SYARIKAT ISLAM
Rabu, 22 Oktober 2008
SYARIKAT ISLAM atau MASYUMI
SYARIKAT ISLAM atau MASYUMI
Himbauan kepada para pemimpin dan ummat Islam Indonesia untuk merenungkan, memikirkan dan meluruskan sejarah Partai Islam sebagai landasan mewujudkan
persatuan dalam ummat Islam dibidang politik
Terbentuknya Partai Politik Islam Masyumi sesungguhnya adalah merupakan suatu kesalahan karena Masyumi itu didirikan sebagai Majelis Permusyawatan Para Ulama Indonesia dan kolompok / organisasi Islam yang ada pada waktu itu untuk tujuan mendirikan majelis imamah dan bukan untuk menjadi partai politik. Idenya sebagai kelanjutan dari MIAI (Al Majlisul Islamil A’la Indonesia) yang didirikan tahun 1937 di Surabaya untuk menyelesaikan perbedaan dan perselisihan paham dikalangana
ummat islam.
Hal ini adalah merupakan suatu kealpaan dan kelengahan tokoh PSII yang tidak menyadari bahwa PSII sedang dalam keadaan uzur (tidak bubar) Para tokoh PSII seharusnya mendeklarasikan lebih dahulu aktifnya kembali PSII sebagai partai politik Islam dan mengajak para pemimpin Islam itu menggunakan PSII sebagai satu-satunya partai politik Islam dan mencegah berdirinya Masyumi sebagai partai politik Islam karena tindakan tersebut dapat diibaratkan mendirikan sebuah mesjid baru disamping mesjid yang sudah ada dalam sebuah lingkungan. Hukumnya adalah membuat firkah yang tidak sesuai dengan ketentuan Allah dalam Al Qur’an surat Ali Imran (103).
Lahirnya Partai Syarikat Islam Inodesia (PSII)
lebih dari tiga abad. Untuk meluaskan gerakan dan memenuhi aspirasi ummat Islam yang berkembang waktu itu, setelah para pemimpin SDI mengadakan perhubungan dengan HOS Tjokroaminoto maka pada tahun 1912 dikukuhkanlah nama Syarikat Islam sebagai badan pergerakan, ditetapkan Anggaran Dasarnya, kemudian tanggal 14 September 1912 dimintakan pengesahan Akte Notaris Pendiriannya (Recht Persoon) dari pemerintahan Kolonial Belanda. Setelah itu SI menjadi Partai Syarikat Islam Hindia Timur (PSIHT) melalui Kongres (Majelis Tahkim) tahun 1927 di Madiun, lalu menjadi Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) melalui Majelis Tahkim di Batavia tahun 1930. PSII sebagai peletak nilai dasar sejarah dan pelopor dalam barisan organisasi politik pada zaman pra kemerdekaan telah memiliki nilai historis yang amat berarti dan telah melakukan peranan yang amat penting dalam kontek peletakan nilai dasar sejarah pergerakan bangsa Indonesia dan telah melahirkan proses pembangunan semangat juang yang tinggi untuk melepaskan bangsa dari cengkeraman kaum yang menjajah dan memperbudak bangsa Indonesia.Partai Syarikat Islam Indonesia dizaman penjajahan adalah organisasi yang paling ditakuti oleh pemerintah kolonial Belanda karena sepak terjangnya yang nyata nyata akan membawa bangsa Indonesia kepada kemerdekaan sebagai bangsa, dan kemerdekaan yang lebih luas yang disebut kemerdekaan sejati, yaitu kemerdekaan yang bebas dari segala macam perhambaan dan penindasan serta penghinaan diri dan dari segala ketakutan dalam segala aspek kehidupan dan pergaulan karena kaum Syarikat Islam hanya akan menghambakan diri kepada Allah SWT semata-mata, tiada kepada yang lainnya. PSII akan menwujudkan persamaan derajat bangsa Indonesia dengan bangsa bangsa lainnya di dunia yang dilandasi etika dan moral sesuai dengan ajaran Islam.
Persatuan dalam Ummat Islam adalah kebutuhan dan perintah Allah
Qur’an suart Ali ‘Imram ayat ke 103: Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, (QS:Ali Imran:103).
Kemudian pada surat Ali 'Imran ayat ke 105 Allah berfirman:
Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.
Kemudian Allah berfirman lagi dalam surat Al Al Anfal ayat 73:
Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu (keharusan adanya persaudaraan yang teguh antara kaum muskimin), niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. Sudah sangat jelas sekali dari keterangan diatas bahwa Allah memerintahkan dan mewajibkan kepada ummat Islam untuk bersatu, tidak bercerai berai dan membangun kerja sama dengan senantiasa menggugah serta menggerakkan hati nurani, akal dan budi untuk menghimpun kearifan demi tercapai dan terpeliharanya islam dalam wujud kemerdekaan, tegaknya keadilan, tercipta dan terpeliharanya perdamaian, adanya kemak-muran dan kesejahteraan dalam keridhaan dan ampunan Allah SWT. Persatuan yang demikian itulah dibangunkan oleh kaum Partai Syarikat Islam Indonesia yang didalam persatuannya itu menjadi sebagian pula dalam Persatuan
Ummat Islam se dunia.
Tokoh-tokoh pendahulu PSII telah terlibat dalam berbagai peristiwa penting proses perjuangan dan peletakan sendi dasar sistem kehidupan bangsa Indonesia, seperti Sumpah Pemuda, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), Piagam Jakarta, penyusunan Undang-Undang Dasar 1945, peristiwa 10 Nopember 1945 di Surabaya, serta dalam cikal bakal dan pembangunan Angkatan Perang Republik Indonesia dan berbagai kegiatan politik setelah kemerdekaan Indonesia.
Uzur tidak berarti bubar
Pada zaman penjajahan facicme Jepang (tahun 1942) seluruh kegiatan politik PSII dinyatakan uzur karena tekanan yang kuat dan pelarangan semua kegiatan politik oleh Jepang.
kemudian jika keadaan telah memungkinkan maka PSII akan menjalankan kembali aktivitasnya sebagai partai politik. Hal ini dinyatakan dalan Anggaran Dasar PSII, bahwa: “Sekalian anggota Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) haruslah berkeyakinan dan beri’tiqad, bahwa Partai itu tidak dapat bubar atau dibubarkan. Adapun kalau sekiranya ada udzur baginya, hendaklah dikembalikan kepada firman Allah dalam Al Qur’an surat At Taghabun ayat 16: “Fattaqullaha mastatha’tum”, (Takutlah kamu sekalian kepada Allah dengan sekuat kuatmu).
Akan tetapi, meskipun PSII dalam keadaan uzur, para pemimpin dan kader PSII tetap melakukan berbagai kegiatan baik secara diam diam dibawah tanah maupun kegiatan formil dalam pemerintahan Jepang. Mereka telah turut berperan mengantarkan bangsa Indonesia kedepan pintu gerbang kemerdekaan 17 Agustur 1945.
Tokoh Tokoh PSII yang terlibat dalam sejarah perjuangan kemedekaan
Apabila kita melihat kebelakang sejarah bangsa Indonesia, tidak sedikit tokoh-tokoh Syarikat Islam telah terukir namanya dan tidak dapat dihapus dalam sejarah pergerakan kemerdekaan bangsa ini, antara lain K.H. Samanhudi, HOS Cokroaminoto, H.Agus Salim, Abdul Muis, Dr.Sukiman, Abikusno Tjokrosuyoso, Mr.Muh. Roem, A.M.Sangadji dan banyak lagi yang tersebar diseluruh daerah Indonesia sebagai suhada. Presiden R.I. ke I Ir.Sukarno (almarhum) yang mendapat gemblengan dari tokoh Syarikat Islam berkata dalam otobiografinya yang ditulis Cindy Adams halaman 52 tentang HOS Tjokroaminoto: “Seorang tokoh yang mempunyai daya cipta dan cita-cita tinggi, seorang pejuang yang mencintai tanah tumpah darahnya. Pak Tjokro adalah pujaanku. Aku muridnya. Secara sadar atau tidak sadar dia menggemblengku”. Selain itu KH.Achmad Dahlan yang kemudian dikenal sebagai tokoh dan Pimpinan Muhammadiyah, sesungguhnya adalah tokoh sayap pendidikan Syarikat Islam, yang dipisahkan dari organisasi Syarikat Islam untuk kepentingan mempertahankan eksistensi kegiatan pendidikan ini ditengah-tengah pemerintahan kolonial Belanda, karena Syarikat Islam pada tahun 1922 melancarkan politik non kooperatif terhadap pemerintah Hindia Belanda.
Menghindari perselisihan karena soal furuk dan khilafiah
telah dicegah menjalarnya perselisihan dan pertikaian dalam soal agama Islam, terutama sekali mengenai soal-soal furuk dan dengan itu persatuan kaum muslimin dapat lebih dipererat dari waktu yang sudah-sudah. Selain keputuan dalam bidang pendidikan, Kongres tersebut memutuskan mendirikan Badan Komite Al Islam Pusat, yang pimpinannya diserahkan kepada Saudara Suroso tokoh Syarikat Islam dari Garut. Masyumi sebelum menjadi Partai Politik dan kesalah fahaman yang terjadi setelah Masyumi menjadi Partai.
Pada awal kemerdekaan setelah penjajahan Jepang dibentuklah Majelis Syura Muslimin Indnesia sebagai Majelis Permusyawatan Para Ulama Indonesia dan kolompok/organisasi Islam yang ada pada waktu itu dan bukan sebagai partai politik. Idenya sebagai kelanjutan dari MIAI (Al Majlisul Islamil A’la Indonesia) yang didirikan tahun 1937 di Surabya. Para tokoh Syarikat Islam secara perorangan (bukan mewakili PSII karena PSII masih dalam keadaan uzur) turut serta membentuk Masyumi sebagai lembaga musyawa-rah ummat Islam Indonesia.
Kemudian setelah keluar pengumuman pemerintah pada awal kemerdekaan agar masyarakat membentuk partai-partai politik, yang dimaksudkan untuk menunjukan kepada dunia luar bahwa kemerdekan Indonesia yang telah diproklamasikan itu didukung dan ditopang oleh kekuatan partai partai politik bangsa Indonesia, maka organisasi Majelis Syura Muslimin Indonesia menjadi partai Politik Islam Masyumi.
