbuat sesuatu untuk lingkungannya” Bagaimana permukiman lingkungan menjadi nyaman dan berkualitas bagi kehidupan warganya. Setelah melalui proses panjang kemudian masyarakat berkomitmen untuk mengelola /melestarikan lingkungan hidup sesuai kondisinya dengan mengutamakan kegiatan mengelola Sungai Gajahwong, Pengelolaan Sampah Mandiri, Energi Alternatif, Sanitasi ipal, Tamanisasi dan Penghijauan, Kembali ke Pangan Lokal sesuai Ekologi Lingkungan, kebutuhan sarana & ruang Publik dan Perpustakaan Jendela Dunia.

Wilayah permukiman yang berada di teras sungai tersebut kini menjadi percontohan permukiman hijau yang asri. RW 08 Gambiran terdiri dari 5 RT yaitu RT 30,31,32,45,47 ,RT 30 sebagai RT tertua tumbuh sekitar 1970, RT 31 Perum Pemda berpenghuni tahun 1978, RT 32 Sumendung mulai tahun 1984 dan RT 45 Gambiran Baru tahun 1985 dari data tahun 2007 jumlah KK 831 dengan 791 jiwa, Lansia 131, usia produktif 352 usia sekolah 230, sisanya usia anak-anak. Penduduknya heterogen, strata sosial menengah ke bawah, Wilayah dibatasi jalan raya dan pada wilayah sisi timur dikelilingi Sungai Gajah wong yakni RT 30 , RT 45 , RT 47 yang rentan bencana.

Secara definitif, Ruang Terbuka Hijau (Green Openspaces) adalah kawasan atau areal permukaan tanah yang didominasi oleh tumbuhan yang dibina untuk fungsi perlindungan habitat tertentu, dan atau sarana lingkungan/kota, dan atau pengamanan jaringan prasarana, dan atau budidaya pertanian. Selain untuk meningkatkan kualitas atmosfer, menunjang kelestarian air dan tanah, Ruang Terbuka Hijau (Green Openspaces) di tengah-tengah ekosistem perkotaan juga berfungsi untuk meningkatkan kualitas lansekap kota.

(20)

dari luas kota tersebut. Penambahan RTH ini sebagai bentuk perwujudan pemerintah dalam upaya menambah RTH yang ada di kota Yogyakarta.

Sumber : http://www.kampunghijaugambiran.com/

Pemerintah Kota Yogyakarta menambah ruang terbuka hijau seluas 5.000 meter persegi yang berada di bantaran Sungai Gajah Wong Kampung Hijau dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung. “Ruang terbuka hijau ini bisa dimanfaatkan warga untuk melakukan sosialisasi dan interaksi karena masalah yang selalu dihadapi oleh perkotaan, adalah kurangnya ruang untuk sosialisasi,” Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan (PUP) dan ESDM DIY Ir.Rani Sjamsinarsi.

(21)

“Tugas dari Pemerintah DIY adalah mendorong pemerintah kabupaten dan kota untuk terus mengembangkan wilayahnya melalui

pemberdayaan masyarakat seperti yang dilakukan saat ini,”. Pemerintah kabupaten/kota, perlu terus memiliki komitmen untuk pengembangan wilayah, termasuk pembangunan di kawasan sungai.

“Jika tidak punya dana, maka ajukan ke Pemerintah DIY. Nanti

kami akan bantu untuk mencarikan pendanaannya, apakah itu dari

DIY atau dana dari pusat,”.

Dinas PUP-ESDM DIY berencana bertemu dengan Dirjen Sumber Daya Air untuk membahas rencana pembangunan sungai sehingga bisa terintegrasi dengan pembangunan di sekitarnya.

Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Yogyakarta Edy Muhammad mengatakan, ruang terbuka hijau privat di Kota Yogyakarta sudah melebihi target nasional, yaitu 14,4 persen dari target 12 persen. Pembangunan ruang terbuka hijau di kampung hijau Pandeyan tersebut merupakan usulan dari warga sebagai bagian dari pemberdayaan masyarakat untuk pengembangan kawasan sungai. Gadjah Wong sudah memiliki forum sungai yaitu Forum Komunikasi Daerah Aliran Sungai (Forsidas) Gajah wong sebagai sebuah lembaga di masyarakat. Secara bertahap, Edy mengatakan, akan terus bergerak untuk menambah ruang publik dan ruang terbuka hijau di wilayah Kota Yogyakarta.

(22)

yang cukup lengkap. Taman ini memang di desain agar semua kalangan bisa menggunakannya. anak-anak pun dapat bermain dengan leluasa karena disediakan area bermain. Untuk yang suka bersepeda, tempat ini disediakan jalur khusus sepeda dan juga tempat parkirnya.

