• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PENGELOLAAN ARSIP SERAT KEKANCINGAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "PENGARUH PENGELOLAAN ARSIP SERAT KEKANCINGAN"

Copied!
99
0
0

Teks penuh

(1)

i

PENGARUH PENGELOLAAN ARSIP SERAT KEKANCINGAN

TERHADAP PENGATURAN HAK ATAS TANAH BERSTATUS MAGERSARI

PASKA PEMBERLAKUAN UNDANG-UNDANG PERTANAHAN DAN AGRARIA (UUPA) 1960

(STUDI KASUS ARSIP SERAT KEKANCINGAN

DI KOTA YOGYAKARTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA)

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi pada program studi S1 Ilmu Perpustakaan Peminatan Kearsipan

Oleh: Rina Rakhmawati

13040111150016

PROGRAM STUDI S1 ILMU PERPUSTAKAAN

FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

(2)
(3)

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO

Tidak ada yang tidak mungkin, jika Allah Swt. berkehendak jadilah, maka jadilah.

PERSEMBAHAN

1. Ayah dan ibu, serta keluarga besar di Tegal. 2. Keluarga besar Kos Pelangi Sastra di Yogyakarta

dan wisma Zakiyah El Shafira di Semarang untuk semua motivasi dan sandarannya.

3. Praktisi, akademisi dan pemerhati kearsipan Indonesia dan Internasional yang sudah banyak menginspirasi.

4. KADIKGAMA dan HIMADIKA FIB UGM untuk segala bentuk inspirasi dan inovasinya.

(4)
(5)
(6)

PRAKATA

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah Swt., Maha Cendekia lagi Maha Bijaksana, atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul “Pengaruh Pengelolaan Arsip Serat Kekancingan Terhadap Pengaturan Hak Atas Tanah Berstatus Magersari Paska Pemberlakuan Undang-Undang Pertanahan Dan Agraria (UUPA) 1960 (Studi Kasus Arsip Serat Kekancingan di Kota Yogyakarta Daerah Istimewa Yogyakarta)”.

Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Dra. Ngesti Lestari, M.Si dan Dr. Agustinus Supriyono, M.A, selaku dosen pembimbing dalam penulisan skripsi.

2. Drs. Ary Setyadi, MS. selaku ketua lintas jalur program studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya Undip.

3. Dra. Sri Ati Suwanto, M.Si selaku ketua jurusan Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya Undip.

4. Staf dekanat dan staf pengajar Fakultas Ilmu Budaya Undip, terutama pada jurusan ilmu perpustakaan peminatan kearsipan.

5. Pihak Keraton Yogyakarta dan Pemerintah Kota Yogyakarta.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini terdapat kekurangan dalam berbagai hal. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi tercapainya kesempurnaan dalam skripsi ini. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Semarang, September 2013

(7)

ABSTRAK

Skripsi ini berjudul “Pengaruh Pengelolaan Arsip Serat Kekancingan Terhadap Pengaturan Hak Atas Tanah Berstatus Magersari Paska Pemberlakuan Undang-Undang Pertanahan Dan Agraria (UUPA) 1960 (Studi Kasus Arsip Serat Kekancingan Di Kota Yogyakarta Daerah Istimewa Yogyakarta)”.

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui dan memahami sejarah arsip serat kekancingan sebagai bukti legal pemegang hak magersari atas tanah keraton, mengetahui dan memahami pengelolaan arsip serat kekancingan sebagai bukti legal pemegang hak magersari atas tanah Keraton Yogyakarta, mengetahui dan memahami pengaruh yang ditimbulkan dari pengelolaan arsip serat kekancingan

terhadap pengaturan hak tanah magersari di Kota Yogyakarta sebelum dan setelah pemberlakuan Undang-Undang Pertanahan dan Agraria (UUPA) 1960. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Adapun subjek penelitian adalah pengelola arsip serat kekancingan, baik petugas arsip maupun warga pemegang arsip kekancingan. Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data primer (catatan lapangan, analisis arsip dan transkrip in-deepth interview) dan data sekunder (studi literatur dan rujukan akademis). Teknik pengumpulan data menggunakan tiga sumber, yaitu studi pustaka, observasi tanpa peranserta dan terbuka, dan wawancara mendalam. Sedangkan analisis data yang digunakan yaitu pendekatan oral history (sejarah lisan).

Hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh simpulan bahwa periode awal penggunaan arsip serat kekancingan sebagai bukti legalitas pemegang hak magersari belum diketahui secara pasti, namun arsip kekancingan tertua yang sudah diinventarisasi bagian arsip di Perpustakaan Widya Budaya Keraton Yogyakarta berada pada periode 1942 – 1946. Selain itu, pengelolaan arsip serat kekancingan

(8)

ABSTRACT

This research entitled “The Impact of Record Management of Serat Kekancingan

Toward the Adjusment of Land Rights with Magersari Status After the Enforcement of Undang-Undang Pertanahan dan Agraria (UUPA) 1960 (A Case Study related to

Serat Kekancingan in Yogyakarta City, in the Daerah Istimewa Yogyakarta)”. This study attempts to discover and comprehend the history of serat kekancingan as a legal evidence of magersari land rights, understanding the records management of

serat kekancingan, and the impact of record management of serat kekancingan

toward the adjusment of magersari land rights (Undang-Undang Pertanahan dan Agraria or UUPA) in Yogyakarta city area after the enforcement of land and agrarian law number 5 by the year of 1960.

The method used in this research is qualitative research by case study reseach. The sources of this research is obtained from record creators of serat kekancingan which is managed by Tepas Banjar Wilapa and Tepas Paniti Kismo of KeratonYogyakarta. The type and data sources used in this research were primary data (field notes, record analysis and in-depth interview) and secondary data (literature review and academic references). The data collection method applied in this research used three sources; they were literature study, open non-participation’s observation, and in-deepth interview. Meanwhile, the data analysis method applied in this research used oral history approach.

The result showed that early period of serat kekancingan as a legal evidence of

magersari land rights is still unknown. But, the earliest archives that inventoried in Widya Budaya’s library is in 1942 – 1946. Furthermore, the record management of

serat kekancingan has a say in the management of land rights with impact status after the reinforcement of UUPA 1960. Record regulation which is not compatible with the record criteria will causing trouble in record retrieval process, the emergence of many land disputes between the citizens, between the keraton’s kinsmen, or between citizens and the keraton, and the record could be in hazardous, also forgery and thievery.

Based on the result obtained from the research, the writer suggests that there should be strengthening of law basis in serat kekancingan’s record administration, the utilization of archivist staff in BPAD Yogyakarta to introduce record regulation which is compatible to the standard procedure, the revamping of record filing system, and also procurement of best facilities and infrastructure for better records administration in Tepas Paniti Kismo Keraton Yogyakarta.

(9)

DAFTAR ISI

1.2 Rumusan dan Batasan Masalah ... 7

1.3 Tujuan Penelitian ... 7

1.4 Manfaat Penelitian ... 8

1.5 Tempat dan Waktu Penelitian ... 9

1.6 Kerangka Pemikiran ... 11

1.7 Batasan Istilah ... 11

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 15

BAB III METODE PENELITIAN ... 19

3.1 Desain dan Jenis Penelitian ... 19

3.2 Objek dan Subjek Penelitian ... 19

3.3 Tempat dan Waktu Penelitian ... 20

3.4 Pengumpulan Data ... 20

(10)

BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN ... 25

4.1 Sejarah Pemerintahan Kasultanan Yogyakarta ... 25

4.1.1 Masa Pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono IX ... 26

4.1.2 Masa Pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono X ... 30

4.2 Sejarah Pertanahan di Yogyakarta ... 32

4.2.1 Periode Sebelum Pemberlakuan Undang-Undang Pertanahan dan Agraria (UUPA) 1960 di Kota Yogyakarta………..……..32

5.2.2Periode Setelah Pemberlakuan Undang-Undang Pertanahan dan Agraria (UUPA) 1960 di Kota Yogyakarta ... 34

BAB V PENGARUH PENGELOLAAN ARSIP SERAT KEKANCINGAN TERHADAP PENGATURAN HAK PENGGUNAAN TANAH BERSTATUS MAGERSARI DI KOTA YOGYAKARTA ... 37

5.1 Sejarah Arsip Serat Kekancingan ... 37

5.2 Profil Pencipta Arsip di Keraton Kasultanan Yogyakarta ... 39

5.3 Pengelolaan Arsip Serat Kekancingan ... 42

5.3.1 Tahap Penciptaan ... 42

5.3.2 Tahap Penggunaan dan Pemeliharaan ... 44

5.3.3 Tahap Penyusutan ... 48

5.4 Pengaruh Pengelolaan Arsip Kekancingan terhadap Pengaturan Hak Penggunaan Tanah Berstatus Magersari ... 49

5.4.1 Analisis Arsip Serat Kekancingan dalam Kasus Sengketa Kios di Jalan Suryowijayan ... 50

5.4.2Analisis Arsip Serat Kekancingan dalam Kasus Sengketa Jalan Brigjen Katamso Gondomanan ... 54

(11)

BAB VI SIMPULAN DAN SARAN ... 59

6.1 Simpulan ... 59

6.2 Saran ... 61

(12)

DAFTAR ISTILAH

Abdi dalem : orang yang mengabdi kepada raja

Apanage : tanah lungguh dalam Bahasa Belanda

Arsip dinamis aktif : arsip yang frekuensi penggunaan dalam administrasi keseharian masih tinggi

Arsip statis : arsip yang tidak lagi digunakan dalam kegiatan administrasi pencipta namun memiliki nilai kebuktian dan ilmu pengetahuan

Bekel : orang yang mengelola tanah-tanah

lungguh para bangsawan pada masa kolonial sebelum reorganisasi tanah di daerah pedesaan.

