PERPUSTAKAAN SEKOLAH
SEBAGAI
SUMBER BELAJAR
Disusun Oleh:
Drs. Aloysius Sudarwanto, M.Pd.
NIP 19600523 198603 1 009
Guru Mata Pelajaran
Bahasa Indonesia
Sekolah Menegah Kejuruan Negeri 1
Kota Sukabumi
Kata Pengantar
Puji syukur penyususn panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Mahakuasa
karena atas berkat dan kemurahan-Nya penyusun dapat
menyelesaikan karya tulis dengan judul “Perpustakaan Sekolah sebagai Sumber Belajar” sebagai unsur penunjang untuk memenuhi
persyaratan kenaikan pangkat dari Pembina IV/a ke Pembina Tingkat
1 IV/b dapat penyusun selesaikan dengan lancar.
Penyusun dapat menyelesaikan karya tulis ini dengan lancar dan
berhasil berkat dukungan, bimbngan, dan arahan dari berbagai pihak.
Oleh karena itu, pada kesempatan ini penyusun mengucapkan terima
kasih kepada semua pihak, khususnya kepada Bapak Saepurohman
Udung, M.Pd. sebagai Kepala Sekolah SMKN 1 Kota Sukabumi yang
telah memberikan motivasi dan kesempatan yang baik ini sehingga
penyusun dapat memperoleh kesempatan mengajukan kenaikan
pangkat dan pengalaman belajar yang sangat berharga.
Penyusun menyadari bahwa karya tulis ini masih banyak
kekurangannya. Oleh karena itu, kepada para pembaca bila
menemukan hal-hal yang kurang tepat mohon dapat memberikan
saran maupun masukan untuk melengkapi kekurangan yang ada atau
memperbaiki kesalahan yang masih terdapat dalam karya tulis
sederhana ini.
Akhir kata, semoga karya tulis sederhana ini bermanfaat bagi para
peseta didik, para pendidik dan tenaga kependidikan, sekolah,
pemerhati pendidikan, dan para pembaca.
Sukabumi, 25 Maret 2016
Daftar Isi
Halaman Judul ...
Surat Keterangan Publikasi Ilmiah ...
Lembar Pengesahan ...
A. Lata Belakang Masalah ...
B. Rumusan Masalah ...
C. Tujuan Penulisan ...
BAB II KAJIAN TEORI
A. PengertianPerpustakaan Sekolah ...
B. Jenis-jenis perpustakaan ...
C. Peran dan Tugas Perpustakaan Sekolah ...
D. Manfaat Perpustakaan Sekolah ...
E. Perpustakaan Sekolah sebagai Sumber Belajar ...
BAB III PEMBAHASAN
A. Pengelolaan Perpustakaan Sekolah ...
B. Strategi Pengembangan Perpustakaan Sekolah ...
C. Peluang Pengembangan Perpustakaan Sekolah ...
D. Perpustakaan Sekolah Yang Ideal ...
E. Pengembangan Kebiasaan Membaca Melalui
Perpustakaan Sekolah ...
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN
ABSTRAK
Aloysius Sudarwanto, 2016. “Perpustakaan Sekolah sebagai Sumber Belajar”
Kata Kunci: Perpustakaan sekolah, sumber belajar
Perpustakaan sekolah merupakan sumber belajar dalam proses kegiatan belajar. Adanya perpustakaan dapat memberikan perluasan ilmu pengetahuan yang mendorong peserta didik untuk maju dan berkembang melalui pengetahuan-pengetahuan baru yang tidak diajarkan di dalam kelas.
Perpustakaan sekolah merupakan suatu tempat yang digunakan dan disediakan oleh sekolah untuk warga sekolah yang ingin membaca atau meminjam koleksi buku-buku perpustakaan. Oleh karena itu perpustakaan sekolah mutlak dibutuhkan oleh peserta didik sebab di dalam perpustakaan itulah mereka memperoleh banyak ilmu pengetahuan dan informasi. Selain itu perpustakaan sebagai sumber informasi akan sangat bermanfaat apabila perpustakaan tersebut menyediakan sarana dan prasarana yang lengkap dan pelayanan yang mudah, cepat, dan berkualitas sehingga memberikan kenyamanan bagi pengguna perpustakaan. Dengan pelayanan yang mudah, cepat, dan berkualitas, maka peserta didik akan merasa betah dan nyaman memanfaatkan sarana dan prasarana yang ada di perpustakaan.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perpustakaan merupakan salah satu sarana pelestarian bahan
pustaka sebagai hasil budaya dan mempunyai fungsi sebagai
sumber informasi ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan
dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan menunjang
pelaksanaan pembangunan nasional.
Pengertian perpustakaan yang mutakhir ini telah mengarahkan
kepada tiga hal yang mendasar sekaligus, yaitu hakikat
perpustakaan sebagai salah satu sarana pelestarian bahan
pustaka; fungsi perpustakaan sebagai sumber informasi ilmu
pengetahuan, teknologi dan kebudayaan; serta tujuan
perpustakaan sebagai sarana untuk mencerdaskan kehidupan
bangsa dan menunjang pembangunan nasional.