Terbentuknya Partai Politik Islam Masyumi sesungguhnya adalah merupakan suatu kesalahan
Hal ini adalah karena Masyumi itu didirikan sebagai Majelis Permusyawatan Para Ulama Indonesia dan kolompok / organisasi Islam yang ada pada waktu itu untuk tujuan mendirikan majelis imamah dan bukan untuk menjadi partai politik. Idenya sebagai kelanjutan dari MIAI (Al Majlisul Islamil A’la Indonesia) yang didirikan tahun 1937 di Surabaya untuk menyelesaikan perbedaan dan perselisihan paham dikalangana ummat islam.
partai politik Islam karena tindakan tersebut dapat diibaratkan mendirikan sebuah mesjid baru disamping mesjid yang sudah ada dalam sebuah lingkungan. Hukumnya adalah membuat firkah yang tidak sesuai dengan ketentuan Allah dalam Al Qur’an surat Ali Imran (103).
Setelah terlanjur berdirinya partai politik Islam Masyumi dimana terdapat para pemimpin dan tokoh-tokoh PSII didalamnya, maka para tokoh PSII dari Sumatera Barat (Sumatera Tengah pada waktu itu) menyampaikan peringatan kepada para tokoh PSII yang ada dalam Masyumi, bahwa PSII yang sedang uzur harus diaktifkan kembali sebagai partai politik Islam. Maka sebagian besar tokoh PSII yang menyadari dan taat sebagai kader yang telah mengucapkan bai’at sebagai anggota PSII, kembali mengaktifkan PSII pada tahun 1947 di Yogyakarta sebagai partai politik dan keluar dari Masyumi.
Untuk diketahui bunyi bai’at PSII adalah sbb.:
Asyhadu allailaha illallah wa asyhadu anna –Muhammadan rasulullah Wallahi. Demi Allah !, sesungguhnya saya masuk menjadi anggota Partai Syarikat Islam Indonesia dengan ikhlas dan suci hati, tidak karena sesuatu keperluan diri saya sendiri, atau karena megharapkan pertolongan dalam suatu perkara dari sebelum saya
menjadi anggota.
Selama-lamanya saya akan meninggikan Agama Islam diatas segala apa-apa yang dapat saya pikirkan, maka saya akan tetap mengerjakan segala perintah Allah dan perintah Rasul Allah dan menjauhi segala larangan-Nya
Saya hendak mengusahakan diri dengan sekuat-kuat ketakutan saya kepada Allah Ta’ala dan dengan sekuat-kuat fikiran dan tenaga saya hendak menyampaikan maksud Partai Syarikat Islam Indonesia dan sekali-kali tidak akan membuat bencana atau khianat atas Partai Syarikat Islam Indonesia.
Saya hendak memperhatikan dan menurut dengan sungguh-sungguh ketentuan-ketentuan Peraturan Dasar dan keputusan-keputusan Majelis Tahkim Partai Syarikat Islam Indonesia dan selalu membela Partai Syarikat Islam Indonesia dari pada bencana fihak mana saja.
dalam persatuan Islam dengan mendirikan PSII itu, pada hal keadaannya adalah karena taat kepada azas partai tentang uzur dan taat kepada bai’at yang tercantum dalam anggaran dasar PSII. Kondisi kesalah pahaman ini berkembang dan berlanjut hingga saat ini tanpa pernah adanya clarifikasi dan penjernihan serta pemecahan masalah tentang pemahaman arti persatuan dalam ummat Islam dibidang politik.
Perlu adanya klarifikasi tentang sejarah Partai Politik Islam
Berdasarkan hal hal yang diuraikan tersebut diatas kita tidak dapat menyalahkan betul keterlanjuran berdirinya Masyumi pada waktu itu, akan tetapi kita juga tidak dapat menyalahkan tokoh-tokoh PSII mengaktifkan kembali Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII). Keadaan yang demikian itu telah menyebabkan terjadinya firkah partai politik Islam di Indonesia. Persoalan selanjutnya adalah bahwa partai Masyumi telah dibubarkan oleh pemerintah Sukarno, karena alasan terlibat dalam pemebrontakan PRRI dan PERMESTA. Jika secara hukum hal pembubaran itu sah adanya, maka partai Masyumi tidak memenuhi syarat lagi untuk diaktifkan atau dihidupkan kembali, akan tetapi jika tindakan Sukarno membubarkan Masyumi dianggap tidak syah secara hukum, hanya sah secara politik maka Masyumi menurut pandangan demokrasi liberal boleh hidup lagi jika keadaan politik mengizinkannya. Akan tetapi jika ditinjau dari sudut pandangan Islam berdasarkan Qur’an surat Ali ‘Imran (103), bila telah ada partai Islam maka tindakan mendirikan lagi partai Islam adalah termasuk tindakan membuat firkah. Apalagi jika ditinjau dari sejarah terbentuknya Masyumi dimana telah ada Partai Syarikat Islam Indonesia yang sedang uzur, maka seharusnya Partai Syarikat Islam Indonesialah yang mesti digunakan sebagai wadah partai bagi Ummat Islam Indonesia. Silahkan para pemimpin, cendekiawan dan tokoh Islam berkiprah didalammnya. Dan menggunakan nama Partai Syarikat Islam Indonesia sebagai satu-satunya Partai Islam milik kaum muslimin Indonesia tidaklah boleh diartikan memenangkan kepentingan dan untuk kebanggaan kaum Syarikat Islam akan tetapi hendaklah dianggap sebagai melaksanakan perintah Allah untuk bersatu dalam wadah (jamaah) yang telah ada, dan yang menang dan bangga adalah ummat Islam Indonesia.
PSII semasa dan setelah orde baru
Pada zaman orde baru, berdasarkan Undang-undang Parpol dan Ormas yang memasung hak demokrasi dan hak politik rakyat, PSII terpaksa dengan berat hati dibawah tekanan politik yang amat berat memfusikan kegiatan politiknya kedalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yaitu partai yang didirikan dengan memfusikan kegiatan politik dari 4 partai politik Islam: NU, MI, PSII dan PERTI. Setelah itu PSII berubah menjadi organisasi kemasyarakatan non politik dengan nama Syarikat Islam.
Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang dibentuk semasa orde baru itu meskipun dilahirnya sangat sesuai dengan doktrin atau paham kemasyarakatan Syarikat Islam tentang persatuan dalam ummat Islam, akan tetapi usaha tersersebut disinyalir kuat berbau rekayasa untuk mengendalikan dan memecah kekuatan dan persatuan dalam kelompok kelompok ummat Islam. Hal tersebut menjadi dasar keengganan sebagaian besar kaum Syarikat Islam untuk memfusikan kegiatan politiknya kepada PPP dan lagi pula karena hal itu bertentangan dengan Anggaran Dasar, keyakinan dan i’tiqad kaum Syarikat Islam bahwa PSII itu tidak dapat bubar atau dibubarkan sebagaimana yang dinyatakan oleh anggaran dasarnya.
Sinyalemen tersebut terbukti dari berhasilnya pemerintah mengintervensi PPP, mengkebirinya, dan menyelewengkan fungsinya, sehingga PPP menjadi partai ornament pemerintah atau ornament penguasa orde baru. PPP dizaman order baru hanya sebagai tukang stempel keinginan penguasa dan tukang pemberi komentar yang baik terhadap semua rencana pemerintah, serta tukang mengusulkan kemauan penguasa yang seolah-olah usul dari partai ini.
selalu ada titipan (susupan) orang pemerintah kedalam partai sehingga partai dapat dikendalikan.
Pencabutan asas Islam kemudian diberlakukan pula kepada semua ormas Islam yang ada termasuk SI yang telah menjadi ormas, menggantinya dengan Pancasila, sebagai syarat untuk memperoleh legalitas atau syarat perizinan melakukan kegiatannya
secara formil.
PPP yang telah berhasil dijadikan ornament pemerintah ini lebih jauh telah menjadi partai per ”SATE” an bagi kehidupan ormas pendiri PPP. Politik belah bambu yang sering diterapkan para fungsionaris PPP terhadap ormas-ormas pendiri PPP karena tekanan politik penguasa yang dalam istilahnya dikenal dengan nama operasi TUNTAS yaitu TUNTUNAN DARI ATAS dan ditambah lagi dengan berkembangkanya usaha-usaha untuk memperjuangkan kepentingan kelompok sendiri didalam partai telah menghasilkan perpecahan dalam tubuh ormas-ormas pendiri PPP. Organisasi kaum Syarikat Islam adalah salah satu korban yang tercabik-cabik oleh rekayasa sistem politik orde baru itu disamping NU, MI dan PERTI. Pernyataan NU kembali kepada khitah tahun 26 menjelang pemilu 1987 adalah sebagai akibat dan jawaban dari sepak terjang kebijakan penguasa orde baru yang menekan dan mendorong PPP untuk menjalankan politik belah bambu yang sangat merugikan organisasi NU itu. Kelompok MI yang tidak terorganisir secara formil dan tidak pernah melaksanakan kongres ataupun munas, seperti mendapat penunjukan dari penguasa untuk memegang kendali yang mengontrol PPP. Tidak pernah PPP di ketua umumi oleh orang bukan MI setelah tidak menjadi partai Islam.
Gugurlah arti dan makna fusi partai partai Islam
Hakikatnya semua partai politik waktu itu (zaman orde baru) berada dibawah suatu kontrol dan kendali kekuasaan politik. Dengan demikian PPP sebagai partai Islam harus dianggap sudah tidak ada lagi, dan seharusnya partai itu ditinggalkan dan dibubarkan, dan para anggotanya kembali bergabung kepada organisasi masing-masing sebelum PPP. Dengan demikian PPP sebagai salah satu sumber pemecah belah ummat pada organisasi pendirinya dapat diakhiri.