Filing cabinet : tempat penyimpanan arsip dinamis aktif berupa lemari yang terbuat dari besi

Folder : tempat penyimpanan arsip berbentuk

map

Hak andarbe : hak milik individual yang bisa

diwariskan

Hak Anggaduh : hak menggarap

(13)

Jadwal Retensi Arsip (JRA) : suatu daftar yang berisi tentang kebijakan penyimpanan jangka panjang arsip dan penetapan simpan permanen dan musnah

Jeron beteng : wilayah dalam benteng kerajaan

Kapanewon : setingkat kecamatan

Kasunanan : kerajaan yang dikepalai oleh sunan

(setingkat sultan)

Kawedanan Hageng Sarta Kriya : bagian dalam wilayah organisasi pemerintahan Keraton Yogyakarta yang mengatur masalah kendaraan dan bangunan Keraton Yogyakarta, termasuk di dalamnya tanah keraton

Ketlingsut : terselip

Kitab Angger-angger : kumpulan sumber hukum yang

dipakai sebagai pedoman dalam menjalankan roda peradilan tradisional di Kasultanan Yogyakarta

Klapper : suatu daftar mengenai nama, tempat

(14)

berfungsi sebagai jalan masuk terhadap buku-buku index saja

Landreform : pengaturan kembali masalah

pertanahan

Lintir : pemindahan hak magersari atas tanah

tersebut diberikan kepada orang lain

Liyer : pemindahan hak magersari atas tanah

diberikan atau diwariskan pada keturunannya atau kerabat.

(15)

Pakualaman ground : tanah yang dimiliki dan dikelola oleh Kadipaten Pakualaman

Pamong praja : pegawai pemerintahan

Panewu : setingkat camat

Paniti Kismo : satuan khusus Keraton Yogyakarta

yang menangani masalah pertanahan keraton

Priyayi : birokrat, pegawai pemerintah atau

kerajaan yang merupakan golongan atas dalam masyarakat Jawa

Rijksblaad : lembaran kerajaan dalam Bahasa

Belanda

Romusha : kerja paksa pada masa pendudukan

Jepang

Serat kekancingan : surat keputusan tentang kepemilikan tanah atau silsilah keturunan atau pengangkatan jabatan.

Sultan ground : tanah yang dimiliki dan dikelola oleh pihak kasultanan

Swapraja : daerah bekas kerajaan yang memiliki

(16)

Tanah Lungguh : tanah jabatan sementara yang diberikan sebagai gaji seorang priyayi karena mereka memiliki jabatan dalam pemerintahan kerajaan pada waktu tertentu atau bangsawan karena ikatan kekeluargaan.

Tedakan : salinan atau turunan

Tepas Banjar Wilapa : Kantor yang mengurusi dokumentasi Keraton Yogyakarta, baik bahan pustaka, manuskrip hingga arsip

VOC : Vereenigde Oost Indische Compagnie

(17)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 ... 47

Gambar 2 ... 51

Gambar 3 ... 55

(18)

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN A Ringkasan Transkrip Narasumber ... 67

LAMPIRAN B Contoh Arsip Kekancingan dan Surat Permohonan Hak Magersari ... 69

LAMPIRAN C Dokumentasi Penelitian ... 73

LAMPIRAN D Lembar Konsultasi Skripsi... 76

LAMPIRAN E Peta ... 78

LAMPIRAN F Surat Ijin Penelitian ... 79

(19)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembahasan tentang pertanahan di Indonesia dinilai cukup sensitif, tetapi juga menarik. Indonesia sebagai negara kepulauan dengan dominasi wilayahnya yang diliputi laut, faktanya memiliki persoalan tanah yang terbilang rawan. Setiap tahun dapat ditemui beberapa kasus sengketa tanah, baik antar warga, warga dengan perusahaan, bahkan warga dengan negara. Sengketa tanah tersebut seringkali dilatar belakangi oleh tiadanya alat bukti dokumen yang sah di pihak masyarakat awam atau alat bukti dokumen ganda dengan objek tanah yang sama. Sumber sengketa yang berkaitan dengan dokumen, dapat dilihat dari kesadaran dan kepahaman dalam pengelolaan arsip pertanahan di lembaga pertanahan. Kesadaran dan kepahaman timbul dari pengetahuan tentang pentingnya arsip dan pengelolaannya.

Pada mulanya, arsip dipahami sebagai kumpulan naskah. Perkembangan teknologi informasi dan direvisinya undang-undang kearsipan, pengertian arsip mengalami perluasan. Dalam undang-undang nomor 43 tahun 2009 tentang kearsipan menegaskan:

(20)

Menurut undang-undang tersebut, arsip diartikan sebagai rekaman peristiwa dalam bentuk tekstual dan non-tekstual yang diciptakan oleh beberapa kelompok sosial, baik milik negara, daerah, swasta, perseorangan hingga swadaya masyarakat. Pengelolaan arsip pun mengalami perkembangan setelah ditemukannya teori Records Continuum Model yang membagi pengelolaan arsip dalam 4 tahap yang saling bersinggungan, yaitu penciptaan arsip, alih media atau konversi arsip (records capture), organisasi memori pribadi dan korporasi, serta pluralisasi memori kolektif. Namun pada kenyataannya, konsep Records Continuum Model ini belum banyak dipahami dan diaplikasikan secara utuh menyeluruh dalam pengelolaan arsip di Indonesia, utamanya arsip pertanahan. Hal ini mengakibatkan masih meluasnya sengketa tanah, utamanya di daerah-daerah.

(21)

Yogyakarta, dalam perjanjian Giyanti 1755 merupakan salah satu wilayah pecahan Kerajaan Mataram Islam. Pada masa sebelum reorganisasi tanah sekitar tahun 1918, tanah dibawah kuasa penuh sultan (raja). Hal ini didasarkan pada konsep kerajaan Jawa bahwa sultan (raja) adalah sumber satu-satunya dari segenap kekuatan dan kekuasaan, dan dialah pemilik segala sesuatu di dalam kerajaan, dan karena itu dia diidentikkan dengan kerajaan (Soemardjan, 1981: 28). Selo Soemardjan menggambarkan bentuk kewilayahan kerajaan Jawa dalam diagram lingkaran sebagai berikut:

Lingkaran 1 menunjukkan lingkungan keraton, mencakup istana kediaman sultan (raja) bersama keluarganya. Pada lingkungan ini juga terdapat kantor para pangeran dan bangsawan yang menjadi penyambung komunikasi Sultan dengan kalangan priyayi atau wong cilik (rakyat). Di lingkungan keraton berlaku pula

(22)

aturan-aturan sangat ketat masalah bahasa,pakaian,tatalaku dan protokol khusus. Lingkaran kedua disebut nagara atau ibukota yang didiami oleh kaum bangsawan, para pangeran, patih dan pejabat tinggi lainnya. Mereka bertanggung jawab atas berbagai hal di luar keraton. Lingkaran ketiga disebut wilayah

nagaragung atau nagara agung atau ibukota yang besar, yang dibagi dalam beberapa petak tanah dan penduduknya, dengan seorang pangeran atau priyayi tingkat tinggi yang diberi hak menarik pajak atas nama sultan (raja). Lingkaran keempat atau terluar disebut mancanagara. Sultan tidak memperkenankan para pangerannya memiliki tanah lungguh (tanah yang diberikan sultan kepada keluarga dan birokrat kerajaan) di wilayah mancanagara. Bahkan sultan pribadi yang kemudian menunjuk para bupati untuk memerintah di wilayah mancanagara, dibawah pengawasan dan bimbingan patih. Paska perjanjian yang ditandatangani pada tahun 1831 antara sultan dengan Belanda usai perang Diponegoro, pihak keraton kehilangan seluruh wilayah mancanagara – nya.

(23)

dan Belanda sepakat untuk memberikan perlindungan hukum kepada penduduk pedesaan yang berlaku pada tahun 1918, atau masa landreform.

