SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi
Program Studi Akuntansi
Oleh :
Yohana Ika Tri Juniati NIM : 122114012
PROGRAM STUDI AKUNTANSI JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
A. Latar Belakang Masalah
Pada era globalisasi saat ini lingkungan bisnis entitas menjadi kompleks dan rumit. Keanekaragaman jenis entitas tersebut harus diikuti dan dipahami oleh pihak berkepentingan, sehingga tidak terjadi kesalahpahaman informasi terhadap suatu entitas tertentu. Keanekaragaman entitas bisnis tentunya diikuti dengan keanekaragaman cara dalam menjalankan proses bisnis yang dapat menimbulkan keanekaragaman kualitas dari suatu entitas perusahaan.
Salah satu indikator untuk melihat sehat atau tidaknya kualitas dari entitas perusahaan, masyarakat dapat melihatnya dari opini auditor. Opini auditor dibuat oleh akuntan publik yang bekerja di kantor akuntan publik. Auditor dalam membuat opini harus menjalankan tahapan-tahapan yang harus dijalankan, sehingga dapat menghasilkan opini yang benar-benar sesuai keadaan sebenarnya.
Auditor dengan profesionalnya dapat membantu pihak-pihak yang berkepentingan terhadap informasi dalam laporan keuangan. Opini yang dikeluarkan auditor akan memberikan tingkat keyakinan lebih dalam pengambilan keputusan ekonomi. Laporan keuangan yang berkualitas harus memenuhi kriteria andal, relevan, dapat dipercaya, dan tepat waktu dalam penyajiannya. Berdasarkan opini audit pihak berkepentingan akan lebih yakin kalau laporan keuangan yang disajikan telah memenuhi kriteria tersebut.
Pemakai laporan keuangan akan lebih yakin terhadap kualitas laporan keuangan perusahaan yang telah diaudit.
Auditor dalam menjalankan profesinya, auditor mempunyai pedoman standar yaitu standar profesional akuntan publik yang merupakan ketentuan dan pedoman audit yang harus dipatuhi auditor. Dalam standar ini terdapat standar audit yang terdiri dari standar umum, standar pekerjaan lapangan, dan standar pelaporan. Standar umum bersifat pribadi dan berkaitan dengan persyaratan seorang auditor. Standar pekerjaan lapangan memuat hal-hal yang harus ada dan dikerjakan dalam suatu aktivitas audit. Standar pelaporan memuat hal-hal yang harus dipenuhi dalam penyusunan laporan hasil audit.
Kantor akuntan publik dalam menjaga kualitas kinerja staf dan auditornya menerapkan sistem pengendalian mutu, agar hasil kerja auditor tersebut sesuai dengan standar yang ditetapkan. Menurut (SPM 1:2011) dalam SA no. 220 menyatakan bahwa sistem pengendalian mutu kantor akuntan publik mencakup unsur-unsur yaitu tanggung jawab kepemimpinan kantor akuntan publik atas mutu, ketentuan etika dan profesi yang berlaku, penerimaan dan keberlanjutan hubungan dengan klien dan perikatan tertentu, dan pemantauan. Sistem pengendalian mutu harus dirancang selaras dengan kebijakan, struktur organisasi, dan sifat praktik kantor akuntan publik.
mutu. Menurut (SPAP:2011) dalam SPM seksi 100 no. 07 terdapat sembilan unsur prosedur dalam penerapan sistem pengendalian mutu di suatu kantor akuntan publik. Kesembilan unsur tersebut adalah independensi, penugasan personel, konsultasi, supervisi, pemekerjaan, pengembangan profesional, promosi, penerimaan dan keberlanjutan klien, dan inspeksi.
Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini difokuskan untuk mengetahui penerapan dan kepatuhan auditor di kantor akuntan publik dalam menerapkan sistem pengendalian mutu. Penelitian ini diberi judul “Evaluasi Sistem Pengendalian Mutu Audit di Kantor Akuntan Publik Studi Kasus di Kantor Akuntan Publik Payamta”.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana penerapan sistem pengendalian mutu di kantor akuntan publik Payamta?
2. Apakah sistem pengendalian mutu yang diterapkan kantor akuntan publik Payamta sudah sesuai dengan Standar Pengendalian Mutu yang diterapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia?
C. Batasan Masalah
D. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah penerapan sistem pengendalian mutu di kantor akuntan publik Payamta sudah sesuai dengan Standar Pengendalian Mutu yang diterapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia (yang selanjutnya disingkat IAPI)
E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Kantor Akuntan Publik dan Auditor
Penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan dan pertimbangan kantor akuntan publik untuk meningkatkan penerapan sistem pengendalian mutu serta tingkat kepatuhan auditor terhadap standar pengendalian mutu yang sudah berlaku.
2. Bagi Mahasiswa Universitas Sanata Dharma
Penelitian ini dapat dijadikan referensi bacaan dan penambah ilmu pengetahuan di bidang auditing serta penelitian ini dapat memberikan informasi bagi mahasiswa terhadap pentingnya penerapan sistem pengendalian mutu audit di kantor akuntan publik.
3. Bagi Penulis
F. Sistematika Penulisan
Pembahasan dalam penelitian ini, disusun secara sistematis ke dalam enam bab, dengan urutan sebagai berikut:
Bab I : Pendahuluan
Bab ini menguraikan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
Bab II : Landasan Teori
Bab ini menguraikan tentang teori-teori yang digunakan sebagai landasan di penelitian yang dilakukan.
Bab III : Metode Penelitian
Bab ini menguraikan tentang jenis penelitian yang dilakukan, waktu dan tempat penelitian, subjek dan objek penelitian, data yang dicari dalam penelitian, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data.
Bab IV : Gambaran Umum Kantor akuntan Publik Payamta
Bab ini berisi tentang sejarah kantor akuntan publik Payamta, struktur organisasi dan staf pendukung, bidang usaha yang dilakukan, dan data lain yang diperoleh dari hasil penelitian mengenai profil kantor akuntan publik Payamta.
Bab V : Analisis Data dan Pembahasan
Bab VI : Penutup
Bab ini berisi tentang kesimpulan dari hasil analisis data, dan keterbatasan dalam penelitian.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Audit
1. Pengertian Auditing
Auditing menurut Jusup (2001:11) merupakan proses sistematis untuk mendapatkan dan mengevaluasi bukti yang berhubungan dengan asersi tentang tindakan-tindakan dan kejadian-kejadian ekonomi secara obyektif untuk menentukan tingkat kesesuaian antara asersi tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan dan mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak-pihak berkepentingan.
Pengertian audit diatas mempunyai beberapa unsur penting yaitu proses sistematis, mendapatkan dan mengevaluasi bukti secara obyektif, asersi tentang tindakan-tindakan dan kejadian-kejadian ekonomi, tingkat kesesuaian antara asersi dengan kriteria yang telah ditetapkan, dan mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak-pihak berkepentingan.
biasa sebagai akuntan publik yang bekerja di kantor akuntan publik dan memberikan jasa profesinya dengan cara mengaudit laporan keuangan yang diterbitkan oleh perusahaan-perusahaan secara profesional. Walaupun terdapat perbedaan profesi dan kerja audit yang dilakukan, ketiga klasifikasi ini harus tetap menjaga independensi dan profesionalitas dalam menjalankan profesinya sebagai auditor.
Proses sistematis yang diterapkan dalam mengaudit tergantung terhadap jenis audit atau bidang jasa yang dilakukan, proses sistematis ini dipengaruhi oleh jenis klien yang sedang diaudit oleh auditor. Proses sistematis ini mengandung implikasi yang berkaitan dengan berbagai hal, yaitu : bahwa perencanaan audit dan perumusan strategi audit merupakan bagian penting dari proses auditing, perencanaan audit dan strategi audit harus berhubungan dengan pemilihan dan penilaian bukti untuk tujuan audit tertentu, bahwa banyak tujuan audit tertentu dan bukti untuk mencapai tujuan-tujuan audit tersebut menuntut auditor untuk membuat banyak keputusan didalam perencanaan dan pelaksanaan audit.
pendukung. Bukti yang diperoleh harus diinterpretasikan dan dievaluasi agar auditor dapat membuat pertimbangan akuntansi yang biasanya diperlukan sebelum sampai pada kesimpulan bahwa asersi-asersi telah sesuai dengan kriteria yang obyektif.
Asersi tentang tindakan-tindakan dan kejadian-kejadian ekonomi merupakan pernyataan yang dibuat manajemen perusahaan yang melekat pada laporan keuangan yang akan menjadi subyek dari audit atas laporan keuangan tersebut. Auditor juga harus memahami asersi-asersi yang tidak diungkapkan secara tertulis dalam laporan keuangan yang akan diaudit.
Tingkat kesesuaian antara asersi dengan kriteria yang telah ditetapkan merupakan segala sesuatu yang dilakukan selama audit dilaksanakan memiliki satu tujuan utama, yaitu untuk merumuskan pendapat audit mengenai asersi-asersi tentang tindakan-tindakan atau kejadian-kejadian ekonomi yang telah diaudit. Opini auditor akan menunjukkan seberapa jauh asersi-asersi sesuai dengan standar atau kriteria yang telah ditetapkan.
2. Jenis-Jenis Audit
a. Audit Laporan Keuangan
Audit laporan keuangan adalah audit yang dilakukan oleh auditor independen terhadap laporan keuangan yang disajikan oleh klien untuk menyatakan pendapat mengenai kewajaran laporan tersebut. Audit laporan keuangan ini auditor menilai kewajaran laporan keuangan atas dasar prinsip-prinsip akuntansi berterima umum. Hasil audit laporan keuangan disajikan dalam bentuk tertulis berupa laporan-laporan audit. Laporan audit ini dibagikan kepada pihak-pihak berkepentingan. b. Audit Kepatuhan
Audit kepatuhan adalah audit yang tujuannya menentukan apakah yang diaudit sesuai dengan kondisi atau peraturan tertentu. Hasil audit kepatuhan umumnya dilaporkan kepada pihak yang berwenang dalam membuat kriteria. Audit kepatuhan umumnya dilakukan dilingkungan pemerintahan.
c. Audit Operasional
Audit operasional adalah audit yang merupakan review sistematis dari kegiatan organisasi atau bagian daripadanya, yang kegiatan organisasi tersebut berhubungan dengan tujuan tertentu. Tujuan audit operasional adalah untuk :
1) Mengevaluasi kinerja.
2) Mengidentifikasi kesempatan untuk peningkatan.
Pihak yang memerlukan audit operasional adalah pihak manajemen atau pihak ketiga. Hasil audit operasional diserahkan kepada pihak yang meminta dilaksanakan audit tersebut.
B. Kantor Akuntan Publik
Menurut Peraturan Menteri Keuangan No. 17/PMK.01/2008 tentang jasa akuntan publik, kantor akuntan publik adalah badan usaha yang telah mendapatkan ijin dari menteri keuangan sebagai wadah bagi akuntan publik dalam memberikan jasanya. Kantor akuntan publik memberikan berbagai macam jasa bagi masyarakat. Penggolongan jasa tersebut dibagi 3 yaitu : 1. Jasa Assurance
Jasa assurance adalah jasa profesional independen yang meningkatkan mutu informasi yang diperlukan bagi pengambil keputusan. Pengambil keputusan memerlukan informasi yang andal dan relevan sebagai basis pengambilan keputusan. Oleh karena itu, pengambil keputusan mencari jasa assurance untuk meningkatkan mutu yang dijadikan sebagai basis keputusan yang akan mereka lakukan.
2. Jasa Atestasi
3. Jasa Nonassurance
Jasa nonassurance merupakan jasa yang dihasilkan oleh akuntan publik yang didalamnya auditor tidak memberikan pendapat, keyakinan negatif, ringkasan temuan, atau temuan lainnya. Jasa nonassurance terdiri dari jasa kompilasi, jasa perpajakan, dan jasa konsultasi.
C. Sistem Pengendalian Mutu
Kantor akuntan publik wajib memiliki sistem pengendalian mutu dan menjelaskan unsur-unsur pengendalian mutu dan hal-hal terkait dengan implementasi secara efektif sistem tersebut. Pengendalian mutu kantor akuntan publik harus diterapkan oleh setiap kantor akuntan publik yang melakukan jasa audit, atestasi, akuntansi, review, dan konsultasi yang standarnya telah ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) dalam Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP).
memadai tentang kesesuaian perikatan profesional dengan standar profesi akuntan publik.
1. Sistem Pengendalian Mutu
Sistem pengendalian mutu kantor akuntan publik mencakup struktur organisasi, kebijakan dan prosedur yang di tetapkan kantor akuntan publik untuk memberikan keyakinan memadai tentang kesesuaian perikatan profesional dengan standar profesional akuntan publik. Sistem pengendalian mutu harus komprehensif, dan harus dirancang selaras dengan struktur organisasi, kebijakan, dan sifat praktik kantor akuntan publik.
Sistem pengendalian mutu memiliki keterbatasan bawaan yang dapat berpengaruh terhadap efektivitas. Perbedaan kinerja antara staf dan pemahaman persyaratan profesional dapat mempengaruhi tingkat kepatuhan terhadap kebijakan dan prosedur pengendalian mutu kantor akuntan publik yang kemudian mempengaruhi efektivitas sistem tersebut.
2. Penetapan Kebijakan dan Prosedur Pengendalian Mutu
Kebijakan dan prosedur pengendalian mutu yang ditetapkan oleh kantor akuntan publik tergantung pada berbagai faktor antara lain ukuran kantor akuntan publik, tingkat otonomi yang diberikan kepada stafnya dan kantor-kantor cabangnya, sifat praktik, organisasi kantornya, dan mempertimbangkan biaya dan manfaat.
Kantor akuntan publik wajib mempertimbangkan setiap unsur pengendalian mutu yang dibahas berikut ini, sejauh yang diterapkan dalam praktiknya, penetapan kebijakan dan prosedur pengendalian mutunya. Unsur-unsur pengendalian mutu berhubungan satu sama lain. Oleh karena itu, praktik pemekerjaan kantor akuntan publik memengaruhi kebijakan pelatihan. Praktik pelatihan memengaruhi kebijakan promosi. Praktik kedua kategori tersebut memengaruhi kebijakan supervisi. Praktik supervisi memengaruhi kebijakan pelatihan dan promosi. Kantor akuntan publik wajib membuat kebijakan dan prosedur pengendalian mutu mengenai:
b. Penugasan personel, yang memberikan keyakinan memadai bahwa penugasan akan dilaksanakan oleh staf profesional yang memiliki tingkat pelatihan dan keahlian teknis untuk penugasan tersebut. Dalam proses penugasan personel sifat dan lingkup supervisi harus dipertimbangkan. Umumnya, apabila personel semakin cakap dan berpengalaman maka supervisi secara langsung terhadap personel tersebut semakin tidak dibutuhkan.
c. Konsultasi, yang memberikan keyakinan bahwa personel akan memperoleh informasi yang memadai sesuai yang dibutuhkan dari orang yang memiliki tingkat pengetahuan, kompetensi, dan pertimbangan (judgement) yang memadai. Sifat konsultasi akan tergantung atas beberapa faktor, antara lain ukuran kantor akuntan publik, tingkat pengetahuan, kompetensi, dan pertimbangan yang dimiliki oleh staf pelaksana perikatan.
e. Pemekerjaan (hiring), prosedur yang memberikan keyakinan memadai bahwa semua staf profesionalnya memiliki karakteristik yang tepat sehingga memungkinkan mereka melakukan perikatan secara kompeten. Akhirnya, mutu pekerjaan kantor akuntan publik tergantung kepada integritas, kompetensi, dan motivasi personel yang melaksanakan dan melakukan supervisi atas pekerjaan. Oleh karena itu, program pemekerjaan kantor akuntan publik menjadi salah satu unsur penentu untuk mempertahankan mutu pekerjaan kantor akuntan publik.
f. Pengembangan profesional, personel memiliki pengetahuan memadai sehingga memungkinkan mereka memenuhi tanggung jawabnya. Pendidikan profesional berkelanjutan dan pelatihan merupakan sarana bagi kantor akuntan publik untuk memberikan kepada personelnya pengetahuan memadai untuk memenuhi tanggung jawab mereka dan kemajuan karier mereka di kantor akuntan publik.
g. Promosi, semua personel terseleksi untuk promosi memiliki kualifikasi seperti yang disyaratkan untuk lapis tanggung jawab yang lebih tinggi. Praktik promosi personel akan berakibat terhadap mutu pekerjaan kantor akuntan publik. Kualifikasi personel terseleksi untuk promosi harus mencakup, tetapi tidak terbatas pada karakter, intelegensi, pertimbangan, dan motivasi.
kantor akuntan publik untuk menetapkan prosedur dengan tujuan seperti tersebut, tidak berarti bahwa kantor akuntan publik bertugas untuk menentukan integritas atau keandalan klien, dan tidak juga berarti bahwa kantor akuntan publik berkewajiban kepada siapa pun, kecuali kepada dirinya, untuk menerima, menolak atau mempertahankan kliennya. Namun, dengan berdasarkan pada prinsip pertimbangan hati-hati, kantor akuntan publik disarankan selektif dalam menentukan hubungan profesionalnya.
i. Inspeksi, prosedur yang berhubungan dengan unsur-unsur pengendalian mutu telah diterapkan secara efektif. Prosedur inspeksi dapat dirancang dan dilaksanakan oleh individu yang bertindak mewakili kepentingan manajemen kantor akuntan publik. Jenis prosedur inspeksi yang akan digunakan tergantung kepada pengendalian yang ditetapkan oleh kantor akuntan publik dan penetapan tanggung jawab di kantor akuntan publik untuk melaksanakan kebijakan dan prosedur pengendalian mutunya.
3. Penetapan Tanggung Jawab
pengendalian mutunya secara efektif. Hal-hal yang harus mendapatkan pertimbangan memadai dalam penetapan tanggung jawab adalah kompetensi individu, penetapan wewenang, dan lingkup supervisi yang diberikan.
4. Komunikasi
Kantor akuntan publik wajib mengkomunikasikan kebijakan dan prosedur pengendalian mutu kepada personelnya dengan suatu cara yang akan memberikan keyakinan memadai bahwa kebijakan dan prosedur tersebut dapat dipahami. Bentuk dan lingkup komunikasi tersebut harus cukup komprehensif sehingga komunikasi tersebut dapat menyampaikan kepada personel kantor akuntan publik informasi mengenai kebijakan dan prosedur pengendalian yang berhubungan dengan mereka. Pada umumnya, komunikasi akan lebih baik apabila dilakukan secara tertulis. Namun, efektivitas sistem pengendalian mutu kantor akuntan publik tidak terpengaruh oleh ketiadaan dokumentasi kebijakan dan prosedur pengendalian mutu yang telah ditetapkan oleh kantor akuntan publik.
Ukuran, struktur, dan sifat praktik kantor akuntan publik harus dipertimbangkan dalam menentukan apakah dokumentasi kebijakan dan prosedur pengendalian mutu diperlukan, dan jika diperlukan, seberapa luas dokumentasi tersebut dilaksanakan. Umumnya, dokumentasi kebijakan dan prosedur pengendalian mutu pada kantor akuntan publik besar akan lebih ektensif dibanding pada kantor akuntan publik kecil.
5. Pemantauan
komunikasi kebijakan dan prosedurnya. Ukuran, struktur, dan sifat praktik kantor akuntan publik memengaruhi keterbatasan dan persyaratan yang harus dipenuhi oleh fungsi pemantauan kantor akuntan publik. Tersirat dalam fungsi pemantauan adalah perubahan rutin yang terjadi dalam kebijakan dan prosedur, penetapan tanggung jawab, dan bentuk serta lingkup komunikasi. Karena adanya perubahan keadaan, seperti perluasan praktik atau pembukaan kantor baru, penggabungan kantor akuntan publik atau pemerolehan praktik. Inspeksi yang merupakan salah satu unsur pengendalian mutu termasuk dalam kegiatan pemantauan.
6. Perumusan Kebijakan dan Prosedur Pengendalian Mutu
Sistem pengendalian mutu kantor akuntan publik, sebagaimana dijelaskan dalam SPM Seksi 100 (PSPM No. 1) sistem pengendalian mutu kantor akuntan publik mencakup kebijakan dan prosedur pengendalian mutu, penetapan tanggung jawab, komunikasi, dan pemantauan. Seksi ini memberikan pedoman dalam perumusan kebijakan dan prosedur pengendalian mutu, berdasarkan paragraph 06 dan 07 SPM seksi 100 tersebut.
Kedua paragraf dalam seksi tersebut menyatakan bahwa jenis dan lingkup kebijakan dan prosedur pengendalian mutu kantor akuntan publik tergantung atas beberapa faktor antara lain : ukuran kantor akuntan publik, tingkat otonomi yang diberikan kepada personel dan kantor-kantor cabangnya, sifat praktik, organisasi kantornya, dan pertimbangan biaya dan manfaat.
diterapkan dalam praktiknya, dalam merumuskan kebijakan dan prosedur pengendalian mutu. Beberapa unsur pengendalian mutu berkaitan satu sama lain. Oleh karena itu, praktik pemekerjaan (hiring) di suatu kantor akuntan publik memengaruhi kebijakan pelatihannya. Praktik pelatihan karyawan kantor akuntan publik memengaruhi kebijakan promosi. Praktik pemekerjaan (hiring) dan praktik promosi tersebut memengaruhi kebijakan supervisi. Sebaliknya, praktik supervisi memengaruhi kebijakan pelatihan dan promosi.
Seksi ini, definisi istilah kantor akuntan publik, standar profesional akuntan publik (SPAP), dan personel, sama dengan definisi istilah tersebut dalam SPM seksi 100 (PSPM No. 1). Istilah kebijakan berkaitan dengan tujuan dan sasaran kantor akuntan publik untuk menjadikan unsur pengendalian mutu tersebut efektif. Istilah prosedur berkaitan dengan langkah-langkah yang diambil untuk melaksanakan kebijakan yang telah ditetapkan.
Unsur pengendalian mutu, sebagaimana terdapat dalam SPM seksi 100 (PSPM No. 1) sistem pengendalian mutu kantor akuntan publik akan dibahas dalam seksi ini berdasarkan pengelompokan berikut ini:
a. Independensi b. Penugasan Personel c. Konsultasi
d. Supervisi
e. Pemekerjaan (hiring) f. Pengembangan Profesional g. Promosi
Kantor akuntan publik juga harus mempertimbangkan perumusan kebijakan pada bidang yang diidentifikasi dalam setiap unsur pengendalian mutu dalam seksi ini sejauh kebijakan tersebut juga dapat diterapkan pada praktiknya. Contoh untuk memberikan gambaran mengenai prosedur dirancang untuk mengimplementasikan kebijakan tersebut, juga disajikan dalam seksi ini. Prosedur yang ditetapkan oleh kantor akuntan publik tidak harus mencakup semua contoh tersebut atau juga tidak harus dibatasi hanya pada contoh tersebut.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Penelitian studi kasus adalah penelitian dengan cara mengamati langsung secara menyeluruh pada kondisi sebenarnya dari berbagai sumber data. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan dan peningkatan mutu audit di kantor akuntan publik Payamta.
B. Subjek dan Objek Penelitian 1. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah staf auditor junior atau senior, dan manajer yang bekerja di kantor akuntan publik Payamta.
2. Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah penerapan sistem pengendalian mutu audit di kantor akuntan publik Payamta.
Penelitian ini dilakukan di kantor akuntan publik Dr. Payamta Jl. Ir. Sutami No. 25 Sekarpace, Surakarta
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai April 2016
D. Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang didapat dari hasil wawancara. Sedangkan, data sekunder berupa data yang berada di kantor akuntan publik tersebut yang digunakan secara langsung maupun tidak langsung untuk analisis data. Data sekunder berupa gambaran umum dan sejarah kantor akuntan publik, struktur organisasi, visi dan misi kantor akuntan publik.
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Wawancara
Wawancara menurut Arikunto (1996:144) merupakan dialog lisan yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari yang terwawancara. Wawancara dalam penelitian ini dilakukan dengan cara terstruktur maupun tidak terstruktur untuk memperoleh informasi yang lebih luas mengenai objek yang akan diteliti. Sumber data yang ada dalam penelitian ini diperoleh melalui wawancara terhadap informan yang terdiri atas:
a. Bapak Payamta sebagai pemilik dari kantor akuntan publik yang memiliki tugas dan wewenang dalam penerapan sistem pengendalian mutu audit di kantor akuntan publik.
tugas dan fungsi untuk menerapkan sistem pengendalian mutu di setiap audit.
Wawancara dalam penelitian ini akan membahas topik yang berhubungan dengan penerapan sistem pengendalian mutu di kantor akuntan publik dan kesesuaian sistem pengendalian yang diterapkan di kantor akuntan publik dengan standar pengendalian mutu yang ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia. Topik dalam penelitian ini menggunakan beberapa elemen yang memengaruhi sistem pengendalian mutu kantor akuntan publik yang berkaitan dengan standar pengendalian mutu yang ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia yaitu:
a. Independensi b. Penugasan Personel c. Konsultasi
d. Supervisi
e. Pemekerjaan (hiring) f. Pengembangan Profesional g. Promosi
h. Penerimaan dan Keberlanjutan Klien i. Inspeksi
2. Dokumentasi
Dokumentasi adalah suatu metode pengumpulan data yang digunakan untuk menelusuri data-data yang berada dikantor akuntan publik yang tersedia dalam bentuk gambaran umum kantor akuntan publik, struktur organisasi, dan visi misi dari kantor akuntan publik.
F. Teknik Analisis Data
Analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif. Analisis deskriptif adalah teknik analisis data yang digunakan untuk menjelaskan dan mengumpulkan data dari objek yang diteliti.
1. Teknik analisis data yang digunakan untuk menjawab rumusan masalah yang pertama dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Memilih, merangkum, dan mendeskripsikan data atau informasi yang telah diperoleh dari informan yang kemudian difokuskan berdasarkan masalah yang akan diungkap tentang kebijakan kantor akuntan publik dalam mempertimbangkan penerapan unsur-unsur pengendalian mutu dalam setiap audit.
b. Menyajikan data tentang sistem pengendalian mutu yang dilakukan oleh kantor akuntan publik Payamta, data ini disajikan dalam bentuk uraian singkat yang dideskripsikan dalam bentuk naratif.
c. Penarikan kesimpulan berdasarkan hasil wawancara dan analisis data mengenai unsur-unsur penerapan sistem pengendalian mutu di kantor akuntan dan cara penerapan sistem pengendalian mutu oleh auditor yang bekerja di kantor akuntan publik.
2. Teknik analisis data yang digunakan untuk menjawab rumusan masalah yang kedua dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
b. Menyajikan data tentang perbandingan penerapan sistem pengendalian mutu di kantor akuntan publik Payamta dengan kajian teori yang ada ke dalam bentuk uraian singkat yang dideskripsikan dalam bentuk naratif dan tabel.
c. Penarikan kesimpulan yang dilakukan pada penelitian ini berdasarkan hasil perbandingan dan analisis data mengenai kesesuaian penerapan sistem pengendalian mutu di kantor akuntan publik Payamta dengan kajian teori yang ada. Jika ditemukan ketidaksesuaian akan di analisis dan di cari penyebab atau bagian mana yang menimbulkan tidak sesuai.
Penelitian ini menggunakan beberapa elemen yang memengaruhi sistem pengendalian mutu kantor akuntan publik yang berkaitan dengan standar pengendalian mutu yang ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia yaitu:
a. Independensi, suatu prosedur yang memberikan keyakinan memadai bahwa, pada setiap lapis organisasi, semua staf profesional mempertahankan independensi sebagaimana diatur dalam Kode Etik Profesi Akuntan Publik secara rinci, Kode Etik No. 1, Integritas, objektivitas, dan independensi, memuat contoh-contoh penerapan yang berlaku untuk akuntan publik.
proses penugasan personel, sifat dan lingkup supervisi harus dipertimbangkan. Umumnya, apabila personel yang ditugaskan semakin cakap dan berpengalaman, maka supervisi secara langsung terhadap personel tersebut, semakin tidak diperlukan.
c. Konsultasi, yang memberikan keyakinan memadai bahwa personel akan memperoleh informasi yang memadai sesuai yang dibutuhkan dari orang yang memiliki tingkat pengetahuan, kompetensi, dan pertimbangan yang memadai. Sifat konsultasi akan tergantung atas beberapa faktor, antara lain ukuran kantor akuntan publik dan tingkat pengetahuan, kompetensi dan pertimbangan yang dimiliki oleh staf pelaksana perikatan.
d. Supervisi, prosedur yang memberikan keyakinan memadai bahwa pelaksanaan perikatan memenuhi standar mutu yang ditetapkan oleh kantor akuntan publik. Lingkup supervisi dan review yang sesuai pada suatu kondisi tertentu, tergantung atas beberapa faktor antara lain kerumitan masalah, kualifikasi staf pelaksana perikatan, dan lingkup konsultasi yang tersedia dan telah digunakan tanggung jawab kantor akuntan publik untuk menetapkan prosedur mengenai supervisi berbeda dengan tanggung jawab staf secara individual untuk merencanakan dan melakukan supervisi secara memadai atas perikatan tertentu.
f. Pengembangan profesional, suatu prosedur yang memberikan keyakinan memadai bahwa personel memiliki pengetahuan memadai sehingga memungkinkan mereka memenuhi tanggung jawabnya. Pendidikan profesional berkelanjutan dan pelatihan merupakan wahana bagi kantor akuntan publik untuk memberikan kepada personelnya pengetahuan memadai untuk memenuhi tanggung jawab mereka dan untuk kemajuan karier mereka di kantor akuntan publik.
g. Promosi, prosedur yang memberikan keyakinan memadai bahwa semua personel terseleksi untuk promosi memiliki kualifikasi seperti disyaratkan untuk lapis tanggung jawab yang lebih tinggi. Praktik promosi personel akan berakibat terhadap mutu pekerjaan kantor akuntan publik.
h. Penerimaan dan keberlanjutan klien, memberikan keyakinan memadai bahwa perikatan dari klien akan diterima atau dilanjutkan untuk meminimumkan hubungan dengan klien yang manajemennya tidak memiliki integritas.
BAB IV
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
A. Profil dan Sejarah Kantor Akuntan Publik
Kantor akuntan publik Dr. Payamta, CPA terletak di Jalan Ir. Sutami 25, Surakarta ini berdiri sejak tahun 1999. Kantor ini didirikan oleh Dr. Payamta, SE, MSi, Ak, CA, CPA. Beliau akuntan profesional yang juga aktif sebagai akademisi dan praktisi di bidangnya. Pengalamannya sebagai auditor telah dirintis sejak awal tahun 1990-an di kantor akuntan publik Hadori cabang Surakarta dan kantor akuntan publik Djaka Surasa dan rekan. Selain sebagai auditor beliau juga konsultan dibeberapa perusahaan di Surakarta. Sebagai seorang akdemisi beliau dipercaya sebagai direktur program magister akuntansi fakultas ekonomi universitas sebelas maret (UNS), juga aktif sebagai peneliti dan dosen pada program magister manajemen, program doktor ilmu ekonomi, dan program profesi akuntansi di universitas sebelas maret (UNS).
swasta nasional, perusahaan yang bergerak diberbagai bidang industri skala kecil maupun besar, dan kantor pelayanan pajak di Indonesia.
Izin praktik akuntan publik diperoleh dari Menteri Keuangan RI Nomor: KEP. 379/KMK.17/1999 dan nomor AP: 99.1.0695, yang telah diperbarui dengan nomor AP. 0420, pada Kementrian Keuangan Republik Indonesia. Terdaftar sebagai anggota aktif pada Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) dengan nomor IAPI: 1067, Terdaftar juga sebagai Certified Public Accountant
(CPA). Kantor akuntan publik mendapatkan izin usaha dari Menteri Keuangan Nomor: KEP-338/KM.17/2000, yang diperbarui dengan surat keputusan Menteri Keuangan RI No: 111/KM.1/2010. Tercatat sebagai anggota profesional akuntan pada Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dengan nomor register akuntan 11.D9858, dan telah mendapat pengakuan akuntan profesional akuntan dengan sebutan Chartered Accountant (CA).
B. Tim Manajemen dan Staf Pendukung
Tim manajemen kantor akuntan publik Payamta terdiri dari direktur utama, office manager, dan direktur divisi. Ada dua divisi utama yaitu divisi audit dan divisi konsultasi dan SIM, Selain dua divisi utama kantor akuntan publik Payamta juga memiliki divisi lain yaitu divisi jasa training dan diklat. Daftar tim manajemen kantor akuntan publik Payamta dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 1. Daftar Staf Tetap dan Staf Pendukung Kantor Akuntan publik Payamta No
2 Vidya Ria Shintawati, SE, Ak 9 Veni Prabasita, SE, M.Si, Ak 3 Agus Widodo, SE, M.Si, Ak 10 Drs. Jaka Winarna, M. Si, Ak 4 Ahmad Ridwan, SE, M.Si, Ak 11 Taufik Arifin, SE, M.Sc, Ak 5 Mamin Suparmin, SE 12 Dr. Mulyanto, SE, M.Ek 6 Drs. Soetarman, M.Si, BKP 13 Sutaryo, SE, M.Si 7 Dr. Slamet Haryono, M.Si, Ak 14 Heru Najib, SE, Ak
Sumber : Kantor Akuntan Publik Payamta
Tabel 2. Daftar Tim Manajeman Kantor Akuntan Publik Payamta
1 Direktur Utama Dr. Payamta, SE,
M.Si,Ak,CA,CPA
2 Direktur Div. Audit Vidya Ria Shintawati, SE, Ak 3 Direktur Div. Jasa Training dan Diklat Agus Widodo, SE, M.Si, Ak 4 Direktur Div. Jasa Konsultasi dan SIM Ahmad Ridwan, SE, M.Si, Ak
5 Office Manager Mamin Suparmin, SE
C. Bidang Usaha
Kantor akuntan publik Payamta menyediakan berbagai layanan jasa dibidang audit, jasa akuntansi dan pelaporan keuangan, penyusunan sistem informasi manajemen, sistem informasi akuntansi, komputerisasi, sistem akuntansi dan perpajakan, accurate accounting system, manajemen keuangan dan perpajakan, riset bisnis yang meliputi:
1. Jasa Penyusunan Laporan Keuangan
Jasa ini dimaksudkan untuk membantu perusahaan yang tidak mempunyai sistem akuntansi atau sumber daya yang memadai dalam penyusunan laporan keuangan sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku umum. Penyusunan laporan keuangan tersebut meliputi neraca, laporan laba rugi atau penghitungan hasil usaha (koperasi), laporan arus kas, laporan perubahan ekuitas, kebijakan akuntansi yang diterapkan dan catatan atas laporan keuangan yang mendukung. Jasa ini juga diberikan untuk membantu penyusunan laporan keuangan Pemda/SKPD/unit-unit lembaga pemerintah, sekolah, badan layanan umum, rumah sakit, perguruan tinggi, dan yayasan.
2. Jasa Perancangan Sistem Informasi Akuntansi dan SIM
kantor akuntan publik Payamta meliputi sistem informasi manajemen, sistem informasi yang dikembangkan dapat berbentuk sistem informasi manual maupun sistem informasi komputer yang berbasis accurate software.
3. Jasa Pendidikan, Pelatihan, dan Pengembangan Pegawai
Jasa ini diberikan kepada perusahaan untuk pengembangan sumber daya manusia dalam bentuk pendidikan dan pelatihan terutama yang berkaitan dengan tugas-tugas di bidang akuntansi, perpajakan, informasi keuangan, internal audit. Selain jasa untuk pengembangan sumber daya manusia, kantor akuntan publik Payamta juga menyediakan bantuan jasa rekruitmen pegawai. Beberapa bidang yang diberikan dalam jasa ini diantaranya: akuntansi keuangan dasar, analisis laporan keuangan, akuntansi syariah, penganggaran sektor publik, audit kinerja perusahaan, perencanaan pajak perusahaan, dan lain sebagainya dengan estimasi anggaran biaya training atau diklat yang dapat berubah sewaktu-waktu dan terkena pajak yang berlaku di kawasan Surakarta meliputi:
Tabel 3. Estimasi Anggaran Biaya Training Atau Diklat Perincian Anggaran Biaya Pelatihan (Dalam Rupiah)
Fee Instruktur (2 hari x 8 jam x Rp 600.000) Rp 9.600,000 Pengadaan Materi ( 8 sesi x 20 orang x Rp 15.000) Rp 2.400,000 Transportasi dan Akomodasi ( 2 hari/ sesi/@ Rp 400.000) Rp 400.000 Sertifikat (20 orang x Rp 15.000) Rp 300.000
4. Jasa Appraisal Atau Penilaian Bisnis Properti
Jasa ini diberikan untuk membantu penilaian atas properti atau aset-aset pribadi atau perusahaan yang berguna untuk membantu menaksir nilai wajar atas suatu aset. Jasa ini dilakukan oleh appraisal yang independen yang terdaftar dalam Departemen Keuangan. Untuk memberikan jasa ini kantor akuntan publik Payamta sudah berafiliasi dengan KJPP Sihwiryadi dan Rekan.
5. Jasa Penyusunan Proposal Atau Studi Kelayakan Bisnis
Jasa ini dimaksudkan untuk membantu manajemen perusahaan dalam mengembangkan usaha yang telah ada atau manajemen perusahaan yang ingin mendirikan usaha baru.
6. Jasa Pemeriksaan Keuangan
Jasa ini dimaksudkan untuk membantu perusahaan, perbankan, industri, koperasi, dan lain sebagainya untuk menilai tingkat kewajaran pelaporan keuangan historis.
7. Jasa Audit Khusus
Jasa ini diberikan kantor akuntan publik kepada klien untuk melakukan penilaian apakah manajemen suatu perusahaan atau badan usaha koperasi telah berjalan secara efektif dan efisien. Jasa ini juga sering disebut sebagai audit atas kinerja perusahaan.
8. Jasa Konsultasi Manajemen
9. Jasa Konsultasi Perpajakan
Jasa ini dimaksudkan untuk membantu pengelolaan badan usaha dalam kaitannya dengan perhitungan pajak yang harus dibayar serta pengisian SPT tahunan, komputerisasi jasa perpajakan khususnya PPN dan PPh badan.
D. Visi dan Misi Kantor Akuntan Publik Payamta 1. Visi
Menjadi kantor akuntan publik yang amanah dan profesional. 2. Misi
Memberikan jasa audit dan jasa-jasa lain dibidang akuntansi dan manajemen terkait dengan tujuan untuk membantu klien meningkatkan pengelolaan dan kinerja perusahaan yang telah akuntabel, transparan, jujur, dan bertanggung jawab berlandaskan pada sifat-sifat profesionalisme, saling menghormati, dan setia kepada komitmen.
E. Rekanan
Kantor akuntan publik Payamta memiliki jaringan dan rekanan yang luas untuk membantu dalam memberikan pelayanan kepada klien yaitu:
1. Bank Indonesia.
2. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia.
3. Bank-Bank Pemerintah dan Bank Swasta (Bank BNI, BCA, dan BRI) 4. Terdaftar sebagai auditor dana kampanye di IAPI.
5. PPA fakultas ekonomi Universitas Sebelas Maret (UNS). 6. Program Magister Akuntansi FE UNS.
7. KJPP Sihwiryadi dan Rekan. 8. KKP Sutarman, M. Si, BPK. 9. Kantor-Kantor Pelayan Pajak.
BAB V
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Wawancara
1. Kualifikasi apa saja yang dimiliki auditor yang bekerja di kantor akuntan publik Payamta?
a. Responden A: minimal pendidikan S1 akuntansi, memiliki keahlian yang cukup sebagai auditor.
b. Responden B: pengalaman kerja 3 tahun, memiliki pelatihan teknis yang cukup sebagai auditor, memiliki independen disetiap mental. c. Responden C: minimal pendidikan S1 akuntansi, pengalaman kerja 3
tahun, memiliki independen dalam setiap mental.
d. Responden D: menggunakan keahlian profesionalnya dengan cermat dan seksama sebagai auditor, memiliki keahlian dan pelatihan teknis. e. Responden E: memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang cukup
sebagai auditor, memiliki sikap independen dalam setiap mental, menggunakan keahlian profesionalnya dengan cermat dan seksama. f. Rangkuman: Kualifikasi auditor yang bekerja di kantor akuntan publik
mental, memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang cukup sebagai auditor, dan menggunakan keahlian profesionalnya dengan cermat dan seksama sebagai seorang auditor.
2. Mengapa semua auditor pada setiap tingkat organisasi diwajibkan untuk mematuhi ketentuan independensi yang diatur oleh IAPI?
a. Responden A: auditor dituntut mematuhi independensi yang diatur oleh IAPI karena itu berkaitan dengan kode etik.
b. Responden B: saya mematuhi kode etik profesi akuntan publik yang mengatur mengenai integritas, objektivitas,dan kompetensi.
c. Responden C: karena hal tersebut terkait dengan kode etik profesi akuntan publik.
d. Responden D: saat memberikan jasa audit sebagai auditor saya dituntut untuk menjalankan kode etik profesi akuntan publik dan aturan etika profesi.
e. Responden E: kami dalam memberikan jasa profesional selalu mengikuti prinsip dasar dan aturan etika profesi yang ditetapkan oleh kode etik profesi akuntan publik.
f. Rangkuman: Auditor pada setiap tingkat organisasi diwajibkan untuk mematuhi ketentuan tentang independensi yang diatur oleh IAPI karena setiap memberikan jasa profesionalnya ataupun jasa audit mereka dituntut mematuhi kode etik profesi akuntan publik yang menetapkan prinsip dasar dan aturan etika profesi mengenai integritas, objektivitas, dan kompetensi.
a. Responden A: memakai pakaian yang rapi dan sopan , dan berupaya meningkatkan kemampuan independensi.
b. Responden B: auditor harus memiliki kecakapan (due care) dengan kecakapan ini diharapkan auditor melaksanakan tanggung jawab profesional dengan kecakapan dan ketekunan. Hal ini memperlihatkan dalam memberikan pelayanan yang profesional untuk mendapatkan kemampuan auditor yang memperhatikan kepentingan utama dari setiap pelayanan/ jasa yang diadakan dan konsisten dengan tanggung jawab profesi bagi masyarakat.
c. Responden C: semua auditor harus tekun dalam melaksanakan tanggung jawabnya terhadap klien, pekerjaan, dan masyarakat. Ketekunan membuat pelayanan yang tepat dan teliti secara keseluruhan dan memperhatikan standar profesi yang dapat dipakai dan etika.
e. Responden E: memiliki kecakapan profesional yang meminta auditor untuk merencanakan dan mengawasi dengan cukup aktivitas profesional untuk pertanggung jawaban mereka, dan memakai pakaian rapi dan sopan pada setiap penugasan dan bertemu klien.
f. Rangkuman: Auditor mempertahankan sikap independensi dilakukan dengan cara : auditor harus memperhatikan standar teknik profesi dan etika, berpakaian rapi dan sopan setiap penugasan dan bertemu klien, auditor harus berupaya terus meningkatkan kemampuan independensi, memiliki kecakapan, ketekunan, kecakapan profesional, dan kemampuan atau kompetisi yang didapat dari pendidikan dan pengalaman.
4. Bagaimana cara kantor akuntan publik membuat perencanaan dalam setiap penugasan?
a. Responden A: perencanaan audit dimulai dengan tahapan pendahuluan perencanaan, pemahaman bisnis klien, pemahaman proses akuntansi, pemahaman struktur PI, penetapan risiko, analisis awal, tentukan tingkat materialitas, program audit, risk assessment atas akun, dan
fraud discussion dengan manajemen.
b. Responden B: tahapan pendahuluan perencanaan, pemahaman bisnis klien, pemahaman proses akuntansi, pemahaman struktur PI, penetapan risiko, analisis awal, tentukan tingkat materialitas, program audit, risk assessment atas akun, dan fraud discussion dengan manajemen.
d. Responden D: pendahuluan perencanaan, pemahaman bisnis klien, pemahaman proses akuntansi, pemahaman struktur PI, penetapan risiko, analisis awal, tentukan tingkat materialitas, program audit, risk assessment atas akun, dan fraud discussion dengan manajemen.
e. Responden E: perencanaan audit setiap penugasan ditetapkan sesuai prosedur yang telah ditentukan yaitu: pendahuluan perencanaan, pemahaman bisnis klien, pemahaman proses akuntansi, pemahaman struktur PI, penetapan risiko, analisis awal, tentukan tingkat materialitas, program audit, risk assessment atas akun, dan fraud discussion dengan manajemen.
f. Rangkuman: Perencanaan audit yang dibuat kantor akuntan publik payamta di setiap penugasan mengikuti prosedur yang telah ditetapkan yaitu: pendahuluan perencanaan, pemahaman bisnis klien, pemahaman proses akuntansi, pemahaman struktur PI, penetapan risiko, analisis awal, tentukan tingkat materialitas, program audit, risk assessment atas akun, dan fraud discussion dengan manajemen.
5. Bagaimana cara kantor akuntan publik membentuk tim penugasan yang bertanggung jawab dalam penugasan?
a. Responden A: memilih tim penugasan yang terdiri dari partner, manajer, staf asisten atau auditor.
c. Responden C: tim penugasan biasanya terdiri dari partner, satu/ lebih manajer, dan auditor
d. Responden D: menentukan tim audit terdiri dari seorang partner yang bertanggung jawab terhadap penyelesaian perikatan audit, satu atau lebih manajer yang bertugas mengkoordinasi dan mengawasi, dan staf asisten atau auditor yang melaksanakan berbagai prosedur audit. e. Responden E: membentuk tim untuk melaksanakan penugasan
biasanya tim tersebut terdiri dari 3 bagian yaitu partner, manajer, dan auditor yang mempunyai tugas berbeda.
f. Rangkuman: Kantor akuntan publik Payamta membentuk tim audit yang bertanggung jawab dalam penugasan terdiri dari: seorang partner yang bertanggung jawab terhadap penyelesaian keseluruhan perikatan audit, satu atau lebih manajer yang akan mengkoordinasi dan mengawasi pelaksanaan program audit, dan staf asisten atau auditor yang melaksanakan berbagai prosedur audit yang diperlukan dalam pelaksanaan program audit.
6. Bagaimana cara kantor akuntan publik dalam menetapkan fee atas jasa auditnya?
a. Responden A: setahu saya fee audit ditetapkan oleh bapak Payamta. b. Responden B: mengenai berapa jumlah fee atas jasa yang sudah
diberikan itu merupakan otorisasi bapak Payamta.
c. Responden C: fee audit mengacu surat keputusan yang dikeluarkan oleh IAPI
e. Responden E: penetapan fee audit mengacu pada surat keputusan No. KEP.024/IAPI/VII/2008.
f. Rangkuman: Penetapan fee atas jasa audit yang diberikan kepada perusahaan atau klien merupakan otorisasi dari bapak Payamta selaku pemilik kantor akuntan publik dan mengacu pada surat keputusan No. KEP.024/IAPI/VII/2008 tentang kebijakan penentuan fee audit yang diterbitkan oleh ketua umum Institut Akuntan Publik Indonesia.
7. Mengapa auditor harus berkonsultasi dengan pihak berwenang mengenai masalah yang komplek dan tidak biasa?
a. Responden A: konsultasi ada 2 cara yaitu mengidentifikasi kondisi khusus dan risiko luar biasa, dan mengevaluasi kemungkinan ketersediaan laporan keuangan calon klien yang diaudit. Dengan cara ini auditor dapat mempertimbangkan untuk menerima atau menolak perikatan.
b. Responden B: untuk mendapatkan informasi mengenai calon kliennya. c. Responden C: agar auditor dapat mengevaluasi ketersediaan laporan
keuangan calon klien dan mempertimbangkan perikatan audit. d. Responden D: mendapatkan informasi mengenai kondisi kliennya. e. Responden E: mendapatkan informasi mengenai calon kliennya
f. Rangkuman: Auditor harus berkonsultasi dengan pihak berwenang mengenai kondisi khusus atau komplek karena auditor akan mendapatkan informasi mengenai calon kliennya yang dapat digunakan untuk mempertimbangkan perikatan dan auditor dapat mengevaluasi ketersediaan laporan keuangan calon klien diaudit. 8. Bagaimana cara penyelesaian perbedaan pendapat antara auditor dengan
spesialis.?
a. Responden A: berbicara atau berdiskusi.
b. Responden B: mengemukakan pendapat masing-masing apakah sudah sesuai dengan kriteria-kriteria tertentu selama proses audit.
c. Responden C: diskusi
d. Responden D: mendiskusikan pendapat masing-masing kemudian disesuaikan dengan temuan-temuan selama proses audit
e. Responden E: untuk penyelesaian perbedaan pendapat biasanya dilakukan dengan diskusi dan mengemukakan pendapat masing-masing.
f. Rangkuman: Penyelesaian pendapat dengan spesialis dilakukan auditor dengan cara berdiskusi mengenai masing-masing pendapat yang dikemukakan sudah sesuai dengan kriteria atau temuan tertentu yang ditemukan selama proses audit.
9. Bagaimana cara auditor mendokumentasikan tentang hasil konsultasi mengenai masalah atau situasi khusus yang mengharuskan adanya konsultasi?
a. Responden A: dokumentasi hasil konsultasi masalah khusus dilakukan dengan cara pengarsipan.
c. Responden C: pengarsipan terutama masalah eveluasi integritas manajemen yang kami lakukan untuk mendapat keyakinan bahwa manajemen klien dapat dipercaya dan laporan keuangan yang diaudit bebas dari salah saji material.
d. Responden D: arsip mengenai evaluasi integritas manajemen yang dilakukan dengan review terhadap pengelaman auditor dimasa lalu dalam berhubungan dengan klien yang bersangkutan missal lancar atau tidaknya proses audit dulu, apakah ada kendala dalam proses audit. e. Responden E: meminta keterangan pihak ketiga bisa berupa penasihat
hukum, bank, dan pihak lain dalam masyarakat keuangan dan bisnis yang mempunyai hubungan bisnis dengan calon klien.
hukum, pejabat bank, dan pihak lain dalam masyarakat keuangan dan bisnis yang mempunyai hubungan bisnis dengan calon klien.
10. Apa ada prosedur yang dibuat mengenai supervisi? a. Responden A: ada
b. Responden B: ada prosedur supervisi
c. Responden C: ada prosedur yang dibuat untuk supervisi itu d. Responden D: ada
e. Responden E: ada
f. Rangkuman: Kantor akuntan publik Payamta membuat prosedur untuk supervisi.
11. Bagaimana prosedur untuk perencanaan perikatan?
a. Responden A,B,C,D,E: prosedur perencanaan perikatan terdiri dari identifikasi calon klien, analisis kondisi bisnis klien, dan ditentukan diterima atau tidaknya perikatan.
b. Rangkuman: Prosedur perencanaan perikatan kantor akuntan publik Payamta terdiri dari identifikasi calon klien, analisis kondisi bisnis klien, dan ditentukan diterima atau tidaknya perikatan.
12. Bagaimana kantor akuntan publik mempertahankan standar mutu untuk kegiatan auditnya?
a. Responden A: jaga kualitas audit dan integritas auditor
b. Responden B: menjaga kepercayaan dari klien dan menjaga kualitas audit
c. Responden C: menjaga kualitas auditnya, menjaga integritas auditor dan kepercayaan dari klien.
d. Responden D: menjaga integritas kami selaku auditor dan kepercayaan dari klien.
e. Responden E: semua auditor harus menjaga kualitas auditnya, integritasnya dan kepercayaan dari klien.
13. Prosedur apa saja yang dilakukan untuk mereview kertas kerja dan laporan perikatan?
a. Responden A,B,C,D,E: untuk mereview kertas kerja dan laporan perikatan dilakukan melalui supervisi oleh senior.
b. Rangkuman: Kantor akuntan publik Payamta mereview kertas kerja dan laporan perikatan dilakukan melalui supervisi oleh senior.
14. Apa kualifikasi yang harus dimiliki auditor jika akan bekerja di kantor akuntan publik Payamta?
a. Responden A: kualifikasi bagi calon karyawan dibagi menjadi 2 yaitu untuk supervisor dan auditor atau ketua tim audit. Supervisor harus mempunyai pengalaman sebagai ketua tim audit atau auditor selama 5 tahun. Sedangkan, untuk posisi ketua tim audit atau auditor pengalaman kerja sebagai staf asisten selama 3 tahun.
b. Responden B: kualifikasi lainnya untuk menjadi supervisor dan auditor atau ketua tim yaitu mempunyai pengetahuan teknis yang cukup minimal S1 untuk supervisor dan D3/S1 untuk posisi auditor/ ketua tim audit.
c. Responden C: untuk menjadi seorang auditor atau supervisor harus mempunyai kemampuan analitis dan judgemental dan mempunyai kemahiran memimpin dan melatih serta komunikasi.
d. Responden D: mempunyai kemampuan dalam menjaga hubungan dengan klien dan mempunyai sikap mental pribadi dan profesional (karakter, intelegensi, motivasi, dan pertimbangan)
f. Rangkuman: Kantor akuntan publik Payamta memiliki kualifikasi untuk auditor yang akan bekerja. Kualifikasi ini dibagi menjadi 2 yaitu: kualifikasi untuk supervisor dan kualifikasi untuk ketua tim audit atau auditor. Kualifikasi untuk supervisor yaitu: mempunyai pengetahuan teknis yang cukup, minimal S1 Akuntansi, mempunyai pengalaman kerja sebagai ketua tim atau auditor minimal 5 tahun, mempunyai kemampuan analitis dan judgemental, mempunyai kemahiran memimpin dan melatih serta berkomunikasi, mempunyai kemampuan dalam menjaga hubungan dengan klien, dan mempunyai sikap mental pribadi dan profesional (karakter, intelegensi, motivasi, dan pertimbangan). Kualifikasi untuk ketua tim audit atau auditor yang akan bekerja di kantor akuntan publik Payamta yaitu: mempunyai pengetahuan teknis yang cukup, minimal S1 atau D3 Akuntansi, mempunyai pengalaman kerja asisten audit minimal 3 tahun, mempunyai kemampuan analitis dan judgemental, mempunyai kemahiran memimpin dan melatih serta berkomunikasi, mempunyai kemampuan dalam menjaga hubungan dengan klien, dan mempunyai sikap mental pribadi dan profesional (karakter, intelegensi, motivasi, dan pertimbangan).
15. Program atau pelatihan apa saja yang dirancang kantor akuntan publik untuk memperoleh auditor berkemampuan?
a. Responden A: pelatihan audit b. Responden B: perpajakan
f. Rangkuman: Pelatihan yang dirancang untuk mendapatkan auditor berkemampuan adalah pelatihan audit, perpajakan, dan audit intern.
16. Bagaimana kantor akuntan publik menginformasikan kepada pelamar dan auditor baru mengenai semua kebijakan dan prosedur yang ditetapkan oleh kantor akuntan publik?
a. Responden A,B,C,D,E: pada saat interview atau wawancara.
b. Rangkuman: Auditor baru dan pelamar memperoleh informasi mengenai kebijakan dan prosedur yang ditetapkan pada saat interview
atau wawancara.
17. Bagaimana kantor akuntan publik Payamta dalam menentukan dan memilih staff?
a. Responden A,B,C,D,E: staff ditentukan melalui program seleksi tertulis dan wawancara.
b. Rangkuman: Kantor akuntan publik Payamta dalam menentukan dan memilih staff melalui program seleksi tertulis dan wawancara.
18. Program apa saja yang dibutuhkan auditor dalam mengembangkan profesionalitas selama bekerja dikantor akuntan publik?
a. Responden A,B: program pelatihan audit dan perpajakan yang paling penting untuk meningkatkan kemampuan
b. Responden C: program pelatihan sistem informasi dan perpajakan c. Responden D: audit dan accurate accounting system.
d. Responden E: perpajakan dan audit
19. Bagaimana cara kantor akuntan publik dalam mengembangkan profesionalitas bagi auditor yang bekerja di kantor akuntan publik tersebut?
a. Responden A,B,C,D,E: lewat seminar dan pelatihan atau training b. Rangkuman: Auditor yang bekerja diberi pelatihan dan seminar untuk
mengembangkan profesionalitasnya.
20. Pelatihan apa saja yang dilakukan di tempat kerja (on the job training) selama pelaksanaan perikatan?
a. Responden A,B,C,D,E: pelatihan mengenai cara mengevaluasi integritas manajemen klien dan membuat surat perikatan audit.
b. Rangkuman: On the job training yang dilakukan selama pelaksanaan perikatan adalah membuat surat perikatan dan pelatihan mengenai cara mengevaluasi integritas manajemen klien.
21. Bagaimana cara kantor akuntan memberikan informasi terkini dalam standar professional bagi auditor untuk terlibat dalam aktivitas pengembangan diri?
a. Responden A,B,C,D,E: mengikuti seminar dan membaca buku.
b. Rangkuman: Kantor akuntan memberikan informasi terkini dengan cara mengikuti seminar dan membaca buku.
22. Kriteria apa saja yang dibutuhkan auditor dalam mengembangkan karirnya selama bekerja dikantor akuntan publik?
a. Responden A: memiliki pengetahuan teknis yang cukup dan mempunyai kemampuan analitis dan judgement.
b. Responden B: jenjang pendidikan minimal S1 akuntansi, mempunyai pengalaman audit, dan memiliki pengetahuan yang cukup
c. Responden C: mempunyai kemampuan analitis dan judgement, mempunyai pengalaman, dan mempunyai kemahiran memimpin
e. Responden E: jenjang minimal S1 akuntansi, mempunyai pengalaman, mempunyai kemampuan analitis dan pengetahuan teknis yang cukup, dan memiliki kemampuan judgement.
f. Rangkuman: Kriteria yang dibutuhkan auditor untuk mengembangkan karirnya adalah : jenjang pendidikan minimal S1 akuntansi, mempunyai pengalaman audit, memiliki pengetahuan teknis yang cukup, memiliki kemampuan analitis dan judgement, dapat menjaga hubungan dengan klien, dan mempunyai kemahiran memimpin.
23. Apa ada batasan yang dibuat kantor akuntan publik Payamta mengenai pengembangan karir auditornya?
a. Responden A,B,C,D,E: tidak ada batasan yang dibuat
b. Rangkuman: Kantor akuntan publik Payamta tidak membuat batasan untuk pengembangan karir auditornya.
24. Bagaimana kantor akuntan publik mengevaluasi kinerja auditornya dan secara periodik memberitahu auditor tersebut untuk kemajuan auditor? a. Responden A,B,C,D,E: kantor akuntan publik Payamta dalam
mengevaluasi kinerja auditornya secara periodik dilihat dari pengalaman selama masa kerja.
b. Rangkuman: Cara mengevaluasi kinerja auditornya dilihat dari pengalaman selama masa kerja auditornya.
25. Apa pertimbangan kantor akuntan publik dalam menerima klien?
keuangan calon klien, review informasi manajemen calon klien atau pihak ketiga, komunikasi dengan auditor pendahulu, pertimbangan keadaan yang mungkin kantor akuntan publik memerlukan perhatian khusus atau risiko yang tidak wajar, dan evaluasi independensi dan komunitas dan kemampuan kantor akuntan publik untuk menyediakan jasa bagi calon klien seperti kebutuhan dan keahlian khusus.
b. Rangkuman: Pertimbangan kantor akuntan publik dalam menerima klien adalah setiap calon klien harus dievaluasi terlebih dahulu sebelum diterima menjadi klien, meliputi: review informasi keuangan calon klien, review informasi manajemen calon klien atau pihak ketiga, komunikasi dengan auditor pendahulu, pertimbangan keadaan yang mungkin kantor akuntan publik memerlukan perhatian khusus atau risiko yang tidak wajar, dan evaluasi independensi dan komunitas dan kemampuan kantor akuntan publik untuk menyediakan jasa bagi calon klien seperti kebutuhan dan keahlian khusus.
26. Apa ada prosedur yang dibuat berkaitan dengan dengan penilaian terhadap klien?
a. Responden A: ada. b. Responden B: ada.
c. Responden C: ada berkaitan dengan integritas manajemen klien
d. Responden D: penilaian dilakukan berkaitan dengan manajemen klien, penilaian ini berguna menyakinkan auditor bahwa manajemen perusahaan dapat dipercaya.
f. Rangkuman: Prosedur penilaian dibuat untuk menilai integritas manajemen klien. Penilaian ini digunakan untuk menyakinkan auditor bahwa manajemen perusahaan dapat dipercaya dan penilaian tersebut diigunakan untuk bahan pertimbangan menerima atau menolak perikatan.
27. Bagaimana kantor akuntan publik menentukan keberlanjutannya dengan klien?
a. Responden A,B,C,D,E: untuk menentukan keberlanjutannya dengan klien dilakukan dengan cara mengikuti prosedur pra perikatan yang telah disepakati.
b. Rangkuman: Keberlanjutan hubungan dengan klien ditentukan dengan mengikuti prosedur pra perikatan yang telah disepakati.
28. Apa ada rancangan yang dibuat mengenai inspeksi?
a. Responden A,B,C,D,E: ada rancangan yang dibuat mengenai inspeksi. b. Rangkuman: Kantor akuntan publik Payamta memiliki rancangan
mengenai inspeksi.
29. Jenis prosedur inspeksi apa yang ditetapkan oleh kantor akuntan publik Payamta?
a. Responden A,B,C,D,E: wewenang supervisor
b. Rangkuman: Jenis prosedur inspeksi merupakan wewenang supervisor. 30. Bagaimana kantor akuntan menetapkan isi dan batas lingkup program
inspeksi?
a. Jawaban untuk pertanyaan no 30 dan 31 merupakan tahapan dari prosedur inspeksi secara keseluruhan. Jawaban dari responden A,B,C,D,E yaitu:
guna memperoleh hasil inpeksi yang optimal. Beberapa tahapan yang harus diikuti yaitu:
1) Persiapan
Persiapan memadai sebelum dimulainya suatu inspeksi akan menghasilkan hasil inspeksi yang memuaskan. Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan adalah:
a) Memulai dengan sikap yang positif. Tidak membuat inspeksi seolah mencari-cari kesalahan.
b) Mengetahui apa yang akan dicapai. c) Mempersiapkan daftar periksa (checklist). d) Mempersiapkan peralatan yang diperlukan. 2) Inspeksi
Pada tahap ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu: a) Menggunakan rencana awal yang telah ditentukan.
b) Menggunakan daftar periksa (checklist). c) Menekankan segi positif.
d) Mengambil tindakan perbaikan sementara sebelum perbaikan permanen dilakukan.
e) Mengklasifikasi risiko.