Reformasi yang menghidupan Demokrasi dan mengantarkan Syarikat Islam kembali pada fitrahnya sebagai Partai Politik Islam
Setelah berlalunya masa orde baru, dengan adanya gerakan moral oleh para mahasiswa yang mendorong dilakukannya reformasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, untuk mengembalikan kehidupan demokrasi dan melepaskan pemasungan hak politik rakyat, maka Syarikat Islam sebagai organisasi perintis dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia yang telah mengantarkan bangsa Indonesia kedepan pintu gerbang kemerdekaan 17 Agustus 1945, serta turut aktif dalam kegiatan politik dan kemasyarakatan mengisi kemerdekaan, telah mengambil sikap dan langkah mengembalikan kiprahnya sebagai partai politik pada tanggal 29 Mei 1998 yaitu mengaktifkan kembali PSII dengan berasaskan dienul Islam sebagaimana semula.
Euphoria yang ke bablasan
Dalam awal arus reformasi yang sedang berembus itu para tokoh dan para pemimpin masyarakat dari berbagai golongan dengan riang gembira ramai-ramai mendirikan partai-partai politik menyambut datangnya era demokrasi. Tidak ketinggalan para tokoh Islam atau yang menganggap dirinya tokoh Islam turut pula mendirikan berbagai partai Islam dengan berbagai latar belakang pemikiran.
berasas Pancasila dan tertutupnya kesempatan aktifis ormas untuk bisa aktif dalam partai dan PPP sudah tidak berasas Islam.
Perolehan kursi tidak berarti legitimasi hukum sebagai partai Islam sesuai Al Qur’an
Diperolehnya banyak kursi oleh PPP dalam DPR pada pemilu 1999 belum dapat dianggap sebagai legitimasi PPP sebagai partai Islam yang keberadaannya sesuai dengan Al Qur’an, melainkan hanya karena emosinal ke islaman para pendukung yang tidak menyadari keadaan dan hukum tentang keberadaan partai Islam menurut Al Qur’an.
Mencari titik temu dengan membuka hati dan berlapang dada, ikhlas karena Allah, meletakkan kepentingan Islam diatas kepentingan pribadi dan kepentingan golongan
Dengan menyadari telah terlanjurnya berdiri banyak partai-partai Islam di Indonesia sebagai firkah-firkah kekuatan politik ummat Islam yang tidak sesuai dengan Al Qur’an, maka para pemimpin partai dan tokoh tokoh Islam bertanggung jawab, harus membuka hati selapang-lapangnya dan pikiran seluas-luasnya menyeleng-garakan forum forum dialog secara luas dan terus menerus hingga tercapai titik temu dalam visi dan missi serta rumusan-rumusan tentang hakikat, tujuan, fungsi dan peranan serta garis pemikiran yang detail tentang bagaimana seharusnya partai partai Islam Indonesia. Setiap orang Islam yang sesungguhnya adalah seorah pejuang. Seorang pejuang / mujahid Islam adalah mereka yang meletakkan kepentingan Islam diatas kepentingan pribadi dan kepentingan golongan.
Peringatan HOS Tjokroaminoto
Kalau kita mengerti benar-benar dan dengan sungguh sungguh hati menjalankan perintah perintah Islam, maka selama-lamanya kita tidak akan dapat dihinggapi nafsu egoisme, individualisme, despotisme, kapitalisme, dan lain-lain nafsu “isme” yang jahat itu.
Nauzubillahi minzaliq Billahi fi sabilil haq.
SEJARAH BERDIRINYA NII
AWAL MULANYA PERGERAKAN ISLAM DI INDONESIA 1. Berdirinya SDI ( Syarikat Dagang Islam )
Syarikat Dagang Islam di dirikan di Solo, pada tanggal 16 Oktober 1905 oleh Kyai Haji Samanhudi di bantu oleh M. Asmadimejo, M. Kertokirono daqn M. Haji Rojak. Motif utma didirikannya organisasi ini adalah berusaha menerapkan sistem ekonomi islam di dunia Perdagangan Indonesia. Khususnya bagi pedagang batik di Solo. Menjelang lahirnya SDI, terjadi diskriminasi tajam yang sengaja di lakukan piak bangsawan kepad masyarakat biasa. Juga sangat menonjol sikap angkuh dan superioritas dari kalangn pedagang pedagang yang banyak mendominasi perdagangan pada saat itu. Maka SDI di maksudkan sebagai benteng utuk menentang si Superioritas dan dominasi Pedagang-pedagang Cina sekaligus mendobrak diskriminasi bangsawan yang bertindak sewenang-wenang terhadap masyarakat awam. Sesungguhnya di dalam jiwa pendiri SDI ini terkandung maksud yang lebih jauh lagi, yaitu ingin menegakkan Islam sebagai satu satunya sistem yang berlaku di bumi Indonesia
Namun karena terbatasnya kemampuan beliau di tambah pula dengan kondisi penjajahan yang sangat keras dan ganas dalam mengawasi dan menghambat setiap bentuk gerakan bangsa Indonesia, maka Untuk sementara waktu Beliau ( Kyai Haji Samanhudi ) hanya berorientasi pada masalah ekonomi saja. Meswki demikian SDI tetap di anggap sebagai ( Miqod = awal pemberangkatan / Starting point ) bagi perjalanan sejarah ini. Menyadari akan keterbatasan kemampuan ini, Kyai Haji Samanhudi selalu mencari dan menghubungi tokoh tokoh Islam lainnya untuk di ajak bersama sama mengelola lembaga perjuangan ini. Sekitar bulan Mei 1912. SDI memperoleh seorang tokoh tangguh yang ikut mewarnai perjalanan Sejarah ini, yaitu Haji Umar Said Cokroaminoto setelah ada persesuaian antara keduanya dalam pandangan mengenai garis garis perjuangan Sunnah Rasulullah SAW.
2. Masa Peralihan Pada SI ( Syarikat Islam )
dengan tidak memperhatikan persyaratan dari residen Surakarta yang gigih menghambat perkembangan organisasi tersebut. Beliau mengemukakan untuk membentuk pan Islamisme, artinya membentuk dunia ( Khalifatullah fil ardi ) untuk merealisasikan gagasan itu beliau membagi tahapan tahapan perjuangan sebagai berikut :
a. Kemerdekaan Indonesia ( mengusir pihak penjajah dari bumi Indonesia )
b. Kemerdekaan Islam Indonesia, artinya Islam sebagai satu satunya sistem yang haq bisa berlaku di Indonesia dengan sempurna dan di lindungi oleh kekuasaan ( Negara Islam Indonesia ).
c. Kemerdekaan di seluruh Dunia, artinya membentuk Khalifah fil ardi / struktur pemerintahannya memberlakukan hukum Islam sebagai penjabaran dari mulkiyah-tullah / Kerajaan Allah di muka bumi.
Langkah lanjut dari gagasan tersebut maka pada tanggal 11 Nopember 1912 SDI di ganti dengan nama Syarikat Islam (SI) yang orientasinya bukan sekedar masalah masalah ekonomi saja, melainkan sudah mencakup kepada seluruh Manhijul hayal, ( meliputu segala aspek kehidupan untuk di warnai dengan corak Islam saja ).
Dalam kongres SI pertama di Surabaya tahun 1913 telah di putuskan untuk membantu cabang cabangnya di seluruh tanah air yang di bagi tiga wilayah, yaitu wilayah Jawa Barat ( meliputi Sumatera dan pukau sekitarnya), Jawa Tengah ( meliputi Kalimantan ) dan Jawa Timur ( meliputi Sulawesi, Bali, Lombok dan Sumbawa).
Kemudian pada tahun tahun berikutnya bergabung pula beberapa tokoh Islam lainya. Inilah tokoh tokoh yang banyak berperan aktif pada tahun tahun awal sejak berdirinya SI
Kira kira lima tahun pertama sejak HOS Cokroaminoto bertindak sebagai ketua, dia banyak menyumbangkan pikiran demi kemajuan Syarikat Islam. Dalam anggaran dasar yang beliau susun, banyak mewarnai kehidupan Syarikat Islam berikutnya, sehingga dalam anggaran dasarnya pun Syarikat Islam secara keseluruhan ( Kaffah ) mencakup semua aspek kehidupan baik secara pe4mahaman Aqidah Islam, Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya dan Pemerintahan menurut tuntunan Al Qur’an dan Sunnah Rasul Untuk merealisasikan gagasan membentuk dunia Islam ini. HOS Cokroaminoto mempersiapkan Kader kader militan yang terdiri dari mahasiswa mahasiswa yang berjiwa progresif. Diantaranya Soekarno yang di harapkan dapat menghimpun dan mengelola kaum Intelektual serta Cendikiawan dalam satu wadah dan satu arah dalam menentang penjajah. Semaun di arahkan untuk memyadarkan masyarakat awam dan akan kepenyingan kemerdekaan sekaligus melibatkan perjuangan dalam menentang penjajah. Sementara SM Kartosuwiryo di tugaskan untuk mempengaruhi para Ulama dan para Kyai untuk di ajak bersama sama dalam menyegakkan Al Islam menjadi satu satunya sistem hidupm di Indonesia. Meski akhirnya, keduanya kader yang pertama yaitu Soekarno dan Semaun beberapa tahun kemudian menyimpang dari garis garis Syarikat Islam. Lalu membentuk wadah baru yang tidak berdasarkan Islam dan tidak berpedoman kepada Al Qur’an dan Sunnah.
Selama di bawah kepemimpinan HOS Cokroaminoto, SI di seluruh daerah mencapai 435 cabang di dukung oleh jutaan anggota. Sampai akhirnya kegemilangan SI mulai menurun pada periode-periode berikutnya dengan terdapatnya perselisihan-perselisihan pendapat dalam intern pimpinan yang berakibat munculnya berbagai partai dan organisasi lain yang tidak sejalan dengan syarekat islam.