Paska reorganisasi 1918 yang juga ditandai dengan pembentukan desa/kelurahan sebagai badan hukum, diberikan pula hak andarbe atau hak milik atas tanah dalam wilayahnya, kecuali tanah-tanah yang dibawah kendali langsung kerajaan (Departemen Kehakiman, 1977: 296). Namun hak rakyat secara individu atas tanah masih berupa hak anggadhuh atau hak pakai, meski secara turun-temurun atau dapat diwariskan. Pada masa ini, tanah lungguh dihapuskan, dan berdasarkan RK (Rijksblaad Kasultanan) nomor 16/1918 pasal 4 jo pasal 7 dan RPA (Rijksblaad Pakualaman) nomor 18/1918 bahwa tanah-tanah yang kemudian diserahkan kepemilikannya kepada desa diperuntukkan sebagai :

1. Tanah bengkok (gaji) bagi pejabat-pejabat desa yang masih aktif;

2. Tanah pangarem-arem (pensiun) bagi pejabat-pejabat desa yang telah berhenti dengan hak mendapat pensiun;

3. Tanah kas desa (kekayaan desa) untuk membiayai administrasi dan pembangunan desa) (Departemen Kehakiman, 1977: 297).

Kondisi pertanahan tersebut berlangsung hingga dikeluarkannya Peraturan Daerah Istimewa Yogyakarta bidang agraria yang mengubah hak rakyat atas tanah dari hak anggadhuh atau hak pakai turun temurun menjadi hak andarbe atau hak milik turun-temurun dalam ikatan desa. Dengan demikian, penggunaan tanah di desa berdasarkan PDIY nomor 5 tahun 1954 pasal 6 ayat 3 yaitu:

1. Lungguh; 2. Pangarem-arem; 3. Kas desa

4. Kepentingan umum.

(24)

(keraton). Prawiroatmodjo dalam “Bausastra Jawa-Indonesia” mengartikan magersari sebagai orang yang menumpang di halaman para bangsawan atau orang lain (Prawiroatmodjo, 1957 : 322). Hal ini mengindikasikan bahwa magersari bukanlah status tanah, namun status penghuni atau penggarap tanah yang merupakan bagian dari sultan ground. Pernyataan bahwa magersari merupakan bagian dari sultan ground dijelaskan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X dalam pengantar “Naskah Sumber Arsip seri 3: Ngindung di Tanah Kraton Yogyakarta” terbitan Kantor Arsip Daerah Yogyakarta, bahwa hak magersari diberikan kepada penghuni sultan ground karena adanya ikatan historis, diperuntukkan bagi WNI asli dengan jangka waktu selama mereka menghuni, juga berkaitan dengan prestasi kepada keraton (Kantor Arsip Daerah Yogyakarta, 2010 : xiii). Setelah pemberlakuan Undang-Undang Pertanahan dan Agraria nomor 5 tahun 1960, terjadi dualisme hukum pertanahan di wilayah Yogyakarta, khususnya terkait dengan pengelolaan sultan ground yang di dalamnya terdapat penghuni berstatus hak magersari. Kondisi tersebut juga berdampak dalam pendokumentasian kepemilikan tanah. Pada umumnya, pendokumentasian hak atas tanah hanya berupa sertifikat atau akta tanah yang dikeluarkan oleh Badan Pertanahan Nasional. Sementara itu, dalam pengelolaan tanah keraton, arsip yang mendapat prioritas pertama adalah kepemilikan serat kekancingan, selain juga pengesahan dari Kantor Pertanahan Kota Yogyakarta.

(25)

mengajukan permohonan. Menurut undang-undang nomor 43 tahun 2009 tentang kearsipan disebutkan bahwa arsip vital adalah arsip yang keberadaannya merupakan persyaratan dasar bagi kelangsungan operasional pencipta arsip, tidak dapat diperbarui, dan tidak tergantikan apabila rusak atau hilang. Penekanan pengelolaan arsip vital terdapat pada metode perlindungan dan penyusutan, sedangkan pada tahap penciptaan hingga pendistribusian termasuk dalam rangkaian pengelolaan arsip dinamis.

1.2 Rumusan dan Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis akan mengambil permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimana sejarah kemunculan arsip serat kekancingan?

2. Bagaimana pengelolaan arsip serat kekancingan paska pemberlakuan undang-undang pertanahan dan agraria (UUPA) nomor 5 tahun 1960? 3. Bagaimana pengaruh arsip serat kekacingan dalam pengaturan hak atas

tanah keraton yang berupa tanah dengan penghuni berstatus magersari?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini yaitu:

1. Mengetahui dan memahami sejarah arsip serat kekancingan sebagai bukti legal pemegang hak magersari atas tanah keraton;

(26)

3.

Mengetahui dan memahami pengaruh yang ditimbulkan dari pengelolaan arsip serat kekancingan terhadap pengaturan hak tanah magersari di Kota Yogyakarta sebelum dan setelah pemberlakuan Undang-Undang Pertanahan dan Agraria (UUPA) 1960.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1

Manfaat Teoritis

Secara teoritis, penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu kearsipan dan sejarah lokal. Selain itu, penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai referensi bagi penelitian selanjutnya.

1.4.2 Manfaat Praktis 1.4.2.1Bagi Peneliti

(27)

1.4.2.2 Bagi Objek Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi Kota Yogyakarta, Arsip Keraton Yogyakarta, Kawedanan Ageng Panitikismo serta Badan Pertanahan Nasional Provinsi DI Yogyakarta dalam pengembangan dan pemahaman kearsipan, sekaligus sebagai bahan evaluasi dalam perencanaan pengelolaan arsip serat kekancingan.

1.4.2.3 Bagi Pihak Lain

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan pengetahuan seputar penerapan ilmu kearsipan dalam menjawab persoalan bidang pertanahan, khususnya tanah Magersari di Yogyakarta. Selain itu, juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan rujukan kajian oleh pihak-pihak yang membutuhkan, terutama bidang kearsipan, pertanahan dan hukum.

1.5 Tempat dan Waktu Penelitian

(28)

menjadikan Kota Yogyakarta memiliki tingkat hunian dan kebutuhan lahan yang cukup tinggi.

(29)
(30)

watak, kepercayaan atau perbuatan seseorang. Sedangkan dalam Oxford Learner’s Pocket Dictionary, istilah pengaruh diartikan sebagai :

1. Effect : change that somebody/something causes in somebody/something else;start to produce the results that are intended; come into use; (Oxford University Press, 2008 : 143)

2. Impact : strong effect that something has on somebody/something;

(Oxford University Press, 2008 : 220)

3. Influence : effect that somebody/something has on the way somebody thinks or behaves or on the way something develops; power to produce an effect on somebody/something; somebody or something that affects the way people behave or think; have an effect on somebody/something.

(Oxford University Press, 2008 : 228)

Jika melihat pada konteks sosiologi Yogyakarta, maka pengaruh dalam penelitian ini lebih tepat diartikan sebagai sebuah impact. Meski pengaruh ini membawa sebab-akibat seperti diartikan dalam istilah effect, Soerjono Soekanto dalam “Kamus Sosiologi” menegaskan bahwa efek adalah :

1. Kekuasaan tanpa kekerasan atau paksaan 2. Penerapan kekuasaan

3. Kekuasaan yang menyangkut persuasi. (Soekanto, 1983 : 152)

(31)

keraton, keberadaan arsip serat kekancingan akan lebih memudahkan dalam pengelolaan aset tanah keraton, utamanya yang menempati berstatus magersari.

Kekancingan atau layang kekancingan dalam “Bausastra Jawa-Indonesia diartikan sebagai piagam, surat keputusan atau ketetapan (Prawiroatmodjo, 1957: 205). Ada tiga pendapat utama yang tersebar di masyarakat Yogyakarta perihal pemahaman serat kekancingan. Meski tidak dideskripsikan lebih detail dalam literatur akademik, ada tiga pendapat utama yang tersebar di masyarakat perihal pengertian dan pemahaman serat kekancingan, yaitu:

1. Serat kekancingan yang dimaknai sebagai surat keterangan silsilah keturunan raja atau sultan (http://cakrakrisna.wordpress.com/, diakses: Kedungpatangewu, 31 Januari 2013);

2. Serat kekancingan yang dimaknai sebagai surat keterangan hak sewa tanah Magersari (http://www.antaranews.com/, diakses: Kedungpatangewu, 31 Januari 2013);

3. Serat kekancingan sebagai surat keputusan pelantikan atau pengukuhan abdi dalem keraton (http://www.solopos.com/, diakses: Kedungpatangewu, 31 Januari 2013).

Arsip serat kekancingan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah suatu surat keterangan tentang hak sewa tanah Magersari. Pengelolaan arsip serat kekancingan dibatasi pada pengelolaan di pihak Arsip Keraton Yogyakarta dan warga Kota Yogyakarta yang berstatus Magersari sebagai perbandingan.

(32)

penambahan, magersari diartikan sebagai orang yang rumahnya menumpang di pekarangan orang lain, dapat pula diartikan orang yang mendiami tanah milik negara dan sekaligus mengerjakan tanah tersebut (Sudarsono, 2007 : 256). Konteks negara yang disebutkan dalam pengertian diatas dipahami sebagai nagari ngayogyakarta dengan hak milik tanah berada di sultan (raja).

(33)

15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Salah satu bidang yang menjadi perhatian utama menyangkut keistimewaan Yogyakarta yaitu bidang pertanahan. Hal ini mengingat karakter daerah Yogyakarta sebagai bekas daerah swapraja yang memiliki hak mengelola pemerintahan sendiri, termasuk pengelolaan pertanahan sebagai salah satu unsur keberadaan sebuah pemerintahan. Menurut perkembangan zaman, berkembang pula literatur-literatur yang membahas tentang Yogyakarta, baik secara sosial masyarakat hingga hukum, terutama hukum pertanahannya. Namun dalam hal kearsipan di lingkungan kerajaan (keraton) belum ada literatur yang menelaah. Fokus dokumen keraton lebih dilihat pada cabang ilmu tentang manuskrip, baik berupa babad, kitab dan lain sebagainya. Meski termasuk dalam jenis arsip vital, pengelolaan arsip serat kekancingan pun belum memenuhi standar pengamanan seperti yang direkomendasikan oleh beberapa literatur kearsipan. Oleh karena itu, penulis mengacu pada dua buku yang membahas program arsip vital dengan sederhana agar mudah dipahami.

