• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah Perkembangan falsafah sejarah Islam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Sejarah Perkembangan falsafah sejarah Islam"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PERIODE MAKKAH

Makkah adalah lembah yang sangat tandus kondisi geografis seperti inilah berpengaruh besar dalam membentuk sikap dan watak masyarakatnya. Pada umumnya penduduk makkah bertempramen buruk dan tidak mampu berpikir secara mendalam. Ditambah dengan sistem politik di Makkah, yang dilakukan oleh pemuka-pemuka kaum qurays untuk mempertahankan jabatan, kedudukan atau kekuasaan mereka. Sehingga hal itu juga berpengaruh pada watak dan perilaku mereka yang cenderung lebih agresif, egois, keras kepala serta tidak mudah bagi mereka untuk dapat menerima pendapat atau keyakinan orang lain.

BIOGRAFI Nabi Muhammad menerima wahyu pertamanya menjelang usianya yang keempat puluh tahun, tanggal 17 ramadhan tahun 611 M saat melakukan tahannus di gua hira dan pada saat itulah muncul malaikat jibril dan menyampaikan wahyu Allah yang pertama surat Al-Alaq:1-5. Dengan turunnya wahyu pertama itu juga sekaligus menunjukan bahwa Muhammad telah dipilih atau lebih tepatnya diangkat oleh Allah sebagai nabi.

Sebelum masa masuknya islam kebanyakan kaum arab beribadat dengan cara melakukan penyembahan berhala dan mereka menjadikan ka’bah sebagai pusat peribadatan mereka, hal tersebut bisa dikatakan sudah cukup lama berlangsung dan telah mengakar serta menjadi keyakinan mereka sejak zaman nenek moyang, sampai akhirnya nabi Muhammad datang dan membawa keyakinan lain yaitu ketauhidan. Tentunya hal tersebut tidak semerta-merta dapat dengan mudah diterima bahkan ditolak habis-habisan oleh kaum kafir quraysi. Kemudian kaum Qurasy juga tidak setuju dengan seruan Nabi Muhammad tentang persamaan hak antara hamba sahaya dan bangsawan. Karena reaksi keras dari kaum quraysi itulah yang tentunya menghambat dakwah nabi Muhammad serta keselamatannya, pada akhirnya nabi harus melakukan sistem dakwah yag lain. Dakwah Nabi Muhammad dilakukan dengan dua cara cara pertama yaitu dengan cara sembunyi-sembunyi dan terbatas.

Awalnya Rasulullah berdakwah secara diam-diam di lingkungan sekitarnya sendiri dan dikalangan rekan-rekanya sendiri, orang yang pertama kali manerima serta mengikuti dakwahnya, mula mula istri rasul sayyidatina khadijah kemudian disusul imam Ali yang sekaligus juga menjadi pemeluk agama islam termuda, imam Ali memeluk agama islam pada usianya yang ke sepuluh tahu. Kemudian disusul Abu Bakar , Zaid, Ummu Aiman dan lain-lain. Dengan dakwah secara diam-diam ini belasan orang telah menyatakan diri memeluk agama islam. Setelah beberapa lama dakwah tersebut dilaksanakan secara individual, turunlah perintah agar nabi melakukan dakwah secara terang-terangan.

Setelah beberapa lama melakukan secara sembunyi-sembunyi turunlah perintah atau firman untuk melakukan dakwah secara terbuka dan terang-terangan:“Dan berilah peringatan kepada kaum kerabatmu yang terdekat.”(asy syu’araa). Dengan datang atau turunnya perintah itu nabi mulai berdakwah secara terang-terangan mula-mulanya nabi mengundang dan menyeru pada kerabat karibnya dari bani Abdul Muthalib, tapi mereka semua menolak kecuali Ali. Langkah berikutnya yang ditempuh Nabi adalah mulai menyeru pada masyarakat umum. Maka Rasulullah naik ke bukit Shafa dan memanggil orang makkah kemudian berpidato dihadapan mereka tentang Islam.

(2)

thalib yang sangat disegani dikalangan masyarakat saat itu. Tida lama setelah itu Nabi Muhammad brhijrah ke madinah.

Secara tentatif bahwa masyarakat Islam pada kurun Mekkah belum lagi tercipta sebagai sebuah komunitas yang mandiri dan bebas dari urusan klan.Negara Islam juga belum terbentuk pada kurun Mekkah. Ajaran Islam pada kurun Mekkah bercirikan tauhid dan dalam titik tertentu terjadi radikalisasi makna dalam weltanschaung Arab jahiliyyah yang berimplikasi mengguncang tataran sosio-religius penduduk Mekkah.