Adapun pengertian perpustakaan sekolah adalah perpustakaan
yang berada dalam suatu sekolah yang kedudukan dan tanggung
jawabnya berada pada kepala sekolah yang berfungsi untuk
melayani sivitas akademika sekolah
Perpustakaan Sekolah menurut Keputusan Menteri Pendidiknan
dan Kebudayaan nomor 0103/O/1981, tanggal 11 Maret 1981,
mempunyai fungsi sebagai:
a. Pusat kegiatan belajar-mengajar untuk mencapai tujuan
pendidikan seperti tercantum dalam kurikulum sekolah
b. Pusat Penelitian sederhana yang memungkinkan para siswa
mengembangkan kreativitas dan imajinasinya.
c. Pusat membaca buku-buku yang bersifat rekreatif dan mengisi
Semua fungsi tersebut akan tergambar dalam koleksi
pepustakaan bersangkutan.
Berdasarkan uraian di atas, maka karya tulis ilmiah ini penulis
beri judul “Perpustakaan Sekolah sebagai Sumber Belajar”.
B. Rumusan Masalah dan Cara Pemecahan Masalah
1. Rumusan Masalah
Berdasarkan penjelasan di atas, maka permasalahan yang akan
dibahas dalam makalah ini adalah: Bagaimana memanfaatkan
secara maksimal perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar
dalam kegiatan pembelajaran di sekolah?.
2. Cara Pemecahan Masalah
Pemecahan masalah pada karya tulis ilmiah ini penulis lakukan
dengan menguraikan masalah atau kendala yang ada
berdasarkan referensi yang dapat dipertanggungjawabkan.
C.Tujuan Penulisan
Karya tulis ilmiah sederhana ini penulis susun dengan
tujuan untuk memberikan gambaran kepada insan atau
kalangan pendidikan yang terdiri atas tenaga pendidik, tenaga
kependidikan, peserta didik, instansi pendidikan, maupun
pemerhati pendidikan tentang pemanfaatan perpustakaan
sekolah sebagai sumber belajar agar kegiatan pembelajaran
dapat berjalan lancar dan dapat mencapai hasil pembelajaran
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Pengertian Perpustakaan Sekolah
Pengertian perpustakaan menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia versi online adalah sebagai berikut: (1) tempat, gedung,
ruang yang disediakan untuk pemeliharaan dan penggunaan
koleksi buku dsb, (2) koleksi buku, majalah dan bahan
kepustakaan lainnya yang disimpan untuk bibaca, dipelajari,
dibicarakan.1
Hakikat perpustakaan adalah pusat sumber belajar dan sumber
informasi bagi pemakainya. Perpustakaan dapat pula diartikan
sebagai tempat kumpulan buku-buku atau tempat buku dihimpun
dan diorganisasikan sebagai media belajar siswa. Wafford (dalam
Darmono, 2004) menerjemahkan perpustakaan sebagai salah satu
organisasi sumber belajar yang menyimpan, mengelola, dan
memberikan layanan bahan pustaka baik buku maupun non buku
kepada masyarakat tertentu maupun masyarakat umum. Lebih
luas lagi pengertian perpustakaan adalah salah satu unit kerja
yang berupa tempat untuk mengumpulkan, menyimpan, mengelola,
dan mengatur koleksi bahan pustaka secara sistematis untuk
digunakan oleh pemakai sebagai sumber informasi sekaligus
sebagai sarana belajar yang menyenangkan.
B. Jenis-jenis Perpustakaan
Jenis-jenis perpustakaan yang ada antara lain:
1.Perpustakaan Acuan: perpustakaan rujukan
2.Perpustakaan Akademik: perpustakaan yang merupakan bagian
dari universitas, akademi, lembaga pendidikan tinggi
3.Perpustakaan Filial: perpustakaan yang merupakan bagian
sebuah sistem, tetapi mempunyai dewan manajemen sendiri dan
tidak dikelola sebagai sistem tersebut
4.Perpustakaan Keliling: perpustakaan yang didatangkan dengan
mobil di tempat-tempat tertentu, pada kesempatan itu para
peminat dapt meminjam dan mengembalikan buku
5.Perpustakaan Khusus: 1. perpustakaan atau pusat informasi
yang dibiayai oleh perseorangan, badan korporasi, perhimpunan,
badan pemerintah, kelompok lain; 2. Koleksi khusus atau
terpisah dalam suatu perpustakaan
6.Perpustakaan Mini: perpustakaan yang menyediakan buku
dalam jumlah yang sangat terbatas
7.Perpustakaan Nasipnal: perpustakaan yang dibiayai oleh negara
untuk mengumpulkan, menyiapkan, melestarikan buku, majah,
surat kabar, naskah kuno, mikrofilm, dsb
8.Perpustakaan Rujukan: perpustakaan yang memiliki buku yang
biasanya tidak boleh digunakan di luar
9.Perpustakaan Umum: perpustakaan yang seluruhnya atau
sebagian dari dananya disediakan oleh masyarakat dan
penggunaannya tidak terbatas pada kelompok tertentu dan
bebas digunakan oleh siapa pun
C. Peran dan Tugas Perpustakaan Sekolah
Peranan perpustakaan di dalam pendidikan amatlah penting,
yaitu untuk membantu terselenggaranya pendidikan dengan baik.
Dengan demikian sasaran dan tujuan operasional dari
perpustakaan sekolah adalah untuk memperkaya, mendukung,
memberikan kekuatan, dan mengupayakan penerapan program
pendidikan yang memenuhi setiap kebutuhan peserta didik, di
samping itu mendorong dan memungkinkan tiap peserta didik
Keberadaan perpustakaan sekolah di lingkungan sekolah
masih kurang mendapat perhatian. Hal ini dapat dilihat dari
rendahnya pertumbuhan perpustakaan pada lembaga pendidikan,
khususnya pada tingkat Pendidikan Menengah dan Pendidikan
Dasar. Dari 175.268 unit sekolah di seluruh Indonesia, baru
12.620 sekolah yang memiliki perpustakaan. Untuk SD baru 5%
yang mempunyai perpustakaan sekolah, SMP sekitar 42% dan SMU
sekitar 68%.2
Kondisi ini menyiratkan bahwa perhatian penentu kebijakan di
lingkungan sekolah belum memrioritaskan perpustakaan sekolah
sebagai program sekolah yang perlu diperhatikan untuk menunjang
kegiatan belajar mengajar.
Kurikulum 2006 yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP) menyiratkan perlunya peningkatan peran perpustakaan
sekolah sebagai penunjang kegiatan belajar peserta didik dan
pendidik. Kurikulum tingkat satuan pendidikan menuntut pendidik
untuk lebih aktif dalam mengembangkan pembelajaran khususnya
dalam mengembangkan indikator pembelajaran yang sesuai dengan
kebutuhan peserta didik. Untuk itu pada setiap satuan unit
sekolah perlu didukung adanya perpustakaan yang mampu
berfungsi dengan baik.
Perpustakaan sekolah memberikan sumbangan yang sangat
berharga dalam upaya meningkatkan aktivitas peserta didik serta
meningkatkan kualitas pendidikan dan pengajaran. Melalui
penyediaan perpustakaan, peserta didik dapat berinteraksi dan
terlibat langsung baik secara fisik maupun mental dalam proses
belajar. Perpustakaan sekolah merupakan bagian integral dari
program sekolah secara keseluruhan bersama-sama dengan
komponen pendidikan lainnya turut menentukan keberhasilan
2
proses pendidikan dan pengajaran. Melalui perpustakaan peserta
didik dapat mendidik dirinya secara berkesinambungan.
Secara umum perpustakaan sekolah sangat diperlukan
keberadaanya dengan pertimbangan bahwa:
1. perpustakaan merupakan sumber belajar,
2. merupakan salah satu komponen sistem instruksional,
3. sumber untuk menunjang kualitas pendidikan dan pengajaran,
4. sebagai laboratorium belajar yang memungkinkan peserta didik
dapat mempertajam dan memperluas kemampuan untuk
membaca, menulis, berpikir, dan berkomunikasi.
Penyelenggaraan perpustakaan sekolah bukan hanya untuk
menyimpan bahan-bahan pustaka, tetapi dengan adanya
penyelenggaraan perpustakaan sekolah diharapkan dapat
membantu peserta didik dan pendidik menyelesaikan tugas-tugas
dalam proses belajar mengajar. Oleh sebab itu, segala bahan
pustaka yang dimiliki perpustakaan sekolah harus dapat
menunjang proses belajar mengajar. Untuk mewujudkan hal itu,
pengadaan bahan pustaka hendaknya mempertimbangkan
kurikulum sekolah serta selera para pembaca yang dalam hal ini
adalah peserta didik.
Perpustakaan sekolah sebagai perangkat perlengkapan
pendidikan mempunyai tugas:
1. Menyerap dan menghimpun informasi guna kegiatan
belajar mengajar.
2. Mewujudkan suatu wadah pengetahuan dengan
administrasi dan organisasi yang sesuai sehingga
3. Menyediakan sumber-sumber rujukan yang tepat agar
berguna untuk kegiatan konsultasi bagi pendidik dan
peserta didik
4. Menyediakan bahan-bahan yang bermanfaat bagi kegiatan
rekresi yang berkaitan dengan bidang budaya untuk
meningkatkan motivasi dan mengembangkan daya
kreativitas peserta didik
5. Melaksanakan layanan perpustakaan yang sederhana,
mudah, dan menarik sehingga pendidik dan peserta didik
tertarik untuk menggunakan perpustakaan
6. Melayanani kebutuhan bahan pustaka bagi peserta didik
dan pendidik.
7. Memberikan bimbingan membaca kepada peserta didik
D. Fungsi/Manfaat Perpustakaan Sekolah
Dalam bukunya yang berjudul “Pengelolaan Perpustakaan
Sekolah” Bafadal menyebutkan bahwa perpustakaan sekolah itu
merupakan sumber belajar, karena kegiatan yang paling tampak
pada setiap kunjungan peserta didik adalah belajar, baik belajar
masalah-masalah yang berhubungan langsung dengan mata
pelajaran yang diberikan di kelas, maupun buku-buku lain yang
tidak berhubungan langsung dengan mata pelajaran yang
diberikan di kelas. Apabila ditinjau dari sudut tujuan peserta didik
mengunjungi perpustakaan sekolah, maka ada yang tujuannya
untuk belajar, untuk berlatih menelusuri buku-buku
perpustakaan sekolah, untuk memperoleh informasi, bahkan ada
yang tujuannya hanya untuk mengisi waktu senggang atau
sifatnya rekreatif.