3) Mengembalikan langkah perbaikan
mampu mengurangi peluang dan besarnya kerugian apabila kecelakaan yang auditor duga benar-benar terjadi.
4) Tindak lanjut perbaikan
Rekomendasi yang dibuat jika tidak diikuti tindak lanjut tidak akan memberikan bobot terhadap inspeksi. Oleh karena itu, kantor akuntan publik perlu memeriksa sistem formal yang berpola dan mampu memonitor pelaksanaan rekomendasi. Rekomendasi hendaknya memuat siapa petugas yang bertanggung jawab melakukan tindakan koreksi dan tetapkan target penyelesaiannya. Rekomendasi-rekomendasi yang tidak disetujui atau karena suatu hal tidak dapat dilaksanakan hendaknya dijelaskan secara teknis tertulis. Karena hal ini perlu didiskusikan dengan ketua tim yang bersangkutan sebagai tindak lanjut rekomendasi yaitu:
a) Mengeluarkan perintah kerja.
b) Membuat anggaran dan memantau pengadaan bahan dan biaya perbaikan.
c) Memastikan ketepatan waktu penyelesaian perbaikan.
d) Memeriksa rencana dan jadwal kerja, ikuti jalannya proses konstruksi atau modifikasi.
e) Memeriksa dan memastikan bahwa pekerjaan perbaikan telah selesai dilakukan secara memadai (sesuai waktu yang ditentukan). Misalnya, dengan memeriksa peralatan, melakukan evaluasi pelatihan yang diperlukan, atau menelaah prosedur yang ada.
f) Menelaah kembali secara keseluruhan untuk menentukan efektifitas tindakan perbaikan, kendala atau kemungkinan timbulnya efek samping.
Laporan inspeksi merupakan bagian penting karena laporan ini dapat membantu membuat keputusan yang lebih baik pada peralatan, material, dan orang-orang yang dibutuhkan dalam semua unsur-unsur program. Seperti: pelatihan, salinan laporan yang dibagi-bagikan, dan informasi. Laporan ini dibuat secara tertulis agar auditor dapat melihat lebih baik mengenai penggolongan risiko, informasi tentang kondisi-kondisi dan praktek yang dibawah standar. Laporan tertulis mendorong auditor untuk ingat apa yang harus mereka lakukan. Laporan mendokumentasikan semua tindakan sehingga tidak terulang lagi. Tindakan korektif yang tidak teratur sering menimbulkan konflik dan pemborosan.
B. Deskripsi Sistem Pengendalian Mutu di Kantor Akuntan Publik Payamta yang berkaitan dengan Standar Pengendalian Mutu IAPI.
1. Mendeskripsikan Sikap Independensi
Auditor yang bekerja di kantor akuntan publik Payamta harus memiliki pendidikan minimal S1 dan memiliki pengalaman kerja minimal 3 tahun. Selain itu, auditor yang bekerja juga dituntut untuk memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang cukup sebagai seorang auditor, juga harus memiliki sikap independen dalam setiap mental disamping itu auditor yang bekerja dituntut untuk menggunakan keahlian profesional dengan cermat dan seksama sebagai seorang auditor.
prinsip-prinsip dasar etika profesi yaitu: integritas, objektivitas, dan kompetensi. Selain itu, terdapat juga sikap kecermatan dan kehati-hatian profesional, prinsip kerahasiaan, dan perilaku profesional. Bagian B menjelaskan mengenai konsep ancaman dan pencegahan serta memberikan pedoman mengenai aturan etika berbagai situasi yang mencakup benturan kepentingan, penunjukan praktisi atau KAP, pendapat kedua, imbalan jasa profesional dan bentuk remunerasi lainnya, pemasaran jasa profesional, penerimaan hadiah atau bentuk keramah tamahan lainnya, penyimpanan aset milik klien, objektivitas dalam semua jasa profesional, dan independensi dalam perikatan assurance. Kode etik inilah yang menjadi alasan auditor harus mematuhi ketentuan independensi yang diatur IAPI. Auditor dalam mempertahankan sikap independensi dilakukan dengan cara auditor harus memperhatikan penampilan dengan berpakaian rapi dan sopan saat bekerja, memperhatikan standar teknik profesi dan etika, dan berupaya terus untuk meningkatkan kemampuan independensi meliputi: a. Kecakapan (due care), diharapkan anggota melaksanakan tanggung
jawab profesional dengan ketekunan dan kecakapan. Hal ini memperlihatkan suatu kewajiban dalam pengadaan dan pelayanan yang profesional untuk mendapatkan kemampuan anggota yang memperhatikan kepentingan utama dari pelayanan atau jasa yang diadakan dan konsisten dengan tanggung jawab profesi bagi masyarakat.
mengharapkan suatu komitmen untuk mempelajari dan meningkatkan kemampuan profesional yang merupakan tanggung jawab anggota. Dalam semua penugasan dan tanggung jawab setiap anggota harus berusaha mencapai tingkat kemampuan yang menjamin bahwa kualitas pelayanan anggota telah sesuai dengan tingkat professional yang dituntut oleh standar profesi. Setiap anggota bertanggung jawab menilai kemampuan mereka, mengevaluasi apakah pendidikan, pengalaman, dan pertimbangannya cukup untuk suatu bentuk tanggung jawab yang dimaksudkan.
c. Semua anggota harus tekun dalam melaksanakan tanggung jawab terhadap klien. Ketekunan membuat suatu pelayanan yang tepat dan teliti secara keseluruhan dan memperhatikan standar profesi yang dapat dipakai dan etika.
d. Kecakapan profesional meminta auditor merencanakan dan mengawasi dengan cukup aktivitas profesional untuk pertanggung jawaban mereka.
2. Penugasan Personel
Perencanaan audit merupakan suatu tahapan terperinci yang menyangkut prosedur dan rencana auditor yang akan digunakan dalam pelaksanaan suatu audit. Dalam mengaudit laporan keuangan auditor harus benar-benar merencanakan audit agar efektif dan efisien.
membuat program audit, risk assessment atas akun, dan fraud discussion
dengan manajemen.
Tahap selanjutnya adalah tahap menentukan tim audit yang terdiri dari: a. Seorang partner yang bertanggung jawab terhadap penyelesaian
keseluruhan perikatan audit.
b. Satu atau lebih manajer yang bertugas mengkoordinasi dan mengawasi pelaksanaan program audit.
c. Staf asisten yang bertugas melaksanakan berbagai prosedur audit yang diperlukan dalam pelaksanaan program audit.
Penetapan fee atas jasa audit yang dilakukan kantor akuntan publik Payamta merupakan otorisasi dan wewenang Bapak Payamta dan mengacu pada Surat Keputusan No. KEP.024/IAPI/VII/2008 tentang Kebijakan Penentuan Fee Audit yang diterbitkan oleh ketua umum Institut Akuntan Publik Indonesia.
3. Konsultasi
ketersediaan catatan akuntansi penting (jurnal, buku besar, buku besar pembantu, ketersediaan dokumen pendukung transaksi yang dicatat dalam catatan akuntansi, memadainya pengendalian internal yang diterapkan dalam perusahaan calon klien).
Auditor dalam menyelesaikan perbedaan pendapat dengan para spesialis dilakukan dengan cara berdiskusi tentang masing-masing pendapat yang dikemukakan sudah sesuai dengan kriteria tertentu yang ditemukan selama proses audit.
Auditor mendokumentasikan tentang hasil konsultasi mengenai masalah atau situasi khusus yang mengharuskan adanya konsultasi dengan cara membuat arsip tentang evaluasi terhadap integritas manajemen. Evaluasi ini bertujuan agar auditor mendapatkan keyakinan bahwa manajemen perusahaan klien dapat dipercaya. Sehingga, laporan keuangan yang diaudit bebas dari salah saji material. Hal ini dilakukan dengan cara: a. Komunikasi dengan auditor pendahulu dengan cara meminta
keterangan kepada auditor pendahulu mengenai masalah-masalah yang spesifik terkait dengan hasil audit.
b. Melakukan review terhadap pengalaman auditor di masa lalu dalam berhubungan dengan klien yang bersangkutan, misal: lancar atau tidaknya proses audit dulu, apakah ada kendala dalam proses audit. c. Meminta keterangan kepada pihak ketiga. Bisa berupa penasihat
hukum, pejabat bank, dan pihak lain dalam masyarakat keuangan dan bisnis yang mempunyai hubungan bisnis dengan calon klien.