LAPORAN PRAKTIKUM PENGANTAR ILMU NUTRISI
PENGUKURAN DAYA SUKA PADA TERNAK
RUMINANSIA
Oleh :
Kelompok 6
1. Hamzah Nata Siswara
D14130026
2. Jasman Sultani
D14130037
3. Sri Widyawati
D14130047
4. Vannya Agita D
D14130107
5. Riyan Fatissan
D14130110
DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ternak merupakan hewan yang dipelihara untuk diambil manfaatnya oleh manusia. Ternak memiliki tipe makanan yang berberda-beda, dalam kelompok ruminansia yang memiliki rumen maka ternak ruminansia memanfaatkan selulosa dari tanaman sebagai makanan atau nutrisinya. Sebab di dalam lambung rumunansia khusunya rumen-retikulum terdapat mikroorganisme yang dapat mencerna selulosa menjadi nutrisi yang dapat dimanfaatkan oleh ruminansia.
Ternak ruminansia adalah hewan yang secara alami pemakan tumbuhan (herbivora) yang mempunyai sifat memamah biak (ruminasi). Memamah biak adalah mengeluarkan kembali hijauan yang sudah dimakan ke mulut untuk dikunyah dan dilembutkan dan selanjutnya ditelan kembali. Biasanya dilakukan pada saat istirahat.
Ketergantungan ternak ruminansia terhadap tumbuhan sangat tinggi. Berbagai tumbuhan banyak ditemui di alam, hanya tidak semua dapat dimakan ternak. Pada umumnya tumbuhan yang disukai ternak ruminansia adalah dari jenis rumputan (famili Poaceae/Gramineae), kacangan (famili Leguminosae) dan ramban (selain kedua famili tersebut). Ternak domba cenderung menyukai rumputan, Setiap bahan pakan memiliki komposisi kimia yang berbeda. Komposisi kimia ini berupa kadar air, lemak kasar, protein kasar, vitamin, mineras maupun kandungan antinutrisi yang berbeda-beda. Kandungan yang berbeda ini membuat rasa dari hijauan pakan berbeda. Sehingga menimbulkan daya suka yang berbeda masing-masing pada hijauan pakan tergantung jenis-jenisnya. Oleh karena itu praktikum ini dilakukan untuk mengetahui daya suka domba terhadap perlakuan rasa asin, manis, dan asam.
Tujuan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Domba
Domba atau biri-biri (Ovis) adalah ruminansia dengan rambut tebal dan dikenal orang banyak karena dipelihara untuk dimanfaatkan rambut (disebut wol), daging, dan susunya. Yang paling dikenal orang adalah domba peliharaan (Ovis aries), yang diduga keturunan dari moufflon liar dari Asia Tengah selatan dan barat-daya. Untuk tipe lain dari domba dan kerabat dekatnya, lihat kambing antilop. Domba berbeda dengan kambing.
Domba atau biri-biri (Ovis) adalah ruminasia (hewan pemamah biak) . Ciri yang biasa kita lihat pada Domba yaitu pada rambut tebal di bagian tubuhnya, memiliki daun telinga, berkaki 4, memiliki kelenjar susu pada betina. Keberagaman jenis domba membuatnya memiliki ciri khas masing-masing, di Indonesia saja ada jenis Domba yang tidak memiliki tanduk seperti Domba texel Wonosobo (Dombos), Domba Batur Banjarnegara (Domas), dan yang memiliki tanduk seperti Domba Ekor Tipis (Domba Gembel) , domba Garut (Domba Priangan).