Beberapa fungsi perpustakaan sekolah menurut Bafadal adalah
a. Fungsi Edukatif
Segala fasilitas dan sarana yang ada pada perpustakaan
sekolah, terutama koleksi yang dikelolanya banyak membantu
para siswa sekolah untuk belajar dan memperoleh
kemampuan dasar dalam mentransfer konsep-konsep
pengetahuan, sehingga di kemudian hari para siswa memiliki
kemampuan untuk mengembangkan dirinya lebih lanjut.
b. Fungsi Informatif
Mengupayakan penyediaan koleksi perpustakaan yang bersifat
memberikan informasi mengenai hal-hal yang berhubungan
dengan kepentingan para siswa dan guru.
c. Fungsi Rekreasi
Fungsi ini bukan merupakan fungsi utama dari dibangunnya
perpustakaan sekolah, namun hanya sebagai pelengkap saja
guna memenuhi kebutuhan sebagian anggota masyarakat
sekolah akan hiburan intelektual.
d. Fungsi Riset dan Penelitian
Koleksi perpustakaan sekolah dapat dijadikan bahan untuk
membantu dilakukannya kegiatan penelitian sederhana3
Perpustakaan sekolah akan bermanfaat apabila benar-benar
memperlancar pencapaian tujuan proses belajar mengajar di
sekolah. Indikasi manfaat tersebut tidak hanya berupa tinginya
prestasi murid-murid, tetapi lebih jauh lagi, antara lain adalah
peserta didik mampu mencari, menemukan, menyaring dan menilai
informasi, peserta didik terbiasa belajar mandiri, peserta didik
terlatih kearah tanggung jawab, murid-murid selalu mengikuti
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan sebagainya.
3
Bila diuraikan secara terperinci, perpustakaan sekolah – baik
yang diselenggarakan di sekolah dasar maupun di sekolah
menengah – memunyai manfaat bagi peserta didik, tenaga
pendidik, dan tenaga kependidikan sebagai berikut:
1.Menumbuhkan kecintaan peserta didik tehadap membaca.
2.Memperkaya pengalaman belajar peserta didik.
3.Menambah kebiasaan belajar mandiri yang akhirnya
peserta didik mampu belajar mandiri
4.Mempercepat proses penguasaan teknik membaca bagi
peserta didik
5.Membantu perkembangan kecakapan berbahasa peserta
didik
6.Melatih peserta didik kearah tanggung jawab
7.Memperlancar peserta didik dalam menyelesaikan
tugas-tugas sekolah
8.Membantu tenaga pendidik menemukan sumber-sumber
pengajaran
9.Membantu peserta didik, tenaga pendidik, dan tenaga
kependidikan dalam mengikuti perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi
E. Perpustakaan Sekolah sebagai Sumber Belajar
Jika dikaitkan dengan pengertian sumber belajar, maka
perpustakaan merupakan salah satu dari berbagai macam sumber
belajar yang tersedia di lingkungan sekolah.
Mengacu pada definisi sumber belajar yang diberikan
oleh Association for Education Communication Technology (AECT)
maka pengertian sumber belajar adalah berbagai sumber baik itu
berupa data, orang atau wujud tertentu yang dapat digunakan oleh
secara terkombinasi sehingga mempermudah siswa dalam
mencapai tujuan belajarnya.4
Dari segi pendayagunaan, AECT membedakan sumber belajar
menjadi dua macam yaitu:
a. Sumber belajar yang dirancang atau sengaja dibuat untuk digunakan dalam kegiatan belajar guna mencapai tujuan
pembelajaran tertentu. Sumber belajar yang dirancang tersebut
dapat berupa buku teks, buku paket, slide, film, video dan
sebagainya yang memang dirancang untuk membantu
mencapai tujuan pembelajaran tertentu
b. Sumber belajar yang tidak dirancang atau tidak sengaja
dibuat untuk membantu mencapai tujuan pembelajaran. Jenis ini banyak terdapat di sekeliling kita dan jika suatu saat kita
membutuhkan, maka kita tinggal memanfaatkannya. Contoh
sumber belajar jenis ini adalah tokoh masyarakat, toko, pasar,
museum.
4
BAB III
PEMBAHASAN
Berdasarkan definisi AECT tentang sumber belajar, maka sumber
belajar jenis pertama yaitu sumber belajar yang sengaja dibuat untuk
membantu pencapaian tujuan belajar perlu disimpan untuk
didayagunakan secara maksimal. Penyimpanan berbagai sumber
belajar tadi ditempatkan dan diorganisasikan di perpustakaan. Dengan
demikian maka perpustakaan merupakan salah satu sarana
yang dibutuhkan di lingkungan berbagai lembaga, termasuk sekolah
guna membantu tercapainya setiap upaya pembelajaran.