(34)

prioritas kedua yang dibahas oleh Boedi Martono. Program arsip vital difokuskan pada pembahasan tentang pengamanan dan pemeliharaan, baik fisik maupunin formasi yang terekam dalam arsip vital. Teori daur hidup arsip yang digunakan Boedi Martono dalam setiap pembahasan memang telah banyak ditinggalkan sebagian besar organisasi dan praktisi kearsipan. Namun jika melihat kembali pada kondisi system kearsipan keraton, maka pembahasan dalam buku ini masih relevan. Sayangnya, pembahasan seputar arsip vital yang hanya terfokus pada masalah pengamanan dan pemeliharaan, meninggalkan satu point penting dalam program arsip vital yang diamanatkan undang-undang nomor 43 tahun 2009, yaitu identifikasi, perlindungan dan pengamanan, dan penyelamatan danp emulihan. Meski demikian, diperlukan adanya analisis lebih fokus dan disesuaikan dengan kondisi kearsipan keraton. Hal ini karena William Saffady lebih memfokuskan pada manajemen kearsipan yang ada di lingkungan perusahaan.

(35)

beberapa kegiatan yang tercakup dalam program arsip vital, diantaranya

establishing the vital records program, identifying vital records, risk analysis, dan

risk control.

(36)
(37)

19

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Desain dan Jenis Penelitian

Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif, yaitu penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami subjek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain, secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah (Moelong, 2013: 6). Oleh karena keberagaman jenis dari desain penelitian kualitatif, penulis mengambil jenis penelitian studi kasus, yaitu dengan mengambil permasalahan keterkaitan antara pengelolaan arsip serat kekancingan

dengan pengaturan hak sewa tanah di lingkungan tanah magersari. Penelitian studi kasus merupakan istilah lain dari penelitian fenomenologis, yaitu peneliti berusaha memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang yang berada dalam situasi-situasi tertentu.

3.2 Objek dan Subjek Penelitian

Dalam penelitian ini, penulis mengambil subjek penelitian pengelola arsip

(38)

3.3 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Kota Yogyakarta yang merupakan ibukota dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain itu, dilakukan di Perpustakaan Keraton Yogyakarta “Widya Budaya” sebagai pengelola arsip serat kekancingan. Untuk mengetahui lebih jelas tentang pengaturan hak tanah Magersari, penelitian juga dilakukan di Dinas Pertanahan Kota Yogyakarta dan Kawedanan Hageng Sarta Kriya bagian Tepas Paniti Kismo sebagai penentu kebijakan penggunaan tanah. Penelitian dilakukan pada bulan April hingga Juli 2013 karena pada masa ini pemerintah Yogyakarta tengah bergiat untuk pendataan tanah di wilayahnya, terutama tanah milik keraton.

3.4 Pengumpulan Data

(39)

primer berupa catatan lapangan tentang pengelolaan arsip serat kekancingan di Tepas Paniti Kismo dan Perpustakaan Widya Budaya.

Metode wawancara dengan teknik pertanyaan mendalam dilakukan dengan terlebih dahulu menentukan tema wawancara dan kriteria narasumber yang akan diwawancara. Maksud dari teknik pertanyaan mendalam antara lain untuk keperluan:

1. Klarifikasi jika pewawancara memerlukan lagi informasi tentang hal yang dipersoalkan sebelumnya;

2. Kesadaran kritis jika responden ditanyakan untuk memutuskan atau lebih kritis lagi, menanggapi sesuatu, menilai, atau memberikan contoh tentang sesuatu;

3. Penjelasan jika pewawancara memerlukan informasi mengenai berbagai aspek atau dimensi dari suatu pertanyaan;

4. Refokus jika responden ditanyai untuk mengaitkan, membandingkan, atau mempertentangkan jawabannya dengan topic atau ide, atau jika ditanyai untuk memikirkan alternative pemecahan atau hubungan sebab-akibat; 5. Informasi tentang intensitas perasaan responden. (Moelong, 2013 :

195-196)

(40)

Metode analisis dokumen digunakan untuk menguji, menafsirkan, bahkan untuk meramalkan. Dokumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah arsip serat kekancingan milik warga Patehan, Kecamatan Keraton, Kota Yogyakarta tahun 1970an. Dokumen berupa arsip kekancingan termasuk dalam dokumen resmi yang dapat menyajikan informasi tentang keadaan, aturan, disiplin, dan dapat memberikan petunjuk tentang gaya kepemimpinan. Dokumen arsip

kekancingan dalam penelitian ini digunakan sebagai sebuah bentuk pengujian terhadap pengelolaan fisik yang kemudian berpengaruh pada pengaturan hak magersari atas tanah Keraton Yogyakarta.

Selain ketiga metode tersebut, untuk lebih memperkaya pembahasan hasil penelitian, digunakan beberapa data sekunder yang bersumber dari studi pustaka, literatur terbitan berkala serta rujukan akademik berupa thesis magister.

3.5 Pengolahan dan Analisis Data 3.5.1 Pengolahan Data

Pengolahan data yang dilakukan dalam penelitian ini menempuh beberapa langkah, yaitu :

1. Penelaahan data dari berbagai sumber, yaitu dari data primer dan sekunder yang digunakan dalam penelitian;

2. Reduksi data, yaitu membuat rangkuman inti, proses dan pernyataan-pernyataan yang sesuai dengan fokus penelitian;

(41)

4. Penafsiran data melalui pembahasan hasil penelitian. (Moelong, 2013: 247).

3.5.2 Analisis Data

Untuk menajamkan analisis, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan

oral history atau sejarah lisan yaitu usaha merekam kenangan yang dapat disampaikan oleh pembicara sebagai pengetahuan tangan pertama, melalui wawancara terencana (Baum, 1982 : 1). Teknik yang digunakan dalam pendekatan oral history adalah wawancara topical narrative, yaitu pewawancara mengarahkan narasumber pada topik yang sudah ditentukan, dalam kaitannya dengan penelitian ini adalah tanah magersari. Adapun kriteria narasumber yang digunakan, yaitu:

1.Narasumber memahami konsep pertanahan di Yogyakarta;

2.Narasumber pernah berada dalam lingkungan internal Keraton Yogyakarta (sebagai abdi dalem);

3.Narasumber pernah mengalami sejumlah transaksi pertanahan, baik berupa hibah sultan, sewa tanah, perpindahan hak, maupun jual beli tanah.

(42)

narasumber terpilih dapat ditranskrip untuk memudahkan pembuatan indeks rekaman. Indeks dibuat berdasarkan nama pengkisah, wilayah geografi yang diperbincangkan serta berdasarkan subjek-subjek utama yang diliput dalam wawancara (Baum, 1982 : 41). Perlu ditekankan bahwa metode oral history

(43)

25

BAB IV

GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN

4.1 Sejarah Pemerintahan Kasultanan Yogyakarta

(44)

Ketika Inggris tiba dan menguasai Nusantara, terjadi perpecahan di dalam Kasultanan Yogyakarta. Selo Soemardjan menjelaskan bahwa perpecahan timbul karena keberpihakan salah satu putra Sri Sultan Hamengku Buwono I yang juga saudara Sri Sultan Hamengku Buwono II, kepada Inggris sehingga Gubernur Raffles memberikan sebagian kecil daerah Yogyakarta kepadanya. Inggris mengakui pangeran tersebut terlepas dari sultan dan memberi gelar Pakualam (Soemardjan, 1981: 21). Dengan demikian, Kasultanan Yogyakarta terpecah menjadi kasultanan dan Kadipaten Pakualaman. Pengaruh politik Belanda semakin besar setelah berkuasa kembali pada tahun 1816. Hubungan politik dengan Kasultanan Yogyakarta selalu diatur dalam perjanjian politik yang harus diperbaharui setiap kali seorang Putra Mahkota akan bertahta. Dalam Takhta Untuk Rakyat: Celah-Celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX dijelaskan bahwa setiap kali dibuat kontrak atau perjanjian politik, Belanda selalu mencari kesempatan untuk memperbesar dan memperluas kekuasaan karena lemahnya sikap sultan yang tidak menguasai bahasa dan alam pikiran penjajah (Atmakusumah (ed.), 2011: 30).

4.1.1 Masa Pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono IX

(45)

dengan GRM Dorodjatun (Sultan ke IX). Berbekal pendidikan Barat yang pernah dienyam, GRM Dorodjatun berhasil menghentikan tindakan licik yang selalu dilakukan Belanda dengan menjadikan sultan sebagai boneka. Sebuah pernyataan menarik yang menyiratkan sikap demokratik Sultan ke IX terlihat pada saat upacara penobatan : walaupun saya telah mengenyam pendidikan Barat yang sebenarnya, tetapi pertama-tama saya adalah dan tetap adalah orang Jawa

(Atmakusumah (ed), 2011 : 47).

(46)

meyakinkan pemerintah pendudukan bahwa Yogyakarta adalah daerah minus (tidak subur).