3. Awal Perpecahan Dalam SI
Malapetaka ini bermula dengan hadirnya dua orang belanda yang bernama Henricus Yosephus Fransiciscus Marie Sneevliet dan Adolf Baars yang datang ke indonesia pad tahun 1913. Pada mulanya ia bekerja sebagai pimpinan redaksi “ Hardels Blad” Surabaya selama dua bulan. Kemudian menjadi sekretaris K.D.S. (Kamar Dagang Semarang) pada tahun yang sama. Keduanya kader-kader komunis yang telah dididik di negri Rusia. Kemudian mereka mendirikan ISDV (Indische Sociaal Democraticehc Vereneging) pada tahun 1914 di semarang, yang merupakan partai sosialis kemudian berkembang menjadi partai komunis terutama setelah berhasilnya revolusi Rusia pada tahun 1917.
kesetabilan SI, sekaligus pemecah belah dari akar tubuh SI karena pemerintah memang khawatir dengan semakin kuatnya posisi SI ini. Usaha Sneevliet berhasil setelah mampu mempengaruhi pimpinan SI di Semarang yang waktu itu di pegang oleh Smaun Himidan Darsono dengan masuknya ke tubuh ISDV. Kegiatan mereka senantiasa menciptakan kerusuhan dan pergolongaqn dalam tubuh SI, terutama menyesatkan fitnah fitnah keji terhadap pimpinan SI, kemudian setelah merasa posisi mereka kuat, mereka mendirikan Partai Komunis India ( Hindia ) oada tanggal 23 Mei 1920 yang merupakan transformasi dari ISDV, tindakan mereka seperti itu tercium oleh pimpinan SI dalam suatu kongres partai pada tahun 1921, mereka di keluarkan dari keanggotaan SI, ini akibat di canangkannya “disiplin partai” dimana dinyatakan bahwa anggota SI tidak di perkenankan menjadi anggota kelompok / partai lain.
Sekeluarnya mereka dari SI, mereka semakin giat melakukan propaganda dalam usaha memasyarakatkan fahamnya, bahkan tidak sekedar propaganda, mereka juga memfokuskan Move move yang bersifat “ Phsyie” ( kejiwaan ). Puncak peris tiwa adalah ketika mereka memproklamasikan berdirinya PKI, kemudian mengadakan pemberontakandi daerah Jawa Tengah dan Sumatera Barat pad atahun 1926. Kelompok ini lebih di kenal dengan “SI” merah ( Sosialis Indonesia ).
Pada tahun berikutnya tegasnya pada tahun 1927, Soekarno yang di harapkan jadi kader SI militan menyimpang / bertentangan faham dengan HOS Cokroaminoto mengenai dasar dan tujuan perjuangan. Soekarno berpendapat hanya faham kebangsawananlah bukan Islam yang dapat mempersatukan bangsa Indonesia dalam mempersatukan langkah menghadapi kolonial Belanda, kemudian ia mendirikan Partai Nasional Indonesia ( PNI ) yang berdasarkan nasional sekuler.
4. Lahirnya Sikap Hijrah SI
Hijrah suatu sikap politik SI yang di lancarkan untuk pertama kalinya dalam tahun 1923. Sebagai akibat ketidakpercayaan partai terhadap pemerintah kolonial dan keyakinan pimpinan partaibahwa kerjasama dengan pihak pemerintah kolonial (kafir) hanya akan menimbulkan kerugian dunia akhirat dan mengakibatkan tergelincirnya partai lebih jauh lagi dari tujuan yang sebenarnya.
Pimpinan SI menyadari benar , bahwa berjuang mentegakkan Islam adalah Ibadah. Oleh karenanya dalam pelaksanaannyaharus mengikuti yang telah di contohkan oleh Rasulullah SAW, apapun resikonya harus di hadapi, tidak boleh membut cara sendiri, malah kiranya motivasi yang melatarbelakangi di tetapkannya sikap hijrahsebagai garis politik yang resmi dari SI. Ditambah dengan kondisi yang mendorong untuk mengambil sikap tegas semacam ini, dimana pada pada saat itu semakin jelas, bahwa pemerintah Belanda dan Volkstraadnya ( Dewan Rakyat ) bukan memberi kemenangan terhadap perjuangan SI, justru sebaliknya mereka berusaha menyikat dan meringkus dengan halus tokoh-tokoh SI agar tunduk dan patuh terhadap segala kehendak mereka (Pemerintah Kolonial), tanpa membantah apalagi mengahalanginya. Juga dengan menyimpangnya Semaun Cs dan Soekarno dari garis Islam dengan membentuk Partai Komunis Indonesia dan PNI yang bedanya sangat menentang Islam yang telah menjadi dasar perjuangan SI, inipun merupakan faktor yang ikut mendorong untuk mengambil sikap hijrah dengan tegas lagi. Terutama terlihat dari langkah-langkah partai yang semakin menampakkan permusuhan terhadap pemerintah Belanda pada tahun 1930, yang telah berubah namanya menjadi PSII (Partai Syarekat Islam Indonesia).
Tahun 1933 mencatat suatu penyesuaian struktur partai, juga dasar perjuangan partai yang dihasilkan pada tahun itu dianggap sesuatu yang telah sempurna para pemimpinnya terutama dengan figure HOS Cokroaminoto dibantu SM. Kartosuwiryo sebagai sekretaris pribadinya, berusaha mewarnai lembaga PSII ini dengan warna Islam saja, tanpa ada warna-warni lainnya ini bisa dilihat dari dasra strategi partai yang Islami.
5. Menyimpangnya Beberapa Tokoh SI dari Garis Hijrah
Setelah Si menetapkan dan mempertegas politik hijrahnya yang berarti tidak ada kerjasama dan tidak ada garis taat kepada pemerintah Belanda, maka pihak pemerintah segera menyambutnya dengan tindakan-tindakan keras dan tegas, mereka keluarkan peraturan-peraturan yang sangat ketat, sehingga mempersempit ruang gerak SI.
hijrah adalah stategui Allah untuk meyelamatkan dan memenangkan Rasulullah beserta umatnya dalam berjuang mennegakkan Al-Haq.
Melihat tindakan Pemerintah Belanda yang makin keras terhadap SI akibat dari sikap poloitik hijrahnya ini, maka beberapa tokoh SI duiantaranya Sukiman dan Wali Al-Fatah serta beberapa orang pemimpin Muhamaddiyah termasuk ketua umumnya KH. Mas Mansyur bersama-sama mengusulkan kepada pemimpin SI agar merubah langkah politik hijrahnya, karena menurut pendapat mereka bahwa politik semacam itu merupakan sesuatu langkah taktik saja dan bukan sesuatu prinsip yang tidak bisa dirubah.
Mereka melihat politik hijrah seperti yang dilaksanakan oleh SI tidak bersifat ketat dan baku sehingga menjadi penghambat perjuangan partai sendiri, karena tidak memungkinkan penyesuaian dengan situasi. Disamping itu, orang-orang ini mengusulkan kepada SI agar partai ini membatasi diri pada bidang poloitik saja dan mempercayakan aspek-aspek sosial dan pendidikan pada organisasi lain dalam rangka pergerakan kebangsaan yang memang didirikan untuk mengahadapi bidang itu. Mereka juga meminta agar tindakan disiplin terhadap Muhammadiyah yang telah dilakukan oleh SI pada tahun 1927 itu dicabut kembali (dibatalkan)
a. Keluarnya Sukiman Cs
Dalam mengahadapi usulan-usulan itu, HOS Cokroaminoto sebagai pimpinan puncak dan penanggung-jawab PSII telah bertindak cukup tegas, beliau menolak seluruh usulan-usulan tersebut dengan alasan:pertama, tentang hijrah: bahwa hijrah bukan sekedar taktik, akan tetapi merupakan prinsip yang tidak bisa dirubah-rubah. Bahkan merupakan faktor yang sangat menentukan syah tidaknya amal ibadah dan amal jihad umat Islam dihadapan Allah Rabbul Izati. Bergeser dari hijrah berarti bergeser pula pada kemurnian Islam.
Menuju kepada percampuran haq dan bathil, sebab hijrah adalah salah satu usaha untuk memurnikan ibadah tau pengabdian kepada Allah (realisasi dari tauhidul ibadah) yang lawanya adalah musyrik. Kedua, tentang pembatasan ruang lingkup SI : bahwa SI adalah gerakan Islam yang bersifat universal mempunyai tujuan menegakkan Khaifatullah fil ardhi, artinya pemerintahan Allah di muka bumi. Tentu saja hal ini tidak bisa dilakukan dalam satu bidang/parsial saja tetapi harus mencakup seluruh aspek kehidupan, baik politik, ekonomi, sosial, pendidikan, juga termasuk aqidah dan ubudiyyahnya.
beberapa kali peringatan terhadap Muhammadiyyah untuk tidak bertindak sendiri dan harus merasa terikat dengan peraturan-pertauran SI. Namun, hal ini selalu diabaikan oleh Muhammadiyah, karena itu tidak ada jalan lain untuk menjunjung tinggi peraturan-peraturan SI yang berlandaskan Islam (Sukiman dan Wali Al-Fatah cs) tidak mau menerima alsan-alasan tersebut dan mereka bersikeras berusaha agar usulannya itu diterima oleh partai bahkan mereka mengancam akan mendirikan lagi. Pada “skorsing” Sukiman cs dikeluarkan dari PSII tindakan ini banyak mendapat kecaman dari beberapa golongan, terutama dari pers Indonesia dan pihak-pihak yang tidak setuju terhadap politik hijrah.
Mereka menghimbau agar HOS Cokroaminoto menarik kembali tindakan terhadap Sukiman cs tersebut. Namun HOS Cokroaminoto tetap tidak goyah dengan sikapnya ini. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1933, yang kemudian orang-orang ini dengan kekecewaannya berusaha membentuk suatu penelis yang kemungkinan persatuan islam indonesia yang mempunyai dasar campuran : Islam Nasional dan budaya. Pnelis ini menarik kerjasama dengan PSII merdeka di Yogyakarta (termasuk yang tidak setuju dengan politik hijrah) untuk bersama-sama membentuk partai islam indonesia (PARTI). Tetapi usaha ini segera mundur pada tahun berikutnya. walaupun mendapat sambutan dari berbagai tempat di Jawa, dapat disimpulkan bahwa kegiatan seperti ini merupakan suatu permulaan daripada yang dalam 4 Desember 1938 menjadi Partai Islam Indonesia (PII) yang diketuai oleh Raden Widodo dan Sukiman. b. Keluarnya Agus Salim
yang lebih ketat dari pemerintahan kolonial Belanda, pada tahun tersebut dalam menghadapi partai-partai politik yang bersifat nonkooperatif.