A. Pengelolaan Perpustakaan Sekolah
Perpustakaan sekolah dapat menciptakan atmosfir sekolah yang
kondusif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah.
Melalui perpustakaan sekolah dapat mendorong tumbuhnya daya
kreasi dan imajinasi peserta didik melalui berbagai bacaan yang
tersedia di perpustakaan. Untuk bisa menciptakan kondisi
tersebut, perpustakaan sekolah harus dikelola agar dapat
mendukung peran dan tugas yang diembannya.
Pengelolaan perpustakaan sekolah hingga saat ini
masih mengalami kendala yang disebabkan berbagai faktor sebagai
berikut:
1. Posisi pepustakaan sekolah sebagai unit yang strategis dalam
menunjang proses pembelajaran di sekolah belum dikelola
secara maksimal.
2. Dana operasional pengelolaan dan pembinaan perpustakaan
3. Sumber daya manusia yang mampu mengelola perpustakaan
serta mengembangkannnya sebagai sumber belajara bagi
peserta didik dan pendidik masih sangat terbatas,
4. Koleksi perpustakaan sekolah juga terbatas. Pada umumnya
perpustakaan sekolah terdiri atas buku pelajaran yang
merupakan droping dari pemerintah,
5. Minat baca peserta didik yang masih belum menggembirakan,
walaupun pemerintah telah mencanangkan berbagai program
seperti bulan buku nasional, hari aksara, wakaf buku dan
sebagainya,
6. Kepedulian penentu kebijakan terhadap perpustakaan masih
kurang, bahkan keberadaan perpustakaan hanya sebagai
pelengkap,
7. Ruang, sarana dan prasarana yang diperlukan perpustakaan
sekolah masih kurang.
8. Belum adanya jam perpustakaan sekolah yang terintegrasi
dengan kurikulum,
9. Kegiatan belajar mengajar belum memanfaatkan perpustakaan secara maksimal dalam arti pendidik “tidak terlalu sering”
memberikan tugas-tugas kepada peserta didik yang terkait
dengan pemanfaatan perpustakaan sekolah.
Untuk mengatasi berbagai masalah tersebut perpustakaan
memang perlu mendapat perhatian. Sekolah perlu melakukan
berbagai upaya agar perpustakaan dapat berjalan paling tidak
sesuai dengan kondisi masing-masing sekolah. Standar yang telah
dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan Nasional memang perlu
dijadikan acuan. Namun itu semua perlu disesuaikan dengan
kondisi sekolah.
Untuk mengatasi masalah di atas, seperti belum adanya ruang
perpustakaan, koleksi dipindahkan ke kelas yang mencerminkan
kondisi ini diperlukan kedisiplinan administrasi agar buku dapat
dikontrol setiap saat. Siapa yang meminjam dan kapan harus
kembali. Konsep perpustakaan kelas sudah diterapkan di beberapa
sekolah yang tidak memiliki ruangan perpustakaan. Masalah dana
misalnya, dapat diatasi dengan mengadakan kerjasama dengan
Komite Sekolah.
Beberapa pakar bidang perpustakaan mengatakan mendirikan
perpustaakaan itu mudah, tetapi untuk menjaga kelangsungannya
diperlukan kerja serius dengan program yang jelas dan terarah.
Karena dalam pelaksanannya banyak tantangan dan itu harus
diatasi agar perpustakaan terus dapat berfungsi sebagai sumber
belajar.
B. Strategi Pengembangan Perpustakaan Sekolah
Perpustakaan yang memiliki fungsi demikian penting dan melihat
kenyatan bahwa pengelolaan perpustakaan sekolah belum berjalan
dengan baik, untuk itu diperlukan srategi pengembangan
perpustakaan sekolah dengan baik. Tentunya pengembangan
perpustakaan sekolah harus berangkat dari inisiatif sekolah
itu sendiri. Adapun pengembangan perpustakaan sekolah meliputi
hal-hal sebagai berikut:
1. Perlu ada pemantapam status organisasi atau kelembagaan
perpustakaan sekolah
2. Perlu adanya anggaran yang memadai yang dapat digunakan
untuk operasional perpustakaan sekolah,
3. Perlu ada ruangan yang representatif sehingga keberadaan
perpustakaan sekolah mampu menunjang kegiatan belajar di
4. Koleksi bahan pustaka perlu disesuaikan dengan kebutuhan
minimun sekolah yang mengacu pada kurikulum dan kegiatan
ekstra kurikuler si sekolah.
5. Peralatan dan perlengkapan perlu disesuaikan dengan
kebutuhan perpustakaan sekolah sehingga perpustakaan dapat
berjalan dengan baik
6. Tenaga perpustakaan diupayakan memunyai kualifikasi yang
memadai untuk pengelolaan perpustakaan sekolah.
7. Layanan perpustakaan disesuaikan dengan kebutuhan peserta
didik. Jika mungkin ada layanan di luar jam-jam belajar peserta
didik, sehingga peserta didik dapat memanfaatkan
perpustakaan dengan baik.
8. Promosi perlu dilakukan dengan berbagai cara agar
perpustakaan menarik bagi peserta didik.