Jelang akhir pendudukan Jepang, Sultan ke IX memberikan otonomi di tingkat kabupaten seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada masa ini juga dikenal adanya kelompok wakil panewu untuk membantu para panewu dalam pekerjaannya dan menggantikan mereka pada waktunya. Sri Sultan juga menghapuskan kawedanan sebagai suatu satuan pemerintahan dan menempatkan wedana beserta stafnya di kantor kabupaten. Pada tahun 1944, juga dibentuk Panitia Pembantu Pamong Praja (PPPP) untuk membantu panewu di setiap kapanewon, tetapi panitia ini tidak mampu memberikan pengaruh sebab para panewu maupun anggota panitia tidak mengetahui cara pelaksanaan tugas sehari-hari, bahkan tak pernah menerima latihan formal atau instruksi.

Setelah proklamasi kemerdekaan dikumandangkan, Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualam menyatu dalam bingkai Daerah Istimewa Yogyakarta dan diresmikan oleh pemerintah pusat melalui Undang-Undang Nomor 3 tahun 1952, yang sekaligus pengakuan sebagai daerah istimewa yang otonom dengan kedudukan setingkat provinsi (Soemardjan, 1981: 59).

(47)

yang memunculkan partai-partai sebagai organisasi yang sempat dilarang pada masa pendudukan Jepang, sesuai dekrit yang dikeluarkan oleh wakil presiden pada tanggal 3 November 1945. Dewan eksekutif memiliki lima anggota di bawah pimpinan kepala daerah dan bertanggung jawab kepada dewan legislatif.

Menurut Selo Soemardjan, dekrit yang membidani lahirnya dewan perwakilan tidak dimaksudkan untuk melimpahkan lebih banyak kekuasaan dari pemerintah daerah ke masing-masing kabupaten, namun memberikan kesempatan untuk membicarakan masalah-masalah pemerintahan dan keputusan yang dibuat tidak memiliki kekuatan hukum (Soemardjan, 1981: 64-65). Lebih lanjut dijelaskan bahwa dewan pada tingkat kabupaten memiliki pengaruh menstabilkan psiko-sosial dalam kekacauan sosial. Dewan sebagai penyalur suara rakyat dan sebagai peredam tekanan-tekanan politik dan psikologis sebagai akibat rezim Belanda dan Jepang.

Dalam kaitannya dengan pengelolaan tanah, perlu diperhatikan juga perubahan yang terjadi di tingkat pemerintahan desa. Pada dasarnya, dalam pemerintahan desa di masa akhir penjajahan Belanda terdapat suatu bentuk demokrasi produk lokal dari struktur pemerintahan desa yang tidak diadopsi dari demokrasi barat. Perkembangan pedesaan di Yogyakarta berawal dari kelompok

(48)

Paska kemerdekaan, tepatnya bulan April 1946 dikeluarkan serangkaian dekrit yang menhapuskan dewan desa yang terdiri atas pemilik tanah dengan penerapan yang menyesuaikan dengan kondisi masyarakat desa. Selain perubahan struktur pemerintahan, juga diadakan perubahan soal luas desa dan sumber-sumber keuangan. Sumber terbesar kas desa adalah tanah yang diberikan sebagai

“lungguh” kepada para anggota dewan desa dan sisanya yang disewakan kepada petani warga desa dengan pembayaran in natura atau uang tunai (Soemardjan, 1981: 81).

4.1.2 Masa Pemerintahan Sultan HamengkuBuwono X

Jika Sultan ke IX dikenal dengan sebagian besar kebijakannya yang pro-rakyat hingga disebut sebagai takhta untuk pro-rakyat, maka berbeda situasinya dengan Sultan ke X. Pada masa pemerintahan Sultan ke X, terjadi deretan peristiwa yang mengguncang stabilitas keamanan masyarakat, khususnya di Yogyakarta. Tahun 1998, ketika reformasi bergulir, sebagian besar kota besar di Indonesia terbakar, terjadi kerusuhan massa, namun tidak demikian di Yogyakarta. Oleh karena kedekatan Sultan ke X dengan massa, terutama mahasiswa, kerusuhan massa dapat diredam. Bahkan keraton Yogyakarta menjadi tempat berorasi mahasiswa. Peran Sultan ke X dalam mendukung gerakan reformasi dan menumbangkan orde baru menyebabkan ia disebut takhta untuk reformasi.

(49)

menyamakan situasinya dengan daerah-daerah lain. Dilansir dari media massa menyebutkan bahwa rakyat Yogyakarta merasa keistimewaan daerah itu terletak pada mekanisme penetapan Sultan dan penggantinya secara otomatis sebagai gubernur DIY. Selain rakyat Yogyakarta, pihak keraton melalui kerabat sultan, Gusti Bendoro Pangeran Haryo Prabukusumo adik Sri Sultan Hamengkubuwono X mengundurkan diri secara resmi dari jabatan Ketua DPD Yogyakarta dan Partai Demokrat sebagai bentuk protes kepada pemerintah pusat (http://www.antaranews.com/, dl: Semarang, 28 Desember 2012). Menurut Selo Soemardjan jika keistimewaan Yogyakarta hendak dihapuskan, maka perlu peninjauan dari berbagai aspek, yaitu:

1. Segi hukum, selama Undang-Undang Nomor 5 tahun 1950 masih berlaku maka tindakan penghapusan keistimewaan Yogyakarta merupakan tindakan melawan hukum.

2. Segi politis, arus reformasi adalah sejalan dengan politik desentralisasi yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 5 tahun 1950, sehingga jika keistimewaan Yogyakarta dihapus, maka dapat dinilai sebagai antireformasi.

3. Segi sosial budaya, kebanggaan masyarakat Yogyakarta yang telah ikut serta membentuk negara kesatuan Republik Indonesia, sebagai pusat kebudayaan Jawa dan melahirkan sistem pendidikan nasional (Taman Siswa) yang kemudian menyebar ke seluruh Indonesia. (Nusantara, 1999: 55-57).

(50)

keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam penjelasan undang-undang nomor 13 tahun 2012, tujuan dari pengaturan keistimewaan Yogyakarta adalah :

untuk mewujudkan tata pemerintahan yang baik dan demokratis, ketenteraman dan kesejahteraan masyarakat, menjamin ke-bhinneka-tunggal-ika-an, dan melembagakan peran dan tanggung jawab Kasultanan dan Kadipaten dalam menjaga dan mengembangkan budaya Yogyakarta yang merupakan warisan budaya bangsa. (Pemerintah Kota Yogyakarta, 2013: 38). Lima hal keistimewaan yang diatur dalam undang-undang tersebut, yaitu tata cara pengisian jabatan, kedudukan, tugas, dan wewenang Gubernur dan Wakil Gubernur, kelembagaan Pemerintah Daerah DIY, kebudayaan, pertanahan, dan tata ruang.

4.2 Sejarah Pertanahan di Yogyakarta

4.2.1 Periode Sebelum Pemberlakuan Undang-Undang Pertanahan dan Agraria (UUPA) 1960 di Kota Yogyakarta

(51)

1. Tinggi rendahnya posisi dalam struktur birokrasi kerajaan; 2. Jauh dekatnya hubungan darah dengan raja;

3. Faktor subjektivitas raja. (Widiyastuti, 1999: 118-119)

Para kerabat dan elite birokrat tidak diperbolehkan bertempat tinggal di tanah lungguh sehingga mereka hanya menerima laporan hasil pengolahan tanahnya dari para lurah atau bekel. Oleh karena itu, mereka tidak mengetahui kondisi sesungguhnya rakyat yang bertempat tinggal di daerah tanah lungguhnya tersebut (Widiyastuti, 1999: 120). Aspek legalitas tanah lungguh baru diformalkan melalui kesepakatan pemakaian Kitab Angger-Angger sebagai sumber hukum di Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Sebelum reorganisasi tanah 1917, posisi rakyat biasa hanya sebagai penggarap tanah lungguh. Selain itu, rakyat juga dibebani pajak sebesar 1/3 dari hasil tanah yang digarap (Setiawati, 2000: 67).

Pada masa reorganisasi agraria, raja (sultan) memberikan hak milik (andarbe) kepada kelurahan yang ada di wilayah keraton. Hal ini seiring dengan dibentuknya sistem kelurahan dan dihapuskannya sistem kebekelan. Hak andarbe

dianggap sah apabila telah dicatat dalam daftar pencatatan tanah (buku mengeti siti) yang diselenggarakan di kantor pendaftaran tanah. Dengan demikian, kelurahan memiliki wewenang dan kuasa untuk mengatur penggunaan tanah yang menjadi wewenang dan kekuasaannya seperti menyewakan, memindahkan untuk digunakan turun-temurun, memindahkan sementara hak atas tanah. Namun perlu diperhatikan bahwa tanah-tanah yang diberikan kepada kelurahan dengan hak

(52)

Selain itu, latar belakang munculnya reorganisasi agraria adalah untuk memudahkan penanaman investasi asing di tanah Hindia-Belanda. Maka, tindakan yang dilakukan pemerintah kolonial dalam reorganisasi antara lain penghapusan sistem tanah lungguh (apanage), pembentukan kelurahan sebagai unit administrasi, pemberian hak-hak penggunaan tanah yang jelas kepada penduduk dan penerbitan peraturan sistem sewa tanah, pengurangan kerja wajib penduduk serta perbaikan aturan pemindahan hak atas tanah. (Setiawati, 2000: 108). Meski telah diadakan reorganisasi dan hak penduduk atas tanah meningkat menjadi hak milik, namun sultan dapat saja mencabut hak tersebut dengan atau tanpa memperdulikan peraturan-peraturan yang ada.