Ciri-ciri umum pada domba yaitu, sebagai berikut:
1. Tubuhnya tertutup rambut, yang berfungsi untuk melindungi tubuh dari pengaruh panas maupun dingin.
2. Pada betina terdapat kelenjar mammae (glandula mammae) yang tumbuh baik.
3. Mempunyai cuping telinga.
4. Gigi umumnya terbagi menjadi empat tipe yaitu gigi seri, gigi taring, gigi remolar, dan gigi molar.
5. Memiliki kuku yang berjumlah genap pada masing-masing kaki. 6. Berkaki empat
merenggut dan juga dedaunan yang biasanya tidak dimakan oleh ternak lain. Domba memiliki kebiasaan untuk memakan rumput dengan menggunakan bibir atasnya, jika tidak dikontrol akan menyebabkan kerusakan pada bagian tersebut. Domba adalah ternak yang digunakan untuk dimanfaatkan daging, rambut (wool), dan sebagian jenis domba digunakan sebagai domba aduan atau domba hias. (Davendra, C. dan M. Burns.1994).
Palatabilitas pada Domba
Menurut Kartadisastra (1997), palatabilitas merupakan sifat performansi bahan-bahan pakan sebagai akibat dari keadaan fisik dan kimiawi yang dimiliki oleh bahan-bahan pakan yang dicerminkan oleh organoleptiknya seperti kenampakan, bau, rasa (hambar, asin, manis, pahit), tekstur dan temperaturnya. Hal inilah yang menumbuhkan daya tarik dan merangsang ternak untuk mengkonsumsinya. Ternak ruminansia lebih menyukai pakan rasa manis dan hambar daripada asin/pahit. Mereka juga lebih menyukai rumput segar bertekstur baik dan mengandung unsur nitrogen (N) dan fosfor (P) lebih tinggi (Kartadisastra, 1997).
Pakan Ternak Domba
Kebutuhan ternak ruminansia terhadap pakan dicerminkan oleh kebutuhannya terhadap nutrisi. Jumlah kebutuhan nutrisi setiap harinya sangat tergantung jenis ternak, umur, fase, (pertumbuhan, dewasa, bunting, menyusui), kondisi tubuh (normal, sakit) dan lingkungan tempat hidupnya (temperatur, kelembapan, nisbi udara) serta berat badannya. Jadi setiap ekor ternak berbeda kondisinya membutuhkan pakan yang berbeda (Kartadisastra, 1997).
Pakan yang di berikan jangan sekedar di maksudkan untuk mengatasi lapar atau sebagai pengisi perut saja melainkan harus benar-benar bermanfaat untuk kebutuhan hidup, membentuk sel-sel baru, mengganti sel-sel yang rusak dan untuk produksi.
Kebutuhan ternak akan zat makanan terdiri dari kebutuhan hidup pokok dan kebutuhan untuk produksi. Kebutuhan hidup pokok pengertiannya sederhana yaitu untuk mempertahankan hidup. Ternak yang memperoleh makanan hanya sekedar cukup untuk memenuhi hidup pokok, bobot badan ternak tersebut tidak akan naik dan turun. Tetapi jika ternak tersebut memperoleh lebih dari kebutuhan hidup pokoknya maka sebagian dari kelebihan makanan itu akan dapat dirubah menjadi bentuk produksi misalnya air susu, pertumbuhan dan reproduksi ini disebut kebutuhan produksi (Tillman, et al., 1984).
Konsumsi Air Minum
Air adalah zat makanan yang penting, ternak akan lebih menderita dengan kekurangan air daripada kekurangan makanan (Tillman et al., 1991). Air memiliki dua fungsi dasar yaitu sebaga komponen utama dalam metabolisme dan sebagai zat yang mengontrol temperature tubuh (Church dan Pond, 1988). Parakkasi (1999) menyatakan bahwa kebutuhan air minum dipengaruhi oleh konsumsi BK ransum, jenis bahan makanan, kelembaban, angin, dan temperature. Davendra dan Burns (1994) menyatakan bahwa kebutuhan air dipengaruhi oleh faktor lingkungan, jumlah BK yang dikonsumsi, keadaan makanan, kondisi fisiologis, temperatur air minum, temperature lingkungan, kekerapan minum dan genotip ternak.