B. Strategi Gerakan Lingkungan “Kampung Hijau” dalam mewujudkan Lingkungan Hidup Kampung Hijau Gambiran Yogayakarta.

Gerakan lingkungan oleh masyarakat muncul sebagai tanggapan atas kegagalan kebijakan lingkungan pemerintah kota dalam mengatasi dampak negative dari degradasi lingkungan. Program Kampung Hijau yang diperkenalkan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta pada tahun 2007 lebih jauh menunjukkan gerakan lingkungan dapat merubah kebijakan lingkungan. Dari seluruh komunitas yang menerapkan Kampung Hijau, Kampung Gambiran dan Kampung Gondolayu Lor menjadi komunitas kampung dengan capaian paling memuaskan baik dari aspek prestasi, kegiatan, infrastruktur dan peran aktif masyarakat.

Christiansen (2009), menjelaskan keempat tahap gerakan adalah tahap kemunculan (emerge), tahap koalisi (coalescene), tahap formalisasi (bureaucratization), dan tahap surut (decline). Sebagai upaya menghindari bias dalam penggunaan istilah serta mengacu dua pendapat tersebut, penelitian ini menggunakan istilah “hasil” pada tahap keempat. Tahapan tersebut dijelaskan sebagai berikut:

(23)

atau kondisi sosial tertentu, tetapi mereka tidak mengambil tindakan dan bergerak secara individu

2. Tahap kedua yaitu koalisi, perasaan ketidakpuasan menjadi kolektif dan mulai mengorganisir dan membuat strategi.

3. Tahap ketiga yaitu formalisasi, gerakan telah memiliki karakteristik sebagai organisasi.

4. Tahap keempat yaitu hasil, berupa: represi, kooptasi, kekeberhasilan, dan kegagalan.

Gerakan lingkungan yang dilakukan masyarakat Kampung Gambiran tidak dapat dipisahkan dengan degradasi lingkungan dan bencana yang ditimbulkannya. Pada kurun waktu Desember 2004 hingga Februari 2005 (musim penghujan) di Kampung Gambiran terjadi bencana banjir yang menyebabkan banyak kerugian, antara lain: hancurnya saluran pelimpah, taman dan infrastruktur terutama yang ada di RT 31 seluas ±500m2, serta mengakibatkan rusaknya beberapa rumah warga. Tidak hanya banjir, tahun 2005 menjadi puncak dari degradasi lingkungan, ditandai dengan terjangkitnya sebagian besar warga dari penyakit demam berdarah, namun masyarakat masih menganggap sebagai masalah pribadi dan juga diselesaikan pada ranah privat. Usaha mempersatukan masyarakat dimulai dengan menghilangkan culture gap atau kesenjangan budaya dalam masyarakat.

Masyarakat kemudian berinisiatif untuk mengadakan musyawarah yang disebut dengan “rembug warga”. Masyarakat secara kolektif berkerja bersama memperbaiki lingkungan meskipun tidak terlembaga. Pendampingan dilakukan oleh oleh BLH Kota Yogyakarta dan WALHI (kampanye lingkungan Maret 2005-Mei 2006 dan pendampingan intensif Juni 2006-April 2007). Berdasarkan evaluasi BLH dan WALHI, kemandirian warga gambiran telah menunjukkan kemampuan suatu komunitas dalam memberdayakan diri sendiri di bidang lingkungan. Pada bulan April 2007, gerakan lingkungan terintegrasi dalam Program Kampung Hijau sebagai sarana institusionalisasi gerakan.

(24)

pengembangan energi alternatif (biogas dan energi surya). Beberapa kegiatan lingkungan diantaranya; Peringatan Hari Bumi, Ulang Tahun WALHI, wayangan (pertunjukan wayang) rutin, Gerakan Hemat Air, Seminar Nasional Lingkungan, studi banding, penelitian dan lain sebagainya. Beberapa penghargaan/ prestasi yang dicapai sebagai berikut: Juara Lomba Kampung Hijau Tingakat Provinsi DIY (2007), Juara Umum Lomba Kali Bersih Kota Yogyakarta (2008), Juara Green and Clean Provinsi DIY (2008), Juara Walikota Award Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (2009), Rintisan ProKlim (Kampung Iklim) Kementerian Lingkungan Hidup (2012), Juara Indonesia MDG’s Award (2013). Pada tahun kelima (2012), Kampung Gambiran dapat meluaskan gerakan lingkungan dengan membentuk Forsidas Gajah Wong dan menyelenggarakan ritual Merti Kampung Gambiran.