Lebih lanjut lagi, pada April tahun yang sama H. Agus Salim berusaha untuk merubah sepenuhnya kebijaksanaan dan melaksanakna referendum dari cabang-cabang partai diadakan menghadapi saran-sarannya itu. Bahkan Kusno curiga bahwa Salim berambisi pribadi untuk duduk dalam Volstraat dan memang pemerintah kolonial Belanda pernah menawarkan itu padanya. Lebih lagi, kongres partai yang diadakan pada tahun 1936 menolak pendirian Agus Salim ini dan tetap menjadikan hijrah sebagai politik resmi dari PSII. Melihat kenyataan ini, Agus Salim tidak tahan lagi, dimana posisi dirinya semakin tersisihkan. Maka dia bertindak lebih jauh lagi dengan membentuk satuan fraksi dalam lingkungan partai yang disebut dengan “Barisan Penyadar Partai Syarekat Islam Indonesia” (BPPSII) pada tanggal 18 November 1936 dengan maksud agar pemikiran-pemikirannya dapat diterima oleh partai. Gerakan ini diketuai oleh Mr. Moh. Room yang direncanakan akan bergerak dalam lingkungan SI sendiri. Tetapi ternyata penyebab gerakan ini yang sampai kecabang-cabang partai, dianggap oleh Abi Kusno suatu hal yang sempat mematahkan stabiliotas partai.
Oleh sebab itu, dia menginstruksikan pada semua anggota SI untuk mengakhiri perdebatan masalah hijrah, sebab hijrah sudah menjadi politik resmi partai yang telah didukung dengan kiyas-kiyas syar’i yang sudah tidak bisa dirubah-rubah lagi. Kepada seluruh barisan agar menyatu untuk meneruskan kegiatannya dan kembali menta’ati seluruh kebijaksanaan yang telah digariskan oleh partai dan terus berusaha “menyadarkan” orang-orang yang dianggap tidak memahami situasi dan kondisi.
Tidak cukup dengan rapat-rapat saja, penjelasan dengan politik hijrah ini disusul pula dengan penerbitan sebuah brosur yang berjudul “Sikap Hijrah Partai SII” terdiri dari 2 jilid disusun oleh SM. Kartosuwiryo yang saat itu menjabat sebagai wakil ketua lajnah fanfidziyah PSII. Jilid pertama dalam brosur tersebut kartosuwiryo berhasil menguraikan secara panjang lebar tentang pengertian Ad Dien (agama) yang menyangkut sebuah aspek kehidupan tentang status dan tugas manusia dalam kehidupan didunia ini, juga tentang sikap serta perjalanan hijrah Nabi Muhammad SAW yang menjadikan satu satunya pedoman serta pola perjuangan oleh seluruh umatnya. Sesudah pembahasan arti hijrah, SM Kartosuwryo melanjutkan dengan mangatakan hampir pada setiap tempat dimana kata “hijrah” digunakan dalam Al Qur’an, kata ini di asosiasikan dengan jihad. Maka sehubungan dengan itu ia menulis, “tiada tindakan hijrah di anggap abash bila dalam cita cita jihad tidak dilaksanakan.
Demikianlah SM Kartosuwiryo dengan brosurnya tersebut telah mencoba mengutarakan pengertian hijrah dan jihad secara panjang lebar dan menekankan untuk segera di realisaikan dalam kenyataan
BAB II. REALISASI SIKAP HIJRAH UMMAT ISLAM BANGSA INDONESIA. 1. Mengenal Pribadi SM. Kartosuwiryo
Dia seorang tokoh SI yang cukup gigih dan konsekwen dalam mempertahankan politik hijrah, meskipun harus menghadapi tantangan dan kecaman dari berbaga pihak sampai – sampai dia harus dipecat dari berbagai jabatan dan keanggotaan PSII oleh ketua umumnya sendiri yaitu Abi Kusno Cokro Suryoso. Karena Kartosuwiryo menolak untuk berpindah haluan dari hijrah ke parlementer.
pedoman hidup dan satu-satunya sistem hidup yang mewarnai seluruh aspek kehidupannya.
Jenjang Pendidikan Umum
Sekarmadji dilahirkan di Cepu, sebuah daerah kecil antara Blora dan Bojonegoro, pada tanggal 7 Februari 1905, status ayahnya yang termasuk bangsawan (ningrat) dikalangan kraton Solo, menyebabkan Sekarmadji dapat menikmati jenjang pendidikan di cukuo sukse, di dukung pula oleh kemampuan otaknya yang cemerlang. Pada usia 6 tahun, dia masukk Inlandsche School der tweede klasce/ sekolah bumi putra kelas dua selama empat tahun. Kemudian melanjutkan ke sekolah dasar kelas 1. Mulai dari inlandsche School (I-IIS), yaitu sekolah putra bahasa Belanda. Kemudian pada tahun 1919 setelah orang tuanya pindah ke Bojonegoro, dia masuk ke EuropeecheLegere School (ELS) sekolah dasar Eropa, bagi seorang putra pribumi, keduanya merupakan sekolah elite.
Sekolah Bumi Putra bahasa Belanda (HIS) dimasukan untuk anak-anak anggota kelas atas kemasyarakatan pribumi. syarat-syarat untuk masuk ke ELS adalah yang paling ketat dari semuanya. Sesuai dengan namanya sekolah ini direncanakan sebagai lembaga pendidikan hanya untuk orang Eropa dan masyarakat Indo Eropa. Walaupun dalam jumlah yang terbatas, Pribumi juga diperkenankan masuk. Bagian yang akhir ini terutama adalah anak-anak yang dapat terjamin berdasarkan latar belakang sosialnya, diharapkan melanjutkan pelajarannya pada lembaga-lembaga Eropa untuk tingkat pendidikan menengah dan tinggi dan kedua bagi anak-anak yang berbakat khusus yang mampu melanjutkan pelajaran merekan pada salah satu lembaga yang mendidik bumi putra, ahli hukum/pegawai negeri. Diterimanya SM. Kartosuwiryo di sekolah elite tersebut karena termasuk kategori-kategori kedua, yaitu beliau mempunyai bakat (keistimewaan) khusus, setelah menyelesaikan ELS dia berangkat ke Surabaya untuk melanjutkan studi ke Nenderlandsch Indische Artsen School (NIAS) atau Sekolah Dokter Hindia Belanda. Memulai pelajaran di NIAS ini pada tahun 1923 dalam usianya yang ke delapan belas (18).
menjiplak ruhul jihad dalam jiwanya/dadanya tidak dapat dibendung lagi.melihat penderitaan umat yang semakin hari semakin parah, akibat sistem penjajahan yang kejam dan sadis, yang selaui mewarnai kehidupan umat ini.
Jiwanya terpanggil untuk mencoba berbuat dan berusaha membebaskan umat dari belenggu penjajahan ini, agar dapat bebas melaksanakan kehidupan islam dengan sempurna. meskipun akhirnya dengan tindakannya ini beliau harus mengorbankan kariernya sebagai calon dokter pada sekolah kedokteran yang menjadi idola masyarakat pada saat itu. Terlebih-lebih setelah beliau bertemu dengan Haji Oemar Said Cokro aminoto di Surabaya. Seorang tokoh PSII yang paling menonjol dan memiliki karisma kepemimpinan yang tinggi, SM. Kartosuwiryo banyak belajar menyerap ilmu dan akhlaq dari tokoh ini. Terutama dalam bidang tauhid dan politik islamsetelah dikeluarkan dari NIAS tahun 1927. Beliau berkeinginan hati untuk tinggal bersama HOS Cokroaminoto dirumahnya. Sekaligus menjadikannya guru dan pemimpin yang dapat membimbing dirinya dalam melaksanakan pengabdiannya kepada Allah dan dalam perjuangan menegakkan Dienullah/hukum islam.
Mulai saat itu beliau diangkat sebagai sekretaris oleh pak Cokroaminoto dan fungsi ini berlanjut sampai tahun 1929. Sebagi pembantu dan sekretaris pribadi, beliau banyak memberikan ide-ide yang islami terhadap pak Cokro dalam mempertegas garis islamnya. Terutama dalam mempertahankan dan merealisasikan politik hijrah PSII yang telah diputuskan oleh kongres. Hal inilah yang mnyebabkan pak Cokro semakin percaya terhadap diri SM. Kartosuwiryo bahwa ia benar-benar kader muslim mujahid yang militan, yang bisa dipercaya untuk melanjutkan perjuangan islam ini. Maka pada kongres PSII tahun 1933 beliau diangkat menjadi sekretaris jendral PSII sampai akhir hayat HOS Cokroaminoto yang wafat pada tahun1934, pada periode ini periode bersatunya SM Kartosuwiryo dengan pak Cokro, akan semakin jelas terlihat arah perjuangan PSII yang semakin berusaha memurnikan azas dan warna islamnya dari campuran-campuran yang lainnya semacam nasionalis sekuler, sosialisme, dan komunisme. Akibatnya cokroaminoto dan PSII-nya ditinggalkan dan diisolir oleh tokoh-tokoh sosialis komunis yang dulu pernah bersama-sama dalam Syarekat Islam. Apabila telah ditetapkannya politik hijrah sebagai politik resmi dari PSII bila dilihat dari lahirnya, memang PSII semakin kecil dan semakin lemah akibat sikap hijrah ini, tapi dihadapan Allah bukanlah demikian. Sebaliknya PSII semakin bernilai oleh Allah Rabbul Izzati bukanlah besarnya quality, kuantitas, melainkan tingginya kualitas dan keberhasilan iman.
Tentang pengetahuan islamnya SM. Kartosuwiryo berbeda dengan tokoh-tokoh islam lainnya yang mendapatkan pengetahuan tentang islam melalui pedidikan pesantren/madrasah-madrasah. Maka beliau mendapatkannya dangan cara autodidak (belajar sendiri) dan sering berkonsultasi pribadi dengan ‘ulama-ulama’ yang konsekwen dan sholeh. Bermodalkan semangat islam yang mengalir dalam dirinya yang ditanamkan orang tuanya semenjak kecil, beliau terus mempelajari dan mendalami Al Islam, melalui buku-buku yang ada pada saat itu. Kesibukan kuliahnya dalam bidang Ilmu Fisika yang cukup berat itu, tidak menghalangi dari usaha menggali islam. Setelah dikeluarkannya dari NIAS, keempatan mempelajari Al Islam semakin luas apalagi setelah tinggal dengan pak cokroaminoto, mulai tahun 1927-1929. Beliau juga banyak mewarisi sifat-sifat kepemimpinan Cokro aminoto, terutam dalam ketegasannya memegang prinsip kebenaran (Al Haq).