Pemberian tanah sebagai hak waris harus didaftarkan di kelurahan sesuai dengan rijksblaad kesultanan. Selain itu, penduduk yang akan menyewa tanah untuk didirikan bangunan atau diolah diberikan jangka waktu sewa 20 tahun. Tanah yang akan digadaikan pun haruslah mendapat izin dari kelurahan dengan melalui perjanjian antara kedua belah pihak yang disaksikan aparat kelurahan.

4.2.2 Periode Setelah Pemberlakuan Undang-Undang Pertanahan dan Agraria (UUPA) 1960 di Kota Yogyakarta

(53)

kewajiban-kewajibannya mencapai sebesar-besar kemakmuran rakyat (Sihombing, 2004 : 64). Yogyakarta yang merupakan bekas tanah swapraja, tentu memiliki hukum adat yang masih berlaku hingga saat ini. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu bentuk keistimewaan hukum pertanahan di Yogyakarta.

Pemberlakuan UUPA pada 24 September 1960, menyebabkan hak-hak dan wewenang atas tanah dari daerah swapraja atau bekas swapraja dihapus dan dialihkan kepada negara. Namun dalam praktiknya, khusus untuk wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, diperlukan perlakuan tersendiri mengingat masih adanya peraturan-peraturan khusus tentang pertanahan. Oleh karena itu, DIY belum dapat sepenuhnya memberlakukan UUPA.

(54)

0.0000

500.0000

1000.0000

1500.0000

2000.0000

2500.0000

2008 2009 2010 2011 2012

Grafik Penggunaan Tanah (Ha)

Perumahan

Jasa

Perusahaan

Industri

(55)

37 magersari atas tanah keraton tidak secara spesifik disebutkan. Ada sebagian pihak yang menyebutkan bahwa serat kekancingan perolehan hak pertanahan digunakan pada masa penjajahan Belanda. Logika dari pendapat tersebut karena sebelum bangsa Barat masuk ke Nusantara, sistem administrasi pertanahan belum dikenal. Sementara itu, hukum yang melekat pada bidang pertanahan masih bersifat tradisional dan tidak tertulis, atau dengan kata lain menggunakan hukum adat. Meski tidak secara spesifik disebutkan serat kekancingan, dalam suatu perjanjian yang dilakukan antara Kasultanan Yogyakarta dengan Kasunanan Surakarta di Semarang pada tahun 1774, disebutkan adanya peran surat perjanjian dalam bidang pertanahan.

(56)

Jika ada abdi raja tinggi atau rendah, mempersembahkan (meminjamkan) tanah desa miliknya kepada orang Belanda atau Cina seperti halnya orang kulit putih, atau antara sesame orang Jawa, lebih baik membuat janji yang jelas, tegas, apapun janji tersebut dimuat dalam surat perjanjian. Apabila ada persoalan sehingga mencapai penguasa yang akan memutuskannya, apapun isi dari surat perjanjian tersebut, barang siapa yang tidak mematuhi seperti apa yang tertera akan dikenai denda sesuai dengan keputusan penguasa. (Juwono, 2011: 466).

Meski dalam perjanjian tersebut menyebutkan peran dokumen tertulis dalam pertanahan, namun pemberian hak magersari dari sultan tidak ditegaskan secara hukum tertulis. Hal ini mengacu pada pandangan bahwa semua tanah adalah milik raja dan sudah dipahami betul oleh rakyat secara turun-temurun. Ada indikasi bahwa pemakaian dokumen serat kekancingan bagi pemegang hak magersari mulai diberlakukan setelah adanya landreform 1918. Pada masa landreform, desa yang sudah menjadi badan hukum, diwajibkan untuk mencatat tanah-tanahnya. Pencatatan tanah ini kembali dipertegas setelah diberlakukannya Undang-Undang Pertanahan dan Agraria (UUPA) 1960 meskipun secara kekuatan hukum nasional, keberadaan serat kekancingan hanya sebatas pemberian izin formal kepada pihak keraton. Pun sebelum diberlakukannya Undang-Undang Keistimewaan Nomor 13 tahun 2012, status hukum Keraton Yogyakarta belum ditetapkan secara pasti sehingga semakin memperlemah kedudukan serat kekancingan.

(57)

5.2 Profil Pencipta Arsip di Keraton Kasultanan Yogyakarta

Pemahaman bahwa arsip hanya tercipta di lingkungan birokrasi modern perlu diperbaiki. Keraton Yogyakarta, meskipun memiliki sistem birokrasi yang berbeda, dalam setiap aktivitasnya pun menghasilkan arsip. Dalam sejarahnya, sistem pemerintahan Keraton Yogyakarta mengalami dinamika perubahan yang signifikan. Dinamika perubahan struktur pemerintahan berdampak pada keragaman jenis arsip yang tercipta. Dalam berbagai penelitian pernaskahan keraton, arsip keraton kerap diabaikan. Secara tersirat, persoalan ini juga ditegaskan oleh pengelola arsip keraton di Tepas Banjarwilapa. Meski akumulasinya terus meningkat, namun perhatian akademisi masih banyak di bidang manuskrip. Pada akhirnya, keraton selalu identik dengan naskah manuskrip.

(58)

Istilah tepas merujuk pada pengertian kantor, sedangkan kawedanan diartikan sebagai wilayah kerja. Kawedanan dan tepas masing-masing dipimpin oleh keluarga kasultanan, baik adik-adik sultan maupun putra-putri sultan. Adapun bentuk kawedanan dan tepas yang berada di bawah kepemimpinan Sultan Hamengku Buwono X yaitu (Maskunah, 2013 : 21-23) :

1. Kawedanan hageng parentah jaksa, menangani masalah pengadilan darah dalem (pengadilan untuk keluarga keraton);

2. Kawedanan hageng parentah sriwandono, menangani bidang kesekretariatan kesultanan;

3. Kawedanan hageng parentah widya budaya, menangani masalah keilmuan, menyediakan fasilitas perpustakaan dan pengelolaan arsip keraton, dan mempersiapkan upacara-upacara adat;

KHP Parwa Budaya KHP Nitya Budaya

(59)

4. Kawedanan hageng parentah purorakso, menangani masalah keamanan di dalam dan di luar keraton sehingga tercipta kenyamanan dan ketertiban masyarakat;

5. Kawedanan hageng parentah purokaryo, menangani pemasukan dan pengeluaran rumah tangga keraton;

6. Kawedanan hageng parentah kridomardowo, mengatur kegiatan pelestarian dan pengembangan kesenian, yaitu di bidang tari, wayang dan gamelan jawa;

7. Kawedanan hageng parentah sarto kriyo, mengatur masalah kendaraan dan bangunan Keraton Yogyakarta, termasuk di dalamnya tanah keraton;

8. Kawedanan hageng parentah pangulon, mengatur segala macam permasalahan keagamaan, penyelenggaraan pengajian dan upacara keagamaan di kawasan keraton dan sekitarnya;

9. Kawedanan hageng parentah punokawan, terkait penugasan dan kesejahteraan pegawai keraton.

Serat kekancingan diterbitkan oleh Keraton Yogyakarta melalui Tepas Paniti Kismo. Bagi warga pemegang hak magersari dapat meneruskan haknya kepada pihak lain di luar keturunan (lintir) maupun kepada keturunannya (liyer). Untuk dapat meneruskan hak magersari, pihak yang telah ditunjuk sebagai lintir atau

liyer harus mengkonfirmasikan kepada pihak Paniti Kismo dengan membawa

(60)

kekancingan tidak hanya di Tepas Paniti Kismo maupun arsip keraton (setelah memasuki masa statis), tetapi juga disimpan oleh masing-masing pemegang hak magersari.

5.2 Pengelolaan Arsip Serat Kekancingan

Program arsip vital termasuk dalam ruang lingkup manajemen arsip dinamis. Hal ini disebutkan dalam undang-undang nomor 49 tahun 2009 pasal 9, yaitu:

Pengelolaan arsip dinamis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: 1. Arsip vital,

2. Arsip aktif,dan

3. Arsip inaktif.

Pengelolaan arsip dinamis merupakan proses pengendalian arsip dinamis secara efisien, efektif dan sistematis meliputi penciptaan, penggunaan dan pemeliharaan, serta penyusutan arsip (ANRI, 2010 : 7). Prinsip utama dari pengelolaan arsip dinamis yaitu agar mudah ditemukan kembali saat arsip dibutuhkan, selain juga perlindungan terhadap isi informasi dan fisik terutama pada arsip vital. Dalam tahap penciptaan dan tahap penggunaan, arsip vital memiliki alur yang tidak banyak berbeda dengan alur pada arsip aktif pada umumnya. Namun, hal yang perlu diperhatikan adalah tahap perlindungan dan pemeliharaannya.