Bagian ini mengidentifikasi melalui keenam unsur-unsur modal sosial kepercayaan, jaringan sosial, saling tukar kebaikan, norma, nilai-nilai dan tindakan yang proaktif dari kampong hijau gambiran

1. Pengaruh internal dari modal sosial di Kampung Gambiran dapat memobilisasi dan mengakses sumberdaya masyarakat seperti, tenaga, waktu, dana, pengetahuan, pengalaman, loyalitas dan sebagainya. Pengaruh eksternal terlihat dari kemampuan masyarakat Kampung Gambiran dalam menjalin kerjasama yang luas dengan berbagai stakeholder.

2. Kampung Gambiran, masyarakat sangat menjaga kepercayaan tidak hanya secara internal, namun juga terjaga dalam menjalin kerjasama dengan pihak eksternal melalui berbagai kerjasama multi years yang berkelanjutan.

3. Kemampuan jaringan internal di Kampung Gambiran ditunjukkan berbagai aktivitas dapat dilakukan baik pembangunan fasilitas umum dan kegiatan lingkungan dilakukan secara swadaya.

(25)

berbagai CSR dari perusahaan (misalnya: Unilever), lembaga pendidikan (UGM dan UTY), Media, dan memperluas pengaruh gerakan lingkungan dengan terbentuknya Forsidas dan Merti Kampung. 5. Resiprositas atau timbal balik bagi masyarakat Kampung Gambiran

bermakna terciptanya lingkungan yang baik, perubahan perilaku, kebiasaan dan juga sosial ekonomi dari pengelolaan lingkungan.

6. Konsistensi mematuhi norma dan nilai lingkungan, di Kampung Gambiran menjadi pedoman dalam berperilaku sesuai dengan kaidah lingkungan. Kegiatan lingkungan Kampung Gambiran selalu diiringi partisipasi yang tinggi dari masyarakatnya baik berupa tenaga, dana, waktu, loyalitas dan lain sebagainya serta dari capaian yang telah diperoleh menunjukkan adanya inovasi dan inisiatif dalam masyarakat.

(26)

Kampung Gambiran, kelompok yang dibangun atas dasar kesamaan orientasi dan tujuan serta dengan ciri pengelolaan organisasi yang lebih terbuka, memiliki tingkat partisipasi anggota lebih baik dan memiliki rentang jaringan lebih luas.

Pada tahapan selanjutnya penulis akan menganalsis kolaborasi pemangku kepentingan dalam memelihara kampong hijau gambiran. Adapun kolaborasi actor dan pemangku kepentingan dapat dilihat pada table dibawah ini:

No Stakeholder’s Category Peran Kepentingan Derajat pengaruh

1 Pemerintah (Badan

3 Swasta CSR dari perusahaan

(misalnya: Unilever)

4 Masyarakat Implementator Tinggi

(27)

memiliki tingkat partisipasi anggota lebih baik dan memiliki rentang jaringan lebih luas.

Selain itu dari hasil analisa penulis bahwasannya masyarakat umbulharjo gambiran menjadi key player dalam program kampung hijau karena memiliki tingkat kepentingan dan menjadi implementator dalam pelaksanannya. Sedangkan pihak swasta dan LSM seperti walhi sebagai context setter yaitu pemangku kepentingan yang memiliki pengaruh tinggi tetapi kepentingannya dan partisipasinya

rendah rendah. Pemerintah dalam hal ini BLH kota menjadi kategori pemangku

kepentingan subject yaitu memiliki kepentingan yang tinggi namun partisipasinya

(28)

BAB V KESIMPULAN

Dari pembahasan yang telah dijabarkan makan dapat ditarik beberapa kesimpulan antara lain:

1. Munculnya gerakan lingkungan hidup Kampung Hijau Gambiran oleh masyarakat sebagai tanggapan atas kegagalan kebijakan lingkungan pemerintah kota dalam mengatasi dampak negative dari degradasi lingkungan. Dengan kata lain masyarakat berinisiatif untuk mengadakan musyawarah dengan didampingi oleh NGO seperti Walhi

2. Kesuksesan gerakan lingkungan hidup Kampung Hijau Gambiran cenderung disebabkan oleh komitmen masyarakat dan adanya modal sosial seperti kepercayaan, jaringan sosial, saling tukar kebaikan, norma, nilai-nilai dan tindakan yang proaktif. Selain itu aktivitas dilakukan baik pembangunan fasilitas umum dan kegiatan lingkungan dilakukan secara swadaya. Sehingga terciptanya lingkungan yang baik, perubahan perilaku, kebiasaan dan juga sosial ekonomi dari pengelolaan lingkungan

(29)

DAFTAR PUSTAKA

Yuanjaya, P. 2015. Modal Sosial Dalam Gerakan Lingkungan: Studi Kasus Di Kampung Gambiran Dan Gondolayu Lor, Kota Yogyakarta. Jurnal NATAPRAJA Kajian Ilmu Administrasi Negara. III (I) hlm, 57-72.

Raharjo Jati. 2013. Involusi “Program Kali Bersih” (PROKASIH) di Kota Yogyakarta. Involution of “River Purification Policy“ in Yogyakarta. Jurnal Masyarakat, Kebudayaan dan Politik. 26, 4, hal 217 -226

Setiadi, A (2011). Pola Penanganan Infrastruktur Pada Kawasan Permukiman Kumuh Studi Kasus Kawasan Bantaran Sungai Winongo. Disampaiakan pada SEMINAR NASIONAL-1 BMPTTSSI – KoNTekS. Universitas Sumatera Utara, Medan - 14 Oktober 2011.

Mayasari A., Kusuma A., Syahrani (2014). Persepsi Masyarakat Terhadap Kebijakan Relokasi Penduduk Bantaran Sungai Karangmumus Samarinda Kalimantan Timur (Studi Kasus : Kebijakan Relokasi Penduduk Bantaran Sungai Karangmumus). eJournal Administrative, 2 (4) hlm 2422-2434 Seftyono, C. 2014 . Rawa Pening Dalam Perspektif Politik Lingkungan: Sebuah

Kajian Awal. Indonesian Journal Of Conservation. III (I) Hlm. 7-15 Pramudito, S. (Tanpa Tahun). Analisis Pola Tata Ruang Terbuka Tepian Sungai

Winongo di kampung Budaya Bangunrejo. Diakses pada tanggal 11 Maret 2017.

Pratopo, Totok. Sosialisasi Sungai Kabupaten Banyumas Balai Besar Wilayah Sungai (Bbws) Serayu Opak “Belajar Tentang Gerakan Komunitas Kali

Code Yogyakarta”. Handout pribadi diakses 24 Oktober 2015.

Rijal, S. 2008. Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau Di Kota Makassar Tahun 2017. Jurnal Hutan Dan Masyarakat. III. 1 hlm, 001-110

Arsanti, V. & Giyarsih, S. 2012. Pengelolaan Sampah oleh Masyarakat Perkotaan di Kota Yogyakarta. Jurnal Sains dan Teknologi Lingkungan. IV, I hlm 55‐66

Bagus Kurniawan. 2015. Komunitas Kampung Hijau Gambiran Menyulap Area Banjir Jadi Taman Kota. Diakses pada tanggal 11 Maret 2017 dari

http://news.detik.com/berita/3014274/komunitas-kampung-hijau-gambiran-menyulap-area-banjir-jadi-taman-kota

Tommy Apriando. 2015. Belajar dari Kampung hijau gambiran Yogyakarta. Diakses pada tanggal 11 Maret 2017 dari http://www.uwong.co/2015/03/belajar-dari-kampung-hijau-gambiran-yogyakarta

Fatnasari, H & Hermana, J. 2010. Strategi Pengelolaan Air Limbah Permukiman Di Bantaran Kali Surabaya. Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi XI. Program Studi MMT-ITS.

Gambar

Tabel 1. Kajian dan Peneliti Tentang pengelolaan Lingkungan Hidup wilayah

Referensi

Dokumen terkait

Ketidaktaatan penanggungjawab usaha dan/atau kegiatan sektor industri skala besar dalam pelaksanaan kewajiban pengelolaan lingkungan hidup disebabkan oleh komitmen

Permasalahan lingkungan hidup tidak hanya dirasakan pada negara berkembang, tetapi juga oleh negara maju yang merupakan isu global akibat beberapa masalah lingkungan

Peran serta masyarakat dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup haruslah ter- buka untuk umum, karena peran masyarakat sangat mempengaruhi kredibilitas badan

Maksud utama disusunnya Informasi Kinerja Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah adalah untuk memberikan informasi kepada para pengambil keputusan di tingkat pusat dan

PERSYARATAN PERIZINAN BERUSAHA PEMENUHAN KOMITMEN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP YANG HARUS DILAMPIRKAN Telah terima berkas Permohonan Pendaftaran Saudara atas nama : Nama Perusahaan :

sejarah yang masih kental dalam lingkungan masyarakat tak lepas dari peran pemerintah maupun para tokoh internal Kampung Adat Mahmud, Tokoh adat yang mengajar pengetahuan agama islam

Pengembangan Karakter Peduli Lingkungan melalui Program Adiwiyata di Kampung Budak Capetang bahwa pengembangan karakter peduli lingkungan melalui program Adiwiyata di Kampung Budak

Menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.42 Tahun 1994 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Audit Lingkungan, audit lingkungan adalah: Suatu manajemen yang meliputi evaluasi