C. Peluang Pengembangan Perpustakaan Sekolah
Peluang untuk lebih memberdayakan perpustakaan telah
terbuka. Beberapa kondisi yang saat ini dapat mendukung
pengembangan perpustakaan sekolah telah ada seperti:
1. UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
yang merupakan dasar pijakan kita dan memungkinkan semua
lembaga pendidikan formal didukung oleh sarana dan
prasarana (termasuk perpustakaan),
2. Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan.
3. Pemberlakuan kurikulum Tahun 2006 tentang Kurikulum
Berbasis Kompetensi (KTSP) yang menuntut guru untuk
mengembangkan indikator pembelajaran sesuai dengan
kebutuhan pembelajaran. Untuk iu sekolah perlu didukung
4. Adanya metode pengajaran yang melibatkan peserta didik secara
aktif. Dalam metode ini peserta didik dituntut untuk
mengembangkan dan memperdalam sendiri materi yang telah
disampaikan oleh tenaga pendidik. Dalam kondisi ini maka
peran perpustakaan sangat besar untuk membantu peserta
didik dalam memperkaya kasanah pengetahuannya,
5. Kebijakan permerintah untuk menggalakkan minat baca dengan
mengambil even-even tertentu seperti tanggal 2 Mei sebagai hari
Pendidikan Nasional dan sekaligus sebagai even bulan buku.
Tanggal 14 September sebagai hari Aksara Internasional,
momentum ini sekaligus dimanfaatkan sebagai bulan gemar
membaca dan hari kunjung perpustakaan, 28 Oktober sebagai
hari Sumpah Pemuda dan sekaligus bulan bahasa. Kegiatan
tersebut secara langsung maupun tidak langsung terkait
dengan perpustakaan. Momen ini sangat baik untuk kegiatan
promosi dan pemasyarakatan perpustakaan serta
pengembangan minat baca peserta didik,
6. Kebijakan pemerintah/pemerintah daerah untuk memberikan
subsidi buku baik buku pelajaran maupun buku bacaan
kepada setiap sekolah,
7. Tumbuhnya berbagai partisipasi masyarakat yang berkaitan
dengan minat baca, perbukuan, dan perpustakaan, seperti
Gerakan Waqaf Buku, Kelompok Masyarakat Pecinta Buku
(KMPB), Klub Perpustakaan, dan Kelompok Pecinta Bacaan
Anak.
Dengan terbukanya peluang di atas, maka perlu ada upaya
untuk lebih mendayagunakan perpustakaan tersebut. Berikut ini
beberapa cara untuk lebih memberdayakan keberadaan
perpustakaan di lingkungan sekolah:
1. Perlu upaya untuk menciptakan “penguatan kelembagaan”
2. Perlunya diciptakan pengajaran yang terkait dengan
pemanfaatan fasilitas yang tersedia di perpustakaan srkolah,
3. Libatkan tenaga pendidik dalam pemilihan koleksi perpustakaan
yang akan dibeli, sehingga tenaga pendidik tahu koleksi yang
demiliki perpustakaan,
4. Promosi dan pemasyarakatan perpustakaan perlu diadakan
dengan mengambil even-even khusus seperti pada hari
peringatan nasional
5. Diupayakan adanya jam belajar di perpustakaan, sehingga
peserta didik terbiasa memanfaatkan perpustakaan,
6. Peserta didik perlu diberi rangsangan agar termotivasi untuk
memanfaatkan perpustakaan, misalnya penghargaan terhadap
peserta didik yang meminjam buku paling banyak dalam kurun
waktu tertentu.
D.
Perpustakaan Sekolah Yang IdealPerpustakaan sekolah yang baik memang bersifat relatif. Berikut
ini beberapa kriteria dari "perpustakaan sekolah yang ideal" yang
dapat berfungsi sebagai sumber belajar peserta didik secara
memadai.
1. Adanya status kelembagaan yang kuat dan struktur oraganisasi
perpustakaan jelas,
2. Memiliki ruangan yang memadai sesuai dengan jumlah peserta
didik, bersih, dan penyinarannya cukup,
3. Memiliki perabot perpustakaan dan tempat baca yang memadai,
4. Partisipasi pemakainya (peserta didik dan tenaga pendidik) baik
dan aktif,
5. Jenis koleksinya mencerminkan komposisi yang baik antara
buku teks dengan buku fiksi, yaitu 40% untuk buku teks, 30%
buku-buku pengayaan, dan 30% buku fiksi serta judul buku
6. Memiliki koleksi yang sesuai dengan kebutuhan kurikulum
sekolah,
7. Memiliki tenaga pengelola dengan kompetensi yang memadai,
8. Pengorganisasian koleksinya teratur,
9. Didukung dengan teknologi informasi dan komunkasi
10. Administrasi perpustakaan tertib yang meliputi administrasi
keanggotaan, administrasi inventaris buku dan perabot,
peminjaman, penyusutan, penambahan buku, statistik
peminjaman,
11. Memiliki sarana penelusuran informasi yang baik
12. Memiliki peraturan perpustakaan,
13. Memiliki program pengembangan secara jelas dan terarah,
14. Memiliki program keberaksaraan informasi (literasi infomasi)
15. Memiliki program pengembangan minat membaca di kalangan
siswa,
16. Memiliki program mitra perpustakaan,
17. Melakukan kegiatan promosi dan pemasyarakatan
perpustakaan,
18. Kegiatan perpustakaan terintegrasi dengan kurikulum dan
kegiatan belajar,
19. Memiliki anggaran perpustakaan secara tetap,
20. Adanya kerjasama dengan sekolah lain,
21. Pelayanannya menyenangkan,
22. Ada jam perpustakaan sekolah yang terintegrasi dalam
kurikulum
Kriteria di atas tentunya tidak bisa diterapkan di semua sekolah,
karena masing-masing sekolah kondisinya tidak sama. Dengan
parameter tersebut pihak sekolah dapat mengembangkan
E. Pengembangan Kebiasaan Membaca Melalui Perpustakaan Sekolah
Minat dan kegemaran membaca tidak dengan sendirinya dimiliki
oleh seseorang, termasuk anak-anak dalam usia sekolah. Minat
baca dapat tumbuh dan berkembang dengan cara dibentuk. Dalam
kaitan ini dapat kita simak teori rangsangan dan dorongan.