Pada tahun 1929 karena alasan kesehatan disanping tugas dari pimpinannya, terpaksa beliau harus berpisah dengan cokroaminoto untuk pindah ke jawa barat. Kemudian bermukim di magelang, sebuah kota kecil dekat garut dan tasikmalaya. Disana beliau berguru pada ‘ulama’ setempat antara lain Kyai Yusuf Tadjri dan Kyai Ardi Wisastro yang disebut belakangan ini disamping sebagai guru juga merangkap sebagai mertuanya, sebab menikah dengan putrinya yang bernama Dwi Ummi Kalsum pada tahun 1929.
Kyai Ardi Wisastra adalah seorang ulama yang termashur di daerah malangbong, disamping sebagai tokoh PSII terkemuka di daerah itu beliau juga seorang sufhi,yang selalu nerusaha membersihkan diri dari kotoran-kotoran dosa, dan meningkatkan martabat diri di hadapan Allah dengan melaksanakan amalan nawafil, disamping ibadah fardhu yang terbatas itu. Bidang inilah yang sangat menarik SM. Kartosuwiryo, untuk mempelajari lebih dalam, sebab menurut pendapatnya untuk menjadi mujahid (pejuang islam) yang baik, mesti dibutuhkan kebersihan jiwa dari penyakit-penyakit riya,’ujub, iri hati, syirik dan semacamnya. Bagaimana seseorang akan memperjuangkan berlakunya islam untuk orang lain, sedangkan dirinya sendiri belum islam secara konsekwen lahir dan bathin, apalagi untuk menjadi seorang pemimpin islam harus mesti mempunyai sifat-sifat Warosatul Ambiya menjadi kekasih Allah (Waliyullah).
pertama, beliau selalu mengadakan kholwat ( mengasingkan diri dari kehidupan duniawi), tabattul (membulatkan perhatian dan jiwa hanya untuk Dzikrullah semata), dan taqorub (mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak ibadah nawfil), sehingga aku mencintainya, Aku akan menjadi pendengarannya (membimbing pendengarannya dengan hidayah dan taufiknya), yang mana dia mendengar dengan-Nya dan aku menjadi tangannya, yang dia memluk dengan-dengan-Nya, dan aku menjadi kakinya yang dia berjalan dengan-Nya. Apabila dia meminta sesuatu kepada-Ku, pasti aku akan memberinya, dan apabila dia meminta pwerlindungan pada-Ku, pasti aku akan melindunginya (Diriwayatkan Bukhori).
SM. Krtosuwiryo telah berusaha mengamalkan konsep ini dengan membangun Goa buatan, yaitu dengan menggali tanah untuk lubang. Disanalah beliau berkhalawat dan bertafakkur, mengasingkan diri dari kesibukan-kesibukan duniawi, menjernihkan jiwa dari rizail-rizail (kotoran-kotoran dosa ma’siat). Selama beberapa hari beliau bertaqarub dengan melaksanakan ibadah-ibadah fardhu dan nawafil.
Allah SWT menepati janji-Nya dengan mencintai hamba-Nya yang ini, yang telah bernujahadah sekuat kemampuan, berjalan di atas fardhu dan nawafil, menuju ridho-Nya. Akhirnya Allah menurukan cahaya hidayahnya dan taufiq-Nya, yang membimbing dan menuntun pendengarannya, penglihatannya, kakinya, banyak di ijabah do’anya dan beliau sering mendapat perlindungan Allah pada saat kritis, dari ancaman musuh-musuhnya, musuh Allah dan musuh islam.
Ubudiyahnya
Menurut Keterangan teman dekatnya yaitu ustadz H. Masduki, seorang ulama yang sejak muda telah lafadz Al - Qur’an seluruhnya dan terpelihara sampai sekarang ini, bukan hany sekedar hafal, tapi juga faham terhadap ma’na yang tersirat didalamnya, serta mampu menyebarkannya. Karena kemampuannya inilah, maka dia di angkat oleh S.M Kartosuwiryo sebagai penasehat pribadinya, sehingga dia banyak tahu tentang pribadi S.M Kartosuwiryo. Sebagai ustadzini menerangkan “pak Karto adalah seorang ‘ahbid (ahli ibadah ) yang khusu’ dan istiqomah. Sholat-sholat fardhu selalu dilakukannya diawal waktu dan selalu dilengkapi dengan sholat rowatib, kalu malam sangat sedikit sekali waktu yang digunakan untuk quamul lail (sholat malam) serta menyusun konsep-konsep dan program-program perjuangan islam, terlebih lagi setelah beliau menjabat sebagai imam Negara Islam Indonesia. Panglima Tinggi Tentara Islam, pendeekatan kepada Allah lebih di perketat lagi.
keanehan yang terjadi pada dirinya, yaitu pada saat malam ,menjelang hari ke empat puluh beliau berkhalwat dan tabattul, tiba-tiba datang cahaya yang terang benderang menerangi alam sekitar beliau, yang saat itu sedang malam keadaan gelap gulita. Dengan cahaya itu beliau dapat melihat darah yang ada dalam pembuluh nadinya, dan sum-sum yang ada dalam tulangnya, beliau merasa ajaib dengan peristiwa itu terlebih-lebih tatkala beliau membuka buku-buku berbahasa arab gundul, beliau menjadi mampu untuk membaca dan memahamiya. Padahal sebelumnya beliau belum pernah belajar ilmu-ilmu alat seperti, nahwu, shorof, balaghoh, usul fiqih, mantiq, dan lain sabagainya secara mendalam. Namun sejak saat itu hingga akhir hayatnya, beliau mempunyai kemampuan mempergunakan ilmu-ilmu tersebut, untuk membaca dan mendalami ayat-ayat Al-Qur’an dan tafsirnya serta kitab-kitab hadist, ilmu semacam ini disebut ilmu laduni, artinya ilmu yang langsung dikaruniakan oleh Allah kepada seseorang hamba yang dicintai-Nya, tanpa melalui proses belajar sebagaimana biasanya. Ini sesuai dengan apa yang telah diketahui. Maka Allah akan memberikan kepadanya ilmu yang belum ia ketahui” Al-Hadist.
Demikianlah keterangan ustadz H. Masduki, dalam suatu wawancara dengan penulis tentang usaha-usaha SM. Kartosuwiryo dalam mempelajari dan memahami Al-Islam yang bersumber kepada Al-Qur’an dan Al Hadits.
Akhlaqnya
yang murah, ia selalau berjalan dengan menundukkan kepala penuh rasa takwadhu dan selalu bersukap hormat kepada setiap orang yang di temuinya. Sehingga tidak seorang pun mengira, kecuali yang sudah mengenal bahwa dia seorang (ningrat) dan terpelajar”.
Demikian ajengan itu melanjutkannya keterangannya tentenag pribadi S.M Kartosuwiryo “Sekarmadji seorang penyantun, suka meringankan kesulitan orang lain, terutama kepada fakir - miskin dan yatim piatu, beliau sangat dekat sekali. Inilah yang memikat hati masyarakat sekitarnya sehingga mereka benar-benar percaya terhadap kepada kepemimpinannya”. Demikianlah ajengan tersebut mengakhiri keterangannya.
dingin sekali, berilah saya kesempatan untuk melaksanakan sunnah rasul jangan ustadz menolaknya, ini hak ustadz”. Saya tidak bisa berbuat apa-apa selain menerimanya. Namun perasaan saya tidak enak sebab beliau lebih tua, lebih tidak tahan kondisi badannya menghadapi udara yang sangat dingin. Udara pegunungan dan malam hari, maka terlihat beliau tidur, kain sarung saya selimutkan kepada beliau. Kemudian sayapun tertidur, tapi ketika tengah malam saya terbangun, kain sarung sudah berpindah lagi menyelimuti tubuh saya, dan beliau tidur nyenyak tanpa selimut, kemudian saya kembalikan lagi sarung tersebut untuk menyelimuti beliau. Demikian berkali-kali kain sarung itu berpindah-pindah, sehingga pada saat saya bangun terakhir kalinya, kain itu ada pada saya dan beliau saya lihat sedang solat tahajjud”. Demikianlah keterangan ustadz Masduki tentang akhlaq. SM. Kartosuwiryo adalah figure utama pewaris nabi, yang mampu merealisasikan Sunnah Rasul dan layak menjadi imam ummat Islam Indonesia.
2. Akhirnya KPK, PSII
Ternyata Abi Kusno, Aruji Kartawinata, Wonodoamiseno dkk, belum siap mental untuk menghadapi resiko daripada pelaksanaan sikap hijrah itu. Semangat hijrahnya yang menggebu-gebu pada beberapa belakangan ini dengan melakukan tindakan tegas kepada setiap penantangnya seperti skorsing yang dijatuhkan kepada H. Agus Salim, Moh. Room dkk dari barisan penyadar, ternyata kandas setelah melihat kenyataan betapa sulit dan rumitnya perjalanan ini.
Kartosuwiryo agar mau merobah haluan, dengan alasan bahwa hijrah itu adalah salah satu taktik perjuangan saja bukan prinsip, sehingga bisa berubah menurut tuntunan situasi dan kondisi.