PERIODE MADINAH

Jibril datang menemui Rasulullah dan mengabarkan kepadanya tentang kesepakatan kaumnya. Dia menyuruh Rasulullah untuk segera hijrah. Orang-orang kafir berkumpul di sekeliling rumah rasulullah. Kemudian Rasulullah keluar sanmbil menebarkan debu di atas kepala mereka yang membuat mereka pingsan.[2] Peristiwa pengepunan itulah yang menandai awal pergerakan (hijrah) Nabi menuju Madinah. Di kala kaumnya sudah benar-benar menentang dan ingin mebunuh Nabi, sebagi bukti tanda penolakan kan kebenaran yang dibawah oleh Nabi. Maka dimulailah hidup baru oleh umat Islam dengan harus hijrah.

Berbeda dengan Makkah, madinah senantiasa mengalami perubahan sosial yang meninggalkan bemtuk keamsyarakatan absolut model badui. Kehidupan sosial Madinah secara berangsur-angsur diwarnai oleh unsur kedekatan ruang daripada oleh sistem kekerabatan. Madinah juga memimiliki sejumlah warga Yahudi, yang mana sebagian besarnya lebih simpatik terhadap monotheisme.[3] Penduduk Madinah yang terdiri dari kaum Muhajirin, Anshar, dan nonmuslim tersebut, merupakan sebuah keberagaman yang ada pada masa lalu dan sudah menjadi suatu hal yang tidak bisa lagi dipungkuri eksistensinya.

Adapun sistem pemerintahan yang digunakan Nabi yaitu sistem musyawarah dan demokrasi dan yang terpenting adalah perkara diputuskan dengan seadil-adilnya. Sehingga Golongan yang berbeda merasa tenang karena tidak ada diskriminasi. Mereka bisa hidup berdampingan tanpa ada permusushan dengan yang lain. Keberagaman yang yang ada tidak menjadi persoalan, justru mengokohkan solidaritas di antara mereka.

Meman pada kebijakan politik yang pertama oleh Nabi adalah bagaimana menghapus perinsip kesukuan dan mempererat persatuan. Nabi benar-benar mencurahkan perhatiannya untuk masyarakat, sehingga berhasil mendamaikan antar suku Auz dan Khazraj.

Adapun strategi yang dilakukan adalah sebagai berikut: 1. Pembangunan masjid

2. Ukhuwah islamiyah, persaudaraan sesama Muslim.

3. Hubungan persahabatan dengan pihak-pihak lain yang tidak beragama Islam

Proses penyebaran agama Islam di Madinah tentunya memiliki perbedaan dengan system yang telah diterapkan oleh nabi sebelumnya. Pada periode Madinah Nabi memiliki sedikit kemudahan dalam mengenalkan Islam. Itu dikarenakan masih banyak penduduk Madinah yang menganut agama samawi. Dapat kita lihat ketika Nabi memasuki Madinah, beliau mendapat penyambutan yang luar biasa dari masyarakat.

Ada beberapa strategi dakwah yang dilakukan oleh Nabi, yaitu sebagai berikut:

 Membina masyarakat Islam melalui pertalian persaudaraan antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar

 Memellihara dan mempertahankan masyarakat Islam

(3)

Dengan diletakannya dasar-dasar yang berkala ini masyarakat dan pemerintahan Islam dapat mewujudkan nagari “ Baldatun Thayyibatun Warabbun Ghafur “ dan Madinah disebut “ Madinatul Munawwarah”.[6]

Dari sistem yang telah diterapkan Nabi tersebut, hampir tidak mendapat penolakan dari masyarakat Madinah, karena nilai-nilai yang diletakkan Nabi bersifat universal, walau pada hakikatnya nilai-nilai tersebut termaktub dalam Islam. Contohnya berbuat adil, saling menolong, larangan curang dalam berdagang, dan lai-lain.