Tillman et al. (1991) menyatakan bahwa kebutuhan air minum domba yang sedang tumbuh pada suhu > 200C dalah 3 liter/kg BK terkonsumsi. Menurut
Davendra dan Church (1971), konsunmsi air minum dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain tingkat konsumsi ransum, tingkat produksi hewan, tingkat pertumbuhan dan bobot badan hewan.
Pakan Hijauan Untuk Domba-Kambing
pengadaan secara alami biasanya sudah tersedia di alam atau tumbuh dengan sendirinya di lahan-lahan tertentu seperti perkebunan, pertanian dan kehutanan. Sedangkan pengadaan secara budidaya harus melalui penanaman dan pemeliharaan secara intensif.
Hijauan adalah salah satu jenis bahan makanan ternak yang berasal dari tanaman dan mengandung zat-zat yang dibutuhkan oleh ternak. Berdasarkan penyajiannya, hijauan dibedakan menjadi hijauan segar (Kadar air > 80 %) dan hijauan kering (Kadar air < 80 %). Setiap jenis hijauan memiliki karakteristik yang berbeda diantaranya dari ciri, morfologi (bentuk, warna dan bau) dan nilai gizinya. Sedangkan berdasarkan kelompoknya (family), hijauan dibagi menjadi 3 kelompok besar, yakni :
Kelompok rumput-rumputan (Graminae)diantaranya adalah : 1. Rumput Gajah (Pennisetum purpureum)
2. Rumput Raja (King grass)
3. Rumput Benggala (Panicum maximum) 4. Rumput Meksiko (Euchlaena mexicana) 5. Rumput Setari (Setaria sphacelata)
6. Rumput Signal (Brachiaria decumbens) 7. Rumput Para (Brachiaria mutica) 8. Rumput Pangola (Digitaria decumbens) 9. Rumput Jaragua (Hyparrhenia rufa) 10. Rumput Paspalum dilatatum
11. Rumpur Rhodes (Chloris gayana)
12. Rumput Jukut caladi (Melinis minutiflora)
Kelompok kacang-kacangan (Leguminoceae) diantaranya adalah : 1. Kacang Kupu (Centrocema pubescens)
2. Gamal (Gliricidia sepium)
3. Lamtoro (Leucaena leucocephala)
4. Turi (Sesbania grandiflora)
5. Kaliandra (Calliandra calothyrsus)
7. Kacang-kacangan (Arachis glabrata)
Kelompok daun-daunan diantaranya adalah : 1. Daun Nangka
BAB III
MATERI DAN METODE
Bahan dan Alat
Jumlah domba : 12 ekor, 3 ekor per perlakuan
Rumput, larutan asam, garam, gula
Kandang individu
Timbangan
Alat pengaduk
6 buah gelas air mineral 200 ml ( 3 buah diantaranya dilubangi bagian bawahnya) dibawa oleh tiap kelompok yang bertugas.
Tempat: Kandang NTDK, Blok B, Fapet IPB.
Waktu: pagi hari, sebelum domba diberi makan (05.30-06.30 WIB).
Metode
Ke-12 ekor domba dibagi menjadi 4 perlakuan, masing-masing 3 ekor.
Anggota kelompok kecil yang bertugas, member makan 1 domba yang ada pada setiap perlakuan (ada perwakilan tiap KK pada tiap perlakuan)
PERLAKUAN: GARAM = Garam (5 gram) dilarutkan dengan air menjadi 200 ml larutan garam GULA = Gula (5 gram) dilarutkan dengan air menjadi 200 ml larutan gula
Penentuan jumlah rumput :
Domba ditimbang bobot badannya.
Misal BB = 10 kg = 3%x10kg x 100/20 (BK) = 1,5 kg rumput segar
Rumput segar (dipotong-potong) yang diberikan pada praktikum ini adalah500 gram/ekor.
Pencampuran larutan :
Masing-masing larutan dicampurkan ke rumput secara merata menggunakan gelas air mineral yang sudah dilubangi kecil-kecil pada bagian bawahnya.
Rumput diberikan pada masing-masing domba sesuai dengan perlakuan yang sudah ditentukan.
Rumput diamati yang lebih dulu dimakan.
Pengamatan dilakukan selama 30 menit.
Rumpu ditimbang sisa setelah 30 menit.
Dibuat rata-rata dari ketiga ulangan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Data rata-rata praktikum kelompok 5, 6, 7
Perlakuan Pemberian
Unsur-unsur kimia dalam bahan pakan haruslah lengkap yang memenuhi kadar air, karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral. Pakan yang di berikan harus berkualitas tinggi yaitu mengandung zat-zat yang di perlukan oleh tubuh ternak dalam hidupnya (Parakkasi, 1995). Kebutuhan ternak ruminansia terhadap pakan merupakan kebutuhannya terhadap nutrisi. Jumlah kebutuhan nutrisi setiap harinya sangat tergantung jenis ternak, umur, fase, (pertumbuhan, dewasa, bunting, menyusui), kondisi tubuh (normal, sakit) dan lingkungan tempat hidupnya (temperatur, kelembapan, nisbi udara) serta berat badannya. Jadi setiap ekor ternak berbeda kondisinya membutuhkan pakan yang berbeda (Kartadisastra, 1997).
berupa selulosa yang dapat dicerna dan difermentasi dalam lambung (rumen) menghasilkan energi.
Palatabilitas dan nafsu makan pada ternak banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor penentu. Secara fisiologi ternak ruminansia seperti umur, jenis kelamin, kondisi tubuh (misalnya bunting atau dalam keadaan sakit) sangat mempengaruhi konsumsi pakannya. Jenis kelamin jantan biasanya lebih banyak makan, dan betina saat hamil juga makan lebih banyak.
Praktikum pengukuran daya suka ternak domba atau palatabilitas terhadap beberapa jenis pakan dapat diukur dengan menguji palatabilitas dari domba yang dilakukan untuk mengetahui tingkat kesukaan domba terhadap pakan hijauan yang diberikan dengan dipengaruhi oleh rasa. Setelah pemberian pakan dengan beberapa perlakuan, diperoleh data hasil konsumsi pakan yang menunjukkan ternak domba lebih banyak mengkonsumsi pakan rumput dengan perlakuan asam, hal ini berbeda dengan standar yang sesuai yaitu domba menyukai pakan yang memiliki rasa manis atau hambar (Kartadisastra, 1997).
BAB V
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
Batubara A. dan M. Doloksaribu. 2005. Koleksi ex-situ dan Karakterisasi Plasma Nutfah Kambing Potong. Laporan Hasil Penelitian Tahun Anggaran 2005. Lokasi Penelitian Kambing Potong, Sei Putih, Sumatra Utara.
Church,. D. C. and W. G. Pond. 1998. Basic Animal Nutrition and Feeding. 3rd Edition. New York : John Willey and Sons.
Devendra C. dan M. Burnas. 1994. Produksi Kambing di Daerah Tropis. Terjemahan I DK HARYA PUTRA. ITB. Bandung.
Kartadisastra.1997.Teknologi Bioenergi. Bogor: PT Agro Media Pustaka. Iniguez, L., W. A Paouie, dan B. Gunawan. 1993. Aspek-aspek Pemuliaan Domba Ditekankan Terutama pada Lingkungan Tropis yang Lembab Di Indonesia. In.I.K. Sutama, H. Prasetyo, IGM. Budiarsana, Supriyati, Sumanto dan D. Priyanto. 2010. Praktik Kambing Sapera dengan Produksi Susu 2 Liter dan Pertumbuhan Pasca Sapih >100 g/Hari. Laporan Hasil Penelitian. Balai Penelitian ternak. Bogor.
Parakkasi, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminansia. Jakarta (ID) : Universitas Indonesia Press.