Maka untuk situasi semacam ini, demi penyelamatan dan mempartahankan partai dan kesulitan dan kebangkrutan, perlu adanya perubahan taktik / siasat SM. Kartosuwiryo menolak mentah-mentah ajakannya, karena menurut pendiriannya bahwa, hijrah bukanlah sekedar taktik melainkan suatu prinsip yang tidak bisa dirubah-rubah dalam situasi dan kondisi yang bagaimanapun juga. Perjuangan islam tanpa hijrah adalah batal, sebab tanpa hijrah akan terjadi percampuran antara hak dan bathil dalam suatu wadah perjuangan, yang mengakibatkan gugurnya haq (kebenaran) tersebut. Karena itu hijrah harus dipertahankan apapun resiko yang harus dihadapi, menyimpang dari hijrah sama halnya dengan menyimpang dari islam, begitu tegar dan kokoh pendirian SM. Kartosuwiryo dalam mempertahankan prinsip perjuangan, yaitu sikap hijrah, meskipun dia harus menghadapi mayoritas pengurus elite PSII yang akan berakibat ancaman pemecatan terhadap dirinya dari PSII. Padahal dalam satu atau dua tahun yang telah lalu, pihak yang tampak akrab dan mesra sama-sama berada dalam kubu, mempertahankan Poitik hijrah secara terperinci dalam brosurnya yang terdiri dari dua jilid yang berjudul “Sikap Hijrah PSII”, pihak Abi Kusno kawan-kawanya memberikan dukungan penuh atas usaha ini. Bahkan dalam kata pengantar yang ditandatangani oleh Abi Kusno sebagai presiden dan Aruji Kartawinata sebagai sekretaris PSII. Pada jilid ke dua, dia membuat pernyataan bahwa pandangan-pandangan, pendapat-pendapat dan gagasan-gagasan tentang penafsiran sikap hijrah PSII yang diuraikan dalam brosur ini telah dibicarakan panjang lebar dengan presiden terpilih Dewan Pimpinan Partai dan Komite Ekslusif Partai sebelum dan sesudah (Brosur) ditulis oleh pengarang.
Namun pada saat itu, tegasnya pada tahun 1938, mereka terlibat dalam pertengkaran dan perselisihan pendapat yang cukup sangat sengit, tentang perlu dirubahnya atau tidak hijrah ini, Abi Kusno telah menggunakan wewenang selaku presiden partai. Dengan tindakan mengeluarkan dari PSII, karena telah dianggap membangkang terhadap pemerintahan-pemerintahan puncak pimpinan untuk merobah haluan dan menarik kembali, serta mengkritik penyebaran brosur tersebut yang mengandung pikiran-pikiran yang bersifat anakronisme.
disetujui oleh kongres partai pada bulan Januari 1940, tetapi mereka di cabut keanggotaannya menolak keputusan tersebut. SM. Kartosuwiryo berpendirian bahwa PSII bukanlah lembaga milik pribadi Abi Kusno dan kelompoknya, tetapi lembaga milik Allah, sebagai wadah perjuangan dalam mendhohirkan Mulkiyyah (Struktur Kerajaan Allah) di muka bumi ini, karena itu lembaga ini harus diselamatkan dari pengkhianatan oknum pimpinannya yang telah menyimpang dari rel Sabillillah, garis yang telah ditentukan oleh Allah SWT. Maka atas prakarsa SM. Kartosuwiryo dibentuknya suatu komite tantangan. Komite Pertahanan Kebenaran PSII (PKP PSII), karena dimaksudkan untuk menggebrak didalam PSII, komite mengabaikan resolusi pemecatan ketika ternyata ini tidak mungkin dilakukan,mereka pada rapat umum komite di Malangbong pada 24 Maret 1940. Diputuskan untuk membentuk partai yang bebas, sebagai upaya penyelamatan politik hijrah, yang merupakan amanah Allah, amanah Rasulullah dan amanat ummat yang telah diputuskan dalam kongres-kongres partai pada tahun-tahun yang silam.
Partai yang baru ini, yang juga biasa disebut PSII kedua. Dimana SM. Kartosuwiryo diangkat sebagai ketuanya, diharapkan bisa berkembang menjadi PSII yang sebenarnya untuk mempertahankan dan merealisir nilai-nilai dan tujuan islami yang menjadi ciri khas PSII yang telah dirancangkan oleh pendirinya, HOS. Cokroaminoto, terutama dimaksudkan untuk merealisasikan politik hijrah lebih kongkrit lagi, sebagaimana telah diputuskan dengan kongres partai yang diadakan di Surabaya pada tahun1937. Oleh karena itu PSII Abi Kusno Cokro Suyoso sudah tidak bisa diharapkan lagi untuk mengemban amanah suci ini, sebab mereka terdiri dari pengkhianat-pengkhianat yang telah mengkhianati perjuangan islam yang sesungguhnya. Dan menodai nilai-nilai islam yang pada mulanya telah mereka sepakati bersama. Dengan demikian mereka tidak lagi berhak memakai nama Syarekat Islam Indonesia (PSII), sebab telah bergeser dari Al-Islam, hal ini tampak lebih jelas sekali Abi Kusno memindahkan corak perjuangan Islam kepada corak nasional, seperti terlibat dalam GAPI, yang sudah tidak ada identitas Islamnya lagi.
Upaya SM. Kartosuwiryo ini rupanya mendapat dukungan yang lebih besar dari masyarakat yang masih konsekwen dengan Islam, ini bisa dilihat dengan perkembangan yang cukup pesat, dari dua cabang saja yang pada saat baru berdirinya KPK PSII, telah meningkat menjadi dua puluh dua cabang pada Maret 1940, bahkan boleh dikatakan dimana ada cabang PSII Abi Kusno, disitu akan berdiri pula cabang PSII kedua yang tetap konsekwen dengan politik hijrah.
Bermaksud mencontoh pola Rasulullah s.a.w pada awal perkembangan hijarahnya ke Yatsrib dengan membentuk masyarakat yang Isalam dan lembaga pendidikan serta pengkaderan, maka SM. Kartosuwiryo berusaha mendirikan sebuah lembaga pendidikan dan pengkaderan yang bernama “Institut Suffah”. Lembaga ini diharapkan akan menjadi modal utama dalam usaha melahirkan “Darul Islam” dikemudian hari. Gagasan ini sesungguhnya sudah lama dicanangkan sejak kongres pada tahun 1937 di Surabaya. SM. Kartosuwiryo yang sungguh mengerti akan pentingnya lembaga kaderisasi kepemimpinan dan yang memberi perhatian pada bidang ini dalam brosus hijrahnya, diberi kepercayaan untuk mendirikan suatu lembaga yang direncanakan guna melatih kader-kader pimpinan Islam yang “militan” oleh kongres partai saat itu. Tetapi ketika pimpinan PSII memutar haluan politiknya ke Parlementer, maka partai tidak ada lagi minatnya terhadap rencana tersebut. Namun SM. Kartosuwiryo dengan kesungguhan hati meneuskan persiapan guna pembentukan lembaga pengkaderan dari penyesuaian itu, dengan pola Rasulullah s.a.w. Lembaga yang dimaksudkannya tidak lagi terikat dengan PSII lama. Pimpinan Abi Kusno cs yang dirasakannya telah mengkhianati perjuangan ummat Islam Indonesia, lembaga ini akan menjadi lembaga pendidikan yang terikat dan diawasi oleh PSII kedua, tegasnya PSII hijrah.
Setelah rencana itu disyahkan oleh kongres PSII kedua pada Maret 1940. Didirikan “Institut Suffah” yang beralokasi di Malangbong, dengan institute ini paling tidak ada dua target yang dapat digarap. Pertama, membentuk para mujahid, kader-kader yang militan, yang kuat aqidahnya dan menguasai ilmu Islam yang nantinya mampu menggerakkan jihad fisabilillah, termasuk jihad dalam arti “fisik” menumbangkan dominasi penguasa-penguasa dzolim, dalam rangka menegakkan Daulah Islamiyyah. Kedua, menciptakan masyarakat yang Islami, dengan mulai pengenalan serta penerapan mulai dari sistem hidup dengan Islami bagi setiap pribadi, masyarakat Malangbong dan sekitarnya menjadi objek bagi pelaksanaan program ini, yang bisa diharapkan menjadi basis kekuatan dan pusat komando gerakan jihad ummat Islam dikemudian hari. Jihad adalah merupakan tindak lanjut daripada hijrah, sebab sikap hijrah tidak dianggap absah bila tidak diiringi dengan jihad.
digamblang selama empat atau enam bulan, sehingga mereka benar-benar menjadi kader yang tangguh dan militan, yang bisa diharapkan menanamkan dan menyebarkan idea serta cita-cita Islam dikalangan masyarakat dimana mereka akan kembali.
Kebanyakan yang datang menjadi siswa disini adalah para pemuda yang berasal dari daerah Parahiyangan, ada juga yang dari jauh seperti dari Banten, Wonorejo, Cirebon, bahkan dari Toli-toli dan Sulawesi Utara. SM. Kartosuwiryo, selaku pimpinan lembaga ini, beliau memegang pelajaran ilmu Tauhid, untuk menanamkan aqidah dan keyakinan pada siswa, diuraikannya pengertian kalimah (Lailaha ilallah), yang merupakan dasar serta sumber segala aspek kehidupan ummat Islam, uraiannya secar sepintas bisa kita lihat seperti di bawah ini :
Artinya : Tidak ada yang maujud kecuali atas idzin dan takdir Allah, hal ini untuk membulatkan aqidah dan keyakinan bahwa setiap kejadian baik yang terjadi atau yang menjadi, baik yang disengaja oleh manusia ataupun yang tidak, baik yang sesuai dengan keinginan atau tidak, yang bersifat biasa atau luar biasa, yang manis yang pahit, yang baik maupun yang buruk, itu semua atas kodrat dan irodat Allah atas kuasa dan kehendak Allah SWT.
Disini posisi makhluk termasuk manusia tidak ada peran sama sekali yang berpengaruh dalam mewujudkan sesuatu, ia hanya dijadikan salinan dan sambungan belaka. Daya ikhtiar dan akal pikiran manusia bagaimanapun besarnya tidak akan mampu mewujudkan sesuatu tanpa idzin dan kuasa Allah, ikhtiar dan akal manusia hanya berfungsi sebagai sarana dan penyambung dari kuasa dan kehendak Allah yang mutlak, karena itu manusia harus menyadari akan kelemahan dan kekerdilannya di hadapan Allah Rabbul Izzati, segala hidup dan kehidupan bergantung mutlak kepada kuasa dan kehendak Allah, manusia tidak punya daya dan kuasa sedikitpun kecuali atas kehendak dan kuasa Allah, inilah yang dikatakan Wahdatul Maujud (1).