5.2.1 Tahap Penciptaan

(61)

pelaporan, sistem informasi manajemen dan direktif manajemen (Martono, 1994 : 19). Dalam birokrasi manajemen, keempat elemen pertama penciptaan arsip tersebut dirangkum dalam tata naskah dinas dan didokumentasikan dalam bentuk pedoman tata naskah dinas. Adapun manfaat adanya pedoman tata naskah dinas, yaitu:

1. Tercapainya kesamaan pengertian, bahasa dan penafsiran penyelenggaraan tata naskah dinas seluruh instansi pemerintah pusat dan daerah;

2. Terwujudnya keterpaduan pengelolaan tata naskah dinas dengan unsur lainnya dalam lingkup administrasi umum;

3. Lancarnya komunikasi tulis kedinasan serta kemudahan dalam pengendalian;

4. Tercapainya dayaguna dan hasilguna penyelenggaraan tata naskah dinas yang efisien dan efektif;

5. Berkurangnya tumpang-tindih, salah tafsir dan pemborosan penyelenggaraan tata naskah. (Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara, 2004 : 1-2).

Keraton Yogyakarta, sebagai bentuk birokrasi tradisional telah menetapkan pedoman tata naskah dinas untuk naskah serat kekancingan. Hal ini karena

(62)

if vital records are lost, damaged, destroyed or otherwise rendered unavailable or unuseable, mission-critical operations will be curtailed or discontinued, with a resulting adverse impact on the organization (Saffady, 2004 : 123).

Tindakan pemalsuan termasuk dalam kategori damaged sehingga memungkinkan kegiatan oprasional inti Paniti Kismo dalam mengelola tanah akan tersendat, bahkan kehilangan fungsinya.

5.2.2 Tahap Penggunaan dan Pemeliharaan

Boedi Martono membagi tahap penggunaan dan pemeliharaan dalam enam kegiatan, yaitu sistem pemberkasan dan penemuan kembali, manajemen berkas, pengurusan surat, program arsip vital, sistem analisis, dan pengelolaan pusat arsip. Inti dari kegiatan kearsipan ada pada bagian sistem pemberkasan dan penemuan kembali. Sistem pemberkasan dan pengurusan suratkemudian identik dengan istilah sistem kearsipan.

Yulianti L.Parani dalam Sejarah Tata Kearsipan di Indonesia menjelaskan bahwa ketika Indonesia berada dibawah jajahan Belanda pada abad 19, tata kearsipan yang digunakan menyerupai sistem register atau registratuurstelsel. Sistem ini menggunakan alat temu balik berupa buku-buku agenda, index dan

klapper (suatu daftar mengenai nama, tempat dan berbagai subject heading

(63)

berlaku untuk semua arsip persuratan, baik surat dinas biasa maupun surat keputusan. Adapun susunan buku agenda tersebut yaitu:

1. Nomor surat

2. Tanggal Surat

3. Perihal

4. Tujuan surat

(64)

pemahaman SDM pengelola tentang manajemen kearsipan. Penempatan tenaga arsiparis yang diperbantukan dari Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Yogyakarta hanya ada di bagian arsip statis Tepas Banjar Wilapa Perpustakaan Widya Budaya Keraton Yogyakarta.

Oleh karena arsip kekancingan menunjukkan informasi seputar pertanahan, maka penggunaan sistem geografi sudah tepat. Namun diperlukan sistem tambahan, yaitu sistem abjad, untuk nama pemegang hak magersari, dan sistem kronologi, sebagai penanda waktu kekancingan dikeluarkan. Penggabungan tiga sistem pemberkasan ini diharapkan menutupi kekurangan masing-masing sistem sehingga temu balik arsip dapat lebih cepat dan tepat. Hal ini juga disepakati oleh William Saffady, although place names are typically sequenced alphabetically, geographic arrangements sometimes combine alphabetic and numeric filing codes

(Saffady, 2004 : 153).

(65)

Arsip serat kekancingan merupakan salah satu jenis arsip vital. Hal ini tersirat dari pernyataan pengageng Paniti Kismo KGPH Hadiwinoto bahwa pihak keraton menerbitkan serat kekancingan hanya satu kali kepada yang terlebih dahulu mengajukan permohonan. Menurut undang-undang nomor 43 tahun 2009 tentang kearsipan disebutkan bahwa arsip vital adalah arsip yang keberadaannya merupakan persyaratan dasar bagi kelangsungan operasional pencipta arsip, tidak dapat diperbarui, dan tidak tergantikan apabila rusak atau hilang. Pengelolaan arsip vital termasuk dalam pengelolaan arsip dinamis. Dalam undang-undang kearsipan, ada empat bentuk organisasi yang diwajibkan untuk membentuk program arsip vital, yaitu lembaga negara, pemerintah daerah, perguruan tinggi negeri dan BUMN/BUMD. Namun jika melihat keistimewaan yang ada di Yogyakarta, maka program arsip vital sudah seharusnya menjadi prioritas bagi pihak keraton untuk melindungi arsip-arsip vitalnya.

Program arsip vital adalah tindakan dan prosedur yang sistematis dan terencana yang bertujuan untuk memberikan perlindungan dan menyelamatkan

2005

SLEMAN

(66)

arsip pada saat darurat atau setelah terjadi musibah. Adapun bentuk kegiatan yang diamanatkan sebagai bagian dari program arsip vital antara lain:

1. Identifikasi

2. Perlindungan dan penyelamatan

3. Penyelamatan dan pemulihan.

Pengageng Paniti Kismo, KGPH Hadiwinoto, menyebutkan bahwa pihak keraton telah mengeluarkan lebih dari 15.000 serat kekancingan kepada masyarakat umum. Jumlah tersebut merupakan akumulasi sejak puluhan tahun lalu hingga saat ini. Meski demikian, upaya perlindungan belum dilakukan secara maksimal. Padahal arsip kekancingan juga berguna pada saat inventarisasi aset-aset Keraton Yogyakarta. Oleh karena pemahaman yang masih minim dari SDM, baik di tingkat manajerial maupun pelaksana, maka program arsip vital tidak berjalan. William Saffady menyinggung bahwa :

the development and implementation of a successful vital records program depends on the knowledge and active participation of program unit personnel who are familiar with the nature and use of recorded information in specific work environments (Saffady, 2004 : 128).

5.2.3 Tahap Penyusutan

(67)

keraton. Ketiadaan jadwal retensi arsip sebagai penanda jangka simpan arsip mengakibatkan sulitnya menentukan jenis arsip, dinamis atau telah memasuki masa inaktif atau statis. Hal ini dipertegas oleh arsiparis yang membantu dalam mengelola arsip keraton bahwa sebagian arsip periode Sri Sultan Hamengku Buwono IX masih ada yang tersimpan di masing-masing tepas Keraton Yogyakarta. Pengelolaan arsip di keraton masih sederhana dan tidak banyak mengikuti perkembangan teknologi informasi. Hal ini terlihat pada jenis arsip yang dihasilkan didominasi oleh arsip tekstual.

5.3 Pengaruh Pengelolaan Arsip Kekancingan terhadap Pengaturan Hak Penggunaan Tanah Berstatus Magersari

Meskipun salah satu sultannya mendapat adagium takhta untuk rakyat karena

berbagai kebijakannya yang pro masyarakat menengah ke bawah, namun tidak serta merta mengikis budaya feodalisme di lingkungan Keraton Yogyakarta. Budaya feodalisme yang masih mengurat akar di kalangan bangsawan maupun abdi dalem keraton disinyalir menjadi salah satu pemicu goyahnya adagium takhta untuk rakyat. Apalagi jika budaya feodalisme juga mempengaruhi kebijakan persoalan pemberian hak penggunaan tanah sultan untuk rakyat.

(68)

bawah yang hidup dalam kondisi serba terbatas dan tidak memiliki kedekatan khusus dengan para bangsawan keraton, maka perolehan hak untuk menggunakan tanah keraton selalu dipermasalahkan hingga ke ranah hukum. Studi kasus di Jalan Suryawijayan dan Jalan Brigjen Katamso mengindikasikan masih kuatnya budaya feodalisme, yang menjadi akar kuat Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) dengan oknum-oknum keraton untuk meloloskan upaya perolehan hak menggunakan tanah keraton, meski harus mengorbankan beberapa warga yang sudah bertahun-tahun menempati tanah tersebut. Meski pada studi kasus Hotel Ambarukmo yang melibatkan para kerabat keraton, namun kasus sengketa tanah di kalangan menengah ke atas jarang dijumpai.

5.3.1 Analisis Arsip Serat Kekancingan dalam Kasus Sengketa Kios Jalan Suryowijayan

Menurut Nur Aini dalam “Dari Tanah Sultan Menuju Tanah Rakyat : Pola Pemilikan, Penguasaan dan Sengketa Tanah di Yogyakarta Setelah Reorganisasi Tanah 1917”, sengketa tanah di Yogyakarta muncul karena adanya 2 faktor, yaitu:

1. Unsur kesengajaan dari salah satu pihak yang ingin mencoba untuk mendapat keuntungan dari tetangga atau kerabat dengan cara mereka sendiri,

2. Ketidaktahuan dari salah satu atau kedua belah pihak terhadap peraturan-peraturan yang berlaku atas tanah yang mereka miliki. (Setiawati, 2000 : 124).

(69)

keraton. Namun, pengetahuan tersebut tidak sampai pada pemahaman secara detail, termasuk konsekuensi-konsekuensi yang harus dihadapi dan penyimpanan arsip serat kekancingan yang masih diabaikan. Hal ini dapat dilihat dalam kasus sengketa hak magersari di Jalan Suryowijayan, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta.