PERKEMBANGAN ISLAM PADA MASA ABU BAKAR

Abu Bakar As Siddiq lahir pada tahun 568 M atau 55 tahun sebelum hijrah. Dia merupakan khalifah pertama dari Al-Khulafa'ur Rasyidin , sahabat Nabi Muhammad SAW yang terdekat dan termasuk di antara orang-orang yang pertama masuk Islam (as-sabiqun al-awwalun). Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Abi Kuhafah at-Tamini. Pada masa kecilnya Abu Bakar bernama Abdul Ka'bah. Nama ini diberikan kepadanya sebagai realisasi nazar ibunya sewaktu mengandungnya. Kemudian nama itu ditukar oleh Nabi Muhammad SAW menjadi Abdullah bin Kuhafah at-Tamimi. Gelar Abu Bakar diberikan Rasulullah SAW karena ia seorang yang paling cepat masuk Islam, sedang gelar as-Siddiq yang berarti 'amat membenarkan' adalah gelar yang diberikan kepadanya karena ia amat segera memberiarkan Rasulullah SAW dalam berbagai macam peristiwa, terutama peristiwa "Isra Mikraj". Ayahnya bernama Usman (juga disebut Abi Kuhafah) bin Amir bin Amr bin Saad bin Taim bin Murra bin Kaab bin Luayy bin Talib bin Fihr bin Nadr bin Malik. Ibunya bernama Ummu Khair Salma binti Sakhr. Garis keturunan ayah dan ibunya bertemu pada neneknya bernama Kaab bin Sa'd bin Taim bin Muarra. Kedua orang tuanya berasal dari suku Taim, suku yang melahirkan banyak tokoh terhormat. Dalam usia muda itu ia menikah dengan Qutailah binti Abdul Uzza. Dan perkawinannya ini lahir dua orang putra bernama Abdur Rahman dan Aisyah. Kemudian setelah di Madinah ia menikah dengan Habibah binti Kharijah, setelah itu menikah dengan Asma' binti Umais yang melahirkan Muhammad.

Setelah Rasulullah SAW wafat pada 632 M, Abu Bakar terpilih sebagai khalifah pertama pengganti Rasulullah SAW dalam memimpin negara dan umat Islam. Waktu itu daerah kekuasaan hampir mencakup seluruh Semenanjung Arabia yang terdiri atas berbagai suku Arab. Sebagai khalifah Abu Bakar mengalami dua kali baiat. Pertama di Saqifa Bani Saidah yang dikenal dengan Bai 'at Khassah dan kedua di Masjid Nabi (Masjid Nabawi) di Madinah yang dikenal dengan Bai’at A 'mmah.

Kesulitan di awal pemerintahan Abu Bakar, diwarnai dengan berbagai kekacauan dan pemberontakan, seperti munculnya orang-orang murtad, aktifnya orang-orang yang mengaku diri sebagai nabi (nabi palsu), pemberontakan dari beberapa kabilah Arab dan banyaknya orang-orang yang ingkar membayar zakat merupakan tantangan dari negara yang baru berdiri. Dengan tegas Abu Bakar menyatakan akan memerangi semua golongan yang telah menyeleweng dari kebenaran, baik yang murtad, yang mengaku Nabi palsu, maupun yang enggan membayar zakat, sehingga semuanya kembali kepada kebenaran.

(4)

apa yang disebut Perang Riddah (perang melawan kemurtadan) dan pahlawan yang banyak berjasa dalam perang tersebut adalah Khalid bin Walid.

Kemajuan yang telah dicapai pada masa pemerintahan Abu Bakar selama kurang lebih dua tahun, antara lain:

1. Perbaikan sosial (masyarakat)

2. Perluasan dan pengembangan wilayah Islam 3. Pengumpulan ayat-ayat Al Qur'an

4. Sebagai kepala negara dan pemimpin umat Islam 5. Meningkatkan kesejahteraan umat.

PERKEMBANGAN MASA UMAR BIN KHATTAB

Umar Ibn Kattab lahir dari keturunan yang mulia, Ia berasal dari suku Quraisy. Nasabnya bertemu dengan Rasul Saw pada leluhur mereka yang kesembilan. Pohon keturuan Umar Ibn Khattab dapat ditelusuri sebagai berikut: Umar adalah putra Khattab, putra Nufail, putra Abd al-‘Uzza, putra Riya, putra Abdullah, putra Qarth, putra Razah, putra ‘Adiy, putra Ka’ab, putra Lu’ay, putra Ghalib al-‘Adawi al-Quraisyi. Nasab Umar Ibn Khattab bertemu dengan nasab Rasul Saw pada Ka’ab. Sementara itu, ibunda Umar Ibn Khattab adalah Hantamah putri Hasyim, putra al-Mughirah al-Makhzumiyah. Ath-Thabari meriwayatkan bahwa Umar Ibn Khattab lahir tiga belas tahun sesudah kelahiran Rasul Saw. Umar bin Khattab memeluk agama Islam pada tahun kelima dari kenabian. Beliau di beri gelari oleh Rasul Saw dengan al-Faruq, artinya pembeda/pemisah. Umar Ibn Khattab juga dicatat sebagai orang yang pertama kali digelari Amir al-Mu’minin (pemimpin orang beriman).

Pada tahun 634 M, Umar Ibn Khattab menjadi khalifah menggantikan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Pribadi Umar Ibn Khattab mempunyai lukisan yang tertentu di dalam kepustakaan Islam. Pengangkatan Umar Ibn Khattab menjadi khalifah dilakukan melalui penunjukan (tidak melalui musyawarah yang menggambarkan prestise para pembesar Muhajirin dan Anshar), agar umat Islam terhindar dari perpecahan seperti yang terjadi di Saqifah Bani Sa’idah.

Umar bin Khattab merupakan khalifah kedua setelah Abu Bakar. Pada masa pemerintahan Umar bin Khattab islam mengalami perkembangan yang cukup pesat. Dibawah kepemimpinannya islam berhasil memperluas wilayah kekuasaannya mulai dari Mesopotamia, Mesir, Palestina, Syria, Afrika Utara, Armenia, serta sebagian wilayah Persia. Penakhlukan wilayah-wilayah tersebut selalu diikuti persebaran agama islam. Seringkali kaum islam dalam perang penakhlukan wilayah-wilayah tersebut mengalami ketidak seimbangan angkatan perang. Misalnya pada pertempuran Yarmuk (636 M) pasukan muslim dengan jumlah pasukan 20 ribu orang berhasil menang melawan pasukan Romawi yang berjumlah 70 ribu orang.

(5)

banyak madrasah sebagai sarana pendidikan formal. Kota-kota yang mengalami perkembangan pesat antara lain bashrah dan kufah.

Pada masa khalifah Umar juga berhasil membangun banyak fasilitas umum mulai dari kantor-kantor pemerintahan, markas-markas militer, perumahan sipil, jalan, jembatan dan yang paling vital adalah sistem irigasi untuk pertanian, air minum, dan juga transportasi alternatif. Pada 17 H, umar memerintahkan langsung untuk memperbaiki jalan-jalan yang rusak di Madinah demi perbaikan penunjang ibadah haji, membangun tempat-tempat berteduh antara Mekkah dan Madinah, membersihkan sumur yang tersumbat serta penggalian sumur baru sebagai sumber air. Beliau juga yang menetapkan tahun hijriyah sebagai tahun umat Islam.

Di bidang kesehatan, umar melakukan pembangunan banyak rumah sakit serta klinik-klinik, bahkan juga sarana kesehatan hewan. Dalam bidang administrasi kenegaraan, Khalifah Umar berhasil meletakkan dasar undang-undang. Ia adalah khalifah pertama yang memisahkan kekuasaan eksekutif dan kekuasaan yudikatif.. Khalifah umar juga melakukan perbaikan sistem hukum dengan membuat peraturan-peraturan baru serta membangun beberapa penjara. Meski demikian, Umar tetap menegakkan hukum dengan bijaksana, penuh hikmah dan kelembutan hati.

UTSMAN BIN AFFAN : KEBIJAKAN POLITIK

Nama lengkapnya adalah Utsman bin Affan bin Abil ‘Ash bin Umayyah bin Abdusy Syam bin Abdu Manaf bin Qusyai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luwa’i bin Gholib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’addu bin ‘Adnan. (Ibnu Katsir, 2006:319) Beliau masuk Islam melalui dakwah Abu Bakar Shiddiq. Beliau adalah orang pertama yang hijrah ke negeri Ethiopia, kemudian kembali ke Makkah dan hijrah ke Madinah. Ketika istri beliau Ruqoyyah binti Rosulullah SAW meninggal, Rosulullah menikahkannya dengan adik istrinya, Ummu Kaltsum. Itulah sebabnya, beliau mendapat gelar “Dzin Nurroini”.

Umar memerintah selama 10 tahun. Masa jabatannya berakhir dengan kematian, karena dibunuh oleh seorang budak dari Persia bernama Abu Lu’lu’ah. Untuk menentukan penggantinya, Umar tidak menempuh jalan yang dilakukan Abu Bakar. Dia sebelum wafat menunjuk 6 orang sahabat dan meminta kepada mereka untuk memilih salah seorang diantaranya menjadi kholifah. (A. Syalabi, 1987:267). 6 orang tersebut adalah Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Sa’ad bin Abi Waqqas dan Abdurrahman bin ‘Anf. Kelompok tersebut diketuai Abdurrohman dan ditambah satu lagi yaitu Abdullah bin Umar, namun ia tidak memiliki hal untuk dipilih menjadi kholifah. (Abdul Karim, 2007:88). Setelah mendapatkan suara mayoritas, yang sebelumnya melalui persaingan yang ketat antara Utsman dan Ali, akhirnya Utsman dipilih sebagai kholifah.

(6)

Ada beberapa kebijakan politik Utsman yang cukup menonjol, antara lain: 1. Melanjutkan Ekspansi Wilayah Islam

Pada masa pemerintahannya, berkat jasa para panglima yang ahli dan berkualitas, di mana peta Islam sangat luas dan bendera Islam berkibar dari perbatasan Aljazair (Barqah dan Tripoli, Syprus di front al-Maghrib bahkan ada sumber menyatakan sampai ke Tunisia) di al-Maghrib, di Utara sampai ke Aleppo dan sebagian Asia Kecil, di Timur Laut sampai ke Ma Wara al-Nahar – Transoxiana – dan di Timur seluruh Persia, bahkan sampai di perbatasan Balucistan (wilayah Pakistan sekarang), serta Kabul dan Ghazni. (Abdul Karim, 2007:91)

2. Membentuk Armada Laut yang Kuat

Pada masa pemerintahannya, Utsman berhasil membentuk armada laut dengan kapalnya yang kokoh sehingga berhasil menghalau serangan-serangan di Laut Tengah yang dilancarkan oleh tentara Bizantium dengan kemenangan pertama kali di laut dalam sejarah Islam. (Abdul Karim, 2007:91)

3. Menggiatkan Pembangunan

Utsman berjasa membangun banyak bendungan untuk menjaga arus banjir yang besar dan mengatur pembagian air ke kota-kota. Beliau juga membangun jalan-jalan, jembatan-jembatan, masjid-masjid dan memperluas masjid Nabi di Madinah. (Badri Yatim, 2003:39)

4. Menulis Kembali Penulisan Mushaf Al-Qur’an

Diantara jasa Utsman yang besar adalah telah menyatukan kaum muslimin pada satu qiro’ah dan dituliskannya bacaan Al-Qur’an terakhir yang diajarkan oleh Jibril kepada Rosulullah SAW yakni ketika Jibril mendiktekan Al-Qur’an kepada Rosulullah pada tahun terakhir masa hidup beliau. (Ibnu Katsir, 2006:349)

Utsman meminta mushaf yang disimpan oleh Hafshah yang merupakan hasil pengumpulan pada masa Abu Bakar, untuk ditulis kembali. Maka ditulislah satu mushaf Al-Qur’an untuk penduduk Syam, satu mushaf untuk penduduk Mesir, satu mushaf untuk penduduk Basrah, satu mushaf dikirim ke Kufah, begitu juga ke Makah dan Yaman, serta satu mushaf untuk Madinah. (Ibnu Katsir, 2006:350).

Pada paroh terakhir masa kekholifahannya muncul perasaan tidak puas dan kecewa di kalangan umat Islam terhadapnya. Pada tanggal 17 Juni 656 M Usman dibunuh dengan cara ditikam oleh gerombolan pemberontak yang tiba-tiba datang mengepung rumah khalifah Usman pada saat ketiak beliau sedang membaca Alquran. Salah satu faktor yang menyebabkan banyak rakyat kecewa dan terjadi pemberontakan terhadap kepemimpinan Utsman adalah kebijaksanaannya mengangkat keluarga dalam kedudukan tinggi (nepotisme).

Sebab-sebab terjadinya pemberontakan yang berakhir dengan terbunuhnya Khalifah Usman dapat diteliti dari beberapa segi.

(7)

Kedua, persaingan dan permusuhan antara keluarga Hasyim dan keluarga Umayyah turut memperlemah kekuatan Usman.

Ketiga, lemahnya karakter kepemimpinan Usman turut pula menyokongnya, khususnya dalam menghadapi gejolak pemberontakan. Bahwa Usman adalah pribadi yang yang sederhana dan sikap lemah lembut sangat tidak sesuai dalam urusan politik dan pemerinthan, lebih-lebih lagi dalam kondisi yang kritis.

ALI BIN ABI THALIB : IKHTILAFUL KHILAFAH

Saudara sepupu dan putra angkat nabi ini lahir di dalam Ka’bah pada 600 M., tahun 23 sebelum hijrah. Beliau tergolong generasi pertama yang memeluk islam setelah Khadijah binti Khuwailid, sesaat setelah al-Qur’an memerintahkan nabi untuk memberi peringatan kepada kerabat-kerabatnya. Nama lengkapnya adalah Abu Hasan Ali ibn Abi Thalib ibn Abdul Muththalib al-Hasyimi al-Qurasyi. Sewaktu lahir beliau bernama Haydar (al-Hayadarah) oleh ibunya yang bernama Fatimah binti As’ad, namun kemudian diganti oleh ayahnya yang bernama Abu Thalib ibn Abd Muththalib dengan nama Ali. Beliau juga gelar Abu Thurab (Si Bapak debu-tanah) oleh nabi karena pernah dijumpai tidur diatas tanah.

Sejak memeluk islam, beliau selalu bersama dengan rasulullah saw. Taat kepadanya dan banyak menyaksikan proses turunnya wahyu. Sebagai anak asuh yang dibesarkan di rumah nabi. Sejak kecilnya beliau sangat disayangi sehingga tatkala tiba usia dewasa, beliau dinikahkan dengan putri nabi yang bernama Fatimah. Ali adalah sahabat yang sangat disegani karena kepiawaiannya dalam banyak macam ilmu pengetahuan, baik soal hukum, rahasia ketuhanan maupun segala persoalan keagamaan secara teoritis dan praktis. Rasulullah sendiri memujinya sebagaimana sabdanya: Aku adalah gudangnya ilmu dan Ali adalah kuncinya. Disamping cerdas, Ali juga dikenal sebagai panglima perang yang gagah perkasa. Keberaniannya menggetarkan hati lawan-lawannya. Beliau mempunyai sebilah pedang warisan dari rasululullah saw.bernama “Zul Fiqar”[5]

Peristiwa pembai’atan ini terjadi pada hari Jum’at,13 Dzul Hijjah 35 H./23 Juni 656 M di Mesjid Nabawi, seperti pembai’atan para khalifah sebelumnya. Segera setelah dibai’at, khalifah Ali mengambil langkah-langkah politik, yaitu:

a. Memecat para pejabat yang diangkat oleh Utsman, termasuk didalamnya beberapa gubernur lalu menunjuk penggantinya.

b. Mengambil tanah yang telah dibagikan Utsman kepada keluarga dan kaum kerabatnya. c. Memberikan kepada kaum muslimin tunjangan yang diambil dari bait al-mal, seperti yang pernah dilakukan oleh Abu Bakar, pemberian dilakukan secara merata, tanpa membedakan sahabat yang lebih dulu memeluk agama Islam atau yang belakangan.

(8)

perlawanan kepada khalifah Ali karena tuntutan mereka agar para pembunuh khalifah Utsman segera dihukum namun hal ini tidak terpenuhi, demikian pula alasan pemberontakan Mu’awiyah, disamping pembangkangannya yang enggan melepaskan jabatannya sebagai gubernur Damaskus. Sementara Khawarij menentang khalifah Ali karena beliau menerima tawaran dari Mu’awiyah untuk bertahkim. Dalam perjuangannya melawan para pemberontak dalam beberapa peperangan yang terjadi, khalifah berhasil meraih kemenangan kecuali dengan Mu’awiyah. Pihak khalifah kalah oleh kelicikan Amr bin Ash penasehat Mu’awiyah. Dan pada masa pemerintahan Ali terdapat beberapa peperangan, dan yang terpenting adalah dua buah, yaitu peperangan Jamal (unta) dan peperangan Shiffin.

Segera setelah menyelesaikan gerakan Thalhah dan kawan-kawan, pusat kekuasaan Islam dipindahkan ke kota Kufah. Madinah Sejak saat itu berakhir menjadi ibu kota kedaulatan Islam, dan tidak ada lagi khalifah yang berkuasa berdiam disana.

KISAH CINTA ALI BIN THALIB

“Ali adalah gentleman sejati. Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali! Inilah jalan cinta para pejuang”

Inilah kisah cinta suci antara Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra. Cinta mereka memang luar biasa indah, cinta yang selalu terjaga kerahasiaannya dalam sikap, kata, maupun ekspresi. Hingga akhirnya Allah menyatukan mereka dalam sebuah ikatan suci pernikahan. Ali sudah menyukai Fatimah sejak lama, selain kecantikan fisik, Ali jatuh hati pada kecantikan ruhaniah Fatimah yang melintasi batas hingga langit ke tujuh. Kendalanya adalah perasaan rendah hati; mampukah Beliau membahagiakan Fatimah dengan keadaannya yang serba terbatas.

Dikisahkan, kala Ali Bin Abi Thalib ingin melamar putri tercinta Rasulullah Muhammad SAW, beliau tak punya uang untuk membeli mahar. Maka Ia membatalkan niat itu. Ali segera berhijrah untuk bekerja dan mengumpulkan uang.Sementara itu, Ali juga sempat patah hati tiga kali, ketika dua sahabat Rasulullah, Abu Bakar dan Umar bin Khattab, mendahuluinya melamar Fatimah, menyusul Abdurahman bin Auf melamar sang putri dengan membawa 100 unta bermata biru dari mesir dan 10.000 dinnar (jika diuangkan dalam rupiah kira-kira 55 milyar). Tidak dinyana tidak diduga, ternyata Rasulullah menolak lamaran mereka bertiga. Bahkan dalam sebuah riwayat (Abas Azizi hal 162) diceritakan: Nabi saw menggenggam batu kerikil dan kemudian membukanya, terlihat batu itu menjadi batu mulia dan beliau menunjukkannya sambil berkata, “Apakah engkau hendak menakut nakutiku dengan hartamu?”

(9)

persetujuannya.Rasulullah kemudian mendekati Ali dan berkata, “Apakah engkau memiliki sesuatu yang akan engkau jadikan mahar wahai Ali?”Ali pun menjawab, ”orang tuaku yang menjadi penebusnya untukmu ya Rasulullah, tak ada yang aku sembunyikan darimu, aku hanya memiliki seekor unta untuk membantuku menyiram tanaman, sebuah pedang, dan sebuah baju zirah dari besi.”Dengan tersenyum Rosululloh saw bersabda, “Wahai Ali, tidak mungkin engkau terpisah dengan pedangmu, karena dengannya engkau membela diri dari musuh-musuh Allah SWY ,dan tidak mungkin juga engkau berpisah dengan untamu karena ia engkau butuhkan untuk membantumu mengairi tanamanmu. Aku terima mahar baju besimu, juallah dan jadikan sebagai mahar untuk putriku

Dalam suatu riwayat dikisahkan, suatu hari setelah keduanya menikah, Fatimah berkata kepada Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu, aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta kepada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya.”Ali pun bertanya mengapa ia tak mau menikah dengannya (pemuda itu), dan apakah Fatimah menyesal menikah dengannya (Ali bin Abi Thalib). Sambil tersenyum Fatimah menjawab, “Pemuda itu adalah dirimu.

Inilah jalan cinta para pejuang.Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti Ali. Cinta mempersilakan, atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

PERKEMBANGAN ISLAM PADA MASA BANI UMAYYAH

Daulat Bani Umayyah didirikan oleh Muawiyah bin Abi Sofyan bin Harb bin Umayyah pada tahun 41 H. Berdirinya daulah ini, karena Muawiyah tidak mau meyakini kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Sehingga pada waktu itu terjadi perang saudara dalam perang Siffin (37/657), sehingga pada akhirnya Ali terpaksa menghentikan perang dan berjanji untuk menerima tahkim serta mengadakan perundingan. Peristiwa tahkim yang justru merugikan Ali, mengakibatkan banyaknya pengikut Ali telah ingkar yang dikemudian hari disebut kaum khawarij. Oleh karena itu umat Islam pada saat itu terbagi menjadi 3 golongan:

1. Bani Umayah dipimpin oleh Mu’awiyah

2. Syi’ah atau pendukung Ali, yaitu golongan yang mendukung kekhalifahan Ali 3. Khawarij yang menjadi lawan dari kedua partai.

Dalam perundingan itu Ali mengutus Abu Musa Al-Asy’ari seorang ahli hukum, zakelyk dan jujur. Sedang Muawiyah mengutus Amr bin Ash, seorang diplomat yang ulung, cerdik dan pandai mengatur siasat. Sejak itulah Muawiyah menjadi khalifah kaum muslimin secara resmi, meskipun diperoleh dengan tidak wajar dan sekaligus menyimpang dari ajaran Islam.

Bani Umayyah menjadi sangat kuat, sehingga berhasil menegakkan kekhalifahan Bani Umayyah selama 90 tahun. Selama itu pula telah memerintah 14 orang khalifah, sebagai berikut:

(10)

3. Khalifah Muawiyah II (683-684 M)

4. Khalifah Marwan I bin al-Hakam (684-685 M) 5. Khalifah Abdul Malik (685-705 M)

6. Khalifah Al-Walid (705-715 M) 7. Khalifah Sulaiman (715-717 M)

8. KhalifahUmar bin Abdul Aziz (717-720 M) 9. Khalifah Yazid II (720-724 M)

10. Khalifah Hisyam (724-743 M) 11. Khalifah Al-Walid II (743-744 M)

12. Khalifah Yazid III dan Ibrahim (744-744 M)

13. Khalifah Marwan II bin Muhammad (744-750 M)[2]

Muawiyah mendapat kursi kekhalifahan setelah Hasan ibn Ali ibn Abi Thalib berdamai dengannya pada tahun 41 H. Umat Islam sebagiannya membaiat Hasan setelah ayahnya itu wafat. Namun Hasan menyadari kelemahannya sehingga ia berdamai dan menyerahkan kepemimpinan umat kepada Muawiyah sehingga tahun itu dinamakan ‘amul jama’ah, tahun persatuan. Muawiyah menerima kekhalifahan di Kufah dengan syarat-syarat yang diajukan oleh Hasan, yakni:

1. Agar Muawiyah tiada menaruh dendam terhadap seorang pun penduduk Irak. 2. Menjamin keamanan dan memaafkan kesalahan-kesalahan mereka.

3. Agar pajak tanah negeri Ahwaz diperuntukkan kepadanya dan diberikan tiap tahun.

4. Agar Muawiyah membayar kepada saudaranya, Husain, 2 juta dirham.

5. Pemberian kepada Bani Hasyim haruslah lebih banyak dari pemberian kepada Bani Abdis Syams.

Muawiyah dibaiat oleh umat Islam di Kufah sedangkan Hasan dan Husain dikembalikan ke Madinah. Hasan wafat di kota Nabi itu tahun 50 H.

Perkembangan daerah umat Islam pada masa Bani Umayyah diikuti pula dengan kemajuan diberbagai bidang, pembangunan berjalan pesat , baik dalam segi dakwah maupun pembangunan material. Umat Islam memahami isi al-Quran yang merupakan pedoman hidup. Dari al-Quran umat Islam menjabarkan berbagai cabang ilmu yang terknadung didalamnya. Kemajuan umat Islam dapat dikelompokkan sebagai berikut:

a. Kemajuan dibidang dakwah

Umat Islam mampu menyebarkan agama Islam ke Tiongkok, India, Maroko dan Spayol (Andalusia)

(11)

pembentukan wasir dan perdana mentri, pembentukan kelembagaan Negara, pembentukan tata usaha.

c. Kemajuan dalam bidang militer

Pasukan pengintai atau talaiah yang dibentuk pemerintah Bani Umayyah untuk mengintai kekuatan musuh, Pasukan inilah yang kemudian menjadi ujung tombak penyebaran kekuatan pasukan Islam Bani Umayyah, yang wilayah kekuasaannya meliputi Asia, Afrika dan Eropa.

d. Kemajuan dalam bidang sosial budaya

Kemajuan dalam bidang bahasa dan sastra, kemajuan dalam bidang seni rupa, seni bangunan atau arsitektur.

e. Kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan

Ilmu Qiro’at, Ilmu tafsir, Ilmu hadits, Tata bahasa arab, Ilmu kimia, Ilmu kedokteran, Ilmu sejarah, Ilmu seni arsitektur, Berdiri juga berbagai macam sekolah.

f. Kemajuan dibidang pemerintahan

menggali sumber pendapatan negara dari berbagai sektor, pertanian, perdagangan dan industri.

Referensi

Dokumen terkait

Pada hasil penelitian ini tidak didapatkan perbedaan yang bermakna menurut statistika pada perubahan suhu tubuh antara kelompok tramadol bila dibandingkan dengan kelompok

Kecerdasan antarpribadi seperti empati, wawasan sosial, daya tarik, kebijaksanaan dan diplomasi, sifat persuasif, dan kemampuan komunikasi lisan penting untuk

Rata-rata hampir setiap hari kurang lebih 5 orang pasien yang mengalami flebitis,vhal tersebut terjadi diakibatkan banyak faktor yang mempengaruhi terjadi flebitis

Sedangkan secara lebih rinci dapat disimpulkan: (1) Berdasarkan hasil analisis keterlaksanaan pembelajaran dengan menggu- nakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD

Mata kuliah ini diselenggarakan dengan menggunakan 3 model pembelajaran dari model pembelajaran yang tersedia dalam model pembelajaran KBK KKNI, yaitu ” Contextual Instruction ”,

Terdapat tiga penaksir produk untuk rata-rata populasi pada sampling acak sederhana dalam pembahasan ini dengan menggunakan beberapa informasi tambahan yaitu

Dari hasil penelitian diperoleh dosis yang digunakan pada semua pasien dilapangan adalah 1x 30 mg/hari, seharusnya dosis lansoprazol diberikan sesuai dengan fungsi hati

Sebagai sebuah lembaga keuamgan pada bank syariah adalah lembamaga keuangan yang menjalankan peranannya untuk menjadi lembaga keuangan intermediasi antara pemilik modal