Tidak ada yang dicari untuk ditaati dan dicari untuk dihindari, kecuali perintah dan larangan Allah. Setelah meyakini bahwa setiap takdir yang datang kepada kita adalah untuk sarana ibadah (pengabdian kepada Allah), maka kita harus yakin bahwa setiap takdir yang datang kepada kita ini mengandung perintah dan larangan dari Allah yang terperinci, melaksanakan sistem hidup yang digariskan dari Allah, pada setiap tempat, setiap saat dan setiap keadaan. Kita harus berusaha untuk mewarnai kehidupan kita sehari-hari dengan warna Islam saja. Jangan sesaat pun diri kita lepas dari nilai Islam yang telah kita yakini sebagai satu-satunya Dienullah : sistem hidup yang digariskan Allah yang membawa kemaslahatan kehidupan di dunua dan akhirat. Inilah Mahdatul Matlub, artinya : kebulatan dan langkah sepanjang aturan Allah SWT.
Tidak ada yang dimaksud (dituju), kecuali keridhoan Allah setelah kita berada di jalan Allah, dengan melaksanakan sistem Islam dalam seluruh aspek kehidupan sehari-hari, jangan sampai kita menyimpang dari arah dan tujuan yang haqiqi, yaitu keridhoan Allah. Jauhkan diri kita dari sifat riya, takabur, ambisi dan tujuan-tujuan duniawi dan bisa menghapuskan nilai amal kita.
Jadi kita melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi laranganNya, melaksanakan sistem-sistem Islam dan menjauhi sistem Thoghut, itu tujuannya semata-mata ikhlas mencari keridhaan Allah, bukan yang lainnya. Inilah Wahdatul Makshud (satu tujuan hanya untuk Allah). Empat perubahan diatas ini, adalah merupakan inti dari ajaran yang diterapkan dalam Institut Suffah, dalam usaha membentuk pribadi Muwahid (serba satu-satu dalam aqidah, satu dalm niat (niat ibadah), satu dalam perbuatan, yaitu menurut sistem Allah, dan satu dalam tujuan, yaitu mencari ridha Allah. Dalam istilah lain dikatakan Minallah (dari Allah) ‘alallah (di atas jalan Allah) dan Ilallah (menuju Allah)).
Disamping ilmu tauhid dan ilmu-ilmu lainnya d\seperti Ubudiyyah, Akhlak Sirath Rasul, Tasawul, juga ilmu pengetahuan umum dan keterampilan diajarkan disini, seperti bahasa Belanda, bahasa Arab, bercocok tanam, menanam dan membuat anyaman. Kemudian pada awl tahun 1944 dalam masa penjajahan Jepang, Suffah meningkatkan aktifitasnya menjadi pusat pelatihan militer untuk daerah parahyangan, dan dari sana terbentuklah kesatuan militer yang bernama “Sabilillah” yang nantinya menjadi inti Tentara Islam Indonesia dikemudian hari.
mempunyai arah yang pasti dalam perjuangan-perjuangan menegakkan Islam, juga di Suffah ini diselenggarakannya sistem bai’at yaitu ikrar dan janji setia kepada allah yang disaksikan oleh pimpinan, yang merupakan syarat berjama’ah dalam Islam, sehingga mereka terikat dengan sikap mendengar dan ta’at terhadap pimpinan juga ukhuwah (persaudaraan) dikalangan para siswanya dengan kuat.
BAB III. PERANAN UMAT ISLAM DALAM PERGERAKAN NASIONAL 1. Golongan Islam parlementer dan MIAI
Diluar jalur syarekat islam, ada beberapa organisasi islam yang didirikan, meskipun sesungguhnya tidak dibenarkan oleh islam adanya lebih dari satu jama’ah dalam waktu dan tempat yang sama, namun demikianlah kenyataan sejarah sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-mu’minun ayat 52 & 53 yang dalam istilah Al-Qur’an dan Al Hadits disebutkan diluar jama’ah adlah “Firqoh”, dan Firqoh itu dilarang dalam umat islam. Sebab firqoh itu akan menimbulkan bencana yang besar bagi umat islam seluruhnya. Diantaranya, sebuah organisasi sosisal islam yang didirikan pada tanggal 18 november 1912 di Yogyakarta, yaityu yang bernama “muhammadiyah”. Organisasi ini didirikan oleh pendirinya, yaitu K.H Ahmad Dahlan, atas saran yang dianjurkan oleh murid-muridnya dan beebrapa anggota budi utomo, untuk merelisir program sosial dan mendirikan suatu lembaga parlemen yang bersifat parlemen. Jadi muhammadiyah bukanlah organisasi politik yang mempunyai gagasan untuk menegakkan Daulah Islamiyah, Sebagai syarat berlakunya sistem secara keseluruhan, tapi ia sebagai syarat berlakunya sistem secara keseluruhannya, tapi ia hanya merupakan organisasi sosial yang bergerak dalam bidang pendidikan saja, yang merupakan satu keping dari sistem Islam yang sempurna. Atas ajakan HOS Cokroaminoto, organisasi sempat masuk bergabung kedalam PSIIm, namun penggabungannya, rupanya tidak mau meninggalkan baju muhammadiyahnya.
Mereka tergerak hatinya untuk mengadakan usaha-usaha membendung pengaruh gerakan tersebut, demi memperhatikan faham yang mereka sebut sebagai faham ahlusunnah wal jama’ah, untuk keperluan ini pada tahun 1926 didirikanlah organisasi sosial yang bernama Nahdatul ‘Ulama yang kebangkitan para ulama, oleh pendirinya yaitu K.H Hasyim Asari , seorang ulama yang memimpin pondok pesantren yang tersebar di tiap-tiap pelosok. Organisasi ini dalam waktu singkat berhasil meraih banyak anggota dari kalangan masyarakat awam,. yang sejak lama dicekoki dengan faham taklid buta.
Dengan berdirinya Nahdatul Ulama (NU) ini, Ummat Islam tenggelam dalam pertentangan sengit antar sesamanya, hanya memperdebatkan masalah-masalah kecil saja. Sedangkan masalah-masalah besar dan prinsip seperti masalah aqidah, jihad dan daulah islamiyah mereka lupakan dan mereka tinggalkan, pertentangan-pertentangan ini akhirnya meningkat menjadi permusuhan. Orang-orang Muhamadiyah menganggap orang-orang NU sebagai musuh yang telah keluar dari sunnah, sebaliknya orang NU menganggap orang-orang Muhammadiyah adalah musuhnya bukan yang lain. Melihat kenyataan ini, para pemimpin dari kedua belah pihak merasa prihatin. Untuk itu mereka sepakat untuk mengadakan pertemuan yang dihadiri oleh utusan-utusan kedua belah pihak, dari pertemuan yang diadakan di Cirebon itu, menghasilkan suatu permufakatan, untuk segera membentuk suatu wadah / federasi yang dapat menampung aspirasi dari kedua belah organisasi tersebut, maka pada tahun 1937, berdirilah Majlis Islam A’la Indonesia (MIAI), yang bersifat non politik. Ditekankan untuk meninggalkan masalah-masalah yang menjadi titik pertengkaran dan mengalihkan perhatiannya kepada masalah-masalah besar, yaitu aqidah dan menentang kedzoliman.
Karena konsisten dengan konsep hijrahnya, tidak terdapat tanda-tanda bahwa SM. Kartosuwiryo beserta PSII keduanya, mempertimbangkan kemungkinan masuk ke dalam MIAI, sebab menurut pendapatnya betapapun besarnya persatuan umat islam, kalau tanpa hijrah, maka tidak ada harganya sama sekali dalam perjuangan islam. 2. Masa Pendudukan Jepang Dan Berdirinya BPUPKI
Hindia Belanda terlibat dalam perang Asia Pasifik, segera setelah serangan udara jepang terhadap Pearl Harbour pada Desember 1941. Segera setelah mendengan berita tentang serangan itu dari pernyataan perang Jepang terhadap Amerika dan Inggris pemerintah Belanda dan mengasingkan di London menyatakan perang terhadap Jepang. Penjelasan ini disampaikan kepada mentri luar negri Jepang 10 Desember 1942. Pasukan Jepang memasuki wilayah Hindia Belanda pada awal bulan berikutnya. Tentara Hindia Belanda pun menyerah pada 5 maret 1942, tanpa mampu memberikan perlawanan yang berarti.
Dengan kejadian (mengejutkan) ini, pada mulanya bangsa Indonesia terutama yang bergabung dalam MIAI, menaruh harapan bahwa Jepang akan mengikut-sertakan orang Indonesia, turut ambil bagian yang lebih aktif dan memegang peranan dalam menentukan kebijaksanaan politik dan memperbaiki sosial bangsa Indonesia. Ternyata harapan itu buyar sama sekali dengan diumumkan dekrit panglima militer Jawa (ma’lumat no. 3 pada 30 Maret) yang melarang membicarakan dalam bentuk apapun struktur bangsa Indonesia. Dekrit ini ditempatkan dalam tindakan keras membekukan dan membuyarkan organisasi-organisasi politik dari semua aliran, baik yang sosialis komunis yang nasionalis sekuler ataupun yang nasionalis islam termasuk didalamnya MIAI, barulah mereka tahu bahwa Jepang tidaklah lebih baik daripada Belanda, bahkan tentara Dai Nippon ini lebih licik, lebih kejam, lebih sadis, tanpa ada pertimbangan prikemanusiaan lagi.
Namun para pemimpin gerakan indonesia khususnya tokoh MIAI, selalu berusaha memohon dan mendesak penguasa militer jepang agar diberi hak berkumpul dan berorganisasi. Untuk dapat berkiprah dalam pelajaran sosial masyarakat. Akhirnya pihak jepang pun mengabulkan permohonan mereka untuk mngizinkan kembali organisasi-organisasi yang telah dibubarkan, dengan persyaratan yang ketat dan pengawasan yang tajam, maka pada bula Desember 1943 atas restu penguasa, dirikanlah organisasi islam Masyumi (Majelis Syuro Muslim Indonesia) sebagai penjelmaan MIAI yang telah dibekukan itu.