Jalan Suryowijayan berada bersisian dengan wilayah jeron beteng (dalam benteng). Di wilayah ini banyak tersebar situs-situs budaya yang menjadi

(70)

destinasi wisata unggulan Daerah Istimewa Yogyakarta, seperti alun-alun keraton, pemandian putri taman sari, siti hinggil dan sebagainya. Tanah berstatus magersari di Jalan Suryowijayan seluas 124 meter. Sebelum terjadi sengketa, tanah diolah keluarga Mantodiharjo sejak tahun 1970-an. Dalam perkembangannya, tanah berkembang menjadi kios-kios dan dihuni oleh empat keluarga lainnya. Namun memasuki kurun waktu baru-baru ini, terjadi sengketa yang berpangkal pada penebitan serat kekancingan untuk Anton Cahyono yang memiliki tanah di belakang kios dan hunian keluarga Mantodiharjo dan empat lainnya. Meski keluarga Mantodiharjo pernah mengajukan permohonan izin penggunaan tanah berstatus magersari ke Paniti Kismo, tetapi serat kekancingan

tidak pernah diturunkan sejak 1980-an. Sementara itu, serat kekancingan untuk Anton Cahyono tidak membutuhkan waktu lama untuk diterbitkan. Sri Sultan dalam salah satu pernyataannya mengatakan bahwa tanah berstatus magersari yang ditempati keluarga Mantodiharjo dan empat lainnya tidak sesuai dengan tata guna lahan. Oleh karena itu, pihak keraton menangguhkan permohonan untuk menerbitkan serat kekancingan. Dengan demikian, pihak Anton Cahyono yang mendapatkan serat kekancingan memiliki hak untuk menggusur warga yang tidak memiliki serat kekancingan. Menurut rencana, tanah bekas penggusuran akan dijadikan taman sesuai dengan tata guna lahan.

Kasus sengketa tanah berstatus magersari di Jalan Suryowijayan mengindikasikan kelemahan pengelolaan arsip serat kekancingan sebagai bukti pemanfaatan tanah. Bukti apabila pihak tergusur pernah mengajukan permohonan

(71)

surat masuk. Selain itu, juga perlu diketahui keberadaan fisik arsip surat permohonan tersebut. Fisik arsip surat permohonan dapat ditemukan kembali dengan cepat dan tepat hanya jika sistem pemberkasan sudah baik. Namun, melihat pada kenyataan bahwa sejak tahun 1970-an hingga dilakukannya penggusuran, tidak diketahui keberadaan fisik arsip surat permohonan, maka kemungkinan secara aspek kearsipan adalah :

1. Fisik arsip surat permohonan hak magersari hilang (ketlingsut) karena penataan fisik berkas yang tidak memenuhi kriteria pemberkasan arsip yang baik dan benar;

2. Tidak tercatat dalam buku agenda surat masuk meski sudah pernah mengajukan permohonan;

3. Pihak tergusur tidak menggandakan surat permohonan yang sudah dibuat sehingga sulit untuk dilakukan pembuktian terbalik.

(72)

5.4 Analisis Arsip Serat Kekancingan dalam Kasus Sengketa di Jalan Brigjen Katamso Gondomanan

Kasus sengketa lahan juga terjadi di Jalan Brigjen Katamso, Kecamatan Gondomanan. Berbagai media online memberitakan empat warga di Kecamatan Gondomanan mengadukan oknum yang mengaku telah mendapatkan

kekancingan. Padahal keempat warga tersebut sudah menempati lahan tersebut secara turun-temurun dan digunakan sebagai tempat usaha. Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta yang menangani pengaduan meminta agar pihak keraton lebih selektif dan melakukan peninjauan ulang dalam penerbitan serat kekancingan. Apalagi pihak Paniti Kismo selaku yang berhak menerbitkan

kekancingan tidak melakukan survey pendahuluan dan tidak memiliki data kepemilikan tanah berstatus penghuni magersari.

(73)

Masalah mendasar dalam kasus Jalan Brigjen Katamso tidak berbeda dengan kasus Jalan Suryowijayan, yaitu tidak tertibnya administrasi arsip kekancingan. Pemegang hak magersari dapat mewariskan haknya kepada ahli waris (satu keluarga) yang disebut dengan lintir, maupun kepada pihak di luar ahli waris keluarga yang disebut liyer. Apabila pemegang hak awal hendak me-lintir atau me-liyer hak magersarinya, maka harus dengan sepengetahuan pihak keraton. Hal ini agar memudahkan dalam proses pendataan dan keraton tidak serta merta kehilangan aset tanahnya secara tidak langsung. Namun pada umumnya,

(74)

pemegang hak magersari yang beberapa kali me-lintir atau me-liyer akhirnya tidak lagi mengkomunikasikan tindakannya kepada pihak keraton. Akibatnya, tidak hanya pihak keraton yang dirugikan, tetapi juga dapat menimbulkan sengketa jika keraton menerbitkan kekancingan atas nama pihak lain dengan tanah yang sama.

Tidak tertibnya penyimpanan arsip dan kelambanan dalam pemutakhiran data menjadi titik lemah pihak keraton sebagai pihak yang berhak menerbitkan

kekancingan. Hal ini dapat mengakibatkan pihak keraton kesulitan dalam melacak pihak-pihak yang sudah mendapat hak magersari melalui kekancingan dan pihak-pihak yang belum mendapatkan kekancingan. Alasan mendasar inilah yang kemudian menjadi gugatan keraton oleh pihak LBH Yogyakarta.

5.5 Analisis Arsip Serat Kekancingan dalam Kasus Sengketa Pengelolaan Hak Magersari Antar Kerabat Keraton Yogyakarta

Persoalan pengelolaan lahan magersari juga terjadi dalam internal kerabat keraton. Kasus bermula ketika Raden Mas Triyanto Pranowo selaku ahli waris dan perwakilan trah Hamengku Buwono VII mengeluarkan serat kekancingan

(75)

Dalam pembelaannya di beberapa media online, RM Triyanto menjelaskan bahwa lahan tersebut dahulunya adalah tempat tinggal Hamengku Buwono VII. Meskipun termasuk dalam sultan ground (SG), namun hak miliknya tidak berada di pihak keraton sebagai lembaga, tetapi pada ahli waris Hamengku Buwono VII. RM Triyanto memberikan landasan hukum Rijksblaad nomor 16 tahun 1918 sehingga ia berhak untuk menerbitkan kekancingan tanpa menggunakan kop

(76)

Paniti Kismo Keraton Yogyakarta. Hal ini disanggah oleh Pengageng Paniti Kismo KGPH Hadiwinoto bahwa telah terjadi kesalahpahaman dalam mengartikan hak waris. Menurut KGPH Hadiwinoto, yang menjadi pewaris inti hanyalah anak-anak raja yang bertakhta, bukan generasi jauh, apalagi RM Triyanto hanya sebatas cicit dari Hamengku Buwono VII. KGPH Hadiwinoto juga menegaskan bahwa pengaturan pembagian tanah yang dilembagakan melalui Paniti Kismo bertujuan agar aset Keraton Yogyakarta tidak habis dibagi rata ke semua ahli waris sehingga lahan untuk rakyat tidak ada.

Dalam kasus ini, peran tata naskah dinas menjadi faktor utama. Apabila pihak keraton yang diwakili Paniti Kismo telah memiliki pedoman dan tata tertib dalam penerbitan serat kekancingan, maka dapat dipastikan kasus yang sama dapat diminimalisasi. Selain itu, pengkomunikasian pedoman penerbitan

kekancingan juga perlu dimasifkan di setiap tepas atau keraton dan juga di internal kerabat keraton sehingga dapat meminimalisasi kesalahpahaman dalam penerbitan kekancingan.

Gambar

Grafik Penggunaan Tanah (Ha)
Gambar 1.Lemari arsip dan susunan arsip di dalamnya.
Gambar 2. Lokasi Suryowijayan Gambar 2. Lokasi Suryowijayan
Gambar 3. Lokasi Jalan Brigjend.Katamso Gambar 3. Lokasi Jalan Brigjend.Katamso
+2

Referensi

Dokumen terkait

Alhamdulillah, Puji syukur kehadirat ALLAH SWT, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang atas segala limpahan Rahmat, Hidayah serta Ridho-Nya kepada penulis, sehingga

KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Adil lagi Maha Mengabulkan atas limpahan rahmat, taufik dan hidayah-Nya

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Adil lagi Maha Mengabulkan atas limpahan rahmat, taufik dan hidayah-Nya hingga penulis

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang Maha Mengetahui, Mana Adil, lagi Maha Penyayang atas limpahan rahmat, taufik

Alhamdulillah, Puji syukur kehadirat ALLAH SWT, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang atas segala limpahan Rahmat, Hidayah serta Ridho-Nya kepada penulis, sehingga

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Mengetahui, Maha Adil lagi Maha Mengabulkan atas limpahan rahmat, taufik dan hidayah-Nya

Puji syukur kehadirat Allah SWT Yang Maha Mendengar lagi Maha melihat dan atas segala limpahan rahmat, taufik, serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat dan atas segala limpahan rahmat, taufik serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat