Laporan Praktikum ke-2 Tanggal Mulai : 24 September 2014 MK. Evaluasi Nilai Gizi Tanggal Selesai: 08 Oktober 2014
PREPARASI SAMPEL ANALISIS KETERSEDIAAN
MINERAL SECARA IN VITRO
METODE DIALISIS
Oleh: Kelompok 3 E1
Devieka Rhama D I14120009
Dwi Astuti I14120017
Sri Lusiawati I I14120022 Wittresna Julianty I14120030 Syaara Avia B I14120148
Asisten Praktikum Hana Fitria N, M. Sc Ajeng Agustianty Putri
M Fahmi Arsyada
Koordinator Mata Kuliah Dr. Rimbawan
DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Mineral adalah senyawa alami yang terbentuk melalui proses geologis. Mineral ini biasanya terikat dengan protein, termasuk enzim untuk proses metabolisme tubuh, yaitu kalsium (Ca), klorida (Cl), sulfur (S), magnesium (Mg), besi (Fe), dan lain-lain. Mineral merupakan bagian dari unsur pembentuk tubuh yang memegang peranan penting dalam pemeliharaan fungsi tubuh, baik pada tingkat sel, jaringan, organ, maupun fungsi tubuh secara keseluruhan. Tubuh kita mengandung lebih banyak kalsium dibandingkan mineral lain. Diperkirakan 2% dari berat badan orang dewasa terdiri dari kalsium (Winarno 2002).
mengantarkannya ke seluruh bagian tubuh. Zn adalah mikro mineral yang ada di dalam jaringan tubuh manusia yang diperlukan untuk proses metabolisme. Peranan Zn dalam metabolisme kulit dan jaringan pengikat adalah dalam sintesis protein dan mungkin juga dalam replikasi sel, walaupun belum jelas mekanismenya. Total zink yang terdapat didalam tubuh adalah 1.5 hingga 2.5 gram (Gropper 2005).
Sebesar 99% dari jumlah tersebut berupa jaringan keras yaitu tulang dan gigi. Kalsium tulang berada dalam kondisi seimbang dengan kalsium plasma pada konsentrasi kurang lebih 2.25-2.60 mmol/l atau 9-10.4 mg/100 ml (Almatsier 2002). Kalsium memiliki beberapa fungsi dalam tubuh, diantaranya adalah sebagai pembentuk tulang dan gigi, mengatur pembekuan darah, sebagai katalisator reaksi biologis, dan untuk kontraksi otot (Sherrington & Gaman 1994). Mineral yang dikonsumsi tidak diserap seluruhnya oleh tubuh. Jumlah mineral yang diserap bergantung pada ada tidaknya zat penghambat dan pendorong dalam penyerapan, serta nilai bioavailabilitas dari mineral tersebut.
Bioavaibilitas menyatakan kecepatan dan jumlah obat aktif yang mencapai sirkulasi sistemik (Shargel dan Yu 2005). Bioavailabilitas dapat dianalisis dengan cara in vitro yang memiliki keuntungan lebih cepat, murah, dan mudah dikontrol. Jumlah mineral target yang terlepas dari matrix pangan dan terdapat secara bebas dalam wadah dapat dipisahkan dengan menggunakan membran dialisis dengan pori-pori yang sesuai. Dialisat yang mengandung mineral target lalu dianalisis dengan metode spektrofotometer penyerapan atom (AAS). Oleh karena itu sebagai mahasiswa ilmu gizi perlu dipelajari untuk mengetahui bioavaibilty mineral (Ca, Fe, Zn) didalam bahan pangan.
Tujuan
Praktikum kali ini bertujuan untuk menganalisis ketersediaan (bioavaibility) mineral seperti kalsium, zat besi, dan seng dari beberapa bahan pangan serta mengetahui metode yang digunakan dalam pengujian ketersediaan kalsium, zat besi, dan seng suatu bahan pangan.
TINJAUAN PUSTAKA
Mineral (Ca, Fe, dan Zn)
Mineral merupakan komponen anorganik yang terdapat dalam tubuh, seperti kalsium, besi, dan seng. Setiap mineral yang dibutuhkan tubuh memiliki fungsi yang khas. Berdasarkan kebutuhannya, mineral dibagi menjadi 2 kelompok yaitu mineral makro dan mineral mikro. Mineral makro dibutuhkan >100 mg/hari, seperti sodium, potassium, magnesium, kalsium, fosfor, sulfur, dan klorida. Sementara itu, mineral mikro dibutuhkan tubuh <100 mg/hari, seperti besi, seng, iodium, selenium, tembaga, dan mangan (Almatsier 2004).
panjang akan mengakibatkan pengeroposan dan pengapuran pada tulang, serta kerusakan pada gigi. Pangan sumber kalsium, yaitu susu, keju, ikan, udang, kacang-kacangan, dan sayuran daun hijau (Kurniawati & Yuanita 2014).
Besi (Fe) dapat ditemukan dalam hemoglobin atau pigmen respirasi, mioglobin atau protein otot bergaris, enzim-enzim heme intraseluler, metaloprotein, kromatin, dan feritin. Zat besi merupakan mineral mikro yang berfungsi sebagai alat angkut oksigen dari paru-paru menuju ke jaringan tubuh, alat pengangkut elektron didalam sel serta komponen dari berbagai enzim. Kekurangan zat besi dapat menyebabkan anemia yang ditandai dengan penurunan kadar hemoglobin. Selain itu, secara fisik tubuh penderita akan pucat, lemah, letih, pusing, kurang nafsu makan, menurunnya kebugaran, kekebalan tubuh, dan gangguan penyembuhan luka. Pangan sumber zat besi yaitu daging (Muflihah 2011).
Zinc (Zn) adalah mikro mineral penting yang terdapat pada hampir setiap sel dan terlibat dalam fungsi berbagai enzim dalam proses metabolisme (Almatsier 2004). Jumlah mineral zinc dalam tubuh kira-kira 28 mg per kg berat badan bebas lemak (Prabantini 2010). Zinc memegang peran esensial dalam banyak fungsi tubuh, yaitu sebagai enzim atau kofaktor, berperan dari berbagai aspek metabolisme (reaksi yang berkaitan dengan sintesis dan degradasi karbohidrat, protein, lipid, dan asam nukleat). Tiram mengandung paling banyak zinc dibandingkan makanan lain. Daging merah dan unggas juga merupakan pangan sumber utama zinc. Sumber makanan lain yang mengandung zinc adalah makanan laut tertentu dan produk susu olahan. Biji-bijian, padi-padian, gandum, sereal, dan kacang-kacangan terutama kacang kedelai juga merupakan sumber zinc yang baik, namun mempunyai ketersediaan biologis yang rendah (Almatsier 2004).
Bioavailabilitas Mineral
Mineral yang dikonsumsi tidak diserap seluruhnya oleh tubuh. Jumlah mineral yang diserap bergantung pada ada tidaknya zat penghambat dan pendorong dalam penyerapan, serta nilai bioavailabilitas dari mineral tersebut. Ketersediaan biologis (bioavailabilitas) dapat diartikan sebagai proporsi zat gizi yang tersedia untuk digunakan dalam proses metabolisme terhadap zat gizi yang dikonsumsi. Bioavailabilitas mineral dapat dianalisis dengan metode in vivo maupun in vitro. Akan tetapi, metode in vitro selama ini dinilai lebih menguntungkan karena cepat, praktis, dan lebih murah (Etcheverry et al. 2004).
Secara umum bioavailabilitas dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor interinsik dan eksterinsik. Faktor interinsik berkaitan dengan keadaan fisiologis individu seperti umur, jenis kelamin, kondisi kesehatan, genetik, status gizi, efisiensi absorbansi dan interaksi zat gizi dalam tubuh. Adapun faktor eksterinsik berkaitan dengan keadaan makanan seperti perlakuan pengolahan dan pemasakan, daya cerna makanan, keanekaragaman pangan, kelarutan zat gizi, interaksi sinergisme dan antagonisme dengan zat gizi lain dalam makanan yang berpengaruh pada penyerapan (Muflihah 2011).
Penentuan bioavailabilitas mineral dilakukan secara in vitro, dengan menstimulasikan kondisi gastrointestinal pada proses pencernaan, yaitu pH serta enzim yang bekerja pada fase gastric dalam lambung, dan fase intestinal dalam usus halus. Hal ini bertujuan untuk mengkondisikan keadaan pencernaan yang sebenarnya terjadi didalam tubuh. Prinsip pengukuran bioavailabilitas mineral secara in vitro merupakan teknik dialisis dengan menggunakan kantong dialisis yang disimulasikan sebagai usus halus. Dialisis merupakan proses pemurnian suatu sistem koloid dari partikel-partikel bermuatan yang menempel pada permukaan. Dialisis digunakan untuk memisahkan molekul-molekul kecil dari molekul-molekul besar.
Metode pemisahan ini didasarkan atas sifat membran semipermeabel yang meloloskan molekul-molekul kecil tetapi menahan yang besar. Molekul kecil berpindah secara difusi, dimana terdapat suatu bagian larutan yang memiiki konsentrasi lebih tinggi sehingga terjadi perpindahan molekul kecil dari daerah berkonsentrasi tinggi ke daerah berkonsentrasi rendah. Analisis ketersediaan mineral secara in vitro didasarkan atas prinsip bahwa mineral yang telah dicerna dalam sistem pencernaan oleh enzim-enzim pencernaan akan diserap melintasi dinding usus yang disimulasikan dengan kantong dialisis yang menyerupai usus rendah (Puspita & Dewi 2013). Mineral yang dapat melintasi dinding usus (kantung dialisis) direaksikan dengan senyawa pewarna dan intesitas warna yang terbentuk diukur menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang yang telah ditentukan (Palupi et al. 2007).
Fungsi Pereaksi
Penentuan kadar mineral Ca bioavalabilitasnya menggunakan bahan-bahan yang mendukung dalam analisis ini. Enzim pepsin yang digunakan berperan memecah protein menjadi proteosa dan pepton. Enzim pepsin akan mendestruksi protein dalam sampel (Del valle 1981). Sedangkan enzim lain yang juga digunakan adalah pankreatin bile yang berfungsi memecah ikatan protein sampel agar nanti hasil protein yang dipecah dapat sesuai dengan diameter kantung dialisis. Kantung dialisis yang digunakan merupakan kantung yang semi permiabel yang berfungsi agar mineral dapat menempel pada kantung dialisat sehingga dapat ditentukan kadarnya dengan analisis lanjut.
Pereaksi H2SO4 dan HNO3 berfungsi sebagai zat pendehidrasi yang sangat baik. Asam ini mampu memisahkan atom karbon dengan oksigen dan hidrogen di dalam senyawa organik menjadi karbon dan air. Sedangkan fungsi HCl 4N adalah untuk mengatur pH larutan sampel menjadi pH 2 yang berfungsi untuk memaksimalkan kerja enzim pepsin yang dapat bekerja secara optimum pada pH 2. Larutan KOH befungsi untuk membuat suasana basa agar reaksi yang terjadi pada kantung dialisis sama seperti keadaan didalam tubuh manusia serta agar kalsiumnya terlarut dan terjadi absorpsi pasif pada permukaan saluran cerna dalam hal ini membran pada dialisat (Almatsier 2001). Pereaksi NaHCO3 memiliki fungsi untuk meningkatkan kondisi menjadi pH 8.
Penerapan kadar mineral Ca dengan metode dialisis secara in vitro dapat dijadikan sebagai bahan acuan agar lebih selektif dalam memilih produk yang memiliki kandungan mineral Ca yang cukup tinggi, seperti kita ketahui bahwa banyak produk dengan klaim tinggi mineral Ca. Sedangkan menurut Suryani 2001, klaim tinggi kalsium pada produk jika jumlah yang direkomendasikan mengandung sedikitnya 20 mg/hari.
Analisis mineral secara in vitro juga dapat digunakan dalam industri pangan sebagai acuan untuk penentuan kadar mineral Ca dalam bahan pangan dan bioavailabilitasnya. Selain itu, dapat pula digunakan industri pangan untuk mempertimbangkan kandungan kalsium bahan pangan dan juga boavailabilitasnya dan faktorfaktor yang mempengaruhi bioavailabilitas seperti adanya serat dalam bahan pangan dan faktor lainnya (Almatsier 2001). Sehingga bahan pangan yang akan dibuat lebih diminati dan bermanfaat untuk konsumen.
METODOLOGI
Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 24 September 2014 sampai 08 Oktober 2014 pukul 11.00-13.00 WIB. Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Evaluasi Nilai Zat Gizi Lantai 2, Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.
Alat dan Bahan
Praktikum analisis ketersediaan Ca, Fe, dan Zn secara in vitro metode dialisis terdiri dari beberapa percobaan yaitu analisis total asam tertitrasi dan analisis bioavailability mineral Ca, Fe, dan Zn secara in vitro metode dialisis (Roig, Alegria, Barbera, Farre, & Lagarda 1998). Praktikum ini menggunakan alat dan bahan, alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah blender, neraca analitik, gelas piala, pH meter, waterbath, dan kantung dialisis. Sedangkan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah aquades, HCl 4 N, pepsin, HCl 0.1 N, pankreatin bile, indikator PP, KOH standar, larutan NaHCO3, H2SO4 pekat, HNO3 pekat, dan whatman 42.
Prosedur Percobaan
Prosedur kerja dalam praktikum ini meliputi analisis total asam tertitrasi dan analisis bioavailability mineral Ca, Fe, dan Zn secara in vitro metode dialisis (Roig, Alegria, Barbera, Farre & Lagarda 1998). Prosedur kerja secara lebih rinci dapat dilihat pada bagan dibawah ini.
A. Analisis Total Asam Tertitrasi
Sampel T2 di thawing dalam shaker pada suhu 37°C. Ditambahkan 5 ml pankreatin bile + 6,25 g ekstrak bile dan indikator PP
↓
Dititrasi dengan KOH standar hingga didapat warna merah jambu, ditimbang 112.2 g KOH dilarutkan dengan aquades menjadi 1000 ml disimpan diudara
terbuka selama 2 hari ↓
Dikalibrasi, ditimbang ± 0.01 g asam oksalat, ditambah aquades dan 3 tetes indikator PP diaduk sampai larut lalu dititrasi dengan larutan KOH 0.2 N sampai
warna merah jambu ↓
Dihitung kebutuhan NaHCO3 = y gram KOH, ditimbang setara y gram KOH dan diencerkan sampai 100 ml
↓
Dipotong kantung dialisis ± 15 cm lalu direndam dalam aquades dan diikat salah satu ujungnya
↓
Diisi dengan 20 ml larutan NaHCO3 hasil perhitungan dan diikat ujung satunya usahakan tidak ada gelembung
↓
Direndam dengan sisa larutan NaHCO3 didalam gelas piala 200 ml Gambar 1 Prosedur analisis total asam tertitrasi
B. Analisis Bioavaibility Mineral Ca, Fe, dan Zn secra in vitro Metode Dialisis (Roig, Alegria, Barbera, Farre, & Lagarda 1998)
Di thawing sampel T1 didalam tabung shaker pada suhu 37°C lalu dimasukan kedalam kantung dialisis, dan diinkubasi pada suhu 37°C selama 30 menit
↓
Ditambahkan 5 ml pankreatin bile kemudian diinkubasi pada suhu 37°C selama 2 jam
↓ X X ↓
Diangkat kantung dialisis, dibuka ikatannya dan dituangkan kedalam gelas piala atau erlenmeyer 100 ml bebas ion dan dicuci bagian dalam kantung dengan air
bebas ion ↓
Ditimbang dan dicatat dialisat. ↓
Ditambahkan 10 ml H₂SO4 pekat dan 10 ml HNO₃ pekat lalu didiamkan semalam ↓
Ditambahkan air bebas ion dan dipanaskan hingga jernih setelah itu diencerkan kedalam labu takar 50 ml. Disaring dengan kertas saring whatman 42
↓
Dibaca absorban dengan AAS (Atomic Absorbance Spechtrophotometre) Gambar 2 Prosedur analisis bioavailability mineral Ca, Fe, dan Zn secara in vitro
PEMBAHASAN
Mineral merupakan komponen anorganik yang terdapat dalam tubuh, seperti kalsium, besi, dan seng. Setiap mineral yang dibutuhkan tubuh memiliki fungsi yang khas. Berdasarkan kebutuhannya, mineral dibagi menjadi 2 kelompok yaitu mineral makro dan mineral mikro. Mineral makro dibutuhkan >100 mg/hari, seperti sodium, potassium, magnesium, kalsium, fosfor, sulfur, dan klorida. Sementara itu, mineral mikro dibutuhkan tubuh <100 mg/hari, seperti besi, seng, iodium, selenium, tembaga, dan mangan (Almatsier 2004).
Kalsium (Ca) merupakan salah satu mineral mikro yang paling banyak terdapat didalam tubuh, 99% berada dalam jaringan keras, yaitu tulang dan gigi. Kalsium berperan penting dalam proses metabolisme tubuh, penghantar sinyal saraf, kontraksi otot, penggumpalan darah dan menjaga permeabilitas membran sel (Almatsier 2004). Besi (Fe) dapat ditemukan dalam hemoglobin atau pigmen respirasi, mioglobin atau protein otot bergaris, enzim-enzim heme intraseluler, metaloprotein, kromatin, dan feritin. Zinc (Zn) adalah mikro mineral penting yang terdapat pada hampir setiap sel dan terlibat dalam fungsi berbagai enzim dalam proses metabolisme (Almatsier 2004).
Penentuan bioavailabilitas mineral dilakukan secara in vitro, dengan menstimulasikan kondisi gastrointestinal pada proses pencernaan, yaitu pH serta enzim yang bekerja pada fase gastric dalam lambung, dan fase intestinal dalam usus halus. Hal ini bertujuan untuk mengkondisikan keadaan pencernaan yang sebenarnya terjadi didalam tubuh. Prinsip pengukuran bioavailabilitas mineral secara in vitro merupakan teknik dialisis dengan menggunakan kantong dialisis yang disimulasikan sebagai usus halus. Dialisis merupakan proses pemurnian suatu sistem koloid dari partikel-partikel bermuatan yang menempel pada permukaan. Dialisis digunakan untuk memisahkan molekul-molekul kecil dari molekul-molekul besar.
Praktikum penentuan bioavailabilitas mineral Ca yang dilakukan ini merupakan metode penentuan bioavailabilitas mineral Ca secara in vitro. Pada analisis bioavaibilitas yang dilakukan ini menggunakan beberapa sampel berupa produk pangan yang dinilai memiliki kandungan kalsium yang cukup tinggi. Sampel yang akan dianalisis harus diperlakukan dengan baik. Perlakuan pada sampel yaitu sampel yang diperoleh terlebih dahulu dilarutkan dan kemudian sampel diberikan enzim pepsin yang berfungsi untuk mendestruksi protein dalam sampel (Del valle 1981). Hal ini berfungsi agar sampel tersebut diposisikan dalam keadaan seperti dalam pencernaan manusia, seperti dengan ditambahkannya enzim pepsin kedalam sampel yang akan dianalisis serta penyesuaian sampel dalam keadaan asam.
Analisis ketersediaan Ca, Fe, dan Zn pada preparasi sampel secara in vitro dengan metode dialisis menggunakan 6 macam sampel yang berbeda jenis dan karakteristik satu sama lain. Keenam sampel tersebut diberi kode OD, MO, TH, BS, SM, dan KB. Karakteristik sampel dan komposisi mineral tersebut berdasarkan Nutrition Fact dan DKBM dari masing-masing sampel yang digunakan saat analisis. Sampel pertama yaitu OD, sampel ini diberikan untuk kelompok 2. Sampel OD merupakan salah satu makanan ringan jenis biskuit berdominan mengandung biji-bijian (oats) yang bertekstur padat dan memiliki takaran saji seberat 100 gram dan total kalori dari karbohidrat sebesar 14% untuk satu sajian. Kandungan Ca, Fe dan Zn dalam sampel sebesar 1%, 5%, dan 0%. Berat sampel OD yang digunakan untuk analisis adalah setara 2 gram protein yaitu sebesar 18.46 gram sampel.
Selanjutnya, sampel MO adalah salah satu jenis produk susu bubuk rasa coklat yaitu milo saschet yang dianalisis oleh kelompok 6 dengan takaran satu kali penyajian sebesar 20 gram. Setiap penyajiannya menyumbang energi dari karbohidrat sebesar 350 kJ dan mengandung Ca, Fe dan Zn berturut-turut sebesar 160 mg, 6 mg, dan 0 mg. Berat sampel MO yang digunakan untuk analisis adalah setara 2 gram protein yaitu sebesar 15.00 gram sampel.
Sampel TH adalah salah satu sampel jenis makanan terbuat dari kacang kedelai dengan cara memekatkan protein kedelainya dan pembuatannya melalui proses pengendapan protein pada titik isoelektriknya dengan atau tanpa penambahan unsur-unsur lain yang diizinkan (Suprapti 2005). Sampel ini dianalisis oleh kelompok 5. Sampel TH berbentuk padat, sedikit kenyal dan lunak dan berwarna putih dengan komponen terbesar yang terkandung dalam sampel TH adalah protein dan air. Berdasarkan data dari Daftar Komposisi Bahan Makanan (2007), ketiga zat gizi mikro yaitu Ca, Fe dan Zn yang ingin diketahui dalam sampel TH hanya mengandung Ca yaitu sebanyak 124 gram dalam berat 10 gram dan tidak memiliki kandungan Fe dan Zn. Berat sampel TH yang digunakan untuk analisis adalah setara 2 gram protein yaitu sebesar 25,00 gram sampel.
Sampel BS adalah salah satu jenis makanan ringan berbentuk biskuit padat dengan rasa susu dan menyumbang energi sebesar 4% dari jumlah energi total 100 kkal untuk setiap satu kali penyajian. Berdasarkan Nutrition Fact, takaran saji sampel BS adalah 21 gram dan mengandung protein sebanyak 6%, Ca sebanyak 12.5%, Fe sebesar 12.5%, dan Zn 12.5%. Berat sampel BS yang digunakan untuk analisis adalah setara 2 gram protein yaitu sebesar 11.00 gram sampel.
Sampel SM adalah salah satu jenis produk susu kemasan untuk balita yang dianalisis oleh kelompok 3. Sampel SM tersebut memiliki kandungan energi total sebesar 150 kkal dan kandungan Ca, Fe dan Zn didalamnya sebesar 45%, 30% dan 15%. Berat sampel SM yang digunakan untuk analisis adalah setara 2 gram protein yaitu sebesar 11.67 gram sampel.
Praktikum ini dilaksanakan secara keseluruhan dan kami tidak menemukan adanya kendala yang cukup berarti. Pada saat inkubasi berlangsung, waktu yang ditentukan adalah 120 menit, namun inkubasi mengalami kelebihan waktu beberapa menit (±15 menit). Hal ini dikarenakan asisten praktikum tidak berada di ruangan sehingga untuk kelanjutan praktikum sempat tertunda hingga instruksi dari asisten praktikum berlangsung. Dari kendala ini tidak ditemukan dampak berarti akibat kelebihan waktu inkubasi. Selain itu, kesalahan yang dapat terjadi yaitu pada saat mengikat kantung dialisat. Namun, kelompok kami cukup cermat dalam mengikat sehingga tidak ditemukannya gelembung dalam kantong dialisat.
Gelembung udara didalam cairan ketika mengikat kantung dialisat dapat menyebabkan kesalahan pada pengukuran. Hal ini bisa dijelaskan dalam literatur, pada proses dialisis darah. Jika ada gelembung udara yang masuk kedalam pembuluh darah bisa menyebabkan aliran darah terhambat, kondisi ini dikenal dengan nama emboli. Hal ini bisa berbahaya karena darah digunakan untuk mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Jika emboli terjadi maka pasokan darah ke organ utama tubuh seperti otak, paru-paru atau jantung menjadi terhambat. Jika tidak segera ditangani bisa menyebabkan kegagalan organ bahkan hingga kematian (Aru 2006).
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Praktikum analisis ketersediaan Ca, Fe, dan Zn dengan metode dialisis dapat disimpulkan bahwa metode yang dapat digunakan dan cocok digunakan yaitu metode dialisis secara in vitro. Hal ini dikarenakan in vitro merupakan metode analisis yang dilakukan bukan pada makhluk hidup akan tetapi pada media terkontrol yang disimulasikan seperti sistem pencernaan pada manusia.
Saran
Sebaiknya praktikan sebelum menganalisis ketersediaan Ca, Fe, dan Zn harus sudah memahami metode yang akan digunakan sehingga dalam menganalisis ketersediaan Ca, Fe, dan Zn dapat berjalan sesuai yang diharapkan tanpa terjadi human error.
DAFTAR PUSTAKA
Almatsier S. 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta (ID): Gramedia Pustaka Utama
Aru sudoyo. 2006. Ilmu penyakit dalam. Jakarta (ID): Pusat penerbitan departemen ilmu penyakit dalam FKUI
Del Valle FR. 1981. Nutritional Qualities of Soya Protein as Affected by Processing. JAOCS. 58: 519.
Etcheverry P, Wallingford JC, Miller DD, Glahn RP. 2004. Calcium, zinc, and iron bioavailabilities from commercial human milik fortifier: a comparison study. J Dairy Sci. Vol 87: 3629-3637.
Gaman PM dan Sherrington. 1994. Pengantar Ilmu Pangan Nutrisi dan Mikrobiologi. Yogyakarta (ID): Gajah Mada University Press
Gropper SS, Smith JL, dan Groff JL. 2005. Advanced Nutrition and Human Metabolism 4th edition . USA (USA): Wadsworth
Kurniawati YR dan Yuanita L. 2014. Pengaruh asam sitrat dan fitase Bacillus subtilis HG pada jagung (Zea mays L) terhadap bioavailabilitas mineral CA (in vitro). Journal of Chemistry. Vol 3 (1): 96-102.
Muflihah A. 2013. Bioavailabilitas kalsium dan zat besi in vitro cookies pati garut (Maranta arundinaceae L) dengan penambahan torbangun (Coleus amboinicus Lour) pada berbagai minuman [Skripsi]. Bogor (ID): Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.
Palupi NS, Zakaria FR, Prangdimurti E. 2007. Evaluasi Nilai Biologis Vitamin dan Mineral. Bogor (ID): IPB Press.
Prabantini D. 2010. A to Z Makanan Pendamping Asi. Yogyakarta (ID): Andi Offset.
Puspita, Dewi I. 2013. Bioavailabilitas Kalsium Secara in-vitro pada Susu Bubuk yang Diberi Klaim High Calsium dengan Penambahan Serat dan Tanpa Penambahan Serat yang Beredar di Pasaran. Bogor (ID): IPB Press.
Shargel, Leon, B.C.YU, Andrew. 2005. Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan. Surabaya (ID): Airlangga Univeersity Press
Suprapti L. 2005. Pembuatan Tahu. Yogyakarta (ID): Penerbit Kanisius
Suryani Y. 2001. Profil Pelabelan dan Analisis Kebenaran Klaim Gizi Produk Pangan. Skripsi Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga, Fakultas Pertanian (IPB) Bogor.
Winarno FG. 2002. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta (ID): PT Gramedia Pustaka Utama.
LAMPIRAN
Tabel 1 Hasil preparasi sampel analisis ketersediaan mineral metode dialisis
Kelompok 3: Susu SGM eksplor
Takaran saji 35 g
Jumlah sajian per kemasan sekitar : 11
PEMBAGIAN TUGAS
No Nama NIM Jobdesc TTD
1 Devieka Rhama Dhanny I14120009 Pembahasan
2 Dwi Astuti I14120017 Tinjauan pustaka
3 Sri Lusiawat Indriani I14120022 Editor, simpulan, dan saran
4 Wittresna Julianty S I14120030 Pembahasan dan tinjauan pustaka 5 Syara Avia B I14120148 Pendahuluan dan
metodologi