• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Hukum Haji Berkali kali dan Impl

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Makalah Hukum Haji Berkali kali dan Impl"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan kenikmatan kepada penulis khususnya umumnya untuk kita semua, karena berkat hidayah dan inayah-Nya penulis bisa menyelesaikan makalah ini, shalawat beserta salam marilah kita curahkan kepada junjungan kita yakni nabi Muhammad SAW.

Penulis ucapkan terima kasih kepada Dosen yang telah membimbing penulis di dalam penyusunan makalah ini, namun penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, oleh karena itu saran dan kritik yang membangun penulis harapkan demi perbaikan dan kebaikan.

(2)

BAB I PENDAHULUAN

A. Pengertian

Kata Haji berasal dari bahasa arab dan mempunyai arti secara bahasa dan istilah. Dari segi bahasa haji berarti menyengaja, dari segi syar’i haji berarti menyengaja mengunjungi Ka’bah untuk mengerjakan ibadah yang meliputi thawaf, sa’i, wuquf dan ibadah-ibadah lainnya untuk memenuhi perintah Allah SWT dan mengharap keridlaan-Nya dalam masa yang tertentu.

B. Hukum Ibadah Haji

Mengenai hukum Hukum Ibadah Haji asal hukumnya adalah wajib ‘ain bagi yang mampu. Melaksanakan haji wajib, yaitu karena memenuhi rukun Islam dan apabila kita “nazar” yaitu seorang yang bernazar untuk haji, maka wajib melaksanakannya, kemudian untuk haji sunat, yaitu dikerjakan pada kesempatan selanjutnya, setelah pernah menunaikan haji wajib.

Haji merupakan rukun Islam yang ke lima, diwajibkan kepada setiap muslim yang mampu untuk mengerjakan. jumhur Ulama sepakat bahwa mula-mulanya disyari’atkan ibadah haji tersebut pada tahun ke enam Hijrah, tetapi ada juga yang mengatakan tahun ke sembilan hijrah.

C. Dalil / Perintah Tentang Ibadah Haji

Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an 1 Surat Ali Imran ayat 97, yaitu yang artinya : “Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim[215]; Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah[216]. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”. (QS. Ali Imran : 97).

(3)

Setiap orang hanya diwajibkan mengerjakan ibadah haji satu kali saja dalam seumur hidupnya, tetapi tidak ada larangan untuk mengerjakan lebih dari satu kali.

D. Syarat, Rukun, Wajib dan Sunat Haji

1. Syarat-syarat diwajibkannya Haji  Baligh

 Berakal  Merdeka

 Kuasa (mampu}

2. Rukun Haji

 Ihram yaitu berpakaian ihram, dan niyat ihram dan haji

o Wukuf di arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah; yakni hadirnya seseorang yang berihram untuk haji, sesudah tergelincirnya mataahari yaitu pada hari ke-9 Dzulhijjah.

o Thawaf yaitu tawaf untuk haji (tawaf ifadhah)

o Sa’i yaitu lari-lari kecil antara shafa dan marwah 7 (tujuh) kali

 Tahallul; artinya mencukur atau menggunting rambut sedikitnya 3 helai  Tertib yaitu berurutan

Untuk kepentingan ihram yaitu sesuatu yang perlu dikerjakan, tapi sahnya haji tidak tergantung atasnya, karena boleh diganti dengan dam (denda) yaitu menyembelih binatang. berikut kewajiban haji yang mesti dikerjakan :

 Ihram dari Miqat, yaitu memakai pakaian Ihram (tidak berjahit), dimulai dari tempat-tempat yang sudah ditentukan, terus menerus sampai selesainya ibadah haji.  Bermalam di Muzdalifah sesudah wukuf, pada malam tanggal 10 Dzulhijjah.

 Bermalam di Mina selama2 atau 3 malam pada hari tasyriq (tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah).

 Melempar jumrah ‘aqabah tujuh kali dengan batu pada tanggal 10 Dzulhijjah dilakukan setelah lewat tengah malam 9 Dzulhijjah dan setelah wukuf.

(4)

 Meninggalkan segala sesuatu yang diharamkan karena ihram.

 Ifrad, yaitu mendahulukan urusan haji terlebih dahulu baru mengerjakan atas ‘umrah.

 Membaca Talbiyah yaitu :“Labbaika Allahumma Labbaik Laa Syarikalaka Labbaika Innalhamda Wanni’mata Laka Walmulka Laa Syarika Laka”.

 Tawaf Qudum, yatiu tawaaf yuang dilakukan ketika permulaan datang di tanah ihram, dikerjakan sebelum wukuf di ‘Arafah.

 Shalat sunat ihram 2 raka’at sesudah selesai wukuf, utamanya dikerjakan dibelakang makam nabi Ibrahim.

(5)

BAB II PEMBAHASAN

A. Hukum Haji Berulang-ulang dan Implikasinya

Yang akan menjadi titik fokus pada makalah ini adalah tentang haji yang dilakukan berulang kali. Tidak berhenti begitu saja, namun disini juga akan dipaparkan bagaimana pergeseran hukum tersebut setelah dibenturkan dengan implikasi kehidupan sosial.

a. Hukum awal

Beberapa literatur penulis menunjukkan bahwa yang menjadi kewajiban bagi seluruh umat muslim untuk berhaji hanyalah satu kali. Selebihnya para ulama’ menyepakati hukum haji tersebut adalah sunnah. Merujuk kepada hadist berikut : Dari Ibnu Abbas r.a., ia berkata: Rasullullah saw. berkhutbah dihadapan kami, ia bersabda : “Wahai Manusia, diwajibkan atas kamu sekalian ibadah haji”. Lalu Al-aqra ’bin habis berdiri, ia bertanya: “Apakah pada setiap tahun, ya Rasullullah?”. Maka Nabi menjawab: “Kalau aku menjawabnya, tentu wajib haji setiap tahun. Dan kalau wajib setiap tahun, tentu kamu tidak mengerjakannya. Dan memang kamu tidak mampu untuk mengerjakannya. Haji itu sekali (selama hidup), maka barang siapa menambah berarti sebagai satu amalan sunat.” (HR. Ahmad)

Lalu hal ini juga bersandar kepada hadist berikut : “Barangsiapa ingin menambah atau mengulangi ibadah haji itu hukumnya sunnah”. (HR. Ahmad) b. Pergeseran Hukum setelah Hukum Awal

Setiap tahun ada sekitar 200.000 orang jamaah haji Indonesia. Biaya yang dibutuhkan tak kurang dari 30 juta rupiah perorang. Seandainya 25 persen saja dari jumlah itu kita berdayakan, maka kita akan mendapatkan angka 1 trilyun rupiah pertahun. Angka yang tidak kecil untuk menuntaskan kemiskinan umat.

Sebelum kepada pembahasan selanjutnya, alangkah lebih baiknya kita mendengar sebuah kisah inspiratif yang kemudian mempengaruhi pergeseran dari hukum awal berhaji berulang kali tersebut.

(6)

jawab yang satunya. “Lalu berapa orang yang hajinya diterima Allah?”. “Tidak seorang pun. Tapi, ada seorang lelaki bernama Muwaffaq dari Damaskus yang hajinya diterima oleh Allah. Bahkan berkat ibadahnya itu menyebabkan haji kaum Muslim diterima Allah”, jawab yang ditanya.

Begitu terbangun, Abdullah bin Mubarak mencari orang bernama Muwaffaq. Ternyata Muwaffaq adalah seorang lelaki tukang sol sepatu yang telah bertahun-tahun mengumpulkan uang untuk bekal melaksanakan haji. Suatu saat, istrinya minta dibelikan makanan. Tak sulit bagi Muwaffaq menemukan makanan yang diminta istrinya. Ketika hendak pulang, Muwaffaq tertarik dengan kepulan asap yang keluar dari dapur rumah seorang tetangganya. Setelah mengucap salam, Muwaffaq masuk ke rumah itu. Apa yang didapatinya? Seorang perempuan tua dan beberapa anak yatim sedang memasak daging keledai. Menurut perempuan tua itu, yang ia masak adalah bangkai keledai. Ia terpaksa melakukannya karena telah beberapa hari tak ada yang bisa dimakan.

Mendengar jawaban itu, Muwaffaq segera pulang menemui istrinya. Didapatinya sang istri tak bernafsu lagi dengan makanan hasil pencarian suaminya. Muwaffaq gembira dan lantas menceritakan kejadian yang baru saja dilihatnya. Akhirnya keduanya sepakat bawah tabungan mereka sejumlah 300 dirham yang semula mau digunakan sebagai bekal haji, diserahkan kepada perempuan tua yang menanggung beberapa anak yatim itu. “Aku telah menunaikan ibadah haji di depan rumahku,” ucap Muwaffaq kemudian sambil menengadahkan kedua tangannya ke langit.

Kisah tersebut menarik untuk direnungi. Dalam Islam, pahala tak bisa dinilai semata dari kuantitas, tapi juga harus memperhatikan kualitasnya. Secara kualitas, mereka yang berangkat ke Tanah Suci, melakukan thawaf, sai, wukuf di Arafah dan rangkaian ibadah haji lainnya, tentu lebih besar dibandingkan dengan orang yang “hanya” memberi makan tetangganya. Padahal, dalam kisah di atas, Muwaffaq baru pertama kali ingin berhaji. Bagaimana dengan mereka yang sudah berulang-ulang?

(7)

banyak yang mengabaikan aspek-aspek ibadah haji yang berdimensi psikis maupun etis. Ketika tiba di Tanah Suci, mereka tak mampu menjaga kesucian diri untuk tidak menzalimi orang lain ketika thawaf, mengolok-olok, dan berkata keji.

Kritik yang disampaikan al-Ghazali itu, sebenarnya sangat relevan dan signifikan bagi kondisi bangsa yang kini dihadapkan pada persoalan kemiskinan akibat krisis berkepanjangan. Lalu, mungkinkah hukum haji ulang itu bergeser dari sunnah menjadi makruh, atau bahkan haram?

Secara umum, ada beberapa alasan pengulangan pelaksanaan ibadah haji. Pertama, mengulangi haji semata-mata untuk memperbanyak amalan sunnah. Kedua, mengulangi karena haji yang pertama terasa belum sah lantaran ada beberapa syarat dan rukun yang mungkin tak sempat atau lupa dijalankan. Ketiga, mengulangi ibadah haji karena gengsi dan ikut-ikutan.

Dua kategori terakhir itulah yang relevan dengan kritik al-Ghazali pada mereka yang kemaruk melaksanakan ibadah haji. Mayoritas umat Islam Indonesia, bahkan yang hidup di tengah komunitas Muslim mancanegara, sampai detik ini masih memutlakkan wajibnya haji pertama, dan sunnah bagi yang bermaksud mengulanginya. Pandangan ini, disebabkan mayoritas umat Islam tak memiliki pengetahuan cukup memadai tentang thuruq al-istimbath al-ahkam (metode-metode pengambilan hukum), seiring ketidakberdayaan mereka dalam memahami ajaran Islam secara benar, integral, dan komprehensif. Selama ini yang diketahui masyarakat, ibadah haji hukumnya wajib dan sunnah bagi yang mengulanginya. Mereka belum pernah menemukan hukum haji yang berulang kali itu, makruh, atau bahkan haram, misalnya.

Tak heran kalau Ibrahim bin Yazid al-Nakha’i, seorang tabiin yang lahir 46 H (666 M) dan hidup pada era pemerintahan Bani Umayyah, pernah mengeluarkan sebuah fatwa, “sedekah itu lebih baik daripada haji sunnah.” Dengan demikian, mengulangi ibadah haji sesudah haji pertama hukumnya makruh.

Karena itu, pengulangan ibadah haji yang disebut oleh hadits di atas sebagai “sunnah”, bisa saja bergeser menjadi “makruh”, dan atau bahkan “haram” apabila realita bertentangan dengan maslahat (kebaikan) yang ditetapkan secara qath’i (pasti).

(8)

sunnah yang berulang. Menyerahkan dan mendayagunakan haji sunnah (haji ulang) bagi mereka yang membutuhkan, jelas merupakan maslahat yang berimplikasi positif. Ini amat relevan dan signifikan buat kondisi bangsa Indonesia yang kini secara objektif sedang dihadapkan pada persoalan kemiskinan akibat krisis berkepanjangan.

Mengingat secara kuantitatif umat Islam Indonesia mayoritas, maka problem kemiskinan merupakan urusan umat Islam itu sendiri. Karena itu, kepada kaum Muslim yang telah meraih gelar “haji” dan berkeinginan untuk melaksanakan lagi kali kedua dan seterusnya, sebaiknya berpikir. Secara kalkulasi pahala, memikirkan ulang keinginan berhaji juga bisa dijelaskan. Kalau saja kita berhaji tiga kali kemudian meninggal, maka tak ada lagi nilai tambah atau pahala bagi ibadah kita. Berbeda bila kita cukup berhaji sekali saja, lalu dana yang dua kali, didayagunakan untuk beasiswa bagi yang miskin, dan orang-orang yang kreatif serta produktif, kita akan tetap memperoleh pahala yang selalu berkesinambungan, meski kita telah terbujur kaku di liang kubur.

Memang, dalam al-Qur’an ibadah haji yang dipelopori Nabi Ibrahim, wajib hukumnya. “Serukanlah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segala penjuru yang jauh,”(QS al-Hajj: 27). Dalam ayat lain Allah menyatakan, “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Tuhan,” (QS Ali Imran: 97).

Namun sebagian besar dari kita mungkin cenderung memandang ibadah haji sebagai ritual individu, bukan ritual politik komunal. Sehingga dalam praktiknya seakan-akan suatu keimanan seseorang belum mumpuni kalau belum berhaji. Umat pun berlomba-lomba mengumpulkan uang dan habis hanya untuk biaya haji.

(9)

setiap bulir mengandung seratus biji. Allah melipat gandakan bagi siapa saja yang dikehendakinya. Allah maha luas (karunia) dan maha tahu,” (QS Al-Baqarah: 261).

c.

Pendapat Ulama’

Ada beberapa pendapat yang dalam hal ini penulis coba paparkan untuk mengkorelasikan tentang pergesaran hukum tersebut. Kesemuanya memang kemudian lebih memandang hal yang lebih maslahah dibanding dengan sebuah kesunnahan dari berhaji (lebih dari satu kali). Berikut ini pendapat-pendapat ulama’ tersebut.

1. Syekh Yusuf Qardhawi

Ketika ditanya tentang ibadah haji sunah bagi mereka yang sudah melaksanakan wajib haji, menandaskan hendaknya orang yang sudah satu kali menunaikan ibadah haji dapat menahan diri dan memberi kesempatan kepada kaum muslimin yang belum menunaikan ibadah haji wajib. Menurut Qardhawi hal itu bisa mengurangi kepadatan manusia di tanah suci dan di samping itu dana yang ada dapat dialihkan dalam bentuk sedekah sunah lainnya.

2. Syekh Abdullah bin Abdurrahman Al-jibrin

Jika mempunyai keluasan dalam harta dan memungkinkan sedekah di samping pergi haji, maka lebih utama untuk melaksanakan kedua-duanya. Tetapi jika tidak dapat melakukan kedua hal tersebut sedangkan disekitar terdapat orang-orang miskin yang sangat membutuhkan bantuan atau kegiatan-kegiatan kebaikan yang memerlukan dana, maka memberikan dana haji kepada mereka adalah lebih utama dari pada haji sunah. Tetapi jika disana tidak ada kebutuhan yang sangat perlu, maka haji lebih utama. 3. KH. Ali Mustofa Yaqub

Imam Masjid Istiqlal, KH. Ali Mustofa Yaqub dalam khutbah wukuf di Arafah, Kamis (26/11) menegaskan hakikat ibadah haji, bahwa rukun Islam kelima itu merupakan kewajiban bagi mereka yang mampu cukup sekali dilakukan sepanjang hayat sebagaimana sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

(10)

berkali-kali naik haji yang justru dapat mendorong ibadahnya menjadi makruh atau haram.

Menurutnya, Nabi Muhammad memiliki kesempatan tiga kali naik haji namun hanya dilakukan sekali, dan peluang umrah hanya dua kali dan sekali batal dari sekian ratus peluang yang dimiliki. Ternyata Nabi lebih mengutamakan menyantuni anak yatim dan para janda, karena mereka adalah korban dari gerakan jihad yang dilakukan orang tua mereka ketika Nabi melakukan gerakan perlawanan melawan para peneror dan oranng-orang yang mendhaliminya.

“Bandingkan dengan selera kaum muslimin sekarang yang apabila punya dana berlimpah, ingin beribadah haji setiap tahun, umrah tiap bulan atau tiap minggu. Tampaknya selera seperti ini sudah menggejala bagi sebagian besar umat Islam dimana saja,” kata KH. Ali Mustofa Yaqub yang saat itu meluruskan bahwa khutbah Wukuf tidak ada kaitannya dengan haji. Khutbah wukuf sifatnya hanya ceramah biasa, berbeda dengan khutbah Jum`at atau Idhul Fithri.

Melihat adanya kecendrungan ingin haji berulang-ulang, KH. Ali Mustofa Yaqub, khawatir niatnya sudah bergeseer dari ingin memenuhi rukun Islam kelima, melainkan berkait duniawi, misalnya mencari status, yang justru akan bisa merusak nilai ibadahnya. Apalagi jika rezeki yang didapat untuk ONH-BPIH diperoleh secara tidak halal. Apalagi misalnya, ONHnya dari orang lain, berupa hadiah atau difasilitasi pihak lain maka disyaratkan, pihak lain yang memberikan biaya itu benar-benar ikhlas dan rela. Bukan karena paksaan tekanan manipulasi dan sebagainya.

(11)

Mengingat secara kuantitatif umat Islam Indonesia mayoritas, maka problem kemiskinan merupakan urusan umat Islam itu sendiri. Karena itu, kepada kaum Muslim yang telah meraih gelar “haji” dan berkeinginan untuk melaksanakan lagi kali kedua dan seterusnya, sebaiknya berpikir. Secara kalkulasi pahala, memikirkan ulang keinginan berhaji juga bisa dijelaskan. Kalau saja kita berhaji tiga kali kemudian meninggal, maka tak ada lagi nilai tambah atau pahala bagi ibadah kita. Berbeda bila kita cukup berhaji sekali saja, lalu dana yang kedua kali, didayagunakan untuk beasiswa bagi yang miskin, dan orang-orang yang kretif serta produktif, kita akan tetap memperoleh pahala yang selalu berkesinambungan, meski kita telah terbujur kaku di liang kubur.

(12)

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Referensi

Dokumen terkait

SURAT KETERANGAN SELESAI PERBAIKAN SKRIPSI/TESIS REFERENCE LETTER OF SCRIPT/THESIS REVISION Yang bertanda tangan di bawah ini,.. The

Model Treffinger Dengan Pedekatan Scientific Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Dalam Pemecahan Masalah Siswa Kelas V.. Journal of

Secara singkat, faktor yang dapat menjadi daya tarik pusat kota bagi masyarakat untuk memilih tinggal di pusat kota tersebut yang dapat menyebabkan permukiman tumbuh

Önerilen malzemelerden bazıları kıvrılmış Kevlar -49 içeren PMA veya PEA gibi esnek polimerler, PHEMA içerisine heliks yapıda PET fiberlerinden oluşan malzemelerin yeterli

Beberapa kesimpulan dari penelitian ini adalah proses penetasan dengan multi- pengeraman pada Gallus domesticus dapat dilakukan sampai tiga periode pengeraman atau tiga kali

Metode Mendidik Anak Menurut Pemikiran Abdullah Nashih Ulwan (Telaah Buku Pendidikan Anak dalam Islam Pasal Metode Pendidikan yang Berpengaruh pada Anak).. Skripsi, Jurusan

Menimbang, bahwa Pengadilan Tinggi setelah memeriksa dan meneliti serta mencermati dengan seksama berkas perkara beserta turunan resmi putusan Pengadilan

Monthly MSTS Report (Laporan MSTS Bulanan) menggambarkan skor hotel secara tersendiri dari bulan sebelumnya dibandingkan dengan skor rata-rata merek dan skor rata-rata regional