Dorongan adalah daya motivasional yang mendorong lahirnya
perilaku yang mengarah pada pencapaian suatu tujuan. Dorongan
yang dimaksud adalah motivasi tidak hanya untuk perilaku
tertentu saja, melainkan perilaku apa saja yang berkaitan dengan
kebutuhan dasar yang diinginkan seseorang. Dorongan-dorongan
tersebut dapat muncul dari dalam diri orang tersebut atau dapat
dirangsang dari luar. Oleh sebab itu upaya untuk mengangkat
program peningkatan minat dan kegemaran membaca perlu
melibatkan unsur-unsur berikut ini:
1. Peserta didik pada semua jenjang SD, SLTP, SLTA,
2. Tenaga pendidik, kepala sekolah, pengawas sekolah,
3. Sekolah dengan berbagai program kegiatan yang dapat
menunjang pengkondisian tumbuhnya minat dan kegemaran
membaca,
4. Orang tua di rumah,
5. Lingkungan masyarakat di luar sekolah dan rumah,
6. Lembaga-lembaga masyarakat yang berminat terhadap
pengembangan minat dan kegemaran membaca, misalnya
dengan mendirikan pondok baca,
7. Pemerintah melalui berbagai program yang dikembangkan,
seperti adanya kegiatan bulan buku nasional pada setiap bulan
Mei, hari Aksara Internasional pada setiap bulan September,
hari kunjung perpustakaan yang jatuh pada bulan September,
kegiatan tersebut bisa dikaitkan dengan pembinaan minat dan
Motivasi yang berasal dari peserta didik merupakan dorongan
yang bersifat internal, sedangkan dorongan dari pihak lainnya
bersifat eksternal. Dengan kata lain bila akan merumuskan strategi
peningkatan minat dan kegemaran membaca peserta didik maka
dua model strategi tersebut patut dipertimbangkan, yaitu model
strategi yang didasarkan pada motivasi internal dan model yang
digerakkan oleh motivasi eksternal. Untuk itu, pengembangan
minat dan kegemaran membaca perlu mempertimbangkan tiga
dimensi berikut ini:
1. Edukatif Pedagogik
Dimensi ini menekankan tindak-tindak motivasional apa yang
dilakukan para pendidik di kelas, untuk semua bidang studi
yang akhirnya para peserta didik tertarik dan memiliki minat
terhadap kegiatan membaca untuk tujuan apa saja. Paradigma
pengajaran saat ini adalah berpusat pada peserta didik, maka
pengembangan minat baca hendaknya dimulai dari aktivitas
belajar sehari-hari di kelas.
2. Sosio Kultural
Dimensi ini mengandung makna bahwa minat baca peserta
didik dapat digalakkan berdasarkan hubungan-hubungan sosial
dan kebiasaan peserta didik sebagai anggota masyarakat.
Misalnya dalam masyarakat paternalistik, orang tua atau
pemimpin selalu menjadi panutan. Dalam hal ini jika yang
dijadikan panutan memiliki minat baca maka dapat diprediksi
bahwa peserta didik juga dengan sendirinya terbawa situasi
tersebut, artinya peserta didik akan memiliki sikap dan
kegemaran membaca.
3. Perkembangan Psikologis
Anak usia sekolah pada jenjang SD/SMP/SMU/SMK
anak-anak didominasi dengan fungsi pengamatan, fungsi rasa
ingin tahu yang cukup kuat. Pada masa ini perlu
dipertimbangkan secara sungguh-sungguh dalam upaya
memotivasi kegemaran membaca peserta didik. Pengamatan
membaca yang tepat sasaran biasanya melalui ilustrasi gambar.
Penalaran intelektual mudah dirangsang melalui deskripsi yang
dikotomis, argumentasi yang menggugah.
Kegiatan membaca tidak bisa dilepaskan dari keberadaan dan
tersedianya bahan bacaan yang memadai baik dalam segi jumlah
maupun dalam kualitas bacaan. Pada aspek lain minat baca
senantiasa perlu dikembangkan. Di lingkungan anak usia sekolah
usaha pengembangan minat baca dapat dilakukan dengan prinsip
jenjang dan pikat. Prinsip pertama perlu adanya usaha untuk
memikat pengguna untuk mulai menyenangi kegiatan membaca.
Prinsip kedua perlu ada upaya untuk mengkondisikan perlunya
penyediaan meteri bacaan yang sesuai dengan perkembangan anak
yang dapat memperkuat minat baca anak, yang senantiasa terus
mendorong anak untuk maju menuju pada kegiatan membaca yang
berkualitas.
Usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan
kegemaran membaca siswa melalui perpustakaan adalah:
1. Menyediakan bahan bacaan yang diminati peserta didik, yang
sesuai dengan keragaman tingkat perkembangan anak.
2. Menjadikan perpustakaan sekolah sebagai tempat yang
menyenangkan bagi peserta didik melalui penataan yang bagus,
dengan pelayanan yang ramah,
3. Membuat promosi dan kegiatan pengembangan minat dan
kegemaran membaca dengan memanfaatkan perpustakaan
4. Memberikan tugas tambahan kepada peserta didik di luar kelas.
Pemberian tugas tambahan ini tentunya berkaitan dengan
terbatasnya jam pelajaran di dalam kelas. Oleh sebab itu guru
sebaiknya senantiasa mendorong peserta didik untuk lebih
banyak membaca di luar jam sekolah (di rumah). Tugas
membaca dapat dipantau dengan membuat laporan, resensi
buku, atau membuat laporan garis besar isi buku yang telah
dibacanya (sinopsis) dengan memanfaatkan bacaan yang
tersedia di perpustakaan,
5. Tersedianya waktu bagi peserta didik untuk berkunjung ke
perpustakaan baik secara perseorangan maupun klasikal yang
sekaligus merupakan jam belajar di perpustakaan.
6. Mengintegrasikan perpustakaan dalam kegiatan belajar
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa
kegiatan belajar perlu didukung oleh sarana yang memadai. Salah
satu sarana yang dibutuhkan adalah perpustakaan sekolah yang
berfungsi sebagai sumber belajar peserta didik. Perpustakaan
sekolah sebagai sumber belajar mempunyai fungsi yang sangat
penting dalam menunjang keberhasilan pembelajaran. Fungsi
perpustakaan akan berjalan dengan baik apabila didukung oleh
beberapa hal seperti pengembangan koleksi yang sesuai, organisasi
dan penguatan kelembagaan perpustakaan, pelayanan, penyediaan
sarana dan prasarana, serta program promosi dan
pengembangan perpustakaan.
Perpustakaan Sekolah merupakan unit kerja dan sebagai
perangkat yang tidak terpisahkan dari sekolah yang bersangkutan.
Dengan tujuan menyediakan koleksi pustaka untuk menunjang
keberhasilan proses belajar mengajar. Perpustakaan sekolah akan
berfungsi secara maksimal apabila ditangani dengan baik dan
memadai. Untuk itu diperlukan kemauan dari berbagai pihak
untuk mengembangkannya yaitu penentu kebijakan pada tingkat
departemen, tingkat daerah, tingkat sekolah (kepala sekolah,
tenaga pendidik, dan pengelola perpustakaan).
Fungsi utamanya yaitu sebagai pusat sumber belajar, pusat
sumber informasi dan pusat bacaan rekreasi dan pengisi waktu
senggang. Untuk selanjutnya perpustakaan itu sebagai tempat
membina minat dan bakat peserta didik menuju belajar sepanjang
B. Saran
1. Untuk peserta didik
Peserta didik hendaknya memanfaatkan perpustakaan sekolah semaksimal mungkin baik dengan penugasan maupun usaha mandiri untuk meraih hasil pembelajaran yang maksimal.
2. Untuk Tenaga Pendidik (Guru)
Tenaga pendidik hendaknya memanfaatkan sumber belajar yang ada
di perpustakaan sekolah secara maksimal untuk kegiatan
pembelajaran.
3. Untuk Pengelola Perpustakaan
Pengelola perpustakaan hendaknya memberikan pelayanan yang maksimal kepada para pengunjung agar mereka merasa nyaman memanfaatkan koleksi perpustakaan untuk berbagai keperluan
4. Untuk Sekolah dan Instansi Pendidikan
Sekolah dan Instansi Pendidikan hendaknya menyediakan sarana dan
prasarana yang dibutuhkan perpustakaan untuk memenuhi
kebutuhan para pengunjung
5. Untuk Pemerhati Pendidikan
DAFTAR PUSTAKA
Bafadal, Ibrahim. 2011. Pengelolaan Perpusataakan Sekolah. Jakarta : Bumi Aksara
Darmono (e-mail: [email protected])
https://maunglib.wordpress.com/manfaat-perpustakaan-sekolah/
https://aldham.wordpress.com/2011/09/22/sumber-belajar- menurut-para-ahli-beserta-6-jenis-sumber-belajar-secara-umum/
Jurnal Perpustakaan Sekolah, Tahun 1 – Nomor 1 - April 2007 ISSN 1978-9548
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Kamus versi online/daring (dalam jaringan)